BAB II KAJIAN TEORITIS

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN TEORITIS"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Pengertian Perpustakaan Pergururan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan. Pengertian perpustakaan perguruan tinggi menurut Hermawan dan Zulfikar (2006:33), Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terdapat di lingkungan lembaga pendidikan tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi dan lembaga perguruan tinggi lainnya. Sedangkan pengertian lainnya dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:3) : Perpustakaan perguruan tinggi adalah unsur penunjang perguruan tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tingginya. Yang dimaksud dengan perguruan tinggi adalah universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik, dan perguruan tinggi lain yang sederajat. Berdasarkan pendapat di atas diketahui bahwa perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada atau didirikan di suatu perguruan tinggi baik berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan perguruan tinggi lainnya yang sederajat. 2.2 Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi memiliki peranan yang penting dalam mencapai tujuan perguruan tinggi dimana perpustakaan tersebut bernaung sehingga sudah semestinya setiap lembaga pendidikan tinggi memiliki perpustakaan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal. Secara umum tujuan perpustakaan perguruan tinggi adalah menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Secara khusus adalah untuk membantu para dosen dan mahasiswa, serta tenaga kependidikan di perguruan tinggi itu dalam proses pembelajaran (Hermawan dan Zulfikar, 2006:34)

2 Sedangkan menurut Hasugian (2009:80), Tujuan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia adalah untuk memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dari uraian pendapat di atas, jelas bahwa perpustakaan perguruan tinggi diselenggarakan dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 2.3 Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi Fungsi perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu tugas yang harus dilaksanakan di dalam perpustakaan tersebut. Sebagai unsur penunjang perguruan tinggi dalam mencapai visi dan misinya. Dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:3), perpustakaan perguruan tinggi memiliki berbagai fungsi sebagai berikut: 1. Fungsi Edukasi. Perpustakaan merupakan sumber belajar para sivitas akademika. 2. Fungsi Informasi. Perpustakaan merupakan sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi. 3. Fungsi Riset. Perpustakaan mempersiapkan bahan-bahan primer dan sekunder yang paling mutakhir sebagai bahan untuk melakukan penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. 4. Fungsi Rekreasi. Perpustakaan harus menyediakan koleksi rekreatif yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas, minat dan daya inovasi pengguna perpustakaan. 5. Fungsi Publikasi. Perpustakaan selayaknya juga membantu melakukan publikasi karya yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya yakni sivitas akademik dan staf non-akademik. 6. Fungsi Deposit. Perpustakaan menjadi pusat deposit untuk seluruh karya dan pengetahuan yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya. 7. Fungsi Interpretasi. Perpustakaan sudah seharusnya melakukan kajian dan memberikan nilai tambah terhadap sumber-sumber informasi yang dimilikinya untuk membantu pengguna dalam melakukan dharmanya. Berdasarkan uraian di atas, perpustakaan perguruan tinggi berfungsi sebagai edukasi, informasi, riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi bagi pengguna perpustakaan tersebut dalam mencapai visi dan misi perguruan tingginya.

3 2.4 Tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi Tugas perpustakaan merupakan suatu kewajiban yang telah ditetapkan untuk dilakukan di perpustakaan. Setiap perpustakaan memiliki tugas yang diberikan oleh lembaga induk yang menaunginya. Tugas perpustakaan adalah menghimpun, menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan semua koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya, dan melayani masyarakat pengguna, yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan (Sutarno,2006:53) Selain itu dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:3), Tugas perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan koleksi, mengolah dan merawat bahan perpustakaan, memberi layanan, serta melaksanakan administrasi perpustakaan. Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa tugas perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai pusat sumber informasi yang menghimpun, mengolah, dan memberi layanan kepada sivitas akademika perguruan tinggi. 2.5 Pengertian Fasilitas Perpustakaan Fasilitas perpustakaan merupakan segala sesuatu yang dimaksudkan untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan perpustakaan, serta memudahkan kegiatan perpustakaan berjalan dengan baik. Dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:18), menyatakan: Fasilitas perpustakaan adalah perabotan dan peralatan yang harus ada di perpustakaan. Perabotan adalah perlengkapan fisik yang diperlukan di dalam ruang perpustakaan sebagai penunjang fungsi perpustakaan seperti berbagai mejakursi kerja dan layanan, berbagai rak, bebagai jenis lemari dan laci, kereta buku, dan lain-lain. Peralatan adalah perangkat atau benda yang digunakan sebagai daya dukung pekerjaan administrasi dan pelayanan seperti mesin tik, komputer, printer, scanner, mesin fotokopi, alat baca mikro dan lain-lain. Sedangkan pengertian lainnya, Fasilitas perpustakaan adalah segala peralatan dan perabotan serta berbagai alat bantu lainnya yang disediakan oleh perpustakaan, semuanya berfungsi sebagai fasilitas yang berfungsi untuk memudahkan pemanfaatan koleksi informasi dan sumber informasi yang ada di perpustakaan (Yusup,2009:467).

4 Adapun perlengkapan, peralatan dan perabot utama sebuah perpustakaan adalah : a. Rak bahan pustaka: buku, majalah, surat kabar, pandang dengar (AV). b. Lemari katalog; ukurannya disesuaikan dengan ukuran kartu katalog. c. Meja kursi untuk para pembaca di ruang baca. Bentuknya dapat bermacammacam model. d. Meja sirkulasi/ layanan. e. Mesin tik untuk pembuatan kartu katalog dan surat-surat. f. Meja kerja pengolahan dan untuk pegawai. g. Lemari penitipan tas/ barang. h. Papan pamer (display). i. Alat baca khusus untuk koleksi tertentu. j. Lemari arsip untuk tata usaha. k. Papan pengumuman. l. Kotak saran. m. Jam dinding. n. Troli pembawa bahan pustaka. o. Komputer. p. Dan lain-lain yang diperlukan. (Sutarno,2006:85-86) Ketersediaan peralatan dan perabotan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, kualitas, ukuran, dan pertimbangan lainnya sehingga menjadi salah satu kekuatan perpustakaan dalam ketersediaan fasilitas perpustakaan. Selain peralatan dan perabotan yang merupakan fasilitas pokok perpustakaan, Penataan ruang perpustakaan yang bersifat kondusif bagi pengguna yang belajar di perpustakaan sehingga mereka merasa terbantu oleh kondisi tersebut, juga dapat berfungsi sebagai fasilitas penunjang di perpustakaan (Yusup,2009:467). Hal-hal lain yang dianggap perlu dalam memudahkan pemanfaatan perpustakaan akan diusahakan penyediaannya sehingga kegiatan di perpustakaan dapat berjalan lancar, seperti adanya ruang baca yang dilengkapi dengan alat pendingin, adanya alat penelusuran koleksi, dan lainnya. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat diketahui bahwa fasilitas perpustakaan adalah segala peralatan dan perabotan yang ada di perpustakaan yang digunakan untuk memanfaatkan perpustakaan dan mendukung kegiatan di perpustakaan.

5 2.6 Jenis-Jenis Fasilitas Penyediaan fasilitas di perpustakaan merupakan hal yang penting karena dapat menunjang kelancaran kegiatan perpustakaan secara optimal sehingga tugas dan fungsi perpustakaan perguruan tinggi dapat terlaksana. Menurut Moenir yang dikutip oleh Nurbiyanti (2009:10-11), Fasilitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Dari uraian jenis fasilitas di atas, di dalam penelitian ini yang dimaksud fasilitas fisik yaitu segala sesuatu yang berupa benda atau yang dibendakan yang mempunyai peranan untuk memudahkan usaha seperti gedung dan ruangan perpustakaan, koleksi perpustakaan dan layanan perpustakaan. Sedangkan fasilitas non fisik dalam penelitian ini seperti kenyamanan ruangan perpustakaan meliputi penataan ruangan, temperatur ruangan, ventilasi udara, serta pencahayaan. 2.7 Fasilitas Gedung dan Ruang Perpustakaan Fasilitas Gedung Perpustakaan Gedung perpustakaan merupakan salah satu fasilitas perpustakaan yang mutlak perlu ada sebab perpustakaan tidak mungkin digabungkan dengan unit kerja lainnya di dalam satu ruangan. Membangun perpustakaan sama halnya dengan membangun gedung perpustakaan seperti yang dinyatakan Sulistyo-Basuki yang dikutip oleh Lasa (2005:147), Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Dari uraian tersebut jelas bahwa suatu perpustakaan merupakan bagian dari gedung. Gedung dibangun untuk menyimpan koleksi dan menatanya dengan tata susunan tertentu agar mudah digunakan oleh pemakai. Dalam membangun gedung perpustakaan ada beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan. Menurut Sutarno (2006:80-81), aspek yang perlu diperhatikan pada unsur gedung adalah: a. Lokasi, harus di tempat yang mudah dan ekonomis didatangi masyarakat pemakainya.

6 b. Luas tanah (jika perpustakaan menempatkan gedung tersendiri), diusahakan cukup menampung bangunan gedung, dengan kemungkinan perluasan dalam kurun waktu tahun mendatang. c. Luas gedung atau ruangannya harus cukup menampung ruang koleksi bahan pustaka, ruang baca dengan kapasitas minimal 10 % dari jumlah masyarakat yang akan dilayani, ruang layanan, ruang kerja pengolahan dan administrasi. d. Ruangan-ruangan lain yang diperlukan, seperti gudang dan kamar kecil. e. Konstruksi, mencakup aspek kekuatan dan pengamanan. f. Cahaya di dalam ruang harus tenang. g. Kesejukan di dalam ruangan dan pertukaran udara/ ventilasi harus baik. h. Lingkungan yang tenang. i. Tempat parkir kendaraan secukupnya. j. Taman, dan lain-lain. Berdasarkan aspek-aspek di atas, menciptakan suatu gedung perpustakaan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Keberadaan gedung perpustakaan tidak hanya diperuntukkan hanya sekedar tempat koleksi, tetapi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan perpustakaan. Jika diperhatikan dari aspek unsur gedung di atas, lokasi gedung perpustakaan merupakan hal pertama yang perlu diperhatikan. Dalam perencanaan gedung, pemusatan lokasi gedung perpustakaan sebaiknya diperhatikan bagi setiap perguruan tinggi sebab sangat dianjurkan perpustakaan perguruan tinggi tersebut berada di dalam satu lingkungan universitas yang mudah dijangkau dari segala arah. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, misalnya jarak antara fakultas dengan perpustakaan cukup jauh maka adanya perpustakaan fakultas sangat dianjurkan. Hal ini dapat mempengaruhi keinginan pengguna dalam memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu dalam penempatan perpustakaan perlu dipilih lokasi yang strategis Fasilitas Ruang Perpustakaan Dalam membangun perpustakaan, setelah adanya gedung perpustakaan unsur lainnya yang perlu dimiliki adalah ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan pada dasarnya disediakan untuk koleksi, pengguna, staf atau pegawai (pustakawan), dan keperluan lainnya.

7 Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000:18), pada dasarnya setiap perpustakaan, besar ataupun kecil memerlukan ruangan yang berikut: 1. Ruangan untuk menyimpan buku, majalah dan bahan rekaman lain 2. Ruangan untuk membaca 3. Ruangan untuk mengadakan administrasi peminjaman 4. Ruangan kerja untuk pegawai 5. Ruangan kantor kepala perpustakaan Adapun pembagian persentase yang diberikan untuk ruang-ruang tersebut menurut Soedibyo (1987:148), alokasinya sebagai berikut: % untuk keperluan pemakai % untuk keperluan koleksi % untuk keperluan ruang kerja petugas Sedangkan pembagian persentase lainnya dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:126), yaitu: Untuk perpustakaan dengan sistem terbuka maupun sistem tertutup: 1. Area untuk koleksi 45 % 2. Area untuk pengguna 25 % 3. Area untuk staf 20 % 4. Area untuk keperluan lain 10 % Dari uraian mengenai pembagian persentase di atas, area koleksi memiliki persentase yang paling besar. Hal ini menunjukkan bahwa suatu perpustakaan sebaiknya memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak sehingga kebutuhan informasi pengguna dapat terpenuhi. Dalam memfasilitasi ruangan perpustakaan perlu diperhatikan fungsi dan jenis kegiatan di ruangan tersebut. Menurut Soedibyo (1987: ), perincian perlengkapan untuk ruangan: 1. Ruang administrasi, diperlukan meja dan kursi-meja, meja dan kursi khusus untuk pengetik; mesin tik, almari, filing cabinet. 2. Ruang pelayanan teknis, memerlukan meja dan kursi petugas (sesuai dengan jumlahnya); almari, kereta buku, almari katalog, filing cabinet. 3. Gudang, diperlukan almari, rak buku. 4. Ruang penjilidan dan penggandaan. Untuk penjilidan diperlukan alat pemotong kertas, alat penjilid, alat press, gunting, dan lainnya. Untuk penggandaan diperlukan mesin stensil, meja dan kursi petugas, almari, alat fotocopy.

8 Fasilitas yang disediakan untuk tiap ruangan tentu saja berbeda-beda. Ruangan difasilitasi sesuai kebutuhan kegiatan yang dilakukan di ruangan tersebut sehingga kegiatan di perpustakaan menjadi lebih efisien dan efektif Fasilitas Ruang Baca Pada dasarnya suatu perpustakaan besar ataupun kecil memerlukan suatu ruangan yang perlu disediakan yaitu ruang baca. Suatu perpustakaan yang menggunakan sistem layanan terbuka atau open access ruang baca sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan si pengguna dapat melihat dan memeriksa sendiri koleksi perpustakaan sesuai dengan yang dicarinya atau tidak maka si pengguna membutuhkan ruang baca untuk membaca sebelum meminjam koleksi tersebut. Sebagian besar ruangan perpustakaan digunakan sebagai ruang koleksi sehingga ruang baca biasanya berdekatan dengan ruang koleksi. Hubungan antar ruangan ini perlu diperhatikan karena dapat mempermudah pengguna dalam memanfaatkan koleksi. Kenyamanan ruang baca sangat penting karena dapat membuat pembaca merasa betah berada di dalamnya. Letak ruangan sebaiknya tidak di daerah yang ramai karena dapat mengganggu pembaca. Selain itu perabotan yang digunakan juga harus bisa memberikan kenyamanan. Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000:26), Meja ruang baca yang cukup untuk empat orang pembaca berukuran 100 x 150 cm. Kursi dengan tinggi 45 cm sudah memenuhi syarat. Jika di bawah tiap-tiap kakinya dipasang karet, maka akan tercegahlah bunyi penyeretan kursi. Sedangkan ukuran meja dan kursi baca untuk satu orang menurut Yusuf dan Yaya (2007: ), Meja baca ukuran tinggi 75 cm, lebar 230 cm, dan dalam 100 cm. Kursi baca berukuran tinggi 45 cm, lebar 45 cm, dan dalam 45 cm. Berdasarkan kedua ukuran di atas, apapun bentuk maupun ukuran perabotan yang digunakan haruslah sesuai dengan kebutuhan sebab setiap perpustakaan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Perabotan dipilih sesuai dengan luas ruangan, jumlah pembaca, dan sebagainya.

9 Fasilitas Kenyamanan Ruangan Ruangan perpustakaan yang disediakan sebaiknya dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya misalnya ruang baca yang ditata dengan rapi menjadikan pengguna betah untuk berlama-lama membaca. Menurut Salim dan Yenny (2002:1045), Kenyamanan adalah suasana atau keadaan yang nyaman (tempat) sejuk, segar, bersih, menyenangkan. Dari pengertian tersebut jelas bahwa kenyamanan mengacu pada suatu keadaan yang sehat, sejuk, bersih, sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan. Kenyamanan ruangan bagi pengguna dapat mempengaruhi keinginannya untuk memanfaatkan perpustakaan. Kenyamanan tersebut tentu saja tidak dapat tercipta begitu saja tetapi dapat dicapai secara bertahap. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kenyamanan ruangan yaitu penataan ruangan, temperatur, sirkulasi udara (ventilasi), dan pencahayaan Tata Ruang Dalam merencanakan penataan ruangan perlu diperhatikan mengenai hubungan antar ruang dilihat dari segi efisiensi kerja, memberikan pelayanan, serta pengawasan kerja. Selain itu, perlu dipertimbangkan juga mengenai keserasian dalam penataan ruangan sebab akan mempengaruhi produktivitas, efesiensi, efektifitas, dan kenyamanan pengguna. Oleh karena itu sebaiknya ruangan ditata dengan baik seperti penataan ruangan yang saling berdekatan (koleksi dan tempat baca). Ada tiga jenis sistem yang dapat dilakukan dalam memberikan penataan ruang baca, ruang koleksi, dan ruang sirkulasi yang nyaman kepada pengguna, yaitu : a. Sistem tata sekat, yakni cara pengaturan ruangan perpustakaan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca pengunjung. Dalam sistem ini, pengunjung tidak diperkenankan masuk ke ruang koleksi dan petugaslah yang akan mengambilkan dan mengembalikan koleksi yang dipinjam atau dibaca di tempat itu. b. Sistem tata parak, yakni sistem pengaturan ruangan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca. Hanya saja dalam sistem ini, pembaca dimungkinkan untuk mengambil koleksi sendiri, lalu dicatat dan/atau dibaca di ruang lain yang tersedia. c. Sistem tata baur, yakni suatu cara penempatan koleksi yang dicampur dengan ruang baca agar pembaca lebih mudah mengambil dan mengembalikan sendiri (Lasa,2005: )

10 Dari ketiga sistem di atas terlihat jelas bahwa penataan ruang disesuaikan dengan sistem yang dianut oleh suatu perpustakaan. Jika perpustakaan menganut sistem pinjam terbuka (open access), dapat menerapkan sistem tata parak atau sistem tata baur sedangkan sistem tata sekat lebih cocok untuk perpustakaan yang menganut sistem pinjam tertutup (closed access). Hal ini perlu diperhatikan agar sistem yang diterapkan nantinya dapat memberikan keleluasaan bagi pengguna dalam memanfaatkan koleksi. Penataan ruangan perpustakaan perlu diperhatikan sebab dapat memikat pengunjung datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan perpustakaan. Ada beberapa aspek penataan ruangan yang perlu dipertimbangkan. Aspek tersebut menurut Darmono (2001: ) : a. Aspek fungsional Artinya bahwa penataan ruangan harus mampu mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan baik bagi petugas perpustakaan maupun bagi pengguna perpustakaan. b. Aspek psikologis pengguna Dilihat dari aspek ini tujuan penataan ruangan adalah agar pengguna perpustakaan bisa nyaman, leluasa bergerak di perpustakaan, merasa tenang. c. Aspek estetika Keindahan penataan ruangan salah satunya bisa melalui penataan ruang dan perabot yang digunakan. Penataan yang serasi, bersih dan tenang bisa mempengaruhi kenyamanan pengguna perpustakaan untuk berlama-lama berada di perpustakaan. d. Aspek keamanan bahan pustaka Dalam kaitan dengan penataan ruangan, kemanan bahan pustaka bisa dikelompokkan dalam 2 bagian. Pertama faktor keamanan bahan pustaka dari akibat kerusakan secara alamiah, dan kedua adalah faktor kerusakan/ kehilangan bahan pustaka karena faktor manusia. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek diatas, penataan ruangan dapat menjadi optimal serta dapat menunjang kelancaran tugas perpustakaan dalam memberikan layanannya Temperatur Temperatur ruangan merupakan hal yang penting dalam memberikan kenyamanan bagi pengguna serta dalam pemeliharaan dan perawatan bahan pustaka. Kestabilan temperatur perlu diperhatikan agar pengguna dalam ruangan tersebut betah dan koleksi perpustakaan dapat terhindar dari kerusakan dokumen.

11 Menurut penyelidikan, apabila temperatur lebih rendah dari 17 0 C, berarti temperatur udara berada di bawah tubuh untuk menyesuaikan diri (35% di bawah normal), maka tubuh manusia akan mengalami kedinginan (Lasa,2005:163) Dengan demikian temperatur ruangan dapat mempengaruhi lama tidaknya pengguna di dalam ruangan. Pengguna yang mengalami kedinginan ataupun kepanasan akan merasa tidak nyaman sehingga diperlukan kestabilan temperatur yang disesuaikan dengan tubuh manusia. Selain temperatur, yang perlu diperhatikan juga yaitu kelembaban. Kelembaban ini juga dapat mempengaruhi kenyamanan ruangan. Dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004:131), Tingkat pengkondisian ruang yang diinginkan ialah sebagai berikut: temperatur C (untuk ruang koleksi buku, ruang baca dan ruang kerja). Temperatur 20 0 C (untuk ruang komputer). Kelembaban 45-45%. Hal ini dilakukan agar kondisi temperatur dan kelembaban ruang perpustakaan tetap stabil serta koleksi perpustakaan dapat terjamin keawetannya Sirkulasi Udara (Ventilasi) Udara yang ada disekitar kita dikatakan kotor, jika kadar oksigen dalam udara telah berkurang atau bercampur dengan aroma bau yang dapat membahayakan kesehatan. Udara yang kotor membuat kita merasa sesak napas sehingga mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. Udara yang bersih menimbulkan kenyamanan bagi ruang perpustakaan. Udara tersebut dapat didukung dengan adanya alat pengatur suhu ruangan. Menurut Lasa (2005:168), untuk menjaga kenyamanan ruangan, diperlukan pemasangan alat pengatur suhu, misalnya: a. Memasang AC (Air Conditioning) untuk mengatur udara di dalam ruangan. b. Mengusahakan agar peredaran udara dalam ruangan itu cukup baik, misalnya dengan memasang lubang-lubang angin dan membuka jendela pada saat kegiatn di perpustakaan sedang berlangsung. c. Memasang kipas angin untuk mempercepat pertukaran udara dalam ruangan. Kecepatan pertukaran ini mempengaruhi kenyamanan udara.

12 Sedangkan dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas,2004: ), sistem ventilasi dibagi kedalam dua jenis yaitu: a. Ventilasi pasif Bangunan perpustakaan yang direncanakan dengan pemanfaatan ventilasi pasif (alam), haruslah didirikan dengan mempertimbangkan kondisi angin tempat bangunan perpustakaan tersebut dibangun. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk perancangan perpustakaan dengan ventilasi pasif adalah sebagai berikut: a. Menempatkan lubang ventilasi jendela/ lubang angin pada sisi dinding yang berhadapan. b. Mengusahakan agar lubang ventilasi tersebut sejajar dengan arah angin. c. Mengusahakan luas lubang ventilasi sebanding dengan persyaratan dan fasilitas ruang. b. Ventilasi aktif. Walaupun ventilasi pasif mungkin dianggap telah mencukupi, namun sebaiknya bangunan perpustakaan dapat direncanakan dengan menggunakan sistem ventilasi aktif atau sistem penghawaan buatan (Air Conditioning). Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa sirkulasi udara dalam ruangan perpustakaan membutuhkan fasilitas AC (Air Conditioning) dalam memberikan kenyamanan ruangan. Hal ini dilakukan karena AC tersebut dapat mengatur suhu udara sesuai kebutuhan. Biasanya AC disediakan oleh perpustakaan yang memiliki dana besar, sedangkan bagi perpustakaan kecil pengaturan sirkulasi udara melalui angin dengan jendela yang besar sudah cukup Pencahayaan Cahaya merupakan suatu getaran yang termasuk gelombang elektromagnetis yang dapat ditangkap oleh mata. Pencahayaan dalam ruang perpustakaan memerlukan cahaya yang cukup karena sebagian besar kegiatan yang ada di perpustakaan merupakan kegiatan membaca. Menurut Martoatmojo (1993:15) : Penerangan harus memadai, tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan. Sinar yang baik sebenarnya adalah sinar alam. Tetapi pengendalian sinar jenis ini sangat sukar. Kadang-kadang hari terang benderang sehingga telalu banyak sinar masuk. Sinar ini menyilaukan mata dan bahkan dapat merusak koleksi. Pada hari yang lain cuaca gelap dan buruk, sinar yang masuk ke perpustakaan kurang sehingga mengurangi kenyamanan membaca di perpustakaan. Sedangkan pencahayaan lainnya menurut Lasa (2005: ), pada dasarnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan ada dua macam yakni cahaya alami dan cahaya buatan.

13 a. Cahaya alami Cahaya alami adalah cahaya yang ditimbulkan oleh matahari dan kubah langit. Cahaya matahari yang mengandung radiasi panas itu apabila masuk ke dalam ruangan akan menyebabkan kenaikan suhu ruangan. Oleh karena itu, cahaya matahari harus dibatasi dan diusahakan tidak langsung masuk ke ruangan. Cahaya kubah langit adalah cahaya yang berasal dari kubah langit. Cahaya inilah yang banyak dimanfaatkan untuk penerangan ruangan karena tidak membawa radiasi panas secara langsung seperti sinar matahari. b. Cahaya buatan Cahaya buatan adalah cahaya yang ditimbulkan oleh benda atau gerakan benda yang dibuat oleh manusia baik yang berupa lampu TL maupun lampu pijar. Dari uraian di atas, jelas bahwa pencahayaan dapat dilakukan dengan berbagai cara Pencahayaan diatur dengan baik agar ruangan menjadi nyaman sehingga pengguna semangat untuk membaca. Kegiatan yang dilakukan di perpustakaan perlu pencahayaan sebab pencahayaan yang cukup merupakan syarat mutlak untuk melakukan kegiatan di dalam ruangan. 2.8 Fasilitas Koleksi Perpustakaan Koleksi perpustakaan merupakan salah satu komponen penting dalam mendirikan suatu perpustakaan selain pengguna, pustakawan, dana, sarana dan prasarana. Bukan perpustakaan namanya jika tidak memiliki koleksi. Indikator ukuran baik dan buruknya suatu perpustakaan sangat ditentukan oleh koleksi. Koleksi bahan pustaka harus diatur dan ditata secara sistematis agar pengguna dapat dengan mudah mencari dan menemukan koleksi yang dibutuhkannya. Koleksi yang disediakan juga harus dilengkapi dengan fasilitas koleksi yaitu rak koleksi yang menjadi syarat utama. Sebagian besar ruangan perpustakaan digunakan sebagai area atau ruang koleksi yang berisi rak buku dan meja baca. Dalam mencapai efisiensi ruangan diperlukan perancangan yang didasari mengenai penataan rak buku dan meja-kursi baca yang disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Thompson yang dikutip oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas, 2004:125), Rak satu muka, lima pagu dengan lebar 100 cm dapat memuat eksemplar buku, dan jarak antar rak cm. Dengan demikian, 1 meter 2 luas lantai dapat memuat eksemplar buku.

14 Ukuran rak buku lainnya juga dikemukakan oleh Sjahrial-Pamuntjak (2000: 22): Rak buku itu dapat dibuat dari baja atau kayu. Sebaliknya rak itu dibuat terbuka dari belakang dan tidak berpintu. Dari praktiknya ternyata ukuran yang memuaskan adalah sebagai berikut: tinggi (200 cm), lebar (100 cm), dalam (21 cm untuk rak buku biasa, 25 cm untuk rak buku referens, 30 cm untuk rak majalah. Papan yang paling bawah 10 cm dari lantai), tebal papan (21/2 cm). Dari uraian di atas, menerangkan bahwa diperlukan menghitung luas lantai dalam perencanaan dan pembinaan koleksi sehingga koleksi yang disediakan dapat terencana dengan baik untuk masa mendatang. Rak buku dirancang sedemikian rupa agar pengguna mudah untuk mengambil atau meletakkan kembali koleksi. Selain rak buku, fasilitas lainnya untuk koleksi yaitu rambu-rambu berupa petunjuk mengenai pembagian jenis koleksi misalnya mencantumkan nama atau nomor kelas koleksi di rak buku. Hal ini perlu ada karena dapat membantu pengguna dalam menemukan koleksi yang dibutuhkannya. Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan jenis suatu perpustakaan. Bagi perpustakaan perguruan tinggi, koleksi yang dimiliki adalah mengenai program atau materi mata kuliah dan materi pendukung bagi jurusan, fakultas, atau universitas tersebut sehingga tujuan perpustakaan perguruan tinggi dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat terlaksana. Koleksi perpustakaan perguruan tinggi sangat beraneka ragam. Berikut adalah ragam koleksi yang selayaknya tersedia di perpustakaan : 1. Koleksi rujukan. Koleksi rujukan merupakan tulang punggung perpustakaan dalam menyediakan informasi yang akurat. Berbagai bentuk dan jenis informasi seperti data, fakta, dan lain-lain dapat ditemukan dalam koleksi rujukan, seperti ensiklopedi umum dan khusus, kamus umum dan khusus, dan sebagainya. 2. Bahan ajar. Bahan ajar berfungsi untuk memenuhi tujuan kurikulum. Bahan ajar untuk setiap mata kuliah bisa lebih dari satu judul karena cakupan isinya yang berbeda sehingga bahan yang satu dapat melengkapi bahan yang lain. 3. Terbitan berkala. Terbitan ini memberikan informasi mutakhir mengenai keadaan atau kecenderungan perkembangan ilmu dan pengetahuan. Terbitan berkala seperti majalah umum, jurnal, surat kabar. 4. Terbitan pemerintah. Berbagai terbitan pemerintah seperti lembaran negara, himpunan peraturan negara, kebijakan, laporan tahunan, pidato resmi, dan sebagainya sering juga dimanfaatkan oleh para peneliti atau dosen dalam menyiapkan kuliahnya.

15 5. Selain terbitan pemerintah, koleksi yang menjadi minat khusus perguruan tinggi seperti sejarah daerah, budaya daerah, atau bidang khusus lainnya juga perlu diperhatikan. 6. Apabila memiliki dana yang cukup, perpustakaan sebagai sumber belajar tidak hanya menghimpun buku, jurnal, dan sejenisnya yang tercetak, tetapi juga menghimpun koleksi pandang-dengar seperti kaset video, kaset audio, dan sebagainya. 7. Bahan bacaan untuk rekreasi intelektual. Perpustakaan perguruan tinggi perlu menyediakan bahan bacaan atau bahan lain untuk keperluan rekreasi intelektual mahasiswa dan bahan bacaan lain yang memperkaya khasanah pembaca (Depdiknas, 2004:51-52) Sedangkan jenis koleksi lainnya menurut Hermawan dan Zulfikar (2006:17) : Koleksi perpustakaan dari segi isi (subjek) terdapat koleksi fiksi dan non-fiksi. Koleksi non-fiksi adalah koleksi yang bersifat ilmiah atau mengandung ilmu pengetahuan yang ditulis berdasarkan data dan fakta. Sedangkan koleksi fiksi adalah karya yang bersifat khayalan atau imajinasi pengarangnya. Dari uraian ragam koleksi di atas, tentu saja jumlah koleksi yang dimiliki tidaklah sedikit sehingga perlu diperhatikan akses temu kembali koleksi-koleksi tersebut. Koleksi yang tersedia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengguna sebab koleksi perpustakaan seperti buku, majalah, dan lainnya, merupakan sumber informasi bagi pengguna. Oleh karena itu, pengguna biasanya ke perpustakaan untuk mencari informasi yang dibutuhkannya. Semakin banyak jenis koleksi yang disediakan maka semakin banyak juga informasi yang terkandung. 2.9 Fasilitas Layanan Perpustakaan Layanan perpustakaan merupakan suatu layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Dalam Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (Depdiknas, 2004:71), Layanan perpustakaan ialah pemberian informasi dan fasilitas kepada pengguna. Dari uraian tersebut jelas bahwa layanan yang diberikan perpustakaan merupakan layanan dalam pemberian informasi, dalam hal ini informasi yang disediakan dari koleksi yang dimiliki serta layanan berupa fasilitas yang dapat digunakan oleh pengguna perpustakaan seperti fasilitas ruang baca, fasilitas layanan internet, dan lainnya. Jenis layanan yang diberikan oleh perpustakaan tergantung pada besar kecilnya suatu perpustakaan. Bagi perpustakaan yang menempati gedung tersendiri, layanan yang disediakan lebih banyak daripada perpustakaan yang menempati ruangan tersendiri.

16 Begitu juga jika ditinjau dari jenis perpustakaan, perpustakaan umum yang biasanya memiliki layanan yang bervariasi. Karena jenis koleksi yang sangat banyak dan pemakainya juga paling banyak. Layanan perpustakaan perguruan tinggi yang umum diberikan adalah sirkulasi dan referensi. Namun, ada juga perpustakaan yang menyediakan layanan internet dengan memfasilitasi beberapa komputer terpasang. Menurut Lasa (2005:213), Layanan sirkulasi yakni semua bentuk kegiatan pencatatan yang berkaitan dengan pemanfaatan, dan pemakaian koleksi dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pemakai jasa perpustakaan. Berdasarkan uraian tersebut, layanan sirkulasi memberikan kesempatan kepada pengguna dalam memanfaatkan koleksi yaitu koleksi dipinjam dan bisa dibawa keluar dari perpustakaan sesuai peraturan perpustakaan yang berlaku. Sirkulasi sering dikenal dengan bagian peminjaman dan pengembalian maupun perpanjangan koleksi. Layanan sirkulasi ini sangat penting dalam pemanfaatan koleksi sebab koleksi dapat dipinjam, dikembalikan ataupun diperpanjang melalui layanan ini sehingga diperlukan adanya fasilitas yang memadai. Layanan sirkulasi dapat dilakukan secara manual dan otomasi. Bagi sirkulasi yang masih manual biasanya dilakukan oleh perpustakaan yang masih kecil sehingga fasilitas yang disediakan juga terbatas seperti kartu buku, kartu katalog, dan sebagainya serta diperlukan tempat penyimpanan (lemari atau laci) untuk kartu-kartu tersebut maka perlu ruangan yang luas. Sedangkan sirkulasi yang terotomasi biasanya dilakukan oleh perpustakaan besar karena mampu menyediakan dana yang besar untuk otomasi sirkulasi tersebut seperti penyediaan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Dalam kegiatan sirkulasi yang terautomasi biasanya perpustakaan memfasilitasinya dengan menggunakan sistem barcode. Dalam sistem ini seluruh koleksi yang dimiliki perpustakaan dimasukkan ke dalam pangkalan data sehingga jika terjadi transaksi maka label barcode tersebut akan terbaca oleh barcode reader dan akan terhubung ke komputer. Barcode diartikan dengan kode atau simbol yang pada umumnya terdiri dari lajur-lajur atau batang-batang paralel, kadang-kadang berwarnawarni, yang berbeda-beda tebal maupun jarak antara batangnya (Lasa, 2005:216). Selain layanan sirkulasi ada juga layanan referensi yang biasanya diberikan oleh perpustakaan. Layanan referensi merupakan kegiatan dalam memberikan informasi

17 kepada pengguna dengan cepat, tepat, atau memberi bimbingan pemakai ke sumber rujukan. Layanan referensi dikenal juga dengan layanan rujukan. Layanan rujukan adalah kegiatan untuk membantu pengguna menelusur informasi dalam berbagai subjek. Dengan pelayanan ini, pengguna dibantu untuk menemukan informasi dengan cepat, menelusur informasi dengan lebih spesifik dan dengan pilihan subjek yang lebih luas, dan memanfaatkan sarana penelusuran yang tersedia secara optimal (Depdiknas, 2004:86). Dari uraian di atas, jelas bahwa layanan referensi merupakan layanan informasi yang cepat, tepat, dan akurat, serta sebagai rujukan dalam mencari informasi. Contoh koleksi referensi antara lain kamus, ensiklopedi, direktori, dan lain-lain. Oleh karena itu layanan ini diberikan secara terbatas karena beberapa pertimbangan diantaranya terbatasnya koleksi. Dalam layanan referensi, pelayanan yang diberikan merupakan layanan langsung antara pustakawan dengan penggunanya seperti menjawab pertanyaan pengguna dengan menggunakan koleksi referensi. Oleh karena itu diperlukan pustakawan yang memiliki kecakapan dan keterampilan dalam menganalisis pertanyaan karena penyampaian pertanyaan terkadang sulit dimengerti. Jika hal ini terjadi sebaiknya dicatat dalam buku khusus atau formulir/ blanko pertanyaan. Formulir tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang sama, misalnya jika pertanyaan yang diajukan sama maka menjawabnya lebih cepat dan mudah. Namun, apabila koleksi referensi tidak mampu menjawab pertanyaan kebutuhan informasi penggunanya maka dapat dijadikan sebagai penambahan judul buku referensi yang baru. Pada prinsipnya layanan perpustakaan adalah layanan jasa. Oleh karena itu perlu disadari bagi pihak pengelola perpustakaan dalam memberikan pelayanan yang baik seperti memberikan kepuasan kepada pengguna, serta ketepatan dalam menjawab pertanyaaan yang diajukan penggunanya. Bagi perpustakaan yang memiliki dana yang cukup besar biasanya selain menyediakan layanan sirkulasi dan referensi, perpustakaan juga menyediakan layanan lainnya yaitu layanan internet. Perpustakaan yang sudah memiliki fasilitas tersambung pada jaringan internet dapat memberikan pelayanan tersebut kepada penggunanya. Layanan internet diberikan kepada para pengguna perpustakaan baik dipungut biaya

18 ataupun tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, seperti setiap pengguna dapat menggunakan layanan internet satu jam/ hari. Perpustakaan yang menyediakan layanan internet haruslah memfasilitasinya dengan berbagai keperluan sesuai dengan kebutuhan pengguna, baik perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) serta fasilitas pendukung lainnya. Melalui layanan internet pengguna dapat mengakses informasi di mana pun di dunia ini yang telah terhubung dengan sistem jaringan internet tersebut Fasilitas Penelusuran Suatu perpustakaan yang mampu menyediakan koleksi sesuai dengan kebutuhan penggunanya serta mampu memberikan layanan yang cepat, tepat kepada penggunanya dapat dianggap perpustakaan yang bermutu. Bagi perpustakaan yang memiliki koleksi yang sangat banyak, agar setiap bahan pustaka dapat dengan mudah, cepat dicari dan ditemukan diperlukan pengolahan koleksi yang baik. Pengolahan tersebut dilakukan dengan membuatkan katalog sebagai alat telusur koleksi. Menurut Soeatminah (1992:96), Katalog adalah daftar pustaka (buku dan nonbuku) milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi pustaka dengan mudah dan cepat. Katalog biasanya digunakan pada perpustakaan yang mengakses koleksi secara manual. Namun, sesuai perkembangan zaman dari masa ke masa katalog mengalami perubahan yang lebih baik. Awalnya katalog hanya dapat diakses secara manual tetapi sekarang dapat diakses secara online melalui jaringan lokal (Local Area Network disingkat LAN), intranet maupun internet. Katalog yang pengaksesannya secara online merupakan katalog komputer terpasang atau disebut juga Online Public Access Catalogue (OPAC). Menurut Hasugian (2009:155), OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer yang digunakan oleh pengguna untuk menelusur koleksi suatu perpustakaan atau unit informasi lainnya. Alat penelusuran koleksi menggunakan OPAC mungkin belum banyak dimiliki oleh perpustakaan. Hal ini dikarenakan mungkin adanya keterbatasan dana yang kurang memadai ataupun keterbatasan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan OPAC tersebut.

19 Dalam memfasilitasi penelusuran peran pustakawan juga diperlukan. Pustakawan dapat berfungsi sebagai mediator bagi pengguna yaitu dengan melakukan penelusuran dan mendampingi pengguna dalam menelusur. Keberhasilan dalam penelusuran dapat ditentukan oleh sikap pustakawan dan pemahaman pada karakteristik pengguna, pengoperasian peralatan, dan pemanfaatan teknologi yang sesuai. Sintesis : Berdasarkan uraian-uraian di atas, yang dimaksud dengan ketersediaan fasilitas perpustakaan adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan pengguna dalam memanfaatkan perpustakaan serta mendukung pelaksanaan kegiatan perpustakaan agar berjalan dengan baik, dengan indikator: fasilitas gedung dan ruang perpustakaan, fasilitas koleksi, fasilitas layanan, dan fasilitas penelusuran Minat Memanfaatkan Perpustakaan Ketertarikan pengguna dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan hal yang diinginkan bagi setiap perpustakaan. Menurut Sutarno (2006:107), Minat adalah suatu keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:710), Memanfaatkan adalah menjadikan ada manfaatnya atau gunanya, dan sebagainya. Dengan demikian minat memanfaatkan berarti adanya keinginan hati untuk menjadikan sesuatu menjadi bermanfaat. Dalam hal ini sesuatu yang dimaksud adalah perpustakaan. Perpustakaan akan dimanfaatkan oleh penggunanya jika perpustakaan dapat menyediakan kebutuhan informasi untuk penggunanya. Setiap pengguna yang berkunjung ke perpustakaan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda serta frekwensi kunjungan yang berbeda pula. Selain itu peran pustakawan sangat penting sebab pustakawan dapat meningkatkan dan menanamkan kepada penggunanya bahwa betapa pentingnya mengunjungi perpustakaan terutama mengunjungi untuk memanfaatkan perpustakaan. Adapun yang menjadi pengunjung pada suatu perpustakaan tergantung pada jenis perpustakaannya. Pada perpustakaan perguruan tinggi yang menjadi pengunjung adalah sivitas akademika, khususnya mahasiswa. Pengunjung perpustakaan menurut Soedibyo

20 (1987:131), adalah pemakai aktif yang benar-benar menggunakan perpustakaan perguruan tinggi dengan memanfaatkan pelayanan informasi yang disediakan. Suatu perpustakaan yang bermanfaat atau tidak, erat kaitannya dengan pembinaan yang diberikan oleh pihak perpustakaan yaitu suatu upaya untuk mendayagunakan koleksi serta fasilitas yang disediakan untuk dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. Jika perpustakaan belum dimanfaatkan secara optimal, maka perlu diadakan pembinaan terhadap pengguna. Menurut Sutarno (2003:102), pembinaan terhadap pengguna perpustakaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Mengadakan bimbingan pemakai perpustakaan, yaitu menuntun, mengarahkan, memberikan penjelasan tentang cara-cara menggunakan kartu katalog, menelusur sumber informasi dan menggunakan pedoman perpustakaan yang lain. 2. Memberikan pendidikan pemakai, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh petugas layanan mengenai seluk-beluk perpustakaan, manfaat perpustakaan, cara menjadi anggota, persyaratan keanggotaan, tata tertib, jenis layanan, kegunaan sistem katalogisasi dan klasifikasi, partisipasi masyarakat di dalam perpustakaan. Semua itu dilakukan dalam rangka memberikan pengetahuan dan keterampilan pemakai dalam memanfaatkan perpustakaan, secara tepat dan cepat tanpa mengalami banyak kesulitan. 3. Melakukan sosialisasi, publikasi dan promosi perpustakaan. Dari uraian di atas jelas bahwa perpustakaan harus memberikan bimbingan kepada penggunanya agar dapat memanfaatkan perpustakaan secara optimal. Para pengunjung yang datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan perpustakaan merupakan sasaran utama bagi penyelenggara perpustakaan sebab dengan adanya kunjungan maka keberadaan perpustakaan tetap terjaga Tujuan Kunjungan Pengguna yang datang ke perpustakaan belum tentu memanfatakan perpustakaan sebab setiap pengguna tentu saja memiliki maksud dan tujuan tertentu seperti hanya membaca buku atau meminjam bahan pustaka saja. Tujuan kunjungan ke perpustakaan menurut Soedibyo (1987:71), untuk: 1. Keperluan tugas sekolahnya 2. Tugas studi di fakultasnya 3. Tugas research dan 4. Recreational readings

21 Berdasarkan tujuan-tujuan di atas, ternyata banyak hal yang dijadikan tujuan bagi pengguna. Tujuan kunjungan antara pengguna yang satu berbeda dengan tujuan pengguna lainnya. Pengguna akan memanfaatkan perpustakaan jika mereka memiliki keperluan seperti adanya tuntutan dalam menyelesaikan tugasnya. Bagi mahasiswa, perpustakaan akan membantunya dalam mencari bahan informai dari koleksi perpustakaan untuk menyelesaikan tugas perkuliahannya Faktor Kunjungan Pengguna yang mampu memanfaatkan perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan informasinya merupakan suatu pertanda bahwa perpustakaan tersebut sudah dapat dimanfaatkan pengguna dengan baik. Namun hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor kunjungan ke perpustakaan. Menurut Sutarno (2006:123), faktor kunjungan ke perpustakaan dipengaruhi oleh: 1. Tahu arti dan manfaatnya 2. Mereka membutuhkan sesuatu diperpustakaan 3. Tertarik dengan perpustakaan 4. Merasa senang dengan perpustakaan 5. Dilayani dengan baik. Selain faktor-faktor di atas, ada faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kunjungan ke perpustakaan yaitu: 1. Rendahnya minat baca siswa (faktor budaya). Hal ini merupakan pengaruh budaya baca masyarakat sendiri yang memang masih rendah (hasil penelitian; masih banyak rakyat yang buta huruf). 2. Kurang lengkapnya koleksi bahan pustaka (kurangnya dukungan dari yang terkait). (Barkah, 2008:2) Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keinginan pengguna dalam mengunjungi perpustakaan dalam rangka memanfaatkan perpustakaan. Pengguna hanya tertarik ke perpustakaan jika mereka merasa butuh ke perpustakaan sehingga keinginan pengguna datang ke perpustakaan juga rendah. Selain itu fasilitas yang disediakan perpustakaan juga harus mendukung agar pengguna tertarik untuk memanfaatkan perpustakaan. Dalam mengantisipasi rendahnya kunjungan pengguna dalam memanfaatkan perpustakaan maka perlu dilakukan berbagai upaya seperti menumbuhkan minat baca

22 bagi pengguna, melayani keinginan maupun kebutuhan pengguna, dan memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna, dan sebagainya. Jika hal tersebut telah dilakukan dengan baik maka pengguna perpustakaan merupakan kekuatan yang perlu dibina sehingga perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal Minat Baca Minat seseorang terhadap sesuatu merupakan adanya keinginan ataupun kesukaan akan sesuatu yang dapat membuatnya merasa senang. Minat yang sebaiknya dapat dimulai dari sejak dini yaitu minat baca. Menurut Sutarno (2006:27), Minat baca seseorang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan tertentu. Sedangkan menurut Siregar (2004:138), Minat baca berarti adanya perhatian atau kesukaan (kecenderungan hati) untuk membaca. Perhatian atau kesukaan untuk membaca merupakan keterampilan dasar untuk belajar dan untuk memperoleh kesenangan. Berdasarkan pengertian di atas, diketahui bahwa minat baca merupakan adanya ketertarikan seseorang terhadap suatu bacaan tertentu yang dianggapnya dapat memberi kesenangan. Minat baca diperoleh setelah seseorang dilahirkan yang berarti dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Minat baca perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan sebab perkembangan minat maupun budaya baca saat ini masih relatif rendah, misalnya sulitnya meluangkan waktu untuk membaca, sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja. Rendahnya minat baca juga dapat terjadi karena adanya keterbatasan kondisi ekonomi. Keterbatasan ini membuat pengguna kesulitan untuk membeli bahan bacaan. Hal ini dikemukakan oleh Sutarno (2006:258) : Kondisi sosial ekonominya belum beruntung, maka perhatian untuk membeli atau memiliki buku kurang. Jadi kebiasannya membaca di rumah juga terbatas, karena di rumah sedikit atau bahkan jarang membaca, maka minat untuk ke perpustakaan untuk membaca juga berkurang. Mereka tidak menyadari bahwa membaca di perpustakaan, tidak harus membayar. Dengan adanya perpustakaan diharapkan pengguna dapat memanfaatkan bahan bacaan yang disediakan. Setiap pengguna ataupun kelompok pengguna perpustakaan memiliki minat dan kebutuhan informasi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Maka

23 setiap perpustakaan sebaiknya perlu mnegetahui minat dan kebutuhan pengguna yang dilayaninya Kebutuhan Informasi Perpustakaan memiliki fungsi sebagai fungsi informasi, yang berarti perpustakaan merupakan wadah sumber informasi bagi pengguna informasi. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan informasi sebab informasi diperlukan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari ataupun dalam kehidupan. Dalam mendefenisikan informasi, sangat tergantung pada ilmu yang mengkajinya dan pada objek pembahasannya. Menurut Hasugian (2009:95), Informasi adalah data terpilih, terorganisasi dan teranalisis (data yang sudah diolah). Informasi merupakan hasil pengolahan data dan telah diberikan rumusan makna padanya. Informasi dapat berupa lisan maupun tulisan. Dalam hal ini informasi yang dibutuhkan pengguna perpustakaan yaitu informasi secara tulisan atau terekam, seperti buku, majalah, jurnal, dan sebagainya yang merupakan koleksi perpustakaan. Kebutuhan informasi setiap orang atau kelompok sangat banyak dan beragam, tanpa terkecuali kebutuhan informasi bagi mahasiswa. Biasanya mahasiswa lebih membutuhkan informasi yang berhubungan dengan kurikulum akademiknya. Seperti halnya pelajar, mahasiswa sangat membutuhkan pelbagai macam informasi untuk memenuhi tugas-tugas akademiknya. Hanya saja, mahasiswa harus mempunyai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dalam hal pencarian dan penguasaan informasi karena tingkat penalaran maupun tingkat kematangannya sudah tampak. Terlepas dari faktor sistem yang ada, perpustakaan perguruan tinggi umumnya lebih banyak dikunjungi para mahasiswa, baik dari perguruan tinggi yang bersangkutan maupun dari perguruan tinggi lain. Kunjungan mereka tiada lain untuk mencari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupannya sebagai mahasiswa. (Yusuf, 1995:1) Pada umumnya mahasiswa memanfaatkan perpustakaan adalah untuk mencari informasi sebagai bahan pendukung tugas akademiknya. Akan tetapi, mahasiswa juga dapat mencari informasi yang dianggapnya bermanfaat sebab tanpa informasi seseorang tidak bisa berperan banyak dalam lingkungannya. Dengan adanya kebutuhan informasi penggunanya, sebaiknya perpustakaan memiliki koleksi bahan pustaka yang lengkap.

24 Sikap Pustakawan Pustakawan merupakan komponen penting dalam mendirikan suatu perpustakaan. Pustakawan berfungsi sebagai mediator dalam memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan. Sikap pustakawan dalam melayani penggunanya dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur dalam menentukan berhasil tidaknya suatu perpustakaan menjalankan tugasnya. Pengguna yang berkunjung untuk memanfaatkan perpustakaan tentu saja memiliki kebutuhan informasi serta pribadi karakter yang berbeda-beda sehingga berbeda pula pelayanan yang diberikan pustakawan. Oleh karena itu pustakawan dituntut untuk mampu memahami kebutuhan dan karakteristik pengguna tersebut. Reputasi perpustakaan didasarkan pada jasa yang diberikan, setiap perpustakaan harus memperhatikan hubungan antara pustakawannya (yang memberi pelayanan) dengan penggunanya (yang dilayani). Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000:96-97), pekerjaan yang menghadapkan pustakawan kepada pengguna yaitu pekerjaan pelayanan kepada pengunjung. Dalam menjalankan pekerjaan pelayanan ini, perlu diusahakan: 1. Bahwa terciptanya hubungan yang baik antara petugas dengan pengunjung: sikap yang ramah dan suka membantu. 2. Bahwa dipahami oleh petugas akan kedudukannya dalam melayani kebutuhan dari kepentingan pengunjung. 3. Bahwa ditaati peraturan-peraturan pelayanan yang telah ditetapkan, baik oleh petugas maupun oleh pengunjung. 4. Bahwa dipahami oleh petugas materi apa yang ada di perpustakaan, serta caracara dan alat-alat untuk menemukannya. 5. Bahwa diketahui oleh pustakawan perpustakaan lain mana yang memiliki koleksi yang berkaitan atau bersamaan dengan koleksi perpustakaan sendiri, supaya dapat menunjuk pengunjung ke perpustakaan itu atau meminjam buku yang dicari pengunjung. Disini penting adanya kerja sama antar perpustakaan. Selain usaha-usaha di atas, sikap pustakawan dalam memberikan pelayanan merupakan hal yang penting karena interaksi langsung dengan pengguna. Pelayanan yang diberikan sebaiknya berlangsung secara cepat, tepat, serta bermanfaat. Menurut Hermawan dan Zulfikar (2006: ), menyatakan:

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAB II TINJAUAN LITERATUR BAB II TINJAUAN LITERATUR 2.1 Pengertian Perpustakaan Dalam bahasa inggris perpustakaan dikenal dengan istilah library. Istilah ini berasal dari kata latin yaitu liber atau libri artinya buku. Pengertian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan

Lebih terperinci

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Studi Persepsi Tata Ruang Perpustakaan Terhadap Tingkat Kunjungan Mahasiswa Pada Perpustakaan Perpustakaan Tata Ruang Tingkat Kunjungan Pengertian Perpustakaan Pengertian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi Untuk menunjang pendidikan di perguruan tinggi pengadaan perpustakaan akan sangat membantu mahasiswa dalam mencari informasi yang diinginkan. Yusuf

Lebih terperinci

SARANA DAN PRASARANA RUANG PERPUSTAKAAN SEBAGAI ASPEK KEKUATAN DALAM MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN

SARANA DAN PRASARANA RUANG PERPUSTAKAAN SEBAGAI ASPEK KEKUATAN DALAM MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN SARANA DAN PRASARANA RUANG PERPUSTAKAAN SEBAGAI ASPEK KEKUATAN DALAM MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN Fitri Mutia, A.KS., M.Si 1 Abstrak Dalam upaya mendukung pelaksanaan pelayanan yang prima (terbaik, memuaskan)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mengumpulkan, merawat, menyimpan, mengatur dan melestarikan bahan-bahan perpustakaan yang selanjutnya digunakan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Aria Wirata Utama, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Aria Wirata Utama, 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perpustakaan adalah sebuah ruang yang di dalamnya terdapat sumber informasi dan pengetahuan. Sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang berada di perpustakaan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SALINAN PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. koleksi tersebut disediakan agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan

BAB II KAJIAN TEORITIS. koleksi tersebut disediakan agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1. Ketersediaan Koleksi Pengertian ketersediaan koleksi menurut Sutarno (Sutarno 2007, 85) yaitu Ketersediaan koleksi perpustakaan adalah sejumlah koleksi atau bahan pustaka yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi, baik yang berupa perpustakaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAB II TINJAUAN LITERATUR BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Perpustakaan 1. Arti Perpustakaan Perpustakaan adalah unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, sekurang-kurangnya seorang pustakawan, ruangan/tempat khusus, dan koleksi

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Terdapat dua kelompok di dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang

BAB III LANDASAN TEORI. Terdapat dua kelompok di dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Konsep Dasar Sistem Terdapat dua kelompok di dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponennya atau elemennya. Pendekatan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruaan tinggi merupakan salah satu sarana dalam melaksanakan program pendidikan

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian. Identitas Responden

Kuesioner Penelitian. Identitas Responden Kuesioner Penelitian No. Kuesioner : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMOTIVASI MINAT MAHASISWA MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS MEDAN Petunjuk Pengisian 1. Penelitian ini bertujuan untuk penyusunan

Lebih terperinci

PERLUASAN GEDUNG LANTAI I PERPUSTAKAAN USU

PERLUASAN GEDUNG LANTAI I PERPUSTAKAAN USU PROPOSAL IMAJINER: PERLUASAN GEDUNG LANTAI I PERPUSTAKAAN USU Oleh : Fahrizal Halomoan, S.Sos. Pustakawan Penyelia pada Perpustakaan USU UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PERPUSTAKAAN DAN SISTEM INFORMASI 2008

Lebih terperinci

Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1

Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1 Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1 Oleh: Ir. Abdul R. Saleh, M.Sc dan Drs. B. Mustafa, M.Lib. 2 PENDAHULUAN Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem dari sistem pendidikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi Pengertian perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi atau Sekolah Tinggi, Akademi atau Sekolah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan merupakan tempat untuk untuk menyimpan dan memberikan sebuah informasi kepada pemustaka. Selanjutnya informasi tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Menurut F.Rahayuningsih dalam bukunya pengelolaan perpustakaan (2007 : 12) menyatakan bahwa, kegiatan-kegiatan pokok perpustakaan sebagai berikut : 1. Pengembangan

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara 2.1. Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1. Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Secara umum, pengertian perpustakaan adalah suatu ruangan yang berisi buku-buku yang disusun berdasarkan sistem tertentu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. Perpustakaan sebagai sarana pendidikan untuk mendidik diri sendiri atau. Menurut (Sutarno 2003, 32), perpustakaan umum adalah:

BAB II KAJIAN TEORITIS. Perpustakaan sebagai sarana pendidikan untuk mendidik diri sendiri atau. Menurut (Sutarno 2003, 32), perpustakaan umum adalah: BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Umum Perpustakaan sebagai sarana pendidikan untuk mendidik diri sendiri atau dengan kata lain untuk mendapatkan pendidikan nonformal, mempunyai tugas untuk menghimpun,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN I. UMUM Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang

Lebih terperinci

Mengukur Kualitas Perpustakaan Sekolah Menggunakan :

Mengukur Kualitas Perpustakaan Sekolah Menggunakan : Mengukur Kualitas Perpustakaan Sekolah Menggunakan : Standard Nasional Perpustakan Sekolah & Borang Akreditasi Perpustakaan Sekolah Oleh : Zulfa Kurniawan, SIP Pustakawan BPAD DIY Untuk mengukur kualitas

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan merupakan salah satu sumber yang berperan penting pada lembaga pendidikan. Menurut UU 43 tahun 2007 perpustakaan terdiri dari perpustakaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Antara Penataan Ruang Perpustakaan Dengan Minat Belajar Siswa Di Perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Antara Penataan Ruang Perpustakaan Dengan Minat Belajar Siswa Di Perpustakaan BAB I PENDAHULUAN Bab I membahas mengenai latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi dari penelitian yang berjudul Hubungan

Lebih terperinci

Nomor Induk Mahasiswa :. Jenis Kelamin :.

Nomor Induk Mahasiswa :. Jenis Kelamin :. Lampiran 1 ANGKET PENELITIAN Analisis Tingkat Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Perpustakaan dengan Menggunakan Metode LibQual (Studi Kasus pada Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh) Dengan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN PUSKESMAS KUSUMA BANGSA KOTA PEKALONGAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN PUSKESMAS KUSUMA BANGSA KOTA PEKALONGAN BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN PUSKESMAS KUSUMA BANGSA KOTA PEKALONGAN A. Sejarah Singkat Perpustakaan Puskesmas Kusuma Bangsa Kota Pekalongan Perpustakaan Puskesmas Kusuma Bangsa Kota Pekalongan merupakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATAPENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN...1 BAB IIKEANGGOTAAN... 2 BAB IIIHAK DAN KEWAJIBAN... 3 BAB IVPELAYANAN...

DAFTAR ISI. KATAPENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN...1 BAB IIKEANGGOTAAN... 2 BAB IIIHAK DAN KEWAJIBAN... 3 BAB IVPELAYANAN... DAFTAR ISI KATAPENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN......1 BAB IIKEANGGOTAAN... 2 BAB IIIHAK DAN KEWAJIBAN... 3 BAB IVPELAYANAN... 4 BAB VSANKSI DAN TAGIHAN... 8 BAB VIKOLEKSI... 9 BAB VII

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

BAB IV GAMBARAN UMUM UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG BAB IV GAMBARAN UMUM UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 4.1 Sejarah dan Perkembangan UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang Politeknik Negeri Semarang awal mulanya merupakan bagian dari Universitas

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN SEKOLAH DASAR/ MADRASAH IBTIDAIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN

Lebih terperinci

MAKALAH PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

MAKALAH PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH MAKALAH PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Dosen Pengampu : Nanik

Lebih terperinci

SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH

SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH Disampaikan pada : Pelatihan Pengelolaan dan Pengembangan Perpustakaan Sekolah se Wilayah Gugus Tugas SDN Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Malang Oleh

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG

BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG 2.1 Sejarah Universitas Sahid Surakarta Universitas Sahid merupakan suatu lembaga perguruan tinggi swasta di kota Surakarta yang didirikan oleh Prof. DR. H. Sukamdani Sahid

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORETIS

BAB II URAIAN TEORETIS BAB II URAIAN TEORETIS A. Penelitian Terdahulu Penelitian Astuti (2002) melakukan penelitian dengan judul "Faktor- Faktor yang mendorong minat Mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO A. Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan Perpustakaan Fakultas Sastra berdiri seiring dengan berdirinya Fakultas Sastra Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 salah satu tujuan berdirinya negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusahakan

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERPUSTAKAAN STKIP SILIWANGI TAHUN ANGGARAN 2016

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERPUSTAKAAN STKIP SILIWANGI TAHUN ANGGARAN 2016 RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERPUSTAKAAN STKIP SILIWANGI TAHUN ANGGARAN 2016 NO 1 2 BIDANG GARAPAN Kegiatan Layanan Kegiatan Pengembangan TIK URAIAN KEGIATAN Jasa yang diberikan

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perpustakaan umum merupakan salah satu pusat informasi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi utama yaitu menghimpun, memelihara, melestarikan, mengolah dan menyajikan

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

2017, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.699, 2017 PERPUSNAS. Perpustakaan Kabupaten/Kota. Standar Nasional. PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Sekolah Perpustakaan pada hakekatnya dapat berperan penting dalam menyediakan berbagai informasi yang sesuai dengan kebutuhan dari pengguna perpustakaan itu sendiri.

Lebih terperinci

STANDAR SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN

STANDAR SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN Lampiran Surat Keputusan Ketua STMIK KHARISMA Makassar Nomor: 580/B/STMIK Ketua/VIII/2016 A. Dasar 1. Undang undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi 2. Peraturan Menteri

Lebih terperinci

PERPUSTAKAAN BAITUL HIKMAH

PERPUSTAKAAN BAITUL HIKMAH PERPUSTAKAAN BAITUL HIKMAH SMA Insan Cendekia Al Muslim Yayasan Al Muslim PENDAHULUAN Peningkatan mutu pendidikan Sekolah menengah Atas telah menjadi kebijakan pemerintah yang harus diwujudkan sebaik-baiknya.

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PROVINSI

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PROVINSI SALINAN PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PROVINSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan kampus. Penggunanya adalah sivitas akademika perguruan tinggi tersebut. Adapun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan sejumlah perangkat personalia, gedung, koleksi, serta anggarannya

BAB I PENDAHULUAN. dengan sejumlah perangkat personalia, gedung, koleksi, serta anggarannya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan masyarakat nonformal yang diselenggarakan dengan tujuan melayani masyarakat secara luas dan merata dengan menyediakan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 30 BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 4.1 Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Usaha pendirian Perpustakaan Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN IKIP PGRI SEMARANG. A. Sejarah Perpustakaan IKIP PGRI Semarang

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN IKIP PGRI SEMARANG. A. Sejarah Perpustakaan IKIP PGRI Semarang BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN IKIP PGRI SEMARANG A. Sejarah Semarang Berdasarkan buku Pedoman Pendidikan Sejarah Perjuangan PGRI (1998), sejarah IKIP PGRI Semarang berdiri pada tahun 1981 yang pada

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. dari layanannya terhadap pengguna sebagai penikmat jasa perpustakaan.

BAB II KAJIAN TEORITIS. dari layanannya terhadap pengguna sebagai penikmat jasa perpustakaan. 1 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Pelayanan Perpustakaan 1. Pengertian Pelayanan Perpustakaan Perpustakaan merupakan sebuah organisasi yang menawarkan jasa bukan produk. Perpustakaan harus melayani penggunaannya

Lebih terperinci

PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PUSAT PELAYANAN JASA INFORMASI

PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PUSAT PELAYANAN JASA INFORMASI MAKALAH PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PUSAT PELAYANAN JASA INFORMASI Oleh, ~$i;fl!j[~/\~fi':&'-k!! --,: d I(ny 9; '.C, bl 9.:,., :.:\ ~ ; I,:. 1,,,.t:i, ~ tm-fip\s!,,;l[:f\hp,s\ - 1. 1 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu lembaga pendidikan yang berupa tempat penyimpanan koleksi baik tercetak maupun terekam, dan mengelolanya secara sistematis

Lebih terperinci

BAB III PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB III PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA BAB III PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA 3.1 Gambaran Umum Perpustakaan dan Arsip Pemerintah Provinsi Sumatera Utara 3.1.1 Sejarah Perpustakaan

Lebih terperinci

PELAYANAN PENGGUNA PADA PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI MEDAN

PELAYANAN PENGGUNA PADA PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI MEDAN PELAYANAN PENGGUNA PADA PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI 3.1 Sejarah Singkat Perpustakaan MEDAN Perpustakaan Politeknik Negeri Medan didirikan pada tahun 1983 dengan nama Perpustakaan Politeknik. Pada tahun

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Persepsi 2.1.1 Pengertian Persepsi Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dan situasi lingkunganya. Dengan kata lain, tingkah laku seseorang

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017 PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN PERPUSTAKAAN DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN GUBERNUR KALIMANTAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perguruan tinggi merupakan suatu lembaga pendidikan dimana didalamnya terdapat perpustakaan. Perpustakaan

Lebih terperinci

INSTRUMEN PENILAIAN DALAM RANGKA LOMBA PERPUSTAKAAN MADRASAH TINGKAT KOTA SEMARANG TAHUN 2016

INSTRUMEN PENILAIAN DALAM RANGKA LOMBA PERPUSTAKAAN MADRASAH TINGKAT KOTA SEMARANG TAHUN 2016 Kuesioner INSTRUMEN PENILAIAN DALAM RANGKA LOMBA PERPUSTAKAAN MADRASAH TINGKAT KOTA SEMARANG TAHUN 2016 Petunjuk pengisian 1. Kuesioner ini dimaksudkan untuk memperoleh data sehubungan dengan Lomba Perpustakaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan merupakan sebuah gedung yang didalamnya terdapat banyak koleksi, baik berupa koleksi tercetak (buku) maupun koleksi non tercetak (koleksi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. (Sulistyo-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. (Sulistyo- BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan

Lebih terperinci

Dasar-dasar Layanan Perpustakaan

Dasar-dasar Layanan Perpustakaan Modul 1 Dasar-dasar Layanan Perpustakaan Lisda Rahayu, S.S., M.Hum. P PENDAHULUAN ada prinsipnya semua kegiatan yang dilakukan di perpustakaan ditujukan untuk pemakai perpustakaan. Kegiatan perpustakaan

Lebih terperinci

PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI. Perpustakaan merupakan sumber belajar yang amat

PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI. Perpustakaan merupakan sumber belajar yang amat PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI A. Pendahuluan Perpustakaan merupakan sumber belajar yang amat penting dan wajib dimiliki oleh semua perguruan tinggi untuk mendorong proses

Lebih terperinci

Peran Pengelola Perpustakaan dalam Memberikan Pelayanan Bimbingan Pemakai di Universitas Ida Banjumi Wahab Palembang

Peran Pengelola Perpustakaan dalam Memberikan Pelayanan Bimbingan Pemakai di Universitas Ida Banjumi Wahab Palembang Available online at http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/intelektualita Peran Pengelola Perpustakaan dalam Memberikan Pelayanan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Iis Naeni Sabila, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Iis Naeni Sabila, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi yang begitu pesat saat ini menuntut pusat-pusat informasi mengimbangi perkembangan tersebut dengan terus belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial, artinya keberadaan manusia sangat bergantung kepada individu-individu lain yang berada disekitarnya, hal ini terbukti dengan adanya

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pertanyaan:

Lampiran 1. Pertanyaan: Lampiran 1 KUISIONER PENELITIAN Dengan Hormat Saya mengharapkan kesediaan saudara untuk berpartisipasi dalam mengisi kuesioner berikut ini dalam rangka pelaksanaan penelitian tentang Persepsi Mahasiswa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dan studi. Selanjutnya pasal 8 dari Peraturan Presiden No. 20, 1961

BAB II LANDASAN TEORI. dan studi. Selanjutnya pasal 8 dari Peraturan Presiden No. 20, 1961 digilib.uns.ac.id BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan ialah kumpulan buku-buku yang diorganisasi sedemikian rupa untuk dipergunakan bagi keperluan membaca, konsultasi, dan studi.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan perguruan Tinggi Dalam sebuah perguruan tinggi, kedudukan perpustakaan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Pelayanan 2.1.1 Pengertian Kualitas Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN KHUSUS DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu sarana dalam melaksanakan program pendidikan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perpustakaan merupakan sebuah pelayanan, tidak ada perpustakaan jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama yang ada di perpustakaan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, perpustakaan sebagai salah satu lembaga

Lebih terperinci

MANFAAT PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA UPT PERPUSTAKAAN UNIMA UNTUK TEMU KEMBALI INFORMASI OLEH MAHASISWA FAKULTAS MIPA

MANFAAT PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA UPT PERPUSTAKAAN UNIMA UNTUK TEMU KEMBALI INFORMASI OLEH MAHASISWA FAKULTAS MIPA MANFAAT PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA UPT PERPUSTAKAAN UNIMA UNTUK TEMU KEMBALI INFORMASI OLEH MAHASISWA FAKULTAS MIPA Oleh: Abd Manaf Mamonto Antonius M. Golung (e-mail: abdmanafmamonto@gmail.com) Abstrak

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di suatu P.T perguruan tinggi. Sesuai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam menyususn tugas akhir ini penulis merujuk pada beberapa karya tulis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam menyususn tugas akhir ini penulis merujuk pada beberapa karya tulis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Dalam menyususn tugas akhir ini penulis merujuk pada beberapa karya tulis berupa tugas akhir, laporan kuliah kerja lapangan, laporan penelitian jurnal dan

Lebih terperinci

TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH

TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH Disusun sebagai UJIAN UAS Mata Kuliah : Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Dosen Pengampu : Nanik

Lebih terperinci

Tugas Tutorial Mata Kuliah: Pengolahan Terbitan Berseri RANGKUMAN MODUL 6 PUST2250 (BUKU MATERI PENGOLAHAN TERBITAN BERSERI) Dibuat Oleh:

Tugas Tutorial Mata Kuliah: Pengolahan Terbitan Berseri RANGKUMAN MODUL 6 PUST2250 (BUKU MATERI PENGOLAHAN TERBITAN BERSERI) Dibuat Oleh: Tugas Tutorial Mata Kuliah: Pengolahan Terbitan Berseri RANGKUMAN MODUL 6 PUST2250 (BUKU MATERI PENGOLAHAN TERBITAN BERSERI) Dibuat Oleh: Disusun Oleh: Nama : Heri Purnomo NIM : 015856697 Pokjar : Wonogiri

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG. Awal berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kusuma

BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG. Awal berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kusuma BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG 2.1 Sejarah Awal berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kusuma Husada Surakarta dimulai oleh berdirinya Akademi Keperawatan (AKPER) dan Akademi Kebidanan (AKBID)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Bab I ini terdiri atas enam sub bab, yaitu: latar belakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan struktur

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Perpustakaan sebagai media sumber belajar peserta didik berperan penting terhadap mutu pendidikan peserta didik. Implementasi manajemen perpustakaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Umum Perpustakaan Umum adalah Perpustakaan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum (Syarial-Pamuntjak 2000,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perpustakaan merupakan salah satu sarana dan sumber belajar yang efektif

BAB I PENDAHULUAN. Perpustakaan merupakan salah satu sarana dan sumber belajar yang efektif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perpustakaan merupakan salah satu sarana dan sumber belajar yang efektif bagi perluasan pengetahuan melalui informasi yang disuguhkan berupa beraneka bahan bacaan.

Lebih terperinci

A. Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan SMP Islam Al-

A. Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan SMP Islam Al- BAB II DESKRIPSI TEMPAT MAGANG A. Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan SMP Islam Al- Abidin SMP Islam Al-Abidin adalah Sekolah Menengah Pertama Islam yang berdiri dibawah naungan Yayasan Al-Abidin Surakarta.

Lebih terperinci

FORM ISIAN DATA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM RANGKA PEMBUATAN NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN (NPP)

FORM ISIAN DATA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM RANGKA PEMBUATAN NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN (NPP) FORM ISIAN DATA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM RANGKA PEMBUATAN NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN (NPP) Petunjuk Pengisian : 1. Isilah kuesioner ini dengan huruf kapital secara lengkap dan jelas 2. Beri tanda

Lebih terperinci

KAJIAN PENGADAAN KOLEKSI UPT PERPUSTAKAAN DALAM MENYEDIAKAN INFORMASI YANG DI BUTUHKAN OLEH MAHASISWA UNIVERSITAS SAM RATULANGI

KAJIAN PENGADAAN KOLEKSI UPT PERPUSTAKAAN DALAM MENYEDIAKAN INFORMASI YANG DI BUTUHKAN OLEH MAHASISWA UNIVERSITAS SAM RATULANGI KAJIAN PENGADAAN KOLEKSI UPT PERPUSTAKAAN DALAM MENYEDIAKAN INFORMASI YANG DI BUTUHKAN OLEH MAHASISWA UNIVERSITAS SAM RATULANGI Oleh: Magritha Tular email: magrithatular@yahoo.com Abstrak Perpustakaan

Lebih terperinci

Gubernur Jawa Barat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

Gubernur Jawa Barat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, 1 Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 81 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan yang dikenal sebagai pusat informasi berorientasi untuk mendistribusikan informasi kepada pengguna. Salah satu cara dalam mendistribusikan informasi

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN 1 RE-LAYOUT TATA RUANG PERPUSTAKAAN PADA KANTOR PERPUSTAKAAN ARSIP DAN DOKUMENTASI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

KUESIONER PENELITIAN 1 RE-LAYOUT TATA RUANG PERPUSTAKAAN PADA KANTOR PERPUSTAKAAN ARSIP DAN DOKUMENTASI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI KUESIONER PENELITIAN 1 RE-LAYOUT TATA RUANG PERPUSTAKAAN PADA KANTOR PERPUSTAKAAN ARSIP DAN DOKUMENTASI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Dengan segala kerendahan hati, saya mohon kesediaan bapak/ibu/saudara/i

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan diantaranya melalui peningkatan pendidikan. Hal ini diwujudkan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN MAGANG

BAB III PELAKSANAAN MAGANG BAB III PELAKSANAAN MAGANG 3.1 Pengenalan Lingkungan Kerja Penulis memulai praktek pelaksanaan kerja atau magang pada Kantor Pusat Perum BULOG selama satu bulan yang dimulai dari tanggal 01 sampai dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Suatu perguruan tinggi dikatakan baik apabila didukung berbagai sarana dan prasarana yang mendukung tercapainya program perguruan tinggi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berarti kumpulan buku-buku (Daryanto, 1986: 1). Dalam bahasa inggris perpustakaan disebut library, istilah ini berasal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berarti kumpulan buku-buku (Daryanto, 1986: 1). Dalam bahasa inggris perpustakaan disebut library, istilah ini berasal digilib.uns.ac.id 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perpustakaan -pustaka- yang berarti kumpulan buku-buku (Daryanto, 1986: 1). Dalam bahasa inggris perpustakaan disebut library, istilah ini berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dunia berkembang sangat pesat dan telah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan dan profesi.

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi adalah susunan data menurut kelas-kelas tertentu (Hasan,

Lebih terperinci

Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa

Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa Dosen Pengampu : Nanik Arkiyah, M.IP Oleh : Novie Arista 1300005306/ 7A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS BAB II KAJIAN TEORITIS 2.6 Perpustakaan Perguruan Tinggi 2.6.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu jenis perpustakaan yang digunakan sebagai pusat

Lebih terperinci

SARANA DAN PRASARANA DI PERPUSTAKAAN SD NEGERI KOTAGEDE 3 YOGYAKARTA

SARANA DAN PRASARANA DI PERPUSTAKAAN SD NEGERI KOTAGEDE 3 YOGYAKARTA SARANA DAN PRASARANA DI PERPUSTAKAAN SD NEGERI KOTAGEDE 3 YOGYAKARTA LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Program Studi Ilmu Perpustakaan D3 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya

Lebih terperinci

PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN LITERASI INFORMASI SISWA

PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN LITERASI INFORMASI SISWA PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN LITERASI INFORMASI SISWA Oleh: ROSITA DEWI 1300005347 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURUSEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat di era informasi. Hal ini timbul karena kebutuhan manusia mengalami peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang juga sekaligus sebagai asset bangsa yang nantinya kelak akan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang juga sekaligus sebagai asset bangsa yang nantinya kelak akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa merupakan salah satu bagian dari sumber daya manusia di Indonesia yang juga sekaligus sebagai asset bangsa yang nantinya kelak akan menjadi generasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi ini kebutuhan akan teknologi informasi terutama pada sebuah sistem aplikasi sangatlah penting bagi suatu lembaga pengelola informasi. Salah satu

Lebih terperinci