BAB II KAJIAN PUSTAKA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam kajian pustaka pada bab ini, akan dijelaskan beberapa teori tentang siswa underachiever, karakteristik, ciri-ciri, penyebab siswa menjadi underachiever, upaya pecegahan siswa menjadi underachiever dan strategi guru dalam membantu keberhasilan belajar siswa underachiever. A. Siswa Underachiever 1. Pengertian Siswa Underachiever Menurut Davis dan Rimm (dalam Utami Munandar, 2012), Underachiever atau berprestasi di bawah kemampuan adalah ketidaksesuaian antara prestasi sekolah anak dan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes intelegensi, prestasi atau kreativitas, atau dari data observasi, di mana tingkat prestasi sekolah nyata lebih rendah dari pada tingkat kemampuan anak. Rimm juga mengemukakan (dalam Deden Saepul, 2013), anak underachiever merupakan peserta didik dengan kecerdasan tinggi, tetapi tidak mencapai prestasi yang berkisar 50%. Oleh karena itu, anak underachiever ini termasuk peserta didik cerdas istimewa, dan bukan anak berkebutuhan khusus. Mereka hanyalah peserta didik cerdas istimewa yang kurang terlayani atau terabaikan oleh program cerdas istimewa. Jadi dapat peneliti simpulkan bahwa anak underachiever memiliki tingkat kecerdasan dan keberbakatakan yang tidak seimbang. Selain itu, gejala seorang anak menjadi underachiever muncul ketika 8

2 9 anak mulai terlibat kompetisi di dunia sekolah. Contohnya seorang anak memiliki bakat yang luar biasa di sekolah, namun untuk prestasi belajarnya sangat rendah. 2. Karakteristik Siswa Underachiever Studi longitudinal terhadap anak cerdas istimewa yang dilakukan oleh Lewis Terman (dalam Deden Saepul, 2013), mengungkapkan bahwa karakteristik cerdas istimewa berprestasi rendah yaitu: a. Rendahnya rasa kepercayaan diri b. Ketidakmampuan untuk bertahan c. Kurangnya tujuan/motivasi d. Perasaan rendah diri Pernyataan Lewis Terman mengenai karakteristik anak berbakat berprestasi kurang diperkuat oleh Rimm (dalam Utami Munandar, 2013), yang menjelaskan bahwa karakteristik anak berbakat berprestasi kurang dapat dikategorikan menjadi tiga tingkat yang berbeda sehubungan dengan sebab dan gejala yang tampak yaitu karakterisitik primer, karakteristik sekunder, dan karakteristik tersier. a. Karakteristik Primer: Rasa Harga Diri Rendah Rasa harga diri yang rendah adalah salah satu karakteristik yang paling sering ditemukan secara konsisten pada anak berprestasi kurang. Mereka tidak memiliki kepercayaan diri bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orang tua dan gurunya.

3 10 Mereka menutupi rendahnya rasa harga diri mereka dengan perilaku berani dan menentang atau dengan mekanisme pertahanan diri untuk melindungi diri. Sikap tersebut dapat dicontohkan dengan menyalahkan guru yang mengajar atau dengan menyatakan tidak peduli atau tidak berusaha dengan sungguh-sungguh jika prestasi mereka kurang memuaskan. b. Karakteristik Sekunder: Perilaku Menghindari Salah satu karakteristik gejala yang tampak pada anak underachiever yaitu perilaku menghindari. Perilaku tersebut dapat dicontohkan misalnya saja anak berbakat berprestasi kurang menghindari upaya berprestasi dengan menyatakan bahwa tidak ada gunanya untuk belajar. Selanjutnya mereka dapat mengatakan bahwa jika mereka benar-benar berminat untuk belajar, mereka dapat berprestasi baik. Dengan perilaku menghindari seperti itu, mereka melindungi diri sendiri dari pengakuan bahwa mereka tidak mampu. Pertahanan lain yang dilakukan anak berbakat berprestasi kurang adalah dengan menyalahkan sekolah agar membantu anak berbakat berprestasi kurang menghindari tanggung jawab untuk berprestasi. Selain itu, perfectionism juga merupakan mekanisme pertahanan anak berbakat berprestasi kurang, anak memberi alasan untuk prestasinya yang kurang ialah karena ia menentukan sasaran belajar mereka lebih tinggi daripada siswa lain, dengan sendirinya mereka tidak selalu dapat mencapainya.

4 11 c. Karakteristik Tersier Dari karakteristik primer dan sekunder yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka pada anak berprestasi kurang juga timbul karakteristik tersier. Karakteristik tersier yang timbul pada anak berprestasi kurang antara lain kebiasaan belajar buruk, masalah penerimaan oleh teman sebaya, daya konsentrasi kurang, dan masalah disiplin di rumah dan di sekolah. Melalui karakteristik inilah pendidik melakukan penanganan pertama, yaitu dengan memperbaiki kebiasaan belajar anak dan interaksi anak dengan teman-temannya. Dari ketiga karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidik harus mampu mengatasi prestasi rendah anak berbakat, yaitu dengan cara menangani ketiga tingkat karakterisitik secara terbalik. Pertama dengan mengoreksi pada karakter tersier, dilanjutkan dengan karakteristik sekunder perilaku menghindari tugas, dan yang terakhir membantu anak berbakat berprestasi kurang menangani masalah intinya yaitu rasa harga diri yang rendah. 3. Identifikasi Anak Berbakat Berprestasi Kurang (Underachiever) Untuk mengetahui seorang siswa tergolong anak underachiever atau tidak, diperlukan waktu minimal 2 minggu untuk mengetahuinya dan berikut akan dijelaskan ciri-ciri atau identifikasinya menurut Whitemore (dalam Utami Munandar, 2013).

5 12 Tabel 1 Daftar Identifikasi Ciri-Ciri Underachiever Jika siswa menunjukkan ciri-ciri lebih dari sepuluh dalam daftar, kemungkinan besar ia termasuk anak berbakat berprestasi kurang dan memerlukan evaluasi lebih lanjut. No. Identifikasi 1. Nilai rendah pada prestasi 2. Mencapai nilai rata-rata atau di bawah rata-rata kelas dalam keterampilan dasar, membaca, menulis, berhitung 3. Pekerjaan sehari-hari tidak lengkap atau buruk 4. Memahami dan mengingat konsep-konsep dengan baik jika berminat 5. Kesenjangan antara tingkat kualitatif pekerjaan lisan dan tulisan (secara lebih baik) 6. Pengetahuan faktualnya sangat luas 7. Daya imajinasi kuat 8. Selalu tidak puas dengan tugas dan seninya 9. Kecenderungan ke perfeksionisme dan mengkritik diri sendiri menghindari kegiatan baru seperti untuk menghindari kinerja yang tidak sempurna 10. Menunjukkan prakarsa dalam mengerjakan proyek di rumah yang dipilih sendiri atau keinginannya sendiri 11. Mempunyai minat luas dan mungkin keahlian khusus 12. Rasa harga diri rendah nyata dalam kecenderungan untuk menarik diri atau menjadi agresif di dalam kelas 13. Tidak berfungsi konstruktif di dalam kelompok 14. Menunjukkan kepekaan dalam persepsi terhadap diri sendiri, orang lain, dan terhadap hidup pada umumnya 15. Menetapkan tujuan yang tidak realistis untuk diri sendiri,

6 13 terlalu tinggi atau terlalu rendah 16. Tidak menyukai pekerjaan praktis atau hafalan 17. Tidak mampu memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas-tugas 18. Mempunyai sikap acuh atau negatif terhadap sekolah 19. Menolak upaya guru untuk memotivasi atau mendisiplinkan perilaku di dalam kelas 20. Mengalami kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya, kurang dapat mempertahankan persahabatan Sumber : Whitmore (dalam Utami Munandar, 2013) 4. Penyebab Siswa menjadi Underachiever Underachiever bukanlah sebuah kelainan bawaan dari lahir atau gen yang dibawa sejak kandungan, karena underachiever merupakan sebuah perilaku yang terjadi karena beberapa sebab. Berikut penyebab siswa menjadi underachiever, antara lain: Menurut penelitian Balitbang Diknas (dalam Deden Saepul, 2013), menyimpulkan bahwa ada 2 faktor peserta didik cerdas istimewa mengalami gejala prestasi kurang (underachiever) yaitu: a. Lingkungan belajar yang kurang menantang mereka untuk mewujudkan potensinya secara optimal. b. Model pembelajaran yang kurang kondusif. Selain faktor di atas penyebab seorang anak menjadi underachiever, disebabkan juga dari diri anak dan yang bersumber dari luar atau lingkungan (Deden Saeful, 2013). W.H Burton (dalam Syamsu Yusuf, 2006) mengklarifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan anak

7 14 menjadi underachiever yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu faktor Internal dan faktor eksternal. a. Faktor Internal 1) Ketidakseimbangan mental atau gangguan fungsi mental a) Kurangnya kemampuan mental yang bersifat potensial (kecerdasan) b) Kurangnya kemampuan mental, seperti kurang perhatian, adanya kelainan, lemah dalam berusaha, menunjukkan kegiatan yang berlawanan, kurangnya energi untuk bekerja atau belajar karena kekurangan makanan yang bergizi, kurangnya penguasaan terhadap kebiasaan belajar dan halhal fundamental. c) Kesiapan diri yang kurang matang. 2) Gangguan fisik a) Kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat-alat bicara, dan b) Gangguan kesehatan (sakit-sakitan). 3) Gangguan emosi a) Merasa tidak aman. b) Kurang bisa menyesuaikan diri, baik dengan orang, situasi, maupun kebutuhan.

8 15 c) Adanya perasaan yang kompleks (tidak karuan), perasaan takut yang berlebihan (phobi), perasaan ingin melarikan diri atau menghindar dari masalah yang dialami, dan d) Ketidakmatangan emosi. Ada beberapa faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang meliputi 2 aspek yang harus dipenuhi siswa agar proses belajarnya berhasil menurut Muhibbin Syah (2010), yaitu: 1) Aspek Fisiologis Merujuk dari pernyataan Muhibbin (2010), dapat penulis simpulkan bahwa aspek fisiologis adalah sebuah aspek yang bersifat jasmaniyah seperti gangguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan tonus (tegangan otot) yang dapat mempengaruhi semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. 2) Aspek Psikologis Beberapa aspek psikologis yang mempengaruhi perolehan belajar siswa, antara lain: tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa. a) Intelegensi Siswa Intelegensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu (Ngalim, 2011). Intelegensi pada tiap anak tidak

9 16 sama, adapun rumus untuk mengukur intelegensi menurut William Stern dalam buku Desmita (2009:164), yaitu: Keterangan: - IQ = Intelligence Quotient - MA = Rasio antara usia mental - CA = Rasio antara usia kronologis b) Sikap Siswa Sikap adalah cara seseorang menerima atau menolak sesuatu yang didasarkan pada cara dia memberikan penilaian terhadap objek tertentu yang berguna ataupun tidak bagi dirinya (Nuryanti, 2008). Dapat disimpulkan bahwa sikap seseorang dapat muncul melalui dari hasil yang diterima dan dipelajari melalui indranya. Jika seorang anak sering melihat sekelilingnya atau orang yang terdekat di rumahnya bersikap sangat baik, maka akan menghasilkan sikap yang baik dan sopan pada diri anak. Sikap yang baik dan sopan dapat ditunjukkan pada anak saat belajar, ini ditujukkan dengan maksud agar anak memiliki sikap positif. Sikap yang demikian dapat

10 17 membentuk anak bersikap baik terhadap proses belajar dan usaha pengembangan potensi dirinya. c) Bakat Siswa Menurut Chaplin (dalam Muhibbin Syah, 2010), bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Sedangkan menurut Lusi Nuryanti (2008), bakat adalah kapasitas untuk belajar dan baru akan muncul setelah melalui proses latihan dan usaha pengembangan. Dapat penulis simpulkan bahwa bakat muncul ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba dan berlatih secara terus menerus. Anak berbakat akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dari pada anak yang sejak awal tidak menyimpan bakat dalam suatu bidang tertentu. Bakat juga mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa, jika siswa tidak sadar akan bakatnya sendiri dalam memilih jurusan di sekolahnya atau bahkan melalui pemaksaan orang tua, maka akan berpengaruh buruk terhadap kinerja akademiknya. d) Minat Siswa Minat adalah kecenderungan seseorang terhadap sesuatu atau bisa dikatakan apa yang disukai seseorang untuk dilakukan (Nuryanti, 2008). Minat sangat berpengaruh

11 18 terhadap prestasi belajar anak, jika saat belajar keadaan hati anak senang dan sangat berminat untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tentu saja akan menghasilkan sebuah hasil belajar yang baik. e) Motivasi Siswa Menurut Nuryanti (2008), motivasi adalah dorongan pada diri seseorang untuk meraih yang terbaik dalam bidang tertentu. Motivasi yang terkait dalam bidang akademik akan muncul dalam bentuk: - Usaha untuk mendapatkan nilai yang baik - Dapat mengatasi rintangan belajar - Mempertahankan kualitas prestasi belajar yang baik - Bersaing dengan orang lain untuk menjadi yang terbaik Dimyati (2010), mengemukakan pentingnya motivasi belajar bagi siswa, antara lain: - Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir. - Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan teman sebaya. - Mengarahkan kegiatan belajar. - Membesarkan semangat belajar.

12 19 - Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya adalah istirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. b. Faktor Eksternal Menurut Muhibbin Syah (2010), faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar diri siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor eksternal yang menyebabkan siswa kesulitan belajar sehingga menyebabkan anak menjadi underachiever, antara lain: 1) Lingkungan Keluarga Pusat pendidikan yang utama dan pertama adalah keluarga, namun terkadang, dalam lingkungan keluarga juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak di rumah juga sangat berpengaruh terhadap kondisi akademik anak di sekolah. Jane Brooks (2011), mengemukakan bahwa orangtua harus bertindak untuk menyelesaikan kesulitan karena pencapaian di sekolah memiliki dampak jangka panjang. Terkadang masalah yang ada di rumah dibawa anak hingga ke sekolah, sehingga menyebabkan konsentrasi dan semangat belajar anak menurun.

13 20 2) Lingkungan Sekolah Utami Munandar (2012), menyatakan bahwa ada beberapa kondisi pribadi dan sekolah yang dapat menimbulkan masalah bagi anak berbakat yang merupakan awal dari pola perilaku berprestasi di bawah taraf kemampuan, antara lain mengenai kondisi di sekolah. Whitemore (dalam Utami Munandar, 2012), menggambarkan lingkungan kelas yang menyebabkan terjadinya underachievement, yaitu kurang menghargai anak sebagai individu, iklim yang sangat kompetitif, penekanan pada evaluasi eksternal, kekakuan, perhatian yang berlebih terhadap kesalahan dan kegagalan, dan kurikulum yang tidak menunjang keberbakatan. a) Kelas yang tidak fleksibel Anak berbakat intelektual belajar lebih cepat dan lebih mudah memadukan informasi. Anak berbakat mengamati bahwa jika menyelesaikan tugas dengan cepat akan diberikan tugas-tugas lain yang tidak menantang tetapi sekedar untuk menyibukkan anak, sehingga anak menjadi bosan dan menganggap tugas tambahan sebagai hukum untuk bekerja cepat. Agar tidak diberi tugas-tugas lain ia bekerja lebih lambat sehingga selesai bersama dengan anakanak lain. Namun, karena pikirannya tetap aktif, ia mencari

14 21 kesibukan lain, seperti diam-diam membaca buku lain yang menarik, melamun, atau mengganggu tata tertib kelas. Ia kurang memperhatikan tugas-tugas belajar reguler, yang baginya membosankan, sehingga prestasinya menurun. b) Kelas yang kompetitif Pengumuman nilai-nilai siswa dan perbandingan hasil tes siswa secara terus menerus sangat mendorong persaingan di dalam kelas. Anak yang berprestasi baik dan selalu mendapat prestasi tinggi akan menjadi termotivasi, namun untuk siswa yang berprestasi kurang akan merasakan dampak yang tidak baik dari persaingan tersebut. Setiap hari mereka mengalami bahwa mereka tidak dapat memenuhi standar keunggulan di kelas. Guru hanya menghargai prestasi dan karena anak-anak ini tidak percaya bahwa mereka mampu memperoleh penghargaan guru, maka mereka mencari cara-cara lain di dalam kelas untuk mendapat penghargaan atau bersikap defensive untuk mempertahankan diri. 3) Lingkungan Masyarakat Luas Menurut Erikson (dalam Sudarwan Danim, 2010), pada fase sekolah usia 6-12 tahun merupakan tahap yang sangat penting

15 22 bagi pengembangan sosial dan jika manusia mengalami perasaan yang belum terselesaikan, ketidak cukupan kemampuan, dan inferioritas di antara rekan-rekannya, dia dapat memiliki masalah serius dalam hal kompetensi dan harga diri. Dapat disimpulkan bahwa interaksi anak dengan teman sebaya atau lingkungan bermainnya sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. B. Upaya Pencegahan Siswa menjadi Underachiever Mencegah lebih baik dari pada mengobati, itulah yang sering dikatakan orang sebagai motivasi diri agar menjadi individu yang sehat jasmani dan rohani. Begitu pula dengan kasus underachiever ini dapat dicegah oleh guru maupun orangtua siswa. Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah siswa menjadi underachiever menurut Jeanne Ellis (2008) yaitu: a. Terima anak apa adanya dan beri dorongan Kemampuan yang dimiliki anak terbatas, sebagai orangtua maupun guru janganlah menuntut anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan atau di luar kemampuan anak. Apapun prestasi anak, orangtua harus percaya kepada anak, menghargainya bahwa dia telah berusaha maksimal, dan jangan berkata kasar ketika prestasi yang diperoleh anak tidak sesuai dengan keinginan orangtua. b. Target yang realistis

16 23 Orangtua dan guru harus membuat target yang diperkirakan sesuai dengan kemampuan anak. Jangan terlalu berharap anak akan cepat mengatasi masalahnya, karena semua membutuhkan proses. c. Kuasai seni menuntut Menuntut anak dengan target tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah adalah sebuah seni yang harus dikuasai guru. Berikanlah tugas kepada anak sesuai dengan kemampuannya, karena tugas yang terlalu mudah juga tidak membuat anak tertantang untuk menunjukkan kemampuannya. Sebaliknya, kegagalan yang terus-menerus karena soal yang terlalu sulit akan membunuh motivasi anak. d. Ajari dan beri contoh belajar aktif dan memecahkan masalah Pemecahan masalah adalah suatu pemikiran yang terarah secara langsung untuk menemukan solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik (Robert Solso, 2012:434). Seperti halnya pernyataan Solso mengenai pemecahan masalah, sebagai orangtua dan guru harus mampu memberikan penerapan pada anak bahwa mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban itu mengasyikkan, dan belajar itu menyenangkan. Penerapan yang sederhana tersebut dapat membantu anak untuk memecahkan masalah dengan rasa senang tanpa ada ketegangan. e. Berikan imbalan atau reward ketika anak menunjukkan prestasi belajar

17 24 Anak underachiever biasanya kurang memiliki rasa tanggung jawab atas dirinya sendiri, termasuk prestasinya. Anak yang selalu dihargai karena prestasinya, pada umumnya akan lebih termotivasi untuk berprestasi. Sistem imbalan atau reward ini akan membantu anak untuk membangkitkan rasa tanggung jawabnya, namun dengan begitu orangtua juga harus pandai dalam memilih reward yang diberikan pada anak. C. Strategi Guru dalam Membantu Keberhasilan Belajar Siswa Underachiever Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah perilaku underachiever pada anak, guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut (Muhibbin, 2010). Langkah-langkah yang harus ditempuh guru dalam memberikan bantuan atau penanganan yang efektif bagi siswa underachiever, antara lain: 1. Mengenali Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar Tes diagnostik merupakan instrumen untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu (Prayitno dan Erman, 2004). Weener dan Senf (dalam Muhibbin Syah, 2010), mengemukakan banyak langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, yaitu: a. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.

18 25 b. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar. c. Mewawancarai orangtua siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar. d. Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa. e. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. 2. Memahami Sifat dan Jenis Kesulitan Belajarnya Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah tersebut dapat diketahui secara pasti (Muhibbin, 2010). Terkadang siswa dilihat berhasil atau tidaknya di sekolah terlihat sebelumnya dari IQ tinggi yang ia miliki, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan seorang anak berhasil dan tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Ada seorang anak yang memiliki IQ rendah namun prestasinya tinggi, ini kemungkinan saja anak tersebut termasuk anak yang terisolasi di dalam kelasnya. Begitu juga sebaliknya siswa memiliki IQ tinggi, namun berprestasi rendah. Hal yang demikianlah yang harus mendapat pemahaman yang lebih mendalam tentang jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak.

19 26 Jadi dapat penulis simpulkan, bahwa setiap kesulitan belajar yang dialami anak memiliki sifat dan jenis yang berbeda. Guru harus pintarpintar dalam mendiagnosis kesulitan belajar pada anak, agar dalam penanganannya dilakukan tindakan yang tepat. 3. Menetapkan Latar Belakang Kesulitan Belajar Kegiatan yang dilakukan dalam langkah ini menurut Muhibbin (2010) yaitu mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap individu dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data untuk mencari latar belakang permasalahan yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar. Setelah menemukan kelas atau individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka selanjutnya masalah-masalah yang harus ditelaah menurut Makmun Abin (2005), antara lain: a. Mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. b. Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi. c. Analisis terhadap catatan mengenai proses pembelajaran. 4. Menetapkan Usaha-Usaha Bantuan Dalam menetapkan usaha bantuan harus berdasarkan hasil diagnostik yang sudah dilakukan sebelumnya, sehingga dari hasil diagnostik tersebut dapat ditentukan bidang kecakapan masalah dan perbaikannnya. Kategori bidang kecakapan menurut Muhibbin (2010), antara lain:

20 27 a. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri. b. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orangtua. c. Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orangtua. Adapun upaya guru dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar menurut Prayitno dan Erman (2004), yaitu dengan: a. Pengajaran perbaikan b. Kegiatan pengayaan c. Peningkatan motivasi belajar d. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif 5. Pelaksanaan Bantuan Langkah pelaksanaan bantuan untuk menangani siswa underachiever harus secara sistematis dan berkelanjutan. Menurut Rimm (dalam Utami Munandar, 2012), dalam mengatasi siswa underachiever memerlukan strategi dan kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam menerapkan lima langkah penting, yaitu: a. Asesmen Kemampuan Anak dan Kemungkinan Penguatan Langkah pertama yang harus ditempuh untuk mengatasi prestasi kurang dari anak berbakat yaitu sebaiknya dengan kerjasama antara psikolog, guru, dan orangtua, yang mampu melakukan pengukuran

21 28 atau pengetesan, memahami berbagai gaya, masalah belajar, dan motivasi, menguasai teori belajar perilaku dan mengenal karakteristik khusus dari anak berbakat dan kreatif. Wawancara dengan orangtua membantu untuk menemukan pola berprestasi kurang yang nyata di rumah dan di sekolah. Analisis dari kemampuan anak dan sejauh mana lingkungan rumah dan sekolah memperkuat pola berprestasi kurang, penting untuk langkah kedua dari program menangani anak underachiever. b. Modifikasi Penguatan di Rumah dan di Sekolah Dari hasil analisis perilaku anak dan wawancara orangtua pada langkah pertama dapat ditemukan keadaan di rumah dan sekolah yang menyebabkan anak berprestasi kurang. Perilaku anak perlu diubah dengan menentukan tujuan jangka panjang dan beberapa sasaran jangka pendek yang menjamin anak mengalami keberhasilan langsung, meskipun kecil baik di rumah maupun di sekolah. Pengalaman keberhasilan ini perlu diperkuat dengan penghargaan atau hadiah yang tidak perlu mahal. c. Mengubah Harapan Orang yang Penting Terkadang mengubah lingkungan sekolah anak merupakan cara yang efektif. Sebelum melakukan hal tersebut, kita harus yakin bahwa perubahan lingkungan sekolah akan bermakna, jika anak berbakat luar biasa dihambat dalam lingkungan sekolah yang hanya menentukan tujuan dan harapan yang rata-rata, anak dapat mengubah

22 29 pola prestasinya jika ditempatkan di dalam lingkungan yang menghargai dan mengharapkan prestasi tinggi. Namun, bagi kebanyakan anak lebih realistis untuk mencoba mengubah harapan di dalam sekolah. d. Identifikasi Model yang Ditingkatkan Menemukan model identifikasi bagi anak berprestasi kurang sangat penting melebihi treatment lainnya. Anak berbakat berprestasi kurang, memerlukan tokoh yang berhasil dan berprestasi sebagai model. Identifikasi model tersebut sebaiknya memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap anak. 2) Jenis kelamin yang sama. 3) Kesamaan agama, minat, talenta, latar belakang ekonomi, pengalaman masalah khusus dan sifat-sifat lain. 4) Keterbukaan 5) Kesediaan memberi waktu 6) Menunjukkan rasa kepuasan pada anak underachiever, bahwa prestasi memberikan kepuasan tersendiri dalam diri. e. Mengoreksi Keterampilan yang Kurang Anak berbakat berprestasi kurang sebagai akibat tidak memperhatikan di dalam kelas dan kebiasaan belajar yang buruk

23 30 menunjukkan kekurangan keterampilan yang perlu dikoreksi. Namun, karena ia berbakat ia dapat mengatasinya dengan cukup cepat dengan bantuan tutor dari luar (bukan orangtua). Memperbaiki kekurangan-kekurangan akademis ini perlu dilakukan dengan tepat sehingga anak dapat belajar mandiri, anak tidak dapat memanipulasi tutor, dan anak melihat hubungan antara usaha dan prestasi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan ialah jika ada

BAB II KAJIAN PUSTAKA. underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan ialah jika ada 23 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Underachiever 1. Pengertian Underachiever Menurut pendapat Davis & Rimm (dalam Munandar, 2004) underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan ialah jika ada ketidaksesuaian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam upaya meningkatkan Sumberdaya Manusia (SDM) yang berkualitas, bidang pendidikan memegang peranan yang penting. Pendidikan diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi (knowledge and technology big bang), tuntutan

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi (knowledge and technology big bang), tuntutan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kebutuhan setiap manusia. Apalagi ketika akulturasi, globalisasi, dan modernisasi sedang berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan negara di segala bidang. Agar mendapatkan manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan negara di segala bidang. Agar mendapatkan manusia yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mendukung perkembangan dan pembangunan negara

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kesulitan Balajar 2.1.1 Pengertian Kesulitan Belajar Dalam menempuh proses pembelajaran di sekolah peserta didik tidak luput dari berbagai kesulitan. Tinggi rendahnya hasil belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup individu. Melalui pendidikan, individu memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat dipergunakan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Palangkaraya, 09 Maret Penulis

KATA PENGANTAR. Palangkaraya, 09 Maret Penulis KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayah-nya jualah penulisan makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu. Karena dengan pertolongan-nya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan diharapkan dapat mencetak

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan diharapkan dapat mencetak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan diharapkan dapat mencetak peserta didik yang berkualitas dari segi jasmani maupun rohani, mandiri sesuai dengan tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebaliknya, masyarakat yang sejahtera memberi peluang besar bagi

BAB I PENDAHULUAN. Sebaliknya, masyarakat yang sejahtera memberi peluang besar bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan mempunyai fungsi ganda yaitu untuk pengembangan individu secara optimal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua fungsi ini saling menunjang dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan perilaku maupun sikap yang diinginkan. Pendidikan dapat

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan perilaku maupun sikap yang diinginkan. Pendidikan dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan secara sengaja, teratur dan terprogram dengan tujuan untuk mengubah dan mengembangkan perilaku maupun

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang luar biasa, yang tidak lazim memadukan informasi yang nampaknya tidak

BAB II LANDASAN TEORI. yang luar biasa, yang tidak lazim memadukan informasi yang nampaknya tidak BAB II LANDASAN TEORI II. A. KREATIVITAS II. A. 1. Pengertian Kreativitas Kreativitas merupakan kemampuan untuk melihat dan memikirkan hal-hal yang luar biasa, yang tidak lazim memadukan informasi yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Diskusi 1. Pengertian Diskusi Dalam kegiatan pembejaran dengan metode diskusi merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Era globalisasi ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu yang mampu menyesuaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di bidang tekhnologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pendidikan. Perubahan

BAB I PENDAHULUAN. di bidang tekhnologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pendidikan. Perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada tahun-tahun terakhir terjadi perubahan yang semakin pesat dalam berbagai sektor kehidupan. Perubahan tersebut terjadi sebagai dampak dari kemajuan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup di zaman yang serba sulit masa kini. Pendidikan dapat dimulai dari

BAB I PENDAHULUAN. hidup di zaman yang serba sulit masa kini. Pendidikan dapat dimulai dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu modal yang harus dimiliki untuk hidup di zaman yang serba sulit masa kini. Pendidikan dapat dimulai dari tingkat TK sampai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan semakin pesat, sebagai dampak dari faktor kemajuan di bidang teknologi

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Setelah peneliti memaparkan data dan menghasilkan temuan temuan, pelajaran Matematika pada materi pembagian

BAB V PEMBAHASAN. Setelah peneliti memaparkan data dan menghasilkan temuan temuan, pelajaran Matematika pada materi pembagian 95 BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Temuan Penelitian Setelah peneliti memaparkan data dan menghasilkan temuan temuan, maka kemudian mengkaji hakikat dan makna temuan penelitian. Masing masing temuan penelitian

Lebih terperinci

belajar itu sendiri (Syah, 2011). Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam

belajar itu sendiri (Syah, 2011). Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih sistematis, rasional, dan kritis terhadap permasalahan yang dihadapi.

BAB I PENDAHULUAN. lebih sistematis, rasional, dan kritis terhadap permasalahan yang dihadapi. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara. Pendidikan yang berkualitas tinggi akan membawa kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut, bukan saja dari masukannya yang bervariasi, melainkan dari proses pembelajaran yang diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh mahasiswa. Prestasi adalah hasil dari usaha mengembangkan bakat secara

BAB I PENDAHULUAN. oleh mahasiswa. Prestasi adalah hasil dari usaha mengembangkan bakat secara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan perkembangan suatu bangsa, selain itu pendidikan juga memegang peranan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Belajar Pengertian Belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Belajar Pengertian Belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar 5 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Belajar 2.1.1 Pengertian Belajar Dalam proses pembelajaran, berhasil tidaknya pencapaian tujuan banyak dipengaruhi oleh bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa. Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rata-rata dengan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan

BAB I PENDAHULUAN. rata-rata dengan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tunagrahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dengan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam berinteraksi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatan sumber daya

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatan sumber daya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatan sumber daya manusia. Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk hidup yang unik, tidak ada seorang individu yang sama persis dengan individu yang lain. Salah satunya adalah dalam hal kecepatan dan kemampuan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Keterampilan Mengajar Guru 2.1.1 Pengertian Keterampilan Mengajar Guru. Keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengubah sesuatu hal menjadi lebih bernilai dan memiliki

Lebih terperinci

PERMASALAHAN YANG DIALAMI PESERTA DIDIK UNDERACHIEVER DAN IMPLIKASINYA DALAM PELAYANAN BK (Studi Deskriptif Pada Kelas X di SMA Adabiah 2 Padang)

PERMASALAHAN YANG DIALAMI PESERTA DIDIK UNDERACHIEVER DAN IMPLIKASINYA DALAM PELAYANAN BK (Studi Deskriptif Pada Kelas X di SMA Adabiah 2 Padang) PERMASALAHAN YANG DIALAMI PESERTA DIDIK UNDERACHIEVER DAN IMPLIKASINYA DALAM PELAYANAN BK (Studi Deskriptif Pada Kelas X di SMA Adabiah 2 Padang) JURNAL Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai ujung tombak perubahan memiliki peranan penting dalam mengoptimalkan potensi peserta didik, sehingga peserta didik memiliki kompetensi dalam

Lebih terperinci

Resume Diagnosti kesulitan Belajar

Resume Diagnosti kesulitan Belajar Resume Diagnosti kesulitan Belajar Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau atau mencapai prestasi yang semestinya. Ia diprediksi akan dapat mengejakannya atau mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas

BAB I PENDAHULUAN. Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan formal di Indonesia merupakan rangkaian jenjang pendidikan yang wajib dilakukan oleh seluruh warga Negara Indonesia, di mulai dari Sekolah Dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan. Peran dan kesadaran yang dimiliki orang tua untuk menempatkan anak-anak mereka

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan merupakan usaha. sadar dan terencana untuk mewujudkan susasana belajar dan proses

I. PENDAHULUAN. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan merupakan usaha. sadar dan terencana untuk mewujudkan susasana belajar dan proses I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia yang berkualitas sangat diperlukan dalam pembangunan suatu bangsa. Dinamika pembangunan di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang berusaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.

Lebih terperinci

BERMAIN SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI

BERMAIN SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI BERMAIN SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI Asep Ardiyanto PGSD FIP Universitas PGRI Semarang ardiyanto.hernanda@gmail.com Abstrak Bermain bagi anak usia dini adalah sesuatu yang sangat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia

TINJAUAN PUSTAKA. seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gaya Belajar Gaya Belajar adalah cara atau pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia pendidikan, istilah gaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting namun kadar kepentingannya berbedabeda. Kadar kepentingan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini, kita memasuki dunia yang berkembang serba cepat sehingga memaksa setiap individu untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut. Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan mengantar manusia menuju kesempurnaan. Menurut pendapat Muzayyin (2005) Tugas dan fungsi

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan mengantar manusia menuju kesempurnaan. Menurut pendapat Muzayyin (2005) Tugas dan fungsi 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seeorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa dari segi biologis, psikologis, paedagogis, yang sesuai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan untuk menunjang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan untuk menunjang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan pembangunan bangsa Indonesia yang saat ini dilanda krisis multidimensi. Oleh karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang terus menemukan momentumnya sejak dua

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang terus menemukan momentumnya sejak dua 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses globalisasi yang terus menemukan momentumnya sejak dua dasawarsa menjelang milenium baru telah memunculkan wacana baru dalam berbagai lapangan kehidupan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. siswa dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan

I. PENDAHULUAN. siswa dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan inti dalam suatu proses pendidikan. Tujuan pendidikan akan dicapai dalam bentuk terjadinya tingkah laku dalam diri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam perkembangan selama hidupnya, manusia dihadapkan pada dua peran yaitu sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan tujuan pendidikan formal di sekolah-sekolah atau di lembagalembaga

BAB I PENDAHULUAN. merupakan tujuan pendidikan formal di sekolah-sekolah atau di lembagalembaga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar dalam pengertian yang paling umum adalah setiap perubahan perilaku yang diakibatkan pengalaman atau sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada meningkatnya hubungan antara anak dengan teman-temannya. Jalinan

BAB I PENDAHULUAN. pada meningkatnya hubungan antara anak dengan teman-temannya. Jalinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyesuaian diri berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi tuntutan lingkungan sebagaimana memenuhi kebutuhan sendiri. Keluarga sebagai lingkungan awal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, serta orang tua. Menurut Dimyati dan Mujiono (2006: 7),

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, serta orang tua. Menurut Dimyati dan Mujiono (2006: 7), BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pemberdayaan peserta didik, membangun sumber daya manusia yang berkualitas, serta mengembangkan kreativitas peserta

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA ANTARA KELAS AKSELERASI DAN KELAS NON AKSELERASI

PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA ANTARA KELAS AKSELERASI DAN KELAS NON AKSELERASI PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA ANTARA KELAS AKSELERASI DAN KELAS NON AKSELERASI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Oleh CYNTIA DEWI JAYATI F 100 050 197

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis Pembelajaran Pengayaan...

DAFTAR ISI. II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis Pembelajaran Pengayaan... DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... B. ujuan...... C. Ruang Lingkup... II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan salah satu kelompok di dalam masyarakat. Kehidupan remaja sangat menarik untuk diperbincangkan. Remaja merupakan generasi penerus serta calon

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal

I. PENDAHULUAN. Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan koloni terkecil di dalam masyarakat dan dari keluargalah akan tercipta pribadi-pribadi tertentu yang akan membaur dalam satu masyarakat. Lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia di era globalisasi ini menghadapi dua tantangan besar. Pertama, tantangan untuk mewujudkan stabilitas negara yang mantap meliputi unsur ideologi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keberadaan anak gifted menjadi sangat bernilai. Potensinya yang unggul dalam intelektualitas, kreativitas, dan motivasi menjadikan anak berbakat sebagai kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. dilihat dari beberapa sekolah di beberapa kota di Indonesia, sekolah-sekolah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. dilihat dari beberapa sekolah di beberapa kota di Indonesia, sekolah-sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Perhatian terhadap anak berbakat khususnya di Indonesia sekarang ini sudah memperlihatkan perkembangan yang cukup baik. Perkembangan ini dapat dilihat dari beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang tua ingin anaknya menjadi anak yang mampu. menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya.

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang tua ingin anaknya menjadi anak yang mampu. menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap orang tua ingin anaknya menjadi anak yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Untuk mencapai hal itu, maka orang tua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pendidikan nasional tidak terlepas dari proses pembelajaran di

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pendidikan nasional tidak terlepas dari proses pembelajaran di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keberhasilan pendidikan nasional tidak terlepas dari proses pembelajaran di sekolah. Sekolah merupakan salah satu unsur yang dominan dalam penyelenggaraan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian anak, baik di luar dan di dalam sekolah yang berlangsung seumur hidup. Proses

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN INSTRUMEN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

PENGEMBANGAN INSTRUMEN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR A. DEFINISI KARIR DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR Menurut Sugihartono dkk (2007: 50), diagnosis kesulitan belajar dapat diartikan sebagai proses menentukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Guru berperan penting dalam proses pendidikan anak di sekolah, bagaimana

BAB I PENDAHULUAN. Guru berperan penting dalam proses pendidikan anak di sekolah, bagaimana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru berperan penting dalam proses pendidikan anak di sekolah, bagaimana guru mengajar, berperilaku dan bersikap memiliki pengaruh terhadap siswanya (Syah, 2006). Biasanya,

Lebih terperinci

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK SEKOLAH DASAR

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK SEKOLAH DASAR PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK SEKOLAH DASAR Murhima A. Kau Universitas Negeri Gorontalo Email : murhimakau@ymail.com ABSTRAK Permasalahan kreativitas menjadi sangat penting untuk dibicarakan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PENDIDIKAN ANAK GIFTED DI INDONESIA

PENGELOLAAN PENDIDIKAN ANAK GIFTED DI INDONESIA PENGELOLAAN PENDIDIKAN ANAK GIFTED DI INDONESIA Oleh : Rochmat Wahab Staf Pengajar Jurusan PLB FIP UNY PENGANTAR PENGALAMAN REFORMASI PENDIDIKAN AS SEBAGAI RESPON TERHADAP PRESTASI RUSIA YANG MELUNCURKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih mudah mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran, akhirnya akan berpengaruh pada hasil belajar.

BAB I PENDAHULUAN. lebih mudah mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran, akhirnya akan berpengaruh pada hasil belajar. BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan ruang lingkup penelitian. 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi intelektual dan sikap yang dimilikinya, sehingga tujuan utama

BAB I PENDAHULUAN. potensi intelektual dan sikap yang dimilikinya, sehingga tujuan utama BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu fondasi yang menentukan ketangguhan dan kemajuan suatu bangsa. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dituntut untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain untuk berinteraksi

BAB I PENDAHULUAN. Manusia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain untuk berinteraksi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain untuk berinteraksi dalam hidupnya. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, manusia harus dapat melakukan penyesuaian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Motivasi Belajar a. Pengertian Motivasi Belajar Motivasi berasal dari kata motif, dalam bahasa inggris adalah motive atau motion, lalu motivation yang berarti gerakan

Lebih terperinci

KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS

KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS Diajukan Kepada Program Studi Manajemen Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk yang paling tinggi derajatnya, makhluk yang

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk yang paling tinggi derajatnya, makhluk yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk yang paling tinggi derajatnya, makhluk yang berkualitas dan merupakan makhluk seutuhnya. Makhluk yang seutuhnya adalah mereka yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi adalah jenjang pendidikan yang merupakan lanjutan dari pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk mempersiapkan peserta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) Pasal 3 mengenai

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) Pasal 3 mengenai 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah SMK Pasundan 1 Bandung merupakan Sekolah Menengah Kejuruan rumpun Bisnis dan Manajemen yang merupakan lembaga pendidikan yang terus berupaya menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyelidiki sebuah proyek dari sudut pandang yang tidak biasa.

BAB I PENDAHULUAN. menyelidiki sebuah proyek dari sudut pandang yang tidak biasa. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ditinjau dari seluruh aspek kehidupan, kebutuhan akan kreativitas sangatlah penting. Seperti yang dikatakan oleh Munandar dalam bukunya (1999:6) kreativitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mandiri, disiplin dalam mengatur waktu, dan melaksanakan kegiatan belajar yang

BAB I PENDAHULUAN. mandiri, disiplin dalam mengatur waktu, dan melaksanakan kegiatan belajar yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua sekolah menghendaki siswanya belajar optimal untuk mencapai prestasi tinggi. Tuntutan belajar tersebut mengharuskan siswa untuk belajar lebih mandiri,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. pembawaan, atau kebiasaan yang di miliki oleh individu yang relatif tetap.

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. pembawaan, atau kebiasaan yang di miliki oleh individu yang relatif tetap. BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Karakteristik Siswa 2.1.1.1 Pengertian Karakteristik Siswa Karakteristik berasal dari kata karakter yang berarti

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI merupakan masa usia seseorang di sebut remaja. Pikunas (1976) menyatakan bahwa masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas tinggi akan membawa kemajuan suatu negara dan pembentukan

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas tinggi akan membawa kemajuan suatu negara dan pembentukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakan oleh manusia, suatu perbuatan yang tidak boleh tidak terjadi, karena pendidikan itu membimbing generasi

Lebih terperinci

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar MOTIVASI DALAM BELAJAR Saifuddin Azwar Dalam dunia pendidikan, masalah motivasi selalu menjadi hal yang menarik perhatian. Hal ini dikarenakan motivasi dipandang sebagai salah satu faktor yang sangat dominan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang paling dominan dilakukan adalah melalui pendidikan. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang paling dominan dilakukan adalah melalui pendidikan. Pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah sedang menggalakkan berbagai usaha untuk membangun manusia seutuhnya, dan ditempuh secara bertahap melalui berbagai kegiatan. Dalam hal ini kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan pendidikan tinggi (http://id.wikipedia.org). Mengenyam pendidikan pada

BAB I PENDAHULUAN. dan pendidikan tinggi (http://id.wikipedia.org). Mengenyam pendidikan pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan mutu pendidikan formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satu faktor hakiki yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. salah satu faktor hakiki yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berkomunikasi dengan orang lain sebagai wujud interaksi. Interaksi tersebut selalu didukung oleh alat komunikasi vital yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang

BAB II KAJIAN TEORETIS. Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Pengertian Motivasi Belajar Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era perdagangan bebas ASEAN 2016 sudah dimulai. Melahirkan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era perdagangan bebas ASEAN 2016 sudah dimulai. Melahirkan tingkat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era perdagangan bebas ASEAN 2016 sudah dimulai. Melahirkan tingkat persaingan yang semakin ketat dalam bidang jasa, terutama jasa psikologi. Masyarakat psikologi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar. dalam bentuk layanan bimbingan dan konseling.

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar. dalam bentuk layanan bimbingan dan konseling. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memiliki kontribusi terhadap keberhasilan atas proses pendidikan di sekolah, tanpa bimbingan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. mencapai sesuatu yang dicita - citakan.. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang

BAB II KAJIAN TEORETIS. mencapai sesuatu yang dicita - citakan.. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1. Pentingnya Minat Belajar Kata minat dalam bahasa Inggris disebut interest yang berarti menarik atau tertarik. Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu

Lebih terperinci

BAB III BELAJAR TUNTAS

BAB III BELAJAR TUNTAS BAB III BELAJAR TUNTAS A. Pengertian Belajar Tuntas Tujuan pembelajaran secara ideal adalah agar materi yang dipelajari dikuasai sepenuhnya atau tuntas oleh peserta didik, ini disebut dengan istilah mastery

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Efektivitas Kinerja. sesuatu yang tepat ( Stoner, 1996). Menurut Yukl (1994) efektivitas diartikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Efektivitas Kinerja. sesuatu yang tepat ( Stoner, 1996). Menurut Yukl (1994) efektivitas diartikan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Kinerja 1. Pengertian Efektivitas (efectiveness) secara umum dapat diartikan melakukan sesuatu yang tepat ( Stoner, 1996). Menurut Yukl (1994) efektivitas diartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu pesat, mulai dari berubahnya gaya hidup masyarakat hingga meningkatya kebutuhan-kebutuhan yang

Lebih terperinci

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Pembagian Bilangan Cacah melalui Metode Pemberian Tugas di Kelas II SD Inpres 3 Palasa

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Pembagian Bilangan Cacah melalui Metode Pemberian Tugas di Kelas II SD Inpres 3 Palasa Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Pembagian Bilangan Cacah melalui Metode Pemberian Tugas di Kelas II SD Inpres 3 Palasa Rina Oktavianti Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIK

BAB II LANDASAN TEORITIK BAB II LANDASAN TEORITIK 2.1. Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan gabungan dari prestasi belajar dan pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi. Prestasi dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia menurut ukuran pormatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. manusia menurut ukuran pormatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik ataupun buruknya pribadi manusia menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya fenomena anak autis yang menempuh pendidikan di lembaga pendidikan umum selayaknya anak normal atau bahkan banyak dari

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh langsung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan suatu kata majemuk yang terdiri dari kata prestasi dan belajar. Belajar adalah suatu aktivitas atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai kontribusi yang sangat besar pada masyarakat (Reni Akbar

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai kontribusi yang sangat besar pada masyarakat (Reni Akbar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menghadapi tantangan di era globalisasi, keberadaan anak berbakat menjadi penting dan bernilai. Kecerdasan yang dimiliki anak, memudahkan anak memahami sebab

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS METODE PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH INKLUSI SDN BENDAN 01 PEKALONGAN

BAB IV ANALISIS METODE PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH INKLUSI SDN BENDAN 01 PEKALONGAN BAB IV ANALISIS METODE PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH INKLUSI SDN BENDAN 01 PEKALONGAN A. Analisis Metode Pembelajaran PAI di Sekolah Inklusi SDN Bendan 01 Pekalongan Berdasarkan teori yang telah disebutkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya perkembangan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang terjadi tersebut menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menuntut perhatian serius bagi orang tua yang tidak menginginkan anak-anaknya. tumbuh dan berkembang dengan pola asuh yang salah.

BAB I PENDAHULUAN. menuntut perhatian serius bagi orang tua yang tidak menginginkan anak-anaknya. tumbuh dan berkembang dengan pola asuh yang salah. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak dalam hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mella Pratiwi, 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mella Pratiwi, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan sekarang ini sedang mengalami berbagai macam permasalahan, terutama yang erat kaitannya dengan sumber daya manusia yakni guru dan siswa. Untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS

BAB II KAJIAN TEORETIS 16 BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1. Konsep Belajar 2.1.1. Pengertian Belajar Slameto (2010, h. 1) mengatakan, Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

Lebih terperinci