USULAN LeIP UNTUK DAFTAR INVENTARIS MASALAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KOMISI YUDISIAL. Tetap. Tetap.

Save this PDF as:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "USULAN LeIP UNTUK DAFTAR INVENTARIS MASALAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KOMISI YUDISIAL. Tetap. Tetap."

Transkripsi

1 USULAN LeIP UNTUK DAFTAR INVENTARIS MASALAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KOMISI YUDISIAL 1. RANCANGAN 2. Menimbang: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDENREPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum dan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 3. b. bahwa Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, dan peradilan militer, memerlukan hakim agung yang harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum; 4. c. bahwa untuk pencalonan Hakim Agung melalui Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan pengawasan terhadap para hakim dalam pelaksanaan tugasnya, dilaksanakan oleh Komisi Yudisial sebagai satu lembaga yang mandiri sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 24 B

2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 5. d. bahwa dalam rangka pelaksanaan tugas dari Komisi Yudisial tersebut perlu diikutsertakan dan diatur partisipasi masyarakat dengan tetap menjaga kemandirian kekuasaan kehakiman; 6. e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c perlu membentuk Undang-Undang tentang Komisi Yudisial. 7. Mengingat: 1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 24, Pasal 24 A, Pasal 24 B, dan Pasal 25 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang- Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 147; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3879); Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 73; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3316); 10. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 11. MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG KOMISI YUDISIAL. 12. BAB I KETENTUAN UMUM 13. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

3 Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang bersifat mandiri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Mahkamah Agung adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang selanjutnya disebut DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Hakim Agung adalah Hakim Anggota pada Mahkamah Agung Hakim adalah seluruh hakim pada semua tingkatan dan lingkungan peradilan. Penjelasan Pasal 1 butir 5: Cukup jelas - Untuk menghindari salah penafsiran bahwa hakim yang dimaksud dalam RUU ini tidak termasuk Hakim Agung, pada bagian Penjelasan pasal demi pasal, perlu dijelaskan bahwa hakim yang dimaksud RUU ini, di dalamnya juga termasuk Hakim Agung. - Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkan bahwa untuk ketentuan ini perlu diberikan penjelasan pada bagian pasal demi pasal yang menyatakan bahwa yang dimaksud hakim pada semua tingkatan peradilan adalah hakim pada pengadilan tingkat pertama, tingkat banding, dan Mahkamah Agung. Penjelasan Pasal 1 butir Lingkungan Peradilan adalah badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang meliputi peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara, serta pengadilanpengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut Hari adalah hari kerja. Hakim pada semua tingkatan peradilan adalah hakim pada pengadilan tingkat pertama, pengadilan tingkat banding, dan Mahkamah Agung.

4 21. BAB II KEDUDUKAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN 22. Pasal 2 Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya. 23. Pasal 3 (1) Komisi Yudisial berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 24. (2) Apabila dipandang perlu, Komisi Yudisial dapat membentuk Perwakilan Komisi Yudisial di daerah yang wilayah kerjanya meliputi satu atau lebih daerah provinsi. 25. BAB III WEWENANG DAN TUGAS Bagian Pertama Wewenang 26. Pasal 4 Komisi Yudisial mempunyai wewenang: 27. a. mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR; dan 28. b. menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. 29. Bagian Kedua Tugas 30. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, Komisi Yudisial mempunyai tugas:

5 31. a. melakukan pendaftaran bakal calon Hakim Agung; 32. b. melakukan seleksi terhadap bakal calon Hakim Agung; Penjelasan UU: Yang dimaksud seleksi meliputi penelitian administratif, pengumuman untuk mendapatkan masukan masyarakat terhadap pribadi dan tingkah laku calon, rekomendasi dari KPKPN dalam hal calon termasuk penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Penjelasan UU Untuk memberikan keleluasaan bagi komisi untuk melakukan proses penggalian track record calon hakim agung maka di antara kata yang dimaksud seleksi meliputi dan kata penelitian administratif perlu ditambah kalimat antara lain. Selain itu, mengingat Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) telah dihapuskan dengan keberadaan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka kata KPKPN dalam penjelasan pasal ini harus disesuaikan. Penjelasan Pasal 5 ayat (1) huruf b. Yang dimaksud seleksi meliputi antara lain penelitian administratif, pengumuman untuk mendapatkan masukan masyarakat terhadap pribadi dan tingkah laku calon, rekomendasi dari Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam hal calon termasuk penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. 33. c. menetapkan calon Hakim Agung; dan

6 48. b. mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. 49. (2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterima pemberitahuan dari Mahkamah Agung adanya lowongan Hakim Agung. Penjelasan: Cukup jelas Untuk melakukan seleksi yang memadai Komisi Yudisial perlu diberi waktu yang memadai. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan agar jangka waktu maksimum proses seleksi diperpanjang menjadi 4 bulan. Agar tidak ada kekosongan posisi hakim agung yang terlalu lama mengingat panjangnya waktu seleksi sebagaimana diusulkan diatas, perlu diatur dalam penjelasan pasal ini agar Komisi Yudisial diwajibkan untuk memulai proses seleksi jauh-jauh hari sebelum terjadinya kekosongan posisi hakim agung. 50. (2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterima pemberitahuan dari Mahkamah Agung adanya lowongan Hakim Agung. Penjelasan: Mengingat panjangnya waktu seleksi yang diberikan, Komisi Yudisial harus mengupayakan agar proses seleksi hakim agung dilakukan jauhjauh hari sebelum terjadinya kekosongan posisi tersebut. 51. Pasal 6 (1) Komisi Yudisial melakukan pendaftaran bakal calon Hakim Agung dengan meminta pengajuan nama dari Mahkamah Agung, Pemerintah, dan mengundang partisipasi masyarakat. Untuk membuka peluang seseorang yang memenuhi persyaratan untuk mengajukan diri sendiri untuk menjadi calon hakim agung, maka perlu diatur dalam penjelasan pasal ini bahwa yang dimaksud partisipasi masyarakat adalah termasuk partisipasi setiap orang untuk mencalonkan dirinya sendiri.

7 52. (2) Pengajuan bakal calon Hakim Agung kepada Komisi Yudisial harus memperhatikan persyaratan calon Hakim Agung sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. 53. (3) Pengajuan bakal calon Hakim Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari kerja sejak diumumkan oleh Komisi Yudisial. Penjelasan Pasal 6 ayat (1) Yang dimaksud partisipasi masyarakat adalah termasuk partisipasi setiap orang untuk mencalonkan dirinya sendiri. 54. Pasal 7 (1) Komisi Yudisial mengumumkan bakal calon Hakim Agung yang terdaftar dan dalam hal diperlukan meminta bakal calon melengkapi persyaratan administrasi dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja. 55. (2) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persyaratan yang diatur dalam perundang-undangan dan persyaratan administrasi tambahan berupa: 56. a. riwayat hidup, termasuk riwayat pekerjaan, pendidikan dan pengalaman organisasi; 57. b. seluruh copy putusan bakal calon Hakim Agung yang berasal dari hakim setidaknya dalam 2 (dua) tahun terakhir; 58. c. seluruh pembelaan atau tuntutan atau karya ilmiah atau hasil kerja intelektual lain yang dibuat bakal calon Hakim Agung selama 2 (dua) tahun terakhir, yaitu bagi bakal calon Hakim Agung yang berasal dari advokat, jaksa, dan akademisi atau profesi di bidang hukum lainnya; 59. d. daftar seluruh harta kekayaan bakal calon Hakim Agung dan keluarga inti serta penjelasan mengenai sumber pemasukan bakal calon dan keluarga intinya; dan 60. c. hal-hal lain yang dianggap perlu selama tidak bertentangan dengan undangundang.

8 61. Pasal 8 (1) Komisi Yudisial melakukan seleksi terhadap persyaratan administrasi bakal calon Hakim Agung. 62. (2) Seleksi terhadap persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja. 63. (3) Komisi Yudisial mengumumkan daftar nama bakal calon Hakim Agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi. 64. (4) Komisi Yudisial mengundang partisipasi masyarakat untuk memberikan informasi atau pendapat berkenaan dengan bakal calon Hakim Agung yang telah diumumkan. 65. (5) Komisi Yudisial dapat melakukan klarifikasi terhadap persyaratan administrasi berdasarkan masukan dari masyarakat. 66. Pasal 9 (1) Komisi Yudisial menyelenggarakan seleksi terhadap kualitas bakal calon Hakim Agung yang telah memenuhi persyaratan administrasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan. 67. (2) Komisi Yudisial meminta bakal calon Hakim Agung untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan topik yang telah ditentukan dan diserahkan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sebelum seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan. 68. (3) Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terbuka dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. 73. (4) Komisi Yudisial menetapkan dan mengajukan nama calon Hakim Agung kepada DPR yang jumlahnya masing-masing 3 (tiga) orang untuk setiap lowongan jabatan hakim agung. Untuk menghindari kesulitan memperoleh calon hakim agung yang memenuhi persyaratan, pemerintah usul agar jumlah calon hakim agung yang diajukan Komisi Yudisial ke DPR cukup 2 (dua) orang untuk setiap lowongan jabatan hakim agung.

9 74. Pasal 10 (1) DPR telah menetapkan calon Hakim Agung untuk diajukan kepada Presiden dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterima nama calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). 71. (2) Presiden menerbitkan surat keputusan pengangkatan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterima penetapan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 72. (2) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui tanpa ada penetapan, Presiden menerbitkan surat keputusan pengangkatan dengan memilih dari calon yang diajukan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (4). 75. Pasal 11 Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, Komisi Yudisial mempunyai tugas: (4) Komisi Yudisial menetapkan dan mengajukan nama calon Hakim Agung kepada DPR yang jumlahnya masing-masing 2 (dua) orang untuk setiap lowongan jabatan hakim agung. 76. a. menyusun code of conduct yang berisi aturan perilaku hakim; Penggunaan istilah asing seperti code of conduct sebaiknya dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu pedoman tingkah laku hakim Pasal 11 Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, Komisi Yudisial mempunyai tugas: a. menyusun pedoman tingkah laku hakim;

10 75. b. melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim di semua lingkungan peradilan; dan - Untuk memastikan agar tidak ada perbedaan penafsiran dikemudian hari, perlu ditegaskan bahwa tugas pengawasan perilaku hakim termasuk di dalamnya pengawasan perilaku hakim di dalam kedinasan (dalam menjalankan fungsi peradilan) kecuali yang berkenaan dengan teknis yudisial dan perilaku di luar kedinasan (kehidupan bermasyarakat). - Oleh karena itu pemerintah mengusulkan penambahan kata di dalam kedinasan dan di luar kedinasan setelah kalimat perilaku hakim. Kalimat di semua lingkungan peradilan sebaiknya dihapus karena sudah ada penjabarannya dalam Pasal 1 mengenai definisi hakim. b. melakukan pengawasan perilaku hakim di dalam dan di luar kedinasan;

11 76. c. memberikan rekomendasi penjatuhan sanksi beserta alasannya kepada Pimpinan Mahkamah Agung dan DPR. Dalam wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, kata menegakkan seharusnya diartikan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi tertentu yang ringan, yaitu teguran tertulis. Dengan demikian, diharapkan kerja komisi yudisial menjadi lebih efektif. Selain itu, untuk mendukung sistem checks and balances, diusulkan agar rekomendasi Komisi Yudisial juga diserahkan ke Presiden. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan agar Komisi Yudisial diberikan tugas untuk memberikan sanksi teguran tertulis. Untuk sanksi pemberhentian sementara dan pemberhentian, tugas Komisi tetap hanya bersifat rekomendasi dan rekomendasi tersebut diserahkan pula pada kepada Pimpinan Mahkamah Agung, DPR dan Presiden. 77. c. Memberikan sanksi teguran tertulis beserta alasannya kepada hakim secara langsung atau memberikan rekomendasi penjatuhan sanksi beserta alasannya kepada Pimpinan Mahkamah Agung, Presiden dan DPR. Wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim seharusnya tidak hanya diartikan kewenangan yang bersifat represif, namun juga preventif. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan agar Komisi Yudisial diberikan tugas-tugas lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim (misalnya memperjuangkan peningkatan kesejahteraan hakim-akan dijelaskan lebih lanjut dalam pasal-pasal selanjutmya).

12 c. tugas-tugas lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

13 78. Pasal 12 Penyusunan code of conduct sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 huruf a, dilaksanakan selambat-iambatnya dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun setelah terbentuknya Komisi Yudisial. - Dalam menyusun code of conduct yang akan menjadi pedoman perilaku hakim, Komisi Yudisial perlu mendapatkan usulan atau pendapat Mahkamah Agung, meskipun tetap menjadi pemegang keputusan dalam mekanisme tersebut. - Oleh karena itu, Pemerintah berpendapat bahwa sebelum ayat ini, perlu diatur terlebih dahulu bahwa dalam menyusun code of conduct hakim, Komisi Yudisial meminta dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh usulan Mahkamah Agung. - Perubahan istilah code of conduct menjadi pedoman tingkah laku hakim perlu disesuaikan pula dalam pengaturan ini. 79. Pasal 13 (1) Dalam melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf b, Komisi Yudisial melakukan kegiatan: Usulan Perubahan: Pasal 12 (1) Dalam penyusunan pedoman tingkah laku hakim sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 huruf a, Komisi Yudisial meminta dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh usulan Mahkamah Agung. (2) Penyusunan pedoman tingkah laku hakim dilaksanakan selambat -Iambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah terbentuknya Komisi Yudisial. 80. a. menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim, melakukan kunjungan-kunjungan ke pengadilan, dan meminta laporan berkala dari semua lingkungan peradilan; Penjelasan Pasal: Untuk menjamin kerahasiaan pelapor, dalam penjelasan pasal 13 ayat 1 huruf a perlu ditambahkan kewajiban Komisi untuk menjaga kerahasiaan identitas pelapor.

14 Cukup jelas Penjelasan Pasal 13 ayat (1) huruf a Sehubungan dengan kegiatan menerima laporan masyarakat, Komisi Yudisial wajib menjamin kerahasiaan identitas pelapor berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku 81. c. melakukan pemeriksaan terhadap informasi atau data berkenaan dengan adanya dugaan pelanggaran kode etik oleh hakim; Untuk memperjelas maksud dan mengefektifkan tugas Komisi untuk memeriksa informasi atau data-data berkenaan dengan adanya dugaan pelanggaran code of conduct oleh hakim, pemerintah berpendapat perlu diatur dalam penjelasan pasal ini bahwa Komisi Yudisial berhak untuk memanggil pihak-pihak yang dianggap perlu didengar keterangannya, meminta pengadilan membuka catatan pengadilan, meminta pengadilan memberikan seluruh data-data lain yang dianggap perlu. Perubahan istilah code of conduct menjadi pedoman tingkah laku hakim perlu disesuaikan pula dalam pengaturan ini. b. melakukan pemeriksaan terhadap informasi atau data-data berkenaan dengan adanya dugaan pelanggaran pedoman tingkah laku hakim; Penjelasan Pasal 13 ayat (1) huruf b Untuk mendukung kegiatan sebagaimana dimaksud pasal ini, Komisi Yudisial berhak untuk memanggil pihak -pihak yang dianggap perlu didengar keterangannya, meminta pengadilan membuka catatan pengadilan, meminta pengadilan memberikan seluruh data-data lain

15 82. c. melakukan klarifikasi atau meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar code of conduct, dan yang dianggap perlu Perubahan istilah code of conduct menjadi pedoman tingkah laku hakim perlu disesuaikan pula dalam pengaturan ini. 83. d. membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. 84. c. melakukan klarifikasi atau meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar pedoman tingkah laku hakim, dan Tetap Mengingat wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, kata menegakkan seharusnya diartikan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi tertentu yang ringan, yaitu teguran tertulis. Dengan demikian, diharapkan kerja Komisi Yudisial menjadi lebih efektif. 85. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memutus perkara. e. Memberikan sanksi teguran tertulis beserta alasannya kepada hakim secara langsung. 86. Berkaitan dengan perubahan yang diusulkan terhadap Pasal 11 dengan menambahkan butir d, maka pemerintah mengusulkan menambahkan pasal baru di antara Pasal 13 dan 14 yang sudah ada, yang mengatur mengenai kegiatan Komisi Yudisial dalam melaksanakan tugas-tugas

16 lain yang berkaitan dengan wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran pedoman tingkah laku hakim. 87. Pasal 14 (1) Rekomendasi sanksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 huruf c, adalah sanksi administratif berupa: Pasal 14 Dalam melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan wewenang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim, dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran perilaku oleh hakim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf d, Komisi Yudisial melakukan kegiatan: a. memberikan rekomendasi kepada instansi yang berwenang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan hakim serta pemberian penghargaan, gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan kepada hakim; dan b. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada MA serta lembaga negara lainnya dalam rangka mencegah terjadinya tindakan dan perilaku yang mengurangi kehormatan, keluhuran dan martabat hakim atau mencegah terjadinya menyimpang perilaku hakim. Mengingat dalam pasal 11 huruf c telah diusulkan adanya perubahan pengaturan mengenai tugas komisi yaitu bukan hanya merekomendasikan sanksi, namun juga menjatuhkan sanksi yang ringan, maka pemerintah mengusulkan perubahan kalimat dalam pasal ini dengan menambahkan kata sanksi pada awal kalimat dalam pasal. Pasal 15 (3) Sanksi dan rekomendasi sanksi sebagaimana dimaksud dalam

17 pasal 11 huruf c, adalah sanksi administratif berupa:

18 88. a. teguran tertulis; Penjelasan pasal: cukup jelas Perlu diatur gradasi sanksi teguran tertulis ini dalam penjelasan pasal yaitu teguran yang bersifat tertutup (hanya dialamatkan kepada hakim yang melanggar, hal mana diperuntukkan bagi pelanggaran yang kecil yang jika ditegur secara terbuka hanya akan menggangu kredibilitas hakim bersangkutan) dan teguran terbuka jika pelanggaran ringan tersebut cukup berdampak negatif atau jika pelanggaran tersebut dilakukan berulang-ulang. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan penambahan kalimat dalam penjelasan pasal yang membagi teguran tertulis menjadi teguran tertulis secara tetutup dan terbuka. 89. b. pemberhentian sementara; atau 90. c. pemberhentian. 91. (2) Pimpinan Mahkamah Agung memberikan sanksi administratif dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Komisi Yudisial. Penjelasan Pasal 15 ayat (1) huruf a Teguran tertulis dapat dilakukan secara tertutup yaitu hanya ditujukan kepada hakim yang melakukan pelanggaran dan teguran tertulis yang terbuka, yaitu dapat diakses masyarakat atau bahkan diumumkan pada masyarakat. Perlu dibuat penegasan untuk memastikan rekomendasi Komisi Yudisial betul-betul akan diperhatikan oleh MA. (2) Pimpinan Mahkamah Agung memberikan sanksi administratif dengan mempertimbangkan secara sungguh-sungguh rekomendasi dari Komisi Yudisial.

19 92. (3) Rekomendasi sanksi administratif berupa pemberhentian Hakim Agung disampaikan kepada DPR untuk diproses lebih lanjut. Menurut UU MA pemberhentian hakim agung dilakukan oleh Presiden atas usul Ketua MA. Oleh karena itu Pemerintah mengusulkan agar rekomendasi Komisi mengenai pemberhentian hakim agung diajukan ke Presiden. 93. BAB IV SUSUNAN DAN KEANGGOTAAN 94. Bagian Pertama Susunan 95. Pasal 15 Komisi Yudisial terdiri dari Pimpinan, Anggota, dan Sekretariat Jenderal. (3) Rekomendasi sanksi administratif berupa pemberhentian Hakim Agung disampaikan kepada Presiden untuk diproses Iebih lanjut. Perubahan No. Pasal. Pasal 16 Komisi Yudisial terdiri dari Pimpinan, Anggota, dan Sekretariat Jenderal. 96. Pasal 16 Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap sebagai anggota. Perubahan No. Pasal. Pasal 17 Pimpinan Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil

20 Ketua yang merangkap sebagai anggota. 97. Pasal 17 Komisi Yudisial terdiri dari 7 (tujuh) orang anggota yang merupakan pejabat negara. - Pemerintah berpendapat bahwa pengaturan mengenai jumlah anggota Komisi Yudisial, perlu dilengkapi dengan komposisi anggotanya. komposisi keanggotaan yang diusulkan diharapkan sebagian besar berasal kalangan eksternal pengadilan yang menguasai hukum dan peradilan dengan tetap melibatkan pihak mantan hakim/hakim agung. - Perubahan No. Pasal. Pasal 18 Komisi Yudisial terdiri dari 7 (tujuh) orang anggota yang merupakan pejabat negara, dengan komposisi: a. 2 (dua) orang mantan hakim atau mantan hakim agung; b. 1 (satu) orang praktisi hukum; c. 1 (satu) orang akademisi di bidang hukum; d. 3 (tiga) orang dari unsur masyarakat pemerhati hukum dan peradilan. Atau: 98. Pasal 18 (1) Pimpinan Komisi Yudisial dipilih dari dan oleh Anggota Komisi Yudisial. Komisi Yudisial terdiri dari 7 (tujuh) orang anggota yang merupakan pejabat negara, dengan komposisi: a. 2 (dua) orang mantan hakim atau mantan hakim agung; b. 5 (lima) orang dari unsur praktisi hukum, akademisi dan masyarakat Perubahan No. Pasal.

21 (2) Tata cara pemilihan Pimpinan Komisi Yudisial diatur oleh Komisi Yudisial. 99. (2) Presiden telah mnerbitkan pengangkatannya dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak surat pengajuan Pimpinan Komisi Yudisial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima Bagian Kedua Keanggotaan 101. Pasal 19 Untuk dapat diangkat menjadi anggota Komisi Yudisial harus memenuhi syarat sebagai berikut: Pasal 19 (1) Pimpinan Komisi Yudisial dipilih dari dan oleh Anggota Komisi Yudisial. Perubahan No. Pasal. Pasal 20 Untuk dapat diangkat menjadi anggota Komisi Yudisial harus memenuhi syarat sebagai berikut: 102. a. Warga Negara Indonesia berumur serendah-rendahnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya 68 (enam puluh delapan) tahun pada saat proses pemilihan; 103. b. mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum sekurangkurangnya 10 (sepuluh) tahun serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela; 104. c. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; 105. d. sehat jasmani dan rohani;

22 106. e. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan; dan 107. f. melaporkan daftar kekayaan Pasal 20 (1) Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh Presiden dari nama calon yang diajukan oleh DPR. - Ketentuan ini tidak sesuai dengan aturan mengenai pengangkatan dan pemberhentian anggota Komisi Yudisial dalam UUD 1945, yang menyatakan bahwa Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Oleh karena itu, Pemerintah berpendapat semestinya ketentuan ini diubah sesuai dengan aturan dalam UUD Perubahan No. Pasal (2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterima pengajuan nama calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Presiden menerbitkan surat pengangkatannya. Pasal 21 (1) Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. - Ketentuan ini perlu diubah dengan menyesuaikan perubahan yang dilakukan pada ayat (1). - Untuk memberikan keleluasaan bagi DPR dalam menentukan calon yang akan dipilih, jangka waktu 7 (tujuh) hari perlu ditambah menjadi 14 (empat belas) hari. - Mengingat perlunya pembatasan waktu bagi presiden untuk menerbitkan surat pengangkatan anggota komisi yang telah disetujui DPR, pembatasan waktu perlu di atur dalam ayat ini. (2) Dalam jangka waktu 14 (empatbelas) hari kerja setelah diterima pengajuan nama calon dari presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPR memberikan persetujuannya. (3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterima

23 110. (3) Calon anggota Komisi Yudisial dipilih oleh DPR dengan mengikutsertakan peran serta masyarakat. persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Presiden menerbitkan surat pengangkatannya. - Ketentuan ini perlu diubah dengan menyesuaikan perubahan yang dilakukan pada ayat (1) dan (2). - Untuk membantu Presiden memilih calon-calon anggota Komisi Yudisial, Presiden perlu membentuk Panitia Seleksi yang terdiri dari kalangan birokrasi, akademisi, dan praktisi hukum yang mempunyai pengetahuan hukum yang memadai dalam jumlah yang proporsional. - Oleh karena itu Pemerintah mengusulkan diatur mengenai pembentukan Panitia Seleksi berikut keanggotaan, tugas, dan prose seleksi yang harus dilaksanakan. Pasal Sebelum mengusulkan nama calon anggota Komisi ke DPR, Presiden membentuk Panitia Seleksi. 2. Panitia Seleksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdiri dari kalangan birokrasi, akademisi dan praktisi hukum yang mempunyai pengetahuan hukum yang memadai dalam jumlah yang proporsional. Pasal 23 Panitia Seleksi memiliki tugas: 1. Mengundang usulan masyarakat dan meminta masukan anggota Komisi. 2. Menyusun nama-nama bakal calon anggota Komisi berdasarkan pengamatan dan penilaian Panitia Seleksi dengan memperhatikan alokasi setiap elemen anggota Komisi. 3. Menyeleksi daftar nama yang diperoleh dari usulan masyarakat. 4. Meminta kepada bakal calon untuk memenuhi persyaratan administrasi yang ditentukannya. 5. Menyeleksi pemenuhan persyaratan administratif dari para bakal calon. 6. Mengumumkan nama-nama yang telah memenuhi persyaratan

24 administratif kepada masyarakat untuk mendapatkan tanggapan, penilaian atau laporan. 7. Melakukan proses klarifikasi atas kualitas dan integritas bakal calon berdasarkan informasi masyarakat dan/atau temuan lapangan. 8. Meyelenggarakan uji kelayakan dan kepatutan terhadap bakal calon secara terbuka. 9. Memberikan penilaian terhadap bakal calon secara terbuka dan mengajukan nama-nama bakal calon sebanyak 2 (dua) kali dari jumlah setiap elemen keanggotaan Komisi beserta alasannya kepada Presiden. Pasal Pasal 21 Anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk satu masa jabatan. Presiden memilih calon anggota Komisi dengan menyampaikan alasannya dengan memperhatikan sungguh-sungguh usulan yang diajukan oleh Panitia Seleksi. - Dalam hal masa jabatan anggota Komisi Yudisial sudah habis, sementara belum terpilih anggota yang baru, perlu ditetapkan aturan untuk menghindari terjadinya kekosongan jabatan. - Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkan untuk menambahkan peraturan yang mengatur bahwa sebelum terpilih anggota Komisi Yudisial yang baru, anggota Komisi Yudisial yang habis masa jabatannya dapat terus menjabat. Pasal 25 (1) Anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk satu masa jabatan.

25 112. Pasal 22 (1) Sebelum memangku jabatannya Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial wajib mengucapkan sumpah menurut agamanya yang berbunyi sebagai berikut: 113. "Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk memperoleh jabatan saya ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apapun juga, tiada memberikan atau menjanjikan barang "sesuatu kepada siapapun juga" 114. "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, dan semua Undang-Undang serta peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi negara kesatuan Republik Indonesia" "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, seksama, dan dengan tidak membedabedakan orang dan akan berlaku dalam melaksanakan kewajiban saya sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sebagai layaknya seorang Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial yang berbudi baik dan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan" 115. (2) Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dipandu oleh Presiden Pasal 23 Anggota Komisi Yudisial tidak boleh merangkap menjadi: (2) Anggota Komisi Yudisial yang habis masa jabatannya dapat terus menjabat sampai terpilihnya anggota yang baru. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 26. Tetap 117. a. anggota pada lembaga negara lainnya; 118. b. karyawan atau hakim dalam badan-badan peradilan pelaksana kekuasaan kehakiman; 119. b. penasehat hukum; atau Tetap Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 27.

26 120. c. pengusaha. Untuk tidak membatasi hak anggota komisi yudisial untuk mendapatkan pendapatan yang tidak berpotensi mengakibatkan konflik kepentingan namun tetap menghindari ketidakpenuhan konsentrasi anggota komisi dalam menjalankan tugasnya, Pemerintah berpendapat larangan rangkap jabatan butir d ini perlu dibatasi lingkupnya sebagai pengurus atau karyawan tetap suatu perusahaan, baik perusahaan negara atau swasta Pasal 24 Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial diberhentikan dengan hormat dari jabatannya oleh Presiden atas usul Komisi Yudisial karena: 122. a. meninggal dunia; 123. b. permintaan sendiri; atau d. pengurus atau karyawan tetap suatu perusahaan, baik perusahaan negara atau swasta. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal c. sakit jasmani atau rohani terus menerus; 125. Pasal 25 (4) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial diberhentikan tidak dengan Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 29. hormat dari jabatannya oleh Presiden dengan persetujuan DPR atas usul Komisi Yudisial dengan alasan: 126. a. dipidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan; 127. b. melakukan perbuatan tercela; 128. c. terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya;

27 129. d. melanggar sumpah jabatan; atau 130. e. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pengusulan pemberhentian tidak dengan hormat dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai dengan huruf c dilakukan setelah yang bersangkutan diberi kesempatan secukupnya untuk membela diri dihadapan Dewan Kehormatan Komisi Yudisial (3) Pembentukan, Susunan, dan tata kerja Dewan Kehormatan Komisi Yudisial diatur oleh Komisi Yudisial Untuk menghindari terjadinya kekosongan posisi dalam waktu yang lama dalam hal ada anggota Komisi Yudisial yang diberhentikan ditengah-tengah masa jabatannya, maka perlu diatur mekanisme penggantian atau pengisian posisi yang baik. - Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkan untuk mengatur mekanisme penggantian atau pengisian posisi untuk keadaankeadaan tersebut dalam RUU ini. Pasal 30 (1) Apabila ada anggota yang diberhentikan di tengah-tengah masa jabatan berlangsung, maka Komisi dapat mengajukan usulan nama calon pengganti kepada Presiden. (2) Dengan mempertimbangkan usulan Komisi, Presiden mengusulkan nama calon pengganti tersebut kepada DPR untuk meminta persetujuannya. (3) Penyerahan usulan nama dari presiden ke DPR dilakukan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah terjadi

28 134. Pasal 26 (1) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial sebelum diberhentikan tidak dengan hormat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) dapat diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Presiden dengan persetujuan DPR atas usul Komisi Yudisial (2) Terhadap pengusulan pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) Pasal 27 (1) Apabila terhadap seorang Anggota Komisi Yudisial ada perintah penangkapan yang diikuti dengan penahanan, dengan sendirinya anggota Komisi Yudisial tersebut diberhentikan sementara dari jabatannya (2) Apabila seorang anggota Komisi Yudisial dituntut di muka Pengadilan dalam perkara pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana tanpa ditahan, ia dapat diberhentikan sementara dari jabatannya Pasal 28 Ketentuan mengenai tata cara pemberhentian dengan hormat, pemberhentian tidak dengan hormat, dan pemberhentian sementara serta hak-hak pejabat yang diberhentikan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah BAB V HAK KEPROTOKOLAN DAN HAK KEUANGAN/ ADMINISTRASI kekosongan. (4) DPR dapat melakukan proses yang dianggap perlu untuk menilai nama calon yang diajukan Presiden dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari. (5) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterima persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Presiden menerbitkan surat pengangkatannya. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 31. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 32. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal Pasal 29

29 Kedudukan protokol Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Yudisial ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan Pasal 30 Hal-hal mengenai hak keuangan/hak administrasi Anggota Komisi Yudisial ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 34. Agar Komisi Yudisial dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, anggota Komisi Yudisial perlu diberikan hak keuangan/administrasi yang memadai. Mengingat statusnya sebagai pejabat negara, maka hak keuangan /administrasi yang ditetapkan untuk anggota Komisi Yudisial tidak boleh lebih kecil dari yang ditetapkan untuk Pimpinan MA dan Hakim Agung Pasal 31 (1) Segala pembiayaan Komisi Yudisial dibebankan kepada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembiayaan Komisi Yudisial ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan BAB VI TINDAKAN KEPOLISIAN 145. Pasal 32 (1) Ketua, Wakil Ketua, Anggota Komisi Yudisial dapat ditangkap atau ditahan hanya atas perintah Jaksa Agung setelah mendapat persetujuan Presiden kecuali dalam hal: Pasal 35 (1) Hal-hal mengenai hak keuangan/hak administrasi Anggota Komisi Yudisial ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Hak keuangan/administrasi yang ditetapkan untuk Pimpinan dan anggota Komisi Yudisial tidak boleh lebih kecil dari hak keuangan/administrasi yang ditetapkan untuk Pimpinan Mahkamah Agung dan Hakim Agung. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 36. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 37.

30 146. b. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan; atau 147. b. berdasarkan bukti permulaan yang cukup disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati, atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara (2) Pelaksanaan penangkapan atau penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selambat -lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam harus dilaporkan kepada Jaksa Agung BAB VII TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN 150. Pasal 33 (1) Pengambilan keputusan Komisi Yudisial dilakukan secara kolegial (2) Apabila pengambilan keputusan secara kolegial tidak dapat dilaksanakan, Komisi Yudisial dapat mengambil keputusan kekurang-kurangnya dengan 5 (lima) orang anggota Komisi Yudisial, kecuali keputusan dalam hal mengusulkan Hakim Agung ke DPR serta mengusulkan pemberhentian hakim agung. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 38. Untuk menghindari tidak bisa diambilnya keputusan jika anggota komisi yudisial hanya berjumlah lima atau kurang dari lima karena adanya anggota yang berhenti atau diberhentikan, maka sebaiknya pengaturan ini diubah dengan model presentase. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan agar sekurang-kurangnya keputusan komisi dimbil oleh setengah plus satu dari seluruh anggota komisi yudisial BAB VIII (2) Apabila pengambilan keputusan secara kolegial tidak dapat dilaksanakan, Komisi Yudisial dapat mengambil keputusan kekurang-kurangnya dengan setngah plus satu dari jumlah orang anggota Komisi Yudisial, kecuali keputusan dalam hal mengusulkan Hakim Agung ke DPR serta mengusulkan pemberhentian hakim agung.

31 PERTANGGUNGJAWABAN DAN LAPORAN 153. Pasal 34 (1) Komisi Yudisial bertanggung jawab kepada publik. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal (2) Pertanggungjawaban publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara: 155. a. menerbitkan laporan tahunan; dan 156. b. membuka akses informasi secara lengkap dan akurat (3) Laporan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) huruf a setidaknya memuat hal-hal sebagai berikut: 158. a. laporan penggunaan anggaran; 159. b. data yang berkaitan dengan fungsi pengawasan; dan 160. c. data yang berkaitan dengan fungsi rekrutmen hakim agung Mengingat adanya usulan penambahan tugas dari komisi yudisial, ketentuan dalam ayat ini perlu disesuaikan (4) Laporan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) huruf a disampaikan pula kepada DPR dan Presiden (5) Keuangan Komisi Yudisial diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan menurut ketentuan undang-undang BAB IX SEKRETARIAT JENDERAL d. Laporan pelaksanaan fungsi komisi lainnya dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

32 165. Pasal 35 (1) Komisi Yudisial dibantu oleh sebuah Sekretariat Jenderal yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal (2) Sekretaris Jenderal dijabat oleh pejabat Pegawai Negeri Sipil yang bukan anggota Komisi Yudisial Pasal 36 (1) Sekretariat Jenderal sebagaimana dimaksud pasal 34 ayat (1) memberikan bantuan teknis administratif dan keahlian kepada Komisi Yudisial (2) Tugas serta tanggung jawab, susunan organisasi, dan tata kerja Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial ditetapkan dengan Keputusan Presiden BAB X KETENTUAN PERALIHAN 170. Pasal 37 Selama keanggotaan Komisi Yudisial belum terbentuk berdasarkan Undang- Undang ini, pencalonan hakim agung dilaksanakan berdasarkan Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 40. Tetap Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 41. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal 42. Untuk menghindari terjadinya kekosongan penegakan hukum bagi hakim yang melakukan pelanggaran perilaku sebelum berlakunya RUU ini, hal itu perlu juga diatur dalam ketentuan peralihan. Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkan agar dalam ketentuan peralihan RUU ini diatur juga mengenai proses pendisplinan terhadap hakim yang melakukan pelanggaran perilaku sebelum berlakunya RUU ini. Pasal 43

33 Komisi Yudisial berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran perilaku oleh hakim yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang ini BAB XI KETENTUAN PENUTUP 173. Pasal 38 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Penyesuaian nomor pasal menjadi Pasal Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Diundangkan di Jakarta pada tanggal SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. NOMOR Substansi yang Diusulkan untuk Ditambahkan: Hukum Acara - Untuk dapat menjalankan tugas pengawasan dan pendisiplinan secara baik, diperlukan aturan khusus mengenai hukum acara untuk menjalankan prosesnya. Hukum acara yang dibutuhkan oleh Komisi Yudisial dalam melaksanakan tugasnya harus mengatur seluruh

34 tahapan proses pengawasan dan pendisiplinan, yang setidaknya meliputi: a. Tahap dan tata cara penerimaan pengaduan masyarakat atas dugaan pelanggaran perilaku yang dilakukan oleh hakim, b. Tahap dan tata cara untuk memutuskan apakah laporan masyarakat atau temuan Komisi Yudisial atas dugaan dilakukannya pelanggaran perilaku oleh hakim akan ditindaklanjuti atau tidak, c. Tahap melakukan pencarian fakta, dan d. Tahap memeriksa dan memutus dugaan pelanggaran perilaku hakim. - Untuk memastikan hukum acara yang akan digunakan oleh Komisi Yudisial ini dapat mencapai tujuan pembentukannya, maka didalamnya harus diakomodir prinsip-prinsip berikut: a. transparansi dan akuntabilitas, b. kerahasiaan dan perlindungan terhadap identitas pelapor, c. penghormatan atas harkat dan martabat hakim yang diduga melakukan pelanggaran, dan d. hak hakim yang bersangkutan untuk melakukan pembelaan diri. - Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkan agar dalam RUU ini ditambahkan pengaturan mengenai Hukum Acara yang akan digunakan Komisi Yudisial untuk menjalankan proses -proses yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas pengawasan dan pendisiplinan hakim. Catatan: Pengaturan hukum acara ini mengatur pula proses pemberian rekomendasi pendisiplinan hakim (misal rekomendasi pemberhentian hakim). Menurut UU No atau UU No 14/1985 misalnya, pemberhentian hakim dan hakim agung dilakukan setelah ada proses di majelis kehormatan hakim (sifatnya internal).

35 Dengan pemberian kewenangan pada Komisi Yudisial untuk merekomendasikan pembentian hakim (karena alasan penyimpangan perilaku: melakukan perbuatan tercela, melanggar sumpah jabatan dsb), maka fungsi majelis kehormatan hakim dalam UU tersebut harus dibatasi hanya dalam hal pemberhentian seorang hakim karena alasan teknis yudisial (tidak cakap). Bagian Pertama Pra Pencarian Fakta Pasal 1 (1) Berdasarkan persyaratan administratif yang telah ditentukan, Komisi mengadakan rapat pleno untuk memutuskan apakah laporan masyarakat tentang dugaan pelanggaran oleh hakim akan ditindaklanjuti atau tidak. (2) Untuk memutuskan apakah suatu laporan masyarakat akan ditindaklanjuti atau tidak, Komisi dapat meminta pelapor untuk melengkapi laporannya. (3) Keputusan tentang ditindaklanjuti atau tidaknya laporan masyarakat wajib diberitahukan kepada pelapor dalam jangka waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sejak keputusan dikeluarkan. (4) Dugaan pelanggaran hakim yang berasal dari temuan Komisi, diajukan ke rapat pleno untuk diputuskan apakah temuan tersebut akan ditindaklanjuti atau tidak. (5) Dalam hal Komisi memutuskan untuk tidak menindaklanjuti laporan masyarakat atau hasil temuan Komisi tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh hakim, sementara laporan masyarakat atau temuan Komisi telah dimuat dalam media cetak dan/atau elektronik, maka Komisi wajib melakukan upaya rehabilitasi nama hakim yang bersangkutan melalui pengumuman kepada publik dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak keputusan tersebut diambil. (6) Dalam memutuskan untuk menindaklanjuti atau tidak laporan masyarakat

36 atau temuan Komisi sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (3), Komisi menentukan pula jenis pelanggaran dari tindakan hakim yang diduga melakukan pelangaran. Bagian Kedua Pencarian Fakta Pasal 2 (1) Jika Komisi memutuskan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat atau temuan Komisi tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh hakim, Komisi segera membentuk Tim Pencari Fakta guna melakukan upaya pencarian fakta. (2) Tim Pencari Fakta terdiri dari sebanyak-banyaknya 2 (dua) anggota Komisi dan didukung oleh beberapa staf. Pasal 3 (1) Dalam melakukan tugasnya, Tim Pencari Fakta dapat melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan kewenangannya. (2) Kecuali untuk jenis pelanggaran ringan, dalam menjalankan tugasnya, Tim Pencari Fakta wajib meminta dan mendengar secara langsung keterangan dari hakim yang diduga melakukan pelanggaran. (3) Dalam hal Tim Pencari Fakta akan meminta dan mendengar keterangan dari hakim yang diduga melakukan pelanggaran, Tim wajib memberi surat pemberitahuan secara layak kepada Hakim yang diduga melakukan pelanggaran dan Ketua Pengadilan dimana hakim tersebut bertugas. (4) Seluruh proses pencarian fakta harus didokumentasikan dalam

37 berita acara yang ditandatangani oleh semua pihak yang terlibat dalam upaya pencarian fakta. Pasal 4 (1) Dalam hal Tim Pencari Fakta menganggap terdapat bukti yang kuat bahwa hakim yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran, Tim Pencari Fakta segera meminta Komisi untuk mengadakan proses pemeriksaan. (2) Dalam hal Tim Pencari Fakta menganggap tidak ada bukti yang kuat bahwa hakim yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran, Tim wajib meminta Komisi untuk mengadakan rapat pleno untuk memutuskan perlu tidaknya mengadakan proses pemeriksaan. Pasal 5 (1) Keputusan rapat pleno sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (2) wajib diberitahukan kepada pihak pelapor dan hakim yang diduga melakukan pelanggaran dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak keputusan tersebut diambil. (2) Dalam hal Komisi memutuskan untuk tidak menindaklanjuti laporan atau hasil temuan Komisi tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh hakim, sementara laporan masyarakat atau temuan Komisi telah dimuat dalam media cetak dan/atau elektronik, maka Komisi wajib melakukan upaya rehabilitasi nama hakim yang bersangkutan melalui pengumuman kepada publik dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak keputusan tersebut diambil.

38 Bagian Ketiga Pemeriksaan Pelanggaran Ringan dan Sedang Pasal 6 (1) Dalam hal Tim Pencari Fakta menganggap terdapat bukti yang kuat bahwa hakim yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran yang patut dikenakan sanksi teguran tertulis atau pemberhentian sementara atau jika rapat Pleno Komisi memutuskan akan mengadakan pemeriksaan terhadap hakim yang diduga melakukan pelanggaran maka Komisi membentuk Majelis Pemeriksa; (2) Majelis Pemeriksa beranggotakan seluruh anggota Komisi, selain anggota yang menjadi Tim Pencari Fakta. (3) Majelis Pemeriksa terdiri dari seorang Ketua dan beberapa anggota. Pasal 7 Proses pemeriksaan atas pelanggaran yang patut dikenakan sanksi teguran tertulis atau pemberhentian sementara dilakukan secara surat menyurat dan tertutup. Pasal 8 (1) Selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari sejak terbentuk, Majelis Pemeriksa mengirimkan Bahan Pemeriksaan kepada

39 hakim yang diduga melakukan pelanggaran. (2) Bahan Pemeriksaan setidaknya berisikan: a. nama dan pekerjaan/kedudukan hakim yang diduga melakukan pelanggaran; b. uraian mengenai dugaan pelanggaran serta pasal yang diduga telah dilanggar oleh hakim tersebut. (3) Bersamaan dengan pengiriman Bahan Pemeriksaan, Majelis Pemeriksa wajib memberikan surat pemberitahuan mengenai proses pemeriksaan hakim yang bersangkutan kepada Ketua Pengadilan di mana hakim tersebut bertugas. Pasal 9 (1) Hakim yang diduga melakukan pelanggaran berhak untuk melakukan pembelaan diri secara tertulis dalam waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak hakim yang bersangkutan menerima Bahan Pemeriksaan. (2) Dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya pembelaan diri secara tertulis, Majelis Pemeriksa mengadakan musyawarah tertutup untuk mengambil putusan. Bagian Keempat Pemeriksaan Pelanggaran Berat Pasal 10 Dalam hal Tim Pencari Fakta menganggap terdapat bukti yang kuat bahwa hakim yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran yang

40 patut dikenakan pemberhentian atau jika rapat Pleno Komisi memutuskan akan mengadakan pemeriksaan terhadap hakim yang diduga melakukan pelanggaran tersebut, Komisi membentuk Majelis Pemeriksa sebagaimana dimaksud Pasal 6; Pasal 11 (1) Selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari setelah terbentuk, Majelis Pemeriksa melakukan pemanggilan secara sah terhadap hakim yang duduga melakukan pelanggaran. (2) Pemanggilan dinyatakan sah apabila disampaikan dengan surat panggilan kepada hakim yang bersangkutan di tempat kerjanya selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum sidang pemeriksaan dilakukan. (3) Surat pemanggilan sebagaimana dimaksud ayat 2 setidaknya memuat informasi tentang tanggal, hari dan jam berlangsungnya pemeriksaan serta Bahan Pemeriksaan yang memuat hal-hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). (4) Bersamaan dengan pengiriman Bahan Pemeriksaan, Majelis Pemeriksa wajib memberikan surat pemberitahuan mengenai proses pemeriksaan hakim yang bersangkutan kepada Ketua Pengadilan di mana hakim tersebut bertugas. Pasal 12 (1) Ketua Majelis Pemeriksa membuka acara pemeriksaan dan menyatakan sidang pemeriksaan terbuka untuk umum kecuali untuk jenis pelanggaran berat yang menyangkut kesusilaan. (2) Jika hakim yang akan diperiksa tidak hadir pada hari pemeriksaan yang telah ditetapkan, ketua Majelis Pemeriksa

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG KOMISI YUDISIAL NO RUU-DPR DIM USUL PERUBAHAN 1.

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG KOMISI YUDISIAL NO RUU-DPR DIM USUL PERUBAHAN 1. DAFTAR INVENTARISASI MASALAH PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG KOMISI YUDISIAL 1. RANCANGAN 2. Menimbang: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Bahan TIMUS 23-06-04 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR..TAHUN.. TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan peran Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, perlu

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 of 24 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm Page 1 of 16 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.98, 2003 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang:

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.3, 2009 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA NEGARA. MAHKAMAH AGUNG. Badan Peradilan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4958) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 35,2004 YUDIKATIF. KEHAKIMAN. HUKUM. PERADILAN. Peradilan Tata Usaha Negara. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat PRESIDEN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG Menimbang UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009.... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2009 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL KEPANITERAAN DAN SEKRETARIAT JENDERAL MAHKAMAH KONSTISI REPUBLIK

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA Bahan Panja Hasil Timus RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 73, 1985 (ADMINISTRASI. KEHAKIMAN. LEMBAGA NEGARA. Mahkamah Agung. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3316) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2009 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa Negara Kesatuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2009 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka membangun Kompolnas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: UU 5-1991 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 67, 2004 POLITIK. KEAMANAN. HUKUM. Kekuasaaan Negara. Kejaksaan. Pengadilan. Kepegawaian.

Lebih terperinci

PASAL/AYAT YANG DIBATALKAN OLEH PUTUSAN MK

PASAL/AYAT YANG DIBATALKAN OLEH PUTUSAN MK PASAL/AYAT YANG DIBATALKAN OLEH PUTUSAN MK UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI PUSAT PEMANTAUAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PUSAT PEMANTAUAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG 1 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

file://\\172.27.0.12\web\prokum\uu\2004\uu 8 2004.htm

file://\\172.27.0.12\web\prokum\uu\2004\uu 8 2004.htm Page 1 of 14 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN UMUM.

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN UMUM. UNDANG-UNDANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa salah satu alat bukti yang

Lebih terperinci

2013, No Mengingat dan tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim konstitusi serta pembentukan majelis kehormatan hakim konstitusi;

2013, No Mengingat dan tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim konstitusi serta pembentukan majelis kehormatan hakim konstitusi; LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.167, 2013 HUKUM. Kehakiman. Mahkamah Konstitusi. Penyelenggaraan. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5456) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PENEGAKAN KODE ETIK PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM BAGI ANGGOTA DAN JAJARAN SEKRETARIAT

Lebih terperinci

NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm Page 1 of 12 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 59, 1991 (ADMINISTRASI. LEMBAGA NEGARA. TINDAK PIDANA. KEJAKSAAN. Warganegara. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci