BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bohulo. Desa Talumopatu memiliki batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bohulo. Desa Talumopatu memiliki batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Gambaran Umum Lokasi Letak Geografis dan Luas Wilayah Desa Talumopatu merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Mootilango, kabupaten Gorontalo mempunyai luas wilayah 767,525 Ha. Saat ini desa Talumopatu terbagi dalam 6 dusun antara lain Dusun Tungo, Dusun Hiyalobohu, Dusun Bintalahe, Dusun Padengo, Dusun Uwabanga, Dusun Bohulo. Desa Talumopatu memiliki batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sidomukti, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Parungi, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Musyawarahdan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Iloheluma. Luas wilayah Desa Talumopatu seluruhnya adalah 767,525 Ha. Orbitasi jarak tempuh dari desa ke ibu kota kecamatan 9 Km, jarak ke ibu kota kabupaten 52 Km dan jarak ke ibu kota propinsi 67 Km Kependudukan Desa Talumopatu di bagi menjadi 6 Dusun dengan jumlah penduduk jiwa, terdiri dari laki-laki 716 jiwa (53,60%) perempuan 620 jiwa (46,40%). kepala keluarga 372 KK. Data jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut :

2 Tabel 4.1 Distribusi Penduduk Menurut Pendidikan di Desa Talumopatu Tahun 2012 Tingkat Pendidikan n % TK SD SLTP SLTA PT ,0 Sumber : Profil Desa Talumopatu Tabel 4.1 menyatakan bahwa jumlah penduduk terbanyak pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 936 orang atau 76,22% dari jumlah penduduk keseluruhan Jiwa. Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Talumopatu Tahun 2013 Mata pencaharian n % Petani Buruh tani PNS Pengrajin industri rumah tangga Montir ,0 Sumber : Profil Desa Talumopatu Tabel 4.2 menyatakan bahwa distribusi mata pencaharian penduduk Desa Talumopatu yang terbesar adalah Petani sebesar 55 orang atau 48,24%, dari jumlah penduduk keseluruhan jiwa. 4.2 Hasil Penelitian Hasil dari penelitian ini adalah data dalam bentuk persentase yang meliputi jarak sumur gali dengan sungai dan kualitas air sumur secara fisik dan

3 bakteriologis. Kualitas air sumur gali secara fisik terdiri dari rasa, bau, warna, kekeruhan dan TDS sedangkan kualitas air sumur gali secara bakteriologis yaitu koliform. Sumur gali yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 20 sumur.yang ada di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo Hasil Analisis Univariat Hasil observasi jarak sumur terhadap sungai Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap 20 sumur yang ada di Desa Talumopatu terdapat 13 sumur yang memiliki jarak kurang dari 60,7 meter dan 7 sumur yang memiliki jarak lebih dari 60,7 meter. Penelitian yang dilakukan oleh Isniyati (2004), jarak minimal yang disarankan dalam pembuatan sumur adalah 60,7 meter dari sungai. Ukuran inilah yang menjadi kriteria jarak sumur gali dengan sungai yang memenuhi syarat kesehatan. Data observasi jarak sumur dengan sungai dapat dilihat pada tebel 4.3 berikut: Tabel 4.3 Distribusi Jarak Sumur Terhadap Sungai di Desa Talumopatu Jarak Sumur dengan Sungai Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Sampel (n) Persentase (%) Memenuhi syarat ( 60,7 7 35,0 Tidak memenuhi syarat (< 60, , ,0 Dari tabel 4.3 diatas diperoleh jumlah jarak sumur dengan sungai yang memenuhi syarat 7 sumur (35%), sedangkan jarak sumur dengan sungai yang tidak memenuhi syarat 13 sumur (65%).

4 Hasil Pengukuran Kualitas Fisik Air Sumur Gali Ditinjau Dari Rasa Kualitas air minum dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Sesuai dengan nilai baku mutu dari PERMENKES RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 standar air bersih yang baik yaitu air tidak berasa. Untuk mengetahui kriteria air berasa dapat digunakan indera pengecap. Adapun hasil pengamatan dan pengukuran kualitas air ditinjau dari rasa dicantumkan pada tabel 4.4 dibawah ini: Tabel 4.4 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas Fisik air (Rasa) Jarak Sumur dengan sungai Sampel Kualitas Fisik air sumur gali (Rasa) Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat n % n % Tidak Memenuhi Syarat (< 60,7 m) , ,0 Memenuhi Syarat ( 60,7 m) 7 0 0, , , ,0 Berdasarkan tabel 4.4, dari 7 sumur gali yang memenuhi syarat jarak dengan sungai, setelah dilakukan pengujian kualitas air (rasa), semuanya memenuhi syarat (100%) atau airnya tidak berasa. Sedangkan 13 sumur gali yang tidak memenuhi syarat jarak, setelah dilakukan pengujian kualitas air (rasa) diperoleh 10 sumur (77%) yang memenuhi syarat atau tidak berasa dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 3 sumur (23%) Hasil Pengukuran Kualitas Fisik Air Sumur Gali Ditinjau Dari Bau Sesuai dengan nilai baku mutu dari PERMENKES RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 standar air bersih yang baik yaitu air tidak berbau. Untuk mengetahui air berbau yaitu dengan menggunakan indera penciuman. Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat.

5 Adapun hasil pengamatan kualitas air sumur gali ditinjau dari bau air dapat dilihat pada tabel 4.5 dibawah ini. Tabel 4.5 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas Fisik air (Bau) Jarak Sumur dengan sungai Sampel Kualitas Fisik air sumur gali (Bau) Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat n % n % Tidak Memenuhi Syarat (< 60,7 m) , ,0 Memenuhi Syarat ( 60,7 m) 7 0 0, , , ,0 Tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari 7 sumur gali yang memenuhi syarat jarak, semuanya tidak berbau atau 100% memenuhi syarat, Sedangkan 13 sumur gali yang tidak memenuhi syarat jarak, diperoleh 10 sumur (77%) yang tidak berbau dan 3 sumur (23%) lainnya berbau atau tidak memenuhi syarat Hasil Pengukuran Kualitas Fisik Air Sumur Gali Ditinjau Dari Warna Sesuai dengan nilai baku mutu dari PERMENKES RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 standar air bersih yang baik yaitu air tidak berwarna. Air berwarna dapat diketahui melalui indera penglihatan. Hasil pengamatan kualitas air sumur gali ditinjau dari warna air dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini.

6 Tabel 4.6 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas Fisik air (Warna) Jarak Sumur dengan sungai Sampel Kualitas Fisik air sumur gali (Warna) Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Syarat n % n % Tidak Memenuhi Syarat (< 60,7 m) , ,0 Memenuhi Syarat ( 60,7 m) 7 0 0, , , ,0 Tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 7 sumur gali yang memenuhi syarat jarak, semuanya tidak berwarna atau 100% memenuhi syarat, Sedangkan 13 sumur gali yang tidak memenuhi syarat jarak, diperoleh 12 sumur (92%) yang tidak berbau dan 1 sumur (8%) lainnya berbau atau tidak memenuhi syarat Hasil pengukuran kualitas fisik air sumur gali (Kekeruhan). Kekeruhan pada air dapat disebabkan partikel-partikel tersuspensi seperti lumpur bahan-bahan organik dan tanah liat. Untuk mengetahui tingkat kekeruhan dilakukan pengukuran menggunakan alat turbidimeter dengan kriteria memenuhi syarat jika kekeruhan air bersih 25 NTU (Nepnelometrik Turbidity Units). Data hasil pengukuran kekeruhan dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini: Tabel 4.7 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas Fisik air (Kekeruhan) Jarak Sumur dengan sungai Tidak Memenuhi Syarat (< 60,7 m) Memenuhi Syarat ( 60,7 m) Sampel Kualitas Fisik air sumur gali (Kekeruhan) Tidak Memenuhi Syarat (> 25 NTU) Memenuhi Syarat ( 25 NTU) n % n % , , , , , ,0

7 Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa sumur gali yang memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai 60,7 meter sebanyak 7 sumur dan yang tidak memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai < 60,7 meter sebanyak 13 sumur, setelah dilakukan pengujian kualitas air ditinjau dari kekeruhan dan TDS diperoleh data semuanya memenuhi syarat (100%) Hasil pengukuran kualitas fisik air sumur gali (Total Dissolved Solid). TDS adalah zat padat terlarut dalam air yang ditentukan dengan menggunakan alat TDS (Total Dissolved Solids) meter. Untuk mengetahui Total Dissolved Solid (TDS) digunakan alat ukur TDS (Total Dissolved Solids) meter dengan kriteria memenuhi syarat jika TDS air bersih 1500 mg/l. Data hasil pengukuran TDS dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini: Tabel 4.8 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas Fisik air (TDS) Jarak Sumur dengan sungai Tidak Memenuhi Syarat (< 60,7 m) Memenuhi Syarat ( 60,7 m) Sampel Kualitas Fisik air sumur gali (Kekeruhan) Tidak Memenuhi Syarat (>1500 mg/l) Memenuhi Syarat ( 1500 mg/l.) n % n % , , , , , ,0 Tabel 4.8 menunjukkan bahwa 7 sumur gali yang memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai dan 13 sumur gali yang tidak memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai, setelah dilakukan pengujian kualitas air ditinjau dari kekeruhan tersebut diperoleh data semuanya memenuhi syarat (100%)

8 Hasil pengukuran kualitas bakteriologis air sumur gali (Koliform). Kandungan bakteriologis air adalah kandungan bakteri dalam sumur gali yang menggunakan golongan coli (Coliform total) sebagai indikator. Memenuhi syarat apabila kandungan bakteriologis air sumur 50/100 ml sampel. Adapun pengukuran dan pengamatan dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini: Tabel 4.9 Hasil Pengamatan dan Pengukuran Kualitas bakteriologis air (Koliform) Jarak Sumur dengan sungai Sampel Kualitas Bakteriologis Air Koliform Tidak Memenuhi Syarat (> 50/100 ml) Memenuhi Syarat ( 50/100 ml) N % n % Tidak Memenuhi Syarat (< 60, ,0 0 0,0 Memenuhi Syarat ( 60, , , ,0 7 35,0 Berdasarkan tabel 4.9 diatas, dapat dilihat bahwa dari 7 sumur yang memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai ( 60,7, diperoleh hasil pengujian bakteriologis (koliform) sebanyak 7 (100%) sumur atau semuanya memenuhi syarat air bersih. Sedangkan 13 sumur yang tidak memenuhi syarat dari segi jarak dengan sungai (< 60,7, diperoleh hasil pengujian bakteriologis (koliform) sebanyak 13 (100%) sumur atau semuanya tidak memenuhi syarat air bersih Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui kemaknaan pengaruh variabel bebas (jarak sumur gali dengan sungai) dan variabel terikat (kualitas air

9 yaitu parameter fisik dan parameter bakteriologis). Uji statistik yang digunakan uji statistik Fisher Exact dengan taraf kesalahan α ditetapkan 5% (0,05) Pengaruh Jarak Sumur Gali Dengan Sungai Terhadap Rasa Air Kedekatan sumur gali dengan sungai dapat mempengaruhi kualitas air minum. Air yang rasanya tawar menunjukkan kualitas air yang baik, sedangkan air yang terasa asam, manis, asin, atau pahit menunjukkan kualitas air tersebut tidak baik. Adapun data pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap rasa air dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut: Tabel 4.10 Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Rasa Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Rasa Jarak Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Syarat p Value n % n % n % TMS Jarak (< 60,7 3 23, , ,0 MS Jarak 0,25 ( 60,7 0 0, , , ,0 3 15, ,0 Tabel 4.10 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter terdapat 3 sumur yang tidak memenuhi syarat ditinjau dari rasa air, sedangkan 10 sumur lainnya memenuhi syarat atau tidak berasa. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap rasa air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 0,25 dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value > 0,05, dengan demikian H 0 diterima atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh

10 jarak sumur gali dengan sungai terhadap rasa air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Pengaruh Jarak Sumur Gali Dengan Sungai Terhadap Bau Air Air yang berbau busuk mengandung bahan-bahan organik yang sedang didekomposisi (diuraikan) oleh mikroorganisme air. Hasil analisis pengaruh jarak sumur gali dengan sungai terhadap bau air dapat dilihat pada tabel 4.11 dibawah ini: Tabel 4.11 Distribusi Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Bau Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Bau Jarak Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Syarat p Value n % n % n % TMS Jarak (< 60,7 3 23, , ,0 MS Jarak 0,25 ( 60,7 0 0, , ,0 3 15, , ,0 Tabel 4.11 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter terdapat 3 sumur yang tidak memenuhi syarat ditinjau dari bau air, sedangkan 10 sumur lainnya memenuhi syarat atau tidak bebau. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap rasa air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 0,25 dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value > 0,05, dengan demikian H 0 diterima atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh

11 jarak sumur gali dengan sungai terhadap bau air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap warna air Air yang berwarna mengindikasikan mengandung bahan-bahan organik yang berbahaya bagi kesehatan, misalnya pada air rawa berwarna kuning, air buangan dari pabrik, selokan, air sumur yang tercemar dan lain-lain. Hasil perhitungan statistik tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap warna air dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut ini: Tabel 4.12 Data Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Warna Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Warna Jarak Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Syarat p Value n % n % n % TMS Jarak (< 60,7 1 8, , ,0 MS Jarak 0,65 ( 60,7 0 0, , ,0 1 5, , ,0 Tabel 4.12 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter terdapat 1 sumur yang airnya berwarna, sedangkan 12 sumur lainnya memenuhi syarat atau tidak berwarna. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap warna air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 0,65 dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value > 0,05, dengan demikian H 0 diterima atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh jarak

12 sumur gali dengan sungai terhadap warna air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap kekeruhan air Hasil perhitungan statistik tentang pengaruh jarak sumur gali dengan sungai terhadap kekeruhan air dapat dilihat pada tabel 4.13 dibawah ini: Tabel 4.13 Data Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Kekeruhan Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Kekeruhan Jarak Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Syarat (> 25 NTU) ( 25 NTU) p Value n % n % n % TMS Jarak (< 60,7 0 0, , ,0 MS Jarak 1 ( 60,7 0 0, , ,0 0 0, , ,0 Tabel 4.13 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter, semuanya memenuhi syarat atau airnya tidak keruh. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap kekeruhan air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 1 dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value > 0,05, hal ini berarti bahwa dari sampel 20 sumur baik yang memenuhi syarat jarak dengan yang tidak memenuhi syarat hasilnya tidak ada airnya yang keruh dengan demikian H 0 diterima atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada

13 pengaruh jarak sumur gali dengan sungai terhadap kekeruhan air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap TDS air Data hasil analisis pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap TDS (Total Disolved Solid) air sumur dapat dilihat pada tabel 4.14 dibawah ini: Tabel 4.14 Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap TDS Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 TDS Jarak TMS MS (>1500 mg/l) ( 1500 mg/l.) p Value n % n % n % TMS Jarak (< 60,7 0 0, , ,0 MS Jarak 1 ( 60,7 0 0, , ,0 0 0, , ,0 Tabel 4.14 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter, semuanya memenuhi syarat atau zat padat terlarut dalam air memenuhi kriteria nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu 1500 mg/l. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap TDS air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 1 dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value > 0,05, hal ini berarti bahwa dari sampel 20 sumur baik yang memenuhi syarat jarak dengan yang tidak memenuhi syarat hasilnya tidak ada zat padat terlarut dalam air sumur dengan demikian H 0 diterima atau dapat disimpulkan

14 bahwa tidak ada pengaruh jarak sumur gali dengan sungai terhadap kekeruhan air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap bakteriologis (koliform) Jarak pembuatan sumur gali dengan sungai yang disarankan dalam penelitian Isniyati (2004) adalah 60,7 meter dari sungai. Data hasil perhitungan statistik tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap kandungan koliform dalam air dapat dilihat pada tabel 4.15 dibawah ini: Tabel 4.15 Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Bakteriologis (Koliform) Pada Air Sumur Di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango Tahun 2013 Bakteriologis (Koliform) Jarak TMS (> 50/100 MS ( 50/100 ml) ml) p Value n % n % n % TMS (< 60, ,0 0 0, ,0 MS ( 60,7 0 0, , , ,0 7 35, ,0 0, Tabel 4.15 menunjukkan bahwa dari 13 sumur yang memiliki jarak dengan sungai < 60,7 meter, semuanya mengandung koliform yang melebihi kadar maksimum yang di perbolehkan yaitu 50/100mL. Perhitungan statistik menggunakan Uji Fisher Exact tentang pengaruh jarak sumur dengan sungai terhadap kandungan koliform air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango, diperoleh nilai p Value adalah 0, dengan tingkat kemaknaan yang ditentukan (derajat kemaknaan 0,05) sehingga didapatkan yakni p Value < 0,05, dengan demikian H 0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh

15 jarak sumur gali dengan sungai terhadap kandungan koliform air sumur gali di Desa Talumopatu Kecamatan Mootilango. 4.3 Pembahasan Jarak Sumur Gali dengan Sungai Air sumur adalah air yang diperoleh dari hasil penggalian atau pengeboran tanah. Untuk mendapatkan air sumur biasanya masyarakat membuat sumur gali. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dari permukaan tanah, oleh karena itu dengan mudah terkena kontaminasi melalui rembesan. Umumnya rembesan berasal dari sumber pencemar disekitar sumur dan salah satunya adalah sungai. Syarat konstruksi pada sumur gali meliputi dinding sumur, bibir sumur, lantai sumur, serta jarak dengan sumber pencemar. Sumur gali yang dijadikan objek penelitian, memenuhi syarat konstruksi. Dari 20 sumur sebagai sampel yang dipilih semuanya memiliki dinding sumur, bibir sumur dan lantai sumur. Syarat jarak sumur dengan sungai yang menjadi kriteria patokan memenuhi syarat ( 60,7 dan tidak memenuhi syarat (< 60,7, (Isniyati, 2004). Hasil observasi yang dilakukan terhadap sumur yang menjadi sampel penelitian diperoleh sumur memenuhi syarat sebanyak 7 sumur (35,0%) dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 13 sumur (65,0%). Jarak sumur gali dengan sungai dapat berpengaruh terhadap kualitas air sumur. Dari hasil pengujian dan analisa data (lampiran 3) jarak sumur gali dengan sungai dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin jauh jarak sumur gali dengan sungai maka kualitas air sumur semakin baik. Hal ini dapat dibuktikan oleh data yang diperoleh dari 7 sumur gali

16 (35,0%) yang memiliki jarak dengan sungai 60,7 meter semuanya memenuhi syarat kualitas air bersih ditinjau dari rasa, bau, warna, kekeruhan, TDS dan koliform. Sedangkan sumur gali yang berjarak < 60,7 meter dari sungai, dari 13 sumur terdapat 1 sumur (8,0%) yang airnya berasa, berbau dan berwana yang memiliki jarak 5,80 meter, 2 sumur (15,4%) yang berasa dan berbau yang memiliki jarak 5,30 m dan 1,5 meter, kekeruhan dan TDS semuanya masih memenuhi syarat dan sumur yang tidak memenuhi syarat kandungan koliform semua sumur yang berjarak kurang dari 60,7 meter. Salah satu faktor mengapa jarak sumur dengan sungai menjadi faktor yang sangat penting dalam pembuatan sumur gali yaitu karena sifat air yang dapat merembes kedalam tanah. Oleh karena itu untuk mencegah dan memperkecil kemungkinan terjadinya pencemaran air sumur dapat diupayakan pencegahannya. Pencegahan ini dapat dipenuhi dengan memperhatikan syarat-syarat fisik dari sumur tersebut yang didasarkan atas kesimpulan dari pendapat beberapa pakar di bidang ini, diantaranya lokasi sumur tidak kurang dari 60,7 meter dari sumber pencemar dalam hal ini sungai (Isniyati, 2004), lantai sumur sekurang-kurang berdiameter 1 meter jaraknya dari dinding sumur dan kedap air, saluran pembuangan air limbah (SPAL) minimal 10 meter dan permanen, tinggi bibir sumur 0,8 meter, memililki cincin (dinding) sumur minimal 3 meter dan memiliki tutup sumur yang kuat dan rapat (Entjang, 2000) Kualitas Air Sumur Kualitas air khususnya untuk air minum dan keperluan rumah tangga lainnya (mandi, cuci dan kakus), secara ideal harus memenuhi standar, baik sifat

17 fisik, kimia maupun mikrobiologinya. Jika kualitas air melampaui ambang batas maksimum yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan maupun Keputusan Pemerintah, maka kualitas air tersebut menurun sesuai peruntukkannya, sehingga digolongkan sebagai air tercemar Fardiaz, 1992 dalam (Kurniawan, 2006). Peraturan menteri kesehatan RI Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990, menyatakan bahwa air yang layak dikonsumsi dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air yang mempunyai kualitas yang baik sebagai sumber air minum maupun air baku (air bersih), antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik, tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh, serta tidak berwarna Kualitas Fisik Air Sumur Gali (Rasa, bau, warna, kekeruhan dan TDS) Berdasarkan hasil penelitian secara kualitatif terhadap 20 sumur yang memenuhi syarat jarak 60,7 m yaitu 7 sumur (35,0%), semuanya memenuhi syarat kualitas air ditinjau dari kualitas fisik (rasa, bau, warna, kekeruhan dan TDS) dan kualitas bakteriologis (koliform). Sedangkan 13 sumur (65,0%) yang tidak memenuhi syarat jarak < 60,7 m diperoleh 1 sumur (8,0%) yang berasa, berbau dan berwarna dan memiliki jarak 5,80 m dari sungai, 2 sumur (15,4%) yang berasa dan berbau, masing-masing memiliki jarak 1,5 m dan 5,30 m. Penelitian dilapangan untuk mengukur rasa, bau, dan warna di bantu oleh tenaga non ahli 2 orang. Kualitas fisik yang meliputi kekeruhan dan TDS semuanya memenuhi syarat atau masih memenuhi standar kadar yang diperbolehkan. Hasil pengamatan dan pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa pada lokasi sumur yang memiliki jarak 1 6 meter, bau dan rasa air sumur gali telah melampaui

18 ambang batas maksimum yang diperbolehkan menurut PP RI Nomor 82 tahun 2001 untuk air Kelas I yang seharusnya tidak berbau dan tidak berasa. Kandungan koliform sudah melebihi ambang batas maksimum yang diperbolehkan yaitu 50/100mL. Hasil analisis pemeriksaan fisik air berdasarkan rasa, bau, dan warna, terdapat 10 sumur (77%) yang tidak memenuhi syarat jarak dengan sungai tetapi tidak berasa, berbau dan berwarna, Hal ini disebabkan karena sumur tesebut sudah memiliki konstruksi sumur yang lengkap yang meliputi dinding sumur, lantai sumur, bibir sumur, saluran pembuangan air bekas, dan tidak terdapat sumber pembuangan kotoran disekitar sumur seperti jamban, tempat pembuangan sampah dan sumber pencemar lainnya. Dari 10 sumur tidak satupun yang memiliki jamban dan sumber pengotor lainnnya, disamping itu jaraknya > 11 meter. Hal ini sesuai persyaratan bangunan sumur gali yaitu jarak minimal 11 meter dari sumber pengotor seperti jamban (Waluyo, 2009: 142), sehingga kualitas airnya tergolong baik yaitu tidak berasa, berbau dan berwarna sedangkan untuk 3 sampel (23%) sumur yang berasa, berbau dan berwarna, tidak memiliki syarat konstruksi sumur lainnya seperti lantai sumur dan rata-rata memiliki jarak (5,80 m, 5,30 m, dan 1,5 m) yang sangat dekat dengan sungai. Disamping itu sumur yang berjarak 5,80 meter dari sungai terdapat dibawah pepohonan yang besar sehingga memungkinkan terjadinya perubahan warna pada air sumur. Meskipun demikian masyarakat Desa Talumopatu yang memiliki air sumur berasa, berbau dan berwarna tetap menggunakan air tersebut untuk dimasak, karena sebagian kriteria air bersih masih memenuhi syarat.

19 Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediyaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan, dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi (Sutrisno, 2002 : 31). Sesuai penelitian tersebut dapat disimpulkan kualitas air sumur di Desa Talumopatu ditinjau dari kekeruhan semuanya memenuhi syarat. Sedangkan TDS air sumur yang ada di desa Talumopatu tidak satupun mengandung zat padat yang melebihi batas normal, hal ini disebakan oleh lokasi penelitian yakni Desa Talumopatu tidak memiliki pabrik-pabrik industri yang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air sumur gali karena mengingat limbah-limbah industri tersebut akan menjadi sumber pencemar terhadap sumber air. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416 /Menkes/Per/IX/1990 standar nilai baku mutu yaitu 1500mg/L Kualitas Bakteriologis (koliform) Berdasarkan penelitian mikroba yang telah dilakukan dari segi jarak memenuhi syarat semua sampel tidak mengandug Coiliform dan jarak yang tidak memenuhi syarat semuanya mengandung bakteri Coliform. Standar baku mutu air sesuai ketentuan Permenkes RI No.416/MENKES/PER/IX/1990 Total Bakteri Coliform yang memenuhi syarat untuk air bersih bukan perpipaan adalah < 50MPN/100 ml untuk dapat menjadi air yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini dipengaruhi kemungkinan adanya mikroba tersebut, karena konstruksi sumur yang tidak memenuhi syarat yaitu tidak memiliki lantai, bibir sumur, dinding sumur yang setengah permanen dan umur sumur yang lama. Di

20 samping itu dekat dengan pembuangan sampah dan semak-semak. Kemungkinan lain adalah memiliki jarak sumur dekat dengan sungai sehingga air dapat merembes masuk ke dalam sumur dan mempengaruhi kandungan mikroba air tersebut. Namun demikian masyarakat Desa Talumopatu masih menggunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari misalnya mandi, mencuci dan memasak Pengaruh Jarak Sumur Dengan Sungai Terhadap Kualitas Air Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa dari parameter sumur gali yang meliputi jarak sumur gali dengan sungai dan kualitas air sumur ternyata yang berpengaruh secara signifikan adalah jarak sumur dengan sungai terhadap kandungan bakteriologis (koliform), sedangkan jarak sumur dengan sungai terhadap kualitas fisik yang meliputi rasa, bau, warna, kekeruhan dan TDS tidak berpengaruh. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Isniyati, 2004) bahwa terdapat hubungan jarak sumur gali dengan sumber pencemar (sungai) terhadap kandungan bakteriologis (koliform), sehingga yang disarankan pembuatan sumur gali minimal pada jarak 60,7 meter. Sedangkan untuk kualitas fisik (rasa,bau, warna, kekeruhan dan TDS) minimal jarak sumur gali dengan sungai berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data 3 sumur yang tidak memenuhi syarat rasa, bau dan warna berjarak 1,5 m, 5,30 m dan 5,80 meter dan 17 sumur lainnya berjarak > 11 meter. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jarak sumur dengan sungai berpengaruh terhadap kualitas air sumur.

PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO

PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO Indra Anggriani Buka, Rany Hiola, Lia Amalia 1 Program Studi Kesehatan

Lebih terperinci

UJI KUALITAS FISIK DAN BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI BERDASARKAN KONSTRUKSI SUMUR DI DESA DILONIYOHU KECAMATAN BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO.

UJI KUALITAS FISIK DAN BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI BERDASARKAN KONSTRUKSI SUMUR DI DESA DILONIYOHU KECAMATAN BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO. UJI KUALITAS FISIK DAN BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI BERDASARKAN KONSTRUKSI SUMUR DI DESA DILONIYOHU KECAMATAN BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO. Oleh : Novrianti Kaharu Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.1.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Diloniyohu Kecamatan Boliyohuto Kabupaten Gorontalo, dan untuk pengujian kandungan

Lebih terperinci

PENGARUH KONSTRUKSI SUMUR TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI ESCHERCIA COLI PADA AIR SUMUR GALI DI DESA DOPALAK KECAMATAN PALELEH KABUPATEN BUOL

PENGARUH KONSTRUKSI SUMUR TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI ESCHERCIA COLI PADA AIR SUMUR GALI DI DESA DOPALAK KECAMATAN PALELEH KABUPATEN BUOL PENGARUH KONSTRUKSI SUMUR TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI ESCHERCIA COLI PADA AIR SUMUR GALI DI DESA DOPALAK KECAMATAN PALELEH KABUPATEN BUOL Heriyani Hasnawi 811408035 Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas

Lebih terperinci

SUMMARY GAMBARAN KUALITAS AIR SUMUR GALI PENDERITA PENYAKIT KULIT DI DESA AYUHULA KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO

SUMMARY GAMBARAN KUALITAS AIR SUMUR GALI PENDERITA PENYAKIT KULIT DI DESA AYUHULA KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO SUMMARY GAMBARAN KUALITAS AIR SUMUR GALI PENDERITA PENYAKIT KULIT DI DESA AYUHULA KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO Meiko Komendangi NIM 811409156 Program Study Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air adalah materi essensial didalam kehidupan. Tidak satupun makhluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup, baik tumbuhan maupun

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang berada di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan ini memiliki luas

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang berada di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan ini memiliki luas BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kelurahan Tuladenggi adalah salah satu Kelurahan dari lima Kelurahan yang berada di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air 1. Pengertian Air Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air tanah mempunyai peran yang penting bagi kehidupan dan penghidupan rakyat Indonesia, karena fungsinya sebagai salah satu kebutuhan pokok sehari-hari, seperti memasak,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian mengenai Uji kualitas fisik air yang pada sarana air bersih

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian mengenai Uji kualitas fisik air yang pada sarana air bersih BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai Uji kualitas fisik air yang pada sarana air bersih program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Ilohungayo

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS AIR PROGRAM PAMSIMAS DI DESA LOMULI KECAMATAN LEMITO KABUPATEN POHUWATO. Meiske M. Bulongkot, Lintje Boekoesoe, Lia Amalia 1)

ANALISIS KUALITAS AIR PROGRAM PAMSIMAS DI DESA LOMULI KECAMATAN LEMITO KABUPATEN POHUWATO. Meiske M. Bulongkot, Lintje Boekoesoe, Lia Amalia 1) ANALISIS KUALITAS AIR PROGRAM PAMSIMAS DI DESA LOMULI KECAMATAN LEMITO KABUPATEN POHUWATO Meiske M. Bulongkot, Lintje Boekoesoe, Lia Amalia 1) meiske.blongkot@gmail.com Program Studi Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di alam ini tidak dapat berlangsung, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Tubuh manusia sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup manusia. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat diantaranya tingkat ekonomi,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah materi di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk hidup yang ada di planet ini yang tidak membutuhkan air. Di dalam sel hidup baik pada sel tumbuh-tumbuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikarenakan agar mudah mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Seiring

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikarenakan agar mudah mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Seiring BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Air merupakan bagian terpenting bagi kehidupan manusia. Pada zaman dahulu beberapa orang senantiasa mencari tempat tinggal dekat dengan air, dikarenakan agar mudah mengambil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran kualitas fisik air pada Sarana

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran kualitas fisik air pada Sarana BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh gambaran kualitas fisik air pada Sarana Air Bersih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air sangat erat hubungannya dengan manusia karena menjadi sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak bahkan menjadi suatu sarana utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan lingkungan merupakan suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimal sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal pula.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan berbagai macam cara, tergantung kondisi geografisnya. Sebagian

BAB I PENDAHULUAN. dengan berbagai macam cara, tergantung kondisi geografisnya. Sebagian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan unsur yang sangat penting untuk menopang kelangsungan hidup bagi semua bentuk kehidupan di bumi. Air bersih memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Air 2.1.1 Definisi Air Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 416 tahun 1990, bahwa : air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik

I. PENDAHULUAN. bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air memiliki peran penting bagi kehidupan makhluk hidup, tak terkecuali bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik untuk menunjang proses metabolisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah senyawa H2O yang merupakan bagian paling penting dalam kehidupan dan manusia tidak dapat dipisahkan dengan air. Air dalam tubuh manusia berkisar antara 50

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Kebutuhan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa sumber air untuk kebutuhan sehari-hari antara lain sumur dangkal,

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa sumber air untuk kebutuhan sehari-hari antara lain sumur dangkal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dari beberapa sumber daya yang ada di muka bumi ini, salah satu sumber daya yang paling penting bagi manusia adalah sumber daya air. Manusia tidak dapat hidup tanpa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi manusia, air digunakan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, memasak dan sebagainya.

Lebih terperinci

Repository.Unimus.ac.id

Repository.Unimus.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya air merupakan kemampuan kapasitas potensi air yang dapat dimanfaatkan semua makhluk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk manusia dalam menunjang berbagai

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi yang menjadi tempat penelitian yaitu di Desa Boludawa. Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango.

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi yang menjadi tempat penelitian yaitu di Desa Boludawa. Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango. 37 BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Adapun lokasi yang menjadi tempat penelitian yaitu di Desa Boludawa Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango. Waktu penelitian dilakukan dari

Lebih terperinci

Universitas Negeri Gorontalo 2 Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan

Universitas Negeri Gorontalo   2 Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KADAR BESI (FE) PADA AIR SUMUR GALI (Studi Penelitian Di Desa Beringin Jaya Kecamatan Bolano Kabupaten Parigi Moutong Provinsi sulawesi tengah) Andi Pratama Kurniawan 1),

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bersih dan sehat tanpa persediaan air yang cukup, mustahil akan tercapai. Kondisi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bersih dan sehat tanpa persediaan air yang cukup, mustahil akan tercapai. Kondisi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Tentang Air Air adalah salah satu kebutuhan esensial manusia yang ke dua setelah udara untuk keperluan hidupnya. Manusia hanya bisa bertahan hidup selama kurang lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Air merupakan kebutuan yang sangat vital bagi manusia. Air yang layak diminum,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air.

BAB 1 PENDAHULUAN. selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, khususnya bagi manusia yang selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Pada

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS FISIK AIR SUMUR DI PERKOTAAN

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS FISIK AIR SUMUR DI PERKOTAAN BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS FISIK AIR SUMUR DI PERKOTAAN Margaretha Katrin Widagdo *), Eko Hartini **) *) Alumni Fakultas Kesehatan UDINUS 2012 **) Fakultas Kesehatan Universitas Dian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk keperluan hidup manusia sehari-harinya berbeda pada setiap tempat dan

BAB I PENDAHULUAN. untuk keperluan hidup manusia sehari-harinya berbeda pada setiap tempat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan manusia paling penting. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Kebutuhan air untuk keperluan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air adalah peradaban dan tanpa air kehidupan akan musnah. Perhatikanlah bahwa Tuhan lah yang mempunyai kerajaan. Dia berikan kerajaan kepada orang yang Dia kehendaki

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI DESA KARYA BARU KECAMATAN DENGILO KABUPATEN POHUWATO. Nelpidin Nusi, Dian Saraswati, Ramly Abudi 1

ANALISIS KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI DESA KARYA BARU KECAMATAN DENGILO KABUPATEN POHUWATO. Nelpidin Nusi, Dian Saraswati, Ramly Abudi 1 ANALISIS KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI DESA KARYA BARU KECAMATAN DENGILO KABUPATEN POHUWATO Nelpidin Nusi, Dian Saraswati, Ramly Abudi 1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Lingkungan

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN JARAK SEPTIC TANK, KONSTRUKSI SUMUR GALI, DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI Escherichia coli AIR SUMUR GALI

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata Kunci: Desa pesisir, air bersih, kekeruhan, total dissolved solid, ph

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata Kunci: Desa pesisir, air bersih, kekeruhan, total dissolved solid, ph KUALITAS FISIKA DAN KIMIA AIR BERSIH DI DESA PESISIR MINAHASA UTARA (Studi Kasus Di Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur) Priskila E. Posumah*, Oksfriani J. Sumampouw*, Odi R. Pinontoan* *Fakultas Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Untuk pemenuhan kebutuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Untuk pemenuhan kebutuhan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Untuk pemenuhan kebutuhan ini, manusia/masyarakat memiliki berbagai alternatif antara lain membeli dari perusahaan penyedia

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi yang hingga saat ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan pokok manusia yang paling penting. Air

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan pokok manusia yang paling penting. Air BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok manusia yang paling penting. Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia karena dapat digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebut molekul. Setiap tetes air yang terkandung di dalamnya bermilyar-milyar

BAB I PENDAHULUAN. disebut molekul. Setiap tetes air yang terkandung di dalamnya bermilyar-milyar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air adalah zat di alam yang dalam kondisi normal di atas permukaan bumi ini berbentuk cair, akan membeku pada suhu di bawah nol derajat celcius dan mendidih pada suhu

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi KUALITAS BAKTERIOLOGI AIR SUMUR BERSEMEN DI DESA PESISIR KECAMATAN LIKUPANG TIMUR MINAHASA UTARA Elmerilia Tandilangi*, Oksfriani Jufri Sumampouw*, Sri Seprianto Maddusa* *Fakultas Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasit dan waktu penelitiannya yaitu : Lokasi pengambilan sampel air sumur ini yaitu di Dusun III, Desa Pulubala

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasit dan waktu penelitiannya yaitu : Lokasi pengambilan sampel air sumur ini yaitu di Dusun III, Desa Pulubala BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian Adapun lokasit dan waktu penelitiannya yaitu :.. Lokasi Penelitian Lokasi pengambilan sampel air sumur ini yaitu di Dusun III, Desa Pulubala Kecamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Bagi

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS AIR 3

ANALISIS KUALITAS AIR 3 ANALISIS KUALITAS AIR 3 Program Studi Nama Mata Kuliah Teknik Lingkungan Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum Jumlah SKS 3 Pengajar Sasaran Belajar Mata Kuliah Prasyarat Deskripsi Mata Kuliah 1. Prof.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sumur kurang dari 0,8 meter dari permukaan tanah didapat hasil sebagai berikut :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sumur kurang dari 0,8 meter dari permukaan tanah didapat hasil sebagai berikut : BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Setelah dilakukan penelitian sampel air bersih sebanyak 20 sarana sumur gali yang jarak sumur dengan jamban kurang dari 10 meter, dinding sumur kurang dari 3 meter,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari disegala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat. dimana saja karena bersih, praktis, dan aman.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat. dimana saja karena bersih, praktis, dan aman. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan suatu unsur penting dalam kehidupan manusia untuk berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat konsumsi air minum dalam kemasan semakin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut : BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian 1. Gambaran Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi

Lebih terperinci

KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA I IDENTIFIKASI AIR TERCEMAR

KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA I IDENTIFIKASI AIR TERCEMAR KUNCI JAWABAN LEMBAR KERJA I IDENTIFIKASI AIR TERCEMAR Tabel Hasil Pengamatan Sampel Warna Endapan Suhu ph Ikan Jumlah gerak mulut ikan dalam 1 menit Keadaan akhir Jernih Tidak Tanpa 25-7 35-75 Hidup sumur

Lebih terperinci

sedangkan untuk kategori usia tenaga kerja yang dimulai dari usia tahun

sedangkan untuk kategori usia tenaga kerja yang dimulai dari usia tahun V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kelurahan Harapan Jaya merupakan salah satu dari enam kelurahan yang berada di dalam Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Provinsi

Lebih terperinci

KONDISI SUMUR GALI dan KANDUNGAN BAKTERI Escherichia coli PADA AIR SUMUR GALI DI DESA BOKONUSAN KECAMATAN SEMAU KABUPATEN KUPANG TAHUN 2017

KONDISI SUMUR GALI dan KANDUNGAN BAKTERI Escherichia coli PADA AIR SUMUR GALI DI DESA BOKONUSAN KECAMATAN SEMAU KABUPATEN KUPANG TAHUN 2017 KONDISI SUMUR GALI dan KANDUNGAN BAKTERI Escherichia coli PADA AIR SUMUR GALI DI DESA BOKONUSAN KECAMATAN SEMAU KABUPATEN KUPANG TAHUN 2017 Albina Bare Telan 1, Agustina 2, Dison Baok 3 1 Jurusan Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK TPA DENGAN SUMUR TERHADAP CEMARAN BAKTERI COLIFORM PADA AIR SUMUR DI SEKITAR TPA DEGAYU KOTA PEKALONGAN

PENGARUH JARAK TPA DENGAN SUMUR TERHADAP CEMARAN BAKTERI COLIFORM PADA AIR SUMUR DI SEKITAR TPA DEGAYU KOTA PEKALONGAN PENGARUH JARAK TPA DENGAN SUMUR TERHADAP CEMARAN BAKTERI COLIFORM PADA AIR SUMUR DI SEKITAR TPA DEGAYU KOTA PEKALONGAN Oleh: Mulia Susanti dan Ika Nurasih Akademi Analis Kesehatan Pekalongan, Jawa Tengah

Lebih terperinci

UJI MPN BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR SUMUR BERDASARKAN PERBEDAAN KONSTRUKSI SUMUR DI WILAYAH NAGRAK KABUPATEN CIAMIS

UJI MPN BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR SUMUR BERDASARKAN PERBEDAAN KONSTRUKSI SUMUR DI WILAYAH NAGRAK KABUPATEN CIAMIS UJI MPN BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR SUMUR BERDASARKAN PERBEDAAN KONSTRUKSI SUMUR DI WILAYAH NAGRAK KABUPATEN CIAMIS Anna Yuliana Program Studi S1Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Air Tanah Air tanah sering disebut air tawar karena tidak berasa asin. Berdasarkan lokasi air, maka air tanah dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian yaitu air permukaan tanah dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan/atau kegiatan wajib melakukan pengolahan limbah hasil usaha dan/atau

BAB I PENDAHULUAN. dan/atau kegiatan wajib melakukan pengolahan limbah hasil usaha dan/atau BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-undang No.23 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Bab V Pasal 16 ayat 1 menyatakan bahwa Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meningkatnya kegiatan manusia akan menimbulkan berbagai masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air karena menerima beban pencemaran yang melampaui

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (2017), Hal ISSN:

PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (2017), Hal ISSN: PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (217), Hal. 31 36 ISSN: 2337-824 Uji Perbandingan Kualitas Air Sumur Tanah Gambut dan Air Sumur Tanah Berpasir di Kecamatan Tekarang Kabupaten Sambas Berdasarkan Parameter

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu air berperan penting dalam berlangsungnya sebuah kehidupan. Air

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu air berperan penting dalam berlangsungnya sebuah kehidupan. Air BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah salah satu elemen atau unsur yang berdiri sebagai pemegang tonggak kehidupan makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, oleh karena itu air berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan dapat langsung diminum (Rumondor et al., 2014). Air minum yang. mengurangi daya kerja serta daya produksi (Widarto, 1996).

BAB I PENDAHULUAN. dan dapat langsung diminum (Rumondor et al., 2014). Air minum yang. mengurangi daya kerja serta daya produksi (Widarto, 1996). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan air minum terus mengalami peningkatan seiring dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat pula. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Bersih 2.1.1 Definisi Air Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup dibumi ini. Fungsi air bagi kegidupan tidak dapat digantikan oleh

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di 2 (dua) tempat yang berbeda, yaitu : a. Lokasi observasi dan pengambilan 1sampel dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau hambatan, antara lain dalam bentuk pencemaran. Rumus kimia air

BAB I PENDAHULUAN. atau hambatan, antara lain dalam bentuk pencemaran. Rumus kimia air 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena air diperlukan untuk bermacam-macam kegiatan seperti minum, pertanian, industri,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kota Gorontalo merupakan salah satu wilayah dari provinsi Gorontalo yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kota Gorontalo merupakan salah satu wilayah dari provinsi Gorontalo yang BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian Kota Gorontalo merupakan salah satu wilayah dari provinsi Gorontalo yang luas wilayahnya 64,79 Km atau sekitar 0,53 % dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh

I. PENDAHULUAN. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan mahkluk hidup. Bagi manusia kebutuhan air akan sangat mutlak karena sebagian besar tubuh manusia terdiri atas air,

Lebih terperinci

BAB 5 : PEMBAHASAN. penelitian Ginting (2011) di Puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat mendapatkan

BAB 5 : PEMBAHASAN. penelitian Ginting (2011) di Puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat mendapatkan BAB 5 : PEMBAHASAN 5.1 Analisis Univariat 5.1.1 Kejadian Diare pada Balita Hasil penelitian diketahui bahwa lebih dari separoh responden (59,1%) mengalami kejadian diare. Beberapa penelitian terdahulu

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado UJI KUALITAS FISIK DAN KIMIA AIR SUMUR GALI DI DESA GALALA KECAMATAN OBA UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN TAHUN 2015 Meyrwan N. Alting*, Rahayu H. Akili*, Joice R. T. S. L. Rimper* *Fakultas Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI Enda Silvia Putri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar, Meulaboh Email: endasilvia@utu.ac.id ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Telaga merupakan salah satu dari 18 Kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo. Kecamatan ini terletak disebelah timur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh serta kelangsungan hidup. Dengan demikian menyediakan air

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh serta kelangsungan hidup. Dengan demikian menyediakan air BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu kebutuhan vital manusia yang harus terpenuhi. Tanpa air, berbagai proses kehidupan tidak akan berjalan dan tidak dapat menjamin kesehatan tubuh

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI MASYARAKAT SEKITAR IPAL KOMUNAL SENGKAN

BAB IV KONDISI MASYARAKAT SEKITAR IPAL KOMUNAL SENGKAN BAB IV KONDISI MASYARAKAT SEKITAR IPAL KOMUNAL SENGKAN 4.1. Gambaran Umum Penelitian 4.1.1. Kondisi Fisik Lingkungan Dusun Sengkan merupakan salah satu lokasi pembangunan IPAL Komunal dari program SANIMAS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kebutuhan semua makhluk yang ada di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber pendapatan, juga memiliki sisi negatif yaitu berupa limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga tidak akan ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Ada tiga

BAB I PENDAHULUAN. sehingga tidak akan ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Ada tiga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama dalam proses kehidupan di bumi, sehingga tidak akan ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Ada tiga jenis sumber air di bumi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi Luas Puskesmas Pilolodaa Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo yaitu 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-harinya yang memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-harinya yang memenuhi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan zat paling dibutuhkan bagi kehidupan manusia. Air yang dimaksud adalah air tawar atau air bersih yang akan secara langsung dapat dipakai di kehidupan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari segi-segi yang ada pengaruhnya

BAB I PENDAHULUAN. kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari segi-segi yang ada pengaruhnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan sendiri. Demikian pula pemecahan masalah

Lebih terperinci

BAB 12 UJI COBA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK INDIVIDUAL DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROBIK

BAB 12 UJI COBA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK INDIVIDUAL DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROBIK BAB 12 UJI COBA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK INDIVIDUAL DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROBIK 286 12.1 PENDAHULUAN 12.1.1 Permasalahan Masalah pencemaran lingkungan di kota besar misalnya di Jakarta, telah

Lebih terperinci

GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 ABSTRAK

GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 ABSTRAK GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 Witi Karwiti Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Palembang ABSTRAK Besi merupakan salah satu logam

Lebih terperinci

Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS)

Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS) Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS) Padatan (solid) merupakan segala sesuatu bahan selain air itu sendiri. Zat padat dalam air ditemui 2 kelompok zat yaitu zat terlarut seperti garam dan molekul

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Sanggrahan Kecamatan Karanggan Kabupaten Temanggung dengan. 1. Kondisi dan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah

BAB IV HASIL PENELITIAN. Sanggrahan Kecamatan Karanggan Kabupaten Temanggung dengan. 1. Kondisi dan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir sampah Sanggrahan Kecamatan Karanggan Kabupaten Temanggung dengan profil sebagai berikut :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan. kebutuhan rumah tangga (Kusnaedi, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan. kebutuhan rumah tangga (Kusnaedi, 2010). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat di antaranya tingkat ekonomi, pendidikan, keadaan lingkungan, dan kehidupan sosial budaya. Faktor yang penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia (Sumantri, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia (Sumantri, 2010). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.tanpa air, berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5%

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan pokok untuk semua makhluk hidup tanpa terkecuali, dengan demikian keberadaannya sangat vital dipermukaan bumi ini. Terdapat kira-kira

Lebih terperinci

ABSTRAK ANALISIS KUALITAS AIR YANG DI KONSUMSI WARGA DESA BATU MERAH KOTA AMBON.

ABSTRAK ANALISIS KUALITAS AIR YANG DI KONSUMSI WARGA DESA BATU MERAH KOTA AMBON. ABSTRAK ANALISIS KUALITAS AIR YANG DI KONSUMSI WARGA DESA BATU MERAH KOTA AMBON 1 Janaba Renngiwur, 2 Irvan Lasaiba dan 3 Abajaidun Mahulauw 1,2,3 Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Biologi FITK IAIN Ambon

Lebih terperinci

TPA. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di

TPA. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di ANALISIS KUALITAS AIR TANAH DI SEKITAR TPA TAMANGAPA DENGAN PARAMETER BIOLOGI Farida Nur Program Studi Teknik Lingkungan Jurusan teknik Sipil, Universitas Hasanuddin ABSTRAK TPA Tamangapa merupakan tempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum sehingga merupakan modal

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas manusia dan lingkungan yang sudah tidak diinginkan lagi keberadaannya. Sampah sudah semestinya dikumpulkan dalam suatu tempat

Lebih terperinci

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit lintangsekar96@gmail.com Peminatan Kesehatan Lingkungan,

Lebih terperinci

AIR SUMUR SUNTIK DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PNEUMATIC SYSTEM

AIR SUMUR SUNTIK DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PNEUMATIC SYSTEM PENURUNAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR SUMUR SUNTIK DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PNEUMATIC SYSTEM (Suatu Penelitian di RT 1 Kelurahan Wumialo Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo) Clara Shinta Dilapanga 1), Herlina

Lebih terperinci

ANALISA KEBERADAAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DALAM PRODUK AIR MINUM DARI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG ABSTRAK

ANALISA KEBERADAAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DALAM PRODUK AIR MINUM DARI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG ABSTRAK ANALISA KEBERADAAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DALAM PRODUK AIR MINUM DARI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG Emridwansyah 1*, Elwina 2, Munawar 2 1* DIV Teknologi Kimia Industri, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik

Lebih terperinci

KUALITAS AIR SUMUR BOR DI PERUMAHAN BEKAS PERSAWAHAN GUNUNG PUTRI JAWA BARAT

KUALITAS AIR SUMUR BOR DI PERUMAHAN BEKAS PERSAWAHAN GUNUNG PUTRI JAWA BARAT KUALITAS AIR SUMUR BOR DI PERUMAHAN BEKAS PERSAWAHAN GUNUNG PUTRI JAWA BARAT Nia Yuliani 1, Nurlela 2, Novia Angraeni Lestari 3 1 Program Studi Biologi FMIPA Universitas Nusa Bangsa Bogor Jl. KH. Sholeh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan instalasi pengolahan limbah dan operasionalnya. Adanya

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan instalasi pengolahan limbah dan operasionalnya. Adanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pabrik tahu merupakan industri kecil (rumah tangga) yang jarang memiliki instalasi pengolahan limbah dengan pertimbangan biaya yang sangat besar dalam pembangunan

Lebih terperinci

Kata Kunci : Konstruksi Sumur Gali, Jarak Sumber Pencemar, Kualitas Mikrobiologis Air.

Kata Kunci : Konstruksi Sumur Gali, Jarak Sumber Pencemar, Kualitas Mikrobiologis Air. HUBUNGAN ANTARA KONSTRUKSI SUMUR GALI DAN JARAK TERHADAP SUMBER PENCEMAR DENGAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI DI DESA MOYONGKOTA KECAMATAN MODAYAG BARAT Frisky Brain Mangarey* Ricky C. Sondakh*,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Barat : berbatasan dengan Sungai Bulango. b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Ipilo

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Barat : berbatasan dengan Sungai Bulango. b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Ipilo BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian Berikut ini adalah deskripsi lokasi penelitian yang dilihat atas dua aspek, yaitu Geografi dan Demografi : 1.1.1 Keadaan Geografis Pasar jajan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang tangga. 3 Kecenderungan penggunaan air minum isi ulang oleh masyarakat di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh manusia, dengan terpenuhinya kebutuhan air, maka

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Wilayah Penelitian Kecamatan Kota Timur merupakan kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan. Masing masing kelurahan di kecamatan Kota Timur adalah

Lebih terperinci

BAB III PENCEMARAN SUNGAI YANG DIAKIBATKAN OLEH LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA. A. Penyebab dan Akibat Terjadinya Pencemaran Sungai yang diakibatkan

BAB III PENCEMARAN SUNGAI YANG DIAKIBATKAN OLEH LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA. A. Penyebab dan Akibat Terjadinya Pencemaran Sungai yang diakibatkan BAB III PENCEMARAN SUNGAI YANG DIAKIBATKAN OLEH LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA A. Penyebab dan Akibat Terjadinya Pencemaran Sungai yang diakibatkan Industri Tahu 1. Faktor Penyebab Terjadinya Pencemaran

Lebih terperinci