IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (SMK3) PADA PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI DI WILAYAH SUMATERA BARAT ARTIKEL

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (SMK3) PADA PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI DI WILAYAH SUMATERA BARAT ARTIKEL"

Transkripsi

1 IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (SMK3) PADA PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI DI WILAYAH SUMATERA BARAT ARTIKEL FATMA IRA WAHYUNI NPM : PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS BUNG HATTA 2016

2 IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (SMK3) PADA PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI DI WILAYAH SUMATERA BARAT Fatma Ira Wahyuni 1, Nasfryzal Carlo 1, Wardi 1 1 Program Studi Teknik Sipil, Program Pascasarjana Universitas Bung Hatta ABSTRAK Pelaksanaan pembangunan konstruksi merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya dan resiko sehingga berpotensi untuk menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Semakin komplek suatu pekerjaan konstruksi semakin tinggi resiko terjadi kecelakaan kerja. Padahal pelaksanaan konstruksi dituntut untuk tidak terjadi kecelakaan kerja dengan cara menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Ketentuan tersebut dituangkan dalam Peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2012 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2014. Namun kecelakaan konstruksi masih terjadi. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk : (i) Mengetahui penerapan SMK3 oleh perusahaan jasa konstruksi di Sumatera Barat.(ii) Mengetahui masalahmasalah yang dihadapi perusahaan jasa kontruksi dalam penerapan SMK3, (iii) Mengetahui solusi yang dilakukan oleh perusahaan jasa konstruksi dalam menghadapai masalah-masalah pada penerapan SMK3. Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif dengan menyebarkan kuisioner SMK3 yang dijawab oleh perusahaan jasa konstruksi dengan jumlah responden 26 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,60% perusahaan jasa konstruksi telah melaksanakan SMK3, 30,64% belum melaksanakan dan 8,76% menyatakan tergantung kebutuhan lapangan. Menurut PP RI No. 50 tahun 2012, implementasi SMK3 ini termasuk dalam tingkat penilaian baik. Permasalahan yang menyebabkan tidak bisa diterapkannya SMK3 pada beberapa perusahaan adalah sebagai berikut : (i) Perusahaan tidak mempunyai dana khusus untuk K3 di proyek, tetapi untuk pekerjaan tertentu yang bersifat khusus dan sangat beresiko tinggi perusahaan berusaha memenuhi standar K3. (ii) Tenaga kerja yang tidak disiplin cenderung mengabaikan pemakaian APD dalam pekerjaan, walaupun sarana dan prasarana K3 sudah disediakan di proyek, (iii) Tidak adanya tenaga ahli K3 di perusahaan, sehingga penerapan kebijakan, sosialisasi K3 dan pengontrolan pelaksanaan K3 tidak bisa berjalan sesuai aturan PP RI No. 50 Th Kata Kunci : SMK3, Perusahaan Jasa Konstruksi, Alat Pelindung Diri

3 PENDAHULUAN Kegiatan jasa kontruksi telah memberikan kontribusi dalam proses pembangunan di Indonesia baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta (Kadin, 2002). Menurut Christina dkk, 2012, perusahaanperusahaan jasa konstruksi sebagai penyedia jasa harus selalu meningkatkan kinerja dan budaya keselamatan dan kesehatan kerja dalam melaksanakan pekerjaan jasa kontruksi. Pekerjaan konstruksi semakin hari semakin komplek dan semakin memerlukan keselamatan dan kesehatan kerja karena pekerjaan konstruksi tersebut merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya. Kurangnya terampilnya tenaga kerja akan memperengaruhi kelancaran pekerjaan dan dapat merugikan semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi tersebut. Oleh sebab itu dalam melaksanakan kegiatan konstruksi perlu diterapkan tiga prinsip yaitu (i) kepastian mutu (quality assurance) produk konstruksi termasuk volume, (ii) kepastian Implementasi ketentuan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan keamanan konstruksi dengan target zero incident, (iii) kepastian perlindungan dan pelestarian ligkungan (Carlo, 2012). Pencapaian tingkat pelaksanaan sistem manajemen K3 yang baik, disiplin dan konsisten, diperlukan komitmen Top Management yang kuat, pendanaan yang cukup, serta sistem dan prosedur yang standar. Komitmen ini kemudian dibuktikan dengan penandatanganan bersama seluruh pembuat komitmen untuk melaksanakannya dengan sungguhsungguh. Komitmen manajemen tersebut diharapkan dapat menciptakan zero accident. Untuk itu menurut Anon. (2006) diperlukan 6 (enam) elemen kunci sukses SMK3 pada proyek konstruksi yaitu (i) Kebijakan K3, (ii) Perencanaan, (iii) Implementasi dan Operasi, (iv) Tindakan Pemeriksaan dan Perbaikan, (v) Kajian Manajemen, dan (vi) Peningkatan Berkesinambungan. Agar enam kunci sukses tersebut dapat diwujudkan, beberapa ketentuan telah dikeluarkan oleh pemerintah melalui PP No 50 tahun 2012 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2014. Apakah elemen kunci sukses SMK3 sudah diimplementasikan oleh perusahaan jasa konstruksi di Wilayah Sumatera Barat, hal inilah yang melatar belakangi untuk dilakukan penelitian tentang Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontruksi pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Wilayah Sumatera Barat. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, dapat dirumuskan permasalahannya adalah: 1) Bagaimana Implementasi SMK3 pada perusahaan jasa konstruksi di Wilayah Sumatera Barat menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 Tahun 2012? 2) Masalah apa yang dihadapi perusahaan jasa konstruksi pada Implementasi SMK3? 3) Bagaimana solusi yang dilakukan perusahaan jasa konstruksi untuk mengatasi masalah dalam Implementasi SMK3?

4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk: 1. Mengetahui penerapan SMK3 oleh perusahaan jasa konstruksi di Sumatera Barat menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 Tahun Mengetahui masalah-masalah yang dihadapi perusahaan jasa konstruksi dalam penerapan SMK3. 3. Mengetahui solusi yang akan dilakukan oleh perusahaan jasa konstruksi dalam menghadapi masalah-masalah pada penerapan SMK3. Batasan Penelitian Untuk menghindari lingkup penelitian yang terlalu luas, penelitian dapat terarah dengan baik sesuai dengan tujuan dan adanya keterbatasan waktu, maka perlu memberikan batasan terhadap penelitian yang akan dilakukan, yaitu : 1) Penelitian yang akan dilakukan hanya pada perusahaan jasa konstruksi kelas M2 dan B1 yang terdata aktif di LPJK Sumatera Barat pada tahun 2015 dan mempunyai pekerjaan beresiko tinggi pada tahun ) Penelitian ini mengacu kepada peraturan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 TINJAUAN PUSTAKA Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PP No 50 tahun 2012 menyatakan Sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efesien dan produktif. PP nomor 50 tahun 2012 (Anon., 2012), mendefinisikan SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. SMK3 diwajibkan bagi perusahaan, mempekerjakan lebih dari 100 orang dan mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi. Untuk itu perusahaan diwajibkan menyusun rencana K3, dalam menyusun rencana K3 tersebut, pengusaha melibatkan ahli K3, Panitia Pembinan Keselatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), Wakil pekerja dan pihak lain yang terkait. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan dan atau penyakit yang menimpa tenaga kerja karena hubungan kerja di tempat kerja (index nakertrans, 2004 dalam Ervianto, 2005). Untuk menghindari adanya resiko kecelakaan dalam pekerjaan konstruksi maka menurut (Ervianto, 2005), tindakan yang mungkin dilakukan untuk pencegahan kecelakaan kerja, diantaranya : (1) Mengidentifikasi setiap jenis pekerjaan yang beresiko dan mengelompokkan sesuai tingkat resikonya; (2) Adanya pelatihan bagi para pekerja konstruksi sesuai keahliannya; (3) Melakukan pengawasan secara lebih intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan; (4) Menyediakan alat perlindungan kerja selama durasi proyek; (5) Melaksanakan pengaturan di lokasi proyek konstrusi. Sanora (2012), menemukan untuk berjalannya SMK3 diperlukan

5 pengawasan dan evaluasi K3. Evaluasi dapat dilakukan terhadap bentuk laporan yang berkaitan dengan aktifitas K3 secara periodik. Laporan kecelakaan kerja secara periodik dan laporan hasil sosialisasi dan pelatihan K3 sebagai bukti pihak manajemen telah melakukan pengarahan, pembinaan dalam rangka mencegah terjadinya bahaya, dan lain-lain. Lebih lanjut Sanora (2012) menemui bahwa Implementasi SMK3 merupakan salah satu kunci keberhasilan proyek. Hal ini bergantung kepada rasa tanggung jawab manajemen dan tenaga kerja perusahaan terhadap tugas dan kewajiban individu sehingga upayaupaya untuk menciptakan suasana kerja yang selamat berhasil memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012 (Anon. 2012) menjelaskan bahwa (i) Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya. Kewajiban dimaksud berlaku bagi perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh paling sedikit 100 (seratus) orang; atau mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Wilayah Sumatera Barat terhadap perusahaan jasa pelaksana konstruksi yang aktif terdaftar pada Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi (LPJKP) Sumatera Barat dengan klasifikasi menengah dan besar. Perusahaan tersebut pernah mengerjaan pekerjaan konstruksi yang mempunyai risiko dan pada tahun Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk dalam penelitian ini adalah: 1) Metode kuisioner dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan data primer. Pelaksanaan metode ini dengan menggunakan kuisioner dan wawancara yang berisi poin-poin kriteria audit Implementasi SMK3 yang ada pada lampiran PP No. 50 Tahun 2012 kepada Direktur Perusahaan Kontraktor atau orang yang diberi kuasa untuk mengisi kuisioner. 2) Studi dokumen, data yang terkait dengan klasifikasi perusahaan jasa konstruksi diambil dari LPJKP Sumatera Barat. 3) Survei pada perusahaan jasa pelaksana konstruksi yang sudah diklasifikasi dari LPJKP Sumatera Barat digunakan untuk memperoleh data primer. Survei menggunakan kuesener yang akan diisi atau dijawab oleh pimpinan perusahaan jasa konstruksi atau yang diberi kuasa untuk itu sebagai responden. Responden Responden adalah pimpinan perusahaan jasa konstruksi yang aktif terdata dari lembaga berwenang dalam hal ini adalah LPJK Sumatera Barat tahun 2015 dan mempunyai pekerjaan beresiko tinggi pada tahun 2013/2014 dengan Jumlah Responden 26 perusahaan jasa konstruksi. Teknik Analisis Data Analisa data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan analisa statistik deskriptif. Analisa dilakukan setelah responden melakukan pengisian kuisioner oleh responden tentang penerapan SMK3 pada perusahaan. Tingkat penilaian Implementasi SMK3 mengacu kepada PP RI No. 50 Tahun 2012

6 dengan ktiteria ; (i) 0% - 59% : Tingkat Penilaian Penerapan Kurang, (ii) 60% - 84% : Tingkat Penilaian Penerapan Baik, (iii) 85% - 100% : Tingkat Penilaian Penerapan Memuaskan. Untuk mendapatkan persentase dari penerapan SMK3 dibantu program SPSS versi 15. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kuisioner disebarkan sebanyak 36 kuisioner. Dari 36 Kuisioner yang disebarkan yang dikembalikan dan diolah sebanyak 26 kuisioner. Hal ini disebabkan beberapa kendala terjadi dilapangan. Kendala-kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah (i) Alamat yang tercantum di LPJK tidak ada (berbeda dengan alamat kantor beroperasi), (ii) Direktur perusahaan menolak untuk mengisi kuisioner dan wawancara tentang SMK3, (iii) Perusahaan tidak mempunyai pekerjaan beresiko tinggi pada tahun , (iv) Perusahaan dalam kondisi tidak aktif pada tahun Pembahasan Hasil penilaian atas Implementasi SMK3 pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Wilayah Sumatera Barat menurut kriteria Audit SMK3 pada lampiran II PP RI No. 50 Tahun 2012 sebagai berikut : Tabel 1 : Penerapan SMK3 berdasarkan Kriteria Audit SMK3 lampiran II PP RI No. 50 Tahun 2012 No 1 Kriteria SMK3 Pembangunan Pemeliharaan Audit dan Nilai Ya Tidak Kada ngkada ng Komitmen Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3 Pengendalian dan Perancangan dan Peninjauan Kontrak Pengendalian Dokumen Pembelian dan Pengendalian Produk Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK Standar Pemantauan Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan Pengelolaan Material dan Perpindahannya Pengumpulan dan Penggunaan Data Pemeriksaan SMK Pengembangan Keterampilan Kemampuan dan Rata-rata Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen dalam Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen di Perusahaan, diperoleh 69,52% responden melaksanakan SMK3 telah dilaksanakan, 0,88% responden menyatakan tergantung kebutuhan dilapangan, dan 29,59% responden menjawab belum melaksanakan SMK3 sesuai peraturan. pencapaian penerapan SMK3 dalam Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen termasuk tingkat penilaian penerapan baik. Perusahaan jasa konstruksi dalam hal ini kontraktor yang ada diwilayah Sumatera Barat

7 sebagian besar sudah mempunyai Kebijakan K3 yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan karena mereka menempatkan orang yang bertanggungjawab terhadap Kebijakan K3 Perusahaan. Kebijakan K3 tersebut selalu dievaluasi kembali sesuai peraturan SMK3 yang ada di Indonesia. K3 di perusahaan tersebut selalu melibatkan tenaga kerja selaku pelaksana K3. Khususnya perusahaan yang memiliki kualifikasi B1 yang sudah mempunyai sertifikat ISO, perusahaan ini telah menerapkan SMK3 berdasarkan peraturan yang berlaku. Tapi masih ada yang perusahaan yang belum menerapkan SMK3 sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini, masih ada beberapa perusahaan yang tidak menerapkan elemen-elemen penting dalam Kebijakan K3 perusahaan. Hal ini disebabkan tidak adanya keseriusan dari Direktur atau Top Management untuk menjalankan Kebijakan K3 yang sudah mereka buat, dan tidak adanya komunikasi dan sosialisasi kepada pihak-pihak yang terlibat pada proyek konstruksi yang mereka kerjakan. Perusahaan juga tidak menunjuk pekerja K3, ahli K3 disetiap proyek konstruksi yang mereka kerjakan, sehingga K3 mereka abaikan. Sanora (2012) dalam penelitiannya menyatakan belum maksimalnya penerapan proses sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja pada proyek konstruksi bangunan gedung milik pemerintah di kota Padang disebabkan karena lemahnya tingkat kesadaran pekerja akan pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, baru 26,67% pekerja yang menyadari pentingnya K3 pada saat bekerja, masih kurangnya penjelasan pengurus proyek menjelaskan peraturan perundangan K3 dan persyaratan lainnya kepada pekerja, baru dicapai 33,33%, masih kurang terkoordinasinya perencanaan K3 dengan persentase implementasi 44,44%, masih kurangnya konsultasi dengan tenaga ahli K3 pada saat perencanaan, implementasinya 48,89% dan belum sepenuhnya perusahaan konstruksi menggunakan indicator kinerja yang dapat diukur sebagai dasar penilaian K3 implementasinya 48,89%. Grimaldi & Simons (1975) dalam Christina, dkk (2012) menyatakan bahwa sebuah kebijakan K3 harus dimulai dari Top Management. Diwujudkan dengan perhatian terhadap K3 dan perhatian terhadap tindakantindakan bahaya mengancam K3. 2. Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3 dalam Staretegi Pendokumentasian SMK3 di Perusahaan, diperoleh 37,34% responden menyatakan SMK3 telah melaksanakan, 46,99% responden menyatakan tergantung kebutuhan di lapangan dan 15,66% responden menyatakan belum melaksanakan strategi pendokumentasian SMK3 sesuai peraturan. Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3 dalam pelaksanaan penerapan SMK3 dari aspek (i) Rencana

8 Strategi K3, (ii) Manual SMK3, (iii) penyebarluasan Informasi K3, dari hasil penelitian menurut tingkat penilaian penerapan SMK3 menurut PP RI No 50 Tahun 2012 termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Hal ini disebabkan masih ada perusahaan jasa konstruksi tidak mempunyai tenaga khusus K3 diperusahaan untuk ditempatkan di proyek, sehingga kebijakan K3 yang sudah dibuat tidak terdokumentasi dengan baik. Tapi perusahaan menyediakan tenaga khusus untuk pekerjaan-pekerjaan khusus yang beresiko tinggi atau menggunakan alat khusus yang beresiko membahayakan. Sedangkan perusahaan yang berkomitmen dalam melaksanakan SMK3, mereka mempunyai sumber daya manusia atau tenaga ahli K3 yang menjalankan SMK3 di perusahaan dan proyek konstruksinya, sehingga mereka telah menerapkan aspek-aspek tersebut, setiap dokumentasi K3 diarsipkan rapi dan dibuatkan pelaporan khususnya. Penyebarluasan informasi K3 dan pelaksanaannya berjalan lancar di perusahaan ini baik ketenaga kerja, staf maupun orang-orang yang datang ke perusahaan atau proyek konstruksi yang mereka laksanakan. 3. Pengendalian dan Perancangan dan Peninjauan Kontrak dalam Pengendalian dan Perancangan dan Peninjauan Kontrak, diperoleh 72.59% responden telah melaksanakan SMK3, 27.41% responden menyatakan melaksanakan SMK3 tergantung kebutuhan lapangan. pencapaian penerapan SMK3 dalam pengendalian dan perancangan dan peninjauan kontrak termasuk tingkat penilaian penerapan Baik. Dari hasil penelitian, perusahaan sebagian besar memahami dan mempunyai prosedur yang terdokumentasi mempertimbangkan identifikasi bahaya dan penilaian resiko termasuk instruksi kerja untuk penggunaan, pengoperasian sarana produksi dan proses yang aman termasuk perubahan dan modifikasi yang harus ditinjau ulang, tetapi perusahaan ini tidak mempunyai petugas khusus yang kompeten untuk melakukan verifikasi bahwa perancangan memenuhi persyaratan K3 yang ditetapkan. Perusahaan menunjuk petugas khusus untuk melakukan pendokumentasian, identifikasi bahaya, penilaian resiko apakah pemasok telah memenuhi persyaratan K3 yang dituangkan dalam dokumen kontrak. 4. Pengendalian Dokumen dalam Pengendalian Dokumen, diperoleh 63,17% reponden telah melaksanakan SMK3, 15,94% responden belum melaksanakan SMK3 dan 20,89% responden melaksanakan SMK3 tergantung kebutuhan lapangan. pencapaian penerapan SMK3 dalam Pengendalian Dokumen

9 termasuk tingkat penilaian penerapan Baik. Dalam pengendalian dokumen SMK3 sudah banyak perusahaan yang melakukan pengendalian dokumen K3 dengan tapi masih ada beberapa perusahaan yang tidak melakukan pengendalian dokumen, dan hanya untuk pekerjaan khusus mereka melakukan pengendalian dokumen baik persetujuan, pengeluaran dan pengendalian dokumen, juga perubahan dan modifikasi dokumen. Hal ini disebabkan kepada tidak adanya tenaga ahli K3 di perusahaan yang bertanggung jawab penuh terhadap SMK3 perusahaan. 5. Pembelian dan Pengendalian Produk Dari hasil pengolahan data dalam Pembelian dan Pengendalian Produk, semua perusahaan sudah melaksanan SMK3 sesuai peraturan yang berlaku. pencapaian penerapan SMK3 dalam Pembelian dan Pengendalian Produk termasuk tingkat penilaian penerapan Memuaskan. Perusahaan jasa konstruksi dalam hal pembelian dan Pengendalian Produk untuk proyek, sudah melaksanakan SMK3 dengan baik. Pada saat akan membeli barang, alat ataupun bahan, pihak perusahaan memperhatikan prosedur yang jelas dan menjamin spesifikasi dari barang, alat atau material aman dan telah memperhatikan standar K3 yang berlaku. Pihak perusahaan akan mengkonsultasikan kepada pihak terkait, dan apabila diperlukan pelatihan K3 untuk tenaga khusus, pihak perusahaan akan menyediakan SDM yang akan dilatih dan menyediakan alat pelindung diri (APD) pada saat bekerja terutama yang beriko sangat membahayakan misalnya bahan kimia. Pihak perusahaan juga melakukan tindakan verifikasi barang atau pengontrolan terhadap barang dan kesesuaian barang, alat atau material setelah sampai dilokasi, dan mengidentifikasi lagi potensi bahaya, dinilai resikonya dan catatan dipelihara atau didokumentasikan. 6. Keamanan Bekerja berdasarkan SMK3 dalam Keamanan Bekerja berdasarkan SMK3, 83,12% responden telah melaksanakan SMK3, 16.88% responden belum melaksanakan SMK3. pencapaian penerapan SMK3 Keamanan Bekerja termasuk tingkat penilaian penerapan baik. Keamanan bekerja berdasarkan SMK3 sudah diterapkan oleh kedua kualifikasi perusahaan yang diteliti, karena perusahaan tidak mau menanggung resiko yang lebih besar terhadap kecelakaan kerja. Alat Pelindung Diri (APD) di syaratkan bagi tenaga yang akan bekerja khususnya lokasi pekerjaan yang punya potensial berbahaya. Tetapi dalam pengawasan, masih ada perusahaan jasa konstruksi belum bisa melakukan sepenuhnya

10 karena keterbatasan tenaga K3 untuk pengontrolan dilapangan, karena masih banyak tenaga yang tidak disiplin menggunakan alat pelindung diri, dan pengawas dari konsultan tidak dilibatkan dalam pengawasan K3 di proyek. Penelitian Sanora 2012 menyatakan lemahnya tingkat kesadaran pekerja akan pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, baru 26,67% pekerja menyadari pentingnya K3 pada saat bekerja, masih kurangnya penjelasan pengurus proyek menjelaskan peraturan perundanngan K3 dan persyaratan lainnya kepada pekerja, baru dicapai 33,33%, masih kurang terkoordinasi nya perencanaan K3 dengan Implementasi 44,44%, masih kurangnya konsultasi dengan tenaga ahli K3 pada saat perencanaan, implementasi hanya 48,89% dan belum sepenuhnya perusahaan konstruksi menggunakan indicator kinerja yang dapat diukur sebagai dasar penilaian K3 implementasinya hanya 48,89%. Mintje,dkk (2013) dalam penelitiannya pada proyek Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Manado mengatakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sudah berjalan dengan cukup baik, adanya Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi para pekerja proyek merupakan perhatian yang diberikan perusahaan kepada para pekerja yang sesuai dengan amanat UU no.3/1992. Kontraktor juga telah berusaha menyediakan APD bagi para pekerja, sosialisasi K3 juga sering dilakukan dan para pekerja cukup banyak yang memahaminya, namun masih ada saja pekerja yang berkesan tidak peduli dengan K3 tersebut. 7. Standar Pemantauan dalam Standar Pemantauan, diperoleh 59.29% responden telah melaksanakan SMK3, 40.71% responden belum melaksanakan SMK3 dengan baik. pencapaian penerapan Standar Pemantauan SMK3 termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Standar Pemantauan berdasarkan SMK3 sudah diterapkan oleh perusahaan B1 dengan melakukan pemeriksaan bahaya/inspeksi oleh petugas K3 yang sudah ditunjuk perusahaan dan ada didalam strukstur organisasi K3. Inspeksi dilakukan dengan membawa form K3 yang sudah ada didalam dookumen K3 perusahaan dan dilakukan penceklisan dilapangan dan dilaporkan kepada Tim K3. Petugas dari Tim K3 juga melakukan pemantauan terhadap lingkungan kerja secara teratur supaya tenaga kerja dan orangorang yang datang terhindar dari kecelakaan kerja. Petugas dari Tim K3 juga melakukan inspeksi terhadap peralatan baik pengukuran dan pengujian untuk memastikan peralatan yang digunakan sudah terkalibrasi dan tidak berbahaya digunakan. Dalam hal Pemantauan kesehatan, perusahaan selalu melakukan pengecekan kesehatan terhadap tenaga kerja dengan cara menyediakan pelayanan

11 kesehatan yang memadai dan mengasuransikan tenaga kerja ke badan asuransi yang sah sesuai peraturan perundang-undangan Sedangkan masih ada perusahaan jasa konstruksi tidak mempunyai tenaga ahli K3 tetapi apabila terjadi kecelakaan kerja mereka akan melakukan tindakan tanggap darurat untuk pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit terdekat dan pihak perusahaan sudah mengasuransikan tenaga kerjanya dalam pelaksanaan proyek yang mereka kerjakan. 8. Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan Dari hasil pengolahan data dalam Pelaporan dan Perbaikan, 31.64% responden telah melaksanakan SMK3, 68.36% responden menyatakan belum melaksanakan SMK3 dengan baik. pencapaian penerapan Pelaporan dan Perbaikan SMK3 termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Perusahaan sebagian kecil mempunyai prosedur pelaporan bahaya yang berhubungan dengan K3, dan prosedur ini diketahui oleh semua tenaga kerja. Semua kejadian yang berhubungan dengan K3 dilaporkan sesuai peraturan perundang-undangan dan dilakukan pemeriksaan dan pengkajian juga penanganan masalah K3 di proyek. Dalam hal ini perusahaan juga telah mendaftarkan tenaga kerja kepada asuransi tenaga kerja. 9. Pengelolaan Material dan Perpindahannya dalam Pengelolaan Material dan Perpindahannya, semua perusahaan sudah mengikuti sesuai peraturan SMK3. pencapaian Pengelolaan material dan perpindahannya termasuk tingkat penilaian penerapan memuaskan. Perusahaan melakukan penanganan secara manual dan mekanis terhadap material dilapangan, mempunyai sistem pengangkutan, penyimpanan dan pembuangan material dan prosedur pengendalian bahan kimia berbahaya 10. Pengumpulan dan Penggunaan Data dalam Pengumpulan dan Penggunaan Data, diperoleh 48.7% responden telah melaksanakan SMK3, 42.33% responden belum melaksanakan dan 8.97% responden melaksanakan SMK3 sesuai kebutuhan lapangan. pencapaian Pengumpulan dan Penggunaan Data termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Perusahaan kualifikasi M2, tidak melakukan pengumpulan dan penggunaan data SMK3 secara lengkap, hal ini karena tidak adanya tenaga atau tim khusus yang bekerja untuk menangani K3. Hanya untuk pekerjaan khusus dan sangat berpotensi kecelakaan kerja

12 mereka lakukan pendokumentasian dokumen. Berbeda dengann perusahaan B1, Perusahaan mempunyai tim khusus K3 yang melakukan pencatatan K3, Data dan Laporan K3, dan semua dilakukan rutin dan informasi disebarluaskan dilingkungan kerja. 11. Pemeriksaan SMK3 dalam Pemeriksaan SMK3, 26.9% responden telah melaksanakan SMK3, 73.10% responden belum melaksanakan SMK3. pencapaian Pemeriksaan SMK3 termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Masih ada perusahaan jasa konstruksi belum melakukan audit internal terhadap pelaksanaan K3 di perusahaan atau proyek, perusahaan belum melakukan audit internal terjadwal dan dilakukan oleh petugas independen, kompeten dan berwenang. Laporan hasil audit tidak didistribusikan kepada semua pihak yang berkepentingan dan tidak dipantau untuk menjamin dilakukan tindakan perbaikan. 12. Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan dalam Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan, diperoleh 34.9% responden telah melaksanakan SMK3 dan 65.10% responden belum melaksanakan SMK3. pencapaian Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan SMK3 termasuk tingkat penilaian penerapan kurang. Hasil penelitian menunjukkan masih ada perusahaan jasa konstruksi tidak melakukan pengembangan Keterampilan dan kemampuan SMK3 bagi tenaga kerjanya, tetapi apabila ada pelatihan khusus SMK3 oleh asosiasi terkait, pihak perusahaan akan mengirimkan staf atau karyawan untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan pengoperasian peralatan khusus dilakukan pihak perusahaan untuk tenaga kerja yang bertanggung jawab. Sedikit perusahaan jasa konstruksi yang melaksanakan SMK3 yang secara berkala melakukan pengembangan keterampilan dan kemampuan untuk manajemen, tenaga kerja dan juga mengikuti pelatihan yang diadakan asosiasi atau lembaga pelatihan khusus SMK3. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Implementasi Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) pada perusahaan jasa konstruksi di wilayah Sumatera Barat berdasarkan hasil penelitian adalah 60,60% responden telah melaksanakan, 30,64% belum menerapkan SMK3 dan 8,76% menerapkan tergantung kebutuhan lapangan. Menurut PP RI No. 50 tahun 2012, Implementasi

13 SMK3 ini termasuk dalam tingkat penilaian baik. 2. Permasalahan yang menyebabkan tidak bisa diterapkannya SMK3 pada beberapa perusahaan adalah sebagai berikut : a. Perusahaan tidak mempunyai dana khusus untuk K3 di proyek, tetapi untuk pekerjaan tertentu yang bersifat khusus dan sangat beresiko tinggi perusahaan berusaha memenuhi standar K3. b. Tenaga kerja yang tidak disiplin cenderung mengabaikan pemakaian APD dalam pekerjaan, walaupun sudah disediakan di proyek. c. Tidak adanya Sumber Daya Manusia (SDM) K3 di perusahaan, sehingga penerapan Kebijakan, Sosialisasi K3 dan Pengontrolan pelaksanaan K3 tidak bisa berjalan sesuai aturan PP RI No. 50 Th d. Dalam hal pekerjaan Khusus, dimana pihak perusahaan mensubkontrakkan pekerjaan, didalam kontrak kerja dituntut penerapan K3, tetapi masih banyak tenaga kerjanya yang mengabaikan perjanjian kontrak tersebut. 3. Perusahaan dalam menjalankan penerapan SMK3 harus : a. Menyediakan alokasi dana untuk SMK3 disetiap pekerjaan yang mereka laksanakan. b. Menyediakan sumber daya manusia yang memahami tentang SMK3 dan memberikan pelatihan K3 atau mengutus mengikuti pelatihan K3 pada asosiasi terkait. c. Memberikan pemahaman kepada tenaga kerja/buruh pentingnya K3 sehingga dengan kesadaran sendiri selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dalam pelaksanaan pekerjaan. d. Meningkatkan monitoring terhadap perjanjian kontrak kontraktor/ subkontraktor yang mewajibkan pelaksanakan K Saran 1. Perusahaan jasa konstruksi khususnya Kontraktor disarankan untuk menyediakan dana khusus untuk penerapan pelaksanaan SMK3 pada perusahaan disetiap pekerjaan konstruksi yang dikerjakan. 2. Diharapkan perusahaan jasa kontruksi menyediakan sarana dan prasana K3 secara lengkap supaya terwujudnya zero accident dalam pelaksanaan proyek. 3. Diharapkan perusahaan jasa konstruksi menyediakan tenaga ahli K3

14 disetiap proyek konstruksi yang dikerjakan sehingga kebijakan, prosedur dan pengontrolan K3 bisa berjalan dengan baik. 4. Memberikan sanksi tegas kepada tenaga kerja yang melanggar kebijakan K3 yang telah ditetapkan perusahaan dan penghargaan bagi yang mematuhinya. DAFTAR PUSTAKA Anon., (1996). Permenaker momor 05/Men/1996 tentang tentang Sistem Manajemen K3. Jakarta. Anon., (2012). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Anon., (2014). Peraturan Menteri Pekerjaam Umum Nomor 5/PRT/M/2014 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum. Arifin, A.S R,, Suraji, A., Istijono, B,. 2014, Pengukuran Tingkat Penerapan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NSPK K3) pada Proyek Konstruksi,. Jurnal Rekayasa Sipil Volume 10 No. 2, Oktober 2014 Christina, W.Y., Djakfar, L., dan Thoyib, A. (2012). Pengaruh Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Proyek Konsruksi. Jurnal Rekayasa Sipil. Volume 6, No Hal Ervianto, W., ( 2005). Manajemen Proyek Konstruksi. Jakarta: Penerbit Andi. Kadin (2002). Industri Jasa Konstruksi di Indonesia. Kompartemen Jasa Kontruksi Konsultasi. Real Estate dan Teknologi Tinggi. Jakarta: Kadin. Mintje Victoria, malingkas G. Y, Walangitan, D. R. O., Tarore. H, Penerapan Sistem Pengendalian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Pelaksanaa Kontruksi (Studi Kasus: Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Manado T.A Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.9. FT Jurusan Sipil Universitas Sam Ratulangi. Manado Ridley, J., ( 2004). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Jakarta: Penerbit Erlangga. Sanora, Well Of, 2012., Implementasi Kesehatan dan Keselamatan dan Kesehatan kerja pada Proyek Konstruksi Bangunan gedung milik Pemerintah di Kota Padang, Tesis Program Pascasarjana, Universitas Bung Hatta. Usman, Edi, 2011., Evaluasi Penerapan berdasarkan Konsep OHSAS terhadap SMK3 pada Pelaksanaan Pembangunan RS USU Medan, Tesis

15 Program Pascasarjana, Universitas Bung Hatta

Sehingga semua pihak merasa ikut memilki dan merasakan hasilnya. Pelatihan dan Kompetensi Kerja Sistem Manajemen K3 SMK3

Sehingga semua pihak merasa ikut memilki dan merasakan hasilnya. Pelatihan dan Kompetensi Kerja Sistem Manajemen K3 SMK3 Sertifikat SMK3 Sertifikat SMK3 PP 50 tahun 2012 adalah penghargaan terhadap komitmen perusahaan yang telah menjalankan sesi konsultasi dan audit SMK3 Sertifikat Sistem Manajemen K3 pp 50 tahun 2012 Untuk

Lebih terperinci

Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 50 Tahun 2012) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel.

Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 50 Tahun 2012) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel. Lampiran KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 5 Tahun ) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel. Yang Pemenuhan Keterangan ditanya 3 Ya Tdk 4. PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN KOMITMEN..

Lebih terperinci

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek 2012 Oleh: Arrigo Dirgantara 1106069664 Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2012 Pertanyaan:

Lebih terperinci

A. KRITERIA AUDIT SMK3

A. KRITERIA AUDIT SMK3 LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PEDOMAN PENILAIAN PENERAPAN SMK3 A. KRITERIA AUDIT SMK3 1 PEMBANGUNAN DAN

Lebih terperinci

PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN (SMK3)

PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN (SMK3) LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Lebih terperinci

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN GUNAWANGSA MERR SURABAYA

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN GUNAWANGSA MERR SURABAYA EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN GUNAWANGSA MERR SURABAYA Cahya Dewi Wulandani 1, Mila Kusuma Wardani 2, Feri Harianto 3 Jurusan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ALKOHOL DAN OBAT TERLARANG PT BENING TUNGGAL MANDIRI

KEBIJAKAN ALKOHOL DAN OBAT TERLARANG PT BENING TUNGGAL MANDIRI KEBIJAKAN ALKOHOL DAN OBAT TERLARANG PT BENING TUNGGAL MANDIRI Kami PT Bening Tunggal Mandiri berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan bisnis perusahaan berdasarkan aspek HSE. PT Bening Tunggal Mandiri

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, DRAFT PERBAIKAN RAPAT KEMKUMHAM TANGGAL 24 SEPT 2010 RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang : a. bahwa terjadinya kecelakaan di tempat kerja sebagian

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM BAGI PENYEDIA JASA Elemen-elemen yang harus dilaksanakan oleh

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA & RESIKO K3

IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA & RESIKO K3 CV. KARYA BHAKTI USAHA Jampirejo Timur No 351 Temanggung PRA RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (PRARK3K) Disiapkan untuk pekerjaan: Rehabilitasi Jaringan Irigasi Kali Pacar 1. KEBIJAKAN K3

Lebih terperinci

PT. SUCOFINDO CABANG MAKASSAR JLN. URIP SUMOHARJO NO 90A MAKASSAR

PT. SUCOFINDO CABANG MAKASSAR JLN. URIP SUMOHARJO NO 90A MAKASSAR Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 PT. SUCOFINDO CABANG MAKASSAR JLN. URIP SUMOHARJO NO 90A MAKASSAR Latar Belakang PP No. 50 Tahun 2012 PENGERTIAN PASAL 1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang : a. bahwa terjadinya kecelakaan ditempat kerja sebagian besar

Lebih terperinci

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan Kode Dokumentasi : M SPS SMK3 Halaman : 1 dari 2 J udul Dokumen : M - SPS - P2K3 Dokumen ini adalah properti dari PT SENTRA PRIMA SERVICES Tgl Efektif : 09 Februari 2015 Dibuat Oleh, Disetujui Oleh, Andhi

Lebih terperinci

2. Rencana K3 yang disusun oleh perusahaan paling sedikit memuat : a. Tujuan dan Sasaran

2. Rencana K3 yang disusun oleh perusahaan paling sedikit memuat : a. Tujuan dan Sasaran VI. KEGIATAN K3 LISTRIK DALAM PENERAPAN SMK3 Penetapan Kebijakan K3: - Identifikasi potensi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko terkait listrik - Melakukan peninjauan terhadap kejadian yang berbahaya

Lebih terperinci

ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS PROYEK GEDUNG P1 DAN P2 UKP)

ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS PROYEK GEDUNG P1 DAN P2 UKP) ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS PROYEK GEDUNG P1 DAN P2 UKP) Caesario Alam Widjaja S 1, Heryanto Hartadi 2 and Ratna S. Alifen 3 ABSTRAK

Lebih terperinci

Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA

Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA 1 NO U R A I A N 1 KEBIJAKAN 7.00% a. Apakah Penyedia Jasa mempunyai Kebijakan K3? 0 50 100

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang Mengingat a. Bahwa

Lebih terperinci

TIN211 - Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri Materi #3 Ganjil 2016/2017. Sistem Manajemen K3

TIN211 - Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri Materi #3 Ganjil 2016/2017. Sistem Manajemen K3 Materi #3 TIN211 - Keselamatan & Kesehatan Kerja Industri Sistem Manajemen K3 2 PERMENAKER 05/Men/1996 PP No. 50 Tahun 2012 SMK3 Dikembangkan oleh Indonesia OHSAS 18000 Diterbitkan atas kerjasama organisasiorganisasi

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 25 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi K3 PT. Suka Jaya Makmur Kegiatan produksi di perusahaan mengandung bahaya cukup tinggi terutama pada kegiatan penebangan, penyaradan dan pengangkutan. Selain itu,

Lebih terperinci

INTERNAL AUDIT K3 TJIPTO S.

INTERNAL AUDIT K3 TJIPTO S. INTERNAL AUDIT K3 TJIPTO S. LANGKAH SMK3 TAHAPAN 1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG INPUT 1. Pembentukan tim 2. Penentuan lingkup

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmaniah maupun rohaniah

Lebih terperinci

BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) I. BENTUK RK3K USULAN PENAWARAN DAFTAR ISI

BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) I. BENTUK RK3K USULAN PENAWARAN DAFTAR ISI BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) I. BENTUK RK3K USULAN PENAWARAN CONTOH... [Logo & Nama Perusahaan] RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) [digunakan untuk

Lebih terperinci

(SMKP) ELEMEN 6 DOKUMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN PERTAMBANGAN (SMKP) MINERAL DAN BATUBARA

(SMKP) ELEMEN 6 DOKUMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN PERTAMBANGAN (SMKP) MINERAL DAN BATUBARA Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) ELEMEN 6 DOKUMENTASI Perbaikan Berkesinambungan Dokumentasi 2 Dari 78 6.1 MANUAL SMKP 6.2 Pengendalian Dokumen 6.3 Pengendalian Rekaman 6.4 Dokumen dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Tinjauan Teori dan Konsep 1.1.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001 (2007) mendefenisikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai kondisi dan faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

SISTIM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) SESUAI PP NO. 50 TAHUN 2012

SISTIM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) SESUAI PP NO. 50 TAHUN 2012 SISTIM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) SESUAI PP NO. 50 TAHUN 2012 Pengantar Sebelum terbitnya Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012, panduan yang digunakan oleh perusahaan dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008 TENTANG PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM DENGAN

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Audit Internal Audit ini meliputi semua departemen. Coordinator audit/ketua tim audit ditentukan oleh Manajemen Representative dan kemudian ketua tim audit menunjuk tim

Lebih terperinci

1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG

1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG Mata Kuliah - 12 1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG 1. Pembentukan tim 2. Penentuan lingkup SMK3 3. Tinjau awal 4. Kebijakan

Lebih terperinci

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI PENGELOLAAN K3 Melalui Pendekatan Sistem Manajemen Melibatkan seluruh aspek sumberdaya yang mempengaruhi K3 ditempat kerja.

Lebih terperinci

AUDIT & INSPEKSI K3 PERTEMUAN #14 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

AUDIT & INSPEKSI K3 PERTEMUAN #14 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI AUDIT & INSPEKSI K3 PERTEMUAN #14 TKT302 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI 6623 TAUFIQUR RACHMAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian K3 Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan

Lebih terperinci

USULAN ELEMEN SMK3 UI BERDASARKAN PERMENAKER No 5 Tahun 1996 dan OHSAS 18001

USULAN ELEMEN SMK3 UI BERDASARKAN PERMENAKER No 5 Tahun 1996 dan OHSAS 18001 LAMPIRAN 1: Usulan Elemen SMK3 UI USULAN ELEMEN SMK3 UI BERDASARKAN PERMENAKER No 5 Tahun 1996 dan OHSAS 18001 1 KOMITMEN DAN KEBIJAKAN Sub-Elemen Kepemimpinan dan komitmen Tinjauan Awal Program Komite

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA.

DAFTAR PUSTAKA. DAFTAR PUSTAKA Baki Henong Sebastianus. 2015. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sebagai Peranan Pencegahan Kecelakaan Kerja Dibidang Konstruksi. Universitas Khatolik Widya Mandira Kupang. Kupang.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran

Lebih terperinci

Kuesioner Variabel Independen Peranan Audit Internal

Kuesioner Variabel Independen Peranan Audit Internal Kuesioner Variabel Independen Peranan Audit Internal NO Pertanyaan Ya 1 Apakah perusahaan memiliki struktur organisasi perusahaan secara tertulis? 2 Apakah dalam struktur organisasi perusahaan tercantum

Lebih terperinci

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU -1- LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 27/PRT/M/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU 1. Lingkup Sistem Manajemen

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN

PROGRAM KERJA MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN PROGRAM KERJA MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN RUMAH SAKIT HARAPAN JL. SENOPATI NO 11 MAGELANG 2016 KERANGKA ACUAN PROGRAM KERJA MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN PENDAHULUAN Rumah Sakit sebagai salah

Lebih terperinci

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Hand-out Industrial Safety Dr.Ir. Harinaldi, M.Eng Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tempat Kerja Produk/jasa Kualitas tinggi Biaya minimum Safety comes

Lebih terperinci

SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN MENURUT ISO 14001

SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN MENURUT ISO 14001 SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN MENURUT ISO 14001 Materi yang terdapat dalam halaman ini adalah materi yang disampaikan dalam Pelatihan Audit Lingkungan yang diadakan atas kerja sama antara Departemen Biologi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan teori dan konsep 2.1.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001:2007 mendefinisikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai kondisi dan faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PEMBERLAKUAN SYARAT SERTIFIKASI KETERAMPILAN KERJA MANDOR DI LAPANGAN

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PEMBERLAKUAN SYARAT SERTIFIKASI KETERAMPILAN KERJA MANDOR DI LAPANGAN BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PEMBERLAKUAN SYARAT SERTIFIKASI KETERAMPILAN KERJA MANDOR DI LAPANGAN 4.1 UMUM Pada bab ini, hasil dari pengumpulan data eksisting akan dianalisis berdasarkan teori yang

Lebih terperinci

Sistem Manajemen Lingkungan Menurut ISO 14001

Sistem Manajemen Lingkungan Menurut ISO 14001 Materi yang terdapat dalam halaman ini adalah materi yang disampaikan dalam Pelatihan Audit Lingkungan yang diadakan atas kerja sama antara Departemen Biologi FMIPA IPB bekerja sama dengan Bagian PKSDM

Lebih terperinci

MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUKO ORLENS FASHION MANADO

MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUKO ORLENS FASHION MANADO MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUKO ORLENS FASHION MANADO Bryan Alfons Willyam Sepang J. Tjakra, J. E. Ch. Langi, D. R. O. Walangitan Fakultas Teknik, Jurusan

Lebih terperinci

SISTEM MANAJEMEN K3 (KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA)

SISTEM MANAJEMEN K3 (KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA) SISTEM MANAJEMEN K3 (KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA) MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aspek Hukum dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dibina oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Kustono, M.Pd. Oleh Muhammad

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang menjadi penentu pencapaian dan kinerja suatu perusahaan. Jika dalam proses

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang menjadi penentu pencapaian dan kinerja suatu perusahaan. Jika dalam proses 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia atau tenaga kerja merupakan salah satu faktor penting yang menjadi penentu pencapaian dan kinerja suatu perusahaan. Jika dalam proses pengelolaannya

Lebih terperinci

PANDANGAN KONTRAKTOR DAN PEMILIK TERHADAP PERAN PEMILIK DALAM KESELAMATAN KERJA PROYEK KONSTRUKSI DI SURABAYA

PANDANGAN KONTRAKTOR DAN PEMILIK TERHADAP PERAN PEMILIK DALAM KESELAMATAN KERJA PROYEK KONSTRUKSI DI SURABAYA PANDANGAN KONTRAKTOR DAN PEMILIK TERHADAP PERAN PEMILIK DALAM KESELAMATAN KERJA PROYEK KONSTRUKSI DI SURABAYA Johanes Jiman¹, Eka Pramudita², Andi³ ABSTRAK : Konstruksi merupakan salah satu industri yang

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DAA 4.1 ahap Persiapan Pada tahap persiapan ini, perusahaan telah membentuk tim ISO dan mengadakan pelatihan-pelatihan yang bersifat umum untuk memahami konsep dasar sistem

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1 Umum... vi 0.2 Pendekatan proses...

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN KESELAMATAN OPERASI REAKTOR NONDAYA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN KESELAMATAN OPERASI REAKTOR NONDAYA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN KESELAMATAN OPERASI REAKTOR NONDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, Menimbang :

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

BUPATI SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BUPATI SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT BUPATI SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SANGGAU NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Penelitian Sebelumnya Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis menggunakan pustaka-pustaka yang mendukung. Pustakapustaka yang digunakan adalah penelitian-penelitian

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI RESPON TENAGA KERJA TERHADAP PENERAPAN K3 PADA BEBERAPA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG DI KOTA MEDAN DAN SEKITARNYA

IDENTIFIKASI RESPON TENAGA KERJA TERHADAP PENERAPAN K3 PADA BEBERAPA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG DI KOTA MEDAN DAN SEKITARNYA IDENTIFIKASI RESPON TENAGA KERJA TERHADAP PENERAPAN K3 PADA BEBERAPA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG DI KOTA MEDAN DAN SEKITARNYA LAPORAN Ditulis Sebagai Syarat Menyelesaikan Pendidikan Program Diploma IV Program

Lebih terperinci

Model Rencana Impelementasi Pengembangan SML-14001

Model Rencana Impelementasi Pengembangan SML-14001 Model Rencana Impelementasi Pengembangan SML-14001 ELEMEN ISO 14001 IMPLEMENTASI PENANGGUNG- 4.2. Kebijakan Lingkungan Mengevaluasi kebijakan SMM & SMK3 dan menyusun kebijakan lingkungan sesuai persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Menurut Badan Pusat Statistik, tenaga kerja di Indonesia per bulan Februari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Menurut Badan Pusat Statistik, tenaga kerja di Indonesia per bulan Februari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Badan Pusat Statistik, tenaga kerja di Indonesia per bulan Februari tahun 2013 mencapai 114,1 juta orang dengan jumlah pekerja di sektor konstruksi sebesar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan penerapan suatu ilmu pengetahuan dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pecemaran,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENGUKURAN TINGKAT PENERAPAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (NSPK K3) PADA PROYEK KONSTRUKSI ABSTRAK

PENGUKURAN TINGKAT PENERAPAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (NSPK K3) PADA PROYEK KONSTRUKSI ABSTRAK VOLUME 0 NO., OKTOBER 04 PENGUKURAN TINGKAT PENERAPAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (NSPK K) PADA PROYEK KONSTRUKSI Ari Syaiful Rahman Arifin, Akhmad Suraji, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha

Lebih terperinci

KUISIONER PENELITIAN

KUISIONER PENELITIAN Lampiran 1 KUISIONER PENELITIAN PENGARUH PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PERILAKU KESELAMATAN KARYAWAN PT PDSI RANTAU ACEH TAMIANG TAHUN 2014 I.

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT)

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT) MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT) PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG PT. Indonesia Power UBP Kamojang saat ini telah menerapkan sistem manajemen terpadu, dengan tiga sub sistemnya yang terdiri dari Sistem Manajemen Mutu

Lebih terperinci

HEALTH, SAFETY, ENVIRONMENT ( HSE ) DEPARTMENT PT. GRAHAINDO JAYA GENERAL CONTRACTOR

HEALTH, SAFETY, ENVIRONMENT ( HSE ) DEPARTMENT PT. GRAHAINDO JAYA GENERAL CONTRACTOR HEALTH, SAFETY, ENVIRONMENT ( HSE ) DEPARTMENT STRUKTUR ORGANISASI HSE PROJECT MANAGER Ir. P Tanudjaja HSE OFFICER Suharso HSE SUPERVISOR Widianto HSE SUPERVISOR Deni Santoso HSE STAFF Jauhari J HSE STAFF

Lebih terperinci

WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN

WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PAREPARE, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil wawancara dengan berpedoman pada Internal Control

BAB 7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil wawancara dengan berpedoman pada Internal Control 148 BAB 7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil wawancara dengan berpedoman pada Internal Control Questionnaires (ICQ), observasi, inspeksi dokumen, dan reperforming terhadap pelaksanaan

Lebih terperinci

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2000 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 :2008 4. 4.1 4.1 4.1 Sistem Manajemen Mutu Persyaratan Umum Apakah organisasi menetapkan dan mendokumentasikan sistem manajemen mutu

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengenai identifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja dan penerapan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengenai identifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja dan penerapan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis dan perhitungan yang telah dilakukan pada penlitian ini mengenai identifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja dan penerapan safety

Lebih terperinci

PELAKSANAAN SISTEM MANAGEMENT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL IBIS PADANG SUMATERA BARAT

PELAKSANAAN SISTEM MANAGEMENT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL IBIS PADANG SUMATERA BARAT PELAKSANAAN SISTEM MANAGEMENT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL IBIS PADANG SUMATERA BARAT Ade Setiawan, Nasfryzal Carlo, Hendri GP Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

Lampiran 1 CHECK LIST PRAKUALIFIKASI CSMS

Lampiran 1 CHECK LIST PRAKUALIFIKASI CSMS Lampiran 1 CHECK LIST PRAKUALIFIKASI CSMS PRAKUALIFIKASI CSMS 3.1. PROFIL KONTRAKTOR 1. Nama Perusahaan : Alamat Pos : Nomor Telephone/Fax :... Email : 2. Anggota Direksi NO JABATAN NAMA PENDIDIKAN TERAKHIR

Lebih terperinci

PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN PRINSIP 2: PERENCANAAN

PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN PRINSIP 2: PERENCANAAN PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN 4.2. Kebijakan Lingkungan Manajemen puncak harus menetapkan kebijakan lingkungan organisasi dan memastikan bahwa kebijakan tersebut: a) sesuai dengan skala dan karakteristik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak

BAB I PENDAHULUAN. masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kinerja sering digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai suatu hasil yang dicapai terhadap sesuatu. Sehingga kesuksesan suatu perusahaan dapat diukur dari kinerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Proyek Konstruksi Suatu proyek konstruksi biasanya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek.selain itu,

Lebih terperinci

PT. ADIWARNA ANUGERAH ABADI

PT. ADIWARNA ANUGERAH ABADI PROSEDUR NO DOKUMEN : P-AAA--05 STATUS DOKUMEN : MASTER COPY NO : NOMOR REVISI : 00 TANGGAL EFEKTIF : 01 JULI 2011 DIBUAT OLEH : DIPERIKSA OLEH : DISETUJUI OLEH : DOKUMEN KONTROL MANAJEMEN REPRESENTATIF

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG RS Duta Indah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, selalu berusaha melakukan peningkatan mutu dan keselamatan pasien,yang harus didukung

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. sesuai standar ISO 9001 di PT X. dan rekomendasi dari penulis kepada

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. sesuai standar ISO 9001 di PT X. dan rekomendasi dari penulis kepada BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini merupakan penutup yang berisi simpulan untuk menjawab pertanyaan dengan justifikasi hasil penelitian penerapan sistem manajemen mutu sesuai standar ISO 9001 di PT

Lebih terperinci

RENCANA INDUK MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN (MFK) DI RSU BINA KASIH

RENCANA INDUK MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN (MFK) DI RSU BINA KASIH RSU BINA KASIH RENCANA INDUK MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN (MFK) DI RSU BINA KASIH I. LATAR BELAKANG Ketidaksiapan beberapa Rumah Sakit dalam menanggulangi bencana gempa bumi, tsunami, wabah penyakit

Lebih terperinci

PEDOMAN KNAPPP 01:2005. Kata Pengantar

PEDOMAN KNAPPP 01:2005. Kata Pengantar Kata Pengantar Pertama-tama, kami mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang atas izinnya revisi Pedoman Komisi Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP), yaitu Pedoman KNAPPP

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 69 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa data, observasi dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Persyaratan telah tertulis dalam kebijakan perusahaan (baik pada

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RESIKO DAN TINDAKAN PENGENDALIAN

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RESIKO DAN TINDAKAN PENGENDALIAN RESIKO DAN TINDAKAN Dibuat Oleh, Direview oleh, Disahkan oleh Riwayat Perubahan Dokumen Revisi Tanggal Revisi Uraian Oleh Daftar Isi 1. Tujuan...4 2. Ruang Lingkup... 4 3. Referensi... 4 4. Definisi...

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kegagalan Konstruksi Kegagalan konstruksi merupakan kegagalan yang bersifat teknis dan non teknis. Kegagalan ini dapat disebabkan karena kegagalan pada proses pengadaan barang

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 25 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Pada bab 3 akan dibahas mengenai metode dan strategi penelitian yang akan digunakan dalam menjawab permasalahan yang telah dijabarkan sebelumnya. Untuk menjawab

Lebih terperinci

PENGATURAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI DITINJAU BERDASARKAN UU NO 13 TAHUN 2003 (Studi Kasus di Kotamadya Medan)

PENGATURAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI DITINJAU BERDASARKAN UU NO 13 TAHUN 2003 (Studi Kasus di Kotamadya Medan) PENGATURAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI DITINJAU BERDASARKAN UU NO 13 TAHUN 2003 (Studi Kasus di Kotamadya Medan) M. Ridwan Anas 1, Irwan Suranta Sembiring 2 1 Departemen Teknik Sipil, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengawasan K3 juga salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.

BAB I PENDAHULUAN. pengawasan K3 juga salah satu penyebab terjadinya kecelakaan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pekerjaan konstruksi merupakan kegiatan yang cukup banyak menggunakan berbagai peralatan, baik canggih maupun manual. Peralatan ini dilaksanakan di lahan yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PU NO.05/PRT/M/2014 TENTANG : PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG PU

PERATURAN MENTERI PU NO.05/PRT/M/2014 TENTANG : PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG PU + 1 PERATURAN MENTERI PU NO.05/PRT/M/2014 TENTANG : PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG PU Bimbingan Teknis Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Lebih terperinci

NO KRITERIA AUDIT PEMENUHAN / DOKUMENTASI AUDIT FAKTA AUDIT STATUS YA TIDAK

NO KRITERIA AUDIT PEMENUHAN / DOKUMENTASI AUDIT FAKTA AUDIT STATUS YA TIDAK Checklist Audit SMK3 NO KRITERIA AUDIT PEMENUHAN / DOKUMENTASI AUDIT FAKTA AUDIT STATUS YA TIDAK.. Adanya kebijakan K3 yang tertulis, bertanggal dan secara jelas menyatakan tujuan-2 K3 dan komitmen perusahaan

Lebih terperinci

KUISIONER PENELITIAN

KUISIONER PENELITIAN 146 KUISIONER PENELITIAN ANALISIS PENGARUH PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) OHSAS 18001 TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PT. COCA COLA AMATIL MEDAN Petunjuk Pengisian:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan proyek konstruksi di Indonesia, penerapan. keselamatan dan kesehatan kerja masih kurang maksimal.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan proyek konstruksi di Indonesia, penerapan. keselamatan dan kesehatan kerja masih kurang maksimal. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembangunan proyek konstruksi di Indonesia, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja masih kurang maksimal. Banyak pekerja konstruksi yang mengalami kecelakaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan dari analisis data terhadap faktor-faktor dominan yang menjadi penyebab kendala serah terima proyek cipta karya dari ditjen cipta karya kepada pemerintah

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstitusi Indonesia pada dasarnya memberikan perlindungan total bagi rakyat

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstitusi Indonesia pada dasarnya memberikan perlindungan total bagi rakyat BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konstitusi Indonesia pada dasarnya memberikan perlindungan total bagi rakyat Indonesia. Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Setiap warga Negara

Lebih terperinci

Pranata Pembangunan Pertemuan 11 Ketertiban dalam membangun

Pranata Pembangunan Pertemuan 11 Ketertiban dalam membangun Pranata Pembangunan Pertemuan 11 Ketertiban dalam membangun Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa dapat mengkritisi issue issue yang terkait dengan K3 dalam proyek konstruksi berdasarkan peraturan yang

Lebih terperinci

MODUL 1 KEBIJAKAN PENYUSUNAN DOKUMEN KONTRAK

MODUL 1 KEBIJAKAN PENYUSUNAN DOKUMEN KONTRAK MODUL 1 KEBIJAKAN PENYUSUNAN DOKUMEN KONTRAK (UU 2/2017 & PP 29/2000 Jo PP 54/2016) admikon2@gmail.com MODUL BIMBINGAN TEKNIS ADMINISTRASI KONTRAK KONSTRUKSI Modul 1 : Kebijakan Penyusunan Dok. Kontrak

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

- 1 - PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, - 1 - Walikota Tasikmalaya PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

Lebih terperinci

PRAKUALIFIKASI UMUM CSMS (Contractor Safety Management System)

PRAKUALIFIKASI UMUM CSMS (Contractor Safety Management System) UMUM CSMS (Contractor Safety Management System) Lampiran 2 3.1. PROFIL KONTRAKTOR 1. Nama Perusahaan : Alamat Pos : Nomor Telephone/Fax :.. Email : 2. Anggota Direksi NO JABATAN NAMA PENDIDIKAN TERAKHIR

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA DAN PENERAPAN SAFETY MANAGEMENT PADA PROYEK KONSTRUKSI DI BALI. Laporan Tugas Akhir

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA DAN PENERAPAN SAFETY MANAGEMENT PADA PROYEK KONSTRUKSI DI BALI. Laporan Tugas Akhir IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA DAN PENERAPAN SAFETY MANAGEMENT PADA PROYEK KONSTRUKSI DI BALI Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS

BAB II PROSES BISNIS BAB II PROSES BISNIS 2.1 Proses Bisnis Utama Semua proses bisnis yang dijalankan PT X ditujukan langsung untuk melayani klien mulai dari proses mencari proyek sampai penyerahan produks. Jenis proses bisnis

Lebih terperinci