V. ANALISIS DAN SINTESIS

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. ANALISIS DAN SINTESIS"

Transkripsi

1 V. ANALISIS DAN SINTESIS 5.1 Analisis Analisis Fisik Analisis Topografi Wilayah Banjarmasin bagian utara memiliki ketinggian permukaan tanah rata-rata 0,16 m di bawah permukaan air laut, dengan kondisi permukaan lahan relatif datar dan kelerengan berkisar 0 3 %. Kondisi topografi yang datar ini menyebabkan terjadinya genangan di beberapa tempat saat air sungai meluap ketika hujan turun atau saat kondisi air pasang. Masalah genangan ini terkait dengan kondisi topografi yang datar, kurangnya lahan resapan air serta banyaknya timbunan sampah pada drainase alami dan buatan. Untuk menanggulangi genangan tersebut dapat dilakukan pembebasan lahan resapan air dari pemukiman, pengerukan sampah dan sedimentasi sungai serta perbaikan dan penambahan sistem drainase buatan. Selain itu penggunaan rumah panggung sebagai bentuk bangunan perkotaan juga mampu menjaga lahan rawa tetap berfungsi sebagai lahan resapan air Analisis Iklim Klasifikasi iklim kota Banjarmasin sama dengan klasifikasi iklim di wilayah Kalimantan selatan pada umumnya, yaitu beriklim tropis dengan klasifikasi tipe iklim A dengan nilai Q= 14,29% (rasio jumlah rata-rata bulan kering dengan bulan basah). Kesamaan tipe iklim pada wilayah Kalimantan selatan ini dapat membentuk bioregion tersendiri yang homogen yaitu bioregion Kalimantan selatan Analisis Tanah Jenis tanah di lokasi penelitian terbagai atas jenis tanah alluvial dan tanah orgonosol glei humus. Tanah Aluvial merupakan tanah yang terbentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian. Sedangkan tanah Organosol glei humus merupakan jenis tanah yang bagian terbesarnya merupakan tanah gambut yang berasosiasi dengan tanah glei humus. Tanah gambut ini mengandung 65% atau

2 54 lebih bahan organik, bersifat masam dan miskin hara. Lahan gambut ini terbentuk akibat kondisi tanah yang tergenang terus menerus. Tanah gambut tersebar di rawa-rawa di wilayah Banjarmasin bagian utara. Tanah rawa ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tata air di kota Banjarmasin, sebab tanah rawa memiliki kemampuan yang besar dalam menyerap air. Pengurukan lahan rawa yang saat ini banyak terjadi di Kota Banjarmasin menyebabkan kemampuan kawasan rawa sebagai penyangga yang mampu menyerap air di musim hujan dan mendistribusikannya di musim kemarau menjadi rusak. Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk mengembalikan fungsi kawasan rawa sebagai lahan resapan air. Salah satunya dengan pembebasan wilayah kantung air serta penggunaan rumah panggung sebagai bentuk bangunan perkotaan Analisis Hidrologi Wilayah Kalimantan Selatan terbagi menjadi 13 wilayah DAS, kota Banjarmasin sendiri berada pada DAS Barito dan Sub DAS Martapura, sehingga kondisi hidrologi kota Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh sungai Barito dan sungai Martapura. Kondisi hidrologi kota Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh pasang surut sungai Barito yang bertipe diurnal, yakni dalam 24 jam terjadi gelombang-pasang 1 kali pasang dan 1 kali surut dengan lama pasang rata-rata 5-6 jam dalam satu hari. Pasang surut sungai Barito sendiri seringkali menimbulkan masalah genangan air, hal ini disebabkan karena banyaknya lahan rawa dalam kantung-kantung air yang telah tertutup oleh bangunan. Padahal lahan rawa ini memiliki kemampuan yang sangat besar dalam menampung air. Permasalahan genangan air juga diakibatkan kemampuan sungai sebagai drainase alami sudah berkurang akibat timbunan sampah disungai yang banyak dilakukan oleh masyarakat, sedimentasi sungai serta banyaknya tumbuhan eceng gondok mengakibatkan drainase oleh sungai menjadi terhambat. Drainase buatan sendiri masih sangat kurang jumlahnya dan hanya terdapat di pusat-pusat kota saja. Untuk menanggulangi permasalahan drainase ini dapat dilakukan pembersihan sampah dan pengerukan lumpur sungai, serta penambahan drainase buatan.

3 Analisis Pemanfaatan Ruang Pemanfaatan ruang di wilayah Banjarmasin bagian utara didominasi oleh pemukiman, namun hal ini tidak diimbangi dengan Ruang Terbuka Hijau RTH) yang memadai. lahan tak terbangun memang cukup tersedia di kawasan ini, namun sedikit diantaranya yang dimanfaatkan sebagai RTH. RTH mampu memberikan fungsi ekologis bagi wilayah Banjarmasin bagian utara antara lain untuk meningkatkan kualitas air, mengurangi polusi, sebagai lahan resapan air serta sebagai area rekreasi bagi masyarakat. Kurangnya RTH pada wilayah Banjarmasin bagian utara turut menyebabkan terjadinya genangan akibat pasang surut sungai atau akibat hujan, meningkatnya penyakit saluran pernapasan akibat polusi udara serta kurangnya tempat rekreasi bagi masyarakat yang dapat menyebabkan stress pada masyarakat meningkat. Mengingat daya dukung kota Banjarmasin sudah mulai berkurang, perlu adanya perhatian dari pemerintah terkait dengan jumlah RTH di kota Banjarmasin, salah satunya dengan penambahan jumlah RTH dan pembebasan lahan resapan air. Berkurangnya jumlah RTH juga disebabkan perubahan tata guna lahan di sepanjang sempadan sungai. Sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH sudah berkurang jumlahnya dan digantikan oleh pemukiman penduduk. untuk itu perlu kembali ditegakkanya peraturan mengenai Garis Sempadan Sungai (GSS) yang tercantum dalam RTRW kota Banjarmasin tahun , yaitu 30 meter untuk sungai besar, 15 meter untuk sungai sedang dan 10 meter untuk sungai kecil Analisis Penutupan Lahan Untuk menganalisis peta penutupan lahan, dilakukan overlay terhadap peta WMA (Gambar 7 ) dengan peta penutupan lahan (Gambar 10) yang menghasilkan peta komposit penutupan lahan dan WMA (Gambar 25). Berdasarkan Gambar tersebut, wilayah Banjarmasin bagian utara terbagi menjadi 19 WMA dimana setiap WMA memiliki kantung air didalamnya. Kondisi kantung air ini beragam, ada kantung air yang masih alami (berada pada lahan tak terbangun), serta kantung air yang sudah tidak alami (tertutup oleh lahan terbangun). Berdasarkan Gambar 25, dapat dilakukan kategorisasi kantung air alami atau tidak alami. Kategorisasi ini dilakukan dengan menghitung rata-rata presentase luasan kantung air yang berada pada lahan tak

4 56

5 57 terbangun. Jika rata-rata presentase luasan lahan tak terbangun pada kantung air lebih besar dari 50%, maka kantung air tersebut dikategorikan sebagai kantung air yang masih alami, sedangkan yang kurang dari 50% dikategorikan sebagai kantung air yang sudah tidak alami (Tabel 5). Tabel 5. Kategorisasi kantung air pada setiap WMA Presentase lahan tak terbangun pada masingmasing WMA kantung air Kategori a b c d Rata-rata (%) alami alami alami alami alami alami alami alami alami tidak alami tidak alami tidak alami tidak alami tidak alami alami tidak alami tidak alami tidak alami tidak alami sumber: hasil analisis Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa 10 dari 19 WMA memiliki kantung air yang masih alami. Wilayah kantung air ini sangat berperan dalam keseimbangan tata air kota Banjarmasin, yaitu sebagai penyerap dan penyimpan air hujan sehingga tidak terjadi genangan ketika hujan dan tidak terjadi kekeringan ketika musim kemarau. Untuk itu, pada kantung air yang masih alami ini sebaiknya dilestarikan dan tidak boleh dilakukan pembangunan diatas kantung air tersebut, sedangkan untuk kantung air yang tidak alami sebaiknya dilakukan pembebasan dari lahan pemukiman yang berada diatas kantung air tersebut. Berdasarkan Gambar 25, juga dapat dilakukan perhitungan presentase lahan tak terbangun yang berupa pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah

6 58 pada setiap WMA (Tabel 6). Tabel 6. Presentase Lahan Tak Terbangun Pada Setiap WMA WMA Lahan Tak Terbangun Pertanian Lahan kering (%) Pertanian Lahan basah (%) sumber: hasil analisis Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa hanya 8 dari 19 WMA yang memiliki presentase luasan pertanian lahan basah atau kering lebih dari 30%. Sedangkan pada 11 WMA yang lain, presentase luasan pertanian lahan basah atau keringnya hanya sekitar 0-15%, yang berarti luasan pemukiman padat/tidak padat atau daerah industrinya sekitar %. Presentase penutupan lahan yang berupa pemukiman atau daerah industri ini menunjukkan bahwa pertumbuhan lahan terbangun sudah melebihi daya dukung kawasan. Sebaiknya dilakukan pembebasan lahan dari bangunan dan menjadikannya sebagai lahan terbuka pada WMA yang luasan lahan terbukanya sangat kurang, minimal pembebasan lahan terebut dilakukan pada daerah kantung airnya. Selanjutnya pemukiman tersebut dapat direlokasi ke WMA yang masih memiliki luasan lahan tebuka yang sangat besar (misalnya WMA 5, 6, 7, 8) sehingga diharapkan lahan terbuka dapat terdistribusi secara merata pada setiap WMA.

7 Analisis Utilitas Sistem Utilitas di wilayah Banjarmasin bagian utara masih belum memadai, hal ini terkait dengan sistem air bersih, persampahan dan pembuangan air limbah di lokasi penelitian. Sistem air bersih menggunakan jaringan PDAM, sedangkan sistem persampahan menggunakan penampungan sampah berupa TPS dan TPA, sedangkan untuk sistem pembuangan limbah rumah tangga belum dilakukan di lokasi penelitian. Sistem air bersih melalui jaringan PDAM sudah terdistribusi ke seluruh wilayah Banjarmasin bagian utara, namun masih banyak penduduk yang menggunakan air sungai sebagai sumber air minum dan kegiatan Mandi, Cuci, Kakus. Padahal kualitas air sungai di wilayah Banjarmasin bagian Utara sudah tercemar oleh beragam sampah, dan limbah rumah tangga, maupun limbah pabrik. hal ini disebabkan kurangnya kesadaran warga dalam membuang sampah dan limbah, kurangnya jumlah TPS dan TPA, serta tidak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mampu menyaring limbah rumah tangga sebelum dibuang ke sungai. Untuk menanggulangi masalah pencemaran sungai ini perlu dilakukannya penambahan dan pendistribusian secara merata TPA dan TPS di seluruh wilayah Banjarmasin bagian utara serta pembuatan IPAL komunal di setiap pemukiman. Selain itu juga perlu dilakukan penyuluhan terhadap warga mengenai pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga yang baik Analisis Infrastruktur Infrastruktur wilayah Banjarmasin bagian utara terbagi atas infrastruktur darat dan infrastruktur sungai. Untuk infrastruktur darat didalam kota dilakukan melalui jalan darat dengan menggunakan moda transportasi berupa angkutan kota, ojek dan taksi, sedangkan untuk keluar kota dapat dilakukan dengan moda transportasi berupa Bus. Kondisi jalan di kota wilayah Banjarmasin bagian utara sudah cukup memadai baik jalan utama maupun jalan kecil lainnya. Moda transportasi angkutan kota sudah mencukupi dalam hal kuantitas, namun untuk trayeknya sendiri belum menjangkau semua kawasan sehingga banyak kawasan yang hanya bisa dijangkau dengan menggunakan ojek atau taksi. Untuk itu diperlukan

8 60 penambahan trayek angkutan kota agar mampu menjangkau seluruh kawasan dan memudahkan jalur transportasi melalui jalan darat. Untuk transportasi melalui sungai besar dan sedang dapat dilakukan dengan menggunakan perahu motor (klotok) dan speedboat, sedangkan untuk sungai kecil dan anak sungai dapat dilayari dengan menggunakan perahu jukung. Kegiatan transportasi di sungai merupakan salah satu kebudayaan masyarakat tepi sungai yang patut dilestarikan. Namun belakangan ini transportasi sungai ini semakin jarang digunakan karena keterbatasan trayek dan mahalnya biaya perjalanan. Untuk itu diperlukan penambahan trayek resmi bagi pelayaran dengan menggunakan perahu motor atau speedboat dan diikuti dengan penambahan dermaga penumpang yang memadai, sehingga akses transportasi melalui sungai dapat terjangkau oleh masyarakat dengan baik Analisis Aspek Sosial dan Budaya Ditinjau dari aspek kesejarahaan, Banjarmasin merupakan kota yang tumbuh dan berkembang di tepian sungai. Kota Banjarmasin tumbuh di tepian sungai Kuin yang sekarang menjadi pemukiman tradisionl Kuin. Di tepi sungai Kuin inilah kota Banjarmasin berkembang dan Sultan Suriansyah memulai pemerintahaannya hingga beliau wafat. Kota Banjarmasin terus berkembang mulai dari tepian sungai hingga meluas kearah darat. Kebudayaan kota tepi sungai tercermin dari kegiatan masyarakat Banjar sehari-hari yang berorientasi ke sungai. Diantaranya adalah kegiatan transportasi yang dilakukan di sungai besar hingga anak-anak sungai. Kebudayaan kota tepi sungai juga tercermin dalam berbagai aspek kebudayaan masyarakat Banjar, salah satunya melalui arsitektur tradisional Banjar. Rumah adat Banjar sudah dikategorikan sebagai BCB, namun letaknya yang tersebar mengakibatkan Pemerintah masih kesulitan dalam menetapkan rumah tradisional Banjar yang termasuk dalam BCB. Dari segi arsitektur bangunan, rumah adat Banjar mengambil bentuk rumah panggung, hal ini merupakan penyesuaian terhadap kondisi tanah di kota Banjarmasin yang didominasi oleh tanah rawa. Dengan bentuk rumah panggung ini, maka tidak terjadi pengurukan terhadap tanah rawa, sehingga air yang meluap dari sungai ketika terjadi pasang maupun hujan bisa meresap dengan baik ke

9 61 dalam tanah rawa tersebut dan tidak menimbulkan genangan. Namun sayangnya belakangan ini perkembangan kota Banjarmasin yang begitu pesat mengakibatkan semakin berkurangnya rumah panggung yang digantikan dengan rumah beton yang dibangun dengan mengurug tanah-tanah rawa tersebut. Pelestarian situs bersejarah merupakan hal yang sangat penting mengingat situs tersebut merupakan cikal bakal kota Banjarmasin sebagai kota tepi sungai dan merupakan bagian dari kebudayaan kota tepi sungai itu sendiri. Pelestarian BCB dapat dilakukan dengan perbaikan bangunan yang sudah rusak disertai dengan kegiatan perawatan yang rutin. Untuk rumah-rumah tradisional dapat dilakukan dengan pemberian insentif kepada warga agar tidak mengubah arsitektur tradisional Banjar yang ada pada rumah mereka. Selain itu untuk lingkungan di sekitar BCB dan situs bersejarah lainnya juga perlu dijaga agar tidak mendesak BCB atau pemukiman tradisional yang ada disekitarnya, salah satunya dengan pembatasan pengembangan pemukiman modern di sekitar pemukiman tradisional dan BCB. Pelestarian kebudayaan masyarakat tepi sungai sendiri dapat dicapai dengan pengaktifan kegiatan transportasi sungai, kegiatan perdagangan tradisional dengan menggunakan perahu jukung di sungai, pengaktifan kegiatan pertanian dan perikanan tradisional serta dengan pengembangan rumah panggung sebagai bentuk dasar bangunan perkotaan Analisis Aspek Bioregional Analisis Pembentukan Unit Bioregion dan Unit Lanskap Unit ruang bioregional tersusun secara hierarki berjenjang/bertingkat, dimana Unit bioregion merupakan unit tertinggi atau terluas yang tersusun atas unit lanskap dan unit tempat didalamnya. Klasifikasi unit ruang bioregional ini dilakukan berdasarkan karakteristik alam dan budaya yang membentuk wilayah Banjarmasin bagian utara. Klasifikasi unit bioregion wilayah Banjarmasin bagian utara, dilakukan dengan melihat kesamaan karakterisitik alam yang ada di wilayah tersebut dengan daerah lain di sekitar wilayah Banjarmasin bagian utara sehingga dapat membentuk unit bioregion yang memiliki kesamaan karakteristik alam didalamnya. Wilayah Banjarmasin bagian utara memiliki kesamaan ciri iklim

10 62 dengan daerah-daerah di dalam wilayah Kalimantan selatan, sehingga Wilayah Kalimantan Selatan ini menjadi Unit Bioregion bagi wilayah Banjarmasin bagian utara. Unit bioregion Kalimantan selatan tersusun berdasarkan unit lanskap dan unit tempat yang memiliki kesamaan karakteristik iklim namun memiliki karakteristik alam dan budaya yang berbeda di setiap unit lanskap dan unit tempatnya. Unit lanskap didalam bioregion Kalimantan Selatan dideliniasi berdasarkan karakteristik hidrologi yaitu batas DAS dan Sub DAS, dimana dalam masing-masing DAS dan Sub DAS ini memiliki kesamaan karakteristik alam yang homogen, namun-berbeda antara satu DAS dengan DAS lainnya sehingga setiap unit lanskap unik dan dapat dibedakan satu sama lain. Berdasarkan batas DAS dan Sub DASnya, wilayah Kalimantan Selatan terbagi menjadi 13 unit Lanskap yang memiliki kesamaan karakteristik iklim namun memiliki keunikan karakteristik alam yang berbeda antar unit lanskapnya (Gambar 26). Wilayah Banjarmasin bagian utara ini berada pada DAS Barito dan anak sungainya, yaitu Sub DAS Martapura yang memiliki kesamaan karakteristik hidrologi, topografi dan jenis tanah sehingga membentuk unit lanskap yang homogen. Unit lanskap DAS Barito dan Sub DAS Martapura tersusun oleh unit tempat yang diklasifikasikan berdasarkan Wilayah Manajemen Airnya. Unit tempat ini merupakan unit terkecil yang menyusun Unit bioregion, sehingga pada unit tempat ini karakteristik alam dan budaya sudah dapat dibedakan antara unit tempat yang satu dengan yang lainnya. Setiap unit tempat nilai intrinsik berupa kekayaan alam dan budaya yang berbeda satu sama lain, dan setiap unit tempat juga diberi nama yang menggambarkan nilai intrinsik di daerah tersebut. Unit tempat didefinisikan sebagai area yang mempunyai nilai intrinsik dan keunikan yang dapat dibedakan dengan area sekitarnya. Penamaan unit ini diusahakan dengan menggunakan nama lokal yang mendeskripsikan keunikan (nilai intrinsik) yang dimiliki lokasi tersebut dan berarti bagi masyarakatnya.

11 63

12 Analisis Pembentukan Unit Tempat Untuk melakukan deliniasi unit tempat dan identifikasi nilai intrinsik, maka dilakukan overlay terhadap peta sebaran situs bersejarah (Gambar 24) dengan peta komposit penutupan lahan dan WMA (Gambar 25) yang menghasilkan peta komposit penutupan lahan, WMA dan situs bersejarah (Gambar 27). Berdasarkan peta tersebut, wilayah Banjarmasin bagian utara terdeliniasi menjadi 19 unit tempat. Selanjutnya dilakukan identifikasi nilai intrinsik pada masing-masing unit tempat dengan menggunakan peta komposit penutupan lahan, WMA dan situs bersejarah (Gambar 27) dan dilakukan penamaan unit tempat berdasarkan nilai intrinsik yang mendominasi wilayah tersebut. Nilai intrinsik merupakan kekayaan ekonomi, alam dan edukasi di lahan yang membuat suatu tempat berbeda dan memberikan pengalaman yang sukar dilupakan, nilai intrinsik menurut modifikasi Jones et al(1998) antara lain: 1. Nilai intrinsik kantung air, diidentifikasi berdasarkan unit tempat yang memiliki kantung air yang masih alami (Tabel 5). 2. Nilai intrinsik sumber daya alami, merupakan daerah alami yang belum terganggu oleh manusia. Unit tempat yang memiliki nilai intrinsik sumber daya alami diidentifikasi berdasarkan unit tempat yang memiliki luasan lahan pertanian basah/kering lebih dari 30% (Tabel 6). 3. Nilai intrinsik pemandangan, merupakan daerah alami yang memiliki keindahan dan keunikan. Nilai intrinsik pemandangan di wilayah Banjarmasin bagian utara di klasifikasikan sebagai daerah-daerah yang memiliki ruang terbuka yang masih cukup alami, serta, daerah yang memiliki akses pemandangan kearah sungai yang masih cukup alami, yaitu sungai Alalak, oleh karena itu unit tempat yang memiliki akses dan pemandangan langsung ke sungai ini diklasifikasikan ke dalam daerah yang memiliki nilai intrinsik pemandangan.

13 65

14 66 4. Nilai intrinsik rekreasi meliputi daerah yang mendukung aktivitas ruang luar, seperti kegiatan olahraga, piknik, berperahu dan fotografi. Lokasi yang memenuhi kriteria tersebut antara lain situs-situs bersejarah, dan daerah yang dilalui sungai besar dan sedang, seperti sungai Barito, Martapura, dan Alalak, karena sungai besar dan sedang mampu mendukung aktivitas berperahu, baik perahu kecil maupun besar. 5. Nilai Intrinsik Sejarah di wilayah Banjarmasin utara meliputi daerah yang memiliki bukti-bukti fisik peninggalan sejarah di masa lampau berupa bangunan-bangunan Tua yang sudah di kategorikan sebagai Benda BCB. BCB di wilayah Banjarmasin bagian utara antara lain Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, masjid jami sungai Jingah serta rumah tradisional Banjar. Namun pemukiman tradisional belum dikategorikan sebagai BCB sehingga tidak termasuk kedalam Nilai intrinsik arkeologi. 6. Nilai intrinsik budaya didefinisikan sebagai daerah yang dapat menginterpretasikan kehidupan tradisional masyarakat Banjar. Daerah ini bisa berupa situs makam, masjid, dan pemukiman tradisional yang mampu menginterpretasikan nilai-nilai kebudayaan di Banjarmasin. 7. Nilai intrinsik pemukiman, meliputi daerah yang memiliki penutupan lahan berupa pemukiman padat maupun tidak padat 8. Nilai intrinsik industri, meliputi daerah yang memiliki penutupan lahan berupa lahan industri. Daerah industri ini berupa pabrik, pergudangan, pusat pelelangan ikan, tempat pembuatan perahu/speedboat, dan lain-lain. Tabel nilai intrinsik di Banjarmasin bagian utara dapat dilihat pada Tabel 7, sedangkan peta hasil deliniasi unit tempat dapat dilihat pada Gambar 28. Tabel 7. Nama Unit Tempat dan Nilai Intrinsiknya Nilai Intrinsik Unit Tempat Nama Unit tempat 1 Makam dan Masjid Sultan Suriansyah Luas (Km 2 ) Kantung Air Sumberdaya alami Rekreasi Pemandangan Sejarah budaya pemukiman 5,69 v v v v v v v - Industri

15 67 Lanjutan Tabel 7 Nilai Intrinsik unit tempat Nama Unit tempat Luas (Km 2 ) Kantung Air Sumberdaya alami 2 Kampung 3,25 v v v v - v v - tradisional Sungai Miai 3 Masjid Jami 2,25 v v v v v v v - 4 Kampung 0,97 v v v v - v v - tradisional Sungai Jingah 5 Ruang terbuka 1 2,27 v v - v - - v - 6 Ruang terbuka 2 9,00 v v - v - - v - 7 Ruang terbuka 3 0,66 v v - v - - v - 8 Pemukiman padat 0,69 v v Ruang terbuka 4 1,40 v v - v - - v - 10 Pemukiman padat 0, v Kampung Melayu 1, v - - v v - Rekreasi Pemandangan Sejarah budaya pemukiman Industri 12 Kampung Arab 0, v - - v v - 13 Industri 1 1, v v v 14 Industri 2 1, v v v 15 Pemukiman padat 0,38 v v Pemukiman padat 0, v Pemukiman padat 0, v Industri 3 1, v v v 19 Industri 4 0, v v v Total 35,12 Sumber: hasil analisis Keterangan: v : terdapat nilai intrinsik di Unit tempat tersebut - : tidak terdapat nilai intrinsik di Unit tempat tersebut

16 68

17 Sintesis Pada tahap sintesis ini dilakukan pengelompokan unit tempat kedalam 7 kelompok unit tempat, yaitu kelompok unit tempat I, II, III, IV, V, VI dan VII, berdasarkan kesamaan nilai intrinsik yang dimiliki unit tempat tersebut (Tabel 8). Peta hasil pengelompokan unit tempat dapat dilihat pada Gambar 29. Tabel 8. Kelompok Unit Tempat Berdasarkan Kesamaan Nilai Intrinsiknya Unit tempat Kelompok Unit tempat 1,3 I 2,4 II 5,6,7,9 III Selanjutnya akan dilakukan pengkategorian kondisi bioregion pada masing-masing kelompok unit tempat. Pengkategorian tingkat bioregion ini dilihat berdasarkan keragaman nilai alami dan budaya pada masing-masing unit tempat. Semakin tinggi keragaman nilai alami dan budaya yang ada pada masingmasing unit tempat maka semakin tinggi tingkat bioregionnya dan semakin tinggi potensi yang dapat dikembangkan. Nilai Intrinsik Kantung air, sumber daya alami, rekreasi, pemandangan, sejarah, budaya, pemukiman kantung air, sumber daya alami, rekreasi, pemandangan, budaya, pemukiman Kantung air, sumber daya alami, pemandangan, rekreasi, pemukiman 8,15 IV Kantung air, pemukiman 11,12 V Rekreasi, budaya, pemukiman 13,14,18,19 VI Rekreasi, pemukiman, industri 10,16,17 VII pemukiman Untuk mengetahui tingkat keragaman nilai alami dan budaya yang ada pada masing-masing unit tempat maka dilakukan skoring terhadap kondisi eksisting unit tempat dengan mengkategorikan nilai intrinsik yang ada kedalam dua kategori, yaitu kategori nilai intrinsik alami dan budaya. Selanjutnya kategori alami dan budaya dibagi kembali menjadi empat kategori, dan diberi skor berdasarkan tingkat pelestarian yang diperlukan. Semakin tinggi skornya berarti semakin tinggi tingkat pelestarian yang diperlukan bagi nilai intrinsik tersebut. Nilai intrinsik yang termasuk ke dalam kategori alami adalah nilai intrinsik kantung air, sumberdaya alami, pemandangan dan rekreasi. Nilai intrinsik ini dibagi menjadi kategori alami sangat tinggi, alami tinggi, alami sedang, dan alami

18 70

19 71 rendah dengan skor secara berurutan yaitu 4, 3, 2 dan 1. Nilai Intrinsik yang termasuk ke dalam kategori budaya adalah nilai intrinsik Sejarah, budaya, pemukiman dan industri. Pada kategori budaya juga dibagi kembali kedalam empat kategori, yaitu budaya sangat tinggi, budaya tinggi, budaya sedang, dan budaya rendah dengan skor secara berurutan yaitu 4, 3, 2, dan 1 (Tabel 9) Tabel 9. Skoring untuk masing masing Kategori Nilai intrinsik No. Nilai Intrinsik Kategori Nilai Intrinsik Skor Alami 1. kantung air Alami Sangat tinggi 4 2. Sumberdaya alami Alami tinggi 3 3. Pemandangan Alami sedang 2 4. rekreasi Alami rendah 1 Budaya 5. Sejarah Budaya sangat tinggi 4 6. Budaya Budaya tinggi 3 7. Pemukiman Budaya sedang 2 8. Industri Budaya rendah 1 Total skor maksimum 20 Selanjutnya nilai intrinsik yang ada pada masing-masing kelompok unit tempat akan dihitung skornya kemudian dilakukan pengkategorian kondisi bioregion pada masing masing kelompok unit tempat berdasarkan total skor masing-masing. Kategori bioregion tersebut adalah bioregion sangat tinggi, bioregion tinggi, bioregion sedang, dan bioregion rendah (Tabel 10) sedangkan tabel hasil perhitungan jumlah skor dan kategorisasi bioregion terhadap setiap kelompok unit tempat dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 10. Kategori Bioregion Berdasarkan Jumlah Skor Nilai Intrinsik Pada Masing-masing Unit Tempat No. Jumlah skor Kategori bioregion sangat tinggi tinggi sedang rendah

20 72 Tabel 11. Kategorisasi Bioregion Pada Masing-masing Kelompok Unit Tempat Kelompok Unit tempat I II III IV V VI Nilai Intrinsik Skor Total skor Kantung air, sumber daya alami, rekreasi, pemandangan, sejarah, budaya, pemukiman kantung air, sumber daya alami, rekreasi, pemandangan, budaya, pemukiman Kantung air, sumber daya alami, pemandangan, rekreasi, pemukiman Kantung air, pemukiman Rekreasi, budaya, pemukiman Rekreasi, pemukiman, industri Kategori bioregion dari sangat tinggi hingga rendah ini menggambarkan keragaman faktor alam dan budaya yang ada pada setiap nilai intrinsik serta potensi nilai intrinsik yang dapat dikembangkan. Kelompok unit tempat dengan kategori bioregion sangat tinggi memiliki hampir seluruh nilai intrinsik yang ada, baik nilai intrinsik alami maupun budaya, yang berarti kelompok unit tempat tersebut memiliki keragaman bioregion yang sangat tinggi dan memiliki potensi nilai intrinsik yang sangat tinggi untuk dikembangkan. Kelompok unit tempat dengan kategori bioregion tinggi juga memiliki keragaman nilai intrinsik alami maupun budaya yang tinggi, yang berarti kelompok unit tempat tersebut memiliki keragaman bioregion yang tinggi dan juga memiliki nilai intrinsik yang tinggi untuk dikembangkan. Kategori Bioregion Luas (Km 2 ) 18 Sangat Tinggi 7,94 15 Tinggi 4,22 12 Tinggi 13, Sedang 1, Sedang Rendah 5.39 VII pemukiman 2 2 Rendah 1,57

21 73 Selanjutnya untuk kelompok unit tempat dengan kategori bioregion sedang hanya memiliki kurang dari setengah dari kedelapan nilai intrinsik yang ada, yang berarti keragaman bioregion yang ada tidak cukup tinggi dan tidak terlalu rendah, sehingga potensi nilai intrinsik untuk dikembangkan tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk kelompok unit tempat dengan kategori bioregion rendah hanya memiliki satu atau dua nilai intrinsik dari kedelapan nilai intrinsik yang ada, yang berarti keragaman bioregionnya rendah, sehingga tidak banyak potensi nilai intrinsik yang dapat dikembangkan. Peta hasil kategorisasi bioregion dapat dilihat pada Gambar 30.

22 74

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Sungai merupakan salah satu bentuk badan air lotik yang bersifat dinamis yang berguna bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sungai memiliki fungsi ekologis yang dapat

Lebih terperinci

RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL

RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL Rencana Lanskap Berdasarkan hasil analisis data spasial mengenai karakteristik lanskap pemukiman Kampung Kuin, yang meliputi pola permukiman, arsitektur bangunan

Lebih terperinci

KONSEP PERENCANAAN LANSKAP PERMUKIMAN TRADISIONAL

KONSEP PERENCANAAN LANSKAP PERMUKIMAN TRADISIONAL KONSEP PERENCANAAN LANSKAP PERMUKIMAN TRADISIONAL Konsep Lanskap Total Konsep total dari perancanaan ini adalah menata apa yang ada saat ini dan mengendalikan tapak sedemikian rupa untuk mencegah penggunaan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

METODOLOGI. Gambar 14. Peta Lokasi Penelitian (Sumber: Data Kelurahan Kuin Utara) Peta Kecamatan Banjarmasin Utara. Peta Kelurahan Kuin Utara

METODOLOGI. Gambar 14. Peta Lokasi Penelitian (Sumber: Data Kelurahan Kuin Utara) Peta Kecamatan Banjarmasin Utara. Peta Kelurahan Kuin Utara METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kuin adalah wilayah sepanjang daerah aliran Sungai Kuin yang terletak di kota Banjarmasin.

Lebih terperinci

II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioregion

II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioregion II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioregion Bioregion merupakan area geografis yang mempunyai karakteristik tanah, daerah aliran sungai (DAS), iklim, tanaman lokal serta hewan, yang unik dan memiliki nilai intrinsik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.2. Tipologi kota-kota perairan di Pulau Kalimantan Sumber: Prayitno (dalam Yudha, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.2. Tipologi kota-kota perairan di Pulau Kalimantan Sumber: Prayitno (dalam Yudha, 2010) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota-kota di Pulau Kalimantan memiliki kaitan yang erat terhadap sungai. Hal ini dikarenakan kota-kota tersebut merupakan kota yang mengalami perkembangan dari jejalur

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini merupakan hasil temuan dan hasil analisa terhadap kawasan Kampung Sindurejan yang berada di bantaran sungai

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berakar pada faktor-faktor geografi dan sejarah nusantara yang selama berabad-abad

BAB I PENDAHULUAN. berakar pada faktor-faktor geografi dan sejarah nusantara yang selama berabad-abad BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan tepi air ataupun kawasan tepi sungai di Indonesia sebenarnya berakar pada faktor-faktor geografi dan sejarah nusantara yang selama berabad-abad telah menjadi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI I. UMUM Di dalam undang-undang no 26 Tahun 2007 tentang penataan Ruang, dijelaskan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 27 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1. Kota Banjarmasin Secara geografis Kota Banjarmasin terletak pada posisi antara 3 15 LS 3 22 LS dan 114 52 LS - 114 98 LS. Adapun jika ditinjau secara administratif Kota

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN 4.1 ANALISIS LOKASI TAPAK BAB IV ANALISIS PERANCANGAN Dalam perancangan arsitektur, analisis tapak merupakan tahap penilaian atau evaluasi mulai dari kondisi fisik, kondisi non fisik hingga standart peraturan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Permukiman Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. Permukiman perlu ditata agar dapat berkelanjutan dan

Lebih terperinci

PERENCANAAN LANSKAP KAWASAN PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI BERBASIS BIOREGION. Oleh : ARIN NINGSIH SETIAWAN A

PERENCANAAN LANSKAP KAWASAN PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI BERBASIS BIOREGION. Oleh : ARIN NINGSIH SETIAWAN A PERENCANAAN LANSKAP KAWASAN PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI BERBASIS BIOREGION Oleh : ARIN NINGSIH SETIAWAN A34203031 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 RINGKASAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di wilayah Kalimantan Selatan yang saat ini memiliki posisi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. di wilayah Kalimantan Selatan yang saat ini memiliki posisi yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Banjarmasin merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), sebagai Kota Pusat Pemerintahan serta sebagai pintu gerbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup tinggi, dengan curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun. Air merupakan sumberdaya alam yang

Lebih terperinci

Bab 4. Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan

Bab 4. Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan Bab 4 Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan 31 IV.1. Pengantar Bagian ini memaparkan hasil penelitian, meliputi hasil analisis dan pembahasan. Analisis dilakukan terhadap data-data berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyajian Data Survei Dari survei menggunakan metode wawancara yang telah dilakukan di Desa Karanganyar Kecamatan Karanganyar RT 01,02,03 yang disebutkan dalam data dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. termasuk kebutuhan akan sumberdaya lahan. Kebutuhan lahan di kawasan

BAB I PENDAHULUAN. termasuk kebutuhan akan sumberdaya lahan. Kebutuhan lahan di kawasan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pembangunan menyebabkan bertambahnya kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan akan sumberdaya lahan. Kebutuhan lahan di kawasan perkotaan semakin meningkat sejalan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Pada bab ini akan dibahas mengenai gambaran umum Kota Banjarmasin yang terdiri dari kondisi fisik dasar, pemanfaatan lahan dan kependudukan. Selain itu, dibahas pula

Lebih terperinci

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5%

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan pokok untuk semua makhluk hidup tanpa terkecuali, dengan demikian keberadaannya sangat vital dipermukaan bumi ini. Terdapat kira-kira

Lebih terperinci

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN Daerah pemukiman perkotaan yang dikategorikan kumuh di Indonesia terus meningkat dengan pesat setiap tahunnya. Jumlah daerah kumuh ini bertambah dengan kecepatan sekitar

Lebih terperinci

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM BAB 6 TUJUAN DAN KEBIJAKAN No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM Mengembangkan moda angkutan Program Pengembangan Moda umum yang saling terintegrasi di Angkutan Umum Terintegrasi lingkungan kawasan permukiman Mengurangi

Lebih terperinci

BAB VII PERENCANAAN a Konsep Ruang

BAB VII PERENCANAAN a Konsep Ruang 62 BAB VII PERENCANAAN 7.1 KONSEP PERENCANAAN 7.1.1 Konsep Dasar Perencanaan Penelitian mengenai perencanaan lanskap pasca bencana Situ Gintung ini didasarkan pada tujuan mengembalikan fungsi situ mendekati

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan

TINJAUAN PUSTAKA. meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan TINJAUAN PUSTAKA Danau Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan untuk semua badan air (water body) yang ada di daratan. Air pada perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang

Lebih terperinci

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat.

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat. 37 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang menjabarkan pembangunan sesuai dengan kondisi, potensi dan kemampuan suatu daerah tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di dataran pantai Utara Jawa. Secara topografi mempunyai keunikan yaitu bagian Selatan berupa pegunungan

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1 TINJAUAN UMUM KOTA MAGELANG 3.1.1 Tinjauan Administratif Wilayah Kota Magelang Kota Magelang merupakan salah satu kota yang terletak di tengah Jawa Tengah dengan memiliki luas

Lebih terperinci

WATERFRONT CITY, BANJARMASIN Sebuah Upaya Inovatif Pengembalian Citra Kota

WATERFRONT CITY, BANJARMASIN Sebuah Upaya Inovatif Pengembalian Citra Kota WATERFRONT CITY, BANJARMASIN Sebuah Upaya Inovatif Pengembalian Citra Kota Oleh: Raditya PU * Kepala Bappeda Banjarmasin Kota Seribu Sungai. Sudah sewajarnya jika sebutan tersebut diberikan masyarakat

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

IV. INVENTARISASI. Tabel 4 Luas, Nama Ibukota Kecamatan, dan Jumlah Desa/ Kelurahan di Kota Banjarmasin Tahun 2008

IV. INVENTARISASI. Tabel 4 Luas, Nama Ibukota Kecamatan, dan Jumlah Desa/ Kelurahan di Kota Banjarmasin Tahun 2008 IV. INVENTARISASI 4.1. Letak Geografis dan Batas Administrasif Kota Banjarmasin secara geografis terletak pada koordinat 3 0 15-3 0 22 LS dan 114 0 98 BT berkedudukan sebagai ibukota Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi

Lebih terperinci

KONSEP PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DI KAMPUNG HIJAU KELURAHAN TLOGOMAS KOTA MALANG

KONSEP PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DI KAMPUNG HIJAU KELURAHAN TLOGOMAS KOTA MALANG KONSEP PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DI KAMPUNG HIJAU KELURAHAN TLOGOMAS KOTA MALANG Titik Poerwati Leonardus F. Dhari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Nasional Malang ABSTRAKSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM 1.2 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM 1.2 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di dataran pantai Utara Jawa. Secara topografi mempunyai keunikan yaitu bagian Selatan berupa pegunungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, masalah lingkungan telah menjadi isu pokok di kota-kota

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, masalah lingkungan telah menjadi isu pokok di kota-kota BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, masalah lingkungan telah menjadi isu pokok di kota-kota besar di Indonesia. Mulai dari banjir, polusi udara, longsor, hingga kurangnya air bersih. Berbagai

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3 SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3 1. Untuk menambah air tanah, usaha yang perlu dilakukan adalah... membuat sumur resapan penggalian sungai-sungai purba tidak

Lebih terperinci

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU)

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU) Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU) 1 Pendahuluan Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang banyak dijumpai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisa Hidrologi Analisis hidrologi merupakan salah satu bagian dari keseluruhan rangkaian dalam perencanaan bangunan air seperti sistem drainase, tanggul penahan banjir dan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA Disampaikan dalam Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Dosen: PELATIHAN DAN SOSIALISASI PEMBUATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mungkin terdapat kehidupan. Air tidak hanya dibutuhkan untuk kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. mungkin terdapat kehidupan. Air tidak hanya dibutuhkan untuk kehidupan BAB I PENDAHULUAN I.1. Uraian Umum Air merupakan sumber daya alam yang paling berharga, karena tanpa air tidak mungkin terdapat kehidupan. Air tidak hanya dibutuhkan untuk kehidupan manusia, hewan, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan kebutuhan penduduk terhadap lahan baik itu untuk

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan kebutuhan penduduk terhadap lahan baik itu untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, menyebabkan peningkatan kebutuhan penduduk terhadap lahan baik itu untuk kegiatan pertanian, industri, perumahan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai.

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian ini meliputi wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dimilikinya selain faktor-faktor penentu lain yang berasal dari luar. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dimilikinya selain faktor-faktor penentu lain yang berasal dari luar. Hal ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aliran permukaan adalah air yang mengalir di atas permukaan. Aliran permukaan sendiri memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas air yang dimilikinya selain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di dunia. Hal ini juga terjadi di Indonesia, dimana banjir sudah menjadi bencana rutin yang terjadi setiap

Lebih terperinci

Peta Rencana Lanskap (Zonasi) Kawasan Situ Gintung

Peta Rencana Lanskap (Zonasi) Kawasan Situ Gintung 50 BAB VI SINTESIS Untuk menetapkan zonasi perencanaan tapak diterapkan teori Marsh (2005) tentang penataan ruang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang membagi tapak menjadi tiga satuan lahan, yaitu Satuan

Lebih terperinci

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara September 2011 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu cepat, memberikan dampak terhadap pemanfaatan ruang kota oleh masyarakat yang tidak mengacu pada tata ruang kota yang

Lebih terperinci

KELURAHAN SELINDUNG BARU

KELURAHAN SELINDUNG BARU Tabel II.21 Ruang Terbuka Hijau Kelurahan Selindung Baru N0. JENIS RTH LOKASI LUAS (M 2 ) 1. Pekarangan SMP 7 RT.01 10.000,0 2. Pekarangan Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan RT.01 4.771,0 3. Kuburan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN

Lebih terperinci

Eco-Planning Banjarmasin: Membangun Kembali Simbiose di Kota Seribu Sungai

Eco-Planning Banjarmasin: Membangun Kembali Simbiose di Kota Seribu Sungai Qodarian Pramukanto's Blog Eco-Planning Banjarmasin: Membangun Kembal http://qpramukanto.staff.ipb.ac.id/essay/eco-planning-banjarmasin-membangun-kembali-simbiose-d i Eco-Planning Banjarmasin: Membangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak sungai,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak sungai, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak sungai, sehingga memiliki potensi sumber daya air yang besar. Sebagai salah satu sumber daya air, sungai memiliki

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1429, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Dana Alokasi Khusus. Pemanfaatan. Petunjuk Teknis. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2013

Lebih terperinci

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

INFO TEKNIK Volume 9 No. 1, Juli 2008 (43-50)

INFO TEKNIK Volume 9 No. 1, Juli 2008 (43-50) INFO TEKNIK Volume 9 No. 1, Juli 2008 (43-50) MUTU PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI DI BANJARMASIN Kurnia Widiastuti Jurusan Arsitektur Univ. Lambung Mangkurat Banjarmasin Abstrak Secara empiris daerah bantaran

Lebih terperinci

terbuka hijau yang telah diubah menjadi ruang-ruang terbangun, yang tujuannya juga untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi penduduk kota itu sendiri.

terbuka hijau yang telah diubah menjadi ruang-ruang terbangun, yang tujuannya juga untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi penduduk kota itu sendiri. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1. Ruang terbuka sebagai daerah resapan Di berbagai kota di Indonesia, baik kota besar maupun kota kecil dan sekitarnya pembangunan fisik berlangsung dengan pesat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk, terutama manusia. Dua pertiga wilayah bumi terdiri dari lautan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian M di

BAB I PENDAHULUAN. perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian M di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Gorontalo sebagian besar wilayahnya berbentuk dataran, perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian 0 2000 M di atas permukaan laut. Luas

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI. Kabupaten Balangan. 2.1 Visi Misi Sanitasi

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI. Kabupaten Balangan. 2.1 Visi Misi Sanitasi II-1 BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI 2.1 Visi Misi Sanitasi Visi Pembangunan Tahun 2011-2015 adalah Melanjutkan Pembangunan Menuju Balangan yang Mandiri dan Sejahtera. Mandiri bermakna harus mampu

Lebih terperinci

HIDROSFER IV. Tujuan Pembelajaran

HIDROSFER IV. Tujuan Pembelajaran KTSP & K-13 Kelas X Geografi HIDROSFER IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir dan faktor penyebabnya. 2. Memahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Banjir merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada saat musim hujan. Peristiwa ini hampir setiap tahun berulang, namun permasalahan ini sampai saat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Hubungan antara manusia dengan lingkungan adalah sirkuler. Perubahan pada lingkungan pada gilirannya akan mempengaruhi manusia. Interaksi antara manusia dengan lingkungannya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang. bertingkat atau permukiman, pertanian ataupun industri.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang. bertingkat atau permukiman, pertanian ataupun industri. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang melaksanakan pembangunan di berbagai sektor. Seperti yang diketahui selama ini, pembangunan memberikan banyak

Lebih terperinci

PP 27/1991, RAWA... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 27 TAHUN 1991 (27/1991) Tanggal: 2 MEI 1991 (JAKARTA)

PP 27/1991, RAWA... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 27 TAHUN 1991 (27/1991) Tanggal: 2 MEI 1991 (JAKARTA) PP 27/1991, RAWA... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 27 TAHUN 1991 (27/1991) Tanggal: 2 MEI 1991 (JAKARTA) Sumber: LN 1991/35; TLN NO. 3441 Tentang: RAWA Indeks:

Lebih terperinci

AIR Banjir dan Permasalahannya Di kota medan

AIR Banjir dan Permasalahannya Di kota medan AIR Banjir dan Permasalahannya Di kota medan DIPRESENTASIKAN OLEH : 1. MAGDALENA ERMIYANTI SINAGA (10600125) 2. MARSAHALA R SITUMORANG (10600248) 3. SANTI LESTARI HASIBUAN (10600145) 4. SUSI MARIA TAMPUBOLON

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,

Lebih terperinci

DATA DAN ANALISIS Kondisi Fisik Kelurahan Kuin Utara Topografi Hidrologi Kondisi Fisik Bangunan Tata Guna Lahan

DATA DAN ANALISIS Kondisi Fisik Kelurahan Kuin Utara Topografi Hidrologi Kondisi Fisik Bangunan Tata Guna Lahan DATA DAN ANALISIS Kondisi Fisik Kelurahan Kuin Utara Topografi Sebagaimana umumnya Kota Banjarmasin, topografi atau relief permukaan tanah di kawasan Kuin Utara atau yang biasa disebut Kampung Kuin relatif

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM

BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM Untuk dapat memenuhi tujuan penyusunan Tugas Akhir tentang Perencanaan Polder Sawah Besar dalam Sistem Drainase Kali Tenggang, maka terlebih dahulu disusun metodologi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA TAPAK

BAB IV ANALISA TAPAK BAB IV ANALISA TAPAK 4.1 Deskripsi Proyek 1. Nama proyek : Garuda Bandung Arena 2. Lokasi proyek : Jln Cikutra - Bandung 3. Luas lahan : 2,5 Ha 4. Peraturan daerah : KDB (50%), KLB (2) 5. Batas wilayah

Lebih terperinci

JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN

JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SD III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN A. Ketampakan Lingkungan Alam dan Buatan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.791 km (Supriharyono, 2007) mempunyai keragaman

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2011-2031 I. UMUM 1. Faktor yang melatarbelakangi disusunnya Rencana Tata Ruang

Lebih terperinci

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa BAB VII RENCANA 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa 7.1.1 Tahapan Pembangunan Rusunawa Agar perencanaan rumah susun berjalan dengan baik, maka harus disusun tahapan pembangunan yang baik pula, dimulai dari

Lebih terperinci

MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011)

MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011) Artikel OPINI Harian Joglosemar 1 MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011) ŀ Turunnya hujan di beberapa daerah yang mengalami kekeringan hari-hari ini membuat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992 LAMPIRAN III UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992 TENTANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Pasal 1 (1.1) Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kota-Kota Tepian Air di Indonesia Sumber: Heldiyansyah, 2010

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kota-Kota Tepian Air di Indonesia Sumber: Heldiyansyah, 2010 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan tepian sungai adalah termasuk kawasan tepian air yang memiliki beberapa kelebihan, terutama berkaitan dengan fungsi dan aksessibilitas yang lebih strategis.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi luas perairan 3,1 juta km 2, terdiri dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai ± 81.000 km. (Dishidros,1992).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan suatu sumber daya alam di bumi dimana setiap organisme hidup membutuhkan salah satu sumber daya alam terbarukan ini. Air adalah zat atau materi atau

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km 2 atau hampir 7 % dari luas seluruh pulau Kalimantan. Wilayah

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

BUKU I RINGKASAN EKSEKUTIF INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KOTA BLITAR TAHUN 2016

BUKU I RINGKASAN EKSEKUTIF INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KOTA BLITAR TAHUN 2016 BUKU I RINGKASAN EKSEKUTIF INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KOTA BLITAR TAHUN 2016 PEMERINTAH KOTA BLITAR DINAS LINGKUNGAN HIDUP JL. Pemuda Soempono Kel. Gedog Kec. Sananwetan Telp.

Lebih terperinci

KAJIAN PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN AIR HUJAN

KAJIAN PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN AIR HUJAN Spectra Nomor 11 Volume VI Januari 008: 8-1 KAJIAN PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN AIR HUJAN Ibnu Hidayat P.J. Dosen Teknik Pengairan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah sebagian

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 PROGRAM DASAR PERENCANAAN 6.1.1 Program Ruang Rekapitulasi Ruang Dalam No Jenis Ruang Luas 1 Kelompok Ruang Fasilitas Utama 2996 m2 2 Kelompok Ruang Fasilitas

Lebih terperinci

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1.PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bekasi, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat yang terletak di sebelah timur Jakarta. Batas administratif Kota bekasi yaitu: sebelah barat adalah Jakarta, Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan yang dihadapi negara yang sedang berkembang

I. PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan yang dihadapi negara yang sedang berkembang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu permasalahan yang dihadapi negara yang sedang berkembang adalah pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Pertumbuhan penduduk mengakibatkan terjadinya peningkatan

Lebih terperinci

HIDROSFER III. Tujuan Pembelajaran

HIDROSFER III. Tujuan Pembelajaran KTSP & K-13 Kelas X Geografi HIDROSFER III Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami jenis sungai berdasarkan formasi batuan dan

Lebih terperinci

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3.1. Analisis Kedudukan Kawasan A. Analisis Kedudukan Kawasan Kawasan prioritas yaitu RW 1 (Dusun Pintu Air, Dusun Nagawiru, Dusun Kalilangkap Barat, dan Dusun Kalilangkap

Lebih terperinci

KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA

KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA Asmirawati Staf Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Bulukumba asmira_st@gmail.com ABSTRAK Peningkatan kebutuhan lahan perkotaan

Lebih terperinci

commit to user BAB I PENDAHULUAN

commit to user BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumberdaya alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu ekosistem, yaitu lingkungan tempat berlangsungnya hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekayaan sumberdaya alam wilayah kepesisiran dan pulau-pulau kecil di Indonesia sangat beragam. Kekayaan sumberdaya alam tersebut meliputi ekosistem hutan mangrove,

Lebih terperinci