HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum"

Transkripsi

1 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Tanaman padi saat berumur 1-3 MST diserang oleh hama keong mas (Pomacea caanaliculata). Hama ini menyerang dengan memakan bagian batang dan daun tanaman yang masih muda yang menyebabkan tanaman tidak bisa tumbuh. Upaya pengendalian dilakukan dengan cara manual yaitu dengan memberi makanan umpan seperti pelepah pisang, daun singkong, dan daun pepaya dipingir-pinggir pematang sawah sehingga keong mas menggerombol disekitar makanan tersebut (Gambar 1) dan memungut keong dan telurnya dari lahan sawah. Selain hal tersebut dilakukan penyulaman tanaman yang terserang dengan sumber bibit yang sama. Gambar 1. Cara Pengendalian Hama Keong Mas pada Awal Tanam sampai 3 MST Hama tikus sawah (Rattus argentiventer) menyerang padi pada stadium vegetatif akhir dan awal stadium generatif. Tikus menyerang padi pada malam hari, pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Serangan hama tikus pada percobaan terjadi saat tanaman berumur 5 MST (Gambar 2). Tingkat serangan hama tersebut masih tergolong rendah yaitu di bawah 10%, tetapi bila dibiarkan akan menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman dan akan berdampak terhadap hasil penelitian. Upaya pengendalian dilakukan dengan cara memberi cairan oli bekas di sekeliling lahan penelitian.

2 15 Membersihkan lahan dan pematang dari gulma karena tikus suka daerah yang rimbun dan subur akan tumbuhan. Penggenangan lahan dengan ketinggian tertentu (10-20 cm) sehingga tikus tidak bisa masuk ke areal pertanaman. Gambar 2. Serangan Hama Tikus pada 5 MST Hama lain yang menyerang pertanaman yaitu belalang (Valanga nigricornis). Hama ini menyerang pada saat transplanting sampai panen. Bagian yang diserang adalah daun padi yang menyebabkan terganggunya proses fotosintesis. Upaya pengendalian dengan cara membunuh langsung dan mengusir dari daerah pertanaman. Pengendalian hama pada percobaan ini dilakukan dengan cara manual dan penyemprotan pestisida. Penyemprotan pestisida (bahan aktif BPMC) dilakukan pada tanaman yang terserang hama kutu putih palsu dan hama sundep pada saat umur tanaman 6 MST dengan dosis anjuran. Rekapitulasi Hasil Analisis Sidik Ragam Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati (Tabel 1). Hasil sidik ragam terhadap berbagai peubah yang diamati menunjukan bahwa perlakuan pengaruh reduksi NPK dengan aplikasi pupuk organik dan hayati terhadap pertumbuhan tanaman berpengaruh nyata, kecuali terhadap tinggi tanaman pada 3 dan 5 MST tidak berpengaruh nyata dari pada perlakuan satu dosis pupuk NPK. reduksi dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik, dan pupuk hayati menghasilkan panjang malai dan jumlah gabah/malai yang berpengaruh sangat nyata dan persentase gabah isi berpengaruh nyata dibandingkan perlakuan satu dosis pupuk NPK. pengurangan pupuk NPK hingga 50% dengan kombinasinya menghasilkan jumlah

3 16 anakan produktif, bobot 1000 butir, bobot gabah kering/tanaman, bobot gabah kering giling ubinan, dan dugaan gabah kering giling/ha yang tidak berpengaruh nyata dengan perlakuan dosis pupuk NPK penuh. Menurut Gomez dan Gomez (1995) nilai koefisien keragaman menunjukan ketepatan dalam suatu percobaan dan menunjukan pengaruh lingkungan dan faktor lain yang tidak dapat dikendalikan dalam suatu percobaan. Nilai koefisien keragaman analisis masih bisa ditolerir jika masih dibawah 20%. Nilai koefisien keragaman pada percobaan ini berkisar antara % dan tergolong normal pada kondisi lapang. Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam Peubah Pengamatan Koefisien Keragaman (%) Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman 3 MST tn MST tn MST * 2.63 Jumlah Anakan 3 MST * MST * MST * 6.77 Bagan Warna Daun 3 MST ** MST * MST * 3.92 Hasil dan Komponen Hasil Jumlah Anakan Produktif tn 8.93 Panjang Malai ** Jumlah Gabah Per Malai ** 8.93 Bobot 1000 Butir tn 3.20 Bobot Gabah Kering per Tanaman tn Persentase Gabah Isi * Bobot Gabah Kering Giling Ubinan tn Bobot Gabah Kering Panen per ha tn 8.89 Bobot Gabah Kering Giling per ha tn Ket: tanda * = nyata pada taraf 5%; tanda ** = nyata pada taraf 10%; tn = tidak nyata Hasil Analisis Tanah Sebelum dan Sesudah Percobaan Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum percobaan diketahui ph tanah tergolong agak masam, kandungan C-organik dalam tanah rendah, kandungan

4 17 hara N dalam tanah tergolong rendah, kandungan hara P rendah, dan hara K sangat rendah. Berdasarkan hasil analisis tanah tersebut, status kesuburan tanah tergolong rendah (Pusat Penelitian Tanah, 1980). Hasil analisis setelah percobaan terlihat bahwa, terjadi penurunan pada ph tanah, unsur N tanah dan unsur K tanah dan terjadi peningkatan pada C-organik serta hasil yang bervariatif terjadi peningkatan dan penurunan pada unsur P (Tabel 2). Tabel 2. Hasil Analisis Tanah Sebelum dan Sesudah Percobaan ph C Organik (%) N Total (%) K (me/100g) P (ppm) Sebelum Percobaan Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Pertumbuhan Hasil pengamatan dan analisis statistik menunjukkan bahwa secara umum pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan 50% dosis pupuk NPK tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman dan jumlah anakan. 100% pupuk NPK dengan pembenaman jerami menghasilkan tinggi tanaman yang nyata lebih tinggi dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK pada 7 MST. Tinggi tanaman dan jumlah anakan pada perlakuan reduksi pupuk NPK

5 18 dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati dapat dilihat pada Tabel 3. reduksi pupuk NPK sebesar 50% dari dosis anjuran dengan pembenaman jerami ditambah atau tidak ditambah pupuk organik atau pupuk hayati secara umum menghasilkan tinggi tanaman yang tidak berbeda dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK dan cenderung lebih rendah. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan P2, yaitu 100% dosis pupuk NPK + jerami (107.6 cm) dan rata-rata tinggi tanaman terendah diperoleh pada perlakuan P3, yaitu tanpa pupuk dan tanpa jerami (96.03 cm). Tabel 3. Pengaruh Reduksi Dosis Pupuk NPK dengan Pembenaman Jerami, Pupuk Organik dan Pupuk Hayati terhadap Tinggi Tanaman dan Jumlah Anakan Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tinggi Jumlah Jumlah Tanaman Tanaman Anakan Anakan 5 MST 7 MST 5 MST 7 MST (cm) (cm) 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami * Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Ket: nilai pada kolom yang diikuti tanda (*) berbeda nyata dengan perlakuan 1 dosis NPK berdasarkan uji t-dunnett pada taraf 5% pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% menghasilkan jumlah anakan tidak berbeda dan cenderung lebih sedikit dari pada perlakuan 100% dosis pupuk NPK. Berdasakan hasil pengamatan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + 1 dosis pupuk hayati 2 + jerami, perlakuan 0.5 pupuk NPK + 1 dosis pupuk hayati 2, dan

6 19 perlakuan 0.5 Pupuk NPK dosis pupuk hayati 2 menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK pada 5 MST. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dan penambahan pupuk hayati2 dengan pembenaman jerami atau tidak dapat memberikan respon yang positif terhadap pembentukan jumlah anakan. Jumlah anakan pada 7 MST terjadi penurunan terutama pada petakan perlakuan dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Hal ini diduga karena adanya serangan hama tikus di beberapa petak perlakuan. Pengukuran menggunakan alat berupa bagan warna daun ini berkaitan dengan penentuan dalam pemupukan terutama dalam penyedian unsur nitrogen. Tanaman padi yang memiliki kecukupan hara N akan berwarna hijau gelap. Nilai kritis warna daun adalah 4, bila warna daun di bawah skala 4 maka tanaman tersebut harus segera diberi pupuk N. 0.5 dosis pupuk NPK + Jerami + POG + POC + menghasilkan warna daun 4.0 pada 7 MST. Hal ini menunjukan bahwa pada perlakuan tersebut tidak perlu penambahan unsur N, karena sudah tercukupi. Unsur N tersebut diduga dapat dipenuhi dari pembenaman jerami dengan aplikasi pupuk organik dan dekomposer. Pengaruh perlakuan terhadap warna daun padi dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Pengaruh terhadap Warna Daun Padi Umur Tanaman (MST) Dosis NPK Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis Hayati NPK + Jerami Dosis Hayati NPK + Tanpa Jerami Dosis Hayati NPK + Tanpa Jerami Dosis Hayati NPK + Jerami

7 20 lain pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan warna daun yang tidak berbeda dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK. pupuk hayati atau aplikasi dekomposer dengan pembenaman jerami terlihat dapat memberikan kecukupan unsur N yang tidak berbeda dengan aplikasi 1 dosis pupuk NPK. Komponen Hasil dan Hasil Komponen Hasil Pengurangan hingga setengah dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan jumlah anakan produktif ( anakan/rumpun) yang tidak berbeda dengan perlakuan pupuk NPK dosis penuh (28.5 anakan/rumpun) dan menghasilkan jumlah anakan produktif lebih sedikit (Tabel 5). Pengaruh pengurangan 50% dosis pupuk NPK ditambah pupuk hayati 2 manghasilkan panjang malai yang lebih panjang dari perlakuan 1 dosis pupuk NPK. pengurangan dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, pupuk organik, dan pupuk hayati pada taraf yang lain menghasilkan panjang malai yang tidak berbeda dengan perlakuan dosis pupuk NPK penuh. reduksi dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami, pupuk organik, dan pupuk hayati menghasilkan jumlah gabah/malai yang nyata lebih banyak dibandingkan dengan 1 dosis pupuk NPK, kecuali perlakuan 1 dosis pupuk NPK + jerami, perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1, dan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 + POG menghasilkan jumlah gabah/malai yang tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK. Jumlah gabah/malai tertinggi diperoleh pada perlakuan 50% dosis pupuk NPK dosis pupuk hayati 2 (180/malai). pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan 50% dosis pupuk NPK menghasilkan jumlah gabah rata-rata 149/malai dan lebih tinggi dari perlakuan 100% dosis pupuk NPK (115/malai).

8 21 Peningkatan jumlah gabah/malai akan berdampak positif terhadap produksi padi dan akan meningkatkan hasil. Pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan bobot 1000 butir gabah basah yang tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan dosis pupuk NPK penuh. pengurangan dosis pupuk hingga 50% dengan kombinasinya menghasilkan bobot 1000 butir rata-rata g sedangkan perlakuan 100% dosis pupuk NPK menghasilkan bobot 1000 butir g. 50% dosis pupuk NPK + pupuk hayati + jerami menghasilkan bobot 1000 butir tertinggi (35.95 g). Percobaan ini menghasilkan bobot 1000 butir yang lebih tinggi dari deskripsi varietas ciherang. Berdasarkan deskripsi varietas ciherang bobot 1000 butir padi varietas ciherang berkisar antara 27 sampai 28 g. Tabel 5. Pengaruh terhadap Komponen Hasil Jumlah Anakan Produktif Panjang Malai (cm) Jumlah Gabah/Malai Bobot 1000 Butir (g) 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami * Dosis NPK + Jerami * Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati * Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC * Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG * Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami * Dosis NPK + 1 Dosis Hayati * Dosis NPK Dosis Hayati * 180* Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami * Ket: nilai pada kolom yang diikuti tanda (*) berbeda nyata dengan perlakuan 1 dosis NPK berdasarkan uji t-dunnett pada taraf 5% Pembenaman jerami, penambahan pupuk organik, dan pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% akan menghasilkan jumlah

9 22 anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah/malai, dan bobot 1000 butir yang tidak berbeda atau lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK. Hal ini menunjukan bahwa pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% tidak menurunkan komponen hasil. Hasil per Tanaman reduksi dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati di berbagai taraf dosis menghasilkan bobot gabah kering/tanaman yang tidak berbeda dibandingkan 1 dosis pupuk NPK (Tabel 6). 100% dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami menghasilkan gabah kering/rumpun yang paling tinggi yaitu 106 g, sedangkan perlakuan 100% dosis pupuk NPK menghasilkan gabah kering/rumpun hanya 89.1 g. Berdasarkan pengamatan, pengurangan 50% dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, penambahan pupuk organik, dan pupuk hayati menghasilkan gabah kering giling/rumpun berkisar antara 83.3 g sampai 106 g., sedangkan perlakuan 100% dosis pupuk NPK menghasilkan 89.1 g gabah kering giling/rumpun. Tabel 6. Pengaruh Reduksi Dosis Pupuk NPK dengan Pembenaman Jerami, Pupuk Organik dan Pupuk Hayati terhadap Hasil Gabah/Rumpun dan Persentase Gabah Isi Hasil Gabah Gabah Isi (%) Kering/rumpun (g) 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati * 0.5 Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Ket: nilai pada kolom yang diikuti tanda (*) berbeda nyata dengan perlakuan 1 dosis NPK berdasarkan uji t-dunnett pada taraf 5%

10 23 Secara statistik, perlakuan 50% dosis pupuk NPK dosis pupuk hayati 2 menghasilkan gabah isi yang nyata lebih tinggi (1.8%) dengan perlakuan pupuk NPK dosis penuh. Beberapa perlakuan pembenaman jerami dan penambahan pupuk organik atau penambahan pupuk hayati menghasilkan persentase gabah bernas yang tidak berbeda dengan perlakuan pupuk NPK dosis penuh dan lebih tinggi. Hasil Ubinan dan Dugaan Hasil per Ha Pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% menghasilkan gabah kering giling/ubinan tidak berbeda nyata dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK. Dugaan hasil GKG/ha dapat dihasilkan dari beberapa cara menghitung, yaitu berbasis hasil ubinan atau komponen hasil. Perhitungan dari hasil ubinan menunjukan perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% pada semua taraf menghasilkan gabah kering giling (GKG)/ha yang tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan satu dosis pupuk NPK (Tabel 7). Tabel 7. Hasil Ubinan dan Dugaan Hasil GKG/ha Berbasis Ubinan Hasil GKG/Ubinan Hasil GKG/ha...kg...ton... 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Hasil perlakuan reduksi pupuk NPK terlihat cenderung lebih rendah dibandingkan satu dosis pupuk NPK. Hal ini diduga disebabkan percobaan ini baru musim tanam ke dua. Hasil penelitian Eagle et al. (2000) menyatakan bahwa

11 24 pembenaman jerami baru terlihat pengaruhnya terhadap produksi pada tahun ketiga. Selain hal tersebut adanya serangan hama tikus menyebabkan beberapa petak percobaan memiliki hasil yang rendah dari kondisi normal. Berdasarkan hasil gabah kering/rumpun menunjukan bahwa beberapa perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK terjadi peningkatan hasil, oleh karena itu dilakukan perhitungan dugaan hasil GKG/ha berbasis komponen hasil. Perhitungan dugaan hasil/ha berbasis komponen hasil, terlihat bahwa pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan gabah kering giling/ha tidak berbeda dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK. 100% dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami menghasilkan GKG tertinggi yaitu 15.3 ton/ha. Pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan kombinasinya GKG cenderung lebih tinggi dari pada perlakuan 100% dosis pupuk NPK, kecuali perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 dan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 + POG + dekomposer menghasilkan GKG/ha berturut-turut 12 ton dan 12.6 ton. satu dosis pupuk NPK menghasilkan 12.8 ton GKG/ha (Tabel 8). Hal tersebut menunjukan bahwa secara umum, perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dapat meningkatkan hasil. Secara agronomis pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami dan aplikasi pupuk hayati atau pupuk organik terjadi peningkatan hasil (Tabel 8). 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati1 dan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 + POG + dekomposer terjadi penurunan hasil, berturut-turut menurun 0.8 ton GKG/ha (6.4%) dan 0.2 ton GKG/ha (1.4%). Peningkatan hasil yang tertinggi adalah perlakuan 100% dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami yaitu 19% atau meningkat 2.5 ton GKG/ha.

12 25 Tabel 8. Dugaan Hasil GKG/ha dan Peningkatan Hasil Berbasis Komponen Hasil Hasil GKG/ha (ton) Peningkatan kg GKG/ha (ton) Peningkatan Hasil (%) 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Analisis Usaha Tani Secara umum perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dapat meningkatkan keuntungan dibandingkan perlakuan pupuk NPK dosis penuh. 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 dan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati 1 + POG + dekomposer yang menurunkan keuntungan dibandingkan satu dosis pupuk NPK. Sebagian besar perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% komponen biaya yang dikeluarkan lebih kecil dari pada perlakuan 100% dosis pupuk NPK. Hal ini membuktikan bahwa dengan pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dapat mengurangi komponen biaya yang dikeluarkan. yang menggunakan pupuk organik granul membutuhkan biaya yang lebih besar. Hal ini disebabkan harga pupuk organik granul yang tinggi dan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan lebih besar. 100% dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami menghasilkan keuntungan yang paling tinggi yaitu Rp ,- dengan R/C ratio % dosis pupuk NPK dosis pupuk hayati 2

13 26 memperoleh R/C ratio tertinggi yaitu 1.9 dengan keuntungan Rp ,- dan lebih besar dari perlakuan 100% dosis pupuk NPK. satu dosis pupuk NPK menghasilkan keuntungan Rp dengan R/C ratio 1.4. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut menunjukan bahwa secara ekonomi pengurangan dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik dan atau pupuk hayati dapat menguntungkan dan dapat meningkatkan pendapatan. Hasil analisis usaha tani dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Analisis Usaha Tani Berbasis Komponen Hasil Penerimaan Keuntungan R/C Ratio Biaya (Rp) (Rp) (Rp) (%) 1 Dosis NPK Dosis NPK + Jerami Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami Dosis NPK + Jerami Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + Jerami + POG + POC Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami Dosis NPK + 1 Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami Rendemen Beras Pecah Kulit, Beras Giling, dan Beras Kepala Hasil analisis rendemen beras pada perlakuan reduksi dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan beras pecah kulit, dan beras giling yang tidak berbeda dibandingkan perlakuan 1 dosis pupuk NPK (Tabel 10). Pengukuran rendemen beras kepala diambil dari 100g beras giling. Pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami, pupuk organik dan pupuk hayati memberikan pengaruh yang positif terhadap persentase beras kepala dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK dosis penuh.

14 27 pengurangan dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami dan pupuk organik atau pupuk hayati menghasilkan persentase beras kepala rata-rata 81%, sedangkan persentase beras kepala pada perlakuan 1 dosis pupuk NPK rata-rata hanya 65%. Selisih persentase beras kepala antara perlakuan reduksi dosis pupuk NPK hingga 50% dan kombinasinya dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK yaitu 16%. Tabel 10. Rata-rata Rendemen Beras Pecah Kulit, Beras Giling, dan Beras Kepala Rendemen (%) Beras Pecah Beras Beras Mutu Kulit Giling Kepala 1 Dosis NPK V 1 Dosis NPK + Jerami II Tanpa Pupuk dan Tanpa Jerami III 0.5 Dosis NPK + Jerami II 0.5 Dosis NPK + Jerami + Hayati V 0.5 Dosis NPK + Jerami + Hayati V 0.5 Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG II 0.5 Dosis NPK + Jerami + POG + POC V 0.5 Dosis NPK + Jerami + Hayati 1 + POG IV 0.5 Dosis NPK + 1 Dosis Hayati 2 + Jerami III 0.5 Dosis NPK + 1 Dosis Hayati III 0.5 Dosis NPK Dosis Hayati III 0.5 Dosis NPK Dosis Hayati 2 + Jerami III Sumber: Balai Besar Padi Muara, Ciapus, Bogor (2011) Pembahasan Banyak penelitian penggunaan bahan organik pada lahan sawah tidak memberikan respon yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, namun bukan berarti bahan organik tidak penting. Hal tersebut karena pengaruh bahan organik baru terlihat dalam waktu pemberian yang lama, tergantung bahan organik dan jenis tanahnya. Penambahan pupuk organik dan pupuk hayati terlihat penting untuk mendukung kecukupan hara dalam pengurangan 50% dosis NPK dengan pembenaman jerami. Pupuk hayati juga dapat menambat N dan melarutkan unsur P sehingga meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman (Sugiyanta,

15 ). Aplikasi pupuk organik dengan pupuk hayati dapat berdampak positif bagi pertumbuhan tanaman padi, sehingga dengan pertumbuhan vegetatif yang maksimal akan berdampak pada hasil dan komponen hasil padi. Menurut Pramono (2004), pemberian bahan organik dapat memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Hal tersebut pada penelitian ini terlihat pada tinggi tanaman, panjang malai, jumlah gabah/malai, dan persentase gabah isi yang lebih tinggi dari perlakuan dosis pupuk NPK penuh. Cho dan Kobata (2002), menyatakan bahwa jerami padi merupakan sumber bahan organik utama yang dapat menigkatkan unsur N selama dekomposisi dan melepas kembali secara perlahan. Pembenaman jerami, pupuk organik, dan pupuk hayati secara konsisten meningkatkan nilai BWD. Saat tanaman berumur 7 MST, perlakuan pengurangan dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, pupuk organik, dan pupuk hayati menghasilkan nilai BWD yang tidak berbeda dari 1 dosis pupuk NPK. Hal ini menunjukan bahwa pada minggu selanjutnya pada semua perlakuan mengalami peningkatan ketersediaan unsur nitrogen sedangkan pada perlakuan 1 dosis NPK terjadi penurunan. yang menunjukan skor 4 berarti bahwa tanaman tersebut tidak memerlukan asupan Nitrogen. Aplikasi pupuk NPK bersamaan dengan aplikasi pupuk hayati dan dekomposer dapat mengurangi imobilisasi N selama proses dekomposisi. Hal ini sesuai dengan Sugiyanta et al (2008) menyatakan bahwa, aplikasi dekomposer dan pupuk hayati efektif dapat meniadakan imobilisasi unsur N. Jumlah anakan produktif merupakan jumlah anakan dalam satu rumpun yang menghasilkan malai. Pengurangan hingga setengah dosis pupuk NPK dengan pembenaman jerami, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan jumlah anakan produktif ( anakan/rumpun) yang tidak berbeda dengan perlakuan pupuk NPK dosis penuh (28.5 anakan/rumpun) dan menghasilkan jumlah anakan produktif lebih sedikit. Jumlah anakan pada fase vegetatif umumnya tidak semua akan terbentuk menjadi anakan produktif. Hal ini dikarenakan pada masa generatif terjadi keterlambatan pengisian malai dan adanya serangan hama tikus pada beberapa petak percobaan.

16 29 Komponen hasil yang diamati adalah jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan bobot 1000 butir. Aplikasi pupuk organik atau pupuk hayati dapat berdampak positif bagi pertumbuhan tanaman padi, sehingga dengan pertumbuhan vegetatif yang maksimal akan berdampak pada hasil dan komponen hasil padi. Pengaruh pengurangan pupuk NPK 0.5 dosis dan ditambah 0.5 dosis pupuk hayati 2 terlihat menghasilkan panjang malai nyata lebih panjang dari perlakuan 1 dosis pupuk NPK. Hal ini juga terlihat pada jumlah gabah/malai yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK. reduksi dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami aplikasi pupuk organik, pupuk hayati dapat menyediakan unsur K untuk pembentukan gabah. Hasil tersebut sesuai dengan Dobermann dan Fairhurst (2000) menyatakan bahwa unsur K dapat meningkatkan jumlah gabah/malai. Abdurachman et al (2002) biomassa jerami padi mengandung 90 kg K/ha (6 ton/ha jerami) dan hampir semua unsur K tertinggal di dalam jerami. Setiobudi et al. (2008) menambahkan, pemberian jerami dapat meningkatkan jumlah gabah/malai. Pengurangan 50% dosis NPK dengan pembenaman jerami, penambahan pupuk organik dan atau pupuk hayati menghasilkan hasil gabah/tanaman dan persen gabah isi yang tidak berbeda dengan aplikasi pupuk NPK dosis penuh. Hal tersebut menunjukan bahwa dari suplai hara tidak terdapat perbedaan antara perlakuan tersebut sehingga hasil tanaman tidak berbeda. Kecukupan unsur hara N, P, dan K berpengaruh terhadap hasil gabah (Dobermann dan Fairhurst, 2000). Kecukupan unsur hara NPK yang tidak berbeda akan memberikan hasil gabah/tanaman yang tidak berbeda. Aplikasi pada perlakuan 0.5 dosis hayati dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap gabah isi (bernas) dibandingkan 1 dosis pupuk NPK. Faktor internal tanaman dan pemberian hara nitrogen yang cukup dapat meningkatkan jumlah gabah bernas. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Limbongan et al., (2009) yang menyatakan bahwa penambahan nitrogen memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase gabah bernas. pembenaman jerami aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan penambahan 0.5 dosis pupuk NPK memberikan hasil gabah kering giling/ha berbasis komponen hasil yang tidak berbeda dengan perlakuan satu dosis

17 30 pupuk NPK dan cenderung lebih tinggi. Hal tersebut sejalan dengan Sugiyanta (2008), yang menyatakan pembenaman jerami dengan penambahan 0,5 dosis pupuk inorganik memberikan hasil gabah yang tidak berbeda dengan perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi. 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati1 dan perlakuan 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + pupuk hayati1 + POG + dekomposer cenderung menghasilkan gabah kering giling/ha lebih rendah daripada perlakuan satu dosis pupuk NPK. Perbedaan kecenderungan dugaan hasil/ha berbasis ubinan dan komponen hasil diduga karena masih musim tanam kedua dan adanya serangan hama tikus, sehingga beberapa petak kondisisnya tidak memungkinkan. Persentase beras giling berkisar antara 64-68% pada berbagai taraf perlakuan. Hal ini sesuai dengan Haryadi (2008) yang menyatakan bahwa, penggilingan gabah menghasilkan sekitar 65% beras giling. pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami, pupuk organik, dan pupuk hayati tidak menurunkan persentase beras giling. Persentase beras kepala yang baik akan menentukan mutu beras tersebut. 0.5 dosis pupuk NPK, 0.5 dosis pupuk NPK + jerami + PH 1 + POG, dan satu dosis pupuk NPK + jerami yang menghasilkan mutu beras kepala yang paling tinggi (mutu II). satu dosis pupuk NPK (kontrol) tergolong ke dalam mutu V (BSN 2008). Semakin besar persentase beras kepala, maka mutu beras tersebut semakin tinggi. Reduksi dosisi pupuk NPK hingga 50% dengan pembenaman jerami dan aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati diduga menyebabkan tanaman menyerap unsur hara yang berimbang. Serapan unsur N yang cukup akan menyebabkan protein beras meningkat dan beras tidak mudah patah. Kadar protein beras meningkat yang dihasilkan karena ketersediaan unsur nitrogen yang tersedia jumlahnya optimum, sehingga memperlancar proses sintesis protein (BPTPI, 2010).

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Curah hujan selama penelitian dari bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010 tergolong tinggi sampai sangat tinggi yaitu berkisar antara 242.1-415.8 mm/bulan dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2009, yang merupakan bulan basah. Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Dramaga,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 Februari 2010. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

PENGARUH REDUKSI PUPUK NPK DENGAN PEMBENAMAN JERAMI, APLIKASI PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH

PENGARUH REDUKSI PUPUK NPK DENGAN PEMBENAMAN JERAMI, APLIKASI PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH PENGARUH REDUKSI PUPUK NPK DENGAN PEMBENAMAN JERAMI, APLIKASI PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI INDRAMAYU, JAWA BARAT oleh ARDOYO A24070146 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Lahan 4. 1. 1. Sifat Kimia Tanah yang digunakan Tanah pada lahan penelitian termasuk jenis tanah Latosol pada sistem PPT sedangkan pada sistem Taksonomi, Tanah tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kajian Teoritis 2.1.1. Sawah Tadah Hujan Lahan sawah tadah hujan merupakan lahan sawah yang dalam setahunnya minimal ditanami satu kali tanaman padi dengan pengairannya sangat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi umum Lahan penelitian berada diketinggian 250 m diatas permukaan laut (dpl ) dengan jenis tanah latosol darmaga. Curah hujan terendah selama penelitiaan yaitu 312

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di lahan sawah Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan jenis tanah latosol. Lokasi sawah berada pada ketinggian tempat 230 meter

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A

PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A PENGARUH MANAJEMEN JERAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) Oleh: MUDI LIANI AMRAH A34104064 PROGRAM STUDI AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang

Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Nama Varietas : Ciherang Kelompok : Padi Sawah Nomor Seleksi : S3383-1d-Pn-41 3-1 Asal Persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1//IR19661-131- 3-1///IR64

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat peningkatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3. Nomor persilangan : BP3448E-4-2. Anakan produktif : 17 anakan

Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3. Nomor persilangan : BP3448E-4-2. Anakan produktif : 17 anakan Lampiran 1: Deskripsi padi varietas Inpari 3 Nomor persilangan : BP3448E-4-2 Asal persilangan : Digul/BPT164-C-68-7-2 Golongan : Cere Umur tanaman : 110 hari Bentuk tanaman : Sedang Tinggi tanaman : 95

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2010 sampai dengan bulan Januari 2011 di lahan sawah yang berlokasi di Desa Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Elevasi/GPS

Lebih terperinci

Elfa Najata dan Sugiyanta *

Elfa Najata dan Sugiyanta * Pengaruh Reduksi Pupuk NPK dengan Pembenaman Jerami, Aplikasi Pupuk Organik Dan Hayati terhadap Ketersediaan Hara, Populasi Mikroba, dan Hasil Padi Sawah di Indramayu The Effect of Reduces the NPK Fertilizer

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fauna Tanah 4.1.1. Populasi Total Fauna Tanah Secara umum populasi total fauna tanah yaitu mesofauna dan makrofauna tanah pada petak dengan jarak pematang sempit (4 m)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Ragam Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter-karakter yang diamati. Hasil rekapitulasi analisis ragam (Tabel 2), menunjukkan adanya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Dekomposisi Jerami Padi pada Plot dengan Jarak Pematang 4 meter dan 8 meter Laju dekomposisi jerami padi pada plot dengan jarak pematang 4 m dan 8 m disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.) MUSIM TANAM KEEMPAT DI KARAWANG, JAWA BARAT TRI HERDIYANTI A

PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.) MUSIM TANAM KEEMPAT DI KARAWANG, JAWA BARAT TRI HERDIYANTI A PENGURANGAN DOSIS PUPUK NPK PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.) MUSIM TANAM KEEMPAT DI KARAWANG, JAWA BARAT TRI HERDIYANTI A24080046 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor mulai bulan Desember 2009 sampai Agustus 2010. Areal penelitian memiliki topografi datar dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Rumah kaca University Farm, Cikabayan, Dramaga, Bogor. Ketinggian tempat di lahan percobaan adalah 208 m dpl. Pengamatan pascapanen dilakukan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian di Rumah Kaca 4.1.1 Tinggi Tanaman Hasil Analisis ragam (Analysis of Variance) terhadap tinggi tanaman jagung (Tabel Lampiran 2-7) menunjukkan bahwa tiga

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di lahan sawah Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari bulan Juni sampai bulan Oktober 2011. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

Budidaya Padi Organik dengan Waktu Aplikasi Pupuk Kandang yang Berbeda dan Pemberian Pupuk Hayati

Budidaya Padi Organik dengan Waktu Aplikasi Pupuk Kandang yang Berbeda dan Pemberian Pupuk Hayati Budidaya Padi Organik dengan Waktu Aplikasi Pupuk Kandang yang Berbeda dan Pemberian Pupuk Hayati Rice Organic Cultivation with Different Times of Manure Application and Biological Fertilizer Application

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan dengan titik

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Analisis tanah dan hara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di desa Kleseleon, kecamatan Weliman, kabupaten Malaka, proinsi Nusa Tenggara Timur pada lahan sawah bukaan baru yang

Lebih terperinci

: Kasar pada sebelah bawah daun

: Kasar pada sebelah bawah daun Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Varietas : Ciherang Nomor Pedigree : S 3383-1d-Pn-41-3-1 Asal/Persilangan : IR 18349-53-1-3-1-3/IR Golongan : Cere Bentuk : Tegak Tinggi : 107 115 cm Anakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada 27 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung yang berada pada 105 13 45,5 105 13 48,0 BT dan 05 21 19,6 05 21 19,7 LS, dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut. Penelitian

Lebih terperinci

BUDIDAYA PADI RATUN. Marhaenis Budi Santoso

BUDIDAYA PADI RATUN. Marhaenis Budi Santoso BUDIDAYA PADI RATUN Marhaenis Budi Santoso Peningkatan produksi padi dapat dicapai melalui peningkatan indeks panen dan peningkatan produksi tanaman setiap musim tanam. Padi Ratun merupakan salah satu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia (96,87% penduduk) dan merupakan penyumbang lebih dari 65% kebutuhan kalori (Pranolo 2001). Dalam

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan 11 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2012 di Dusun Bandungsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. ABSTRACT... v. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. ABSTRACT... v. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii RIWAYAT HIDUP... iii ABSTRAK... iv ABSTRACT... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xiii

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN OMISSION PLOT Kajian Efektifitas Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi Pada Kawasan Penambangan Nikel Di Wasile - Maluku Utara

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN OMISSION PLOT Kajian Efektifitas Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi Pada Kawasan Penambangan Nikel Di Wasile - Maluku Utara PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN OMISSION PLOT Kajian Efektifitas Pengelolaan Lahan Sawah Irigasi Pada Kawasan Penambangan Nikel Di Wasile - Maluku Utara I. PENDEKATAN PETAK OMISI Kemampuan tanah menyediakan

Lebih terperinci

Shoni Riyanti, Heni Purnamawati * dan Sugiyanta

Shoni Riyanti, Heni Purnamawati * dan Sugiyanta Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati Serta Reduksi Pupuk NPK terhadap Ketersediaan Hara dan Populasi Mikroba Tanah Pada Tanaman Padi Sawah Musim Tanam Kedua di Karawang, Jawa Barat The Effect

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Tinggi tanaman padi akibat penambahan jenis dan dosis amelioran. 28 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan 4.1.1 Tinggi Tanaman Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis dan dosis amelioran tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi ciherang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dimulai dari April 2009 sampai Agustus 2009. Penelitian lapang dilakukan di lahan sawah Desa Tanjung Rasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI VARIETAS MEKONGGA TERHADAP KOMBINASI DOSIS PUPUK ANORGANIK NITROGEN DAN PUPUK ORGANIK CAIR

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI VARIETAS MEKONGGA TERHADAP KOMBINASI DOSIS PUPUK ANORGANIK NITROGEN DAN PUPUK ORGANIK CAIR RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI VARIETAS MEKONGGA TERHADAP KOMBINASI DOSIS PUPUK ANORGANIK NITROGEN DAN PUPUK ORGANIK CAIR Oleh : Yudhi Mahmud Fakultas Pertanian Universitas Wiralodra, Jawa Barat

Lebih terperinci

KK : 2.4% Ket: ** ( sangat nyata) tn (tidak nyata) Universitas Sumatera Utara

KK : 2.4% Ket: ** ( sangat nyata) tn (tidak nyata) Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Data pengamatan tinggi tanaman padi (cm) pada umur 3 MST pada P0V1 60.90 60.33 59.33 180.57 60.19 P0V2 53.33 59.00 58.33 170.67 56.89 P0V3 62.97 61.33 60.97 185.27 61.76 P1V1 61.57 60.03 59.33

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Contoh Tanah Hasil analisa sudah diketahui pada Tabel 4.1 dapat dikatakan bahwa tanah sawah yang digunakan untuk penelitian ini memiliki tingkat kesuburan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36,

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36, 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilaksanakan di lahan sawah irigasi Desa Sinar Agung, Kecamatan Pulau Pagung, Kabupaten Tanggamus dari bulan November 2014 sampai April

Lebih terperinci

Lampiran 1. Tabel Tinggi Tanaman 2 MST (cm) Ulangan

Lampiran 1. Tabel Tinggi Tanaman 2 MST (cm) Ulangan Lampiran 1. Tabel Tinggi Tanaman 2 MST (cm) P0 21.72 20.50 21.20 20.86 21.90 106.18 21.24 P1 20.10 19.60 20.70 20.00 21.38 101.78 20.36 P2 20.20 21.40 20.22 22.66 20.00 104.48 20.90 P3 20.60 23.24 18.50

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, Kasihan, Bantul dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi 4.1.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 4 MST dan 8 MST masingmasing perlakuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Semawung, Kec. Andong, Boyolali (lahan milik Bapak Sunardi). Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, dimulai bulan

Lebih terperinci

II. Materi dan Metode. Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan

II. Materi dan Metode. Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan II. Materi dan Metode 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Benih Induk Hortikultura Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan Januari-Mei 2013.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 KAJIAN TEORITIS 2.1.1 Karakteristik Lahan Sawah Bukaan Baru Pada dasarnya lahan sawah membutuhkan pengolahan yang khusus dan sangat berbeda dengan lahan usaha tani pada lahan

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

Komponen PTT Komponen teknologi yang telah diintroduksikan dalam pengembangan usahatani padi melalui pendekatan PTT padi rawa terdiri dari:

Komponen PTT Komponen teknologi yang telah diintroduksikan dalam pengembangan usahatani padi melalui pendekatan PTT padi rawa terdiri dari: AgroinovasI Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Rawa Meningkatkan Produktivitas Dan Pendapatan Petani Di Lampung, selain lahan sawah beririgasi teknis dan irigasi sederhana, lahan rawa juga cukup potensial

Lebih terperinci

1) Dosen Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon 2) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Kuningan

1) Dosen Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon 2) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Kuningan PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR PADI SAWAH (Oryza sativa L) PADA TIGA JUMLAH BARIS CARA TANAM LEGOWO A. Harijanto Soeparman 1) dan Agus Nurdin 2) 1) Dosen Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon 2) Dinas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro, 20 III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro, Desa Rejomulyo Kecamatan Metro Selatan Kota Metro dengan ketinggian

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Kebutuhan Pupuk anorganik. : / 0,25 m. : tanaman. : g / tan.

Lampiran 1. Perhitungan Kebutuhan Pupuk anorganik. : / 0,25 m. : tanaman. : g / tan. Lampiran 1. Perhitungan Kebutuhan Pupuk anorganik Jarak antar larikan : 25 cm Populasi : Luas Lahan / Jarak tanam : 10.000 / 0,25 m : 40.000 tanaman Kebutuhan Pupuk K1 Urea 100 kg /Ha : Dosis / Populasi

Lebih terperinci

PENGELOLAAN TERPADU PADI SAWAH (PTPS): INOVASI PENDUKUNG PRODUKTIVITAS PANGAN

PENGELOLAAN TERPADU PADI SAWAH (PTPS): INOVASI PENDUKUNG PRODUKTIVITAS PANGAN PENGELOLAAN TERPADU PADI SAWAH (PTPS): INOVASI PENDUKUNG PRODUKTIVITAS PANGAN Ameilia Zuliyanti Siregar Departemen Agroekoteknologi Fakultas Pertanian zuliyanti@yahoo.com,azs_yanti@gmail.com Pendahuluan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang terpadu Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kec. Natar Kab. Lampung Selatan dan Laboratorium

Lebih terperinci

PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT

PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT Handoko Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur ABSTRAK Lahan sawah intensif produktif terus mengalami alih fungsi,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Pupuk dan Pemupukan 4 TINJAUAN PUSTAKA Padi Varietas Way Apoburu Padi sawah dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu : padi sawah (lahan yang cukup memperoleh air, digenangi waktu-waktu tertentu terutama musim tanam sampai

Lebih terperinci

UJI ADAPTASI BEBERAPA PADI HIBRIDA DI LAHAN SAWAH IRIGASI BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH

UJI ADAPTASI BEBERAPA PADI HIBRIDA DI LAHAN SAWAH IRIGASI BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH Seminar Nasional : Reformasi Pertanian Terintegrasi Menuju Kedaulatan Pangan UJI ADAPTASI BEBERAPA PADI HIBRIDA DI LAHAN SAWAH IRIGASI BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH Asmarhansyah 1) dan N. Yuliani 2)

Lebih terperinci

RAKITAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONGMAS PENDAHULUAN

RAKITAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONGMAS PENDAHULUAN RAKITAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONGMAS Oleh: Silman Hamidy, Jamal Khalid, M. Adil, Hamdani PENDAHULUAN Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus terpenuhi kecukupannya untuk menunjang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada titik koordinat 5 22 10 LS dan 105 14 38 BT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 9 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Karakteristik Lokasi Penelitian Luas areal tanam padi adalah seluas 6 m 2 yang terletak di Desa Langgeng. Secara administrasi pemerintahan Desa Langgeng Sari termasuk dalam

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di lahan sawah berpengairan teknis, yang terletak di Desa Wijirejo, Kec. Pandak, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lebih terperinci

Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda

Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Latar Belakang Untuk memperoleh hasil tanaman yang tinggi dapat dilakukan manipulasi genetik maupun lingkungan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur terhadap Sifat Kimia Tanah Pengaplikasian Electric furnace slag (EF) slag pada tanah gambut yang berasal dari Jambi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas III. TATA CARA PENELTIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Juli 2016 November

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat 18 BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di kebun percobaan Institut Pertanian Bogor, Sawah Baru Babakan Darmaga, selama 4 bulan, dari bulan Mei-September 2010. Bahan dan Alat Bahan-bahan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil,

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, umur masak, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta rasa nasi. Umumnya konsumen beras di Indonesia menyukai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

Kata kunci : kompos, Azolla, pupuk anorganik, produksi

Kata kunci : kompos, Azolla, pupuk anorganik, produksi KAJIAN APLIKASI KOMPOS AZOLLA DAN PUPUK ANORGANIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L) Gatot Kustiono 1), Indarwati 2), Jajuk Herawati 2) 1) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Mojosari,Mojokerto

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Blast Furnace Slag dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 4.1.1. ph Tanah dan Basa-Basa dapat Dipertukarkan Berdasarkan Tabel 3 dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama penelitian berlangsung suhu udara rata-rata berkisar antara 25.1-26.2 o C dengan suhu minimum berada pada bulan Februari, sedangkan suhu maksimumnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Padi adalah salah satu bahan makanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian,Perlakuan dan Analisis Data

BAB III METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian,Perlakuan dan Analisis Data BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan mulai Oktober 2014 Februari 2015. Penelitian dilaksanakan di Desa Semawung Kec. Andong, Kab. Boyolali,

Lebih terperinci

Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Padi Hibrida

Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Padi Hibrida Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Padi Hibrida Oleh : Dandan Hendayana, SP (PPL Kec. Cijati Cianjur) Saat ini tanaman padi hibrida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam upaya peningkatan produksi

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci