I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Transkripsi

1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Koperasi primer adalah koperasi yang anggotanya menghasilkan satu atau lebih komoditi. Salah satu contoh koperasi primer yang memproduksi komoditi pertanian adalah koperasi peternak sapi perah yang memproduksi susu segar. Jenis koperasi ini dapat tumbuh secara lebih kokoh dibandingkan koperasi komoditi pertanian lainnya. Salah satu alasannya adalah karena sebagian besar kelompok peternak sapi perah ini memiliki tingkat aglomorasi yang tinggi, yaitu cenderung berkelompok pada suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk suatu daerah khusus yaitu daerah kelompok peternak sapi perah 1. Hal tersebut mengakibatkan kebutuhan para peternak, untuk membentuk organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan bersama melalui unit usaha yang dimiliki dan dikelola bersama, dapat terpenuhi dalam sebuah koperasi peternak sapi perah. Koperasi peternak sapi perah ini dapat menjadi mediator antara peternak dengan Industri Pengolahan Susu (IPS) dalam menentukan posisi tawar peternak untuk menetapkan waktu penjualan, jumlah penjualan susu dan harga yang akan diterima peternak sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan dari para peternak dan memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan susu nasional. Pada tahun 1949, koperasi-koperasi peternak di Indonesia mendirikan sebuah wadah bernaung bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (GAPPSIP). Namun pada tahun 1961 GAPPSIP membubarkan diri karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Akan tetapi, karena pemerintah merasa sangat penting untuk membentuk suatu organisasi sebagai wadah bersatunya seluruh koperasi peternak sapi di Indonesia, maka pada tahun 1978 dibentuklah Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI). Selanjutnya pada tahun 1979 BKKSI dibubarkan dan digantikan oleh Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sebagai koperasi sekunder persusuan sampai saat ini. Adanya GKSI ini menjadi satu kekuatan yang dimiliki oleh para peternak sapi perah karena susu produksi peternak dapat dipastikan terserap pasar. Hal ini 1 Soetrisno, Noer. Koperasi Produsen Susu : Model Klaster Industri Peternakan. [12 Februari 2010] 1

2 terkait dengan salah satu peran GKSI yaitu sebagai satu-satunya lembaga yang menjadi fasilitator penjualan susu peternak sapi perah ke IPS dengan kualitas yang baik dan volume stabil serta harga yang disepakati oleh kedua belah pihak 2. GKSI memiliki beberapa pabrik pengolahan susu atau milk treatment. Salah satu pabrik yang dimiliki oleh GKSI adalah PT Industri Susu Alam Murni (PT ISAM) di Bandung, Jawa Barat. Pabrik ini mengolah susu dari para peternak sapi perah yang disalurkan melalui koperasi-koperasi primer. PT ISAM ini juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain untuk mengolah susu dalam pemenuhan kebutuhan susu di masyarakat. Koperasi-koperasi primer anggota GKSI pun memiliki kesempatan untuk melakukan pengolahan susu di PT ISAM dengan cara melakukan subkontrak produksi. Dengan keberadaan PT ISAM ini, diharapkan mampu menyediakan dan mendistribusikan produk-produk olahan susu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta dapat mensejahterakan masyarakat baik di pihak peternak maupun masyarakat konsumen pada umumnya 3. Saat ini, koperasi peternak sapi perah di Indonesia memerlukan pengembangan usaha yang terlihat dari belum terpenuhinya kebutuhan konsumsi susu nasional oleh produksi susu nasional, yang sebagian besar diproduksi oleh koperasi peternak sapi perah, seperti yang terlihat pada Tabel 1. Pada tahun 2007 saja, dari konsumsi susu nasional sebesar ton, hanya ton yang dapat dipenuhi oleh produksi susu nasional dan sisanya dipenuhi oleh susu impor. Seiring dengan peningkatan konsumsi susu nasional tersebut, maka IPS menutupi kekurangan bahan baku susu lokal dengan melakukan impor susu yang berbentuk Skim Milk Powder (SMP) dan Anhydrous Milk Fat (AMF). Alasan lainnya adalah pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya serta perubahan pola konsumsi hewani yang didorong oleh arus urbanisasi, kesadaran gizi serta perubahan gaya hidup masyarakat yang berdampak kepada meningkatnya permintaan susu nasional (Delgado et al. dalam Priyanti dan Saptati 2009). Kedua alasan inilah yang menyebabkan diperlukannya suatu usaha untuk 2 Kompas. 26 Februari GKSI Jadi Pemasok Tunggal IPS. [16 Februari 2010] 3 Nurdiansyah, Nanda Perusahaan Pengolahan Susu Sapi. [12 Februari 2010] 2

3 mengembangkan persusuan nasional terutama dari tingkat koperasi peternak sapi perah dan anggota peternaknya. Tabel 1. Jumlah Sapi Perah, Produksi dan Konsumsi Susu di Indonesia ( ) Tahun Jumlah sapi perah Produksi susu (ton) Konsumsi susu (ton) (ekor) *) **) Keterangan : *) Tidak masuk data beberapa provinsi **) Angka sementara Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan (2010) Salah satu sentra produksi susu di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat, yang merupakan penghasil susu segar peringkat kedua setelah Jawa Timur. Pada tahun 2009, produksi susu segar di Jawa Barat mencapai ton susu segar dari ton keseluruhan produksi susu segar di Indonesia, seperti yang terlihat pada Lampiran 1 (Direktorat Jenderal Peternakan 2010). Salah satu penyumbang susu dari Jawa Barat adalah kelompok peternak yang berasal dari daerah Kabupaten Bandung Utara dan Barat yang tergabung dalam Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat. KPSBU, yang memproduksi susu segar sebanyak liter sepanjang tahun 2008 (Laporan Tahunan KPSBU 2009), merupakan penyumbang terbesar dari produksi susu di Jawa Barat (Lampiran 2). KPSBU Jawa Barat didirikan pada 8 Agustus 1971 dengan perintis sebanyak 35 orang peternak sapi perah yang berlokasi di daerah Lembang. Dalam perkembangannya selama kurang lebih 28 tahun, pada tahun 2009 anggota KPSBU telah mencapai orang, dengan populasi sapi sebanyak ekor 3

4 dan produksi susu per hari sebanyak liter. Berkat kerja keras anggota dan pengurus koperasi dalam mempertahankan kualitas dan kuantitas susu segarnya serta kualitas manajemen koperasi yang baik, KPSBU mendapatkan Indonesia Cooperative Award (ICA) dari Kementrian Negara Koperasi dan UKM pada tahun 2006 sebagai peringkat kelima dari sepuluh koperasi terbaik di Indonesia. Seperti koperasi peternak sapi pada umumnya, KPSBU juga mengadakan kerja sama dengan IPS dalam memasarkan produk susu segarnya. Kerja sama KPSBU dengan IPS dimulai sejak tahun 70-an yaitu dengan melakukan pemasaran susu segar setiap harinya kepada Frisian Flag Indonesia (FFI). Tabel 2. Perbandingan Usaha KPSBU Jawa Barat tahun Uraian Keanggota an (orang) Kepegawai an (orang) Tahun Populasi sapi (ekor) Penjualan , , ,85 Susu (Rp) Penjualan Yoghurt (Rp) ,46 Total , , ,14 Pendapatan (Rp) SHU , , ,16 Sumber : Laporan Tahunan KPSBU (2009) KPSBU Jawa Barat memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah jumlah anggota dan karyawan yang besar dan meningkat setiap tahunnya, tingginya populasi sapi, total pendapatan yang selalu melebihi target Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada setiap tahunnya, kualitas susu yang baik karena dapat memenuhi standar IPS (dalam hal ini adalah standar laboratorium susu FFI), kuantitas susu perhari yang kontinu sehingga dapat memenuhi permintaan IPS dan sisanya dipasarkan langsung ke konsumen dalam bentuk susu segar dan produk 4

5 olahan yoghurt serta keunggulan lainnya yang terdapat pada Tabel 2. Keunggulankeunggulan tersebut dapat menjadi kekuatan koperasi dalam menghadapi peluang besar tingginya permintaan susu nasional yang belum dapat dipenuhi oleh produksi susu dalam negeri Perumusan Masalah Salah satu pihak yang memiliki pengaruh besar terhadap agribisnis persusuan adalah pemerintah yang ditunjukkan dengan adanya beberapa kebijakan yang berdampak pada kondisi persusuan di Indonesia. Salah satu kebijakan pemerintah yang menyangkut kondisi persusuan Indonesia adalah dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan dan Koperasi) pada tahun Dalam SKB tersebut IPS diwajibkan menyerap susu segar dalam negeri sebagai pendamping dari susu impor untuk bahan baku industrinya. Proporsi penyerapan susu segar dalam negeri ditetapkan dalam bentuk rasio susu yaitu perbandingan antara pemakaian susu segar dalam negeri dan susu impor yang harus dibuktikan dalam bentuk bukti serap atau lebih dikenal dengan BUSEP. Tujuan dari BUSEP adalah untuk melindungi peternak dalam negeri dari persaingan terhadap susu impor. Namun kebijakan BUSEP ini menjadi tidak berlaku dengan adanya Inpres No. 4 Tahun 1998, sehingga susu impor menjadi komoditi yang bebas masuk ke dalam negeri. Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam negeri, keberadaan Inpres No. 4/1998 ini mengakibatkan posisi IPS menjadi jauh lebih kuat dibandingkan peternak karena IPS mempunyai pilihan untuk memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam negeri maupun dari impor. Kebijakan pemerintah lainnya untuk melindungi peternak lokal adalah dengan menetapkan bea masuk bahan baku susu dan produk susu sesuai SK Menteri Keuangan No. 573 tahun 2000 sebesar lima persen. Namun, kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut ternyata belum mampu memperkuat posisi tawar koperasi dan peternak dibandingkan IPS. Hal ini terlihat dari relatif stagnannya harga susu segar yang diterima oleh peternak dalam negeri 4 4 Daryanto, Arief Persusuan Indonesia : Kondisi, Permasalahan dan Arah Kebijakan. [14 Februari 2010] 5

6 dan kondisi peternak yang tidak mampu bersaing dengan susu impor karena harga dan kualitas yang lebih baik dibandingkan peternak dalam negeri. Tabel 3. Perkembangan Harga Susu Dalam Negeri dengan Harga Susu Impor Setara dengan Susu Segar ( ) Tahun Harga Susu Impor Setara Susu Segar (Rp/l) Harga Susu Dalam Negeri (Rp/l) Rasio Harga Susu Dalam Negeri terhadap Impor , , , , , , , , , ,62 Sumber : Priyanti dan Saptati (2009) Pada Tabel 3 terlihat bahwa harga susu segar dalam negeri selalu berada di bawah harga impor setara susu segar. Pada tahun 2006 hingga 2007 harga susu dunia meningkat hingga rata-rata tertinggi 74 persen dibandingkan harga biasanya. Pada saat harga susu dunia meningkat cukup tinggi, harga susu segar dalam negeri tidak mengalami peningkatan yang terlalu tinggi, bahkan rasionya terhadap harga susu impor setara susu segar hanya mencapai 0,42 saja. Seharusnya kenaikan harga susu di pasar internasional dapat meningkatkan bargaining power dan tingkat kompetitif dari susu segar dalam negeri. Namun yang terjadi adalah adanya kesenjangan harga susu segar yang relatif besar di tingkat IPS dan peternak dikarenakan posisi tawar peternak atau dalam hal ini koperasi peternak sapi terhadap IPS yang rendah. Harga susu yang rendah juga disebabkan karena rendahnya kualitas susu segar yang dinilai oleh IPS dari kandungan mikroba dan total solid dari susu segar hasil produksi koperasi. Rendahnya kualitas ini disebabkan karena tidak 6

7 terpenuhinya kebutuhan sapi perah akan pakan konsentrat yang mengalami kenaikan harga seiring dengan kenaikan harga susu segar. Peningkatan mutu pakan konsentrat ini sangat berpengaruh pada kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan, sehingga bila kualitas susu meningkat harga susu segar pun dapat turut meningkat (Priyanti dan Saptati 2009). Dengan adanya permasalahan ini, peternak tidak mampu merasakan peningkatan harga susu segar karena harus mengalokasikannya terhadap harga konsentrat yang juga mengalami kenaikan. Berbagai kebijakan pemerintah dan harga susu yang cenderung stagnan pun turut dirasakan oleh KPSBU Jawa Barat, terutama karena posisi tawar yang lemah terhadap IPS yang membeli hampir 91 persen produksi susu KPSBU perharinya. Harga susu segar KPSBU ditentukan oleh hasil uji lab milik FFI sehingga dalam hal ini KPSBU berperan sebagai price taker dan mengalami kestagnanan harga susu yang selalu diiringi dengan kenaikan biaya produksi sapi perah. Hal tersebut mengakibatkan cenderung stabilnya pendapatan peternak sedangkan biaya produksi terutama pakan konsentrat semakin meningkat. Permasalahan lainnya adalah pada bulan April 2009 sejumlah IPS, termasuk FFI, memberlakukan kuota pembelian susu peternak lokal. Hal ini berdampak negatif terhadap peternak, termasuk KPSBU. KPSBU terpaksa membuang susu yang tidak terserap IPS sebanyak 16 ton per hari. Kondisi ini dikarenakan IPS tidak memberi waktu kepada KPSBU untuk mencari pembeli lain yang dapat menerima pasokan susu dari koperasi 5. Dengan adanya kelebihan susu yang tidak terserap oleh IPS tersebut tentunya dapat menyebabkan kerugian pada peternak dan KPSBU bila terbuang sia-sia. Dari permasalahan-permasalahan tersebut, dibutuhkan suatu jalan keluar untuk memanfaatkan jumlah susu yang tidak terserap oleh FFI dan untuk meningkatkan pendapatan KPSBU yang akan berdampak pada pendapatan peternak agar sesuai dengan tujuan koperasi yaitu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan tersebut adalah dengan menciptakan nilai tambah dari susu segar produksi KPSBU. Pada tahun 2008, KPSBU mulai mengolah susu segar produksinya menjadi produk olahan yoghurt. Setiap harinya KPSBU memproduksi yoghurt bermerek Fresh Time Ton Susu Koperasi akan Dibuang. [28 Januari 2010] 7

8 sebanyak 0,30 persen dari jumlah total susu yang diproduksi. Namun, terdapat beberapa kendala dalam produksi yoghurt ini, seperti yang tercantum di dalam Laporan Tahunan KPSBU Jawa Barat tahun 2008, yaitu realisasi pendapatan produksi yoghurt hanya tercapai 58,79 persen dari rencana tahunan (Rp ,46 dari rencana pendapatan Rp ), pemantauan yang kurang terhadap distribusi yoghurt pada sejumlah pedagang di daerah Bandung, pengendalian yang kurang optimal terhadap yoghurt yang rusak dan hal ini akan merusak image dari yoghurt produksi KPSBU Jawa Barat. Karena terdapat beberapa kendala yang ada dalam produksi yoghurt inilah maka pihak manajemen KPSBU melakukan pengolahan susu segar menjadi produk olahan baru, yaitu susu sterilisasi dengan merek yang sama, Fresh Time. Susu sterilisasi dipilih karena perizinan yang tidak memakan waktu lama, proses pembuatan yang relatif mudah dan daya tahan susu yang dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan yoghurt dalam kondisi suhu ruangan normal sehingga tidak memerlukan biaya penyimpanan yang cukup besar serta pasar yang lebih luas untuk produk susu sterilisasi Dalam melakukan usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time, pihak manajemen KPSBU melakukan subkontrak produksi dengan PT ISAM karena pihak KPSBU belum merasa siap untuk melakukan produksi susu sterilisasi Fresh Time sendiri. Ketidaksiapan ini berasal dari segi investasi (biaya investasi untuk mendirikan pabrik pengolahan susu, membeli dan melakukan instalasi mesinmesin dan peralatan produksi dan alat transportasi), biaya produksi, teknologi yang akan digunakan, kesiapan sumber daya manusia KPSBU baik dari anggota maupun karyawan dan masih banyak lagi. Padahal, dengan melakukan subkontrak produksi susu yang dapat diolah koperasi sangatlah terbatas yaitu sebanyak 2 ton sehari dengan frekuensi dua minggu sekali. Jumlah tersebut sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah susu produksi koperasi yang tidak dapat dipasok lagi kepada FFI. Maka koperasi membutuhkan suatu pengembangan usaha dengan mendirikan pabrik pengolahan susu yang dapat mengolah seluruh susu yang tidak dapat dipasok lagi ke FFI sehingga akan membawa manfaat yang lebih besar dan dapat meningkatkan nilai dari susu segar dan pendapatan koperasi serta para peternak. Hal tersebut juga sesuai dengan rencana manajemen koperasi untuk 8

9 melakukan pengembangan usaha koperasi dengan cara mendirikan pabrik pengolahan susu. Karena terdapat beberapa alternatif dalam memproduksi susu sterilisasi Fresh Time maka dibutuhkan suatu analisis kelayakan dari alternatif-alternatif tersebut untuk mengetahui alternatif manakah yang layak untuk direkomendasikan kepada KPSBU Jawa Barat dalam melakukan produksi susu sterilisasi Fresh Time sehingga dapat menghasilkan manfaat terbesar bagi koperasi dan anggotanya. Dalam melakukan analisis kelayakan usaha produksi susu sterilisasi ini, terdapat tiga skenario yang dianalisis yaitu : (1) KPSBU melakukan subkontrak produksi (subcontracting production) dengan PT Industri Susu Alam Murni (PT ISAM) milik GKSI untuk memproduksi susu sterilisasi, dan hanya mengeluarkan biaya sewa produksi, transportasi dan menambah sedikit sumber daya manusia dalam proses transportasi bahan baku susu segar dan bahan baku tambahan lainnya dari KPSBU ke lokasi pabrik PT ISAM; (2) KPSBU memproduksi susu sterilisasi dengan mendirikan pabrik sendiri, melakukan pembelian mesin-mesin dan peralatan, dan menambah jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam produksi susu sterilisasi, namun masih berproduksi dengan volume produksi yang sama dengan skenario pertama; dan (3) KPSBU memproduksi susu sterilisasi dengan mendirikan pabrik sendiri, melakukan pembelian mesin-mesin dan peralatan, dan menambah jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam produksi susu, dan mengolah seluruh susu yang tidak dapat dipasok kepada FFI untuk dijadikan produk-produk olahan susu. Dari uraian tersebut, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ketiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat layak bila ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, ekonomi dan lingkungan? 2. Apakah secara finansial ketiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat layak untuk dilaksanakan? 3. Bagaimanakah sensitivitas kelayakan usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time jika terjadi penurunan harga output susu sterilisasi dan kenaikan biaya produksi? 9

10 4. Setelah dilakukan analisis kelayakan, skenario manakah yang lebih layak untuk dilaksanakan dan memberikan lebih banyak manfaat kepada KPSBU Jawa Barat? 1.3. Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kelayakan dari tiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, ekonomi dan lingkungan. 2. Menganalisis kelayakan dari tiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat ditinjau dari aspek finansial. 3. Menganalisis dampak yang terjadi apabila penurunan harga output susu sterilisasi dan harga bahan baku pada usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU. 4. Mengetahui skenario manakah yang lebih layak untuk dilaksanakan dan memberikan lebih banyak manfaat kepada KPSBU Jawa Barat Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan : 1. Pengambil keputusan pada KPSBU Jawa Barat sebagai bahan masukan dalam melakukan perencanaan usaha. 2. Pelaku usaha, pengambil keputusan maupun segenap pemerhati yang berkecimpung di bidang yang sama atau sejenis sebagai bahan masukan. 3. Peneliti sebagai bahan referensi untuk bahan referensi penelitian selanjutnya. 10

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUKSI SUSU STERILISASI (Studi Kasus : Produk Susu Sterilisasi Fresh Time KPSBU Jawa Barat)

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUKSI SUSU STERILISASI (Studi Kasus : Produk Susu Sterilisasi Fresh Time KPSBU Jawa Barat) ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUKSI SUSU STERILISASI (Studi Kasus : Produk Susu Sterilisasi Fresh Time KPSBU Jawa Barat) SKRIPSI DESSY NATALIA H34063102 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

Lebih terperinci

DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI TINGKAT PETERNAK : Kasus Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara di Jawa Barat

DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI TINGKAT PETERNAK : Kasus Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara di Jawa Barat Seminar Nasional DINAMIKA PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PERDESAAN: Tantangan dan Peluang bagi Peningkatan Kesejahteraan Petani Bogor, 19 Nopember 2008 DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009.

BAB I. PENDAHULUAN.  [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian di Indonesia. Subsektor peternakan sebagai bagian dari pertanian dalam arti luas merupakan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Koperasi Dalam Perkembangan Agribisnis Persusuan Koperasi memiliki peran penting bagi perkembangan agribisnis persusuan di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan harus memiliki kemampuan untuk membedakan dirinya dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan harus memiliki kemampuan untuk membedakan dirinya dalam 21 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan harus memiliki kemampuan untuk membedakan dirinya dalam persaingan agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Dengan kondisi geografis yang sangat mendukung, usaha peternakan di Indonesia dapat berkembang pesat. Usaha

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dilihat dari ketersediaan sumberdaya yang ada di Indonesia, Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi

Lebih terperinci

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain

Lebih terperinci

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ASPEK FINANSIAL Skenario I VII ASPEK FINANSIAL Setelah menganalisis kelayakan usaha dari beberapa aspek nonfinansial, analisis dilanjutkan dengan melakukan analisis kelayakan pada aspek finansial yaitu dari aspek keuangan usaha

Lebih terperinci

dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS. Usaha

dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS. Usaha III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Manajemen Usaha Ternak Saragih (1998) menyatakan susu merupakan produk asal ternak yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan yang ada didalamnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri susu di Indonesia merupakan salah satu industri pangan yang

I. PENDAHULUAN. Industri susu di Indonesia merupakan salah satu industri pangan yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri susu di Indonesia merupakan salah satu industri pangan yang strategis dan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Selain berpeluang meningkatkan gizi masyarakat,

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI

BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI 53 BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI 4.1 Sejarah Perkembangan KPSBU Jabar Bangsa Belanda mulai memperkenalkan sapi perah kepada masyarakat Lembang sekitar tahun 1800-an. Seiring dengan berjalannya waktu,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pasar bebas bukan saja merupakan peluang namun juga ancaman. yang harus dihadapi oleh industri yang berkeinginan untuk terus maju dan

I. PENDAHULUAN. Pasar bebas bukan saja merupakan peluang namun juga ancaman. yang harus dihadapi oleh industri yang berkeinginan untuk terus maju dan I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pasar bebas bukan saja merupakan peluang namun juga ancaman yang harus dihadapi oleh industri yang berkeinginan untuk terus maju dan berkembang. Pasar senantiasa merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang

BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah nasional menghadapi tantangan dari negara-negara maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang saat ini masih

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Sejarah Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat Hal yang melatarbelakangi pembentukan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) adalah adanya permasalahan

Lebih terperinci

DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI DI TINGKAT PETERNAK: Kasus Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara di Jawa Barat

DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI DI TINGKAT PETERNAK: Kasus Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara di Jawa Barat DAMPAK HARGA SUSU DUNIA TERHADAP HARGA SUSU DALAM NEGERI DI TINGKAT PETERNAK: Kasus Koperasi Impact of World s Dairy Price on Farmer s Level Domestic Milk Price: The Case of Cattle Farm Cooperative in

Lebih terperinci

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Oleh : Feryanto W. K. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian serta bagi perekonomian nasional pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. KPSBU (Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara) Jawa Barat, yang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. KPSBU (Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara) Jawa Barat, yang 71 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Profil Perusahaan a. Sejarah KPSBU Jawa Barat KPSBU (Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara) Jawa Barat, yang berdiri sejak 8 Agustus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Perkembangan Koperasi tahun Jumlah

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Perkembangan Koperasi tahun Jumlah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Koperasi dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi sosial negara sedang berkembang dengan membantu membangun struktur ekonomi dan sosial yang kuat (Partomo,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu

TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Susu Sterilisasi Salah satu jenis olahan susu yang dapat dijumpai di pasaran Indonesia adalah susu sterilisasi. Susu sterilisasi adalah salah satu contoh hasil pengolahan susu

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 2

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 2 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Koperasi 2.1.1 Pengertian Koperasi Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 2 dikatakan bahwa koperasi berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

IV. ANALISIS DAN SINTESIS

IV. ANALISIS DAN SINTESIS IV. ANALISIS DAN SINTESIS 4.1. Analisis Masalah 4.1.1. Industri Pengolahan Susu (IPS) Industri Pengolahan Susu (IPS) merupakan asosiasi produsen susu besar di Indonesia, terdiri atas PT Nestle Indonesia,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dede Upit, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dede Upit, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi perah merupakan salah satu komoditi utama subsektor peternakan. Dengan adanya komoditi di subsektor peternakan dapat membantu memenuhi pemenuhan kebutuhan protein

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menghadapi krisis ekonomi di Indonesia. Salah satu sub sektor dalam pertanian

I. PENDAHULUAN. menghadapi krisis ekonomi di Indonesia. Salah satu sub sektor dalam pertanian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian telah terbukti sebagai sektor yang mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi di Indonesia. Salah satu sub sektor dalam pertanian adalah peternakan, yang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor peternakan merupakan salah satu pilar dalam pembangunan agribisnis di Indonesia yang masih memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Komoditi peternakan mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis untuk menopang perekonomian nasional dan daerah, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi yang dialami

Lebih terperinci

ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH PENDAHULUAN

ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH PENDAHULUAN ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH PENDAHULUAN Domestikasi sapi dan penggunaan susu sapi untuk konsumsi manusia di Asia dan Afrika sudah dimulai pd 8.000 6.000 SM. Sebelum sapi dijinakkan, daging dan susunya diperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang berperan menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, dan telur yang mengandung zat gizi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Peternakan adalah kegiatan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi. Peternakan merupakan

Lebih terperinci

PEDOMAN KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam Instruksi Presiden ini yang dimaksud dengan:

PEDOMAN KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam Instruksi Presiden ini yang dimaksud dengan: NOMOR 2 TAHUN 1985 TANGGAL 15 Januari 1985 PEDOMAN KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Instruksi Presiden ini yang dimaksud dengan: 1. Susu adalah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. suatu negara. Produksi susu menjadi suatu tolak ukur dalam program

PENDAHULUAN. Latar Belakang. suatu negara. Produksi susu menjadi suatu tolak ukur dalam program PENDAHULUAN Latar Belakang Susu adalah salah satu komoditas penting di bidang pangan dalam suatu negara. Produksi susu menjadi suatu tolak ukur dalam program ketahanan pangan dari suatu negara. Salah satu

Lebih terperinci

OUTLOOK Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016

OUTLOOK  Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK SUSU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2016 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU ISSN: 1907-1507 Ukuran Buku Jumlah Halaman

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah Republik Rakyat Cina (RRC), India, dan Amerika Serikat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang tepat dari para pelaku ekonomi. konsumen adalah sebagai pemasok faktor faktor produksi kepada perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang tepat dari para pelaku ekonomi. konsumen adalah sebagai pemasok faktor faktor produksi kepada perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian terus tumbuh dan berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Jika perekonomian dalam suatu negara berjalan stabil maka kesejahteraan

Lebih terperinci

PENGANTAR. guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang cenderung bertambah dari tahun

PENGANTAR. guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang cenderung bertambah dari tahun PENGANTAR Latar Belakang Upaya peningkatan produksi susu segar dalam negeri telah dilakukan guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang cenderung bertambah dari tahun ke tahun. Perkembangan usaha sapi perah

Lebih terperinci

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pendapatan disertai dengan

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pendapatan disertai dengan T. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pendapatan disertai dengan semakin baiknya pendidikan masyarakat telah mendorong peningkatan dan perbaikan mutu kehidupan

Lebih terperinci

BAB V STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN SAPI PERAH KUD GIRI TANI

BAB V STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN SAPI PERAH KUD GIRI TANI BAB V STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN SAPI PERAH KUD GIRI TANI 5.1. Segmenting, Targeting, dan Positioning Susu sapi Perah KUD Giri Tani Penetapan segmenting, targeting, dan positioning yang dilakukan oleh

Lebih terperinci

KEBIJAKAN IMPOR SUSU: MELINDUNGI PETERNAK DAN KONSUMEN

KEBIJAKAN IMPOR SUSU: MELINDUNGI PETERNAK DAN KONSUMEN KEBIJAKAN IMPOR SUSU: MELINDUNGI PETERNAK DAN KONSUMEN (Policy on Imported Milk: Protection to Producer and Consumen) RENI KUSTIARI 1, ATIEN PRIYANTI 2 dan ERWIDODO 3 1 Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan

Lebih terperinci

ASPEK NONFINANSIAL 6.1. Aspek Pasar Potensi Pasar

ASPEK NONFINANSIAL 6.1. Aspek Pasar Potensi Pasar VI ASPEK NONFINANSIAL Pada penelitian ini, kelayakan usaha diteliti dari dua aspek yaitu aspek nonfinansial dan aspek finansial. Aspek nonfinansial yang dibahas pada bagian ini adalah aspek pasar, aspek

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Subsektor pertanian terdiri dari sektor tanaman pangan, sektor perkebunan, sektor kehutanan, sektor perikanan dan sektor peternakan. Sektor peternakan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang) 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat telah menyebabkan konsumsi daging ayam ras (broiler) secara nasional cenderung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber daya hewan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta dengan ditandai oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang meningkat dan stabilitas ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Swasembada susu nasional saat ini masih sulit tercapai, hal ini terlihat lebih dari 75

BAB I PENDAHULUAN. Swasembada susu nasional saat ini masih sulit tercapai, hal ini terlihat lebih dari 75 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Swasembada susu nasional saat ini masih sulit tercapai, hal ini terlihat lebih dari 75 persen pasokan susu di penjuru nusantara didominasi oleh peternak asing, dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian berbasis peternakan merupakan bagian pembangunan nasional yang sangat penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternakan adalah meningkatkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membentuk sumberdaya manusia berkualitas yang dicirikan oleh keragaan antara lain: produktif, inovatif dan kompetitif adalah tercukupinya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia, karena didalamnya mengandung semua komponen bahan yang

I. PENDAHULUAN. manusia, karena didalamnya mengandung semua komponen bahan yang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Produk susu dikenal sebagai bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia, karena didalamnya mengandung semua komponen bahan yang diperlukan dalam tubuh manusia.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tahun 2011 sebanyak ekor yang tersebar di 35 Kabupaten/Kota.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tahun 2011 sebanyak ekor yang tersebar di 35 Kabupaten/Kota. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produksi Susu di Jawa Tengah, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Semarang Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menjadi pusat pengembangan sapi perah di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris, dengan jumlah penduduk sebagian besar bermata pencaharian di bidang pertanian, sedangkan kegiatan pertanian itu sendiri meliputi pertanian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh yang memiliki dua bentuk yaitu padat dan cair. Pangan merupakan istilah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Konsep Daya Saing Daya saing adalah suatu konsep komparatif dari kemampuan dan pencapaian dari suatu perusahaan, subsektor atau negara untuk memproduksi, menjual

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1985 TENTANG KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1985 TENTANG KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1985 TENTANG KOORDINASI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERSUSUAN NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. bahwa dalam rangka pemanfaatan produksi

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENETAPAN HARGA SUSU DI KOPERASI DENGAN STRUKTUR BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATERNAK SAPI PERAH

HUBUNGAN ANTARA PENETAPAN HARGA SUSU DI KOPERASI DENGAN STRUKTUR BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATERNAK SAPI PERAH HUBUNGAN ANTARA PENETAPAN HARGA SUSU DI KOPERASI DENGAN STRUKTUR BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATERNAK SAPI PERAH Studi Kasus Peternak Anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Cipanas Kabupaten Cianjur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian Indonesia akan dihadapkan pada perekonomian regional dan global, dimana batas antarnegara sudah tidak menajdi hambatan lagi. Kesepakatan yang melibatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah yang dimanfaatkan sebagian besar penduduk dengan mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian

Lebih terperinci

Disusun oleh : Dhea Ajeng Clara P NPM : Kelas : 2EA33

Disusun oleh : Dhea Ajeng Clara P NPM : Kelas : 2EA33 Disusun oleh : Dhea Ajeng Clara P NPM : 12213317 Kelas : 2EA33 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA 2014 Kata Pengantar Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan koperasi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan koperasi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan koperasi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Koperasi dapat membantu perekonomian masyarakat Indonesia karena koperasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia termasuk salah satu Negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai bobot badan antara 1,5-2.8 kg/ekor dan bisa segera

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai bobot badan antara 1,5-2.8 kg/ekor dan bisa segera BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Ayam broiler merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging. Ayam

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Populasi sapi perah yang sedikit, produktivitas dan kualitas susu sapi yang rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat Jenderal Peternakan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. pembangunan Nasional. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, merata, harga

BAB I. PENDAHULUAN. pembangunan Nasional. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, merata, harga BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Peningkatan ketahanan pangan Nasional pada hakekatnya mempunyai arti strategis bagi pembangunan Nasional. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, merata,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dan dari sekian banyak para pengusaha budidaya sapi di indonesia, hanya sedikit. penulis ingin mengangkat tema tentang sapi perah.

BAB I PENDAHULUAN. Dan dari sekian banyak para pengusaha budidaya sapi di indonesia, hanya sedikit. penulis ingin mengangkat tema tentang sapi perah. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agribisnis sapi perah di Indonesia merupakan industri peternakan rakyat, karena yang mengusahakannya adalah peternak skala kecil sampai skala besar. Dan dari sekian

Lebih terperinci

BAB VI KONDISI LINGKUNGAN KOMUNIKASI PEMASARAN KUD GIRI TANI

BAB VI KONDISI LINGKUNGAN KOMUNIKASI PEMASARAN KUD GIRI TANI BAB VI KONDISI LINGKUNGAN KOMUNIKASI PEMASARAN KUD GIRI TANI 6.1. Analisis Lingkungan Internal 6.1.1. Produksi dan Operasi Kegiatan produksi yang dilakukan KUD Giri Tani sudah cukup baik. KUD Giri Tani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. industri pertanian, dimana sektor tersebut memiliki nilai strategis dalam

I. PENDAHULUAN. industri pertanian, dimana sektor tersebut memiliki nilai strategis dalam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian dari pertumbuhan industri pertanian, dimana sektor tersebut memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Koperasi merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi Indonesia yang berperan dalam pengembangan sektor pertanian. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dengan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dengan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dengan bentuk negara yang berpulau-pulau menjadikan negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beserta analisisnya untuk mengukur laba yang diperloeh oleh perusahaan. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. beserta analisisnya untuk mengukur laba yang diperloeh oleh perusahaan. Dengan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha di Indonesia yang semakin kompetitif menuntut setiap perusahaan untuk bisa mengolah dan melaksanakan manajemennya menjadi lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor ekonomi yang utama di negara-negara berkembang. Peranan atau kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi suatu negara menduduki

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Data populasi sapi perah dan produksi susu

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Data populasi sapi perah dan produksi susu I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam perkembangan gaya hidup masyarakat pada saat ini tak terkecuali masyarakat Indonesia yang lebih mengutamakan kesehatan maka banyak produk kesehatan yang menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat cepat. Dengan adanya teknologi-teknologi yang canggih dapat

BAB I PENDAHULUAN. sangat cepat. Dengan adanya teknologi-teknologi yang canggih dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini pembangunan di Indonesia berjalan dengan sangat cepat. Dengan adanya teknologi-teknologi yang canggih dapat mempermudah dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Agribisnis merupakan salah satu sektor dalam kegiatan perekonomian berbasis kekayaan alam yang dimanfaatkan dalam melakukan kegiatan usaha berorientasi keuntungan. Sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan I. PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Pembangunan pertanian, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan produksi menuju swasembada, memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan serta meratakan taraf hidup

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia Industri pengolahan susu baik berskala kecil maupun berskala besar memiliki peranan penting dan strategis bagi perkembangan agribisnis

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.995, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMTAN. Penyediaan dan Peredaran Susu. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/PERMENTAN/PK.450/7/2017 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEREDARAN SUSU

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. 2,89 2,60 2,98 3,35 5,91 6,20 Makanan Tanaman Perkebunan 0,40 2,48 3,79 4,40 3,84 4,03. Peternakan 3,35 3,13 3,35 3,36 3,89 4,08

I PENDAHULUAN. 2,89 2,60 2,98 3,35 5,91 6,20 Makanan Tanaman Perkebunan 0,40 2,48 3,79 4,40 3,84 4,03. Peternakan 3,35 3,13 3,35 3,36 3,89 4,08 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pengembangan sub sektor peternakan perlu untuk dilakukan karena sub

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat mendukung berkembangnya sektor pertanian dan peternakan.

BAB I PENDAHULUAN. sangat mendukung berkembangnya sektor pertanian dan peternakan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Dimana sebagai negara agraris, memiliki letak geografis serta iklim yang sangat mendukung berkembangnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut dapat diraih apabila suatu perusahaan bisa mengambil keputusan secara

BAB I PENDAHULUAN. tersebut dapat diraih apabila suatu perusahaan bisa mengambil keputusan secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendistribusian adalah salah satu kegiatan pemasaran yang bertujuan untuk mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen sehingga penggunaannya

Lebih terperinci

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Hadirin sekalian yang saya hormati, Sambutan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Pada acara Kunjungan Industri di PT. Sarihusada Generasi Mahardika (SGM) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah Jakarta, 17 September 2015 Yth. Saudara Rahmat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kehidupan manusia dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang

I. PENDAHULUAN. kehidupan manusia dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang didalamnya terkandung nilai gizi

Lebih terperinci

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan LAMPIRAN 82 Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai A Penerimaan Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00 Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal, tetapi mencakup kawasan regional dan global sehingga setiap perusahaan berlomba untuk terus mencari

Lebih terperinci

7.2. PENDEKATAN MASALAH

7.2. PENDEKATAN MASALAH kebijakan untuk mendukung ketersediaan susu tersebut. Diharapkan hasil kajian ini dapat membantu para pengambil kebijakan dalam menentukan arah perencanaan dan pelaksanaan penyediaan susu serta mampu mengidentifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data strategis Kabupaten Semarang tahun 2013, produk sayuran yang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data strategis Kabupaten Semarang tahun 2013, produk sayuran yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Semarang memiliki potensi yang besar dari sektor pertanian untuk komoditas sayuran. Keadaan topografi daerah yang berbukit dan bergunung membuat Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Dalam kaitannya dengan pembangunan pertanian

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU ISSN:

Lebih terperinci

Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan

Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan Workshop FLPI Kamis, 24 Maret 2016 DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 1 Perkiraan Supply-Demand Daging Sapi Tahun 2015-2016 Uraian Tahun

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 41 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jabar 4.1.1 Sejarah dan Perkembangan KPSBU Jabar Sekitar tahun 1800an sapi perah diperkenalkan oleh bangsa Belanda

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Definisi Kemitraan Definisi kemitraan diungkapkan oleh Hafsah (1999) yang menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wirausaha memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi suatu negara, salah satu contohnya adalah negara adidaya Amerika. Penyumbang terbesar perekonomian Amerika

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Geografi Wilayah Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) Cibedug, yang terdiri dari Kampung Nyalindung, Babakan dan Cibedug, merupakan bagian dari wilayah Desa Cikole.

Lebih terperinci

KEBIJAKAN EKONOMI INDUSTRI AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA

KEBIJAKAN EKONOMI INDUSTRI AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA KEBIJAKAN EKONOMI INDUSTRI AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA Yusmichad Yusdja Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 PENDAHULUAN Indonesia memiliki prospek

Lebih terperinci

PERANAN KOPERASI UNIT DESA (KUD) TERHADAP P0ENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH

PERANAN KOPERASI UNIT DESA (KUD) TERHADAP P0ENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH PERANAN KOPERASI UNIT DESA (KUD) TERHADAP P0ENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH (Studi Kasus Peternakan Sapi Perah KUD Mandiri Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut) CHICHI RIZKY DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA

Lebih terperinci