VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor"

Transkripsi

1 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan untuk memberikan gambaran mengenai peranan sektor agroundustri terhadap perekonomian wilayah Kota Bogor. Analisis ini menggunakan data Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun Gambaran menyeluruh mengenai keterkaitan sektor agroindustri dalam suatu perekonomian meliputi beberapa aspek yaitu struktur permintaan antara dan permintaan akhir, nilai tambah bruto, dan output sektoral Struktur Permintaan Total permintaan barang dan jasa di Kota Bogor tahun 2008 yaitu sebesar Rp triliun. Dari keseluruhan total permintaan sebagian besar produksinya digunakan untuk konsumsi permintaan akhir sebesar Rp 5.72 triliun dan untuk permintaan antara sebesar Rp 4.43 triliun. Sesuai dengan asumsi dari Tabel I-O yaitu tentang keseimbangan antara permintaan dan penawaran maka total penawaran sektor-sektor perekonomian Kota Bogor sama dengan nilai permintaannya yaitu sebesar Rp triliun. Berdasarkan Tabel 6.1, permintaan akhir sektor agroindustri menempati urutan pertama dalam struktur permintaan perekonomian Kota Bogor. Permintaan total terhadap sektor agroindustri mencapai Rp 2.80 triliun atau sebesar persen dari permintaan total. Untuk permintaan akhir sektor agroindustri mencapai Rp 1.99 triliun atau sebesar persen dari total permintaan akhir. Sedangkan untuk urutan kedua ditempati oleh sektor perdagangan, hotel, dan

2 restoran dan untuk urutan ketiga ditempati oleh sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dalam struktur permintaan perekonomian Kota Bogor. Untuk permintaan antara sektor agroindustri menempati urutan ketiga yaitu mencapai Rp 813 miliar atau sebesar persen dari total permintaan antara yang setelah sebelumnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran pada urutan pertama, dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa pada urutan kedua. Nilai dari permintaan antara tersebut mengindikasikan bahwa besarnya output yang dihasilkan oleh sektor agroindustri digunakan sebagai input dalam proses produksi oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Kota Bogor. Tabel 6.1 Struktur Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor- Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 (Juta Rupiah) Sektor Permintaan Antara Permintaan Akhir Permintaan Total Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Total Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Lebih tingginya nilai permintaan akhir sektor agroindustri dibandingkan dengan nilai permintaan antaranya mengindikasikan bahwa output sektor agroindustri cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung. Hal ini 48

3 menyebabkan rendahnya nilai keterkaitan agroindustri di Kota Bogor, khususnya keterkaitan ke depan. Dominasi pada sektor agroindustri terlihat di permintaan akhir, dimana permintaan akhir didominasi oleh tiga subsektor yaitu industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki memiliki nilai sebesar Rp 1.3 triliun, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya dengan nilai sebesar Rp 352 miliar. Sedangkan pada urutan ketiga ialah industri makanan, minuman, dan tembakau dengan nilai Rp 253 miliar. Sedangkan jika dilihat dari sisi permintaan antara terlihat bahwa industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki merupakan subsektor agroindustri yang memiliki nilai tertinggi dibandingakan dua subsektor agroindustri lainnya yaitu sebesar Rp 658 miliar. Untuk subsektor industri makanan, minuman, dan tembakau memiliki nilai sebesar Rp 135 miliar. Urutan ketiga ditempati oleh subsektor industri barang kayu dan hasil hutan lainnya dengan nilai sebesar Rp 20 miliar. Tingginya permintaan antara menunjukkan pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh ketiga subsektor tersebut untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Kota Bogor. (Lampiran 5) Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. Dalam Tabel Input-Output perekonomian Kota Bogor nilai tambah bruto meliputi penerimaan upah dan gaji pada sektor rumah tangga, surplus usaha (sewa, bunga, dan keuntungan), penyusutan nilai barangbarang modal dan pajak tidak langsung. Besarnya nilai tambah bruto di setiap sektor ditentukan oleh besarnya output (nilai produksi) yang dihasilkan serta jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Oleh karena itu, suatu 49

4 sektor yang memiliki jumlah output yang besar belum tentu memiliki nilai tambah yang besar pula karena tergantung pada biaya produksi yang dikeluarkannya. Sektor-sektor penyumbang nilai tambah bruto bagi Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 6.2. Tabel 6.2 Sektor Kontribusi Nilai Tambah Bruto Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 (Juta Rupiah) Upah & Gaji (UG) Surplus Usaha (SU) Rasio UG & SU Penyusutan Pajak Tak Langsung Nilai Tambah Bruto Jumlah Persen Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Total % Terhadap NTB Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Berdasarkan Tabel 6.2, dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 adalah sebesar Rp 4.89 triliun. Surplus usaha merupakan komponen yang memiliki kontribusi paling besar terhadap nilai tambah bruto, yakni nilainya mencapai Rp 2.78 triliun atau sebesar persen dari total nilai tambah bruto. Kemudian upah dan gaji di urutan kedua dengan nilai Rp 1.41 triliun atau sebesar persen dari total nilai tambah bruto. Penyusutan memiliki kontribusi terhadap nilai tambah bruto di posisi ketiga, yakni sebesar Rp 459 miliar atau sebesar 9.40 persen dari total nilai tambah bruto. Pajak tidak langsung merupakan komponen yang memiliki kontribusi paling kecil diantara komponen- komponen lainnya, yakni sebesar Rp 226 miliar atau sebesar 50

5 4.63 persen dari total nilai tambah bruto. Sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukan nilai tambah bruto dalam perekonomian Kota Bogor adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memiliki nilai sebesar Rp 2.41 triliun, kemudian disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar Rp 692 miliar. Untuk sektor agroindustri sendiri menempati urutan ketiga terbesar penyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 491 miliar atau persen dari total nilai tambah bruto Kota Bogor. Komponen pembentukan nilai tambah bruto agroindustri terdiri dari upah dan gaji sebesar Rp 163 miliar, surplus usaha sebesar Rp 254 miliar, penyusutan sebesar Rp 44 miliar, dan pajak tidak langsung sebesar Rp 29 miliar. Jika dilihat dari perbandingan antara nilai upah gaji terhadap surplus usaha maka akan diperoleh nilai rasio upah dan gaji dengan surplus usaha. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima tenaga kerja dengan bagian pendapatan yang diterima produsen. Rasio upah dan gaji dengan surplus usaha termasuk dalam kategori baik apabila rasionya mendekati keseimbangan yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang. Apabila nilai rasio upah dan gaji dengan surplus usaha semakin besar maka hal tersebut menunjukkan besarnya upah dan gaji yang diterima oleh tenaga kerja sektor yang bersangkutan lebih tinggi dibandingkan dengan surplus yang diterima oleh produsen. Sebaliknya bahwa dengan semakin kecilnya rasio tersebut, berarti terjadi eksploitasi oleh pengusaha terhadap pekerjanya. Berdasarkan hasil analisis rasio upah gaji dan surplus usaha yang ditunjukkan pada Tabel 6.2, diperoleh hasil bahwa sektor agroindustri memiliki 51

6 nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan dengan upah dan gaji, hal ini terlihat dari nilai rasio upah dan gaji yang lebih kecil dari satu yaitu Kondisi demikian memperlihatkan bahwa distribusi pendapatan di Kota Bogor antara pemilik modal dan pekerja sudah mendekati pemerataan meskipun share lebih besar pada produsen dibanding dengan tenaga kerja namun perbedaannya semakin kecil. Kondisi diatas terjadi antara lain karena upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor seperti penetapan Upah Minimum Regional (UMR) di sektor agroindustri yang cukup berhasil serta semakin kuatnya posisi tawar menawar pekerja yang tercipta melalui adanya serikat buruh yang terlihat melalui adanya pemberian fasilitas bagi karyawan seperti uang transportasi dan konsumsi, Jamsostek, dan lainnya. Industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki merupakan subsektor agroindustri yang memberikan kontribusi nilai tambah bruto terbesar yaitu sebesar Rp 417 miliar atau persen dari total nilai tambah bruto subsektor agroindustri Kota Bogor. Nilai tersebut merupakan kontribusi dari beberapa komponen pembentuk nilai tambah bruto yang meliputi upah dan gaji sebesar Rp 140 miliar, surplus usaha sebesar Rp 209 miliar, penyusutan sebesar Rp 41 miliar, dan pajak tidak langsung sebesar Rp 24 miliar. Kemudian diikuti oleh industri makanan, minuman, dan tembakau di posisi kedua terbesar yaitu sebesar Rp 62 miliar atau persen dari total nilai tambah bruto subsektor agroindustri, dan posisi ketiga ialah industri barang kayu dan hasil hutan lainnya yaitu sebesar Rp 11 miliar atau 2.36 persen dari total nilai tambah bruto subsektor agroindustri. Relatif tingginya kontribusi yang disumbangkan oleh ketiga 52

7 subsektor tersebut menunjukkan besarnya peranan dalam pembentukan PDRB Kota Bogor pada sektor agroindustri. (Lampiran 6) Struktur Output Sektoral Besarnya pertumbuhan ekonomi suatu daerah didasarkan pada pertumbuhan output yang mampu diciptakan daerah tersebut. Dengan demikian peran output sangat penting dalam menilai pertumbuhan ekonomi. Output merupakan nilai produksi baik barang maupun jasa yang dihasilkan oleh sektorsektor ekonomi yang terdapat dalam suatu perekonomian daerah baik yang termasuk output domestik dan impor. Output juga dapat dikatakan penjumlah dari total permintaan antara ditambah dengan total permintaan akhir. Dengan mengkaji besarnya masing-masing output yang diciptakan oleh masing-masing sektor, berarti akan diketahui pula sektor-sektor yang mampu memberikan sumbangan yang besar dalam pembetukan output secara keseluruhan. Berdasarkan Tabel 6.3, struktur output Kota Bogor didominasi oleh sektor agroindustri sebesar Rp 2.80 triliun atau persen dari total output. Peringkat kedua adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang mencapai nilai output sebesar Rp 2.78 triliun atau persen total output. Nilai output ini kemudian diikuti oleh sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Khusus, sektor agroindustri yang menjadi penyumbang terbesar pertama bagi pembentukan output domestik, terlihat bahwa industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki merupakan subsektor agroindustri pemberi kontrbusi terbesar dalam pembentukan output sektor agroindustri yang mencapai nilai output sebesar Rp 2.04 triiun atau persen dari total output sektor agroindustri. Kemudian disusul oleh output industri makanan, minuman, dan tembakau sebesar 53

8 Rp 388 miliar, dan kontribusi output terendah dalam sektor agroindustri berasal dari industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar Rp 372 miliar atau sebesar persen dari total output sektor agroindustri. (Lampiran 7) Tabel 6.3 Struktur Output Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 (Juta Rupiah) Sektor Nilai Output Persen Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Total Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) 6.2. Analisis Keterkaitan Keberadaan sektor agroindustri dalam suatu perekonomian daerah akan mempengaruhi seluruh sektor ekonomi dalam perekonomian daerah tersebut. Besarnya pengaruh sektor agroindustri dapat dilihat berdasarkan besarnya keterkaitan yang terjadi antara sektor agroindustri dengan sektor-sektor ekonomi lainnya. Keterkaitan ini dapat berupa penyediaan input bagi sektor lain atau sebagai penerima input dari sektor ekonomi lain. Sehingga sesungguhnya dalam pembentukan suatu perekonomian akan terkait antara satu sektor dengan sektor lainnya baik pada sektor hulu maupun sektor hilir. Hal ini menyebabkan keterkaitan ini dapat berupa ketergantungan pada sektor lain maupun pemacu sektor lain. Analisis keterkaitan ini menunjukkan sejauh mana suatu sektor dapat 54

9 menyediakan output bagi sektor lain atau keterkaitan ke depan maupun kebutuhan suatu sektor dari sektor lain untuk menciptakan suatu output tertentu. Keterkaitan ini dapat berupa keterkaitan langsung maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung. Nilai keterkaitan langsung baik ke depan maupun ke belakang diperoleh dengan perhitungan koefisien input, sedangkan keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan memperhitungkan matriks kebalikan Leontif. Analisis keterkaitan baik ke depan maupun ke belakang dapat menggambarkan sektor yang dapat dijadikan leading sector atau sektor kunci. Keterkaitan ke belakang (backward linkage) menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan keterkaitan ke depan (forward linkage) menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya Keterkaitan ke Belakang (Backward Linkage) Keterkaitan output ke belakang menggambarkan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara suatu sektor dengan semua sektor yang ada atau dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnnya yang digunakan sebagai input oleh sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dibobot dengan jumlah sektor yang kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Dalam Tabel 6.4, terlihat bahwa sektor agroindustri berada pada urutan kelima dengan nilai sebesar Pada tabel tersebut juga memberikan informasi 55

10 bahwa terdapat tiga sektor yang memiliki nilai keterkaitan ke belakang lebih dari satu secara berturut- turut yaitu sektor pertambangan dan penggalian (1.79), sektor pertanian (1.61), dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan (1.32). Nilai keterkaitan ke belakang yang lebih dari satu menunjukkan tingginya daya kepekaan ketiga sektor tersebut dalam perekonomian Kota Bogor. Sehingga dapat dikatakan bahwa sektor tersebut mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya. Tabel 6.4 Keterkaitan Output ke Belakang Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Keterkaitan ke Belakang Pertanian 1.62 Pertambangan dan Penggalian 1.79 Agroindustri 0.97 Non Agroindustri 0.91 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0.89 Bangunan 0.53 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 0.33 Pengangkutan dan Komunikasi 0.64 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1.33 Jasa-jasa 0.98 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Tabel 6.5, menyajikan nilai keterkaitan ke belakang sektor-sektor yang termasuk dalam kategori agoindustri di Kota Bogor. Dari tabel terlihat bahwa nilai keterkaitan ke belakang sektor-sektor tersebut pada selang 0.93 sampai dengan Terdapat dua subsektor agroindustri yang memiliki nilai keterkaitan ke belakang lebih dari satu yaitu antara lain industri barang kayu dan hasil hutan lainnya memiliki nilai sebesar 1.58, dan industri makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki nilai keterkaitan ke belakang sebesar Kedua subsektor agroindustri tersebut memiliki nilai keterkaitan ke belakang lebih dari 56

11 satu hal ini mengindikasikan bahwa kedua subsektor tersebut mampu menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sektor hulu yang dimaksud adalah sektor pertanian (tabaman, hasil pertanian lain, peternakan, dan perikanan) yang outputnya digunakan sebagai input oleh kedua subsektor tersebut. Tabel 6.5 Keterkaitan Output ke Belakang Subsektor Agroindustri Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Keterkaitan ke Belakang Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1.16 Industri Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki 0.93 Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 1.58 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 12 Sektor (diolah) Keterkaitan ke Depan (Forward Linkage) Keterkaitan output ke depan merupakan suatu indeks yang menunjukkan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor-sektor lain yang menggunakan output sektor tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan yang di bobot dengan jumlah sektor kemudian di bagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Dapat dilihat pada Tabel 6.6, sektor yang mempunyai nilai keterkaitan ke depan yang lebih dari satu secara berturut-turut beserta nilainya yaitu sektor keuangan, persewaan, dan jasa (2.03), sektor bangunan (1.69), sektor jasa-jasa (1.40), sektor perdagangan, hotel, dan restoran (1.19), sektor nonagroindustri (1.03) dan sektor pengangkutan dan komunikasi (1.00). Untuk sektor agroindustri sendiri berada pada urutan ketujuh dengan nilai keterkaitan ke depan sebesar Dengan nilai keterkaitan yang kurang dari satu dapat diartikan bahwa sektor agroindustri kurang mampu untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya, 57

12 sementara nilai keterkaitan ke depan yang lebih dari satu menyatakan bahwa sektor tersebut mampu mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Tabel 6.6 Keterkaitan Output ke Depan Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Keterkaitan ke Depan Pertanian 0.07 Pertambangan dan Penggalian 0.00 Agroindustri 0.96 Non Agroindustri 1.04 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0.60 Bangunan 1.69 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1.19 Pengangkutan dan Komunikasi 1.00 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2.03 Jasa-jasa 1.41 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Analisis keterkaitan ke depan sektor agroindustri berdasarkan klasifikasi 12 sektor yang dapat dilihat pada Tabel 6.7, memperlihatkan bahwa industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki merupakan subsektor agroindustri yang memiliki nilai keterkaitan ke depan terbesar dengan nilai Dengan nilai keterkaitan yang lebih dari satu dapat diartikan bahwa industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki mampu mendorong pertumbuhan sektor hilirnya yaitu sektor yang inputnya berasal dari ouput subsektor tersebut. Sedangkan untuk industri makanan, minuman, dan tembakau, serta industri barang kayu dan hasil hutan lainnya merupakan subsektor agroindustri yang memiliki nilai keterkaitan ke depan kurang dari satu yaitu masing-masing 0.73 dan Keterkaitan ke depan kedua subsektor tersebut yang kurang dari satu menunjukkan bahwa output yang dihasilkan kedua subsektor ini merupakan komoditi yang digunakan untuk konsumsi langsung dan kurang memiliki keterkaitan ke depan yang kuat terhadap 58

13 semua sektor perekonomian di Kota Bogor. Namun sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan yang relatif kecil bukan berarti tidak dapat diandalkan sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi regional, pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil analisis multiplier pendapatan yang memperlihatkan bahwa beberapa sektor yang memiliki keterkaitan ke depan yang rendah ternyata memiliki multiplier pendapatan yang lebih tinggi dibanding sektor-sektor lainnya. Tabel 6.7 Keterkaitan ke Depan Subsektor Agroindustri Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Keterkaitan ke Depan Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 0.73 Industri Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki 1.33 Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 0.19 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 12 Sektor (diolah) Berdasarkan hasil analisis keterkaitan terlihat bahwa indeks keterkaitan ke belakang nilainya lebih tinggi jika dibandingkan dengan indeks keterkaitan ke depan. Hal ini dapat diartikan bahwa sektor agroindustri lebih banyak dipengaruhi dibandingkan mempengaruhi pertumbuhan sektor perekonomian lainnya di Kota Bogor Analisis Multiplier Tujuan analisis ini adalah untuk melihat dampak perubahan atau peningkatan permintaan akhir suatu sektor terhadap perekonomian suatu wilayah. Terdapat dua jenis tipe multiplier yaitu multiplier tipe I dan tipe II. Kedua tipe tersebut digunakan untuk analisis multiplier output dan pendapatan. Multiplier tipe I diperoleh dari pengolahan lebih lanjut matriks kebalikan Leontief terbuka tanpa memasukkan unsur rumah tangga, sedangkan multiplier tipe II dengan matriks kebalikan Leontief tertutup dan memasukkan unsur rumah tangga sebagai 59

14 variabel endogenous dalam model. Namun dikarenakan keterbatasan dalam Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008, maka multiplier I saja yang didapatkan. Jika dilihat secara lebih terperinci, multiplier tipe I merupakan hasil dari proses mekanisme dampak yang terdiri dari efek awal (initial effect), efek putaran pertama (first round effect), efek dukungan industri (industrial support effect), dan efek induksi konsumsi (consumption). Multiplier tipe I diperoleh dengan cara menjumlahkan efek awal, efek putaran pertama, dan efek dukungan industri untuk setiap satu satuan efek awal. Pada multiplier output, tipe I dampaknya diukur setiap satu satuan perubahan output dan pada multiplier pendapatan tipe I diukur setiap satu satuan perubahan pendapatan. Sehingga nilai multiplier tipe I ini menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan variabel eksogen sebesar satu satuan maka variabel endogen diseluruh sektor perekonomian akan meningkat sebesar nilai tersebut Multiplier Output Dari hasil perhitungan multiplier pada Tabel 6.8, menjelaskan mengenai nilai-nilai multiplier output dari tiap sektor dalam perekonomian. Nilai multiplier output pada sektor agroindustri menempati urutan keenam, dengan nilai sebesar Nilai tersebut menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir pada sektor agroindustri sebesar satu juta rupiah, maka output pada seluruh sektor dalam perekonomian akan meningkat sebesar Rp 1.92 juta. Dari multiplier output ini dapat dilihat kemampuan sektor agroindustri itu sendiri relatif kecil. Implikasi ini sejalan dengan nilai keterkaitan ke belakang sektor agroindustri yang hanya menempati urutan kelima. Untuk nilai multiplier terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 60

15 menempati posisi terbesar kedua, dan kemudian disusul oleh sektor pertanian pada posisi ketiga, serta sektor jasa-jasa di urutan keempat. Tabel 6.8 Multiplier Output Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Multiplier Output Pertanian 2.43 Pertambangan dan Penggalian 2.83 Agroindustri 1.92 Non Agroindustri 1.82 Listrik, Gas, dan Air Bersih 1.96 Bangunan 1.51 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1.31 Pengangkutan dan Komunikasi 1.72 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2.65 Jasa-Jasa 2.11 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Jika dilihat menurut hasil analisis multiplier output berdasarkan klasifikasi 12 sektor pada Tabel 6.9, dimana sektor agroindustri dibagi menjadi tiga subsektor yaitu industri makanan, minuman, dan tembakau, industri barang tekstil, barang kulit, dan alas kaki, dan industri barang kayu dan hasil hutan lainnya terlihat bahwa subsektor yang memiliki nilai tertinggi pada multiplier output adalah industri barang kayu dan hasil hutan lainnya dengan nilai Nilai multiplier output tersebut dapat diartikan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir pada industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar satu juta rupiah, maka output pada seluruh sektor dalam perekonomian akan meningkat sebesar Rp 2.29 juta. 61

16 Tabel 6.9 Multiplier Output Subsektor Agroindustri Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Multiplier Output Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 2.11 Industri Barang Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki 1.95 Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 2.29 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 12 Sektor (diolah) Multiplier Pendapatan Pada hasil perhitungan yang tersaji dalam Tabel 6.10, dapat dilihat bahwa sektor agroindustri menempati urutan ketujuh dalam nilai multiplier pendapatan. Nilai multiplier sektor agroindustri yaitu sebesar 2.20 yang dapat diartikan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir pada sektor agroindustri sebesar satu juta rupiah, maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga di seluruh sektor dalam perekonomian sebesar Rp 2.20 juta. Tabel 6.10 Multiplier Pendapatan Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Multiplier Pendapatan Pertanian Agroindustri 2.21 Non Agroindustri 2.21 Listrik, Gas, dan Air Bersih 3.86 Bangunan 1.37 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1.27 Pengangkutan dan Komunikasi 1.65 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 6.23 Jasa-Jasa 1.73 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Keterangan : Sektor pertambangan dan penggalian tidak dimasukkan dalam tabel dikarenakan memiliki nilai ekstrem. Pada Tabel 6.11, terlihat pula multiplier pendapatan subsektor-subsektor pembentuk sektor agroindustri. Industri barang kayu dan hasil hutan lainnya merupakan subsektor agroindustri yang memiliki nilai multiplier terbesar dengan 62

17 nilai multiplier pendapatan sebesar Untuk nilai multiplier pendapatan dapat diartikan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir pada industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar satu juta rupiah, maka akan meningkatkan pendapatan rumah tangga di seluruh sektor dalam perekonomian sebesar Rp 9.35 juta. Tabel 6.11 Multiplier Pendapatan Subsektor Agroindustri Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Multiplier Pendapatan Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 2.73 Industri Barang Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki 2.02 Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 9.35 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 12 Sektor (diolah) Multiplier Tenaga Kerja Analisis multiplier tenaga kerja hanya disajikan dalam bentuk jumlah tenaga kerja sektoral dengan satuan orang untuk klasifikasi 10 sektor. Klasifikasi 12 sektor tidak disajikan karena data tenaga kerja untuk klasifikasi 12 sektor tidak tersedia lengkap. Nilai multiplier pendapatan menunjukkan besarnya pendapatan yang diterima oleh pekerja dan perusahaan yang bergerak pada suatu sektor, yang diakibatkan dari kenaikan barang atau jasa yang dihasilkan oleh sektor tersebut terhadap seluruh sektor perekonomian. Tabel 6.12, menyajikan hasil analisis multiplier tenaga kerja klasifikasi 10 sektor. Sektor agroindustri merupakan sektor terbesar kelima dengan nilai multiplier sebesar Nilai 2.48 menunjukkan bahwa sektor agroindustri akan menciptakan lapangan pekerjaan untuk dua orang tenaga kerja di semua sektor perekonomian jika output sektor tersebut meningkat sebesar satu juta rupiah. 63

18 Tabel 6.12 Multiplier Tenaga Kerja Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor Tahun 2008 Sektor Multiplier Tenaga Kerja Pertanian 2.54 Agroindustri 2.49 Non Agroindustri 2.21 Listrik, Gas, dan Air Bersih 1.52 Bangunan 1.62 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1.27 Pengangkutan dan Komunikasi 3.14 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 2.97 Jasa-Jasa 1.69 Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Keterangan : Sektor pertambangan dan penggalian tidak dimasukkan dalam tabel dikarenakan memiliki nilai ekstrem. Koefisien tenaga kerja sektoral merupakan indikator untuk melihat daya serap tenaga kerja di masing-masing sektor, semakin tinggi koefisien tenaga kerja di suatu sektor menunjukkan semakin tinggi pula daya serap tenaga kerja di sektor tersebut. Sebaliknya, sektor yang rendah koefisien tenaga kerjanya menunjukkan daya serap tenaga kerja yang rendah. Koefisien tenaga kerja yang tinggi umumnya terjadi di sektor-sektor padat karya, sedangkan koefisien tenaga kerja yang rendah umumnya terjadi di sektor padat modal yang produksinya dilakukan dengan teknologi tinggi Analisis Dampak Investasi Sektor Agroindustri Kondisi Investasi Sektor Agroindustri Gambaran kemajuan ekonomi suatu daerah biasa dilakukan pengelompokkan sektor ekonomi, diantaranya sektor primer (sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian), sektor sekunder (industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, dan sektor bangunan), dan sektor tersier (sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor 64

19 keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa). Dilihat dari sisi perkembangan pertumbuhan ekonomi per sektor selama kurun waktu lima tahun 2006 hingga 2010, sektor agroindustri yang termasuk dalam sektor industri pengolahan yang terkelompokkan dalam sektor sekunder mengalami pertumbuhan yang cenderung berfluktuatif dari tahun ke tahun. Menurut data BPS (2011) pada tahun 2006 sektor sekunder memperlihatkan laju sebesar dan persen tahun Namun pada tahun 2008, laju pertumbuhannya menurun menjadi persen dan naik kembali di tahun 2009 sebesar persen sedangkan pada tahun 2010 kembali sedikit menurun menjadi sebesar persen. Pengaruh harga yang cenderung meningkat dan tinggi di sektor sekunder, yaitu sektor industri pengolahan mengakibatkan laju pertumbuhan sektor sekunder cukup tinggi. Salah satu instrumen kebijakan perekonomian dalam pembangunan suatu wilayah adalah investasi. Investasi diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan investasi dapat dilihat melalui pertumbuhan ekonomi. Investasi yang terjadi pada sektor agroindustri Kota Bogor berasal dari dua sumber yaitu investasi dalam negeri (PMDN) dan investasi Pemerintah Daerah (Pemda). Investasi tersebut digunakan sebagai salah satu komponen pembangunan perekonomian daerah karena melalui investasi, kapasitas produksi dapat ditingkatkan yang kemudian mampu meningkatkan output, yang akhirnya juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karena itu, perlunya untuk melihat potensi dari dampak investasi sektor agroindustri, sehingga dipandang penting untuk melihat perkembangan agroindustri dari dua sisi, yaitu kondisi investasi sektor 65

20 agroindustri sekarang dan dampak investasi sektor agroindustri. Tujuan dari melihat kondisi investasi ini ditujukan untuk melihat perkembangan investasi sektor agroindustri dari tahun-tahun sebelumnya sampai dengan sekarang. Sedangkan dampak investasi dimaksudkan untuk melihat seberapa besar pengaruh dari adanya investasi agroindustri terhadap perekonomian. Dalam simulasi dampak investasi sektor agroindustri jenis investasi yang digunakan yaitu investasi dalam negeri (PMDN) dan Pemda. Analisis dampak pada penelitian ini didasarkan pada asumsi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bogor (RPJMD) selama kurun waktu Pada Tabel 6.13, memperlihatkan perkiraan nilai investasi total sektor agroindustri tahun sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bogor. Jumlah investasi PMDN untuk tahun 2010 dan 2011 diambil berdasarkan data yang sudah terealisasi, dan data untuk tahun diperoleh dengan cara mengestimasi dari proyeksi laju pertumbuhan ekonomi rata-rata Kota Bogor per tahunnya yang diproyeksi oleh Bappeda dikali dengan investasi tahun sebelumnya, dimana proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2012 sebesar 6.03 persen, tahun 2013 sebesar 6.11 persen, dan tahun 2014 sebesar 6.43 persen. Sedangkan untuk jumlah investasi Pemda disesuaikan dengan target pencapaian program dalam Renstra Disperindag Kota Bogor baik yang sudah terealisasi maupun proyeksi ke depan. Analisis dampak digunakan agar dapat mengetahui besarnya peningkatan yang terjadi setelah adanya investasi pada sektor agroindustri dan dapat dihitung dengan cara mengalikan besaran investasi total dengan nilai multiplier output, pendapatan, dan tenaga kerja. 66

21 Tabel 6.13 Jumlah Investasi Dalam Negeri dan Investasi Pemerintah Daerah (Pemda) Sektor Agroindustri dalam Perekonomian Kota Bogor (Juta) Tahun Sektor Agroindustri Pemda PMDN * * * Total/Jumlah (Rupiah) Total Seluruh (Rupiah) Sumber : BPPTPM dan Disperindag Kota Bogor, 2011 (diolah) Dampak Investasi Sektor Agroindustri terhadap Pembentukan Output Pada perhitungan dampak investasi sektor agroindustri ini yaitu dengan mensimulasikan terjadinya peningkatan investasi sektor agroindustri (external shock) dengan nilai investasi total sebesar Rp 2.18 triliun. Investasi tersebut melingkup ke dalam subsektor-subsektor pembentuk sektor agroindustri yaitu subsektor industri makanan, minuman dan tembakau, subsektor industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki, dan subsektor barang kayu dan hasil hutan lainnya. Berdasarkan Tabel 6.14, dapat dilihat ketika adanya investasi pada sektor agroindustri sebesar Rp 2.18 triliun maka sektor yang terkena imbas terbesar dari adanya investasi tersebut adalah sektor agroindustri itu tersebut yaitu sebesar Rp 921 miliar, disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran yaitu sebesar Rp 685 miliar, dan untuk penerima dampak investasi terbesar ketiga adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan nilai sebesar Rp 131 miliar. Dan untuk secara keseluruhan dampak total yang diberikan untuk output perekonomian Kota Bogor adalah sebesar Rp 2.01 triliun. 67

22 Tabel 6.14 Dampak Investasi Sektor Agroindustri terhadap Pembentukan Output Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor (Juta Rupiah) No Sektor Output Persen 1 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa- Jasa Total Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Dampak Investasi Agroindustri terhadap Pendapatan Rumah Tangga Untuk mengetahui dampak investasi di sektor agroindustri terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel Terlihat bahwa sektor yang paling besar menerima dampak akibat adanya investasi pada sektor agroindustri adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan nilai sebesar Rp 119 miliar, sektor yang mendapat dampak terbesar kedua adalah sektor agroindustri itu sendiri dengan nilai sebesar Rp miliar, disusul oleh sektor bangunan pada urutan ketiga terbesar yaitu dengan nilai sebesar Rp miliar. Dan secara keseluruhan dampak total yang diberikan untuk pendapatan dalam perekonomian Kota Bogor adalah sebesar Rp 265 miliar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran merupakan sektor hilirnya dari sektor agroindustri. 68

23 Tabel 6.15 Dampak Investasi Sektor Agroindustri terhadap Tingkat Pendapatan Rumah Tangga di Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor ( Juta Rupiah) No Sektor Pendapatan Persen 1 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa- Jasa Total Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) Dampak Investasi Sektor Agroindustri terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Adanya investasi pada sektor agroindustri tentunya tidak berdampak pada peningkatan output dan pendapatan tetapi juga terhadap peningkatan dalam penyerapan tenaga kerja. Investasi yang terhadap suatu sektor tidak hanya akan berpengaruh pada sektor tersebut melainkan terhadap seluruh sektor yang berkaitan. Berdasarkan Tabel 6.16, dapat dilihat bahwa dampak investasi di sektor agroindustri akan berdampak paling besar terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor itu sendiri yaitu sebesar orang kemudian terhadap sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar orang dan penerima dampak terbesar selanjutnya ialah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Dan secara keseluruhan dampak total yang diberikan pada tingkat penyerapan tenaga kerja dalam perekonomian Kota Bogor adalah sebesar orang. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran merupakan sektor hilir dari sektor agroindustri 69

24 sehingga dengan adanya investasi di sektor agroindustri maka tentunya akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sektor hilir nya selain sektor agroindustri sendiri. Hal tersebut cukup wajar karena sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang merupakan sektor penyumbangan PDRB terbesar kota Bogor dan juga memiliki keterkaitan terbesar dengan sektor agroindustri. Tabel 6.16 Dampak Investasi Sektor Agroindustri terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor-Sektor Perekonomian Kota Bogor (Orang) No Sektor Tenaga Kerja Persen 1 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Agroindustri Non Agroindustri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa- Jasa Total Sumber : Tabel Input-Output Kota Bogor Tahun 2008 Klasifikasi 10 Sektor (diolah) 70

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Struktur Perekonomian Provinsi Jambi 5.1.1 Struktur Permintaan Berdasarkan tabel Input-Output Provinsi Jambi tahun 2007 klasifikasi 70 sektor, total permintaan Provinsi Jambi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan 60 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang

Lebih terperinci

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007 Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007 TABEL INPUT OUTPUT Tabel Input-Output (Tabel I-O) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Banjarnegara Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai peranan ekonomi sektoral ditinjau dari struktur permintaan, penerimaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya

Lebih terperinci

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU 6.1. Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku Aktivitas atau kegiatan ekonomi suatu wilayah dikatakan mengalami kemajuan,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Uraian dalam Bab ini menjelaskan hasil pengolahan data dan pembahasan terhadap 4 (empat) hal penting yang menjadi fokus dari penelitian ini, yaitu: (1) peranan sektor kehutanan

Lebih terperinci

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) OLEH SRI MULYANI H14103087 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan III. METODE PENELITIAN Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan hipotesis, melainkan hanya mendeskripsikan

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi. III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Input-Output Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

Lebih terperinci

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

permintaan antara di Kota Bogor pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp 4.49 triliun.

permintaan antara di Kota Bogor pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp 4.49 triliun. VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Tanaman Bahan Makanan Terhadap Perekonomian di Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS MULTIPLIER SEKTORAL DAN EFEK TOTAL

VII. ANALISIS MULTIPLIER SEKTORAL DAN EFEK TOTAL VII. ANALISIS MULTIPLIER SEKTORAL DAN EFEK TOTAL 7.. Analisis Multiplier Output Dalam melakukan kegiatan produksi untuk menghasilkan output, sektor produksi selalu membutuhkan input, baik input primer

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Bogor merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Kedudukan Kota Bogor yang terletak di antara wilayah Kabupaten Bogor dan dekat dengan Ibukota Negara

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG 2008 2011 NOMOR KATALOG : 9302008.1114 UKURAN BUKU JUMLAH HALAMAN : 21,00 X 28,50 CM : 78 HALAMAN + XIII NASKAH : - SUB BAGIAN TATA USAHA - SEKSI STATISTIK SOSIAL

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA 6.1. Perkembangan Peranan dan Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Maluku Utara Kemajuan perekonomian daerah antara lain diukur dengan: pertumbuhan

Lebih terperinci

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK 6.1. Struktur Perekonomian Kabupaten Siak 6.1.1. Struktur PDB dan Jumlah Tenaga Kerja Dengan menggunakan tabel SAM Siak 2003

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN 164 BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN Adanya keterbatasan dalam pembangunan baik keterbatasan sumber daya maupun dana merupakan alasan pentingnya dalam penentuan sektor

Lebih terperinci

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Dinas Pertanian Kota Bogor,

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Dinas Pertanian Kota Bogor, IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dengan memilih lokasi di Kota Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa sektor tanaman bahan makanan merupakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan

Lebih terperinci

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT) DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman 1-9 http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jme DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,08 PERSEN No. 11/02/61/Th. XVII, 5 Februari 2014 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun

Lebih terperinci

Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah

Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah 48 V. DUKUNGAN ANGGARAN DALAM OPTIMALISASI KINERJA PEMBANGUNAN BERBASIS SEKTOR UNGGULAN 5.1. Unggulan Kota Tarakan 5.1.1. Struktur Total Output Output merupakan nilai produksi barang maupun jasa yang dihasilkan

Lebih terperinci

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 38 III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan memilih lokasi Kota Cirebon. Hal tersebut karena Kota Cirebon merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa

Lebih terperinci

Sebagai upaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di

Sebagai upaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di 120 No. 1 2 3 4 Tabel 3.5 Kegiatan Pembangunan Infrastruktur dalam MP3EI di Kota Balikpapan Proyek MP3EI Pembangunan jembatan Pulau Balang bentang panjang 1.314 meter. Pengembangan pelabuhan Internasional

Lebih terperinci

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono UNIVERSITAS INDONESIA TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono NAMA Sunaryo NPM 0906584134 I Made Ambara NPM 0906583825 Kiki Anggraeni NPM 090xxxxxxx Widarto Susilo NPM 0906584191 M. Indarto NPM 0906583913

Lebih terperinci

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tegal Tahun 2012 ruang lingkup penghitungan meliputi

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, dilakukan beberapa macam analisis, yaitu analisis angka pengganda, analisis keterkaitan antar sektor, dan analisis dampak pengeluaran pemerintah terhadap

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013 BPS KABUPATEN TAPANULI UTARA No. 08/07/1205/Th. VI, 06 Oktober 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara yang diukur

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014 BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014 PEREKONOMIAN SULAWESI SELATAN TRIWULAN I 2014 BERTUMBUH SEBESAR 8,03 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu negara dengan berbagai potensi besar yang dimilikinya baik potensi alam, sumberdaya manusia, maupun teknologi tentunya memiliki berbagai

Lebih terperinci

V. STRUKTUR PEREKONOMIAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN PENGELUARAN RUMAHTANGGA

V. STRUKTUR PEREKONOMIAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN PENGELUARAN RUMAHTANGGA V. STRUKTUR PEREKONOMIAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN PENGELUARAN RUMAHTANGGA 5.1. Struktur Perkonomian Sektoral Struktur perekonomian merupakan suatu analisis yang dilakukan terhadap struktur Produk Domestik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Berdasarkan sisi perekonomian secara makro, Jawa Barat memiliki

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Hal-hal yang akan diuraikan dalam pembahasan dibagi dalam tiga bagian yakni bagian (1) penelaahan terhadap perekonomian Kabupaten Karo secara makro, yang dibahas adalah mengenai

Lebih terperinci

No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014

No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014 No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014 Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum SNSE Kabupaten Indragiri Hilir yang meliputi klasifikasi SNSE Kabupaten Indragiri

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 yang diklasifikasikan menjadi 10 sektor dan

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Indonesia. Konsekuensinya adalah bahwa kebijakan pembangunan pertanian di negaranegara tersebut sangat berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008 No. 19/05/31/Th. X, 15 Mei 2008 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I tahun 2008 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 19/05/14/Th.XI, 10 Mei PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas y-on-y Triwulan I Tahun sebesar 5,93 persen Ekonomi Riau dengan migas pada triwulan I tahun mengalami kontraksi sebesar 1,19

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan permasalahan pembangunan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN

VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN 102 VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN Adanya otonomi daerah menuntut setiap daerah untuk dapat melaksanakan pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

BPS PROVINSI MALUKU PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN

BPS PROVINSI MALUKU PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN BPS PROVINSI MALUKU No. 01/05/81/Th.XV, 05 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI MALUKU PDRB MALUKU TRIWULAN IV TAHUN 2013 TUMBUH POSITIF SEBESAR 5,97 PERSEN PDRB Maluku pada triwulan IV tahun 2013 bertumbuh

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Suryana (2000 : 3), mengungkapkan pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 24/05/14/Th.XV, 5 Mei 2014 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan I tahun 2014, yang diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000, mengalami

Lebih terperinci

Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto (PDB) Produk Domestik Bruto (PDB) Gross Domestic Product (GDP) Jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun.

Lebih terperinci

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / BAB IV TINJAUAN EKONOMI 2.1 STRUKTUR EKONOMI Produk domestik regional bruto atas dasar berlaku mencerminkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Pada tahun 2013, kabupaten Lamandau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 38/08/14/Th.XIV, 2 Agustus 2013 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas Triwulan II Tahun 2013 mencapai 2,68 persen Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan II tahun 2013, yang diukur dari

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal 39 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal dari Tabel Input-Output Kota Bontang Tahun 2010 klasifikasi 46 sektor yang diagregasikan

Lebih terperinci

Analisis Pendapatan Regional Kabupaten Pulau Morotai 2013

Analisis Pendapatan Regional Kabupaten Pulau Morotai 2013 i ANALISIS PENDAPATAN REGIONAL KABUPATEN PULAU MOROTAI 2013 ii KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas terbitnya publikasi Analisis Pendapatan Regional Kabupaten Pulau Morotai

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 BPS PROVINSI D.K.I. JAKARTA PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 No. 17/05/31/Th.IX, 15 MEI 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang

Lebih terperinci

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah) 3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1

Lebih terperinci

ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT

ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT PELATIHAN UNTUK STAF PENELITI Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Telekomunikasi ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT Oleh Dr. Uka Wikarya Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universtas

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/08/72/Th. XIV, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan

Lebih terperinci

PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH

PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH J. Agroland 17 (1) : 63 69, Maret 2010 ISSN : 0854 641X PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH The Effect of Investment of Agricultural

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kuncoro (2010: 4) menyebutkan bahwa pembangunan di Negara Sedang

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kuncoro (2010: 4) menyebutkan bahwa pembangunan di Negara Sedang BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kuncoro (2010: 4) menyebutkan bahwa pembangunan di Negara Sedang Berkembang (NSB) pada awalnya identik dengan strategi pertumbuhan ekonomi, yaitu usaha untuk meningkatkan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014 No.22/05/36/Th.VIII, 5 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014 PDRB Banten triwulan I tahun 2014, secara quarter to quarter (q to q) tumbuh positif 0.87 persen, setelah triwulan sebelumnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1. A 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin baik pula perekonomian negara

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/05/72/Thn XIV, 25 Mei 2011 PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2011 MENGALAMI KONTRAKSI/TUMBUH MINUS 3,71 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah

Lebih terperinci

KETERKAITAN ANTARSEKTOR PADA PEREKONOMIAN JAWA TIMUR

KETERKAITAN ANTARSEKTOR PADA PEREKONOMIAN JAWA TIMUR KETERKAITAN ANTARSEKTOR PADA PEREKONOMIAN JAWA TIMUR Keterkaitan Sektor Hulu dan Sektor Hilir Hasil dari analisis dengan menggunakan PCA menunjukkan sektor-sektor perekonomian pada bagian hulu dan sektor-sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang terpadu merupakan segala bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi yang ditunjang oleh kegiatan non ekonomi.

Lebih terperinci

V. PERAN SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA PADA PEREKONOMIAN

V. PERAN SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA PADA PEREKONOMIAN V. PERAN SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA PADA PEREKONOMIAN 5.1. Posisi Pertambangan Batubara Indonesia dalam Pasar Global Seiring dengan semakin meningkatnya harga bahan bakar minyak bumi (BBM) dan semakin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih dikenal dengan istilah otonomi daerah sebagai salah satu wujud perubahan fundamental terhadap

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 72/11/35/Th. X, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN III-2012 Ekonomi Jawa Timur Triwulan III Tahun 2012 (y-on-y) mencapai 7,24 persen

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO 1. PERKEMBANGAN KABUPATEN BUNGO merupakan penghitungan atas nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Data

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang terencana dan dilaksanakan secara bertahap. Pembangunan adalah suatu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Dalam menghitung

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Dalam menghitung BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Definsi Pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun

Lebih terperinci

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku tahun 2013 ruang lingkup penghitungan meliputi 9 sektor ekonomi, meliputi: 1. Sektor Pertanian

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2. DAFTAR ISI Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian, Tahun 2013-2014 Triwulan I...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Tahun 2013-2014 Triwulan I...8

Lebih terperinci

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 64/11/61/Th. XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III-2014 EKONOMI KALIMANTAN BARAT TRIWULAN III-2014 TUMBUH 4,45 PERSEN Besaran Produk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, dalam pembangunan ekonomi yang merupakan bagian dari pembangunan nasional

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012 BPS KABUPATEN PADANG LAWAS PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012 No. 01/07/1221/Th. V, 8 Juli 2013 Pertumbuhan ekonomi Padang Lawas tahun 2012 yang diukur berdasarkan kenaikan laju pertumbuhan Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/02/72/Th. XIV. 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2010 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000

Lebih terperinci

SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA TAHUN 2008 ISSN : 0216.6070 Nomor Publikasi : 07240.0904 Katalog BPS : 9503003 Ukuran Buku : 28 x 21 cm Jumlah Halaman : 94 halaman Naskah : Subdirektorat Konsolidasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan antar daerah. Pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 No. 45/08/72/Th. XVI, 02 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR AGROINDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN ROKAN HILIR: ANALISIS STRUKTUR INPUT-OUTPUT

PERANAN SEKTOR AGROINDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN ROKAN HILIR: ANALISIS STRUKTUR INPUT-OUTPUT PERANAN SEKTOR AGROINDUSTRI TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN ROKAN HILIR: ANALISIS STRUKTUR INPUT-OUTPUT THE ROLE OF THE AGROINDUSTRY SECTOR TO ECONOMY OF KABUPATEN ROKAN HILIR ANALYSIS OF THE INPUT-OUTPUT

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 27 III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1. Kerangka Pemikiran Kebutuhan untuk menggunakan I-O Regional dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT semakin terasa penting jika dikaitkan dengan pelaksanaan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2012 No. 09/02/91/Th. VII, 05 Februari 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2012 Ekonomi Papua Barat tahun 2012 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat sebesar 15,84

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi dan serta iklim perekonomian dunia.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi dan serta iklim perekonomian dunia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hakekatnya pertumbuhan ekonomi mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah satu usaha daerah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh dengan cepat. Pariwisata merupakan industri baru yang mampu

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh dengan cepat. Pariwisata merupakan industri baru yang mampu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pariwisata adalah industri yang besar di dunia dan salah satu sektor yang tumbuh dengan cepat. Pariwisata merupakan industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2. DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian Triwulan II Tahun 2014...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia Triwulan II Tahun 2014...6

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2. DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian Triwulan III Tahun 2014...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia Triwulan III Tahun 2014...6

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN ALAT ANALISIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN ALAT ANALISIS DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv PRAKATA... v DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xiii

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan potensi, aspirasi

BAB I PENDAHULUAN. daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan potensi, aspirasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan bagian dari suatu perwujudan pembangunan ekonomi nasional yang bertujuan menciptakan kemandirian suatu daerah dalam mengurus rumah

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Sri Wahyuningsih, S.Si 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.

DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Sri Wahyuningsih, S.Si 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2. DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian, Triwulan IV Tahun 2013 2014...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan dan merupakan rangkaian kegiatan yang berkesinambungan, berkelanjutan dan bertahap menuju tingkat

Lebih terperinci

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO) BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO) IRIO memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa analisa. Kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan atas sumber daya air, sumber daya lahan, sumber daya hutan, sumber

Lebih terperinci