HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT Budidaya konvensional merupakan budidaya cabai yang menggunakan pestisida kimia secara intensif dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Sebagian besar petani di Indonesia menerapkan budidaya jenis ini dalam mengembangkan tanaman cabai. Penggunaan pestisida kimia yang intensif pada kegiatan budidaya menimbulkan dampak negatif yang besar bagi tanaman, lingkungan dan manusia (Igbedioh 1991). Penggunaan pestisida kimia yang intensif dipicu oleh minimnya informasi mengenai teknologi budidaya tanaman yang ramah lingkungan dan tingginya tingkat kekhawatiran petani terhadap kemungkinan gagal panen. Kondisi ini diperparah dengan cara aplikasi pestisida kimia yang tidak sesuai dengan aturan dan dosis yang berlaku. Besarnya dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia mengharuskan adanya pembatasan atau pengurangan penggunaannya dalam budidaya tanaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan budidaya tanaman secara pengendalian hama terpadu (PHT). PHT merupakan strategi budidaya tanaman yang menerapkan pendekatan budidaya alami dan ramah lingkungan. Konsep budidaya PHT telah terbukti mampu meminimalisir penggunaan pestisida kimia dalam kegiatan budidaya tanaman. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan memanfaatkan agen antagonis, musuh alami dan meningkatkan ketahanan alami tanaman. Penggunaan pestisida kimia dalam budidaya PHT hanya dilakukan ketika upaya pengendalian yang lain gagal dan disesuaikan dengan nilai ambang ekonomi, sehingga kerugian ekonomi pada budidaya cabai dapat dihindari. Budidaya konvensional yang diterapkan pada penelitian ini mengadopsi praktik budidaya cabai yang dilakukan oleh petani, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan panen. Praktik budidaya cabai konvensional yang dilakukan pada penelitian ini disajikan secara lengkap di dalam lampiran. Aplikasi pestisida kimia dalam budidaya konvensional tidak sepenuhnya sama dengan yang dilakukan oleh petani, penelitian ini hanya mengadopsi jenis-jenis pestisida kimia yang umum digunakan oleh petani dalam megendalikan hama dan penyakit pada budidaya cabai keriting hibrida TM 999. Jenis pestisida kimia yang digunakan umumnya dikenal dengan nama dagang Dithane, Curacron, Antracol dan Actara. Budidaya PHT yang dilakukan dalam penelitian ini memanfaatkan beberapa jenis bakteri yang telah terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta membantu meningkatkan sistem ketahanan alami tanaman. Bakteri yang digunakan adalah Bacillus polymixa dan Pseudomonas fluorrescens yang terkandung dalam Actigrow, bakteri ini termasuk dalam kelompok plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). PGPR merupakan kelompok bakteri yang hidup pada perakaran tanaman, bakteri ini mampu mengikat nitrogen bebas dari alam dan mengubahnya menjadi amonia yang kemudian dimanfaatkan oleh tanaman. PGPR juga mampu menginduksi sistem ketahan tanaman, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan hama

2 dan penyakit (Kaymak 2010). Aplikasi kedua bakteri ini juga membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai keriting dengan cara memproduksi zat pengatur tumbuhan (ZPT) dan meningkatkan penyerapan fosfat pada akar tanaman. Selain itu, kedua bakteri ini juga mampu merangsang pembentukan antibodi dan fitoaleksin pada tanaman yang membantu meningkatkan kesehatan tanaman (Dardanelli 2010). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat bahwa budidaya PHT mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi cabai keriting hibrida TM 999, namun masih kurang begitu baik dalam mengendalikan keberadaan hama dan penyakit. Secara umum, kedua jenis budidaya yang dilakukan pada penelitian ini memberikan hasil yang hampir sama terhadap budidaya cabai keriting hibrida TM 999. Uji selang ganda Duncan yang dilakukan terhadap hasil penelitian tidak menunjukkan adanya nilai beda nyata yang signifikan diantara kedua jenis budidaya yang dilakukan. 16 Pertumbuhan Tanaman Cabai Keriting Hibrida TM 999 Berdasarkan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman, budidaya cabai keriting hibrida TM 999 secara PHT menunjukkan hasil yang lebih baik daripada konvensional. Secara umum pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada petak PHT terlihat lebih cepat, tanaman tumbuh lebih subur dan perkembangan tanaman optimal. Budidaya PHT membantu tanaman cabai keriting hibrida TM 999 mengoptimalkan unsur-unsur penting yang dibutuhkannya, sehingga tanaman mampu berkembang dengan baik. Parameter yang diamati seperti tinggi tanaman, tinggi cabang dikotom, diameter dan jumlah cabang menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada budidaya cabai secara PHT. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa parameter tinggi tanaman pada budidaya keriting hibrida TM 999 secara PHT memiliki nilai yang lebih tinggi daripada konvensional, walaupun setelah dilakukan uji lanjut tidak menunjukkan adanya nilai beda nyata diantara kedua jenis budidaya yang dilakukan. Perbedaan tertinggi dapat dilihat pada pengamatan ke-2 mst. Tinggi cabang dikotom adalah tinggi tanaman dimana cabang pertama mulai terbentuk. Budidaya cabai keriting hibrida TM 999 secara PHT menunjukkan nilai tinggi cabang dikotom yang lebih tinggi daripada konvensional, perbedaan tertinggi terlihat pada pengamatan ke-4 mst. Parameter berikutnya yang diamati adalah diameter batang tanaman cabai keriting hibrida TM 999, dari 3 kali pengamatan yang telah dilakukan hanya pengamatan ke-2 mst yang menunjukkan adanya tingkat perbedaan nyata. Jumlah cabang berkorelasi positif dengan kemampuan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 dalam menghasilkan buah, semakin banyak cabang yang dihasilkan maka kemungkinan buah yang dihasilkan akan semakin besar. Budidaya PHT menghasilkan jumlah cabang yang lebih banyak daripada konvensional, perbedaan tertinggi terlihat pada pengamatan ke-2 mst.

3 Tabel 1 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Sifat agronomi Tinggi tanaman Umur saat pengamatan (mst) Konvensional PHT a 46.80a a 75.20a a 80.00a Tinggi cabang Dikotom a 30.73a Diameter Jumlah cabang a 33.93a a 34.30a a 0.66a b 1.06a a 1.14a a 12.47a a 52.27a a 89.87a 17 Aplikasi mikroorganisme bermanfaat seperti Bacillus polymyxa dan Pseudomonas fluorescens yang dilakukan pada budidaya PHT mampu memacu pertumbuhan tanaman cabai. Kedua mikroorganisme tersebut merupakan bagian dari plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) yang berfungsi sebagi pupuk hayati (Vessey 2003). PGPR mampu mengikat nitrogen bebas di udara dan mengubahnya menjadi senyawa yang siap diserap oleh tanaman (Dardanelli et al. 2010). PGPR juga mampu menekan keberadaan penyakit pada tanaman dengan cara menstimulus pembentukan ketahanan tanaman. Selain itu budidaya PHT juga memberikan ruang bagi perkembangan organisme lain yang bermanfaat bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kondisi inilah yang menjadikan PHT mempunyai nilai lebih dalam pengembangan pertanian berkelanjutan (Heinrichs et al. 2009).

4 18 (a) (b) (c) Gambar 2 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada budidaya Konvensional: (a) 2 mst, (b) 4 mst, (c) 10 mst (a) (b) (c) Gambar 3 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada budidaya PHT: (a) 2 mst, (b) 4 mst, (c) 10 mst Perkembangan Hama dan Penyakit Thrips (Thrips parvispinus Karny) Gejala serangan thrips terlihat dari adanya bercak berwarna putih atau keperakan yang tidak beraturan pada daun cabai. Setelah beberapa waktu bercak tersebut akan berubah menjadi cokelat tembaga. Daun cabai yang terserang akan mengeriting/keriput dan kemudian mati. Serangan berat menyebabkan pucuk daun menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor. Keberadaan thrips menyebabkan pertumbuhan tanaman cabai terganggu, tanaman menjadi kerdil atau bahkan mati pucuk. Terhambatnya pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada lahan penelitian menyebabkan terganggunya proses produksi buah. Berdasarkan Tabel 2, aplikasi Fitplanta dan insektisida kimia pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam mengendalikan keberadaan thrips. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini hampir merata pada kedua jenis budidaya yang dilakukan, namun pengendalian secara PHT menunjukkan hasil yang lebih baik pada pengamatan ke- 9 mst.

5 Tabel 2 Umur saat pengamatan (mst) Perkembangan gejala thrips pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Rata-rata gejala serangan (pucuk tanaman) Rata-rata persentase gejala serangan (%) Konvensional PHT Konvensional PHT a 1.13a 26.67a 63.33a a 6.73a 31.46a 60.55a a 15.40a 59.70a 68.46a a 6.80a 25.71a 17.65a a 5.93a 21.55a 11.27a a 4.93a 16.06a 10.11a a 2.47a 9.26a 4.71a a 2.00a 6.27a 2.42a b 2.40a 8.01b 2.75a a 2.80a 7.54a 3.10a 19 Secara umum terlihat bahwa persentase serangan thrips cukup tinggi pada tanaman muda, kemudian semakin berkurang ketika tanaman memasuki masa berbuah. Thrips menyukai tanaman cabai yang masih muda atau pucuk tanaman, ketika tanaman memasuki masa generatif hama ini lebih sering terlihat meyebabkan kerusakan pada bunga. Thrips memanfaatkan celah kecil pada pangkal daun atau bunga sebagai tempat bersembunyi dari predator atau ketika dilakukan kegiatan pengendalian. Kondisi ini cukup menyulitkan tindakan pengendalian yang dilakukan pada lahan penelitian, kondisi hujan yang tidak menentu juga mempengaruhi keefektifan dari tindakan pengendalian yang dilakukan. Gambar 4 Gejala serangan thrips pada daun cabai keriting hibrida TM 999

6 20 Empoasca sp. Keberadaan Empoasca sp. pada tanaman cabai menimbulkan bercak berwarna putih pada daun. Hama ini merupakan serangga penghisap cairan tanaman, aktifitas makan yang dilakukan oleh hama ini menimbulakan bercak putih pada daun tanaman cabai. Empoasca sp. terlihat cukup banyak pada daun tanaman cabai, terutama pada daun muda atau pucuk tanaman. Keberadaan tanaman terong di sekitar lahan penelitian merupakan salah satu faktor melimpahnya Empoasca sp. pada tanaman cabai. Pengendalian Empoasca sp. dilakukan bersaman dengan thrips, aplikasi Fitplanta dan insektisida kimia dilakukan untuk mengurangi serangan hama ini pada lahan penelitian. Pengendalian yang dilakukan masih belum mampu mengurangi keberadaan Empoasca sp., hama ini masih terlihat cukup melimpah pada lahan penelitian. Faktor utama yang menyebabkan kurang efektifnya pengendalian yang dilakukan adalah kemampuan mobilitas Empoasca sp. yang tinggi, serta keberadaan inang lain disekitar lahan penelitian. Hama ini akan menghindar ketika aplikasi dilakukan, baik penyemprotan Fitplanta maupun insektisida kimia. Setelah 1 atau 2 hari kemudian hama ini kembali terlihat menyerang tanaman cabai. Berdasarkan hasil pengamatan gejala serangan Empoasca sp. yang disajikan pada Tabel 3, diketahui bahwa pengendalian secara PHT dan konvensional menunjukkan hasil yang hampir sama pada tingkat serangan hama Empoasca sp. Pengendalian secara konvensional terlihat sedikit lebih efektif dan mampu menekan keberadaan hama ini pada tanaman cabai. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama 10 kali pengamatan pada tingkat serangan Empoasca sp., terdapat 3 kali pengamatan yang menunjukkan adanya nilai perbedaan nyata. Tingkat perbedaan tertinggi terlihat pada pengamatan ke-10 mst. Tabel 3 Umur saat pengamatan (mst) Perkembangan serangan Empoasca sp. pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Rata-rata gejala serangan (pucuk tanaman) Rata-rata persentase gejala serangan (%) Konvensional PHT Konvensional PHT b 0.80a 13.33b 46.67a b 4.13a 13.44b 38.45a a 9.07a 34.69a 41.00a a 17.73a 38.88a 45.12a a 19.67a 37.47a 34.87a a 27.87a 56.67a 51.28a a 43.93a 36.20a 75.39a b 88.13a 28.35b a a 84.33a 25.78a 92.91a a 84.33a 29.17a 88.51a

7 Gejala serangan Empoasca sp. lebih banyak terlihat pada budidaya PHT, hampir semua tanaman cabai yang terdapat pada lahan penelitian terserang oleh hama ini. Empoasca sp. juga terlihat menyerang tanaman cabai yang ditanam secara konvensional, namun serangan yang terjadi tidak sebesar pada budidaya PHT. Tindakan pengendalian yang dilakukan pada budidaya konvensional mampu mengurangi jumlah hama ini secara langsung, beberapa Empoasca sp. terlihat mati setelah dilakukan aplikasi pengendalian pada budidaya ini. 21 a b Gambar 5 Gejala serangan Empoasca sp. : (a) serangga dewasa, (b) bercak putih Lalat Buah (Bactrocera spp.) Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah, buah yang terserang akan membusuk dan kemudian jatuh ke tanah. Lalat buah menyebabkan kerusakan pada buah cabai yang masih muda maupun buah yang sudah matang. Gejala awal terlihat dari adanya titik hitam pada bagian pangkal buah, titik hitam pada pangkal buah muncul karena aktifitas lalat buah dewasa yang memasukkan telurnya pada buah cabai. Telur tersebut akan menetas dan berkembang di dalam buah cabai. Larva yang terdapat di dalam buah menimbulkan kerusakan dari dalam, buah menjadi berwarna kuning pucat dan layu. Kualitas buah cabai yang terserang hama ini akan menurun dan tidak layak untuk dipasarkan. Pengendalian hama ini cukup sulit untuk dilakukan, karena hama ini menyebabkan kerusakan dari dalam buah dan hanya stadia larva yang menjadi hama. Umumnya pengendalian dilakukan dengan melakukan rotasi tanaman, pembungkusan buah, perangkap feromon (metil eugenol) atau infestasi parasitoid. Pengendalian lalat buah pada penelitian ini dilakukan secara alami dan kimia, pengendalian alami dilakukan dengan mengaplikasikan Fitplanta, sedangkan pengendalian kimia dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida kimia. Kedua pengendalian yang dilakukan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, kedua jenis pengendalian yang dilakukan masih belum mampu menekan serangan lalat buah.

8 Tabel 4 Perkembangan serangan lalat buah pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Umur saat pengamatan (mst) Konvensional PHT a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.60a b 0.47a a 0.80a a 0.67a a 1.07a a 0.53a a 2.00a 22 Serangan lalat buah pada lahan penelitian terlihat cukup kecil dan tidak menimbulkan kerugian yang cukup besar pada budidaya cabai yang dilakukan. Perkembangan populasi lalat buah tidak berlangsung dengan baik, kondisi tanah yang padat dan sering tergenang air kurang mendukung perkembangan pupa dari lalat buah. Disamping itu, sanitasi yang dilakukan terhadap buah yang terserang cukup efektif dalam menurunkan tingkat serangan hama ini. Gambar 6 Gejala serangan lalat buah pada buah cabai keriting hibrida TM 999 Puru Puru merupakan penyakit baru yang terlihat menyerang tanaman cabai keriting hibrida TM 999, penyakit ini ini disebabkan oleh Asphondylia capsici Barnes (Diptera : Cecidomyiidae). Keberadaan penyakit puru pada tanaman cabai menyebabkan buah menjadi kerdil dan tidak mampu berkembang dengan baik, buah cabai membengkak dan tumbuh melingkar.

9 Pengendalian yang dilakukan pada penelitian ini tidak terlalu spesifik, karena tingkat serangan yang relatif kecil dan secara ekonomi tidak menimbulkan kerugian. Gejala serangan puru lebih sering terlihat pada budidaya PHT. Kedua jenis budidaya yang dilakukan menunjukkan hasil yang hampir sama terhadap keberadaan penyakit puru. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan sebanyak 10 kali, diketahui bahwa pengamatan ke-8 mst menunjukan adanya tingkat perbedaan yang nyata. 23 Tabel 5 Perkembangan penyakit puru pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Umur saat pengamatan (mst) Konvensional PHT a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 2.00a a 2.20a a 1.47a b 2.07a a 1.87a a 2.47a Penyakit puru yang terlihat pada lahan pertanaman cabai keriting hibrida TM 999 tidak menimbulkan kerugian yang besar. Serangan penyakit ini memang hanya terlihat pada beberapa buah saja, namun dampak yang ditimbulkan pada buah cabai perlu diwaspadai karena mampu menurunkan kualitas dan kuantitas buah. Buah menjadi tidak layak untuk dikonsumsi, karena terjadi penghitaman pada bagian dalam buah dan rasa buah menjadi agak pahit. Gambar 7 Gejala penyakit puru pada buah cabai keriting hibrida TM 999

10 24 Bercak Daun (Cercospora sp.) Bercak daun merupakan salah satu jenis penyakit yang umum menyerang tanaman cabai di Asia Tenggara. Penyakit ini menimbulkan kerusakan pada daun, batang dan akar. Gejala serangan penyakit ini mulai terlihat dari munculnya bercak berwarna coklat pada daun, ukuran bercak bisa mencapai sekitar 1 inci. Bercak daun mampu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada budidaya cabai, daun yang terserang akan layu dan rontok. Serangan berat meyebabkan tanaman cabai kehilangan hampir semua daunnya, kondisi ini akan mempengaruhi kemampuan cabai dalam menghasilkan buah. Kondisi lingkungan yang selalu hujan mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit bercak daun. Berdasarkan Tabel 6 serangan penyakit bercak daun mulai muncul pada pengamatan ke-5 mst, penyebaran penyakit bercak daun sangat terbatas dan tidak meluas. Gejala penyakit hanya terlihat menyerang beberapa tanaman cabai di lahan penelitian. Upaya pengendalian yang dilakukan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata, baik pengendalian secara PHT maupun konvensional. Terdapat 2 kali pengamatan yang menunjukkan adanya nilai perbedaan nyata diantara kedua pengendalian, yaitu pada pengamatan ke- 8 dan 10 mst. Tabel 6 Umur saat pengamatan (mst) Perkembangan penyakit bercak daun pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Rata-rata gejala serangan (pucuk tanaman) Rata-rata persentase gejala serangan (%) Konvensional PHT Konvensional PHT a 0.00a 0.00a 0.00a a 0.00a 0.00a 0.00a a 0.00a 0.00a 0.00a a 0.00a 0.00a 0.00a a 0.13a 0.00a 0.55a a 0.13a 0.00a 0.73a a 0.47a 0.74a 1.60a b 1.93a 2.71b 7.54a a 1.27a 5.24a 8.09a b 1.40a 5.09b 7.41a Serangan penyakit bercak daun pada lahan penelitian terlihat cukup rendah dan tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada kegiatan budidaya cabai cabai keriting hibrida TM 999. Beberapa daun cabai terlihat menunjukkan gejala serangan penyakit ini, namun penyebaran penyakit ini sangat terbatas dan hanya menyerang sebagian kecil tanaman cabai. Penyakit bercak daun lebih banyak terlihat pada budidaya PHT daripada konvensional, namun gejala serangan yang ditimbulkan masih ringan dan tidak menimbulkan kematian pada tanaman.

11 25 Gambar 8 Gejala penyakit bercak daun pada daun cabai keriting hibrida TM 999 Antraknosa (Colletotrichum sp.) Petani cabai umumnya menyebut penyakit ini dengan nama patek, karena gejala yang ditimbulkan menyerupai penyakit kulit pada manusia. Antraknosa merupakan penyakit penting pada tanaman cabai, keberadaan penyakit ini pada pertanaman cabai mampu menurunkan kuantitas dan kualitas buah cabai dan menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Gejala awal terlihat dari adanya bercak kecil pada buah cabai, bercak tersebut akan meluas dan membentuk sebuah lingkaran konsentris. Buah cabai yang terserang akan mengkerut dan tetap melekat pada cabang tanaman cabai. Penyakit ini mampu menimbulkan kerusakan pada semua buah cabai, baik buah yang masih muda maupun yang sudah matang. Penyebaran penyakit antraknosa ke tanaman lain dilakukan melalui percikan air. Tabel 7 Perkembangan penyakit antraknosa pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Umur saat pengamatan (mst) Konvensional PHT a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 0.87a a 3.47a b 10.60a b 17.40a

12 Berdasarkan Tabel 7, serangan penyakit antraknosa mulai terlihat pada pengamatan ke-7 mst. Penyakit ini mampu menimbulkan kerusakan pada waktu tanaman cabai mulai berbuah. Serangan antraknosa semakin meningkat pada pengamatan berikutnya dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar pada lahan pertanaman cabai. Serangan terberat terlihat pada pengamatan ke-10 mst, hampir semua tanaman cabai pada lahan penelitian terserang penyakit ini. Pengendalian secara konvensional menunjukkan hasil yang sedikit lebih baik dalam menekan serangan penyakit antraknosa. Terdapat 2 kali pengamatan yang menunjukkan adanya perbedaan nyata dalam mengendalikan penyakit ini, yaitu pada pengamatan ke-9 dan 10 mst. Pengendalian antraknosa pada budidaya cabai harus didukung dengan kegiatan sanitasi, baik sanitasi terhadap lingkungan di sekitar pertanaman maupun buah yang terserang. Sanitasi yang kurang optimal menyebabkan melimpahnya inokulum pada lahan penelitian, sehingga penyebaran penyakit ini mampu meluas dan menyebabkan kerusakan dengan cepat. Kondisi cuaca di lahan penelitian yang sering diguyur air hujan, serta lokasi penanaman yang berada di bawah sangat mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit antraknosa. 26 \ Gambar 9 Gejala penyakit antraknosa pada buah cabai keriting hibrida TM 999 Virus Kuning Gejala penyakit virus kuning pada tanaman cabai ditandai dengan munculnya vein clearing pada helaian daun, serangan penyakit ini pada umumnya dimulai dari pucuk daun. Daun yang terserang akan berwarna kuning dengan tulang daun yang menebal dan terjadi penggulungan daun. Serangan tingkat lanjut menyebabkan daun mengecil dan pengkerdilan tanaman, tanaman yang telah terserang tidak mampu menghasilkan buah. Serangan penyakit virus kuning pada budidaya cabai keriting hibrida TM 999 terlihat cukup rendah, jumlah tanaman yang terserang penyakit ini berkisar antara 1-6 tanaman setiap petaknya. Rendahnya tingkat serangan disebabkan oleh minimnya serangga vektor yang membantu proses penyebaran penyakit ini. Serangga Bemisia tabaci yang merupakan vektor utama penyakit virus kuning hanya terlihat pada 2 kali pengamatan dengan jumlah populasi yang sedikit, yaitu sebanyak 6 dan 8 individu.

13 Tabel 8 Perkembangan penyakit virus pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Umur saat pengamatan (mst) Konvensional PHT a 0.00a a 0.00a a 0.00a a 2.33a a 3.33a a 3.33a a 4.67a a 4.67a a 4.67a a 4.67a 27 Gambar 10 Gejala penyakit virus kuning pada tanaman cabai keriting hibrida TM 999 Produksi Cabai keriting hibrida TM 999 Tanaman cabai keriting hibrida TM 999 memasuki masa generatif pada umur 7 mst, beberapa tanaman cabai mulai terlihat berbuah. Jumlah buah pertama yang dihasilkan relatif sedikit dan tidak merata pada semua tanaman. Buah cabai yang sudah matang harus segera di panen walaupun jumlahnya sedikit, hal ini dilakukan guna merangsang pembentukan buah berikutnya. Kegiatan panen dilakukan pada buah yang sudah benar-benar matang dengan warna merah yang merata pada seluruh bagian buah, buah cabai yang setengah matang atau belum matang sempurna tidak dipanen. Umumnya panen dilakukan setiap 3-5 hari sekali, atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Panen buah dilakukan secara manual, yaitu pemetikan buah dilakukan dengan menggunakan tangan.

14 Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau ketika embun sudah mulai menguap, apabila kondisi cuaca sedang hujan sebaiknya tidak dilakukan kegiatan pemanenan. Panen pada kondisi hujan akan meningkatkan resiko kebusukan ketika buah disimpan, buah cabai yang dipanen pada waktu hujan sebaiknya dikering anginkan terlebih dahulu. Kegiatan pemanenan yang dilakukan pada penelitian ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan sanitasi buah yang terserang penyakit antraknosa. Kegiatan sanitasi yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemanenan sebaiknya dihindari, karena akan meningkatkan laju penyebaran penyakit antraknosa. Berdasarkan tabel produksi cabai keriting hibrida TM 999 diketahui bahwa tingkat produktivitas buah pada budidaya PHT lebih baik daripada konvensional. Rata-rata hasil panen buah cabai pada budidaya PHT lebih tinggi daripada konvensioanal, rata-rata panen tertinggi terdapat pada panen ke-4. Berdasarkan hasil panen dilakukan diketahui bahwa budidaya secara PHT lebih baik, walaupun perbedaan rata-rata panen cabai keriting hibrida TM 999 antara budidaya secara PHT dengan konvensional cukup kecil. 28 Tabel 9 Produksi tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada petak konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010 Panen ke- Konvensional PHT a 0.70a a 1.13a a 2.00a a 3.10a a 2.33a Gambar 11 Panen buah cabai keriting hibrida TM 999

PENGELOLAAN TANAMAN CABAI KERITING HIBRIDA TM 999 (Capsicum annuum) SECARA KONVENSIONAL DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) FAHRUDIN SURAHMAT

PENGELOLAAN TANAMAN CABAI KERITING HIBRIDA TM 999 (Capsicum annuum) SECARA KONVENSIONAL DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) FAHRUDIN SURAHMAT PENGELOLAAN TANAMAN CABAI KERITING HIBRIDA TM 999 (Capsicum annuum) SECARA KONVENSIONAL DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) FAHRUDIN SURAHMAT DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Hama Penting Semangka Hama penting pada semangka: 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) 2. Ulat perusak daun

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA CABAI MERAH

IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA CABAI MERAH IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA CABAI MERAH Nurbaiti Pendahuluan Produktifitas cabai di Aceh masih rendah 10.3 ton/ha (BPS, 2014) apabila dibandingkan dengan potensi produksi yang

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA TOMAT

TEKNIK BUDIDAYA TOMAT TEKNIK BUDIDAYA TOMAT 1. Syarat Tumbuh Budidaya tomat dapat dilakukan dari ketinggian 0 1.250 mdpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi >750 mdpl, sesuai dengan jenis/varietas yang diusahakan dg suhu

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Risiko Produksi Fluktuasi yang terjadi pada suatu usaha, baik fluktuasi hasil produksi, harga dan jumlah permintaan yang berada dibawah standar yang ditetapkan merupakan indikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam kondisi pertanian Indonesia saat ini dengan harga pestisida tinggi, menyebabkan bahwa usaha tani menjadi tidak menguntungkan sehingga pendapatan tidak layak. Kondisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kerugian pada tanaman hortikultura, baik yang dibudidayakan

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kerugian pada tanaman hortikultura, baik yang dibudidayakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan salah satu hama yang banyak menimbulkan kerugian pada tanaman hortikultura, baik yang dibudidayakan secara luas maupun tanaman

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

SISTEMATIKA LAPORAN MINGGUAN MAGANG KERJA Halaman Judul Halaman judul memuat laporan mingguan pada minggu ke-n, lokasi magang, serta judul kegiatan

SISTEMATIKA LAPORAN MINGGUAN MAGANG KERJA Halaman Judul Halaman judul memuat laporan mingguan pada minggu ke-n, lokasi magang, serta judul kegiatan SISTEMATIKA LAPORAN MINGGUAN MAGANG KERJA Halaman Judul Halaman judul memuat laporan mingguan pada minggu ke-n, lokasi magang, serta judul kegiatan yang dilakukan dalam minggu tersebut. Log Kerja Harian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh tiga spesies cendawan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh tiga spesies cendawan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Antraknosa Cabai Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh tiga spesies cendawan Colletotrichum yaitu C. acutatum, C. gloeosporioides, dan C. capsici (Direktorat

Lebih terperinci

Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung Oleh : Ratnawati

Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung Oleh : Ratnawati Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung Oleh : Ratnawati Tanaman jagung disamping sebagai bahan baku industri pakan dan pangan pada daerah tertentu di Indonesia dapat juga sebagai makanan pokok. Karena

Lebih terperinci

Pengenalan Penyakit yang Menyerang Pada Tanaman Kentang

Pengenalan Penyakit yang Menyerang Pada Tanaman Kentang 1 Pengenalan Penyakit yang Menyerang Pada Tanaman Kentang Kelompok penyakit tanaman adalah organisme pengganggu tumbuhan yang penyebabnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang seperti : cendawan, bakteri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aturan karantina di negara-negara tujuan ekspor komoditi buah-buahan

BAB I PENDAHULUAN. Aturan karantina di negara-negara tujuan ekspor komoditi buah-buahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aturan karantina di negara-negara tujuan ekspor komoditi buah-buahan Indonesia telah disusun sedemikian ketat. Ketatnya aturan karantina tersebut melarang buah-buahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, dan diletakkan

TINJAUAN PUSTAKA. Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, dan diletakkan 3 TINJAUAN PUSTAKA Lalat Buah (Bactrocera spp.) Biologi Menurut Departemen Pertanian (2012), lalat buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Phylum Klass Ordo Sub-ordo Family Genus Spesies : Arthropoda

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Eli Korlina PENDEKATAN PHT

PENDAHULUAN. Eli Korlina PENDEKATAN PHT PENDAHULUAN Eli Korlina Salah satu masalah dalam usahatani bawang putih adalah gangguan hama dan penyakit. Keberadaan hama dan penyakit dalam usahatani mendorong petani untuk menggu-nakan pestisida pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah ( S. coarctata

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah ( S. coarctata 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah (S. coarctata) Secara umum tampak bahwa perkembangan populasi kepinding tanah terutama nimfa dan imago mengalami peningkatan dengan bertambahnya

Lebih terperinci

Oleh Kiki Yolanda,SP Jumat, 29 November :13 - Terakhir Diupdate Jumat, 29 November :27

Oleh Kiki Yolanda,SP Jumat, 29 November :13 - Terakhir Diupdate Jumat, 29 November :27 Lada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah yang menjadi komoditas ekspor penting di Indonesia. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu sentra produksi utama lada di Indonesia dan dikenal

Lebih terperinci

Teknologi Perbanyakan Benih Mangga melalui Sambung Pucuk

Teknologi Perbanyakan Benih Mangga melalui Sambung Pucuk Teknologi Perbanyakan Benih Mangga melalui Sambung Pucuk Berkebun buah-buahan yang perlu diperhatikan adalah mutu dan ketersediaan akan benih/ bibit tanaman. Pelaku usahatani/ pekebun bisa menyiapkan pembibitan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Serangan O. furnacalis pada Tanaman Jagung Larva O. furnacalis merusak daun, bunga jantan dan menggerek batang jagung. Gejala serangan larva pada batang adalah ditandai dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Cabai TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Cabai Cabai merupakan salah satu tanaman perdu dari famili Solanaceae. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh para pelancong. Jenis dan

Lebih terperinci

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PENGENDALIAN OPT CABAI Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) atau hama dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. negeri maupun untuk ekspor. Komoditas sayuran dapat tumbuh dan berproduksi di

I. PENDAHULUAN. negeri maupun untuk ekspor. Komoditas sayuran dapat tumbuh dan berproduksi di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman sayuran cukup penting di Indonesia, baik untuk konsumsi di dalam negeri maupun untuk ekspor. Komoditas sayuran dapat tumbuh dan berproduksi di dataran rendah sampai

Lebih terperinci

HAMA PENYAKIT TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA

HAMA PENYAKIT TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA HAMA PENYAKIT TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA Yurista Sulistyawati BPTP Balitbangtan NTB Disampaikan dalam Workshop Pendampingan UPSUS Pajale, 18 April 2017 PENDAHULUAN Provinsi NTB: Luas panen padi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. merata sepanjang tahun. Curah hujan (CH) untuk pertanaman pepaya berkisar

TINJAUAN PUSTAKA. merata sepanjang tahun. Curah hujan (CH) untuk pertanaman pepaya berkisar 4 TINJAUAN PUSTAKA Pepaya (Carica papaya L.) Asal-usul Pepaya Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba yang diduga berasal dari Amerika Tropis, diantaranya Meksiko dan Nikaragua. Penyebaran tanaman pepaya

Lebih terperinci

PENYAKIT-PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN HUTAN RAKYAT DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA

PENYAKIT-PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN HUTAN RAKYAT DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA PENYAKIT-PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN HUTAN RAKYAT DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA NUR HIDAYATI BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN KONSEP PENYAKIT TANAMAN Penyakit tumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman hortikultura

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman hortikultura I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman hortikultura seperti buah-buahan. Komoditi hortikultura diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan untuk mendukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman di

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman di Indonesia masih banyak mengandalkan penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana

Lebih terperinci

Pendahuluan menyediakan dan mendiseminasikan rekomendasi teknologi spesifik lokasi

Pendahuluan menyediakan dan mendiseminasikan rekomendasi teknologi spesifik lokasi Tim Pengkaji Pendahuluan Rata-rata produktivitas kedelai di NTB pada Tahun 2014 yaitu 1,29 ton/ha. (BPS. 2015) Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan perluasan areal Pajale, BPTP bertugas menyediakan

Lebih terperinci

Hama penghisap daun Aphis craccivora

Hama penghisap daun Aphis craccivora Hama Kacang tanah Hama penghisap daun Aphis craccivora Bioekologi Kecil, lunak, hitam. Sebagian besar tdk bersayap, bila populasi meningkat, sebagian bersayap bening. Imago yg bersayap pindah ke tanaman

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... xi

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... xi DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 5 1.3

Lebih terperinci

PENYAKIT PENYAKIT YANG SERING MENYERANG CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)

PENYAKIT PENYAKIT YANG SERING MENYERANG CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) PENYAKIT PENYAKIT YANG SERING MENYERANG CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Masalah yang sering dihadapi dan cukup meresahkan petani adalah adanya serangan hama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Sawah organik dan non-organik Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida kimia dan hasil rekayasa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan Pertanaman Bawang Merah Desa Sungai Nanam, Alahan Panjang, dan Salimpat termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Secara

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Serangga predator Bioekologi Menochilus sexmaculatus

TINJAUAN PUSTAKA Serangga predator Bioekologi Menochilus sexmaculatus TINJAUAN PUSTAKA Serangga predator Serangga predator adalah jenis serangga yang memangsa serangga hama atau serangga lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemanfaatan serangga predator sudah dikenal

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Bumi Agung, September 2015 Penulis

KATA PENGANTAR. Bumi Agung, September 2015 Penulis KATA PENGANTAR Buah terung ini cukup populer di masyarakat, bisa di dapatkan di warung, pasar tradisional, penjual pinggir jalan hingga swalayan. Cara pembudidayaan buah terung dari menanam bibit terung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas yang telah lama

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas yang telah lama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas yang telah lama dibudidayakan di Indonesia, dan seperti kita ketahui bersama sifat multiguna yang ada pada kedelai menyebabkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena harganya terjangkau dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pisang adalah buah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hama yang sangat merugikan pada tanaman hortikultura diantaranya mangga,

BAB I PENDAHULUAN. hama yang sangat merugikan pada tanaman hortikultura diantaranya mangga, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lalat buah Bactrocera spp. (Diptera : Tephritidae) merupakan salah satu hama yang sangat merugikan pada tanaman hortikultura diantaranya mangga, belimbing, jambu, nangka,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman cabai rawit ( Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu dari beberapa tanaman holtikultura yang potensial untuk dikembangkan. Buah cabai rawit berubah warnanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta mempunyai peluang pasar yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta mempunyai peluang pasar yang baik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta mempunyai peluang pasar yang baik. Buahnya dikenal sebagai

Lebih terperinci

ALTERNATIF PENGENDALIAN HAMA SERANGGA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN LEBAK PENGENDALIAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN HAMA SAYURAN DI LAHAN LEBAK

ALTERNATIF PENGENDALIAN HAMA SERANGGA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN LEBAK PENGENDALIAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN HAMA SAYURAN DI LAHAN LEBAK ALTERNATIF PENGENDALIAN HAMA SERANGGA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN LEBAK PENGENDALIAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN HAMA SAYURAN DI LAHAN LEBAK Muhammad Thamrin dan S. Asikin Balai Penelitian Pertanian

Lebih terperinci

Budidaya Cabai. Potensi hasil 9 ton/ha. Warna buah merah Panjang buah 10 cm Cocok untuk dataran rendah Toleran terhadap hama pengisap daun

Budidaya Cabai. Potensi hasil 9 ton/ha. Warna buah merah Panjang buah 10 cm Cocok untuk dataran rendah Toleran terhadap hama pengisap daun Budidaya Cabai Pendahuluan Cabe (Capsicum Annum varlongum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cabai merah merupakan jenis tanaman hortikultura yang cukup banyak

BAB I PENDAHULUAN. Cabai merah merupakan jenis tanaman hortikultura yang cukup banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cabai merah merupakan jenis tanaman hortikultura yang cukup banyak ditanam di Indonesia yang memiliki nilai dan permintaan cukup tinggi (Arif, 2006). Hal tersebut dibuktikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L) Meriill) merupakan salah satu komoditi tanaman yang

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L) Meriill) merupakan salah satu komoditi tanaman yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max (L) Meriill) merupakan salah satu komoditi tanaman yang penting dalam pertanian di Indonesia karena memiliki berbagai manfaat, baik

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae)

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae) TINJAUAN PUSTAKA Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae) Seekor imago betina dapat meletakkan telur sebanyak 282-376 butir dan diletakkan secara kelompok. Banyaknya telur dalam

Lebih terperinci

(Gambar 1 Gejala serangan Oidium heveae pada pembibitan karet)

(Gambar 1 Gejala serangan Oidium heveae pada pembibitan karet) Karet memiliki peranan sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Komoditas ini merupakan salah satu penghasil devisa utama dari sektor perkebunan dengan nilai ekspor sekitar US$ 11.8 milyar pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tradisional hingga pasar modern. Selain itu, jambu biji juga penting sebagai

BAB I PENDAHULUAN. tradisional hingga pasar modern. Selain itu, jambu biji juga penting sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jambu biji (Psidium guajava) merupakan buah yang mempunyai nilai ekonomi di Indonesia dan memiliki pangsa pasar yang luas mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern.

Lebih terperinci

Keadaan Serangan OPT Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat

Keadaan Serangan OPT Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat Keadaan Serangan OPT Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat Salah satu sentra komoditas hortikultura, khususnya bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) yang cukup besar di

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh. Husni Mubarok NIM

SKRIPSI. Oleh. Husni Mubarok NIM //un un un un POTENSI SARI BUAH BEBERAPA JENIS CABAI (Capsicum sp.) SEBAGAI INSEKTISIDA BOTANI TERHADAP TINGKAT PENURUNAN INFEKSI Bactrocera sp. PADA BUAH CABAI MERAH (Capsicum annum L.) SKRIPSI Oleh Husni

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Deskripsi Kacang Hijau Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi rakyat Indonesia. Kacang hijau termasuk

Lebih terperinci

PENYAKIT TANAMAN TEMBAKAU VIRGINIA

PENYAKIT TANAMAN TEMBAKAU VIRGINIA PENYAKIT TANAMAN TEMBAKAU VIRGINIA Nurul Hidayah dan Supriyono *) PENDAHULUAN Penyakit tanaman merupakan salah satu faktor pembatas dalam budi daya tanaman, termasuk tembakau virginia. Berbagai penyakit

Lebih terperinci

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PENGENDALIAN OPT BAWANG MERAH Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT)

Lebih terperinci

Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang

Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang Kehilangan hasil yang disebabkan gangguan oleh serangga hama pada usaha tani komoditas hortikultura khususnya kentang, merupakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA Lalat penggorok daun, Liriomyza sp, termasuk serangga polifag yang dikenal sebagai hama utama pada tanaman sayuran dan hias di berbagai negara. Serangga tersebut menjadi hama baru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi

BAB I PENDAHULUAN. Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi patogen tular tanah (Yulipriyanto, 2010) penyebab penyakit pada beberapa tanaman family Solanaceae

Lebih terperinci

BUDIDAYA TANAMAN DURIAN

BUDIDAYA TANAMAN DURIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA BUDIDAYA TANAMAN DURIAN Dosen Pengampu: Rohlan Rogomulyo Dhea Yolanda Maya Septavia S. Aura Dhamira Disusun Oleh: Marina Nurmalitasari Umi Hani Retno

Lebih terperinci

MENGENAL ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) BAWANG MERAH DAN MUSUH ALAMINYA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

MENGENAL ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) BAWANG MERAH DAN MUSUH ALAMINYA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA MENGENAL ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) BAWANG MERAH DAN MUSUH ALAMINYA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA Mengapa harus mengenal OPT yang menyerang? Keberhasilan pengendalian OPT sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas buah-buahan Indonesia harus diperhatikan seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas buah-buahan Indonesia harus diperhatikan seiring dengan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kualitas buah-buahan Indonesia harus diperhatikan seiring dengan globalisasi perdagangan buah dan sayur segar. Salah satu kendala yang dihadapi petani buah dan sayur

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup lalat buah mengalami 4 stadia yaitu telur, larva, pupa dan

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup lalat buah mengalami 4 stadia yaitu telur, larva, pupa dan 15 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Bactrocera sp. (Diptera : Tephtritidae) Siklus hidup lalat buah mengalami 4 stadia yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat buah betina memasukkan telur ke dalam kulit buah

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PERLINDUNGAN HUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PERLINDUNGAN HUTAN LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PERLINDUNGAN HUTAN ACARA 1 PENGENALAN GEJALA DAN TANDA PENYAKIT PADA HUTAN DISUSUN OLEH : NAMA NIM SIFT CO.ASS : SIWI PURWANINGSIH : 10/301241/KT/06729 : Rabu,15.30 : Hudiya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dimulai bulan November 2009 sampai dengan bulan Mei 2010. Kondisi curah hujan selama penelitian berlangsung berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Klaten merupakan salah satu sentra produksi beras di Indonesia. Saat ini, lebih dari 8% hasil produksi pertanian pangan di kabupaten Klaten adalah beras. Budidaya padi dilakukan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.) II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman sayuran yang tergolong tanaman tahunan berbentuk perdu.

Lebih terperinci

PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI

PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI I. PENDAHULUAN Kabupaten Bantul mencanangkan sasaran : (1). Padi, luas tanam 32.879 ha, luas panen 31.060 ha, produktivitas 65,43 ku/ha GKG, produksi 203.174 ton, ( 2)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu tegak, batang berkayu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu tegak, batang berkayu II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cabai Merah Besar Cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu tegak, batang berkayu namun pada batang muda berambut halus berwarna hijau. Tinggi tanaman mencapai 1 2,5 cm dan

Lebih terperinci

Usaha Tani Cabai dan Bawang Merah Ramah Lingkungan

Usaha Tani Cabai dan Bawang Merah Ramah Lingkungan Usaha Tani Cabai dan Bawang Merah Ramah Lingkungan Kegiatan dan aktifitas usaha tani cabai dan bawang merah secara ramah lingkungan sangat terkait dengan upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan

Lebih terperinci

Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp. Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama

Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp. Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan

Lebih terperinci

BUDIDAYA CABAI. B. FASE PRATANAM 1. Pengolahan Lahan

BUDIDAYA CABAI. B. FASE PRATANAM 1. Pengolahan Lahan BUDIDAYA CABAI A. PENDAHULUAN Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, ph 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Lahan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Lahan HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lahan Kecamatan Pangalengan berada pada ketinggian sekitar 1500 m di atas permukaan laut (dpl). Keadaan iklim di lokasi ini adalah sebagai berikut meliputi curah hujan rata-rata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat

I. PENDAHULUAN. Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, jagung dijadikan sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. family : Tephritidae, genus : Bactrocera, spesies : Bactrocera sp.

TINJAUAN PUSTAKA. family : Tephritidae, genus : Bactrocera, spesies : Bactrocera sp. 4 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Lalat Buah (Bactrocera sp.) Menurut Deptan (2007), lalat buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: kingdom: Animalia, filum : Arthropoda, kelas : Insect, ordo : Diptera,

Lebih terperinci

Waspadai Kemunculan Pengorok Daun (Liriomyza sp) pada Tanaman Kopi

Waspadai Kemunculan Pengorok Daun (Liriomyza sp) pada Tanaman Kopi PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO Jalan Raya Dringu Nomor 81 Telp. (0335) 420517 PROBOLINGGO 67271 Pendahuluan Waspadai Kemunculan Pengorok Daun (Liriomyza sp) pada Tanaman Kopi Oleh : Ika Ratmawati, SP,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Lalat buah dengan nama ilmiah Bractrocera spp. tergolong dalam ordo

TINJAUAN PUSTAKA. Lalat buah dengan nama ilmiah Bractrocera spp. tergolong dalam ordo TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama (Bractrocera dorsalis) Menurut Deptan (2007), Lalat buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Filum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : insecta

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik 38 PEMBAHASAN Budidaya Bayam Secara Hidroponik Budidaya bayam secara hidroponik yang dilakukan Kebun Parung dibedakan menjadi dua tahap, yaitu penyemaian dan pembesaran bayam. Sistem hidroponik yang digunakan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PERTANIAN ISBN :

KEMENTERIAN PERTANIAN ISBN : KEMENTERIAN PERTANIAN ISBN :978-979-8304-70-5 ISBN : 978-979-8304-70-5 Modul Pelatihan Budidaya Kentang Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Modul 1 : Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.) 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.) Menurut Cronquist (1981), klasifikasi tanaman cabai rawit adalah sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 23 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Usaha Tani PT JORO merupakan sebuah perusahaan agribisnis hortikultura yang meliputi budidaya, sarana budidaya, distributor benih, produsen pupuk dan konsultan pertanian..

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh bagian dari tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia (Deptan,

BAB I PENDAHULUAN. seluruh bagian dari tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia (Deptan, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pare (Momordica ) merupakan tumbuhan dataran rendah yang seluruh bagian dari tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia (Deptan, 2002 dalam Irwanto, 2008).

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik lokasi Penelitian dilakukan di Desa Padajaya Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Lokasi penelitian termasuk dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1300 meter di atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. faktor struktur tanah, pencemaran, keadaan udara, cuaca dan iklim, kesalahan cara

BAB I PENDAHULUAN. faktor struktur tanah, pencemaran, keadaan udara, cuaca dan iklim, kesalahan cara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan pada tanaman dapat disebabkan oleh faktor biotik ataupun abiotik. Faktor pengganggu biotik adalah semua penyebab gangguan yang terdiri atas organisme atau makhluk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komoditas hortikultura terutama jenis sayur-sayuran dan buah-buahan sangat diminati oleh konsumen. Sayuran diminati konsumen karena kandungan gizinya baik dan dapat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun TINJAUAN PUSTAKA 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) 1.1 Biologi Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun seperti atap genting (Gambar 1). Jumlah telur

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. 21 PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) tahap, pertama pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. Tahap I. Pengujian Karakter Pertumbuhan

Lebih terperinci

serum medium koloni Corynebacterium diphtheria tampak putih keabuabuan, spesimenklinis (Joklik WK, Willett HP, Amos DB, Wilfert CM, 1988)

serum medium koloni Corynebacterium diphtheria tampak putih keabuabuan, spesimenklinis (Joklik WK, Willett HP, Amos DB, Wilfert CM, 1988) anaerobic fakultatif. Meskipun demikian, Corynebacterium diphtheria tumbuh lebih bagus dalam keadaan aerobik. Pada Loeffler coagulated serum medium koloni Corynebacterium diphtheria tampak putih keabuabuan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus L. (Merr)) merupakan salah satu tanaman yang banyak

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus L. (Merr)) merupakan salah satu tanaman yang banyak I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Nanas (Ananas comosus L. (Merr)) merupakan salah satu tanaman yang banyak ditemukan di hampir semua daerah di Indonesia karena mudah dibudidayakan di lahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semua ilmu pengetahuan sesungguhnya bersumber dari Al Qur an, karena

BAB I PENDAHULUAN. Semua ilmu pengetahuan sesungguhnya bersumber dari Al Qur an, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semua ilmu pengetahuan sesungguhnya bersumber dari Al Qur an, karena di dalam Al Qur an telah dijelaskan proses penciptaan alam semesta termasuk makhluk hidup yang

Lebih terperinci

Hama penting tanaman kacang hijau.

Hama penting tanaman kacang hijau. Hama penting tanaman kacang hijau. 1. Lalat kacang (Agromyza phaseoli Coq) Gejala awal serangannya berupa bercak 2 pada keping biji (daun pertama). Bercak ini merupakan tempat dimana telur diletakkan.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. senilai US$ 588,329,553.00, walaupun ada catatan impor juga senilai US$ masyarakat (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010).

PENDAHULUAN. senilai US$ 588,329,553.00, walaupun ada catatan impor juga senilai US$ masyarakat (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010). PENDAHULUAN Latar Belakang Kopi (Coffea sp.) merupakan salah satu komoditas ekspor penting dari Indonesia. Data menunjukkan, Indonesia mengekspor kopi ke berbagai negara senilai US$ 588,329,553.00, walaupun

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemupukan pada Tanaman Tomat 2.1.1 Pengaruh Aplikasi Pupuk Kimia Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman tomat tertinggi terlihat pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda 4.1.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki pasar global, persyaratan produk-produk pertanian ramah

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki pasar global, persyaratan produk-produk pertanian ramah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi budidaya tanaman yang dilakukan perlu berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam yang efektif penggunaannya, sehingga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang mempunyai peran dan sumbangan besar bagi penduduk dunia. Di Indonesia, tanaman kedelai

Lebih terperinci

BUDIDAYA DAN TEKNIS PERAWATAN GAHARU

BUDIDAYA DAN TEKNIS PERAWATAN GAHARU BUDIDAYA DAN TEKNIS PERAWATAN GAHARU ketiak daun. Bunga berbentuk lancip, panjangnya sampai 5 mm, berwarna hijau kekuningan atau putih, berbau harum. Buah berbentuk bulat telur atau agak lonjong, panjangnya

Lebih terperinci

I. KEBERADAAN OPT PADI

I. KEBERADAAN OPT PADI I. KEBERADAAN OT ADI ada periode 1-15 Mei 2015 dilaporkan pertanaman padi di Jawa Timur seluas 534.325,40 Ha dan terpantau 22 jenis OT yang menyerang tanaman dengan keberadaan serangannya (keadaan dan

Lebih terperinci