BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.)"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Morfologi dan Rendemen Tubuh Cangkang Kijing Lokal (Pilsbryoconcha sp.) Cangkang kijing lokal yang diperoleh dari danau Teratai yang terdapat di Kec. Mananggu Kab. Boalemo memiliki ciri-ciri berwarna kuning kecoklatan. Cangkang berbentuk simetris, oval, memiliki kulit yang tipis, berbentuk elips, dan memiliki garis-garis yang memanjang yang mengikuti bentuk dari cangkang (Gambar 3). Bagian dalam dari cangkang berwarna putih bening dan mengkilat. Menurut Putra (2008), cangkang kijing memiliki cangkang yang tipis, berwarna coklat kekuningan atau coklat kehijauan sampai hijau agak gelap. Cangkang berbentuk oval, elips atau memanjang, membulat anterior dan meruncing di bagian posterior. Umbo tidak jelas menonjol, bentuk cangkang tampak memipih dan halus dengan garis-garis pertumbuhan yang tidak terlalu jelas. Menurut Wardhani (2009), kerang air tawar Pilsbryoconcha exilis yang ditemukan di perairan Situ Gede memiliki cangkang tipis berwarna coklat kekuningan hingga agak gelap. Cangkang berbentuk oval, elips atau memanjang, membulat di bagian anterior dan meruncing di bagian posterior. Cangkang kijing yang berukuran <9 cm dan 9 cm memiliki karakteristik fisik yang sedikit berbeda, yaitu cangkang yang berukuran <9 cm memiliki warna yang lebih cerah, coklat kekuningan serta relatif tipis sedangkan cangkang yang berukuran 9 cm memiliki warna cenderung gelap dan cukup tebal. Menurut Morton (1992), kerang (bivalvia) air tawar memiliki cangkang yang tipis dan memiliki corak yang khas. Menurut Purnama (2008), kijing atau kerang air tawar memiliki cangkang yang berwarna coklat kehijauan atau coklat

2 kekuningan. Sebagian besar kerang air tawar memiliki bentuk oval namun ada juga yang mendekati bulat. Hasil rendemen dari kijing lokal dapat dilihat pada pada Gambar 6. Tubuh kijing terdiri atas daging, jeroan dan cangkang. Rendemen tubuh kijing berturutturut cangkang 51.58%, jeroan 25.14% dan daging 24%. Bagian dari tubuh kijing lokal yang memiliki rendemen yang paling tinggi adalah cangkang. Menurut Wardhani (2009), nilai rendemen dari tubuh kijing lokal adalah sebagai berikut: cangkang 53%, jeroan 25% dan daging 22%. Daging kijing hanya terdiri dari mantel dan kaki, sedangkan visceral mass termasuk ke dalam bagian jeroan sehingga jeroan memiliki rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging kijing. Cangkang merupakan bagian tubuh kijing yang memiliki rendemen tertinggi, namun pemanfaatannya belum cukup optimum. Rendemen tubuh kijing lokal (Pilsbryoconcha sp) 24% 51.8% 25.14% Daging Jeroan Cangkang Gambar 6. Rendemen tubuh kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Cangkang memiliki rendemen yang paling tinggi dan cangkang juga dapat dibuat tepung. Berat cangkang kijing yang digunakan dapat mengetahui jumlah tepung yang akan dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 3.

3 Tabel 3. Berat tepung yang dihasilkan Sampel Cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Berat awal (g) Berat sesudah pengeringan I (g) Sesudah perendaman dengan menggunakan NaOH (g) Berat pengeringan II (g) Tepung (g) Cangkang kijing yang telah diukur panjang dan berat, dibuat menjadi tepung. Cangkang kijing yang dibuat tepung memiliki berat awal 430 g menghasilkan tepung sebanyak 203 g. Tepung cangkang kijing yang dihasilkan mempunyai ciri-ciri yaitu berbentuk serbuk tapi agak kasar, bau normal (khas cangkang kijing), dan warna putih khas cangkang. Untuk mengetahui rendemen dari tepung cangkang kijing, maka dilakukan pengayakan kembali dengan menggunakan ayakan no. 70, dari ayakan tersebut menghasilkan rendemen sebesar 47.37%. Banyaknya rendemen tepung cangkang yang dihasilkan diduga disebabkan oleh tekstur cangkang kijing yang keras dan tebal selama proses penghalusan. Menurut Wardhani (2009), rendemen tepung cangkang kijing dihitung berdasarkan perbandingan berat tepung yang dihasilkan dengan berat kering cangkang. Tepung cangkang yang diperoleh terdiri dari tepung yang halus, agak halus dan bentuk yang masih kasar. Cangkang yang berukuran <9 cm dan 9 cm memiliki rendemen rata-rata berturut-turut sebesar 42.82% dan 34.91%. 4.2 Karakteristik Kimia Karakteristik kimia dilakukan untuk mengetahui karakteristik tepung cangkang kijing yang dihasilkan. Karakteristik kimia yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji kadar air, kadar protein, dan kadar abu pada tepung

4 Kadar Air (%) cangkang kijing lokal yang digunakan dengan suhu dan lama pengeringan yang bervariasi. Hasil pengujian kimia tepung cangkang kijing dapat dilihat pada Lampiran 2, 4 dan Kadar air tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) selama pengeringan Data hasil pengujian kadar air dari tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) (Lampiran 2). Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa penggunaan suhu dan lama pengeringan berpengaruh terhadap nilai kadar air. Pengaruh penggunaan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal terhadap kadar air (Gambar 7) Kadar Air f f f f f d d c c ab b 0 (Kontrol) Waktu Pengeringan (Jam) a 50 C 70 C 90 C Gambar 7. Diagram batang pengaruh penggunaan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Gambar 7 menunjukkan bahwa penggunaan suhu dan lama pengeringan memberikan pengaruh terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.). Semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan maka semakin rendah nilai kadar air yang terdapat pada tepung cangkang kijing lokal. Penyebabnya karena dipengaruhi oleh banyaknya jumlah air bebas yang diuapkan dari bahan pangan. Secara statistik perlakuan suhu dan lama pengeringan yang mampu menurunkan kadar air paling rendah pada tepung cangkang kijing lokal ( 8 cm)

5 adalah suhu pengeringan 90 C selama 7 sampai 9 jam diperoleh nilai berturutturut 2.29% dan 2.22%. Untuk perlakuan yang mampu mempertahankan kadar air yang tinggi pada tepung cangkang kijing adalah suhu 50 C dan 70 C selama 5 jam memperoleh nilai berturut-turut 3.44% dan 3.37%. Menurut (Adawyah, 2007), semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan, maka semakin banyak jumlah air bebas yang diuapkan dari bahan pangan. Penyebab berkurangnya kadar air pada tepung cangkang kijing lokal diduga karena perlakuan suhu yang semakin tinggi dengan waktu pengeringan yang lama. Air dalam bahan pangan ada yang berada dalam keadaan bebas, air terikat secara fisik dan air terikat secara kimia. Air bebas terdapat pada permukaan bahan dapat dengan mudah diuapkan pada proses pengeringan. Kadar air bahan menunjukkan banyaknya kandungan persatuan bobot bahan. Untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengeringan terhadap tepung cangkang kijing, maka dilakukan analisis varians. Hasil analisis varians menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan lama pengeringan berbeda sangat nyata pada taraf kepercayaan 99% terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal. Demikian pula interaksi antara suhu dan lama pengeringan berbeda sangat nyata (Lampiran 3). Untuk mengetahui pengaruh interaksi antara suhu dan lama pengeringan terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal dilakukan uji jarak berganda Duncan (Lampiran 3c). Hasil uji jarak berganda Duncan tercantum pada Tabel 4.

6 Tabel 4. Pengaruh interaksi antara suhu dan lama pengeringan terhadap rata-rata nilai kadar air tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Lama pengeringan (K) Suhu Kontrol 5 jam 7 jam 9 jam (K 1) (K 2 ) (K 3 ) (K 4 ) 50 C (α 1 ) f f d c 70 C (α 2 ) f f c b 90 C (α 3 ) f d ab a Keterangan: Huruf dengan notasi sama ke segala arah menunjukkan tidak berbeda pada derajat kepercayaan 99%. Hasil uji kadar air (Tabel 4), menunjukkan bahwa pada lama pengeringan 0 jam (kontrol), suhu pengeringan 50 o C memiliki nilai rata-rata 3.72%, sedangkan untuk suhu pengeringan 70 o C dan 90 o C sebesar 3.70%, dan 3.69%. Perlakuan suhu pengeringan 50 o C dan 70 o C selama 5 jam menunjukkan tidak berbeda pada derajat kepercayaan 99% terhadap nilai kadar air tepung cangkang kijing lokal, dapat diartikan bahwa perlakuan suhu dan lama pengeringan tersebut mampu mempertahankan nilai kadar air. Perlakuan suhu dan lama pengeringan yang mampu menurunkan kadar air paling rendah pada tepung cangkang kijing lokal ( 8 cm) adalah suhu pengeringan 90 C selama 7 dan 9 jam diperoleh nilai berturut-turut 2.29% dan 2.22%. Sesuai penelitian Wardhani (2009), bahwa kadar air dari tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha exilis) (<9 cm dan 9 cm) suhu 50ºC-60ºC selama 6-8 jam yang berasal dari sinar matahari adalah berturut-turut 1.19% ± 0.002% dan 1.20% ± 0.005%. Demikian juga hasil penelitian dari Pernama (2006), bahwa kadar air dari tepung cangkang kerang hijau diperoleh nilai 0.85%. Kadar air yang terendah pada tepung cangkang kerang hijau diduga disebabkan karena karakteristik cangkang kerang hijau dengan tekstur yang padat tersusun atas zat

7 kapur (CaCO 3 ) atau disebut dengan lapisan periostrakum, sehingga komponen air dalam cangkang kerang hijau rendah. Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu dan lama pengeringan yang digunakan dapat memengaruhi nilai kadar air yang terdapat pada tepung cangkang kijing lokal. Semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan, maka semakin banyak jumlah air bebas yang diuapkan dari bahan pangan. Penyebab berkurangnya kadar air pada tepung cangkang kijing lokal diduga karena perlakuan suhu yang semakin tinggi dengan waktu pengeringan yang lama. Menurut Estiasih dan Ahmadi (2011), lama pengeringan menentukan lama kontak bahan dengan panas, karena sebagian besar bahan pangan sensitif terhadap panas sehingga waktu pengeringan yang digunakan harus maksimum. Pengeringan dengan suhu tinggi dan waktu yang pendek dapat lebih menekan kerusakan bahan pangan jika dibandingkan waktu pengeringan yang lebih lama dan suhu lebih rendah Kadar protein tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) pengeringan Data hasil pengujian kadar protein dari tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) (Lampiran 4). Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa penggunaan suhu dan lama pengeringan berpengaruh terhadap nilai kadar protein. Pengaruh penggunaan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar protein tepung cangkang kijing lokal terhadap kadar air dapat dilihat pada Gambar 8.

8 Protein (%) Protein f f f f f e d c b ab a 0 (Kontrol) a 50 C 70 C 90 C Lama Pengeringan (Jam) Gambar 8. Diagram batang pengaruh kadar protein tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Gambar 8 menunjukkan bahwa penggunaan suhu dan lama pengeringan memberikan pengaruh terhadap kadar protein tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.). Semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan maka semakin rendah nilai kadar protein yang terdapat pada tepung cangkang kijing lokal. Menurut Kusnandar (2011), menurunnya kadar protein yang terdapat pada bahan pangan disebabkan oleh sifat kelarutan protein. Sifat kelarutan protein tergantung pada jenis ph. Perubahan ph akan memengaruhi ionisasi fungsional protein sehingga muatan protein berubah. Perubahan tersebut terjadi setelah pencucian dan dilakukan netralisasi kemudian dikeringkan. Secara statistik perlakuan suhu dan lama pengeringan yang mampu menurunkan kadar protein pada tepung cangkang kijing lokal ( 8 cm) adalah suhu 70ºC selama 7 jam serta 70ºC dan 90ºC selama 9 jam diperoleh nilai kadar protein berturut-turut 1.48% serta 1.40% dan 1.33%, sedangkan perlakuan suhu dan lama pengeringan yang mampu mempertahankan kadar protein adalah suhu pengeringan 50ºC dan 70ºC selama 5 jam diperoleh nilai kadar protein berturutturut 2.90% dan 2.84%. Protein yang terdapat pada tepung cangkang kijing dapat dipertahankan disebabkan oleh suhu dan waktu pengeringan yang digunakan tidak

9 terlalu lama, sehingga belum terjadinya proses denaturasi protein. Semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan, maka nilai kadar protein semakin berkurang, sehingga terjadinya proses denaturasi protein pada tepung cangkang kijing. Denaturasi protein terjadi pada proses pemanasan pada suhu 55 C-75 C. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar protein teping cangkang kijing lokal, maka dilakukan analisis varians (Lampiran 5). Hasil analisis varians menunjukkan bahwa perlakuan suhu pengeringan memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) pada taraf kepercayaan 95% terhadap nilai kadar protein tepung cangkang kijing lokal, sedangkan lama pengeringan memberikan pengaruh yang sangat signifikan (berbeda sangat nyata) pada taraf kepercayaan 99%. Demikian juga interaksi suhu dan lama pengeringan memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) pada taraf kepercayaan 95%. Untuk mengetahui interaksi perlakuan suhu dan lama pengeringan pada tepung cangkang kijing lokal terhadap nilai rata-rata nilai kadar protein dilakukan uji Duncan (Lampiran 5c). Hasil uji Duncan tercantum pada Tabel 5. Tabel 5. Pengaruh interaksi antara suhu dan lama pengeringan terhadap rata-rata nilai kadar protein tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Lama pengeringan (K) Suhu Kontrol 5 jam 7 jam 9 jam (K 1) (K 2 ) (K 3 ) (K 4 ) 50 C (α 1 ) f f d b 70 C (α 2 ) f f c a 90 C (α 3 ) f e ab a Keterangan: Huruf dengan notasi sama ke segala arah menunjukkan tidak berbeda pada derajat kepercayaan 99%.

10 Tabel 5 hasil uji Duncan (Lampiran 5c), menunjukkan bahwa pada lama pengeringan 0 jam (kontrol), suhu pengeringan 50 o C memiliki nilai rata-rata 3.03%, sedangkan untuk suhu pengeringan 70 o C dan 90 o C berturut-turut 3.01% dan 3.00%. Perlakuan penggunaan suhu pengeringan 50 C dan 70 C selama 5 jam menunjukkan tidak berbeda pada derajat kepercayaan 99% terhadap nilai kadar protein tepung cangkang kijing lokal. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan nilai kadar protein dengan memperoleh nilai berturut-turut 2.90% dan 2.84%. Perlakuan suhu 70 o C dan 90 o C selama 9 jam menunjukkan tidak berbeda pada taraf kepercayaan 99% terhadap nilai kadar protein tepung cangkang kijing. Perlakuan tersebut tidak dapat mempertahankan nilai kadar protein memperoleh nilai berturut-turut 1.65% dan 1.33%. Sesuai penelitian Wardhani (2009), kandungan protein yang terdapat pada tepung cangkang kijing (<9 cm dan 9 cm) suhu 50ºC-60ºC yang berasal dari sinar matahari selama 6-8 jam memiliki nilai berturut-turut 1.85% dan 2.31%. Demikian juga hasil penelitian dari Pernama (2006), kadar protein cangkang kerang hijau adalah 4.14%, protein pada cangkang kerang hijau diduga bersumber dari komponen hinge ligament. Kadar protein merupakan cara pengujian untuk menentukan nilai kandungan protein yang terdapat pada bahan pangan. Tinggi rendahnya kadar protein yang terdapat pada tepung cangkang kijing lokal disebabkan oleh adanya suhu dan lama pengeringan yang digunakan sehingga mengakibatkan denaturasi protein. Menurut Kusnandar (2011), denaturasi protein merupakan terjadinya modifikasi struktur sekunder, tersier dan kuarter tanpa menyebabkan pemutusan

11 Kadar Abu (%) ikatan peptida dan perubahan sekuen asam amino pada struktur protein. Denaturasi protein dapat disebabkan oleh adanya proses pemanasan Kadar abu tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) selama pengeringan Data hasil pengujian kadar abu dari tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) (Lampiran 6). Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa penggunaan suhu dan lama pengeringan berpengaruh terhadap nilai kadar abu. Pengaruh penggunaan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar air tepung cangkang kijing lokal terhadap kadar abu dapat dilihat pada Gambar 9. Kadar Abu a a a b bc c bc cd f de ef f 50 C 70 C 90 C (kontrol) Waktu Pengeringan (Jam) Gambar 9. Diagram batang pengaruh kadar abu tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Gambar 9 menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan lama pengeringan memberikan pengaruh terhadap nilai kadar abu pada tepung cangkang kijing lokal. Semakin tinggi suhu dan lama pengeringan yang digunakan maka semakin tinggi nilai kadar abu yang terdapat pada bahan pangan tersebut. Menurut Sudarmadji, et.,al (2007), tinggi rendahnya nilai kadar abu pada bahan pangan disebabkan adanya komponen abu yang mudah mengalami dekomposisi atau bahkan menguap pada suhu yang tinggi.

12 Secara statistik, perlakuan yang dapat mempertahankan nilai kadar abu tepung cangakang kijing lokal terdapat pada suhu 70ºC selama 5 dan 7 jam memiliki nilai berturut-turut 96.05% dan 96.21%. Selama proses pengeringan jumlah kadar abu pada tepung cangkang kijing meningkat. Peningkatan jumlah kadar abu tersebut diakibatkan oleh penggunaan suhu dan lama pengeringan yang tinggi, sehingga pada saat proses pengabuan zat anorganik tidak akan terbakar. Perlakuan suhu dan lama pengeringan yang mampu meningkatkan kadar abu tepung cangkang kijing lokal ( 8 cm) adalah suhu 90ºC selama 7 jam diperoleh nilai 96.64% serta suhu 70ºC dan 90ºC selama 9 jam diperoleh nilai berturut-turut 96.46% dan 96.64%. Sumber abu pada tepung cangkang kijing diduga berasal dari cangkang kijing itu sendiri yang dijadikan sebagai bahan baku, karena cangkang kijing lokal termasuk bahan pangan yang mengandung mineral yang tinggi diantaranya adalah kalsium. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu dan lama pengeringan terhadap kadar abu tepung cangkang kijing, maka dilakukan analisis ANOVA (Lampiran 7). Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa suhu memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) pada taraf kepercayaan 95%, sedangkan lama pengeringan memberikan pengaruh yang sangat signifikan (berbeda sangat nyata) pada taraf kepercayaan 99% terhadap nilai kadar abu. Demikian juga interaksi suhu dan lama pengeringan memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) pada taraf kepercayaan 95%. Untuk mengetahui pengaruh interaksi suhu dan lama pengeringan pada tepung cangkang kijing lokal terhadap nilai rata-rata nilai kadar protein dilakukan uji Duncan (Lampiran 5c). Hasil uji Duncan tercantum pada Tabel 6.

13 Tabel 6. Pengaruh interaksi suhu dan lama pengeringan terhadap rata-rata nilai kadar abu tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) Lama pengeringan (K) Suhu Kontrol 5 jam 7 jam 9 jam (K 1) (K 2 ) (K 3 ) (K 4 ) 50 C (α 1 ) a b bc de 70 C (α 2 ) a bc cd ef 90 C (α 3 ) a c f f Keterangan: Huruf dengan notasi sama ke segala arah menunjukkan tidak berbeda pada derajat kepercayaan 99%. Tabel 6 dapat dilihat hasil uji berjarak ganda Duncan bahwa perlakuan suhu 90 C selama 7 jam serta suhu 70 C dan 90 C menunjukkan tidak berbeda pada taraf kepercayaan 99% terhadap nilai kadar abu tepung cangkang kijing lokal. Perlakuan mampu meningkatkkan suhu nilai kadar abu dengan memperoleh nilai berturut-turut 96.64%, 96.46% dan 96.65%. Sesuai penelitian Wardhani (2009), kadar abu yang diperoleh dari tepung cangkang kijing relatif tinggi. Kandungan kadar abu yang terdapat pada cangkang kijing (<9 cm dan 9 cm) dengan suhu pengeringan 50ºC-60ºC yang berasal dari sinar matahari selama 6-8 jam diperoleh nilai berturut-turut sebesar 93.34% dan 93.14%. Demikian juga hasil penelitian dari Pernama (2006), kadar abu tepung cangkang kerang hijau diperoleh sebesar 77.13%, kadar abu yang tinggi pada cangkang kerang hijau diduga bersumber dari lapisan kalsium karbonat (CaCO 3 ) yang melindungi tubuh kerang sehingga tekstur cangkang kerang hijau sangat padat. Menurut Sulistijowati, et., al. (2012), tepung cangkang kijing lokal ( 9cm) menggunakan pengeringan sinar matahari mengandung kadar kalsium kalsium karbonat (CaCO 3 ) sebanyak 35.5%. Menurut Wilbur (1964), kalsium karbonat yang tersimpan dalam tiga bentuk crystaline yaitu calcite, aragonite dan vaterite.

14 Menurut Gregoire (1972), aragonite dan calcite merupakan mineral utama penyusun cangkang bivalvia. Menurut Ningsih (2009), tinggi rendahnya kadar abu disebabkan oleh perbedaan lingkungan hidup dari organisme tersebut. Masing-masing organisme memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengregulasikan dan mengabsorbsi logam, hal ini dapat memengaruhi kadar abu dalam bahan berkurang. Selain itu, kandungan kadar abu pada bahan pangan disebabkan karena kandungan mineral pada bahan pangan terbawa bersama uap panas yang keluar. Menurut Indriany (2000), kadar abu yang terkandung dalam suatu produk menunjukkan tingkat kemurnian produk tersebut. Tingkat kemurnian ini sangat dipengaruhi oleh komposisi dan kandungan mineralnya. Unsur-unsur mineral seperti natrium, khlor, kalsium, fosfor, magnesium, belerang dan sebagainya dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Pada proses pembakaran, bahan organik akan terbakar, sedangkan zat anorganik tidak terbakar tetapi membentuk abu. 4.3 Pengujian Hipotesis Perbedaan suhu pengeringan berpengaruh terhadap kandungan karakteristik kimia tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.). Hasil penelitian membuktikan bahwa, pengeringan suhu 90ºC selama 7 jam dan suhu 90ºC selama 9 jam mampu menurunkan kadar air pada tepung cangkang kijing lokal. Suhu pengeringan 50ºC dan 70ºC selama 5 jam kandungan protein pada tepung cangkang kijing lokal dapat dipertahankan dan suhu 90ºC selama 7 jam dan pemanasan suhu 50ºC selama 9 jam serta suhu 90ºC selama 9 jam mampu meningkatkan kadar abu pada tepung cangkang kijing lokal. Berdasarkan

15 pembuktian pada penelitian tersebut bahwa hipotesis H 1 1 (Perbedaan suhu pengeringan berpengaruh terhadap karakteristik kimia tepung cangkang kijing lokal (Pilsbryoconcha sp.) diterima.

BAB I PENDAHULUAN. Kurangnya pemanfaatan kijing dikarenakan belum terdapatnya informasi dan

BAB I PENDAHULUAN. Kurangnya pemanfaatan kijing dikarenakan belum terdapatnya informasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu jenis kerang yang kurang dimanfaatkan adalah kijing lokal. Kijing atau Pilsbryoconcha sp. tergolong dalam moluska yang hidup di dasar perairan dan makan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 21 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Kimia Cangkang Kijing Lokal Cangkang kijing yang telah dihancurkan dengan hammer mill menjadi tepung cangkang dianalisis komposisi kimianya. Uji proksimat cangkang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengkondisian Grits Jagung Proses pengkondisian grits jagung dilakukan dengan penambahan air dan dengan penambahan Ca(OH) 2. Jenis jagung yang digunakan sebagai bahan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Karakteristik menir segar Karakteristik. pengujian 10,57 0,62 0,60 8,11 80,20 0,50 11,42 18,68.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Karakteristik menir segar Karakteristik. pengujian 10,57 0,62 0,60 8,11 80,20 0,50 11,42 18,68. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK MENIR SEGAR Pengujian karakteristik dilakukan untuk mengetahui apakah bahan baku yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pengolahan tepung menir pragelatinisasi

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan 29 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar Rataan kandungan protein kasar asal daun singkong pada suhu pelarutan yang berbeda disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Gambar tanaman dan wortel. Tanaman wortel. Wortel

Lampiran 1. Gambar tanaman dan wortel. Tanaman wortel. Wortel Lampiran 1. Gambar tanaman dan wortel Tanaman wortel Wortel Lampiran 2. Gambar potongan wortel Potongan wortel basah Potongan wortel kering Lampiran 3. Gambar mesin giling tepung 1 2 4 3 5 Mesin Giling

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. putus, derajat kecerahan, kadar serat kasar dan sifat organoleptik dilaksanakan

BAB III MATERI DAN METODE. putus, derajat kecerahan, kadar serat kasar dan sifat organoleptik dilaksanakan 14 BAB III MATERI DAN METODE 3.1 Materi Penelitian Penelitian substitusi tepung suweg terhadap mie kering ditinjau dari daya putus, derajat kecerahan, kadar serat kasar dan sifat organoleptik dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan selama Proses Pengeringan Kondisi lingkungan merupakan aspek penting saat terjadinya proses pengeringan. Proses pengeringan dapat memberikan pengaruh terhadap sifat

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN TEPUNG DARI BUAH SUKUN. (Artocarpus altilis)

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN TEPUNG DARI BUAH SUKUN. (Artocarpus altilis) LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN TEPUNG DARI BUAH SUKUN Disusun Oleh: FERAWATI I 8311017 PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2014 KATA PENGANTAR Segala

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae,

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae, I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pertambahan bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pengambilan data pertambahan biomassa cacing tanah dilakukan

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kepadatan 5 kijing, persentase penurunan total nitrogen air di akhir perlakuan sebesar 57%, sedangkan untuk kepadatan 10 kijing

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Buah Kurma Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah kurma dalam bentuk yang telah dikeringkan dengan kadar air sebesar 9.52%. Buah kurma yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pragel pati singkong yang dibuat menghasilkan serbuk agak kasar

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pragel pati singkong yang dibuat menghasilkan serbuk agak kasar BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan Pragel Pati Singkong Pragel pati singkong yang dibuat menghasilkan serbuk agak kasar berwarna putih. Rendemen pati yang dihasilkan adalah sebesar 90,0%.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa, dan (7) Waktu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging TDTLA Pedaging HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Pertama Penelitian tahap pertama adalah pembuatan tepung daging-tulang leher ayam yang dilakukan sebanyak satu kali proses pembuatan pada waktu yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PROSES PENGOLAHAN BERAS PRATANAK Gabah yang diperoleh dari petani masih bercampur dengan jerami kering, gabah hampa dan kotoran lainnya sehingga perlu dilakukan pembersihan.

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 12 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Mei 2011. Preparasi bahan baku dilakukan di Laboratorium Preservasi dan Pengolahan Hasil Perairan, Departeman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 53 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Mutu Kitosan Hasil analisis proksimat kitosan yang dihasilkan dari limbah kulit udang tercantum pada Tabel 2 yang merupakan rata-rata dari dua kali ulangan.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tepung Tulang Ikan Tuna 4.1.1 Rendemen Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk atau bahan. Perhitungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Biji nangka merupakan salah satu limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal biji nangka memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi yaitu karbohidrat

Lebih terperinci

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT. Feri Manoi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT. Feri Manoi STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT Feri Manoi PENDAHULUAN Untuk memperoleh produk yang bermutu tinggi, maka disusun SPO penanganan pasca panen tanaman kunyit meliputi, waktu panen,

Lebih terperinci

MATERI DAN METOD E Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Penelitian Tahap Pertama

MATERI DAN METOD E Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Penelitian Tahap Pertama MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Bagian Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Pengeringan Matahari Penelitian ini dilakasanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2011 di Fakultas Peternakan, Institut Petanian Bogor, Dramaga. Keadaan cuaca pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya 2.1 Komposisi Kimia Udang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Udang merupakan salah satu produk perikanan yang istimewa, memiliki aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya lebih

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah I. TINJAUAN PUSTAKA A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah dibudidayakan. Jamur tiram termasuk familia Agaricaceae atau Tricholomataceae

Lebih terperinci

PEMBUATAN KITOSAN DARI KULIT UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) DAN APLIKASINYA SEBAGAI PENGAWET ALAMI UNTUK UDANG SEGAR

PEMBUATAN KITOSAN DARI KULIT UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) DAN APLIKASINYA SEBAGAI PENGAWET ALAMI UNTUK UDANG SEGAR JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 2 No.2 ; November 2015 PEMBUATAN KITOSAN DARI KULIT UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) DAN APLIKASINYA SEBAGAI PENGAWET ALAMI UNTUK UDANG SEGAR Noor Isnawati, Wahyuningsih,

Lebih terperinci

Uji Pembedaan Ikan Teri Kering pada Lama Pengeringan Berbeda dengan Ikan Teri Komersial dari Desa Tolotio Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo

Uji Pembedaan Ikan Teri Kering pada Lama Pengeringan Berbeda dengan Ikan Teri Komersial dari Desa Tolotio Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo Uji Pembedaan Ikan Teri Kering pada Lama Pengeringan Berbeda dengan Ikan Teri Komersial dari Desa Tolotio Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo 1.2 Rimin Lasimpala, 2 Asri Silvana aiu 2 Lukman Mile

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Dari sekian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Dari sekian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Dari sekian banyaknya varietas buah-buahan yang berkembang di Indonesia, tentunya tidak semua dapat diunggulkan.

Lebih terperinci

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1 Bahan

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1 Bahan III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1 Bahan Bahan-bahan yang digunakan yaitu Sargassum polycystum, akuades KOH 2%, KOH 10%, NaOH 0,5%, HCl 0,5%, HCl 5%,

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil identifikasi sampel

Lampiran 1. Hasil identifikasi sampel Lampiran 1. Hasil identifikasi sampel 36 Lampiran 2. Gambar tumbuhan jerami padi ( a ) ( b ) Keterangan : a. Pohon padi b. Jerami padi 37 Lampiran 3. Gambar serbuk, α-selulosa, dan karboksimetil selulosa

Lebih terperinci

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Mei 2012 sampai bulan Agustus 2012. Tempat yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah Laboratorium Percobaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Gembili Menurut Nur Richana (2012), gembili diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae ( tumbuh- tumbuhan) Divisio : Magnoliophyta ( tumbuhan berbiji

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccarum officinarum L) termasuk famili rumput-rumputan. Tanaman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccarum officinarum L) termasuk famili rumput-rumputan. Tanaman BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tebu Tebu (Saccarum officinarum L) termasuk famili rumput-rumputan. Tanaman ini memerlukan udara panas yaitu 24-30 ºC dengan perbedaan suhu musiman tidak lebih dari 6 ºC, perbedaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan % BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap benih Lele Sangkuriang selama 42 hari masa pemeliharaan diketahui bahwa tingkat penggunaan limbah ikan tongkol

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Purata Kadar Protein Tempe ( mg / ml ± SE) pada Perlakuan Variasi Penambahan Inokulum Tempe dan Tepung Belut

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Purata Kadar Protein Tempe ( mg / ml ± SE) pada Perlakuan Variasi Penambahan Inokulum Tempe dan Tepung Belut 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kadar Protein Tempe pada Perlakuan Variasi Penambahan Inokulum Tempe dan Tepung Belut Kadar protein pada tempe dengan berbagai perbandingan diukur dengan menggunakan metode

Lebih terperinci

[PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR]

[PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR] 2014 Program Studi Peternakan MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH DAN SISA HASIL TERNAK Dr.Hj.Jamila S.Pt, M.P [PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR] Limbah cangkang telur yang ada bukan hanya berasal

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN 4.1.1. Analisis Kandungan Senyawa Kimia Pada tahap ini dilakukan analisis proksimat terhadap kandungan kimia yang terdapat dalam temulawak kering yang

Lebih terperinci

Metode Penelitian Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4. Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu:

Metode Penelitian Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4. Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu: 15 METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di lapang pada bulan Februari hingga Desember 2006 di Desa Senyawan, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Gambar 3). Analisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bakso adalah jenis makanan yang dibuat dari bahan pokok daging dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bakso adalah jenis makanan yang dibuat dari bahan pokok daging dengan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bakso Bakso adalah jenis makanan yang dibuat dari bahan pokok daging dengan penambahan bumbu-bumbu dan bahan kimia lain sehingga dihasilkan produk yang strukturnya kompak atau

Lebih terperinci

Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat Kelangsungan Hidup BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Hasil análisis data penelitian dari masing-masing parameter adalah sebagai berikut: a. Hasil Analisis Kandungan Tabel 1. Tandan Kosong Kelapa Sawit *) Parameter

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian Secara garis besar penelitian dibagi menjadi tiga, yaitu pembuatan kertas dengan modifikasi tanpa tahap penghilangan lemak, penambahan aditif kitin, kitosan, agar-agar, dan karagenan,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan 24 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Biomassa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( ) R I N I T H E R E S I A ( )

KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( ) R I N I T H E R E S I A ( ) KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( 1 2 2 1 5 0 1 1 3 ) R I N I T H E R E S I A ( 1 2 2 1 5 0 1 1 2 ) Menetukan Sistem Periodik Sifat-Sifat Periodik Unsur Sifat periodik

Lebih terperinci

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Produksi Kopi Biji Salak dengan Penambahan Jahe Merah dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 di Laboratorium Rekayasa Proses dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP

Lebih terperinci

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG 49 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kandungan Klorofil Pada Ekstrak Sebelum Pengeringan dan Bubuk Klorofil Terenkapsulasi Setelah Pengeringan Perhitungan kandungan klorofil pada ekstrak sebelum pengeringan

Lebih terperinci

3.1. Nata Komersial Hasil pengujian nata de coco dapat dilihat pada Tabel 1. merupakan nata yang difermentasikan menggunakan media air kelapa.

3.1. Nata Komersial Hasil pengujian nata de coco dapat dilihat pada Tabel 1. merupakan nata yang difermentasikan menggunakan media air kelapa. 3. HASIL PENGAMATAN 3.1. Nata Komersial Hasil pengujian nata de coco dapat dilihat pada Tabel 1. merupakan nata yang difermentasikan menggunakan media air kelapa. Tabel 1. Nata de Coco Sampel nata Tekstur

Lebih terperinci

PRODUKSI GULA CAIR DARI PATI SAGU SULAWESI TENGGARA

PRODUKSI GULA CAIR DARI PATI SAGU SULAWESI TENGGARA PRODUKSI GULA CAIR DARI PATI SAGU SULAWESI TENGGARA Agus Budiyanto, Abdullah bin Arif dan Nur Richana Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian n Disampaikan Pada Seminar Ilmiah dan Lokakarya Nasional 2016

Lebih terperinci

Desikator Neraca analitik 4 desimal

Desikator Neraca analitik 4 desimal Lampiran 1. Prosedur Uji Kadar Air A. Prosedur Uji Kadar Air Bahan Anorganik (Horwitz, 2000) Haluskan sejumlah bahan sebanyak yang diperlukan agar cukup untuk analisis, atau giling sebanyak lebih dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ketika mendengar kata keramik, umumnya orang menghubungkannya dengan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ketika mendengar kata keramik, umumnya orang menghubungkannya dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketika mendengar kata keramik, umumnya orang menghubungkannya dengan produk industri barang pecah belah, seperti perhiasan dari tanah, porselin, ubin, batu bata, dan lain-lain

Lebih terperinci

1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan.

1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan. Penentuan kadar serat kasar Kadar serat kasar dianalisa dengan menggunakan metode Sudarmadji dkk, 1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml kemudian ditambahkan 200 ml H 2 SO4

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang 17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang cukup lengkap untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENELITIAN PENDAHULUAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kadar proksimat dari umbi talas yang belum mengalami perlakuan. Pada penelitian ini talas yang digunakan

Lebih terperinci

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG V. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 Analisis Kimia.1.1 Kadar Air Hasil analisis regresi dan korelasi (Lampiran 3) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara jumlah dekstrin yang ditambahkan pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cincau hijau Premna oblongifolia disebut juga cincau hijau perdu atau cincau hijau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cincau hijau Premna oblongifolia disebut juga cincau hijau perdu atau cincau hijau 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Cincau Hijau Cincau hijau (Premna oblongifolia) merupakan bahan makanan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat dan digunakan sebagai isi minuman segar. Cincau hijau

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan dalam penelitian kali ini terdiri dari bahan utama yaitu biji kesambi yang diperoleh dari bantuan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Rataan Nilai Warna (L, a, b dan HUE) Dendeng Sapi dengan Metode Perlakuan Curing yang Berbeda HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Warna Dendeng Sapi Warna merupakan salah satu indikator fisik yang dapat mempengaruhi konsumen terhadap penerimaan suatu produk. Derajat warna menunjukkan tingkat warna

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. ALAT DAN BAHAN Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah jarak pagar varietas Lampung IP3 yang diperoleh dari kebun induk jarak pagar BALITRI Pakuwon, Sukabumi.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki

TINJAUAN PUSTAKA. Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tulang Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki pembuluh darah, limpa dan syaraf. Tulang terdiri atas bagian tulang yang kompak atau padat dan bagian

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA TEPUNG CANGKANG KIJING LOKAL (Pilsbryoconcha exilis) YULIA KUSUMA WARDHANI C

KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA TEPUNG CANGKANG KIJING LOKAL (Pilsbryoconcha exilis) YULIA KUSUMA WARDHANI C KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA TEPUNG CANGKANG KIJING LOKAL (Pilsbryoconcha exilis) YULIA KUSUMA WARDHANI C34051025 DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Ekstraksi Tepung Karaginan Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : 1. Sortasi dan Penimbangan Proses sortasi ini bertujuan untuk memisahkan

Lebih terperinci

KAJIAN SIFAT KIMIA DAN RENDEMEN DARI TEPUNG BIJI CEMPEDAK (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.) DENGAN PENGERINGAN YANG BERBEDA

KAJIAN SIFAT KIMIA DAN RENDEMEN DARI TEPUNG BIJI CEMPEDAK (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.) DENGAN PENGERINGAN YANG BERBEDA KAJIAN SIFAT KIMIA DAN RENDEMEN DARI TEPUNG BIJI CEMPEDAK (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.) DENGAN PENGERINGAN YANG BERBEDA Marwati Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI).

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Mutu Organoleptik Biskuit Selama Penyimpanan Uji kesukaan dan mutu hedonik merupakan salah satu cara untuk uji sensori suatu produk. Uji kesukaan dan mutu hedonik dilakukan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Pada penelitian pendahuluan dilakukan uji proksimat kulit udang dan penentuan waktu proses perendaman kulit udang dengan larutan HCl yang terbaik. Uji

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c. Pada proses pembentukan magnetit, urea terurai menjadi N-organik (HNCO), NH + 4,

HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c. Pada proses pembentukan magnetit, urea terurai menjadi N-organik (HNCO), NH + 4, 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Magnetit Pembentukan magnetit diawali dengan reaksi reduksi oleh natrium sitrat terhadap FeCl 3 (Gambar 1). Ketika FeCl 3 ditambahkan air dan urea, larutan berwarna jingga.

Lebih terperinci

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juni Agustus 2014 di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juni Agustus 2014 di Laboratorium 17 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan selama bulan Juni Agustus 2014 di Laboratorium Rekayasa Biopress Pasca Panen, Laboratorium Daya, Alat Mesin Pertanian Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan. B. Waktu dan Tempat Penelitian a. Waktu Penelitian dilakukan mulai

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu mulai dari bulan Maret hingga Mei 2011, bertempat di Laboratorium Pilot Plant PAU dan Laboratorium Teknik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Organoleptik Ikan Layang Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 2. Histogram hasil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proses Pengolahan dan Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, CV. An-

Lebih terperinci

KERUPUK UDANG ATAU IKAN

KERUPUK UDANG ATAU IKAN KERUPUK UDANG ATAU IKAN 1. PENDAHULUAN Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan

Lebih terperinci

PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN

PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN EFEK PENGERINGAN TERHADAP PANGAN HASIL TERNAK PERLAKUAN SEBELUM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gram jamur kering juga mengandung protein 10,5-30,4%, lemak 1,7-2,2%, kalsium 314 mg, dan kalori 367 (Suwito, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. gram jamur kering juga mengandung protein 10,5-30,4%, lemak 1,7-2,2%, kalsium 314 mg, dan kalori 367 (Suwito, 2006). BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) saat ini cukup populer dan banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya yang lezat dan juga penuh kandungan nutrisi, tinggi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Maksud Penelitian, (5) Manfaat Penelitian, (6) Kerangka Pemikiran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kuning melalui proses fermentasi jamur yaitu Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus oligosporus. Tempe dikenal sebagai

BAB I PENDAHULUAN. kuning melalui proses fermentasi jamur yaitu Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus oligosporus. Tempe dikenal sebagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai beranekaragam biji-bijian kacang polong yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan tempe seperti kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, biji kecipir,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Kimia dan Laboratorium Biondustri TIN IPB, Laboratorium Bangsal Percontohan Pengolahan Hasil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci dengan Berbagai Konsentrasi Garam 44 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Rendemen Kerupuk Kulit Kelinci Hasil penelitian pengaruh konsentrasi garam terhadap rendemen kerupuk kulit kelinci tercantum pada Tabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pangan dan Gizi, Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Program Studi Ilmu

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis LAMPIRAN Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24... (Bar) Suhu 15 0 C 1.64 0.29 0.16 0.32 0.24b 0.32b 0.27b 0.29b 0.39b 0.76b

Lebih terperinci