BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah alpukat (Persea americana Mill.) yang cukup besar dalam skala global. Data statistik tahun 2013 menunjukkan bahwa produksi buah alpukat mencapai ton dengan urutan daerah produksi terbesar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Barat dan Jawa Tengah (BPS, 2013). Berdasarkan Food and Agriculture Organization of the United Nation (FAOSTAT, 2013), Indonesia merupakan negara penghasil buah alpukat kedua terbesar ( ton) di tahun 2012 setelah Meksiko ( ton), kemudian diikuti oleh Republik Dominika ( ton), dan Chile ( ton). Meskipun demikian, penelitian mengenai pemanfaatan buah alpukat di Indonesia masih terbatas khususnya pemanfaatannya sebagai sumber minyak. Pemanfaatan buah alpukat di masyarakat pada umumnya hanya sebagai buah siap makan yang digemari karena rasa, teksturnya yang khas dan manfaatnya bagi kesehatan. Di sisi lain, buah alpukat merupakan sumber minyak yang potensial. Daging buah alpukat mengandung 8-30% minyak, bervariasi bergantung varietas dan tempat tumbuhnya (Nethsingha, 1993 cit Yanty dkk., 2011a). Minyak daging buah alpukat inilah yang kemudian digunakan secara luas di industri makanan, kosmetik, dan produk-produk kesehatan karena keunikan karakteristik dan fungsinya (Swisher, 1988). Salah satu karakteristik utama minyak daging buah alpukat adalah kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi. Asam lemak tak jenuh meliputi asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated

2 2 fatty acid, MUFA) sebesar 71% yang didominasi oleh asam oleat dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) sebesar 13% dari total lemak (Lu dkk., 2009). Konsumsi asam lemak tak jenuh telah banyak diteliti dan dilaporkan dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan Low Density Lipoprotein (LDL) dan kolesterol tanpa meningkatkan level trigliserida (Moreno dkk., 2003). Kandungan fitosterol dalam minyak alpukat juga berpotensi menurunkan resiko kardiovaskular (Berasategi dkk., 2012). Dalam bidang kosmetik, minyak alpukat beraktifitas sebagai pencerah kulit yang lebih cepat diserap kulit dibandingkan minyak jagung, kedelai, almond dan zaitun (Athar dan Nasir, 2005). Berbagai manfaat minyak alpukat ini membuat minyak alpukat yang tergolong baru di pasaran minyak dijual dengan harga relatif tinggi (Quiñones- Islas dkk., 2013). Harga jual minyak alpukat yang tinggi memungkinkan terjadinya pemalsuan dengan minyak yang berharga lebih murah. Pemalsuan minyak bernilai tinggi dengan minyak berharga murah merupakan masalah yang serius dalam perdagangan (Quiñones-Islas dkk., 2013). Pemalsuan dapat berdampak serius terhadap mutu minyak alpukat sehingga manfaat dan keamanan penggunaannya pada makanan, produk kesehatan maupun kosmetik menjadi tidak terjamin. Oleh karena itu penting dilakukan kontrol kualitas minyak, yang salah satunya dengan karakterisasi dan autentikasi minyak daging buah alpukat sebagai bentuk pencegahan pemalsuan. Pengembangan teknik autentikasi minyak terus dilakukan untuk mendapatkan teknik yang cepat dan sederhana. Beberapa metode analisis yang

3 3 sering digunakan untuk karakterisasi dan autentikasi minyak antara lain kromatografi gas dan spektrometri massa (Ruiz-Samblás dkk., 2010), 1 H-NMR (H-Nuclear Magnetic Resonance) dan 13 C-NMR (García-González dkk., 2004), dan spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) (Rohman dan Man, 2011). Selain metode-metode tersebut, terdapat teknik Differential Scanning Calorimeter (DSC) yang telah secara luas digunakan dalam studi karakterisasi minyak sebagai kontrol kualitas. Aplikasi ini kemudian dikembangkan sebagai teknik autentikasi minyak karena karakteristik termal berhubungan erat dengan komposisi kimia minyak (Tan dan Man, 2000). DSC memiliki keuntungan dibandingkan metode konvensional lainnya karena tidak membutuhkan preparasi sampel, cepat, dan tanpa penggunaan pelarut (Chiavaro dkk., 2008). Karakterisasi termal minyak alpukat lokal Malaysia telah dilaporkan Yanty dkk. (2011a, 2011b) untuk membandingkan dengan minyak alpukat lokal dan impor serta membedakan fraksi minyak alpukat. Sedangkan penggunaan DSC dalam penelitian autentikasi dan deteksi pemalsuan masih terbatas. Penelitian yang telah dilaporkan seperti deteksi pemalsuan minyak zaitun dengan minyak hazelnut (Chiavaro dkk., 2008) dan autentikasi minyak zaitun dari berbagai hasil penyulingan, daerah asal dan minyak biji lainnya (hazelnut, biji bunga matahari, kacang) (Angiuli dkk., 2009). Penelitian-penelitian terbaru autentikasi DSC kemudian mengarah pada kombinasinya dengan analisis multivariat. Penggunaan DSC yang dikombinasikan dengan kalibrasi multivariat Partial Least Square (PLS) telah dilaporkan Cerretani dkk. (2011) untuk membuat model kalibrasi komposisi asam lemak jenuh maupun tidak jenuh dengan 63 sampel

4 4 minyak (minyak zaitun, hazelnut, bunga matahari dan kanola). Hasil yang didapat cukup memuaskan dengan R 2 tinggi dan nilai Root Mean Square Error of Calibration (RMSEC) serta Root Mean Square Error of Prediction (RMSEP) rendah. Penelitian lain dengan aplikasi DSC dan Principal Component Analysis (PCA) dapat dengan jelas mengelompokkan lemak babi dari lemak ayam dan sapi bahkan pada dosis rendah < 1% (Dahimi dkk., 2014). Dengan demikian kombinasi DSC dan analisis multivariat dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. Aplikasi DSC untuk pemalsuan minyak alpukat dengan kombinasi analisis multivariat belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini diharapkan dapat mengkarakterisasi sifat fisika-kimia minyak daging buah alpukat dari tiga tempat tumbuh yang berbeda dan mengaplikasikan DSC yang dikombinasikan dengan kalibrasi multivariat dalam autentikasi minyak alpukat. Karakterisasi meliputi penentuan konstanta fisika kimia, profil asam lemak, profil komponen volatile dan profil kristalisasi dan pelelehan minyak alpukat. Karakterisasi bertujuan untuk melihat sifat-sifat fisika kimia yang menjadi ciri khasnya. Autentikasi dilakukan dengan mencampur minyak alpukat dan pemalsunya yaitu minyak kelapa sawit pada beberapa level konsentrasi. Minyak kelapa sawit dipilih sebagai pemalsu karena harganya yang murah dan ketersediaannya yang melimpah di Indonesia. Selanjutnya analisis multivariat digunakan untuk pengelompokan sampel dan pembentukan model kuantifikasi pemalsu.

5 5 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah karakter minyak daging buah alpukat dari tiga tempat tumbuh berbeda yang dicirikan dengan konstanta fisika-kimianya, komposisi asam lemak, komponen mudah menguap dan profil termalnya? 2. Bagaimanakah autentikasi minyak alpukat yang dipalsukan dengan minyak kelapa sawit menggunakan Differential Scanning Calorimeter (DSC)? 3. Bagaimanakah model kuantifikasi multivariat yang akurat untuk autentikasi minyak alpukat dalam campuran biner dengan minyak kelapa sawit berdasarkan profil kristalisasi dan pelelehan DSC? C. Keaslian Penelitian Penelitian karakterisasi minyak alpukat cukup banyak dilaporkan, khususnya di negara-negara penghasil buah alpukat skala besar. Akan tetapi, di Indonesia sendiri penelitian karakterisasi minyak alpukat belum pernah dilaporkan sejauh pengetahuan peneliti. Penelitian karakterisasi minyak alpukat yang telah dilakukan antara lain penelitian Bora dkk. (2001) untuk membandingkan sifat fisika kimia dan komposisi asam lemak minyak alpukat dari daging buah dan bijinya, penelitian Moreno dkk. (2003) untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi yang berbeda, dan penelitian Haiyan dkk. (2007) untuk membandingkan komponen biofenol, asam lemak serta komponen volatil minyak alpukat dengan

6 6 camelia oil. Penelitian terbaru lainnya dilakukan oleh Yanty dkk. (2011a) untuk membandingkan karakteristik minyak alpukat lokal Malaysia dengan minyak alpukat impor Australia. Karakterisasi meliputi sifat fisika kimia, komposisi triasilgliserol (TAG), asam lemak dan karakteristik termal berupa profil kristalisasi dan pelelehan menggunakan Differential Scanning Calorimeter (DSC). Karakterisasi sendiri merupakan bagian dari proses autentikasi yang dilakukan untuk mengontrol kualitas minyak dan pencegahan pemalsuan. Penelitian autentikasi atau deteksi pemalsuan telah banyak dilakukan seperti autentikasi minyak zaitun, tetapi autentikasi minyak alpukat masih sangat terbatas. Autentikasi minyak alpukat dalam campuran minyak biji matahari, kanola, dan kedelai baru-baru ini dilakukan oleh Quiñones-Islas dkk. (2013) menggunakan spektroskopi FTIR dan kombinasi analisis multivariat. Autentikasi minyak alpukat dalam campuran minyak kelapa sawit menggunakan DSC dan kombinasi analisis multivariat belum pernah dilakukan. Penelitian ini berfokus pada kontrol kualitas minyak alpukat melalui karakterisasi dan deteksi pemalsuannya menggunakan DSC dan analisis multivariat. D. Pentingnya Penelitian 1. Bagi perkembangan ilmu kefarmasian khususnya analisis farmasi - Penelitian ini dapat dijadikan salah satu sumber referensi baru terkait analisis minyak khususnya karakterisasi dan autentikasi minyak alpukat (P. americana Mill.) - Penelitian ini dapat dijadikan sebagai parameter kontrol kualitas minyak alpukat baik sebagai edible oil, produk kesehatan maupun kosmetik.

7 7 2. Bagi bangsa dan negara pada umumnya - Memperkaya penelitian terkait potensi buah alpukat (P. americana Mill.) yang banyak tumbuh di Indonesia sebagai sumber minyak fungsional. E. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melakukan penjaminan mutu minyak daging buah alpukat. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui karakterisasi minyak daging buah alpukat dari berbagai tempat tumbuh yang dicirikan dengan penentuan bilangan-bilangan fisikakimianya, komposisi asam lemak, komponen mudah menguap dan profil termalnya. 2. Melakukan autentikasi minyak alpukat yang dicampur dengan minyak kelapa sawit pada level konsentrasi 0, 10, 20, 30, 40, 50, dan 100% menggunakan Differential Scanning Calorimeter (DSC). 3. Melakukan kalibrasi dan validasi model kuantifikasi multivariat untuk autentikasi minyak alpukat dalam campuran biner dengan minyak kelapa sawit berdasarkan profil kristalisasi dan pelelehan DSC.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, kosmetik menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Jumlah kosmetik yang digunakan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan. Nilai gizi suatu minyak atau lemak dapat ditentukan berdasarkan dua

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan. Nilai gizi suatu minyak atau lemak dapat ditentukan berdasarkan dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asupan lemak yang dianjurkan adalah sebanyak 30% dari total kalori yang dibutuhkan. Nilai gizi suatu minyak atau lemak dapat ditentukan berdasarkan dua aspek yaitu

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... A. Latar Belakang Penelitian B. Rumusan Masalah C. Keaslian Penelitian D. Urgensi Penelitian... 5

DAFTAR ISI... A. Latar Belakang Penelitian B. Rumusan Masalah C. Keaslian Penelitian D. Urgensi Penelitian... 5 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii iv vii x xi xiii INTISARI... xvii ABSTRACT...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 19 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penyiapan Lemak Sapi dan Lemak Babi Sebanyak 250 gram jaringan lemak sapi dan babi yang diperoleh dari pasar tradisional Purwokerto,dicuci dan dipotong kecil-kecil untuk

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i ABSTRACT... ii. KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR LAMPIRAN...viii

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i ABSTRACT... ii. KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR LAMPIRAN...viii DAFTAR ISI Judul Halaman ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR LAMPIRAN...viii DAFTAR GAMBAR...x DAFTAR TABEL... xii DAFTAR ISTILAH... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk hidup bukan hidup untuk makan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjaga

BAB I PENDAHULUAN. untuk hidup bukan hidup untuk makan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjaga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, namun perlu dipahami bahwa makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjaga kelangsungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi lemak yang berlebih dapat membentuk plak yang mampu. merapuhkan pembuluh darah dan menghambat aliran dalam pembuluh darah

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi lemak yang berlebih dapat membentuk plak yang mampu. merapuhkan pembuluh darah dan menghambat aliran dalam pembuluh darah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konsumsi lemak yang berlebih dapat membentuk plak yang mampu merapuhkan pembuluh darah dan menghambat aliran dalam pembuluh darah sehingga sirkulasi darah terhambat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sampah plastik merupakan masalah utama lingkungan. Plastik belanja atau kantong plastik adalah salah satu sumber utama sampah plastik [1]. Sekitar 265.000.000 ton plastik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Struktur penduduk dunia saat ini menuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk usia lanjut. Proporsi penduduk usia lanjut di Indonesia

Lebih terperinci

PENGANTAR. sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak. dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan makanan favorit di

PENGANTAR. sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak. dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan makanan favorit di PENGANTAR Latar Belakang Domba termasuk ternak ruminansia kecil dengan potensi daging yang sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. dan menyebabkan keprihatinan bagi pelanggan. Daging babi (Sus scrofa

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. dan menyebabkan keprihatinan bagi pelanggan. Daging babi (Sus scrofa BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pemalsuan makanan merupakan masalah besar dalam industri makanan, dan menyebabkan keprihatinan bagi pelanggan. Daging babi (Sus scrofa domestica) merupakan salah satu

Lebih terperinci

ANALISIS KONTAMINASI LEMAK BABI DALAM MINYAK GORENG SAWIT (RBD PALM OIL) MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN KEMOMETRIK

ANALISIS KONTAMINASI LEMAK BABI DALAM MINYAK GORENG SAWIT (RBD PALM OIL) MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN KEMOMETRIK ANALISIS KONTAMINASI LEMAK BABI DALAM MINYAK GORENG SAWIT (RBD PALM OIL) MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN KEMOMETRIK PROPOSAL SKRIPSI PUTRI KHOLISOTUN NAWA 082210101015 Kamis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Theobroma cacao) dan biasa digunakan sebagai komponen utama dari coklat

BAB I PENDAHULUAN. (Theobroma cacao) dan biasa digunakan sebagai komponen utama dari coklat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Lemak kakao merupakan lemak yang diekstraksi dari biji kakao (Theobroma cacao) dan biasa digunakan sebagai komponen utama dari coklat batang karena dapat mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat Indonesia. Dalam buah alpukat terkandung vitamin A, B, C, dan E serta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat Indonesia. Dalam buah alpukat terkandung vitamin A, B, C, dan E serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah Alpukat merupakan salah satu buah yang telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Dalam buah alpukat terkandung vitamin A, B, C, dan E serta β-karoten dalam

Lebih terperinci

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin. Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau trigliserol, dimana berarti lemak dan minyak merupakan triester dari gliserol. Dari pernyataan tersebut, jelas menunjukkan bahwa lemak dan minyak merupakan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Monogliserida (monoasilgliserol) merupakan senyawa kimia penting dari turunan komersil yang digunakan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi, pelumas. Monogliserida

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Saat ini, pelaksanaan sistem jaminan halal menjadi isu global.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Saat ini, pelaksanaan sistem jaminan halal menjadi isu global. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Saat ini, pelaksanaan sistem jaminan halal menjadi isu global. Mengkonsumsi makanan halal adalah suatu keharusan bagi setiap Muslim. Dalam al Qur an, disebutkan makanlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. alat pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media

BAB I PENDAHULUAN. alat pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media penggorengan sangat penting

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Menurut Oil World (2008), minyak nabati (vegetable oils) dan minyak hewani (oil and fats) merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski

BAB I PENDAHULUAN. bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak goreng merupakan minyak nabati yang telah dimurnikan, dibuat dari bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski dari bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman yang tumbuh liar di hampir semua daerah tropis. Biji buah pepaya umumnya dibuang. Namun, dalam rangka pemanfaatan limbah

Lebih terperinci

T I N J A U A N S I N G K A T K A R A K T E R u n i k m i n y a k s a w i t

T I N J A U A N S I N G K A T K A R A K T E R u n i k m i n y a k s a w i t T I N J A U A N S I N G K A T K A R A K T E R u n i k m i n y a k s a w i t B r i e f o v e r v i e w o f u n i q u e c h a r a c t e r i s t i c s o f p a l m o i l Prof. Purwiyatno Hariyadi phariyadi.staff.ipb.ac.id

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong manusia untuk

PENGANTAR. Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong manusia untuk PENGANTAR Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong manusia untuk melakukan perbaikan terhadap kehidupannya. Sekarang ini, masyarakat semakin peduli dengan makanan yang sehat. Masyarakat

Lebih terperinci

KELAPA SAWIT dan MANFAATNYA

KELAPA SAWIT dan MANFAATNYA KELAPA SAWIT dan MANFAATNYA Oleh : BENNY RIO FERNANDEZ 2015 KELAPA SAWIT dan MANFAATNYA Tanaman kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) merupakan tanaman yang berasal dari Afrika Barat, terutama disekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditujukan untuk memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha,

BAB I PENDAHULUAN. ditujukan untuk memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan industri sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah ditujukan untuk memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menyediakan barang dan jasa yang

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan lemak nabati belakangan ini banyak diolah sebagai edible oil dan juga sebagai bahan industri oleokimia. Salah satu edible oil yang cukup banyak digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai

BAB I PENDAHULUAN. menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran,

PENDAHULUAN. (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hiperkolesterolemia 1. Pengertian Hiperkolesterolemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar kolesterol total yang disertai dengan meningkatnya kadar kolesterol LDL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi tinggi yang selama ini sangat digemari masyarakat. Kuning telur

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi tinggi yang selama ini sangat digemari masyarakat. Kuning telur BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang. Telur merupakan pangan asal hewani atau ternak yang memiliki nilai nutrisi tinggi yang selama ini sangat digemari masyarakat. Kuning telur merupakan bagian telur yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Nabati Minyak nabati adalah senyawa minyak yang terbuat dari tumbuhan yang diperoleh melaui proses ekstraksi dan pengepressan mekanik. digunakan dalam makanan dan untuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Reflektan Near Infrared Biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) Perangkat NIRFlex Solids Petri N-500 yang digunakan dalam penelitian ini, menghasilkan data pengukuran berupa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berasal dari gandum yang ketersediaannya di Indonesia harus diimpor,

I. PENDAHULUAN. berasal dari gandum yang ketersediaannya di Indonesia harus diimpor, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Biskuit keras yang merupakan makanan populer bagi segala usia, ternyata banyak mengandung lemak jenuh dan gula yang membuat biskuit menjadi kurang sehat untuk dikonsumsi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN METODE DETEKSI MINYAK KEDELAI DALAM CAMPURAN MINYAK KELAPA MURNI DENGAN SPEKTROSKOPI INFRA MERAH DAN KEMOMETRIKA

PENGEMBANGAN METODE DETEKSI MINYAK KEDELAI DALAM CAMPURAN MINYAK KELAPA MURNI DENGAN SPEKTROSKOPI INFRA MERAH DAN KEMOMETRIKA PENGEMBANGAN METODE DETEKSI MINYAK KEDELAI DALAM CAMPURAN MINYAK KELAPA MURNI DENGAN SPEKTROSKOPI INFRA MERAH DAN KEMOMETRIKA Analytical Method Development for Analysis of Soybean Oil in the Mixture with

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat

I. PENDAHULUAN. Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasta merupakan produk emulsi minyak dalam air yang tergolong kedalam low fat spreads, yang kandungan airnya lebih besar dibandingkan minyaknya. Kandungan minyak dalam

Lebih terperinci

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia PENGARUH PEMANASAN TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TAK JENUH MINYAK BEKATUL Oleh: Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia Email:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kelapa (cocos nucifera L) merupakan tanaman serbaguna, baik untuk keperluan pangan maupun non pangan. Setiap bagian dari tanaman kelapa (cocos nucifera L) bisa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak pulau dan merupakan negara produsen kelapa utama di dunia. Hampir di semua propinsi di Indonesia dijumpai tanaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hampir semua orang mengenal alpukat karena buah ini dapat ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hampir semua orang mengenal alpukat karena buah ini dapat ditemukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hampir semua orang mengenal alpukat karena buah ini dapat ditemukan di pasar-pasar setiap saat, tanpa mengenal musim. Menurut sejarahnya, tanaman alpukat berasal dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan bekatul di Indonesia sangat melimpah, mengingat bangsa. Indonesia merupakan negara agraris. Setiap tahun Indonesia mampu

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan bekatul di Indonesia sangat melimpah, mengingat bangsa. Indonesia merupakan negara agraris. Setiap tahun Indonesia mampu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberadaan bekatul di Indonesia sangat melimpah, mengingat bangsa Indonesia merupakan negara agraris. Setiap tahun Indonesia mampu menghasilkan 47 juta ton

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Minyak atau lemak merupakan ester dari gliserol dan asam lemak, tersusun atas campuran sebagian besar triasilgliserol dan sebagian kecil senyawa pengotor (di-gliserida dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. peningkatan mutu, penggunaan bahan pembentuk rasa dan warna, serta

PENDAHULUAN. peningkatan mutu, penggunaan bahan pembentuk rasa dan warna, serta PENDAHULUAN Latar Belakang Bahan pangan harus mampu mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia yang berperan dalam proses pertumbuhan, menjaga berat badan, mencegah penyakit defisiensi,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii PENDAHULUAN...

DAFTAR ISI. Halaman. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii PENDAHULUAN... DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii PENDAHULUAN... 1 BAB I TINJAUAN PUSTAKA... 4 1.1 Ikan Teri Galer (Stolephorus indicus

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dantujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis dan (7)

Lebih terperinci

ANALISIS KANDUNGAN LEMAK ANJING DALAM BAKSO YANG BEREDAR DI PASAR WAGE PURWOKERTO MENGGUNAKAN FOURIER TRANSFROM INFRARED

ANALISIS KANDUNGAN LEMAK ANJING DALAM BAKSO YANG BEREDAR DI PASAR WAGE PURWOKERTO MENGGUNAKAN FOURIER TRANSFROM INFRARED ANALISIS KANDUNGAN LEMAK ANJING DALAM BAKSO YANG BEREDAR DI PASAR WAGE PURWOKERTO MENGGUNAKAN FOURIER TRANSFROM INFRARED (FTIR) YANG DIKOMBINASI DENGAN KEMOMETRIK SEBAGAI AUTENTIKASI HALAL SKRIPSI Skripsi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Minyak sawit merah (MSM) merupakan salah satu produk turunan kelapa sawit

I. PENDAHULUAN. Minyak sawit merah (MSM) merupakan salah satu produk turunan kelapa sawit I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Minyak sawit merah (MSM) merupakan salah satu produk turunan kelapa sawit yang memiliki nilai tambah. MSM diolah dengan menggunakan proses degumming dan dilanjutkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia dan banyak sekali produk turunan dari minyak sawit yang dapat menggantikan keberadaan minyak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hiperkolesterolemia adalah suatu keadaan dimana kadar kolesterol serum

I. PENDAHULUAN. Hiperkolesterolemia adalah suatu keadaan dimana kadar kolesterol serum I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hiperkolesterolemia adalah suatu keadaan dimana kadar kolesterol serum meningkat terutama kadar Low Density Lipoprotein (LDL) yang melebihi batas normal. Low density lipoprotein

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Jumlah cadangan minyak bumi dunia semakin menipis. Sampai akhir tahun 2013, cadangan minyak bumi dunia tercatat pada nilai 1687,9 miliar barel. Jika tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. populasi penduduk Indonesia mencapai lebih dari 246 juta jiwa dengan angka

BAB I PENDAHULUAN. populasi penduduk Indonesia mencapai lebih dari 246 juta jiwa dengan angka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada tahun 2010 populasi penduduk Indonesia mencapai lebih dari 246 juta jiwa dengan angka kejadian penyakit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Nabati Minyak nabati adalah sejenis minyak yang terbuat dari tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak

Lebih terperinci

PENCEGAHAN PEMBENTUKAN ASAM LEMAK TRANS MINYAK KELAPA SAWIT

PENCEGAHAN PEMBENTUKAN ASAM LEMAK TRANS MINYAK KELAPA SAWIT PENGARUH ASAM LEMAK TRANS MINYAK KELAPA SAWIT Pada PENGOLAHAN MAKANAN TERHADAP KADAR HIGH DENSITY LIPOPROTEIN dan LOW DENSITY LIPOPROTEIN dalam TUBUH dan PENCEGAHAN PEMBENTUKAN ASAM LEMAK TRANS MINYAK

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK DAN IDENTIFIKASI POSISI ASAM LAURAT DALAM MINYAK KELAPA MURNI DAN MINYAK INTI SAWIT

ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK DAN IDENTIFIKASI POSISI ASAM LAURAT DALAM MINYAK KELAPA MURNI DAN MINYAK INTI SAWIT ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK DAN IDENTIFIKASI POSISI ASAM LAURAT DALAM MINYAK KELAPA MURNI DAN MINYAK INTI SAWIT SKRIPSI OLEH: LIDA JAYANTI KARO KARO NIM 081501028 PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. energi dan pembentukan jaringan adipose. Lemak merupakan sumber energi

I. PENDAHULUAN. energi dan pembentukan jaringan adipose. Lemak merupakan sumber energi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Lemak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Lemak memiliki beberapa fungsi dalam tubuh, yaitu sebagai sumber energi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia dan merupakan kunci utama diberbagai sektor. Semakin hari kebutuhan akan energi mengalami kenaikan seiring dengan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... DAFTAR GAMBAR DAFTAR SINGKATAN.

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... DAFTAR GAMBAR DAFTAR SINGKATAN. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... PERNYATAAN PRAKATA DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR SINGKATAN. INTISARI ABSTRACT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kebutuhan tersebut adalah melalui usaha peternakan ayam pedaging. Ayam

I. PENDAHULUAN. kebutuhan tersebut adalah melalui usaha peternakan ayam pedaging. Ayam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya bahan makanan bernilai gizi tinggi, berakibat meningkat pula tuntutan masyarakat dalam pemenuhan gizi yang berasal dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan berbagai teknologi sebagaimana produk tersebut memenuhi kriteria kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. dengan berbagai teknologi sebagaimana produk tersebut memenuhi kriteria kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri makanan semakin tertantang untuk menciptakan produk makanan dengan berbagai teknologi sebagaimana produk tersebut memenuhi kriteria kesehatan dan tidak memicu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan gaya hidup masyarakat saat ini sangat erat hubungannya dengan berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit kardiovaskuler. Penyebabnya antara lain adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, dimana banyak Negara yang melakukan perdagangan internasional, Sumberdaya yang melimpah tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I-1. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I-1. I.1 Latar Belakang I-1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tepung merupakan hasil pertanian yang luas penggunaannya untuk berbagai bahan pangan, dan salah satu jenis tepung yang mendominasi di Indonesia adalah tepung terigu.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur Penggunaan Peranti Lunak ImageJ

HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur Penggunaan Peranti Lunak ImageJ sedangkan PLSDA untuk mengklasifikasikan ketiga tanaman sampel ke dalam tiga kelompok tanaman yang berbeda dalam bentuk model prediksi. Model tersebut selanjutnya digunakan untuk memprediksi ketiga sampel

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 26 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Mutu Minyak Ikan Sebelum Ekstraksi dengan Fluida CO 2 Superkritik Minyak ikan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan minyak ikan hasil samping industri pengalengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Palmitat Asam palmitat adalah asam lemak jenuh rantai panjang yang terdapat dalam bentuk trigliserida pada minyak nabati maupun minyak hewani disamping juga asam lemak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perikanan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dan menghadapi. nasional (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2015).

I. PENDAHULUAN. Perikanan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dan menghadapi. nasional (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2015). I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat, (5) Kerangka Berpikir dan (6) Hipotesis 1.1. Latar Belakang Potensi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. perebusan (Koswara, dkk., 2001). Umumnya nama bakso diikuti dengan nama jenis

PENDAHULUAN. perebusan (Koswara, dkk., 2001). Umumnya nama bakso diikuti dengan nama jenis PENDAHULUAN Latar Belakang Bakso merupakan produk pangan yang terbuat dari olahan daging sebagai bahan baku utama yang digiling hingga halus, serta dilakukan pencampuran dengan tepung dan bumbu-bumbu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pada umumnya hasil proses hidrogenasi parsial akan terbentuk trans fatty acid (TFA) yang tidak diinginkan. Asam lemak trans cenderung meningkatkan kadar kolesterol

Lebih terperinci

JENIS LIPID. 1. Lemak / Minyak 2. Lilin 3. Fosfolipid 4 Glikolipid 5 Terpenoid Lipid ( Sterol )

JENIS LIPID. 1. Lemak / Minyak 2. Lilin 3. Fosfolipid 4 Glikolipid 5 Terpenoid Lipid ( Sterol ) JENIS LIPID 1. Lemak / Minyak 2. Lilin 3. Fosfolipid 4 Glikolipid 5 Terpenoid Lipid ( Sterol ) Lipid Definisi Lipid adalah Senyawa organik yang dibentuk terutama dari alkohol dan asam lemak yang digabungkan

Lebih terperinci

KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI. Oleh: MUTIA SURY ANI

KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI. Oleh: MUTIA SURY ANI :f1l{;0 I ")cjq D2 C'j KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI Oleh: MUTIA SURY ANI F03495069 1999 FAKULTAS TEKNOLOGI

Lebih terperinci

KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI. Oleh: MUTIA SURY ANI

KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI. Oleh: MUTIA SURY ANI :f1l{;0 I ")cjq D2 C'j KAJIAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM TUNGGAL (Polianthes tuberose var gracilis) DENGAN METODA ENFLEURASI Oleh: MUTIA SURY ANI F03495069 1999 FAKULTAS TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari (Ketaren, 1986). Minyak goreng diekstraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman yang serba modern ini, kecenderungan pola makan yang serba

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman yang serba modern ini, kecenderungan pola makan yang serba 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman yang serba modern ini, kecenderungan pola makan yang serba praktis dan instan seperti makanan cepat saji dan makanan awetan telah berkembang dengan pesat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Jeruk merupakan salah satu buah yang paling digemari di Indonesia. Selain karena rasa dan manfaat nutrisinya, jeruk juga digemari untuk menjadi buah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kenaikan harga BBM membawa pengaruh besar bagi perekonomian bangsa. digunakan semua orang baik langsung maupun tidak langsung dan

BAB I PENDAHULUAN. kenaikan harga BBM membawa pengaruh besar bagi perekonomian bangsa. digunakan semua orang baik langsung maupun tidak langsung dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang berimbas pada kenaikan harga BBM membawa pengaruh besar bagi perekonomian bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media

BAB I PENDAHULUAN. pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media penggorengan sangat penting

Lebih terperinci

UNDERSTANDING CHOLESTEROL. Djadjat Tisnadjaja Puslit Bioteknologi-LIPI

UNDERSTANDING CHOLESTEROL. Djadjat Tisnadjaja Puslit Bioteknologi-LIPI UNDERSTANDING CHOLESTEROL Djadjat Tisnadjaja Puslit Bioteknologi-LIPI Email: d.tisnadjaja@gmail.com 1 Definition Kolesterol merupakan zat berlemak yang diproduksi oleh hati, dapat ditemukan diseluruh tubuh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan tak pernah lepas dari perhatian utama di setiap negara. Selama satu dekade terakhir,

BAB 1 PENDAHULUAN. dan tak pernah lepas dari perhatian utama di setiap negara. Selama satu dekade terakhir, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian Kebutuhan akan sumber energi merupakan kebutuhan hidup yang sangat mendasar dan tak pernah lepas dari perhatian utama di setiap negara. Selama satu dekade

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang PENDAHULUAN Latar Belakang Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang cenderung mengkonsumsi makanan-makanan cepat saji dengan kadar lemak yang tinggi. Keadaan ini menyebabkan munculnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Sawit Mentah / Crude Palm Oil (CPO) Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya sangat penting dalam penerimaan devisa negara, penyerapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan ketersediaan lahan sawah yang mencapai 8,1 juta ha, lahan tegal/kebun

BAB I PENDAHULUAN. dengan ketersediaan lahan sawah yang mencapai 8,1 juta ha, lahan tegal/kebun BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai negara agraris. Baik dari sisi ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian memiliki peranan yang relatif

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kerusakan bila teroksidasi oleh udara dan suhu tinggi, demikian pula beta. dengan minyak jelantah rasa yang dihasilkan lebih gurih.

BAB 1 PENDAHULUAN. kerusakan bila teroksidasi oleh udara dan suhu tinggi, demikian pula beta. dengan minyak jelantah rasa yang dihasilkan lebih gurih. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Minyak goreng merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, dan karena itu dalam keseharian minyak berfungsi sebagai penghantar panas dan penambah cita rasa gurih.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil pertanian masyarakat Indonesia berupa hasil perkebunan, pangan dan hortikultura. Tanaman hortikultura banyak dijumpai di Indonesia salah satunya markisa. Tanaman

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia. Kebutuhan protein hewani semakin

I. PENDAHULUAN. pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia. Kebutuhan protein hewani semakin I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Protein hewani merupakan zat makanan yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia. Kebutuhan protein hewani semakin meningkat seiring dengan meningkatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Energi berperan penting dalam kehidupan manusia yang mana merupakan kunci utama dalam berbagai sektor ekonomi yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan manusia. Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lapisan terluar beras yaitu bagian antara butir beras dan kulit padi berwarna

BAB I PENDAHULUAN. lapisan terluar beras yaitu bagian antara butir beras dan kulit padi berwarna BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bekatul adalah hasil samping proses penggilingan padi yang berasal dari lapisan terluar beras yaitu bagian antara butir beras dan kulit padi berwarna coklat. Bekatul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak dipilih sebagai cara pengolahan makanan karena mampu meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. banyak dipilih sebagai cara pengolahan makanan karena mampu meningkatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggorengan merupakan salah satu metode tertua dan paling umum dalam teknik persiapan makanan. Penggorengan dengan minyak atau lemak lebih banyak dipilih sebagai cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat modern mempunyai kebiasaan untuk hidup serba cepat. Perubahan gaya hidup masyarakat memiliki banyak dampak positif yang menunjang kehidupan, tetapi tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suplemen berfungsi sebagai pelengkap bila kebutuhan gizi yang

BAB I PENDAHULUAN. Suplemen berfungsi sebagai pelengkap bila kebutuhan gizi yang BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Suplemen berfungsi sebagai pelengkap bila kebutuhan gizi yang disuplai dari makanan pokok tidak terpenuhi. Suplemen di pasaran dapat dibedakan berdasarkan kategori penggunaannya,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. ANALISIS SIFAT FISIKO KIMIA (PROKSIMAT) BIJI JARAK PAGAR DAN PROSES PENGEPRESAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. ANALISIS SIFAT FISIKO KIMIA (PROKSIMAT) BIJI JARAK PAGAR DAN PROSES PENGEPRESAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. ANALISIS SIFAT FISIKO KIMIA (PROKSIMAT) BIJI JARAK PAGAR DAN PROSES PENGEPRESAN Jarak pagar (Jatropha curcas L) yang akan dipress untuk diperoleh minyaknya dianalisis terlebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Potensi PKO di Indonesia sangat menunjang bagi perkembangan industri kelapa

I. PENDAHULUAN. Potensi PKO di Indonesia sangat menunjang bagi perkembangan industri kelapa 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi PKO di Indonesia sangat menunjang bagi perkembangan industri kelapa sawit yang ada. Tahun 2012 luas areal kelapa sawit Indonesia mencapai 9.074.621 hektar (Direktorat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melihat cadangan sumber minyak bumi nasional semakin menipis, sementara konsumsi energi untuk bahan bakar semakin meningkat. Maka kami melakukan penelitian-penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah produksi, konsumsi dan impor bahan bakar minyak di Indonesia [1]

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah produksi, konsumsi dan impor bahan bakar minyak di Indonesia [1] BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan bakar minyak merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi masyarakat Indonesia. Setiap harinya bahan bakar minyak digunakan untuk membantu aktifitas masyarakat.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Nabati Minyak nabati adalah sejenis minyak yang terbuat dari tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Margarin dari RBDPO (Refined, Bleached, Deodorized Palm Oil) Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

Prarancangan Pabrik Margarin dari RBDPO (Refined, Bleached, Deodorized Palm Oil) Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan industri merupakan bagian dari usaha pembangunan ekonomi jangka panjang, yang diarahkan untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih kokoh dan seimbang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Turi (Sesbania grandiflora) merupakan tanaman asli Indonesia, yang termasuk kedalam jenis kacang-kacangan. Kacang turi merupakan jenis kacang-kacangan dari pohon turi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Nabati Minyak nabati adalah sejenis minyak yang terbuat dari tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan ialah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lipid adalah senyawa berisi karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air tetapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lipid adalah senyawa berisi karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air tetapi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lipid 1. Definisi Lipid Lipid adalah senyawa berisi karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik (Widman, 1989) Lemak disebut juga lipid,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan ketahanan tubuh dalam menghadapi serangan penyakit dan untuk

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan ketahanan tubuh dalam menghadapi serangan penyakit dan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia tentunya membutuhkan makanan untuk mendapatkan sumber tenaga, mempertahankan ketahanan tubuh dalam menghadapi serangan penyakit dan untuk tumbuh kembang.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tingkat kematian akibat berbagai macam penyakit seperti serangan jantung, angina, gagal jantung, stroke, penuaan, kerusakan otak, penyakit ginjal, katarak,

Lebih terperinci

4 Pembahasan Degumming

4 Pembahasan Degumming 4 Pembahasan Proses pengolahan biodiesel dari biji nyamplung hampir sama dengan pengolahan biodiesel dari minyak sawit, jarak pagar, dan jarak kepyar. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif

Lebih terperinci