VI ANALISIS EFISIENSI TEKNIS

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI ANALISIS EFISIENSI TEKNIS"

Transkripsi

1 VI ANALISIS EFISIENSI TEKNIS Model yang digunakan untuk mengestimasi fungsi produksi usahatani paprika hidroponik di lokasi penelitian adalah model fungsi Cobb-Douglas dengan pendekatan Stochastic Production Frontier. Metode penduga yang digunakan pada model fungsi produksi Stochastic Frontier Cobb-Douglas adalah Maximum Likelihood Estimated (MLE). Hasil dari pendugaan fungsi produksi tersebut akan digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani paprika hidroponik di Desa Pasirlangu, serta menganalisis tingkat efisiensi teknis dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis paprika hidroponik di lokasi penelitian. Metode MLE digunakan untuk menggambarkan hubungan antara produksi maksimum yang dapat dicapai pada tingkat penggunaan faktor-faktor produksi yang ada. Metode MLE dilakukan melalui proses dua tahap. Tahap pertama menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk menduga parameter teknologi dan input-input produksi. Pengujian dengan metode OLS juga dapat mendeteksi autokorelasi, multikolinearitas, dan heterokedastisitas dalam fungsi produksi. Tahap kedua menggunakan metode MLE untuk menduga keseluruhan parameter faktor produksi, intersep, dan varians kedua komponen error. Fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas yang dibahas pada penelitian ini dibuat dalam bentuk per satuan lahan. Cara ini dilakukan untuk menghindari terjadinya multikolinearitas. Dengan demikian, di dalam model fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglas, hasil produksi dan semua input yang digunakan dalam usahatani paprika hidroponik dibuat dalam per satuan lahan (m 2 ). Variabel independen awal yang diduga akan mempengaruhi produksi paprika hidroponik per satuan lahan terdiri dari tujuh variabel, yaitu jumlah benih (B), nutrisi (Nut), insektisida (Ins), fungisida (Fu), pupuk daun (Pd), pupuk pelengkap cair (Pc), dan tenaga kerja (TK). Dari hasil analisis OLS ditemukan dua variabel yang memiliki nilai koefisien yang negatif, yaitu pada variabel jumlah pupuk daun dan pupuk cair (Lampiran 1). Tanda negatif yang dihasilkan diduga karena penggunaan pupuk daun dan pupuk cair di lapang yang sudah berlebihan. Berdasarkan pengamatan, pupuk daun dan pupuk cair tidak diberikan pada semua

2 tanaman tetapi hanya diberikan pada tanaman yang kurang sehat dan jumlah pemberiannya tidak pasti karena disesuaiakan dengan kondisi tanaman yang membutuhkan. Peningkatkan dosis penggunaan dilakukan jika penyakit yang menyerang tanaman sudah membahayakan. Petani cenderung hanya memperkirakan takaran yang digunakan dan tidak ada jumlah yang pasti sehingga diduga melebihi dosis yang dianjurkan. Akan tetapi, penggunaan pupuk daun dan pupuk cair yang berlebihan justru dapat mengakibatkan tanaman menjadi busuk sehingga dapat mengurangi produksi yang dihasilkan. Keberadaan koefisien yang bernilai negatif sebaiknya dihindari agar relevan dengan asumsi fungsi Cobb-Douglas yaitu dalam keadaan law of diminishing returns untuk setiap input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar (Coelli et al 2005). Oleh karena itu, dalam penentuan fungsi produksi dipilih fungsi produksi yang memiliki nilai koefisien keseluruhan yang positif. Variabel pupuk daun dan pupuk cair dihilangkan dari model karena memiliki nilai koefisien yang negatif. Pertimbangan lainnya adalah bahwa kedua variabel tersebut tidak termasuk variabel utama dalam usahatani paprika dan tidak semua petani menggunakannya. Adapun variabel independen yang tetap digunakan dalam model yaitu benih, nutrisi, insektisida, fungisida, dan tenaga kerja yang seluruhnya dibuat per satuan lahan Pendugaan Fungsi Produksi Stochastic Frontier Pendugaan parameter fungsi produksi Cobb-Douglas dengan metode OLS menunjukkan gambaran kinerja rata-rata (best fit) dari proses produksi petani pada tingkat teknologi yang ada. Hasil estimasi model fungsi produksi Cobb-Douglas (per satuan lahan) dengan metode OLS beserta nilai signifikansinya ditunjukkan pada Tabel 15. Hasil pendugaan metode OLS dengan memasukkan lima variabel tidak menunjukkan adanya masalah multikolinearitas dan autokorelasi pada model yang terbentuk, masing-masing dapat dilihat dari nilai VIF dan Durbin-Watson. Nilai VIF untuk masing-masing variabel independen di dalam model tidak ada yang lebih dari 10 dan nilai Durbin-Watson masih berada pada kisaran 2 (Lampiran 2). 63

3 Tabel 15. Pendugaan Model Fungsi Produksi dengan Menggunakan Metode OLS (Per Satuan Lahan) Variabel Input Parameter Dugaan t-rasio Intersep 1,1486* 1,59 Benih (X 1 ) 0,7802* 3,35 Nutrisi (X 2 ) 0,0505 0,45 Insektisida (X 3 ) 0,0959* 1,26 Fungisida (X 4 ) 0,0148* 1,57 Tenaga Kerja (X 5 ) 0,0402 0,40 R-Sq 0,50 F-hitung 10,61 Log-likelihood OLS 4,8662 Keterangan: *) nyata pada α = 20% Nilai koefisien determinasi dan F-hitung dari model fungsi produksi ratarata (per luas lahan) yang terbentuk adalah sebesar 50 persen dan 10,61. Koefisien determinasi sebesar 50 persen menunjukkan bahwa 50 persen keragaman produksi paprika hidroponik di lokasi penelitian dapat dijelaskan oleh model dugaan yang diperoleh, sedangkan sisanya sebesar 50 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak terdapat dalam model. Berdasarkan nilai F-hit sebesar 10,61, secara statistik model fungsi produksi rata-rata yang terbentuk layak digunakan untuk memprediksi produksi paprika per satuan lahan dan signifikan pada taraf nyata 20 persen. Dari lima variabel yang ada pada model, terdapat tiga variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi paprika hidroponik rata-rata per satuan lahan, yaitu variabel benih (X 1 ), insektisida (X 3 ), dan fungisida (X 4 ). Hasil pendugaan tahap kedua yaitu pendugaan model fungsi produksi dengan menggunakan metode MLE dijelaskan oleh Tabel 16. Hasil pendugaan tersebut menggambarkan kinerja terbaik dari petani responden pada tingkat teknologi yang ada. Variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi frontier (per satuan lahan) petani responden ditemukan berbeda dari yang diperoleh pada fungsi produksi rata-rata (per satuan lahan). Pada tabel disajikan parameter dugaan fungsi produksi stochastic frontier dengan metode MLE dan nilai signifikansinya. 64

4 Tabel 16. Pendugaan Model Fungsi Produksi dengan Menggunakan Metode MLE (Per Satuan Lahan) Variabel Input Parameter Dugaan t-rasio Intersep (β 0 ) 1,0455* 1,6873 Benih (β 1 ) 0,9007* 4,6538 Nutrisi (β 2 ) 0,0196 0,2244 Insektisida (β 3 ) 0,0483 0,7246 Fungisida (β 4 ) 0,0070 0,8479 Tenaga Kerja (β 5 ) 0,1230* 1,3168 Sigma-squared (σ 2 ) 0,0680* Gamma (γ) 0,5851* Log-likelihood MLE 14,4523 Keterangan: *) nyata pada α = 20 % Pada Tabel 16 disajikan nilai log-likelihood dengan metode MLE (14,4523) adalah lebih besar dari nilai log-likelihood dengan metode OLS (4,8662) yang berarti fungsi produksi dengan metode MLE ini adalah baik. Nilai sigma-squared (σ 2 ) menunjukkan distribusi dari error term inefisiensi (u i ) dan nilai 0,0680 adalah cukup kecil sehingga terdistribusi secara normal. Nilai gamma (γ) sebesar 0,5851 mengindikasikan bahwa 58,51 persen dari error term yang berada dalam fungsi produksi disebabkan oleh keberadaan inefisiensi teknis, sedangkan 41,49 persen disebabkan oleh variabel kesalahan acak seperti cuaca, hama, dan sebagainya. Ini berarti model fungsi produksi stochastic frontier yang diperoleh dapat menunjukkan adanya keberadaan inefisiensi teknis pada model. Adapun model yang terbentuk diperlihatkan pada persamaan di bawah ini. Ln Y = 1, ,9007 ln B + 0,0196 ln Nut + 0,0483 ln Ins + 0,0070 ln Fu + 0,1230 ln TK + V i - U i Interpretasi Parameter Dugaan Fungsi Produksi Stochastic Frontier Berdasarkan hasil perhitungan fungsi produksi stochastic frontier Cobb- Douglas dengan metode MLE, diperoleh hasil bahwa faktor produksi benih dan tenaga kerja berkorelasi positif dan berpengaruh nyata terhadap produksi paprika hidroponik per satuan lahan. Sementara, faktor produksi lainnya seperti nutrisi, insektisida, dan fungisida meskipun bernilai positif tetapi tidak berpengaruh 65

5 nyata. Berikut adalah interpretasi dari model fungsi produksi stochastic frontier yang terbentuk. 1. Benih Penggunaan benih pada usahatani paprika hidroponik bernilai positif dan berpengaruh nyata pada taraf α = 20 persen terhadap produksi paprika hidroponik per satuan lahan. Nilai elastisitas benih terhadap produktivitas sebesar 0,9007 menunjukkan bahwa penambahan benih sebesar satu persen akan akan meningkatkan produktivitas paprika hidroponik sebesar 0,9007 persen, cateris paribus. Ini menunjukkan bahwa jumlah benih yang digunakan petani selama ini masih memungkinkan untuk ditambah sehingga dapat menghasilkan produksi yang lebih besar. Benih memegang peranan utama dalam menentukan produktivitas. Varietas benih yang berkualitas tinggi akan berpotensi menghasilkan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, meskipun jumlah benih per satuan lahan ditingkatkan dalam jumlah yang kecil, maka akan memiliki pengaruh yang responsif terhadap peningkatan produksi paprika per satuan lahan. Rata-rata penggunaan benih paprika di lokasi penelitian yaitu sebesar biji per m 2. Dengan asumsi rata-rata benih yang berkecambah sebesar 90 persen maka tanaman paprika yang dihasilkan adalah sebanyak pohon per m 2 atau 3,48 pohon per m 2. Peningkatan penggunaan benih per satuan lahan di lokasi penelitian akan meningkatkan peluang dalam menghasilkan bibit paprika. Hal ini pada akhirnya akan berimplikasi pada peningkatan populasi tanaman per satuan lahan sehingga produksi paprika hidroponik yang dihasilkan per satuan lahan juga akan semakin meningkat. Peningkatan populasi tanaman per satuan lahan dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam. 2. Nutrisi Faktor produksi nutrisi bernilai positif namun tidak berpengaruh nyata terhadap produksi paprika hidroponik per luas lahan. Nilai elastisitas nutrisi terhadap produktivitas sebesar 0,0196 menunjukkan bahwa penambahan nutrisi sebesar satu persen akan akan meningkatkan produktivitas paprika hidroponik sebesar 0,0196 persen, cateris paribus. Dalam usahatani paprika hidroponik, nutrisi merupakan sumber makanan utama bagi tanaman. Ini disebabkan dalam 66

6 media tanam arang sekam tidak terdapat unsur hara seperti yang terkandung pada tanah sehingga nutrisi sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Secara teoritis, tanaman paprika yang mendapatkan nutrisi yang cukup akan meningkat produktivitasnya sehingga akan menghasilkan buah berkualitas dan bobot buah yang besar. Analisis fungsi produksi menunjukkan hasil yang tidak sesuai harapan dimana penambahan jumlah nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Hal ini diduga karena kadar kepekatan hara yang terdapat pada larutan nutrisi yang digunakan belum sesuai. Peningkatan volume nutrisi yang tidak diimbangi oleh kepekatan hara yang ada dalam nutrisi akan menyebabkan larutan nutrisi tidak dapat bekerja optimal sehingga tidak berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas tanaman. Kepekatan hara yang dibutuhkan berbedabeda tergantung pada tingkat pertumbuhan tanaman dimana semakin tua umur tanaman paprika, maka tanaman tersebut akan semakin membutuhkan unsur hara. Kepekatan hara diukur dengan EC (Electro Conductivity) meter. Akan tetapi sebagian besar petani responden tidak mengukur nilai EC dan cenderung menduga-duga saja karena mereka tidak memiliki alat pengukurnya sehingga kepekatan hara dalam larutan nutrisi tidak bisa dipastikan. Faktor teknis lain yang diduga berpengaruh terhadap efektivitas pemberian nutrisi adalah sistem fertigasi yang masih bersifat manual. Kegiatan fertigasi yang masih menggunakan selang mengakibatkan volume nutrisi yang diterima oleh setiap tanaman berbeda-beda. Kondisi ini dapat berakibat pada pertumbuhan tanaman dalam satu lahan yang tidak merata sehingga akan mempengaruhi produktivitas tanaman itu sendiri. 3. Insektisida Faktor produksi insektisida bernilai positif namun tidak berpengaruh nyata terhadap produksi paprika hidroponik per satuan lahan. Nilai elastisitas insektisida terhadap produktivitas sebesar 0,0483 menunjukkan bahwa penambahan insektisida sebesar satu persen akan akan meningkatkan produktivitas paprika hidroponik sebesar 0,0483 persen, cateris paribus. Jenis insektisida yang digunakan oleh petani terdiri dari berbagai merek dengan dosis yang digunakan 67

7 rata-rata 0,5-1 ml/liter air. Rata-rata penggunaan insektisida oleh petani responden yaitu sebanyak 9.439,21 ml per m 2. Peningkatan jumlah penggunaan insektisida bertujuan untuk mengurangi serangan hama, terutama hama thrips. Akan tetapi, hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan insektisida tidak berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas paprika. Berdasarkan pengamatan, upaya yang dilakukan oleh sebagian responden untuk mengatasi serangan hama thrips yang sangat tinggi di lokasi penelitian adalah dengan meningkatkan intensitas penyemprotan insektisida ataupun meningkatkan dosis penggunaan insektisida. Akan tetapi, pemberian insektisida berlebih tidak efektif dalam memberantas hama. Meskipun petani responden telah menggunakan jenis insektisida secara bergantian, tetapi pemberian insektisida dalam jumlah yang banyak secara terus menerus justru membuat hama thrips menjadi resisten atau kebal terhadap insektisida tersebut. Sebaliknya, penggunaan insektisida yang berlebih dapat meningkatkan residu pada tanaman paprika. Oleh karena itu, pengendalian hama yang tidak diterapkan secara terpadu tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas tanaman. 4. Fungisida Penggunaan fungisida pada usahatani paprika hidroponik bernilai positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi paprika hidroponik per satuan lahan. Nilai elastisitas fungisida terhadap produktivitas sebesar 0,0070 menunjukkan bahwa penambahan fungisida sebesar satu persen akan akan meningkatkan produktivitas paprika hidroponik sebesar 0,0070 persen, cateris paribus. Seperti halnya, insektisida, fungisida yang digunakan petani responden juga bermacam-macam mereknya dengan dosis penggunaan rata-rata 0,25-0,5 ml per liter air. Rata-rata jumlah fungisida yang digunakan petani responden sebanyak 909,32 ml per m 2. Peningkatan jumlah penggunaan fungisida bertujuan untuk mengurangi serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Akan tetapi, hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan fungisida tidak berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas paprika. Hal ini diduga karena variabel fungisida yang bersifat kondisional yaitu penggunaannya hanya sewaktu-waktu jika dibutuhkan. 68

8 Dibandingkan dengan serangan hama thrips, serangan jamur pada tanaman paprika jauh lebih rendah sehingga fungisida jarang digunakan dan penggunaannya dalam satu kali musim tanam pun dapat dikatakan sedikit. Dengan demikian meskipun fungisida dapat berperan dalam mengurangi serangan jamur tetapi karena penggunaannya yang sedikit dan bersifat kondisional maka variabel fungisida ini tidak berpengaruh terhadap produktivitas tanaman paprika hidroponik. 5. Tenaga Kerja Penggunaan tenaga kerja pada usahatani paprika hidroponik bernilai positif dan berpengaruh nyata pada taraf α = 20 persen terhadap produksi paprika hidroponik per satuan lahan. Nilai elastisitas tenaga kerja terhadap produktivitas sebesar 0,1230 menunjukkan bahwa penambahan tenaga kerja sebesar satu persen akan akan meningkatkan produktivitas paprika hidroponik sebesar 0,1230 persen, cateris paribus. Ini menujukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang digunakan petani selama ini masih memungkinkan untuk ditambah sehingga dapat menghasilkan produksi yang lebih besar. Rata-rata tenaga kerja yang digunakan mulai dari penyemaian hingga panen yaitu sebanyak 511,39 HOK per m 2 yang merupakan tenaga kerja total, baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja luar keluarga. Penambahan tenaga kerja sangat diperlukan untuk intensifikasi pemeliharaan, seperti pewiwilan, pemberian nutrisi, dan pengendalian hama dan penyakit karena usahatani paprika hidroponik merupakan jenis usahatani yang membutuhkan penanganan yang detail. Upaya penambahan yang dilakukan dapat berupa penambahan jam kerja maupun penambahan jumlah pekerja. Hal yang perlu diperhatikan yaitu dalam upaya penambahan tenaga kerja tidak hanya dilihat dari segi kuantitas saja, tetapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas paprika hidroponik Sebaran Efisiensi Teknis Efisiensi teknis dianalisis secara simultan dengan menggunakan model fungsi produksi stochastic frontier. Sebaran efisiensi teknis dari usahatani paprika hidroponik di daerah penelitian ditampilkan pada Tabel 17. Dilihat dari sebaran 69

9 efisiensi teknisnya, petani responden memiliki tingkat efisiensi teknis yang berada pada range 0,466 sampai 0,979. Nilai indeks efisiensi hasil analisis dikategorikan cukup efisien jika nilainya lebih besar dari 0,7. Dari hasil yang diperoleh, sebanyak 56 petani responden atau 94,92 persen petani responden memiliki tingkat efisiensi teknis di atas 0,7. Sementara hanya 5,08 persen petani responden masih memiliki tingkat efisiensi di bawah 0,7 atau belum efisien secara teknis. Tabel 17. Sebaran Efisiensi Teknis Petani Responden Kelompok Efisiensi Teknis Jumlah Petani Persentase (%) TE 0,5 1 1,69 0,5 < TE 0,6 1 1,69 0,6 < TE 0,7 1 1,69 0,7 < TE 0,8 3 5,08 0,8 < TE 0, ,65 TE > 0, ,19 Total ,00 Rata-rata TE 0,899 Minimum TE 0,466 Maksimum TE 0,979 Nilai rata-rata efisiensi teknis yang dicapai petani responden sebesar 0,899 atau 89,9 persen dari produktivitas maksimum. Artinya, petani paprika responden sudah cukup efisien namun masih terdapat peluang sebesar 10,1 persen untuk mencapai produktivitas maksimum. Tingkat efisiensi teknis yang tinggi mencerminkan prestasi petani responden dalam keterampilan manajerial usahatani paprika hidroponik sudah baik dan memuaskan. Sementara di sisi lain, tingkat efisiensi teknis yang tinggi juga mencerminkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas menjadi kecil karena kesenjangan antara tingkat produktivitas yang telah dicapainya dengan tingkat produktivitas maksimum yang dapat dicapai dengan sistem pengelolaan terbaik (the best practice) cukup sempit. Dengan kata lain, agar dapat meningkatkan produktivitas secara nyata maka dibutuhkan inovasi teknologi yang lebih maju. 70

10 6.3. Sumber-sumber Inefisiensi Teknis Tingkat efisiensi teknis yang dicapai oleh petani paprika hidroponik di lokasi penelitian selain terkait dengan penggunaan input-input produksi juga sangat terkait dengan sumber-sumber inefisiensi teknis seperti umur petani, pendidikan formal, pengalaman usahatani paprika, umur bibit, keikutsertaan dalam kelompok tani, status usahatani, status kepemilikan lahan, dan perolehan kredit bank. Pendugaan efek inefisiensi teknis diuraikan pada Tabel 18. Tabel 18. Pendugaan Parameter Maximum-Likelihood Model Inefisiensi Teknis Usahatani Paprika Hidroponik Variabel Koefisien t-rasio Intersep 0,9481* 0,9380 Umur petani 0,0268* 1,6410 Pengalaman usahatani paprika -0,0511* -1,6396 Pendidikan formal 0,0020 0,0391 Umur bibit -0,0684* -1,7945 Keikutsertaan dalam kelompok tani (dummy) -0,0859-0,4873 Status usahatani (dummy) 0,4175 0,7816 Status kepemilikan lahan (dummy) -0,4787* -0,8916 Kredit bank (dummy) -0,4602* -1,0158 Keterangan: *) nyata pada α = 20% Hasil pendugaan dengan metode MLE, diketahui terdapat lima variabel yang berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis. Variabel yang berkorelasi negatif dan berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis paprika hidroponik yaitu pengalaman usahatani, umur bibit, status kepemilikan lahan, dan kredit bank. Sementara variabel yang berkorelasi positif dan berpengaruh nyata adalah umur petani. Berikut merupakan interpretasi dari masing-masing koefien sumber inefisiensi teknis. 1. Umur Petani Variabel umur petani dimasukkan ke dalam model efek inefisiensi teknis dengan dugaan berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis paprika hidroponik. 71

11 Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur petani berkorelasi positif dan berpengaruh nyata pada taraf α = 20 persen terhadap efek inefisiensi teknis usahatani paprika hidroponik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin tua petani maka penggunaan input produksi juga semakin tidak efisien. Hal ini membuktikan bahwa petani yang berumur lebih muda akan menghasilkan usahatani yang lebih efisien. Kondisi di lapang menunjukan bahwa mayoritas petani responden (64,40 persen) berumur kurang dari 45 tahun sehingga masih dikategorikan muda dan produktif sehingga berpotensi untuk meningkatkan efisiensi teknis. Dalam usahatani paprika hidroponik, petani dituntut untuk melakukan penanganan yang intensif dan detail mulai dari persiapan tanam hingga panen. Pertambahan umur petani akan mempengaruhi kondisi fisik sehingga kemampuan bekerja, daya juang dalam berusaha, keinginan untuk menanggung risiko, dan keinginan untuk menerapkan inovasi-inovasi baru akan semakin berkurang yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap penurunan efisiensi. Petani yang lebih tua umumnya dianggap memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada petani yang muda, tetapi hasil pengamatan menunjukkan bahwa petani yang berumur lebih tua tidak selalu memiliki pengalaman yang lebih banyak dari petani yang lebih muda, begitupun sebaliknya. Dengan demikian, umur petani tidak selalu menjadi tolak ukur dari pengalaman sehingga pemisahan variabel umur petani dan pengalaman usahatani sebagai variabel yang berdiri sendiri dalam penelitian ini dianggap relevan. 2. Pengalaman Usahatani Pengalaman usahatani diukur berdasarkan selang waktu petani responden dalam menjalankan usahatani paprika. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang dihitung sejak usahatani paprika masih bersifat konvensional (non-hidroponik) hingga menjadi usahatani paprika hidroponik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengalaman usahatani paprika berkorelasi negatif dan nyata terhadap tingkat inefisiensi teknis pada taraf α = 20 persen. Hasil ini sesuai dengan hipotesis awal, dimana semakin lama pengalaman responden dalam usahatani paprika maka akan semakin efisien secara teknis atau tingkat inefisiensi akan semakin rendah. 72

12 Lamanya pengalaman usahatani paprika petani responden beragam, yaitu sebanyak 32,20 persen memiliki pengalaman 6-10 tahun, sebanyak 28,81 persen memiliki pengalaman tahun, dan sebanyak 27,12 persen yang memiliki pengalaman lebih dari 16 tahun. Seiring dengan semakin lamanya pengalaman yang dimiliki petani, maka akan semakin banyak pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan budidaya sebelumnya. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi di masa mendatang dapat lebih mudah diatasi dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. 3. Pendidikan Formal Pendidikan formal diukur dari jumlah waktu (tahun) yang ditempuh petani dalam menjalankan masa pendidikan formalnya. Variabel ini dianggap sebagai tolak ukur dari kemampuan manajerial petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan formal berpengaruh positif namun tidak nyata terhadap inefisiensi teknis. Nilai koefisien parameter yang positif menunjukkan bahwa semakin lama pendidikan formal yang dijalani petani maka akan semakin meningkatkan inefisiensi teknis. Koefisien yang bernilai positif bertolak belakang dengan hipotesis awal. Akan tetapi lamanya waktu pendidikan formal yang ditempuh responden tidak berpengaruh terhadap efisiensi teknisnya. Hal ini diduga karena penerapan budidaya paprika hidroponik di lokasi penelitian tidak melalui pendidikan secara formal, namun dengan mempraktikan secara langsung di lapang. Adapun mayoritas petani responden adalah lulusan SD (37,29 persen) dan lulusan SMP (28,81 persen) yang termasuk dalam tingkat pendidikan yang rendah. Peningkatan keterampilan dan manajerial petani responden sebaiknya lebih diutamakan melalui pendidikan non-formal seperti pelatihan, penyuluhan, dan lokakarya. 4. Umur Bibit Umur bibit menunjukkan hubungan negatif dan berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis pada taraf α = 20 persen. Hasil ini sesuai dengan dugaan awal bahwa semakin tua umur bibit maka akan semakin menurunkan inefisiensi dalam produksi paprika hidroponik atau dengan kata lain semakin tua bibit yang digunakan akan semakin efisien secara teknis. Rata-rata petani paprika menanam bibit yang berusia 30 hari setelah semai sedangkan umur bibit yang 73

13 direkomendasikan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran yaitu sekitar 6 minggu atau 42 hari setelah semai. Penggunaan bibit yang masih berusia muda akan berisiko tinggi terhadap kematian tanaman karena masih rentan terhadap serangan hama dan penyakit serta belum dapat melakukan penyesuaian terhadap suhu di dalam greenhouse penanaman. Sebaliknya bibit yang berusia lebih tua akan lebih mudah beradaptasi dengan kondisi di greenhouse penanaman sehingga terhindar dari risiko kematian dini. 5. Keikutsertaan dalam Kelompok Tani Keikutsertaan dalam kelompok tani diukur dengan dummy, dimana petani anggota kelompok tani diberi nilai 1 dan petani bukan anggota kelompok tani diberi nilai 0. Variabel dummy keikutsertaan dalam kelompok tani dimasukkan dalam model efek inefisiensi teknis dengan dugaan berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis usahatani paprika hidroponik. Hasil yang diperoleh sesuai dugaan awal dimana petani yang tergabung dalam kelompok tani akan lebih efisien secara teknis dibandingkan dengan petani yang tidak bergabung dengan kelompok tani, namun ditemukan tidak berpengaruh nyata. Hasil ini analisis berkaitan dengan data di lapang dimana jumlah petani yang tergabung dan tidak tergabung dalam kelompok tani proporsinya hampir seimbang, sehingga hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata. Data menunjukkan bahwa sebanyak 31 orang (52,54 persen) adalah anggota kelompok tani dan sebanyak 28 orang (47,46 persen) bukan anggota kelompok tani. Selain itu, berdasarkan pengamatan, peran kelompok-kelompok tani yang ada di lokasi penelitian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Petani anggota kelompok tani cenderung bekerja sendiri-sendiri dan kurang ada koordinasi terkait dengan aspek teknis atau budidaya di lapang. Kegiatan penyuluhan juga tidak rutin dilakukan karena pelaksanaannya tergantung pada kesedian PPL dalam memberikan materi penyuluhan dan kesepakatan dari anggota. 6. Status Usahatani Status usahatani di lokasi penelitian diukur dengan dummy, dimana petani yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan utama diberi nilai 1 dan petani yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan diberi nilai 0. Nilai variabel dummy status usahatani 74

14 berkorelasi positif terhadap inefisiensi teknis namun tidak berpengaruh nyata. Nilai koefisien positif menunjukkan bahwa petani yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan lebih efisien dibandingkan dengan petani yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan utama. Berdasarkan data di lapang, mayoritas petani responden yaitu sebanyak 54 orang (91,53 persen) menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan utama dan hanya 5 orang (8,47 persen) yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan. Hasil analisis membuktikan bahwa status usahatani tidak mempengaruhi tingkat inefisiensi usahatani paprika hidroponik di lokasi penelitian. Hal ini diduga karena kemampuan antara petani yang menganggap usahatani paprika sebagai pekerjaan utama dengan petani yang menganggap usahatani paprika sebagai pekerjaan sampingan berada pada level yang setara, meskipun petani yang menganggap usahatani paprika sebagai pekerjaan sampingan memiliki curahan waktu yang lebih sedikit dibandingakn dengan petani yang menganggap usahatani paprika sebagai pekerjaan utama. 7. Status Kepemilikan Lahan Status kepemilikan lahan responden diukur dengan dummy, dimana petani yang menggunakan lahan bagi hasil diberi nilai 1 dan petani yang menggunakan lahan milik sendiri diberi nilai 0. Status kepemilikan lahan bernilai negatif dan berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis usahatani paprika pada taraf α = 20 persen. Hal ini menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis usahatani paprika hidroponik di lokasi penelitian. Nilai koefisien positif yang sesuai dengan hipotesis awal menunjukkan bahwa petani yang mengusahakan paprika hidroponik pada lahan bagi hasil lebih efisien secara teknis dibandingkan dengan petani yang mengusahakan paprika hidroponik di lahan milik sendiri. Berdasarkan data terdapat 49 orang (83,05 persen) petani yang mengusahakan paprika di lahan milik, sedangkan sisanya yaitu 10 orang (16,95 persen). Petani yang mengusahakan paprika hidroponik di lahan bagi hasil akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar dan lebih termotivasi untuk menjalankan usahataninya dengan lebih baik. Semakin besar hasil produksi yang 75

15 dicapai maka nilai bagi hasil yang diperolehnya juga akan semakin besar, sebaliknya jika hasil produksi yang dicapai kecil maka nilai bagi hasil yang diperolehnya juga akan semakin kecil. Oleh karena itu, petani yang mengusahakan paprika hidroponik di lahan bagi hasil akan mempergunakan peluang yang ada dengan lebih baik. 8. Kredit Bank Variabel kredit bank diukur dengan dummy, dimana petani yang memperoleh kredit bank diberi nilai 1 dan petani yang tidak memperoleh kredit bank diberi nilai 0. Dugaan awal hubungan kredit bank terhadap efisiensi teknis usahatani yaitu petani yang memperoleh kredit akan memiliki efisiensi yang lebih besar karena petani akan memiliki kemampuan menggali modal lebih banyak untuk membiayai dan mengembangkan usahataninya. Selain itu petani yang memperoleh kredit bank akan lebih berusaha untuk mengelola usahataninya dengan penggunaan input produksi yang lebih efisien untuk dapat mengembalikan kredit yang dipinjamnya. Hasil analisis pada Tabel 18 sesuai dengan dugaan awal bahwa kredit bank berkorelasi negatif terhadap inefisiensi teknis usahatani paprika hidroponik dan berpengaruh nyata pada taraf α = 20 persen. Ini menunjukkan bahwa bank sebagai lembaga keuangan formal dapat berperan dalam meningkatkan efisiensi teknis paprika hidroponik. Akan tetapi, dari total 59 petani responden, hanya sebagian kecil (18,64 persen) petani responden yang memperoleh kredit bank untuk tambahan modal usahataninya. 76

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 7.1. Analisis Fungsi Produksi Stochastic Frontier 7.1.1. Pendugaan Model Fungsi Produksi Stochastic Frontier Model yang digunakan untuk mengestimasi fungsi produksi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data 4.3. Metode Pengambilan Sampel

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data 4.3. Metode Pengambilan Sampel IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG Komoditas pertanian erat kaitannya dengan tingkat produktivitas dan efisiensi yang rendah. Kedua ukuran tersebut dipengaruhi oleh

Lebih terperinci

VIII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI

VIII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI VIII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 8.1. Analisis Produksi Stochastic Frontier Usahatani Kedelai Edamame Analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis fungsi produksi Cobb-Douglas

Lebih terperinci

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 7.1 Analisis Produksi Stochastic Frontier 7.1.1 Pendugaan Model Fungsi Produksi Stochastic Frontier Model yang digunakan untuk mengestimasi fungsi produksi usahatani

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK Analisis pendapatan usahatani paprika hidroponik meliputi analisis penerimaan, analisis biaya, analisis pendapatan, dan analisis R/C. Perhitungan usahatani

Lebih terperinci

ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI

ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI VI ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 6.1 Analisis Fungsi Produksi Stochastic Frontier 6.1.1 Pengujian Asumsi Klasik Regresi Linier Syarat model regresi linier (fungsi produksi) dikatakan baik jika

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT Saung Mirwan. Pemilihan PT Saung Mirwan dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa PT Saung Mirwan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA 7.1. Analisis Fungsi Produksi Analisis untuk kegiatan budidaya ganyong di Desa Sindanglaya ini dilakukan dengan memperhitungkan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Responden

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Responden IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Desa Sukasari Kaler yang berada di wilayah Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Pendapatan Usahatani Suratiyah (2006), mengatakan bahwa usahatani sebagai ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA 6.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan adalah model fungsi Cobb- Douglas. Faktor-faktor produksi yang diduga

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive). Alasan pemilihan Kabupaten

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Subsektor hortikultura merupakan bagian dari sektor pertanian yang mempunyai peran penting dalam menunjang peningkatan perekonomian nasional dewasa ini. Subsektor ini

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar Ubi jalar telah banyak diteliti dari berbagai bidang disiplin ilmu, akan tetapi penelitian mengenai efisiensi teknis usahatani belum pernah dilakukan.

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN Penilaian risiko produksi pada caisin dianalisis melalui penggunaan input atau faktor-faktor produksi terhadap produktivitas caisin. Analisis risiko produksi menggunakan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan kecamatan Cigombong ini dilakukan secara sengaja

Lebih terperinci

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA 7.1. Analisis Fungsi Produksi Hasil pendataan jumlah produksi serta tingkat penggunaan input yang digunakan dalam proses budidaya belimbing dewa digunakan

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAGUNG MANIS

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAGUNG MANIS VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAGUNG MANIS Analisis risiko produksi jagung manis dilakukan dengan menggunakan metode risiko produksi yang telah dikembangkan oleh Just dan Pope. Pendekatan analisis risiko

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani tomat dan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI SAWI (Brassica juncea L) DI KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU

ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI SAWI (Brassica juncea L) DI KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU 1 ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI SAWI (Brassica juncea L) DI KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU Moh. Ramly (1) ; Mohammad Shoimus Sholeh (2) Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

BAB V DAMPAK BANTUAN LANGSUNG PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI PROPINSI JAWA TIMUR

BAB V DAMPAK BANTUAN LANGSUNG PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI PROPINSI JAWA TIMUR BAB V DAMPAK BANTUAN LANGSUNG PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI PROPINSI JAWA TIMUR Penelitian dilakukan di Propinsi Jawa Timur selama bulan Juni 2011 dengan melihat hasil produksi

Lebih terperinci

VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI

VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI 6.1 Analisis Fungsi Produksi Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dapat dijelaskan ke dalam fungsi produksi. Kondisi di lapangan menunjukkan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian analisis efisiensi teknis dan pendapatan usahatani caisim ini dilakukan di Desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masalah... 7 1.3 Tujuan dan Kegunaan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi risiko produksi jagung manis dilakukan di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI UBI KAYU. model fungsi produksi Cobb-Douglas dengan penduga metode Ordinary Least

VIII. ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI UBI KAYU. model fungsi produksi Cobb-Douglas dengan penduga metode Ordinary Least VIII. ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI UBI KAYU 8.1. Pendugaan dan Pengujian Fungsi Produksi Hubungan antara faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi dapat dimodelkan ke

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Terdahulu Kedelai Edamame

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Terdahulu Kedelai Edamame II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Terdahulu Kedelai Edamame Edamame yang memiliki nama latin Glycin max(l)merrill atau yang biasa disebut sebagai kedelai jepang. merupakan jenis tanaman sayuran yang bentuknya

Lebih terperinci

ANALISIS PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR

ANALISIS PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Jurnal Ilmiah AgrIBA No2 Edisi September Tahun 2014 ANALISIS PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Oleh : Siska Alfiati Dosen PNSD dpk STIPER Sriwigama Palembang

Lebih terperinci

VI. PERILAKU PRODUKSI RUMAHTANGGA PETANI PADI DI SULAWESI TENGGARA

VI. PERILAKU PRODUKSI RUMAHTANGGA PETANI PADI DI SULAWESI TENGGARA VI. PERILAKU PRODUKSI RUMAHTANGGA PETANI PADI DI SULAWESI TENGGARA Penelitian ini membagi responden berdasarkan jenis lahan, yaitu lahan sawah irigasi dan tadah hujan, serta keikutsertaan petani dalam

Lebih terperinci

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. kandang dan bibit terhadap penerimaan usaha, dengan subjek penelitian peternak

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. kandang dan bibit terhadap penerimaan usaha, dengan subjek penelitian peternak 24 III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Objek penelitian yang diamati yaitu pengaruh aplikasi teknologi pakan, kandang dan bibit terhadap penerimaan usaha, dengan subjek penelitian

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.. Penentuan Daerah Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Asembagus dan Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Pemilihan kecamatan dilakukan secara sengaja

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat yaitu Desa Purwasari. Pemilihan Kabupaten Bogor dipilih secara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR...

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT... ii iii iv v vii

Lebih terperinci

VI. ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI PADI SAWAH VARIETAS CIHERANG DI GAPOKTAN TANI BERSAMA

VI. ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI PADI SAWAH VARIETAS CIHERANG DI GAPOKTAN TANI BERSAMA VI. ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI PADI SAWAH VARIETAS CIHERANG DI GAPOKTAN TANI BERSAMA 6.1 Analisis Fungsi produksi Padi Sawah Varietas Ciherang Analisis dalam kegiatan produksi padi sawah varietas ciherang

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Desa Pasirlangu Gambaran umum Desa Pasirlangu meliputi keadaan geografi dan administratif, kependudukan, serta sarana dan prasarana. 5.1.1. Keadaan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan data primer adalah di Desa Pasirlaja, Kecamatan

IV. METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan data primer adalah di Desa Pasirlaja, Kecamatan IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi pengambilan data primer adalah di Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENAWARAN APEL

VII ANALISIS PENAWARAN APEL VII ANALISIS PENAWARAN APEL 7.1 Analisis Penawaran Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Pada penelitian ini penawaran apel di Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dijelaskan dengan

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pasir Gaok, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. wilayah Kecamatan Karawang Timur dijadikan sebagai kawasan pemukiman dan

METODE PENELITIAN. wilayah Kecamatan Karawang Timur dijadikan sebagai kawasan pemukiman dan IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas wilayah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pertanian Bogor (PSP3 IPB) dan PT. Pertani di Propinsi Jawa Timur tahun 2010.

BAB III METODE PENELITIAN. Pertanian Bogor (PSP3 IPB) dan PT. Pertani di Propinsi Jawa Timur tahun 2010. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dari survey rumah tangga petani dalam penelitian Dampak Bantuan Langsung Pupuk dan Benih

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI 77 VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI Produksi garam memberikan peluang usaha yang cocok sebagai usaha subsisten pada petambak di Kabupaten Indramayu. Usaha yang sudah turun temurun warisan dari petambak dulu

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Definisi usahatani telah banyak diuraikan oleh beberapa pakar. Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Varietas Bawang Merah

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Varietas Bawang Merah II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Varietas Bawang Merah Salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam usahatani bawang merah adalah bibit. Penggunaan bibit atau varietas unggul akan mampu memberikan

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI TEKNIS FAKTOR PRODUKSI PADI (Oryza sativa) ORGANIK DI DESA SUMBER PASIR, KECAMATAN PAKIS, KABUPATEN MALANG

ANALISIS EFISIENSI TEKNIS FAKTOR PRODUKSI PADI (Oryza sativa) ORGANIK DI DESA SUMBER PASIR, KECAMATAN PAKIS, KABUPATEN MALANG AGRISE Volume XII No. 3 Bulan Agustus 2012 ISSN: 1412-1425 ANALISIS EFISIENSI TEKNIS FAKTOR PRODUKSI PADI (Oryza sativa) ORGANIK DI DESA SUMBER PASIR, KECAMATAN PAKIS, KABUPATEN MALANG (ANALYSIS OF TECHNICAL

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 103 VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI 7.1. Pemilihan Model Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa model fungsi produksi yang digunakan adalah model stocastic frontier Cobb-Douglas.

Lebih terperinci

IV. ANALISIS KEBERHASILAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN PURWAKARTA. Tingkat Keberhasilan Hutan Rakyat di Kabupaten Purwakarta

IV. ANALISIS KEBERHASILAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN PURWAKARTA. Tingkat Keberhasilan Hutan Rakyat di Kabupaten Purwakarta IV. ANALISIS KEBERHASILAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN PURWAKARTA Tingkat Keberhasilan Hutan Rakyat di Kabupaten Purwakarta Hasil penilaian yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tingkat Produksi Kedelai Peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masih terbuka

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian mengenai analisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi cabai merah keriting ini dilakukan di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi,

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Panumbangan, Sindangkasih, dan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak ditanam oleh petani di Kecamatan Pasirwangi. Namun, pengelolaan usahatani kentang di daerah ini banyak memanfaatkan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Produksi Penelitian ini akan mengukur bagaimana dampak penggunaan faktorfaktor produksi terhadap risiko produksi yang ditunjukkan dengan adanya variasi hasil produksi.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tugu Kelapa Dua Kecamatan Cimanggis Kota Depok dengan memilih Kelompok Tani Maju Bersama sebagai responden.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fungsi produksi adalah hubungan di antara faktor-faktor produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fungsi produksi adalah hubungan di antara faktor-faktor produksi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.1.1. Fungsi Produksi Fungsi produksi adalah hubungan di antara faktor-faktor produksi terhadap jumlah output yang dihasilkan. Kegiatan produksi bertujuan

Lebih terperinci

BAB IV. METODE PENELITIAN

BAB IV. METODE PENELITIAN BAB IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Gapoktan Tani Bersama Desa Situ Udik Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan studi kasus Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga,

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara tertuju

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS USAHATANI JERUK KEPROK SOE DAERAH LAHAN KERING

VI. ANALISIS PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS USAHATANI JERUK KEPROK SOE DAERAH LAHAN KERING VI. ANALISIS PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS USAHATANI JERUK KEPROK SOE DAERAH LAHAN KERING Pada bagian ini akan dibahas hasil analisis pendugaan fungsi produksi stokastik frontier dan efisiensi teknis serta

Lebih terperinci

VII. ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VII. ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VII. ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL 7.1 Analisis Perbandingan Penerimaan Usaha Tani Analisis ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan alur berfikir dalam melakukan penelitian berdasarkan tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. kepemilikan lahan. Karakteristik tersebut secara tidak langsung dapat. yang disusun berdasarkan status kepemilikan lahan.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. kepemilikan lahan. Karakteristik tersebut secara tidak langsung dapat. yang disusun berdasarkan status kepemilikan lahan. V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani Pada penelitian ini, karakteristik petani yang menjadi responden yaitu umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman bertani organik dan status kepemilikan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. BPRS, seperti nilai rasio keuangan financing to deposit ratio (FDR) dan

BAB IV PEMBAHASAN. BPRS, seperti nilai rasio keuangan financing to deposit ratio (FDR) dan BAB IV PEMBAHASAN A. Analisis Karakteristik BPRS Sampel Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) memiliki karakteristik masing-masing yang dipengaruhi oleh daerah tempat operasionalnya. Perbedaan yang berkaitan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan

IV. METODE PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN Pengumpulan data primer penelitian dilakukan di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

V. PEMBAHASAN Perkembangan Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang Produksi Pupuk Urea

V. PEMBAHASAN Perkembangan Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang Produksi Pupuk Urea V. PEMBAHASAN 5.1. Perkembangan Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang 5.1.1. Produksi Pupuk Urea ton 700.000 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 - Tahun Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang,

Lebih terperinci

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 45 V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 5.1 Karakteristik Petani Responden Penelitian dilakukan

Lebih terperinci

PENGENALAN SOFTWARE FRONTIER 4.1 DAN DEA 2.1. Oleh : AHMAD ZAINUDDIN

PENGENALAN SOFTWARE FRONTIER 4.1 DAN DEA 2.1. Oleh : AHMAD ZAINUDDIN PENGENALAN SOFTWARE FRONTIER 4.1 DAN DEA 2.1 Oleh : AHMAD ZAINUDDIN DAFTAR ISI 2 APA ITU FRONTIER DAN DEA? KONSEP EFISIENSI KONSEP PENGUKURAN EFISIENSI PENDEKATAN PENGUKURAN EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR YANG

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik petani yang menjadi responden bagi peneliti adalah usia,

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik petani yang menjadi responden bagi peneliti adalah usia, 51 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Petani Responden Karakteristik petani yang menjadi responden bagi peneliti adalah usia, pengalaman bertani, tingkat pendidikan, penggunaan luas lahan, dan jumlah tanggungan

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI BIAYA DAN KEUNTUNGAN PADA USAHATANI JAGUNG (Zea mays) DI DESA KRAMAT, KECAMATAN BANGKALAN, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA

ANALISIS EFISIENSI BIAYA DAN KEUNTUNGAN PADA USAHATANI JAGUNG (Zea mays) DI DESA KRAMAT, KECAMATAN BANGKALAN, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA AGRISE Volume XII No. 3 Bulan Agustus ISSN: 4-45 ANALISIS EFISIENSI BIAYA DAN KEUNTUNGAN PADA USAHATANI JAGUNG (Zea mays) DI DESA KRAMAT, KECAMATAN BANGKALAN, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA (ANALYSIS OF COST

Lebih terperinci

FAKTOR PENENTU PRODUKSI USAHATANI CABAI MERAH DI KECAMATAN BULU DAN TLOGOMULYO, KABUPATEN TEMANGGUNG ABSTRAK

FAKTOR PENENTU PRODUKSI USAHATANI CABAI MERAH DI KECAMATAN BULU DAN TLOGOMULYO, KABUPATEN TEMANGGUNG ABSTRAK FAKTOR PENENTU PRODUKSI USAHATANI CABAI MERAH DI KECAMATAN BULU DAN TLOGOMULYO, KABUPATEN TEMANGGUNG Renie Oelviani 1, Indah Susilowati 2,3, Bambang Suryanto 3 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa

Lebih terperinci

Agriekonomika, ISSN Volume 3, Nomor 1 EFISIENSI PRODUKSI PETANI JAGUNG MADURA DALAM MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN JAGUNG LOKAL

Agriekonomika, ISSN Volume 3, Nomor 1 EFISIENSI PRODUKSI PETANI JAGUNG MADURA DALAM MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN JAGUNG LOKAL Agriekonomika, ISSN 2301-9948 April, 2014 EFISIENSI PRODUKSI PETANI JAGUNG MADURA DALAM MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN JAGUNG LOKAL Isdiana Suprapti 1,2, Dwidjono Hadi Darwanto 2, Jangkung Handoyo Mulyo 2 dan

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIAL TERHADAP CURAHAN WAKTU KERJA KELOMPOK WANITA TANI PADI DI DESA BANJARAN KECAMATAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIAL TERHADAP CURAHAN WAKTU KERJA KELOMPOK WANITA TANI PADI DI DESA BANJARAN KECAMATAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA PENGARUH FAKTOR-FAKTOR SOSIAL TERHADAP CURAHAN WAKTU KERJA KELOMPOK WANITA TANI PADI DI DESA BANJARAN KECAMATAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA Rosalina Berliani, Dyah Mardiningsih, Siwi Gayatri Program Studi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jagung di kecamatan Tigabinanga, penulis menggunakan teori yang sederhana sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jagung di kecamatan Tigabinanga, penulis menggunakan teori yang sederhana sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori Teori yang digunakan untuk mengurai perumusan masalah pendapatan petani jagung di kecamatan Tigabinanga, penulis menggunakan teori yang sederhana sebagai berikut

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan dari kegiatan usahatani yang dijalankan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. komoditas tembakau merupakan bahan baku utama pada industri rokok. Usahatani

BAB III METODE PENELITIAN. komoditas tembakau merupakan bahan baku utama pada industri rokok. Usahatani 30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usahatani tembakau dinilai memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena komoditas tembakau merupakan bahan baku utama pada industri rokok. Usahatani tembakau

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Keterangan : KV = risiko produksi padi σ y. = standar deviasi = rata rata produksi

2. TINJAUAN PUSTAKA. Keterangan : KV = risiko produksi padi σ y. = standar deviasi = rata rata produksi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Risiko Produktivitas Setiap aktivitas manusia selalu mengandung risiko karena ada keterbatasan dalam memprediksi hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kejadian yang memiliki

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KAKAO DI KABUPATEN MUARO JAMBI. Kata kunci: Tanaman kakao, Produktifitas dan fungsi produksi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KAKAO DI KABUPATEN MUARO JAMBI. Kata kunci: Tanaman kakao, Produktifitas dan fungsi produksi Volume 17, Nomor 2, Hal. 01-08 Januari Juni 2015 ISSN:0852-8349 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KAKAO DI KABUPATEN MUARO JAMBI Ardhiyan Saputra Staf Pengajar Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Daerah Jawa Barat, serta instansi-instansi lain yang terkait.

Daerah Jawa Barat, serta instansi-instansi lain yang terkait. IV. METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Pengambilan data sekunder untuk keperluan penelitian ini dilaksanakan pada awal bulan juli hingga bulan agustus 2011 selama dua bulan. Lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah 63 III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Belanja Barang dan Jasa (BBJ) terhadap pembangunan

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin)

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin) II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin (Brassica rapa cv. caisin) Caisin (Brassica rapa cv. caisin) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam suku kubis-kubisan atau sawi-sawian (Brassicaceae/Cruciferae).

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.

Lebih terperinci

Jl. Veteran Malang Telp ABSTRACT

Jl. Veteran Malang Telp ABSTRACT HABITAT Volume XXIV No. 1 Bulan April 2013 ISSN: 0853-5167 EFISIENSI TEKNIS USAHATANI MINA MENDONG DENGAN PENDEKATAN STOCHASTIC PRODUCTION FRONTIER (Kasus di Desa Blayu dan Desa Wajak, Kecamatan Wajak,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bayam (Amaranthus tricolor L.) dari sudut pandang manusia awam

BAB I PENDAHULUAN. Bayam (Amaranthus tricolor L.) dari sudut pandang manusia awam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bayam (Amaranthus tricolor L.) dari sudut pandang manusia awam merupakan komoditas sederhana, dalam pengertian mudah didapat setiap saat, harga murah dan dapat diolah

Lebih terperinci

II.TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Efisiensi. Dalam memproduksi beras petani memerlukan faktor produksi, faktor

II.TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Efisiensi. Dalam memproduksi beras petani memerlukan faktor produksi, faktor 8 II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Efisiensi Dalam memproduksi beras petani memerlukan faktor produksi, faktor produksi sering dikenal dengan input. Proses produksi merupakan proses perubahan input

Lebih terperinci

VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN

VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN Analisis hubungan efisiensi dan pendapatan yang dibahas dalam penelitian ini adalah perbandingan antara nilai efisiensi teknis dengan rasio dari R/C.

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Sang Hyang Seri (Persero) Unit Bisnis Daerah (UBD) Khusus Sukamandi, Subang Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Produktivitas Tebu Nasional Produktivitas tanaman tebu di tingkat nasional berkisar dari 60

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. mengubah berbagai faktor produksi menjadi barang dan jasa. Berdasarkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mengubah berbagai faktor produksi menjadi barang dan jasa. Berdasarkan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Produksi Menurut Rahardja (2006) dalam aktivitas produksinya, produsen mengubah berbagai faktor produksi menjadi barang dan jasa. Berdasarkan hubungannya dengan tingkat produksi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Permintaan Beras di Kabupaten Kudus. Faktor-Faktor Permintaan Beras. Analisis Permintaan Beras

BAB III METODE PENELITIAN. Permintaan Beras di Kabupaten Kudus. Faktor-Faktor Permintaan Beras. Analisis Permintaan Beras 19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Permintaan Beras di Kabupaten Kudus Faktor-Faktor Permintaan Beras Harga barang itu sendiri Harga barang lain Jumlah penduduk Pendapatan penduduk Selera

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. survei SOUT (Struktur Ongkos Usaha Tani) kedelai yang diselenggarakan oleh

BAB III METODE PENELITIAN. survei SOUT (Struktur Ongkos Usaha Tani) kedelai yang diselenggarakan oleh BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder hasil survei SOUT (Struktur Ongkos Usaha Tani) kedelai yang diselenggarakan oleh BPS

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanjungpinang Timur,

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanjungpinang Timur, IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA 66 VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA 6.1. Keragaan Umum Hasil Estimasi Model Model ekonometrika perdagangan bawang merah dalam penelitian

Lebih terperinci

ESTIMASI EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS USAHATANI KEDELAI (Glycine max L.) PADA LAHAN SAWAH

ESTIMASI EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS USAHATANI KEDELAI (Glycine max L.) PADA LAHAN SAWAH ESTIMASI EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS USAHATANI KEDELAI (Glycine max L.) PADA LAHAN SAWAH Oleh HENDAR NURYAMAN Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya e-mail: hendarnuryaman@unsil.ac.id Abstrak

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Mengenai Usahatani

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Mengenai Usahatani II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Mengenai Usahatani Usahatani adalah suatu bentuk kombinasi penggunaan masukan (input) (modal, tenaga kerja, lahan) yang sengaja diusahakan oleh seseorang maupun

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu berkaitan dengan data yang waktu dikumpulkannya bukan (tidak harus) untuk memenuhi

Lebih terperinci

Pendapatan, Risiko, dan Efisiensi Ekonomi Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul

Pendapatan, Risiko, dan Efisiensi Ekonomi Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul MUHAMMAD FAUZAN Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta fauzan.umy@gmail.com Pendapatan, Risiko, dan Efisiensi Ekonomi Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 21 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Babakan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Pemilihan tersebut dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan negara yang sangat mendukung untuk pengembangan agribisnis

BAB I PENDAHULUAN. merupakan negara yang sangat mendukung untuk pengembangan agribisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran berperan sebagai sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin, dan mineral serta bernilai ekonomi tinggi. Sayuran memiliki keragaman yang sangat banyak baik

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. dianalisis. Menurut Supardi (2005) penelitian deskripsi secara garis besar

III. METODE PENELITIAN. dianalisis. Menurut Supardi (2005) penelitian deskripsi secara garis besar III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Merode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yaitu suatu penelitian yang merumuskan diri pada pemecahan masalah yang ada

Lebih terperinci