BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan"

Transkripsi

1 BAB 3 METODOLOGI Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan beberapa metode yang masuk dalam kategori praktek terbaik untuk melakukan pengurangan jumlah persediaan barang secara signifikan dalam rangka mencapai performance kelas dunia. Adapun beberapa praktek terbaik yang akan diterapkan oleh tim penulis dalam rangka memberikan rekomendasi kepada Janssen Cilag Indonesia sehubungan dengan permasalahan yang dihadapinya adalah: 3.1 Analisis Klasifikasi ABC (Gaspersz, 1998, 271) Sistem persediaan yang baik harus dapat menspesifikasi waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan terhadap satu jenis barang dan jumlah barang yang harus dipesan. Untuk persediaan yang melibatkan banyak jenis barang, maka analisis klasifikasi ABC dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pengontrolan terhadap jumlah persediaan. Klasifikasi ABC merupakan klasifikasi dari suatu kelompok barang dengan susunan menurun berdasarkan biaya penggunaan barang itu untuk satu periode waktu (harga satu unit barang dikalikan volume penggunaan dari barang itu selama periode tertentu). Periode yang umum digunakan oleh sebagian besar perusahaan adalah satu tahun. Pada dasarnya terdapat sejumlah faktor yang menentukan tingkat kepentingan suatu barang, yaitu: (Gaspersz, 1998, 273)

2 1. Nilai total uang dari barang; 2. Biaya satu unit barang; 3. Kelangkaan atau tingkat kesulitan untuk memperoleh barang; 4. Ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang itu; 5. Panjang dan variasi dari waktu tunggu (lead time) barang; 6. Ruang yang dibutuhkan untuk menyimpan barang itu; 7. Resiko penyerobotan atau pencurian barang itu; 8. Biaya kekosongan barang; dan 9. Kepekaan barang terhadap perubahan desain. Teknik klasifikasi ABC ini mengikuti prinsip dalam hukum Pareto yaitu sekitar 80% dari nilai total barang berasal dari 20% barang. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat mengelompokkan barang-barang yang ada ke dalam golongan A, B atau C, antara lain: (Gaspersz, 1998, 274) 1. Tentukan volume penggunaan barang dalam satu periode waktu dari setiap barang yang ingin diklasifikasikan ("V"). 2. Kalikan V dengan biaya satu unit barang ("C") guna memperoleh nilai total biaya penggunaan dalam satu periode waktu untuk setiap barang itu ("C total "). 3. Jumlahkan C total itu guna memperoleh nilai total biaya penggunaan secara keseluruhan ("C agregat "). 4. Bagi C total dengan C agregat untuk menentukan persentase nilai total biaya penggunaan untuk setiap barang itu ("% C total "). 5. Susun barang-barang itu berdasarkan urutan % C dari yang terbesar sampai yang terkecil. total

3 6. Klasifikasikan barang-barang itu ke dalam golongan A, B atau C dengan kriteria 20% teratas dari urutan barang tersebut diklasifikasikan ke dalam golongan A, 30% berikutnya diklasifikasikan ke dalam golongan B, dan 50% terakhir diklasifikasikan ke dalam golongan C. 3.2 Peramalan (Forecasting) Dalam rangka mendapatkan jumlah produksi yang akurat maka perlu dilakukan peramalan yang tepat atas barang-barang yang termasuk dalam golongan A dan B tersebut di atas. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam manajemen permintaan adalah dilarang memprediksi angka-angka yang dapat diketahui melalui suatu perencanaan/perhitungan. Dalam industri manufaktur dikenal ada dua jenis permintaan, yaitu permintaan bebas dan permintaan tidak bebas. Permintaan bebas didefinisikan sebagai permintaan terhadap barang yang bebas atau tidak terkait langsung dengan struktur BoM untuk suatu barang jadi atau jenis barang tertentu. Sedangkan permintaan tidak bebas didefinisikan sebagai permintaan terhadap barang yang tidak bebas atau terkait langsung dengan struktur BoM untuk suatu barang jadi atau untuk jenis barang tertentu. Untuk mengetahui jumlah barang yang tergolong ke dalam permintaan tidak bebas maka perusahaan harus melakukan perencanaan/perhitungan. Sedangkan untuk barang-barang yang tergolong ke dalam permintaan bebas maka dapat diketahui dengan melakukan peramalan.

4 Ada sembilan langkah yang harus diperhatikan untuk menjamin efektivitas dan efisiensi dari suatu sistem peramalan dalam manajemen permintaan, yaitu: (Gaspersz, 1998, 74-75) 1. Menentukan tujuan dilakukannya peramalan. 2. Memilih barang yang akan diramalkan (barang yang termasuk dalam permintaan bebas). 3. Menentukan jangka waktu pelaksanaan peramalan (jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang). 4. Memilih model-model peramalan yang akan diterapkan. 5. Mencari data-data yang dibutuhkan untuk melakukan peramalan. 6. Memvalidasi model peramalan yang telah dipilih. 7. Melaksanakan peramalan. 8. Mengimplementasikan hasil-hasil dari peramalan. 9. Memantau keandalan hasil peramalan. Tujuan utama perusahaan melakukan peramalan dalam manajemen permintaan adalah untuk meramalkan jumlah permintaan dari barang-barang yang termasuk dalam permintaan bebas di masa yang akan datang. Selanjutnya, dengan mengkombinasikan hasil peramalan dengan pelayanan pesanan (order service) yang bersifat pasti, maka dapat diketahui total permintaan dari suatu produk sehingga mempermudah dilakukannya manajemen produksi dan pengelolan persediaan.

5 Perencanaan produksi dan persediaan, termasuk kapasitas dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan dalam suatu industri manufaktur, seharusnya dilakukan dengan mengacu pada data total permintaan produk di masa yang akan datang. Model peramalan terhadap permintaan yang akan digunakan oleh tim penulis untuk menentukan tingkat permintaan dari produk-produk yang tergolong dalam kategori produk dengan permintaan bebas di Janssen Cilag Indonesia ialah model pemulusan eksponensial dengan mempertimbangkan kecenderungan (Exponential Smoothing with Trend Adjustment/ESTA). Rumus untuk model ESTA ini adalah: (Taylor, 2002, ) AF t+1 = F t+1 + T t+1 F t+1 = αd t + (1 - α)f t T t+1 = β(f t+1 F t ) + (1 - β)t t F = nilai ramalan untuk periode sesudah t t+1 T t+1 α D t F t β T t = koreksi trend untuk periode sesudah t = konstanta pemulus untuk nilai ramalan = nilai permintaan untuk periode t = nilai ramalan untuk periode t = konstanta pemulus untuk trend = nilai trend untuk periode t Kelebihan dari model peramalan ESTA ini dibandingkan dengan model peramalan terhadap permintaan yang lain, adalah (Gaspersz, 1998, 112):

6 1. Apabila kesalahan pada nilai ramalan adalah positif (nilai aktual permintaan lebih tinggi daripada nilai ramalan) maka model ini secara otomatis akan meningkatkan nilai ramalan; dan 2. Apabila kesalahan pada nilai ramalan adalah negatif (nilai aktual permintaan lebih rendah daripada nilai ramalan) maka model ini akan secara otomatis menurunkan nilai ramalan. Model ini dapat memenuhi kebutuhan peramalan dalam manajemen permintaan di Janssen Cilag Indonesia mengingat pola historis dari data aktual permintaan bergejolak atau tidak stabil dari waktu ke waktu sehingga diperlukan penyesuaian dengan kecenderungan yang terjadi di lapangan. 3.3 Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirement Planning/MRP) MRP adalah metode penjadwalan yang diterapkan dalam rangka melakukan perencanaan pemesanan barang dan perencanaan manufaktur yang akan diajukan untuk analisis lanjutan sehubungan dengan ketersediaan kapasitas dan keseimbangan menggunakan perencanaan kebutuhan kapasitas. Metode MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian yang dilakukan terhadap pesanan dan persediaan untuk barang-barang yang permintaannya bersifat tidak bebas, seperti bahan baku, subassemblies, dan assemblies (persediaan manufaktur). Sistem MRP akan mengindentifikasi jenis barang yang harus dipesan, jumlah barang yang harus dipesan dan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan

7 barang itu. Proses MRP ini dapat dijalankan dengan baik apabila terdapat lima sumber informasi utama yaitu: (Gaspersz, 1998, ) 1. Master Production Schedule (MPS) merupakan suatu pernyataan definitif tentang produk akhir yang harus direncanakan oleh perusahaan untuk diproduksi, saat produk itu harus diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, dan saat produk dibutuhkan. 2. BoM merupakan daftar dari seluruh material dan subassemblies, serta kuantitas dari masing-masing material tersebut yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit produk atau parent assembly. MRP menggunakan BoM sebagai dasar untuk menghitung jumlah setiap material yang dibutuhkan untuk satu periode waktu. 3. Item Master merupakan suatu dokumen yang berisi informasi tentang status material, subassemblies, dan produk-produk, di mana informasi tersebut akan menunjukkan jumlah barang yang tersimpan di gudang, jumlah barang yang dialokasikan, waktu tunggu yang direncanakan, ukuran lot, kriteria ukuran lot, jumlah barang pengaman, toleransi untuk scrap, dan berbagai informasi penting lainnya yang berkaitan dengan suatu barang. 4. Pesanan-pesanan yang berisi informasi sehubungan dengan jumlah dari masing-masing barang yang akan diterima oleh perusahaan, di mana itu akan dapat meningkatkan jumlah barang yang tersedia di masa depan. Sistem MRP pada umumnya menggunakan dua jenis pesanan yaitu released orders dan planned orders. Released orders merupakan pesanan-pesanan yang secara resmi telah dilakukan oleh perusahaan baik ke pabrik maupun ke pemasok

8 external. Planned orders merupakan pesanan-pesanan yang secara resmi belum dilakukan oleh perusahaan. Dalam hal ini, pabrik belum diminta untuk membuat barang pesanan dan/atau pemasok external belum diminta untuk mengirimkan barang pesanan, sehingga belum ada konsekuensi apapun. Planned order receipts dapat berubah menjadi scheduled receipts hanya apabila ada tindakan yang sah dari pihak perencana material. 5. Kebutuhan-kebutuhan yang akan memberikan informasi tentang jumlah dari masing-masing barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Ada beberapa istilah yang harus dipahami terlebih dahulu agar dapat menerapkan proses MRP dengan baik, yaitu: (Gaspersz, 1998, ) 1. Waktu tunggu yaitu jangka waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan yang dimulai sejak sistem MRP menyarankan perusahan untuk melakukan suatu pemesanan barang sampai barang yang dipesan itu siap untuk digunakan. 2. On hand merupakan jumlah seluruh barang yang secara fisik tersedia di gudang. 3. Ukuran lot merupakan jumlah pemesanan yang harus dilakukan untuk suatu barang tertentu. Selain itu, sistem MRP juga akan menginformasikan tentang teknik pengukuran lot yang diterapkan. 4. Barang pengaman adalah jumlah barang yang harus tersedia dalam rangka mengatasi fluktuasi pada permintaan dan/atau penawaran. 5. Jangka waktu perencanaan adalah total waktu di masa depan yang tercakup dalam perencanaan. Total jangka waktu perencanaan tersebut paling sedikit

9 sama dengan total waktu tunggu kumulatif dari sekumpulan barang yang terlibat dalam proses manufaktur. 6. Gross requirements merupakan total dari seluruh kebutuhan akan suatu barang, termasuk kebutuhan akan barang yang berfungsi sebagai antisipasi, untuk setiap periode waktu. 7. Projected on hand merupakan Projected Available Balance (PAB) di mana planned orders tidak termasuk dalam PAB tersebut. Projected on hand dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Gaspersz, 1998, 181) Projected on hand = on-hand pada awal periode + SR - GR SR = scheduled receipts GR = gross requirements 8. Projected available merupakan jumlah barang yang diharapkan tersimpan di dalam persediaan pada akhir suatu periode, di mana jumlah tersebut cukup untuk digunakan pada periode selanjutnya. Projected available dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Gaspersz, 1998, 182) Projected available = on hand pada awal periode + SR t + POR t GR t SR t POR t GR t = scheduled receipts = planned order receipts = gross requirements 9. Net requirements merupakan jumlah kekurangan material yang diramalkan akan terjadi pada periode saat ini, sehingga perusahaan harus mengambil tindakan melalui perhitungan planned order receipts untuk menghindari

10 kekurangan material tersebut. Formula net requirements adalah sebagai berikut: (Gaspersz, 1998, 183) Net requirement = GR + A + SS SR PA t-1 GR A SS SR PA t-1 = gross requirements = alocation/alocated items = safety stock = scheduled receipts = projected available pada akhir periode sebelumnya Alocation adalah jumlah material yang secara khusus dialokasikan untuk keperluan produksi spesifik di masa yang akan datang tetapi material tersebut belum digunakan. 3.4 Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity/EOQ) EOQ adalah jumlah barang yang harus dipesan oleh perusahaan pada satu waktu tertentu dalam rangka meminimalisasi biaya persediaan tahunan. Jika pembelian barang dilakukan dalam jumlah yang besar dan pada waktu yang tidak tentu, maka biaya penyimpanan atas persediaan tersebut akan besar. Sebaliknya, jika pembelian dilakukan dalam jumlah yang kecil dan pada waktu yang tertentu, maka biaya pemesanan yang menjadi besar. Oleh karena itu, guna menentukan jumlah yang optimum atas barang yang harus dipesan pada waktu tertentu maka perusahaan dapat melakukannya dengan menyeimbangkan dua faktor utama, yaitu: (Hammer, et. all., 1994, )

11 1. Biaya penyimpanan barang Nilai ini umumnya dinyatakan dengan persentase dari rata-rata investasi yang dilakukan oleh perusahaan terhadap persediaannya. Apabila persediaan yang tersimpan di gudang tidak cukup untuk memenuhi permintaan pasar maka perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan di mana biaya semacam ini sulit untuk ditentukan. Biaya ini harus dipertimbangkan oleh perusahaan dalam menentukan jumlah barang yang harus dipesan dan saat yang tepat untuk melakukan pemesanan. 2. Biaya pemesanan barang Biaya pemesanan barang mencakup antara lain biaya yang dibutuhkan untuk mempersiapkan formulir permintaan pembelian, formulir pemesanan barang, dan laporan penerimaan, biaya yang dibutuhkan untuk membongkar pesanan yang tiba di perusahaan, dan biaya komunikasi. Walaupun hanya biaya variabel yang berkaitan dengan EOQ dan penghitungan titik pemesanan kembali, pengurangan terhadap biaya persediaan yang tetap pun perlu dilakukan. Biaya persediaan yang tetap seperti biaya ruang penyimpanan dapat dikurangi dengan menerapkan sistem JIT. Biaya tahunan untuk menyimpan persediaan bervariasi antara 10%-35% dari rata-rata investasi pada persediaan. Rumus EOQ ini adalah sebagai berikut: (Hammer, Carter, Usry, 1994, 218) EOQ = {(2 x RU x CO) (CU x CC)} EOQ = jumlah pemesanan ekonomis RU = jumlah barang yang dibutuhkan untuk satu periode

12 CO = biaya untuk satu kali pemesanan CU = biaya untuk satu barang CC = persentase biaya penyimpanan Hasil dari perhitungan melalui rumus di atas adalah jumlah barang yang harus dipesan dalam rangka membuat jumlah biaya pemesanan tahunan sama dengan jumlah biaya penyimpanan tahunan. Potongan terhadap harga pembelian dapat diberikan apabila pemesanan dilakukan dalam jumlah yang besar. Ini akan membuat biaya untuk satu barang menjadi lebih rendah. Membeli dalam jumlah yang besar juga mempengaruhi tingkat keseringan pemesanan dan akhirnya akan mempengaruhi jumlah biaya pemesanan. Hal ini akan menghasilkan investasi dalam jumlah yang besar pada persediaan, yang secara keseluruhan akan mempengaruhi penghitungan EOQ. Dengan mendapatkan potongan harga, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk satu barang menjadi tidak tetap karena akan dipengaruhi oleh seberapa besar tingkat potongan harga tersebut diberikan. Oleh karena itu, tujuan dari penghitungan EOQ adalah mengidentifikasikan jumlah pemesanan yang akan meminimalisasi tidak hanya jumlah biaya pemesanan dan jumlah biaya penyimpanan tetapi juga jumlah biaya-biaya lainnya yang mungkin timbul ditambah jumlah biaya untuk satu barang. 3.5 Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) Titik pemesanan kembali berhubungan dengan dua hal yaitu penggunaan barang selama waktu tunggu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali

13 pemesanan dan jumlah barang yang harus tersedia di tempat penyimpanan dalam rangka mencegah terjadinya kekosongan barang. Titik pemesanan kembali ini dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Hammer, et. all., 1994, 222) I + QD = LTQ + SSQ I = barang yang masih tersimpan di gudang QD = jumlah barang yang telah dipesan LTQ = jumlah barang yang dibutuhkan selama waktu tunggu SSQ = jumlah barang yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekosongan barang Dalam metode ini, setiap pusat distribusi pada tingkat yang lebih rendah akan meramalkan jumlah permintaan pasar terhadap satu jenis produk. Mereka akan melakukan pemesanan barang ke pusat distribusi pada tingkat yang lebih tinggi apabila jumlah barang yang tersimpan di pusat distribusi yang lebih rendah tersebut telah mencapai titik pemesanan kembali. Pada dasarnya, metode ini merupakan suatu teknik mengisi kembali persediaan apabila jumlah barang yang tersimpan ditambah jumlah barang yang sedang dalam pemesanan berada di bawah titik pemesanan kembali. 3.6 Tingkat Pelayanan (Service Level) Salah satu cara untuk menentukan jumlah persediaan yang harus ada di tempat penyimpanan guna mencegah terjadinya kekosongan barang adalah dengan menentukan tingkat pelayanan. Tingkat pelayanan adalah besarnya kemungkinan

14 bahwa jumlah persediaan yang tersimpan di gudang selama waktu tunggu dapat memenuhi permintaan pasar. Dengan demikian, tingkat pelayanan ini sangat berkaitan erat dengan titik pemesanan kembali. Terdapat tiga pendekatan untuk mengetahui titik pemesanan kembali yang akan memenuhi tingkat pelayanan, yaitu: 1. Titik pemesanan kembali dengan jumlah permintaan yang tidak tentu (Taylor, 2002, 721) Dengan menggunakan metode ini, titik pemesanan kembali yang akan memenuhi tingkat pelayanan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: R = dl + Zσ d L d = rata-rata jumlah permintaan harian terhadap barang L = waktu tunggu σ = deviasi standar dari permintaan harian d Z = angka deviasi standar sehubungan dengan kemungkinan tingkat pelayanan Zσ d L = jumlah barang pengaman 2. Titik pemesanan kembali dengan waktu tunggu yang tidak tentu (Taylor, 2002, 723) Dalam hal jumlah permintaan terhadap barang adalah tetap dan waktu tunggu yang bervariasi, maka rumus yang dapat digunakan untuk menentukan titik pemesanan kembali yang akan memenuhi tingkat pelayanan tertentu adalah sebagai berikut:

15 d = jumlah permintaan harian terhadap barang _ L = rata-rata waktu tunggu σ = deviasi standar dari waktu tunggu L dσ = deviasi standar dari permintaan selama waktu L tunggu Zdσ L = jumlah barang pengaman 3. Titik pemesanan kembali dengan jumlah permintaan dan waktu tunggu yang tidak tentu (Taylor, 2002, 724) R = dl + Zdσ L Dengan menggunakan metode ini, maka rumus yang dapat digunakan untuk menentukan titik pemesanan kembali yang akan memenuhi tingkat pelayanan tertentu adalah sebagai berikut: _ R = dl + Z (σ 2 dl + σ 2 Ld 2 ) d = rata-rata jumlah permintaan harian _ L = rata-rata waktu tunggu 2 2 (σ L + σ d ) = deviasi standar dari permintaan selama d L 2 Z (σ 2 dl + σ 2 Ld 2 ) = waktu tunggu jumlah barang pengaman

16 3.7 Rasio Kualitas Persediaan (Inventory Quality Ratio/IQR) Sebelum perusahaan dapat menentukan nilai IQR, maka perusahaan harus membagi persediaan yang dimilikinya ke dalam tiga kelompok barang, yaitu: (Gossard, 2001, 1) 1. Kelompok barang yang memiliki kemungkinan akan dibutuhkan di masa yang akan datang; 2. Kelompok barang yang tidak memiliki kemungkinan akan dibutuhkan di masa yang akan datang tetapi barang ini pernah dibutuhkan di masa yang lalu; dan 3. Kelompok barang yang tidak termasuk kelompok barang pada nomor 2 maupun nomor 3 di atas. IQR adalah nilai perbandingan antara volume persediaan yang aktif dengan volume persediaan secara keseluruhan. Dalam situasi yang sempurna, IQR perusahaan adalah 100%. Berdasarkan aturan minggu untuk barangbarang yang terdapat dalam golongan A, B, dan C, kebanyakan perusahaan memiliki nilai IQR berkisar antara 30% sampai dengan 45%. Artinya, hampir 60% dari volume persediaan perusahaan itu termasuk dalam barang-barang yang lambat atau bahkan tidak bergerak dan barang-barang yang excess. Persentase persediaan barang yang lambat atau tidak bergerak tersebut umumnya sebanyak 10% sedangkan persentase persediaan barang yang excess dapat mencapai 30% sampai dengan 50% dari volume persediaan secara keseluruhan. Untuk memonitor kinerja persediaan di suatu perusahaan pada satu periode waktu tertentu, maka logika IQR ini dapat dimanfaatkan sebagai fasilitator guna

17 REORDER POINT mengetahui tingkat keaktifan dari barang-barang persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. Logika IQR akan mengidentifikasikan persediaan barang yang excess berdasarkan aturan yang telah ditentukan oleh perencana persediaan. Persediaan barang yang excess, bagi kebanyakan perusahaan, umumnya merupakan bagian terbesar dari volume persediaan suatu perusahaan (mencapai 50%) dan ini merupakan kesempatan terbaik untuk dapat mengurangi volume persediaan. Beberapa alasan yang mendukung hal tersebut adalah: (Gossard, 2001, 2) 1. Mengurangi persediaan barang yang excess akan mengurangi jumlah investasi pada persediaan dan akan meningkatkan return on assets. 2. Mengurangi persediaan barang yang excess akan meningkatkan arus kas dengan menunda pembelian barang sampai persediaan barang yang excess digunakan dan pengisian kembali benar-benar dibutuhkan. 3. Semakin sedikit persediaan barang yang excess yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin sedikit pula persediaan barang yang lambat bergerak dan memperkecil kemungkinan write-offs di masa depan. Rumus yang digunakan untuk menentukan nilai IQR ini adalah: (Gossard, 2001, 7) IQR = Active Inventory Dollars Total Inventory Dollars 3.8 Flowchart Dari Metodologi INVENTORY CLASSIFICATION WITH ABC METHOD

18 DEMAND FORECASTING MRP INVENTORY BALANCE INVENTORY QUALITY RATIO Bagan 2. Flowchart of Methodology

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang diuraikan pada sub bab 1.2 diperlukan beberapa terori pendukung yang relevan. 2.1 Inventory Control Pengawasan persediaan digunakan untuk mengatur tersedianya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirement Planning (MRP) Menurut Gaspersz (2005:177) Perencanaan kebutuhan material (material requirement planning = MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirements Planning 2.1.1 Definisi MRP MRP adalah dasar komputer mengenai perencanaan produksi dan inventory control. MRP juga dikenal sebagai tahapan waktu perencanaan

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis Manajemen Persediaan Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot Dinar Nur Affini, SE., MM. Program Studi Manajemen Perencanaan Kebutuhan Material Perencanaan Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PENGERTIAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Persediaan Persediaan sebagai kekayaan perusahaan, memiliki peranan penting dalam operasi bisnis. Dalam pabrik (manufacturing), persediaan dapat terdiri dari: persediaan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Menara Cemerlang, suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan karung plastik. Pada saat ini perusahaan sedang mengalami penjualan yang pesat dan mengalami

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Material Requirement Planning (MRP) Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned orders,

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Koperasi Niaga Abadi Ridhotullah (KNAR) adalah badan usaha yang bergerak dalam bidang distributor makanan dan minuman ringan (snack). Koperasi

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Langkah-langkah dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam membuat sistem untuk menghasilkan suatu perencanaan

Lebih terperinci

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING 5.1. Pengertian Material Requirements Planning (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERSEDIAAN

MANAJEMEN PERSEDIAAN Modul ke: MANAJEMEN PERSEDIAAN Merencanakan Kebutuhan Barang Persediaan dengan Economic Order Quantity Fakultas EKONOMI DAN BISNIS M. Soelton Ibrahem, S.Psi, MM Program Studi Manajemen PERSEDIAAN Pengertian

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8

PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8 PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8 Sebelum penggunaan MRP, perencanaan pengendalian persediaan biasanya dilakukan melalui pendekatan reaktif sbb : a. Reorder

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1. Material Requirement Planning (MRP) Menurut Heryanto (1997, p193), persediaan adalah bahan baku atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jl. Kalisahak No. 28, Komplek Balapan, Yogyakarta PART 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ. Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ. Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen MANAJEMEN PERSEDIAAN Modul ke: Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ Fakultas FEB Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Proses dalam MRP Bill of material (BOM)

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Gambaran Umum Pokok pembahasan pada tesis ini hanya akan difokuskan dalam rangka mengetahui bagaimana Janssen Cilag Indonesia dapat mencapai titik optimum di dalam manajemen persediaannya

Lebih terperinci

3 BAB III LANDASAN TEORI

3 BAB III LANDASAN TEORI 3 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Bahan Baku Bahan baku atau yang lebih dikenal dengan sebutan raw material merupakan bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi sebagai hasil utama dari perusahaan yang

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Flow Chart Pemecahan Masalah Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Pemecahan 62 3.2 Penjelasan Flow Chart Metodologi Pemecahan Masalah Dari flow chart metodologi pemcahan

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Klasifikasi ABC Berdasarkan data per Desember 2004, terdapat 41 barang jadi hasil produksi Janssen Cilag Indonesia yang masih beredar di pasar Indonesia. Data penjualan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 64 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PT. Surya Toto Indonesia bergerak di bidang ceramic sanitary wares and plumbing hardware., salah satu produknya yaitu kloset tipe

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Definisi MRP adalah suatu teknik yang dipakai untuk merencanakan pembuatan/pembelian komponen/bahan baku yang diperlukan untuk melaksanakan MPS. MRP ini merupakan hal

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 69 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan Pipa PVC Pada bab ini ditampilkan data-data penjualan pipa PVC yang diambil pada saat pengamatan dilakukan. Data yang ditampilkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peramalan 2.1.1 Pengertian Peramalan Di dalam melakukan suatu kegiatan dan analisis usaha atau produksi bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING 5.1 Landasan Teori Perencanaan kebutuhan material (material requirements planning) merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan inventori untuk item-item

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Persediaan 2.1.1.1 Definisi serta Tujuan Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Persediaan (inventory) didefinisikan sebagai sumber daya yang di simpan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Arti dan Peran Persediaan Persediaan sesungguhnya memiliki arti yang penting bagi perusahaan, baik yang berorintasi perdagangan, industri jasa maupun industri

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Operasi Menurut Mahadevan (2010 : 3) manajemen operasi adalah kunci untuk mencapai keunggulan kompetitif bagi organisasi, apakah mereka berada di industri manufaktur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT Klip Plastik Indonesia sejak dari Agustus-Desember 2015, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di PT Klip Plastik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Keberadaan persediaan dalam suatu unit usaha perlu diatur sedemikian rupa sehingga kelancaran pemenuhan kebutuhan pemakai dapat dijamin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. melaksanakan kegiatan utama suatu perusahaan.

BAB II LANDASAN TEORI. melaksanakan kegiatan utama suatu perusahaan. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Informasi Sistem informasi merupakan suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan pengolah transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan)

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) Peramalan merupakan upaya untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Peramalan digunakan untuk melihat atau memperkirakan

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: Manajemen Persediaan Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB Fakultas FEB Christian Kuswibowo, M.Sc Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Bagian Isi MRP didasarkan pada permintaan dependen.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan 2.1.1 Definisi Dan Fungsi Persediaan Persediaan adalah sumberdaya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Pengertian mengenai Production Planning and Inventory control (PPIC) akan dikemukakan berdasarkan konsep sistem. Produksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.2. Manajemen Persediaan Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang 7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Sistem Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Penelitian Terdahulu Nastiti (UMM:2001) judul: penerapan MRP pada perusahaan tenun Pelangi lawang. Pendekatan yang digunakan untuk pengolahan data yaitu membuat Jadwal

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Seiring dengan meningkatknya pangsa pasar, permintaan konsumen juga menjadi

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Seiring dengan meningkatknya pangsa pasar, permintaan konsumen juga menjadi BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Seiring dengan meningkatknya pangsa pasar, permintaan konsumen juga menjadi semakin sulit untuk diperkirakan. Selama ini, manajer PT. Focus

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produk Yang Dihasilkan PT. Harapan Widyatama Pertiwi adalah perusahaan yang memproduksi pipa berdasarkan pesanan (make to order), tetapi ada pula beberapa produk yang diproduksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Manajemen Permintaan Pada dasarnya manajemen permintaan (demand management) didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk Laporan Tugas Akhir BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suati pekerjaan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan 1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Manajemen inventory merupakan suatu faktor yang penting dalam upaya untuk mencukupi ketersediaan stok suatu barang pada distribusi dan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PENYELESAIAN MASALAH

BAB V ANALISA DAN PENYELESAIAN MASALAH 67 BAB V ANALISA DAN PENYELESAIAN MASALAH 5.1 Analisa Plot Data Analisa plot data merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui bentuk dari permintaan terhadap suatu barang/jasa setiap bulannya.

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PRODUKSI (MASTER PRODUCTION SCHEDULE)

RENCANA INDUK PRODUKSI (MASTER PRODUCTION SCHEDULE) RENCANA INDUK PRODUKSI (MASTER PRODUCTION SCHEDULE) Pokok Bahasan: I. MPS II. Hubungan Production Plan dengan MPS III. Contoh MPS IV. Available to Promise (ATP) V. Perubahan MPS & Time Fences VI. Projected

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dan menurut Rangkuti (2007) Persediaan bahan baku adalah:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dan menurut Rangkuti (2007) Persediaan bahan baku adalah: 10 2.1. Persediaan 2.1.1. Pengertian Persediaan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam perusahaan setiap manajer operasional dituntut untuk dapat mengelola dan mengadakan persediaan agar terciptanya efektifitas

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan Data penjualan grout tipe Fix pada PT.Graha Citra Mandiri mulai dari Januari 2004 sampai dengan Oktober 2006 ditunjukkan pada

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Dibawah ini merupakan diagram alir yang menggambarkan langkahlangkah dalam melakukan penelitian di PT. Dankos Laboratorioes

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 43 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Objek penelitian yang akan penulis teliti adalah Biaya Produksi dan Profitabilitas yang terjadi di Dalaraos Katering setelah dilakukan pra

Lebih terperinci

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning)

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning) Akuntansi Biaya Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning) Rista Bintara, SE., M.Ak Program Studi

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan digunakan untuk mendukung pengolahan data yang dilakukan ataupun sebagai input dari setiap metode-metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Matrikstama Andalan Mitra, sebuah perusahaan perdagangan, yang beralamatkan di Jl. Daan Mogot KM.12 No.9 Jakarta

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Metodologi Pemecahan Masalah Dalam menyelesaikan permasalah yang ditemui, metodologi yang digunakan adalah perencanaan persediaan dan tingkat persediaan pengaman.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Persediaan dapat diartikan sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan dari dokumen perusahaan. Data yang di perlukan meliputi data penjualan produk Jamur Shiitake,

Lebih terperinci

Jurnal Distribution Requirement Planning (DRP)

Jurnal Distribution Requirement Planning (DRP) PERENCANAAN DAN PENJADWALAN AKTIVITAS DISTRIBUSI HASIL PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING (DRP) (Studi Kasus Di UD. Retro Gemilang Internasional Sidoarjo) 2009 Adib Fahrozi

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. Berdasarkan data permintaan produk Dolly aktual yang didapat (permintaan

BAB V ANALISA HASIL. Berdasarkan data permintaan produk Dolly aktual yang didapat (permintaan BAB V ANALISA HASIL Bab ini berisikan mengenai analisa hasil dari pengolahan data dalam perhitungan MRP Dolly pada satu tahun yang akan datang yang telah dibahas pada bab sebelumnya. 5.1 Analisa Peramalan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen 2.1.1 Pengertian Manajemen Manajemen berasal dari bahasa kata to manage yang artinya mengatur atau mengelola. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan

Lebih terperinci

Bab I : Peramalan (Forecasting) Bab II : Manajemen Proyek. Bab III : Manajemen Inventori. Bab IV : Supply-Chain Management

Bab I : Peramalan (Forecasting) Bab II : Manajemen Proyek. Bab III : Manajemen Inventori. Bab IV : Supply-Chain Management MANAJEMEN OPERASI 1 POKOK BAHASAN Bab I : Peramalan (Forecasting) Bab II : Manajemen Proyek Bab III : Manajemen Inventori Bab IV : Supply-Chain Management Bab V : Penetapan Harga (Pricing) 2 BAB III MANAJEMEN

Lebih terperinci

PENERAPAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING DALAM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU CARDED FIBER PADA PT. HILON INDONESIA- BALI.

PENERAPAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING DALAM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU CARDED FIBER PADA PT. HILON INDONESIA- BALI. PENERAPAN TERIAL REQUIREMENTS PLANNING DALAM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU CARDED FIBER PADA PT. HILON INDONESIA- BALI I Made Dwi Budiana Penindra (1), I Dewa Made Krishna Muku (2), Hadi Santosa (3)

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 20 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Menurut Biegel (referensi 3), persediaan adalah bahan yang disimpan di dalam gudang yang kemudian akan digunakan untuk kelangsungan suatu proses produksi (bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Laju perekonomian yang semakin meningkat dan tingkat persaingan yang semakin tajam, suatu perusahaan harus lebih giat dalam mencapai tujuan. Tujuan perusahaan

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PENDAHULUAN Dimulai dari 25 s.d 30 tahun yang lalu di mana diperkenalkan mekanisme untuk menghitung material yang dibutuhkan, kapan diperlukan dan berapa banyak. Konsep

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengendalian bahan baku kayu di perusahaan manufaktur Sagitria Collection yang beralamat di Jl.

Lebih terperinci

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis . Mata Kuliah Semester PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis : IV Pertemuan Ke : 13 Pokok Bahasan Dosen : Perencanaan Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Peramalan Kebutuhan Bahan Baku Pada bab ini berisikan tentang analisa hasil dari pengolahan data dalam perhitungan Forecasting dan MRP tepung terigu untuk 12 bulan yang

Lebih terperinci

BAB 2 Landasan Teori

BAB 2 Landasan Teori BAB 2 Landasan Teori 2.1. Manajemen Operasional Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2010:4), manajemen operasi adalah serangkaian aktifitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Industri Kertas Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kertas yang besar. Sampai tahun 2011 terdapat 84 pabrik pulp dan kertas. Pabrik-pabrik tersebut

Lebih terperinci

BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN Perusahaan memiliki persediaan dengan tujuan untuk menjaga kelancaran usahanya. Bagi perusahaan dagang persediaan barang dagang memungkinkan perusahaan untuk memenuhi permintaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Persediaan Ristono (28) menyatakan bahwa persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Pengertian Pengendalian Persediaan Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005,p4), Pengendalian persediaan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan,

Lebih terperinci

Material Requirements Planning (MRP)

Material Requirements Planning (MRP) Material Requirements Planning (MRP) Pokok Bahasan: I. Tujuan MRP II. Input & Output MRP III. Contoh Logika MRP & Struktur Produk IV. Contoh MRP Kereta Dorong V. Sistem Informasi MR Kuliah ke-4: Rabu,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis

BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis di Indonesia saat ini sangat pesat. Hal itu ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis yang ada di perusahaan

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 69 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan tahap pendahuluan sebelum memasuki bagian pengolahan data. Data yang dibutuhkan untuk pengolahan terlebih dahulu didokumentasikan.

Lebih terperinci

BAB 3 Metode Penelitian

BAB 3 Metode Penelitian BAB 3 Metode Penelitian 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Kriteria optimasi yang digunakan dalam menganalisis kebutuhan konsumen pada PT. Aneka Indofoil terkait dengan jumlah persediaan adalah sebagai berikut:

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 Kerangka Pikir Pemecahan Masalah Adapun kerangka pemikiran pemecahan masalah dalam bentuk diagram, adalah sebagai berikut: Gambar 3.1 Flow Diagram Kerangka Pikir Pemecahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Nama dan Tahun Penelitian : Fifi Irmalinda (2004) Judul Penelitian : Perencanaan dan Pengawasan Persediaan pada PT. Samafitro Perwakilan Medan Perumusan

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Seiring dengan meningkatknya pangsa pasar, permintaan konsumen juga menjadi semakin sulit untuk diperkirakan. Sebenarnya perusahaan sudah

Lebih terperinci

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP MODUL 11 MRP adalah suatu teknik yang menggunakan BOM (bill of materials), inventory dan master schedule untuk mengetahui kebutuhan suatu part pada suatu waktu. Struktur MRP MRP membutuhkan data dari Bill

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi dan Fungsi Persediaan Persediaan adalah sunber daya mengganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud proses lanjut tersebut adalah berupa

Lebih terperinci

CAPACITY PLANNING. Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT., Dr. / Euis Nina S. Y., ST, MT

CAPACITY PLANNING. Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT., Dr. / Euis Nina S. Y., ST, MT CAPACITY PLANNING Modul ke: Definisi Kapasitas, Manajemen Kapasitas, Capacity Planning Factors, Bill of Capacity, dan Capacity Requirement Planning. Fakultas Pascasarjana Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT.,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Masalah umum pada suatu model persediaan bersumber dari kejadian yang dihadapi setiap saat dibidang usaha, baik dagang ataupun industri.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu, atau persediaan barang-barang yang masi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Sejarah manajemen menurut William (2008:44) sebagai bidang studi manajemen mungkin berusia 125 tahun, tetapi ide-ide dan praktek manajemen benarbenar

Lebih terperinci

BAB 4 HAS IL D AN PEMBAHAS AN

BAB 4 HAS IL D AN PEMBAHAS AN BAB 4 HAS IL D AN PEMBAHAS AN 4.1 Pengumpulan Data Tahap pengumpulan data yang dilakukan pada perusahaan bertujuan untuk melakukan proses pengolahan data dan memecahkan masalah di perusahaan. Proses pengumpulan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. periode April 2015 Maret 2016 menghasilkan kurva trend positif (trend meningkat)

BAB V ANALISA HASIL. periode April 2015 Maret 2016 menghasilkan kurva trend positif (trend meningkat) 102 BAB V ANALISA HASIL 5.1 Peramalan Metode peramalan yang digunakan dalam penelitian ini adalah proyeksi trend yang terdiri dari linier trend model, quadratic trend model, exponential growth curve trend

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan Persediaan merupakan timbunan bahan baku, komponen, produk setengah jadi, atau produk akhir yang secara sengaja disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi kelangkaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang ada pada perusahaan ini. Pembahasan pada bagian ini dimulai dari landasan

BAB II LANDASAN TEORI. yang ada pada perusahaan ini. Pembahasan pada bagian ini dimulai dari landasan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Dalam penyelesaian Tugas Akhir ini digunakan landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada perusahaan

Lebih terperinci

Berupa persediaan barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Diperoleh dari sumber alam atau dibeli dari supplier

Berupa persediaan barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Diperoleh dari sumber alam atau dibeli dari supplier Hand Out Manajemen Keuangan I Disusun oleh Nila Firdausi Nuzula Digunakan untuk melengkapi buku wajib Inventory Management Persediaan berguna untuk : a. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya bahan

Lebih terperinci

COST ACCOUNTING. Material : Controlling, Costing, and Planning. Riaty Handayani, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

COST ACCOUNTING. Material : Controlling, Costing, and Planning. Riaty Handayani, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis COST ACCOUNTING Material : Controlling, Costing, and Planning Riaty Handayani, SE., M.Ak. Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id Biaya merupakan salah satu elemen

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data yang didapat dari bulan Mei 2007 sampai bulan Juli 2007 yaitu berupa data-data yang berkaitan dengan perencanaan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS SISTEM. produksi dan prosedur persediaan bahan baku pada Perusahaan Roti Morning

BAB III ANALISIS SISTEM. produksi dan prosedur persediaan bahan baku pada Perusahaan Roti Morning 42 BAB III ANALISIS SISTEM Bab ini akan menjelaskan tentang deskripsi permasalahan sistem, proses produksi dan prosedur persediaan bahan baku pada Perusahaan Roti Morning Bakery, analisis kebutuhan sistem,

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak CV Belief Shoes merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur sepatu. Sepatu yang diproduksi terdiri dari 2 jenis, yaitu sepatu sandal dan sepatu pantofel. Dalam penelitian ini penulis

Lebih terperinci

Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE)

Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE) Available online at http://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/jkie Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE) PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PADA

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Jenis data Data Cara pengumpulan Sumber data 1. Jenis dan jumlah produk yang dihasilkan

BAB III METODOLOGI. Jenis data Data Cara pengumpulan Sumber data 1. Jenis dan jumlah produk yang dihasilkan BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April 2011 sampai Mei 2011 di PT. Pindo Deli Pulp and Paper di bagian Paper machine 12. Lokasi Industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi, tingkat persaingan yang terjadi di dunia industri mengalami peningkatan. Hal ini berarti tingkat persaingan tidak hanya terjadi antar perusahaan

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) EOQ. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) EOQ. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: Manajemen Persediaan Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) EOQ Fakultas FEB Christian Kuswibowo, M.Sc Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Bagian Isi Sebelum penggunaan MRP, perencanaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persediaan Penilaian atas persediaan akan memberikan akibat langsung terhadap penentuan income dan penyajian arus kas. Persediaan merupakan salah satu aktiva yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 VARIABEL PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL Variabel Penelitian di sini merupakan suatu atribut atau nilai atau sifat dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai

Lebih terperinci