BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi penelitian Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Sungai ini bermuara ke Teluk Tomini yang merupakan Sungai terbesar di antara sungai-sungai di Gorontalo. Pengamatan sekilas menunjukkan bahwa sungai ini telah mengalami sedimentasi akibat berbagai kegiatan di bagian hulu seperti peladangan yang berpindah-pindah, padatnya pemukiman di daerah bantaran sungai menyebabkan peningkatan volume limbah domestik ke sungai melalui aliran permukaan. Selain faktor tersebut di atas, jarak lokasi pembangunan Kawasan Pusat Pemerintah Propinsi Gorontalo (KP3) dengan Sungai Bone hanya 600 m dan jarak antara lokasi KP3 dengan muara sungai berkisar 2,5 km diduga ikut mempengaruhi degradasi kualitas ekosistem Sungai Bone. Sungai Bone memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Bagi masyarakat Bone Bolango sungai Bone berfungsi sebagai area konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan Daerah Aliran Sungai agar tidak terdegradasi, dan curah hujan dengan tutupan vegetasi lahan yang memadai. Bagi masyarakat kota Gorontalo dibagian hilir sungai Bone bermanfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, kebutuhan pertanian, air bersih, serta pariwisata.

2 4.2 Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan terhitung dari pertengahan bulan Maret sampai pada pertengahan bulan April. Pengumpulan data hasil penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dan pengamatan di laboratorium. Penelitian ini dilakukan di 3 stasiun Sungai Bone, yaitu Sungai Bone yang berada di daerah Suwawa untuk mewakili bagian hulu, daerah Kabila untuk mewakili bagian tengah, dan Talumolo untuk mewakili bagaian hilir Sungai Bone. Secara umum kondisi sungai Bone relatif lebar. Substrat umumnya batuan dan pasir. Berikut merupakan hasil penelitian yang ditampilkan dari hasil pengamatan parameter fisik dan kimia, dan hasil pengamatan makroinvertebrata: Data Hasil Pengamatan Fisik dan Kimia Berikut hasil pengamatan dengan parameter fisik dan kimia, yaitu dengan mengukur suhu, ph, dan kekeruhan. Tabel Tabel Hasil Pengamatan Fisik dan Kimia Parameter Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Standar kualitas Date 24 Maret April April 2012 Location Suwawa Kabila Jembatan Talumolo Air Bersih Menurut PerMenKes RI No. 416/MenKes/PER/ IX/ 1990 Turbidity (NTU) Water Temperature ( C) Ph 8,09 7,86 7,78 6,5-9,0 Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan

3 Tabel menunjukkan bahwa untuk hasil pengukuran suhu pada ketiga stasiun masih berkisar o C, dan untuk nillai ph berkisar antara 7-8, sedangkan untuk nilai tingkat kekeruhan pada setiap stasiun berada pada NTU. Berikut hasil pengukuran dengan parameter fisik dan kimia, yang dapat digambarkan melalui diagram. Hasil pengukuran suhu air aliran Sungai Bone pada ketiga stasiun dapat digambarkan pada diagram sebagai berikut: Diagram Diagram Hasil Pengukuran Suhu Air dengan Standar o C Sangat terlihat bahwa suhu untuk setiap stasiun masih berada dibawah standar Permenkes 416 tahun 1990, dimana untuk standar suhu adalah o C. Selanjutnya hasil pengukuran kekeruhan dengan standar 25 NTU, dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut:

4 Diagram Diagram Hasil Pengukuran Kekeruhan Air dengan Standar 25 NTU (Nephelometric Turbidity Unit) Diagram berikut menunjukkan nilai ph di setiap stasiun dengan membandingkan standar berdasarkan Permenkes 16 Tahun 1990, dapat digambarkan sebagai berikut : Diagram Diagram Hasil Pengukuran PH Air dengan Standar PH 6,5-9,0

5 4.2.2 Data Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Hasil pengamatan makroinvertebrata di lokasi penelitian, yaitu Sungai Bone untuk setiap stasiun pengamatan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Pada Stasiun 1 Berdasarkan Famili Biotik Indeks NO NAMA FAMILI ORDO JUMLAH Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan berikut : JUMLAH (Xi) NILAI TOLERANSI (ti) Untuk nilai perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI) stasiun 1 adalah sebagai Xi.ti 1 Nepidae Hemiptera Gerridae Hemiptera Parathelphusidae Decapoda Palaemonidae Decapoda Thiaridae Gastropoda Viviparidae Gastropoda Libellulidae Odonata Aeshnidae Odonata X i * t i FBI= n 1763 = = 5, Jadi, untuk stasiun 1 termasuk dalam kategori agak buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak.

6 Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Pada Stasiun 1 Berdasarkan BISEL Biotik Indeks. Kelompok Jumlah Frekuensi Nilai Biotik Makroinvertebrata Skor Taksa Ditemukan Indeks Indikator Keterangan Hemiptera 5 2 >2 3 Decapoda 4 2 >2 4 Gastropoda 4 2 >2 4 Odonata 4 2 >2 4 Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan Ditemukan 2 taksa famili Hemiptera lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Hemiptera memiliki nilai indeks 3 Ditemukan 2 taksa famili Decapoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Decapoda memiliki nilai indeks 4 Ditemukan 2 taksa famili Gastropoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Gastropoda memiliki nilai indeks 4 Ditemukan 2 taksa famili Odonata lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Odonata memiliki nilai indeks 4 Berdasarkan tabel standar BBI, disimpulkan bahwa nilai biotik stasiun 1 yang didapatkan berkisar antara 3-4, kemudian diambil nilai maksimumnya, yaitu 4 dan termasuk dalam kategori terpolusi berat atau agak buruk.

7 Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrat Pada Stasiun 2 Berdasarkan Famili Biotik Indeks. NO NAMA FAMILI ORDO JUMLAH (Xi) NILAI TOLERANSI (ti) Xi.ti 1 Gerridae Hemiptera Thiaridae Gastropoda Viviparidae Gastropoda Sundathelphusidae Decapoda Aeshnidae Odonata Tipulidae Diptera Dytiscidae Coleoptera JUMLAH Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan berikut : Untuk nilai perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI) stasiun 2 adalah sebagai X i * t i FBI= n 2480 = = 5, jadi, untuk stasiun 2 termasuk dalam kategori agak buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak.

8 Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Pada Stasiun 2 Berdasarkan BISEL Biotik Indeks. Kelompok Nilai Jumlah Frekuensi Makroinvertebrata Skor Biotik Taksa Ditemukan Indikator Indeks Keterangan Hemiptera 5 1 >2 3 Decapoda 4 1 >2 4 Gastropoda 4 2 >2 4 Odonata 4 1 >2 4 Coleoptera 5 1 >2 3 Diptera Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan Ditemukan 1 taksa famili Hemiptera lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Hemiptera memiliki nilai indeks 3 Ditemukan 1 taksa famili Decapoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Decapoda memiliki nilai indeks 4 Ditemukan 2 taksa famili Gastropoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Gastropoda memiliki nilai indeks 4 Ditemukan 1 taksa famili Odonata lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Odonata memiliki nilai indeks 4 Ditemukan 1 taksa famili Coleoptera lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Coleoptera memiliki nilai indeks 3 Ditemukan 1 taksa famili Diptera 1 kali selama pengamatan. Berarti Diptera memiliki nilai indeks 3 Berdasarkan tabel standar BBI, disimpulkan bahwa nilai biotik stasiun 2 yang didapatkan berkisar antara 3-4, kemudian diambil nilai maksimumnya, yaitu 4 dan termasuk dalam kategori terpolusi berat atau agak buruk.

9 Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Pada Stasiun 3 Berdasarkan Famili Biotik Indeks. NO NAMA FAMILI ORDO JUMLAH (Xi) NILAI TOLERANSI (ti) Xi.ti 1 Nepidae Hemiptera Scirtidae Coleoptera Sundathelphusidae Decapoda Palaemonidae Decapoda Thiaridae Gastropoda Viviparidae Gastropoda Lymnaeidae Gastropoda JUMLAH Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan berikut : Untuk nilai perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI) stasiun 3 adalah sebagai X i * t i FBI= n 2257 = = 6, jadi, untuk stasiun 3 termasuk dalam kategori agak buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak.

10 Tabel Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Pada Stasiun 3 Berdasarkan BISEL Biotik Indeks. Kelompok Nilai Jumlah Frekuensi Makroinvertebrata Skor Biotik Taksa Ditemukan Indikator Indeks Keterangan Hemiptera 5 1 >2 3 Ditemukan 1 taksa famili Hemiptera lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Hemiptera memiliki nilai indeks 3 Decapoda 4 2 >2 4 Ditemukan 2 taksa famili Decapoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Decapoda memiliki nilai indeks 4 Gastropoda 4 3 >2 4 Ditemukan 3 taksa famili Gastropoda lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Gastropoda memiliki nilai indeks 4 Coleoptera 5 1 >2 3 Ditemukan 1 taksa famili Coleoptera lebih dari 2 kali selama pengamatan. Berarti Coleoptera memiliki nilai indeks 3 Sumber : Data Hasil Pengamatan di Lapangan Berdasarkan tabel standar BBI, disimpulkan bahwa nilai biotik stasiun 3 yang didapatkan berkisar antara 3-4, kemudian diambil nilai maksimumnya, yaitu 4 dan termasuk dalam kategori terpolusi berat atau agak buruk.

11 4.3 Pembahasan Analisis Hasil Pengamtan Dengan Parameter Fisik dan Kimia Berdasarkan hasil penelitian dengan mengukur suhu, yang dapat dilihat pada tabel dan diagram dapat disimpulkan bahwa untuk suhu air Sungai Bone untuk ketiga stasiun masih berada dalam kondisi yang layak dan tidak melewati baku mutu standar air bersih berdasarkan PerMenkes 1990, yaitu 20 o C-26 o C. Suhu atau temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas air, karena sangat berhubungan dengan jumlah oksigen yang terkandung dalam air, yang secara langsung akan berkaitan erat dengan proses biologi dan kimia yang terjadi di dalam air, seperti kehidupan dan perkembangbiakan makroinvertebrata yang terdapat di dalam air. Parameter fisik yang diukur bukan hanya suhu, tetapi tingkat kekeruhan pun perlu untuk diukur dalam pemeriksaan status kualitas air. Kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut, misalnya lumpur dan pasir halus (Effendi, 2008). Berdasarkan hasil penelitian untuk pengukuran kekeruhan yang dilakukan pada 3 stasiun, dan telah digambarkan melalui diagram dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan tingkat kekeruhan disetiap sampel air pada ketiga stasiun. Berdasarkan PerMenKes 1990 dan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tingkat kekeruhan untuk dua stasiun, yaitu stasiun 1 dan stasiun 2 tidak melebihi batas sesuai PerMenKes 1990,

12 yaitu 25 NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Dimana untuk stasiun 1 bagian hulu, yaitu daerah Suwawa tingkat kekeruhannya masih berkisar 7 NTU (Nephelometric Turbidity Unit), untuk stasiun 2 bagian tengah, yaitu 12 NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Untuk stasiun 3 bagian hilir tingkat kekeruhanya, yaitu 80 NTU (Nephelometric Turbidity Unit), sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kekeruhan pada stasiun menunjukkan nilai yang melebihi batas. Hal ini disebabkan, banyaknya aktivitas masyarakat yang didominasi kegiatan penambangan galian C, dan aktivitas keseharian masyarakat dibagian hilir, seperti mencuci, mandi, dan sebagainya, sehingga sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan air dibagian hilir. Selain dengan mengukur suhu dan tingkat kekeruhan air, indikator yang umum dilakukan pada saat pemeriksaan pencemaran air adalah ph atau Potential Hydrogen. Derajat keasaman atau ph air yang telah ditetapkan oleh PerMenKes 1990 tentang persyaratan kualitas air bersih adalah 6,5-9,0. Sebagian besar biotik akuatik sensitif terhadap perubhan ph dan menyukai nilai ph sekitar 7-8,5. Dari diagam , terlihat jelas bahwa hasil uji ph air untuk ketiga stasiun masih berada dibawah standar PerMenKes 1990, dengan nilai ph untuk ketiga stasiun dengan kedua kondisi, yaitu berkisar antara ph 7-8. PH air ditentukan oleh kandungan ion H + pada badan air. Nilai ph air yang terukur masih dalam batas yang normal. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ion H + dan OH - berada dalam keadaan yang seimbang. Apabila memperhatikan hasil pengamatan suhu dan ph, relatif kondisi Sungai Bone masih normal. Sungai Bone juga masih terlihat jernih, kecuali

13 pada bagian hilir dimana kekeruhan meningkat menjadi 80 NTU, hal ini disebabkan aktivitas penambangan galian C, yang menyebabkan tingkat kekeruhan untuk stasiun meningkat dan melebihi batas PerMenKes. Meskipun nilai ph, suhu, dan kekeruhan (kecuali stasiun 3), masih menunjukkan kondisi yang tidak melebihi batas PerMenKes 1990, tetapi aktivitas masyarakat disekitaran aliran Sungai Bone baik dari hulu maupun ke hilir, yang menjadi faktor penyebab hilangnya beberapa makroinvertebrata dan menurunnya kualitas air Sungai Bone. Bila dibandingkan dengan beberapa hasil pengamatan sebelumnya dengan menggunakan parameter fisik dan kimia untuk pengukuran suhu, kekeruhan dan ph oleh pihak Balihristi Provinsi Gorontalo terdapat beberapa parameter pengukuran yang tidak memenuhi syarat, tetapi untuk pengukuran suhu, kekeruhan, dan ph masih berada dibawah batas normal, dan berada pada tingkat cemar sedang. Sehingga bila dibandingkan dengan pengukuran yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas air Sungai Bone mengalami penurunan, sehingga berada pada kondisi agak buruk. Selain itu ada pula hasil penelitian sejenis oleh Dominggus Rumahlatu mengenai Biomonitoring sebagai alat asesmen kualitas perairan akibat logam pada invertebrata menemukan bahwa penurunan kualitas air sungai diakibatkan aktivitas manusia disekitaran aliran sungai, yang menyebabkan masuknya bahan-bahan pencemar kedalam air. Akan tetapi, beberapa makroinvertebrata memiliki kisaran toleransi terhadap ph berbaeda-beda, seperti Gastropoda lebih banyak ditemukan pada ph diatas 7, famili Chironomidae berada pada ph diatas 8,5 dan dibawah 4,5, dan pada umumnya, bakteri dapat tumbuh baik pada ph netral (Effendi,

14 2008). Sehingga perlu penelitian lanjutan untuk melihat status kualitas air secara jelas Analisis Hasil Pengamatan Makroinvertebrata Berdasarkan data hasil pengamatan pada tabel , tabel , tabel , tabel , tabel , dan pada tabel dengan Metode Biomonitoring berdasarkan Famili Biotik Indeks dan standar BISEL Biotik Indeks, dan makroinvertebrata sebagai bioindikatornya, yang dilakukan di ketiga stasiun pengamatan. Lokasi stasiun pertama berada didaerah Suwawa. Lokasi ini merupakan titik paling atas (mengarah ke hulu). Lokasi ini untuk mewakili hulu meskipun tidak persis di hulu sungai Bone, mengingat letaknya yang sulit dijangkau. Substrat sungai di Stasiun 1 terutama didominasi batuan. Penggunaan lahannya termasuk kategori kebun campuran. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI), bahwa kondisi aliran sungai pada stasiun 1 berada dalam kategori agak buruk dengan nilai 5,82. Hasil analisis berdasarkan standar BBI aliran sungai pada stasiun 1 memiliki nilai biotik indeks berkisar antara 3-4, dan diambil nilai maksimum untuk stasiun 1, yaitu 4 termasuk dalam tingkat pencemaran terpolusi berat atau agak buruk. Hal ini disebabkan karena pengaruh aliran sungai yang dekat ke arah jalan utama, dan aktivitas masyarakat disekitar aliran sungai, seperti penambangan galian C, memandikan ternak, dan aktivitas keseharian masyarakat. Sehingga mengakibatkan keberadaan makroinvertebrata terganggu dan berpengaruh terhadap kualitas air sungai, khususnya Sungai Bone.

15 Lokasi stasiun kedua berada didaerah Kabila. Dipilihnya titik ini untuk mewakili daerah tengah sungai dan juga merupakan salah satu daerah yang di lewati aliran Sungai Bone. Substrat sungai di stasiun 2 terutama didominasi batuan dan pasir. Seperti pada stasiun 1, di sisi kiri sungai umumnya terbuka. Penggunaan lahannya termasuk kategori kebun campuran. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI), bahwa kondisi aliran sungai pada stasiun 2 berada dalam kategori agak buruk yaitu dengan nilai 5,96. Untuk hasil analisis berdasarkan standar BBI aliran sungai pada stasiun 2 memiliki nilai biotik indeks berkisar antara 3-4, dan diambil nilai maksimum untuk stasiun 2, yaitu 4 termasuk dalam tingkat pencemaran terpolusi berat atau agak buruk. Hal ini disebabakan karena adanya pengaruh aktivitas panambangan galian C didaerah tersebut. Pada stasiun 2 nampak jelas sekali aktivitas penambagan yang dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas penambangan pada stasiun 2 lebih banyak dibandingkan dengan aktivitas pada stasiun 1. Sehingga berpengaruh dengan jumlah dan keberadaan dari makroinvertebrata sebagai bioindikator dalam penentuan kualitas air Sungai Bone. Lokasi stasiun 3 berada di sekitaran Jembatan Talumolo. Lokasi ini mewakili daerah hilir sungai Bone. Di lokasi ini sudah berada di kota, dekat dengan aktivitas masyarakat seperti pemukiman, jalan, dan lain-lain. Pemukiman dan aktivitas budidaya lainnya sudah sangat rapat ke tepi sungai. Aktivitas MCK juga banyak dilakukan di sungai. Yang paling nyata terlihat bahwa di lokasi ini banyak terdapat tambang galian C dibandingkan dengan stasiun 1 dan stasiun 2.

16 Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perhitungan Famili Biotik Indeks (FBI), bahwa kondisi aliran sungai pada stasiun 3 berada dalam kategori agak buruk dengan nilai yang didapatkan, yaitu 6,06. Berdasarkan standar BBI aliran sungai pada stasiun 3 memiliki nilai biotik indeks berkisar antara 3-4, dan diambil nilai maksimum untuk stasiun 2, yaitu 4 termasuk dalam tingkat pencemaran terpolusi banyak atau agak buruk. Sama halnya dengan kondisi pada stasiun 1 dan 2. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat di sekitar aliran sungai yang dapat menurunkan kualitas air sungai. Selain itu letak dari stasiun 3 juga yang sudah berada di Kota Gorontalo, menjadi salah satu faktor penyebab penurunan kualitas air Sungai Bone. Berdasarkan pengamatan sebelumnya oleh pihak Balihristi dan bekerja sama dengan PPLH Regional Sumampapua Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2009 di Sungai Bone dengan metode biomonitoring didapatkan kondisi kualitas air pada saat itu, masih berada dalam kondisi cemar sedang. Seiring makin banyaknya pemukiman penduduk di bantaran Sungai Bone, dan aktivitas meningkatnya aktivitas masyarakat mengakibatkan kualitas air Sungai Bone mengalami penurunan lagi, yang semula masih berada dalam kondisi cukup atau sedang dan telah mengalami penurunan menjadi kondisi agak buruk. Memperhatikan hasil pengamatan makroinvertebrata, terlihat bahwa makin ke hilir, kondisi kualitas air semakin menurun. Ini terlihat dari nilai FBI (family biotic index) lebih besar pada bagian hilir dibandingkan di hulu. Ini menandakan bahwa aktivitas di sepanjang aliran sungai semakin mempengaruhi kondisi kualitas air di hilir. Berdasarkan hasil pengamatan,

17 keadaan aliran sungai di daerah hulu memang relatif lebih baik. Pemukiman yang berbatasan langsung dengan tepi sungai tidak sebanyak di hilir. Di hilir, selain pemukiman yang sangat dekat dengan badan air, aktivitas MCK dari penduduk dan pemukiman juga semakin padat, dan beragam. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi keberadaan makroinvertebrata, dan penurunan kualitas air Sungai Bone, adalah aliran air Sungai Bone yang banyak melewati daerah perkebunan dan pemukiman, sehingga hampir sebagian besar kegiatan masyarakat dan limbah yang dihasilkan berdampak pada Sungai Bone baik dampak yang secara langsung ataupun tidak langsung dari setiap kegiatan masyarakat disekitaran Sungai Bone. Keberadaan dan jumlah dari setiap makroinvertebrata yang ditemukan, mempunyai tingkat kepekaan terhadap bahan pencemar, karena jenis-jenis tertentu sangat peka terhadap pencemaran. Apabila terdapat bahan pencemar dalam perairan, maka biota yang sangat peka akan hilang karena tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya biota yang sangat toleran, akan tetap dapat hidup pada kualitas air yang buruk. Semakin baik kualitas perairan, akan semakin tampak keaneka ragaman hewan tersebut, sebaliknya penurunan kualitas perairan akan tampak jelas dominansi suatu jenis hewan makroinvertebrata yang ditemukan. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wage Komarawidjaja yang berlokasi pada perairan DAS Citarum Hulu Jawa Barat. Bahwa ketersediaan sumber daya air yang aman baik kualitas maupun kuantitasnya dan dapat diandalkan sumber dayanya yaitu terjaga dan terjamin kualitas dan kualitasnya,

18 merupakan persyaratan utama untuk memantapkan keberadaan suatu komunitas biota yang stabil, bila tidak maka akan terjadi migrasi atau punahnya suatu komunitas. Selain berdampak pada keberadaan makroinvertebrata, penurunan kualitas air sungai juga dapat berdampak langsung maupun tidak langsung bagi kesehatan manusia. Selain itu dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara saksama (Effendi, 2008). Sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menurunkan tingkat kesakitan bahkan kematian.

STUDI KUALITAS AIR SUNGAI BONE DENGAN METODE BIOMONITORING (Suatu Penelitian Deskriptif yang Dilakukan di Sungai Bone)

STUDI KUALITAS AIR SUNGAI BONE DENGAN METODE BIOMONITORING (Suatu Penelitian Deskriptif yang Dilakukan di Sungai Bone) STUDI KUALITAS AIR SUNGAI BONE DENGAN METODE BIOMONITORING (Suatu Penelitian Deskriptif yang Dilakukan di Sungai Bone) Stevi Mardiani M. Maruru NIM 811408109 Dian Saraswati, S.Pd, M.Kes Ekawati Prasetya,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Lokasi penelitian dilaksanakan di Sungai Bone. Alasan peneliti melakukan penelitian di Sungai Bone, karena dilatar belakangi

Lebih terperinci

Diah Ari Dwitawati, Biomonitoring kualitas air...

Diah Ari Dwitawati, Biomonitoring kualitas air... Diah Ari Dwitawati, Biomonitoring kualitas air... BIOMONITORING KUALITAS AIR SUNGAI GANDONG DENGAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BAHAN PETUNJUK PRAKTIKUM PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Tulabolo adalah bagian dari wilayah Kecamatan Suwawa Timur,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Tulabolo adalah bagian dari wilayah Kecamatan Suwawa Timur, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1) Desa Tulabolo Desa Tulabolo adalah bagian dari wilayah Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Boalngo, Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan makhluk hidup lainnya. Data dari BPS tahun 2007 menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan makhluk hidup lainnya. Data dari BPS tahun 2007 menunjukkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air sungai mempunyai peranan yang sangat strategis dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Data dari BPS tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 3 persen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air

BAB I PENDAHULUAN. banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar

Lebih terperinci

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961):

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961): 44 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekologi Sungai Aspek ekologi adalah aspek yang merupakan kondisi seimbang yang unik dan memegang peranan penting dalam konservasi dan tata guna lahan serta pengembangan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi masyarakat luas baik

BAB I PENDAHULUAN. Sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi masyarakat luas baik 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi masyarakat luas baik yang digunakan secara langsung ataupun tidak langsung. Sungai Konto merupakan salah satu anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem perairan yang ada disekitarnya. Lingkungan perairan sungai tidak hanya

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem perairan yang ada disekitarnya. Lingkungan perairan sungai tidak hanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan sungai merupakan tempat yang memiliki peran penting bagi semua makhluk hidup. Keberadaan ekosistem sungai dapat memberikan manfaat bagi makhluk hidup, baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sungai Bedagai merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pemerintah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sungai Bedagai merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pemerintah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai Bedagai merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, mengalir dari hulu di Kabupaten Simalungun dan terus mengalir ke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat

Lebih terperinci

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air 1.

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air 1. PANDUAN BIOTILIK UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang BIOTILIK berasal dari kata Bio yang berarti biota, dan Tilik berarti mengamati dengan teliti, sehingga BIOTILIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang merupakan suatu interaksi antara komponen abiotik dan biotik yang saling terkait satu sama lain. di bumi ada dua yaitu ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Kedua

Lebih terperinci

sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air.

sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perairan merupakan ekosistem yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan. Perairan memiliki fungsi baik secara ekologis, ekonomis, estetika, politis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dimilikinya selain faktor-faktor penentu lain yang berasal dari luar. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dimilikinya selain faktor-faktor penentu lain yang berasal dari luar. Hal ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aliran permukaan adalah air yang mengalir di atas permukaan. Aliran permukaan sendiri memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas air yang dimilikinya selain

Lebih terperinci

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air.

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air. PANDUAN BIOTILIK UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang BIOTILIK berasal dari kata Bio yang berarti biota, dan Tilik berarti mengamati dengan teliti, sehingga BIOTILIK

Lebih terperinci

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 186 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1. Secara umum suhu air perairan Teluk Youtefa berkisar antara 28.5 30.0, dengan rata-rata keseluruhan 26,18 0 C. Nilai total padatan tersuspensi air di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta mahkluk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga kualitas airnya harus tetap terjaga. Menurut Widianto

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keanekaragaman Makroinvertebrata Air Pada Vegetasi Riparian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keanekaragaman Makroinvertebrata Air Pada Vegetasi Riparian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keanekaragaman Makroinvertebrata Air Pada Vegetasi Riparian Sampel makroinvertebrata air pada vegetasi riparian yang telah diidentifikasi dari sembilan stasiun titik sampling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran merupakan dampak negatif dari kegiatan pembangunan yang dilakukan selama ini. Pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH Rezha Setyawan 1, Dr. Ir. Achmad Rusdiansyah, MT 2, dan Hafiizh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi. Manusia menggunakan air untuk memenuhi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah

I. PENDAHULUAN. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah sekitarnya. Oleh karena

Lebih terperinci

Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta

Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta Andhika Rakhmanda 1) 10/300646/PN/12074 Manajamen Sumberdaya Perikanan INTISARI Makrozoobentos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam

Lebih terperinci

Jurnal Florea Volume 2 No. 1, April 2015 (41-46) Diah Ari Dwitawati 1), Ani Sulistyarsi 2), Joko Widiyanto 3) 1,2,3)

Jurnal Florea Volume 2 No. 1, April 2015 (41-46) Diah Ari Dwitawati 1), Ani Sulistyarsi 2), Joko Widiyanto 3) 1,2,3) Jurnal Florea Volume 2 No. 1, April 2015 (41-46) BIOMONITORING KUALITAS AIR SUNGAI GANDONG DENGAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BAHAN PETUNJUK PRAKTIKUM PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi yang hingga saat ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sidoarjo dan 6 kota yaitu Batu, Malang, Blitar, Kediri, Mojokerto, dan Surabaya

BAB I PENDAHULUAN. Sidoarjo dan 6 kota yaitu Batu, Malang, Blitar, Kediri, Mojokerto, dan Surabaya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai Brantas adalah sungai terpanjang yang ada di provinsi Jawa Timur. Panjangnya yaitu mencapai sekitar 320 km, dengan daerah aliran seluas sekitar 12.000 km 2

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Air Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat di daratan, perairan lepas pantai (off shore water) dan perairan laut. Ekosistem air yang terdapat

Lebih terperinci

bentos (Anwar, dkk., 1980).

bentos (Anwar, dkk., 1980). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keanekaragaman jenis adalah keanekaragaman yang ditemukan di antara makhluk hidup yang berbeda jenis. Di dalam suatu daerah terdapat bermacam jenis makhluk hidup baik tumbuhan,

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Umar Ode Hasani Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO Email : umarodehasani@gmail.com Ecogreen Vol. 2 No. 2, Oktober

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peranan penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah disekitarnya,

Lebih terperinci

: Baku mutu air kelas I menurut Peraturan Pemerintah RI no. 82 tahun 2001 (hanya untuk Stasiun 1)

: Baku mutu air kelas I menurut Peraturan Pemerintah RI no. 82 tahun 2001 (hanya untuk Stasiun 1) LAMPIRAN 48 Lampiran 1. Hasil rata-rata pengukuran parameter fisika dan kimia perairan Way Perigi Parameter Satuan Baku Mutu Kelas I 1) Baku Mutu Sampling 1 Sampling 2 Sampling 3 Kelas III 2) Stasiun 1

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora, fauna maupun makhluk hidup yang lain. Makhluk hidup memerlukan air tidak hanya sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu

BAB I PENDAHULUAN. Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu senggangnya (leisure time), dengan melakukan aktifitas wisata (Mulyaningrum, 2005). Lebih

Lebih terperinci

Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Sungai Naborsahan Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara

Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Sungai Naborsahan Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Sungai Naborsahan Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara Diversity and Abundance of Macrozoobenthos in Naborsahan River of Toba Samosir Regency, North Sumatera

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kondisi tersebut. Penurunan kualitas air sungai dapat disebabkan oleh masuknya

BAB I PENDAHULUAN. kondisi tersebut. Penurunan kualitas air sungai dapat disebabkan oleh masuknya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sungai memiliki berbagai komponen abiotik dan biotik yang saling berinteraksi membentuk sebuah jaringan kehidupan yang saling mempengaruhi. Sungai merupakan ekosistem

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN SUNGAI METRO, MALANG, JAWA TIMUR ABDUL MANAN

PENGGUNAAN KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN SUNGAI METRO, MALANG, JAWA TIMUR ABDUL MANAN PENGGUNAAN KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN SUNGAI METRO, MALANG, JAWA TIMUR ABDUL MANAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah di sekitarnya,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013). 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai dingin dan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)

Lebih terperinci

komponen ekosistem yang lain (Asdak, 2002). Sungai Tutupan dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai penunjang kehidupan mereka, seperti sumber air, ke

komponen ekosistem yang lain (Asdak, 2002). Sungai Tutupan dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai penunjang kehidupan mereka, seperti sumber air, ke BIOSCIENTIAE Volume 12, Nomor 1, Januari 2015, Halaman 29-42 http:/fmipa.unlam.ac.id/bioscientiae KUALITAS AIR SUNGAI TUTUPAN KECAMATAN JUAI KABUPATEN BALANGAN BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROZOOBENTHOS

Lebih terperinci

JUDUL OBSERVASI ALIRAN DAS BRANTAS CABANG SEKUNDER BOENOET. Disusun oleh : Achmad kirmizius shobah ( )

JUDUL OBSERVASI ALIRAN DAS BRANTAS CABANG SEKUNDER BOENOET. Disusun oleh : Achmad kirmizius shobah ( ) JUDUL OBSERVASI ALIRAN DAS BRANTAS CABANG SEKUNDER BOENOET Disusun oleh : Achmad kirmizius shobah (115100901111013) Layyin Yeprila Ningrum (115100900111039) Puji sri lestari (115100907111004) Rizki dwika

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Utara, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kelurahan Ipilo, Kelurahan Moodu, Kelurahan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Utara, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kelurahan Ipilo, Kelurahan Moodu, Kelurahan 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran wilayah penelitian Kecamatan Kota Timur merupakan Kecamatan yang terdiri dari 6 kelurahan. Masing masing kelurahan di kecamatan kota Timur adalah

Lebih terperinci

Agus Sutanto Purwasih

Agus Sutanto Purwasih ANALISIS KUALITAS PERAIRAN SUNGAI RAMAN DESA PUJODADI TRIMURJO SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI SMA PADA MATERI EKOSISTEM Agus Sutanto Purwasih Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Metro E-mail:sutanto11@gmail.com

Lebih terperinci

HUBUNGAN KUALITAS FISIS AIR SUNGAI KRUENG ACEH DENGAN INTENSITAS HUJAN

HUBUNGAN KUALITAS FISIS AIR SUNGAI KRUENG ACEH DENGAN INTENSITAS HUJAN HUBUNGAN KUALITAS FISIS AIR SUNGAI KRUENG ACEH DENGAN INTENSITAS HUJAN Muhammad Syukri, Maulidia, dan Nurmalita Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh Email: m.syukri@gmail.com

Lebih terperinci

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam melaksanakan kegiatannya, manusia selalu membutuhkan air bahkan untuk beberapa kegiatan air merupakan sumber utama.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pencemaran Organik di Muara S. Acai, S. Thomas, S. Anyaan dan Daerah Laut yang Merupakan Perairan Pesisir Pantai dan Laut, Teluk Youtefa. Bahan organik yang masuk ke perairan

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. Aliran sungai dari sumber Kuluhan banyak dimanfaatkan oleh sebagian besar warga

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. Aliran sungai dari sumber Kuluhan banyak dimanfaatkan oleh sebagian besar warga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Air tawar hanya menempati 3 % dari jumlah air dipermukaan bumi, yang sebagian besar tersimpan dalam bentuk bekuan berupa gletser dan es, atau terbenam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekitar 78 % wilayah Indonesia merupakan perairan sehingga laut dan wilayah pesisir merupakan lingkungan fisik yang mendominasi. Di kawasan pesisir terdapat

Lebih terperinci

MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BIOINDIKATOR PENGAMATAN KUALITAS AIR

MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BIOINDIKATOR PENGAMATAN KUALITAS AIR MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BIOINDIKATOR PENGAMATAN KUALITAS AIR Pranatasari Dyah Susanti dan Rahardyan Nugroho Adi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kualitas perairan sungai sangat tergantung dari aktivitas yang ada pada daerah alirannya. Berbagai aktivitas baik domestik maupun kegiatan Industri akan berpengaruh

Lebih terperinci

UJI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY. Fitrianti Palinto NIM

UJI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY. Fitrianti Palinto NIM UJI KADAR MERKURI PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY Fitrianti Palinto NIM 811409073 Dian Saraswati, S.Pd,. M.Kes Ekawaty Prasetya, S.Si., M.Kes JURUSAN KESEHATAN

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos Odum (1993) menyatakan bahwa benthos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi organisme

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air

PENDAHULUAN. seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penentuan kualitas suatu perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air kurang memberikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Waduk adalah genangan air besar yang sengaja dibuat dengan membendung aliran sungai, sehingga dasar sungai tersebut yang menjadi bagian terdalam dari sebuah waduk. Waduk

Lebih terperinci

ANALISIS TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SITU BURUNG, DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR

ANALISIS TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SITU BURUNG, DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR ANALISIS TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SITU BURUNG, DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR R Rodlyan Ghufrona, Deviyanti, dan Syampadzi Nurroh Fakultas Kehutanan - Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Situ

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Organisme makrozoobenthos

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Organisme makrozoobenthos 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan 2.1.1. Organisme makrozoobenthos Organisme benthos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar perairan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi besar dalam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi besar dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan usaha dibidang sumber daya perairan. Menurut Sarnita dkk. (1998), luas perairan umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan.

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencemaran sungai di Yogyakarta yang terjadi beberapa tahun belakangan ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan. Adanya masukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (catchment area) yang berperan menyimpan air untuk kelangsungan hidup

BAB I PENDAHULUAN. (catchment area) yang berperan menyimpan air untuk kelangsungan hidup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) merupakan daerah tangkapan air (catchment area) yang berperan menyimpan air untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Apabila lahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu tatanan lingkungan hidup dapat tercemar atau menjadi rusak disebabkan oleh banyak hal. Namun yang paling utama dari sekian banyak penyebab tercemarnya suatu tatanan

Lebih terperinci

KUALITAS AIR SUNGAI BONE (GORONTALO) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA

KUALITAS AIR SUNGAI BONE (GORONTALO) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA KUALITAS AIR SUNGAI BONE (GORONTALO) BERDASARKAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA WATER QUALITY OF BONE RIVER IN GORONTALO BASED ON MACROINVERTEBRATES BIOINDICATOR Rotua Lelawaty Simamora 1), Amran Achmad

Lebih terperinci

Stasiun 1 ke stasiun 2 yaitu + 11,8 km. Stasiun '4.03"LU '6.72" BT. Stasiun 2 ke stasiun 3 yaitu + 2 km.

Stasiun 1 ke stasiun 2 yaitu + 11,8 km. Stasiun '4.03LU '6.72 BT. Stasiun 2 ke stasiun 3 yaitu + 2 km. 8 menyebabkan kematian biota tersebut. Selain itu, keberadaan predator juga menjadi faktor lainnya yang mempengaruhi hilangnya atau menurunnya jumlah makrozoobentos. 3 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 16 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2009 sampai dengan bulan Agustus 2009. Lokasi penelitian berada di wilayah DAS Cisadane segmen Hulu, meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai air minum. Hal ini terutama untuk mencukupi kebutuhan air di dalam

BAB I PENDAHULUAN. sebagai air minum. Hal ini terutama untuk mencukupi kebutuhan air di dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Penggunaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Keberadaan industri dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun juga tidak jarang merugikan masyarakat, yaitu berupa timbulnya pencemaran lingkungan

Lebih terperinci

ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN NIKE (Awaous melanocephalus) DI MUARA SUNGAI BONE KOTA GORONTALO

ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN NIKE (Awaous melanocephalus) DI MUARA SUNGAI BONE KOTA GORONTALO ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN NIKE (Awaous melanocephalus) DI MUARA SUNGAI BONE KOTA GORONTALO Siskawati Usman, Sunarto Kadir, Lia Amalia 1 siskawatiusman@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Bencana Baru di Kali Porong

Bencana Baru di Kali Porong Bencana Baru di Kali Porong Pembuangan air dan Lumpur ke Kali Porong menebarkan bencana baru, air dengan salinitas 38/mil - 40/mil akan mengancam kualitas perikanan di Pesisir Porong. Lapindo Brantas Inc

Lebih terperinci

ANALISA KEKERUHAN DAN KANDUNGAN SEDIMEN DAN KAITANNYA DENGAN KONDISI DAS SUNGAI KRUENG ACEH

ANALISA KEKERUHAN DAN KANDUNGAN SEDIMEN DAN KAITANNYA DENGAN KONDISI DAS SUNGAI KRUENG ACEH ANALISA KEKERUHAN DAN KANDUNGAN SEDIMEN DAN KAITANNYA DENGAN KONDISI DAS SUNGAI KRUENG ACEH Nurmalita, Maulidia, dan Muhammad Syukri Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidak kurang dari 70% dari permukaan bumi adalah laut. Atau dengan kata lain ekosistem laut merupakan lingkungan hidup manusia yang terluas. Dikatakan bahwa laut merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir memiliki lebar maksimal 20 meter dan kedalaman maksimal 10 meter.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya aktifitas berbagai macam industri menyebabkan semakin

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya aktifitas berbagai macam industri menyebabkan semakin 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya aktifitas berbagai macam industri menyebabkan semakin besarnya limbah yang di hasilkan dari waktu ke waktu. Konsekuensinya adalah beban badan air selama

Lebih terperinci

BAB 2 BAHAN DAN METODE

BAB 2 BAHAN DAN METODE BAB 2 BAHAN DAN METODE 2.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 pada beberapa lokasi di hilir Sungai Padang, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara. Metode yang digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air sangat erat hubungannya dengan manusia karena menjadi sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak bahkan menjadi suatu sarana utama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu : 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan mengalir (lotik) dan perairan menggenang (lentik). Perairan mengalir bergerak terus menerus kearah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Salah satu sumber daya alam yang pokok dalam kehidupan adalah air. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri atas air. Metabolisme yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sistem air terdiri dari laut, air permukaan maupun air tanah. Air merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. Sistem air terdiri dari laut, air permukaan maupun air tanah. Air merupakan hal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem air terdiri dari laut, air permukaan maupun air tanah. Air merupakan hal yang penting bagi kehidupan. Air yang baik adalah air yang memenuhi kriteria standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mengalami perkembangan sangat

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mengalami perkembangan sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mengalami perkembangan sangat pesat. Perkembangan pariwisata di suatu lingkungan tertentu dapat berpotensi menurunkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan unsur yang penting di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan unsur yang penting di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan unsur yang penting di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk hidup yang ada di bumi ini yang tidak membutuhkan air. Di dalam tubuh makhluk hidup baik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Wilayah Penelitian Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan. Masing masing kelurahan di kecamatan Kota Timur adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Alami Ikan Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Fungsi utama

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh karena itu, sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kuantitas

Lebih terperinci

PENENTUAN TINGKAT KESEHATAN SUNGAI BERDASARKAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROAVERTEBRATA DI SUNGAI CIHIDEUNG, KABUPATEN BOGOR

PENENTUAN TINGKAT KESEHATAN SUNGAI BERDASARKAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROAVERTEBRATA DI SUNGAI CIHIDEUNG, KABUPATEN BOGOR PENENTUAN TINGKAT KESEHATAN SUNGAI BERDASARKAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROAVERTEBRATA DI SUNGAI CIHIDEUNG, KABUPATEN BOGOR RIRIN ANDRIANI SILFIANA C24104086 SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Linda Maulidia Kosasih, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Linda Maulidia Kosasih, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembangunan industri adalah salah satu kegiatan sektor ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bagi Negara-negara yang sedang berkembang

Lebih terperinci

Determination of the Air Hitam River, Pekanbaru City Water Quality Based Biotic Index Macrozoobenthos

Determination of the Air Hitam River, Pekanbaru City Water Quality Based Biotic Index Macrozoobenthos 1 Determination of the Air Hitam River, Pekanbaru City Water Quality Based Biotic Index Macrozoobenthos By Fery Permadi L T 1), Nur El Fajri 2), Adriman 2) fery_09msp@ymail.com Abstract This research was

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis

TINJAUAN PUSTAKA. bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis TINJAUAN PUSTAKA Perairan Sungai Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis (tergenang)

Lebih terperinci

STUDI KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN KARAMBA DI SUNGAI KAHAYAN (Water Quality Research For Fish Farming Keramba In The Kahayan River)

STUDI KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN KARAMBA DI SUNGAI KAHAYAN (Water Quality Research For Fish Farming Keramba In The Kahayan River) 87 STUDI KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN KARAMBA DI SUNGAI KAHAYAN (Water Quality Research For Fish Farming Keramba In The Kahayan River) Infa Minggawati dan Lukas Fakultas Perikanan Universitas Kristen

Lebih terperinci

ANALISA KOMPOSIT ARANG KAYU DAN ARANG SEKAM PADI PADA REKAYASA FILTER AIR

ANALISA KOMPOSIT ARANG KAYU DAN ARANG SEKAM PADI PADA REKAYASA FILTER AIR NASKAH PUBLIKASI ANALISA KOMPOSIT ARANG KAYU DAN ARANG SEKAM PADI PADA REKAYASA FILTER AIR Tugas Akhir ini disusun Guna Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana S1 pada Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air. Conference on Water and the Environment)

BAB I PENDAHULUAN. Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air. Conference on Water and the Environment) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air merupakan komponen utama makhluk hidup dan mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Dublin,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65 75% dari berat

Lebih terperinci

Analisis Konsentrasi dan Laju Angkutan Sedimen Melayang pada Sungai Sebalo di Kecamatan Bengkayang Yenni Pratiwi a, Muliadi a*, Muh.

Analisis Konsentrasi dan Laju Angkutan Sedimen Melayang pada Sungai Sebalo di Kecamatan Bengkayang Yenni Pratiwi a, Muliadi a*, Muh. PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 3 (214), Hal. 99-15 ISSN : 2337-824 Analisis Konsentrasi dan Laju Angkutan Sedimen Melayang pada Sungai Sebalo di Kecamatan Bengkayang Yenni Pratiwi a, Muliadi a*, Muh. Ishak

Lebih terperinci

STUDI LAJU DEOKSIGENASI PADA SUNGAI CIKAPUNDUNG UNTUK RUAS SILIWANGI - ASIA AFRIKA, BANDUNG

STUDI LAJU DEOKSIGENASI PADA SUNGAI CIKAPUNDUNG UNTUK RUAS SILIWANGI - ASIA AFRIKA, BANDUNG INFOMATEK Volume 19 Nomor 1 Juni 2017 STUDI LAJU DEOKSIGENASI PADA SUNGAI CIKAPUNDUNG UNTUK RUAS SILIWANGI - ASIA AFRIKA, BANDUNG Yonik Meilawati Yustiani, Astri Hasbiah *), Muhammad Pahlevi Wahyu Saputra

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam yang beraneka ragam, yang membentang di sepanjang Teluk Lampung dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa 27 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa induk Molotabu. Dinamakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini masyarakat mulai melupakan pentingnya menjaga

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini masyarakat mulai melupakan pentingnya menjaga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini masyarakat mulai melupakan pentingnya menjaga kebersihan daerah aliran sungai. Membuang limbah padat dan cair dengan tidak memperhitungkan dampak

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data 1. Kondisi saluran sekunder sungai Sawojajar Saluran sekunder sungai Sawojajar merupakan aliran sungai yang mengalir ke induk sungai Sawojajar. Letak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup manusia. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat diantaranya tingkat ekonomi,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh

I. PENDAHULUAN. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan mahkluk hidup. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh manusia terdiri atas air,

Lebih terperinci