BAB II BAHAN RUJUKAN. sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II BAHAN RUJUKAN. sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada"

Transkripsi

1 BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian Sewa Guna Usaha ( Leasing ) Leasing berasal dari kata Lease yang berarti sewa atau lebih umum diartikan sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Industri leasing menciptakan konsep baru untuk mendapatkan barang modal serta menggunakannya sebaik mungkin tanpa harus membeli atau memiliki barang tersebut. Ditinjau dari sudut ekonomi, leasing dapat pula dikatakan sebagai salah satu cara untuk menghimpun dana yang terdapat didalam masyarakat dan menginvestasikannya kembali dalam sektor-sektor ekonomi tertentu yang dianggap produktif. Menurut Kieso (2005;1089) menyatakan bahwa: A lease is a contractual agreement between a lessor and a lessee. This agreement gives the lessee the right to use specific property, owned by the lessor, for a specified priod of time. In return for the use of the property, the lessee makes rental payments over the lease term to the lessor. Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa: Lease adalah suatu kesepakatan kontrak antara lessor dan lessee. Perjanjian ini memberikan penyewa hak untuk menggunakan properti tertentu, yang dimiliki oleh lessor, untuk jangka waktu

2 tertentu. Dalam retun untuk penggunaan properti, penyewa membuat pembayaran sewa selama jangka waktu sewa kepada lessor. Sedangkan leasing menurut Stice, Stice, Skousen (2009;289) adalah sebuah kontrak yang merinci persyaratan-persyaratan dimana pemilik properti, yaitu lessor mentransfer hak pengguna properti kepada lessee. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa leasing merupakan suatu perjanjian kontrak pemberian sewa antara lessor dan lessee dalam jangka waktu tertentu Keuntungan Ekonomis Sewa Guna Usaha ( Leasing ) Meskipun akibat-akibat akuntansi merupkan pertimbangan yang penting dalam menyusun suatu transaksi sebagai suatu sewa guna usaha, pertimbangan keuangan dan pajak lainnya juga memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan atas sewa guna usaha. Menurut. Stice, Stice, Skousen (2005;295) setiap situasi berbeda, tetapi ada tiga keuntungan utama bagi lessee atas sewa guna usaha dibandingkan pembelian: 1. Tanpa uang muka Sebagian besar pembelian kredit atas properti mensyaratkan sebagian harga pembelian untuk dibayar secepatnya oleh peminjam. Hal ini menyediakan perlindungan tambahan kepada pemberi pinjaman pada saat terjadi kebangkrutan. Perjanjian sewa guna usaha sebagai perbandingan, sering kali disusun sedeminikan

3 rupa hingga 100% nilai properti didanai melalui sewa guna usaha. Aspek sewa guna usaha ini menjadi alternatif yang menarik bagi perusahaan yang tidak memiliki uang muka yang cukup atau berharap mengguakan modal yang tersedia untuk tujuan operasi dan investasi lainnya 2. Menghindari risiko kepemilikan Terdapat banyak risiko yang terkait dengan kepemilikan. Termasuk di antaranya adalah kerugian karena kecelakan, keusangan, perubahan kondisi ekonomi dan kemerosotan fisik. Jika nilai pasar aktiva sewa guna usaha naik secara dramatis, lessee mungkin mengakhiri sewa guna usaha, walaupun biasanya dengan denda. 3. Feksibelitas Kondisi bisnis dan perubahan perjanjian berubah dari waktu ke waktu. Jika sewaktu aktiva disewagunakan, sebuah perusahaan akan mudah mengganti aktiva untuk menanggapi perubahan tersebut. Feksibelitas ini khususnya penting dalam bisnis yang melibatkan inovasi dan perubahan teknologi yang mengakibatkan ketidakpastian akan manfaat dari beberapa peralatan dan fasilitas. Lessor juga dapat memperoleh keuntungan dari sewa guna usaha dari pada menjualnya. Keuntungan sewa guna usaha bagi lessor termasuk di bawah ini: 1. Meningkatkan penjualan Untuk alasan yang disarankan pada bagian sebelumnya, pelanggan mungkin tidak ingin atau tidak mampu membeli properti. Dengan menawarkan pelanggan

4 potensial dengan pilihan sewa guna usaha atas produknya, suatu produsen atau penyalur mungkin secara signifikan meningkatkan volume penjualanya. 2. Hubungan bisnis yang berkelanjutan dengan lessee Ketika properti dijual, pembeli sering kali tidak memiliki hubungan dengan penjual properti. Namun dalam situasi sewa guna usaha, lessor dan lessee menjaga hubungan melewati suatu periode waktu, suatu hubunngan bisnis jangka panjang sering kali dapat dibina melalui sewa guna usaha. 3. Nilai sisa yang tersimpan Dalam banyak perjanjian sewa guna usaha kepemilikan properti sewa guna usaha tidak pernah dialihkan kepada lessee. Lessor dapat memperoleh keuntungan apabila kondisi ekonomi menghasilkan nilai sisa yang signifikan pada akhir masa sewa. Lessor mungkin menyewakan aktiva ke lessee lain atau menjual properti dan medapat keuntungan segera. Dapat simpulakan, perjanjian sewa guna usaha sering kali merupakan praktik bisnis yang menarik bagi lessee dan lessor Kriteria Klasifikasi Sewa Guna Usaha Menurut Kieso (2005;1094) ada empat kriteria klasifikasi sewa guna usaha yang berlaku bagi penyewa yang kontroversial dan dapat sulit untuk diterapkan dalam praktik. Kami membahas setiap kriteria secara rinci sebagai berikut: 1. Pengalihan kepemilikan

5 Sewa guna usaha menyertakan peraturan bahwa kepemilikan aktiva yang disewagunausahakan berpindah ke tangan lessee pada akhir sewa guna usaha. 2. Opsi pembelian murah Opsi pembelian murah tersedia sehingga benar-benar menjamin lessee untuk memiliki aktiva. 3. Umur ekonomis (75%) Masa sewa guna usaha melebihi 75 persen atau lebih dari umur ekonomi dari aktiva yang disewagunausahakan. 4. Nilai aktiva (90%) Nilai sekarang dari pembayaran minimum sewa guna usaha lebih besar atau sama dengan 90% dari nilai pasar wajar dari nilai akltiva yang disewagunausahakan pada tanggal penandatangan perjanjian sewa guna usaha Perbedaan Sewa Guna Usaha Operasi dan Modal Perbedaan sewa guna usaha operasi dan sewa guna usaha modal menurut Muliawati (Indonesian scientific journal database) menyatakan bahwa: According to the SFAS No. 13, leases can be classified into operating and financial or capital leases. The differences between those two leases, which are: operating lease keeps leased asset and leased obligation off the lessee's balance sheet and usually results in higher earnings than financial lease. Because of these reasons, in practice, operating lease is preferable than financial lease.

6 Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa: Menurut PSAK No 13, sewa dapat diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi dan sewa keuangan atau modal. Perbedaan antara dua sewa, yaitu: operating lease aktiva yang disewagunausahakan tetap dan kewajiban sewa dari neraca lessee dan biasanya menghasilkan laba lebih tinggi dari financial lease. Karena alasan ini, dalam praktik, operating lease adalah lebih baik dari financial lease. Untuk mencatat dengan tepat sewa guna usaha operasi dan sewa guna usaha modal dari sudut pandang lessee maupun lessor. Menurut Stice, Stice, Skousen (2005;345) menyatakan bahwa sewa guna usaha operasi dan sewa guna usaha modal memiliki perbedaan sebagai berikut: Sewa guna usaha operasi Sewa guna usaha modal Table 2.1 Perbedaan Sewa Guna Usaha Operasi dan Modal Terhadap Lessee dan Lessor Lessee Sewa guna usaha operasi dicacat sebagai penyewaan, dan jumlah pembayaran sewa guna usaha dianggap sebagai beban sewa. sewa guna usaha modal, aktiva dan utang diakui pada tanggal penandatanganan sewa guna usaha. Aktiva secara bertahap diamortisasi sepanjang masa perjanjian sewa beli. Pembayaran sewa guna usaha dicacat sebagai pengurangan pada utang sewa guna usaha di neraca, dengan sebagian dari pembayaran diklasifikasikan sebagai beban bunga. Lessor Sewa guna usaha operasi dicacat sebagai suatu penyewaan dengan jumlah pembayaran sewa guna usaha sebagai pendapatan sewa. Lessor melanjutkan penyusutan aktiva yang disewagunausahakan. Terdapat dua jenis sewa guna usaha modal; sewa guna usaha pendanan langsung, piutang sewa guna usaha dicacat pada tanggal penandatangan sewa guna usaha. Pendapatan bunga pada saldo piutang diakui selama masa sewa guna usaha. Pada sewa guna usaha penjualan, selain pendapatan bunga sepanjang umur sewa

7 Sumber: Stice, Stice, Skousen (2005; 344) diolah kembali guna usaha, suatu keuntungan diakui pada tanggal penandatanganan sewa guna usaha dengan jumlah yang sama dengan selisih antara nilai pasar wajar aktiva yang disewagunausahakan dan harga perolehannya Jenis-Jenis Provisi Kontraktual Dalam Pejanjian Sewa Guna Usaha Menurut Stice, Stice, Skousen (2005;344) lima kriteria umum yang berlaku untuk semua lease baik bagi lessee maupun lessor berkaitan dengan pengalihan pemilikan, opsi pembelian dengan harga murah, masa sewa guna usaha, nilai sisa dan pembayaraan minimum sewa guna usaha. Masing-masing kriteria ini akan dibahas sebagai berikut: 1. Pengalihan pemilikan Lease mengandung ketentuan yang mengalihkan pemilikan sepenuhnya atas harta kepada lessee pada akhir periode lease. 2. Opsi pembelian dengan harga murah Lease berisikan opsi pembelian dengan harga murah sehingga cukup dapat dipastikan bahwa harta tersebut akan dibeli lessee pada kemudian hari. Kriteria ini lebih sulit diterapkan dari pada kriteria pertama karena nilai pasar aktiva yang di lessee itu dikemudian hari harus ditaksir pada tanggal pemrakarsaan lease

8 dibandingkan dengan hara opsi pembelian guna menentukan apakah pembelian dengan harga murah benar-benar sudah terkandung di dalamnya. 3. Masa sewa guna usaha Masa sewa guna usaha meliputi periode sewa guna usaha yang tidak dapat dibatalkan, ditambah periode untuk opsi pembaharuan murah yang meliputi persyaratan sewa guna usaha yang lebih disukai (misal pembayaran sewa guna usaha yang rendah) yang memungkinkan lessee memperbaharui sewa guna usaha. 4. Nliai sisa Nilai sisa adalah nilai aktiva yang disewagunausahakan pada akhir periode sewa guna usaha. Kadang perjanjian sewa guna usaha menurut lessee menjamin nilai sisa; jika nilai sisa jatuh di bawah jumlah yang dijaminkan, lessee harus membayar selisihnya. 5. Pembayaran minimum sewa guna usaha Pembayaran minimum sewa guna usaha meliputi pembayaran sewa guna usaha periodik ditambah jumlah penawaran opsi pembelian. Lessor menghitung nilai minimum pembayaran sewa guna usaha menggunakan tingkat bunga implisit dan tingkat pinjaman incremental lessee sendiri. 2.2 Tinjauan Atas Sistem Informasi Akuntansi Setiap perusahaan baik perusahaan dagang maupun perusahaan manufaktur memiliki tujuan yang sama yaitu laba semaksimal mungkin. Salah satu cara untuk

9 memperoleh laba yang tinggi dengan cara menekan biaya-biaya pengeluaran dan memperbesar pemasukan melalui hasil penjualan. Disamping itu perusahaan juga harus mampu mengefektifkan dan mengefisienkan kegiatan-kegiatan yang ada dalam perusahaan. Sistem informasi akuntansi yang menghasilkan informasi yang andal ditunjukan untuk membantu menejemen dalam mengkoordinir dan mengelola perusahaan serta menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi sehingga dapat merugikan perusahaan Pengertian Sistem Sistem pada dasarnya merupakan sekelompok unsur yang erat hubungannya satu sama lain, yang berfungsi secara bersama-sama, untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem diciptakan untuk menangani suatu yang berulang kali secara rutin terjadi. Menurut Hopwood (2003;1) menyatakan bahwa sistem adalah kumpulan sumber daya yang berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Krismiaji (2005;1) menyatakan bahwa sistem adalah serangkaian komponen yang dikoordinasikan untuk mencapai serangkaian tujuan. Pada dasarnya sistem terdiri dari 3 (tiga) karakteristik yaitu: 1. Komponen, atau sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan 2. Proses, yaitu kegiatan untuk mengkoordinasikan komponen yang terlibat dalam sebuah sistem

10 3. Tujuan, yaitu sasaran akhir yang ingin dicapai dari kegiatan koordinasi komponen tersebut. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah bagian-bagian atau prosedur-prosedur yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dalam rangkaian secara menyeluruh untuk berfungsi bersama-sama dalam mencapai tujuan tertentu Pengertian Informasi Pengeritan informasi menurut Romney dan John (2006;5) menyatakan bahwa: information is data have been grouped and processed to give meaning to someone who will it. Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa: Informasi adalah data yang telah dikelompokan dan diproses untuk memberikan arti kepada seseorang yang akan mengguakannya. Sedangkan informasi menurut Krismiaji (2005;15) adalah data yang telah diorganisasi, dan telah memiliki kegunaan dan manfaat. Dapat disimpulkan bahwa informasi adalah hasil pengolahan data sedemikian rupa sehingga berguna bagi orang yang akan menggunakannya Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi yang terdapat di berbagai literatur tentang sistem akuntansi, memiliki perbedaan sesuai dengan sudut pandang seseorang. Perbedaan

11 tersebut disebabkan karena adanya penekanan dan latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Menurut Kieso dan Weygandt (2007;2) adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasi, mencacat, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi dari suatu organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Sedangkan menurut Warren (2009;3) adalah sistem yang menyediakan laporan kepada pengguna tentang aktivitas ekonomi dan kegiatan bisnis. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah suatu proses pengidentifikasian dan pengukuran data yang relevan mengenai informasi-informasi keuangan, dan hasilnya dilaporkan dalam suatu laporan keuangan yang diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengembalian keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan atas perusahaan Pengertian Sistem Informasi Akuntansi Sistem informsai akuntansi merupakan bagian yang terpenting bagi menejemen dalam memperoleh informasi akuntansi yang tepat dan dapat dipercaya, terutama mengenai data keuangan dari suatu perusahaan, sehingga data tersebut dapat digunakan oleh pihak luar ataupun pihak dalam perusahaan. Terdapat banyak pengertian sistem informasi akuntansi yang dikemukakan oleh para ahli. Dibawah ini disajikan beberapa pendapat mengenai pengertian sistem informasi akuntansi.

12 Pengertian sistem informasi akuntansi menurut Hopwood (2006;3) adalah kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi. Sedangkan sistem informasi akuntansi menurut Romney dan Jhon (2006;28) menyatakan bahwa: Accounting information system is issued, record, store and process data to create information. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa: Sistem informasi akuntansi adalah mengeluarkan, merekam, menyimpan dan memproses data untuk dapat membuat informasi. Dari pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan suatu prosedur yang di gunakan dalam menyampaikan data kegiatan perusahaan terutama yang berhubungan dengan informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan. Adapun unsur dari sistem akuntansi adalah formullir, catatan, peralatan yang digunakan untuk mengolah data dalam menghasilkan informasi keuangan yang diperlukan oleh menejemen Tujuan Sistem Informasi Akuntansi Sistem akuntansi untuk setiap perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lain bahkan dalam perusahaan itu sendiri, sistem akuntansi harus dikembangkan dengan kemungkinan meluasnya perusahaan dan bertambahnya pegawai. Measkipun tiap-tiap perusahaan memiliki sistem yang berbeda-beda tetapi mereka memiliki

13 tujuan yang sama, seperti yang dikemukakan oleh Midjan dan Susanto (2001;37) tujuan sistem akuntansi adalah: 1. Untuk meningkatkan informasi, yaitu informasi tepat guna (relevan), lengkap dan terpercaya (akurat). Dengan kata lain sistem akuntansi harus dengan cepat dan tepat memberikan informasi yang diperlukan secara lengkap. 2. Untuk meningkatkan kualitas internal, cek atas sistem pengendalian yang diperlukan untuk mengemankan kekayaan perusahaan. Hal ini berarti bahwa sistem akuntansi yang disusun harus juga mengandung kegiatan sistem pengendalian internal. 3 Untuk menekan biaya tata usaha, ini berarti biaya tata usaha untuk sistem akuntansi harus seefisien mungkin dan harus lebih murah dari manfaat yang diperoleh dari penyusunan sistem akuntansi. Ketiga tuiuan sistem akuntansi tersebut harus saling terkait. Peningkatan informasi yang diperlukan dan meningkatkan sistem pengendalian intern, baik kualitas maupun kuantitas tidak dapat dilaksanakan apabila tanpa mempertimbangkan kenaikan biaya. Sehingga akhirnya dipilih jalan tengah yaitu biaya tidak begitu besar, tetapi sistem pengendalian intern atau informasi yang diperlukan cukup bisa diperhatikan. Dapat disimpulkan bahwa dengan biaya yang tidak besar, sistem akuntansi bertujuan untuk memperbaiki kualitas, meningkatakan informasi yang tepat, serta

14 meningkatkan pengendalian intern perusahaan, sehingga data akuntansi dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya untuk pengambilan keputusan Unsur-Unsur Sistem Informasi Akuntansi Sistem yang dilaksanakan dalam suatu perusahaan mempunyai karakteristik tersendiri yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan pada perusahaan yang bersangkutan. Dalam penyusunan sistem informasi akuntansi berbagai informasi akuntansi yang diperlukan pimpinan harus diperhatikan dalam rangka menggambarkan pengendalian perusahaan. Dilihat secara umum dari definisi di atas bahwa selain faktor manusia ada unsur-unsur lain yang melekat pada sistem akuntansi tersebut, adapun unsur-unsur suatu sistem akuntansi menurut Mulyadi (2001;3) adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh menejemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan. Berikut yang diuraikan lebih lanjut pengertian dari unsur-unsur sistem akuntansi adalah sebagai berikut: 1. Formulir Merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi. Formulir sering juga disebut dengan dokumen, karena dengan formulir ini yang terjadi dalam organisasi direkam (didokumentasikan) di atas secarik kertas.

15 2. Jurnal Merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan mencatat, mengklasifikasikan, meringkas data keuangan dan data yang lainnya. Seperti telah disebutkan di atas sumber informasi pencatatan dalam jurnal ini adalah formulir. 3. Buku Besar Buku Besar (General Ladger) terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalam jurnal. 4. Buku Pembantu Jika data keuangan yang digolongkan dalam buku besar diperlukan rinciannya lebih lanjut dapat dibentuk buku pembantu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalan buku besar. 5. Laporan Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang dapat berupa laporan laba rugi, laporan perubahan modal, neraca, laporan harga pokok produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan,daftar umur piutang,daftar utang yang akan dibayar, daftar saldo persediaan yang lambat penjualannya, laporan berisi Informasi yang merupakan keluaran sistem akuntansi. Laporan dapat berbentuk hasil cetak komputer di tayangkan pada layar monitor komputer.

16 2.2.7 Fungsi Sistem Informasi Akuntansi Fungsi sistem informasi akuntansi menurut Hopwood (2009;25) adalah bertanggungjawab untuk memproses data dan sistem informasi didalam perusahaan. Sedangkan menurut Susanto (2004;9) fungsi sistem informasi akuntansi adalah: 1. Mendukung aktivitas perusahaan sehari-hari. Suatu perusahaan agar dapat tetap eksis perusahaan tersebut harus terus beroperasi dengan melakukan sejumlah aktivitas bisnis yang peristiwanya disebut sebagai transaksi seperti melakukan pembelian, penyimpanan, proses produksi dan penjualan. 2. Mendukung proses pengambilan keputusan. Tujuan yang sama pentingnya dari sistem informasi akuntansi adalah untuk memberi informasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan harus dibuat dalam kaitannya dengan perencanan dan pengendalian aktivitas perusahaan. 3. Membantu pengelola perusahaan dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada pihak eksternal. Setiap perusahaan harus memenuhi tanggung jawab hukum. Salah satu tanggung jawab penting adalah keharusannya memberi informasi kepada pemakai yang berada diluar perusahaaan atau stakeholder yang meliputi pemasok, pelanggan, pemegang saham, kreditor, investor besar, serikat kerja, analisis keuangan, assosiasi industri, atau bahkan publik secara umum. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahawa fungsi dari sistem informasi akuntansi yaitu bertanggung jawab untuk pemrosesan data dan mendorong seoptimal

17 mungkin agar dapat menghasilkan berbagai informasi akuntansi yang terstruktur. Sehingga informasi tersebut dapat berguna dalam organisasi. 2.3 Sistem Informasi Kredit Sistem informasi penjualan termasuk sistem informasi yang penting dalam perusahaan, karena penjualan kredit maupun penjualan tunai merupakan sumber pendapatan perusahaan. Kegagalan dalam kegiatan penjualan tunai maupun penjualan kredit, baik yang menyangkut harga jual, tingkat keuntungan, dan batas maksimum kredit yang diperkirakan akan mempengaruhi pendapatan juga penagihan atas piutang Pengertian Pengertian penjualan menurut Swastha (2005;130) adalah ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang dilakukan untuk mengajak orang lain agar bersedia membeli barang atau jasa yang ditawarkannya. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penjualan merupakan suatu proses dan cara untuk mempengaruhi orang agar terjadi transaksi jual beli barang atau jasa yang ditawarkan sesuai harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

18 2.3.2 Pengertian Kredit Pengertian kredit menurut Hadiwidjaja dan Wirasasmita (2000;3) adalah pemberian prestasi lebih dulu kepada pihak lain, berupa barang atau jasa untuk dibayar pada saat perjanjian. Sedangkan menurut Midjan dan Susanto (2003;7) adalah penjualan yang dilakukan dengan tenggang waktu rata-rata lebih dari satu bulan. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulakan bahwa penjualan kredit adalah penjualan barang atau jasa dengan tenggang waktu yang telah disepakati melalui perjanjian kedua belah pihak setelah barang diterima. Karena tidak ditemukan referensi sistem informasi akuntansi sewa, maka mengacu pada sistem informasi penjualan kredit Pengertian Prosedur Pengertian prosedur menurut Sutabri (2004;18) adalah suatu kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang. Sedangkan menurut Ali (2000;325) adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Dari pengertian diatas dapat disimpulakan bahwa prosedur adalah cara menjalan suatua pekerjaan, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu

19 departemen atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang Prosedur Kredit kredit dilaksanakan perusahaan dengan cara mengirimkan barang sesuai dengan order yang diterima dari pembeli, dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli tersebut untuk menghindari tidak tertagihnya piutang. Adapun aktifitas bagian-bagian yang terlibat dalam sistem penjualan kredit Menurut Mulyadi (2001;237) adalah sebagai berikut: 1. Departemen penjualan a. Proses penjualan dimulai dari departemen penjualan yang menerima pesanan pelanggan. Pesanan pelanggan yang diterima dapat berupa surat, hubungan telepon, atau agen penjualan yang datang ke tempat pelanggan. b. Membuat pesanan pelangan, pesanan pelanggan mengidentifikasikan tipe dan kuantitas dari barang yang diminta. c. Memberikan surat pesanan penjualan ke bagian gudang. d. Membuat surat perintah pengeluaran barang, dan menyerahkan ke bagian gudang. e. Membuat surat jalan. 2. Departemen kredit

20 Melakukan transaksi persetujuan, yang berhubungan dengan pemeriksaan kelayakan pemberian kredit kepada pelanggan. Dalam memutuskan sifat/jenis pemeriksaan pemberian kredit sangat bergantung pada keadaan saat terjadinya penjualan. 3. Departemen gudang a. Menerima surat perintah pengeluaran barang (Picking Ticket), dan salinan pesanan penjualan. Dokumen ini mengidentifikasikan bahwa barang perusahaan harus ditempatkan dan diambil dari rak-rak gudang. b. Memparaf salinan surat perintah pengeluaran barang, dan meyakinkan banwa pesanan sudah diberkan yang benar. c. Menyerahkan barang ke bagian pengiriman. 4. Departemen pengiriman a. Menerima salinan dokumen pengiriman dan surat jalan dari bagian penjualan. b. Menerima barang yang dikirim. c. mengirim barang kepada pelanggan bersama dengan dokumen pengiriman untuk menggambarkan isi kiriman tersebut. 5. Departemen penagihan a. Mengumpulkan informasi tentang transaksi penjualan ke departemen lainnya. b. Menerima tagihan, salinan buku besar, dan salinan arsip dari departemen penjualan.

21 6. Departemen pengawasan persediaan Departemen pengawasan persediaan menggunakan surat perintah pengeluaran barang sebagai dokumen bukti untuk menyesuaikan buku besar tambahan persediaan. 7. Departemen piutang a. Departemen piutang memposting data salinan buku besar pesanan penjualan pada buku besar tambahan piutang. b. Setiap salinan buku besar dari pesanan penjualan digunakan untuk menaikkan rekening pelanggan sesuai dengan penjualannya. c. Mengarsip salinan buku besar. d. Secara berkala meringkas saldo setiap rekening dan mengirimkannya ke buku besar umum. 8. Departemen buku besar umum a. Dengan melakukan penetapan periode pemesanan, departemen buku besar umum menerima dokumen jurnal dari departemen penagihan dan departemen pengawasan persediaan. b. Ringkasan rekening dari departemen piutang. Didalam transaksi penjualan kredit terdapat retur penjualan. Hal ini terjadi karena barang yang di pesan pelanggan tidak sesuai dengan barang yang dikirim oleh perusahaan. Transaksi retur penjualan terjadi jika perusahaan menerima pengembalian barang dari pelanggan. Pengembalian barang oleh pelanggan harus

22 diotorisasi oleh departemen penjualan dan diterima oleh departemen penerimaan. Dokumen yang digunakan dalam retur penjualan menurut Mulyadi (2001;57) adalah sebagai berikut: a. Memo kredit Memo kredit merupakan dokumen sumber (source document) sebagai dasar pencatatan transaksi retur penjualan dalam kartu piutang dan jurnal umum atau jurnal retur penjualan. Dokumen ini dikeluarkan oleh depaertemen penerimaan untuk menerima barang yang dikembalikan. b. Laporan penerimaan barang Laporan penerimaan barang merupakan dokumen pendukung yang melampirkan memo kredit. Dokumen ini dikeluarkan oleh departemen penerimaan sebagai laporan telah diterimanya dan diperiksanya barang dari pembeli. Aktifitas bagian yang terlibat dalam transaksi penjualan kredit terdiri dari: 1. Bagian penjualan a. Menerima pemberitahuan retur penjualan. b. Membuat memo kredit dan tembusannya ke bagian penerimaan barang. 2. Bagian penerimaan barang a. Menerima memo kredit dan laporan penerimaan barang dari bagian penjualan. b. Menerima dan memeriksa barang. c. Membuat laporan penerimaan barang (LPB). 3. Bagian gudang

23 a. Menerima laporan penerimaan barang (LPB) dari bagian penerimaan barang. b. Membuat kartu gudang. c. Mengarsip laporan penerimaan barang (LPB). 4. Bagian piutang a. Menerima laporan penerimaan barang (LPB) dan memo kredit dari bagian gudang. b. Membuat kartu piutang berdasarkan memo kredit yang ada. 5. Bagian kartu persediaan a. Menerima laporan penerimaan barang (LPB) dan memo kredit dari bagian piutang. b. Mengisi harga pokok barang. c. Membuat kartu persediaan. 6. Bagian jurnal a. Menerima laporan penerimaan barang (LPB) dan memo kredit dari bagian kartu persediaan. b. Membuat jurnal retur penjualan. c. Mengarsip dokumen yang ada. Karena tidak ditemukan referensi prosedur sewa, maka mengacu pada prosedur kredit.

24 2.3.5 Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Menurut Mulyadi (2001;219) jaringan prosedur yang membentuk sistem akuntansi penjualan kredit meliputi: 1. Prosedur order penjualan Fungsi penjualan menerima order dari pembeli dan menambahkan informasi penting dari surat order pembeli. Fungsi penjualan kemudian membuat surat order pengiriman dan mengirimkannya kepada berbagai fungsi lain untuk memungkinkan fungsi tersebut memberikan kontribusi dalam melayani order dari pembeli. 2. Prosedur persetujuan kredit Fungsi penjualan meminta persetujuan penjualan kredit kepada pembeli tertentu dari fungsi kredit. 3. Prosedur pengiriman Fungsi pengriman mengirimkan barang kepada pembeli sesuai dengan informasi yang tercantum pada surat order pengiriman yang diterima fungsi pengiriman. 4. Prosedur penagihan Fungsi penagihan membuat faktur penjualan dan mengirimkannya kepada pembeli. Dalam metode tertentu faktur penjualan dibuat oleh fungsi penjualan sebagai tembusan pada waktu bagian ini membuat surat order pengiriman. 5. Prosedur pencatatan piutang

25 Fungsi akuntansi mencatat tembusan faktur penjualan ke dalam kartu piutang atau dalam metode pencatatan tertentu mengarsipkan dokumen tembusan menurut abjad yang berfungsi sebagai catatan piutang. 6. Prosedur distribusi penjualan Fungsi akuntansi mendistribusikan data penjualan menurut informasi yang diperlukan olah menejemen. 7. Prosedur pencatatan harga pokok penjualan Fungsi akuntansi mencatat secara periodik total harga pokok produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu. Karena tidak ditemukan referensi sistem informasi akuntansi sewa, maka mengacu pada sistem informasi penjualan kredit. Berikut ini penjelasan dan contoh bagan alir penjualan kredit (manual) menurut Krismiaji (2005;277): 1. Bagian a. Menerima surat pesanan pembelian dari pembeli. b. Atas dasar surat pesanan tersebut, membuat surat order penjualan sebanyak 6 lembar dan didistribusikan sebagai berikut: a) Lembar ke 1 dan order pelanggan, diserahkan ke bagian penagihan untuk diarsipkan sementara b) Lembar ke 2 diserahkan ke bagian pengiriman

26 c) Lembar ke 3 dan ke 4 dimintakan persetujuan ke bagian kredit d) Lembar ke 5 dikirimkan ke pelanggan e) Lembar ke 6 diarsipkan urut nomor. Gambar: 2.1 Flowchart Bagian Mulai Order Buat Order A 1 B Order C Ke pelanggan N Sumber :Krismiaji (2005;277)diolah kembali 2. Bagian Kredit Atas dasar surat order penjualan lembar ke 3 dan ke 4 yang diterima dari dari bagian penjualan, bagian ini memeriksa data kredit pelanggan, yang mencakup sejarah kredit dan batas kredit (credit limit) pelanggan tersebut. Selanjutnya, bagian ini memberikan persetujuan (tandatangan) terhadap surat order penjualan tersebut dan meneruskannya ke bagian gudang.

BAB II BAHAN RUJUKAN. Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami

BAB II BAHAN RUJUKAN. Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami pengertian aset. Definisi aset menurut Weygant, et all (2007:11-12), Aset

Lebih terperinci

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN 75

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN 75 A. PENGERTIAN Pengertian sewa guna usaha menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991 tanggal 21 Nopember 1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha: Sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan dalam

Lebih terperinci

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN EMITEN

Lebih terperinci

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi :

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi : SEWA GUNA USAHA LITERATUR :! US GAAP : FASB s Statement of Financial Accounting Standards No. 13, Accounting for Leases! IAI : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 (Revisi 2007), Sewa! IFRS

Lebih terperinci

BAHAN AJAR MANAJEMEN ASET

BAHAN AJAR MANAJEMEN ASET BAHAN AJAR MANAJEMEN ASET PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN SPESIALISASI PENGURUSAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ACEP HADINATA SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TAHUN 2011 i P a g e KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan Aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi serta tidak

Lebih terperinci

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP) KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP) Berdasarkan Pasal Peraturan Pemerintah Nomor Tahun 00 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menyatakan bahwa:. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR EVALUASI SISTEM PEMBERIAN KREDIT SAMPAI PENYELESAIAN KREDIT PADA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) RUKUN SAYUR TAWANGMANGU

LAPORAN TUGAS AKHIR EVALUASI SISTEM PEMBERIAN KREDIT SAMPAI PENYELESAIAN KREDIT PADA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) RUKUN SAYUR TAWANGMANGU LAPORAN TUGAS AKHIR EVALUASI SISTEM PEMBERIAN KREDIT SAMPAI PENYELESAIAN KREDIT PADA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) RUKUN SAYUR TAWANGMANGU TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Lebih terperinci

PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM

PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM (Studi pada Perusahaan yang berada pada Index LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2011 )

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI OLEH : ANDRY A311 07 679 FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

Lebih terperinci

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG TUGAS AKHIR Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Ahli Madya Program

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saham merupakan suatu bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saham merupakan suatu bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Harga Saham 1. Pengertian Saham Saham merupakan suatu bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Kismono (2001:416) menyatakan: Saham merupakan sebuah

Lebih terperinci

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i BAB I...1 PENDAHULUAN...1 1.1. LATAR BELAKANG...1 1.2. TUJUAN...1 1.3. SASARAN...2 1.4. RUANG LINGKUP...2 1.5. DEFINISI DAN KONSEPSI...2 1.6. LANDASAN KERJA KSP/USP KOPERASI...3

Lebih terperinci

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M ANALISIS PERBANDINGAN PERENCANAAN PAJAK UNTUK PENGADAAN AKTIVA DENGAN CARA SEWA GUNA USAHA (LEASING) DAN PEMBELIAN TUNAI DALAM RANGKA PENGHEMATAN PAJAK PADA PT. ELS INDONESIA PRIMA Diajukan Kepada Fakultas

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERBANKAN ANZ

KETENTUAN UMUM PERBANKAN ANZ KETENTUAN UMUM PERBANKAN PEMBUKAAN Ketentuan Umum Perbankan ANZ ini mengatur syarat-syarat dimana Bank menyediakan kepada Nasabahnya satu atau lebih Rekening dan Jasa-Jasa dan harus dibaca bersama dengan:

Lebih terperinci

PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA : ANNA NURFARHANA

PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA : ANNA NURFARHANA PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA NAMA : ANNA NURFARHANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR. Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak

ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR. Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak Struktur Pengendalian Intern aktiva tetap meliputi Organisasi, pemberian wewenang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) 0 0 0 Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) Berdasarkan Pasal Peraturan Pemerintah Nomor Tahun 00 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menyatakan bahwa:. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan

Lebih terperinci

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto KONSEP DASAR ORGANISASI NIRLABA Oleh: Tri Purwanto Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Sekretariat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Sumber, dan Jenis Modal 2.1.1 Pengertian Modal Dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta juga makin banyaknya perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X )

EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X ) EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X ) R. BERNADINUS CHRISDIANTO YUNUS YOHANES BIU KATIK Politeknik Ubaya Universitas

Lebih terperinci

ABSTRACT PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PADA PT. LIMA UTAMA SURABAYA OLEH: ABDUL HARIS KURNIAWAN

ABSTRACT PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PADA PT. LIMA UTAMA SURABAYA OLEH: ABDUL HARIS KURNIAWAN ABSTRACT PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PADA PT. LIMA UTAMA SURABAYA OLEH: ABDUL HARIS KURNIAWAN Akuntansi pertanggungjawaban adalah suatu sistem akuntansi yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa pembangunan bidang ekonomi khususnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akuntansi Akuntansi secara garis besar bisa dibagi menjadi dua tipe yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi biaya merupakan tipe akuntani sendiri yang terpisah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus BAB II LANDASAN TEORI II.1 Definisi Aset Tetap Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus memiliki aset tetap. Keberadaan aset tetap diharapkan dapat memberikan sumbangan pendapatan

Lebih terperinci

Piagam Sumber Daya Alam. Edisi Kedua

Piagam Sumber Daya Alam. Edisi Kedua Piagam Sumber Daya Alam Edisi Kedua Piagam Sumber Daya Alam Edisi Kedua Rantai keputusan piagam sumber daya alam LANDASAN DOMESTIK UNTUK TATA KELOLA SUMBER DAYA Penemuan dan keputusan untuk mengekstraksi

Lebih terperinci