PARIPURNA, 20 NOPEMBER 2015 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2016

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PARIPURNA, 20 NOPEMBER 2015 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2016"

Transkripsi

1 PARIPURNA, 20 NOPEMBER 2015 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2016 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2015

2 DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I Tujuan... I Dasar Hukum... I.4 BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Kondisi Ekonomi Makro Daerah Tahun 2013 dan Tahun 2014 dan Proyeksi Tahun II Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2015 dan Tahun II.7 BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) TAHUN Asumsi Dalam APBN...III Laju Inflasi...III Pertumbuhan Ekonomi...III Asumsi Lainnya...III.2 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH 4.1 Kebijakan Pendapatan Daerah... IV Kebijakan Belanja Daerah... IV Kebijakan Pembiayaan Daerah... IV Kebijakan Pembangunan Daerah... IV Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota Bekasi Tahun IV.24 BAB V PENUTUP... V-1 Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 Daftar Isi- i

3 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 2.6 Tabel 2.7 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Tahun dan Perkiraan Tahun II.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia, (%)... II.4 Perkembangan PDRB per Kapita Kota Bekasi, II.5 Perkembangan Ekspor Impor Kota Bekasi, II.6 Indikator Makro Ekonomi Kota Bekasi... II.6 Proyeksi PDRB Kota Bekasi menurut Lapangan Usaha Atas Harga Dasar Harga Konstan Tahun II.8 Proyeksi Distribusi PDRB Kota Bekasi menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun II.9 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi, IV.1 Proporsi Realisasi Komponen Pendapatan Terhadap Total Pendapatan daerah Kota Bekasi IV.2 Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi, IV.3 Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Daerah Kota Bekasi Tahun IV.6 Target dan Realisasi Belanja Daerah Kota Bekasi, IV.8 Proporsi Realisasi Komponen Belanja Terhadap Total Belanja Daerah Kota Bekasi, IV.9 Proyeksi Keuangan Daerah (Rp) dan Pertumbuhan Keuangan Daerah (%) sesuai RPJMD Kota Bekasi IV.10 Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah Kota Bekasi Tahun IV.11 Realisasi dan Proyeksi/Target Pembiayaan Daerah Kota Bekasi Tahun IV.16 Tabel 4.10 Proyeksi Keuangan Daerah Tahun IV.17 Tabel 4.11 Program Strategis Pembangunan Tahun IV.22 Tabel 4.12 Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bekasi Tahun IV.25 Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 Daftar Isi- ii

4 DAFTAR GRAFIK Grafik 2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bekasi dan Proyeksi LPE tahun (%)... II.4 Grafik 2.2 Laju Inflasi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia (%)... II.5 Grafik 4.1 Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi IV.3 Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 Daftar Isi- iii

5 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana beberapa kali telah diubah terakhir Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD, merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah, komponennya meliputi: (a) asas umum pengelolaan keuangan daerah; (b) pejabatpejabat yang mengelola keuangan daerah; (c) struktur APBD; (d) penyusunan RKPD, KUA, PPAS, dan RKA SKPD; (e) penyusunan dan penetapan APBD; (f) pelaksanaan dan perubahan APBD; (g) penatausahaan keuangan daerah; (h) pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; (i) pengendalian defisit dan penggunaan surplus APBD; (j) pengelolaan kas umum daerah; (k) Pengelolaan piutang daerah; (l) Pengelolaan investasi daerah; (m) Pengelolaan barang milik daerah; (n) Pengelolaan dana cadangan; (o) Pengelolaan utang daerah; (p) Pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah; (q) penyelesaian kerugian daerah; (r) pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah; (s) pengaturan pengelolaan keuangan daerah. Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (KUA) Kota Bekasi Tahun 2016 disusun dengan mengacu pada Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Bekasi Tahun 2016 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun Dalam RPJMD Tahun , telah ditetapkan visi yang ingin dicapai yaitu BEKASI MAJU, SEJAHTERA DAN IHSAN. Visi Pembangunan Kota Bekasi tahun ini menggambarkan kondisi Kota Bekasi, yaitu Bekasi Maju, Bekasi Sejahtera, dan Bekasi Ihsan. Bekasi Maju menggambarkan pembangunan Kota Bekasi dan kehidupan warga yang dinamis, inovatif, dan kreatif yang didukung ketersediaan prasarana dan sarana sebagai bentuk perwujudan kota yang maju. Bekasi Sejahtera menggambarkan derajat kehidupan warga Kota Bekasi yang meningkat dengan terpenuhinya kebutuhan dasar pendidikan, kesehatan, terbukanya kesempatan kerja dan berusaha, serta lingkungan fisik, sosial dan religius sebagai bentuk perwujudan Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 1

6 masyarakat yang sejahtera. Bekasi Ihsan menggambarkan situasi terpelihara dan menguatnya nilai, sikap dan perilaku untuk berbuat baik, dalam lingkup individu, keluarga dan masyarakat Kota Bekasi. Kedisiplinan, ketertiban sosial, keteladanan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan tumbuh seiring dengan meningkatnya tata kelola pemerintahan yang baik untuk mewujudkan kehidupan yang beradab. Visi ini akan dicapai melalui misi yaitu: 1. Menyelenggarakan tata kelola kepemerintahan yang baik. 2. Membangun prasarana dan sarana yang serasi dengan dinamika dan pertumbuhan kota. 3. Meningkatkan kehidupan sosial masyarakat melalui layanan pendidikan kesehatan dan layanan sosial lainnya. 4. Meningkatkan perekonomian melalui pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah, peningkatan investasi, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif. 5. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tenteram dan damai. Misi pertama bermakna bahwa tata kelola kepemerintahan dalam mewujudkan Visi Pembangunan Kota Bekasi tahun dilakukan melalui fungsi pengaturan, pelayanan, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan serta menempatkan aparatur sebagai pamong praja yang menjunjung tinggi integritas terhadap amanah, tugas dan tanggung jawab berdasarkan sepuluh prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yaitu: partisipasi masyarakat; tegaknya supremasi hukum; transparansi; kesetaraan; daya tanggap kepada pemangku kepentingan (stakeholders); berorientasi kepada visi; akuntabilitas; pengawasan; efektivitas dan efisiensi; profesionalisme. Pendekatan yang dilakukan untuk aktualisasi misi ini melalui penataan sistem, peningkatan kinerja dan penguatan integritas aparatur. Misi kedua bermakna bahwa pembangunan prasarana diarahkan untuk terpenuhinya kelengkapan dasar fisik lingkungan kota bagi kehidupan yang layak, sehat, aman dan nyaman; terpenuhinya sarana perkotaan untuk mendukung penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi; serta terpenuhinya kelengkapan penunjang (utilitas) untuk pelayanan warga kota. Misi ini juga ditujukan untuk mengarahkan pembangunanprasarana dan sarana yang meningkat dan serasi, untuk memenuhi kehidupan warga kota yang dinamis, inovatif dan kreatif, dengan memperhatikan prinsip pengelolaan, pengendalian dan pelestarian lingkungan hidup dalam mewujudkan kota yang maju, tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Misi ketiga memiliki makna bahwa layanan pendidikan, kesehatan dan layanan sosial lainnya diarahkan untuk meningkatkan derajat kehidupan sosial Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 2

7 masyarakat seiring dengan terbangunnya kehidupan keluarga sejahtera, terkelolanya persoalan dan dampak sosial perkotaan, meningkatnya partisipasi perempuan dan peran serta pemuda dalam pembangunan, aktivitas olahraga pendidikan, rekreasi dan prestasi serta aktualisasi budaya daerah sebagai fungsi sosial, normatif dan apresiasi. Misi keempat memiliki makna upaya untuk meningkatkan perekonomian ditempuh melalui peningkatan kapasitas dan perluasan sektor usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM), pengembangan industry kreatif, peningkatan daya tarik investasi, dan penciptaan iklim usaha yang kondusif, yang bermuara pada pembentukan lapangan kerja baru dan kesempatan berusaha, terbentuknya daya saing perekonomian kota, dan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Misi kelima bermakna bahwa dinamika pembangunan dan kehidupan warga Kota Bekasi harus diimbangi dengan upaya pengendalian terhadap potensi kerawanan sosial, gangguan ketertiban, penegakan Peraturan Daerah Penanggunalan Bencana serta kesatuan dan ketahanan bangsa, kerukunan hidup dan umat beragama, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 3

8 1.2. Tujuan Tujuan Penyusunan Kebijakan Umum APBD Kota Bekasi Tahun 2016 adalah sebagai berikut: a. Menyediakan dokumen kebijakan umum pembangunan tahunan agar berbagai kegiatan pembangunan terarah dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. b. Menyediakan kerangka acuan dalam penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang memuat prioritas program dan pagu anggaran SKPD Dasar Hukum Landasan penyusunan Kebijakan Umum APBD Kota Bekasi Tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3663); 2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 4

9 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844), dan diubah kembali dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 9. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4700); 10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 11. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 5

10 17. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); 20. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; 24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016; 25. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 4 Tahun 2004 tentang Pembentukan Wilayah Administrasi Kecamatan dan Kelurahan Kota Bekasi; 26. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 3 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota Bekasi; 27. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bekasi Tahun ; 28. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 10 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Bekasi; Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 6

11 29. Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 11 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bekasi Tahun ; 30. Peraturan Walikota Bekasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Bekasi Tahun Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 I- 7

12 BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Kondisi Ekonomi Makro Daerah Tahun 2013 dan Tahun 2014 dan Proyeksi Tahun 2015 Indikator ekonomi makro suatu daerah dapat menunjukkan kondisi perekonomian daerah tersebut. Beberapa indikator ekonomi makro yang dapat menggambarkan kinerja perekonomian suatu daerah diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tingkat inflasi, pendapatan per kapita, dan ekspor-impor. a. PDRB Kota Bekasi PDRB Kota Bekasi menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Pada tahun 2013, PDRB Kota Bekasi atas dasar berlaku diperkirakan sebesar Rp juta, bertambah sebesar Rp juta atau tumbuh 12,57 persen dari tahun 2012 yang sebesar Rp juta. Sedangkan atas dasar harga konstan, PDRB Kota Bekasi pada tahun 2013 diperkirakan sebesar Rp juta, bertambah Rp juta atau tumbuh 6,19 persen dari tahun 2012 yang sebesar Rp juta. Pada tahun 2014 diperkirakan PDRB Kota Bekasi atas dasar harga berlaku akan meningkat menjadi Rp juta atau tumbuh sebesar 11,99 persen. Sedangkan atas dasar harga konstan diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,23 persen menjadi Rp juta. Pertumbuhan PDRB Kota Bekasi disebabkan oleh tumbuhnya beberapa sektor ekonomi seperti bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sektor-sektor ini meskipun bukan dominan tetapi menunjukkan pertumbuhan yang tinggi dari tahun ke tahun. Bila dilihat dari sektor tradables (penghasil barang) dan non-tradables (jasa), kinerja pertumbuhan sektor tradables kalah cepat dibandingkan laju sektor non-tradables. Laju pertumbuhan sektor tradables (sektor pertanian dan sektor industri pengolahan) selalu di bawah laju pertumbuhan PDRB rata-ratanya. Lambatnya pertumbuhan sektor pertanian tidak terlalu mengkhawatirkan, karena kontribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota Bekasi relatif kecil. Namun lambatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan perlu mendapatkan perhatian karena kontribusinya yang cukup dominan terhadap pembentukan PDRB Kota Bekasi. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 1

13 Struktur perekonomian Kota Bekasi menunjukkan dua sektor utama yang berperan penting dalam pembentukan PDRB Kota Bekasi, yakni sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Pada tahun 2013, atas dasar harga berlaku, sektor industri pengolahan diperkirakan menyumbang 41,44 persen terhadap pembentukan PDRB, sedikit turun dari tahun 2012 yang sebesar 42,23 persen. Sementara kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2013 diperkirakan sebesar 31,64 persen atau sedikit meningkat dari tahun 2012 yang sebesar 31,14 persen. Pada tahun 2014, kontribusi sektor industri pengolahan diperkirakan akan sedikit menurun menjadi 40,71 persen, sedangkan kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran kembali akan sedikit meningkat menjadi 32,10 persen. Secara rinci perkembangan PDRB, Distribusi dan Pertumbuhan PDRB Kota Bekasi dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut : Tabel 2.1 PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Tahun dan Perkiraan Tahun LAPANGAN USAHA * 2014* (1) (2) (3) (4) (5) PDRB Harga Berlaku (Juta Rupiah) dan Distribusi PDRB (%) 1. Pertanian ,84 0,80 0,79 0,78 2. Pertambangan Industri Pengolahan ,36 42,23 41,44 40,71 4. Listrik, Gas, dan Air ,97 3,91 4,00 4,10 5. Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 3,40 3,75 3,76 3, ,82 31,14 31,64 32, ,81 8,59 8,79 8,94 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 3,86 3,85 3,87 3,89 9. Jasa-jasa ,93 5,73 5,70 5,56 PDRB PDRB Harga Konstan (Juta Rupiah) dan Pertumbuhan PDRB (%) 1. Pertanian ,78 0,24 0,93 0,78 2. Pertambangan Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 2

14 LAPANGAN USAHA * 2014* (1) (2) (3) (4) (5) Industri Pengolahan ,03 6,25 3,64 3,46 4. Listrik, Gas, dan Air ,92 8,54 10,05 10,17 5. Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 9,85 12,09 7,51 7, ,10 8,11 6,99 7, ,08 3,27 12,05 11,03 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 8,93 8,64 7,83 7,93 9. Jasa-jasa ,82 6,23 5,97 6,63 PDRB Sumber : Bekasi Dalam Angka 2013 *) hasil Proyeksi 7,08 6,85 6,19 6,23 b. Laju Pertumbuhan Ekonomi Selama kurun waktu tahun , laju pertumbuhan PDRB Kota Bekasi atas dasar harga konstan terlihat mengalami fluktuasi. Pertumbuhan tertinggi dicapai tahun 2011 yakni 7,08 persen dan terendah pada tahun 2009 sebesar 4,13 persen. Rendahnya pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi pada tahun 2009 ini tak terlepas dari dampak adanya krisis ekonomi dunia pada tahun Pada krisis ekonomi dunia tahun 2008, sektor industri pengolahanlah yang paling terkena dampaknya. Maka, tidak mengherankan apabila sektor industri pengolahan yang paling mengalami perlambatan pertumbuhannya. Mengingat sektor industri pengolahan masih dominan dalam struktur ekonomi Kota Bekasi, maka melambatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi pada tahun Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat maupun Indonesia, ternyata 2009 juga menjadi tahun terendah tingkat pertumbuhan ekonominya, baik Provinsi untuk Jawa Barat maupun Indonesia. Dalam periode , laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi masih tertinggal dari Provinsi Jawa Barat maupun Indonesia. Namun tahun , laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi lebih cepat dari Provinsi Jawa Barat maupun Indonesia. Perbandingan laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.2. berikut. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 3

15 Tabel 2.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia, (%) Tahun Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat Indonesia ,94 6,21 6, ,13 4,19 5, ,84 6,20 6, ,08 6,48 6, ,85 6,21 6, ,81 6,06 5,78 Sumber : BPS tahun 2013 Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi periode dan proyeksi tahun dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut ini. Grafik 2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bekasi dan Proyeksi LPE Tahun (%) Sumber : BPS, 2013 (diolah) c. Tingkat Inflasi Inflasi merupakan indikator penting dalam perekonomian yang berkaitan erat dengan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro yang perlu mendapat perhatian pemerintah untuk dikendalikan. Laju inflasi di Kota Bekasi selama kurun waktu tahun menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, dengan tingkat inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 10,10 persen dan terendah pada tahun 2009 sebesar 2,63 persen. Pergerakan laju inflasi Kota Bekasi sejalan dengan laju inflasi Provinsi Jawa Barat dan Indonesia. Tingkat inflasi Jawa Barat dan Indonesia tertinggi juga terjadi pada tahun 2008 dan terendah pada tahun Laju inflasi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia dapat dilihat pada Grafik 2.2 berikut ini. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 4

16 Grafik 2.2 Laju Inflasi Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia, (%) Bekasi 6 Jawa Barat Indonesia Sumber : BPS dan RPJMD Prov. Jawa Barat d. Pendapatan per Kapita PDRB per Kapita Kota Bekasi atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 PDRB per Kapita tercatat sebesar Rp (ADHB) dan Rp (ADHK), kemudian pada tahun 2013 tumbuh menjadi sebesar Rp (ADHB) dan Rp (ADHK). Namun demikian, laju pertumbuhan PDRB per Kapita ini masih kalah cepat dengan pertumbuhan PDRB-nya. Perkembangan PDRB per Kapita Kota Bekasi secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3 Perkembangan PDRB per Kapita Kota Bekasi, Tahun PDRB per Kapita (Rp) Pertumbuhan PDRB per Kapita (%) ADHB ADHK ADHB ADHK ,98 2, ,46 3, ,66 2, ,09 3,94 Sumber : Kota Bekasi dalam Angka 2013 e. Ekspor-Impor Ekspor dan impor Kota Bekasi selama kurun waktu tahun menunjukkan perkembangan yang cukup baik, karena menghasilkan ekspor neto yang selalu positif dengan pertumbuhan ekspor yang selalu tinggi. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 5

17 Perkembangan ekspor Kota Bekasi pada tahun 2008 tercatat sebesar US$ ,94 dan meningkat menjadi US$ ,00 pada tahun Sementara itu, nilai impor pada tahun 2008 tercatat sebesar US$ ,75 meningkat menjadi US$ ,00 pada tahun Perkembangan ekspor-impor Kota Bekasi tahun disajikan pada Tabel 2.4. berikut ini. Tabel 2.4 Perkembangan Ekspor-Impor Kota Bekasi, Nilai (US$) Pertumbuhan (%) Tahun Ekspor Impor Ekspor Neto Ekspor Impor Ekspor Neto , , , , , ,36 59,79 21,52 77, , , ,48 17,65 4,10 21, , , ,26 70,05-50,00 102, , , ,94 83,33 270,00 71, , , ,00 79,22 84,42 78,47 Sumber : Kota Bekasi Dalam Angka 2013 Perkembangan capaian Indikator kesejahteraan ekonomi Kota Bekasi secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.5 Indikator Makro Ekonomi Kota Bekasi No. Indikator * 1. PDRB ADH Konstan (juta rupiah) Pertumbuhan Ekonomi (%) 6,19 6,23 3. PDRB ADH Berlaku (juta rupiah) PDRB Perkapita ADH Berlaku (rupiah) Laju Inflasi (%) ,65 6. Ekspor (USD) Impor (USD) Pendapatan Pajak Daerah (Rp) DAU (Rp) Angkatan Kerja (org) Jumlah Usia Kerja (15+) (org) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 13. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumber : Kota Bekasi Dalam Angka, , Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 6

18 2.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2015 dan 2016 Kondisi perekonomian Kota Bekasi tahun 2015 masih dipengaruhi oleh perkembangan kondisi perekonomian dunia, perekonomian nasional, maupun perekonomian regional Provinsi Jawa Barat. Tantangan yang dihadapi berkaitan dengan kondisi perekonomian di tingkat internasional antara lain krisis ekonomi global yang dampaknya diperkirakan makin meluas di wilayah Eropa dan Amerika, yang menyebabkan melemahnya perekonomian dunia sampai akhir tahun 2015, dan dimungkinkan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh pada daya tahan perekonomian Indonesia. Selain itu, situasi dalam negeri terkait dengan berbagai kebijakan pemerintah, juga akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia yang kesemuanya akan berimbas pula pada kondisi perekonomian di Jawa Barat dan Kota Bekasi pada tahun Berlakunya perdagangan bebas Asean Economic Community (AEC) tahun 2015 dan berlanjutnya perdagangan bebas antara Asia Tenggara dan China (ACFTA) sejak tahun Dengan adanya AEC tahun 2015 ada potensi terjadinya perubahan pola kerjasama ekonomi, dan struktur dan komponen perekonomian yang ada. AEC juga membuka peluang pengembangan ekspor oleh masing-masing negara ASEAN yang membuat pasar domestik terancam. Semakin intensifnya pasar bebas/globalisasi menuntut peningkatan kualitas produk barang dan jasa secara lebih kompetitif. Untuk itu dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi dan daya saing produk-produk lokal di pasar regional ataupun global, tantangan ke depan adalah meningkatkan kualitas dan produktivitas barang dan jasa secara bertahap dengan tetap mengacu pada Standar Mutu Nasional maupun Standar Mutu Internasional. Tantangan lainnya adalah tingginya permintaan impor produk bahan baku industri. Kondisi ini menjadikan perekonomian indonesia belum kokoh dan rentan terhadap gejolak global. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku dari negara lain berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi pada kondisi perekonomian dunia yang kurang baik, seperti nilai tukar rupiah yang melemah, sehingga terjadi inflasi yang tinggi. Beberapa kebijakan pemerintah juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah, antara lain longgarnya penerapan kebijakan pengurangan subsidi BBM dan tarif dasar listrik. Berdasarkan pertumbuhan ekonomi beberapa tahun sebelumnya dan mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional dan dunia, laju pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi pada tahun 2015 dan 2016 diperkirakan mencapai 6,57 persen dan 6,70 persen. Laju pertumbuhan sedemikian relatif menunjukkan Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 7

19 sedikit percepatan dibandingkan tahun-tahun 2013 dan 2014 yang masing-masing mencapai 6,19 persen dan 6,3 persen. Hal ini disebabkan antara lain oleh lambatnya laju pertumbuhan sektor industri pengolahan yang merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB Kota Bekasi. Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan pada tahun 2015 diperkirakan sebesar 4,29 persen dan tahun 2016 sebesar 4,53 persen yang relatif lebih rendah dari tingkat pertumbuhan total PDRB. Sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor listrik, gas dan air bersih merupakan sektor-sektor yang diperkirakan laju pertumbuhannya pada tahun 2015 dan 2016 konsisten tinggi. Sementara sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor bangunan dan sektor jasa-jasa diperkirakan masih memiliki laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari laju PDRB-nya. Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Tahun dapat dilihat pada Tabel 2.6 berikut ini. Tabel 2.6 Proyeksi PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun LAPANGAN USAHA Nilai Pertumbuhan Nilai (juta Rp) (%) (juta Rp) (1) (2) (3) (2) (3) 1. Pertanian ,08 1, ,02 0,96 2. Pertambangan Pertumbuhan (%) 3. Industri ,06 4, ,40 4,53 Pengolahan 4. Listrik, Gas, dan ,96 10, ,03 9,99 Air 5. Bangunan ,92 8, ,52 8,96 6. Perdagangan, ,30 7, ,96 7,60 Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan ,38 10, ,32 9,31 dan Komunikasi 8. Keuangan, ,90 8, ,93 8,34 Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa ,30 6, ,63 6,41 PDRB ,90 6, ,81 6,70 Sumber : Hasil Proyeksi Berdasarkan distribusi PDRB Kota Bekasi atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha, dua sektor yang diperkirakan tetap memberikan kontribusi terbesar pada tahun 2015 dan 2016 adalah sektor industri pengolahan dan sektor Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 8

20 perdagangan, hotel dan restoran. Sementara sektor pengangkutan dan komunikasi menunjukkan perkembangan yang baik dengan kontribusi terhadap pembentukan PDRB pada urutan ketiga. Proyeksi distribusi PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Tahun dapat dilihat pada Tabel 2.7 berikut ini. Tabel 2.7 Proyeksi Distribusi PDRB Kota Bekasi Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun LAPANGAN USAHA Nilai Distribusi Nilai Distribusi (juta Rp) (%) (juta Rp) (%) (1) (2) (3) (2) (3) 1. Pertanian ,76 0, ,03 0,74 2. Pertambangan Industri Pengolahan ,99 40, ,37 39,87 4. Listrik, Gas, dan Air ,67 4, ,90 4,26 5. Bangunan ,20 3, ,91 3,90 6. Perdagangan, Hotel ,01 32, ,73 32,66 dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan ,17 9, ,33 9, ,50 3, ,96 3,93 9. Jasa-jasa ,44 5, ,90 5,58 PDRB ,75 100, ,12 100,00 Sumber : Hasil Proyeksi Untuk mewujudkan laju pertumbuhan ekonomi sesuai dengan atau melebihi proyeksi tersebut, maka : Kinerja sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Kota Bekasi harus diusahakan untuk bisa ditingkatkan laju pertumbuhannya dengan mendorong investasi di sektor ini. Upaya yang bisa dilakukan diantaranya adalah mempermudah dan mempercepat proses perizinan usaha serta mengembangkan infrastruktur yang mendukung sektor industri pengolahan. Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memiliki kontribusi terhadap PDRB dan laju pertumbuhan yang tinggi terus dipertahankan dan didorong agar bisa lebih produktif. Sektor listrik, gas dan air bersih, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa yang tumbuh pesat seiring pesatnya perkembangan sektor bangunan di Kota Bekasi perlu Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 9

21 didorong untuk bisa meningkatkan kontribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota Bekasi. Secara umum kebijakan ekonomi daerah Kota Bekasi tahun 2016 diarahkan pada : 1. Mempertahankan dan meningkatkan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan dengan tingkat pertumbuhan minimal 6,5% melalui paket pemberian intensif kemudahan perijinan; 2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah menjadi di atas 7% per tahun; 3. Meningkatkan kualitas belanja pemerintah melalui peningkatan belanja investasi; 4. Meningkatkan investasi daerah melalui intensifikasi promosi potensi daerah; 5. Menggali dan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, khususnya lapangan usaha ekonomi kerakyatan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas UMKM dan koperasi. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 II- 10

22 BAB III ASUMSI ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) 3.1. Asumsi Dasar Dalam APBN Tahun 2016 Beberapa asumsi yang digunakan oleh pemerintah dalam penyusunan APBN tahun 2016 sebagai berikut: 1. Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 ditargetkan untuk mencapai kisaran pertumbuhan 6,4% sampai 6,6%. 2. Laju inflasi pada tahun 2016 diperkirakan akan mencapai kisaran 4,0% sampai 5,0%. Upaya menjaga inflasi tersebut didukung upaya pemerintah menjamin pasokan kebutuhan pokok masyarakat, perbaikan distribusi barang kebutuhan ke seluruh pelosok nusantara. 3. Jumlah penduduk miskin diharapkan dapat ditekan pertumbuhannya, dan pada tahun 2016 ditargetkan berkisar 9,0% sampai 10,0%. 4. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan menurun hingga hanya mencapai 5,2% sampai 5,5%. 5. Nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika serikat, diperkirakan masih akan mengalami depresiasi yang merupakan implikasi dari beragam faktor luar maupun dalam negeri. Nilai rupiah tahun 2016 diperkirakan masih mengalami fluktuasi di kisaran per dollar AS. 6. ICP (harga minyak mentah Indonesia) pada tahun 2016 diperkirakan pada kisaran per barel per hari. 7. Lifting gas bumi pada tahun 2016 diperkirakan mencapai barel setara minyak per hari Laju Inflasi Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, disertai tingkat perkembangan harga (inflasi) juga tinggi akan berdampak terhadap menurunnya daya beli masyarakat. Sementara itu dalam dimensi makro, inflasi yang tinggi juga dapat mengurangi daya saing atas produk barang dan jasa. Laju inflasi Kota Bekasi tahun 2016 sesuai dengan RPJMD ditargetkan kurang dari 6%. Keterlibatan langsung pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai kebijakan sangat diperlukan guna menjaga stabilitas harga. Pada periode sebelumnya, laju inflasi diharapkan tetap terjaga dengan asumsi tidak diberlakukan kebijakan kenaikan harga BBM, gas, dan tarif dasar Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 III- 1

23 listrik. Namun demikian, seiring perkembangan kondisi perekonomian nasional sebagai implikasi dari diberlakukannya mekanisme penetapan tarif harga BBM serta penyesuaian tarif harga dasar listrik dan gas, diperkirakan tahun 2015 inflasi di Kota Bekasi berpotensi mencapai 7,41%, meskipun pada tahun 2016 seiring perkembangan stabilitas perekonomian nasional yang sedikit membaik, diprediksikan inflasi di Kota Bekasi mencapai 7,24% Pertumbuhan Ekonomi Diharapkan kegiatan perekonomian Kota Bekasi pada tahun 2016 dapat pulih kembali walaupun masih dirasakan akibat dampak krisis perekonomian global sehingga pertumbuhan dari masing masing sektor dapat memberikan kontribusi yang lebih terhadap PDRB. Prediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 7,12%, dan tahun 2016 sebesar 7,29% dapat tercapai jika stabilitas harga barang dan jasa terjaga Asumsi Lainnya Beberapa asumsi lain yang digunakan dalam penyusunan APBD tahun 2016 sebagai berikut: 1. PDRB perkapita atas dasar harga berlaku Kota Bekasi diharapkan dapat meningkat menjadi sebesar Rp ,00 pada tahun 2016 seiring dengan peningkatan PDRB. 2. Tingkat pengangguran terbuka Kota Bekasi diharapkan menurun menjadi 10,1% pada tahun Pengangguran diharapkan semakin menurun apabila didukung peningkatan investasi. Oleh karena itu perlu diciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga dapat meningkatkan minat dan realisasi investasi di Kota Bekasi. 3. Diharapkan jumlah penduduk miskin diharapkan dapat menurun seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita penduduk. Pada tahun 2015 direncanakan persentase penduduk miskin menurun menjadi 5,72% dan pada tahun 2016 ditargetkan dapat diturunkan hingga kisaran 5,5%. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 III- 2

24 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH 4.1 Kebijakan Pendapatan Daerah 1. Kinerja Pendapatan Daerah Komponen pendapatan daerah Kota Bekasi meliputi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan. Kelompok Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Kelompok pendapatan daerah yang berasal dari Dana Perimbangan menurut jenis pendapatan terdiri dari bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. Pendapatan daerah Kota Bekasi meningkat dari tahun ke tahun, baik dari target maupun realisasinya yang terlihat pada Tabel 3.1. Selama periode tahun , kinerja realisasi pendapatan daerah lebih dari 100% atau melebihi dari target, kecuali tahun 2010, 2013 dan 2014 yang kurang dari target. Kinerja realisasi pendapatan lebih dari 100% menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Bekasi berhasil menghimpun sumber pendapatan melebihi target yang ditetapkan pada awal tahun rencana. Pertumbuhan realisasi pendapatan tertinggi terjadi tahun 2011 (40,09%), sedangkan pertumbuhan realisasi pendapatan terendah terjadi pada tahun 2010 sebesar (7,33%). Tabel 4.1. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi, Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp) Kinerja (%) Pertumbuhan (%) Target Realisasi ,91 16,19 16, ,29 17,13 7, ,57 27,54 40, ,70 24,31 20, ,64 11,56 10, ,51 20,05 17,48 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kota Bekasi, 2015, diolah Berdasarkan proporsi realisasi komponen pendapatan terhadap total pendapatan daerah pada periode menunjukkan trend peningkatan pada proporsi PAD dan Lain-lain Pendapatan yang Sah serta penurunan pada proporsi Dana Perimbangan. Proporsi PAD terhadap total pendapatan daerah tahun 2009 sebesar 15,69% dan meningkat menjadi 34,63% pada tahun Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 1

25 Sementara proporsi dana perimbangan tahun 2009 sebesar 57,86% dan menurun menjadi 36,97% pada tahun Nominal PAD Kota Bekasi tahun 2009 sebesar Rp dan secara bertahap dari tahun ke tahun meningkat hingga pada tahun 2014 mencapai Rp Kenaikan PAD yang cukup signifikan dipengaruhi oleh adanya pelimpahan kewenangan pengelolaan beberapa pajak diantaranya Pajak Bumi dan Bangunan serta BPHTB (berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009). Meningkatnya proporsi PAD berarti meningkatnya kemandirian daerah. Semakin tinggi kemampuan daerah dalam menghasilkan PAD, maka semakin besar pula diskresi daerah untuk menggunakan PAD tersebut sesuai dengan aspirasi, kebutuhan, dan prioritas pembangunan daerah. Pada Tabel 4.2 disajikan rincian proporsi realisasi komponen pendapatan terhadap total pendapatan daerah Kota Bekasi periode Tabel 4.2. Proporsi Realisasi Komponen Pendapatan Terhadap Total Pendapatan Daerah Kota Bekasi (Dalam Rupiah dan %) Lain-lain Tahun PAD Dana Perimbangan Total Pendapatan yg Sah ,69 57,86 26, ,84 57,81 23, ,60 43,24 31, ,41 45,34 27, ,80 40,10 27, ,63 36,97 28, Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kota Bekasi, 2015, diolah Apabila dana alokasi khusus komponen pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan serta dana penyesuaian dan otonomi khusus dan bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya yang merupakan komponen lain-lain pendapatan yang sah dikeluarkan dari perhitungan pendapatan daerah, maka realisasi pendapatan daerah Kota Bekasi kurun waktu akan terlihat seperti pada Tabel 4.3. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 2

26 Tabel 4.3. Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi Penerimaan Daerah*) Pertumbuhan Tahun (Rp) (%) , , , , , ,72 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kota Bekasi, diolah *)Tanpa Dana Alokasi Khusus, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus, dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya Grafik 4.1 Realisasi Pendapatan Daerah Kota Bekasi Melihat Tabel 4.3 dan diagram diatas, menunjukkan perkembangan pendapatan daerah tanpa memasukkan Dana Alokasi Khusus, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus, dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya. Pada tahun 2009 pendapatan daerah tercatat mencapai Rp dan pada tahun 2014 tercatat meningkat menjadi Rp atau tumbuh rata-rata 17,43% per tahun. 2. Proyeksi Pendapatan Daerah Rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah periode tercatat sebesar 17,43% per tahun, sedangkan pertumbuhan pendapatan daerah pada tahun 2016 berdasarkan RPJMD diproyeksikan sebesar 11,72 persen. Berdasarkan data pertumbuhan realisasi pendapatan daerah serta Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 3

27 proyeksi pertumbuhan pendapatan daerah RPJMD untuk tahun 2015 (11,48%), pendapatan daerah untuk tahun 2016 diprediksi akan mengalami pertumbuhan pada kisaran 11,72%. a. Pendapatan Asli Daerah Perkembangan realisasi penerimaan PAD Kota Bekasi menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. PAD Kota Bekasi pada tahun 2013 sebesar Rp ,00 atau tumbuh 32,14% dibanding tahun sebelumnya yang tercatat Rp ,00. Pertumbuhan PAD yang tinggi ini terutama ditopang oleh tingginya pertumbuhan pendapatan pajak daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, yang masing masing tumbuh sebesar 45,37% dan 30,68%. Tingginya pertumbuhan pendapatan pajak daerah disebabkan oleh pengalihan kewenangan pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari Pusat ke Daerah. Berdasarkan APBD tahun 2014, realisasi PAD mencapai Rp , sedangkan untuk tahun 2015 PAD diperkirakan mencapai atau meningkat sebesar Rp (10,01%) dari tahun sebelumnya. Berdasarkan kondisi tersebut, PAD pada tahun 2016 diperkirakan akan mencapai Rp atau meningkat Rp (19,18%) dari tahun sebelumnya. b. Dana Perimbangan Dana Perimbangan pada tahun 2013 sebesar Rp atau mengalami penurunan sebesar 2,36% dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp Penurunan dana perimbangan ini terkait dengan pengalihan kewenangan pengelolaan bagi hasil pajak dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kota. Pada APBD tahun 2014, dana perimbangan sebesar Rp , dan tahun 2015 diperkirakan Rp. Rp atau meningkat sebesar Rp (7,28%). Berdasarkan kondisi tersebut pada tahun 2016 jumlah dana perimbangan diperkirakan sebesar Rp atau meningkat sekitar Rp (4,90%) dari tahun Namun yang perlu diperhatikan bahwa, tahun 2016 telah memasukkan perkiraan Dana Alokasi Khusus (DAK) yaitu sebesar Rp Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 4

28 c. Lain-lain Pendapatan Yang Sah Pada tahun 2013 realisasi sumber pendanaan yang berasal dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Kota Bekasi sebesar Rp atau meningkat Rp (9,76%) dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 penerimaan pendapatan dari sumber pendanaan lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp meningkat signifikan (23,12%) dari penerimaan di tahun Pada tahun 2015 diperkirakan akan terjadi penurunan penerimaan dari pos ini menjadi sebesar Rp atau menurun sekitar Rp (3,24%) dari tahun Berdasarkan kondisi tersebut, pada tahun 2016 jumlah penerimaan diprediksi sekitar Rp atau meningkat sekitar Rp (1,64%) dari tahun Perkiraan besaran penerimaaan dari pos Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah untuk tahun 2015 dan 2016 ini belum memasukkan komponen Bantuan Keuangan dari Provinsi. Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Daerah Kota Bekasi tahun disajikan pada Tabel 4.4. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 5

29 Tabel 4.4 Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Daerah Kota Bekasi Tahun Jumlah (Rupiah) No Uraian Proyeksi/Target Realisasi Tahun 2012 Realisasi Tahun 2013 Realisasi 2014 *) Tahun Berjalan 2015 **) Tahun 2016 **) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1.1. Pendapatan Asli Daerah , , ,00 1,580,249,805, Pajak Daerah , , , ,00 1,159,963,084, Retribusi Daerah , , , ,00 80,827,193, Hasil pengelolaan keuangan , , , ,00 14,347,038, Daerah Yang Dipisahkan Lain-Lain PAD yang sah , , , ,00 325,112,488, Dana Perimbangan , , ,00 1,447,949,032, Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi , , , ,00 143,047,538, Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum , , , ,00 1,233,705,774, Dana Alokasi Khusus , , , ,00 71,195,720, Lain-Lain Pendapatan Daerah , , ,00 972,096,155, yang Sah Hibah , ,00 6,000,000, Dana Darurat Dana Bagi Hasil Pajak dari , , , ,00 688,581,817, Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi , , , ,00 277,514,338, Khusus Bantuan Keuangan dari Provinsi , , ,00 0,00 0,00 atau Pemerintah Daerah Lainnya A. JUMLAH PENDAPATAN DAERAH ( ) , , , ,00 4,000,294,992, *) Laporan Realisasi APBD Kota Bekasi Tahun 2014; **) APBD Tahun 2015; ***) Hasil proyeksi R-APBD Tahun 2016, belum memasukkan komponen Bantuan Keuangan dari Provinsi dan Pemda lainnya. Kebijakan Umum Anggaran Kota Bekasi Tahun 2016 IV- 6

DAFTAR ISI. Daftar Isi- i. Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii

DAFTAR ISI. Daftar Isi- i. Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I.1 1.2 Tujuan... I.4 1.3 Dasar Hukum... I.4 BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Kondisi

Lebih terperinci

PARIPURNA 05 Desember 2016 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017

PARIPURNA 05 Desember 2016 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017 PARIPURNA 05 Desember 2016 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017 PEMERINTAH KOTA BEKASI TAHUN 2016 DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik...

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menjelaskan bahwa visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun dapat

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun dapat BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Lamandau Tahun 2012 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2013-2014 dapat digambarkan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis perekonomian daerah, sebagai

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kerangka ekonomi makro daerah akan memberikan gambaran mengenai kemajuan ekonomi yang telah dicapai pada tahun 2010 dan perkiraan tahun

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar dalam Rencana

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota

Lebih terperinci

BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD

BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD 2.1. Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD Dalam penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD ini, perhatian atas perkembangan kondisi perekonomian Kabupaten Lombok

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKANKEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKANKEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKANKEUANGAN DAERAH 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kebijakan ekonomi daerah disusun dalam rangka memberikan solusi jangka pendek dan jangka panjang

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Cianjur tahun 2013 tidak terlepas dari arah kebijakan ekonomi

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH

BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH Nilai (Rp) BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH Penyusunan kerangka ekonomi daerah dalam RKPD ditujukan untuk memberikan gambaran kondisi perekonomian daerah Kabupaten Lebak pada tahun 2006, perkiraan kondisi

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kondisi perekonomian Kota Ambon sepanjang Tahun 2012, turut dipengaruhi oleh kondisi perekenomian

Lebih terperinci

1. Seluruh Komponen Pelaku Pembangunan dalam rangka Penyelenggaraan Tugas Umum Pemerintahan Penyelenggaraan Tugas Pembangunan Daerah

1. Seluruh Komponen Pelaku Pembangunan dalam rangka Penyelenggaraan Tugas Umum Pemerintahan Penyelenggaraan Tugas Pembangunan Daerah PAPARAN MUSYAWARAH RENCANA PEMBANGUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA BEKASI TAHUN 2014 Bekasi, 18 Maret 2013 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI PENDAHULUAN RENCANA KERJA PEMERINTAH

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kerangka Ekonomi Daerah dan Pembiayaan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015 merupakan masa transisi pemerintahan dengan prioritas

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Sleman Tahun 2014 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2015-2016 dapat digambarkan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU-APBD) TAHUN ANGGARAN 2016

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU-APBD) TAHUN ANGGARAN 2016 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU-APBD) TAHUN ANGGARAN 2016 PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2015 DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Nota Kesepakatan...

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3. 1. Arah Kebijakan Ekonomi 3.1.1. Kondisi Ekonomi Tahun 2014 dan Perkiraan Tahun 2015 Peningkatan dan perbaikan kondisi ekonomi

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan salah satu indikator yang

Lebih terperinci

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) 3.1. Asumsi Dasar yang Digunakan Dalam APBN Kebijakan-kebijakan yang mendasari APBN 2017 ditujukan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1. Kondisi Ekonomi Daerah Kota Bogor Salah satu indikator perkembangan ekonomi suatu daerah

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Hal mendasar dalam perencanaan pembangunan tahunan adalah kemampuannya dalam memproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah secara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman BAB III PENUTUP... 13

DAFTAR ISI. Halaman BAB III PENUTUP... 13 DAFTAR ISI Halaman BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBK... 1 1.2. Tujuan Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBK... 2 1.3. Dasar Hukum Penyusunan Kebijakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu 3.1.1 Kondisi Pendapatan Daerah Pendapatan daerah terdiri dari tiga kelompok, yaitu Pendapatan Asli

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN A. PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Berkaitan dengan manajemen keuangan pemerintah daerah, sesuai dengan amanat UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

BAB II EKONOMI MAKRO DAN KEBIJAKAN KEUANGAN

BAB II EKONOMI MAKRO DAN KEBIJAKAN KEUANGAN BAB II EKONOMI MAKRO DAN KEBIJAKAN KEUANGAN 2.1 EKONOMI MAKRO Salah satu tujuan pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat, sehubungan dengan itu pemerintah daerah berupaya mewujudkan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN KABUPATEN WONOGIRI

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN KABUPATEN WONOGIRI BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN KABUPATEN WONOGIRI A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kondisi ekonomi makro yang baik, yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Otonomi daerah yang disahkan melalui Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH Berdasarkan RPJMD Kota Jambi, tahun 2016 merupakan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang merupakan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Sleman Tahun 2011 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2012-2013 dapat digambarkan

Lebih terperinci

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta KUPA

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta KUPA Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Penetapan KUPA Kebijakan Umum Perubahan Anggaran Tahun Anggaran 2017 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DIY Kompleks Kepatihan Danurejan Yogyakarta (0274)

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang,

Lebih terperinci

BAB III PERUBAHAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III PERUBAHAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III PERUBAHAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Kerangka Ekonomi Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah merupakan kerangka implementatif atas pelaksanaan RKPD Kabupaten Sijunjung Tahun

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1. Kondisi Ekonomi Daerah Kota Bogor Salah satu indikator utama perkembangan ekonomi suatu

Lebih terperinci

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN - 3 - LAMPIRAN: NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 910/3839-910/6439 TENTANG : PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA APBD KOTA

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014 PE PEMERINTAH KOTA BEKASI KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2013 DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keputusan politik pemberlakuan otonomi daerah yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2001, telah membawa implikasi yang luas dan serius. Otonomi daerah merupakan fenomena

Lebih terperinci

BAB 3 RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB 3 RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN BAB 3 RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi ke depan masih bertumpu pada sektor pertanian yang kontribusinya

Lebih terperinci

WALIKOTA BIMA KOTA BIMA KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) TAHUN ANGGARAN

WALIKOTA BIMA KOTA BIMA KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) TAHUN ANGGARAN WALIKOTA BIMA KOTA BIMA KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Berpedoman pada amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003

Lebih terperinci

Analisis Isu-Isu Strategis

Analisis Isu-Isu Strategis Analisis Isu-Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang ada pada saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi 5 (lima) tahun ke depan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangkalan perlu

Lebih terperinci

Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2010 III- 1

Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2010 III- 1 BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2010

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam ketentuan umum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, Standar Pelayanan Minimal

Lebih terperinci

PERUBAHAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

PERUBAHAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI SLEMAN NOMOR TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016 PERUBAHAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Maksud Perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

RANCANGAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014

RANCANGAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014 PE PEMERINTAH KOTA BEKASI RANCANGAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2014 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2013 DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar

Lebih terperinci

RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN ANGGARAN 2007

RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN ANGGARAN 2007 RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN ANGGARAN 2007 APBD merupakan penjabaran kuantitatif dari tujuan dan sasaran Pemerintah Daerah serta tugas pokok dan fungsi unit

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kerangka ekonomi makro dan kebijakan keuangan daerah yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Perekonomian suatu daerah merupakan bagian integral dari sistem perekonomian nasional dan regional, yang saling berpengaruh antara

Lebih terperinci

Pemerintah Provinsi Bali

Pemerintah Provinsi Bali BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintah dan kemampuan pendapatan daerah yang memiliki fungsi sebagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan

I. PENDAHULUAN. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan untuk merubah keadaan kearah yang lebih baik, dengan sasaran akhir terciptanya kesejahreraan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kerangka ekonomi makro dan kebijakan keuangan daerah yang dimuat dalam rencana kerja Pemerintah

Lebih terperinci

A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk

A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk Perspektif Kabupaten Berau selama 5 tahun ke depan didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu yang diprediksi menurut asumsi cetiris paribus. Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator

Lebih terperinci

WALIKOTA BEKASI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017

WALIKOTA BEKASI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017 WALIKOTA BEKASI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana kerja pembangunan daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat melalui beberapa proses dan salah satunya adalah dengan

Lebih terperinci

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENANAMAN MODAL PEMERINTAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Komplek Perkantoran Jl.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENANAMAN MODAL PEMERINTAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Komplek Perkantoran Jl. BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENANAMAN MODAL PEMERINTAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Komplek Perkantoran Jl. Serasan Seandanan mor Telp/faks : (07) 90770 Kode Pos e-mail : okusbapeda@yahoo.co.id

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa lalu

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa lalu BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa lalu Pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Sintang diselenggarakan berpedoman pada Undang-Undang Nomor 17

Lebih terperinci

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH 7.1 Kebijakan Umum Pengelolaan Pendapatan Daerah Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara bahwa Keuangan Daerah

Lebih terperinci

Nomor : 050 / 1447 / / 2015 Nomor : 170 / 1070 / / 2015 Tanggal : 24 Juli 2015 Tanggal : 24 Juli 2015

Nomor : 050 / 1447 / / 2015 Nomor : 170 / 1070 / / 2015 Tanggal : 24 Juli 2015 Tanggal : 24 Juli 2015 PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN NGAWI Nomor : 050 / 1447 / 404.202 / 2015 Nomor : 170 / 1070 / 404.040 / 2015

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Bali disusun dengan pendekatan kinerja

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BAB - III Kinerja Keuangan Masa Lalu

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BAB - III Kinerja Keuangan Masa Lalu BAB - III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Kinerja Keuangan Masa Lalu Arah Kebijakan Pengelolaan Keuangan Kebijakan Umum Anggaran Bab ini berisi uraian tentang gambaran umum mengenai pengelolaan keuangan

Lebih terperinci

8.1. Keuangan Daerah APBD

8.1. Keuangan Daerah APBD S alah satu aspek pembangunan yang mendasar dan strategis adalah pembangunan aspek ekonomi, baik pembangunan ekonomi pada tatanan mikro maupun makro. Secara mikro, pembangunan ekonomi lebih menekankan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa Lalu Sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret Bupati Bogor, Hj. NURHAYANTI LAPORAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BOGOR

KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret Bupati Bogor, Hj. NURHAYANTI LAPORAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BOGOR KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-nya, maka Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 dapat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO Jalan Imam Bonjol Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Mukomuko Kode Poss 38364

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO Jalan Imam Bonjol Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Mukomuko Kode Poss 38364 PERATURAN BUPATI MUKOMUKO NOMOR 20 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI MUKOMUKO NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2017 PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO Jalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bagi daerah, indikator ini penting untuk

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bagi daerah, indikator ini penting untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN (REVISI) GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN (REVISI) GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan rencana pengelolaan keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh DPRD dalam Peraturan Daerah

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015 Pemerintah Kota Semarang Tahun 2014 NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SEMARANG DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH NOMOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri.

BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan sumber penerimaan yang sangat penting artinya bagi perekonomian suatu Negara. Demikian juga dengan Indonesia sebagai negara yang sedang membangun,

Lebih terperinci

NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 910/ NOMOR : 910/2.

NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 910/ NOMOR : 910/2. NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 910/2.9445.011 NOMOR : 910/2.118 TANGGAL : 15 Nopember 2010 TENTANG KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU APBD) TAHUN ANGGARAN 2013

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU APBD) TAHUN ANGGARAN 2013 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU APBD) TAHUN ANGGARAN 2013 PEMERINTAH KOTA BEKASI 2012 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BEKASI DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel...

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR ISI. PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii DAFTAR ISI PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi dalam suatu negara sangat penting, karena pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal dan mandiri. Pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan

I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan trend ke arah zona ekonomi sebagai kota metropolitan, kondisi ini adalah sebagai wujud dari

Lebih terperinci

BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka ekonomi makro dan pembiayaan pembangunan Kabupaten Sleman memuat tentang hasil-hasil analisis dan prediksi melalui metode analisis ekonomi

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Arah Dan Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pertumbuhan Ekonomi Kondisi ekonomi makro Kabupaten

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa Lalu

BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa Lalu BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu Pengelolaan keuangan daerah Pemerintah Kota Medan tahun 2005-2009 diselenggarakan sesuai dengan Undang-Undang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara ataupun daerah. Pertumbuhan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa

Lebih terperinci

NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH NOMOR : 178/238/DPRD/2016 NOMOR : 910/205/Bappeda/2016 TANGGAL : 28 Juli 2016 TENTANG KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia memasuki era baru tata pemerintahan sejak tahun 2001 yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah ini didasarkan pada UU

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1 1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) 1 2. Tujuan Penyusunan KUA 2 3. Dasar Hukum Penyusunan KUA 3

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1 1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) 1 2. Tujuan Penyusunan KUA 2 3. Dasar Hukum Penyusunan KUA 3 DAFTAR ISI Hal BAB I PENDAHULUAN 1 1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) 1 2. Tujuan Penyusunan KUA 2 3. Dasar Hukum Penyusunan KUA 3 BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 4 1. Perkembangan

Lebih terperinci

3.2. Kebijakan Pengelolalan Keuangan Periode

3.2. Kebijakan Pengelolalan Keuangan Periode No. Rek Uraian Sebelum Perubahan Jumlah (Rp) Setelah Perubahan Bertambah / (Berkurang) 1 2 3 4 5 116,000,000,000 145,787,728,270 29,787,728,270 (Rp) 3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Daerah Tahun Sebelumnya

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Berdasarkan Pasal 18 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, bahwa dalam rangka penyusunan Rancangan APBD diperlukan penyusunan Kebijakan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN I. VISI Pembangunan di Kabupaten Flores Timur pada tahap kedua RPJPD atau RPJMD tahun 2005-2010 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berkembang dengan jalan capital investment dan human investment bertujuan

I. PENDAHULUAN. berkembang dengan jalan capital investment dan human investment bertujuan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi adalah proses merubah struktur ekonomi yang belum berkembang dengan jalan capital investment dan human investment bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA PEKALONGAN TAHUN 2017

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA PEKALONGAN TAHUN 2017 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA PEKALONGAN TAHUN 2017 PEMERINTAH KOTA PEKALONGAN 2016 Rancangan Kebijakan Umum Anggaran Tahun 2017 DAFTAR ISI iii DAFTAR ISI DAFTAR ISI iv DAFTAR

Lebih terperinci

PAPARAN Rancangan Awal RPJMD Tahun Wates, 27 September 2017

PAPARAN Rancangan Awal RPJMD Tahun Wates, 27 September 2017 PAPARAN Rancangan Awal RPJMD Tahun 2017-2022 Wates, 27 September 2017 1 PDRB PER KAPITA MENURUT KABUPATEN/ KOTA DI D.I. YOGYAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU, 2012-2016 (JUTA RUPIAH) 1 PERSENTASE PENDUDUK

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Bali disusun dengan pendekatan kinerja

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah menguraikan kondisi perekonomian Kabupaten Banyuwangi tahun 2012

Lebih terperinci

BAB III PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH DALAM PRAKTEK

BAB III PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH DALAM PRAKTEK 63 BAB III PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH DALAM PRAKTEK A. Konsep Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Menurut Freedman dalam anggaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang

Lebih terperinci