BAB I PENDAHULUAN. merasakan sakit atau tidak enak badan pasti akan melakukan upaya untuk

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. merasakan sakit atau tidak enak badan pasti akan melakukan upaya untuk"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu hal terpenting dalam kehidupan adalah kesehatan. Seseorang yang merasakan sakit atau tidak enak badan pasti akan melakukan upaya untuk memperoleh kesehatannya kembali (Atmoko dan Kurniawati, 2009). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi masih terbatas (Supardi dan Notosiswoyo, 2006). Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang obat dan penggunaannya merupakan penyebab terjadinya kesalahan pengobatan dalam swamedikasi (Depkes, 2006). Tentu dalam pelaksanaannya sedapat mungkin harus memenuhi kriteria penggunaan obat yang rasional yang juga didasari oleh pengetahuan yang memadai (Depkes, 2008). Kerasionalan dalam penggunaan obat sangat dibutuhkan mengingat obat dapat bersifat sebagai racun apabila penggunaannya tidak tepat (Anief, 1997). Namun dalam praktiknya banyak masyarakat yang masih menggunakan obat secara tidak rasional dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi terhadap penyakit yang bersangkutan. Apabila hal ini tidak diatasi dalam waktu dekat, dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kesehatan (Supardi & Notosiswoyo, 2006). Terdapat sekitar 1,8-2,2 juta kasus gastritis dari jumlah penduduk terjadi setiap tahunnya. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) tentang angka kejadian gastritis didunia, didapatkan hasil 1

2 2 presentase diantaranya Kanada 35%, China 31%, Perancis 29,5%, Inggris 22%, dan Jepang 14,5%. Asia Tenggara sendiri terhitung sekitar kasus dari jumlah penduduk setiap tahunnya (Kemenkes RI, 2009). Dapat disimpulkan bahwa gastritis atau penyakit maag termasuk dalam penyakit tidak menular yang prevalensinya cukup tinggi di Indonesia. Angka kejadian gastritis di Indonesia mencapai 40,8% dimana pada beberapa daerah terjadi kasus dari total jumlah peduduk. Menurut data dari WHO (World Health Organization) kematian akibat gastritis dan duodenitis di berbagai negara pada tahun 2004 sebanyak 3840 kematian dengan rata-rata 71,1 kematian (Sistem Informasi Statistik WHO, 2004). Penyakit gastritis yang terjadi di negara maju sebagian besar menyerang usia tua, sedangkan pada negara berkembang penyakit ini lebih banyak menyerang usia dewasa (Maulidiyah, 2006). Maka penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran karakteristik dan perilaku mahasiswa tentang pengobatan gastritis, gambaran pengetahuan mahasiswa tentang pengobatan gastritis serta hubungan antara pengetahuan mahasiswa terhadap karakteristik dan perilaku tentang pengobatan gastritis. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran karakteristik dan perilaku mahasiswa tentang pengobatan gastritis? 2. Bagaimana gambaran pengetahuan mahasiswa tentang pengobatan gastritis?

3 3 3. Apakah pengetahuan mahasiswa berhubungan dengan karakteristik dan perilaku tentang pengobatan gastritis? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui gambaran karakteristik dan perilaku mahasiswa tentang pengobatan gastritis. 2. Mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa tentang pengobatan gastritis. 3. Mengetahui apakah pengetahuan mahasiswa berhubungan dengan karakteristik dan perilaku tentang pengobatan gastritis. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa manfaat antara lain: 1. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mengetahui gambaran karakteristik, gambaran perilaku, gambaran pengetahuan, serta hubungan hal tersebut terhadap pengetahuan mahasiswa tentang pengobatan gastritis. Selain itu juga dapat meningkatkan intelektualitas peneliti dalam berfikir. 2. Bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, sebagai refleksi mengenai pengaruh karakteristisk dan perilaku terhadap pengetahuan tentang penyakit gastritis, diharapkan agar mahasiswa dapat terus bersikap kritis untuk peduli terhadap kesehatan diri serta selalu mencari informasi terkini seputar kesehatan.

4 4 3. Bagi profesi apoteker, penelitian ini dapat digunakan sebagai pemicu semangat dalam mempraktikan pelayanan kefarmasian setelah mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa terhadap penyakit gastritis. Hal ini tentunya dapat memaksimalkan peran apoteker sebagaimana mestinya. 4. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk melanjutkan penelitian dengan tema pengetahuan tentang penyakit gastritis. E. Tinjauan Pustaka 1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, hal ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Seperti diketahui bahwa panca indra diwakilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Pengetahuan di dalam diri manusia diperoleh melalu lima panca indra tersebut, tetapi yang paling sering adalah melalui mata dan telinga. Sedangkan menurut Suriasumantri (2000), pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung turut memperkaya hidup. World Health Organization (1992), menambahkan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman, guru, orang tua, teman, buku, dan media massa. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan (behavior) seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif akan lebih bertahan lama daripada perilaku yang tidak didasari oleh hal-hal tersebut. Sebelum seseorang berprilaku baru,

5 5 Telah terjadi proses yang berurutan di dalam diri orang tersebut, yaitu berupa awareness (kesadaran), interest (ketertarikan), evaluation (menimbang-nimbang) dan trial (mencoba-coba) (Notoatmodjo, 2003). Adapun menurut Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah : a. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari berbagai sisi, baik pengalaman dari diri sendiri ataupun orang lain. Pengalaman yang didapatkan tersebut merupakan cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Dengan pengalaman yang dialami berulang-ulang maka seseorang akan mengetahui apakah pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai kunci dalam memecahkan masalah atau tidak. Apabila pengalaman tersebut berhasil digunakan untuk memecahkan masalah, maka orang lain akan menggunakan cara itu pula. Namun, apabila pengalaman tersebut tidak berhasil digunakan untuk memecahkan masalah, maka cara tersebut tidak akan digunakan. b. Pendidikan Semakin tinggi pendidikan yang dicapai seseorang, maka akan semakin mudah untuk orang tersebut mendapatkan dan memahami informasi, sehingga akan semakin banyak pengetahuan yang didapat. Begitu pula sebaliknya, kurangnya pendidikan akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap hal-hal yang baru diperoleh. Hal ini terkait dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri yaitu

6 6 memotivasi diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik dalam segala aspek kehidupan. c. Kepercayaan Kepercayaan dapat tumbuh apabila seseorang mendapatkan berulang kali informasi yang sama pada waktu tertentu. Sehingga kepercayaan ini berkembang dimasyarakat karena adanya tujuan dan kepentingan yang sama. Seseorang dapat saja menerima kepercayaan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepercayaan adalah sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian tanpa menunjukkan sikap pro atau anti kepercayaan. d. Tingkat pengetahuan didalam domain kognitif Domain kognitif berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat intelektual termasuk didalamnya cara berpikir, berinteraksi, analisis, memecahkan masalah. Hal ini dibagi dalam enam tingkatan sebagai berikut : 1). Tahu (know) Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah karena hanya mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima Cara untuk mengetahui apakah orang tersebut tahu, maka dilakukan dengan cara menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan informasi apa yang telah didapatkan.

7 7 2). Memahami (comprehension) Seseorang yang telah paham dan mengerti terhadap suatu objek dan materi serta informasi yang didapat, maka harus dapat menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang telah dipelajari. Sehinga memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3). Aplikasi (application) Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Dengan demikian, informasi atau materi yang sudah kita peroleh tersebut dapat digunakan dan bermanfaat bagi orang banyak termasuk diri sendiri. 4). Analisis (analysis) Analisis dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memecah atau menjabarkan suatu materi dari objek-objek tertentu ke dalam komponen-komponen yang lebih spesifik, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih harus terkait satu sama lain. Kemampuan dalam analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.

8 8 5). Sintesis (syntesis) Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk membentuk hal-hal yang baru dengan cara menghubungkan berbagai komponen-komponen atau bagian-bagian yang ada dengan aturan yang rasional. Sintesis dapat juga diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formusi-formulasi yang sudah ada. 6). Evaluasi (evaluation) Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek yang ada dimana penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada sebelumnya. Untuk menilai atau mengukur pengetahuan dari seseorang maka dapat dilakukan dengan cara wawancara atau dengan kuisioner yang berisikan tentang materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Selanjutnya kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan yang akan diukur (Notoatmodjo, 2003). 2. Gastritis Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan pada saluran pencernaan yang paling sering terjadi. Sekitar 10% pasien yang datang ke unit gawat darurat (UGD), pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya nyeri di daerah epigastrium. Gastritis atau yang lebih dikenal dengan penyakit maag

9 9 adalah peradangan yang mengenai mukosa lambung. Peradangan yang terjadi dapat menyebabkan mukosa lambung membengkak sehingga menyebabkan epitel mukosa superfisial terlepas. Pelepasan epitel ini akan merangsang proses inflamasi pada lambung. Gastritis dapat bersifat akut dan kronis dengan karakteristik anoreksia, perasaan penuh di perut (begah), mual dan muntah (Suratun, 2010). Penyebab timbulnya gastritis diantaranya (Brunner dan Suddarth, 2001): a. Pemakaian AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) dan obat-obatan kimia digitalis (Aspirin/asetaminofen, kortikosteroid). Asetaminofen dan kortikosteroid dapat menyebabkan iritasi pada mukosa lambung. Obat-obat non-steroid dan kortikosteroid juga dapat menghambat sintesis prostaglandin yang membuat sekresi HCl meningkat (ion hidrogen berdifusi ke sel epitel lambung) dan menyebabkan suasana lambung menjadi sangat asam. b. Konsumsi alkohol Konsumsi alkohol dapat menyebabkan kerusakan pada sawar lambung. Adanya kerusakan ini dapat membuat iritasi secara cepat pada lambung. c. Infeksi bakteri Koloni bakteri dapat merangsang pelepasan gastrin yang membuat asam lambung meningkat. Adanya infeksi sistemik toksik yang dihasilkan oleh mikroba juga dapat merangsang peningkatan laju metabolik yang menyebabkan aktivitas lambung dalam mencerna

10 10 makanan meningkat dan akan mengiritasi lambung. Contoh bakteri yang dapat menginfeksi lambung adalah Helicobacter pylori, Escherichia coli, Salmonella, dan lain-lain. d. Kondisi stress atau tertekan Dalam kondisi ini, produksi asam lambung akan meningkat. Asam lambung tersebut dirangsang oleh mediator kimia yang berasal dari neuron simpatik yaitu epinefrin. e. Rokok Suplai darah ke lambung dapat berkurang akibat dari nikotin yang meningkatkan adhesi trombus. Adhesi trombus dapat menyebabkan sempitnya pembuluh darah, termasuk yang mengarah ke lambung. Kurangnya suplai darah ke lambung ini dapat menyebabkan turunnya produksi mukus yang berfungsi untuk melindungi lambung dari iritasi. Hemoglobin akan lebih mudah mengikat karbonmonoksida yang dihasilkan oleh rokok daripada oksigen, sehinggan menyebabkan penurunan perfusi jaringan pada lambung. Gastritis pada perokok juga dapat dipicu oleh asam nikotinat yang menurunkan rangsangan pada pusat makan, perokok jadi lebih tahan lapar akibatnya yang dicerna oleh lambung adalah mukosanya karena tidak ada makanan yang masuk untuk dicerna. f. Penggunaan antibiotik Penggunaan antibiotik terutama untuk infeksi paru perlu dicurigai karena dapat mempengaruhi penularan kuman pada daerah sekitarnya.

11 11 Antibiotik tersebut mampu mengeradikasi infeksi Helicobacter pylori, walaupun persentase keberhasilannya sangat rendah. g. Fungi Fungi dari spesies Candida, seperti Histoplasma capsulatum dapat menginfeksi mukosa gaster hanya pada pasien immunocompromezad. Pasien dengan sistem imun yang baik biasanya sangat sulit terinfeksi oleh fungi. Gastritis juga diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Klasifikasi gastritis berdasarkan tingkat keparahannya : a. Gastritis Akut Gastritis akut merupakan peradangan yang menyebabkan erosif dan pendarahan pada mukosa lambung setelah terpapar oleh iritan. Luka yang terjadi pada gastritis akut tidak melebihi dari batasan mukosa muskularis. Erosinya juga tidak mengenai lapisan otot lambung (Brunner & Suddarth, 2001). b. Gastritis kronis Gastritis kronis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang terjadi sangat lama dan berulang. Pada gastritis kronis radang yang terjadi pada mukosa lambung bisa dikarenakan luka lambung jinak dan ganas, serta juga dapat disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori. Pada kondisi ini, sekresi asam klorida menurun dan akan menimbulkan kondisi acblorbidria dan ulserasi peptic (tukak pada saluran pencernaan) (Brunner & Suddarth, 2001).

12 12 Manifestasi klinik dari gastritis sangat beragam. Pada beberapa pasien, gangguan ini tidak menunjukkan gejala yang khas, namun terkadang ada gejala yang sangat jelas terlihat. Manifestasi dari gastritis akut dan kronis hampir sama (Brunner & Suddarth, 2001). a. Manifestasi Gastritis Akut 1). Anoreksia 2). Nyeri pada epigastrium 3). Mual dan muntah 4). Pendarahan saluran cerna (Hematemesis Melena) 5). Anemia 6). Hipotensi, pucat, keringat dingin, sampai gangguan kesadaran. Ini terjadi untuk yang mengalami pendarahan hebat. b. Manifestasi Gastritis Kronis 1). Mengeluh nyeri ulu hati 2). Anoreksia 3). Naucea (mual) Faktor-faktor risiko yang sering menyebabkan gastritis diantaranya: a. Pola makan Gastritis sangat mudah menyerang seseorang dengan pola makan yang tidak teratur. Pada saat lapar namun tidak ada makanan yang masuk, maka lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung sehingga menyebabkan rasa nyeri (Brunner & Suddarth, 2001). b. Rokok Asap rokok mengandung lebih dari 300 macam bahan kimia,

13 13 diantaranya acrolein, nikotin, gas karbonmonoksida, dan lain-lain. Nikotin dapat menghalangi rasa lapar, hal inilah yang menyebabkan seseorang yang merokok sangat jarang merasa lapar. Pada kondisi seperti ini, asam lambung akan meningkat dan akan menyebabkan gastritis (Brunner & Suddarth, 2001). c. Kopi Kopi mengandung kafein. Kafein dapat menimbulkan rangsangan terhadap susunan saraf pusat (otak), sistem pernafasan, sistem pembuluh darah dan jantung. Konsumsi kopi dalam jumlah wajar (sekitar 1-3 cangkir) akan membuat tubuh kita menjadi lebih segar, bergairah, daya pikir lebih cepat dan tidak mudah lelah atau mengantuk. Sistem saraf pusat dapat terstimulasi karena adanya kafein, hal ini akan menyebabkan aktivitas lambung, sekresi hormon gastrin dan sekresi hormon pepsin meningkat. Sekresi asam yang meningkat ini dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi pada mukosa lambung, akibatnya akan terjadi gastritis (Brunner & Suddarth, 2001). d. Helicobacter pylori Helicobacter pylori merupakan suatu bakteri gram negatif yang menyebabkan peradangan pada lapisan mukosa lambung kronis pada manusia. Infeksi oleh Helicobacter pylori ini sering disebut sebagai penyebab utama terjadinya gastritis (Brunner & Suddarth, 2001). e. Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) Anti inflamasi non steroid merupakan golongan obat yang

14 14 mekanismenya menghambat aktifitas siklooksigenase sehingga menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekusor tromboksan dari asam arakhidonat (Brunner & Suddarth, 2001). f. Alkohol Konsumsi alkohol dapat menyebabkan kerusakan pada sawar lambung. Kerusakan ini dapat membuat iritasi secara cepat pada lambung. Berdasarkan penelitian, seseorang yang mengkonsumsi alkohol 75 gram atau sekitar 4 gelas/minggu selama 6 bulan dapat mengalami gastritis (Brunner & Suddarth, 2001). g. Terlambat makan Bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang diproduksi akan semakin banyak dan akan mengakibatkan iritasi mukosa lambung serta menimbulkan rasa nyeri disekitar epigastrium (Sediaoetama, 2004). h. Makanan pedas Makanan pedas akan membuat lambung dan usus berkontraksi. Hal ini akan menimbulkan rasa panas dan nyeri ulu hati yang disertai dengan mual muntah. Secara tidak langsung, nafsu makan penderita akan menurun sehingga tidak ada makanan yang dapat dicerna oleh lambung. Konsumsi makanan pedas lebih dari 1 kali selama seminggu minimal 6 bulan terus-menerus dapat menyebabkan gastritis (Sediaoetama, 2004). i. Usia Gastritis lebih tinggi menyerang pada usia tua dibandingkan pada

15 15 usia muda. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang dengan usia yang lebih muda dapat terkena gastritis. Seiring dengan bertambahnya usia, mukosa gaster cenderung menjadi tipis sehingga lebih mudah terinfeksi oleh Helicobacter pylori dan juga gangguan autoimun. Sebaliknya gastritis pada usia muda lebih dikaitkan dengan pola hidup yang tidak sehat (Soetjiningsih, 2005). j. Stress psikis Asam lambung akan lebih banyak diproduksi dalam keadaan stress, misalnya pada beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang berlebih ini akan mengiritasi mukosa lambung dan bila dibiarkan akan menyebabkan gastritis (Brunner & Suddarth, 2001). k. Stress fisik Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar, refluks empedu ataupun infeksi berat dapat menyebabkan gastritis. Hal ini perlu diobati agar tidak berkelanjutan mengakibatkan ulkus atau pendarahan pada lambung (Brunner & Suddarth, 2001). Pengobatan gastritis kebanyakan dilakukan untuk mengurangi produksi asam lambung, menetralkan asam lambung dan mengurangi gejala yang terjadi. Berdasarkan National Institutes of Health (2010), ada tiga golongan obat utama untuk mengobati gastritis, yaitu: a. Antasida dengan kandungan alumunium, magnesium dan simetikon Obat golongan antasida berfungsi untuk menetralkan asam lambung. Contoh dari obat golongan ini adalah aspirin, sodium bikarbonat, asam

16 16 sitrat. Obat lain yang banyak dipasaran adalah promaag, mylanta, antasida, dexanta dan lain-lain. Penggunaan antasida yang tidak sesuai dengan aturan pakai juga dapat mengakibatkan efek samping seperti diare atau bahkan konstipasi. b. Inhibitor reseptor H-2 Mekanisme kerja dari obat golongan ini adalah menghambat kerja dari reseptor H-2 pada lambung, sehingga produksi asam lambung akan berkurang. Contoh dari obat golongan ini adalah famotidin, ranitidin, simetidin. Obat golongan dapat diperoleh dengan peresepan atau bisa juga diperoleh di apotek karena merupakan obat wajib apotek. c. PPI (Proton Pump Inhibitor) Obat golongan PPI diklaim sebagai obat yang paling poten diantara yang lain. Contoh dari obat golongan ini adalah omeprazol, lansoprazole, rabeprazole, dexlansoprazole. Obat ini termasuk dalam kategori obat keras, sehingga untuk memperolehnya harus menggunakan resep dokter. 3. Teori Perilaku Perilaku adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Engel et al, 1995). Dari sudut biologis, perilaku adalah sesuatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seseorang terhadap stimulus yang berasal dari luar

17 17 maupun dari dalam dirinya (Notoatmodjo,2003) Adanya studi tentang perilaku tersebut maka perilaku individu harus dapat dipahami. Pemahaman perilaku individu ini dapat dilakukan dengan cara pendekatan yang fokus pada variabel-variabel eksternal dan internal. Pendekatan yang fokus pada variabel eksternal disebut pendekatan perilaku atau disebut juga pendekatan stimulus-respon (S-R). Sedangkan pendekatan yang kedua adalah pendekatan yang fokus pada variabel mental disebut sebagai pendekatan sikap atau disebut juga pendekatan stimulus-organism-respon (S-O-R). Dijelaskan pula bahwa variabel internal berhubungan langsung dengan pribadi konsumen, seperti keyakinan (belief), sikap, minat, persepsi, motivasi dan lain sebagainya. Sedangkan variabel eksternal berkaitan dengan faktor luar yang meliputi faktor sosial, faktor keluarga, faktor ekonomi, dan lain sebagainya (Pratt, 1978). Lewin (1951) yang dikutip dari buku Azwar (2007) merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karateristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Dalam buku Notoatmodjo (2003), Green menganalisis perilaku manusia dari tingkatan kesehatannya. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor perilaku (behaviour causer) dan faktor dari luar perilaku (non behaviour causer). Selanjutnya perilaku itu

18 18 sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor: 1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. 2. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), terwujud dalam lingkugan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya. 3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors), terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. F. Landasan Teori Pengetahuan merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa setiap perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan. Penelitian yang dilakukan oleh Sairafi et al (2007) juga membuktikan bahwa ada korelasi antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan. Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang obat dan penggunaannya merupakan penyebab utama terjadinya ketidakrasionalan penggunaan obat. Hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan individu dikemudian hari nanti (Depkes, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Harun Rianto pada tahun 2008 tentang

19 19 gambaran penyakit gastritis menyatakan bahwa gastritis lebih banyak menyerang pada perempuan dan dapat menyerang sejak usia dewasa muda hingga lanjut usia. Di Indonesia ada sekitar 6-20% masyarakat menderita gastritis sejak usia 55 tahun. Karakteristik setiap individu juga seringkali mempengaruhi bagaimana pengetahuan individu itu sendiri. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wati Oktaviani pada tahun 2011 bahwa tidak ada hubungan bermakna antara umur, jenis kelamin dan porsi makan terhadap penyakit gastritis. Penelitian yang dilakukan oleh Kristina et al (2008), didapatkan hasil bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pengetahuan dan sikap berhubugan dengan perilaku. Hal ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Oleh karena itu, perlu diketahui secara pasti apakah pengetahuan memiliki hubungan dengan faktor individu seperti karakteristik dan perilaku tentang pengobatan gastritis. G. Kerangka Konsep Pengetahuan mahasiswa tentang penyakit gastritis Faktor hubungan: 1. Karakteristik. Jenis Kelamin. Tahun Angkatan 2. Perilaku. Pemilihan obat. Tempat memperoleh obat. Sumber Informasi Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

20 20 H. Hipotesis 1. Ada hubungan antara pengetahuan dan karakteristik mahasiswa tentang pengobatan gastritis. 2. Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku mahasiswa tentang pengobatan gastritis.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyakit yang sangat mengganggu aktivitas sehari hari, yang bisa

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyakit yang sangat mengganggu aktivitas sehari hari, yang bisa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gastritis merupakan radang pada jaringan dinding lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi dan ketidakteraturan dalam pola makan misalnya makan terlalu banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. paling sering terjadi. Peningkatan penyakit gastritis atau yang secara umum

BAB 1 PENDAHULUAN. paling sering terjadi. Peningkatan penyakit gastritis atau yang secara umum 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia yang mengarah modern ditandai gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan yang dapat merangsang peningkatan asam lambung, seperti:

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. disatu pihak masih banyaknya penyakit menular yang harus ditangani, dilain pihak

BAB 1 : PENDAHULUAN. disatu pihak masih banyaknya penyakit menular yang harus ditangani, dilain pihak BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang sedang kita hadapi saat ini dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit, yaitu disatu pihak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan pola konsumsi makanan, sehingga banyak timbul masalah kesehatan, salah

BAB I PENDAHULUAN. dan pola konsumsi makanan, sehingga banyak timbul masalah kesehatan, salah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Timbulnya suatu penyakit berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup dan pola konsumsi makanan, sehingga banyak timbul masalah kesehatan, salah satunya gangguan pada

Lebih terperinci

POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI

POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI 1 POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI Oleh: SUSANT0 SAPUTRO K 100050039 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2009 1

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS

ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS Konsep Medik : 1. Pengertian Gastritis berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Secara umum Gastritis

Lebih terperinci

Satuan Acara penyuluhan (SAP)

Satuan Acara penyuluhan (SAP) Lampiran Satuan Acara penyuluhan (SAP) A. Pelaksanaan Kegiatan a. Topik :Gastritis b. Sasaran : Pasien kelolaan (Ny.N) c. Metode : Ceramah dan Tanya jawab d. Media :Leaflet e. Waktu dan tempat : 1. Hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Inflamasi adalah suatu respon dari jaringan hidup atau sel terhadap suatu rangsang atau infeksi yang dilakukan oleh pembuluh darah dan jaringan ikat. Tanda-tanda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar sekitar 1,8-2,1 juta

BAB I PENDAHULUAN. 35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar sekitar 1,8-2,1 juta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (WHO) mengadakan tinjauan terhadap beberapa Negara dunia dan mendapatkan hasil presentase dari angka kejadian diseluruh dunia, diantaranya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kasus-kasus penyakit tidak menular yang banyak disebabkan oleh gaya

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kasus-kasus penyakit tidak menular yang banyak disebabkan oleh gaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah, penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan yang belum terselesaikan, dan terjadi peningkatan

Lebih terperinci

PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENYAKIT GASTRITIS DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI

PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENYAKIT GASTRITIS DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENYAKIT GASTRITIS DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI Muhammad Mudzakkir, M.Kep. Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UN PGRI Kediri muhammadmudzakkir@yahoo.co.id ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung. Banyak hal yang dapat menyebabkan gastritis. Penyebabnya paling sering adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan

BAB 1 PENDAHULUAN. tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dispepsia merupakan kumpulan gejala berupa keluhan nyeri, perasaan tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan seperti rasa penuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah, di satu pihak penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diserahkan oleh apoteker di apotek (Asti dan Indah, 2004). The International

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diserahkan oleh apoteker di apotek (Asti dan Indah, 2004). The International BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Swamedikasi Swamedikasi adalah suatu pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obatobatan yang dijual bebas

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ulkus Peptikum 2.1.1 Definisi Ulkus peptikum merupakan luka terbuka dengan pinggir edema disertai indurasi dengan dasar tukak tertutup debris (Tarigan, 2009). Ulkus peptikum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengetahuan 2.1.1.1 Definisi Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lambung merupakan perluasan organ berongga besar berbentuk kantung dalam rongga peritoneum yang terletak di antara esofagus dan usus halus. Saat keadaan kosong, bentuk

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. menjadi salah satu penyebab sindrom dispepsia (Anggita, 2012).

BAB V PEMBAHASAN. menjadi salah satu penyebab sindrom dispepsia (Anggita, 2012). BAB V PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden 1. Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden (51 orang) adalah perempuan. Perempuan lebih mudah merasakan adanya serangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Sukarmin (2012) gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa lambung. Peradangan ini dapat mengakibatkan pembengkakan mukosa lambung sampai terlepasnya

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tukak lambung merupakan salah satu bentuk tukak peptik yang ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Tukak lambung merupakan salah satu bentuk tukak peptik yang ditandai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, tukak lambung menjadi suatu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat dan dalam kondisi yang parah dapat menjadi penyebab kematian. Tukak lambung merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini penyakit lambung/maag sudah banyak timbul di masyarakat dengan keluhan perut yang sakit, perih, atau kembung. Namun penyakit maag tidak seperti yang diketahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut untuk mengidentifikasi barang atau jasa seseorang atau sekelompok

BAB I PENDAHULUAN. tersebut untuk mengidentifikasi barang atau jasa seseorang atau sekelompok BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, ransangan, atau kombinasi halhal tersebut untuk mengidentifikasi barang atau jasa seseorang atau sekelompok penjual dan untuk

Lebih terperinci

ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN

ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN Deisy Octaviani 1 ;Ratih Pratiwi Sari 2 ;Soraya 3 Gastritis merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan salah satu kasus kegawatan dibidang gastroenterologi yang saat ini masih menjadi permasalahan dalam bidang kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid (OAINS) adalah suatu golongan obat

BAB 1 PENDAHULUAN. Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid (OAINS) adalah suatu golongan obat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid (OAINS) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgetik, antipiretik, serta anti radang dan banyak digunakan untuk menghilangkan

Lebih terperinci

Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes dan Kiki Korneliani, SKM, M.Kes 2)

Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes dan Kiki Korneliani, SKM, M.Kes 2) HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI MAKANAN BERISIKO GASTRITIS DAN STRESS DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA WANITA USIA 20-44 TAHUN YANG BEROBAT DI PUSKESMAS CILEMBANG TAHUN 2012 Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes

Lebih terperinci

Jurnal Keperawatan, Volume VIII, No. 1, April 2012 ISSN

Jurnal Keperawatan, Volume VIII, No. 1, April 2012 ISSN PENELITIAN HUBUNGAN FAKTOR STRES DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES TANJUNG KARANG Anita Puri, *, Suyanto, ** Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Swamedikasi 1. Definisi Swamedikasi Pelayanan sendiri didefinisikan sebagai suatu sumber kesehatan masyarakat yang utama di dalam sistem pelayanan kesehatan. Termasuk di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ulkus didefinisikan sebagai defek pada mukosa saluran pencernaan yang mengenai lapisan mukosa hingga submukosa atau lebih. Ulkus mungkin terjadi pada seluruh saluran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dewasa normal bervariasi antara 4-10 jam sehari dan rata-rata berkisar antara

BAB I PENDAHULUAN. dewasa normal bervariasi antara 4-10 jam sehari dan rata-rata berkisar antara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Waktu tidur yang dibutuhkan manusia di setiap tahapan umur berbedabeda. Pada mulanya, bayi yang baru lahir akan menghabiskan waktunya untuk tidur dan hanya akan terbangun

Lebih terperinci

3. Apakah anda pernah menderita gastritis (sakit maag)? ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah

3. Apakah anda pernah menderita gastritis (sakit maag)? ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah 104 KUESIONER PENELITIAN GAMBARAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENCEGAHAN PENYAKIT GASTRITIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2015 A. Karateristik 1. Umur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lambung merupakan organ yang vital bagi tubuh yang cukup rentan cidera atau terluka. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja lambung adalah asupan makanan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Osteoporosis merupakan kondisi atau penyakit dimana tulang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Osteoporosis merupakan kondisi atau penyakit dimana tulang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Osteoporosis merupakan kondisi atau penyakit dimana tulang menjadi rapuh dan mudah retak atau patah. Osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai obat generik menjadi faktor utama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai obat generik menjadi faktor utama 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Obat generik sering diasumsikan sebagai obat dengan kualitas yang rendah. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai obat generik menjadi faktor utama yang

Lebih terperinci

Keluhan dan Gejala. Bagaimana Solusinya?

Keluhan dan Gejala. Bagaimana Solusinya? Faktor psikis atau kejiwaan seseorang bisa pula meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu penyakit maag juga bisa disebabkan insfeksi bakteri tertentu, misalnya helicobacter pylori yang merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebagai kesatuan antara jasmani dan rohani, manusia mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebagai kesatuan antara jasmani dan rohani, manusia mempunyai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai kesatuan antara jasmani dan rohani, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi agar dapat mencapai suatu keseimbangan atau suatu keadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengobatan sendiri atau swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal maupun tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Paparan Asap Rokok Asap rokok mengandung sekitar 4.000 zat kimia seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), asam sianida (HCN), amonia (NH4OH), acrolein, acetilen,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia kesehatan berbagai obat baru telah ditemukan dan informasi yang berkaitan dengan perkembangan obat tersebut juga semakin banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel- sel radang pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi RSUD dr. Moewardi adalah rumah sakit umum milik pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Faktor pencetus, Gastritis. Abstrack

ABSTRAK. Kata kunci: Faktor pencetus, Gastritis. Abstrack ABSTRAK Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh pengalaman penulis yang mempunyai pola makan yang tidak teratur dan mengkonsumsi makanan yang terlalu berbumbu yang tidak nyaman pada pencernaan. Beberapa

Lebih terperinci

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan PENGANTAR KESEHATAN DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY PENGANTAR Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, cara mencegah penyakit, cara menyembuhkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. HIPERTENSI 1. Pengertian Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang tetap di atas batas normal. Seseorang dianggap terkena darah tinggi bila angka tekanan darahnya menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obat merupakan suatu bahan atau campuran bahan yang berfungsi untuk digunakan sebagai diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tukak peptik merupakan penyakit akibat ketidakseimbangan fisiologis antara faktor agresif (asam lambung dan pepsin) dengan faktor pelindung (pertahanan dan perbaikan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI PUSKESMAS GULAI BANCAH KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI PUSKESMAS GULAI BANCAH KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2011 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI PUSKESMAS GULAI BANCAH KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2011 Rahmi Kurnia Gustin ABSTRAK Gatritis merupakan salah satu masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. balita di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti

BAB I PENDAHULUAN. balita di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah pembunuh utama balita di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti AIDS, malaria, dan campak. Infeksi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepatuhan 1. Pengertian Kepatuhan Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan nasehat medis atau kesehatan dan menggambarkan penggunaan obat sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit

Lebih terperinci

ANDA BERTANYA, APOTEKER MENJAWAB. Diasuh oleh para Apoteker Dosen Fakultas Farmasi Unand. Pertanyaan:

ANDA BERTANYA, APOTEKER MENJAWAB. Diasuh oleh para Apoteker Dosen Fakultas Farmasi Unand. Pertanyaan: ANDA BERTANYA, APOTEKER MENJAWAB Diasuh oleh para Apoteker Dosen Fakultas Farmasi Unand Pertanyaan: Bapak Dr. Muslim Suardi, Apt. Ibu saya berusia 68 tahun. Beliau dinyatakan oleh dokter mengalami pendarahan

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT TUKAK PEPTIK PADA PASIEN TUKAK PEPTIK (Peptic Ulcer Disease) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA BRIMOB TAHUN 2015

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT TUKAK PEPTIK PADA PASIEN TUKAK PEPTIK (Peptic Ulcer Disease) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA BRIMOB TAHUN 2015 EVALUASI PENGGUNAAN OBAT TUKAK PEPTIK PADA PASIEN TUKAK PEPTIK (Peptic Ulcer Disease) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA BRIMOB TAHUN 2015 EVALUATION OF PEPTIC ULCER MEDICATION USE IN PATIENTS WITH PEPTIC ULCER

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD DR. R.

HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD DR. R. HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA PASIEN YANG BEROBAT JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD DR. R. KOESMA TUBAN ( Relationship Between Diet with the Incidence Of Gastritis At Patients

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014).

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014). BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit hipertensi merupakan the silent disease karena orang tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darah. Kejadian hipertensi secara

Lebih terperinci

SINDROMA DISPEPSIA. Dr.Hermadia SpPD

SINDROMA DISPEPSIA. Dr.Hermadia SpPD SINDROMA DISPEPSIA Dr.Hermadia SpPD Pendahuluan Dispepsia merupakan keluhan klinis yg sering dijumpai Menurut studi berbasis populasi tahun 2007 peningkatan prevalensi dispepsia fungsional dr 1,9% pd th

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sistem peyampaian obat konvensional tidak dapat mempertahankan

BAB I PENDAHULUAN. Sistem peyampaian obat konvensional tidak dapat mempertahankan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem peyampaian obat konvensional tidak dapat mempertahankan konsentrasi obat yang efektif selama periode yang diperlukan, terutama untuk obat-obat yang memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Stress ulcer merupakan ulser pada lambung dan atau duodenum yang biasanya muncul dalam konteks trauma atau penyakit sistemik atau SSP yang hebat. Ulcer secara

Lebih terperinci

DEFENISI. Merupakan suatu gejala yang menunjukkan adanya gangguangangguan. peradangan, infeksi dan kejang otot.

DEFENISI. Merupakan suatu gejala yang menunjukkan adanya gangguangangguan. peradangan, infeksi dan kejang otot. KELOMPOK IV: Aslida Satiamirna Ernita Eunike V Fatimah Parinduri Happy Monda Lia Realita Mery Zuana Anggreyni Rusman Edi Sri Kurniawati Syaipul Alamsyah Yasmina Ginting Yunita Katarina S NYERI DEFENISI

Lebih terperinci

3.EPIDEMIOLOGI 4. ETIOLOGI. Infeksi bakteri.

3.EPIDEMIOLOGI 4. ETIOLOGI. Infeksi bakteri. I. Konsep Dasar Penyakit 1. ASKEP PADA PASIEN GASTRITIS 2. PENGERTIAN Gastritis adalah suatu peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Berbagai pilihan obat saat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Berbagai pilihan obat saat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Obat Obat merupakan semua bahan tunggal atau campuran bahan yang digunakan semua makhluk hidup untuk bagian dalam maupun bagian luar dalam menetapkan diagnosis, mencegah,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya arus globalisasi di segala bidang dengan adanya perkembangan teknologi dan industri telah banyak membuat perubahan pada perilaku dan gaya hidup pada masyarakat.

Lebih terperinci

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar Susah buang air besar atau lebih dikenal dengan nama sembelit merupakan problem yang mungkin pernah dialami oleh anda sendiri. Banyak yang menganggap sembelit hanya gangguan kecil yang dapat hilang sendiri

Lebih terperinci

Lembar Persetujuan Menjadi Responden. Gambaran Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Gastritis Pada

Lembar Persetujuan Menjadi Responden. Gambaran Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Gastritis Pada Lampiran 1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Gambaran Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Gastritis Pada Mahasiswa S1 Fakultas Keperawatan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana

Lebih terperinci

GAMBARAN KEJADIAN GASTRITIS DI RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

GAMBARAN KEJADIAN GASTRITIS DI RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA GAMBARAN KEJADIAN GASTRITIS DI RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA Rismia Agustina, Azizah, Agianto Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Jl. A.Yani Km. 36, Banjarbaru,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kesegaran Jasmani 2.1.1 Pengertian Kesegaran jasmani sudah umum dipakai dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam bidang keolahragaan. Kesegaran jasmani biasa diucapkan dengan

Lebih terperinci

memang terdapat bentuk-bentuk perilaku instinktif (species-specific behavior) yang didasari

memang terdapat bentuk-bentuk perilaku instinktif (species-specific behavior) yang didasari TUGAS PILIH SATU PERTANYAAN DIBAWAH INI DAN JAWAB SECARA RINCI JAWABAN HARUS 2 SPASI SEBANYAK 2000 KATA 1. Langkah awal dalam melakukan perubahan peri laku terkait gizi adalah membangkitkan motivasi. Bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengobatan sendiri (swamedikasi) merupakan bagian dari upaya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengobatan sendiri (swamedikasi) merupakan bagian dari upaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengobatan sendiri (swamedikasi) merupakan bagian dari upaya masyarakat menjaga kesehatannya sendiri. Swamedikasi adalah penggunaan setiap zat yang dikemas dan dijual

Lebih terperinci

Thera Rolavina S,S.Farm.,Apt

Thera Rolavina S,S.Farm.,Apt Thera Rolavina S,S.Farm.,Apt ANTASID ANTASID adalah basa basa lemah yang digunakan untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan asam lambung ANTIULCER Obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghambat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dispepsia merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang

BAB I PENDAHULUAN. Dispepsia merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Penelitian Dispepsia merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang berpusat pada perut bagian atas. Menurut kriteria Roma III, dispepsia didefinisikan sebagai kumpulan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010).

Lebih terperinci

2014 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN LANSIA TENTANG HIPERTENSI DI RW 05 DESA DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG

2014 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN LANSIA TENTANG HIPERTENSI DI RW 05 DESA DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi adalah faktor resiko utama dari penyakit-penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di setiap negara. Data WHO (2011) menunjukan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. protozoa, dan alergi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007

BAB I PENDAHULUAN. protozoa, dan alergi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit inflamasi saluran pencernaan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, dan alergi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN 0 BAB 5 HASIL PENELITIAN Berdasarkan pengamatan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 4x dan 10x terhadap 60 preparat, terlihat adanya peradangan yang diakibatkan aplikasi H 2 O 2 10%, serta perubahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanjut Usia (Lansia) 2.1.1 Definisi Lanjut usia merupakan proses dari tumbuh kembang yang akan dijalami setiap individu, yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Parasetamol merupakan obat penurun panas dan pereda nyeri yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Metabolit Fenasetin ini diklaim sebagai zat antinyeri

Lebih terperinci

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved Kanker Usus Besar Kanker usus besar merupakan kanker yang paling umum terjadi di Hong Kong. Menurut statistik dari Hong Kong Cancer Registry pada tahun 2013, ada 66 orang penderita kanker usus besar dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Feminine hygiene merupakan cara menjaga dan merawat kebersihan organ kewanitaan bagian luar. Salah satu cara membersihkannya adalah dengan membilas secara benar. Penggunaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh para penggerak yang produktif. Namun hal ini sedikit terganggu

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh para penggerak yang produktif. Namun hal ini sedikit terganggu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan dan perkembangan negara dari berbagai aspek tentunya dipengaruhi oleh para penggerak yang produktif. Namun hal ini sedikit terganggu dengan munculnya

Lebih terperinci

Berbagai Teori Tentang Sikap dan Perilaku Menurut Beberapa Referensi

Berbagai Teori Tentang Sikap dan Perilaku Menurut Beberapa Referensi Berbagai Teori Tentang Sikap dan Perilaku Menurut Beberapa Referensi Pengertian perilaku Menurut Green dan Kreuter (2000), perilaku merupakan hasil dari seluruh pengalaman serta interaksi manusia dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sakit merupakan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang, berbeda dengan penyakit yang menyerang langsung pada organ tubuh berdasarkan diagnosis yang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Stroke WHO mendefinisikan stroke sebagai gangguan saraf yang menetap baik fokal maupun global(menyeluruh) yang disebabkan gangguan aliran darah otak, yang mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia merupakan individu yang berada pada tahapan dewasa akhir yang usianya dimulai dari 60 tahun keatas. Setiap individu mengalami proses penuaan terlihat dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Dispepsia kronis merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang berpusat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Dispepsia kronis merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang berpusat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dispepsia kronis merupakan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang berpusat pada perut bagian atas. Menurut kriteria Roma III, dispepsia kronis didefinisikan

Lebih terperinci

Lesi mukosa akut lambung akibat Aspirin atau dengan istilah Aspirin gastropati merupakan kelainan mukosa akibat efek topikal yang akan diikuti oleh

Lesi mukosa akut lambung akibat Aspirin atau dengan istilah Aspirin gastropati merupakan kelainan mukosa akibat efek topikal yang akan diikuti oleh V. PEMBAHASAN UMUM Lesi mukosa akut lambung akibat efek samping OAINS/Aspirin merupakan kelainan yang sering ditemukan. Prevalensi kelainan ini sekitar 70 persen sedangkan pada 30 persen kasus tidak didapatkan

Lebih terperinci

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA Salah satu ciri mahluk hidup adalah membutuhkan makan (nutrisi). Tahukah kamu, apa yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh rusaknya ketahanan mukosa gaster. Penyakit ini. anemia akibat perdarahan saluran cerna bagian atas (Kaneko et al.

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh rusaknya ketahanan mukosa gaster. Penyakit ini. anemia akibat perdarahan saluran cerna bagian atas (Kaneko et al. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ulkus gaster adalah ulserasi atau robeknya lapisan mukosa yang disebabkan oleh rusaknya ketahanan mukosa gaster. Penyakit ini masih menjadi masalah di bidang kesehatan

Lebih terperinci

[FARMAKOLOGI] February 21, Obat Anti Inflamasi Non Steroid ( OAINS ) Pada th/ sistomatis, tidak u/ th/ kausal. Ibuprofen, asam mefenamat,

[FARMAKOLOGI] February 21, Obat Anti Inflamasi Non Steroid ( OAINS ) Pada th/ sistomatis, tidak u/ th/ kausal. Ibuprofen, asam mefenamat, Obat Anti Inflamasi Non Steroid ( OAINS ) Obat anti inflamasi terbagi 2 : 1. Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) Kronis, bekerja di saraf perifer Pada th/ sistomatis, tidak u/ th/ kausal Ex : Ibuprofen,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan ditularkan melalui nyamuk terutama Aedes aegypti dan Aedes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ulkus peptik atau tukak peptik adalah defek mukosa gastrointestinal (GI) yang meluas sampai ke mukosa otot yang terjadi di esofagus, lambung atau duodenum (Brashers,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan laporan WHO tahun 2005, dari 58 juta kematian di dunia,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Korpus merupakan zona sempit selebar 2-3 cm, tempat muara esofagus kedalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Korpus merupakan zona sempit selebar 2-3 cm, tempat muara esofagus kedalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gaster 2.1.1 Anatomi gaster Gaster merupakan bagian dari traktus gastrointestinal yang terletak antara esofagus dan deudenum. Gaster terdici atas kardia, fundus, korpus dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tukak peptik merupakan penyakit akibat gangguan pada saluran gastrointestinal atas yang disebabkan sekresi asam dan pepsin yang berlebihan oleh mukosa lambung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tidak menular (PTM), yang merupakan penyakit akibat gaya hidup serta

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tidak menular (PTM), yang merupakan penyakit akibat gaya hidup serta BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada beban ganda, di satu pihak penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami dispepsia (Djojoningrat, 2009). 21% penderita terkena dispepsia dimana hanya 2% dari penderita yang

BAB I PENDAHULUAN. mengalami dispepsia (Djojoningrat, 2009). 21% penderita terkena dispepsia dimana hanya 2% dari penderita yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dispepsia adalah kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran pencernaan yang paling sering terjadi. Badan penelitian WHO mengadakan tinjauan terhadap beberapa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman berkaitan dengan kerusakan jaringan (Tan dan Rahardja, 2007). Rasa nyeri merupakan suatu

Lebih terperinci