HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Penelitian ini menggunakan kompos yang terbuat dari limbah kulit buah jarak. Bahan baku ini didekomposisikan dengan menggunakan empat jenis biodekomposer yaitu EM4, Biotriba, Orgadec, Mdec, dan tanpa biodekomposer. Selain itu, untuk mempercepat pembusukan bahan baku kompos dilakukan pemberian kotoran hewan sebanyak 25% serta ada juga yang tidak diberikan kotoran hewan. Masa inkubasi kompos dilakukan selama satu bulan hingga diperoleh kompos yang baik untuk tanaman. Hasil analisis hara kompos menunjukkan bahwa kandungan kalium dan C- Organik terbesar yaitu pada kombinasi kulit buah + tanpa kotoran hewan + tanpa biodekomposer (K0B0) dengan nilai mg dan 45.50%, kandungan nitrogen dan fosfor terbesar pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + Mdec (K1B4) dengan nilai 1.77% dan 0.25 ppm, sedangkan C/N ratio kompos yang mendekati C/N ratio tanah yaitu pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + EM4 (K1B1) sebesar Kadar air kompos yang menunjukkan nilai terbesar 18.6% pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + Biotriba (K1B2). Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan percobaan. Percobaan I dan percobaan II dibedakan berdasarkan bobot tanah per polibag (kg/polibag) dan penambahan kapur pertanian. Pada percobaan I, tanah yang digunakan sebesar 5 kg/polibag dan tanpa penambahan kapur pertanian sedangkan pada percobaan II digunakan tanah sebesar 15 kg/polibag dengan penambahan kapur pertanian sebesar 5 x Al-dd. Hasil analisis tanah pada saat awal penelitian menunjukkan bahwa tanah yang digunakan tergolong tanah ultisol yang miskin hara. Tanah percobaan I memiliki kandungan ph 5.24 yang tergolong masam, N-total 0.1% tergolong rendah, P 2 O 5 tersedia 9.28 ppm tergolong sedang, kalium 0.04 mg dan C-Organik 0.96% tergolong sangat rendah. Pada percobaan II, kandungan ph 4.6 yang termasuk masam dan N-total 0.13% tergolong rendah. Kandungan P 2 O 5 tersedia 3.09 ppm, kalium 0.09 mg dan C-Organik 0.9% yang tergolong sangat rendah serta kandungan Al-dd 3.83 me/100 mg tergolong sangat rendah (Tabel Lampiran 1).

2 19 Bahan tanam yang digunakan ialah varietas jagung manis Virginia II. Benih ditanam sebanyak 3 butir benih/polibag, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan jumlah tanaman per polibagnya (1 tanaman/polibag). Benih yang akan ditanam dilakukan inkubasi pada kapas basah selama semalam dengan tujuan agar terjadi imbibisi air ke dalam benih sehingga akan mempermudah proses perkecambahan. Penyulaman dilakukan saat tanaman berusia 1 MST dan penjarangan dilakukan saat 3 MST. Penjarangan adalah suatu tindakan mencabut atau membuang sejumlah tanaman yang ada untuk menyisakan tanaman terbaik yang akan dijadikan tanaman contoh. Persentase daya tumbuh tanaman saat umur 1 MST mencapai 72.58% pada percobaan I dan 82.98% pada percobaan II. Kegiatan penjarangan menjadikan persentase jumlah tanaman contoh menjadi 100% untuk kedua percobaan (Tabel Lampiran 9). Hal ini dikarenakan dalam kegiatan penjarangan ini juga dilakukan penanaman kembali bibit yang tumbuh ke polibag-polibag yang benihnya tidak berkecambah. Pemunculan bunga jantan terlihat pada saat tanaman berumur 5 MST atau 35 HST dan pemunculan bunga betina dimulai pada 7 MST atau 49 HST dan tanaman dapat dipanen hasilnya pada saat berumur 10 MST atau 70 HST. Pertumbuhan tanaman ini cenderung tidak seragam dan ditemukan adanya pemunculan bunga betina pada bunga jantan, hal ini dimungkinkan karena kondisi kesuburan tanah yang rendah, derajat kemasaman yang rendah, dan suhu lingkungan pertanaman tinggi sehingga tanaman beradaptasi secara luas. a b Gambar 1. Kondisi Pertanaman Jagung Umur 4 MST a) Percobaan I dan b) Percobaan II

3 20 Kegiatan penelitian ini dilakukan di dalam rumah kaca yang kondisi suhu dan intensitas cahaya cenderung fluktuatif. Pengukuran suhu dan intensitas cahaya dilakukan di dalam rumah kaca dan di luar rumah kaca dengan tujuan untuk melihat perbandingan antara yang di dalam dan di luar. Pengukurannya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 MST, 2 MST, 7 MST, dan 8 MST. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu dalam rumah kaca cenderung lebih tinggi dari suhu luar rumah kaca sedangkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah kaca hanya sebesar 1/3 kali dari intensitas cahaya luar. Hal ini dilakukan sejalan dengan pengukuran kadar air tanah sehingga kemungkinan terlihat adanya keterkaitan dengan adaptasi tanaman. Tanaman yang ternaungi memiliki wujud morfologi yang tinggi karena adanya mekanisme penangkapan cahaya dalam jumlah yang besar (Sopandie et al., 2005). Air merupakan suatu komponen pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang cukup penting. Hal ini dikarenakan sebesar 80-90% bobot basah tanaman terdiri atas air dan pada tajuk tanaman jagung terkandung 92-93% air (Leiwakabessy, 1988). Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui penyiraman. Kebutuhan air tanaman ialah jumlah air yang hilang per satuan waktu tertentu dan sangat dipengaruhi oleh faktor tanah dan iklim. Penyiraman pada percobaan I dilakukan sebanyak 500 ml/2 hari dan percobaan II sebanyak ml/4 hari. Pada percobaan I diperoleh hasil bahwa jumlah air yang diberikan berkisar 8.72 mm/hari atau 785 mm selama pertumbuhan (3 bulan) sedangkan pada percobaan II jumlah air yang diberikan sebanyak 2.73 mm/hari atau mm selama pertumbuhannya (Tabel Lampiran 21). Selama pertumbuhan tanaman jagung dalam rumah kaca terdapat serangan hama penyakit. Hama-hama yang menyerang pertanaman antara lain, ulat (Plutella xylostella) yang memakan daun mulai dari daun muda hingga ke daun tua dan juga menyebabkan daun menggulung, belalang yang memiliki persentase serangannya terbesar selama penelitian yaitu 14.25% pada percobaan I dan 80.11% pada percobaan II, dan katak yang menyebabkan batang menjadi rebah. Penyakit yang menyerang tanaman muncul dengan gejala menguning pada ujung dan tepi daun hingga akhirnya bercak kebasahan berwarna coklat, bercak coklat, daun berwarna keabuan pada bagian tengah, bulai dan daun menggulung.

4 21 Tanaman ada yang menunjukkan pertumbuhan kerdil, hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya derajat kemasaman tanah sehingga unsur hara tanah tidak cukup tersedia bagi tanaman (Tabel Lampiran 10). a b c Gambar 2. Gejala Serangan Hama dan Penyakit a) Serangan Hama Belalang, b) Serangan Hama Ulat (Plutella xylostella), dan c) Gejala Defisiensi Hara

5 22 Hara Kompos dan Tanah Sifat kimia kompos dari hasil analisis dapat menunjukkan kualitasnya jika pertumbuhan dan produksi tanaman contoh yang diteliti memberikan hasil yang baik. Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa bahan organik yang memiliki nilai C/N ratio < 20 akan menyebabkan terjadinya pelepasan N dari bahan organik ke dalam tanah, nilai C/N ratio antara tidak akan terjadi pelepasan N dari bahan organik dan tidak terjadi immobilisasi nitrogen tanah, dan nilai C/N ratio > 30 akan terjadi immobilisasi nitrogen tanah sehingga C/N ratio dapat dijadikan sebagai indikator sifat kimia kompos yang dapat mempengaruhi serapan hara oleh tanaman. Tanah yang memiliki kandungan bahan organik yang cukup akan memberikan nilai C/N ratio berkisar (Leiwakabessy, 1988) sehingga kompos yang diaplikasikan ke dalam tanah akan dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman apabila nilai C/N ratio kompos mendekati nilai C/N ratio tanah. Berdasarkan hasil analisis Tabel 2, memperlihatkan bahwa kompos K1B1 memiliki nilai C/N ratio yang lebih dekat dengan nilai C/N ratio tanah 9.6 (percobaan I) dan 7.5 (percobaan II) sehingga dimungkinkan kompos cukup memenuhi hara bagi tanaman dan tidak akan terlalu mempengaruhi serapan hara oleh tanaman. Berdasarkan SNI Kompos menunjukkan bahwa kandungan C/N ratio kompos masih lebih tinggi dari standar maksimum yaitu 20 sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) C/N ratio tanah tergolong rendah. Tabel 2. Kandungan Hara Kompos Kandungan Hara Jenis Media N (%) P (ppm) K (mg) C-organik (%) C/N Ratio K0B K0B K0B K0B K0B K1B K1B K1B K1B K1B Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

6 23 Pada bahan baku kompos yang ditambahkan pupuk kandang cenderung memiliki nilai C/N ratio berkisar sehingga unsur N akan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk tanaman, sebaliknya pada bahan baku kompos tanpa penambahan pupuk kandang kisaran nilai C/N ratio > 30 kemungkinan unsur N tidak cukup tersedia. Kandungan N hasil analisis kompos berkisar % yang berdasarkan SNI Kompos menunjukkan bahwa kandungan N lebih tinggi dari standar minimum (0.4%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan N tanah tergolong rendah dengan nilai 0.1% untuk percobaan I dan 0.13% percobaan II sehingga dimungkinkan kandungan N tanah pada kedua percobaan tersebut dalam kondisi kurang cukup tersedia untuk tanaman. Kandungan P tersedia dalam tanah akan berbeda menurut jenisnya, semakin muda tanah maka kandungan fosfor semakin tinggi tetapi umumnya bernilai rendah. Ketersediaannya yang rendah dikarenakan tingginya tingkat retensi P di dalam tanah sehingga sedikit tersedia dalam larutan tanah dan unsur hara ini menjadi mudah dijerap oleh oksida Fe, Al, dan Ca (Leiwakabessy, 1988). Berdasarkan hasil analisis hara kompos, kisaran unsur P antara ppm, dalam SNI Kompos menunjukkan bahwa nilainya lebih rendah dari standar minimum (0.1%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan P tanah tergolong sedang dengan nilai 9.28 ppm (percobaan I) dan tergolong sangat rendah pada percobaan II dengan nilai 3.09 ppm. Pada percobaan I, dimungkinkan kandungan P cukup tersedia untuk tanaman tetapi percobaan II memiliki kemungkinan sebaliknya yaitu kandungan P kurang cukup tersedia dalam tanah. Serapan hara kalium (K) dipengaruhi oleh kedalaman akar dan suhu lingkungan. Pergerakan unsur K yang tinggi menyebabkan lebih banyak tersedia pada lapisan tanah bawah sehingga akar yang dangkal tidak akan mampu menyerap hara ini. Kemampuan tanaman menyerap hara ini juga dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) maka makin tinggi pula serapan kalium oleh tanaman (Tisdale et al., 1985). Berdasarkan hasil analisis hara kompos, jumlah kalium yaitu mg, SNI Kompos menunjukkan bahwa kandungan K kompos lebih tinggi dari standar minimum

7 24 (0.2%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan K tanah tergolong sangat rendah dengan nilai 0.04 mg (percobaan I) dan 0.09 mg (percobaan II). Baik pada percobaan I maupun percobaan II dimungkinkan kandungan K tanah kurang cukup tersedia untuk tanaman. Kandungan C-Organik pada tanah yang digunakan dalam penelitian tergolong dalam kategori sangat rendah dengan rentang nilai % (Tabel 3). Hal ini menunjukkan tanah yang digunakan kurang subur. Peningkatan kandungan C-organik melalui pemberian kompos menjadi sangat berarti untuk meningkatkan kesuburan tanah, seperti yang ditunjukkan pada kompos K0B0 (45.5%) dimungkinkan dapat meningkatkan kandungan C-Organik tanah penelitian. Secara keseluruhan kandungan C-Organik kompos berkisar antara % berada di atas nilai standar maksimum berdasar pada SNI Kompos Secara umum, tanah yang digunakan pada percobaan I lebih baik untuk tanaman terkait dengan jumlah hara yang terkandung bila dibandingkan dengan tanah pada percobaan II. Derajat kemasaman tanah percobaan II lebih masam dari percobaan I sehingga dilakukan pengapuran pada percobaan II maka ketersediaan hara pada tanah percobaan II lebih rendah. Kondisi kompos yang digunakan secara jumlah hara yang terkandung cukup baik bagi tanaman akan tetapi C/N ratio masih memiliki nilai yang terlalu tinggi dibandingkan dengan C/N ratio tanah pada kedua percobaan. Tabel 3. Kandungan Hara Tanah Kandungan Hara Perc. I Kriteria Perc. II Tanah Kriteria N total (%) 0.10 rendah 0.13 rendah P2O5 tersedia (ppm) 9.28 sedang 3.09 sangat rendah K (mg) 0.04 sangat rendah 0.09 sangat rendah C-organik (%) 0.96 sangat rendah 0.98 sangat rendah Al-dd (me/100 g) *) *) 3.83 sangat rendah ph H2O 5.24 masam 4.6 masam KCl 4.7 *) 4.48 *) Sumber : Kriteria Sifat Kimia Tanah Menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) dan *) tidak dilakukan analisis

8 25 Respon Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jumlah daun Daun merupakan salah satu organ tanaman yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Semakin banyak jumlah daun dalam satu tubuh tanaman memungkinkan pemerataan jumlah cahaya yang diterima oleh daun dan penyerapan hara menjadi lebih optimum (Sulistyaningsih et al., 2005). Peubah jumlah daun menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada taraf 1% untuk kedua percobaan (I dan II) baik untuk perlakuan dosis kompos maupun jenis kompos sedangkan keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3). Pada percobaan II, jumlah daun terbanyak yaitu 7.13 helai (dosis kompos 20 ton/ha) dan 30 ton/ha 6.70 helai serta terrendahnya 5.65 helai pada perlakuan D1. Jumlah daun percobaan I masih lebih tinggi daripada percobaan II yang nilai rataan tertingginya terdapat pada 30 ton/ha dengan 7.68 helai dan 20 ton/ha 7.10 helai serta jumlah yang terrendah ada pada dosis D1 (6.92 helai). Pada percobaan I, jumlah daun terbanyak terdapat pada kompos K1B0 dengan rataan 7.92 helai kemudian diikuti jenis kompos K1B3 dan K1B1 serta terrendah 6.33 helai (K0B1), K0B0, dan K0B3 sedangkan percobaan II nilai rataan jumlah daun terbanyak ada pada kompos K1B3 (7.61 helai), K1B1, dan K0B2 serta terrendah pada kompos K0B3 dan K0B4 dengan 5.50 helai (Tabel 4). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan jumlah daun berkisar antara 6 7 helai, dosis 20 ton/ha (D2) menghasilkan jumlah daun yang hampir sama banyaknya dengan D1 yaitu 7 helai, dan dosis 30 ton/ha (D3) berjumlah 7 8 helai daun dalam percobaan I. Pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan jumlah daun berkisar antara 5-6 helai, dosis 20 ton/ha (D2) menghasilkan jumlah daun sebanyak 7 helai, dan dosis 30 ton/ha (D3) berjumlah 6-7 helai daun. Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 4.71 helai (berkisar 4-5 helai) untuk percobaan I dan 3.76 helai (berkisar 3-4 helai) untuk percobaan II. Berdasarkan

9 26 hasil pada tabel 4 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan jumlah daun sebanyak 3-4 helai sedangkan pemberian kompos K1B3 pada percobaan II mampu meningkatkan jumlah daun sebanyak 4-5 helai. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I juga meningkatkan jumlah daun sebesar 3-4 helai sedangkan 10 ton/ha hanya meningkatkan jumlah daun sebanyak 1 helai. Percobaan II hanya mampu memperlihatkan penambahan jumlah daun sebesar 3-4 helai jika diaplikasikan 30 ton/ha sedangkan 10 ton/ha meningkatkan jumlah daun sebanyak 2 helai. Penambahan biodekomposer pada percobaan I menunjukkan jumlah daun yang cukup banyak dibandingkan tanpa penambahan biodekomposer. Hal ini berlawanan dengan jumlah daun pada percobaan II, penambahan biodekomposer orgadec K1B3 memberikan jumlah daun yang cukup banyak (berkisar 7-8 helai) dengan ditambahkan pupuk kandang sedangkan tanpa ditambahkan pupuk kandang jenis biodekomposer ini (K0B3) hanya mampu menghasilkan 5 helai daun. Tabel 4. Jumlah Daun pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos Jumlah Daun Perlakuan Perc. I Perc. II Dosis Kompos..helai....helai.. D1 6.92b 5.65b D2 7.10b 7.13a D3 7.68a 6.70a Jenis Kompos K0B0 6.49b 5.94bc K0B1 6.33b 6.11abc K0B2 7.28ab 7.33ab K0B3 6.66b 5.50c K0B4 6.71b 5.50c K1B0 7.92a 7.11ab K1B1 7.75a 7.39ab K1B2 7.65a 6.56abc K1B3 7.82a 7.61a K1B4 7.72a 5.89bc (Dosis * Jenis) Kompos tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

10 27 Jumlah daun yang dihasilkan pada percobaan II lebih beragam daripada percobaan I hal ini dimungkinkan karena kondisi lingkungan yang tidak menunjang pertumbuhan tanaman (suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya) dan aspek pemeliharaan tanaman yang dilakukan seperti pengapuran pada percobaan II dan penyiraman sehingga daun sulit terbentuk. Menurut Tisdale et al., (1985) antara suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya terdapat keterkaitan satu sama lain. Perubahan suhu tanah maupun lingkungan penelitian secara tiba-tiba turut mempengaruhi kemampuan tanaman dalam menghasilkan daun dan hal ini dapat dikendalikan hanya dengan meningkatkan kelembaban. Apabila intensitas cahaya yang diterima tanaman kurang dan hal ini akan mempengaruhi fotosintesis daun. Pada percobaan II, intensitas cahaya dalam rumah kaca memiliki perbedaan sebesar 33.3% dari kondisi di luar rumah kaca (Gambar 3) dan suhu dalam rumah kaca cenderung lebih tinggi dari yang di luar rumah kaca walaupun terlihat relatif tidak terlalu berbeda. Perbedaan suhu antara dalam rumah kaca dengan luar rumah kaca dapat mencapai 3ºC 6ºC dengan suhu luar berkisar 27ºC 34.5ºC dan suhu dalam berkisar 30.5ºC-40.5ºC (Gambar Lampiran 1). Kondisi ini dimungkinkan mempengaruhi pembentukan daun pada percobaan II sehingga hasilnya lebih beragam dari percobaan I. Inkubasi kapur yang digunakan dalam penelitian dilakukan selama 1 minggu, hal ini yang menyebabkan suhu tanah menjadi meningkat dan upaya meningkatkan kelembaban tidak dilakukan sehingga pembentukan daun dimungkinkan menjadi terhambat. Penyiraman juga menjadi faktor yang menghambat pembentukan daun, hal ini disebabkan oleh interval penyiraman dan jumlah air yang diberikan tidak seimbang sehingga turut meningkatkan suhu dan menurunkan kelembaban tanah. Penyiraman pada percobaan I dilakukan sebanyak 500 ml/2 hari dan percobaan II sebanyak ml/4 hari. Pada percobaan I diperoleh hasil bahwa jumlah air yang diberikan berkisar 8.72 mm/hari atau 785 mm selama pertumbuhan (3 bulan) sedangkan pada percobaan II jumlah air yang diberikan sebanyak 2.73 mm/hari atau mm selama pertumbuhannya (Tabel Lampiran 21). Hal ini menunjukkan bahwa, pada percobaan II air menjadi faktor

11 28 penghambat pertumbuhan tanaman karena jumlah air yang diberikan di percobaan II 1/3 kali lebih sedikit dibandingkan dengan air yang diberikan pada percobaan I. Intensitas Cahaya (Lux) a 0 1 MST 2 MST 7 MST 8 MST Waktu Intensitas Cahaya (Lux) b 0 1 MST 2 MST 7 MST 8 MST Waktu Gambar 3. Grafik Intensitas Cahaya Lingkungan Penelitian a) Dalam Rumah Kaca b) Luar Rumah Kaca

12 29 Lebar daun Peubah lebar daun pada percobaan I memperlihatkan nilai yang berbeda nyata dengan taraf 1% pada perlakuan jenis kompos dan perlakuan dosis kompos tidak berpengaruh nyata sedangkan percobaan II memiliki hasil yang tidak berbeda nyata baik pada perlakuan dosis kompos maupun jenis kompos. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3). Pada percobaan I, lebar daun terbesar terdapat pada perlakuan dosis 30 ton/ha dengan 3.71 cm dan percobaan II lebar daun terbesar terdapat pada dosis kompos 20 ton/ha dengan 3.13 cm dan urutan kedua dosis D cm sedangkan lebar daun terkecil pada percobaan I dan II terdapat pada perlakuan D1 yaitu 3.43 cm dan 2.43 cm. Pada percobaan I, lebar daun terbesar ada pada kompos K1B0 dengan rataan 4.08 cm dan terrendah 3.15 cm (K0B1) sedangkan percobaan II nilai rataan lebar daun terbesar ada pada kompos K1B1 (3.57 cm) dan terrendah pada kompos K0B4 dengan 2.40 cm (Tabel 5). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1), 20 ton/ha (D2), dan 30 ton/ha (D3) memberikan lebar daun berkisar antara 3 4 cm dalam percobaan I dan 2-3 cm pada percobaan II. Begitupula untuk perlakuan jenis kompos mampu memberikan lebar daun sebesar 3-4 cm pada percobaan I dan 2-4 cm pada percobaan II. Lebar daun pada kompos yang ditambahkan pupuk kandang terlihat tidak terlalu berbeda jauh hasilnya dengan yang tanpa ditambahkan pupuk kandang dan hal ini juga ditunjukkan dengan hasil rataan lebar daun pada kompos yang ditambahkan biodekomposer tidak terlalu berbeda jauh nilainya dengan tanpa biodekomposer. Tabel 1 menunjukkan bahwa lebar daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 2.68 cm untuk percobaan I dan 1.43 cm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 5 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan lebar daun sebesar 2 cm dan pemberian kompos K1B1 pada percobaan II juga mampu meningkatkan lebar daun 2 cm. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I meningkatkan lebar daun

13 30 sebesar 1-2 cm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dan D3 dapat menambah lebar daun sebesar 2 cm. Tabel 5. Lebar dan Panjang Daun pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos Lebar Daun Panjang Daun Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos..cm....cm....cm....cm.. D1 3.43a 2.43b 60.95a 53.79b D2 3.65a 3.13a 63.73a 62.21a D3 3.71a 3.12a 63.10a 59.16a Jenis Kompos K0B0 3.39bc 2.72ab 60.35bc 53.69b K0B1 3.15c 2.96ab 55.26c 58.01ab K0B2 3.66abc 3.09ab 64.17ab 65.61a K0B3 3.32bc 2.53b 60.08bc 55.23ab K0B4 3.26c 2.40b 54.69c 54.10b K1B0 4.08a 3.21ab 69.81a 62.76ab K1B1 4.06a 3.57a 67.97a 65.46a K1B2 3.49bc 2.77ab 63.63ab 56.02ab K1B3 3.85ab 3.27ab 67.04ab 60.48ab K1B4 3.72abc 2.41b 62.91ab 52.50b (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% Panjang Daun Peubah panjang daun pada percobaan I memperlihatkan nilai yang berbeda nyata dengan taraf 1% untuk perlakuan jenis kompos dan perlakuan dosis kompos tidak berpengaruh nyata sedangkan percobaan II memiliki hasil yang berbeda nyata pada perlakuan jenis kompos dan berbeda sangat nyata untuk perlakuan dosis kompos. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3). Pada percobaan I, daun terpanjang terdapat pada dosis D2 (63.73 cm) dan jenis kompos K1B0 dengan rataan cm dan yang terendah dosis D1 (60.95 cm) dan jenis kompos K0B4 dengan rataan cm sedangkan panjang daun terbesar pada percobaan II yaitu 20 ton/ha (62.21 cm) dan jenis kompos K0B2

14 31 dengan cm dan terkecil terdapat pada dosis D1 (53.79 cm) dan jenis kompos K1B4 dengan rataan cm (Tabel 5). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan kisaran panjang daun sebesar cm pada percobaan I dan percobaan II hanya mampu menghasilkan panjang daun berkisar antara cm. Dosis 20 ton/ha (D2) memiliki panjang daun cm percobaan I dan percobaan II hanya memiliki panjang daun kisaran 62 cm, sedangkan dosis 30 ton/ha (D3) memberikan panjang daun hanya berkisar 59 cm dalam percobaan II dan pada percobaan II dapat mencapai panjang daun 63 cm. Biodekomposer mdec memberikan pertumbuhan panjang daun yang kurang optimum baik dengan adanya penambahan pupuk kandang (K1B4) maupun tanpa penambahan pupuk kandang (K0B4) karena pada K0B4 dan K1B4 memberikan panjang daun terendah. Tabel 1 menunjukkan bahwa panjang daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar cm untuk percobaan I dan cm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 5 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan panjang daun sebesar 20 cm dan pemberian kompos K0B2 pada percobaan II mampu meningkatkan panjang daun sampai 35 cm. Aplikasi kompos sebanyak 20 ton/ha pada percobaan I meningkatkan panjang daun sebesar 14 cm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dapat menambah panjang daun sebesar 32 cm. Lebar dan panjang daun merupakan komponen pengamatan daun yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Permukaan daun yang lebar dan panjang mampu menyerap jumlah cahaya yang cukup banyak sehingga dapat meningkatkan kegiatan fotosintesis. Ntar (1992) menerangkan bahwa kegiatan fotosintesis tergantung pada kapasitas penerimaan organ tertentu sebagai contoh penyerapan cahaya oleh daun. Pertumbuhan daun juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pertanaman. Menurut Tisdale et al., (1985) pemanjangan daun terjadi karena ada tingkat kepekaan terhadap kekurangan air dan akan berhenti sebelum persediaan air tanah habis terpakai dan Leiwakabessy (1988) menyatakan bahwa terhambatnya aktivitas organ tanaman bagian atas karena adanya gangguan translokasi air dan unsur hara dari dalam tanah yang disebabkan oleh suhu tanah yang tidak baik.

15 32 Hasil pengamatan kadar air tanah berdasarkan bobot basah dan kering tanah menunjukkan bahwa nilai kadar air pada 1 HSS tertinggi terdapat dalam perlakuan D3 (30.24%) dan jenis kompos K1B1 (31.90%) sedangkan yang terendah pada perlakuan D2 (28.50%) dan jenis kompos K0B0 (28.06%). Pada 4 HSS kadar air tertinggi terdapat dalam perlakuan D3 (24.07%) dan jenis kompos K0B4 (24.31%) sedangkan yang terendah pada perlakuan D2 (22.71%) dan jenis kompos K0B0 (20.37%) (Tabel Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang tidak diberikan tambahan pupuk kandang memiliki daya ikat air tanah yang rendah dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan pupuk kandang, karena pupuk kandang dapat berfungsi untuk membantu menjerap air tanah sehingga kelembaban tanah menjadi lebih terjaga dan pertumbuhan daun tidak mungkin terhambat. Selain itu, kompos dengan penambahan pupuk kandang memiliki ukuran partikel yang lebih besar sehingga mampu untuk menyerap air dalam jumlah yang cukup banyak. Warna Daun Warna daun merupakan suatu indikator yang menunjukkan kesegaran dan kesehatan suatu tanaman. Warna daun dapat menunjukkan bahwa tanaman kekurangan air, tanaman terserang penyakit, dan melalui warna daun dapat juga diketahui suatu tanaman mengalami kekurangan hara. Tanaman jagung yang ditanam pada intensitas cahaya rendah akan terjadi etiolasi dan daun terlihat pucat karena kadar klorofil rendah dan proplastida tidak berubah menjadi khloroplast melainkan menjadi etioplast (Fosked, 1994). Warna daun berkorelasi positif dengan jumlah klorofil dalam daun dan alat yang dapat digunakan untuk melihat warna daun dan jumlah klorofilnya diantaranya Munsell Color Chart (MCC) dan Chlorophylmeter (SPAD). Menurut Balasubramanian et al., (2000) kedua alat tersebut dapat digunakan berdasarkan perbedaan warna yang dipantulkan oleh daun. Sumber sensor pemantul berbeda antara kedua alat tersebut, pada MCC sumber sensornya langsung dari cahaya matahari dan SPAD dengan menggunakan sensor lampu dengan menambahkan kalibrator. MCC dan SPAD dapat dipergunakan bukan hanya untuk menentukan jumlah klorofil dalam daun tetapi juga dapat dijadikan sebagai penentu kandungan

16 33 N (Anand dan Byju, 2008) dan Sulistyaningsih et al., (2005) juga berpendapat bahwa pengukuran tingkat kehijauan suatu daun dapat juga sekaligus menentukan jumlah klorofilnya. Wujud daun, klorofil dan N daun merupakan faktor fotosintesis sehingga ketiganya berhubungan erat dengan laju fotosintesis (Kappel and Flore, 1983; Lin T-B, Schwartz, and Saranga, 1999). Nitrogen merupakan komponen hara yang menyebabkan pertumbuhan vegetatif tanaman dan penentu warna hijau daun. Ketidakseimbangan hara N dengan hara-hara makro lainnya mampu menghambat proses pematangan dan tanaman hanya memperpanjang fase vegetatifnya. Apabila akar tanaman tidak mampu untuk menyerap hara N yang cukup untuk pertumbuhan tanaman maka senyawa N pada daun tua akan berubah warna menjadi coklat yang dikenal dengan istilah klorosis. Gejala ini dimulai dengan mengeringnya daun dari bagian ujung yang menjalar ke seluruh bagian daun. Berdasarkan hasil pengamatan, peubah warna daun yang diukur dengan MCC menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada percobaan I dan berbeda sangat nyata pada percobaan II untuk perlakuan dosis kompos sedangkan perlakuan jenis kompos tidak berbeda nyata begitupula dengan pengukuran menggunakan SPAD menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II untuk pengukuran menggunakan MCC dan SPAD (Tabel Lampiran 3). Pada pengukuran MCC untuk percobaan I, warna daun dengan rataan tingkat kehijauan tertinggi 4.24 (dosis kompos 30 ton/ha) dan jenis kompos K1B0 (4.39) dan yang terendah ada pada dosis D1 (4.02) dan jenis kompos K0B1 (3.89) sedangkan pada percobaan II tingkat kehijauan tertinggi dengan nilai 5.15 (D3) dan jenis kompos K1B3 (5.22) sedangkan yang terendah 4.50 untuk D1 dan jenis kompos K0B4 (4.44). Pengukuran menggunakan SPAD daun yang berwarna paling hijau bernilai 0.70 (D3) dan 0.73 untuk jenis kompos (K0B2 dan K1B0) sedangkan yang terendah bernilai 0.63 (D1) dan jenis kompos K0B4 (0.62) (Tabel 6). Tabel 1 menunjukkan bahwa warna daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 3.88 untuk percobaan I dan 3.83 untuk

17 34 percobaan II (pengukuran menggunakan MCC) sedangkan pengukuran dengan SPAD menunjukkan nilai 0.54 pada percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 6 bahwa pengukuran menggunakan MCC pada percobaan I, kompos K1B0 dapat meningkatkan kehijauan daun sebesar 0.51 dan pemberian kompos K1B3 pada percobaan II mampu meningkatkan hijau daun sampai Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I meningkatkan kehijauan daun sebesar 0.36 sedangkan pada percobaan II dosis D3 dapat menambah hijau daun sebesar pengukuran dengan SPAD K0B2, K1B0, dan D3 mampu meningkatkan kehijauan daun sebesar Tabel 6. Warna Daun pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos Pengukuran Menggunakan Munsell Color Chart dan SPAD Warna Daun (Munsell Color Chart) Warna Daun (Chlorophylmeter) Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. II Dosis Kompos..skala....skala....skala.. D1 4.02b 4.50b 0.63b D2 4.09ab 4.93a 0.70a D3 4.24a 5.15a 0.68ab Jenis Kompos K0B0 3.94b 4.61a 0.64a K0B1 3.89b 4.83a 0.65a K0B2 4.11ab 5.17a 0.73a K0B3 4.11ab 4.50a 0.63a K0B4 4.15ab 4.44a 0.62a K1B0 4.39a 4.94a 0.73a K1B1 4.28ab 5.17a 0.71a K1B2 4.22ab 5.06a 0.70a K1B3 4.15ab 5.22a 0.71a K1B4 3.93b 4.67a 0.61a (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

18 35 Tinggi Tanaman dan Diameter Batang Tanaman pertanian seperti halnya jagung merupakan tanaman yang membutuhkan cahaya yang cukup sehingga cahaya menjadi salah satu faktor pembatas utama pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Faktor ini sangat dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari dan tidak mudah diatasi bila terdapat permasalahan. Pada tanaman jagung yang ternaungi akan menunjukkan adanya gejala hambatan pertumbuhan dan dapat diamati dari tinggi tanaman jagung, Suhu dan kelembaban lingkungan serta tanah merupakan suatu faktor lingkungan yang menentukan pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan diameter batang). Suhu lingkungan penelitian secara langsung dapat mengganggu aktivitas fisiologis tanaman mulai dari penyerapan air dan hara dari dalam tanah hingga translokasi hasil fotosintesis dari daun. Menurut Leiwakabessy (1988) pada kondisi suhu rendah serapan hara oleh perakaran tanaman akan berkurang dan apabila suhu diatur fluktuasinya maka serapan hara kembali normal sedangkan suhu optimum yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu 60ºC. Gambar Lampiran 1 menunjukkan suhu lingkungan penelitian berkisar 27-40ºC sehingga tidak terlalu mempengaruhi pertanaman jagung. Suhu dan kelembaban tanah mempengaruhi aktivitas mikroba perombak bahan organik dalam tanah. Kisaran suhu yang baik untuk mikroba yaitu ºF atau setara dengan 10-40ºC (Leiwakabessy, 1988), jika lebih atau kurang dari batasan suhu tersebut dimungkinkan bahan organik dalam hal ini kompos tidak terombak dengan baik sehingga tidak dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman. Berdasarkan hasil pengamatan suhu dan kelembaban tanah dengan alat moisture tester diperoleh hasil suhu tanah berada pada kisaran 28-37ºC dan kelembaban tanah 79-93% baik saat 1 HSS maupun 4 HSS (Tabel Lampiran 4 dan 5) yang berarti bahwa faktor ini dimungkinkan tidak terlalu mempengaruhi tanaman jagung. Menurut Thamrin dan Hanafi (1992) pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh keadaan air dalam jaringan tanaman. Jika kandungan air dalam jaringan tanaman dalam jumlah yang cukup, maka semua proses metabolisme yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan berjalan baik. Jika kandungan air dalam jaringan tanaman kurang,

19 36 maka semua proses yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan terganggu, akibatnya tanaman akan layu dan mati. Keadaan yang sama terjadi pada penelitian ini yaitu tanaman mengalami kekeringan dan akhirnya mati. Premshekar dan Rajashree (2009) mengatakan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman disebabkan karena adanya peningkatan pembelahan dan pemanjangan sel sebagai akibat penambahan hara ke dalam tanah maupun tubuh tanaman. Hara yang berasal dari kompos sebaiknya memiliki C/N ratio yang baik bagi tanaman dalam arti nilainya mendekati C/N ratio tanah agar tidak terjadi immobilisasi hara nitrogen oleh mikroba yang dapat mengurangi ketersediaan nitrogen dalam tanah (Basuki et al., 1995). Semakin rendah nilai C/N ratio akan semakin tersedia unsur N bagi tanaman. Hal ini sejalan dengan pernyataan Tisdale dan Nelson (1975) bahwa bahan organik yang memiliki nilai C/N ratio < 20 akan menyebabkan terjadinya pelepasan N dari bahan organik ke dalam tanah, nilai C/N ratio antara tidak akan terjadi pelepasan N dari bahan organik dan tidak terjadi immobilisasi nitrogen tanah, dan nilai C/N ratio > 30 akan terjadi immobilisasi nitrogen tanah akan tetapi Hamoda et al., (1998) mengungkapkan bahwa nilai C/N ratio berkisar dianggap masih dalam batas kelayakan. Dalam hal ini menunjukkan unsur N merupakan komponen yang dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif, sesuai dengan penelitian Meinira (1993) C/N ratio yang rendah, semakin mempermudah tanaman menyerap hara N. Pertumbuhan vegetatif tanaman akan baik apabila menyerap hara N dalam bentuk tersedia yaitu NO - 3 atau NH + 4 (Sudarman, 1995). Tabel 1 menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar cm untuk percobaan I dan cm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 7 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan tinggi tanaman sebesar 38 cm dan pemberian kompos K1B0 pada percobaan II mampu meningkatkan tinggi tanaman sampai 68 cm. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I meningkatkan tinggi tanaman sebesar 41 cm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dapat menambah tinggi tanaman sebesar 54 cm.

20 37 Tabel 7. Tinggi Tanaman dan Diameter Batang pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos Tinggi Tanaman Diameter Batang Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos..cm....cm....mm....mm.. D b 83.56b 7.51a 4.72b D a 95.65a 8.11a 6.25a D a 95.04a 7.93a 5.91a Jenis Kompos K0B cd 90.99ab 7.40bcd 5.18ab K0B d 94.06ab 6.71cd 5.72ab K0B abc 93.74ab 7.81bcd 6.71a K0B bcd 87.75b 7.19cd 4.79b K0B d 88.22ab 6.49d 4.75b K1B a a 8.85ab 6.28ab K1B ab 96.28ab 9.29a 6.72a K1B abc 85.21b 7.99abc 5.43ab K1B abc 91.11ab 8.69ab 6.20ab K1B abc 76.97b 8.06abc 4.48b (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% Berdasarkan hasil pengamatan tinggi tanaman diperoleh hasil yang berbeda nyata untuk perlakuan dosis kompos baik pada percobaan I maupun percobaan II sedangkan untuk perlakuan jenis kompos hasil yang berbeda nyata hanya pada percobaan I. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3). Rataan tinggi tanaman terbesar percobaan I yaitu cm (dosis 20 ton/ha) dan jenis kompos K1B0 (97.18 cm) dan yang terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (83.92 cm) dan jenis kompos K0B1 (75.42 cm). Percobaan II menunjukkan hasil tertinggi ada pada perlakuan dosis kompos 20 ton/ha (95.65 cm) dan jenis kompos K1B0 ( cm) dan yang terendah cm (D1) dan jenis kompos K1B4 dengan cm (Tabel 7). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan kisaran tinggi sebesar cm, 20 ton/ha (D2) dan 30 ton/ha (D3) memiliki tinggi

21 38 tanaman cm. Pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan kisaran tinggi sebesar cm, 20 ton/ha (D2) dan 30 ton/ha (D3) memiliki tinggi tanaman cm Nilai rataan tinggi tanaman pada percobaan II terlihat memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan percobaan I. Pengamatan diameter batang diperoleh hasil yang berbeda sangat nyata pada percobaan I dan percobaan II untuk perlakuan jenis kompos sedangkan perlakuan dosis kompos hanya berbeda nyata pada percobaan II. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3). Pengamatan diameter batang menghasilkan diameter terbesar pada percobaan I yaitu 8.11 mm (dosis 20 ton/ha) dan jenis kompos K1B1 (9.29 mm) dan yang terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (7.51 mm) dan jenis kompos K0B4 (6.49 mm). Percobaan II menunjukkan hasil tertinggi ada pada perlakuan dosis kompos 20 ton/ha (6.25 mm) dan jenis kompos K1B1 (6.72 mm) dan yang terendah 4.72 mm (D1) dan jenis kompos K1B4 dengan 4.48 mm (Tabel 7). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) dan 30 ton/ha (D3) memberikan kisaran diameter sebesar 7-8 mm sedangkan dosis 20 ton/ha (D2) memiliki diameter batang 8 mm dalam percobaan I. Pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) dan dosis 30 ton/ha (D3) memiliki diameter batang sebesar antara 4 6 mm sedangkan D2 memiliki diameter 6 mm. Tabel 1 menunjukkan bahwa diameter batang pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 5.00 mm untuk percobaan I dan 3.11 mm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 7 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B1 dapat meningkatkan diameter batang sebesar 4.29 mm dan pemberian kompos K1B1 pada percobaan II mampu meningkatkan diameter batang sampai 3.61 mm. Aplikasi kompos sebanyak 20 ton/ha pada percobaan I meningkatkan diameter batang sebesar 3.11 mm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dapat menambah diameter batang sebesar 3.14 mm.

22 39 Respon Brangkasan Tanaman Bobot Basah dan Bobot Kering Total Peubah bobot basah total menunjukkan nilai yang berbeda sangat nyata untuk perlakuan dosis kompos pada percobaan I dan percobaan II sedangkan perlakuan jenis kompos hanya berbeda nyata pada percobaan II. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 12). Pada percobaan I, bobot basah terbesar terdapat pada 30 ton/ha (5.50 g) dan jenis kompos K1B1 dengan rataan 6.36 g dan terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (4.62 g) dan kompos K0B1 (4.08 g) sedangkan pada percobaan II, bobot basah terbesar terdapat pada 20 ton/ha (6.99 g) dan jenis kompos K0B2 dengan rataan 7.67 g dan nilai sebesar 5.64 g merupakan rataan bobot basah terkecil pada perlakuan 10 ton/ha dan kompos K1B4 memiliki bobot basah terkecil dengan 5.16 g. Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha mampu memberikan rataan bobot basah berkisar 4-5 g, dosis 20 ton/ha dan dosis 30 ton/ha tanaman akan memiliki bobot basah antara 5-6 g dalam percobaan I sedangkan pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha mampu memberikan rataan bobot basah berkisar 5-6 g, dosis 20 ton/ha dan dosis 30 ton/ha tanaman akan memiliki bobot basah antara 6-7 g (Tabel 8). Bobot basah total brangkasan tanaman percobaan I berbeda dengan percobaan II. Bobot basah yang dihasilkan dalam percobaan II lebih beragam dan memiliki selang bobot yang lebih besar untuk setiap dosis aplikasi dibandingkan dengan percobaan I. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh iklim selama masa tanam percobaan II yang diduga lebih ekstrim dari percobaan I. Bobot basah total brangkasan tanaman terkait dengan fotosinesis. Fotosintesis yang baik akan menghasilkan bobot brangkasan yang tinggi. Fotosintesis sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, CO 2, dan intensitas cahaya (Leiwakabessy, 1988). Kondisi lingkungan yang ekstrim menuntut tanaman untuk dapat beradapatasi. Apabila pengaruh suhu terlalu besar dalam fotosintesis maka dapat mengatur besar

23 40 kecilnya intensitas cahaya atau jika cahaya dalam kondisi cukup dapat menambah unsur CO 2 untuk meningkatkan fotosistesis. Bobot basah total juga dipengaruhi zat hijau daun, semakin hijau daun semakin baik proses fotosintesis. Hasil penelitian Judkins dan Wander (1949) pada beberapa jenis tanaman seperti tanaman anggur dan apel warna daun terkait dengan kandungan N pada daun. Sejalan dengan penelitian Yunindanova (2009) bahwa tanaman yang kekurangan unsur N dapat mengganggu pertumbuhan vegetatif dan proses fotosintesis sehingga produksinya menjadi kecil. Peubah bobot kering total pada percobaan I menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata sedangkan percobaan II berbeda nyata pada taraf 5% untuk perlakuan dosis kompos dan berbeda sangat nyata untuk perlakuan jenis kompos. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 12). a b Gambar 4. Kondisi Brangkasan Tanaman a) Percobaan I dan b) Percobaan II Pada percobaan I, bobot kering terbesar terdapat pada 30 ton/ha (2.18 g) dan jenis kompos K1B1 dengan rataan 2.51 g dan terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (1.91 g) dan kompos K0B1 dan K0B4 (1.67 g) sedangkan pada percobaan II, bobot kering terbesar terdapat pada 30 ton/ha (4.04 g) dan jenis kompos K1B1 dengan rataan 4.66 g dan nilai sebesar 3.24 g merupakan rataan bobot kering terkecil pada perlakuan 10 ton/ha dan kompos K1B4 memiliki bobot kering terkecil dengan 2.79 g. Pemberian kompos pada percobaan I dengan dosis 10

24 41 ton/ha, dosis 20 ton/ha, dan dosis 30 ton/ha tanaman hanya memiliki bobot kering antara 1-2 g sedangkan pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha mampu memberikan rataan bobot basah berkisar 3 g, dosis 20 ton/ha dan dosis 30 ton/ha tanaman akan memiliki bobot basah antara 3-4 g (Tabel 8). Tabel 1 menunjukkan bahwa bobot basah total pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar g untuk percobaan I dan g untuk percobaan II. Bobot kering total pada kontrol tanah sebesar g (percobaan I) dan 4.00 g (percobaan II). Pemberian kompos K1B0 pada percobaan I dapat meningkatkan bobot basah sebesar 18 g dan pemberian kompos K0B2 pada percobaan II mampu meningkatkan bobot basah sebesar 48 g. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I memperbesar bobot basah sebanyak 17 g sedangkan pada percobaan II dosis D3 penambahan bobot basahnya mencapai 40 g (Tabel Lampiran 23). K1B3 meningkatkan bobot kering total hingga 2.4 g pada percobaan I sedangkan K1B0 menghasilkan selang bobot kering hingga 18 g. Aplikasi dosis 30 ton/ha mampu meningkatkan bobot kering sebesar 1 g pada percobaan I dan 14 g pada percobaan II. Bobot kering total memiliki peranan yang penting untuk menentukan besarnya serapan hara yang dilakukan oleh tanaman. Besarnya serapan hara menunjukkan bahwa tanaman tersebut mampu menunjang pertumbuhannya. Akan tetapi, hal ini tidak terlalu bersifat mutlak karena faktor lingkungan selalu menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Semakin kecil nilai bobot keringnya maka hara yang mampu diserap tanaman sedikit, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan morfologisnya.

25 42 Tabel 8. Bobot Basah dan Bobot Kering Total Brangkasan Tanaman Bobot Basah Total Bobot Kering Total Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos..g....g....g....g.. D1 4.62b 5.64b 1.91b 3.24b D2 5.41a 6.99a 2.17a 3.98a D3 5.50a 6.98a 2.18a 4.04a Jenis Kompos K0B0 4.50cd 5.79bc 1.84cd 3.36b K0B1 4.08d 6.71abc 1.67d 3.70ab K0B2 5.44abc 7.67a 2.18abc 4.64a K0B3 4.69bcd 5.96bc 1.99bcd 3.21b K0B4 4.11d 6.23abc 1.67d 3.25b K1B0 6.18a 7.09ab 2.43ab 4.63a K1B1 6.36a 7.58a 2.51a 4.66a K1B2 5.39abc 6.13abc 2.17abc 3.44ab K1B3 5.84ab 7.07ab 2.35ab 3.83ab K1B4 5.34abcd 5.16c 2.16abc 2.79b (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% (Hasil transformasi) Gambar 5a menunjukkan bahwa pada percobaan II, semakin besar dosis kompos yang diaplikasikan dapat memberikan hasil bobot basah total brangkasan yang meningkat. Penggunaan dosis 10 ton/ha (D1) dapat menghasilkan rataan bobot basah sebesar g/tanaman, dosis D2 mampu memberikan bobot basah sebesar g/tanaman, dan D3 rataan bobot basahnya g/tanaman. Persamaan yang ada menghasilkan dosis minimum yaitu sebesar 2.63 ton/ha yang berarti berada di bawah aplikasi kompos sebesar 10 ton/ha (D1).

26 43 Bobot Basah Total (gram) a y = x x Dosis Kompos Bobot Basah Total (gram) b K K1 B0 B1 B2 B3 B4 Jenis Kompos Gambar 5. Grafik Bobot Basah Total Percobaan II a) Pengaruh Dosis Kompos b) Pengaruh Jenis Kompos (K0 = Tanpa Pupuk Kandang dan K1 = Dengan Pupuk Kandang) Gambar 5b menunjukkan bahwa pada percobaan II tanah yang diberikan kompos mampu memberikan hasil bobot basah total brangkasan yang berbeda dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos. Pembuatan kompos tanpa penambahan pupuk kandang yang menggunakan biodekomposer Biotriba (K0B2) dapat menghasilkan bobot basah tertinggi sebesar g/tanaman sedangkan kompos yang ditambahkan pupuk kandang akan memberikan bobot basah tertinggi sebesar g/tanaman jika menggunakan biodekomposer EM4 (K1B1).

27 44 Bobot Basah dan Bobot Kering Akar Peubah bobot basah akar pada percobaan II menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada taraf 5 % untuk perlakuan dosis dan jenis kompos sedangkan percobaan I menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 12). Pada percobaan I, bobot basah terbesar terdapat pada 30 ton/ha (1.89 g) dan jenis kompos K1B1 yang rataannya 2.08 g dan terendah ada pada perlakuan D1 (1.59 g) dan kompos K0B4 (1.40 g). Pengaruh perlakuan pada percobaan II yang memberikan nilai rataan bobot basah akar terbesar ialah dosis D3 (2.14 g) dan kompos K0B2 dengan 2.44 g serta terendah pada dosis D1 (1.73 g) dan jenis kompos K1B4 (1.51 g). Pada percobaan I dan II rentang bobot basah akar berkisar antara 1 2 g untuk perlakuan dosis dan jenis kompos (Tabel 9). Bobot basah akar merupakan suatu indikator yang menunjukkan kemampuan akar untuk menyerap air. Hal ini sangat dipengaruhi oleh luasnya penjalaran akar dalam mencari air, semakin luas daerah jalarannya maka akan semakin besar bobot akarnya. Sejalan dengan penelitian Handoyo (2010) ketersediaan optimum air dalam tanah akan mampu memaksimalkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan bobot tanaman terutama akar. Jumlah air yang diserap oleh akar kemudian ditranslokasikan ke organ tubuh lainnya seperti batang yang kemudian akan mengisi jaringan xylem dan daun. Tabel 1 menunjukkan bahwa bobot basah akar pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 5.66 g untuk percobaan I dan 0.88 g untuk percobaan II. Bobot kering akar pada kontrol tanah sebesar 2.75 g (percobaan I) dan 0.45 g (percobaan II). Pemberian kompos K1B3 pada percobaan I dapat meningkatkan bobot basah akar sebesar 2-3 g dan pemberian kompos K0B2 pada percobaan II mampu meningkatkan bobot basah akar sebesar 6 g. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I memperbesar bobot basah akar sebanyak 1.5 g sedangkan pada percobaan II dosis D3 penambahan bobot basah akarnya mencapai 3.8 g (Tabel Lampiran 24). K1B1 meningkatkan bobot kering akar hingga 1 g pada percobaan I sedangkan K0B2 menghasilkan selang bobot kering akar hingga 1.5 g. Aplikasi dosis 30 ton/ha menghasilkan bobot kering akar

28 45 yang konstan pada percobaan I sedangkan pada percobaan II meningkat sebesar 1 gram. Tabel 9. Bobot Basah dan Bobot Kering Akar Tanaman Bobot Basah Akar Bobot Kering Akar Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos..g....g....g....g.. D1 1.59b 1.73b 1.02a 1.17b D2 1.84a 2.08a 1.13a 1.34a D3 1.89a 2.14a 1.10a 1.34a Jenis Kompos K0B0 1.53bcd 1.84ab 0.99ab 1.32abc K0B1 1.43cd 1.93ab 0.93b 1.26abc K0B2 2.08a 2.44a 1.17ab 1.50a K0B3 1.83abcd 1.66b 1.15ab 1.14bc K0B4 1.40d 1.91ab 0.96ab 1.23abc K1B0 1.92abc 2.13ab 1.10ab 1.34abc K1B1 2.08a 2.40a 1.20a 1.45ab K1B2 1.78abcd 1.91ab 1.09ab 1.21abc K1B3 1.99ab 2.14ab 1.17ab 1.32abc K1B4 1.70abcd 1.51b 1.10ab 1.06c (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% (Hasil transformasi) Keberadaan air dalam organ daun diperlukan untuk proses fotosintesis sehingga kandungan air dalam tanah memiliki peranan penting bagi tanaman. Kadar air tanah berdasarkan hasil pengamatan yang menunjukkan nilai tertinggi yaitu perlakuan dosis 30 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa, semakin banyak bahan organik yang dimasukkan ke dalam tanah maka semakin tinggi kandungan air karena kemampuan tanah menyerap air semakin meningkat. Penambahan pupuk kandang dalam pembuatan kompos juga dapat meningkatkan kandungan air saat diaplikasikan ke dalam tanah. Sesuai dengan hasil pengamatan bahwa perlakuan kompos K1B1 yang diberikan ke media sebanyak 30 ton/ha memiliki kadar air tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sebesar 31.90% dan 30.24% pada 1 HSS (Tabel Lampiran 6). Hal ini dikarenakan semakin besar ukuran partikel bahan organik maka semakin besar

29 46 jumlah air yang dapat diserap. Selanjutnya, pada pengamatan kadar air tanah 4 HSS perlakuan kompos K0B2 yang diberikan ke media sebanyak 30 ton/ha memiliki kadar air tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sebesar 24.40% dan 24.07%. Penelitian ini menggunakan kompos dibuat dengan menambahkan biodekomposer yang terdiri atas beberapa jenis bakteri yang bersifat fotosintetik dan ototrof sehingga membutuhkan oksigen untuk beraktivitas, namun kondisi lingkungan penelitian kurang menunjang sehingga dimungkinkan aktivitas bakteri yang penting untuk pertumbuhan tanaman terhambat. Terhambatnya aktivitas bakteri-bakteri ini dikarenakan suhu udara dalam rumah kaca yang mencapai lebih dari 40ºC (Gambar Lampiran 1) dan suhu tanah yang mendekati 40ºC membuat beberapa jenis bakteri ini mati (Tabel Lampiran 4 dan 5). Interval penyiraman selama penelitian menyebabkan kondisi yang ekstrim sehingga tanaman beradaptasi secara luas. Kondisi yang tercipta seperti jenuh air saat penyiraman dan stress air saat 4 HSS, hal ini yang menyebabkan matinya bakteri atau aktivitasnya berkurang. Jadi bobot basah akar sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam tanah. Peubah bobot kering akar baik pada percobaan I maupun pada percobaan II menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata begitupula dengan keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 12). Pada percobaan I dan II, bobot kering akar hanya berkisar pada rentang 1 g untuk setiap dosis kompos yang diaplikasikan dan jenis kompos, bobot kering terbesar terdapat pada 20 ton/ha (1.13 g) dan jenis kompos K1B1 yang rataannya 1.20 g dan terendah ada pada perlakuan D1 (1.02 g) dan kompos K0B1 (0.93 g) pada percobaan I. Pengaruh perlakuan pada percobaan II yang memberikan nilai rataan bobot kering akar terbesar ialah kompos D2 dan D3 (1.34 g) dan kompos K0B2 dengan 1.50 g serta terendah pada kompos D1(1.17 g) dan jenis kompos K1B4 (1.06 g) (Tabel 9). Terlihat bahwa pada percobaan II memiliki bobot basah dan bobot kering akar yang lebih rendah dibandingkan dengan percobaan I. Bobot akar kering dapat digunakan untuk menentukan berapa jumlah air yang dapat diserap oleh akar. Besarnya jumlah air yang diserap akar menentukan

30 47 keberhasilan akar dalam mentranslokasikan air ke organ lainnya. Berdasarkan hasil penghitungan kadar air dalam akar yang ada berkisar 52-77% (Tabel Lampiran 7) yang tertinggi ada pada D1K1B1 sebesar 76.95% dan yang terendah D1K1B3 dengan 52.14%. Hasil ini menunjukkan bahwa kemungkinan air yang ditranslokasikan ke organ lain dalam jumlah yang cukup. Panjang Akar dan Volume Akar Peubah panjang akar percobaan I menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata sedangkan pada percobaan II berbeda nyata pada taraf 1% untuk perlakuan dosis kompos sedangkan perlakuan jenis kompos berbeda nyata pada taraf 5%. Peubah volume akar tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 12). Akar terpanjang pada percobaan II terdapat pada dosis 30 ton/ha (4.79 cm) dan jenis kompos K0B2 dengan rataan 5.06 cm dan akar yang terpendek ada pada perlakuan aplikasi kompos D1 (4.39 cm) dan kompos K0B3 dengan nilai rataan sebesar 4.37 cm sedangkan percobaan I memberikan hasil akar terpanjang terdapat pada dosis 20 ton/ha (4.39 cm) dan jenis kompos K0B2 dengan rataan 4.56 cm dan akar yang terpendek ada pada perlakuan aplikasi kompos D1 (4.28 cm) dan kompos K0B4 dengan nilai rataan sebesar 3.94 cm. Rentang panjang akar untuk setiap dosis aplikasi hanya berkisar antara 4-5 cm baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel 10). Tabel 1 menunjukkan bahwa panjang akar pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar cm untuk percobaan I dan cm untuk percobaan II. Volume akar pada kontrol tanah sebesar 6.83 ml (percobaan I) dan 1.00 ml (percobaan II). Pemberian kompos K0B2 dapat meningkatkan panjang akar sebesar 3 cm (percobaan I) dan 8 cm pada percobaan II. Aplikasi kompos sebanyak 20 ton/ha pada percobaan I memperbesar panjang akar sebanyak 2 cm sedangkan pada percobaan II dosis D3 penambahan panjang akarnya mencapai 5 cm (Tabel Lampiran 25). K1B1 meningkatkan volume akar hingga 2 ml pada percobaan I dan 1.7 ml pada percobaan II. Aplikasi dosis 20 ton/ha menghasilkan

31 48 volume akar yang menurun sebesar 0.01 ml pada percobaan I sedangkan pada percobaan II meningkat sebesar 1.3 ml. Panjang akar sangat ditentukan oleh kondisi tanah. Tanah yang kering dapat menjepit akar dengan kuat sehingga pertumbuhannya terhambat sedangkan tanah yang porous cenderung akar bergerak bebas sehingga memiliki ukuran yang lebih panjang. Leiwakabessy (1988) menyatakan bahwa pertumbuhan akar akan meningkat seiring peningkatan suhu hingga optimum yaitu 30ºC. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan ketersediaan air dalam tanah berkurang sehingga akar tidak bergerak secara luas. Tabel 10. Panjang dan Volume Akar Tanaman Panjang Akar Volume Akar Perlakuan Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos..cm....cm....ml....ml.. D1 4.28a 4.39b 1.40a 1.49b D2 4.39a 4.72a 1.59a 1.67a D3 4.33a 4.79a 1.60a 1.61ab Jenis Kompos K0B0 4.26ab 4.47b 1.37abc 1.66a K0B1 4.13ab 4.69ab 1.30bc 1.52a K0B2 4.56a 5.06a 1.74a 1.70a K0B3 4.35ab 4.37b 1.62ab 1.44a K0B4 3.94b 4.71ab 1.22c 1.54a K1B0 4.36ab 4.54ab 1.69ab 1.63a K1B1 4.47ab 5.04a 1.68ab 1.77a K1B2 4.45ab 4.47b 1.46abc 1.49a K1B3 4.48ab 4.55ab 1.67ab 1.72a K1B4 4.37ab 4.42b 1.54abc 1.45a (Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5% (Hasil transformasi) Volume terbesar pada percobaan I terdapat pada dosis 30 ton/ha (1.60 ml) dan kompos K0B2 dengan rataan 1.74 ml dan volume terkecil ada pada perlakuan kompos D1 (1.40 ml) dan jenis kompos K0B4 yaitu sebesar 1.22 ml sedangkan pada percobaan II, dosis 20 ton/ha dan kompos K1B1 memiliki volume akar terbesar dengan rataan 1.67 ml dan 1.77 ml sedangkan volume terkecil ada pada

32 49 perlakuan D1 (1.49 ml) dan jenis kompos K0B3 dengan 1.44 ml (Tabel 10). Terlihat bahwa rentang volume akar berkisar antara 1-2 ml dan percobaan I dan II. Pengukuran volume akar ditujukan untuk melihat seberapa besar kemampuan akar tanaman untuk menyerap air. Semakin besar volume akar yang terukur maka semakin banyak air yang dapat diserap akar. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perakaran tersebut dalam kondisi baik, mampu menunjang pertumbuhan tanaman dan memiliki daerah penjalaran yang luas. Pergerakan akar juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dalam tanah terutama N, P, dan K. Unsur hara K merupakan unsur yang secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan akar karena dalam jumlah yang cukup K akan mudah tercuci sehingga akar akan bergerak bebas untuk mencari unsur tersebut dan dalam jumlah yang kurang maka ujung-ujung akar tidak terbentuk. Unsur P merupakan hara yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan akar. Dalam jumlah yang cukup, fosfat dapat meningkatkan pemanjangan akar dan meningkatkan bobot akar (Leiwakabessy, 1988). Keadaan akar turut menentukan tingkat kemampuan tanaman untuk dapat hidup dalam suatu media tertentu. Lakitan (1993) menyatakan bahwa media tumbuh mempengaruhi sistem perakaran karena dalam media akan ditemui adanya pengaruh dari penghalang mekanis, aerasi, kadar air tanah, suhu tanah, dan kandungan hara. Kondisi tanah dengan C/N ratio > 35 memungkinkan sistem perakaran yang menyebar (Yunindanova, 2009). Derajat kemasaman tanah juga dapat mempengaruhi panjang akar. Pada kedua percobaan ph tanah berkisar 5.24 (percobaan I) dan 4.6 (percobaan II) dimungkinkan tanah yang kurang subur maka pertumbuhan akar menjadi tertekan, karena akar hanya akan menjalar pada daerah permukaan sekitar akar. Jagung termasuk kedalam tanaman monokotil yang memiliki sistem perakaran serabut yang dangkal dan menjalar di bawah permukaan tanah. Hal ini mengakibatkan penyerapan hara terpusat pada daerah permukaan sehingga dihasilkan ukuran akar yang pendek.

33 50 a b Gambar 6. Kondisi Perakaran Tanaman a) Percobaan I dan b) Percobaan II Respon Produksi Tanaman Bobot Basah dan Bobot Kering Tongkol Peubah bobot basah tongkol baik pada percobaan I maupun percobaan II menunjukkan nilai yang tidak berbeda dan peubah bobot kering tongkol juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata begitupula untuk keterkaitan hubungan antara kedua perlakuan juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (Tabel Lampiran 13). Pada percobaan I, bobot basah tongkol terbesar terdapat pada 30 ton/ha (3.83 g) dan jenis kompos K1B1 dengan rataan 3.87 g dan terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (3.32 g) dan kompos K1B2 (3.11 g) sedangkan pada percobaan II, bobot basah tongkol terbesar terdapat pada 20 ton/ha (3.69 g) dan kompos K0B2 dengan rataan 4.12 g dan yang terendah ada pada perlakuan 10 ton/ha (3.14 g) dan jenis kompos K1B4 (2.51 g). Bobot basah tongkol yang dihasilkan memiliki rentang antara 3-4 g untuk percobaan I dan II. Peubah bobot kering tongkol hanya dilakukan pengamatan pada percobaan II dan bobot kering terbesar terdapat pada 30 ton/ha dan 20 ton/ha yaitu 2.24 g serta jenis kompos K1B0 dengan rataan 2.90 g dan terendah ada pada perlakuan D1 (1.90 g) dan kompos K1B4 dengan nilai rataan sebesar 1.34 g (Tabel 11). Secara umum, produksi jagung pada kedua percobaan tergolong sangat rendah. Hal ini dikarenakan kondisi tanah yang digunakan kurang subur bagi tanaman. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keadaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga bulan Mei 2010 di rumah kaca Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Kampus Dramaga, Bogor dan Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Lahan 4. 1. 1. Sifat Kimia Tanah yang digunakan Tanah pada lahan penelitian termasuk jenis tanah Latosol pada sistem PPT sedangkan pada sistem Taksonomi, Tanah tersebut

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. 1.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas 4.1.1. Keadaan Cuaca Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai faktor eksternal dan faktor internalnya yaitu genetika

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Karakteristik Latosol Cikabayan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan tanah yang digunakan dalam percobaan pupuk organik granul yang dilaksanakan di rumah kaca University Farm IPB di Cikabayan, diambil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Selama percobaan berlangsung curah hujan rata-rata yaitu sebesar 272.8 mm per bulan dengan jumlah hari hujan rata-rata 21 hari per bulan. Jumlah curah hujan tersebut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis 26 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur terhadap Sifat Kimia Tanah Pengaplikasian Electric furnace slag (EF) slag pada tanah gambut yang berasal dari Jambi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

Gambar 4. Perubahan Jumlah Daun Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B) pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit

Gambar 4. Perubahan Jumlah Daun Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B) pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Rumput Jumlah Daun Hasil penghitungan jumlah daun menunjukan terjadinya penurunan rataan jumlah daun pada 9 MST dan 10 MST untuk rumput raja perlakuan D0, sedangkan untuk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Analisis Tanah Awal Karakteristik Latosol Cimulang yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 2 dengan kriteria ditentukan menurut acuan Pusat Peneltian Tanah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tanah Awal Podsolik Jasinga Hasil analisis kimia dan fisik Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kriteria PPT (1983), Podsolik Jasinga

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

0 (N 0 ) 12,34a 0,35 (N 1 ) 13,17a 0,525 0,7 (N 2 ) (N 3 )

0 (N 0 ) 12,34a 0,35 (N 1 ) 13,17a 0,525 0,7 (N 2 ) (N 3 ) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Tinggi Tanaman Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pupuk urea dan KCl berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yakni perbanyakan inokulum cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. Perbanyakan inokulum

Lebih terperinci

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Vegetatif Parameter pertumbuhan tanaman terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman. 1. Tinggi tanaman (cm) Hasil

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. saat ini adalah pembibitan dua tahap. Yang dimaksud pembibitan dua tahap

TINJAUAN PUSTAKA. saat ini adalah pembibitan dua tahap. Yang dimaksud pembibitan dua tahap TINJAUAN PUSTAKA Pembibitan Kelapa Sawit Pada budidaya kelapa sawit dikenal dua sistem pembibitan, yaitu pembibitan satu tahap dan pembibitan dua tahap, namun yang umum digunakan saat ini adalah pembibitan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang mudah untuk diamati dan sering digunakan sebagai parameter untuk mengukur pengaruh dari lingkungan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar. Kadar air, ph, C-Organik, Bahan Organik, N total. Berikut data hasil analisis

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar. Kadar air, ph, C-Organik, Bahan Organik, N total. Berikut data hasil analisis IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar Analisis kompos dilakukan untuk mengetahui dan memastikan bahwa kompos jarak pagar yang digunakan sebagai perlakuan dapat meningkatkan pertumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama penelitian berlangsung suhu udara rata-rata berkisar antara 25.1-26.2 o C dengan suhu minimum berada pada bulan Februari, sedangkan suhu maksimumnya

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap jenis makhluk hidup termasuk tanaman. Proses ini berlangsung

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Hasil análisis data penelitian dari masing-masing parameter adalah sebagai berikut: a. Hasil Analisis Kandungan Tabel 1. Tandan Kosong Kelapa Sawit *) Parameter

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM Penetapan Status Kecukupan Hara N, P dan K pada Bibit Duku

PEMBAHASAN UMUM Penetapan Status Kecukupan Hara N, P dan K pada Bibit Duku PEMBAHASAN UMUM Penelitian ini secara umum bertujuan untuk membangun model pemupukan tanaman duku berdasarkan analisis daun dan mempelajari kategori tingkat kecukupan hara pada bibit duku. Cara membangun

Lebih terperinci

Tata Cara penelitian

Tata Cara penelitian III. Tata Cara penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Lahan Percobaan, Labaratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 39 A. Hasil Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perlakuan dalam penelitian ini tersusun atas lima taraf perlakuan. Dalam setiap perlakuan terdapat lima kali ulangan. Kelima perlakuan tersebut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Pertumbuhan dan perkembangan stek pada awal penanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar seperti air, suhu, kelembaban dan tingkat pencahayaan di area penanaman stek.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kesadaran manusia akan kesehatan menjadi salah satu faktor kebutuhan sayur dan buah semakin meningkat. Di Indonesia tanaman sawi merupakan jenis sayuran

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Cair Industri Tempe Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih di kenal sebagai sampah, yang kehadiranya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Kompos Kulit Biji Kopi Pengomposan kulit biji kopi dilakukan selama 30 hari, proses pembuatan kompos ini berlangsung secara aerob karena pada saat pembuatan memerlukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian dan Terhadap Sifat sifat Kimia Tanah Penelitian ini mengevaluasi pengaruh pemberian amelioran bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan hara tanah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. dalam siklus kehidupan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. dalam siklus kehidupan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam siklus kehidupan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertambahan Tinggi Bibit (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan bahwa interaksi pupuk kompos TKS dengan pupuk majemuk memberikan pengaruh yang tidak nyata

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Abu Terbang dan Bahan Humat pada Pertumbuhan Tanaman Sengon Hasil analisis ragam menunjukkan adanya interaksi pengaruh antara abu terbang dan bahan humat pada peningkatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN PENGARUH DOSIS PUPUK AGROPHOS DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum Annum L.) VARIETAS HORISON Pamuji Setyo Utomo Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA)

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I.Y.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan dan pemberian berbagai macam pupuk hijau (azolla, gamal, dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan dan pemberian berbagai macam pupuk hijau (azolla, gamal, dan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan yaitu pengujian kadar lengas tanah regosol untuk mengetahui kapasitas lapang kemudian dilakukan penyiraman pada media tanam untuk mempertahankan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan September 2011 di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, IPB Darmaga Bogor. Analisis tanah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa media tanam yang digunakan berpengaruh terhadap berat spesifik daun (Lampiran 2) dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu Pelaksanaan. Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan dan laboratorium Fakultas

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu Pelaksanaan. Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan dan laboratorium Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan dan laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Maret

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi tanaman (cm) Hasil pengamatan yang diperoleh terhadap tinggi tanaman jagung manis setelah dilakukan sidik ragam (Lampiran 9.a) menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Secara umumm planlet anggrek Dendrobium lasianthera tumbuh dengan baik dalam green house, walaupun terdapat planlet yang terserang hama kutu putih Pseudococcus spp pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh membentuk rumpun dengan tinggi tanaman mencapai 15 40 cm. Perakarannya berupa akar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca C Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini dilakukan selama kurun waktu 4 bulan

Lebih terperinci