Hubungan antara Perceived Social Support dan Kecanduan Internet Pada Remaja di Jakarta

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hubungan antara Perceived Social Support dan Kecanduan Internet Pada Remaja di Jakarta"

Transkripsi

1 Hubungan antara Perceived Social Support dan Kecanduan Internet Pada Remaja di Jakarta Wirdatul Anisa; Mita Aswanti Tjakrawiralaksana Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia Abstrak Penggunaan internet di Indonesia kini semakin meningkat dan sebagian besar penggunanya adalah remaja. Internet memiliki dampak positif jika digunakan sesuai dengan fungsinya, tetapi di sisi lain penggunaan internet dapat menyebabkan kecanduan internet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat mencegah terjadinya kecanduan internet pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran perceived social support dan kecanduan internet pada remaja, serta hubungan dari keduanya. Penelitian ini dilakukan pada 148 remaja usia tahun di Jakarta. Alat yang digunakan untuk mengukur perceived social support adalah Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan untuk kecanduan internet adalah Internet Addiction Test (IAT). Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki tingkat perceived social support yang sedang dan tingkat kecanduan internet yang ringan, serta tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara perceived social support dan kecanduan internet. The Relationship Between Perceived Social Support and Internet Addiction among Adolescents in Jakarta Abstrack Currently there is a significant increase in internet use in Indonesia and the majority users are adolescents. Internet has positive impact when used in accordance with its function, but in other hand excessive use of internet may result in internet addiction. Several research shows that social support can prevent internet addiction in adolescents. This study aim to examine level of perceived social support and internet addiction and the correlation of perceived social support and internet addiction. This study was conducted on 148 adolescents age years in Jakarta. The instrument used to measure perceived social support is the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and for Internet addiction is the Internet Addiction Test (IAT). This study showed that majority of participants have an average perceived social support and mild internet addiction, and it was found no significant relationship between perceived social support and Internet addiction. Keywords: Perceived Social Support, Internet Addiction, Adolescence Pendahuluan Pengguna Internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Kim, Sohn, dan Choi (2011), motivasi dasar seseorang menggunakan internet adalah ketersediaan informasi, kenyamanan, hiburan, interaksi sosial, dan kemudahan transaksi (Cochran, 1996). Melalui internet, individu dapat leluasa berkomunikasi baik dengan orang yang dikenal maupun tidak

2 (Blais, Craig, Pepler, & Conolly, 2008). Selain itu, internet juga menjadi tempat pelarian saat menghadapi masalah untuk memodulasi emosi negatif yang sedang dialami dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan (Morahan-Martin & Schumacher, 2003). Internet kini menjadi aktivitas yang populer bagi remaja (Ko, dkk., 2009). Hal tersebut karena internet mulai banyak digunakan di sekolah atau dalam dunia pendidikan. Di Indonesia, hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2012 menunjukkan bahwa angka pengguna internet didominasi oleh kalangan muda sebanyak 58,4% (APJII, 2012). Penggunaan internet yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai permasalahan bagi remaja, seperti ketidakmampuan dalam mengontrol waktu yang digunakan untuk internet, gangguan fisik seperti penyakit mata dan sakit kepala (Coniglio, Muni, Giammaco, dan Pignato, 2007). Selain itu, penggunaan internet juga berkaitan dengan munculnya permasalahan psikologis (Gunuc & Kayri, 2010 dalam Gunuc & Dogan, 2013), seperti kecanduan internet. Kecanduan internet adalah ketidakmampuan dalam mengontrol penggunaan internet, terpreokupasi dengan internet, menghabiskan lebih banyak waktu untuk internet, merasakan keinginan atau dorongan yang begitu besar untuk menggunakan internet (Young, 1996). Salah satu yang paling umum dalam kecanduan internet adalah penyelewengan dalam penggunaan waktu yang cukup sering terjadi (Young 2007). Menurut Greenfield (Young, 2007), seseorang yang mengalami kecanduan internet akan mulai melupakan deadline penting dalam pekerjaannya, memiliki waktu yang lebih sedikit untuk keluarga, perlahan akan meninggalkan rutinitas. Ia juga akan mengalami kesulitan dalam pekerjaannya baik di rumah, tempat bekerja, atau di sekolah dan lingkungan sosialnya (Beard & Wolf, 2001). Menurut Young (1996), tingkat kecanduan internet seseorang berkaitan pula dengan tingkat penggunaan internet. Semakin tinggi tingkat penggunaan internet, maka akan semakin besar tingkat kecanduan seseorang. Seseorang dengan kecanduan internet ringan akan membutuhkan waktu lebih lama dari pengguna normal untuk menggunakan internet, akan tetapi masih memiliki kontrol terhadap penggunaan internet. Seseorang dengan kecanduan internet sedang akan mengalami beberapa masalah yang disebabkan oleh internet. Sedangkan kecanduan internet berat, mulai muncul permasalahan yang signifikan dalam hidup karena penggunaan internet yang sangat berlebihan.

3 Selain karena tingginya penggunaan internet, remaja rentan mengalami kecanduan internet karena kondisi psikologis yang belum matang (Tsai & Lin, 2003 dalam Gunuc & Dogan, 2013). Pada masa remaja, individu sedang pada tahap pembentukan identitas sehingga mereka cenderung akan menyukai hal-hal baru dan mudah terpengaruh oleh pergaulan dari lingkungan sekitarnya (Sarwono, 2013). Dalam membangun hubungan, mereka tidak hanya berinteraksi dengan orang yang mereka kenal, tetapi juga dengan orang yang bahkan tidak mereka kenal sebelumnya (Mesch & Talmud, 2007 dalam Smahel, Brown, & Blinka 2012). Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan interaksi sosial yang dilakukan pada remaja baik secara langsung atau tidak langsung merupakan aktivitas penting bagi perkembangan di masa remaja dan internet telah memenuhi kebutuhan tersebut (Subrahmanyam dkk., 2001). Kecanduan internet dapat dicegah dengan memenuhi kebutuhan akan social support (Jessor dkk., 2003 dalam Gunuc & Dogan, 2013). Social support adalah dukungan yang dirasakan atau secara nyata ada yang diberikan oleh kelompok, jaringan-jaringan sosial, dan rekan atau partner (Lin, 1986 dalam Zimet dkk., 1988) yang merupakan salah satu kunci well-being seseorang (Caplan, dalam Cooke, Rossmann, McCubbin, & Patterson, 1988). Social support juga merupakan kebutuhan fundamental bagi remaja untuk membangun hubungan sosial di usianya, mengatasi kesendirian, beradaptasi dengan lingkungan, dan mempertahankan kondisi psikologis serta berpengaruh dalam proses pembentukan identitas diri pada remaja (Gunuc dan Dogan, 2013; Para, 2008). Sumber dari social support tersebut adalah keluarga, teman, atau orang lain yang memiliki pengaruh signifikan (significant others) (Zimet dkk., 1988). Dalam Papalia dan Feldman (2011) disebutkan bahwa remaja akan terhindar dari problem behaviors jika memiliki hubungan keluarga yang kuat dan saling mendukung. Untuk mengukur social support, Barrerra (1986) mengklasifikasikan tiga jenis pengukuran untuk mengukur social support, yaitu social embeddednes, actual/enacted social support, dan perceived social support. Dari ketiga kategori besar tersebut, perceived social support merupakan prediktor yang lebih baik untuk mengukur social support seseorang (Barrera, 1981; Brandt & Weinert, 1981; Sarason dkk., 1985; Schaefer dkk., 1981; Wilcox, 1981 dalam Zimet, 1988; Taylor dkk., 2004). Hal tersebut karena perceived social support diartikan sebagai keyakinan seseorang akan ketersediaan dukungan ketika dibutuhkan (Sarason, Levine, Basham, & Sarason, 1983). Agar seseorang dapat menghadapi suatu tantangan, dibutuhkan adanya keyakinan bahwa ia

4 mendapatkan dukungan dari lingkungannya (Sarason, Shearin, Pierce & Sarason, 1987, dalam Markus, 2003). Penelitian sebelumnya membahas mengenai hubungan antara kecanduan internet pada remaja, perceived social support, dan aktivitas keluarga (Gunuc & Dogan, 2013). Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa remaja yang menghabiskan waktu dengan ibunya memiliki tingkat perceived social support yang lebih tinggi dan tingkat kecanduan internet yang lebih rendah. Selain itu, terdapat hubungan negatif antara social support dan kecanduan internet (Gunuc & Dogan, 2013). Penelitian ini melihat hubungan antara perceived social support dan kecanduan internet pada remaja di Jakarta, sebagai kota dengan jumlah pengguna internet tertinggi di Indonesia (APJII, 2012). Selain itu, meskipun pernah dilakukan sebelumnya di Turki, peneliti melihat adanya perbedaan norma atau budaya dari satu daerah dengan daerah yang lain akan mempengaruhi bagaimana individu mencari dan menggunakan social support (Taylor dkk., 2004). Pada orang Asia, social support dipandang sebagai salah satu cara untuk coping masalah yang dihadapi karena mereka menekankan sifat saling berhubungan satu sama lain (Taylor dkk., 2004). Dari penelitian ini, peneliti juga ingin melihat bagaimana gambaran perceived social support dan kecanduan internet pada remaja di Jakarta. Dengan dilakukan penelitian ini, diharapkan hasil penelitian dapat menjadi landasan untuk menentukan langkahlangkah preventif munculnya kecanduan internet dan dampak negatifnya pada remaja di Jakarta. Tinjauan Teoritis Peneliti mendefinisikan social support sebagai pertukaran sumber daya antara sedikitnya dua orang yang dirasakan oleh penyedia dan penerima sumber daya, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penerima (Shumaker & Brownell, 1984 dalam Zimet, dkk., 1988). Fungsi social support adalah untuk meningkatkan kompetensi, esteem, keterikatan, dan coping yang mampu memunculkan perubahan tingkah laku dan kemampuan menyelesaikan masalah (Cohen, Underwood, & Gottlieb, 2000). Beberapa bentuk social support adalah emotional support (dukungan emosi), informational support (dukungan informasi), instrumental support (dukungan fisik), dan companionship support (dukungan akan

5 ketersediaan individu) (Cohen, Underwood, Gottlieb, 2000; Taylor, dkk., 2004). Berbagai bentuk social support tersebut dapat diperoleh dari sumber social support yang terdiri dari, keluarga, teman, dan significant other (Zimet, dkk., 1998). Untuk dapat mengetahui social support seseorang, Barrerra (1986) mengklasifikan tiga cara pengukuran social support, yaitu social embeddednes, actual/enacted social support, dan perceived social support. Dari ketiga pengukuran tersebut, perceived social support dinilai lebih baik dalam mengukur social support seseorang (Barrera, 1981; Brandt & Weinert, 1981; Sarason dkk., 1985; Schaefer dkk., 1981; Wilcox, 1981 dalam Zimet, 1988). Perceived social support adalah keyakinan seseorang bahwa ada dukungan yang tersedia ketika dibutuhkan dan dukungan tersebut dapat diidentifikasi melalui sudut pandang subyektif (Sarason, Levine, Basham, & Sarason, 1983). Keyakinan atau rasa percaya itulah esensi dari social support yang akan membantu seseorang untuk dapat menghadapi tantangan dan mencapai tujuan mereka dengan usaha sendiri atau bantuan dari orang lain (Sarason, Shearin, Pierce & Sarason, 1987 dalam Markus, 2003). Dengan adanya persepsi tersebut, seseorang akan merasa terbantu dan nyaman karena ia tahu ada orang lain yang memedulikannya (Bolger, Zuckerman, & Kessler, 2000 dalam Taylor dkk., 2004). Selain itu, tidak semua dukungan yang diberikan menghasilkan dampak positif bagi penerima dukungan karena dukungan yang diberikan dapat saja berbeda dengan yang sebenarnya dibutuhkan sehingga gagal memenuhi kebutuhan penerima (Thoits, 1986 dalam Taylor dkk., 2004). Sedangkan kecanduan internet adalah ketidakmampuan individu dalam mengontrol penggunaan internet, terpreokupasi dengan internet, menghabiskan lebih banyak waktu untuk internet, dan merasakan keinginan atau dorongan yang begitu besar untuk menggunakan internet. Orang yang sudah kecanduan internet akan cenderung mengabaikan lingkungan sekitarnya, seperti teman, rekan kerja, dan kelompoknya (Young, 1996). Aktivitas yang biasa dilakukan oleh pengguna internet diklasifikasikan oleh Horrigan (2002) ke dalam empat kelompok, yaitu mengirim dan menerima , aktivitas bersenang-senang (bermain game online, mengunduh musik atau film), aktivitas mendapatkan informasi (mencari berbagai informasi untuk pekerjaan, kesehatan, atau berita), dan transaksi (online shop, pembayaran online). Berdasarkan penggunaan internet, Young (1996) mengklasifikasikan kecanduan internet ke dalam tiga tingkatan, yaitu ringan, sedang, berat. Pada kecanduan internet ringan, seseorang

6 akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk menggunakan internet, akan tetapi masih memiliki kontrol diri. Pada kecanduan internet sedang, penggunaan internet akan menyebabkan beberapa permasalahan muncul sehingga seseorang perlu mengontrol penggunaan internetnya. Sedangkan pada kecanduan internet berat, penggunaan internet menyebabkan munculnya permasalahan yang signifikan dalam hidup seseorang yang menggunakan internet secara berlebihan. Untuk menentukan apakah seseorang kecanduan atau tidak, Young menetapkan beberapa kriteria dengan memodifikasi kriteria diagnosis pathological gamling pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition (DSM-IV) karena dianggap paling mendekati dan mampu menjelaskan tentang kecanduan internet. Kriteria-kriteria tersebut adalah merasa terpreokupasi dengan internet; membutuhkan waktu online lebih banyak untuk mencapai kepuasan menggunakan internet; tidak mampu mengontrol frekuensi dan durasi online, merasa gelisah, depresi, atau mudah marah ketika berusaha untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet; online lebih lama dari waktu yang telah direncanakan sebelumnya; rela untuk kehilangan sebuah relasi yang penting, pekerjaan, pendidikan, atau peluang karir karena internet, berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan frekuensi atau durasi online, dan menggunakan internet untuk menghilang dari masalah atau menghilangkan perasaan seperti tidak berdaya, rasa bersalah, cemas, dan depresi. Selain kedelapan kriteria yang telah disebutkan di atas, seseorang akan terindikasi mengalami kecanduan internet jika telah mengalami kriteria-kriteria tersebut setelah menggunakan internet selama dua belas bulan atau satu tahun (Beard & Wolf, 2001; American Psychiatric Association, 2013). Dalam menentukan batasan usia remaja dalam penelitian ini, peneliti menggunakan batasan usia dari Marcia dkk (1993), yaitu usia 12 sampai 22 tahun. Pada tahap ini, seseorang memiliki tugas perkembangan untuk membentuk identitas diri (Marcia, dkk., 1993; Papalia & Feldman, 2011). Marcia dkk (1993) membagi tiga tahap perkembangan remaja, yaitu awal (12-15 tahun), tengah (16-18 tahun), dan akhir (18-22 tahun). Dari ketiga tahap tersebut, masa-masa paling krusial dalam pembentukan identitas diri pada remaja adalah pada tahap remaja akhir, yaitu rentang usia tahun (Marcia, dkk., 1993).

7 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan pada populasi normal dengan jumlah partisipan sebanyak 148 remaja, usia 18 sampai 22 tahun. Jumlah partisipan perempuan dalam penelitian ini adalah 105 dan laki-laki adalah 43 orang. Pada mulanya, jumlah partisipan sebanyak 190 remaja. Akan tetapi, didapati bahwa 42 partisipan tidak tergolong dalam kecanduan internet sehingga tidak diikutkan dalam penghitungan analisis atau dieliminasi. Alat yang digunakan untuk mengukur perceived social support adalah Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang terdiri dari 12 item pernyataan dengan 4 poin skala Likert. Sedangkan untuk kecanduan internet, alat yang digunakan adalah Internet Addiction Test (IAT) yang terdiri dari 20 item pernyataan dengan 6 poin skala Likert. Semua item dalam alat ukur tersebut bersifat favourable sehingga semakin tinggi skor yang di dapat, semakin tinggi pula perceived social support dan kecanduan internet seseorang. Alat ukur MSPSS yang digunakan merupakan alat ukur yang telah diadaptasi oleh Trifilia (2013), sedangkan untuk alat ukur IAT peneliti melakukan adaptasi dan uji coba sendiri. Kedua alat tersebut memiliki validitas dan reliabilitas yang cukup baik untuk mengukur suatu variabel. Dalam pengambilan sampel, utamanya peneliti melakukannya secara offline dengan menghampiri satu persatu. Akan tetapi, apabila partisipan berada di tempat yang jauh dan cuaca tidak memungkinkan untuk menemui partisipan, peneliti memberikan link online yang dapat digunakan partisipan untuk mengisi kuesioner penelitian yang dibutuhkan. Beberapa teknik analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah statuistik deskriptif, untuk mengetahui sebaran partisipan; multiple response, untuk item yang memunculkan respon lebih dari satu; pearson correlation, untuk menghitung korelasi antara perceived social support dan kecanduan internet; independent t-test, untuk menghitung korelasi kedua variabel dengan jenis kelamin; dan ANOVA, untuk menghitung korelasi kedua variabel dengan data demografis partisipan seperti durasi dan aktivitas online. Hasil Penelitian Tabel 1 berikut ini menunjukkan gambaran perceived social support remaja di Jakarta berdasarkan klasifikasi tinggi-rendah skor perceived social support. Dari hasil tersebut, diketahui bahwa sebagian besar partisipan memiliki perceived social support yang tergolong sedang (75,7%). Pada tabel 2, terlihat bahwa mean terbesar berada pada dimensi keluarga.

8 Tabel 1. Gambaran perceived social support partisipan Klasifikasi Skor Rentang Skor N Persentase Rendah < ,8 Sedang ,7 Tinggi > ,5 Total ,0 Tabel 2. Gambaran per dimensi perceived social support partisipan Dimensi Jumlah Item Mean (Dimensi) Standard Deviasi (Dimensi) Keluarga 4 12,96 2,135 Teman 4 12,28 1,958 Significant Other 4 12,06 2,585 Pada tabel 3, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian partisipan penelitian mengalami kecanduan internet ringan. Untuk kecanduan internet sedang masih tergolong sedikit dan untuk kecanduan internet berat tidak ada sama sekali. Tabel 3. Gambaran tingkat kecanduan internet partisipan Klasifikasi Rentang N Persentase Skor Kecanduan Ringan ,9 Kecanduan Sedang ,1 Kecanduan Berat Total ,0 Hasil utama penelitian, seperti pada tabel 4, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara perceived social support dan kecanduan internet. Peneliti juga melihat hubungan keduanya berdasarkan dimensi perceived social support, yaitu keluarga, teman, dan significant other. Dari ketiga dimensi tersebut, tidak didapat adanya hubungan yang signifikan, seperti yang tertera dalam tabel 5. Tabel 4. Korelasi antara perceived social support dan kecanduan internet Variabel R Sig. (onetailed) Keterangan Kecanduan Internet,042,306 Tidak Signifikan

9 Tabel 5. Korelasi antara dimensi perceived social support dan kecanduan internet Variabel R Sig. (onetailed) Keterangan Keluarga,030,359 Tidak Signifikan Teman,111,089 Tidak Signifikan Significant Other -,023,391 Tidak Signifikan Berdasarkan durasi penggunaan internet, ditemukan bahwa terdapat perbedaan skor perceived social support yang signifikan baik dari keluarga, teman, dan significant other. Rata-rata dalam penggunaan internet oleh partisipan penelitian adalah jam dalam satu minggu. Berikut dipaparkan hasil penghitungan statistik pada tabel 6. Tabel 6. Perbedaan perceived social support berdasarkan durasi penggunaan internet Durasi Penggunaan Internet Perceived Social Support Keluarga Teman Significant Other Keseluruhan M SD M SD M SD M SD 1-5 jam 13,75 2,188 11,75 1,389 12,13 1,727 37,63 3, jam 13,11 2,514 12,32 2,083 12,42 1,427 37,84 4, jam 12,31 2,089 11,38 1,708 10,81 2,713 34,50 4, jam 12,60 2,179 12,28 1,904 11,44 3,292 36,32 5, jam 12,56 2,007 11,22 2,602 11,17 2,572 34,94 5, jam 13,29 1,611 13,06 1,919 13,18 2,099 39,53 4,432 > 30 jam 13,22 2,184 12,80 1,575 12,62 2,543 38,64 5,028 Signifikansi F =,846 F = 2,695 F = 2,277 F = 2,688 *Signifikan pada L.o.S 0,05 p =,536 p =,017* p =,040* p =,017* Dalam melakukan penghitungan statistik mengenai perceived social support, peneliti juga melihat bagaimana hubungan antara aktivitas online yang dilakukan remaja saat menggunakan internet dengan tingkat perceived social support. Dengan teknik One-Way Analysis of Variance (ANOVA), ditemukan bahwa aktivitas yang memiliki perbedaan skor perceived social support yang signifikan adalah membuka media sosial. Pada tabel 7 ini, akan ditampilkan hasil analisis pada seluruh aktivitas online yang dilakukan partisipan:

10 Tabel 7. Perbedaan perceived social support berdasarkan aktivitas online yang dilakukan Aktivitas Online F Sig. Keterangan Membuka media sosial 1,898,012* Signifikan Membuka ,855,664 Tidak Signifikan Bermain game online,793,744 Tidak Signifikan Chatting,585,939 Tidak Signifikan Unggah/unduh file,980,498 Tidak Signifikan Streaming film 1,075,381 Tidak Signifikan Browsing 1,193,259 Tidak Signifikan Dan lain-lain 1,702,031* Tidak Signifikan *Signifikan pada L.o.S 0,05 Pada tabel 8, diketahui bahwa mean tertinggi untuk kecanduan internet ada pada partisipan yang menggunakan internet lebih dari 30 jam dalam seminggu. Dalam penghitungan mengenai perbedaan kecanduan internet berdasarkan durasi penggunaan internet ini, ditemukan hasil yang tidak signifikan. Itu artinya, perbedaan durasi waktu dalam menggunakan internet tidak menyebabkan perbedaan dalam kecanduan internet. Tabel 8. Perbedaan kecanduan internet berdasarkan durasi penggunaan internet Durasi Mean SD Signifikansi 1-5 jam 34,63 11,928 F =, jam 34,84 12,420 p =, jam 32,38 11,535 Tidak Signifikan jam 31,72 9, jam 29,56 7, jam 31,47 7,706 > 30 jam 34,84 10,186 Tabel 9 menunjukkan hasil analisis yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara aktivitas yang dilakukan partisipan saat online dengan kecanduan internet. Dari analisis tersebut, ditemukan adanya perbedaan kecanduan internet yang signifikan pada aktivitas online, seperti bermain game online dan chatting. Artinya, terdapat perbedaan tingkat kecanduan internet pada aktivitas bermain game online dan chatting. Tabel 9. Perbedaan kecanduan internet berdasarkan aktivitas online yang dilakukan Aktivitas Online F Sig. Keterangan Membuka media sosial,605,547 Tidak Signifikan Membuka 1,459,235 Tidak Signifikan Bermain game online 3,487,033* Signifikan Chatting 5,214,006* Signifikan Unggah/unduh file 1,127,326 Tidak Signifikan Streaming film,709,494 Tidak Signifikan Browsing,732,482 Tidak Signifikan Dan lain-lain 1,755,176 Tidak Signifikan *Signifikan pada L.o.S 0,05

11 Pembahasan Menurut penghitungan statistik pada partisipan yang mengalami kecanduan internet, ditemukan bahwa sebagian besar partisipan yang berusia remaja mengalami kecanduan internet tingkat ringan (91,9%). Sedangkan untuk kecanduan internet tingkat sedang, sedikit partisipan yang mengalaminya. Bahkan untuk kecanduan internet tingkat berat, tidak ada sama sekali. Peneliti berasumsi bahwa hal tersebut dapat terjadi karena karakteristik sampel penelitian yang terlalu luas, seperti menggunakan internet sedangkan dari analisis yang dilakukan tidak semua aktivitas online berhubungan signifikan dengan kecanduan internet. Pada persebaran skor perceived social support, sebagian besar partisipan memiliki skor perceived social support yang tergolong sedang (75,7%). Apabila dilihat berdasarkan dimensi perceived social support, keluarga merupakan sumber dukungan yang memberikan dukungan sosial lebih banyak dibandingkan sumber dukungan yang lain seperti teman dan significant other. Tingginya skor perceived social support yang bersumber dari keluarga didukung oleh data demografis partisipan, di mana sebagian besar partisipan menganggap keluarga (orang tua dan kakak/adik) sebagai orang yang paling dekat dan paling berarti dalam hidup mereka. Meski tidak sesuai dengan Papalia dan Feldman (2011) yang mengatakan bahwa remaja cenderung lebih dekat dengan teman atau peer dibandingkan keluarga, hal tersebut dapat saja terjadi karena di Indonesia, remaja usia 18 sampai 22 tahun masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap orang tua (Sarwono, 2013). Dengan begitu, temuan ini menunjukkan bahwa orang tua masih memiliki peran yang cukup penting dalam pemberian dukungan sosial kepada remaja, khususnya di Jakarta. Apabila ditinjau dari lama waktu penggunaan internet, tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan pada kecanduan internet berdasarkan lama waktu penggunaan internet. Meskipun menurut Young (2004) orang yang kecanduan akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk online, akan tetapi hasil penelitian tersebut dapat saja terjadi karena internet saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan seseorang dan merupakan salah satu sumber dukungan sosial bagi seseorang (Gunuc & Dogan, 2013). Andrade (2003, dalam Gunuc & Dogan, 2013) menambahkan bahwa melalui internet seseorang mencari dukungan emosional dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam penelitian ini, hal tersebut sesuai dengan hasil penghitungan statistik yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor perceived social support yang signifikan pada dimensi keluarga, teman, dan significant other berdasarkan lama penggunaan internet.

12 Selain itu, peneliti juga melakukan penghitungan statistik untuk mendapatkan analisis tambahan mengenai aktivitas yang dilakukan saat menggunakan internet. Berdasarkan data demografis berupa aktivitas online yang dilakukan partisipan, ditemukan bahwa aktivitas online yang paling banyak dilakukan oleh partisipan adalah membuka dan menggunakan media sosial. Dari hasil analisis juga disebutkan bahwa aktivitas online yang berhubungan signifikan dengan kecanduan internet adalah game online dan chatting. Young (1999) membagi kecanduan internet ke dalam beberapa tipe, yaitu computer addiction (game online), information addiction (browsing atau web surfing), net compulsions (online gambling, belanja online), cyber-sexual addiction (pornografi, kecanduan seksual), cyberrelation addiction (hubungan online seperti melalui chatting). Tipe-tipe kecanduan tersebut memiliki kriteria yang hampir sama, meski faktor yang menyebabkannya berbeda. Meskipun tidak semua aktivitas online dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kecanduan internet, namun hasil penelitian ini menunjukkan apa saja aktivitas yang dilakukan oleh remaja saat menggunakan internet. Agar kecanduan internet tidak terjadi, seorang pengguna internet harus mampu mengontrol dirinya agar tidak menggunakan internet secara berlebihan dan menyebabkan ketergantungan. Dengan adanya berbagai tipe kecanduan internet, peneliti berasumsi bahwa tidak signifikannya perceived social support dan kecanduan internet disebabkan karena konsep kecanduan internet yang terlalu luas atau umum. Akan lebih baik jika kecanduan internet lebih dispesifikkan ke tipe kecanduan internet. Misalnya kecanduan media sosial karena di dalam media sosial, seseorang akan mendapatkan dukungan sosial yang bersifat emosional. Hal tersebut karena dalam penggunaan sosial media, seseorang akan mendapatkan pengalaman positif yang akan mempengaruhi perubahan mood atau emosi penggunanya dan dapat menyebabkan kecanduan (Kuss & Griffiths, 2011). Ditambah lagi, dalam hasil analisis tambahan dalam penelitian ini ditemukan bahwa di antara berbagai aktivitas online yang dilakukan, aktivitas yang memiliki perbedaan skor perceived social support yang signifikan adalah membuka media sosial. Kesimpulan Pertama, tidak ada hubungan yang signifikan antara perceived social support dengan kecanduan internet pada remaja di Jakarta. Kedua, 75,7% partisipan memiliki tingkat

13 perceived social support yang tergolong sedang. Ketiga, 91,9% partisipan memiliki tingkat kecanduan internet ringan. Saran Untuk perbaikan penelitian ini ke depannya, peneliti memberikan beberapa saran, yaitu: 1. Jika pada penelitian selanjutnya ingin dilakukan pada populasi yang luas, seperti remaja di Jakarta, sebaiknya menggunakan teknik sampling yang random/probability sampling, yaitu cluster sampling. Hal tersebut agar peneliti mendapatkan data yang merata dari setiap wilayah yang ada di Jakarta. Selain itu, agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian. Akan tetapi, jika terdapat keterbatasan dalam pengambilan sampel yang kurang mampu diatasi oleh peneliti, sebaiknya dengan teknik pengambilan sampel yang sama, yaitu non-probability sampling design. Hanya saja perlu dipikirkan antisipasi-antisipan lain agar hasil penelitian cukup representatif, seperti jumlah sampel yang lebih besar agar semakin menggambarkan populasi. 2. Sebaiknya konsep yang digunakan tidak terlalu luas sehingga peneliti dapat meneliti kecanduan internet yang lebih spesifik, seperti kecanduan sosial media, game online, belanja online, atau kecanduan seksual melalui internet. Apabila peneliti ingin meneliti pada populasi normal, sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang besar untuk meminimalisir kurang meratanya persebaran skor kecanduan dan banyaknya data yang tereliminasi karena ternyata tidak termasuk dalam kecanduan internet. Selain itu, penelitian dilakukan kepada orang yang mengalami kecanduan, peneliti dapat memilih sampel yang diasumsikan telah memenuhi kriteria kecanduan internet. Daftar Referensi American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: American Psychiatric Association. Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet Indonesia. (2012). Profil Pengguna Internet September DONESIA%29.pdfBlais, J.J., Craig, W.M., Pepler, D., & Conolly, J. (2008). Adolescents Online: The Importance of Internet Activity Choices to Salient Relationships. Journal of Youth Adolescence. 37.

14 Barrera, (1986). Distinctions Between Social Support Concepts, Measures, and Models. American Journal of Community Psychology, 14(4), Beard, K.W. & Wolf, E.M. (2001). Modification in The Proposed Diagnostic Criteria for Internet Addiction. Cyberpsychology Behavior, 4(3), Blais, J.J., Craig, W.M., Pepler, D., & Conolly, J. (2008). Adolescents Online: The Importance of Internet Activity Choices to Salient Relationships. Journal of Youth Adolescence. 37. Cochran, C. (1996). Research Over Internet Addiction. 4 Februari Cohen, S., Gottlieb, B., & Underwood, L. (2000). Social Relationships and Health. 30 September Cooke, B.D., Rossmann, M.M., McCubbin, H.I., & Patterson, J.M. (1988) Examining the Definition and Assessment of Social Support: A Resource for Individuals and Families. Family Relations. 37(2), Gunuc, S. & Dogan, A. (2013). The Relationships between Turkish adolescents Internet Addiction, Their Perceived Social Support, and Family Activities. Computer in Human Behavior, 29, p Horrigan, J.B New Internet Users: What They Do Online, What They Don t, and Implications for the Net s Future. Pew Internet and American Life Project. 8 Oktober Kim, Y., Sohn, D., & Choi, S.M. (2011) Cultural difference in motivations for using social network sites: a comparative study of American and Korean college students. Computers in Human Behavior 27, 1, Ko, C., Yen, J., dkk,. (2009). Proposed Diagnostic Criteria and The Screening and Diagnosing Tool of Internet Addiction in College Students. Comprehensice Psychiatry 50 (2009) Kuss, D.J. & Griffiths, M.D. (2011). Online Social Networking and Addiction: A Review of the Psychological Literature. Int. Journal of Environmental Research and Public Health, 8, Marcia, J.E., Waterman, A.S., Matteson, D.R., dkk. (1993). Ego-Identity: A Handbook for Psychosocial Research. New York: Springer Verlag.

15 Markus, D.R. (2003). Addiction, Attachment, and Social Support. Dissertation. Los Angeles: California School of Professional Psychology. Papalia, D.E., & Feldman, R.D. (2011). Human Development (ed.12). New York: McGraw- Hill Para, E. (2008). The Role of Social Support in Identity Formation: A Literature Review. Graduate Journal of Counseling Psychology, 1(1), Sarason, I.G., Levine, H.M., Basham, R.B., & Sarason, B.R. (1983). Assessing Social Support: The Social Support Questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), Sarwono, S.W. (2013). Psikologi Remaja. Depok: PT. Rajagrafindo Persada. Smahel, D., Brown, B.B., & Blinka, L. Associations Between Online Friendship and Internet Addiction among Adolescents and Emerging Adults. Developmental Psychology, 48(2). Subrahmanyan, K., & Lin,G. (2007). Adolescents on the net: Internet use and well-being. Adolescence, 42, Taylor, S.E., Sherman, D.K., Kim, H.S., dkk. (2004). Culture and Social Support: Who Seeks It and Why?. Journal of Personality and Social Psychology, 87, Young, K.S. (1996). Internet Addiction: The emergence of a new clinical disorder. Paper presented at the 10th Annual Meeting of the American Psychological Association, Toronto, Ontarion, Canada.. (1999). Internet Addiction: Evaluation and Treatment. Student British Medical Journal, 7, (2004). Internet Addiction: A New Clinical Phenomenon and Its Consequences. American Behavioral Scientist, 48(4), (2007). Treatment Outcomes with Internet Addicts. Cyber Psychology and Behavior, 10(5), Zimet, G.D., Dahlem, N.W., Zimet, S.G., & Farley, G.K. (1988). The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Journal of Personality Assessment, 52(1),

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Teknologi yang berkembang pesat saat ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Teknologi yang berkembang pesat saat ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang sangat pesat semakin memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah teknologi

Lebih terperinci

PERBEDAAN MOTIVASI BELAJAR DITINJAU DARI STATUS EKONOMI KELUARGA PADA MAHASISWA Oleh : Meriam Yuliana Mahasiswi jurusan Psikologi Fakultas Psikologi U

PERBEDAAN MOTIVASI BELAJAR DITINJAU DARI STATUS EKONOMI KELUARGA PADA MAHASISWA Oleh : Meriam Yuliana Mahasiswi jurusan Psikologi Fakultas Psikologi U VIEWED FROM DIFFERENT LEARNING MOTIVATION OF STUDENTS IN FAMILY ECONOMIC STATUS Meriam Yuliana Undergraduate Program, Faculty of Psychology Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id Keywords: motivation

Lebih terperinci

PERSEPSI TERHADAP PERILAKU SENIOR SELAMA KADERISASI DAN KOHESIVITAS KELOMPOK MAHASISWA TAHUN PERTAMA

PERSEPSI TERHADAP PERILAKU SENIOR SELAMA KADERISASI DAN KOHESIVITAS KELOMPOK MAHASISWA TAHUN PERTAMA PERSEPSI TERHADAP PERILAKU SENIOR SELAMA KADERISASI DAN KOHESIVITAS KELOMPOK MAHASISWA TAHUN PERTAMA Terendienta Pinem 1, Siswati 2 1,2 Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto SH

Lebih terperinci

OF MISSING OUT) DENGAN KECANDUAN INTERNET (INTERNET ADDICTION) PADA REMAJA DI SMAN 4 BANDUNG

OF MISSING OUT) DENGAN KECANDUAN INTERNET (INTERNET ADDICTION) PADA REMAJA DI SMAN 4 BANDUNG 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Internet merupakan salah satu bentuk evolusi perkembangan komunikasi dan teknologi yang berpengaruh pada umat manusia. Salah satu akibat adanya internet adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perkembangan teknologi yang pesat, terutama teknologi informasi dan komunikasi kian banyak digunakan orang untuk berbagai manfaat salah satunya internet. Internet (Interconnected

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan mudah mengakses internet dari rumah, sekolah, universitas, perpustakaan dan

BAB I PENDAHULUAN. dengan mudah mengakses internet dari rumah, sekolah, universitas, perpustakaan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Internet telah menjadi salah satu sumber informasi yang sangat penting (Aboujaoude, 2010). Kemajuan teknologi saat ini menyebabkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses

Lebih terperinci

Kata kunci: Remaja Akhir, Sexting, Intensi

Kata kunci: Remaja Akhir, Sexting, Intensi STUDI DESKRIPTIF MENGENAI GAMBARAN INTENSI MELAKUKAN SEXTING PADA REMAJA AKHIR DI KOTA BANDUNG Karya Ilmiah Pramudya Wisnu Patria (190110070051) Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Abstrak. Masa

Lebih terperinci

KECANDUAN INTERNET PADA MAHASISWA. Ursa Majorsy 1 Cory Dita Pratiwi 2 Maizar Saputra 3 Usber Manurung 4 Quroyzhin Kartika Rini 5 Wahyu Rahardjo 6

KECANDUAN INTERNET PADA MAHASISWA. Ursa Majorsy 1 Cory Dita Pratiwi 2 Maizar Saputra 3 Usber Manurung 4 Quroyzhin Kartika Rini 5 Wahyu Rahardjo 6 KECANDUAN INTERNET PADA MAHASISWA Ursa Majorsy 1 Cory Dita Pratiwi 2 Maizar Saputra 3 Usber Manurung 4 Quroyzhin Kartika Rini 5 Wahyu Rahardjo 6 1,2,3,4,5,6 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jl.

Lebih terperinci

PERBEDAAN KOMITMEN BERPACARAN ANTARA DEWASA MUDA YANG MEMILIKI SELF-MONITORING TINGGI DAN SELF-MONITORING RENDAH

PERBEDAAN KOMITMEN BERPACARAN ANTARA DEWASA MUDA YANG MEMILIKI SELF-MONITORING TINGGI DAN SELF-MONITORING RENDAH PERBEDAAN KOMITMEN BERPACARAN ANTARA DEWASA MUDA YANG MEMILIKI SELF-MONITORING TINGGI DAN SELF-MONITORING RENDAH Fransisca Iriani Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta dosenpsikologi@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 2 Tinjauan Pustaka BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Pengertian Kesepian Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan sosial yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL. Erick Wibowo

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL. Erick Wibowo HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN REGULASI EMOSI KARYAWAN PT INAX INTERNATIONAL Erick Wibowo Fakultas Psikologi Universitas Semarang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan

Lebih terperinci

GAMBARAN INTENSI MELAKUKAN OBSESSIVE CORBUZIER S DIET (OCD) PADA MAHASISWA

GAMBARAN INTENSI MELAKUKAN OBSESSIVE CORBUZIER S DIET (OCD) PADA MAHASISWA GAMBARAN INTENSI MELAKUKAN OBSESSIVE CORBUZIER S DIET (OCD) PADA MAHASISWA Studi Deskriptif Mengenai Intensi untuk Melakukan Diet OCD Pada Mahasiswa Universitas Padjadjaran dilihat dari Attitude Toward

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3. METODE PENELITIAN 3. 1. Permasalahan Peneliti berusaha untuk menemukan jawaban dari masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu: Apakah terdapat hubungan antara kecanduan internet game online dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN NARSISME PADA REMAJA PENGGUNA FACEBOOK NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN NARSISME PADA REMAJA PENGGUNA FACEBOOK NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN NARSISME PADA REMAJA PENGGUNA FACEBOOK NASKAH PUBLIKASI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai persyaratan memperoleh Derajat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Problematic Internet Use 2.1.1 Definisi Problematic Internet Use Awal penelitian empiris tentang penggunaan internet yang berlebihan ditemukan dalam literatur yang dilakukan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai Adult Attachment Styles pada mahasiswa yang menjalani hubungan pacaran di Universitas X di Kota Bandung. Ukuran sampel sebesar 100 mahasiswa

Lebih terperinci

GAMBARAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA USIA TAHUN BERDASARKAN POLA ASUH AUTHORITATIVE NUR AFNI ANWAR LANGGERSARI ELSARI NOVIANTI S.PSI. M.

GAMBARAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA USIA TAHUN BERDASARKAN POLA ASUH AUTHORITATIVE NUR AFNI ANWAR LANGGERSARI ELSARI NOVIANTI S.PSI. M. GAMBARAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA USIA 12-15 TAHUN BERDASARKAN POLA ASUH AUTHORITATIVE NUR AFNI ANWAR LANGGERSARI ELSARI NOVIANTI S.PSI. M.PSI 1 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN ABSTRAK Kemandirian

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui gambaran Social Adjustment pada remaja di kota Bandung yang orangtuanya bercerai. Social Adjustment merupakan kapasitas untuk bereaksi terhadap kenyataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Internet merupakan kebutuhan dan bagian dari kehidupan sehari-hari saat ini, baik itu digunakan untuk media komunikasi, mencari berbagai informasi, melakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan metode dalam penelitian ini, yang mencakup jenis penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Internet merupakan salah satu media yang paling diminati banyak orang.

BAB I PENDAHULUAN. Internet merupakan salah satu media yang paling diminati banyak orang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Internet merupakan salah satu media yang paling diminati banyak orang. Awalnya, internet merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA QUALITY OF SCHOOL LIFE DENGAN EMOTIONAL WELL BEING PADA SISWA MADRASAH SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA QUALITY OF SCHOOL LIFE DENGAN EMOTIONAL WELL BEING PADA SISWA MADRASAH SEMARANG HUBUNGAN ANTARA QUALITY OF SCHOOL LIFE DENGAN EMOTIONAL WELL BEING PADA SISWA MADRASAH SEMARANG Soraya Prabanjana Damayanti, Dinie Ratri Desiningrum* Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Sorayadamayanti88@gmail.com

Lebih terperinci

Gambaran Karakteristik Partisipan Penelitian

Gambaran Karakteristik Partisipan Penelitian 43 4. ANALISIS DATA DAN INTERPRETASI HASIL Pada bab ini akan diuraikan mengenai analisis data dan interpretasi hasil penelitian yang telah dilakukan. Pada bagian pertama bab ini, akan diuraikan gambaran

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA

BAB 5 ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA 44 BAB 5 ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Pada bagian ini peneliti memaparkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Hasil penelitian diperoleh dari pengolahan data secara statistik dengan menggunakan

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku self disclosure pada media sosial Path dan tatap muka pada komunitas youth di GSJA Calvary Charismatic Bogor, berdasarkan dimensi dimensi

Lebih terperinci

ABSTRAK. iii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. iii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian Pengaruh Student-Teacher Relationships terhadap Tipe-Tipe School Engagement pada siswa SMP Z Kota Bandung bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh Student-Teacher Relationships

Lebih terperinci

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang menempuh Usulan Penelitian di Fakultas Psikologi Universitas X Bandung.

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku seksual pada siswa SMP X di kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling, dan

Lebih terperinci

5. DISKUSI, KESIMPULAN, DAN SARAN

5. DISKUSI, KESIMPULAN, DAN SARAN 5. DISKUSI, KESIMPULAN, DAN SARAN Dalam bab ini berisikan kesimpulan untuk menjawab pertanyaan penelitian, diskusi mengenai temuan fakta di lapangan, dan saran yang diberikan sehubungan dengan hasil penelitian

Lebih terperinci

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran status identitas bidang pendidikan pada siswa kelas XI di SMA A Bandung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu mengalami masa peralihan atau masa transisi. Yang dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001).

Lebih terperinci

STUDI KORELASI EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PRESTASI AKADEMIK : TELAAH PADA SISWA PERGURUAN TINGGI

STUDI KORELASI EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PRESTASI AKADEMIK : TELAAH PADA SISWA PERGURUAN TINGGI STUDI KORELASI EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PRESTASI AKADEMIK : TELAAH PADA SISWA PERGURUAN TINGGI Aulia Kirana 1 Moordiningsih 2 1.2. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Email

Lebih terperinci

Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak (S

Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak (S HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON FILM DRAMA ROMANTIS DENGAN KECENDERUNGAN SEKS PRANIKAH PADA REMAJA Ardhi Pratama Putra Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma ABSTRAK Media masa mempunyai pengaruh

Lebih terperinci

PENELITIAN PREVALENSI INTERNET ADDICTION PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Oleh : SRI WAHYUNI NIM :

PENELITIAN PREVALENSI INTERNET ADDICTION PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Oleh : SRI WAHYUNI NIM : PENELITIAN PREVALENSI INTERNET ADDICTION PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Oleh : SRI WAHYUNI NIM : 070100076 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 PREVALENSI

Lebih terperinci

DISERTASI HUBUNGAN STRES, KEPRIBADIAN, KADAR DOPAMIN TRANSPORTER DAN SEROTONIN TRANSPORTER DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA SISWA SMA DI KOTA PADANG

DISERTASI HUBUNGAN STRES, KEPRIBADIAN, KADAR DOPAMIN TRANSPORTER DAN SEROTONIN TRANSPORTER DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA SISWA SMA DI KOTA PADANG DISERTASI HUBUNGAN STRES, KEPRIBADIAN, KADAR DOPAMIN TRANSPORTER DAN SEROTONIN TRANSPORTER DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA SISWA SMA DI KOTA PADANG Oleh YASLINDA YAUNIN NIM : 06301055 Nama Pembimbing :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Banyak pelajar. bersosialisasi maupun mencari informasi misalnya pendidikan, ilmu

BAB I PENDAHULUAN. kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Banyak pelajar. bersosialisasi maupun mencari informasi misalnya pendidikan, ilmu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Internet (Interconnected Network) adalah kumpulan jaringan komputer di seluruh dunia yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya (Priyatno,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Orientasi Kancah Penelitian Subjek penelitian ini adalah anggota dari kelompokkelompok game yang bermain Ayo Dance di Salatiga, tepatnya anggota Narciz Community

Lebih terperinci

STUDI KOMPARATIF MENGENAI TECHNOSTRESS PADA

STUDI KOMPARATIF MENGENAI TECHNOSTRESS PADA STUDI KOMPARATIF MENGENAI TECHNOSTRESS PADA MAHASISWA UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA PENELITIAN PADA MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO, TEKNIK INFORMATIKA, DAN PSIKOLOGI DISUSUN OLEH : Missiliana R., M.Si,

Lebih terperinci

PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL SISWA BOARDING SCHOOL DAN SISWA SEKOLAH UMUM REGULER

PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL SISWA BOARDING SCHOOL DAN SISWA SEKOLAH UMUM REGULER PERBEDAAN KOMPETENSI SOSIAL SISWA BOARDING SCHOOL DAN SISWA SEKOLAH UMUM REGULER Tesi Hermaleni, Mudjiran, Afif Zamzami Universitas Negeri Padang e-mail: Tesi.hermaleni@gmail.com Abstract: The difference

Lebih terperinci

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA SKRIPSI Oleh : Leila Rizki Febriyanti 201210515075 PROGRAM

Lebih terperinci

GAMBARAN KOMITMEN PADA EMERGING ADULT YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH DAN PERNAH MENGALAMI PERSELINGKUHAN

GAMBARAN KOMITMEN PADA EMERGING ADULT YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH DAN PERNAH MENGALAMI PERSELINGKUHAN GAMBARAN KOMITMEN PADA EMERGING ADULT YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH DAN PERNAH MENGALAMI PERSELINGKUHAN RIMA AMALINA RAHMAH Langgersari Elsari Novianti, S.Psi., M.Psi. 1 Fakultas Psikologi

Lebih terperinci

Prosiding SNaPP2010 Edisi Sosial ISSN:

Prosiding SNaPP2010 Edisi Sosial ISSN: HUBUNGAN ANTARA KETIDAKMAMPUAN KONTROL IMPULS UNTUK BERMAIN GAME ONLINE RAGNAROK DENGAN PENYESUAIAN AKADEMIK GAMERS ADDICT USIA DEWASA DINI DI C-NET DAN J-NET BANDUNG. Fanni Putri Diantina Fakultas Psikologi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia 1. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Kehadiran internet bisa dibilang terlambat di Indonesia, namun dapat dibilang sangat cepat perkembangannya. Berdasarkan data dari situs Internet World Stats,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI PADA SISWA KELAS XI MAN KENDAL

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI PADA SISWA KELAS XI MAN KENDAL 1 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI PADA SISWA KELAS XI MAN KENDAL DyahNurul Adzania, Achmad Mujab Masykur Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dyadzania@gmail.com

Lebih terperinci

DAFTAR ISI v. KATA PENGANTAR.. i ABSTRAK iii ABSTRACT iv. DAFTAR TABEL viii DAFTAR BAGAN... ix DAFTAR LAMPIRAN. x

DAFTAR ISI v. KATA PENGANTAR.. i ABSTRAK iii ABSTRACT iv. DAFTAR TABEL viii DAFTAR BAGAN... ix DAFTAR LAMPIRAN. x ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai derajat culture shock pada mahasiswa Buton tingkat I angkatan 2012 di Politeknik X Bandung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

HUBUNGAN KETERAMPILAN SOSIAL DAN PENGGUNAAN GADGET SMARTPHONE DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 9 MALANG

HUBUNGAN KETERAMPILAN SOSIAL DAN PENGGUNAAN GADGET SMARTPHONE DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 9 MALANG 126 Jurnal Jurnal Kajian Bimbingan Kajian Bimbingan dan Konseling dan Konseling Vol. 1, No. 3, 2016, hlm. 126-131 Vol 1, No. 3, 2016, hlm. 126 131 Tersedia Online di http://journal.um.ac.id/index.php/bk

Lebih terperinci

SUBJECTIVE WELL-BEING DAN REGULASI DIRI REMAJA PELAKU TINDAK KEKERSAN (Studi pada anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang)

SUBJECTIVE WELL-BEING DAN REGULASI DIRI REMAJA PELAKU TINDAK KEKERSAN (Studi pada anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang) SUBJECTIVE WELL-BEING DAN REGULASI DIRI REMAJA PELAKU TINDAK KEKERSAN (Studi pada anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang) Naomi Soetikno, Debora Basaria email: naomis@fpsi.untar.ac.id

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci: pola adult attachment, secure. v Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata Kunci: pola adult attachment, secure. v Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan Pola Adult Attachment sebelum dan setelah menikah pada istri perwira di Dinas X Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran konsep diri pada siswa kelas XII yang mengambil jurusan IPA dan IPS di SMA X Bandung beserta dimensi-dimensi konsep diri serta kaitannya dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN SOSIAL DAN KECANDUAN SITUS JEJARING SOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL

HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN SOSIAL DAN KECANDUAN SITUS JEJARING SOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN SOSIAL DAN KECANDUAN SITUS JEJARING SOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL Ursa Majorsy 1 Annes Dwininta Kinasih 2 Inge Andriani 3 Warda Lisa 4 1,2,3,4 Fakultas Psikologi Universitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET BERLEBIHAN PADA REMAJA WANITA YANG BERPROFESI SEBAGAI PEMAIN SINETRON

HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET BERLEBIHAN PADA REMAJA WANITA YANG BERPROFESI SEBAGAI PEMAIN SINETRON HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET BERLEBIHAN PADA REMAJA WANITA YANG BERPROFESI SEBAGAI PEMAIN SINETRON ANJANA DEMIRA Program Studi Psikologi, Universitas Padjadjaran ABSTRAK Perkembangan dunia

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis Pada Sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai Variable penelitian yang dijadikan sebagai alat ukur dan hipotesis yang digunakan peneliti sebagai

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN PENYESUAIAN KULIAH PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA di UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA OLEH

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN PENYESUAIAN KULIAH PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA di UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA OLEH HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN PENYESUAIAN KULIAH PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA di UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA OLEH MATTA CHRISTINA PRASETYA 802012713 TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Fakultas

Lebih terperinci

Hubungan Pergaulan Teman Sebaya Terhadap Tindakan Merokok Siswa Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung

Hubungan Pergaulan Teman Sebaya Terhadap Tindakan Merokok Siswa Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung The Relation Of Socially With Friends Againts Act Of Smoking Elementary School Students In District Panjang Bandar Lampung Firdaus, E.D., Larasati, TA., Zuraida, R., Sukohar, A. Medical Faculty of Lampung

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SELF ESTEEM DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA KELAS X TEKNIK KOMPUTER JARINGAN 1 SMK NEGERI 1 WONOSEGORO TAHUN PELAJARAN 2015/2016

HUBUNGAN ANTARA SELF ESTEEM DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA KELAS X TEKNIK KOMPUTER JARINGAN 1 SMK NEGERI 1 WONOSEGORO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 HUBUNGAN ANTARA SELF ESTEEM DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA KELAS X TEKNIK KOMPUTER JARINGAN 1 SMK NEGERI 1 WONOSEGORO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Oleh : Pudyastuti Widhasari ABSTRAK Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang kompleks. Pada tingkat pendidikan tinggi/sarjana merupakan jenjang

BAB I PENDAHULUAN. yang kompleks. Pada tingkat pendidikan tinggi/sarjana merupakan jenjang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan yang kompleks. Pada tingkat pendidikan tinggi/sarjana merupakan jenjang pendidikan Strata-1 atau biasa

Lebih terperinci

GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA

GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA GAMBARAN ATTACHMENT BERDASARKAN GEJALA PROBLEMATIC INTERNET USE PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL DI JAKARTA Nurcahyati Psikologi, Swadaya 2 No.6, 08971756401, nurcahyati19@gmail.com (Nurcahyati, Esther

Lebih terperinci

iii Universitas Kristen Maranatha

iii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara grit dan IPK pada mahasiswa Kurikulum Berbasis KKNI angkatan 2013 di Universitas X di Kota Bandung. Subjek dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi kian maju dewasa ini, khususnya pada perkembangan

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi kian maju dewasa ini, khususnya pada perkembangan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi kian maju dewasa ini, khususnya pada perkembangan teknologi komputer. Dari yang digunakan hanya untuk mengetik hingga sekarang penggunaan

Lebih terperinci

TINGKAT STRES PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ANGKATAN 2013

TINGKAT STRES PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ANGKATAN 2013 TINGKAT STRES PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ANGKATAN 2013 DISUSUN OLEH : KEVIN DILIAN SUGANDA (100100075) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dalam penelitian ini, yaitu: B. Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel dalam penelitian ini, yaitu: B. Definisi Operasional digilib.uns.ac.id BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1. Variabel Bebas : a. Regulasi diri b. Hubungan interpersonal dalam keluarga 2. Variabel

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui informasi yang dapat menjelaskan mengenai gambaran kemandirian remaja bungsu SMA Negeri X di Bandung berdasarkan tiga aspek kemandirian Steinberg (2002),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu lain atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN MOTHER-DAUGHTER RELATIONSHIP DENGAN TINGKAT SELF-ESTEEM MAHASISWA PEREMPUAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

HUBUNGAN MOTHER-DAUGHTER RELATIONSHIP DENGAN TINGKAT SELF-ESTEEM MAHASISWA PEREMPUAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA LAPORAN PENELITIAN HUBUNGAN MOTHER-DAUGHTER RELATIONSHIP DENGAN TINGKAT SELF-ESTEEM MAHASISWA PEREMPUAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA Oleh : Izzatul Fithriyah Pembimbing: Nalini Muhdi

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP PENURUNAN DURASI BERMAIN PEMAIN GAME ONLINE YANG MENGALAMI ADIKSI

EFEKTIVITAS RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP PENURUNAN DURASI BERMAIN PEMAIN GAME ONLINE YANG MENGALAMI ADIKSI EFEKTIVITAS RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP PENURUNAN DURASI BERMAIN PEMAIN GAME ONLINE YANG MENGALAMI ADIKSI Oleh Ratih Wijayanti Sudjiono 190420130056 TESIS Untuk memenuhi salah satu syarat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Perbandingan Fear of Success dengan Jenis Kelamin. Gender

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Perbandingan Fear of Success dengan Jenis Kelamin. Gender BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Peneliti akan menguraikan tentang gambaran umum subjek berdasarkan jenis kelamin. Kemudian menjelaskan secara deskriptif dengan di sertai

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL, MASTURBASI, PORNOGRAFI DAN HOMOSEKSUAL DENGAN RELIGIUSITAS PADA DEWASA MUDA MUSLIM

HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL, MASTURBASI, PORNOGRAFI DAN HOMOSEKSUAL DENGAN RELIGIUSITAS PADA DEWASA MUDA MUSLIM HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL, MASTURBASI, PORNOGRAFI DAN HOMOSEKSUAL DENGAN RELIGIUSITAS PADA DEWASA MUDA MUSLIM (CORRELATION BETWEEN ATTITUDES TOWARD SEXUAL INTERCOURSE, MASTURBATION,

Lebih terperinci

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA JANDA/DUDA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN SOSIAL DAN GENDER

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA JANDA/DUDA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN SOSIAL DAN GENDER KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA JANDA/DUDA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN SOSIAL DAN GENDER Dinie Ratri Desiningrum Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto SH, Tembalang,

Lebih terperinci

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran. Kata kunci : adiksi, anak usia sekolah, bermain, game online. Winsen Sanditaria

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran. Kata kunci : adiksi, anak usia sekolah, bermain, game online. Winsen Sanditaria ADIKSI BERMAIN GAME ONLINE PADA ANAK USIA SEKOLAH DI WARUNG INTERNET PENYEDIA GAME ONLINE JATINANGOR SUMEDANG 1 Siti Yuyun Rahayu Fitri 1 Ai Mardhiyah 1 1 ABSTRAK ABSTRAK Aktivitas bermain game online

Lebih terperinci

ABSTRAK Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini berjudul Studi Komparatif mengenai Moral Judgement Perilaku Seksual Bebas Mahasiswa yang Tinggal di Tempat Kos pada Kawasan Universitas X Bandung (antara Mahasiswa yang Sudah dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai populasi dan subjek penelitian, metode penelitian, variabel dan definisi operasional, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan pada populasi atau sampel yang diambil adalah

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan pada populasi atau sampel yang diambil adalah 38 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada populasi atau sampel yang diambil adalah seluruh subjek yang menjadi anggota populasi, oleh karena itu metode analisis yang digunakan adalah

Lebih terperinci

PERCEIVED PEER SOCIAL SUPPORT DAN PSYCHOLOGICAL DISTRESS MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

PERCEIVED PEER SOCIAL SUPPORT DAN PSYCHOLOGICAL DISTRESS MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA 86 MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 15, NO. 2, DESEMBER 2011: 86-93 PERCEIVED PEER SOCIAL SUPPORT DAN PSYCHOLOGICAL DISTRESS MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA Astri Dewayani, Augustine D. Sukarlan, dan Sherly

Lebih terperinci

Abstrak. viii. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. viii. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara Trait Extraversion dan dimensi-dimensi Self-Disclosure pada remaja pengguna Twitter di SMA Negeri X Kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan

Lebih terperinci

ABSTRACT Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT The study, entitled Effect of Attachment to God ( ATG ) on Forgiveness of Christian / Catholic s High School Students Bandung to their peers, aims to obtain an overview of the effect of ATG s

Lebih terperinci

PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP KEKERASAN DALAM PACARAN PADA REMAJA DI JAKARTA

PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP KEKERASAN DALAM PACARAN PADA REMAJA DI JAKARTA PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP KEKERASAN DALAM PACARAN PADA REMAJA DI JAKARTA Fitria Fauziah Psikologi, Gading Park View ZE 15 No. 01, 081298885098, pipih.mail@gmail.com (Fitria Fauziah, Cornelia Istiani,

Lebih terperinci

2015 PENGARUH DATING ANXIETY DAN KESEPIAN TERHADAP ADIKSI INTERNET PADA DEWASA AWAL LAJANG DI KOTA BANDUNG

2015 PENGARUH DATING ANXIETY DAN KESEPIAN TERHADAP ADIKSI INTERNET PADA DEWASA AWAL LAJANG DI KOTA BANDUNG BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah yang mendasari penelitian ini, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi. A. Latar

Lebih terperinci

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NAWA KARTIKA ISLAMIC BOARDING SCHOOL DENGAN SMP NEGERI 1 WONOGIRI SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

Hubungan antara Social Support dengan Self Esteem pada Andikpas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung

Hubungan antara Social Support dengan Self Esteem pada Andikpas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448 Hubungan antara Social Support dengan Self Esteem pada Andikpas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung 1 Haunan Nur Husnina, 2 Suci Nugraha 1,2 Fakultas

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA MAHASISWA BARU

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA MAHASISWA BARU 1 NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA MAHASISWA BARU Oleh : Chinta Pradhika H. Fuad Nashori PRODI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PERAN HARGA DIRI DALAM MEMPREDIKSI PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA AKHIR DI DKI JAKARTA. Maya Marsiana Kowira

PERAN HARGA DIRI DALAM MEMPREDIKSI PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA AKHIR DI DKI JAKARTA. Maya Marsiana Kowira PERAN HARGA DIRI DALAM MEMPREDIKSI PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA AKHIR DI DKI JAKARTA Maya Marsiana Kowira mayamarsiana@gmail.com Dosen Pembimbing: Moondore Madalina Ali, B.Sc.,M.Sc., Ph.D Binus University:

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. dalam memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian,

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. dalam memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian, 31 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan dalam penelitian ini dalam memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian, maka peneliti

Lebih terperinci

Kata Kunci : Emotional Intelligence, remaja, berpacaran

Kata Kunci : Emotional Intelligence, remaja, berpacaran Studi Deskriptif Mengenai Emotional Intelligence Pada Siswa dan Siswi SMA Negeri X yang Berpacaran Muhamad Chandika Andintyas Dibimbing oleh : Esti Wungu S.Psi., M.Ed ABSTRAK Emotional Intelligence adalah

Lebih terperinci

ABSTRACT CORRELATION BETWEEN ONLINE GAME ADDICTION AND MOTIVATION TO LEARN

ABSTRACT CORRELATION BETWEEN ONLINE GAME ADDICTION AND MOTIVATION TO LEARN LAMPIRAN A ABSTRACT Phani (12120070020) CORRELATION BETWEEN ONLINE GAME ADDICTION AND MOTIVATION TO LEARN (xiii + 51 pages; 1 object; 16 table; 8 attachment) Playing online game overly can cause people

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Belajar merupakan tugas utama seorang siswa. Seorang siswa dalam

BAB I PENDAHULUAN. Belajar merupakan tugas utama seorang siswa. Seorang siswa dalam BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Belajar merupakan tugas utama seorang siswa. Seorang siswa dalam kesehariannya belajar diharapkan untuk dapat mencurahkan perhatiannya pada kegiatan akademik

Lebih terperinci

HUBUNGAN INTENSITAS BERMAIN GAME ONLINE DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI JARAKAN KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

HUBUNGAN INTENSITAS BERMAIN GAME ONLINE DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI JARAKAN KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA 494 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 6 Tahun ke-5 2016 HUBUNGAN INTENSITAS BERMAIN GAME ONLINE DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI JARAKAN KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

Lebih terperinci

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha Abstrak Individu yang menjalani hubungan jarak jauh dalam berelasinya banyak yang mengalami kesulitan, namun ada pula yang dapat mempertahankan hubungannya. Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN SOSIAL KELOMPOK KELAS DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA SISWA KELAS I SLTP XXX JAKARTA OLEH: RITA SINTHIA ABSTRACT

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN SOSIAL KELOMPOK KELAS DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA SISWA KELAS I SLTP XXX JAKARTA OLEH: RITA SINTHIA ABSTRACT HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN SOSIAL KELOMPOK KELAS DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA SISWA KELAS I SLTP XXX JAKARTA OLEH: RITA SINTHIA ABSTRACT This study was aimed to investigate the relationship between social

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 320 siswa. Berdasarkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 320 siswa. Berdasarkan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Subjek Penelitian Jumlah siswa SMP Negeri 5 Yogyakarta sebanyak 900 siswa dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 320 siswa. Berdasarkan

Lebih terperinci

*LGBT. Medic & Psychological View. Dr.Anggia Hapsari, SpKJ

*LGBT. Medic & Psychological View. Dr.Anggia Hapsari, SpKJ *LGBT Medic & Psychological View Dr.Anggia Hapsari, SpKJ APA YANG DIPIKIRKAN ORANG DENGAN LBGT? BAGAIMANA PERGUMULAN MEREKA? *SAKIT / PENYAKIT? *PENYIMPANGAN YANG ILEGAL? *DOSA? *GAYA HIDUP AKHIR JAMAN?

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 41 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Hipotesis Definisi operasional merupakan batasan pengertian yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan suatu aktivitas, seperti penelitian. Dapat

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED SOCIAL SUPPORT DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI JENJANG SARJANA

HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED SOCIAL SUPPORT DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI JENJANG SARJANA HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED SOCIAL SUPPORT DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI JENJANG SARJANA Elizabeth Trifilia dan Julia Suleeman Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia E-mail: elizabeth.trifilia@ui.ac.id

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif adalah metode tradisional yang data penelitiannya

Lebih terperinci

KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DAN PERBEDAAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN

KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DAN PERBEDAAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DAN PERBEDAAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN 1 Trida Cynthia 2 Anita Zulkaida Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma 1 psymagical@yahoo.com 2 zulkaida03@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEDEWASAAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS SAM RATULANGI TERHADAP CARA BERSOSIALISASI

HUBUNGAN KEDEWASAAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS SAM RATULANGI TERHADAP CARA BERSOSIALISASI HUBUNGAN KEDEWASAAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS SAM RATULANGI TERHADAP CARA BERSOSIALISASI 1 Citra F. Karim 2 Jehosua S.V. Sinolungan 2 Henry Opod

Lebih terperinci

Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi. Oleh Didi Tarsidi universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi. Oleh Didi Tarsidi <a href=http://www.upi.edu>universitas Pendidikan Indonesia (UPI)</a> Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi Oleh Didi Tarsidi universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 1. Definisi Istilah konseling rehabilitasi yang dipergunakan

Lebih terperinci

Daftar Lampiran 1: Contoh Alat Ukur 1. Internet Addiction Disorder (IAD) 2. Social Skills Inventory (SSI)

Daftar Lampiran 1: Contoh Alat Ukur 1. Internet Addiction Disorder (IAD) 2. Social Skills Inventory (SSI) Daftar Lampiran 1: Contoh Alat Ukur 1. Internet Addiction Disorder (IAD) 2. Social Skills Inventory (SSI) xii 1. Internet Addiction Disorder (IAD) Petunjuk: Pada bagian ini terdapat 18 pernyataan mengenai

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. seseorang dalam melakukan tugas.

BAB 3 METODE PENELITIAN Variabel Penelitian & Definisi Operasional. seseorang dalam melakukan tugas. BAB 3 METODE PENELITIAN 3. 1. Variabel Penelitian & Hipotesis 3. 1. 1. Variabel Penelitian & Definisi Operasional Self-Control : kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya yang dilihat dari kedisiplinannya

Lebih terperinci

SKRIPSI RIFKA SARI

SKRIPSI RIFKA SARI HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA REMAJA PENGGUNA FACEBOOK SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh RIFKA SARI 061301121 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Dwi Nur Prasetia, Sri Hartati MS Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ABSTRAK

Dwi Nur Prasetia, Sri Hartati MS Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA (STUDI KORELASI PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO) Dwi Nur Prasetia, Sri Hartati MS Fakultas Psikologi

Lebih terperinci