V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi penurunan kualitas, baik dari komponen tanah, air dan vegetasi. Perbedaan ini ditandai dengan adanya sifat-sifat negatif yang ditimbulkan oleh kerusakan pada saat penambangan. Hal ini akan mempengaruhi keberhasilan reklamasi sehingga perlakuan penanaman kembali belum optimal. Indikator ini dapat dilihat dari terganggunya pertumbuhan tanaman dibandingkan kondisi tanah normal sebelum pasca tambang batubara. Sifat fisik tanah seperti tekstur tanah rona lingkungan hidup awal umumnya tergolong cukup baik, mempunyai ukuran besar butir tanah yang agak halus sampai agak kasar. Kondisi saat ini, tekstur tanah tergolong sedang sampai agak kasar. Sifat kimia tanah pasca tambang batubara juga mengalami penurunan kualitas, termasuk diantaranya adalah kesuburan yang rendah dan kemasaman yang cukup tinggi. Kualitas hidrologi tanah pasca tambang batubara menjadi buruk yang dicirikan oleh rendahnya kapasitas menahan air (water holding capacity), percepatan aliran permukaan (run off) dan erosi. Ketersediaan hara N yang rendah dipengaruhi oleh kondisi tanah dan kualitas hidrologi tanah terutama pada tanah gusuran saat penambangan batubara dilakukan. Hal ini mengakibatkan tidak cukup tersedianya tanah untuk usaha revegetasi. Kekurangan unsur hara merupakan pembatas untuk pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang batubara karena tidak tersedia unsur hara untuk tanaman. Hasil pengambilan sampel tanah, air dan pengamatan vegetasi di Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat dari pembahasan masing-masing komponen.

2 Kondisi Tanah Pasca Tambang Batubara Tanah sebagai sumberdaya alam untuk pertanian mempunyai dua fungsi utama, yaitu (1) sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan, dan (2) sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan. Kedua fungsi tanah tersebut dapat menurun atau hilang akibat kerusakan tanah atau degradasi tanah. Hilangnya fungsi tanah sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dapat segera diperbaiki dengan pemupukan, sedangkan hilangnya fungsi tanah sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan tidak mudah diperbaiki atau diperbaharui oleh karena memerlukan waktu yang lama (Arsyad, 2006). Tanah menjadi unsur penting dalam penelitian ini karena berfungsi sebagai media tumbuh dalam proses revegetasi kawasan pasca tambang batubara. Bagi pihak pertambangan, tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena menutupi bahan tambang batubara yang dicarinya. Sifat fisik tanah dalam penelitian ini hanya diwakili oleh tekstur tanah. Sementara itu ph, KTK, C/N rasio, ketersediaan P 2 O 5 dan K 2 O, Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Al, merupakan sifat kimia tanah yang diteliti. Kriteria penilaian sifat kimia tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kriteria dari Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983 dalam Hardjowigeno (2007). Tekstur Tanah Tekstur tanah yang diperlukan tanaman pada umumnya adalah tanah yang bertekstur lebih halus. Setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar, sehingga kemampuan tanah menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Sebaliknya, tanah-tanah yang bertekstur pasir karena butir-butirnya bertekstur besar maka kemampuan menahan air dan unsur hara lebih kecil. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Rona lingkungan hidup awal untuk tekstur tanah di PT. Kitadin dari 6 lokasi menunjukkan bahwa tekstur tanah yang terdapat di lokasi 1 lempung liat berdebu, di lokasi 2 tekstur tanah lempung liat berdebu, di lokasi 3 tekstur tanah lempung berliat, di lokasi 4 tekstur tanah lempung berliat, di lokasi 5 tekstur tanah

3 113 lempung berliat, dan di lokasi 6 tekstur tanah lempung liat berdebu (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, tekstur tanah kawasan pasca tambang batubara yang terdapat di PT. Kitadin yang melakukan reklamasi pada areal berumur sekitar 1 tahun bertekstur lempung berdebu dan lempung, tergolong kelas sedang. Pada areal berumur sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun tekstur tanah lempung liat berdebu dan lempung, tergolong kelas agak halus. Semakin tua umur lahan (sekitar 5 tahun dan 10 tahun) sudah terdapat perbaikan tekstur tanah dari kelas sedang menjadi agak halus. Pada kondisi kawasan tanah pasca tambang batubara yang non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun tanah bertekstur lempung berdebu, tergolong kelas sedang. Demikian juga di areal berumur sekitar 5 tahun tanah bertekstur lempung berdebu, tergolong kelas sedang (belum terdapat perbaikan tekstur tanah). Kondisi tekstur tanah non reklamasi membaik ketika memasuki umur sekitar 10 tahun dengan tekstur liat berdebu dan lempung berliat, tergolong kelas agak halus. Hal ini mengindikasikan bahwa tanah bekas tambang batubara yang tidak melakukan reklamasi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memperbaiki kualitas tekstur tanah dibandingkan dengan kawasan reklamasi. Kegiatan reklamasi memberi harapan terjadinya perbaikan tekstur tanah untuk waktu jangka panjang. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk sifat fisik tanah (tekstur) di PT. Kitadin dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Sifat Fisik Tanah (Tekstur) di PT. Kitadin Rona Lingkungan Hidup Awal Lokasi 1: Lempung liat berdebu Lokasi 2: Lempung liat berdebu Lokasi 3: Lempung liat Lokasi 4: Lempung liat Lokasi 5: Lempung liat Lokasi 6: Lempung liat berdebu Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Kondisi Saat Ini Lempung berdebu, lempung Lempung liat berdebu, Lempung Lempung berliat Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Lempung berdebu Sekitar 5 tahun Lempung berdebu, debu Sekitar 10 tahun Liat berdebu, lempung berliat Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT.Kitadin (2000) Tekstur tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin masih bertekstur halus, mengindikasikan masih sesuai dengan tekstur tanah yang

4 114 diperlukan tanaman. Kondisi saat ini di kawasan reklamasi terjadi perubahan tekstur dari kelas halus menjadi kelas sedang, terutama di awal masa penambangan. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun sejak penambangan batubara dimulai. Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama, perbaikan tekstur terjadi sekitar 10 tahun sejak penambangan. Tekstur tanah lebih baik sebelum penambangan batubara dibandingkan dengan sesudah penambangan (pasca tambang). Rona lingkungan hidup awal untuk tekstur tanah di PT. Tanito Harum pada 2 lokasi yaitu di lokasi 1 tekstur tanah liat berdebu dan lokasi 2 tekstur tanah liat (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, kualitas tekstur tanah di PT. Tanito Harum hampir sama dengan di PT. Kitadin, seiring bertambahnya umur kawasan pasca tambang batubara, terdapat perbaikan kelas tekstur dari kelas tekstur lempung berdebu menjadi lempung berliat. Pada kawasan reklamasi, di areal berumur sekitar 1 tahun kelas teksturnya masih lempung berdebu, tergolong kategori kelas sedang. Pada umur kawasan sekitar 5 tahun dan 10 tahun kelas tekstur membaik menjadi lempung berliat, tergolong agak halus. Pada kawasan non reklamasi, di areal berumur sekitar 1 tahun dan 5 tahun tekstur tanah masih merupakan lempung berdebu, tergolong kategori kelas sedang. Pada areal berumur sekitar 10 tahun terjadi perbaikan kualitas tekstur tanah dari lempung berdebu menjadi liat berdebu dan lempung berliat, tergolong kelas agak halus. Hal ini mengindikasikan kondisi yang sama dengan kawasan di PT. Kitadin, bahwa kawasan yang dilakukan reklamasi akan mempercepat perbaikan tekstur tanah. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk sifat fisik tanah (tekstur) di PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 27. Hampir sama dengan tekstur tanah di PT. Kitadin, rona lingkungan hidup awal di PT. Tanito Harum kelas tekstur halus bahkan lebih baik karena di lokasi 2 ada tekstur tanah liat (terbaik), sesuai dengan tekstur tanah yang diperlukan tanaman. Pada kondisi saat ini, di kawasan reklamasi tekstur dari kelas halus menjadi tekstur kelas sedang. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun pasca tambang batubara.

5 115 Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama. Perbaikan tekstur dimulai sekitar 10 tahun pasca tambang. Tekstur tanah lebih baik pada saat sebelum penambangan batubara dimulai dibandingkan dengan sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). Kualitas tekstur tanah di PT. Tanito Harum yang lebih baik sebelum penambangan dibandingkan dengan di PT. Kitadin, dengan kelas tekstur tanah yang sama pada kawasan reklamasi dan non reklamasi 5 sampai 10 tahun kemudian, menyiratkan bahwa di PT. Tanito Harum dampak kerusakan tekstur tanah lebih besar. Tabel 27. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Sifat Fisik Tanah di PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Sebulu 1: Liat berdebu Sebulu 2: Liat Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Kondisi Saat Ini Lempung berdebu, Debu Lempung berliat, Lempung Lempung berliat Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Lempung berdebu Sekitar 5 tahun Lempung berdebu Sekitar 10 tahun Liat berdebu, Lempung berliat Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994). Hasil analisis sifat fisik tanah (tekstur) kawasan pasca tambang batubara di Kecamatan Tenggarong Seberang (PT. Kitadin) dan Kecamatan Sebulu (PT. Tanito Harum) secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 2. Reaksi tanah (ph tanah) Reaksi tanah menunjukkan sifat keasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H + ) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H + dalam tanah maka semakin asam tanah tersebut. Pada tanah alkalis kandungan OH - lebih banyak dari H + dan jika sama banyaknya maka tanah bereaksi netral dengan ph = 7. Di Indonesia umumnya tanah bereaksi masam dengan ph 4,0 5,5. Di daerah rawarawa sering ditemukan tanah-tanah yang sangat asam dengan ph kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat asam. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang ph tanah sangat tinggi lebih dari 9,0 karena banyak mengandung garam Na.

6 116 Pentingnya ph tanah adalah untuk menentukan mudah tidaknya unsurunsur hara diserap akar tanaman. Pada ph tanah sekitar netral unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah asam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (di fiksasi) oleh Al, sedangkan pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena di fiksasi Ca. Pada reaksi tanah yang asam, unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga akan menjadi racun bagi tanaman jika dalam jumlah besar. Hal yang sama juga terjadi jika tanah terlalu alkalis yang sering mengandung garam tinggi dan menjadi racun bagi tanaman. Tanah yang terlalu asam dapat dinaikkan ph-nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedangkan tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan ph-nya dengan penambahan belerang. Rona lingkungan hidup awal untuk ph tanah pada PT.Kitadin di lokasi 1 7,7 (agak alkalis), di lokasi 2 ph 6,7 (netral), di lokasi 3 ph 5,5 (agak masam), di lokasi 4 ph 5,8 (agak masam), di lokasi 5 ph 4,5 (masam) dan di lokasi 6 ph 5,4 (agak masam) (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, pada PT. Kitadin untuk kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph tanah 3,83 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 5 tahun ph 5,31 tergolong kategori agak masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 5,22 tergolong agak masam. Pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph 6,83 tergolong kategori netral, di areal berumur sekitar 5 tahun ph 5,07 tergolong kategori agak masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 4,39 tergolong sangat masam. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk ph tanah di PT. Kitadin dapat dilihat pada Tabel 28. ph tanah pada rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin hanya satu lokasi yang bersifat masam, masih ada yang bersifat netral, dan agak alkalis. Kondisi saat ini, di kawasan reklamasi ph tanah umumnya bersifat agak masam sampai sangat masam. ph tanah menjadi sangat masam pada kawasan berumur sekitar 1 tahun dan 5 tahun. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan ph tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun pasca tambang. Sedangkan di kawasan non reklamasi awalnya ph tanah baik, kemudian seterusnya memburuk.

7 117 ph tanah lebih baik pada saat sebelum penambangan batubara dimulai dibandingkan dengan sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). Tabel 28. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Reaksi Tanah (ph tanah) di PT. Kitadin Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan ph Kelas Rataan ph Kelas H 2 O KCl H 2 O KCl Lokasi 1 : 7,7 Lokasi 1 : 6,9 Lokasi 1 : Reklamasi Agak alkalis Sekitar 1 tahun Sangat Lokasi 2 : 6,7 Lokasi 2 : 5,8 Lokasi 2 : masam Netral Sekitar 5 tahun Agak Lokasi 3 : 5,5 Lokasi 3 : 4,3 Lokasi 3 : masam Agak masam Sekitar 10 tahun Agak Lokasi 4 : 5,8 Lokasi 4 : 4,6 Lokasi 4 : masam Agak masam Non Reklamasi Lokasi 5 : 4,5 Lokasi 5 : 3,5 Lokasi 5 : Sekitar 1 tahun Netral Masam Sekitar 5 tahun Agak Lokasi 6 : 5,4 Lokasi 6 : 4,2 Lokasi 6 : masam Agak masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000). Rona lingkungan hidup awal PT.Tanito Harum untuk ph tanah pada 2 lokasi menujukkan bahwa ph di lokasi 1 dan lokasi 2 adalah netral (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, pada PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi ph tanah di areal berumur sekitar 1 tahun ph 4,29 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 5 tahun ph 3,02 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 3,66 tergolong sangat masam. Pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph 3,31 tergolong kategori sangat masam, di areal berumur sekitar 5 tahun ph 3,37 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 4,10 tergolong sangat masam. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk ph tanah di PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 29. Kondisi awal ph tanah di PT. Tanito Harum adalah sangat baik (netral). Kondisi saat ini, ph tanah menjadi sangat masam (sangat buruk) di kawasan reklamasi dan non reklamasi. Pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di PT. Kitadin ph tanah umumnya masam, sedangkan di PT. Tanito Harum semua kawasan tergolong sangat masam. Reklamasi tidak merubah perbaikan ph tanah di

8 118 PT. Tanito Harum. Terjadi perubahan ph tanah dari sangat baik sebelum penambangan batubara menjadi sangat buruk sesudah penambangan. Tabel 29. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Reaksi Tanah (ph tanah) di PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan ph Kelas Rataan ph Kelas H 2 O KCl H 2 O KCl Reklamasi Lokasi 1: Lokasi 1: Lokasi 1: Sekitar 1 tahun Sangat 6,3 5,2 Netral masam Lokasi 2: Lokasi 2 : Lokasi 2: Sekitar 5 tahun Sangat 6,2 5,1 Netral masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat masam Sekitar 5 tahun Sangat masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum (1994). Hasil analisis tanah untuk reaksi tanah (ph tanah) di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca, Mg, Na, K dan Al. Kation-kation tersebut di dalam tanah terlarut dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation basa, Ca, Mg, K, Na (Kejenuhan Basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi bila

9 119 didominasi oleh kation asam, Al, H (Kejenuhan Basa rendah) dapat mengurangi kesuburan tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah kandungan bahan organik rendah atau tanah berpasir. Kapasitas tukar kation adalah kemampuan tanah mengikat kation-kation yang dapat dipertukarkan pada koloid tanah yang bermuatan negatif. Besarnya KTK tersebut tergantung dari jumlah dan macam mineral liat, jumlah dan jenis bahan organik dalam tanah. Rona lingkungan hidup awal Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT. Kitadin tergolong rendah sampai sedang (berkisar 5,26 18,74 me/100g). Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara rendah sehingga tanah miskin akan unsur hara (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Jumlah kation yang dapat dipertukarkan dalam kompleks adsorpsi tanah akan menentukan besarnya unsur hara yang dijerap tanah. Semakin besar KTK akan semakin baik. Kondisi saat ini, kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara pada areal PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun KTK 13,54 me/100g tergolong kategori rendah, di areal berumur sekitar 5 tahun 17,27 me/100g tergolong kategori sedang, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 21,28 me/100g tergolong kategori sedang. Pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun KTK 11,03 me/100g tergolong kategori rendah, di areal sekitar 5 tahun 13,36 me/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 20, 68 me/100g tergolong kategori sedang. KTK di kawasan non reklamasi lebih rendah dibandingkan dengan KTK pada kawasan reklamasi. Kondisi awal KTK di PT. Kitadin tergolong sedang di dua lokasi, dan tergolong rendah di empat lokasi. Kondisi saat ini, KTK pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tergolong kategori rendah sampai sedang. KTK lebih tinggi di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan KTK pasca tambang, data dari dokumen ANDAL PT. Kitadin. KTK kondisi saat ini lebih tinggi sedikit dibandingkan sebelum penambangan. Rona lingkungan hidup awal untuk Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT.Tanito Harum memperlihatkan bahwa Kapasitas tukar kation tanah di wilayah studi tergolong tinggi sebesar 32,1 me/100g, yang mengindikasikan bahwa

10 120 kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara baik sehingga tanah masih tergolong kaya akan unsur hara (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Tabel 30. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT. Kitadin dan PT.Tanito Harum RonaLingkungan Hidup Awal (me/100g) PT.Kitadin Lokasi 1: KTK 11,57 Lokasi 2: KTK 18,74 Lokasi 3: KTK 12,47 Lokasi 4: KTK 15,36 Lokasi 5: KTK 6,63 Lokasi 6: KTK 5,26 PT. Tanito Harum Lokasi 1: KTK 32,1 Lokasi 2: KTK 32,1 Kriteria Penilaian Lokasi 1 : Rendah Lokasi 2 : Sedang Lokasi 3 : Rendah Lokasi 4 : Sedang Lokasi 5 : Rendah Lokasi 6 : Rendah Lokasi 1 : Tinggi Lokasi 2 : Tinggi Kondisi Kawasan Reklamasi KTK Saat Ini (me/100g) Kriteria Penilaian Sekitar 1 Tahun 13,54 Rendah Sekitar 5 Tahun 17,27 Sedang Sekitar 10 Tahun 21,28 Sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 11,03 Rendah Sekitar 5 Tahun 13,36 Rendah Sekitar 10 Tahun 20,68 Sedang Reklamasi Sekitar 1 Tahun 17,86 Sedang Sekitar 5 Tahun 12,65 Rendah Sekitar 10 Tahun 21,83 Sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 7,38 Rendah Sekitar 5 Tahun 7,83 Rendah Sekitar 10 Tahun 8,92 Rendah Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Kondisi saat ini, kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun KTK 17,86 me/100g tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 12,65 me/100g tergolong kategori rendah dan di areal berumur sekitar 10 tahun 21,28 me/100g tergolong kategori sedang. Pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun KTK 7,38 me/100g tergolong kategori rendah, di areal sekitar 5 tahun 7,83 me/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 8,92 me/100g tergolong kategori rendah.

11 121 Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini KTK di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pasca tambang batubara dapat dilihat pada Tabel 30. Kondisi awal KTK di PT. Tanito Harum tergolong tinggi (baik) di lokasi satu, dan di lokasi dua. Kondisi saat ini KTK di kawasan reklamasi tergolong kategori sedang dan di kawasan non reklamasi rendah. KTK sebelum penambangan lebih tinggi dibandingkan dengan KTK kondisi saat ini. Dampak penambangan mengakibatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara rendah sehingga tanah miskin akan unsur hara. Hasil analisis KTK tanah di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 4. Rasio C/N Unsur-unsur hara esensial merupakan unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup dalam tanah maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. Unsur-unsur hara esensial ini dapat berasal dari udara, air maupun tanah. Terdapat 17 unsur hara esensial yaitu: unsur makro (C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S), dan unsur hara mikro (Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co). Unsur hara makro diperlukan dalam jumlah banyak, sedangkan unsur hara mikro diperlukan dalam jumlah sedikit. Nitrogen dalam tanah berasal dari: (1) bahan organik tanah, (2) bahan organik halus (N tinggi dan C/N rendah), (3) bahan organik kasar ( N rendah dan C/N tinggi). Bahan organik merupakan sumber N yang utama dalam tanah. Faktor yang mempengaruhi penghancuran (dekomposisi) bahan organik adalah suhu, kelembaban, tata udara tanah, pengolahan tanah, ph dan jenis bahan organik. Pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara salah satunya dapat melalui simbiose dengan tanaman leguminosa, yaitu melalui bintil akar (Rhizobium). Fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan pembentukan protein. Gejala-gejala kekurangan N yaitu tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan akar terbatas dan daun-daun kuning/gugur. Rona lingkungan hidup awal PT. Kitadin menunjukkan rasio C/N pada enam lokasi sebesar 10,0-19,5%. Lokasi 1 rasio C/N 10,0% tergolong kategori

12 122 rendah (Terdekomposisi), di lokasi 2 rasio C/N 19,5% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di lokasi 3 rasio C/N 10,5% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di lokasi 4 rasio C/N 10,0% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi), di lokasi 5 rasio C/N 10,0% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi) dan di lokasi 6 rasio C/N 12,0% tergolong kategori sedang atau Dekomposisi sedang (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, rasio C/N pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 15,0% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di areal berumur sekitar 5 tahun 11,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 11,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rasio C/N pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 24,4% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di areal sekitar 5 tahun 17,1% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), dan di areal sekitar 10 tahun 12,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rona lingkungan hidup awal untuk C/N PT. Tanito Harum di lokasi 1 sebesar 6,8% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi), dan di lokasi 2 sebesar 10,2% tergolong kategori sedang atau Terdekomposisi sedang (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, rasio C/N pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 11,0% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di areal berumur sekitar 5 tahun 12,2% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 14,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rasio C/N pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 13,6% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di areal sekitar 5 tahun 13,2% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal sekitar 10 tahun 14,5% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini rasio C/N di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 31.

13 123 Tabel 31. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini rasio C/N di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini (%) Kategori (%) PT.Kitadin Lokasi 1: Lokasi 1: Reklamasi C/N 10,0 Terdekomposisi Lokasi 2: Lokasi 2: Belum Sekitar 1 Tahun 15,0 Belum terdekomposisi C/N 19,5 terdekomposisi Sekitar 5 Tahun 11,7 Terdekomposisi sedang Lokasi 3: Lokasi 3: Sekitar 10 Terdekomposisi sedang C/N 10,5 Dekomposisi sedang 11,7 Tahun Lokasi 4: Lokasi 4: Non Reklamasi C/N 10,0 Terdekomposisi Lokasi 5: Lokasi 5: Sekitar 1 Tahun 24,4 Belum terdekomposisi C/N 10,0 Terdekomposisi Sekitar 5 Tahun 17,1 Belum terdekomposisi Lokasi 6 : Lokasi 6: C/N 12,0 Dekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 12,7 Terdekomposisi sedang PT. Tanito Harum Lokasi 1: C/N 10,2 Lokasi 2: C/N 6,8 Lokasi 1 : Dekomposisi sedang Lokasi 2 : Terdekomposisi Reklamasi Sekitar 1 Tahun 11,0 Terdekomposisi sedang Sekitar 5 Tahun 12,2 Terdekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 14,7 Terdekomposisi sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 13,6 Terdekomposisi sedang Sekitar 5 Tahun 13,2 Terdekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 14,5 Terdekomposisi sedang Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong baik (terdekomposisi) di tiga lokasi, dan tergolong sedang (terdekomposisi sedang) di tiga lokasi. Kondisi saat ini, C/N pada kawasan reklamasi umumnya terdekomposisi sedang, dan di kawasan non reklamasi belum terdekomposisi. Rasio C/N lebih rendah (terdekomposisi) di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Terjadi penurunan kualitas rasio C/N pasca tambang batubara. Hal ini terjadi karena penghancuran (dekomposisi) bahan organik oleh suhu, kelembaban, tata udara tanah, pengolahan tanah, ph dan jenis bahan organik terganggu pada saat penambangan. Hasil analisis tanah untuk N total, C-organik dan rasio C/N di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pada kawasan pasca tambang batubara reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.

14 124 P2O5 tersedia dan K2O tersedia Unsur Kalium (K) dalam tanah berasal dari mineral-mineral primer tanah (feldspar, mika dan lain-lain) dan dari pupuk buatan (ZK dan K Cl). Unsur K tidak merupakan unsur penyusun jaringan tanaman. Fungsi K adalah: (1) pembentukan enzim, (2) mengaktifkan enzim, (3) mengatur pernapasan dan penguapan (pembukaan stomata), (4) proses fisiologis dalam tanaman, (5) proses metabolik dalam sel, (6) mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain, (6) mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan, penyakit, dan (7) perkembangan akar (Hardjowigeno, 2007). Unsur K ditemukan dalam jumlah banyak di dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan. Unsur K dalam tanah dapat dibedakan menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, K tersedia, dan K tersedia tetapi lambat. Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh suatu pupuk merupakan faktor penting untuk menilai pupuk tersebut, karena jumlah unsur hara menentukan kemampuannya untuk meningkatkan kadar unsur hara dalam tanah. Kadar unsur hara dalam pupuk N, P dan K dinyatakan dalam persen N, P 2 O 5 dan K 2 O. Pupuk P biasanya terdapat sebagai monokalsiumfosfat, kalsium dan amonium fosfat, sedangkan pupuk K umumnya terdapat dalam bentuk kalium khlorida atau kalium sulfat. Unsur P diambil tanaman dalam bentuk H 2 PO - 4, sedangkan K sebagai ion K +. Hasil analisis tanah kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia dapat dilihat pada Tabel 32. Rona lingkungan hidup awal untuk kadar P 2 O 5 di PT. Kitadin di lokasi 1 sebesar 36 mg/100g, di lokasi 2 sebesar 27,50 mg/100g, di lokasi 3 sebesar 30,50 mg/100g, di lokasi 4 sebesar 26,00 mg/100g, di lokasi 5 sebesar 18,00 mg/100g, dan di lokasi 6 sebesar 20,00 mg/100g. Kisaran nilai kadar P 2 O 5 (18,00 36 mg/100g) tergolong kategori rendah sampai sedang. Kadar K 2 O di lokasi 1 sebesar 29,00 mg/100g, di lokasi 2 sebesar 19,50 mg/100g, di lokasi 3 sebesar 25,50 mg/100g, di lokasi 4 sebesar 22,50 mg/100g, di lokasi 5 sebesar 7,00 mg/100g, dan di lokasi 6 sebesar 12,00 mg/100g. Kisaran kadar K 2 O (7,00-29,00 mg/100g) tergolong kategori sangat rendah sampai sedang (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000).

15 125 Kondisi saat ini, pada areal PT. Kitadin kawasan reklamasi berumur sekitar 1 tahun kadar P 2 O 5 52,60 mg/100g tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun tidak terdeteksi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 3,16 mg/100g tergolong kategori sangat rendah. Kadar P 2 O 5 pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 1,05 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, di areal sekitar 5 tahun 5,26 mg/100g tergolong sangat rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 14,73 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar K 2 O pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 104,05 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 142,50 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 75,40 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar K 2 O pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 76,60 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 85,40 mg/100g tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 157,55 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia di PT. Kitadin tinggi sampai sangat tinggi untuk kawasan reklamasi pada umur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun. Pada umur sekitar 5 tahun P 2 O 5 tersedia tidak terindentifikasi. Nilai tersebut sangat ekstrim jika dibandingkan dengan kawasan non reklamasi yaitu ketersediaan P 2 O 5 termasuk ke dalam kategori rendah bahkan sangat rendah (<10). Data rona lingkungan hidup awal kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong stabil di enam lokasi. Kondisi saat ini pada kawasan reklamasi kadar P 2 O 5 sangat fluktuatif dari tidak terdeteksi, sangat rendah, dan tinggi. Sedangkan di kawasan non reklamasi kadar P 2 O 5 umumnya rendah. Kadar K 2 O pada kawasan reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 tidak stabil di lokasi pasca tambang, hanya tinggi kadarnya di lokasi awal pasca tambang. PT. Kitadin diduga melakukan pemupukan di awal pasca tambang, namun jumlah unsur hara yang dikandung dalam pupuk tersebut tidak memadai. Jumlah unsur hara menentukan kemampuannya untuk meningkatkan kadar unsur hara dalam tanah. Kadar unsur hara dalam pupuk N, P dan K dinyatakan dalam persen N, P 2 O 5 dan K 2 O. Unsur K ditemukan dalam jumlah banyak di dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam

16 126 air atau yang dapat dipertukarkan. Kadar K 2 O di semua lokasi reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi namun Unsur K dalam tanah adalah menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, atau K tersedia tetapi lambat. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang karena meskipun tergolong kategori sedang tetapi stabil hampir di semua lokasi, indikasinya tanaman tetap tumbuh meskipun tidak dilakukan pemupukan (Dapat dilihat dari data rona lingkungan hidup awal vegetasi). Rona lingkungan hidup awal untuk kadar P 2 O 5 di PT.Tanito Harum di lokasi 1 sebesar 2,00 mg/100g dan di lokasi 2 sebesar 2,30 mg/100g. Tergolong kategori sangat rendah. Data kadar K 2 O tidak tersedia (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, kadar P 2 O 5 pada PT. Tanito Harum pada kawasan reklamasi di areal sekitar 1 tahun tidak terdeteksi, di areal sekitar 5 tahun 16,83 mg/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 10,52 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar P 2 O 5 pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 4,21 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, di areal berumur sekitar 5 tahun 6,31 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 10,52 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar K 2 O pada PT. Tanito Harum pada kawasan reklamasi di areal sekitar 1 tahun 62,20 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 64,75 mg/100g tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 131,20 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar K 2 O pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 27,70 mg/100g tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 44,60 mg/100g tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 45,95 mg/100g tergolong kategori tinggi Data rona lingkungan hidup awal kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong sangat rendah, bahkan K 2 O tidak terdeteksi. Kondisi saat ini pada kawasan reklamasi dan non reklamasi kadar P 2 O 5 tidak terdeteksi, rendah dan sangat rendah. Kadar K 2 O pada kawasan reklamasi dan non reklamasi umumnya tinggi sampai sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 tidak stabil di lokasi pasca tambang, hanya tinggi kadarnya di awal pasca tambang. Pemupukan di awal pasca tambang kurang efektif jika

17 127 jumlah unsur hara yang dikandung dalam pupuk tersebut tidak memadai. Kadar K 2 O di semua lokasi reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi namun Unsur K dalam tanah adalah menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, atau K tersedia tetapi lambat. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O sangat buruk di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang, namun dengan indikasi tanaman tetap tumbuh meskipun tidak dilakukan pemupukan, kadar yang minimal namun tersedia bagi tanaman lebih diperlukan (Dapat dilihat data rona lingkungan hidup awal vegetasi). Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini kadar P 2 O 5 dan kadar K 2 O di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 33. Hasil analisis tanah untuk kadar P 2 O 5 dan kadar K 2 O di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pada kawasan pasca tambang batubara reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6. Kejenuhan Basa dan Al Secara umum, bila tanah banyak mengandung muatan positif maka kation-kation seperti Ca, Mg, dan K tidak dijerap tanah tetapi tetap dalam larutan tanah sehingga mudah tercuci dari tanah. Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation-kation asam. Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dapat dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai kapasitas tukar kation tanah. Kation-kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman. Kation-kation basa adalah Ca ++, Mg ++, Na +, K +, kation-kation asam adalah Al +++ dan H +. Basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Tanah dengan kejenuhan basa rendah, berarti kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H, yang dapat merupakan racun bagi tanaman dan keadaan seperti ini terdapat pada tanah-tanah masam.

18 128 Tabel 32. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum P 2 O 5 (mg/100g) PT. KITADIN (Umur) Lokasi 1: 36,00 Lokasi 2: 27,50 Lokasi 3: 30,50 Lokasi 4: 26,00 Lokasi 5: 18,00 Lokasi 6: 20,00 Rona Lingkungan Hidup Awal K 2 O Kriteria penilaian P 2 O 5 Lokasi 1: 29,00 Lokasi 2: 19,50 Lokasi 3: 25,50 Lokasi 4: 22,50 Lokasi 5: 7,00 Lok asi 6: 12,00 (ppm) Kondisi Saat ini K 2 O Kriteria penilaian P 2 O 5 K 2 O P 2 O 5 K 2 O Lokasi 1: Sedang Lokasi 2: Sedang Lokasi 3: Sedang Lokasi 4:Sedang Lokasi 5:Rendah Lokasi 6:Rendah Lokasi 1: Sedang Lokasi 2: Rendah Lokasi 3: Sedang Lokasi 4: Sedang Lokasi 5: Sangat rendah Lokasi 6: Rendah Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun ttd Tinggi ttd Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi PT. TANITO HARUM (Umur) Lokasi 1: 2,00 Lokasi 2: 2,30 Tidak ada data Lokasi 1: Sangat rendah Lokasi 2: Sangat rendah Tidak ada data Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun ttd ttd Rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Sangat rendah Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Keterangan: ttd (tidak terdeteksi) 128

19 129 Rona lingkungan hidup awal untuk Kejenuhan Basa di PT.Kitadin pada lokasi 1 sampai lokasi 6 > 100%, kecuali di lokasi 5 sebesar 46%. Kisaran ini tergolong kategori sedang sampai sangat tinggi. Kejenuhan Al di lokasi 1 sebesar 0,02%, di lokasi 2 sebesar 0,04%, di lokasi 3 sebesar 0,37%, di lokasi 4 sebesar 0,51%, di lokasi 5 sebesar 4,50%, di lokasi sebesar 6 0,32%. Kisaran Al 0,00% - 4,50% tergolong kategori sedang sampai sangat tinggi (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 75,20% tergolong kategori sangat tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 80,14% tergolong kategori sangat tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 100% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Basa pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 100% tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 66,79% tergolong tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 99,27% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Al pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 24,80% tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 19,86% tergolong kategori rendah, dan di areal berumur sekitar 10 tahun tidak terdeteksi. Kejenuhan Al pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun tidak terdeteksi, di areal sekitar 5 tahun 33,20% tergolong tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 1,46% tergolong kategori sangat rendah. Ada indikasi kejenuhan Al cenderung membaik ketika umur kawasan bertambah sampai sekitar 10 tahun. Kejenuhan basa yang baik adalah > dari 70%. Semakin besar persentasenya akan semakin baik karena menunjukkan merupakan tanah subur. Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi PT. Kitadin tergolong tinggi di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun baik pada lahan reklamasi maupun non reklamasi. Kondisi ini telah sesuai dengan yang diharapkan, namun kejenuhan Al untuk umur kawasan sekitar 1 tahun masih tergolong tinggi. Pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum Kejenuhan Basa dan kejenuhan Al tinggi. Pada kawasan non reklamasi, kejenuhan basa rendah sementara kejenuhan Al tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan PT. Tanito Harum termasuk kelas buruk pada semua umur kawasan karena kondisi yang ideal adalah kejenuhan basa tinggi dan kejenuhan Al rendah.

20 130 Data rona lingkungan hidup awal Kejenuhan Basa sebelum penambangan di PT. Kitadin sangat baik di enam lokasi. Sedangkan Kejenuhan Aluminum sangat rendah di semua lokasi. Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tinggi sampai sangat tinggi. Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi tergolong rendah sampai sedang, dan di kawasan non reklamasi tidak terdeteksi, tinggi, dan sangat rendah (fluktuatif). Sebelum penambangan tanah mempunyai Kejenuhan Basa yang tinggi, dimana tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Sesudah penambangan tanah masih memiliki Kejenuhan Basa tinggi, namun persentasenya berkurang. Kejenuhan Basa rendah mengindikasikan kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H. Kejenuhan Aluminum yang sangat rendah sebelum penambangan tanah masih dalam kondisi subur. Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Sebelum penambangan Kejenuhan Basa yang tinggi diikuti dengan Kejenuhan Aluminum rendah adalah kondisi ideal karena kompleks jerapan menjadi lebih banyak diisi oleh kationkation basa. Kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas. Meskipun Kejenuhan Basa tinggi, namun diikuti dengan Kejenuhan Aluminum tinggi. Rona lingkungan hidup awal PT.Tanito Harum untuk Kejenuhan Basa tergolong tinggi (100%) dan Kejenuhan Al tidak tersedia data (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 62,57% tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 52,80% tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 84,11% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Basa pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 10,71% tergolong kategori sangat rendah, di areal sekitar 5 tahun 8,19% tergolong kategori sangat rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 24,56% tergolong kategori rendah. Kejenuhan Aluminum pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 37,42% tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 47,20% tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10

21 131 tahun 31,78% tergolong kategori tinggi. Kejenuhan Al pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 89,29% tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 91,80% tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 75,44% tergolong kategori sangat tinggi. Ada indikasi kejenuhan Al cenderung membaik ketika umur kawasan bertambah sampai sekitar 10 tahun. Kejenuhan basa yang baik adalah > dari 70%. Pada kawasan non reklamasi kejenuhan basa rendah dan kejenuhan Al tinggi. Keadaan ini tidak diharapkan karena kondisi yang demikian menyebabkan Al akan mengikat fosfor sehingga P tidak tersedia bagi tanaman. Kemasaman tanah (ph) juga mempengaruhi keaktifan Al, dimana semakin asam maka kadar Al semakin tinggi. Data rona lingkungan hidup awal Kejenuhan Basa sebelum penambangan di PT. Tanito Harum sangat baik di lokasi satu dan di lokasi dua yaitu 100%. Kejenuhan Aluminum tidak ada data di kedua lokasi. Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi tinggi sampai sangat tinggi. Kawasan reklamasi mampu mempertahankan persentase Kejenuhan Basa meski tidak 100% seperti kondisi sebelum penambangan. Pada kawasan non reklamasi persentase Kejenuhan Basa rendah sampai sangat rendah. Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun, dan sekitar 10 tahun sangat tinggi. Sebelum penambangan, tanah mempunyai Kejenuhan Basa yang tinggi, mengindikasikan tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Sesudah penambangan, Kejenuhan Basa rendah pada kawasan non reklamasi sementara Kejenuhan Al tinggi. Kejenuhan Basa rendah mengindikasikan kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H sehingga Al tinggi, hal ini terjadi di PT. Tanito Harum di kawasan non reklamasi. Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Sebelum penambangan Kejenuhan Basa yang tinggi dengan persentase 100%, Kejenuhan Al tidak ada data. Kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas. Meskipun Kejenuhan Basa tinggi, namun diikuti dengan Kejenuhan Aluminum tinggi pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di semua areal. Kejenuhan Aluminum rendah adalah kondisi ideal karena kompleks jerapan menjadi lebih banyak diisi oleh kation-kation basa.

22 132 Tabel 33. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di Areal PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan Kejenuhan Kelas Kejenuhan Rataan Kejenuhan Kelas Kejenuhan Basa (%) Al (%) Basa Al Basa (%) Al (%) Basa Al PT. KITADIN (Umur) Lokasi 1: > 100 Lokasi 2: > 100 Lokasi 3: > 100 Lokasi 4: > 100 Lokasi 5: 46 Lokasi 6: > 100 Lokasi 1: 0,00 Lokasi 2: 0,04 Lokasi 3: 0,37 Lokasi 4: 0,51 Lokasi 5: 4,50 Lokasi 6: 0,32 Lokasi 1:Sangat tinggi Lokasi 2: Sangat tinggi Lokasi 3:Sangat tinggi Lokasi 4:Sangat tinggi Lokasi 5: Sedang Lokasi 6: Sangat tinggi Lokasi 1: Sangat rendah Lokasi 2: Sangat rendah Lokasi 3: Sangat rendah Lokasi 4: Sangat rendah Lokasi 5: Sangat rendah Lokasi 6: Sangat rendah Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat tinggi Sedang Sekitar 5 tahun Sangat tinggi Rendah Sekitar 10 tahun 100 ttd Sangat tinggi ttd PT. TANITO HARUM (Umur) Non Reklamasi Sekitar 1 tahun 100 ttd Sangat tinggi ttd Sekitar 5 tahun tinggi Tinggi Sekitar 10 tahun Sangat tinggi Sangat rendah Lokasi 1: 100 Lokasi 2: 100 Tidak ada data Tidak ada data Lokasi 1: Sangat tinggi Lokasi 2: Sangat tinggi Reklamasi Sekitar 1 tahun Tinggi Tinggi Sekitar 5 tahun Tinggi Tinggi Sekitar 10 tahun Sangat tinggi Tinggi Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat rendah Sangat tinggi Sekitar 5 tahun Sangat rendah Sangat tinggi Sekitar 10 tahun Rendah Sangat tinggi Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Keterangan: ttd (tidak terdeteksi) 132

23 133 Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di PT.Kitadin dan PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 33. Hasil analisis tanah untuk Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di areal PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 7. Kategori penilaian hasil analisis sifat fisik dan kimia tanah pasca tambang batubara di lokasi penelitian secara rinci dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Kelas Sifat Fisik dan Kimia Tanah PT. KITADIN Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Kelas Tekstur Sedang Agak halus Agak halus ph Sangat masam Agak masam Agak masam KTK (me/100 g) Rendah Sedang Sedang Sekitar 1 tahun Sedang Netral Rendah Agak Sekitar 5 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Sedang PT. TANITO HARUM Reklamasi Sangat Sekitar 1 tahun Sedang masam Sedang Sangat Sekitar 5 tahun Agak halus masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Sedang Non Reklamasi Sangat Sekitar 1 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 5 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Rendah Sumber: Hasil Analisis (2009) Rasio C/N Belum terdekomposisi Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Belum terdekomposisi Belum terdekomposisi Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Tersedia (ppm) Kejenuhan (%) P 2 O 5 K 2 O Basa Al Tinggi ttd Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah ttd Rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sedang Rendah ttd Sangat tinggi Sangat tinggi ttd Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat Sangat Sangat tinggi tinggi rendah Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat Sangat tinggi tinggi Tinggi Terdekomposisi sedang Sangat rendah Sedang Sangat rendah Terdekomposisi Sangat Sangat sedang rendah Tinggi rendah Terdekomposisi sedang Rendah Tinggi Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Secara keseluruhan terjadi perubahan sifat fisik dan sifat kimia tanah pasca tambang batubara. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan kondisi keseluruhan sifat fisik dan sifat kimia tanah sebelum penambangan dengan sesudah berakhirnya masa tambang. Tanah pada kawasan reklamasi sifat fisik dan sifat kimianya lebih cepat kembali (recovery) mendekati keadaan semula dibandingkan dengan kawasan non reklamasi pasca tambang batubara.

24 134 Tekstur tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin masih bertekstur halus, kondisi saat ini berubah menjadi bertekstur sedang. Tekstur tanah di PT. Tanito Harum awalnya juga masih bertekstur halus bahkan lebih baik karena di lokasi 2 ada tekstur tanah liat (terbaik), kondisi saat ini berubah menjadi bertekstur sedang. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun kemudian. Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama. ph tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin umumnya bersifat netral, kondisi saat ini di kawasan reklamasi ph tanah umumnya bersifat agak masam sampai sangat masam. Pada kawasan reklamasi ph tanah membaik dalam 5 sampai 10 tahun. ph tanah di PT. Tanito Harum pada saat sebelum penambangan adalah sangat baik (netral), kondisi saat ini pasca tambang batubara ph tanah baik di kawasan reklamasi maupun di kawasan reklamasi menjadi sangat masam (sangat buruk). Terjadi perubahan ph tanah dari sangat baik sebelum penambangan batubara menjadi sangat buruk sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). KTK sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong rendah sampai sedang, kondisi saat ini KTK umumnya rendah baik di kawasan reklamasi maupun di kawasan non reklamasi. KTK sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong tinggi (baik), kondisi saat ini KTK di kawasan reklamasi tergolong sedang, dan pada kawasan non reklamasi rendah. KTK sebelum penambangan di awal masa penambangan lebih tinggi dibandingkan dengan KTK kondisi saat ini. Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong baik yaitu terdekomposisi dan terdekomposisi sedang, kondisi saat ini C/N pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tergolong belum terdekomposisi, dan terdekomposisi sedang (membutuhkan waktu yang lama). Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong baik yaitu terdekomposisi dan terdekomposisi sedang, kondisi saat ini C/N pada kawasan reklamasi maupun non reklamasi terdekomposisi sedang. Rasio C/N lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Kopi Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi merupakan tanaman dengan perakaran tunggang yang mulai berproduksi sekitar berumur 2 tahun

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil 5.1.1. Sifat Kimia Tanah Variabel kimia tanah yang diamati adalah ph, C-organik, N Total, P Bray, Kalium, Kalsium, Magnesium, dan KTK. Hasil analisis sifat kimia

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. Produk tanaman tersebut dapat

Lebih terperinci

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisik Tanah 5.1.1. Bobot Isi dan Porositas Total Penambahan bahan organik rumput signal pada lahan Kathryn belum menunjukkan pengaruh baik terhadap bobot isi (Tabel

Lebih terperinci

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH Komponen kimia tanah berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Bahan aktif dari tanah yang berperan dalam menjerap

Lebih terperinci

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah Kimia Tanah 23 BAB 3 KIMIA TANAH Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah A. Sifat Fisik Tanah Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponenkomponen

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Sifat Kimia Tanah Data sekunder hasil analisis kimia tanah yang diamati yaitu ph tanah, C-Org, N Total, P Bray, kation basa (Ca, Mg, K, Na), kapasitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia

Lebih terperinci

SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH

SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH 4. Phosphor (P) Unsur Fosfor (P) dlm tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan & mineral 2 di dlm tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pd ph

Lebih terperinci

Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain :

Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain : SIFAT KIMIA TANAH Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain : 1. Derajat Kemasaman Tanah (ph) Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi penelitian terlihat beragam, berikut diuraikan sifat kimia

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Paremeter pertumbuhan tanaman yang diukur dalam penelitian ini adalah pertambahan tinggi dinyatakan dalam satuan cm dan pertambahan diameter tanaman dinyatakan dalam satuan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I. PENDAHULUAN A. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang memiliki prospek pengembangan cukup cerah, Indonesia memiliki luas areal

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hujan Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh dipermukaan tanah datar selama periode tertentu di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, run off dan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor

II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara, pada takaran dan kesetimbangan tertentu secara berkesinambung, untuk menunjang pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Analisis Tanah Awal Karakteristik Latosol Cimulang yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 2 dengan kriteria ditentukan menurut acuan Pusat Peneltian Tanah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah menurut PPT (1983) (Lampiran 2), karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga (Tabel 2) termasuk

Lebih terperinci

ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG

ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG Rossi Prabowo 1*,Renan Subantoro 1 1 Jurusan Agrobisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Semarang

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar wilayahnya didominasi oleh tanah yang miskin akan unsur hara, salah satunya adalah

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007)

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Unsur Hara Lambang Bentuk tersedia Diperoleh dari udara dan air Hidrogen H H 2 O 5 Karbon C CO 2 45 Oksigen O O 2

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Kimia Abu Terbang PLTU Suralaya Abu terbang segar yang baru diambil dari ESP (Electrostatic Precipitator) memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Tujuan survey dan pemetaan tanah adalah mengklasifikasikan dan memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu satuan peta tanah yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat Kimia Tanah 2.1.1 Reaksi Tanah (ph) Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan banyaknya konsentrasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kesuburan Tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kesuburan Tanah II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kualitas tanah dalam hal kemampuannya untuk menyediakan unsur hara yang cocok dalam jumlah yang cukup serta dalam keseimbangan yang tepat

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tanah Awal Podsolik Jasinga Hasil analisis kimia dan fisik Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kriteria PPT (1983), Podsolik Jasinga

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena

TINJAUAN PUSTAKA. basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena 17 TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Ultisol Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman

Lebih terperinci

MATERI-9. Unsur Hara Mikro: Kation & Anion

MATERI-9. Unsur Hara Mikro: Kation & Anion MATERI-9 Unsur Hara Mikro: Kation & Anion Unsur Hara Mikro: Kation & Anion Pengelolaan tanaman secara intensif, disadari atau tidak, dapat menjadi penyebab munculnya kekurangan ataupun keracunan unsur

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi Desa Panapalan, Kecamatan Tengah Ilir terdiri dari 5 desa dengan luas 221,44 Km 2 dengan berbagai ketinggian yang berbeda dan di desa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian dan Terhadap Sifat sifat Kimia Tanah Penelitian ini mengevaluasi pengaruh pemberian amelioran bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan hara tanah

Lebih terperinci

DASAR ILMU TA AH Ba B b 5 : : S i S fa f t t K i K mia T a T nah

DASAR ILMU TA AH Ba B b 5 : : S i S fa f t t K i K mia T a T nah DASAR ILMU TA AH Bab 5: Sifat Kimia Tanah ph tanah Pertukaran Ion Kejenuhan Basa Sifat Kimia Tanah Hampir semua sifat kimia tanah terkait dengan koloid tanah Koloid Tanah Partikel mineral atau organik

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Hasil Analisis Tanah yang digunakan dalam Penelitian Hasil analisis karakteristik tanah yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 5. Dari hasil analisis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik TINJAUAN PUSTAKA Ultisol Ultisol adalah tanah mineral yang berada pada daerah temprate sampai tropika, mempunyai horison argilik atau kandik dengan lapisan liat tebal. Dalam legend of soil yang disusun

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sifat Fisik dan Kimia Tanah Berdasarkan hasil analisis fisika dan kimia tempat pelaksanaan penelitian di Desa Dutohe Kecamatan Kabila. pada lapisan olah dengan kedalaman

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai termasuk family leguminosae yang banyak varietasnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai termasuk family leguminosae yang banyak varietasnya. 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) Tanaman kedelai termasuk family leguminosae yang banyak varietasnya. Susunan morfologi kedelai terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penelitian pembuatan pupuk organik cair ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Limbah Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Secara

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sekilas Tentang Tanah Andisol. lapisan organik dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih

TINJAUAN PUSTAKA. Sekilas Tentang Tanah Andisol. lapisan organik dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih TINJAUAN PUSTAKA Sekilas Tentang Tanah Andisol Andisol merupakan tanah yang mempunyai sifat tanah andik pada 60% atau lebih dari ketebalannya, sebagaimana menurut Soil Survey Staff (2010) : 1. Didalam

Lebih terperinci

DASAR ILMU TANAH. Bab 5: Sifat Kimia Tanah

DASAR ILMU TANAH. Bab 5: Sifat Kimia Tanah DASAR ILMU TANAH Bab 5: Sifat Kimia Tanah ph tanah Pertukaran Ion Kejenuhan Basa Sifat Kimia Tanah Hampir semua sifat kimia tanah terkait dengan koloid tanah Koloid Tanah Partikel mineral atau organik

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi 4.1.1. Kakteristik Ultisol Gunung Sindur Hasil analisis pendahuluan sifat-sifat kimia tanah disajikan pada tabel.1.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat pada

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat pada TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia cukup luas yaitu sekitar 38,4 juta hektar atau sekitar 29,7% dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat

Lebih terperinci

TINJAUN PUSTAKA. Sifat sifat Kimia Tanah. tekstur tanah, kepadatan tanah,dan lain-lain. Sifat kimia tanah mengacu pada sifat

TINJAUN PUSTAKA. Sifat sifat Kimia Tanah. tekstur tanah, kepadatan tanah,dan lain-lain. Sifat kimia tanah mengacu pada sifat TINJAUN PUSTAKA Sifat sifat Kimia Tanah Tanah memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik dan biologi tanah dapat dilihat secara kasat mata dan diteliti dengan warna tanah, tekstur

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang berlangsung dimuka daratan bumi dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja selama

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang diukur dan dianalisa dari kawasan penambangan pasir (galian C) selain tekstur dan struktur tanahnya antara lain adalah kerapatan limbak

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Survei tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk dapat membedakan tanah satu dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta (Tamtomo,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas tanaman

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas tanaman I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dalam peningkatan gizi masyarakat Indonesia. Hal tersebut didasarkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya serta sebagian kecil di pulau

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan berkelanjutan hakekatnya merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dari generasi ke generasi. Sudah sejak lama, komitmen pertambangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. (Subagyo, dkk, 2000). Namun demikian, tanah Ultisol ini memiliki kandungan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. (Subagyo, dkk, 2000). Namun demikian, tanah Ultisol ini memiliki kandungan PENDAHULUAN Latar Belakang Tanah Ultisol termasuk bagian terluas dari lahan kering yang ada di Indonesia yaitu 45.794.000 ha atau sekitar 25 % dari total luas daratan Indonesia (Subagyo, dkk, 2000). Namun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah

I. PENDAHULUAN. terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan,

Lebih terperinci

MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah

MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Nitrogen: Dijumpai pada semua jenis tanah, terutama bertekstur kasar dan berkadar

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Tutupan Lahan dan Vegetasi Terdapat 6 jenis tutupan lahan yang digunakan dalam penelitian ini seperti yang ada dalam Tabel 4. Arsyad (2010) mengelompokkan penggunaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Karakteristik Latosol Cikabayan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan tanah yang digunakan dalam percobaan pupuk organik granul yang dilaksanakan di rumah kaca University Farm IPB di Cikabayan, diambil

Lebih terperinci

Pengaruh ph tanah terhadap pertumbuhan tanaman

Pengaruh ph tanah terhadap pertumbuhan tanaman Pengaruh ph tanah terhadap pertumbuhan tanaman 1. Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada ph 6-7, karena pada ph tersebut

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: Spermatophyta; Sub divisio: Angiospermae; Kelas : Dikotyledonae;

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Siklus dan Neraca Nitrogen (N) Menurut Hanafiah (2005 :275) menjelaskan bahwa siklus N dimulai dari fiksasi N 2 -atmosfir secara fisik/kimiawi yang meyuplai tanah bersama

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi awal blotong dan sludge pada penelitian pendahuluan menghasilkan komponen yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik blotong dan sludge yang digunakan

Lebih terperinci

4. Jenis pupuk. Out line. 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman

4. Jenis pupuk. Out line. 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman PUPUK Out line 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman 4. Jenis pupuk 5. Proses pembuatan pupuk 6. Efek penggunaan pupuk dan lingkungan Definisi

Lebih terperinci

MATERI-7. UNSUR HARA MAKRO: KALIUM (K)

MATERI-7. UNSUR HARA MAKRO: KALIUM (K) MATERI-7. UNSUR HARA MAKRO: KALIUM (K) MATERI-7 Unsur Hara Makro: Kalium (K) Unsur Hara Makro: Kalium (K) Kalium tanah yg cukup syarat ketegaran & vigur tnm, karena K meningkatkan ketahanan tnm thd penyakit,

Lebih terperinci

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan

Lebih terperinci

V1 (II) V3 (II) V5(III) V0(IV) V4(III) V2 (I)

V1 (II) V3 (II) V5(III) V0(IV) V4(III) V2 (I) Lampiran 1. Bagan Percobaan U V4(IV) V5 (II) V1 (II) V3(III) V2 (II) V3 (I) V3 (II) V4 (I) V1(IV) V2(III) V5(III) V0 (II) V0 (I) V4 (II) V0(IV) V2(IV) V5 (I) V1(III) V4(III) V5(IV) V3(IV) V0(III) V2 (I)

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Ultisol dan Permasalahan Kesuburannya Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami kesuburan tanah marginal tergolong rendah. Hal ini ditunjukan

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays PENDAHULUAN Latar Belakang Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) merupakan tanaman pangan yang memiliki masa produksi yang relatif lebih cepat, bernilai ekonomis

Lebih terperinci

Latar Belakang. Kalium merupakan salah satu hara makro setelah N dan P yang diserap

Latar Belakang. Kalium merupakan salah satu hara makro setelah N dan P yang diserap I. PENDAHULUAN Latar Belakang Kalium merupakan salah satu hara makro setelah N dan P yang diserap tanaman dalam jumlah banyak. Pada tanaman jagung hara Kdiserap lebih banyak daripada hara N dan P. Lei

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut

TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut 29 TINJAUAN PUSTAKA Sumber-Sumber K Tanah Sumber hara kalium di dalam tanah adalah berasal dari kerak bumi. Kadar kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut mengandung

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh TINJAUAN PUSTAKA Penggenangan Tanah Penggenangan lahan kering dalam rangka pengembangan tanah sawah akan menyebabkan serangkaian perubahan kimia dan elektrokimia yang mempengaruhi kapasitas tanah dalam

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Di Sumatra Utara areal pertanaman jagung sebagian besar di tanah Inceptisol yang tersebar luas dan berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumatera Utara

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol 18 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol Ultisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai horizon argilik atau kandik dengan nilai kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation basa) pada

Lebih terperinci

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 08: Sifat Kimia (1): ph, KTK, KB

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 08: Sifat Kimia (1): ph, KTK, KB Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 08: Sifat Kimia (1): ph, KTK, KB ph tanah ph tanah ph tanah sifat kimia tanah yang amat penting (sifat fisik yang amat penting adalah tekstur

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. yang baik yaitu : sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang

TINJAUAN PUSTAKA. yang baik yaitu : sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang TINJAUAN PUSTAKA Kompos Kulit Buah Kakao Ada empat fungsi media tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang baik yaitu : sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian terak baja berpengaruh nyata terhadap peningkatan ph tanah (Tabel Lampiran

Lebih terperinci

PENGANTAR ILMU PERTANIAN PERTEMUAN KE-8 SUMBERDAYA LAHAN

PENGANTAR ILMU PERTANIAN PERTEMUAN KE-8 SUMBERDAYA LAHAN PENGANTAR ILMU PERTANIAN PERTEMUAN KE-8 SUMBERDAYA LAHAN Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. Dr. Ir. Budiarto, MP. Program Studi Agribisnis UPN Veteran Yogyakarta 1 TANAH PERTANIAN Pertanian berasal dari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Pupuk didefinisikan sebagai material yang ditambahkan ke tanah dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Bahan pupuk yang paling awal digunakan adalah kotoran

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat)

TINJAUAN PUSTAKA. Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat) TINJAUAN PUSTAKA Batuan sebagai Penyedia Hara Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sebagai sumber daya alam sangat penting dalam meyediakan sebahagian besar kebutuhan hidup manusia, terutama pangan. Pada saat ini kebutuhan akan pangan tidak

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Tanaman penutup tanah atau yang biasa disebut LCC (Legume Cover

BAB I. PENDAHULUAN. Tanaman penutup tanah atau yang biasa disebut LCC (Legume Cover BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman penutup tanah atau yang biasa disebut LCC (Legume Cover Crop) merupakan jenis tanaman kacang-kacangan yang biasanya digunakan untuk memperbaiki sifat fisik,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Radish (Raphanus sativus L) merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang

I. PENDAHULUAN. Radish (Raphanus sativus L) merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Radish (Raphanus sativus L) merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang berumbi. Dibandingkan dengan sayuran berumbi yang lain, misalnya wortel (Daucus

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah. genetik tanaman juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa nutrisi

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah. genetik tanaman juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa nutrisi V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor selain dari faktor internal dari tanaman itu sendiri yaitu berupa hormon

Lebih terperinci

VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN

VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN Ubi kayu menghasilkan biomas yang tinggi sehingga unsur hara yang diserap juga tinggi. Jumlah hara yang diserap untuk setiap ton umbi adalah 4,2 6,5 kg N, 1,6 4,1 kg 0 5 dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat peningkatan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan tanah yang bertekstur relatif berat, berwarna merah

TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan tanah yang bertekstur relatif berat, berwarna merah TINJAUAN PUSTAKA Ultisol Ultisol merupakan tanah yang bertekstur relatif berat, berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal mempunyai agregat yang kurang stabil dan permeabilitas rendah. Tanah ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat di sekitar

I. PENDAHULUAN. menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat di sekitar I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tragedi lumpur Lapindo Brantas terjadi pada tanggal 29 Mei 2006 yang telah menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat di sekitar Desa Renokenongo (Wikipedia,

Lebih terperinci