BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian 1. Deskripsi lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Pasar Pedurungan dan Pasar Gayamsari yang terletak di Kota Semarang bagian timur dengan membutuhkan waktu penelitian selama 3 hari. Masing-masing pasar mempunyai buruh angkut sebanyak 14 orang, sehingga jumlah keseluruhan buruh angkut adalah 28 orang. Dari 28 orang tersebut hanya 25 orang yang bersedia untuk menjadi responden, 2 orang tidak menjadi responden dikarenakan 4 bulan tidak bekerja sampai penelitian ini dilakukan dan 1 buruh tidak bersedia untuk diwawancara. Para buruh angkut di pasar Pedurungan dan Pasar Gayamsari mempunyai riwayat pendidikan yang berbeda-beda diantaranya yaitu tidak tamat SD 3 orang (12%), tamat SD 10 orang (40%), tamat SMP 6 orang (24%), tamat SMA 6 orang (24%). Sebelum bekerja menjadi buruh angkut para responden mempunyai pekerjaan yaitu terbanyak menjadi pengangguran ada 9 orang 36% dan bekerja menjadi petani 8 orang 32%. Jam operasi kedua pasar berbeda. Pasar Pedurungan beroperasi dari jam sampai jam sore, sedangkan pasar Gayamsari beroperasi dari jam sampai jam Para buruh angkut di pasar Pedurungan mulai bekerja pukul dan aktifitas selesai pukul 15.00, dan buruh angkut Pasar Gayamsari mulai bekerja pukul sampai dengan pukul walaupun pekerjaan ini tergolong informal akan tetapi para buruh tidak bisa bebas untuk pulang kerumah yang disebabkan karena upah yang biasanya diberikan pada saat selesai waktu jam kerja. Pelayanan yang diberikan oleh para buruh angkut di pasar bersifat kelompok yaitu dengan cara membagi menjadi beberapa kelompok dalam sekali mengangkut barang. Dalam satu kelompok bisa terdiri dari 3 sampai 4

2 orang pada setiap pasar, ini bertujuan agar cepat untuk melayani para konsumen yang membutuhkan tenaga pengangkut. Jarak angkut berkisar antara meter di masing-masing pasar. Pelayanan yang diberikan dapat berupa partai besar (pesanan toko) ataupun partai kecil (layanan yang dibutuhkan konsumen secara individual). Buruh angkut yang mendapatkan barang melebihi kapasitas kemampuannya biasanya mengangkut dengan menggunakan palet. pengangkutan barang tersebut membutuhkan waktu 3-5 menit pada setiap toko, jika barang yang datang berjumlah banyak pada setiap mobil box atau truk yang datang, hal ini membutuhkan waktu 2 jam untuk mengantar semua pesanan pada toko-toko di satu pasar. Pada konsumen individu, berat angkut rata-rata mencapai kg, dengan jarak angkut meter. Penelitian ini dilakukan selama 2 hari pada tanggal September 2013 dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner dan observasi yang dilakukan pada buruh angkut selain itu juga melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan dan penimbangan beban pada setiap angkut. 2. Analisis univariat a. Lama kerja Lama kerja buruh angkut berkisar antara 7 jam sampai dengan 8 jam dengan rata-rata 7,48 jam dan simpanan baku 0,510 jam. Setelah dikelompokkan dapat dilihat dalam tabel 4.1 Tabel 4.1 Distribusi frekuensi menurut lama kerja Variabel Frekuensi Persentase Lama kerja < 8 jam % Lama kerja 8 jam % Jumlah % Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerja mempunyai lama kerja < 8 jam yaitu sebanyak 13 pekerja (52%). b. Masa kerja Rerata masa kerja yang didapat pada buruh angkut di Pasar Pedurungan dan Pasar Gayamsari adalah 13,8 tahun dengan standar

3 deviasi 9,06 tahun. Didapatkan nilai minimum masa kerja 2 tahun dan nilai maksimum yang paling lama yaitu 41 tahun. Tabel 4.2 Distribusi frekuensi masa kerja Variabel Frekuensi Persentase Masa kerja < 15 tahun % Masa kerja 15 tahun % Jumlah % Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerja mempunyai masa kerja > 15 tahun yaitu sebanyak 13 pekerja (52%). c. Umur Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa umur responden berkisar antara 22 sampai 60 tahun dengan rata-rata sebesar 43,40 tahun dan standar deviasi 11,44 tahun. Penggolongan umur pada buruh angkut dapat dilihat dalam tabel 4.2. Tabel 4.2 Distribusi frekuensi menurut umur Variabel Frekuensi Persentase Umur % Umur < % Jumlah % Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa buruh angkut di pasar mayoritas berumur lebih dari 30 tahun yaitu sebanyak 21 orang (84%). d. Beban angkut. Beban angkut di peroleh dengan cara menghitung jumlah beban yang diangkut dalam satu hari antara 350 kg sampai 950 kg pada setiap buruh, setelah ini dibagi dengan frekuensi angkut beban dalam sehari 13 sampai 19 kali mengangkut, sehingga didapatkan hasil beban yang diangkut dalam satu hari. Berdasarkan distribusi frekuensi beban angkut responden minimal beban angkut yaitu 25 kg dan maksimal 50,3 kg. rata-rata beban angkut

4 yang diangkut pada buruh angkut di Pasar Pedurungan dan Pasar Gayamsari dalam waktu sehari adalah 36,5 kg. Tabel 4.3 Distribusi frekuensi beban angkut Variabel Frekuensi Persentase Beban angkut % Beban angkut < % Jumlah % Dari data di atas dapat dilihat bahwa mayoritas buruh angkut memiliki beban angkut 25 kg yaitu 24 orang (96%). e. Status gizi Berdasarkan pengumpulan data dengan cara melakukan perhitungan Indeks massa tubuh ( IMT) yaitu dengan mengukur tinggi badan (m) dan berat badan (kg) pada setiap responden didapatkan antara 0 sampai 2, rata-rata 92 dengan standar deviasi 11,595 dari hasil tersebut didapatkan gambaran status gizi pada buruh angkut dapat dilihat dalam tabel 4.3 Tabel 4.3 Distribusi frekuensi menurut status gizi Variabel Frekuensi Persentase Status gizi obesitas 3 12 % Status gizi normal % Status gizi kurus berat 1 4 % Jumlah % Dari data di atas dapat dilihat bahwa mayoritas buruh angkut memiliki status gizi normal yaitu 21 orang (84%). f. Kebiasaan merokok Hasil penelitian terkait kebiasaan merokok buruh angkut dapat diketahui berdasarkan jumlah batang rokok yang dikonsumsi setiap hari, didapatkan hasil antara 0 sampai dengan 24 batang, rata-rata 7,68 batang dan standar deviasi 7,6 batang. Gambaran mengenai kebiasaan merokok

5 pada buruh angkut di pasar Pedurungan dan pasar Gayamsari dapat dilihat dalam tabel 4.4 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi menurut kebiasaan merokok Variabel Frekuensi Persentase Tidak merokok % Merokok ringan % Merokok berat 2 8 % Jumlah % Berdasarkan dari tabel di atas dapat diketahui bahwa buruh angkut terbanyak memiliki kebiasaan merokok ringan yaitu sebesar 12 buruh (48%). Dan hanya 8% yang memiliki kebiasaan merokok berat. g. Keluhan MSDs 1). Distribusi frekuensi keluhan MSDs. Distribusi MSDs pada buruh angkut di Pasar Pedurungan dan Pasar Gayamsari dapat dilihat pada tabel 4.5 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi menurut keluhan MSDs Variabel Frekuensi Persentase Tidak ada keluhan MSDs % Ada keluhan MSDs % Jumlah % Berdasarkan pengumpulan data dengan kuesioner terhadap 25 buruh angkut diketahui bahwa terbanyak merasakan adanya keluhan MSDs yaitu sebanyak 13 orang (52%) dan hanya 12 orang (48%) tidak merasakan adanya keluhan MSDs. 2). Distribusi frekuensi berdasarkan anggota tubuh yang mengalami keluhan MSDs. Distribusi responden berdasarkan anggota tubuh yang mengalami keluhan MSDs ditunjukkan pada tabel 4.6

6 Tabel 4.6 Distribusi frekuensi keluhan MSDs No Indikator Ya Tidak N % N % 1 Leher kaku 15 60% 10 40% 2 Leher nyeri otot 11 44% 14 56% 3 Leher sakit kepala 7 28% 18 72% 4 Leher lengan terasa baal 6 24% 19 76% 5 Leher lengan tangan tertusuktusuk 11 44% 14 56% 6 Bahu nyeri otot 8 32% 17 68% 7 Bahu nyeri sendi 10 40% 15 60% 8 Bahu bengkak 4 16% 21 84% 9 Bahu sakit digerakkan 12 48% 13 52% 10 Punggung nyeri 10 40% 15 60% 11 Punggung kaku 13 52% 12 48% 12 Keluhan menetap 3 12% 22 88% Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa keluhan MSDs sebagian besar responden mengalami leher kaku sebanyak 15 orang (60%) dan punggung terasa kaku sebanyak 13 orang (52%). 3. Analisis bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk menghubungkan variabel independent yaitu faktor risiko (lama kerja, masa kerja, umur, status gizi, kebiasaan merokok, beban angkut) dengan variabel dependent yaitu keluhan Muskuloskeletal Disorders (MSDs). Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Tabel 4.6 hasil uji normalitas data menggunakan Shapiro wilk test No Variabel p value Distribusi data 1. Lama kerja 0,000 Tidak normal 2. Masa kerja 0,024 Tidak normal 3. Umur 0,203 Normal 4. Beban angkut 0,015 Tidak normal

7 5. Status gizi 0,000 Tidak normal 6. Kebiasaan merokok 0,000 Tidak normal 7. Keluhan MSDs 0,336 Normal Dari tabel 4,6 diketahui bahwa terdapat dua variabel yang berdistribusi normal yaitu umur dan keluhan MSDs karena p-value (>0,05). Untuk mengetahui hubungan umur dengan keluhan MSDs menggunakan uji korelasi pearson product moment. Variabel lama kerja, masa kerja, beban angkut, status gizi, kebiasaan merokok berdistribusi tidak normal karena p- value (< 0,05) sehingga uji korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan lama kerja, masa kerja, beban angkut, status gizi, kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. a. Hubungan lama kerja dengan keluhan MSDs Hasil uji korelasi Rank Spearman untuk hubungan lama kerja dengan keluhan MSDs diperoleh hasil dengan nilai r = 0,051 menyatakan mempunyai hubungan yang lemah dengan arah positif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di scater dimana sebaran datanya tidak membentuk pola tertentu. Gambar diagram tebar dapat dilihat pada gambar 3.1

8 Gambar 3.1 Perhitungan statistik menggunakan uji Rank Spearman diperoleh nilai p = 0,808 (> 0,05) berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan keluhan MSDs. b. Hubungan masa kerja dengan keluhan MSDs Berdasarkan hasil uji Rank Spearman untuk hubungan masa kerja dengan keluhan MSDs diperoleh hasil r = -0,179 jadi hubungan lemah sebab hubungan yang linier negatif. Arah hubungan kecenderungan negatif untuk lebih jelasnya akan dijelaskan oleh grafik dibawah ini 3.2 Gambar grafik 3.2 Perhitungan statistik menggunakan uji Rank Spearman didapatkan hasil uji p = 0,393 ( > 0,05) berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan keluhan MSDs. c. Hubungan umur dengan keluhan MSDs Distribusi data yang normal maka hubungan umur dengan keluhan MSDs dianalisis menggunakan uji Pearson product momen. Hasil uji Pearson product moment untuk hubungan umur dengan keluhan MSDs diperoleh hasil nilai r = -0,456 hal ini berarti hubungan cukup kuat sebab mempunyai arah hubungan yang bersifat linier negatif artinya semakin bertambah umur maka semakin rendah munculnya keluhan MSDs. Gambar diagram tebar dapat dilihat pada gambar 3.3

9 Gambar grafik 3.3 Berdasarkan Hasil perhitungan statistik menggunakan uji Pearson product moment diperoleh p= 0,022 ( <0,05) berarti ada hubungan antara umur dengan keluhan MSDs. d. Hubungan beban angkut dengan keluhan MSDs Hasil uji korelasi Rank Spearman untuk hubungan beban angkut dengan keluhan MSDs diperoleh hasil r = 0,115 hal ini berarti mempunyai hubungan linier positif yang lemah. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan oleh grafik dibawah ini 3.4

10 Gambar grafik 3.4 perhitungan statistik menggunakan uji Rank Spearman didapatkan hasil p = 0,584 (> 0,05) artinya tidak ada hubungan beban angkut dengan keluhan MSDs. e. Hubungan Status gizi dengan keluhan MSDs Distribusi data yang tidak normal maka hubungan beban angkut dengan keluhan MSDs pada buruh angkut dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil uji korelasi Rank Spearman untuk hubungan status gizi dengan keluhan MSDs diperoleh hasil r = 0,136 hal ini berarti mempunyai hubungan linier positif yang lemah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di scater. Gambar diagram tebar dapat dilihat pada gambar 3.5 Gambar grafik 3.5 Perhitungan statistik menggunakan uji Rank Spearman didapatkan hasil p = 0,515 (> 0,05) artinya tidak ada hubungan status gizi dengan keluhan MSDs. f. Hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs Distribusi data yang tidak normal maka hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs pada buruh angkut dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman untuk hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs diperoleh hasil dengan nilai r = 0,021. Hal ini berarti mempunyai arah hubungan linier positif. Untuk

11 lebih jelasnya dapat dilihat di scater dimana sebaran datanya tidak membentuk pola tertentu. Gambar diagram tebar dapat dilihat pada gambar 3.6 Gambar grafik 3.6 Hasil uji statistik diperoleh dengan p = 0,919 (> 0,05) berarti tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. B. Pembahasan 1. Lama kerja Secara umum seseorang bekerja dalam sehari selama 6-8 jam dan waktu selain itu digunakan untuk beristirahat. Lama kerja dihitung dari pertama dimulainya aktifitas bekerja sampai responden selesai bekerja. Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa terdapat jam kerja yang berbeda antara ke 2 tempat penelitian. Buruh angkut yang bekerja di pasar Pedurungan bekerja selama 7 jam pada setiap harinya yaitu sebanyak 13 orang (52%), dan buruh angkut yang bekerja di pasar gayamsari bekerja selama 8 jam setiap hari yaitu sebanyak 12 orang (48%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada selisih 1 jam kerja antara pasar Pedurungan dengan pasar Gayamsari. Lama kerja buruh angkut di pasar Pedurungan dan pasar Gayamsari sudah sesuai dengan Undang- Undang no 13 tahun 2003 menurut Disnaker yaitu menyatakan bahwa jam kerja yang berlaku 7 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 6

12 hari kerja dalam 1 minggu, 8 jam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja. menurut pasal 77 ayat 2 undang-undang no 13 tahun 2003 menyatakan bahwa jumlah jam kerja secara akumulatif masing-masing shift tidak boleh bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu jika melebihi jam kerja dalam 1 minggu, maka harus sepengetahuan pimpinan dengan surat perintah perusahaan yang diperhitungkan dalam waktu kerja lembur Masa kerja Masa kerja dihitung dari pertama kali buruh bekerja menjadi buruh angkut. Masa kerja merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terkena MSDs terutama pada jenis pekerja yang bekerjanya menggunakan kekuatan kerja yang tinggi. 35 Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerja mempunyai masa kerja 15 tahun yaitu sebanyak 13 pekerja (52%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai masa kerja lebih dari 15 tahun. Hal tersebut menunjukkan Semakin lama masa kerja pada buruh angkut dapat menyebabkan munculnya kejenuhan pada daya tahan otot dan tulang secara fisik maupun psikis. Hal ini dikarenakan tingkat ketahanan otot yang sering digunakan untuk bekerja akan menurun seiring lamanya seseorang bekerja dan dapat berakibat munculnya keluhankeluhan yang dapat mengakibatkan MSDs. 3. Umur. Hasil pengumpulan data didapatkan hasil dengan pengkategorian umur lebih dari 30 tahun dan kurang dari 30 tahun yaitu lebih dari 30 tahun 21 buruh (84%) dan kurang dari 30 tahun 4 buruh (16%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas buruh angkut berumur lebih dari 30 tahun. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi munculnya keluhan MSDs. Keluhan otot skeletal biasanya dialami oleh seseorang yang berumur tahun, keluhan pertama muncul pada umur 30 tahun seiring bertambahnya umur maka keluhan akan semakin

13 meningkat. 35 sejalan dengan meningkatnya umur akan terjadi degenerasi pada tulang dan keadaan ini mulai terjadi di saat seseorang berusia 30 tahun. Oleh karena itu seseorang yang bekerja menjadi buruh angkut di pasar Pedurungan dan Gayamsari mempunyai potensi untuk mengalami keluhan MSDs. 4. Beban angkut. Berat beban angkut pada setiap buruh berbeda tergantung dari kemampuan dan kapasitas individu tersebut. Jika seseorang mengangkat beban melebihi batas kemampuannya maka dapat menimbulkan suatu cedera. Berdasarkan perhitungan beban angkut pada setiap harinya didapatkan hasil beban yang diangkut yaitu mayoritas responden mengangkut beban > 25 kg (96%) setiap harinya. Melihat dari hasil tersebut menunjukkan bahwa beban yang diangkut oleh para buruh pada setiap harinya melebihi standar yang sudah ditetapkan oleh ILO kg. Hal tersebut disebabkan karena responden sudah terbiasa mengangkat beban yang terlalu berat dan kurangnya pengetahuan para responden tentang standar beban yang diperbolehkan untuk diangkat. 5. Status gizi. Indeks masa tubuh bisa digunakan untuk indikator mengetahui kondisi status gizi pekerja. Seseorang dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat badan dengan cara mengontraksikan otot punggung, jika ini dilakukan secara terus menerus akan menyebabkan timbulnya penekanan pada bantalan saraf pada tulang belakang yang mengakibatkan kelelahan dan nyeri otot. 42 Berdasarkan pengukuran IMT (indeks massa tubuh) pada 25 buruh angkut di pasar Pedurungan dan pasar Gayamsari, didapatkan hasil status gizi normal yaitu 21 orang (84%), obesitas 3 orang (12%) dan kurus berat 1 orang (4%).hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas buruh berstatus gizi normal.

14 6. Kebiasaan merokok. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara didapatkan hasil dengan menggunakan uji kategori buruh yang merokok 12 batang pada setiap hari yaitu 12 buruh (48%), buruh yang merokok 24 batang setiap hari yaitu 2 buruh (8%) dan ada juga buruh yang tidak merokok sebanyak 11 buruh (44%). Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun, bila seseorang tersebut dituntut untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga maka pekerja akan cepat merasakan lelah yang disebabkan kandungan oksigen dalam darah rendah. 7. Keluhan MSDs Keluhan MSDs pada pekerja dalam penelitian ini ditinjau dari tingkat keluhannya. Keluhan MSDs adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang yang dimulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. 20 Berdasarkan hasil wawancara dengan buruh angkut mengatakan bahwa mereka sebagian besar merasakan leher kaku sebanyak 15 orang (60%) dan punggung terasa kaku sebanyak 13 orang (52%). Keluhan lain jumlahnya kecil seperti bagian leher yang nyeri, sakit kepala, lengan terasa baal dan lengan terasa tertusuk-tusuk, bagian bahu merasa nyeri otot, nyeri sendi, bengkak, sakit jika digerakkan, nyeri dan kaku pada bagian punggung, diketahui bahwa sebagian besar buruh angkut mengatakan munculnya keluhan MSDs pada saat malam hari yaitu 22 orang (88%). Hal ini diakibatkan oleh adanya pengangkatan beban yang dilakukan pagi dan siang pada saat pada buruh angkut sedang bekerja. Jika otot merima beban statis secara berulang dengan waktu yang lama, dapat menyebabkan keluhan berupa rusaknya ligament, sendi dan tendon.

15 8. Hubungan lama kerja dan keluhan MSDs Berdasarkan uji korelasi didapatkan nilai p-value 0,808 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara lama kerja dengan keluhan MSDs. Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diketahui lama kerja pada semua buruh sudah sesuai dengan standar, yaitu berkisar 7-8 jam, sehingga tidak ada perbedaan yang besar lama kerja pada sampel penelitian. Hal ini yang memungkinkan tidak adanya hubungan antara lama kerja dengan keluhan MSDs. umumnya dalam sehari seseorang bekerja selama 6-8 jam dan sisa waktu jam digunakan untuk beristirahat. Secara teori lama kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot sehingga dapat meningkatkan risiko gangguan MSDs terutama pada jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan kerja tinggi Hubungan masa kerja dengan keluhan MSDs Hasil uji Rank Spearman antara masa kerja dengan keluhan dengan p = 0,393 (> 0,05) ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan keluhan MSDs. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Emy Maijunidah (2010) menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs, karena masa kerja yang tergolong muda juga mengalami adanya keluhan MSDs. Berdasarkan pengumpulan data dapat diketahui masa kerja antara 2 tahun sampai 41 tahun, rata-rata 13,08 tahun dengan standar deviasi 9, sehingga didapatkan sebagian besar responden mempunyai masa kerja 15 tahun yaitu 13 orang (52%). Berdasarkan observasi, buruh angkut dengan masa kerja rendah juga mengalami keluhan MSDs. Keluhan MSDs ini diperkirakan karena buruh angkut dengan masa kerja < 4 tahun (masa kerja rendah ) sudah ada yang mengalami MSDs yang disebabkan karena melakukan pekerjaan

16 dengan risiko ergonomi tinggi seperti pengangkutan barang melebihi kapasitas yaitu lebih dari 25 kg dan diperkirakan ada yang mempunyai masa kerja 4tahun juga mengalami MSDs yang mempunyai status gizi gemuk. Hal ini bertentangan dengan teori masa kerja merupaka salah satu faktor yang mempunyai hubungan dengan keluhan otot dimana semakin lama waktu seseorang untuk bekerja maka semakin pula resiko untuk mengalami MSDs Hubungan umur dengan keluhan MSDs Hasil uji statistik Pearson Product moment untuk hubungan umur dengan keluhan MSDs diperoleh hasil nilai p = 0,022 ( < 0,05) hal ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur dengan keluhan MSDs tetapi yang bersifat kurang kuat. Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diketahui frekuensi kategori umur dengan munculnya keluhan MSDs yaitu mayoritas responden berumur lebih dari 30 tahun yaitu 21 buruh (84%) Hasil uji hubungan umur dengan keluhan MSDs diperoleh hasil nilai r= -0,456 hal ini berarti ada hubungan yang cukup kuat sebab mempunyai hubungan negatif artinya semakin dewasa umur seseorang maka semakin rendah pula munculnya keluhan MSDs. Hal ini bertentangan dengan teori karena semakin tua seseorang maka akan terjadi degenerasi yang berupa adanya kerusakan jaringan, penggantian jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan, sehingga menyebabkan stabilitas tulang dan otot berkurang. 43 Penelitian ini merupakan hubungan yang menyatakan hubungan negatif antara umur dengan keluhan yaitu sebarannya kurang, karena umur lebih tua ( 30 tahun) sudah terbiasa sehingga mereka tidak menganggap adanya sebagai keluhan MSDs. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Winda Agustina yang menyatakan bahwa variabel bebas yang diteliti adalah faktor (faktor umur, masa kerja, status gizi dan kebiasaan merokok) yang berhubungan dengan keluhan MSDs Hubungan beban angkut dengan

17 keluhan MSDs tempat penelitian dilaksanakan di industri pemecah batu dikecamatan karang nongko kabupaten Klaten yang mengatakan bahwa ada hubungan antara usia dengan keluhan MSDs Hubungan beban angkut dengan keluhan MSDs Hasil uji Rank Spearman antara beban angkut dan keluhan MSDs diperoleh hasil p= 0,584 ( >0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara beban angkut dengan keluhan MSDs. Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diketahui rerata beban angkut yang diangkut dalam satu kali mengangkut yaitu 36,51 kg dengan nilai minimum 25 kg dan maksimum 50,3 kg. berdasarkan hasil didapatkan mayoritas 24 responden mengangkat beban > 25 kg (96%). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mayrika Praptiwi H yang menyatakan tidak ada hubungan antara berat beban dan teknik mengangkat beban terhadap nyeri punggung bawah dengan persentase 86,7% penjual tukang jamu mengangkat beban dengan berat lebih dari 10 kg. 14 Hal ini bertentangan dengan teori beban yang diperbolehkan untuk diangkat yaitu kg dalam satu kali mengangkat. 60 Pembatasan beban yang diperbolehkan untuk diangkat dan pengangkatan beban secara ergonomi dapat mencegah munculnya keluhan MSDs. Berdasarkan penelitian ini ketidaksesuaian tersebut dapat dimungkinkan bahwa lama mengangkut barang pada setiap buruh hanya selama 3-5 menit, sehingga buruh tidak mengalami keluhan MSDs yang berarti. Dalam kesehatan kerja masa istirahat pada pekerja sebaiknya 5 menit setiap 1sampai 2 jam kerja untuk meregangkan otot agar tidak menjadi kaku. Pada buruh yang bekerja di tempat kerja dengan waktu yang bebas dapat mengambil istirahat sesuai dengan kebutuhan mereka Hubungan status gizi dengan keluhan MSDs Hasil uji Rank Spearman antara status gizi dengan keluhan MSDs diperoleh hasil p= 0,515 ( >0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan keluhan MSDs.

18 Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diketahui frekuensi kategori status gizi dengan rata-rata 92 dan standar deviasi 400. Mayoritas buruh angkut mempunyai status gizi normal yaitu 21 buruh (84%). Hasil penelitian ini juga sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad taufiqor pada welder dibagian fabrikasi PT Caterpillar Indonesia dengan hasil p= 0,941 ( > 0,05) yaitu tidak ada hubungan antara status gizi dengan keluhan MSDs. Dalam penelitian Muhammad Taufiqor mendapatkan status gizi normal dan mengalami keluhan MSDs ringan. 15 Hal ini bertentangan dengan teori status gizi merupakan faktor yang berhubungan dengan munculnya keluhan MSDs yaitu semakin gemuk tubuh seseorang maka bertambah risiko orang tersebut untuk terkena MSDs, ini disebabkan oleh tubuh seseorang yang berlebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat badan dengan cara mengontraksikan otot punggung. Jika aktivitas ini dilakukan secara terus menerus akan menyebabkan adanya penekanan bantalan saraf pada tulang belakang. 42 Pada hasil penelitian kali ini di dapatkan hasil yang berbeda. Adanya ketidaksesuaian tersebut rata-rata memiliki status gizi normal, kemungkinan lainnya adalah pekerja memiliki masa kerja dibawah ratarata untuk mengalami keluhan MSDs ( < 15tahun). selain itu responden yang mengalami obesitas tidak merasakan adanya keluhan MSDs. 13. Hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. Hasil uji Rank Spearman antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs diperoleh nilai p= 0,919 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui responden merokok antara 0 sampai 24 batang dengan rata-rata 7,68 batang perhari, dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa buruh yang merokok masuk dalam kategori ringan yaitu 12 batang setiap harinya dan ada juga beberapa buruh yang tidak merokok. Walaupun dalam penelitian ini tidak menunjukkan kebiasaan merokok terkait menyebabkan munculnya keluhan MSDs, namun tidak

19 dipungkiri bahwa banyak penelitian menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan masalah kesehatan salah satunya yaitu MSDs. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Taufik Zulfiqor yang menyatakan bahwa variabel bebas yang diteliti adalah risiko pekerjaan, usia, masa kerja, kebiasaan merokok, indeks masa tubuh dan kesegaran jasmani dengan keluhan MSDs, tempat penelitian pada PT Cater Pilar Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. 15 Kebiasaan merokok terkait antara meningkatnya keluhan otot dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. kebiasaan merokok pada setiap orang berdampak pada penurunan kapasitas paru-paru yang berdampak pada tubuh orang yang mengonsumsi oksigen akan menurun. Hal ini membuat pasokan oksigen ke otot berkurang yang mengakibatkan adanya penumpukan asam laktat yang mengakibatkan nyeri pada otot. 49

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja ( faktor fisik, faktor kimia, faktor biologis,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis/Rancangan Penelitian dan Metode pendekatan. Jenis penelitian ini adalah explanatory research yaitu penelitian yang bersifat penjelasan pada setiap variabelnya melalui

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Muskuloskeletal Disorders (MSDs) 1. Definisi Muskuloskeletal Disorders(MSDs) MSDs merupakan sekelompok kondisi patologis dimana dapat mempengaruhi fungsi normal dari jaringan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. yang cukup kuat untuk menyebabkan peningkatan resiko keluhan low back

BAB V PEMBAHASAN. yang cukup kuat untuk menyebabkan peningkatan resiko keluhan low back BAB V PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden 1. Umur Responden Umur merupakan salah satu faktor yang juga memiliki kontribusi yang cukup kuat untuk menyebabkan peningkatan resiko keluhan low back pain pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Repository.unimus.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tenaga kerja merupakan unsur terpenting dalam perusahaan untuk meningkatkan produksi perusahaan, di samping itu tenaga kerja sangat beresiko mengalami masalah kesehatan.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Wilayah Semarang Timur memiliki tiga pasar yaitu Pasar Gayamsari, Pasar Pedurungan,dan Pasar Parangkusuma. Pada masing masing

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL PENELITIAN

BAB 6 HASIL PENELITIAN BAB 6 HASIL PENELITIAN 6.1 Karakteristik Responden Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pengemudi travel X-Trans Jakarta dengan trayek Jakarta-Bandung yang berjumlah 60 orang. Namun seiring dengan

Lebih terperinci

sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya. Pentingnya transportasi terlihat pada

sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya. Pentingnya transportasi terlihat pada 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Menurut UUD 1945 pasal 27 ayat 2 dijelaskan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pekerjaan dan penghidupan yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Produktivitas Kerja 1. Pengertian Produktivitas kerja adalah jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh tenaga kerja yang bersangkutan dalam suatu periode tertentu. (15) Umumnya

Lebih terperinci

HUBUNGAN ASUPAN GIZI MAKAN PAGI DAN MAKAN SIANG DENGAN STATUS GIZI DAN KESEGARAN JASMANI PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI TEMBALANG SEMARANG TAHUN 2012

HUBUNGAN ASUPAN GIZI MAKAN PAGI DAN MAKAN SIANG DENGAN STATUS GIZI DAN KESEGARAN JASMANI PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI TEMBALANG SEMARANG TAHUN 2012 HUBUNGAN ASUPAN GIZI MAKAN PAGI DAN MAKAN SIANG DENGAN STATUS GIZI DAN KESEGARAN JASMANI PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI TEMBALANG SEMARANG TAHUN 2012 Mulinatus Saadah 1. Mahasiswa Peminatan Gizi Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tergantung dari jenis produksi, teknologi yang dipakai, bahan yang digunakan,

BAB I PENDAHULUAN. tergantung dari jenis produksi, teknologi yang dipakai, bahan yang digunakan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi resiko bahaya dalam bentuk kecelakaan kerja. Besarnya potensi kecelakaan dan penyakit kerja tersebut tergantung dari jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung upaya penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dunia industri di Indonesia masih didominan dengan penggunaan tenaga

BAB I PENDAHULUAN. Dunia industri di Indonesia masih didominan dengan penggunaan tenaga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia industri di Indonesia masih didominan dengan penggunaan tenaga manusia dalam proses produksinya, terutama pada kegiatan Manual Material Handling (MMH). Aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan di Indonesia yang sasaran utamanya di bidang pembangunan ekonomi, maka kegiatan perdagangan merupakan salah satu sektor pembangunan ekonomi, senantiasa dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laundry dikenal sebagai kegiatan binatu atau pencucian pakaian dengan. mencucikan pakaian-pakaian (Samsudin, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Laundry dikenal sebagai kegiatan binatu atau pencucian pakaian dengan. mencucikan pakaian-pakaian (Samsudin, 2009). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia usaha laundry atau dari dulu dikenal dengan istilah binatu beberapa tahun terakhir usaha ini sangatlah berkembang pesat. Laundry dikenal sebagai kegiatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah penelitian penjelasan eksplanatory reseach dimana menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Manusia dituntut untuk berusaha atau bekerja dalam rangka memenuhi

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Manusia dituntut untuk berusaha atau bekerja dalam rangka memenuhi BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dituntut untuk berusaha atau bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, dan hampir sebagian besar dari mereka menghabiskan waktunya di tempat kerja.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengenai sistem muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal (musculoskeletal

BAB I PENDAHULUAN. mengenai sistem muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal (musculoskeletal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melaksanakan sebuah pekerjaan dapat membuat seseorang berisiko mengalami gangguan atau cedera. Kebanyakan cedera akibat kerja biasanya mengenai sistem muskuloskeletal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan kerja yang meliputi pencegahan dan pengobatan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan kerja yang meliputi pencegahan dan pengobatan terhadap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang- undang Nomor 13 tahun 2003 pasal 86, ayat I a, menyatakan bahwa setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pusat pertokoan (mall) di Indonesia semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan pendapatan negara

Lebih terperinci

BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi

BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi 47 BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi Pada bab ini, akan dipaparkan hasil penelitian serta interpretasi dari hasil penelitian tersebut. Akan dijabarkan gambaran umum responden dan hasil dari analisa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keluhan muskuloskeletal adalah kerusakan pada bagian-bagian otot

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keluhan muskuloskeletal adalah kerusakan pada bagian-bagian otot BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluhan muskuloskeletal adalah kerusakan pada bagian-bagian otot skeletal yang disebabkan karena tubuh menerima beban statis, atau bekerja pada postur janggal secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran

BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran ergonomi, karena ergonomi berkaitan dengan orang yang bekerja, selain dalam rangka efektivitas, efisiensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angkatan kerja tahun 2009 di Indonesia diperkirakan berjumlah 95,7 juta orang terdiri dari 58,8 juta tenaga kerja laki-laki dan 36,9 juta tenaga kerja perempuan. Sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akibat nyeri punggung. Nyeri punggung bagian bawah merupakan penyebab

BAB I PENDAHULUAN. akibat nyeri punggung. Nyeri punggung bagian bawah merupakan penyebab BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di negara barat misalnya Inggris dan Amerika Serikat kejadian nyeri punggung (terutama nyeri pada punggung bagian bawah) telah mencapai proporsi epidemik. Satu survei

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia perindustrian di era globalisasi dan Asean Free Trade

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia perindustrian di era globalisasi dan Asean Free Trade BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia perindustrian di era globalisasi dan Asean Free Trade Area (AFTA) semakin pesat. Hal ini membuat persaingan antara industri besar, industri menengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dituntut untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan. hidupnya, dan hampir sebagian besar dari waktunya dihabiskan di tempat

BAB I PENDAHULUAN. dituntut untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan. hidupnya, dan hampir sebagian besar dari waktunya dihabiskan di tempat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dituntut untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan hampir sebagian besar dari waktunya dihabiskan di tempat kerja. Lingkungan tempat kerja merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS ATAU RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research atau penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil analisa data di 3 group pekerjaan

BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil analisa data di 3 group pekerjaan BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil analisa data di 3 group pekerjaan departemen water pump PT. X. Hasil analisa data meliputi gambaran tingkat pajanan ergonomi, keluhan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian explanatory research yaitu menjelaskan hubungan antara variabel variabelnya melalui pengujian hipotesa. Metode

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring meningkatnya pertumbuhan perekonomian di Indonesia, membuat pembangunan juga semakin meningkat. Banyak pembangunan dilakukan di wilayah perkotaan maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang diakibatkan oleh gangguan musculoskeletal. Nyeri punggung adalah keluhan subyektif berupa respon tubuh terhadap rangsangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PT. Sinar Sosro merupakan salah satu perusahaan industri yang

BAB I PENDAHULUAN. PT. Sinar Sosro merupakan salah satu perusahaan industri yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan PT. Sinar Sosro merupakan salah satu perusahaan industri yang memproduksi berbagai jenis minuman yang terbuat dari teh, mulai dari teh botol sampai dengan

Lebih terperinci

MUSCULOSKELETAL DISORDERS. dr.fauziah Elytha,MSc

MUSCULOSKELETAL DISORDERS. dr.fauziah Elytha,MSc MUSCULOSKELETAL DISORDERS dr.fauziah Elytha,MSc Muskuloskeletal disorder gangguan pada bagian otot skeletal yang disebabkan oleh karena otot menerima beban statis secara berulang dan terus menerus dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sales promotion Girl (SPG) merupakan suatu profesi yang bergerak dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sales promotion Girl (SPG) merupakan suatu profesi yang bergerak dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sales Promotion Girl 2.1.1. Definisi Sales promotion Girl (SPG) merupakan suatu profesi yang bergerak dalam pemasaran atau promosi suatu produk. Profesi ini biasanya menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan program pengembangan dan pendayagunaan SDM tersebut, pemerintah juga memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan dan

BAB I PENDAHULUAN. dengan program pengembangan dan pendayagunaan SDM tersebut, pemerintah juga memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini lebih dikonsentrasikan pada pengembangan dan pendayagunaan Sumber

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. Subjek pada penelitian ini semua berjenis kelamin wanita dengan

BAB VI PEMBAHASAN. Subjek pada penelitian ini semua berjenis kelamin wanita dengan BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Kondisi Subjek Subjek pada penelitian ini semua berjenis kelamin wanita dengan karakteristik yang dibahas adalah umur, berat badan, tinggi badan dan antropometri. 6.1.1 Umur Umur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih dominan dialami oleh para pekerja. secara fisik yang berat. Salah satu akibat dari kerja secara manual, seperti

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih dominan dialami oleh para pekerja. secara fisik yang berat. Salah satu akibat dari kerja secara manual, seperti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini begitu banyak pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan mesin, mulai dari mesin yang sangat sederhana sampai dengan penggunaan mesin dengan berbasis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus sesuai dengan kondisi tubuh serta tenaga yang dimiliki oleh masing-masing individu

BAB I PENDAHULUAN. harus sesuai dengan kondisi tubuh serta tenaga yang dimiliki oleh masing-masing individu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Indonesiasebagian warga berprofesi nelayan, kegiatan yang dilakukan oleh nelayan harus sesuai dengan kondisi tubuh serta tenaga yang dimiliki oleh masing-masing

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Karakteristik Responden Menurut Usia. responden adalah 9 tahun dan tertinggi 15 tahun. Selanjutnya distribusi

BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Karakteristik Responden Menurut Usia. responden adalah 9 tahun dan tertinggi 15 tahun. Selanjutnya distribusi BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Karakteristik Responden 1. Karakteristik Responden Menurut Usia Karakteristik responden menurut usia diperoleh data usia terendah responden adalah 9 tahun dan tertinggi

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR SEKUNDER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PEKERJA LAUNDRY DI KELURAHAN MUKTIHARJO KIDUL SEMARANG

FAKTOR-FAKTOR SEKUNDER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PEKERJA LAUNDRY DI KELURAHAN MUKTIHARJO KIDUL SEMARANG FAKTOR-FAKTOR SEKUNDER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PEKERJA LAUNDRY DI KELURAHAN MUKTIHARJO KIDUL SEMARANG Puput Nur Fajri *), MG Catur Yuantari **) *) Alumni Fakultas Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belum bisa dihindari secara keseluruhan. Dunia industri di Indonesia masih

BAB I PENDAHULUAN. belum bisa dihindari secara keseluruhan. Dunia industri di Indonesia masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan industri di dunia sudah maju dan segala sesuatunya sudah otomatis, tetapi penggunaan tenaga manusia secara manual masih belum bisa dihindari secara keseluruhan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut ILO (2013) Diperkirakan 2.34 juta orang meninggal setiap tahunnya

BAB I PENDAHULUAN. Menurut ILO (2013) Diperkirakan 2.34 juta orang meninggal setiap tahunnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut ILO (2013) Diperkirakan 2.34 juta orang meninggal setiap tahunnya dikarenakan penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja, sebagaian besar diperkirakan

Lebih terperinci

Bambang, 2008 mengemukakan 3 (tiga) sikap kerja yaitu: duduk, duduk berdiri, dan berdiri.

Bambang, 2008 mengemukakan 3 (tiga) sikap kerja yaitu: duduk, duduk berdiri, dan berdiri. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sikap Kerja 2.1.1 Definisi Sikap Kerja Sikap kerja merupakan tindakan yang diambil pekerja dan segala sesuatu yang harus dilakukan oleh pekerja tersebut yang hasilnya sebanding

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Lama Duduk Sebelum Istirahat Dalam Berkendara

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Lama Duduk Sebelum Istirahat Dalam Berkendara BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Lama Duduk Sebelum Istirahat Dalam Berkendara Sopir atau pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang telah memiliki Surat Ijin

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu bidang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu bidang BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu bidang kesehatan masyarakat yang memfokuskan perhatian pada masyarakat pekerja baik yang ada di sektor formal

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL PADA NELAYAN DI DESA KALINAUN KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA Brenda V.J Mondigir*, Nancy S.H

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghasilkan suatu produksi. Tidak sedikit proses produksi yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghasilkan suatu produksi. Tidak sedikit proses produksi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan tenaga manusia masih menjadi hal yang utama dan paling penting dalam menghasilkan suatu produksi. Tidak sedikit proses produksi yang berlangsung di perusahaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variable Bebas Variable Terikat Status Gizi / IMT Tingkat aktivitas fisik Kelelahan Kerja Perawat Kecukupan Energi Kerja Shift kerja Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Sehingga jenis kelamin, merokok dan trauma tidak memiliki kontribusi terhadap

BAB V PEMBAHASAN. Sehingga jenis kelamin, merokok dan trauma tidak memiliki kontribusi terhadap BAB V PEMBAHASAN Karakteristik responden meliputi umur, masa kerja, jenis kelamin, merokok dan trauma. Di mana untuk karakteristik jenis kelamin semua responden adalah perempuan, tidak merokok dan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan melibatkan kerja tubuh. Kegiatan yang dilakukan secara rutinitas setiap hari

BAB I PENDAHULUAN. akan melibatkan kerja tubuh. Kegiatan yang dilakukan secara rutinitas setiap hari 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Isu isu ergonomi kesehatan semakin banyak diminati, mengingat setiap aktivitas kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga istirahat pada semua orang akan melibatkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional di bidang gizi masyarakat, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu Negara agraris, yang dimana. mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu Negara agraris, yang dimana. mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara agraris, yang dimana mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Di Indonesia, para petani menghabiskan waktu setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan fenomena yang seringkali dikeluhkan dari orang usia lanjut, namun tidak tertutup kemungkinan dialamioleh

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penilaian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor-faktor risiko ergonomi yang mempengaruhi besarnya tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan. Posisi duduk adalah posisi istirahat didukung oleh bokong atau paha di

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan. Posisi duduk adalah posisi istirahat didukung oleh bokong atau paha di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Posisi kerja duduk adalah salah satu sikap kerja yang paling sering dilakukan. Posisi duduk adalah posisi istirahat didukung oleh bokong atau paha di mana badan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi deskriptif korelasi yaitu mendeskripsikan variabel independent dan dependent, kemudian melakukan analisis

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA PEMBUATAN BATU BATA

HUBUNGAN ANTARA POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA PEMBUATAN BATU BATA HUBUNGAN ANTARA POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA PEMBUATAN BATU BATA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksplanatory research yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian dari Ilmu Kesehatan Masyarakat yang berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan

Lebih terperinci

Kata kunci: Status Gizi, Umur, Beban Kerja Fisik, Keluhan Muskuloskeletal.

Kata kunci: Status Gizi, Umur, Beban Kerja Fisik, Keluhan Muskuloskeletal. HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, UMUR DAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA TENAGA KERJA BONGKAR MUAT DI PELABUHAN MANADO Winita Bobaya*, Grace D. Kandou*, A.J.M Rattu* *Fakultas Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas, dari pencemaran lingkungan, sehingga

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan desain cross

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan desain cross 38 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional, yaitu dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fleksibilitas 2.1.1. Definisi fleksibilitas Fleksibilitas mengacu pada kemampuan ruang gerak sendi atau persendian tubuh. Kemampuan gerak sendi ini berbeda di setiap persendian

Lebih terperinci

Reisma Wulandari. Masyarakat Universitas Diponegoro. Masyarakat Universitas Diponegoro PENDAHULUAN

Reisma Wulandari. Masyarakat Universitas Diponegoro. Masyarakat Universitas Diponegoro PENDAHULUAN PERBEDAAN TINGKAT NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA PEMBUAT TERALIS SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN EDUKASI PEREGANGAN DI KECAMATAN CILACAP TENGAH KABUPATEN CILACAP Reisma Wulandari 1. Mahasiswa Peminatan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISA AKTIVITAS KERJA FISIK DENGAN METODE STRAIN INDEX (SI)

TUGAS AKHIR ANALISA AKTIVITAS KERJA FISIK DENGAN METODE STRAIN INDEX (SI) TUGAS AKHIR ANALISA AKTIVITAS KERJA FISIK DENGAN METODE STRAIN INDEX (SI) (Studi Kasus: Pabrik Roti CV. Aji Kurnia, Boyolali) Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi S-1 Jurusan

Lebih terperinci

ANALISIS POSTUR KERJA DAN KELUHAN PEKERJA PADA AKTIVITAS PEMOTONGAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERIPIK

ANALISIS POSTUR KERJA DAN KELUHAN PEKERJA PADA AKTIVITAS PEMOTONGAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERIPIK ANALISIS POSTUR KERJA DAN KELUHAN PEKERJA PADA AKTIVITAS PEMOTONGAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERIPIK Nama : Dimas Harriadi Prabowo NPM : 32411114 Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Hotniar Siringoringo,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 8 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian yang mencoba mengetahui mengapa

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PEKERJA CLEANING SERVICE RSUD KOTA SEMARANG 2015

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PEKERJA CLEANING SERVICE RSUD KOTA SEMARANG 2015 FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PEKERJA CLEANING SERVICE RSUD KOTA SEMARANG 2015 Erik Pratama* ), MG.Catur Yuantari** ) *) Alumni Fakultas Kesehatan UDINUS 2011 **)

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah penyedia layanan jasa yang harus sadar akan pentingnya kualitas pelayanan terhadap pasien sebagai konsumen. Salah satu yang berperan penting dalam

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Jumlah pekerja pelintingan rokok di PT. Djitoe Indonesia Tobako

BAB V PEMBAHASAN. Jumlah pekerja pelintingan rokok di PT. Djitoe Indonesia Tobako BAB V PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Perusahaan Jumlah pekerja pelintingan rokok di PT. Djitoe Indonesia Tobako Surakarta sebanyak 119 orang yang semua berjenis kelamin perempuan dan jumlah yang dijadikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Occupational Health and Safety Council of Ontario (OHSCO)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Occupational Health and Safety Council of Ontario (OHSCO) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Keluhan Muskuloskeletal 2.1.1 Pengertian Keluhan Muskuloskeletal Menurut Occupational Health and Safety Council of Ontario (OHSCO) tahun 2007, keluhan muskuloskeletal

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. fleksibilitas sendi pada responden di Panti Wreda Pucang Gading Semarang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. fleksibilitas sendi pada responden di Panti Wreda Pucang Gading Semarang 62 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang pengaruh gerakan sholat lima waktu terhadap fleksibilitas sendi pada responden di Panti Wreda Pucang Gading Semarang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peranan tenaga kerja dalam pembangunan nasional sangat penting karena

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peranan tenaga kerja dalam pembangunan nasional sangat penting karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan tenaga kerja dalam pembangunan nasional sangat penting karena tenaga kerja merupakan pelaku dan tujuan pembangunan. Sesuai dengan peranan tersebut, maka diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 270 juta kasus kecelakaan kerja pertahun di seluruh dunia (Ferusgel,

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 270 juta kasus kecelakaan kerja pertahun di seluruh dunia (Ferusgel, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapan guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas manual material handling atau penanganan material secara manual masih menjadi sebagian besar aktivitas yang ada di dunia industri seperti aktivitas pengangkatan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. 2 yaitu tahun dan diatas 35 tahun yang mengacu dari BKKBN

BAB IV HASIL PENELITIAN. 2 yaitu tahun dan diatas 35 tahun yang mengacu dari BKKBN 32 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Karakteristik responden 1. Usia ibu Usia ibu berdasarkan hasil penelitian diketahui usia termuda adalah 23 tahun dan tertua 38 tahun. Usia ibu kemudian dikelompokkan menjadi

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. pembuluh darah dimana keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian

BAB 1 : PENDAHULUAN. pembuluh darah dimana keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Musculoskeletal disorders merupakan sekumpulan gejala yang berkaitan dengan jaringan otot, tendon, ligamen, kartilago, sistem saraf, struktur tulang, dan pembuluh

Lebih terperinci

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan.

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan. HUBUNGAN POSTUR KERJA TIDAK ERGONOMIS DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA FURNITURE DI CV NOVA FURNITURE BOYOLALI Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi KELUHAN MUSCULOSKELETAL PADA PETANI DI KELURAHAN TOSURAYA SELATAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Axel Brayen Punusingon*, Oksfriani Jufri Sumampouw*, Harvani Boky* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini lebih dikonsentrasikan pada

BAB 1 : PENDAHULUAN. pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini lebih dikonsentrasikan pada BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini lebih dikonsentrasikan pada pengembangan dan pendayagunaan Sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau man made disease. Penyakit Akibat Kerja menurut OSHA. tahun 1992, dimana sekitar 62% pekerja menderita Musculoskeletal

BAB I PENDAHULUAN. atau man made disease. Penyakit Akibat Kerja menurut OSHA. tahun 1992, dimana sekitar 62% pekerja menderita Musculoskeletal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Gambaran risiko..., Tati Ariani, FKM UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Gambaran risiko..., Tati Ariani, FKM UI, 2009 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fokus keilmuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah bahaya dan risiko yang melekat pada pekerjaan. Sjaaf (2006) menyatakan bahwa bahaya dan risiko tersebut akan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI. Tingkat Risiko MSDs Pekerja Konstruksi. Keluhan MSDs. Gambar 3.1. Kerangka Konsep. 32 Universitas Indonesia

BAB 3 METODOLOGI. Tingkat Risiko MSDs Pekerja Konstruksi. Keluhan MSDs. Gambar 3.1. Kerangka Konsep. 32 Universitas Indonesia BAB 3 METODOLOGI Metodologi dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang akan dinilai serta batasan-batasan dan bagaimana cara mengukurnya. Dalam bab metodologi juga digambarkan waktu dan tempat dilaksanakannya

Lebih terperinci

LEMBAR KESEDIAAN DALAM PENELITIAN. Penelitian yang berjudul : Hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran pada siswa kelas XI SMAN 1 Palimanan.

LEMBAR KESEDIAAN DALAM PENELITIAN. Penelitian yang berjudul : Hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran pada siswa kelas XI SMAN 1 Palimanan. Lampiran 1. LEMBAR KESEDIAAN DALAM PENELITIAN Penelitian yang berjudul : Hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran pada siswa kelas XI SMAN 1 Palimanan. Bahwa : Saya... Kelas... Menyatakan : Bersedia

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN PATIENT HANDLING TERHADAP PENURUNAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG AKIBAT KERJA

PENGARUH PELATIHAN PATIENT HANDLING TERHADAP PENURUNAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG AKIBAT KERJA PENGARUH PELATIHAN PATIENT HANDLING TERHADAP PENURUNAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG AKIBAT KERJA Suhardi, Afrianti Wahyu W, Sri Suwarni Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebaliknya kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Tujuan pengembangan ilmu dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebaliknya kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Tujuan pengembangan ilmu dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak lama telah diketahui bahwa pekerjaan dapat mengganggu kesehatan dan sebaliknya kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Tujuan pengembangan ilmu dan pelaksanaan upaya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang di gunakan adalah dengan mengunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang di gunakan adalah dengan mengunakan metode BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Rancangan penelitian yang di gunakan adalah dengan mengunakan metode case control yaitu suatu penelitian (survey) analitik yang menyangkut bagaimana faktor

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Gambaran Aktivitas Pekerjaan Butik LaMode merupakan usaha sektor informal yang dikelola oleh pemilik usahanya sendiri. Butik pada umumnya menerima jahitan berupa kebaya dan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. perlakuan yaitu melakukan pekerjaan midang dengan alat pemidangan

BAB V HASIL PENELITIAN. perlakuan yaitu melakukan pekerjaan midang dengan alat pemidangan BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Karakteristik Subjek Subjek dalam penelitian ini terdiri atas 20 orang sampel, dengan dua jenis perlakuan yaitu melakukan pekerjaan midang dengan alat pemidangan konvensional

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden Dalam penelitian ini, karakteristik responden terdiri atas usia, status pernikahan, pengalaman kerja, dan tingkat pendidikan. 1. Usia Pada penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. terdiri atas beberapa bagian, satuan fungsi dan seksi yaitu : Bag Ops, Bag Ren,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. terdiri atas beberapa bagian, satuan fungsi dan seksi yaitu : Bag Ops, Bag Ren, BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Kantor Polres Gorontalo Kota merupakan instansi yang berperan aktif dalam administrasi pemerintahan, pembangunan dan pemasyarakat

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada. Buruh Pemetik Cabe Di UD. Sri Kundari Kota Semarang.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada. Buruh Pemetik Cabe Di UD. Sri Kundari Kota Semarang. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada Buruh Pemetik Cabe Di UD. Sri Kundari Kota Semarang Niar Suryani 1, Zaenal Sugiyanto 2, Eko Hartini 2 1 Alumni Fakultas Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POLA ISTIRAHAT DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN

HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POLA ISTIRAHAT DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN Dinamika Kesehatan, Vol. 7 No.1 Juli 2016 Basit, e.t al., Hubungan Lama Kerja dan Pola Istirahat HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POLA ISTIRAHAT DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD ULIN BANJARMASIN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2020 mendatang, di mana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan persyaratan yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2020 mendatang, di mana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan persyaratan yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi dan pasar bebas Word Trade Organisasion (WTO) dan Geberal Agreement Tariffs and Trade (GATT) yang akan belaku tahun 2020 mendatang, di mana Keselamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Menurut World

BAB I PENDAHULUAN. jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Menurut World 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap satu diantara enam penduduk dunia adalah remaja. Di Indonesia, jumlah remaja dan kaum muda berkembang sangat cepat. Menurut World Health Organization (WHO)

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. hampir semua tenaga kerja pada unit weaving PT. Iskandar Tekstil adalah

BAB V PEMBAHASAN. hampir semua tenaga kerja pada unit weaving PT. Iskandar Tekstil adalah BAB V PEMBAHASAN Pada penelitian ini responden berjenis kelamin perempuan dikarenakan hampir semua tenaga kerja pada unit weaving PT. Iskandar Tekstil adalah perempuan. Rata-rata responden berusia produktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sakit akibat pekerjaanya itu, baik itu berupa cedera, luka-luka atau bahkan

BAB I PENDAHULUAN. sakit akibat pekerjaanya itu, baik itu berupa cedera, luka-luka atau bahkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dari awal kehidupannya tidak terkecuali, selalu bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada saat mereka bekerja dengan berbagai sebab, mereka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan dalam bidang industri secara nasional maupun internasional saat ini semakin tinggi. Persaingan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013 No. Responden : Petunjuk pengisian : Isilah

Lebih terperinci