HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA SNS DI JAKARTA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA SNS DI JAKARTA"

Transkripsi

1 HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA SNS DI JAKARTA Ahmad Gozali Binus University Kampus Kijang, Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45, Kemanggisan/Palmerah, JakartaBarat 11480, Telp. (62-21) , (Ahmad Gozali, Esther Widhi Andangsari) ABSTRACT The Internet has become part of daily life on undergraduate student, they are using The Internet to support their activities, moreover The Internet also as requirement for using Social network Site (SNS). Social Networking Site has also become the media to express emotion of it users, but then sometimes the behavior of using SNS turns out to be exaggerate so its user like addicted to SNS. This research would like to investigate the relationship of Emotional Regulation (Cognitive Reappraisal and Expressive Suppression) and Problematic The Internet Use in College student who is SNS users in Jakarta. The research method is using Quantitative approach, that is by distributing the Questionnaire of the two research variable and operate correlation using SPSS. The subjects of this research were college students who were using SNS from Universities located in Jakarta. The result of this research was the categorization from the classification of Emotional Regulation (Cognitive Reappraisal and Expressive Suppression) from the researches respondent and the level (high/low) of Problematic Internet Use. Based on the result, the conclusion was there are no correlation between Cognitive Reappraisal and PIU, but there is a positive correlation between Expressive Suppression and PIU among undergraduate student who is SNS user in Jakarta. Keywords: Regulasi Emosi, Cognitive Reappraisal, Problematic Internet Use, Social Networking Site.

2 ABSTRAK Internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dalam hal ini mahasiswa menggunakan internet untuk menunjang kehidupan perkuliahan selain itu kebanyakan mahasiswa menggunakan internet sebagai sarana penggunaan media sosial. Media sosial juga digunakan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan oleh penggunanya, namun terkadang penggunaan media sosia menjadi berlebihan seakanakan memiliki ketergantungan dari penggunaan media sosial tersebut. Penelitian ini ingin melihat apakah terdapat hubungan antara Regulasi Emosi (Cognitive Reappraisal dan Expressive Suppression) dengan Problematic Internet Use pada mahasiswa pengguna Social Networking Site (SNS) di Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kuatitatif, yaitu dengan melakukan penyebaran data yang didapat dari alat ukur masing-masing variabel yang dikorelasikan menggunakan SPSS. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang masuk dalam kategori Emerging Adult dan berstatus mahasiswa serta memiliki akun SNS di Jakarta. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah kategori-kategori responden dengan klasifikasi strategi Regulasi Emosi yaitu Cognitive Reppraisal dan Expresive Suppression dengan tingkat PIU tinggi dan rendah. Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara Regulasi Emosi Cognitive Reppraisal dengan problematic Internet Use pada mahasiswa pengguna SNS, namun terdapat hubungan antara Expressive Suppression dengan Problematic Internet Use pada mahasiswa pengguna SNS di Jakarta. Kata kunci: Regulasi Emosi, Cognitive Reappraisal,Expresive Suppression, Problematic Internet Use, Social Networking Site. PENDAHULUAN Penggunaan internet yang meluas adalah hasil dari berkembangnya teknologi yang semakin canggih zaman modern ini. Sebagian besar manusia di dunia menggunakan internet untuk memudahkan kehidupan mereka. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Internet Society melaporkan bahwa pada bulan januari 2015 pengguna internet di dunia sudah mencapai angka 3 miliar pengguna.internet memang memberikan banyak manfaat kepada para penggunanya, salah satunya adalah terbangunnya komunikasi jarak jauh. Melalui situs jejaring sosial, para pengguna internet dapat melakukan interaksi dengan lawan bicaranya secara leluasa dan instan. Selain itu internet juga bisa menjadi sarana untuk mencari serta berbagi informasi. Pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kominfo pada mei 2014 pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta pengguna, sedangkan menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pengguna internet di Indonesia selama 2014 mencapai 88.1 juta pengguna dengan 49% pengguna berumur tahun dengan 87.4% penggunaan internet digunakan untuk akses jejaring sosial. Rata-rata penggunaan internet sebesar lima jam setiap harinya dengan mengunakan laptop atau PC dan sekitar dua jam melalui perangkat mobile (Kominfo, 2014). Sementara itu, pengguna situs jejaring sosial melalui perangkat mobile, menurut Kominfo (dalam Kompas Tekno, 2015) adalah 75% dari total 62 juta orang, dengan rata-rata waktu tiga jam perhari. Dari data-data diatas terlihat bahwa penggunaan internet di Indonesia cukup tinggi, lebih lanjut bedasarkan kompastekno tahun 2015 terunggap bahwa perilaku masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet cukup variatif dan akses ke situs jejaring sosial menempati urutan tertinggi yakni mencapai 64 % saat online. Fenomena tersebut juga dapat dilihat melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai perilaku mahasiswa dalam berinternet, termasuk penggunaan situs jejaring sosial

3 Wawancara tersebut dilakukan pada bulan februari-maret terhadap empat orang mahasiswi yang berasal dari dua universitas swasta di Jakarta dengan rentang umur tahun. Hasil wawancara menunjukan rata- rata penggunaan internet para mahasiswi tersebut adalah 5-7 jam sehari, selain untuk menunjang kegiatan perkuliahan adalah untuk mengisi waktu dan hal ini juga sudah menjadi kebiasaan sehari- hari sehingga mereka merasakan ada keinginan yang kuat untuk selalu terhubung ke internet jika sedang ada waktu kosong. Dari wawancara tersebut juga diketahui bahwa penggunaan internet yang paling dominan adalah situs jejaring sosial. Situs ini digunakan untuk terhubung dengan teman-teman, berkomunikasi dan juga untuk mendapatkan informasi yang terjadi di sekitar penggunanya. Jejaring sosial digunakan sebagai media untuk mengisi waktu, karena subjek dari wawancara ini memiliki lebih dari satu jejaring sosial maka mereka berpindah-pindah dari satu jejaring sosial yang satu ke jejaring sosial yang lain. Selain itu jejaring sosial juga digunakan sebagai media untuk mencurahkan keluh kesah penggunanya dalam kesehariannya, seperti ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan kemudian mencurahkan perasaannya tersebut melalui media sosial berupa verbalisasi negatif di media sosial tersebut. Terahir hasil wawancara membuktikan tingginya frekuensi dampak negatif yang dialami akibat dari penggunaan internet yang berlebihan, seperti terlalu asik dalam berselancar di situs jejaring sosial sehingga mengganggu waktu tidur dan melakukan prokrastinasi tugas-tugas kuliah. Fenomena-fenomena tersebut mengungkapkan adanya permasalahan dalam penggunaan internet atau dalam penelitian ini disebut Problematic Internet Use (PIU). PIU menurut Davis ( 2001) adalah individu yang mengalami masalah pada kehidupan psikososial, sosial, sekolah atau kehidupan kerja yang disebabkan oleh kurangnya pengendalian dari penggunaan internet. Indikasi yang terlihat pada fenomena yang ada diatas yaitu intensitas penggunaan internet yang tinggi, adanya keinginan untuk selalu terhubung ke internet, selain itu mereka juga merasakan dampak negatif dari pengunaan internet yang berlebihan. Hal ini sejalan dengan yang telah diungkapkan Davis bahwa PIU dapat dilihat dari penggunaan internet yang berlebihan, penggunaan berlebihan sendiri menurut Davis adalah ketika sesorang menggunakan lebih dari rata-rata penggunaan yang wajar, keinginan untuk selalu terhubung dan keinginan untuk mengunakan internet secara lebih dan lebih lagi serta yang terahir adalah adanya dampak negatif yang disakan oleh subjek wawancara akibat dari penggunaan internet yang berlebihan (Davis, 2001) Seperti telah diungkapkan pada fenomena diatas bahwa banyak pengguna media sosial menggunakan media tersebut sebagai salah satu cara dalam mencurahkan emosi yang sedang dirasakan. Proses tersebut dilakukan untuk mengurangi emosi atau perasaan negatif yang dirasakan oleh penggunanya. Hal ini secara disadari atau tidak disadari merupakan strategi yang dilakukan untuk mempertahankan emosi yang seimbang. Fenomena tersebut sesuai dengan pengertian dari regulasi emosi, Regulasi emosi ialah strategi yang dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar untuk mempertahankan, memperkuat atau mengurangi satu atau lebih aspek dari respon emosi yaitu pengalaman emosi dan perilaku. Seseorang yang memiliki regulasi emosi dapat mempertahankan atau meningkatkan emosi yang dirasakannya baik positif maupun negatif. Selain itu, seseorang juga dapat mengurangi emosinya baik positif maupun negatif (Gross, 2007). Perilaku mencurahkan keluh kesah melalui media sosial oleh subjek wawancara dalam penelitian ini terindikasi sebagai salah satu usaha dari para individu tersebut untuk meregulasi emosi mereka. Dalam prosesnya ketika mereka menghadapi situasi yang tidak menyenangkan kemudian memilih untuk mencurahkan emosi mereka melalui media sosial merupakan salah satu tahap proses regulasi emosi yaitu Situation Selection dan Situation Modification. Dalam penggunaannya individu kemudian fokus terhadap apa yang berlangsung dalam jejaring sosial tersebut dan terjadi perubahan kognitif yang kemudian menghasilkan verbalisasi negatif di media sosial atau perilaku berpindah-pindah dari satu jejaring sosial yag satu ke jejaring sosial yang lain. Pengguna media sosial yang melakukan verbalisasi negatif melalui jejaring media sosial merupakan salah satu strategi regulasi emosi yaitu Expressive Suppression disebut juga dengan strategi yang maladaptif. Strategi ini memungkinkan individu untuk mengeluarkan emosi negatif tanpa mengubahnya sehingga keberadaan emosi negatif tersebut masih ada. Penggunaan strategi regulasi emosi Expressive Suppression ini sesuai dengan penelitian Ford dan Mauss (2015) yang mengungkapkan bahwa orang-orang Asia cenderung menggunakan Expressive Suppression untuk meregulasi emosi mereka. Selain itu individu dengan regulasi emosi yang rendah atau maladaptif memiliki kecenderungan untuk memiliki kecenderungan untuk berperilaku adiktif yang terjadi karena untuk menghindari emosi yang negatif atau untuk mendapatkan rasa lega dari tekanan emosi (Schreiber, Grant, & Odlaug, 2012). Selain itu penelti juga menemukan informasi lainnya bahwa individu dengan disregulasi emosi secara positif berasosiasi dengan individu yang memiliki tingkat obsesi dan gangguan kompulsif yang tinggi (Schreiber, Grant, & Odlaug, 2012). Hal ini sejalan dengan gejala dari PIU yaitu keinginan untuk terus

4 menerus terhubung dengan internet dan penggunaan internet yang berlebihan serta kompulsif (Caplan, 2002). Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan sebelumnya peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti lebih jauh mengenai hubungan antara Problematic Internet Use (PIU) dengan regulasi emosi pada mahasiswa pengguna situs jejaring sosial dijakarta, pengambilan wilayah Jakarta karena menurut berdasarkan data yang dirilis APJII Jakarta merupakan provinsi dengan tingat penetrasi tertinggi. Dalam penelitian ini, penulis akan fokus pada responden yang merupakan mahasiswa selain karena lingkungan mahasiswa merupakan ruang lingkup kehidupan penulis saat ini, tetapi juga berdasarkan data APJII tahun 2014 yang telah disebutkan diatas mayoritas pengguna internet berada pada rentang umur dan mahasiswa termasuk kedalam rentang umur tersebut. Selain itu menurut Odaci dan Celik (2013) mengungkapkan bahwa terdapat penelitian yang mengindikasikan bahwa PIU mempengaruhi mahasiswa secara langsung maupun tidak langsung dalam hal keberhasilan akademik, perkembangan emosi dan sosial mereka. Moore (dalam Morahan-Martin & Schumacher, 2000) mengungkapkan bahwa mahasiswa dianggap berisiko tinggi untuk mempunyai masalah terkait dengan internet karena akses untuk online yang mudah dan jadwal yang fleksibel dan disisi lain penulis juga melihat mayoritas mahasiswa memiliki satu atau lebih situs jejaring sosial. Peneliti merasa penting untuk melakukan penelitian pada dua variabel tersebut karena dengan perkembangan internet yang pesat di Indonesia dapat memunculkan permasalahan-permasalahan pada penggunaannya serta dengan adanya situs jejaring sosial yang ada dan juga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para mahasiswa, yang tanpa disadari juga berpengaruh pada tingkat pengaturan emosi dalam hal ini regulasi emosi serta dengan kenyataan bahwa belum ada penelitian mengenai hubungan kedua variabel tersebut di Jakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini dimulai dari mencari fenomena-fenomena problematic internet use dan regulasi emosi yang terjadi disekitar peneliti yang dilakukan dengan melakukan wawancara kepada beberapa teman mahasiswa yang dinilai memiliki permasalahan penggunaan internet. Setelah melakukan pengamatan fenomena, langkah selanjutnya adalah melakukan tinjauan teori untuk mengumpulkan datadata dan informasi yang dapat mendukung penelitian. Setelah menemukan data-data yang mendukung untuk penelitian kemudian melakukan diskusi dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai data-data yang sudah didapatkan, diskusi juga dilakukan untuk menentukan partisipan yang akan diteliti serta variabel-variabel pendukung dalam penelitian. Setelah mendapatkan informasi baik itu dari jurnal dan buku serta berdasarkan diskusi, langkah selanjutnya peneliti mulai mencari alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini dan yang sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Lalu alat ukur tersebut diadaptasi dan juga dinilai melalui expert judgment kepada dosen-dosen yang ahli dibidang tersebut, selain itu juga dilakukan face validity oleh orang-orang yang dinilai sesuai dengan karakteristik partisipan. Kemudian setelah memastikan alat ukur sudah cocok untuk konstruk penelian, peneliti mulai melakukan Pilot Study selama 2 hari dengan target responden sebanyak minimal 50 orang. Setelah itu hasil dari Pilot Study diolah menggunakan SPSS untuk mendapatkan nilai reliabilitas dan kemudian melakukan revisi sebelum melakukan Field Study. Setelah itu penulis melakukan field study dengan subjek responden mahasiswa di Jakarta usia tahun yang punya dan aktif menggunakan situs jejaring soial. Ketika field study sudah selesai dilakukan, peneliti kembali mengolah data yang telah didapat menggunakan SPSS dan melakukan uji hipotesis. Setelah semua data sudah diolah peneliti menyusun hasil dan kesimpulan dari penelitian yang terkumpul. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Non-probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel ketika data-data dari populasi tidak diketahui secara lengkap sehingga tidak semua subjek dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel dalam penelitian (Gravetter & Forzano, 2012). Teknik pengambilan ini diambil karena tidak ada sumber informasi yang dapat mengkonfirmasi bahwa setiap subjek dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel dalam penelitian. Jenis dari Non-probability sampling yang dipilih untuk penelitian ini adalah convenience sampling yaitu pengambilan sampel dengan faktor kebetulan, hal ini berarti pengambilan sampel dilakukan dengan meminta subjek yang ditemui dan dinilai cocok untuk menjadi sampel dalam penelitian (Gravetter & Forzano, 2012). Desain penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan berdasarkan tujuannya, penelitian ini menggunakan desain korelasional yang ingin melihat hubungan antara dua variabel. Untuk mengolah data, penulis

5 terlebih dahulu memasukan data (coding) dari kuesioner. Kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for the Social Science) versi 22, dengan analisa The Spearman Correlation, karena data yang diperoleh merupakan data interval dan distribusi data yang diperoleh tidak normal.. Data dari penelitian ini akan diambil dari mahasiswa yang masuk dalam kategori emerging adulthood dengan rentang umur tahun di wilayah Jakarta dan memiliki serta menggunakan akun Social Networking Site (SNS) dengan pemkaian sehari-hari. Penelitian ini mengambil sebanyak 349 orang responden untuk pilot study dan 349 orang responden pada field study. Instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel regulasi emosi adalah emotional regulation questionnaire atau ERQ (Gross & John, 2003) dan generalize problematic internet use 2 (Caplan, 2010). ERQ mengukur dua strategi regulasi emosi yaitu expressive suppression (merubah kondisi fisiologis) dan cognitive reappraisal (merubah pemaknaan dari situasi). Nilai cronbach s alpha dari skala cognitive reappraisal adalah Nilai Cronbach s alpha pada skala expressive suppression adalah Validitas ERQ, Face validity dilakukan kepada 3 mahasiswa universitas Bina Nusantara. Ketiga mahasiswa tersebut mengungkapkan bahwa mereka sudah cukup paham dan mengerti isi pernyataan dari alat ukur peneliti. Expert judgement kepada 2 dosen jurusan Psikologi universitas Bina Nusantara, yaitu Ibu Katarina Ira Puspita, S.Psi., M.Psi. dan Yuni Wulandari, S.Sos, M. Psi. Terdapat 10 butir pernyataan dengan 7 pilihan jawaban berupa skala likert yang dimana jika menjawab angka 1 berarti sangat tidak setuju, angka 4 berarti netral dan angka 7 berarti sangat setuju. Generalize problematic internet use 2 mengukur permasalahan penggunaan internet dengan 15 item dan 8 pilihan jawaban dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Alat ukur ini memiliki 4 dimensi yaitu, preference for social interaction dengan nilai Cronbach s alpha 0.857, mood regulation dengan nilai Cronbach s alpha 0.773, self deficiency (cognitive preoccupation dengan nilai Cronbach s alpha dan compulsive internet use dengan nilai Cronbach s alpha ) dan negative outcome dengan nilai Cronbach s alpha Validitas GPIUS2 dilakukan dengan dua metode yaitu Face Validity dan Expert Judgement, Face validity dilakukan kepada 3 mahasiswa universitas Bina Nusantara. Ketiga mahasiswa tersebut mengungkapkan bahwa mereka sudah cukup paham dan mengerti isi pernyataan dari alat ukur peneliti. Expert judgement kepada 3 dosen jurusan Psikologi universitas Bina Nusantara, yaitu Ibu Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi., M.Psi., Ibu Esther Widhi Andangsari, M. Si., Psi. dan Bapak Bay dhowi, S.Psi., M. Si., dengan hasil Ibu Pinkan menyarankan untuk mengganti kata online dengan sosial media sedangkan Ibu Esther dan Bapak Bay Dhowi meluluskan semua item alat ukur yang diajukan. HASIL DAN BAHASAN Berdasarkan hasil analisa data, penulis membuat kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan antara Regulasi Emosi (Cognitive Reappraisal) dengan PIU pada mahasiswa pengguna SNS di Jakarta. Tidak adanya hubungan antara strategi Cognitive Reappraisal dengan PIU sebenarnya dapat dimengerti mengingat Cognitive Reappraisal dispesifikasikan juga sebagai Regulasi Emosi yang adaptif, dimana strategi regulasi emosi tersebut mengenankan penggunanya untuk fokus dan sebelum mengeluarkan emosi yang dirasakan (Gross dan John,2003). Sehingga penggunanya dapat mengubah persepsi mengenai emosi tersebut dan dapat mengembalikan keadaaan emosi ke keadaan yang seimbang. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dilihat bahwa seseorang yang menggunakan strategi Regulasi Emosi Cognitive Reappraisal tidak memiliki masalah dalam mengontrol emosi, sehingga orang-orang dengan strategi Regulasi Emosi Cognitive Reappraisal sudah berhasil meregulasi Emosi mereka sebelum menggunakan SNS dan menggunakan SNS bukan sebagai pelarian jadi orang tersebut dapat terhindar dari PIU. Selain itu menurut Ford dan Mauss (2015) stategi regulasi emosi Cognitive Reappraisal cenderung digunakan oleh orang-orang Eropa dan Amerika. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa terdapat hubungan hubungan positif antara strategi regulasi emosi Expressive Suppression dan PIU, artinya jika Expressive Suppression tinggi maka PIU juga tinggi, begitu juga sebaliknya jika Expressive Suppression rendah maka PIU juga rendah. Dilihat dari sisi teoritis strategi Regulasi Emosi Expressive Suppression diklasifikasikan juga sebagai strategi Regulasi Emosi yang maladaptif yang berarti dalam Expressive Suppression dimana ketika penggunanya penggunanya merasakan emosi yang negatif, penggunanya akan mengeluarkan emosi tersebut dalam hal ini melalui SNS tanpa adanya proses perubahan kognisi mengenai emosi tersebut sehingga emosi negatif yang dirasakan masih ada dan penggunaan SNS sendiri menjadi maladaptif. Hal itu diperkuat berdasarkan data yang didapatkan pada saat menghitung perolehan skor alat ukur, terungkap bahwa dari 36 orang yang terklasifikasi menggunakan Expressive Suppression 35 diantaranya memiliki intensitas penggunaan SNS yang tinggi, hanya 1 yang memiliki intensitas

6 rendah. Pada bab sebelumnya juga penulis telah mengemukakan bahwa pada penelitian sebelumnya mengungkapkan orang-orang dengan Regulasi Emosi yang rendah besar kemungkinan mengalami perilaku adiktif untuk mengurangi atau menghindar dari mood yang negatif atau bisa juga untuk mencoba mendapatkan keseimbangan emosi. Di sisi lain Regulasi Emosi yang rendah juga secara positif berasosiasi dengan tingkat obsesi yang lebih tinggi dan perilaku kompulsif (Schreiber, Grant & Odlaug, 2012). Obsesi dan perilaku kompulsif merupakan bagian dari dimensi PIU (Caplan, 2003), maka berdasarkan penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara Regulasi Emosi (Expressive Suppression) dan PIU. Selama pelaksanaan penelitian ini terdapat beberapa hambatan yang kemungkinan dapat mempengaruhi hasil dari penelitian. Pertama, pada awalnya teknik sampling yang direncanakan akan digunakan adalah menggunakan teknik Probability Sampling dimana peneliti dapat mengetahui pasti data populasi responden sehingga peneliti dapat mengontrol jalannya peneltian, namun pada saat melakukan penyebaran data pada responden yang merupakan mahasiswa, ternyata waktu penyebaran dilakukan pada saat yang kurang tepat karena bertepatan dengan masa libur semester genap sehingga penulis hanya bisa menyebarkan data pada mahasiswa yang ada di kampus tersebut tanpa bisa mengatur responden dan situasi sehingga responden penelitian tidak dapat benar-benar mewakili populasi. Kedua karena penulis merupakan bagian dari sebuah tim penelitian yang fokus meneliti PIU sehingga alat ukur masing-masing peneliti termasuk penulis digabung menjadi satu dan menghasilkan satu booklet alat ukur dengan jumlah item lebih dari 150 item. Walaupun hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah para peneliti untuk mendapatkan lebih banyak responden, namun yang kemudian penulis lihat banyak responden yang ahirnya tidak benar-benar mengerjakan dengan sungguh-sungguh bahkan penulis sendiri beberapa kali mengalami penolakan setelah memperlihatkan booklet alat ukur tersebut. Kedua hal tadi menurut dugaan penulis cukup mempengaruhi hasil dari penelitian ini sendiri. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa yang penulis jabarkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa strategi regulasi emosi Cognitive Reappraisal tidak memiliki hubungan dengan Problematic Internet Use pada mahasiswa pengguna SNS di Jakarta. Simpulan berikutnya adalah ada hubungan hubungan positif antara strategi regulasi emosi Expressive Suppression dan PIU, artinya jika Expressive Suppression tinggi maka PIU juga tinggi, begitu juga sebaliknya jika Expressive Suppression rendah maka PIU juga rendah. Pada pembahasan diatas telah diungkapkan bahwa budaya memiliki pengaruh terhadap penggunaan strategi regulasi emosi, dari studi tersebut juga terungkap bahwa orang-orang Eropa dan Amerka mayoritas lebih memilih untuk menggunakan strategi regulasi emosi Cognitive Reappraisal sedangkan orang-orang Asia mayoritas lebih memilih untuk menggunakan Expressive Suppression. Dengan adanya temuan tersebut penulis sendiri merasa ada baiknya untuk mengembangkan alat ukur Regulasi Emosi yang disesuaikan dengan kultur di Indonesia yang beraneka ragam sehingga hasil dari pengukuran akan lebih maksimal. Saran penulis berikutnya adalah penggunaan teknik sampling yang sebaiknya menggunakan Pobability Sampling karena dapat lebih memastikan keterwakilan populasi dari sampel yang diambil dalam penelitian. teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Probability Sampling dengan metode Convinience Sampling, metode tersebut sendiri digunakan karena keterbatasan waktu dimana waktu penyebaran data penelitian bertepatan dengan masa libur responden yang merupakan mahasiswa, sehingga peneliti tidak dapat benar-benar mengumpulkan informasi dari populasi sehingga dapat menentukan sampel penelitian yang mewaili populasi tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan antara strategi Regulasi Emosi Expressive Suppression dengan PIU pada mahasiswa pengguna SNS di Jakarta, maka dari itu Saran praktis yang dapat penulis ajukan adalah, peran aktif orang tua dan sesama mahasiswa untuk saling memperingatkan jika menemuka perilaku penggunaan internet yang tidak baik, seperti menggunakan internet secara berlebihan sehingga mengganggu kehidupan penggunanya. Selain itu pada penelitian ini penulis juga menemukan responden yang menggunakan strategi regulasi emosi Expressive Suppression. Seperti diketahui pada bab sebelumnya strategi tersebut ditandai dengan menekan emosi yang dirasakan oleh penggunanya sehingga semua tersimpan didalam, maka penulis menyarankan untuk sekali lagi untuk para mahasiswa yang menemukan teman mereka menggunakan strategi tersebut untuk lebih terbuka sehingga mereka memiliki emosi yang lebih seimbang.

7 REFERENSI Algina, J. (2008). Introduction to Classical & Modern Test Theory. Mason, Ohio: Cengage learning. Bint005.(2014).Penggguna Internet di Indonesia 82 juta.kominfo.retrieved from 28 maret 2105, from onesia+capai+82+juta/0/berita_satker#.u9stbriayk1 Boyd, D. M. & Ellison, N. B. (2008). Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 3, Caplan, S. E. (2010) Theory and Measurement of Generalized Problematic Internet Use: A Two Step Approach. Computers in Human Behavior, 26, Caplan, S.E. (2002). Problematic Internet use and psychososcial well-being: development of a theorybased cognitive-behavioral measurement instrument. Computers in Human Behavior, 18, Caplan, S, E Preference for Online Social Interaction: A Theory of Problematic Internet Use and Psychosocial Well-Being. Communication Research, 20(6), 626. Chadha, N. K. (2009). Applied Psychometry. New Delhi: SAGE. Danim, S. (2002).Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia. Davis, R. A. (2001). A cognitive-behavioral model of pathological internet use. Computers in Human Behavior, 17, Davis, R. A., Flette, G. L., & Besser, A. (2002). Validation of a New Scale of Measuring Problematic Internet Use: Implications for Pre-employment Screening. CyberPsychology & Behavior, 5(4), Derbyshire, K. L., Lust, K. A., Schreiber, L. R. N., Odlaug, B. L., Christenson, G. A., Golden, D. J., & Grant, J. E. (2013). Problematic internet use and associated risks in a college sample. Comprehensive Psychiatry, 54(5), 415. Enebrink, P., Björnsdotter, A., & Ghaderi, A. (2013). The Emotion Regulation Questionnaire: Psychometric properties and norms for Swedish parents to children aged years. Europe s Journal of Psychology, 9(2). Gravetter, F. J. & Forzano, L. B. (2009). Research Methods for the Behavioral Sciences, Third edition. Belmont: Cengage Learning. Gravetter, F.J. Wallnau, B.L. (2009). Statistics for the Behavioral Science. USA: Wadsworth Gross, J.J. (2007). Handbook of Emotion Regulation. New York: The Guillford Press. Gross, J. J. (2003). Individual Differences in Two emotions. New York: The Guillford Press Kim, J, H. LaRose, R., & Wei Peng Loneliness as the cause and the effect of problematic internet use: the relationship between internet use and psychological well-being. Cyberpsychology & Behavior. Lahey, B. B.(2009). Psychology: An Introduction. New York: McGraw Hill International. Morahan-Martin, J., & Scumacher, P. (2000) Incidence and correlates of pathological internet use among college students. Computers in Human Behavior, 16, Odaci, H., & Celik, C. B., (2013). Who are problematic internet users? An investigation of the correlations between problematic internet use and shyness, loneliness, narcissism, aggression and self-perception. Computers in Human Behavior, 29, Pangerapan, S. A. (2015). Siaran Pers (Press Release) Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). APJII. Reatrieved 28 maret 2015, from Pappalia, E. D., Olds, W. S., Feldman, D.R.(2007).Human Development.New York.McGraw.Hill International. Priyatno, D. (2014). SPSS 22: Pengolahan Data Terpraktis. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET. Santrock, J.W.(2008).Life-span Developmnet. New. York: McGraw.Hill International. Schreiber, L. R. N., Grant, J. E., & Odlaug, B. L. (2012). Emotion regulation and impulsivity in young adults. Journal of Psychiatric Research, 46, Shaffner, R.D. (2005). Social and personality development. Wadsworth Publications, Belmont, C.A. Sugiyono. (2008). Metode penelitian bisnis : (pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.

8 Tavakol, M., Dennick, R International Journal of Medical Educaion. Making Sense of Cronbach s Alpha. Wahyudi, R. (2015). Kominfo Ungkap Demografi Pengguna Internet Indonesia. Kompastekno. Retreaved 28 maret 2015, from net.indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan internet yang meluas adalah hasil dari berkembangnya teknologi yang semakin canggih zaman modern ini. Sebagian besar manusia di dunia menggunakan internet

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas mengenai landasan teori variabel yang akan diteliti beserta dimensi, landasan teori mengenai dewasa muda, kerangka berpikir dan asusmsi penelitian. 2.1

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Problematic internet use merupakan salah satu variabel (x) yang diteliti dalam

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Problematic internet use merupakan salah satu variabel (x) yang diteliti dalam BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis 3.1.1 Definisi Operasional Problematic Internet Use Problematic internet use merupakan salah satu variabel (x) yang diteliti dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil uji korelasi yang telah dijabarkan dalam bab sebelumnya untuk menjawab hipotesa didapatkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yaitu terdapat

Lebih terperinci

GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA

GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA Nurcahyati Psikologi, Swadaya 2 No.6, 08971756401, nurcahyati19@gmail.com (Nurcahyati, Esther

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada bab ini peneliti akan memaparkan tentang metode penelitian yang

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada bab ini peneliti akan memaparkan tentang metode penelitian yang BAB 3 METODE PENELITIAN Pada bab ini peneliti akan memaparkan tentang metode penelitian yang digunakan. Akan dipaparkan secara singkat variabel penelitian, definisi operasional dari variabel, karakterisitik

Lebih terperinci

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 2 Tinjauan Pustaka BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Pengertian Kesepian Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan sosial yang

Lebih terperinci

BAB 3 Metode Penelitian

BAB 3 Metode Penelitian BAB 3 Metode Penelitian 3.1 Variabel Penelitian & Hipotesis 3.1.1 Variabel Penelitian & Definisi Operasional Variabel yang diukur dalam penelitian ini terdiri dari dua yaitu dimensi humor styles dan kepuasan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Dalam metode penelitian ini akan diuraikan mengenai identifikasi variable

BAB 3 METODE PENELITIAN. Dalam metode penelitian ini akan diuraikan mengenai identifikasi variable BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam metode penelitian ini akan diuraikan mengenai identifikasi variable penelitian, definisi operasional variable penelitian, populasi dan sampel, metode pengambilan sampel, desain

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Variabel penelitian dan definisi operasional

BAB III METODE PENELITIAN Variabel penelitian dan definisi operasional BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis 3.1.1 Variabel penelitian dan definisi operasional Variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah prokrastinasi akademik sebagai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Variabel adalah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang

BAB III METODE PENELITIAN. Variabel adalah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Hipotesis 3.1.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel adalah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang dipelajari

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perkembangan teknologi yang pesat, terutama teknologi informasi dan komunikasi kian banyak digunakan orang untuk berbagai manfaat salah satunya internet. Internet (Interconnected

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL. Erick Wibowo

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL. Erick Wibowo HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL Erick Wibowo Fakultas Psikologi Universitas Semarang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian & Hipotesis 3.1.1 Variabel penelitian & definisi operasional Variabel adalah sebuah karakteristik atau kondisi yang berubah atau memiliki nilai yang berbeda

Lebih terperinci

iii Universitas Kristen Maranatha

iii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara grit dan IPK pada mahasiswa Kurikulum Berbasis KKNI angkatan 2013 di Universitas X di Kota Bandung. Subjek dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

Bab 3 Desain Penelitian

Bab 3 Desain Penelitian Bab 3 Desain Penelitian Bab ini akan menjabarkan variabel penelitian (definisi operasional dan hipotesis), responden penelitian, desain penelitian, alat ukur penelitian, dan prosedur penelitian. 3.1 Variabel

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini beberapa variabel yang akan dikaji adalah :

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini beberapa variabel yang akan dikaji adalah : BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Variabel Penelitian & Hipotesis Dalam penelitian ini beberapa variabel yang akan dikaji adalah : 1. Variabel ( X ) : Kesepian (loneliness) 2. Variabel ( Y ) : Kesehjateraan

Lebih terperinci

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha Abstrak Individu yang menjalani hubungan jarak jauh dalam berelasinya banyak yang mengalami kesulitan, namun ada pula yang dapat mempertahankan hubungannya. Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui

Lebih terperinci

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang menempuh Usulan Penelitian di Fakultas Psikologi Universitas X Bandung.

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Setelah peneliti menguraikan teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini,

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Setelah peneliti menguraikan teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini, BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Setelah peneliti menguraikan teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini, selanjutnya peneliti akan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian. Pada bab

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Subjek Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 21 Bandung bertempat di Jl. Rancasawo Ciwastra Bandung 40286

Lebih terperinci

Abstrak. ii Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. ii Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui gambaran mengenai derajat Student Engagement pada mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas X Bandung. Pemilihan sampel menggunakan teknik stratified

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara gratitude terhadap penghayatan subjective well-being pada lansia di Panti Werdha Wanita X Kota Bandung. Jumlah responden

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Psikologi Univesitas

BAB 3 METODE PENELITIAN. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Psikologi Univesitas BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Subyek Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Psikologi Univesitas Bina Nusantara. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN III. 1. Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan pada bab pendahuluan, maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian Dan Rancangan Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian Dan Rancangan Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Dan Rancangan Penelitian 3.1.1 Metode Penelitian Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan

Lebih terperinci

4. METODOLOGI PENELITIAN

4. METODOLOGI PENELITIAN 4. METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penjelasan mengenai metodologi dimulai dengan menjelaskan populasi dan sampel dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB 3. Metodologi Penelitian

BAB 3. Metodologi Penelitian BAB 3 Metodologi Penelitian 3.1 Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan karakteristik atau fenomena yang dapat berbeda di antara organisme, situasi, atau lingkungan (Christensen, 2001). 3.1.1

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai Adult Attachment Styles pada mahasiswa yang menjalani hubungan pacaran di Universitas X di Kota Bandung. Ukuran sampel sebesar 100 mahasiswa

Lebih terperinci

Rosi Kurniawati Tino Leonardi, M. Psi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Rosi Kurniawati Tino Leonardi, M. Psi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya Hubungan Antara Metakognisi dengan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang Aktif Berorganisasi di Organisasi Mahasiswa Tingkat Fakultas Rosi Kurniawati Tino Leonardi,

Lebih terperinci

ABSTRAK. v Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. v Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini berjudul hubungan antara persepsi siswa terhadap penerapan student centered learning dan komponen school engagement di SMA X kota Bandung, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang dijadikan sebagai alat ukur dan hipotesis yang digunakan peneliti sebagai

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku seksual pada siswa SMP X di kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling, dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Variabel dan Hipotesis Penelitian 3.1.1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.1.1.Variabel Bebas Variabel adalah karakteristik yang akan diobservasi dari satuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI JPPM Vol. 9 No. 2 (2016) HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI Nita Delima Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Subang nitadelima85@yahoo.com

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PROBLEMATIC INTERNET USE DENGAN HAPPINESS PADA MAHASISWA PENGGUNA FACEBOOK DI JAKARTA*

HUBUNGAN ANTARA PROBLEMATIC INTERNET USE DENGAN HAPPINESS PADA MAHASISWA PENGGUNA FACEBOOK DI JAKARTA* HUBUNGAN ANTARA PROBLEMATIC INTERNET USE DENGAN HAPPINESS PADA MAHASISWA PENGGUNA FACEBOOK DI JAKARTA* Nadiana Anandita S. dan Esther Widhi, S.Psi., M.Psi., Bina Nusantara University, Jakarta Barat, Indonesia,

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 29 3. METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai desain penelitian, masalah yang diteliti secara konseptual dan operasional, penjabaran variabel-variabel yang terkait, dan beberapa hal berkaitan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. (2010), variabel adalah konstrak yang diukur

BAB 3 METODE PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. (2010), variabel adalah konstrak yang diukur BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian & Hipotesis 3.1.1 Variabel Penelitian & Definisi Operasional Menurut Sangadji (2010), variabel adalah konstrak yang diukur dengan berbagai macam nilai untuk

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Unsur yang paling penting di dalam suatu penelitian adalah metode penelitian, karena

BAB 3 METODE PENELITIAN. Unsur yang paling penting di dalam suatu penelitian adalah metode penelitian, karena BAB 3 METODE PENELITIAN Unsur yang paling penting di dalam suatu penelitian adalah metode penelitian, karena melalui proses tersebut dapat ditentukan apakah hasil dari suatu penelitian dapat dipertanggung

Lebih terperinci

Abstrak. viii. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. viii. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara Trait Extraversion dan dimensi-dimensi Self-Disclosure pada remaja pengguna Twitter di SMA Negeri X Kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dalam penelitian ini, yaitu: B. Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dalam penelitian ini, yaitu: B. Definisi Operasional digilib.uns.ac.id BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1. Variabel Bebas : a. Regulasi diri b. Hubungan interpersonal dalam keluarga 2. Variabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi dan Populasi Penelitian Lokasi penelitian ini berada di kota Bandung dengan populasi penelitian yaitu mahasiswa di kota Bandung yang

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 26 3. METODE PENELITIAN Pembahasan dalam bab metode penelitian ini meliputi permasalahan penelitian, hipotesis, subyek penelitian, alat pengumpulan data dan diakhiri dengan prosedur penelitian. 3.1. Masalah

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Subyek penelitian yang dipakai adalah para mahasiswa Binus yang bekerja di. Center) di Binus University

BAB 3 METODE PENELITIAN. Subyek penelitian yang dipakai adalah para mahasiswa Binus yang bekerja di. Center) di Binus University BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Subyek Penelitian Subyek penelitian yang dipakai adalah para mahasiswa Binus yang bekerja di Binus University dengan kriteria: 1. Bekerja sebagai asisten laboratorium SLC (Software

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan mengambil metode

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan mengambil metode 56 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP SISWA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI SISWA KELAS VII MTSN PARAK LAWAS PADANG

HUBUNGAN SIKAP SISWA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI SISWA KELAS VII MTSN PARAK LAWAS PADANG HUBUNGAN SIKAP SISWA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI SISWA KELAS VII MTSN PARAK LAWAS PADANG Yulia Rasmadesi 1), Gusmaweti ), dan Nawir Muhar ) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 36 BAB III METODE PENELITIAN Bab III membahas mengenai lokasi, populasi, sampel, desain penelitian, metode penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, proses pengembangan

Lebih terperinci

Bab 3. Metode Penelitian

Bab 3. Metode Penelitian Bab 3 Metode Penelitian 3. 1 Variabel Penelitian & Hipotesis 3. 1. 1 Variabel Penelitian & Definisi Operasional Variabel 1 : Persepsi Stres Definisi Operasional : Tinggi rendahnya persepsi terhadap stres

Lebih terperinci

BAB III Metode Penelitian

BAB III Metode Penelitian BAB III Metode Penelitian 3.1. Variabel Penelitian & Hipotesis 1.1.1. Definisi operasional kecerdasan emosional Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenal perasaan, mengontrol perasaan, dan memotivasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. asertivitas, pengguna dan bukan pengguna media sosial twitter

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. asertivitas, pengguna dan bukan pengguna media sosial twitter BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian Dan Hipotesis 3.1.1 Variabel Penelitian & Definisi Operasional Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang digunakan yaitu perbedaan asertivitas,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian adalah sesuatu yang akan menjadi pusat penelitian. Objek

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian adalah sesuatu yang akan menjadi pusat penelitian. Objek BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian adalah sesuatu yang akan menjadi pusat penelitian. Objek penelitian dalam hal ini adalah Mahasiswa, Dosen, dan Operator SIAT Universitas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di lingkungan Kampus Universitas Pendidikan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang ingin diteliti, yang ciriciri

METODOLOGI PENELITIAN. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang ingin diteliti, yang ciriciri METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 3.1.1 Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang ingin diteliti, yang ciriciri dan keberadaannya diharapkan mampu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif. Metode kuantitatif menurut Robert Donmoyer (Given, 2008), adalah pendekatan-pendekatan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. penelitian kuantitatif menurut Sugiyono (2009), adalah metode berlandaskan pada

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. penelitian kuantitatif menurut Sugiyono (2009), adalah metode berlandaskan pada 18 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Metode penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif menurut Sugiyono (2009), adalah metode berlandaskan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA SKRIPSI Oleh : Leila Rizki Febriyanti 201210515075 PROGRAM

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Kuantitatif Pendekatan merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu penelitian. Pendekatan yang digunakan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran konsep diri pada siswa kelas XII yang mengambil jurusan IPA dan IPS di SMA X Bandung beserta dimensi-dimensi konsep diri serta kaitannya dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Setelah merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari landasan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Setelah merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari landasan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Setelah merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari landasan teoritis pada Bab II, maka langkah berikutnya pada Bab III ini adalah menguji

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah masyarakat yang berada dalam usia muncul dewasa, yaitu berusia 18-20, yang memiliki saudara kandung dan belum menikah.

Lebih terperinci

BAB 2. Tinjauan Pustaka

BAB 2. Tinjauan Pustaka BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Problematic Internet Use PIU merupakan sindrom multidimensional yang terdiri dari gejala kognitif,emosional, dan perilaku yang mengakibatkan seseorang kesulitan dalam mengelola

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menjelaskan desain penelitian, lokasi, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan prosedur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan pernyataan penelitian, hipotesis penelitian, variabel penelitian, responden penelitian, alat ukur penelitian, prosedur penelitian, dan metode analisis data.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan merupakan suatu penelitian untuk memperolah

Lebih terperinci

Lokasi penelitian dilakukan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung yang terletak di Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 89.

Lokasi penelitian dilakukan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung yang terletak di Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 89. BAB III METODE PENELITIAN Penelitian hubungan ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Bagus Sidik Darmawan

SKRIPSI. Oleh: Bagus Sidik Darmawan HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATION DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA, BEKASI YANG BEKERJA SKRIPSI Oleh: Bagus Sidik Darmawan 201210515026

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha iv Abstrak Memiliki anak dengan autism dapat membuat seorang ibu mengalami stress sehingga ibu membutuhkan coping stress untuk meredakan stress yang dirasakan. Penelitian ini menggunakan teori mengenai

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai Humor Style pada Comic Stand Up Comedy di Café X Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan kepada populasi yang berjumlah 30 comic Stand

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Desain Penelitian dan Metode Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Desain Penelitian dan Metode Penelitian 46 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian dan Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang

Lebih terperinci

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini berjudul Hubungan Antara Dukungan Emosional Dan Resiliency Pada ODHA Di Yayasan X Bandung. Tujuannya adalah mengetahui hubungan antara dukungan emosional dan resiliency pada ODHA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. hubungan antar variable yang digunakan dalam penelitian ini. Variable-variable

BAB III METODE PENELITIAN. hubungan antar variable yang digunakan dalam penelitian ini. Variable-variable 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel dan Definisi Operasional 1. Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini, korelasi (hubungan) digunakan untuk melihat hubungan antar variable yang digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggunaan internet yang semakin menanjak popularitasnya menimbulkan pro dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggunaan internet yang semakin menanjak popularitasnya menimbulkan pro dan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Problematic internet use Penggunaan internet yang semakin menanjak popularitasnya menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Hal ini pula yang menarik minat para ahli

Lebih terperinci

Bab 3 Metode Penelitian. 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesa Variabel Penelitian dan Devinisi Operasional

Bab 3 Metode Penelitian. 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesa Variabel Penelitian dan Devinisi Operasional Bab 3 Metode Penelitian 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesa 3.1.1 Variabel Penelitian dan Devinisi Operasional Variabel 1 (V1) dalam penelitian ini adalah motivasi kerja.definisi operasional dari motivasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. serta menguji hipotesis penelitian. Pada bagian pertama akan dijelaskan mengenai

BAB III METODE PENELITIAN. serta menguji hipotesis penelitian. Pada bagian pertama akan dijelaskan mengenai BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan dibahas metode yang digunakan dalam menjawab permasalahan serta menguji hipotesis penelitian. Pada bagian pertama akan dijelaskan mengenai pendekatan penelitian,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISTEM PENGAPIAN

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISTEM PENGAPIAN HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISTEM PENGAPIAN Sekar A. Ningtyas 1, Wowo S. Kuswana 2, Tatang Permana 3 Departemen Pendidikan Teknik Mesin Universitas Pendidikan Indonesia Jl.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Variabel adalah gejala yang dipersoalkan (Purwanto, 2010). Gejala bersifat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Variabel adalah gejala yang dipersoalkan (Purwanto, 2010). Gejala bersifat BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian & Hipotesis 3.1.1 Variabel Penelitian & Definisi Operasional Variabel adalah gejala yang dipersoalkan (Purwanto, 2010). Gejala bersifat membedakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian, Subjek Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di SMA Negeri 6 Bandung, yang beralamat di Jalan Pasirkaliki No.

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini berjudul Studi Deskriptif Mengenai Persepsi Siswa Terhadap Penerapan Student Centered Learning di SMP X Kota Bandung. Student Centered Learning menurut McCombs dan Whisler (1997)

Lebih terperinci

3. METODOLOGI Variabel-Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3. METODOLOGI Variabel-Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 28 3. METODOLOGI Pada bab ini dijelaskan mengenai metode yang digunakan dalam penelitian ini, dari operasionalisasi variabel masalah penelitian, penetapan populasi dan pemilihan sampel, tipe dan desain

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian (research methods) adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam merancang, melaksanakan, pengolah data, dan menarik kesimpulan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN Populasi dan Karakteristik Sampel. populasi mahasiswa Universitas Indonesia.

BAB 3 METODE PENELITIAN Populasi dan Karakteristik Sampel. populasi mahasiswa Universitas Indonesia. BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 3.1.1 Populasi dan Karakteristik Sampel Populasi menurut Pujiati dan Rusliah (2007) adalah seluruh anggota kumpulan objek yang jelas dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Arikunto (2010) menjelaskan bahwa penelitian populasi hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan subjeknya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian yaitu di STM Negeri Tasikmalaya berdiri pada tanggal 20 September 1961 yang beralamat di jalan

Lebih terperinci

Statistika Psikologi 2

Statistika Psikologi 2 Statistika Psikologi 2 Modul ke: 14 Fakultas Psikologi Memilih Uji Statistika yang Tepat Review 1 14 Program Studi Psikologi Arie Suciyana S., S.Si., M.Si. Konsep Dasar Pada penelitian terhadap pengaruh

Lebih terperinci

Profil Orientasi Masa Depan Bidang Pernikahan Pada Wanita Karir Usia Tahun Yang Belum Menikah

Profil Orientasi Masa Depan Bidang Pernikahan Pada Wanita Karir Usia Tahun Yang Belum Menikah Profil Orientasi Masa Depan Bidang Pernikahan Pada Wanita Karir Usia 26-29 Tahun Yang Belum Menikah Catri Damayanti Langgersari Elsari Novianti, S.Psi. M.Psi.¹ Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. masalah dalam penelitian. Melalui penelitian manusia dapat menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. masalah dalam penelitian. Melalui penelitian manusia dapat menggunakan 22 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang berisikan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam mengumpulkan data dengan tujuan dapat menjawab masalah dalam penelitian. Melalui

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN III.1 Subjek Penelitian Sesuai dengan tema yang melekat, maka subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah para guru guru Sekolah Dasar Holy Angels. Pada dasarnya

Lebih terperinci

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 sebanyak 107 orang di SMAN 1 CiracapKabupatenSukabumi

Lebih terperinci

3. MASALAH, HIPOTESIS DAN METODE PENELITIAN

3. MASALAH, HIPOTESIS DAN METODE PENELITIAN 30 3. MASALAH, HIPOTESIS DAN METODE PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan tentang masalah dan metode penelitian yang terdiri dari masalah penelitian, variabel penelitian, hipotesis penelitian, subyek

Lebih terperinci

3. METODE PE ELITIA. Hubungan Universitas Antara..., Edesia Indonesia Sekarwiri, F.PSI UI, 2008

3. METODE PE ELITIA. Hubungan Universitas Antara..., Edesia Indonesia Sekarwiri, F.PSI UI, 2008 32 3. METODE PE ELITIA 3.1 Variabel Penelitian Variabel adalah konsep yang dapat diukur dan memiliki variasi hasil pengukuran sehingga dapat dikatakan bahwa variabel merupakan operasionalisasi dari konsep

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERHATIAN ORANG TUA DENGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS TINGGI SD N 1 MUDALREJO TAHUN AJARAN 2014/2015 ARTIKEL JURNAL

HUBUNGAN PERHATIAN ORANG TUA DENGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS TINGGI SD N 1 MUDALREJO TAHUN AJARAN 2014/2015 ARTIKEL JURNAL HUBUNGAN PERHATIAN ORANG TUA DENGAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS TINGGI SD N 1 MUDALREJO TAHUN AJARAN 2014/2015 ARTIKEL JURNAL Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini menjelaskan tentang metode penelitian dalam penelitian ini, terdiri dari : pendekatan penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel, alat ukur penelitian,

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pikir. Kerangka pikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori

BAB 3 METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pikir. Kerangka pikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori BAB 3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pikir Kerangka pikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sugiyono,

Lebih terperinci

Prathita Ramaniya ABSTRACT

Prathita Ramaniya ABSTRACT HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP EFEKTIVITAS MENGAJAR GURU FISIKA DENGAN SELF-EFFICACY BELAJAR SISWA DI KELAS PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 6 JAKARTA Prathita Ramaniya thitapramudji@yahoo.com Dosen

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Secara lebih spesifik metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian

Lebih terperinci

PERBEDAAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA AKTIF DAN PASIF ORGANISASI KESISWAAN DI SMP NEGERI 2 BINANGUN

PERBEDAAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA AKTIF DAN PASIF ORGANISASI KESISWAAN DI SMP NEGERI 2 BINANGUN Perbedaan Keterampilan Sosial (Afrian Budiarto) 512 PERBEDAAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA AKTIF DAN PASIF ORGANISASI KESISWAAN DI SMP NEGERI 2 BINANGUN DIFFERENCE SOCIAL SKILLS STUDENTS ACTIVE AND PASSSIVE

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan fokus telaahan dalam penelitian ini yakni mendeskripsikan

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan fokus telaahan dalam penelitian ini yakni mendeskripsikan BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan fokus telaahan dalam penelitian ini yakni mendeskripsikan mengenai hubungan antara sikap terhadap pembelajaran dengan pelaksanaannya pada widyaiswara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 26 BAB III METODE PENELITIAN.1. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rancangan korelasional dengan teknik survei untuk melihat hubungan variabel terikat dengan variabel tergantungnya.

Lebih terperinci

ABSTRACT Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT This research entitled Relation between Work Interfering with Family and Marital Satisfaction of working husband/wife at Bandung, the purpose of this research is to obtain an overview about how

Lebih terperinci