BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan berisi penjelasan tentang latar belakang dilakukannya penelitian, perumusan masalah, keaslian penelitian, tujuan dan faedah penelitian. Motivasi yang mendorong dilakukannya penelitian dengan topik: Asesmen peran informasi geospasial dalam proses boundary making dan sengketa batas daerah pada era otonomi daerah di Indonesia adalah keinginan untuk mengeksplorasi lebih dalam peran dan kontribusi disiplin ilmuteknik Geodesi dan Geomatika dalam penetapan dan penegasan batas wilayah, terutama karena sering terjadinya sengketa batas daerah dalam kegiatan penegasan batas daerah pada era otonomi daerah yang luasdi Indonesia. Asesmen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan yang mencakup: identifikasi, analisis dan evaluasi. Hasil asesmen diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu solusi untuk meminimalkan terjadinya sengketa batas daerah di masa mendatang. I.1. Latar belakang Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998 melahirkan era Reformasi. Era reformasi di Indonesia yang dimulai pada tahun 1999 telah mengubah paradigma penyelenggaraan pemerintahan daerah dari yang selama Orde Baru ( ) sangat didominasi dengan pendekatan sentralistik menuju ke desentralisasi yang lebih luas (Hariyono, 2013). Pada era reformasi ini lahirlah satu paket undangundang otonomi daerah yaitu Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UU Otonomi Daerah) dan UU No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Lahirnya paket undang-undang tersebut merupakan kebijakan desentralisasi di bidang politik, administrasi dan fiskal menandai dimulainya Era Otonomi Daerah (OTDA) yang lebih luas di Indonesia (Suyanto, 2007). Sejak berlakunya paket undang-undang tersebut,daerah mempunyai peluang yang lebih mandiri dalam mengelola daerahnya sesuai kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Pada UU No.22 tahun 1999 yang kemudian

2 2 diganti dengan UU No.32 tahun 2004 dan diganti lagi dengan UU No.23 tahun 2014, hanya ada enam kewenangan yang tidak diberikan ke daerah yaitu bidangbidang: (1) politik luar negeri, (2)fiskal dan moneter, (3) pertahanan, (4) keamanan, (5) hukum dan (6) keagamaan. Dengan demikian, semenjak era OTDA yang luas, daerah mempunyai porsi kewenangan yang sangat besar dibandingkan dengan era sebelumnya. Dalam ilmu politik, pelimpahan kewenangan kepada daerah dikenal sebagai asas otonomi daerah yang merupakan bentuk kongkrit dari penyelenggaraan pemerintahan dengan asas desentralisasi politik (devolusi) dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi) (Imawan, 2007). Adanya pelimpahan wewenang yang luas kepada daerah untuk mengelola wilayahnya menciptakan suatu tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah. Salah satu pemanfaatan peluang tersebut adalah melakukan pemekaran wilayah, sehingga pada era OTDA yang luas banyak muncul daerah otonom baru (DOB) hasil pemekaran. Kebijakan pemekaran wilayah selama sepuluh tahun pelaksanaan otonomi daerah (tahun 1999 sampai dengan kebijakan moratorium pemekaran tahun 2009) telah menghasilkan 205 DOB yang terdiri atas 7 provinsi, 164 kabupaten dan 34 kota (Kemendagri, 2010). Penelitian Decentralization Support Facility (2007) menyimpulkan ada berbagai faktor penyebab yang mendorong munculnya pemekaran, yaitu: faktor kesejarahan, ketimpangan pembangunan, luasnya rentang kendali pelayanan publik dan tidak terakomodasinya representasi politik. Faktor penyebab pemekaran lainnya yang berupa penarik adalah limpahan fiskal yang berasal dari APBN berupa Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Penentuan DAU memperhatikan kebutuhan daerah yang tercermin dari data jumlah penduduk, luas wilayah, keadaan geografis dan tingkat pendapatan masyarakat dan potensi ekonomi daerah (Salamm, 2007). Setiap pemekaran wilayah, sebagai implementasi kebijakan otonomi daerah yang luas, pada dasarnya membawa implikasi dan konsekuensi yang luas sebagai akibat adanya perubahan-perubahan seperti: struktur pemerintahan, anggaran belanja pemerintah, batas wilayah dan luas wilayah, nama daerah, pembagian sumber penerimaan dan pendapatan daerah dengan daerah induk (Chalid, 2005).

3 3 Dalam hal batas wilayah, konsekuensi dari terjadinya pemekaran wilayah, antara lain perlunya penataan kembali batas wilayah daerah otonom baik daerah induk maupun DOB hasil pemekaran. Batas wilayah daerah otonom (provinsi dan kabupaten/kota) di Indonesia selanjutnya disebut batas daerah. Merujuk pada teori batas wilayah menurut Jones (1945), penataan batas daerah dapat dimasukan dalam terminologi boundary making yang memiliki pengertian sebagai suatu proses mewujudkan adanya garis batas wilayah administrasi daerah otonom. Dua tahapan boundary making yang sangat penting adalah penetapan (delimitation) dan penegasan (demarcation) (Donaldson dan Williams, 2008). Sebagai suatu proses, boundary making memiliki karakteristik yang sistematik dan memiliki tiga aspek yaitu aspek politik, hukum dan teknis (geospasial) (Jones, 1945; Srebro dan Shoshany, 2013). Penerapan azaz desentralisasi sebenarnya sudah diadopsi dalam sistem pemerintahan daerah sejak awal kemerdekaan yaitu dengan diundangkan lima Undang-undang (UU) tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah sebagai dasar untuk pelimpahan kewenangan dan pembagian wilayah, yaitu: (1) UU No.1 tahun 1945, (2) UU No.22 tahun 1948, (3) UU No.1 tahun 1957, (4) UU No.18 tahun 1965 dan (5) UU No.5 tahun 1974 (Suyanto, 2007). Namun dalam lima undangundang tersebut kontrol pemerintah pusat masih sangat kuat sehingga otonomi daerah hanya bersifat desentralisasi administratif belaka. Daerah tidak lebih dari hanya kepanjangan tangan untuk melaksanakan program-program pemerintah pusat, sementara kebijakan yang bersifat politik tetap diatur oleh pemerintah pusat (Soeaidy, 2007). Akibat dari kewenangan daerah yang masih terbatas, maka batas daerah yang berfungsi sebagai pemisah kewenangan antar daerah bukan merupakan faktor determinan sehingga relatif sedikit terjadi permasalahan (sengketa) yang terkait batas daerah (Kristiyono, 2008). Berbeda dalam hal memaknai batas daerah pada era sebelum Reformasi, dalam era OTDA yang luas, batas daerah merupakan salah satu faktor determinan bagi setiap daerah, karena keberadaan garis batas menentukan batas kewenangan pengelolaan wilayah dan kewenangan pengelolaan sumberdaya yang ada di daerah tersebut.

4 4 Sebagai ilustrasi bahwa pada era OTDA yang luas batas daerah menjadi faktor determinan, adalah merujuk pada UU No.32 tahun 2004 pasal 21 ayat (f) yang kemudian diganti dengan UU No.23 tahun 2014 pasal 289 ayat (4), bahwa Daerah mendapatkan dana bagi hasil (DBH) dari pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya yang berada di Daerah. Hak DBH diatur pada pasal 14 ayat (e) UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa DBH penerimaan pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan komposisi 84,5% untuk Pemerintah dan 15,5% untuk Daerah. Demikian juga dalam hal DBH penerimaan pertambangan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan (pasal 14 ayat f), dibagi dengan komposisi 69,5% untuk Pemerintah dan 30,5% untuk Daerah. Berdasarkan pasal 14 UU No.33 tahun 2004 seperti diuraikan sebelumnya, faktor alokasi DBH memicu setiap daerah menuntut kepastian posisi keberadaan SDA yang berarti menuntut ketegasan letak batas di lapangan, sehingga ketegasan letak batas menjadi faktor determinan yang menentukan kepastian daerah sebagai penghasil SDA (Zainie, 2007). Secara umum, pentingnya kejelasan dan ketegasan batas daerah adalah: (1) agar ada kejelasan cakupan wilayah dalam pengelolaan kewenangan administrasi pemerintahan daerah, (2) untuk menghindari tumpang tindih tata ruang daerah, (3) efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, (4) kejelasan luas wilayah, (5) kejelasan dalam hal administrasi kependudukan, (6) kejelasan dalam hal daftar pemilih (Pemilu, Pilkada), (7) kejelasan dalam hal administrasi pertanahan, (8) kejelasan dalam hal perijinan pengelolaan SDA (Subowo, 2009). Dua tahapan penting boundary making yang dilaksanakan pada sepuluh tahun awal era OTDA di Indonesia adalah penetapan dan penegasan batas daerah (Subowo, 2009). Penetapan batas daerah merupakan bagian dari proses pembentukan DOB. Salah satu proses dalam pembentukan DOB tersebut adalah proses boundary making untuk menetapkan batas daerah yang dibentuk, sehingga proses boundary making batas daerah di Indonesia adalah merupakan bagian dari

5 5 proses besar pemekaran wilayah yang berdimensi politik, hukum, ekonomi, sosial dan teknispemetaan. Secara praktis, dalam proses membagi-bagi permukaan bumi atas dasar satuan politik memerlukan ketersediaan IG khususnya peta, sehingga sering dikatakan bahwa peta merupakan infrastruktur dalam proses boundary making (Adler, 1995). Dalam hal peta, di Indonesia sejarah pemetaan sudah berlangsung cukup lama. Peta paling awal di Indonesia diperkirakan dibuat pada abad ke-13. Kegiatan survei pemetaan di Indonesia pada awalnya dilakukan pada masa kolonial Belanda yang menduduki Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Setelah kemerdekaan, pada tahun 1969 didirikan lembaga Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang bertugas membangun sistem koordinasi survei dan pemetaan di Indonesia (Ikawati dan Setiawati, 2009). Pada awal pembentukan Bakosurtanal, baru sekitar 15 % dari wilayah daratan Indonesia yang dibuat peta topografi skala 1: yang terkontrol secara geodetik dan hanya sekitar 26 % peta topografi kompilasi skala 1: dan 1: , sedangkan sisanya berupa peta-peta sketsa. Dalam waktu dua dasa warsa setelah berdirinya Bakosurtanal, kegiatan survei dan pemetaan yang dilakukan Bakosurtanal terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi geospasial (fotogrametri, satelit penginderaan jauh dan teknologi penentuan posisi GPS) sehingga kegiatan survei pemetaan dapat dilakukan lebih cepat, cakupan lebih luas serta skala yang lebih besar (Ikawati dan Setiawati, 2009). Sampai tahun 2008, cakupan peta rupabumi Indonesia (peta RBI) skala 1: telah mencapai seluruh wilayah Indonesia, sedangkan wilayah lain pada umumnya sudah dipetakan pada skala 1: sampai 1: (Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponimi BIG, 2013). Peta RBI yang diproduksi oleh Bakosurtanal yang kemudian pada tahun 2011 berganti nama dimenjadi Badan Informasi Geospasial (BIG), digunakan untuk berbagai keperluan antara lain untuk keperluan boundary making dalam pembentukan DOB (Khafid, 2013). Pembentukan DOB pelaksanaanya diatur dalam suatu peraturan perundangundangan. Dalam hal pemekaran wilayah yang didasarkan atas UU No.22 tahun 1999, pelaksanaanya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.129 tahun 2000

6 6 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Setelah UU No.22 tahun 1999 diganti dengan UU No.32 tahun 2004, maka PP No129 tahun 2000 juga diganti dengan PP No.78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Kedua PP tersebut menjadi pedoman dan kerangka kerja dalam pembentukan daerah. Setelah DOB terbentuk dengan disahkannya Undang-undang tentang Pembentukan Daerah (UUPD), pada setiap UUPD mengamanatkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk melakukan penegasan batas secara pasti di lapangan. Untuk pelaksanaan penegasan batas daerah Menteri Dalam Negeri mengeluarkan suatu pedoman teknis penegasan batas daerah. Pada awalnya pedoman teknis tersebut berupa surat edaran Menteri Dalam Negeri yang ditujukan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota yaitu surat edaran No.126/2742/SJ tanggal 27 November 2002 tentang Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah, kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.1 tahun 2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah yang kemudian pada tahun 2012 diganti lagi dengan Permendagri No.76 tahun 2012(Subowo, 2012). Sesuai perkembangan politik, ekonomi dan budaya masyarakat dunia maupun lokal suatu negara dalam memaknai batas, maka sering terjadi konflik atau sengketa terkait batas wilayah (Prescott, 2010). Di Indonesia seiring dengan perkembangan politik otonomi daerah seperti telah diuraikan sebelumnya, banyak terjadi sengketa batas mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota sampai desa (Kausar, 2009). Penambahan daerah melalui pemekaran wilayah berpotensi menimbulkan sengketa terutama akibat tidak jelasnya keberadaan batas daerah (Harmantyo, 2007). Di samping itu, sengketa batas daerah juga dipicu karena daerah kabupaten/kota sering menterjemahkan otonomi sebagai kewenangan untuk menggali pendapatan daerah yang sebanyak banyaknya melalui pajak dan retribusi serta eksploitasi SDA dengan mengabaikan kepentingan jangka panjang dan generasi mendatang (Dwiyanto, dkk., 2003). Sampai dengan akhir tahun 2012 tercatat ada 82 kasus sengketa batas daerah yang belum dapat diselesaikan. Bahkan 449 segmen dari 640 segmen batas daerah

7 7 yang belum ditegaskan diduga memiliki potensi sengketabatas (Kemendagri, 2012). Ada empat aspek penyebab sengketa batas daerah yaitu: (1) aspek yuridis, (2) aspek ekonomi, (3) aspek politik-pemerintahan dan (4) aspek sosio-kultural. Permasalahan aspek yuridis adalah terkait dengan ketidaksinkronan antara UUPD yang satu dengan lainnya, ketidaksinkronan antara batang tubuh dengan lampirannya terutama peta lampiran pada UUPD dan permasalahan kualitas peta sebagai infrastruktur yang digunakan dalam proses pembentukan DOB. Permasalahan aspek ekonomi pada dasarnya adalah berkaitan dengan masalah pembagian DAU dan DBH sumberdaya alam (kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi dan pertambangan panas bumi) (Mustofa, 2010). Kedua parameter tersebut sangat dipengaruhi oleh letak garis batas daerah di lapangan yang menentukan kepastian suatu daerah sebagai daerah penghasil. Aspek ketiga penyebab sengketa batas daerah adalah aspek politikpemerintahan. Aspek ini berkaitan dengan sumberdaya politik di daerah yang diperselisihkan, seperti jumlah pemilih dan perolehan suara bagi anggauta DPRD provinsi/kabupaten/kota dan adanya duplikasi pelayanan pemerintahan, jarak ke pusat pelayanan pemerintahan, atau keinginan suatu wilayah untuk bergabung dengan/dilayani oleh pemerintah daerah yang berdekatan yang pada akhirnya bermuara pada sistem keterwakilan daerah. Aspek keempat, yaitu sosio-kultural, utamanya adalah terkait adanya persepsi di masyarakat bahwa garis batas daerah akan memisahkan etnis dan hilangnya hak atas tanah ulayat/tanah adat, disamping adanya permasalahan kecemburuan sosial, isu pendatang dan penduduk asli, potensi sejarah riwayat konflik yang berkepanjangan. Ke-empat aspek permasalahan tersebut dapat terjadi secara kombinasi antara satu aspek dengan lainnya atau kombinasi dari keseluruhan aspek (Subowo, 2009). Berdasarkan fakta adanya berbagai permasalahan besar pemekaran wilayah yang timbul selama pelaksanaan otonomi daerah, pada tanggal 3 September 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di dalam Sidang Paripurna DPR-RI mengeluarkan kebijakan Moratorium (penghentian sementara) pembentukan DOB. Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, Pemerintah telah menyusun suatu

8 8 Desain Besar Penataan Daerah (Desartada) di Indonesia untuk tahun 2010 sampai dengan tahun Desartada ini telah disetujui dalam Rapat Kerja antara Pemerintah dan Komisi II DPR-RI pada tanggal 21 Sepetember 2010 (Wasistiono, dkk., 2010). Salah satu dimensi fundamental yang digunakan dalam menyusun kerangka pikir Desartada adalah dimensi geografis. Dimensi geografis menggambarkan bahwa setiap daerah otonomi berdiri di atas sebuah wilayah geografis tertentu yang memenuhi syarat, baik dilihat kejelasan cakupan wilayah dan batas-batasnya pada saat daerah dibentuk maupun proyeksinya kedepan untuk menampung dan mendukung aktivitas manusia yang ada di atasnya. Dimensi geografis tersebut harus tercermin dalam suatu peta (informasi geospasial) baik peta dasar maupun peta tematik wilayah. Untuk membentuk suatu daerah otonom provinsi, kabupaten dan kota diperlukan syarat minimum tentang luas dan karakteristik geografis (Wasistiono, dkk., 2010). Salah satu tujuan kebijakan Desartada adalah merumuskan prosedur baru bagi pembentukan daerah otonom untuk proses pembentukan DOB di masa depan (Wasistiono, dkk., 2010). Untuk itu perlu terlebih dahulu dilakukan evaluasi secara menyeluruh, sungguh-sungguh dan konsisten terhadap hasil-hasil pemekaran daerah selama tahun 1999 sampai dengan tahun Dalam hal ini melakukan evaluasi menyeluruh berarti melakukan asesmen, yaitu melakukan taksiran yang bersifat deskriptif yang menggambarkan sesuatu secara holistik (menyeluruh) yang digunakan untuk menyusun suatu program yang dibutuhkan dan bersifat realistik sesuai kenyataan secara obyektif (Banta, 1996). Salah satu aspek yang perlu dievaluasi adalah informasi geospasial karena secara teori dan praktek, informasi geospasial (peta) merupakan infrastruktur penting dalam boundary making dan bila ketersediaannya tidak memadai bisa berkontribusi menjadi penyebab sengketa (Blake, 1995). Disamping itu, peta juga merupakan bukti yang memainkan peranan penting dalam menjawab pertanyaanpertanyaan mengenai letak garis batas khususnya di proses peradilan (Akweenda, 1990).

9 9 Beberapa contoh kasus sengketa batas daerah di Indonesia yang muncul pada era otonomi daerah yang luas yang bersumber dari peta adalah kasus sengketa batas daerah: (1) antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar (Kemendagri, 2012), (2) antara Kabupaten Magelang dengan Kota Magelang (Kristiyono, 2008), (3) antara Kabupaten Nunukan dengan Kabupaten Tana Tidung (Kemendagri, 2012), antara Kabupaten Tebodengan Kabupaten Bungo (Nurbardi, 2008), (4) sengketa batas antara Provinsi Jambi dengan Provinsi Kepulauan Riau terkait kepemilikan Pulau Berhala (Sumaryo, 2012) dan sengketa batas antara Kabupaten Kampar dan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau di kwasan sumur minyak Langgak (LPPM-UIR, 2014). I.2.Perumusan masalah Dua tahapan penting boundary making yang dilaksanakan pada sepuluh tahun awal era OTDA di Indonesia adalah penetapan dan penegasan batas daerah. Penetapan batas daerah merupakan bagian dari proses pembentukan DOB. Pembentukan DOB pelaksanaanya diatur dalam PP No.129 tahun 2000 tentangpersyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah yang kemudian diganti dengan PP No.78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. Setelah DOB dibentuk dan batas daerah ditetapkan melalui Undang-undang Pembentukan Daerah (UUPD), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Dalam Negeri diberi amanat oleh UUPD untuk melaksanakan penegasan batas daerah. Pelaksanaannya berpedoman pada Permendagri No.1 tahun 2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah. Secara teori dan empirik, dalam proses penetapan diperlukan IG sebagai infrastruktur untuk memilih letak dan mendefinisikan batas wilayah (Jones, 1945). Di sisi lain, dalam teori diagnosis penyebab konflik Moore (1986) disebutkan bahwa data/informasi dapat berkontribusi menjadi penyebab sengketa. Dalam proses penegasan batas daerah di Indonesia, fakta yang ada menunujukkan banyak terjadi sengketa batas daerah. Dalam hal sengketa batas, secara teori dan empirik,

10 10 IG dapat berkontribusi menjadi penyebab sengketa batas wilayah (Blake, 1995; Prescott, 1987). Berdasar permasalahan yang telah diuraikan, sangat dimungkinkan kerangka kerja yang diatur dalam PP No.129 tahun 2000 dan PP No.78 tahun 2007 berpengaruh terhadap proses penyelenggaraan maupun kualitas hasil penetapan. Selain itu dimungkinkan juga regulasi yang mengatur pelaksanaan penegasan batas daerah (Permendagri No.1 tahun 2006) juga berpengaruh terhadap pelaksanaan penegasan batas daerah. Tidak tertutup kemungkinan, keduanya berdampak lanjutan terhadap terjadinya sengketa batas daerah. Pertanyaan penelitian yang perlu dijawab sehubungan dengan permasalahan penelitian tersebut adalah: 1) Apakah regulasi PP No.129 tahun 2000, PP N0.78 tahun 2007 dan Permendagri No.1 tahun 2006 berpengaruh terhadap kerangka kerja pelaksanaan dan hasil penetapan dan penegasan batas daerah pada sepuluh tahun pelaksanaan otonomi daerah yang luas di Indonesia? 2) Bagaimana kondisi IG yang ada di Indonesia dalam hal ketersediaannya untuk mendukung penetapan batas daerah dalam pembentukan DOB pada sepuluh tahun pelaksanaan otonomi daerah yang luas di Indonesia? 3) Bagaimana penggunaan IG dalam proses, dan sebagai luaran (output) dalam penetapan batas daerah pada era otonomi daerah yang lauas di Indonesia? 4) Apakah IG berkontribusi terhadap munculnya sengketa batas daerah pada penegasan batas daerah di era otonomi daerah yang luas di Indonesia? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dilakukan identifikasi terhadap kerangka kerja penetapan dan penegasan batas daerah, identifikasi terhadap ketersediaan IG yang digunakan dan dihasilkan dalam proses penetapan batas daerah, evaluasi terhadap penggunaan IG dalam proses penetapan batas daerah dan analisis kontribusi IG dalam terjadinya sengketa batas daerah pada sepuluh tahun era otonomi daerah di Indonesia.

11 11 Mengingat kompleksitas yang tinggi dalam proses boundary making batas daerah yang terkait dengan era dan proses politik serta perkembangan informasi geospasial, maka penelitian ini hanya difokuskan pada: 1. Era otonomi daerah dibatasi pada periode dimulainya otonomi daerah tahun 1999 sampai dikeluarkannya kebijakan moratorium pemekaran wilayah oleh Pemerintah dan DPR tahun Obyek penelitianyang dilakukan dalam penelitian ini hanya berfokus pada batas daerah yang secara geografis terletak di daratdengan pertimbangan : a. batas daerah di darat bukan batas imajiner sehingga dapat dilakukan demarkasi di lapangan dan secara fisik dapat dipasang tanda-tanda batas yang dapat dikenali di lapangan, b. keberadaan batas wilayah di darat langsung bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan manusia seperti sosial, ekonomi, politik, dan budaya, c. fakta yang ada menunjukkan bahwa sengketa batas daerah lebih banyak terjadi pada batas daerah di darat, d. batas laut daerah tidak dikenal sebelumnya. 3. Asesmen peran IGpada penelitian ini difokuskan kepada peta dasar yang digunakan dalam penetapan dan peta tematik hasil penetapan yaitu peta wilayah administrasi yang merupakan lampiran UUPD. Hal ini dilakukan dengan mendasarkan pada pendapat Jones (1945) bahwa tahapan delimitasi (penetapan) merupakan tahapan yang sangat krusial dan harus disiapkan secara sungguh-sungguh karena hasilnya mempengaruhi tahap penagasan (demarkasi). 4. Dokumen UUPD beserta peta wilayah administrasi lampiran UUPD yang diteliti adalah UUPD yang dibentuk atas dasar PP No.129 tahun 2000 dan PP No.78 tahun Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa kedua PP tersebut berisi berbagai persyaratan pembentukan DOB termasuk persyaratan IG.

12 12 I.3. Keaslian penelitian Untuk memberi gambaran perbedaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya, terlebih dahulu diilustrasikan hubungan antara ranah keilmuan boundary making, geospasial, dan konflik. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk tiga lingkaran yang berpotongan seperti diilustrasikan pada Gambar 1.1. Dari perpotongan tiga lingkaran tersebut terbentuksuatu area permasalahan yang dapat diteliti dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang. Penelitian sebelumnya fokus pada aspek boundary making Boundary making Area permasalahan yang dapat diteliti Penelitian sebelumn ya fokus pada aspek konflik/se ngketa Konflik Geospasial Penelitian yang dilakukan fokus pada informasi geospa sial Asesmen Peran Informasi Geospasial dalam Proses BoundaryMaking dan Sengketa Batas Daerah pada Era Otonomi Daerah di Indonesia Gambar 1.1.Obyek penelitian pada area permasalahan dari hubungan antararanah keilmuan boundary making, geospasial dan konflik/sengketa Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk batas daerah dan batas wilayah internasional disajikan pada Tabel 1.1.

13 13 Tabel 1.1. Penelitian batas daerah dan batas internasional No Peneliti Tahun Judul Metode Hasil 1 Welfizar 2004 Analisis Alternatif Kebijakan Penyelesaian Konflik Perubahan Batas Wilayah Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Deskriptif Sengketa batas disebabkan adanya penolakan terhadap Peraturan Pemerintah No.84 tahun 1999 tentang Perubahan Batas Wilayah Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam namun aspirasi tersebut tidak diakomodasi oleh 2 Mursyi dyansah 3 Kristiyo no 2007 Konflik tapal batas antara Kabupaten Banjar dengan Kabupaten Tanah Bumbu di Provinsi Kalimantan Selatan Konflik dalam Penegasan Batas Daerah antara Kota Magelang dengan Kabupaten Magelang, Analisis Terhadap Faktor-faktor Penyebab dan Dampaknya. Deskriptif dengan analisis segitiga dimensi konflik. Deskriptif pemerintah. Faktor penyebab konflik: (1) struktural,(2) perbedaan pendapat penggunaan peta dasar sebagai acuan; (3) perubahan nilai kognitif masyarakat Dayak tentang tapal batas. Penyebab konflik, faktor pemicu konflik dan faktor akselator yang menyebabkan belum terwujudnya batas yang jelas dan pasti. Dampak konflik berupa dualisme kewenangan.

14 14 Tabel 1.1 lanjutan No Peneliti Tahun Judul Metode Hasil 4 Siswani 2008 Problem Yuridis Pemekaran Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Pendekata n yuridis empiris dan historis Penyebab sengketa: (1) Persekutuan Masyarakat Adat Batak Timur menolak bergabung dengan kabupaten Serdang Bedagai, (2) Kabupaten Deli Serdang belum mau menyerahkan aset daerah, dana daerah serta sebagian pegawai PNS ke Pemerintah Kabupaten Serdang 5 Nurbardi 2008 Konflik Batas Wilayah di Era Otonomi Daerah dan Upaya Penyelesaiannya, Studi Kasus Konflik Batas Wilayah antara Kabupaten Tebo Dengan Kabupaten Bungo Provinsi Jambi 6 Harman tyo 2007 Pemekaran Daerah dan Konflik Keruangan, Kebijakan Otonomi Daerah dan Implementasiny a di Indonesia Deskriptif dengan pendekata n yuridis sosiologis Komparati f dan deskriptif kualitatif Bedagai. Penyebab konflik batas wilayah: faktor hukum dan faktor non hukum. Penyelesain hukum diusulkan melalui Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. Non Hukum melalui musyawarah, kerjasama antar daerah, sosial budaya. (1) Jumlah ideal DOB di Indonesia, (2) diproyeksikan 2760 potensi konflik akibat pemekaran, (3) garis batas darat potensial terjadi konflik keruangan.

15 15 Tabel 1.1. lanjutan No. Peneliti Tahun Judul Metode Hasil 7 Al-Sayel, dkk International Boundary Making- Three Case Studies 8 Fatile 2011 Management of Inter and Intra States Boundary Conflicts in Nigeria an Empirical Approach 9 Mahendra 2011 Harmonisasi Hukum Pengembanga n Kawasan Perbatasan NKRI Berbasis Teknologi Geospasial Deskriptif, analisis komparatif Deskriptif, pendekatan empiris Deskriptif, pendekatan empiris dari aspek hukum, kelembaga an dan teknologi Pada tiga kasus demarkasi batas internasional, yaitu Indonesia- Timor Leste, Nigeria- Kamerun dan Saudi- Yaman, citra satelit berperan penting untuk rekonstruksi batas pada tahap demarkasi. Dokumentasi hasil boundary making pada tiga kasus boundary making kurang sesuai standar spesifikasi ISO seperti ISO untuk standard spesifikasi produk, ISO untuk standard metadata. Mencatat dua instrumen utama untuk pengelolaan batas wilayah federal dan batas wilayah lokal di Negeria, yaitu: instrumen hukum dan instrumen teknis berupa hasil survei pemetaan dari kegiatan demarkasi. (1) Perlu UU khusus yang mengatur batas wilayah NKRI, (2) Kawasan perbatasan NKRI terlalu banyak institusi yang mengelola sehingga tidak fokus, diusulkan satu lembaga, (3) Dalam pengelolaan perbatasan NKRI perlu berbasis teknologi geospasial.

16 16 Penelitian-penelitian yang telah dilakukan seperti pada Tabel 1.1. menunjukkan bahwa penelitian nomer 1 sampai dengan nomer 5 adalah penelitian dengan obyek sengketa dan penelitian nomer 6 sampai dengan nomer 9 adalah penelitian obyek boundary making khususnya pada tahap manajemen kawasan perbatasan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejauh ini penelitian yang telah dilakukan, baik batas daerah maupun batas internasional diteliti dari sudut pandang aspek boundary making dan sengketa dengan pendekatan deskriptif. Penelitian yang dilakukan tersebut pada umumnya bertujuan untuk mencari penyebab terjadinya sengketa, memetakan aktor yang berpengaruh dalam sengketa dan kemudian menganalisis dampaknya baik terhadap pemerintah daerah/negara yang bersengketa maupun terhadap kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan. Dalam penelitian ini, kajian batas wilayah yang dilakukan adalah mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi peran IG di dalam proses boundary making khususnya dalam tahap penetapan dan penegasan batas daerah pada era OTDA yang luas di Indonesia. Penelitian yang dilakukan dalam disertasi ini sangat berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada aspek sengketa. I.4. Tujuan penelitian Berdasar rumusan masalah seperti diuraikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah: 1) Teridentifikasi kerangka kerja penetapan dan penegasan batas daerah pada sepuluh tahun pelaksanaan otonomi daerah yang luas di Indonesia, 2) Teridentifikasi kondisi IG yang ada di Indonesia dalam hal ketersediaannya untuk mendukung penetapan batas daerah dalam pembentukan DOB, 3) Diperoleh hasil evaluasi penggunaan IG pada proses dan sebagai luaran (output) dalam penetapan batas daerah pada era otonomi daerah yang luas di Indonesia,

17 17 4) Diperoleh analisis kontribusi IG terhadap munculnya sengketa batas daerah dalam tahap penegasan batas daerah pada era otonomi daerah yang luas di Indonesia. I.5. Faedah yang diharapkan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan faedah: 1) Kontribusi bagi perkembangan kajian aplikasi ilmu Geodesi dan Geomatika dalam studi batas wilayah (boundary making) yaitu penguatan peran dan perumusan kebutuhan informasi geospasial untuk penetapan batas daerah otonom di Indonesia ke masa depan, 2) Kontribusi bagi perumusan desain model kerangka kerja penetapan dan penegasan batas daerah. Hal ini terkait dengan diundangkannya UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 32 tahun 2004, 3) Sebagai bahan pertimbangan penyusunan kebijakan nasional dalam mengurangi potensi terjadinya sengketa batas daerah.

18 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini menguraikan tentang tinjauan pustaka. Pada tinjauan pustaka diuraikan tentang perkembangan teori boundary making batas wilayah internasional mulai abad 19 sampai abad 20 dan relevansinya pada abad 21. Dalam tinjauan pustaka juga diberikan gambaran peran dan kontribusi geospasial (IG dan teknologi geospasial) dalam konteks batas wilayah. Selanjutnya ditinjau berbagai kasus sengketa batas wilayah baik batas wilayah internasional sebagai batas kedaulatan antar negara maupun sengketa batas daerah di Indonesia yang merupakan batas wilayah administrasi pengelolaan otonomi pemerintahan. II.1. Boundary making batas wilayah internasional Dalam sub bab ini diuraikan tentang batas wilayah internasional meliputi perkembangan teori boundary makingdan relevansi teori boundary making untuk abad 21. II.1.1.Perkembangan teori boundary making Sejarah batas wilayah internasional bermula dari zaman kolonial, ketika bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda dan Perancis pada abad ke 16 mulai melakukan alokasi dan kesepakatan terhadap pembagian wilayah secara umum untuk menguasai wilayah yang diduduki. Pada tahap alokasi ini dihasilkan suatu garis yang disebut sebagai garis alokasi (allocation lines) yang menentukan lingkaran pengaruh atau spheres of influence terhadap wilayah yang dikuasainya (Jones, 1945). Alokasi menghasilkan overlapping area sehingga antar negara kolonial harus melakukan kesepakatan untuk melakukan delimitasi garis batas dan hasil delimitasi garis batas tersebut dituangkan dalam perjanjian (treaty). Pada kemudian hari setelah negara-negara yang dijajah merdeka, garis hasil delimitasi dalam treaty ditetapkan menjadi batas wilayah negara yang merdeka.hal ini sesuai dengan prinsip hukum internasional uti possidetis juris bahwa wilayah untuk negara yang baru merdeka adalah mewarisi wilayah negara

19 19 penjajah yang berkuasa sebelumnya atas satu wilayah tertentu. Batas wilayah negara yang sekarang ada di dunia pada dasarnya merupakan warisan garis batas dari zaman kolonial (Caflisch, 2006). Dari pengalaman empirik praktek penentuan batas internasional kemudian berkembang teori dasar boundary makingmoderen. Menurut Srebro dan Shoshany (2013), teori boundary making moderen yang digunakan dalam praktek batas internasional pada awalnya dibangun secara berturut-turut oleh Curzon (1907) yang bukunya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1896, Holdich (1916), Fawcett (1918) dan McMahon (1935). Penulis tersebut adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam berbagai kasus boundary making batas internasional dan kemudian mempublikasikannya. Sebagai catatan bahwa penulis tersebut telah mengenalkan perbedaan istilah yang sangat penting dalam tahapan boundary making yaitu perbedaan antara delimitasi dan demarkasi. Menurut mereka delimitasi merupakan kerja persiapan untuk mendefinisikan garis batas di dalam perjanjian dalam bentuk narasi dengan kalimat atau dalam bentuk gambar di peta, sedangkan demarkasi merupakan kegiatan meletakan garis batas di lapangan setelah perjanjian ditandatangani. Menurut Donaldson dan Williams (2008), publikasi yang dilakukan oleh Lapradelle (1928) dan Jones (1945) merupakan fase kedua perkembangan teori boundary making. Lapradelle (1928) dalam Donaldson dan Williams (2008) dan Srebro dan Shoshany (2013) menjelaskan bahwa boundary making meliputi tiga tahapan, yaitu: preparation, decision dan execution. Kemudian Jones (1945) membagi tahapan boundary making menjadi empat tahap, yaitu: (1) alokasi (allocation),(2) delimitasi (delimitation), (3) demarkasi (demarcation) dan (4) mengadministrasikan batas wilayah (administration). Menurut Jones (1945), alokasi adalah keputusan politik untuk mengalokasi wilayah teritorial, delimitasi merupakan tahap memilih dan mendefinisikan garis batas wilayah di dalam perjanjian yang lebih dominan menyangkut aspek hukum, demarkasi adalah memasang tanda batas di lapangan yang menyangkut aspek teknis survei pemetaan dan administrasi adalah mengadministrasikan batas wilayah. Prescott (1987) menyebutkan bahwa pengertian preparation, decision dan execution yang dikemukakan oleh Lapradelle (1928) sama maknanya dengan allocation,

20 20 delimitation dan demarcation yang dikemukakan oleh Jones (1945). Tahapan boundary making Jones (1945) oleh Pratt (2006) digambarkan dalam bentuk diagram seperti disajikan pada Gambar 2.1. ALLOCATION (Alokasi) DELIMITATION (Delimitisasi) DEMARCATION (Demarkasi) ADAMINISTRATION (Administrasi) Gambar 2.1. Tahapan boundary making Jones (1945) menurut Pratt (2006) Teori lain yang lebih baru ditulis oleh Nichols (1983) dalam bukunya Tidal Boundary Delimitation yang digunakan untuk boundary making batas wilayah maritim. Buku ini diterbitkan oleh Department of Surveying Engineering, University of New Brunswick, Canada tahun 1983 sebagai laporan penelitian No Menurut Nichols (1983) proses boundary making batas wilayah maritim disebut delimitation (delimitasi). Delimitasi adalah proses mewujudkan batas wilayah maritim bisa melalui deklarasi, perjanjian atau judicial settlement. Kegiatannya terdiri atas tiga komponen yaitu: pendefinisian (definition), deliniasi (delineation) dan demarkasi (demarcation). Proses delimitasi batas wilayah maritim menurut Nichols (1983) digambarkan pada Gambar 2.2.

21 21 DELIMITASI POLITIK- HUKUM HUKUM- TEKNIS DEFINISI DELINIASI DEMARKASI HUKUM SURVEI Gambar 2.2. Komponen-komponen delimitasi batas wilayah maritim (Nichols, 1983) Dalam perkembangan teori boundary making batas internasional telah terjadi evolusi yang dimulai sejak peletakan dasar-dasar teori boundary making moderen di akhir abab 19 sampai awal abad 21. Pada era pasca kolonial khususnya setelah Perang Dunia I dan Perang Dunia II banyak negara koloni bangsa Eropa di Asia, Afrika dan Amerika Latin memperoleh kemerdekaan. Garis alokasi yang telah didelimitasi warisan kolonial berubah menjadi batas internasional (Caflisch, 2006; Pratt, 2006; Srebro dan Shoshany, 2013). Setelah negara-negara jajahan merdeka, tahapan alokasi dianggap sudah berakhir, tetapi dua tahap penting tetap ada sampai saat ini yaitu delimitasi dan demarkasi. Setelah tahap demarkasi selesai dilakukan, berkembang tahap pemeliharaan (maintenance) dan manajemen perbatasan (border management). Dalam tahap manajemen perbatasan dikelola berbagai bidang meliputi manajemen akses, manajemen keamanan, manajemen lingkungan, manajemen sumberdaya dan manajemen infrastruktur, sehingga tahapan boundary making Jones (1945) pada awal abad 21 telah berkembang seperti digambarkan pada Gambar 2.3. (Pratt, 2011).

22 22 ALOKASI AKSES, KEAMANAN, LINGKUNGAN, DELIMITASI DEMARKASI PEMELI HARAAN MANAJEMEN SUMBERDAYA, INFRASTRUK TUR Gambar 2.3. Pengembangan model boundary making Jones menurut Pratt (2011) Pada era pasca tahun 1989 terlihat fenomena munculnya negara-negara baru di luar konteks dekolonisasi, yaitu negara baru yang dihasilkan dari pembubaran negara federasi Uni Soviet dan Republik Federasi Sosialis Yugoslavia (SFRY). Akibat pembubaran negara federasi tersebut maka batas wilayah administarsi pada negara federasi berubah menjadi batas internasional melalui perjanjian (treaty) atau kesepakatan (Kolossov, 1992). Penerapan prinsiputi possidetis jurisdalam konteks kolonialdalam situasi non-kolonial masih menjadi kontroversi, tetapi melakukan "upgrade" status bekas batas administrasi internal suatu negara menjadi batas internasional dalam kasus di wilayah SFRY dan Uni Soviet, dalam kenyataannya tetap diterima oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam konteks batas internasional negara baru hasil pembubaran suatu negara federasi tersebut, secara praktek teori boundary making Jones tetap digunakan sebagai acuan untuk melakukan delimitasi dan demarkasi batas negara-negara baru bekas federasi. Hal ini menunjukkan bahwa delimitasi dan demarkasi sesuai teorinya Jones tetap

23 23 digunakan dalam melakukan "upgrade" status bekas batas administrasi internal suatu negara menjadi batas internasional (Vadmir, 2010). II.1.2. Relevansi teori boundary making Dalam perkembangan aplikasi teori boundary making, teori Jones (1945) terutama dalam hal kosa kata delimitasi dan demarkasi telah memiliki pengaruh yang kuat dan sangat menonjol dalam praktek maupun dalam hukum internasional. Hal ini ditandai dengan banyaknya keputusan-keputusan oleh Mahkamah Internasional dan Resolusi PBB mengenai batas wilayah menggunakan kosa kata delimitasi dan demarkasi. Sebagai contoh dalam keputusan Mahkamah Internasional tahun 1962 tentang sengketa batas Thailand- Kamboja dalam memperebutkan Candi Preah Viheardan Resolusi PBB No.687 tahun 1991 tentang pembentukan Komisi Demarkasi Irak-Kuwait (Donaldson dan Williams, 2008). Walaupun teori Jones (1945) telah memiliki pengaruh kuat sejak teori tersebut dipublikasikan dan kemudian diaplikasikan dalam praktek penentuan batas wilayah internasional, namun banyak dipertanyakan relevansi teori tersebut untuk diaplikasikan pada abad 21 terutama terkait dengan adanya pandangan borderless, perkembangan teknologi geospasial dan kegagalan kasus penyelesaian sengketa batas Eritrea-Ethiopia (Donaldson dan Williams, 2008). Oleh sebab itu Donaldson dan Williams (2008) kemudian melakukan analisis terhadap relevansi teori boundary making Jones (1945) untuk diaplikasikan pada abad 21. Hasil penelitian tersebut, kemudian dipublikasikan dalam artikelberjudul: Delimitation and Demarcation: Analysing the Legacy of Stephen B Jones s Boundary Making dan diterbitkan dalam jurnal Geopolitik, 13:4, Beberapa kesimpulan hasil analisis relevansi teori Jones (1945) untuk abad 21 yang dilakukan oleh Donaldson dan Williams (2008) dapat dirangkum sebagai berikut: 1) Tahapan delimitasi dan demarkasi merupakan tahapan yang mendasar di dalam boundary making dan secara praktis masih digunakan sebagai pedoman dalam penentuan batas dan penyelesaian sengketa batas di berbagai belahan dunia. Dalam proses delimitasi, batas harus

24 24 didefinisikan secara tertulis dalam perjanjian bilateral sehingga delimitasi memiliki aspek legal. Jones dengan tegas menyatakan bahwa delimitasi merupakan proses dua tahap (two-stage process) yaitu memilih garis batas dan mendefinisikan garis batas. Selain itu Jones juga mengingatkan agar dalam pemilihan dan pendefinisan garis batas harus sedapat mungkin mengurangi friksisehingga menghasilkan suatu batas yang memberi peluang terbaik untuk dimulainya hubungan yang harmonis antara negara yang berbatasan. 2) Sebagai suatu kerangka kerja yang sistematik, maka Jones (1945) memberikan catatan penting, yaitu: karena boundary making adalah suatu proses yang berkesinambungan, mulai dari tahap awal alokasi sampai tahapan akhir administrasi, maka kesalahan di suatu tahapan berpengaruh pada tahapan berikutnya. Oleh sebab itu informasi yang benar tentang daerah perbatasan harus diketahui seawal mungkin di dalam proses boundary making. 3) Pengertian demarkasi menurut Jones tidak sesederhana hanya mencari lokasi untuk memasang pilar seperti yang tertulis dalam perjanjian atau tergambar di peta, namun adalah suatu proses adaptasi dari batas yang sudah didelimitasi dalam perjanjian ke dalam kondisi lokal di area perbatasan. Karena itu para demarkator sebenarnya adalah sebagai penyesuai akhir (the final adjusment) garis batas hasil delimitasi ke kondisi realitas lapangan. Dalam proses demarkasi diperlukan ahli-ahli teknis seperti kartografer, surveyor dan geografer yang sering disebut demarkator. Donaldson dan Williams (2008) memberi catatan bahwa teori boundary making yang ditulis Jones merupakan tonggak sejarah yang sangat penting di dalam mendekatkan aspek-aspek teknis (demarkasi) ke aspek legal (delimitasi). 4) Proses boundary making Jones (1945) pada dasarnya merupakan kegiatan yang memiliki konsep yang bersifat kontraktual (contractual concept), artinya bahwa antara dua negara harus sepakat terhadap suatu

25 25 garis batas dan tetap mempertahankan posisinya setelah terjadi kesepakatan. 5) Pada abad 21 telah terjadi perkembangan teknologi geospasial yang sangat pesat yang sudah berbeda dibanding pada saat teori Jones ditulis tahun Perkembangan tersebut adalah penentuan posisi dengan Global Positioning System (GPS), teknologi satelit untuk mendapatkan citra (image) dengan resolusi tinggi dan teknologi komputer yang telah membawa abad dua puluh satu ini pada era teknologi dijital. Perubahan tersebut dapat mengubah baik peralatan maupun metode yang digunakan dalam proses delimitasi, demarkasi maupun administrasi batas wilayah. 6) Di bagian akhir analisis yang dilakukan oleh Donaldson dan Williams (2008) menyimpulkan bahwatahap delimitasi dan demarkasi sesuai teori Jones (1945) tetap merupakan panduan yang ideal dalam boundary making di masa depan dan merupakan kerangka yang sangat baik untuk melakukan analisis terhadap sengketa batas wilayah yang diakibatkan kesalahan dan kekurangan informasi perbatasan.walaupun abad 21 merupakan era globalisasi khususnya dalam perdagangan dan arus informasi yang memunculkan pandangan borderless, namun keberadaan batas negara tetap penting untuk menandai batas kedaulatan dan hukum suatu negara dengan negara lain. Berdasarkan tinjauan pustaka seperti yang telah diuraikan sebelumnya, disimpulkan ada tiga teori boundary making batas wilayah internasional yang menonjol, yaitu teori yang dikemukakan oleh Lapradelle (1928), Jones (1945) dan Nichols (1983). Relevansi hasil tinjauan pustaka dengan penelitian yang dilakukan dapat diperoleh dari jawaban atas dua pertanyaan berikut ini. Pertama, dapatkan teori boundary making batas internasional digunakan sebagai pijakan penelitian dengan obyek peran IG dalam proses boundary making batas daerah dan sengketa batas daerah di Indonesia?. Uraian berikut adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

26 26 Karakteristik boundary making pada dasarnya merupakan suatu proses yang terkait dengan aspek poltik, hukum dan teknis. Merujuk pada Sutisna, dkk., (2008), perbandingan aspek politik, hukum dan teknis antara batas internasional dan batas daerah adalah seperti uraian singkat yang disajikan pada Tabel 2.1. Tabel 2.1.Perbandingan aspek politik, hukum dan teknis antara batas internasional dan batas daerah (Sutisna, dkk., 2008) Aspek Batas internasional Batas daerah Politik Politik internasional, hubungan antar negara, pemisah kedaulatan Politik nasional dalam rangka desentralisasi, hubungan antar daerah, pemisah kewenangan pengelolaan administrasi Hukum Teknis (geospasial) Rezim hukum internasional: uti possidetis juris, UNCLOS 1982, perjanjian antar negara Geospasial (jarak, azimuth, sudut, peta, GPS/GNSS, remote sensing, SIG) wilayah Rezim hukum nasional: UUD- 1945, UU No. 32 th kemudian diganti dengan UU No.23 th. 2014, Peraturan Pemerintah dan Permendagri Geospasial (jarak, azimuth, sudut, peta, GPS/GNSS, remote sensing, SIG) Tabel 2.1 menunjukkan bahwa dalam aspek politik dan hukum terlihat jelas ada perbedaan antara boundary making batas internasional dengan batas daerah, namun dalam aspek teknis (geospasial) keduanya sama karena geospasial (data, IG dan teknologi) pada dasarnya bersifat universal. Karena obyek penelitian adalah IG, maka penulis berpendapat teori boundary making batas internasional dapat digunakan sebagai pijakan dalam penelitian ini. Pertanyaan yang kedua, teori boundary making menurut siapa yang dapat digunakan? Penulis berpendapat bahwa karena obyek penelitian juga terkait sengketa, maka teori yang dikemukakan oleh Jones (1945) dapat dipilih sebagai pijakan dalam penelitian ini. Pemilihan tersebut didasarkan atas hasil analisis yang telah dilakukan oleh Donaldson dan Williams (2008) yang menyebutkan bahwa teori boundary making Jones (1945) merupakan kerangka yang baik untuk

27 27 melakukan analisis sengketa batas wilayah yang diakibatkan kesalahan dan kekurangan informasi perbatasan. II.2. IG dalam konteks batas wilayah Boundary making pada hakekatnya merupakan proses partisi atau membagibagi permukaan bumi. Permukaan bumi tersebut bisa mulai dari persil (bidang tanah) sampai wilayah administrasi seperti desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi, bahkan sampai wilayah kedaulatan negara. Secara praktis, proses membagi-bagi permukaan bumi dapat dilakukan secara langsung di lapangan dengan cara pengukuran dan dengan metode tidak langsung yang dilakukan pada media peta (O Leary, 2006). Kegiatan partisi permukaan bumi masuk kedalam lingkup ilmu geodesi praktis melalui kegiatan survei dan pemetaan (surveying) dan adjudikasi. Oleh sebab itu peran ilmu geodesi dalam bentuk kegiatan survei pemetaan dan adjudikasi sangat penting dalam boundary making (Rais, 2002). Kesepakatan batas wilayah internasional biasanya diwujudkan dalam suatu dokumen traktat atau perjanjian. Secara formal dan legal,kesepakatan batas wilayah dinyatakan dalam daftar koordinat titik-titik batas dan digambarkan dalam dokumen yang berujud peta yang terdapat pada traktat atau perjanjian (Blake, 1995). Karena posisi titik-titik batas merupakan hasil suatu kesepakatan antar negara, maka kesepakatan tersebut seharusnya mencakup sistem koordinat dan datum geodetik yang digunakan. Untuk pendefinisian koordinat titik-titik batas tanpa menyertakan spesifikasi datum geodetik adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan (Pratt, 2006). Dalam banyak kasus, terutama hasil perjanjian yang dilakukan di masa lalu, koordinat titik-titik batas yang dicantumkan dalam dokumen perjanjian tidak menyebutkan secara eksplisit datum geodetik yang digunakan dalam menentukan koordinat titik-titik batas. Dalam penelitian Lathrop (1997), dari 147 dokumen perjanjian batas internasional yang tersimpan di the American Society of International Law s Study International Maritime Boundaries, ditemukan tidak kurang dari 55 % yang tidak menyebutkan datum geodetik yang digunakan sebegai referensi koordinat titik-titik batas. Meskipun demikian, dalam kurun

28 28 waktu sepuluh tahun terakhir sebagian besar perjanjian batas maritim yang telah ditandatangani telah menyebutkan secara spesifik datum geodetiknya, kecuali perjanjian yang dilakukan oleh Indonesia dan Vietnam pada tahun 2003 di laut Natuna (Pratt, 2006). Ketidakjelasan datum geodetik batas wilayah pada saat delimitasi membawa implikasi dalam kegiatan demarkasi dan manajemen perbatasan. Permasalahan yang muncul akibat ketidakjelasan dan perbedaan datum geodetik adalah pergeseran koordinat titik batas akibat adanya datum shift, perbedaan jarak antar titik batas, efek terhadap segmen garis batas, dan efek pada kegiatan demarkasi dan manajemen batas (Pratt, 2006; Abidin, dkk., 2005; Rimayanti dan Lukita, 2010 sertatrismadi, 2010). Dokumen perjanjian antara Indonesia dan Singapura untuk 6 titik batas laut teritorial tidak secara jelas mencantumkan datum geodetik yang digunakan (Abidin, dkk, 2005). Penelitian telah dilakukan oleh Abidin, dkk., (2005), Rimayanti dan Lukita (2010) dalam kasus ketidakjelasan datum geodetik pada 6 titik tersebut dengan cara melakukan perhitungan posisi 6 koordinat titik batas pada beberapa alternatif datum yaitu Kertau 48, Kertau 68, Genuk dan South Asia terhadap posisinya dalam datum WGS84. Hasil perhitungan menggunakan alternatif 4 datum tersebut menunjukkan adanya pergeseran posisi bervariasi antara 25,98 m sampai 214,7 m. Pergeseran posisi koordinat akibat datum geodetik menyebabkan kesalahan dalam kegiatan delimitasi garis batas di atas peta dan kesalahan dalam demarkasi titik batas di lapangan. Kesalahan ini tentunya bisa berakibat menguntungkan atau merugikan masing-masing pihak. Pergeseran koordinat geografis satu detik bisa menyebakan pergeseran di lapangan sekitar 30 m. Pada daerah yang terletak pada lintang sekitar 55 0 utara pergeserannya sekitar 15 m. Untuk daerah laut terbuka pergeseran tersebut mungkin dapat diabaikan, namun pada area yang prospektif untuk sumberdaya alam seperti minyak, gas dan mineral, sebaiknya ketelitian koordinat disarankan 0,1 detik sehingga pergeseran titik di lapangan hanya sekitar 1,5 m (Pratt, 2006). Selain peta dasar, IG lain yang digunakan dalam boundary making dalam 25 tahun terakhir adalah foto udara dan citra satelit. Keunggulan foto udara dan citra

I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 4. A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Relevansi Teori Boundary Making untuk abad 21

I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 4. A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Relevansi Teori Boundary Making untuk abad 21 I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 4 A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Relevansi Teori Boundary Making untuk abad 21 B.POKOK BAHASAN/SUB POKOK BAHASAN: Relevansi Teori Boundary Making

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kabupaten Lamadau di Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk pada tahun 2002 melalui Undang-Undang Nomor 5 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Pemerintah pusat memberikan kewenangan yang lebih luas kepada pemerintah daerah untuk dapat mengelola daerahnya masing masing setelah dikeluarkannya UU No. 22 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya era Otonomi Daerah pasca berlakunya Undang-Undang (UU)

BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya era Otonomi Daerah pasca berlakunya Undang-Undang (UU) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Pendahuluan Lahirnya era Otonomi Daerah pasca berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, telah membawa implikasi yang sangat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Perselisihan Batas Derah, Konflik Setengah Hati

Perselisihan Batas Derah, Konflik Setengah Hati Perselisihan Batas Derah, Konflik Setengah Hati Perselisihan batas daerah telah menjadi persoalan besar dan menjadi salah satu keprihatinan Nasional. Rangkaian konflik ini telah banyak menghabiskan waktu,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 115 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian tentang hasil penelitian yaitu: (1) hasil identifikasi kerangka kerja penetapan dan penegasan batas daerah, (2) hasil identifikasi kondisi IG yang ada

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

Pemekaran Wilayah. Tabel Pemekaran Daerah Tahun

Pemekaran Wilayah. Tabel Pemekaran Daerah Tahun Pemekaran Wilayah Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi atas kabupaten/kota

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak otonomi daerah dan desentralisasi fiskal mulai dilaksanakan pada tanggal 1 januari 2001, pemekaran daerah kabupaten dan kota dan juga propinsi menjadi suatu

Lebih terperinci

Analisis Terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Mengenai Pemenuhan Kewajiban Pembiayaan Pada Masa Transisi Pemekaran Daerah

Analisis Terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Mengenai Pemenuhan Kewajiban Pembiayaan Pada Masa Transisi Pemekaran Daerah Analisis Terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Mengenai Pemenuhan Kewajiban Pembiayaan Pada Masa Transisi Pemekaran Daerah Oleh: Tim Analisa BPK Biro Analisa APBN & Iman Sugema 1. PENDAHULUAN Jumlah pemerintahan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.244, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Otonomi. Pemilihan. Kepala Daerah. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pandangan umum mengakui bahwa pemerintahan yang sentralistik semakin kurang populer, karena ketidakmampuannya untuk memahami secara tepat nilainilai daerah atau sentimen

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK SOSIALIS VIETNAM TENTANG PENETAPAN BATAS LANDAS KONTINEN,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI,

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penentuan batas daerah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI,

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penentuan batas daerah

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK SOSIALIS VIETNAM TENTANG PENETAPAN BATAS LANDAS KONTINEN,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekuatan gerak yang tidak dapat dibendung akibat sistem penyelenggaraan

BAB I PENDAHULUAN. kekuatan gerak yang tidak dapat dibendung akibat sistem penyelenggaraan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Semangat reformasi telah mendorong para pemimpin bangsa Indonesia ntuk melakukan perubahan secara holistik terhadap pelaksaaan pemerintahan orde baru. Keinginan untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN UMUM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI BATAS WILAYAH DESA

BAB III TINJAUAN UMUM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI BATAS WILAYAH DESA BAB III TINJAUAN UMUM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI BATAS WILAYAH DESA A. Dasar Hukum Pembagian Wilayah 1. UUD 1945 Hasil Amandemen Kerangka Yuridis mengenai pembagian wilayah dapat dilihat pada

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/DPD RI/III/ TENTANG HASIL PENGAWASAN

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/DPD RI/III/ TENTANG HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/DPD RI/III/2012-2013 TENTANG HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ATAS PERBATASAN

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/DPD RI/I/ TENTANG HASIL PENGAWASAN

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/DPD RI/I/ TENTANG HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH NOMOR 21/DPD RI/I/2013 2014 HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2013 PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERUYAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERUYAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERUYAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka kebijakan penetapan batas desa sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI. Oleh: Nanin Trianawati Sugito*)

URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI. Oleh: Nanin Trianawati Sugito*) URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI Oleh: Nanin Trianawati Sugito*) Abstrak Daerah (propinsi, kabupaten, dan kota) mempunyai wewenang yang relatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berubah menjadi sistem desentralisasi atau yang sering dikenal sebagai era

BAB I PENDAHULUAN. berubah menjadi sistem desentralisasi atau yang sering dikenal sebagai era BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perubahan kepemimpinan nasional dari Orde Baru menuju Orde Reformasi, pola hubungan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat mengalami

Lebih terperinci

Grand Design Pembangunan Kawasan Perbatasan.

Grand Design Pembangunan Kawasan Perbatasan. Grand Design Pembangunan Kawasan Perbatasan www.arissubagiyo.com Latar belakang Kekayaan alam yang melimpah untuk kesejahterakan rakyat. Pemanfaatan sumber daya alam sesuai dengan peraturan serta untuk

Lebih terperinci

No b. pemanfaatan bumi, air, dan udara serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. desentralis

No b. pemanfaatan bumi, air, dan udara serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. desentralis TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No.4925 WILAYAH NEGARA. NUSANTARA. Kedaulatan. Ruang Lingkup. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 177 ) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan aspek transparansi dan akuntabilitas. Kedua aspek tersebut menjadi

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan aspek transparansi dan akuntabilitas. Kedua aspek tersebut menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini menyebabkan aspek

Lebih terperinci

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU www. luwukpos.blogspot.co.id I. PENDAHULUAN Otonomi daerah secara resmi telah diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 2001. Pada hakekatnya

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Provinsi Daerah

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 2. A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Teori Boundary Making tahap Alokasi dan Delimitasi

I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 2. A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Teori Boundary Making tahap Alokasi dan Delimitasi I. RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN (RKPM) MINGGU 2 A. TUJUAN AJAR: Dapat Menjelaskan Teori Boundary Making tahap Alokasi dan Delimitasi B.POKOK BAHASAN/SUB POKOK BAHASAN: Alokasi dan Delimitasi:

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY Kajian Evaluasi Pembentukan, Pemekaran, Penggabungan dan Penghapusan Daerah

EXECUTIVE SUMMARY Kajian Evaluasi Pembentukan, Pemekaran, Penggabungan dan Penghapusan Daerah EXECUTIVE SUMMARY Kajian Evaluasi Pembentukan, Pemekaran, Penggabungan dan Penghapusan Daerah Era reformasi yang ditandai dengan meningkatnya tuntutan untuk melakukan pemekaran daerah berjalan seiring

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan taraf hidup masyarakatnya agar menjadi manusia seutuhnya yang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan taraf hidup masyarakatnya agar menjadi manusia seutuhnya yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak masa orde lama, orde baru hingga era reformasi sekarang ini, pemerintah selalu melaksanakan pembangunan di segala bidang kehidupan guna meningkatkan taraf hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang sentralisasi menjadi struktur yang terdesentralisasi dengan

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang sentralisasi menjadi struktur yang terdesentralisasi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Reformasi yang bergulir tahun 1998 telah membuat perubahan politik dan administrasi, salah satu bentuk reformasi tersebut adalah perubahan bentuk pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur, dan merata

BAB I PENDAHULUAN. dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur, dan merata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Kesatuan Republik Indonesia menyelenggarakan pemerintahan negara dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur, dan merata berdasarkan

Lebih terperinci

Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Terhadap Belanja Modal

Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Terhadap Belanja Modal Repositori STIE Ekuitas STIE Ekuitas Repository Thesis of Accounting http://repository.ekuitas.ac.id Financial Accounting 2015-12-17 Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dan Sisa Lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini memaparkan sejarah dan kondisi daerah pemekaran yang terjadi di Indonesia khususnya Kota Sungai Penuh. Menguraikan tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7/DPD RI/I/ TENTANG PANDANGAN DAN PENDAPAT

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7/DPD RI/I/ TENTANG PANDANGAN DAN PENDAPAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH NOMOR 7/DPD RI/I/2013-2014 PANDANGAN DAN PENDAPAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH TERHADAP ASPIRASI MASYARAKAT DAN DAERAH PEMBENTUKAN KABUPATEN TAYAN SEBAGAI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini menyebabkan

Lebih terperinci

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Formatted: Left: 3,25 cm, Top: 1,59 cm, Bottom: 1,43 cm, Width: 35,56 cm, Height:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi menjadi suatu fenomena global termasuk di Indonesia. Tuntutan demokratisasi ini menyebabkan

Lebih terperinci

Tugas dan Wewenang serta Dasar Hukum Lembaga Negara

Tugas dan Wewenang serta Dasar Hukum Lembaga Negara Tugas dan Wewenang serta Dasar Hukum Lembaga Negara Bagan Lembaga Negara Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Tugas dan Wewenang MPR Berikut tugas dan wewenang dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DASAR PEMIKIRAN HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH DAERAH HARUS MEMPUNYAI SUMBER-SUMBER KEUANGAN YANG MEMADAI DALAM MENJALANKAN DESENTRALISASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaran Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang

BAB I PENDAHULUAN. Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaran Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan Akuntansi Sektor Publik, Khususnya di Negara Indonesia semakin pesat seiring dengan adanya era baru dalam pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA

Lebih terperinci

2008, No hukum dan kejelasan kepada warga negara mengenai wilayah negara; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,

2008, No hukum dan kejelasan kepada warga negara mengenai wilayah negara; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.177, 2008 WILAYAH NEGARA. NUSANTARA. Kedaulatan. Ruang Lingkup. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4925) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN BATAS LAUT DAERAH

BAB II PENENTUAN BATAS LAUT DAERAH BAB II PENENTUAN BATAS LAUT DAERAH 2.1 Dasar Hukum Penetapan Batas Laut Daerah Agar pelaksanaan penetapan batas laut berhasil dilakukan dengan baik, maka kegiatan tersebut harus mengacu kepada peraturan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia memasuki era baru tata pemerintahan sejak tahun 2001 yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah ini didasarkan pada UU

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kesatuan yaitu negara yang tiap daerahnya masuk dalam sistem tata negara yang terintegrasi. Dalam segala hal pimpinan tingkat daerah bertanggung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Belanja Langsung Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 36 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja langsung merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

Governance Brief. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom.

Governance Brief. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom. C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Forests and Governance Programme Agustus 2005 Perubahan Perundangan Desentralisasi Apa yang berubah? Bagaimana dampaknya pada

Lebih terperinci

RAPAT KOORDINASI PENANGANAN KONFLIK POLITIK DAN BATAS DAERAH ADMINISTRASI DI PROVINSI RIAU

RAPAT KOORDINASI PENANGANAN KONFLIK POLITIK DAN BATAS DAERAH ADMINISTRASI DI PROVINSI RIAU KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA RAPAT KOORDINASI PENANGANAN KONFLIK POLITIK DAN BATAS DAERAH ADMINISTRASI DI PROVINSI RIAU RIAU, 12 SEPTEMBER 2017 DASAR 1

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/DPD RI/II/ TENTANG PANDANGAN DAN PENDAPAT

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/DPD RI/II/ TENTANG PANDANGAN DAN PENDAPAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH NOMOR 26/DPD RI/II/2013-2014 PANDANGAN DAN PENDAPAT DEWAN PERWAKILAN DAERAH TERHADAP ASPIRASI MASYARAKAT DAN DAERAH PEMBENTUKAN KOTA SEBATIK SEBAGAI

Lebih terperinci

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 44 Tahun 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DI JAWA BARAT

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 44 Tahun 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DI JAWA BARAT Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 44 Tahun 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menumbangkan kekuasaan rezim Orde Baru yang sentralistik digantikan. arti yang sebenarnya didukung dan dipasung sekian lama mulai

BAB I PENDAHULUAN. menumbangkan kekuasaan rezim Orde Baru yang sentralistik digantikan. arti yang sebenarnya didukung dan dipasung sekian lama mulai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Reformasi politik yang dilancarkan pada tahun 1988 telah berhasil menumbangkan kekuasaan rezim Orde Baru yang sentralistik digantikan dengan pemerintahan yang

Lebih terperinci

xvii MARITIM-YL DAFTAR ISI

xvii MARITIM-YL DAFTAR ISI xvii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... vii SAMBUTAN... x UCAPAN TERIMA KASIH... xiii DAFTAR ISI... xvii DAFTAR GAMBAR... xxii BAB 1 DELIMITASI BATAS MARITIM: SEBUAH PENGANTAR... 1 BAB 2 MENGENAL DELIMITASI

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah membawa dampak negatif yang cukup dalam pada hampir seluruh sektor dan pelaku ekonomi. Krisis yang bermula

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal 16 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia mulai memasuki babak baru dalam kehidupan bermasyarakatnya. Setelah lengsernya Presiden Soeharto dan rezim orde barunya yang bersifat otoriter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kedudukan negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan Daerah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kedudukan negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan Daerah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kedudukan negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan Daerah mengharuskan untuk diterapkannya kebijakan otonomi daerah. Meskipun dalam UUD 1945 disebutkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 126 ayat (1)

Lebih terperinci

STATUS BATAS WILAYAH ADMINISTRATIF KABUPATEN KLATEN. Klaten, 21 Oktober 2015

STATUS BATAS WILAYAH ADMINISTRATIF KABUPATEN KLATEN. Klaten, 21 Oktober 2015 STATUS BATAS WILAYAH ADMINISTRATIF KABUPATEN KLATEN Klaten, 21 Oktober 2015 Kabupaten Klaten merupakan bagian dari Kawasan Andalan Subosukawonosraten dgn arahan pengembangan kawasan andalan pertanian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang Otonomi Daerah, yang mulai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang Otonomi Daerah, yang mulai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang Otonomi Daerah, yang mulai dilaksanakan secara efektif tanggal 1 Januari 2001, merupakan kebijakan yang dipandang sangat

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 104/PUU-XIV/2016 Keterwakilan Anggota DPD Pada Provinsi Baru Yang Dibentuk Setelah Pemilu 2014

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 104/PUU-XIV/2016 Keterwakilan Anggota DPD Pada Provinsi Baru Yang Dibentuk Setelah Pemilu 2014 RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 104/PUU-XIV/2016 Keterwakilan Anggota DPD Pada Provinsi Baru Yang Dibentuk Setelah Pemilu 2014 I. PEMOHON 1. dr. Naomi Patioran, Sp. M (selanjutnya sebagai Pemohon I);

Lebih terperinci

BAB 14 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 14 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 14 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Draft 12 Desember 2004 A. PERMASALAHAN Belum optimalnya proses desentralisasi dan otonomi daerah yang disebabkan oleh perbedaan persepsi para

Lebih terperinci

Komentar Atas Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Daerah

Komentar Atas Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Komentar Atas Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Iskandar Saharudin Memo Kebijakan #3, 2014 PENGANTAR. RANCANGAN Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah (RUU Pemda) saat ini sedang dibahas oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dan pelayanan publik, mengoptimalkan potensi pendapatan daerah

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dan pelayanan publik, mengoptimalkan potensi pendapatan daerah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dengan diberlakukannya UU Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang kemudian direvisi dengan UU Nomor 32 tahun 2004, memberikan wewenang seluasnya kepada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah pusat, dikarenakan tingkat kebutuhan tiap daerah berbeda. Maka

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah pusat, dikarenakan tingkat kebutuhan tiap daerah berbeda. Maka BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Realitas menunjukkan tidak semua daerah mampu untuk lepas dari pemerintah pusat, dikarenakan tingkat kebutuhan tiap daerah berbeda. Maka dalam kenyataannya,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Kekayaan yang terkandung di bumi Indonesia meliputi kekayaan laut berupa hasil ikan dan biota

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan desentralisasi tercatat mengalami sejarah panjang di Indonesia. Semenjak tahun 1903, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Desentralisatie wet yang menjadi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan perundangundangan.

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan perundangundangan. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengelolaan Pemerintah Daerah di Indonesia sejak tahun 2001 memasuki era baru yaitu dengan dilaksanakannya otonomi daerah. Otonomi daerah ini ditandai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting yang dilakukan yaitu penggantian sistem sentralisasi menjadi

BAB I PENDAHULUAN. penting yang dilakukan yaitu penggantian sistem sentralisasi menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam waktu tujuh tahun sejak tumbangnya rezim orde baru, bangsa Indonesia terus berupaya memperbaiki sistem pemerintahannya. Bahkan upaya-upaya perubahan yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PENENTUAN BATAS DAERAH

BAB II TINJAUAN UMUM PENENTUAN BATAS DAERAH BAB II TINJAUAN UMUM PENENTUAN BATAS DAERAH Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 18 menetapkan bahwa wilayah daerah provinsi terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era Reformasi yang lahir pasca runtuhnya Orde Baru mengemban. tugas yang tidak mudah, salah satunya untuk mencari solusi alternatif

BAB I PENDAHULUAN. Era Reformasi yang lahir pasca runtuhnya Orde Baru mengemban. tugas yang tidak mudah, salah satunya untuk mencari solusi alternatif BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era Reformasi yang lahir pasca runtuhnya Orde Baru mengemban tugas yang tidak mudah, salah satunya untuk mencari solusi alternatif dalam menyelesaikan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional 4. Kedaulatan

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional 4. Kedaulatan BAB I PENDAHULUAN H. Latar Belakang Kedaulatan ialah kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh suatu negara untuk secara bebas melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan kepentingannya asal saja kegiatan tersebut

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berhubung dengan pesatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik

BAB I PENDAHULUAN. Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUDNRI Tahun 1945) menyebutkan bahwa tujuan dari dibentuknya negara Indonesia adalah:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP 71/2010), aset adalah

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP 71/2010), aset adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP 71/2010), aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah menjadi salah

BAB I PENDAHULUAN. Semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah menjadi salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan. Otonomi daerah menjadi wacana dan bahan kajian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kebijakan otonomi

BAB 1 PENDAHULUAN. setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kebijakan otonomi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat

Lebih terperinci

Tata Cara Pemotongan DAU dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi. yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada

Tata Cara Pemotongan DAU dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi. yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada Tata Cara Pemotongan DAU dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada Daerah Otonom Baru (DOB) I. PENDAHULUAN Pembentukan suatu daerah otonom baru

Lebih terperinci