NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL TENTANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL TENTANG"

Transkripsi

1 NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL TENTANG KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL TAHUN ANGGARAN 2016

2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Dalam rangka sinkronisasi kebijakan pembangunan nasional, provinsi, dan kabupaten, maka Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2016 telah ditetapkan dengan Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 25 Tahun Tema dan Prioritas pembangunan daerah Tahun 2016 ditetapkan dengan berpedoman pada arah kebijakan pembangunan Lima Tahunan Ketiga (Tahun ), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Gunungkidul Tahun Penyusunan dokumen RKPD tersebut seoptimal mungkin sudah disinkronkan dengan RKP Pusat dan RKPD DI. Yogyakarta. Tema RKP Tahun 2016 adalah Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Untuk Memperkuat Pondasi Pembangunan Yang Berkualitas. Sasaran Pokok RKP Tahun 2016 disusun sebagai berikut: 1. Sasaran Makro; 2. Sasaran Pembangunan Manusia dan Masyarakat; 3. Sasaran Pembangunan Sektor Unggulan; 4. Sasaran Dimensi Pemerataan; 5. Sasaran Pembangunan Wilayah dan Antar Wilayah; 6. Sasaran Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan. Sesuai dengan Tema dan Sasaran Pokok RKP Tahun 2016 tersebut, maka: 1. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan tumbuh sekitar 6,6 persen; 2. Inflasi ditargetkan pada kisaran 3,0 persen sampai dengan 5,0 persen; 3. Jumlah penduduk miskin berkisar antara 9,0 persen sampai dengan 10,0 persen; 4. Tingkat pengangguran terbuka diperkirakan sebesar 5,2 persen sampai dengan 5,5 persen. Dalam kaitan itu, prioritas pembangunan disusun sebagai penjabaran operasional dari Strategi Pembangunan yang 1

3 digariskan dalam RPJMN dalam upaya melaksanakan Agenda Pembangunan Nasional untuk memenuhi Nawa Cita, yaitu: 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa amanpada seluruh warga negara; 2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya; 3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; 4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya; 5. Meningkatkan kualitas hidup manusia indonesia; 6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing dipasar internasional; 7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik; 8. Melakukan revolusi karakter bangsa; dan 9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperk uat restorasi sosial Indonesia. Merujuk pada tema pembangunan nasional maka tema pembangunan untuk Pemerintah Daerah DIY Tahun Anggaran 2016 adalah: Pemerintah DIY dalam RKPD DIY tahun 2016 menetapkan tema : Mendayagunakan dan Memantapkan Sumberdaya Manusia Yang Unggul, Memacu Pertumbuhan Ekonomi, Meningkatkan Kesejahteraan dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat dalam Mendukung Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta Yang Dilandasi Dengan Semangat dan Nilai-Nilai Dasar Budaya Menuju Cita-Cita Renaissance Yogyakarta. 2

4 Sedangkan prioritas Pembangunan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2016 adalah : 1. Sosial budaya; 2. Kesehatan; 3. Pendidikan; 4. Pertumbuhan Ekonomi; 5. Pembangunan Wilayah dan peningkatan infrastruktur; 6. Lingkungan Hidup dan Pemanfaatan Ruang; dan 7. Kinerja Aparatur dan Birokrasi. Prioritas tersebut mengacu pada kebutuhan mendesak masyarakat di DI. Yogyakarta serta mengakomodir prioritas nasional yang dijabarkan dalam Nawa Cita. Selanjutnya untuk perencanaan pembangunan tahun 2016 sebagaimana telah dijabarkan dalam RKPD Tahun 2016 masih mendasarkan pada arah dan kebijakan pembangunan 5 (lima) tahun ketiga ( ) RPJPD Kabupaten Gunungkidul tahun Hal ini dikarenakan tahun 2015 merupakan tahun terakhir periode RPJMD Kabupaten Gunungkidul Tahun , sedangkan Pemilihan Kepala Daerah diundur sampai akhir bulan Desember 2015, sehingga belum terdapat RPJMD sebagai pedoman penyusunan RKPD Tahun RPJMD Tahun yang merupakan penjabaran visi misi kepala daerah terpilih baru akan tersusun dalam jangka waktu maksimal enam bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Sebelum tersusunnya RPJMD Kabupaten Gunungkidul yang baru, sasaran serta target kinerja pembangunan pada RKPD Tahun 2016 disusun dengan berpedoman pada arah kebijakan pembangunan Lima Tahun ketiga RPJP Kabupaten Gunungkidul Tahun Selain itu, juga disinergikan dengan RPJMD DIY dan RKPD DIY Tahun 2016, RPJM Nasional dan RKP Tahun 2016, serta isu-isu strategis terkini sehingga diharapkan dapat diwujudkan keselarasan pembangunan yang berkelanjatuan dengan sasaran yang jelas dan terukur. Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 3

5 Kabupaten Gunungkidul Tahun , pada Tahapan Lima Tahunan Ketiga ( ) pembangunan daerah dititikberatkan pada pembangunan masyarakat yang mandiri yang didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan basis ekonomi daerah yang kuat yaitu masyarakat yang mampu mengembangkan potensinya dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatannya sendiri, mempunyai semangat kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan serta kelangsungan proses dan hasil-hasil pembangunan. Dengan berpedoman pada Visi, misi RPJPD, tema prioritas pembangunan pada RKPD DIY Tahun 2016, RKP Tahun 2016, serta dalam rangka mewujudkan kesinambungan dan sinergi pembangunan daerah, ditetapkan tema pembangunan daerah tahun 2016 yaitu : Melanjutkan agenda pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, berkualitas, dan berbudaya dengan basis ekonomi yang kuat, serta pemerintahan yang baik, bersih, dan terpercaya. tersebut kemudian dijabarkan dalam 7 (tujuh) Tema prioritas dan sasaran pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Gunungkidul tahun 2016, yaitu: 1. Prioritas Pertama : Sosial, Budaya, dan Penanggulangan Kemiskinan, didukung 5 sasaran daerah yaitu : a. Usia Harapan Hidup Masyarakat Meningkat; b. Angka Melek huruf meningkat; c. Lama sekolah penduduk meningkat; d. Jumlah penduduk miskin turun; dan e. Pembinaan, pengembangan dan pelestarian budaya lokal meningkat. 2. Prioritas Kedua : Ekonomi, didukung 2 sasaran daerah yaitu : a. Pendapatan Masyarakat Meningkat; dan b. Investasi meningkat. 3. Prioritas Ketiga : Pariwisata, didukung 1 sasaran daerah yaitu : Kunjungan Wisata meningkat. 4. Prioritas Keempat : Infrastruktur, Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang, didukung 3 sasaran daerah yaitu : a. Peningkatan Infrastruktur wilayah; b. Ketaatan terhadap 4

6 tata ruang meningkat; c. Akses terhadap Pengembangan Wilayah Kawasan Strategis meningkat 5. Prioritas Kelima, Ketahanan Pangan, didukung 1 sasaran daerah yaitu : Peningkatan Ketersediaan Distribusi dan Konsumsi Pangan. 6. Prioritas Keenam, Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana, didukung 2 sasaran daerah yaitu : a. Kualitas lingkungan Hidup meningkat; dan b. Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana meningkat. 7. Prioritas Ketujuh, Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik didukung 3 sasaran daerah yaitu: a. Akuntabilitas kinerja Pemerintah Daerah Meningkat; b. Akuntabilitas pengelolaan keuangan meningkat; Selanjutnya untuk menjamin tercapainya target kinerja yang telah dirumuskan dalam RKPD, maka masing-masing sasaran daerah tersebut harus dijabarkan secara lebih operasional ke dalam sasaran SKPD sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Pada masing-masing sasaran daerah dan sasaran SKPD memiliki tolok ukur dan target kinerja sebagai acuan dalam pelaksanaan program kegiatan SKPD. Dengan demikian potensi dana yang ada dalam APBD seoptimal mungkin diarahkan untuk pencapaian indikator sasaran daerah dan sasaran SKPD. 1.2 Tujuan Penyusunan Kebijakan Umum APBD Tujuan penyusunan Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2016 adalah : 1. Merupakan prinsip dan pokok-pokok kebijakan penyusunan APBD Tahun anggaran 2016; 2. Sebagai kerangka acuan dan pedoman dalam penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2016; 3. Untuk meningkatkan sinkronisasi dan keterpaduan kebijakan, program, dan kegiatan antar tingkatan pemerintahan. 5

7 1.3 Dasar Hukum Penyusunan Kebijakan Umum APBD. Dasar hukum penyusunan Kebijakan Umum APBD Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2016 adalah : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Jogyakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 44) jo. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950; 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049); 7. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495); 6

8 8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4135) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 05, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 12, 13, 14, dan 15 dari hal Pembentukan Daerahdaerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 59); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 210, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4028); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4712); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5340); 7

9 13. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5155); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 20. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah (Lembaran Negara 8

10 Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5272); 25. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539); 26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 27. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah; 28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber 9

11 Dari APBD, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari APBD; 29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2015; 30. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2008 Nomor 01 Seri E) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 8 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010 Nomor 07 Seri E); 31. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 8 Tahun 2008 tentang Perusahaan Bank Perkreditan Rakyat Bank Daerah Kabupaten Gunungkidul sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 14 Tahun 2013 (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2013 Nomor 14); 32. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010 Nomor 01 Seri E); 33. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penyertaan Modal Pemerintah Daerah kepada Perusahaan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010 Nomor 12 Seri E); 34. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 18 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan 10

12 Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2012 Nomor 11 Seri E); 35. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2013 Nomor 15); 36. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2013 Nomor 10); 37. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 25 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2016 (Berita Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015 Nomor 25). 11

13 BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Gambaran ekonomi makro daerah disusun berdasarkan keadaan perekonomian Kabupaten Gunungkidul terkini dan proyeksi pada tahun Kondisi yang diharapkan tersebut akan dicapai melalui berbagai program kegiatan pembangunan untuk mewujudkan sasaran pembangunan sesuai dengan prioritas serta kebijakan pembangunan daerah tahun Kerangka ekonomi makro daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik perekonomian daerah sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kabupaten Gunungkidul tahun 2014 berikut karakteristiknya serta prospek perekonomian tahun Salah satu indikator kondisi ekonomi makro suatu daerah adalah pertumbuhan ekonomi. Indikator yang sederhana dan diakui secara nasional untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang secara nasional data bersumber dari Badan Pusat Statistik. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses meningkatnya pendapatan perkapita suatu daerah untuk menuju keadaan yang lebih baik dalam waktu dan periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih bermakna apabila peningkatan PDRB per kapita dapat terdistribusi merata menjadi peningkatan pendapatan perkapita penduduknya. Selain digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi suatu wilayah, PDRB juga dapat digunakan untuk menelaah kemampuan daerah dalam menciptakan nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh sektor. Peran PDRB menurut sektor menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam suatu wilayah. Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu daerah. Persentase kenaikan pada sektor-sektor dari PDRB tahun sebelumnya dibandingkan tahun pelaksanaan merupakan sektor yang perlu didorong agar lebih signifikan, atau sebaliknya sektorsektor yang stagnan atau turun dapat dilihat kebelakang apa II - 1

14 penyebabnya, sehingga akan lebih meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah Kondisi Ekonomi Makro Kondisi Ekonomi Makro Nasional Kebijakan ekonomi makro Tahun 2016 akan diselaraskan dengan tema pembangunan nasional 2016 yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2016, yaitu Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Meletakan Fondasi Pembangunan yang Berkualitas, dengan sasaran utama antara lain: 1. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan untuk tumbuh sebesar 6,6 persen; 2. Tingkat Inflasi ditargetkan pada kisaran 4,0 persen; 3. Tingkat Kemiskinan berkisar antara 9,0 10,5 persen; dan 4. Tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berkisar 5,2 persen 5,5 persen. Pada tahun 2014, pendapatan perkapita Indonesia telah mencapai USD yang menempatkan Indonesia berada pada lapis bawah negara-negara berpenghasilan menengah. Pada saat yang sama, perekonomian global juga tumbuh, artinya batas antara negara berpenghasilan rendah dan negara berpengasilan tinggi juga bergerak. Agar Indonesia mampu menjadi negara berpendapatan tinggi, tentu memerlukan pertumbuhan yang tinggi, lebih tinggi dari pertumbuhan global. Pencapaian tujuan dan prospek ekonomi juga dipengaruhi oleh perkembangan dan tantangan ekonomi global yang akan dihadapi pada tahun-tahun kedepan. Pada periode saat ini beberapa yang terkait dengan perkembangan ekonomi global yang perlu dicermati diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Diberlakukannya The ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 dengan tujuan yaitu ASEAN sebagai pusat perdagangan regional yang terintegrasi dan dapat disejajarkan dengan Masyarakat Uni Eropa dengan empat prioritas dalam kerangka AEC yaitu: 1. Adanya arus II - 2

15 barang dan jasa yang bebas (free flow good services) 2. Ekonomi regional yang kompetitif (competitive economic region) 3. Perkembangan ekuitas ekonomi (equitable economic development) 4. Integrasi memasuki ekonomi global (full integration into global economy). Peningkatan integrasi ini di satu pihak akan menciptakan peluang yang lebih besar bagi perekonomian nasional, tetapi di lain pihak juga menuntut daya saing perekonomian nasional yang lebih tinggi. 2. Pengaruh eksternal bagi perekonomian nasional antara lain berasal dari: (a) perekonomian Amerika Serikat, Kawasan Eropa, dan negara industri paling maju lainnya yang diperkirakan masih tetap menjadi penggerak perekonomian dunia dan pasar dari ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia (b) perekonomian Asia yang diperkirakan tetap menjadi kawasan dinamis dengan motor penggerak perekonomian Tiongkok dan negara-negara industri di Asia lainnya, baik sebagai negara tujuan ekspor maupun sebagai kawasan yang menarik bagi penanaman modal baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. 3. Terdapat tiga perkembangan global yang perlu dicermati perkembangan perekonomian kita antara lain (a) krisis di kawasan Eropa sampai beberapa tahun terakhir kondisiya masih belum pulih atau masih dalam posisi mild recovery dikhawatirkan belum mampu meningkatkan permintaan dunia, yang pada akhirnya akan menyulitkan ekspor Indonesia tumbuh lebih cepat (b) harga komoditas dunia masih menunjukan tren penurunan ataupun flat dan adanya indikasi berakhirnya era supercycle juga akan mempengaruhi ekspor dan investasi Indonesia (c) rencana akan berakhirnya stimulus moneter (tapering off) di AS, dan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga, akan mendorong naiknya biaya untuk mengakses modal internasional. II - 3

16 Kondisi Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Perkembangan kegiatan perekonomian DIY dicerminkan dengan PDRB menurut harga konstan maupun harga berlaku. Nilai PDRB DIY berdasarkan harga konstan 2000 pada tahun 2013 adalah sebesar Rp.24,57 trilyun dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,40% merupakan capaian pertumbuhan tertinggi yang pernah dicapai DIY selama lebih dari satu dekade pasca krisis ekonomi pada 1997/1998. Sedangkan PDRB tahun 2014 masing-masing mencapai Rp.25,90 trilyun Rp.25,95 trilyun seperti ditunjukkan pada tabel 3.3. Peningkatan PDRB diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sebagai sebuah strategi Renaisans Ekonomi yang sinergis dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengurangan tingkat kemiskinan di DIY. Peningkatan PDRB tersebut harus dilandasi semangat Renaisans Yogyakarta, melalui optimalisasi produktivitas rakyat dengan menempatkan manusia sebagai subyek dan aset aktif dalam pembangunan secara berkelanjutan. Tabel 2.1 Nilai PDRB Pemerintah Daerah DIY Berdasarkan Lapangan Usaha (ADHK 2000) (juta Rp) Tahun * Lapangan Usaha 2013 m o Pertanian 3,730,300 3,749,221 3,780,430 Pertambangan dan penggalian 167,67 173, ,97 Industri pengolahan 3,142,840 3,389,553 3,390,490 Listrik,gas dan air bersih 229,64 242,27 244,681 Konstruksi 2,459,170 2,609,,179 2,611,638 Perdagangan, hotel, restoran 5,225,060 5,554,239 5,556,850 Pengangkutan dan komunikasi 2,744,150 2,918,405 2,919,050 Keuangan, real estat, dan jasa 2,552,440 2,711,967 2,712,243 perusahaan Jasa-jasa 4,316,210 4,557,918 4,565,184 PDRB 24,567,480 25, ,956,536 Keterangan : * adalah angka proyeksi Sumber : analisa BRS BPS DIY dan Penyusunan Makro Ekonomi DIY Tahun II - 4

17 Proyeksi tersebut diatas menggunakan pijakan pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2013 sebesar 5,40%. Untuk itu, pada tahun 2014 perekonomian DIY diproyeksikan akan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi yaitu sebesar 5,45% - 5,68% yang merupakan hasil dari aktivitas masyarakat dalam menyambut perhelatan politik (pemilu legislatif dan pemilu presiden) tahun Peran kontribusi sektoral PDRB DIY tahun 2013 dari yang tinggi ke rendah yaitu sektor perdagangan dan hotel, sektor jasa-jasa, sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estat dan dan jasa perusahaan, sektor kontruksi, sektor listrik, gas dan air bersih, dan yang terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian. Kondisi yang kondusif di DIY kedepan diharapkan mampu menyumbang kontribusi PDRB tahun sesuai pada tabel 2.2. Tabel 2.2 Kontribusi PDRB Sektoral DIY Atas Dasar harga Konstan 2000 Berdasarkan Lapangan Usaha (juta rupiah) Tahun No. Lapangan Usaha * 2015* 1. Pertanian ,97 15,57 2. Pertambangan dan Penggalian ,67 0,66 3. Industri Pengolahan ,17 11,94 4. Listrik, Gas dan Air Bersih ,95 0,95 5. Konstruksi ,84 9,92 6. Perdagangan, Hotel, dan ,96 22,17 Restoran 7. Transportasi dan Komunikasi ,04 11,18 8. Keuangan, Real Estat & Jasa ,09 10,25 Perusahaan 9. Jasa-jasa ,31 17,36 PDRB 100,00 100,00 100,00 Keterangan:*adalah angka proyeksi Sumber: analisa BRS BPS DIY & Penyusunan Makro Ekonomi DIY Tahun II - 5

18 Sumber : BRS BPS DIY dan Penyusunan Ekonomi Makro DIY, Gambar 2.1. Kontribusi Sektoral Penyumbang PDRB DIY Menurut Lapangan Usaha Tahun 2013 (%) Laju Pertumbuhan PDRB menunjukan dinamika di hampir semua sektor, sektor yang mengalami pertumbuhan paling lambat adalah sektor pertanian yang proyeksi pertumbuhannya selalu di bawah tiga persen tiap tahunnya. Namun diharapkan sektor pertanian masih memberikan kontribusi besar dalam perekonomian DIY karena tenaga kerja pertanian masih cukup dominan dan luasan lahan pertanian lahan kering di Kabupaten Gunungkidul yang masih cukup dominan di DIY serta kaitan erat sektor ini dengan ketahanan pangan. Laju pertumbuhan PDRB masing-masing sektor dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut. Tabel 2.3 Laju Pertumbuhan PDRB Sektor DIY Berdasarkan Lapangan Usaha (Harga Konstan 2000) Tahun (%) Lapangan Usaha * 2015* 1. Pertanian 4,44 3,13 3,19 2. Pertambangan dan Penggalian 2,92 4,06 4,18 3. Industri Pengolahan 2,37 3,67 3,77 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 6,93 6,22 6,36 5. Konstruksi 6,68 6,53 6,66 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 6,88 6,70 6,84 7. Transportasi dan Komunikasi 7,73 7,02 7,18 8. Keuangan, Real Estat & Jasa Perusahaan 6,47 7,36 7,48 9. Jasa-jasa 4,58 6,01 6,15 Keterangan:*adalah angka proyeksi, Sumber : Bappeda DIY, 2014 II - 6

19 Struktur pengeluaran dalam Produk Domestik Regional Bruto mengalami pertumbuhan terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi (Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan konsumsi adalah pendapatan masyarakat yang membaik dan di sisi lain dukungan pembiayaan meningkat, seperti pada tabel 2.4 berikut. Tabel 2.4 Nilai PDRB DIY Berdasarkan Penggunaan (Harga Berlaku), (Juta Rp) Jenis Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 5.Perubahan Inventori Diskrepansi Statistik Ekspor Barang dan Jasa Dikurangi : 8. Impor Barang dan Jasa PDRB Sumber: Bappeda DIY, 2014 Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam nilai PDRB riil, dan terkecil dipengaruhi oleh perubahan inventori seperti pada tabel 2.5 sebagai berikut : Tabel 2.5 Nilai PDRB DIY Berdasarkan Penggunaan (Harga Konstan), (Juta Rp) Jenis Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Perubahan Inventori Diskrepansi Statistik II - 7

20 Jenis Penggunaan Ekspor Barang dan Jasa Dikurangi : 8. Impor Barang dan Jasa PDRB Sumber: Bappeda DIY, 2014 Lonjakan inflasi di DIY merupakan pengaruh dari nasional, pada tahun 2014 terjadi penurunan inflasi dikarenakan banyaknya perputaran uang dalam masa pemilihan legislatif maupun presidem yang berdampak pada banyaknya peredaran rupiah dan kestabilan harga, perubahan nilai inflasi DIY dan nasional dapat dilihat pada tabel 2.6 sebagai berikut : Tabel 2.6 Perbandingan Inflasi DIY dengan Inflasi Nasional Tahun (%) Tahun Yogyakarta Nasional ,40 6, ,99 6, ,88 11, ,93 2, ,38 6, ,88 3, ,31 4, ,14 8, ,59 8,36 Sumber: BPS DIY, 2014 Pertumbuhan perekonomian di DIY yang diharapkan terus meningkat, sehingga memberikan peluang semakin luasnya kesempatan kerja dan menurunnya tingkat pengangguran terbuka, seperti terlihat pada tabel 2.7 sebagai berikut : II - 8

21 Tabel 2.7 Penduduk Bekerja, Pengangguran Terbuka, dan Angkatan Kerja DIY Tahun Tahun Pengangguran Bekerja Jumlah Terbuka Angkatan Kerja Jumlah % Jumlah % , , , , , , , , , * , , * , , Sumber:Bappeda DIY, 2014 Salah satu permasalahan yang terjadi di negara berkembang adalah kemiskinan, demikian halnya dengan DIY. Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang kompleks dan krusial dalam pembangunan perekonomian. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Jumlah penduduk miskin di DIY menurut Kabupaten/Kota dari tahun dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut ini. Tabel 2.8 Penduduk Miskin menurut Kabupaten/Kota Di DIY Tahun (ribu orang) Kabupaten Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Kulon Progo 92,78 23,62 93,2 23,31 86,5 21,39 Bantul 159,38 17,28 159,2 16,97 156,6 16,48 Gunungkidul 157,09 23,03 157,8 22,71 152,4 21,70 Sleman 117,32 10,61 118,2 10,44 110,8 9,68 Yogyakarta 37,74 9,629 37,4 9,38 35,6 8,82 DI.Yogyakarta 564,29 16,14 565,7 15,88 541,9 15,03 Sumber: BPS DIY,2014 Tingkat kemiskinan di DIY cenderung mengalami penurunan dari tahun dengan penurunan rata-rata sebesar 0,55%. Meskipun mengalami penurunan, tingkat kemiskinan II - 9

22 di DIY masih berada diatas tingkat kemiskinan rata-rata nasional, sehingga program-program pengentasan kemiskinan terus dilakukan dalam upaya untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Diharapkan pada tahun 2014 tingkat kemiskinan menurun menjadi 14,55% dengan penurunan sebesar 0,63% dari tahun sebelumnya, sedangkan tahun 2015 tingkat kemiskinan diharapkan menjadi 13,22% atau menurun sebesar 1,33%. Menurut tabel 2.8 sebaran penduduk miskin di DIY yang terbanyak berada di Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo, adapun Kabupaten Gunungkidul menyumbang 21,70 % dari dari jumlah penduduk miskin di DI Yogyakarta sebesar 15,03%, oleh sebab itu sebaiknya kegiatan perekonomian tidak hanya terpusat di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Kegiatan perekonomian sebaiknya dialihkan kepada kedua kabupaten penyumbang kemiskinan terbesar supaya tidak menjadi ketimpangan pada kesempatan kerja, fasilitas, dan infrastruktur penunjang kegiatan perekonomian yang berdampak pada tidak meratanya tingkat pendapatan yang bermuara pada kemiskinan. Gambar 2.2 dibawah ini merupakan laju pertumbuhan pererkonomian DI. Yogyakarta pada tahun 2014, laju pertumbuhan suatu daerah tidak akan lepas oleh laju pertumbuhan nasional, dibawah ini posisi laju pertumbuhan DI. Yogyakarta dengan Provinsi tetangga di Pulau Jawa adalah sebagai berikut : II - 10

23 Sumber : BRS BPS DIY, 2014 Gambar 2.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi DIYTerhadap Provinsi Lain Secara Nasional Tahun 2014 Laju pertumbuhan perekonomian didorong oleh PDRB dan faktor-faktor lain yang diperkirakan akan memberikan dorongan positif pada pertumbuhan ekonomi DI Yogyakarta adalah : 1. Proyek pembangunan infrastruktur dan investasi baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta masih akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan, antara lain seperti optimalisasi operasional pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, penyelesaian pembangunan jalur jalan lintas selatan dan pembangunan Bandara Internasional di Kulon Progo, Penataan kawasan Malioboro, Penataan Gunung Gambar, Stasiun Tugu dan Lempuyangan, pembangunan pusat pertumbuhan baru melalui pembangunan sejumlah embung pada wilayah tertinggal di DIY, dan berbagai potensi investasi yang telah dikaji dan dipromosikan; 2. Berlakunya perdagangan bebas pada wilayah ASEAN (kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN) terutama pada prioritas 1. blue print kerangka AEC yaitu Adanya arus barang dan jasa yang bebas (free flow good services) dengan harapan menumbuhkan tingkat konsumsi dan produksi pada wilayah DIY yang mengedepankan pertumbuhan II - 11

24 wisata, pendidikan, dan budaya sehingga akan menguntungkan DIY; dan; 3. Terjaganya kestabilan harga minyak dunia dan supplai energi, khususnya pada energi listrik terpenuhi dengan pembangunan pembangkit-pembangkit baru seperti yang telah direncanakan dalam memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat. Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo merupakan kabupaten urutan terbelakang dari 5 kabupaten/kota di DIY, diupayakan dalam peningkatan pertumbuhan perekonomian diharapkan dapat meningkatkan dan mendongkrak kinerja perekonomian DIY. Wilayah DIY selama ini memiliki disparitas wilayah yang cukup tinggi dan daya saing yang belum optimal dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan Wilayah Jawa, Jawa-Bali, dan Nasional, pertumbuhan ekonomi DIY masih dibawah ratarata sesuai seperti gambar 2.2 diatas. Peningkatan pertumbuhan perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016 melalui pembangunan secara terencana untuk menyempurnakan program dan kegiatan tahun sebelumnya, adapun tema pembangunan DIY adalah Mendayagunakan dan Menguatkan (SDM unggul, kesehatan terjamin, kemiskinan turun, penggangguran turun, ekonomi tumbuh, infrastruktur, dengan prioritas pembangunan daerah tahun 2016 yaitu: 1. sosial budaya; 2. ekonomi, 3. ilmu pengetahuan dan teknologi; 4. hukum dan aparatur; 5. pengembangan wilayah dan tata ruang; 6. penyediaan sarana dan prasarana; dan 7. pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. II - 12

25 Kondisi Perekonomian Kabupaten Gunungkidul Kemampuan daerah dalam mengelola dan mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki untuk menghasilkan barang dan jasa dalam kurun waktu satu tahun dapat terukur melalui besaran nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dicapai. Besaran nilai PDRB suatu wilayah yang tercermin melalui perputaran perekonomian dalam satu tahun melalui pencapaian tahun ke tahun maka akan terlihat bagaimana perkembangan tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu wilayah. Kegiatan perekonomian di Kabupaten Gunungkidul dalam kurun waktu satu tahun yang tercermin dalam PDRB, nilai PDRB pada tahun 2014 lebih besar dari tahun sebelumnya, yaitu PDRB Per Kapita ADHB mencapai 13,7 triliun, dibandingkan PDRB Per Kapita ADHB tahun 2013 mencapai 12,9 triliun. Perhitungan PDRB Per Kapita ADHB Kabupaten Gunungkidul untuk tahun 2014 adalah 13,7 triliun naik sebesar 5,%, dibanding PDRB Per Kapita ADHB tahun Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 sebesar 4,89 persen, dan mempunyai andil pertumbuhan perekonomian D.I. Yogyakarta sebesar 0,73 persen lebih tinggi dari pada Kabupaten Kulon Progo dengan andil 0,38 persen pada tahun Andil pertumbuhan ekonomi DIY terbesar masih di dominasi oleh Kabupaten Sleman sebesar 1,70 persen diikuti Kata Yogyakarta sebesar 1,32 persen, disusul Kabupaten Bantul sebesar 0,98 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi di D.I. Yogyakarta posisi tertinggi masih diraih oleh Kabupaten Sleman dengan pertumbuhan sebesar 5,84 persen, disusul Kota Yogyakarta 5,22 persen, Kabupaten Bantul sebesar 5,44, Kabupaten Gunungkidul sebesar 4,89 persen, dan terakhir yaitu Kabupaten Kulon Progo sebesar 4,68 persen. II - 13

26 Sumber : BPS DIY 2013, diolah Gambar 2.3 Pertumbuhan Ekonomi/Kota se-diy Tahun 2014 Nilai PDRB dalam satu tahun merupakan cerminan dari pembangunan yang telah dilaksanakan dalam satu tahun, pembangunan sektor publik selalu terencana secara kontinue dari tahun ke tahun, adapun pembangunan kedepan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2016 masih menyempurnakan tema tahun lalu, adapun tema dan prioritas pembangunan, adalah Melanjutkan agenda pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berbudaya, dengan basis ekonomi yang kuat serta pemerintahan yang baik, bersih dan terpercaya. Mewujudkan masyarakat yang mandiri dengan berbasis ekonomi, diharapkan mampu memantapkan usaha-usaha masyarakat sesuai dengan potensi daerah masing-masing untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan rakyat tanpa meninggalkan budaya lokal yang ada sesuai ciri khas Gunungkidul yang harus digali kembali. Usaha-usaha masyarakat melalui boomingnya sektor pariwisata tanpa meninggalkan budaya lokal akan berdampak multiplayer effek kepada sektor lain untuk kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Gunungkidul. II - 14

27 2.2 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2014 dan Perkiraan Tahun 2015 Menciptakan kondisi yang lebih baik dengan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di tingkat lokal, serta pengembangan ekonomi lokal merupakan usaha mengoptimalkan sumber daya lokal yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal, dan organisasi masyarakat madani untuk mengembangkan ekonomi pada suatu wilayah adalah tujuan dari pembangunan ekonomi pada RPJMD Kabupaten Gunungkidul Tahun Pelaksanaan pembangunan tahun keempat RPJMD Kabupaten Gunungkidul tidak lepas dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan pembangunan yang terarah dan berkelanjutan, untuk mewujudkan pelaksanaan perekonomian daerah berangkat dari keadaan perekonomian terkini dan proyeksi kedepan dengan melihat beberapa indikator ekonomi. 1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pertumbuhan Ekonomi Salah satu indikator makro ekonomi untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB sebagai dasar perhitungan laju pertumbuhan ekonomi juga bisa melihat struktur ekonomi serta melihat kemampuan suatu daerah dalam pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan kemampuan teknologi serta inovasi daerah dalam periode tertentu di suatu wilayah. Pembentukan PDRB di Kabupaten Gunungkidul merupakan gambaran dalam mengelola sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, serta kemampuan teknologi yang menghasilkan barang dan jasa dalam kegiatan perekonomian. PDRB Kabupaten Gunungkidul atas dasar harga berlaku tahun 2013 sebesar juta rupiah dengan kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertanian dengan menyumbang 33,29 persen. PDRB ADHK 2000 Kabupaten Gunungkidul II - 15

28 tahun 2013 sebesar juta rupiah, secara lengkap PDRB sesuai tabel sebagai berikut : No. Tabel 2.9 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gunungkidul Tahun Lapangan Usaha 2013 (Juta Rupiah) 2014* (Juta Rupiah) 1 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa Jasa Produk Domestik Regional Bruto Sumber : Bappeda, 2014 (diolah) *angka proyeksi/sementara No. Tabel 2.10 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gunungkidul Tahun Lapangan Usaha 2013 (Juta Rupiah) 2014* (Juta Rupiah) 1 Pertanian Pertambangan dan Galian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa Jasa Produk Domestik Regional Bruto Sumber : Bappeda, 2014 (diolah) *angka proyeksi/sementara II - 16

29 Gambar 2.4 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014 Kontribusi sektor-sektor pada PDRB ADHK 2000 Kabupaten Gunungkidul tahun 2014 dalam realisinya menunjukan kenaikan sedikit yaitu pada sektor Jasa-jasa sebesar 14,69 dari tahun sebelumnya sebesar 14,32 persen, diikuti sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan sebesar 5,79 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 5,45 persen, Sektor Bangunan sebesar 9,22 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 8,94 persen, dan kenaikan juga dialami oleh sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran sebesar 15,47 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 15,04 persen, dan sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih sebesar 0,60 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 0,59 persen. Sektor yang tetap stagnan tidak ada kenaikan adalah sektor Pertambangan dan Galian sebesar 1,84 persen. Adapun sektor-sektor lain mengalami penurunan adalah Pertanian sebesar 33,88 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 35,19 persen walaupun kontribusinya masih dominan dalam pembentukan PDRB tahun 2014, diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 11,29 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 11,36 persen, dan diikuti oleh sektor Pengangkutan dan komunikasi sebesar 7,22 persen dengan tahun sebelumnya sebesar 7,26 persen. Ketidak stabilan harga karena kebijakan pemerintah pusat II - 17

30 dengan kenaikan harga BBM, kenaikan berkala TDL setiap tiga bulanan, dan ketidak pastian harga gas elpiji bagi ibu-ibu rumah tangga, merupakan wujud nyata penurunan kontribusi pada sektor-sektor PDRB ADHK 2000 dan hanya beberapa kenaikan sektor pada pembentukan PDRB. Tabel 2.11 Proyeksi Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha dan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Gunungkidul Tahun No. Uraian *) 2015*) 2016*) 1. PDRB ADHB (Juta Rupiah) Pertumbuhan 5,16 4,89 5,25 5,41 2. Ekonomi (%) Sumber : Bappeda, 2014 (diolah) *angka proyeksi/sementara Target pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 sebesar 5,08, dan tahun 2015 serta 2016 akan tetapi pada pencapainnya mengalami penurunan sebesar 4,89 persen PDRB ADHK, penurunan tersebut diakibatkan pengaruh dari kebijakan nasional dalam bidang perekonomian, sehingga berimbas pada perekonomian daerah walaupun perekonomian daerah bergerak di semua sektor. pengembangan sektor-sektor tersebut diharapkan akan mampu memberikan kontribusi pada perputaran perekonomian daerah dan mampu menyerap tenaga kerja secara optimal. Beberapa sektor yang dominan memberikan kontribusi terhadap PDRB yaitu sektor pertanian, dengan luas wilayahnya dan topografi Kabupaten Gunungkidul sebagai wilayah pertanian sebagai kegiatan utama masyarakat, jasa, perdagangan, hotel, dan restoran, industri pengolahan. Sub sektor industri non migas pada usaha mikro kecil menengah dan sub sektor pariwisata memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang. Proyeksi pertumbuhan selalu meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi pada tahun 2014 dalam pencapaiannya mengalami penurunan dikarenakan pergolakan suhu perekonomian karena kebijakan pusat II - 18

31 seperti kenaikan harga gas elpiji, diikuti kenaikan berkala setiap triwulanan TDL, dan yang sangat perpengaruh sekali pada semua dampak yaitu kenaikan BBM. Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gunungkidul dari tahun 2013, dan realisasi pencapaian pertumbuhan ekonomi tahun 2014, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015, dan tahun 2016 ditunjukan dengan gambar sebagai berikut : Gambar 2.5 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Gunungkidul, Tahun Berlahan tapi pasti merupakan proyeksi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gunungkidul tahun 2015 dan Kestabilan pariwisata di Gunungkidul sebagai kunjungan alternatif DIY, yang sekarang menjadi tujuan alternatif utama wisata di DIY berdampak pada pembentukan sektor-sektor PDRB yang bergerak positif terutama pada sektor jasa-jasa dengan tumbuhnya pariwisata berpengaruh positif pada sektor lain dengan multiplayer effeknya. a. Struktur Sektor Ekonomi Kontribusi pembentukan PDRB (ADHB 2000) Kabupaten Gunungkidul tahun 2014 angka proyeksi terbesar berasal dari sektor pertanian, yaitu 32,35%, walaupun penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB ADHB, tetapi posisi turun dibanding tahun lalu ini disebabkan ada pergerakan di sektor-sektor lain sebagai penyubang PDRB sehingga II - 19

32 pemda juga bisa lebih arif dalam pembereian program untuk penggerak PDRB selain pertanian. Seperti diketahui sektor pertanian masih sangat dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014, diikuti sektor jasa-jasa sebesar 18,11%; sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 14,77%; sektor industri pengolahan sebesar 9,93; sektor bangunan sebesar 10,19%; sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,10%; sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan sebesar 5,95%. Sementara dua sektor lainnya yaitu sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,65; dan sektor listrik, gas, dan air bersih memberi kontribusi yang relatif lebih rendah terhadap PDRB yaitu masing-masing sebesar 0,95%, secara lengkap kontribusi PDRB sesuai tabel berikut: Tabel 2.12 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gunungkidul, Tahun (Persen) No Lapangan Usaha *) 1 Pertanian 33,29 32,35 2 Pertambangan dan galian 1,71 1,65 3 Industri Pengolahan 9,87 9,93 4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,93 0,95 5 B a n g u n a n 9,87 10,19 6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 14,58 14,77 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,15 6,10 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 5,66 5,95 9 Jasa Jasa 17,95 18,11 Sumber : Bappeda, 2014 (diolah) *angka proyeksi/sementara II - 20

33 Tabel 2.13 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Gunungkidul, Tahun (Persen) No Lapangan Usaha *) 1 Pertanian 35,23 33,88 2 Pertambangan dan galian 1,84 1,84 3 Industri Pengolahan 11,28 11,29 4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,59 0,60 5 B a n g u n a n 8,97 9,22 6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 15,11 15,47 7 Pengangkutan dan Komunikasi 7,13 7,22 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 5,48 5,79 9 Jasa Jasa 14,36 14,69 Sumber : Bappeda, 2014 (diolah) *angka proyeksi/sementara Laju pertumbuhan PDRB ADHK 2000 Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 relatif sama semua sektor ada pergarakan, akan tetapi sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan melaju sebesar 10,78%, laju pertumbuhan sangat signifikan. Peningkatan laju pertumbuhan pada sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dipengaruhi oleh meningkatnya kunjungan wisata-wisata di Gunungkidul. Kunjungan wisata di Kabupaten Gunungkidul tumbuh sangat pesat baik wisata utama seperti Pantai Baron, Krakal, Kukup, dan Pulangsawal, juga dengan adanya lokasi wisata-wisata baru yang dikelola oleh kelompok masyarakat yang secara langsung akan berimbas pada peningkatan dan perputaran roda perekonomian di tingkat gressroad yang akan menyubang pada pembentukan sektor PDRB di Gunungkidul. Dibawah ini adalah gambar grafik pertumbuhan sektor PDRB ADHK di Kabupaten Gunungkidul dari tahun adalah sebagai berikut: II - 21

34 Sumber: Bappeda Kabupaten Gunungkidul; 2014.( data diolah) Gambar 2.6 Pertumbuhan Sektoral PDRB Kabupaten Gunungkidul Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun (%) Realisasi proyeksi laju pertumbuhan sektoral PDRB ADHK di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 mengalami penurunan dibanding dengan tahun lalu, walaupun ada peningkatan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,37 persen dan tahun lalu sebesar 5,84 persen, diikuti sektor jasa-jasa sebesar 7,32 persen dan tahun lalu sebesar 6,97 persen, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 10,78 persen dari tahun lalu sebesar 9,27 persen, diikuti sektor kontruksi sebesar 7,77 persen dan tahun lalu sebesar 7,73 persen, dan sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih sebesar 6,91 persen dan tahun lalu sebesar 6,62 persen. Sektor-sektor lain mengalami penurunan, sektor pertanian sebesar 0,88 persen, sektor pertambangan dan galian sebesar 5,06 persen, sektor industri pengolahan sebesar 5,03 persen, serta sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,09 persen, secara lengkap sesuai tabel berikut ini: II - 22

35 Tabel 2.14 Laju Pertumbuhan Sektoral PDRB Kabupaten Gunungkidul Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun (%) Lapangan Usaha Pertanian 1,51 0,88 1,11 Pertambangan dan Galian 7,91 5,06 8,08 Industri Pengolahan 7,74 5,03 6,85 Listrik, Gas dan Air Bersih 6,62 6,91 4,64 Konstruksi 7,73 7,77 8,34 Perdagangan, Hotel dan Restoran 6,55 7,34 6,12 Pengangkutan dan Komunikasi 4,71 6,09 5,95 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 10,14 10,78 12,18 Jasa Jasa 7,48 7,32 9,62 Sumber : Bappeda, 2014 (diolah). *angka proyeksi/sementara Peningkatan laju pertumbuhan sektoral PDRB ADHK Kabupaten Gunungkidul dari tahun dalam persen, diharapkan dimasing-masing sektor akan mengalami peningkatan walaupun dilain sisi sektor pertanian cenderung turun, sehingga masyarakat tidak hanya tertumpu pada pertanian dalam arti luas tetapi sudah pada sektor-sektor lain seperti dengan membomingnya pariwisata lokal di wilayah selatan terutama pantai, wilayah tengah yaitu wisata alam telusur goa dan wisata gunung api purba di Nglanggeran. Walaupun pada tahun 2014 realisasi perekonomian Kabupaten Gunungkidul mengalami pertumbuhan tidak signifikan dibanding tahun lalu diharapkan pertumbuhan perekonomian pada tahun-tahun berikutnya mengalami kenaikan maksimal, dengan pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan secara merata disemua sektor walaupun tidak signifikan dibandingkan tahun lalu, dan satu sektor mengalami penurunan yaitu sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan. Kelima sektor yang mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2014, akan tetapi keempat sektor lain mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan sehingga secara keseluruhan tidak bisa meningkatkan PDRB secara menyeluruh/total. II - 23

36 b. Inflasi Pada tahun 2014, laju inflasi tahun ke tahun (year on year) kota Wonosari sebesar 7,71 persen tercatat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kota Yogyakarta yang tercatat mengalami laju inflasi tahun ke tahun sebesar 6,59 persen, namun lebih rendah bila dibandingkan dengan nasional yang tercatat mengalami laju inflasi sebesar 8,36 persen. Kelompok bahan makanan masih mengalami laju inflasi tertinggi baik di kota Wonosari, di kota Yogyakarta, maupun nasional. Sementara laju inflasi terendah di kota Wonosari terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga, dan di kota Yogyakarta dan nasional laju inflasi terendah terjadi pada kelompok sandang. Adapun perbandingan laju inflasi dari tahun 2010 sampai dengan 2014 adalah sebagai berikut : Tabel 2.15 Laju Inflasi Tahun ke Tahun (year on year) di Gunungkidul, Kota Yogyakarta, dan Nasional Tahun Tahun Laju Inflasi Tahun ke Tahun (year on year) Gunungkidul Yogyakarta Nasional ,69 7,38 6, ,94 3,88 3, ,76 4,31 4, ,11 7, ,71 6, Sumber: BPS, ,69 Tahun ,38 6,96 3,94 Tahun ,11 3,79 7,31 7,71 3,88 4,3 4,76 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun ,38 7,32 8,36 6,59 Nasional Gunungkidul Gunungkidul Yogyakarta Nasional Gambar 2.7 Laju Inflasi Tahun ke Tahun di Gunungkidul, Yogyakarta, dan Nasional Tahun II - 24