RUMAH ADAT TULUNGAGUNG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RUMAH ADAT TULUNGAGUNG"

Transkripsi

1 RUMAH ADAT TULUNGAGUNG 1. Pembahasan Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasadisebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Rumah Jawa adalaharsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. Joglo (atap joglo) atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk Rumah JogloMemiliki ciri; Atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). 2. Limasan (atap limas), yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentu krumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper,serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk bentuk sinom, kutukan gambang,lambing gantung, trajumas, danlain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal Jenis-jenis Rumah Joglo: 1.Joglo Lawakan

2 2.Joglo Sinom 3.JogloJompongan 4.Joglo Pangrawit 5.Joglo Mangkurat 6.Joglo Hageng 7.Joglo Semar Tinandhu 3. LIMASAN JENIS-JENIS RUMAH LIMASAN: 1. Limasan Lawakan 2.Limasan Gajah Ngombe 3.Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5.Limasan Pacul Gowang 6.Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8.Limasan Gajah Mungkur 9.Limasan Klabang Nyander 10.Limasan Lambang Teplok 11.Limasan Semar Tinandu 12.Limasan Lambang Sari 13.Limasan Semar Pinondhong, ontoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon

3 Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja,melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet,sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug,itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci,umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta,sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuatberbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang: bentuk kampong - pendopo: bentuk joglo - pringgitan: bentuk limasan - dalem: bentuk joglo - gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang - dapur: bentuk kampong

4 - dan lain-lain. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagian- bagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu, misalnya : - emper depan: untuk Pendopo - ruang tengah: untuk tempat pertemuan keluarga - emper kanan-kiri: untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan - emper yang lain: untuk gudang dan dapur. Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yangberkolong. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir.dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua bagiankerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur,brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, sakaguru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati.arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawasendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Kedutaan BesarIndonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hattamempunyai arsitektur tradisional Jawa. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa sebagaimana halnya Balidan daerah lain adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar.yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengandinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unitbangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar salingmengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur bangunannyamerupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payungyang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untukdiungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar danjujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya.

5 Demikian pula bahan-bahanbangunannya, semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping ituarsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yangsangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruangdan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropisyang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusiayang memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yanglega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untukpenyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkalimemiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu,peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia danbinatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. Dalam masyarakat Jawa, susunan rumah dalam sebuah rumahtangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. Selain rumah tempattinggal (induk), yaitu tempat untuk tidur, istirahat anggota keluarga,terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan laindai keluarga tersebut. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa,terletak di depan rumah tempat tinggal, digunakan untuk menerima tamu.rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal, diantara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. Pringgitanialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayangkulit, bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan, khitanan, dansebagainya). Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan dipendapa, sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. Susunanrumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa, misalnyaistana Ratu Boko di dekat Prambanan. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu,disamping bangunan rumah tersebut, tempat tinggalnya (rumah) masihdilengkapi dengan bangunan lainnya, misal: lumbung, tempat menyimpanpadi dan hasil bumi lainnya. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Letaknya agak berjauhan. Dapur (pawon) terletak di sebelahkiri rumah belakang (omah buri), tempat memasak. Lesung, rumahtempat menumbuk padi. Terletak di samping kiri atau kanan rumahbelakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadangkadangterdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. Kandang,untuk tempat binatang ternak (sapi, kerbau, kuda, kambing, angsa,itik,ayam dan sebagainya). Untuk ternak

6 besar disebut kandang, untukternak unggas, ada sarong (ayam), kombong (itik, angsa); untuk kudadisebut gedhongan. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa,namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela olehhalaman yang luas. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau kekanan kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelahkiri agak jauh dari pendhapa. Kadang-kadang terdapat peranginan, ialah bangunan rumah kecil,biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa.peranginan ini bagi pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda ataularag, dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar daripemiliknya. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebutjambang, berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur ataubelakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Demikian pula tempatbuang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumahsendiri. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur,rumah belakang, sumur dan pendhapa. Pintu masuk pekarangan seringdibuat Regol. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkapuntuk sebuah keluarga. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuankeluarga. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawaadala rumah belakang, pringgitan, pendapa, gadhok (tempat parapelayan), lumbung, kandhang, gedhogan, dapur, pringgitan, topengan,serambi, bangsal, dan sebagainya. Besar kecilnya maupun jenisbangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosialpemiliknya didalam masyarakat. Arsitektur tradisional Tulungagung adalah warisan budaya di daerah Jawa Timur. Meskipun induknya adalah arsitektur Jawa, ternyata memiliki penampilan yang berbeda. Meskipun rumah tinggal tradisonal diciptakan dan didukung oleh masyarakat yang secara keseluruhan dapat dikatakan memeluk agama yang sama, yakni agama islam, namun ternyata masyarakat ini memiliki kiblat (orientasi) budaya yang berbeda. Pada lapisan atas masyarakatnya berkiblat kearah kebudayaan Melayu. Hal yang demikian ternyata akan nampak ada penampilan rumah tinggal tradisonalnya.

7 2. Elemen arsitektur dan susunan Pada arsitektur tradisional masih mempertahankan ciri khasnya, seperti kolom yang sampai sekarang masih bisa bertahan. Karena masih menggunakan kayu jati dengan diameter yang cukup besar sehingga sampai sekarang masih berdiri dengan kokoh. Dan pada umumnya semua ornamen atau bahan bangunannya masih menggunakan kayu jati. Seperti terlihat pada kuda kuda bangunan, pintu, dan jendela yang masih menggunakan kayu jati. Sehingga kekuatannya masih cukup untuk berdiri kokoh sampai sekarang. 3. Karakteristik Bentuk dan Ruang Arsitektural Pada rumah adat tulungagung ini karakteristiknya masih mempertahankan arsitektur tradisional. Dimana tiap tiap ruangnya memiliki nama dan luasan yang berbeda dengan rumah modern. Seperti misalnya ruang tamu yang pada rumah adat tulungagung disebut balai dan mempunyai fungsi sebagai tempat pertemuan. Sehingga luasannya pun lebih luas. Dan untuk ruang keluarga disebut kampung. Karena menurut kepercayaan kampung merupakan tempat berkumpulnya anggota keluarga, sehingga di luar anggota keluarga tidak diperbolehkan memasuki kampung kecuali atas izin pemilik. Dan kampung terdiri dari kamar kamar tidur yang disebut centong. Dengan luasan per centong hanya 1,5 x 2 maka centong hanya cukup untuk manampung 1 orang saja. Sedangkan untuk dapur dan kamar mandi tempatnya dipisahkan karena menurut mereka kamar mandi adalah tempat membuang sedangkan dapur adalah tempat untuk menghasilkan makanan. Jadi harus dipisah. Sehingga pada rumah adat ini kamar mandinya berada di luar bangunan utama sehingga terpisah dari rumah.

8 4. Keunikan dari obyek arsitektur Keunikan pada rumah adat tulungagung ini ada pada nama nama dan organisasi ruang. Dan juga untuk memberi nama dan fungsi orang dulu biasanya memperhatikan kepercayaan kepercayaan yang mereka anut sehingga mereka tidak asal dalam menempatkan ruangan. Seperti penempatan kamar mandi diluar rumah. Mereka mempercayai bila kamar mandi berada di luar rumah maka rezeki mereka tidak terganggu. Jadi penempatannya di lakukan di luar rumah.

SPA V ARSITEKTUR JAWA TIMUR (TULUNGAGUNG) DOSEN : HERU SUBIANTORO, ST.,MT. Disusun oleh CHRIS ANDISTYA ( )

SPA V ARSITEKTUR JAWA TIMUR (TULUNGAGUNG) DOSEN : HERU SUBIANTORO, ST.,MT. Disusun oleh CHRIS ANDISTYA ( ) SPA V ARSITEKTUR JAWA TIMUR (TULUNGAGUNG) DOSEN : HERU SUBIANTORO, ST.,MT Disusun oleh CHRIS ANDISTYA (0851010086 ) UPN VETERAN JAWA TIMUR FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DANSIPIL JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

Lebih terperinci

NURYANTO PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR-S1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

NURYANTO PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR-S1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA NURYANTO PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR-S1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2016-2017 ARSITEKTUR NUSANTARA-AT. 311 PERTEMUAN KE SEBELAS SENIN, 28 NOVEMBER

Lebih terperinci

VERNAKULAR-TA.428-SEMESTER GENAP-2007/2008 JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR-S1 FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

VERNAKULAR-TA.428-SEMESTER GENAP-2007/2008 JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR-S1 FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA ARSITEKTUR TRADISIONAL NURYANTO, S.Pd., M.T.Ars. ARSITEKTUR VERNAKULAR-TA.428-SEMESTER GENAP-2007/2008 JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR-S1 FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2 0 1 0 Ilmu yang mempelajari

Lebih terperinci

Tugas I PERANCANGAN ARSITEKTUR V

Tugas I PERANCANGAN ARSITEKTUR V Tugas I PERANCANGAN ARSITEKTUR V Buyung Hady Saputra 0551010032 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN SURABAYA 2011 Rumah Adat Joglo 1. Rumah Joglo Merupakan rumah

Lebih terperinci

PUSAT PERAWATAN KULIT DAN SPA TRADISIONAL UNTUK WANITA DI YOGYAKARTA BERDASARKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA

PUSAT PERAWATAN KULIT DAN SPA TRADISIONAL UNTUK WANITA DI YOGYAKARTA BERDASARKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT PERAWATAN KULIT DAN SPA TRADISIONAL UNTUK WANITA DI YOGYAKARTA BERDASARKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK MEMENUHI

Lebih terperinci

Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional masyarakat Jawa yang berkembang sejak abad ke- 13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu:

Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional masyarakat Jawa yang berkembang sejak abad ke- 13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu: Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional masyarakat Jawa yang berkembang sejak abad ke- 13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu: 1. Joglo (atap joglo) 2. Limasan (atap limas) 3. Kampung (atap pelana)

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN BENTUK DALAM ARSTEKTUR DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA

BAB III TINJAUAN BENTUK DALAM ARSTEKTUR DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA BAB III TINJAUAN BENTUK DALAM ARSTEKTUR DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA Taman budaya merupakan suatu komplek yang terdiri dari gedung pertunjukan indoor dan tatanan ruang luar sebagai taman sekaligus ruang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI Halaman Judul.. Halaman Pengesahan Halaman Pernyataan Prakata... Daftar Isi... Daftar Gambar. Daftar Tabel. Daftar Lampiran.. Daftar Istilah Intisari... Abstract. i ii iii iv vii x xii xii xiii

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIKAL

BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIKAL BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIKAL Dalam Bab 3 dijelaskan beberapa teori dan pustaka mengenai perencanaan dan perancangan Galeri Arsitektur, sebagai berikut: Teori: Teori Fasad (Definisi

Lebih terperinci

KAJIAN OBJEK ARSITEKTUR JAWA TIMUR

KAJIAN OBJEK ARSITEKTUR JAWA TIMUR FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR UPN VETERAN JAWA TIMUR KAJIAN OBJEK ARSITEKTUR JAWA TIMUR RUMAH JOGLO PONOROGO RACHMAT RAMADHAN 0851010011 11 BAB 1 PEMBAHASAN UMUM Ponorogo

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Kebudayaan Islam seperti kebudayaan lainnya, tidak muncul dari ketiadaan, tetapi didahului oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang

PENDAHULUAN Kebudayaan Islam seperti kebudayaan lainnya, tidak muncul dari ketiadaan, tetapi didahului oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang PENDAHULUAN Kebudayaan Islam seperti kebudayaan lainnya, tidak muncul dari ketiadaan, tetapi didahului oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang menjadi elemen-elemen dasarnya, kebudayaan tersebut adalah budaya

Lebih terperinci

RUMAH TRADISIONAL JAWA

RUMAH TRADISIONAL JAWA Arsitektur Tradisional Jawa ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH TRADISIONAL JAWA Merupakan pengamatan tentang berbagai hal mengenai sistem komunikasi arsitektural yang terjadi di kalangan masyarakat jawa. Rasa

Lebih terperinci

ARSITEKTURAL KALIANDRA (PASURUAN)

ARSITEKTURAL KALIANDRA (PASURUAN) ARSITEKTUR VERNAKULAR JAWA TIMUR ARSITEKTURAL KALIANDRA (PASURUAN) SAVITRI KUSUMA WARDHANI 0851010059 Arsitektur vernakular adalah istilah yang digunakan untuk mengkategorikan metodekonstruksi yang menggunakan

Lebih terperinci

MAKNA PENDHAPA AGENG MANGKUNEGARAN SEBAGAI BANGUNAN ADAT JAWA

MAKNA PENDHAPA AGENG MANGKUNEGARAN SEBAGAI BANGUNAN ADAT JAWA MAKNA PENDHAPA AGENG MANGKUNEGARAN SEBAGAI BANGUNAN ADAT JAWA Wisnu Adisukma Staf Pengajar Jurusan Seni Rupa Murni, FSRD, ISI Surakarta wishnoeadhie@gmail.com ABSTRAK Artikel ini mengulas tentang makna

Lebih terperinci

STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH JOGLO

STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH JOGLO STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH JOGLO Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa terdiri atas soko guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau

Lebih terperinci

Jawa Timur secara umum

Jawa Timur secara umum Jawa Timur secara umum Rumah Joglo secara umum mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang biasa disebut sebagai saka guru. Saka guru berfungsi

Lebih terperinci

KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL KUDUS

KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL KUDUS KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL KUDUS Oleh : Agung Budi Sardjono* ABSTRAK Arsitektur rumah tradisional Kudus mempunyai keunikan-keunikan disamping banyak persamaan dengan rumah tradisional Jawa pada umumnya.

Lebih terperinci

BAB IV: KONSEP. c) Fasilitas pendukung di hotel (event-event pendukung/pengisi kegiatan kesenian di hotel)

BAB IV: KONSEP. c) Fasilitas pendukung di hotel (event-event pendukung/pengisi kegiatan kesenian di hotel) BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Dasar Menitikberatkan HERITAGE sebagai acuan dasar konsep perancangan agar menjadi pertimbangan dalam perencanaan dan wujud produknya, meliputi antara lain: a) Aspek arsitektural

Lebih terperinci

RUMAH TRADISIONAL PONOROGO

RUMAH TRADISIONAL PONOROGO RUMAH TRADISIONAL PONOROGO FTSP/Teknik Arsitektur UPN Veteran Jatim Lili indah aryani 0851010027 1. Pembahasan umum dari asal obyek arsitektur. 1.1. Letak Geografis Ponorogo merupakan sebuah kota sekaligus

Lebih terperinci

BENTUK DAN PERUBAHAN FUNGSI PENDHAPA DALAM BUDAYA MASYARAKAT JAWA

BENTUK DAN PERUBAHAN FUNGSI PENDHAPA DALAM BUDAYA MASYARAKAT JAWA BENTUK DAN PERUBAHAN FUNGSI PENDHAPA DALAM BUDAYA MASYARAKAT JAWA Tri Prasetyo Utomo Bani Sudardi Pendhapa dalam makalah ini lebih ditekankan pada bentuk dan perubahan fungsinya. Pendhapa pada umumnya

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil Perancangan Galeri Seni Dwi Matra di Batu merupakan aplikasi dari

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil Perancangan Galeri Seni Dwi Matra di Batu merupakan aplikasi dari BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Penerapan Konsep Perancangan Hasil Perancangan Galeri Seni Dwi Matra di Batu merupakan aplikasi dari proses melanjutkan atau mencari keberlanjutan sebuah tradisi dengan cara

Lebih terperinci

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian tentang arsitektur rumah tradisional di Desa Pinggirpapas, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1. Arsitketur tradisional Madura

Lebih terperinci

a ^ lx^-_jx -^-_^t memakal gcganja atap brunjung sehingga kelihatan tinggi Rumah Joglo Kepuhan Lawakan ialah Rumah Joglo tanpa / /

a ^ lx^-_jx -^-_^t memakal gcganja atap brunjung sehingga kelihatan tinggi Rumah Joglo Kepuhan Lawakan ialah Rumah Joglo tanpa / / LAMPIRAN V A 'A 95 A a ^ lx^-_jx -^-_^t [ v VI A,. Rumah Joglo Jompongan Rumah Jjglojompongan ialah bentuk Rumah Joglo memakaldua buah pcngerct dengan denah bujur sangkar. Bentuk Rumah joglo mi merupakan

Lebih terperinci

Semiotika Arsistektur Rumah Adat Kudus Joglo Pencu

Semiotika Arsistektur Rumah Adat Kudus Joglo Pencu Semiotika Arsistektur Rumah Adat Kudus Joglo Pencu Rheza Arifputra Rasyidi 1, Chairil B. Amiuza 2 1 Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas

Lebih terperinci

BAB III RUMAH ADAT BETAWI SETU BABAKAN. 3.1 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

BAB III RUMAH ADAT BETAWI SETU BABAKAN. 3.1 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan BAB III RUMAH ADAT BETAWI SETU BABAKAN 3.1 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Gambar 3.1 Gerbang Masuk Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah sebuah perkampungan budaya yang dibangun untuk

Lebih terperinci

Ciri Khas Arsitektur Tradisional Pada Rumah Warga di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal

Ciri Khas Arsitektur Tradisional Pada Rumah Warga di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal Ciri Khas Arsitektur Tradisional Pada Rumah Warga di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal Andhika Bayu Chandra 15600022 4A Arsitektur Teknik Universitas PGRI Semarang Andhikabayuchandra123@gmail.com Abstrak

Lebih terperinci

BAB V: KONSEP PERENCANAAN

BAB V: KONSEP PERENCANAAN BAB V: KONSEP PERENCANAAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan 5.1.1 Konsep Desain Dasar konsep desain pada rancangan ini adalah mengambil tema Neo vernacular dan green hotel. Tema Neo vernacular diterapkan karena

Lebih terperinci

Akulturasi Langgam Arsitektur pada Elemen Pintu Gerbang Masjid Agung Yogyakarta

Akulturasi Langgam Arsitektur pada Elemen Pintu Gerbang Masjid Agung Yogyakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 DISKURSUS Akulturasi Langgam Arsitektur pada Elemen Pintu Gerbang Masjid Agung Yogyakarta Firdha Ruqmana firdha.ruqmana30@gmail.com Mahasisw a Sarjana Program Studi A rsitektur,

Lebih terperinci

Model Tipe Bangunan Rumah Tradisional Ponorogo

Model Tipe Bangunan Rumah Tradisional Ponorogo TEMU ILMIH IPLBI 2015 Model Tipe Bangunan Rumah Tradisional Ponorogo Gatot. Susilo Sejarah dan Teori rsitektur, Prodi rsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Malang.

Lebih terperinci

PENDEKATAN KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pendekatan konsep untuk tata ruang dan tata fisik

PENDEKATAN KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pendekatan konsep untuk tata ruang dan tata fisik BAB IV PENDEKATAN KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4. 1 Pendekatan Konsep Dasar Perencanaan 4. 1. 1 Pendekatan Konsep Tata Ruang Makro Pendekatan konsep untuk tata ruang dan tata fisik bangunan

Lebih terperinci

APLIKASI RAGAM HIAS JAWA TRADISONAL PADA RUMAH TINGGAL BARU

APLIKASI RAGAM HIAS JAWA TRADISONAL PADA RUMAH TINGGAL BARU APLIKASI RAGAM HIAS JAWA TRADISONAL PADA RUMAH TINGGAL BARU APLIKASI RAGAM HIAS JAWA TRADISONAL PADA RUMAH TINGGAL BARU Danoe Iswanto ABSTRAKSI Pada masyarakat jawa, susunan rumah dalam suatu keluarga

Lebih terperinci

BAB III ELABORASI TEMA

BAB III ELABORASI TEMA BAB III ELABORASI TEMA 1. Pengertian Arsitektur A. Kajian Gramatikal Arsitektur :... seni dan teknologi dalam mendesain dan membangun struktur atau sekelompok besar struktur dengan pertimbangan kriteria

Lebih terperinci

KONSTRUKSI RANGKA ATAP

KONSTRUKSI RANGKA ATAP KONSTRUKSI RANGKA ATAP 2. URAIAN MATERI ATAP Atap merupakan bagian dari bangunan gedung ( rumah ) yang letaknya berada dibagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan

Lebih terperinci

Keleluasaan Pengembangan Gandhok dalam Morfologi Rumah Jawa pada Abad 20

Keleluasaan Pengembangan Gandhok dalam Morfologi Rumah Jawa pada Abad 20 Keleluasaan Pengembangan Gandhok dalam Morfologi Rumah Jawa pada Abad 20 Untung Joko Cahyono 1 1 Prodi Arsitektur UNS Surakarta Abstrak: Dalam gugus bangunan rumah Jawa, gandhokadalah bangunan yang terletak

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR ENSIKLOPEDIA RUMAH ADAT JAWA TENGAH

LAPORAN TUGAS AKHIR ENSIKLOPEDIA RUMAH ADAT JAWA TENGAH LAPORAN TUGAS AKHIR ENSIKLOPEDIA RUMAH ADAT JAWA TENGAH Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi Teknik Informatika S-1 pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Menara Kudus. (Wikipedia, 2013)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Menara Kudus. (Wikipedia, 2013) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Menara Kudus terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Kota Semarang. Oleh penduduk kota Kudus dan sekitarnya,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... ix. DAFTAR TABEL... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... ix. DAFTAR TABEL... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Penelitian... 1 B. Identifikasi Masalah... 3 C. Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

PERUBAHAN FUNGSI RUANG RUMAH KUNO DI KAMPUNG KAUMAN SURAKARTA

PERUBAHAN FUNGSI RUANG RUMAH KUNO DI KAMPUNG KAUMAN SURAKARTA 76 PERUBAHAN FUNGSI RUANG RUMAH KUNO DI KAMPUNG KAUMAN SURAKARTA Didik Darmadi, Dhani Mutiari Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol Pos

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 148 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN MASJID BESAR AL-MUBAROK DI KABUPATEN NGANJUK SEBAGAI BANGUNAN CAGAR BUDAYA PERINGKAT PROVINSI GUBERNUR

Lebih terperinci

PERBANDINGAN RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DAN RUMAH TINGGAL MODERN DI SURAKARTA

PERBANDINGAN RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DAN RUMAH TINGGAL MODERN DI SURAKARTA 217 PERBANDINGAN RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DAN RUMAH TINGGAL MODERN DI SURAKARTA Fillia Mutiara Sari, Dhani Mutiari Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN RUMAH JAWA (Hamah Sagrim)

PERKEMBANGAN RUMAH JAWA (Hamah Sagrim) PERKEMBANGAN RUMAH JAWA (Hamah Sagrim) A. PERJALANAN RUMAH JAWA Tinjauan Histors 1. Asalmuasal Rumah Jawa Dari asal usulnya, para ahli sejarah belum mempunyai kesatuan pendapat tentang hal ini. Sebagian

Lebih terperinci

+ 3,63 + 2,60 ± 0, ,00

+ 3,63 + 2,60 ± 0, ,00 LANTAI DAN DINDING Seluruh ruangan dalam rumah Bubungan Tinggi tidak ada yang dipisahkan dinding. Pembagian ruang hanya didasarkan pembagian bidang horisontal atau area lantai yang ditandai dengan adanya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan Jawa telah ada dan berkembang bahkan jauh sebelum penduduk Pulau Jawa mengenal agama seperti Hindu, Budha maupun Islam dan semakin berkembang seiring dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Indonesia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Indonesia memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya merupakan simbol peradaban. Apabila sebuah budaya luntur dan tidak lagi dipedulikan oleh sebuah bangsa, peradaban bangsa tersebut tinggal menunggu waktu

Lebih terperinci

PERANCANGAN DESA WISATA KEBONAGUNG

PERANCANGAN DESA WISATA KEBONAGUNG LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERANCANGAN DESA WISATA KEBONAGUNG TUGAS AKHIR SARJANA STRATA-1 UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN YUDISIUM UNTUK MENCAPAI DERAJAT SARJANA TEKNIK (S-1)

Lebih terperinci

MACAM-MACAM KOLAM IKAN DIPEKARANGAN

MACAM-MACAM KOLAM IKAN DIPEKARANGAN MACAM-MACAM KOLAM IKAN DIPEKARANGAN PENDAHULUAN Pekarangan adalah sebidang tanah yang terletak di sekitar rumah dan umumnya berpagar keliling. Di atas lahan pekarangan tumbuh berbagai ragam tanaman. Bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang. Perkembangan pembangunan yang sangat pesat, juga diikuti munculnya

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang. Perkembangan pembangunan yang sangat pesat, juga diikuti munculnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Perkembangan pembangunan yang sangat pesat, juga diikuti munculnya berbagai teknik membangun, konstruksi dan bahan yang baru dan beraneka ragam, dengan spesifikasi

Lebih terperinci

Model Proporsi Tipe Bangunan Arsitektur Tradisional Ponorogo

Model Proporsi Tipe Bangunan Arsitektur Tradisional Ponorogo Model Proporsi Tipe Bangunan Arsitektur Tradisional Ponorogo TEMU ILMIAH IPLBI 2014 Gatot Adi Susilo (1), Sri Umniati (2), Yuni Setyo Pramono (1) (1) Program Studi Arsitektur/ Fakultas Teknik Sipil dan

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 130 BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. KONSEP LOKASI Pada konsep lokasi dijelaskan tentang lokasi yang digunakan yaitu berada di kota Surakarta yang merupakan kota budaya. Surakarta terletak

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI RUMAH TRADISIONAL DI LORONG FIRMA KAWASAN 3-4 ULU, PALEMBANG

IDENTIFIKASI RUMAH TRADISIONAL DI LORONG FIRMA KAWASAN 3-4 ULU, PALEMBANG TEMU ILMIAH IPLBI 2013 IDENTIFIKASI RUMAH TRADISIONAL DI LORONG FIRMA KAWASAN 3-4 ULU, PALEMBANG Wienty Triyuly (1), Sri Desfita Yona (2), Ade Tria Juliandini (3) (1) Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas

Lebih terperinci

ALAT PERMAINAN EDUKATIF KNOCK DOWN JOGLO YOGYAKARTA UNTUK PEMBELAJARAN APRESIASI SENI TRADISI DI SD NEGERI DEMANGAN YOGYAKARTA SKRIPSI

ALAT PERMAINAN EDUKATIF KNOCK DOWN JOGLO YOGYAKARTA UNTUK PEMBELAJARAN APRESIASI SENI TRADISI DI SD NEGERI DEMANGAN YOGYAKARTA SKRIPSI ALAT PERMAINAN EDUKATIF KNOCK DOWN JOGLO YOGYAKARTA UNTUK PEMBELAJARAN APRESIASI SENI TRADISI DI SD NEGERI DEMANGAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 LAMPIRAN Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 Lampiran 2. Rencana Tapak Area Utama Istana Kepresidenan Bogor. 101 Lampiran 3. Denah

Lebih terperinci

JUDUL TUGAS AKHIR KOMPLEKS WISATA PERIKANAN

JUDUL TUGAS AKHIR KOMPLEKS WISATA PERIKANAN JUDUL TUGAS AKHIR KOMPLEKS WISATA PERIKANAN Di Kalitirto, Berbah, Sleman, D. I. Yogyakarta Dosen pembimbing.1 Ir.Lucia Asdra R.M.Phil., Ph.D. Dosen pembimbing.2 Ir. YP. Suhodo Tjahyono, M.T. Disusun Oleh

Lebih terperinci

14 Jurnal Sangkareang Mataram ISSN No

14 Jurnal Sangkareang Mataram ISSN No 14 Jurnal Sangkareang Mataram ISSN No. 2355-9292 TIPOLOGI RUANG RUMAH ABDI DALEM DI KAMPUNG KEMLAYAN SURAKARTA Oleh : Teddy Hartawan Dosen pada Fakultas Teknik Universitas Nusa Tenggara Barat Abstrak Penelitian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xviii DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xviii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xviii DAFTAR GAMBAR... xix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

Rumah Tinggal Dengan Gaya Bali Modern Di Ubud. Oleh: I Made Cahyendra Putra Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK

Rumah Tinggal Dengan Gaya Bali Modern Di Ubud. Oleh: I Made Cahyendra Putra Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK Rumah Tinggal Dengan Gaya Bali Modern Di Ubud Oleh: I Made Cahyendra Putra Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK Rumah adat Bali adalah cerminan dari budaya Bali yang sarat akan nilai-nilai

Lebih terperinci

TATA RUANG RUMAH TRADISIONAL KUDUS Oleh : Agung Budi Sardjono *)

TATA RUANG RUMAH TRADISIONAL KUDUS Oleh : Agung Budi Sardjono *) TATA RUANG RUMAH TRADISIONAL KUDUS Oleh : Agung Budi Sardjono *) Abstrak Rumah tradisional Kudus merupakan bagian dari arsitektur tradisional Jawa yang mempunyai karakter lokal khas Jawa Pesisiran. Dibandingkan

Lebih terperinci

PERANAN PKK DALAM PENINGKATAN PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN SEBAGAI UPAYA KESEJAHTERAAN KELUARGA DAN RUMAH SEHAT

PERANAN PKK DALAM PENINGKATAN PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN SEBAGAI UPAYA KESEJAHTERAAN KELUARGA DAN RUMAH SEHAT PERANAN PKK DALAM PENINGKATAN PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN SEBAGAI UPAYA KESEJAHTERAAN KELUARGA DAN RUMAH SEHAT Disampaikan oleh : TIM PENGGERAK PKK KABUPATEN KARANGANYAR LATAR BELAKANG Lebih dari 50%

Lebih terperinci

BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH

BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH 2.1 Permasalahan Keluarga Untuk mengidentifikasi masalah yang dialami keluarga, dilakukan beberapa kali kunjungan di kediaman keluarga dampingan. Selama kunjungan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. 5.1 Konsep dasar perancangan objek dengan tema extending tradition

BAB V KONSEP. 5.1 Konsep dasar perancangan objek dengan tema extending tradition BAB V KONSEP 5.1 Konsep dasar perancangan objek dengan tema extending tradition Extending tradtion merupakan proses melanjutkan atau mencari keberlanjutan sebuah tradisi dengan cara mengutip secara langsung

Lebih terperinci

Konsep Tata Masa. Parkir. Green area. Green area

Konsep Tata Masa. Parkir. Green area. Green area Konsep Tata Masa 1. Bagian Barat langgar 2. Bagian Utara Rumah induk 3. Bagian Selatan Rumah 4. Bagian Timur kandang & Dapur Parkir Green area Konsep tata masa dalam perancangan taman wisata budaya mengutip

Lebih terperinci

PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA. Danarti Karsono ABSTRAK

PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA. Danarti Karsono ABSTRAK PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA Danarti Karsono ABSTRAK Rumah tradisional sebagai salah satu peninggalan Arsitektur Tradisional mempunyai arti sebagai arsitektur yang mencerminkan

Lebih terperinci

1. ASPEK PENAMPAKAN SIMBOL KULTURAL

1. ASPEK PENAMPAKAN SIMBOL KULTURAL 1. ASPEK PENAMPAKAN SIMBOL KULTURAL SIMBOL LANGGAM JAWA GAMBAR 1 GAMBAR 2 GAMBAR 3 GAMBAR 5 SIMBOL DESIGN YANG PERTAMA INI MENGGUNAKAN LANGGAM JAWA YANG SAYA LETAKKAN DI FRAME JENDELA GAMBAR 1 GAMBAR 6

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

Arsitektur Dayak Kenyah

Arsitektur Dayak Kenyah Arsitektur Dayak Kenyah Propinsi Kalimantan Timur memiliki beragam suku bangsa, demikian pula dengan corak arsitekturnya. Namun kali ini hanya akan dibahas detail satu jenis bangunan adat yaitu lamin (rumah

Lebih terperinci

Omah Dhuwur Gallery merupakan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya

Omah Dhuwur Gallery merupakan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya BAB III ANALISIS KONDISI EKSISTING OMAH DHUWUR GALLERY Omah Dhuwur Gallery merupakan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Revitalisasi merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan bangunan

Lebih terperinci

Pengaruh Kepemimpinan Keraton pada Arsitektur Masjid Agung Surakarta

Pengaruh Kepemimpinan Keraton pada Arsitektur Masjid Agung Surakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Pengaruh Kepemimpinan Keraton pada Arsitektur Masjid Agung Surakarta Lilis Yuniati y liliss30@gmail.com Program Studi A rsitektur, Sekolah A rsitektur Perencanaan

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG KELUARGA DAMPINGAN

BAB I LATAR BELAKANG KELUARGA DAMPINGAN BAB I LATAR BELAKANG KELUARGA DAMPINGAN Keluarga yang dijadikan keluarga dampingan selama pelaksanaan KKN PPM XIII Universitas Udayana Tahun 2016 ini bertempat tinggal di Desa Abuan, Kintamani, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB V KAJIAN TEORI. Kawasan Wisata Goa Kreo. Tanggap Lingkungan. Asitektur Tradisional Jawa. Asitektur Regionalisme

BAB V KAJIAN TEORI. Kawasan Wisata Goa Kreo. Tanggap Lingkungan. Asitektur Tradisional Jawa. Asitektur Regionalisme BAB V KAJIAN TEORI 5.1. Kajian Teori Penekanan/Tema Desain Latar Belakang Penekanan Desain Kawasan Wisata Goa Kreo Tanggap Lingkungan Memiliki Karakter kedaerahan yang mengadaptasi lingkungan Asitektur

Lebih terperinci

TAMAN PINTAR DI KOTA SOLO SEBAGAI FASILITAS REKREASI-EDUKASI SENI DAN BUDAYA YANG MENCITRAKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA

TAMAN PINTAR DI KOTA SOLO SEBAGAI FASILITAS REKREASI-EDUKASI SENI DAN BUDAYA YANG MENCITRAKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TAMAN PINTAR DI KOTA SOLO SEBAGAI FASILITAS REKREASI-EDUKASI SENI DAN BUDAYA YANG MENCITRAKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1906 M, pada masa pemerintahan sultan Maamun Al- Rasyid Perkasa Alamsjah.Masjid

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Tipologi bangunan rumah tinggal masyarakat lereng gunung Sindoro tepatnya di Dusun

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Desaian Kawasan Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, yaitu konsep perancangan yang mengambil dari sistem sirkulasi

Lebih terperinci

Sistem konstruksi Masjid Paljagrahan menggunakan menggunakan lantai berbentuk

Sistem konstruksi Masjid Paljagrahan menggunakan menggunakan lantai berbentuk Gambar 16. Sketsa Perspektif Masjid Paljagrahan di Cireong, Cirebon Sistem konstruksi Masjid Paljagrahan menggunakan menggunakan lantai berbentuk dengah persegi dengan pembagian ruang sama dengan yang

Lebih terperinci

87 Universitas Indonesia

87 Universitas Indonesia BAB 4 PENUTUP Kepurbakalaan Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa merupakan perpaduan dari kebudayaan Islam dengan kebudayaan lokal atau kebudayaan lama yaitu kebudayaan Hindu-Buddha. Perpaduan dua

Lebih terperinci

5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Bangunan masjid ini memiliki makna kultural yang tinggi karena terdapat nilai usia dan kelangkaan, nilai arsitektural, nilai artistik, nilai asosiatif, nilai

Lebih terperinci

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan BAB V : KONSEP 5.1 Konsep Dasar Perancangan Dalam konsep dasar perancangan Bangunan Hotel dan Konvensi ini dipengaruhi oleh temanya, yaitu Arsitektur Hijau. Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang berwawasan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MAKNA RUMAH BANGSAWAN DAN FALSAFAH HIDUP MANUSIA JAWA

HUBUNGAN MAKNA RUMAH BANGSAWAN DAN FALSAFAH HIDUP MANUSIA JAWA HUBUNGAN MAKNA RUMAH BANGSAWAN DAN FALSAFAH HIDUP MANUSIA JAWA Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Terjadi pembangunan secara besar-besaran yang dilakukan oleh Pakubuwono X (Sunan PB X) 1893-1939 Arsitektur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia pada

BAB I PENDAHULUAN. Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia pada tahun 1293-1500M. Permasalahannya peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit ada yang belum

Lebih terperinci

BAB 1 STRUKTUR DAN KONSTRUKSI

BAB 1 STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BAB 1 STRUKTUR DAN KONSTRUKSI Sistem struktur dan konstruksi Rumah Gadang memiliki keunikan, dimulai dari atapnya yang rumit hingga pondasinya yang sederhana tetapi memiliki peran yang sangat penting bagi

Lebih terperinci

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Survey (Observasi) Lapangan Dalam penelitian ini, secara garis besar penyajian data-data yang dikumpulkan melalui gambar-gambar dari hasil observasi lalu diuraikan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan seperti halnya daerah-daerah

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan seperti halnya daerah-daerah 46 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan 1. Keadaan Geografis Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105 sampai dengan 105 45 Bujur Timur dan 5 15 sampai

Lebih terperinci

POLA RUANG DALAM PADA RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DI DESA BRAYUT, YOGYAKARTA

POLA RUANG DALAM PADA RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DI DESA BRAYUT, YOGYAKARTA POLA RUANG DALAM PADA RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DI DESA BRAYUT, YOGYAKARTA Marinda NFNP 1, Antariksa 2, Abraham M Ridjal 2 1 Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2

Lebih terperinci

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Cagar Budaya Candi Cangkuang Cagar Budaya Candi Cangkuang 1. Keadaan Umum Desa Cangkuang Desa Cangkuang terletak di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain

Lebih terperinci

Studi Struktur dan Konstruksi Bangunan Tradisional Rumah Pencu di Kudus

Studi Struktur dan Konstruksi Bangunan Tradisional Rumah Pencu di Kudus Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia Studi Struktur dan Konstruksi Bangunan Tradisional Rumah Pencu di Kudus Budi Sudarwanto dan Bambang Adji Murtomo (1) (1) Staf Pengajar pada Program Sarjana,

Lebih terperinci

BAB VI KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI TEKNOLOGI DAN INFORMASI PERTANIAN (P3TIP)

BAB VI KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI TEKNOLOGI DAN INFORMASI PERTANIAN (P3TIP) 58 BAB VI KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI TEKNOLOGI DAN INFORMASI PERTANIAN (P3TIP) Bab ini mendeskripsikan karakteristik demografi individu petani

Lebih terperinci

pada bangunan yang berkembang pada masa Mesir kuno, Yunani dan awal abad

pada bangunan yang berkembang pada masa Mesir kuno, Yunani dan awal abad Prinsip keseimbangan yang dicapai dari penataan secara simetris, umumnya justru berkembang pada bangunan yang berkembang pada masa Mesir kuno, Yunani dan awal abad renesans. Maka fakta tersebut dapat dikaji

Lebih terperinci

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK 9 BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK 4.1. Peranan Pratikan Peranan designer grafis CTV Banten memiliki tugas membuat Bumper opening animasi wayang. Pada acara Tv Nusantara Pembuatan animasi dimulai dari briefing

Lebih terperinci

Tipologi Masjid Kagungan Dalem di Imogiri, Bantul

Tipologi Masjid Kagungan Dalem di Imogiri, Bantul SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 PENELITIAN Tipologi Masjid Kagungan Dalem di Imogiri, Bantul Endah Tisnawati (1), Dita Ayu Rani Natalia (1) endah.tisnaw ati@gmail.com (1) Program Studi A rsitektur, F akultas

Lebih terperinci

Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya Kabupaten. Kota waringin Barat Kalimantan Tengah

Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya Kabupaten. Kota waringin Barat Kalimantan Tengah Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya Kabupaten. Kota waringin Barat Kalimantan Tengah Pusat Data dan Statistik Daftar Isi A. Pendahuluan B. Hasil Verifikasi dan Validasi Data Master Referensi Cagar Budaya

Lebih terperinci

Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1

Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1 Bayanaka Canggu tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1 Sebuah harmoni dalam karya arsitektur tercipta ketika seluruh unsur dalam bangunan termasuk konsep arsitektur,

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESOR

BAB IV TINJAUAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESOR BAB IV TINJAUAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HOTEL RESOR 4.1 Tinjauan Arsitektur Rekreatif 4.1.1 Pengertian A. Pengertian Arsitektur - Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia: Arsitektur: seni bangunan, gaya

Lebih terperinci

Ubah Ingsut Dalam Arsitektur Jawa: Kasus Kawruh Kalang Soetopoprawiro (Josef Prijotomo)

Ubah Ingsut Dalam Arsitektur Jawa: Kasus Kawruh Kalang Soetopoprawiro (Josef Prijotomo) UBAH INGSUT DALAM ARSITEKTUR JAWA KASUS KAWRUH KALANG SOETOPRAWIRO Josef Prijotomo Dosen Jurusan Arsitekur Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ABSTRACT Transformation in the Traditional Architecture

Lebih terperinci

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN Jurnal Ilmiah Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Disusun oleh: PIPIET GAYATRI SUKARNO 0910651009 KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BABV ADAPTIVE RE-USE. Upaya yang akan dilakukan untuk perencanaan perubahan fungsi bangunan Omah Dhuwur Gallery adalah sebagai berikut:

BABV ADAPTIVE RE-USE. Upaya yang akan dilakukan untuk perencanaan perubahan fungsi bangunan Omah Dhuwur Gallery adalah sebagai berikut: BABV ADAPTIVE RE-USE Dengan melihat kondisi eksisting Omah Dhuwur Gallery pada Bab III dan analisa program pada Bab IV, maka pembahasan-pembahasan tersebut di atas digunakan sebagai dasar pertimbangan

Lebih terperinci

BENTUKAN VISUAL ARSITEKTUR RUMAH SINOM DI KELURAHAN KERTOSARI PONOROGO

BENTUKAN VISUAL ARSITEKTUR RUMAH SINOM DI KELURAHAN KERTOSARI PONOROGO BENTUKAN VISUAL ARSITEKTUR RUMAH SINOM DI KELURAHAN KERTOSARI PONOROGO Wahyuni Eka Sari¹, Antariksa², Abraham Mohammad Ridjal² ¹Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ²Dosen

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Pertemuan budaya yang ada pada Mesjid Raya Cipaganti dapat terkordinasi dengan baik antara budaya yang satu dengan lainnya. Budaya luar yang masuk telah mengalami

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah

Lebih terperinci

KONDISI TERMAL RUMAH TINGGAL SETEMPAT DI PANTAI JEPARA, PATI DAN PEGUNUNGAN MURIA, JAWA TENGAH. Hermawan a, M.Sholeh b

KONDISI TERMAL RUMAH TINGGAL SETEMPAT DI PANTAI JEPARA, PATI DAN PEGUNUNGAN MURIA, JAWA TENGAH. Hermawan a, M.Sholeh b KONDISI TERMAL RUMAH TINGGAL SETEMPAT DI PANTAI JEPARA, PATI DAN PEGUNUNGAN MURIA, JAWA TENGAH Hermawan a, M.Sholeh b a Dosen Arsitektur UNSIQ Wonosobo E-mail: a hermawanarsit@gmail.com b Mahasiswa Arsitektur

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dengan keadaan lapangan maka dapat disimpulkan bahwa Roemahkoe Heritage

BAB V PENUTUP. dengan keadaan lapangan maka dapat disimpulkan bahwa Roemahkoe Heritage BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melakukan analisis dengan cara membandingkan antara teori dengan keadaan lapangan maka dapat disimpulkan bahwa Roemahkoe Heritage Hotel & Restaurant masih menggunakan

Lebih terperinci