PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE"

Transkripsi

1 1 PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE PADA PT. TRI ATMA CIPTA Oleh : Enis Prihastuti, SE, M.Si ABSTRACT One type of financing capital goods used darisumbereksternalyang started many companies in Indonesia than borrowing from a bank is financing lease (leasing). Through leasing, companies can optimize the economic resources of the company to gain an advantage over the use of capital goods to the company's operations. As a profit-oriented entity must not be separated from the regulatory and tax obligations. Leasing activity itself is set in the implementation of tax laws, the tax treatment for the course have differences with commercial accounting treatment due to the tax provisions that specifically regulate it, and tax obligations related to the recognition of leased capital goods. This study on the lease transactions with capital lease, the lessee ie, PT. TRI ATMA COPYRIGHT analysis method based on the tax laws on leasing activities are regulated in the Decree of the Minister of Finance No. 1169/KMK.01/1991, Minister of Finance Regulation No. 96/PMK.03/2009 classification of intangible assets as well as Law No.. 36 Year 2008 on Income Tax and Law No. 42 of 2009 on Value Added Tax. The result can be that the implementation of the lease with the capital lease in accordance with applicable regulations, which meet all of the criteria listed in the tax laws. Keywords: Accounting taxes, leasing, lease Capital ABSTRAKSI Salah satu jenis pembiayaan barang modal dari sumber eksternal yang mulai banyak digunakan perusahaan di Indonesia selain pinjaman dari bank adalah pembiayaan sewa guna usaha (leasing). Melalui sewa guna usaha, perusahaan dapat mengoptimalkan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan untuk memperoleh keuntungan atas penggunaan barang modal tersebut terhadap kegiatan operasional perusahaan.sebagai suatu entitas yang berorientasi pada laba tentunya tidak lepas dari peraturan dan kewajiban perpajakan.kegiatan sewa guna usaha sendiri pelaksanaannya telah diatur dalam undang-undang perpajakan,perlakuan untuk perpajakan tentunya memiliki perbedaan dengan perlakuan akuntansi komersial dikarenakan adanya ketentuan-ketentuan perpajakan yang secara khusus mengaturnya, serta kaitannya dengan kewajiban perpajakan atas pengakuan barang modal yang disewagunausahakan. Penelitian ini atas transaksi sewa guna usaha dengan metode capital lease pada pihak penyewa yaitu, PT. TRI ATMA CIPTA dengan metode analisis berdasarkan pada peraturan perpajakan tentang kegiatan sewagunausaha yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang penggolongan aktiva berwujud serta Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentangpajak Penghasilan dan Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan

2 2 PENDAHULUAN Nilai. Hasilnya didapat bahwa pelaksanaan sewa guna usaha dengan metode capital lease telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu memenuhi semua kriteria yang tercantum dalam peraturan perpajakan tersebut. Kata Kunci :Akuntansi pajak, leasing, Capital lease Dana mempunyai peranan penting dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan dana tersebut sebagai alat penambahan investasi melalui penanaman barang modal. Dalam hal pengadaan barang modal, ada beberapa alternatif pembiayaan yang bisa dilakukan oleh perusahaan, yaitu pembiayaan dari sumber internal dan pembiayaan dari sumber eksternal. Pembiayaan dari sumber internal dihasilkan sendiri di dalam perusahaan yang berasal dari modal perusahaan. Sedangkan pembiayaan dari sumber eksternal berasal dari luar perusahaan, diantaranya adalah pinjaman bank, sewa guna usaha (leasing), dan lain-lain. Sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh pihak penyewa selama jangka waktu tertentu serta melakukan pembayaran secara berkala kepada pihak yang menyewakan berdasarkan perjanjian yang telah disepakati. Dalam penyediaan barang modal secara sewa guna usaha terdapat hak opsi yang merupakan suatu hak kepada pihak penyewa untuk membeli barang modal yang disewagunausahakan atau memperpanjang jangka waktu perjanjian sewa guna usaha pada akhir masa sewa. Kegiatan sewa guna usaha tersebut dikategorikan berdasarkan pihak yang menyewakan (lessor) dan pihak yang menyewa (lessee). Sebagai suatu entitas yang berorientasi pada laba dengan mengoptimalkan segala sumber-sumber ekonomi yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan yang optimal tentunya tidak lepas dari peraturan dan kewajiban perpajakan. Kegiatan sewa guna usaha sendiri pelaksanaannya telah diatur dalam undang-undang perpajakan, baik sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) maupun sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease). Perlakuan untuk perpajakan tentunya memiliki perbedaan dengan perlakuan akuntansi komersial dikarenakan adanya ketentuan-ketentuan perpajakan yang secara khusus mengaturnya, serta kaitannya dengan kewajiban perpajakan atas pengakuan barang modal yang disewagunausahakan. LANDASAN TEORI. Pengertian pajak menurut Soemitro (2007:2) adalah iuran kepada kas negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dalam sistem self assessment,

3 3 Wajib Pajak harus menghitung sendiri utang pajaknya sehingga laporan keuangan itu sangat membantu perhitungan. Selain untuk kebutuhan informasi bagi manajemen, laporan keuangan juga dipakai sebagai bahan untuk mengetahui dan menilai tingkat kepatuhan Wajib Pajak terhadap administrasi pajak, terutama dalam aktivitas pemeriksaan bahkan penyidikan pajak. Pengertian sewa guna usaha (leasing) menurut Baridwan (2004:1) adalah : Pembiayaan barang modal yang didalamnya ada suatu perjanjian yang memberikan hak untuk menggunakan harta, pabrik, atau alat-alat yang umumnya mempunyai jangka waktu tertentu. Pihakpihak yang langsung terlibat dalam perjanjian ini adalah yang menyewa (lessee) dan yang menyewakan atau (lessor). Harta, pabrik, atau alat-alat milik yang menyewakan, hak penggunaannya diserahkan pada pihak yang menyewa dengan menerima pembayaran uang sebagai sewa setiap periode. Perusahaan melakukan aktivitas sewa guna usaha atas pembiayaan barang modal berupa aktiva tetap dengan menggunakan metode capital lease, dimana aktivitas sewa guna usaha (leasing) tersebut pelaksanaannya telah diatur dalam undang-undang perpajakan. Dalam peraturan perpajakan berupa Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 yang mengatur tentang kegiatan sewa guna usaha yang berisi tentang aturan pelaksanaan transaksi sewa guna usaha, serta perlakuan Pajak Penghasilan (PPh) yang diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diatur dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 2009, termasuk juga menerapkan objek leasing berupa aktiva tetap sesuai dengan penggolongannya yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang penggolongan aktiva berwujud untuk keperluan penyusutan sebagai dasar untuk menentukan besarnya penyusutan yang sesuai dengan masa manfaat beserta tarif penyusutan yang telah ditetapkan berdasarkan penggolongan aktiva tetap dalam kaitannya dengan perhitungan Pajak Penghasilan (PPh). Sehingga dari perlakuan perpajakan tersebut diperoleh suatu informasi keuangan yang berguna bagi pihak manajemen berupa informasi keuangan fiskal yang berisi tentang kesesuaian pelaksanaan sewa guna usaha dengan memperhatikan peraturan perpajakan mengenai kegiatan sewa guna usaha berdasarkan metode yang digunakan, serta dalam hubungannya dengan pembebanan angsuran sewa dan pembebanan atas penyusutan aktiva tetap dalam perhitungan pajak penghasilan perusahaan. Analisis Data 1 Perhitungan Besarnya Angsuran Sewa

4 4 Penentuan besarnya angsuran sewa untuk setiap periode menggunakan rumus sebagai berikut (Cristian, 2010:1) : Pmt = (HP NS) + [(HP x i) n] n Keterangan : Pmt = Besarnya sewa tiap periode HP = Nilai awal kontrak NS = Taksiran nilai sisa i = Tingkat suku bunga n = Banyaknya transaksi sewa guna usaha Penentuan nilai awal kontrak atau harga perolehan harus diketahui sebelum menghitung angsuran sebagai dasar perhitungan pada sewa guna usaha ini. Nilai awal tersebut merupakan harga final yang telah dinegosiasikan antara lessor dan lessee yang termuat dalam perjanjian sewa guna usaha. 2 Perhitungan Besarnya Angsuran Bunga Angsuran bunga dihitung berdasarkan pada nilai sisa yang dihitung dari harga perolehan setelah dikurangi nilai residu. Penentuan bunga angsuran menggunakan rumus (Baridwan, 2004:6) : Angsuran bunga = Tingkat suku bunga x Nilai kontrak sewa 3 Perhitungan Besarnya Angsuran Pokok Angsuran pokok dihitung dari angsuran sewa berdasarkan rumus diatas dan dikurangi dengan angsuran bunga, yang dihitung sesuai dengan tingkat bunga yang telah ditetapkan. Secara umum penentuan pokok angsuran menggunakan rumus (Baridwan, 2004:6) : Angsuran pokok = Angsuran sewa Angsuran bunga 4. Analisis Berdasarkan Peraturan Perpajakan a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991, tentang kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut : 1.Jumlah pembayaran sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor. 2.Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II dan III dan 7 (tujuh) tahun untuk golongan bangunan. 5. Jumlah Pembayaran Sewa Minimum

5 5 Pembayaran sewa minimum adalah pembayaran yang merupakan kewajiban lessee yang harus dilaksanakan atau diharapkan dapat terlaksana dalam hubungannya dengan aktiva sewa guna usaha. Dinyatakan dengan rumus (Baridwan, 2004:6) : Pembayaran sewa minimum = Angsuran sewa x Jangka waktu sewa 6. Penyusutan Aktiva Tetap Penyusutan aktiva tetap menggunakan metode penyusutan garis lurus, dimana beban penyusutan periodik sepanjang masa pemakaian aktiva tetap adalah sama besarnya. Rumus untuk menghitung penyusutan adalah (Jusup, 2005:164) : Penyusutan = Harga perolehan aktiva Nilai residu Umur ekonomis aktiva HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1.Kebijakan Akuntansi Aktiva Tetap PT. TRI ATMA CIPTA Aktiva tetap dicatat sebesar nilai perolehannya. Penyusutan aktiva tetap dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method), berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tersebut. Aktiva tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aktiva tetap tersebut dibukukan dalam (pendapatan atau beban lain-lain) pada tahun yang bersangkutan. 2.Transaksi Sewa Guna Usaha Pada PT. TRI ATMA CIPTA Transaksi sewa guna usaha yang dilakukan PT. TRI ATMA CIPTA adalah transaksi pengadaaan kendaraan truk barang. Kendaraan tersebut digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Adapun alasan-alasan perusahaan memilih pembelian kendaraan dengan cara leasing karena : a. Menghemat modal kerja perusahaan b. Leasing memberi pembiayaan sampai 100% atas barang yang disewa c. Sewa guna usaha tidak menuntut jaminan tambahan yang berarti d. Pembiayaan yang diajukan membutuhkan waktu yang relatif singkat dan prosedurnya mudah e. Melindungi dari resiko keusangan aktiva tetap Sewa guna usaha PT. TRI ATMA CIPTA adalah sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) dengan teknis pelaksanaan sewa guna usaha langsung (direct lease). Berikut ini daftar kendaraan PT. TRI ATMA CIPTA secara capital lease pada tahun 2012 :

6 6 Tabel.Daftar Aktiva Sewa Guna Usaha PT. TRI ATMA CIPTA Tahun 2012 Keterangan Jumlah (unit) Tanggal Perolehan Umur Ekonomis (tahun) Nilai Perolehan (rupiah) Mitsubishi Fuso Truck FM 517 HS 220PS 1 28/02/ Mitsubishi Cold Diesel Truck FE PS 1 28/02/ Jumlah Sumber: Data diolah Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi sewa guna usaha (leasing) tersebut adalah : a. Pihak Pertama (Lesso ) : PT. HARAPAN BARU GROUP b. Pihak Kedua (Lessee) : PT. TRI ATMA CIPTA Rincian transaksinya adalah sebagai berikut : 1) Mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS. Transaksi dilakukan pada tanggal 28 februari 2012 dengan jangka waktu sewa selama 4 (empat) tahun. a) Harga Kendaraan : Rp b) Tingkat suku bunga tetap (flat) : 7,5% per tahun c) Nilai sisa : Rp d) Asuransi kendaraan : Rp e) Dikenakan PPN sebesar 10% dari harga jual kendaraan f) Lessee mempunyai hak opsi untuk membeli kendaraan sebesar nilai sisa pada akhir masa sewa 2) Mitsubishi cold diesel truck FE PS. Transaksi dilakukan pada tanggal 28 februari 2012 dengan jangka waktu sewa selama 3 (tiga) tahun. a) Harga Kendaraan : Rp b) Tingkat suku bunga tetap (flat) : 9,6% per tahun c) Nilai sisa : Rp d) Asuransi kendaraan : Rp e) Dikenakan PPN sebesar 10% dari harga jual kendaraan

7 7 f) Lessee mempunyai hak opsi untuk membeli kendaraan sebesar nilai sisa pada akhir masa sewa Pembahasan 1. Perhitungan Atas Transaksi Sewa Guna Usaha a. Mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS : 1) Perhitungan angsuran sewa per bulan Pmt = (HP - NS) + [(HP x i) n] n Diketahui : HP = NS = i = 0,625% per bulan atau 0,00625 n = 48 Pmt = ( ) + [( x 0,00625) 48] 48 = (48) 48 = = Rp ) Perhitungan angsuran bunga per bulan Angsuran bunga = Tingkat suku bunga x Nilai kontrak sewa = 0,625/100 x = Rp ) Perhitungan angsuran pokok per bulan Angsuran pokok = Angsuran sewa Angsuran bunga = = Rp ) PPN = 10% x Barang kena pajak = 10% x = Rp ) Perhitungan penyusutan aktiva tetap

8 8 Penyusutan = = = Rp per tahun b. Mitsubishi cold diesel truck FE PS : 1) Perhitungan angsuran sewa per bulan Pmt = (HP NS) + [(HP x i) n] n Diketahui : HP = NS = i = 0,8% per bulan atau 0,008 n = 36 Pmt = ( ) + [( x 0,008) 36] 36 = (36) 36 = = Rp ) Perhitungan angsuran bunga per bulan Angsuran bunga = Tingkat suku bunga x Nilai kontrak sewa = 0,8/100 x = Rp ) Perhitungan angsuran pokok per bulan Angsuran pokok = Angsuran sewa - Angsuran bunga = = Rp ) PPN = 10% x Barang kena pajak = 10% x

9 9 = Rp ) Perhitungan penyusutan aktiva tetap Penyusutan = = = Rp per tahun 2 Pencatatan Atas Transaksi Sewa Guna Usaha a. Untuk Mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS : 1) Mencatat pada saat lessee memperoleh aktiva Aktiva SGU - Capital lease Rp Hutang SGU - Capital lease Rp ) Mencatat PPN saat memperoleh aktiva PPN Masukan Rp Kas Rp ) Mencatat pada saat pembayaran angsuran sewa Hutang SGU - Capital lease Rp Kas Rp ) Mencatat atas pembebanan Angsuran bunga Beban bunga - Capital lease Rp Kas Rp ) Mencatat penyusutan aktiva Beban penyusutan - Capital lease Rp Akumulasi penyusutan - Capital lease Rp (Rp /12 = Rp ) 6) Mencatat beban asuransi atas aktiva leasing Beban asuransi Rp Kas Rp b. Untuk Mitsubishi cold diesel truck FE PS : 1) Mencatat pada saat lessee memperoleh aktiva

10 10 Aktiva SGU - Capital lease Rp Hutang SGU - Capital lease Rp ) Mencatat PPN saat memperoleh aktiva PPN Masukan Rp Kas Rp ) Mencatat pada saat pembayaran angsuran sewa Hutang SGU - Capital lease Rp Kas Rp ) Mencatat atas pembebanan Angsuran bunga Beban bunga - Capital lease Rp Kas Rp ) Mencatat penyusutan aktiva Beban penyusutan - Capital lease Rp Akumulasi penyusutan - Capital lease Rp (Rp /12 = Rp ) 6) Mencatat beban asuransi atas aktiva leasing Beban asuransi Rp Kas Rp Transaksi Sewa Guna Usaha Menurut Peraturan Perpajakan Berdasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991, tentang kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut : 1).Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor. 2).Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II dan III dan 7 (tujuh) tahun untuk golongan bangunan. 3).Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee. Transaksi sewa guna usaha yang terjadi pada PT. TRI ATMA CIPTA atas pembelian 1 unit mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS dan 1 unit mitsubishi cold diesel truck FE PS apabila penulis uji dengan tiga kriteria tersebut akan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : 1) Mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS

11 11 Kriteria 1 : Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama 4 tahun : Pembayaran sewa minimum = Angsuran sewa x Jangka waktu sewa Rp x 48 bulan = Rp Nilai hak opsi = Rp Jumlah = Rp Harga Perolehan barang modal + keuntungan (bunga) : Rp Rp = Rp Karena jumlah angsuran selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa dapat menutupi harga perolehan barang modal + bunga lessor, maka kriteria 1 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kriteria 2 : Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tanggal 15 mei 2009 tentang penggolongan aktiva berwujud untuk keperluan penyusutan, bahwa kendaraan Mitsubishi fuso truck tersebut digolongkan sebagai barang modal golongan II. Masa sewa guna usaha menurut perjanjian adalah 48 bulan (4 tahun), dimana untuk barang modal golongan II masa sewa sekurang-kurangnya 36 bulan (3 tahun) maka kriteria 2 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kriteria 3: Menurut perjanjian sewa guna usaha, lessee memiliki hak opsi untuk membeli aktiva sewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha, maka kriteria 3 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kesimpulan Akhir : Dengan terpenuhinya semua kriteria yang dipersyaratkan oleh ketentuan perpajakan yang berlaku, maka transaksi sewa guna usaha atas 1 unit mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS dapat dikategorikan sebagai transaksi capital lease. 2) Mitsubishi cold diesel truck FE PS Kriteria 1 : Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama 3 tahun : Pembayaran sewa minimum = Angsuran sewa x Jangka waktu sewa Rp x 36 bulan = Rp Nilai hak opsi = Rp Jumlah = Rp

12 12 Harga Perolehan barang modal + keuntungan (bunga) : Rp Rp = Rp Karena jumlah angsuran selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa dapat menutupi harga perolehan barang modal + bunga lessor, maka kriteria 1 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kriteria 2 : Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tanggal 15 mei 2009 tentang penggolongan aktiva berwujud untuk keperluan penyusutan, bahwa kendaraan Mitsubishi cold diesel truck tersebut digolongkan sebagai barang modal golongan II. Masa sewa guna usaha menurut perjanjian adalah 36 bulan (3 tahun), dimana untuk barang modal golongan II masa sewa sekurang-kurangnya 36 bulan (3 tahun) maka kriteria 2 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kriteria 3: Menurut perjanjian sewa guna usaha, lessee memiliki hak opsi untuk membeli aktiva sewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha, maka kriteria 3 sebagai transaksi capital lease terpenuhi. Kesimpulan Akhir : Dengan terpenuhinya semua kriteria yang dipersyaratkan oleh ketentuan perpajakan yang berlaku, maka transaksi sewa guna usaha untuk 1 unit mitsubishi cold diesel truck FE PS dapat dikategorikan sebagai transaksi capital lease. 4. Perlakuan Perpajakan Terhadap Transaksi Sewa Guna Usaha a. Pajak Penghasilan (PPh) Selama masa sewa guna usaha, PT. TRI ATMA CIPTA tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal yang disewa guna usahakan, sampai saat PT. TRI ATMA CIPTA menggunakan opsi untuk membeli barang modal tersebut, artinya pembebanan penyusutan yang dilakukan selama masa sewa akan dilakukan koreksi untuk perhitungan pajak. 1) Setelah PT. TRI ATMA CIPTA menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut, PT. TRI ATMA CIPTA melakukan penyusutan dan dasar penyusutan adalah nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan, yaitu : a) Mitsubishi fuso truck FM 517 HS 220PS = Rp b) Mitsubishi cold diesel truck FE PS = Rp

13 13 2) Pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang oleh PT. TRI ATMA CIPTA kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto PT. TRI ATMA CIPTA sepanjang transaksi sewa guna usaha tersebut memenuhi ketentuan, yaitu : Beban sewa - Capital lease a) Tahun pajak 2012 Rp x 10 = Rp Rp x 10 = Rp Jumlah Rp b) Tahun pajak 2013 Rp x 12 = Rp Rp x 12 = Rp Jumlah Rp c) Tahun pajak 2014 Rp x 12 = Rp Rp x 12 = Rp Jumlah Rp d) Tahun pajak 2015 Rp x 12 = Rp Rp x 2 = Rp Jumlah Rp e) Tahun pajak 2016 Rp x 2 = Rp ) PT. TRI ATMA CIPTA tidak memotong PPh pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan ketentuan sewa guna usaha dengan hak opsi. b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 15 Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991, atas penyerahan jasa dalam transaksi SGU dengan hak opsi dari lessor kepada lessee merupakan jasa financial leasing yang dikecualikan dari pengenaan PPN, dengan demikian lessor bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP). Oleh karena truk digunakan PT. TRI ATMA CIPTA untuk kegiatan operasional maka lessor tidak berhak mengkreditkan PPN Masukan atas penyerahan truk kepada lessee. Sedangkan yang berhak

14 14 mengkreditkan PPN masukan adalah PT. TRI ATMA CIPTA. Dengan demikian, faktur pajak truk yang dibuat supplier adalah atas nama dan NPWP PT. TRI ATMA CIPTA. PPN Masukan = Rp Rp = Rp Jumlah PPN masukan sebesar Rp tersebut dapat dikreditkan dengan PPN keluaran perusahaan pada akhir masa Pajak Pertambahan Nilai, karena PT. TRI ATMA CIPTA merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP). 5. Koreksi Fiskal Terhadap Transaksi Sewa Guna Usaha Adanya Perbedaan antara Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 dengan kebijakan Akuntansi Komersial tersebut, berdampak pada Pajak Penghasilan terhutang PT. TRI ATMA CIPTA,maka akan mengalami koreksi, baik koreksi positif sebesar biaya penyusutan atas aktiva sewa guna usahanya, karena menurut Keputusan Menteri Keuangan tersebut biaya penyusutan atas aktiva sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha tidak boleh diakui (tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan bruto PT. TRI ATMA CIPTA) termasuk juga atas pembebanan bunga sewa serta pengakuan terhadap kepemilikan aktiva sebelum hak opsi untuk membeli dilakukan. Koreksi negatif dilakukan atas pembebanan sewa berdasarkan pada angsuran sewa yang terdiri atas angsuran bunga dan angsuran pokok. Akibatnya Pajak Penghasilan PT. TRI ATMA CIPTA yang terhutang kepada administrasi pajak selama masa sewa guna usaha harus disesuaikan. Berikut ini daftar rekening yang harus dikoreksi atas transaksi untuk perhitungan pajak penghasilan : Tabel.Perhitungan Koreksi Fiskal Terhadap Sewa Guna Usaha Tahun Pajak Rekening Koreksi Positif Koreksi Negatif Beban 2012 penyusutan - Capital lease Rp x Rp x Beban bun ga - Capital lease Rp x 10 Rp x 10 Rp Rp Rp Rp Rp Rp

15 Beban penyusutan - Capital lease Rp Rp x 2 12 Rp Rp Rp Beban sewa/leasing Rp x 10 Rp x 10 Beban 2013 penyusutan - Capital lease Rp Beban bunga - Capital lease Rp x 12 Rp x 12 Beban sewa/leasing Rp x 12 Rp x 12 - Rp Rp Rp Rp Rp Beban 2014 penyusutan - Capital lease Rp Beban bunga - Capital lease Rp x 12 Rp x 12 Beban sewa/leasing Rp x 12 Rp x 12 - Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Sumber: Data diolah

16 16 Beban bunga - Capital lease Rp x 12 Rp x 2 Beban sewa/leasing Rp x 12 Rp x Beban penyusutan - Capital lease Rp x 2 12 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Beban bunga - Capital lease Rp x 2 Rp Beban sewa/leasing Rp x 2 - Rp Berdasarkan koreksi fiskal tersebut diatas maka selama masa sewa guna usaha perlu dilakukan koreksi terhadap beban penyusutan aktiva, beban bunga, dan beban sewa yang dapat diartikan bahwa pengakuan kepemilikan atas aktiva tetap belum dapat akui oleh PT. TRI ATMA CIPTA sebagai pihak lessee sebelum menggunakan hak opsi untuk membeli aktiva tersebut. 6 Pelaksanaan Opsi Atas Sewa Guna Usaha Pada akhir masa sewa, pihak penyewa atau lessee mempunyai hak untuk membeli aktiva tetap yang dilease sejumlah nilai sisa atau nilai residu yang telah disepakati dalam perjanjian sewa. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tanggal 27 Nopember 1991, PT. TRI ATMA CIPTA diperkenankan untuk melakukan penyusutan atas aktiva tetap berupa kendaraan tersebut setelah PT. TRI ATMA CIPTA menggunakan hak opsinya. Dasar penyusutan yang digunakan adalah nilai sisa (hak opsi) kendaraan yang bersangkutan. Umur ekonomis yang digunakan untuk menyusutkan aktiva tersebut menurut ketentuan perpajakan adalah 8 (delapan) tahun sesuai dengan penggolongan kelompok aktiva tetap dalam penentuan tarif penyusutan.

17 17 Untuk metode penyusutan, antara peraturan perpajakan dengan kebijakan akuntansi tidak ada perbedaan, yaitu PT. TRI ATMA CIPTA menggunakan metode garis lurus dalam penentuan besarnya penyusutan aktiva tetap. a. Bila pada tanggal 28 februari 2015 PT. TRI ATMA CIPTA memutuskan untuk menggunakan hak opsi untuk membeli truk mitsubishi cold diesel FE PS yang di sewa guna usaha dengan membayar sejumlah nilai sisa maka Pencatatan oleh PT. TRI ATMA CIPTA atas transaksi ini adalah : Kendaraan Rp Akm. Peny. Aktiva - Capital lease Rp Hutang SGU - Capital lease Rp Aktiva SGU - Capital lease Rp Kas Rp b. Bila pada tanggal 28 februari 2016 PT. TRI ATMA CIPTA memutuskan untuk menggunakan hak opsi untuk membeli truk mitsubishi fuso FM PS yang di sewa guna usaha dengan membayar sejumlah nilai sisa maka Pencatatan oleh PT. TRI ATMA CIPTA atas transaksi ini adalah : Kendaraan Rp Akm. Peny. Aktiva - Capital lease Rp Hutang SGU - Capital lease Rp Aktiva SGU - Capital lease Rp Kas Rp Nilai buku pada akhir masa leasing inilah yang akan menjadi dasar bagi PT. TRI ATMA CIPTA untuk melakukan penyusutan truk yang akan dibeli. Sedangkan jangka waktu yang dipergunakan adalah sisa umur ekonomis truk tersebut, dalam hal ini masing-masing adalah 7 (tujuh) dan 6 (enam) tahun. Terdapat perbedaan antara akuntansi komersial dengan perpajakan dalam penentuan nilai yang digunakan sebagai dasar dalam penyusutan truk yang dibeli. Seperti yang telah disebut di atas bahwa akuntansi komersial menggunakan nilai buku pada saat akhir masa leasing sebagai dasar untuk melakukan penyusutan terhadap truk yang dibeli. Berbeda dengan peraturan perpajakan Keputusan Menteri Keuangan nomor 1169/KMK.01/1991 pasal 16 ayat 1 (b) yang menyantumkan bahwa setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut lessee melakukan penyusutan dengan dasar penyusutan adalah nilai sisa (residual value) barang modal bersangkutan. Menurut perpajakan yang menjadi dasar adalah nilai sisa yakni sebesar Rp untuk truk mitsubishi cold diesel FE PS dan Rp untuk truk mitsubishi fuso FM PS.

18 18 c. Besarnya penyusutan berdasarkan peraturan perpajakan untuk truk mitsubishi cold diesel FE PS Penyusutan = Harga perolehan aktiva - Nilai residu Umur ekonomis aktiva = = Rp per tahun d. Besarnya penyusutan berdasarkan peraturan perpajakan untuk truk mitsubishi fuso FM 517 HS 220PS Penyusutan = Harga perolehan aktiva - Nilai residu Umur ekonomis aktiva = = Rp per tahun Kesimpulan Berdasarkan uraian dapat di simpulkan bahwa transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi yang dilaksanakan oleh perusahaan telah sesuai dengan ketentuan perpajakan begitu juga tentang kriteria transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) sebagaimana telah diatur dalam pasal 3 (tiga) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 disebutkan bahwa objek leasing berupa kendaraan truk barang digolongkan sebagai aktiva tetap golongan II yang berkaitan dengan penentuan tarif penyusutan aktiva tetap yang diatur dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh).Sedangkan Prinsip akuntansi komersial terhadap sewa guna usaha berbeda dengan prinsip akuntansi perpajakan. Pada akuntansi komersial mengakui adanya penyusutan atas aktiva sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha, sedangkan ketentuan pajak memperkenankan pengakuan penyusutan setelah lessee menggunakan hak opsinya untuk membeli aktiva tersebut. Pembayaran angsuran sewa guna usaha yang dibayar setiap bulannya kepada lessor harus diakui sebagai beban sewa oleh lessee dalam menghitung penghasilan kena pajak dan menurut ketentuan perpajakan merupakan biaya yang dapat diakui sebagai biaya yang mengurangi penghasilan bruto. DAFTAR PUSTAKA

19 19 Baridwan, Zaki Intermediate Accounting Edisi delapan cetakan pertama, Yogyakarta: BPFE Intermediate Accounting Edisi delapan cetakan kedua, Yogyakarta: BPFE. Cristian, Petra Cara Perhitungan Cicilan Leasing (bunga flat dan efektif), Diakses pada tanggal 17 April IAI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat. Jusup, Al Haryono Dasar-dasar Akuntansi, Yogyakarta: STIE YKPN. Weygandt, Jerry J., Kieso, Donald E., Kimmel, Paul D Akuntansi Intermediete, terjemahan Emil Salim, Edisi Sepuluh, Jakarta: Erlangga. Muljono, Djoko Akuntansi Pajak, Yogyakarta: ANDI OFFSET. Nasution, Manahan Akuntansi Sewa Guna Usaha (Leasing) Menurut Pernyataan SAK No.30, Sumatera Utara: USU. Pajak, Direktorat Jenderal Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor 129/PJ/2010 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Sewa Guna Usaha, Diakses pada tanggal 20 April Pajak, Direktorat Jenderal Undamg-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Diakses pada tanggal 20 April Pajak, Direktorat Jenderal Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang penggolongan aktiva berwujud untuk keperluan penyusutan, Diakses pada tanggal 20 April Pajak, Direktorat Jenderal Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Diakses pada tanggal 20 April 2012.

20 20 Pajak, Direktorat Jenderal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Diakses pada tanggal 20 April Pajak, Direktorat Jenderal Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha, Diakses pada tanggal 20 April Prabowo, Yusdianto Akuntansi Perpajakan Terapan, Jakarta: Grasindo. Simamora, Henry Akuntansi (cetakan pertama), Jakarta: Salemba Empat. Soemitro, Rochmat Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan, Bandung : PT. Gresco.

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M ANALISIS PERBANDINGAN PERENCANAAN PAJAK UNTUK PENGADAAN AKTIVA DENGAN CARA SEWA GUNA USAHA (LEASING) DAN PEMBELIAN TUNAI DALAM RANGKA PENGHEMATAN PAJAK PADA PT. ELS INDONESIA PRIMA Diajukan Kepada Fakultas

Lebih terperinci

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN 75

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN 75 A. PENGERTIAN Pengertian sewa guna usaha menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991 tanggal 21 Nopember 1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha: Sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan dalam

Lebih terperinci

EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X )

EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X ) EVALUASI PERENCANAAN PAJAK MELALUI REVALUASI ASET TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PT. X ) R. BERNADINUS CHRISDIANTO YUNUS YOHANES BIU KATIK Politeknik Ubaya Universitas

Lebih terperinci

Penerapan Konsep Nilai Waktu Uang Pada Penyusutan Aktiva Tetap dan Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak pada PT Synergy Indonesia

Penerapan Konsep Nilai Waktu Uang Pada Penyusutan Aktiva Tetap dan Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak pada PT Synergy Indonesia Penerapan Konsep Nilai Waktu Uang Pada Penyusutan Aktiva Tetap dan Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak pada PT Synergy Indonesia Arniati Fitrima Windariyani Politeknik Negeri Batam Jl Parkway Batam Centre,

Lebih terperinci

EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Dedy Setiyono Universitas Madura Dedy_Setiyono@yahoo.com Abstract The purpose of a company is to obtain an optimal

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 1, No. 2, Nopember 1999: 132-143 132 PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami

BAB II BAHAN RUJUKAN. Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Sebelum membahas lebih khusus mengenai aset tetap, perlu dipahami pengertian aset. Definisi aset menurut Weygant, et all (2007:11-12), Aset

Lebih terperinci

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi :

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi : SEWA GUNA USAHA LITERATUR :! US GAAP : FASB s Statement of Financial Accounting Standards No. 13, Accounting for Leases! IAI : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 (Revisi 2007), Sewa! IFRS

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan Aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi serta tidak

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus BAB II LANDASAN TEORI II.1 Definisi Aset Tetap Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu harus memiliki aset tetap. Keberadaan aset tetap diharapkan dapat memberikan sumbangan pendapatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH. Abstract

PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH. Abstract PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH Oleh Margono WIDYAISWARA PADA PUSDIKLAT KEKAYAAN NEGARA DAN PERIMBANGAN KEUANGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN Abstract Salah satu point

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada

BAB II BAHAN RUJUKAN. sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian Sewa Guna Usaha ( Leasing ) Leasing berasal dari kata Lease yang berarti sewa atau lebih umum diartikan sewa menyewa yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk

Lebih terperinci

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN EMITEN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

Lebih terperinci

ANALISIS REVALUASI ASET TETAP TERHADAP PENGHEMATAN BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PT. INKA MADIUN

ANALISIS REVALUASI ASET TETAP TERHADAP PENGHEMATAN BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PT. INKA MADIUN ANALISIS REVALUASI ASET TETAP TERHADAP PENGHEMATAN BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PT. INKA MADIUN Hudan Akbar Ramadhan Universitas Negeri Surabaya hudan_rama@yahoo.com Abstract The main objective of this

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN..

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN I. UMUM 1. Peraturan Perundang-undangan perpajakan

Lebih terperinci

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Laporan Keuangan pada tanggal 31 Maret 2013 dan 31 Desember 2012 serta periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2013 dan 2012 P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Halaman

Lebih terperinci

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Laporan Keuangan pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013 serta periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni 2014 dan 2013 P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Halaman

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUMAS 2011 KATA PENGANTAR DAFTAR

Lebih terperinci

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN AKTIVA TETAP DALAM LAPORAN KEUANGAN PD. BPR BKK KARANGMALANG TUGAS AKHIR Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Ahli Madya Program

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets)

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian aktiva tetap berwujud 2. Menerangkan penentuan harga

Lebih terperinci

Muhammad Nuryatno Nazmel Nazir Ramaditya Adinugraha Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ABSTRACT

Muhammad Nuryatno Nazmel Nazir Ramaditya Adinugraha Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ABSTRACT JURNAL INFORMASI, PERPAJAKAN, AKUNTANSI DAN KEUANGAN PUBLIK Vol. 2, No. 2, Juli 2007 Hal. 117-136 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMILIHAN METODE DEPRESIASI UNTUK AKTIVA TETAP PADA PERUSAHAAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS 7 BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Konsep Akuntansi Penyusutan Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Penyusutan Aktiva Tetap Menurut Standar Akuntansi Keuangan No. 16 (2009: 16.2) bahwa asset tetap atau aktiva tetap

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR. Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak

ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR. Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak ANALISIS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN AKTIVA TETAP PADA PDAM TIRTA ANOM BANJAR Oleh: Ade Suherman, S.Pd., M.Pd. Abstrak Struktur Pengendalian Intern aktiva tetap meliputi Organisasi, pemberian wewenang

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain disetujui dalam Rapat

Lebih terperinci