UNIVERSITAS INDONESIA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE 21 JANUARI 4 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANISA PRIMA HILMI, S.Far ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JULI 2013

2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE 21 JANUARI 4 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker ANISA PRIMA HILMI, S.Far ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JULI 2013 ii

3

4 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Angkatan LXXVI yang diselenggarakan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 21 Januari 4 Februari Kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini dilaksanakan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Apoteker, dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan. Pada kesempatan ini, dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D., Apt. selaku Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengenal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2. Drs. Bayu Teja, Apt., M.Pharm. selaku Direktur Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan atas bantuan, bimbingan dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengenal direktorat ini. 3. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan selaku pembimbing atas bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis. 4. Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi. 5. Drs. Syafrizal, Apt. selaku Kasubdit Pemantauan dan Evaluasi Program atas bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis. 6. Drs. Ramalan selaku Kasubbag Tata Usaha Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Dra. Sa diah, Apt, M.Kes. selaku Kasubdit Analisis dan Standarisasi, Drs. Heru Sunaryo, Apt. selaku Kasubdit Penyediaan, Dra. Sri Endah S., Apt. selaku Kasubdit Pengelolaan Obat dan Perbekalan iv

5 Kesehatan, beserta staf yang telah banyak membantu dan membimbing penulis. 7. Seluruh staf dan karyawan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atas segala keramahan, pengarahan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis selama melaksanakan PKPA. 8. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Farmasi atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis. 9. Keluarga tercinta terutama ibu, ayah, dan adik-adikku atas segala kasih sayang, dukungan, semangat, dorongan dan doa yang tiada henti hentinya selama ini. 10. Teman-teman seperjuangan Apoteker Angkatan LXXVI atas semangat, dukungan dan kerja sama selama ini. 11. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis selama penyusunan laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan PKPA ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia farmasi pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Penulis 2013 v

6 HALAMAN PERNY AT AAN PERSETOJUAN PUBLIKASI KARY A 1LMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademika, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Anisa Prima Hilmi, S.Far. NPM : Program Studi : Apoteker Fakultas : Farmasi Jenis karya : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-ekskJusif (Non-exclusive Royalty-Free RighI) atas karya ilmiah saya yang berjudul: Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesebatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan AlaI Kesebatan Kementerian Kesebatan Republik Indonesia Periode 21 Januari- 4 Februari beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini berhak menyimpan, mengajihmediaiformat- kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan karya ilmiah saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulislpencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok Pada tanggaj : 22Agustus 2013 Yang menyatakan, (Anisa Prima Hilmi, S.Far.)

7 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN UMUM Tinjauan Umum Kementerian Kesehatan Tinjauan Tentang Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan... 8 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN Tugas dan Fungsi Tujuan Sasaran Strategi Intervensi Struktur Organisasi BAB 4 PELAKSANAAN DAN PENGAMATAN BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN DAFTAR LAMPIRAN vi

8 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lampiran 3. Struktur Organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lampiran 4. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Lampiran 5. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Lampiran 6. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Lampiran 7. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian vii

9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang menungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk mewujudkannya dilakukan upaya kesehatan yang merupakan setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Salah satu upaya kesehatan adalah dengan pelayanan kefarmasian seperti penyediaan obat dan vaksin serta penyediaan perbekalan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan mudah diperoleh berperan dalam upaya pencegahan dan pengobatan penyakit yang ada di masyarakat (Presiden RI, 2009b). Dalam rangka menunjang pelayanan kefarmasian tersebut, Menteri Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Berdasarkan Permenkes tersebut, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki satu Sekretariat Direktorat Jenderal dan empat direktorat. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki sasaran utama yaitu menjamin semua sediaan farmasi, makanan, dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat serta menjamin ketersediaan obat esensial dan alat kesehatan dasar di setiap daerah (Menteri Kesehatan RI, 2010a). Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal yang sangat mendasar dan penting. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan mengenai pemenuhan ketersediaan kedua hal tersebut. Pelaksanaan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan diatur oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yang merupakan bagian dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2010b). 1

10 2 Peran apoteker menurut Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 adalah melakukan pengadaan, produksi, distribusi, dan pelayanan kesehatan (Presiden RI, 2009c). Mengingat pentingnya peran apoteker tersebut dalam menjamin obat dan perbekalan kesehatan maka calon apoteker perlu melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sehingga calon apoteker memperoleh gambaran tentang peran apoteker di masyarakat secara umum dan di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan secara khusus, terutama di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan bertujuan agar calon apoteker: a. Memahami tugas dan fungsi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. b. Memahami peran masing-masing subdirektorat dalam Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.

11 BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Tinjauan Umum Kementerian Kesehatan Menteri Kesehatan RI (Kemenkes RI) merupakan unsur pelaksana pemerintah di bidang kesehatan yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan. dan bertanggung jawab kepada Presiden. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009, nama Kementerian Kesehatan digunakan untuk mengganti nama sebelumnya yaitu Departemen Kesehatan (Presiden RI, 2009a) Visi dan Misi (Menteri Kesehatan RI, 2010a) Visi yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan. Misi Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani. b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan. c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik Tugas dan Fungsi Kementerian Kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara (Menteri Kesehatan RI, 2010b). Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut (Menteri Kesehatan RI, 2010b) : a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan. b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Kesehatan. 3

12 4 d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Kesehatan di daerah. e. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional Strategi Kementerian Kesehatan telah membuat beberapa strategi dalam rangka pembangunan kesehatan yang dapat mewujudkan Visi dan Misi yang telah ditetapkannya. Adapun strategi yang dijalankan adalah (Menteri Kesehatan RI, 2010a) : a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global. b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif. c. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional. d. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu. e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan berdayaguna dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab Nilai - nilai Guna mewujudkan Visi dan mengembangkan Misi yang ada, Kementerian Kesehatan menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai, yaitu (Menteri Kesehatan RI, 2010a) :

13 5 a. Pro Rakyat Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan haruslah menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. b. Inklusif Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak karena pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat madani dan masyarakat akar rumput. c. Responsif Program kesehatan haruslah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penanganan yang berbeda pula. d. Efektif Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan dan bersifat efisien. e. Bersih Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel Kewenangan Menteri Kesehatan RI mempunyai kewenangan dalam menyelenggarakan fungsinya. Kewenangan tersebut yaitu (Menteri Kesehatan RI, 2010) : a. Penetapan kebijakan nasional di bidang kesehatan untuk mendukung pembangunan secara makro.

14 6 b. Penetapan pedoman untuk menetukan standar pelayanan minimal yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota di bidang Kesehatan. c. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidang kesehatan. d. Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan. e. Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi di bidang kesehatan. f. Pengaturan penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara di bidang kesehatan. g. Penetapan standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan. h. Penanggulangan wabah dan bencana yang berskala nasional di bidang kesehatan. i. Penetapan kebijakan sistem informasi nasional di bidang kesehatan. j. Penetapan persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan. k. Penyelesaian perselisihan antar Propinsi di bidang kesehatan. l. Penetapan kebijakan pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian ibu, bayi, dan anak. m. Penetapan kebijakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat. n. Penetapan pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. o. Penetapan pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan. p. Penetapan pedoman penapisan, pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan dan standar etika penelitian kesehatan. q. Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi. r. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan. s. Surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah, penyakit menular dan kejadian luar biasa. t. Penyediaan obat esensial tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat essential (buffer stock nasional).

15 7 u. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu penempatan dan pemindahan tenaga kesehatan tertentu dan pemberian izin dan pembinaan produksi dan distribusi alat kesehatan Struktur Organisasi Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.1144/MENKES/PER/VIII/ 2010 mengenai Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, struktur organisasi Kementerian Kesehatan yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan terdiri atas: a. Sekretariat Jenderal. b. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. c. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. d. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. e. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. f. Inspektorat Jenderal. g. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. h. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. i. Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi. j. Staf Ahli Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat. k. Staf Ahli Bidang Perlindungan Faktor Risiko Kesehatan. l. Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. m. Staf Ahli Bidang Mediko Legal. n. Pusat Data dan Informasi. o. Pusat Kerja Sama Luar Negeri. p. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan. q. Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. r. Pusat Komunikasi Publik. s. Pusat Promosi Kesehatan. t. Pusat Inteligensia Kesehatan. u. Pusat Kesehatan Haji. Bagan struktur organisasi Kementerian Kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

16 8 Pejabat Eselon di Direktorat terdiri atas : a. Eselon 1 : Direktur jenderal b. Eselon 2 : Direktur c. Eselon 3 : Kepala subdirektorat d. Eselon 4 : Kepala seksi Pejabat Eselon di sekretariat Direktorat Jenderal terdiri atas : a. Eselon 1 : Direktur jenderal b. Eselon 2 : Sekretaris direktorat jenderal c. Eselon 3 : Kepala bagian d. Eselon 4 : Kepala sub bagian 2.2 Tinjauan Tentang Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Sesuai dengan Permenkes RI Nomor: 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan merupakan unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2010b). Dalam melaksanakan tugasnya, Direkorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Perumusan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan.

17 9 e. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tujuan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki tujuan sebagai berikut (Menteri Kesehatan RI, 2010b): a. Terjaminnya ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan; b. Terlindunginya masyarakat dari penggunaan obat dan perbekalan kesehatan yang tidak memenuhi standar mutu, keamanan dan kerasionalan; c. Meningkatnya mutu pelayanan farmasi komunitas dan farmasi rumah sakit dalam kerangka pelayanan kesehatan komprehensif yang didukung oleh tenaga farmasi yang professional Sasaran dan Indikator Sasaran hasil Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 yaitu persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100% (Menteri Kesehatan RI, 2010b) Kegiatan Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan meliputi (Menteri Kesehatan RI, 2010b) : a. Peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Peningkatan produksi dan distribusi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT). c. Peningkatan pelayanan kefarmasian. d. Peningkatan produksi dan distribusi kefarmasian.

18 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dipimpin oleh Direktur Jenderal yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan terdiri dari (Lampiran 2) (Menteri Kesehatan RI, 2010b) : Sekretariat Direktorat Jenderal Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pelayanan teknis administrasi kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi: a. Koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran. b. Pengelolaan data dan informasi. c. Penyiapan urusan hukum, penataan organisasi, jabatan fungsional, dan hubungan masyarakat. d. Pengelolaan urusan keuangan. e. Pelaksanaan urusan kepegawaian, tata persuratan, kearsipan, gaji, rumah tangga, dan perlengkapan. f. Evaluasi dan penyusunan laporan. Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari (Lampiran 3): a. Bagian Program dan Informasi. b. Bagian Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat. c. Bagian Keuangan. d. Bagian Kepegawaian dan Umum. e. Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Dalam melaksanakan

19 11 tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 548, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi: a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan;dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari (Lampiran 4): a. Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat. b. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. c. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. d. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional.

20 Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pelayanan kefarmasian. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 568, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. d. Pemberian bimbingan teknis di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. e. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang standardisasi, farmasi komunitas, farmasi klinik, dan penggunaan obat rasional. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari (Lampiran 5): a. Subdirektorat Standarisasi b. Subdirektorat Farmasi Komunitas c. Subdirektorat Farmasi Klinik d. Subdirektorat Penggunaan Obat Rasional e. Subbagian Tata Usaha f. Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan

21 13 norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 588, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan menyelenggarakan fungsi: a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang penilaian, inspeksi, standardisasi dan sertifikasi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga. f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari (Lampiran 6): a. Subdirektorat Penilaian Alat Kesehatan. b. Subdirektorat Penilaian Produk Diagnostik Invitro dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. c. Subdirektorat Inspeksi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. d. Subdirektorat Standarisasi dan Sertifikasi. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional.

22 Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 608, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. b. Pelaksanaan kegiatan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis, pengendalian, kajian dan analisis di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. e. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. f. Pelaksanaan perizinan di bidang produksi dan distribusi kefarmasian. g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari (Lampiran 7): a. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Obat dan Obat Tradisional. b. Subdirektorat Produksi Kosmetika dan Makanan. c. Subdirektorat Produksi dan Distribusi Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Sediaan Farmasi Khusus. d. Subdirektorat Kemandirian Obat dan Bahan Baku Obat. e. Subbagian Tata Usaha. f. Kelompok Jabatan Fungsional.

23 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN 3.1 Tugas dan Fungsi (Menteri Kesehatan RI, 2010b) Tugas Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yaitu melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Dalam melaksanakan tugasnya Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; b. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan, dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; e. Evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan; dan f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 15

24 Tujuan Tujuan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan adalah penyediaan obat dan perbekalan kesehatan di sektor publik yang lengkap jenis, jumlah cukup, dan mudah diperoleh setiap saat dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin, serta menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan. Dengan mewujudkan suatu pedoman, standar, norma, kriteria, dan prosedur di bidang penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar, sesuai peraturan yang berlaku. 3.3 Sasaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian memiliki Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Sasaran hasil program yang tersusun dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang akan dilakukan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian memiliki Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan melalui Direktorat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan adalah peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan dengan meingkatkan ketersediaan obat essensial generik disaran pelayanan kesehatan dasar. Indikator pencapaian pada tahun 2014 adalah (Menteri Kesehatan RI, 2010b) : a. Persentase kesediaan obat dan vaksin sebesar 100% b. Persentase obat yang memenuhi standar, cukp dan terjangkau sebesar 95% c. Ketersediaan obat per kapita per tahun di sarana pelayanan kesehatan dasar Rp per kapita d. Persentase Instalasi Farmasi Kab/Kota sesuai standar sebesar 80 %

25 Strategi Intervensi Dalam rangka mencapai sasaran, maka Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki strategi dalam menjalankan kebijakannya antara lain : a. Meningkatkan cakupan dan kuantitas pelayanan dengan beberapa strategi yang dijalankan, antara lain: 1. Ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan mencakup jenis, jumlah cukup dan mudah diperoleh setiap saat, harga terjangkau dan kualitas terjamin; dan 2. Manajemen logistik obat dan perbekalan kesehatan. b. Membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, dinas/instansi lintas sektor dan perguruan tinggi profesi terkait dalam hal : 1. Perumusan kebijakan di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar. 2. Perumusan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur dalam hal pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan 3. Melaksanakan advokasi dalam rangka terwujudnya kebijakan, program atau proyek atau kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasarannya. 3.5 Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2010b) Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian yang berada di bawah naungan Ditjen Binfar dan Alkes terdiri atas: a. Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat; b. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; c. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; d. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan; e. Subbagian Tata Usaha; dan f. Kelompok Jabatan Fungsional.

26 Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang analisis dan standarisasi harga obat Tugas dan Fungsi Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat menyelenggarakan fungsi: a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standarisasi harga obat; b. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan standarisasi harga obat; c. Penyiapan bahan bimbingan teknis di bidang analisis dan standarisasi harga obat; dan d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang analisis dan standarisasi harga obat Struktur Organisasi Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat terdiri atas : a. Seksi Analisis Harga Obat Seksi Analisis Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan analisis, kajian, dan pemantauan harga obat. b. Seksi Standarisasi Harga Obat Seksi Standarisasi Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria harga obat Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan

27 19 teknis, pengendalian, pemantauan dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; b. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; c. Penyiapan bahan bimbingan teknis dan pengendalian di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan Struktur Organisasi Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Perencanaan Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Pemantauan Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, pengendalian, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan.

28 Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta bimbingan teknis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; b. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; c. Penyiapan bahan bimbingan teknis dan pengendalian di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan; dan d. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Struktur Organisasi Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Standarisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Standarisasi Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Bimbingan dan Pengendalian Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis,

29 21 pengendalian, pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, bimbingan teknis, pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan Tugas dan Fungsi Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Dalam melaksanakan tugasnya, Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi : a. Penyiapan bahan pemantauan pelaksanaan kebijakan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan; dan b. Penyiapan bahan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang program obat publik dan perbekalan kesehatan Struktur Organisasi Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas : a. Seksi Pemantauan Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Pemantauan Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pemantauan pelaksanaan program obat publik dan perbekalan kesehatan. b. Seksi Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Seksi Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan evaluasi pelaksanaan program obat publik dan perbekalan kesehatan.

30 Subbagian Tata Usaha Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Tugas sub bagian ini adalah melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

31 BAB 4 PELAKSANAAN DAN PENGAMATAN Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) UI angkatan LXXVI di Ditjen Binfar dan Alkes Kementerian Kesehatan RI dilaksanakan pada tanggal 21 Januari - 4 Februari Hari pertama kegiatan PKPA diawali dengan acara perkenalan antara pihak Ditjen Binfar dan Alkes dengan pihak program profesi apoteker UI oleh Bapak Kamit Waluyo, SH. Acara perkenalan yang disertai pengantar umum tersebut dilaksanakan pada pukul WIB di ruang 805, yaitu ruang rapat Ditjen Binfar dan Alkes Kementerian Kesehatan RI. Peserta PKPA diberikan informasi mengenai Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan untuk dapat menjalankan tugas selama berlangsungnya kegiatan PKPA. Materi yang diberikan pada pembekalan ini berupa penjelasan mengenai Organisasi dan Tata Kementerian Kesehatan. Dalam pembekalan tersebut, peserta PKPA mendapat informasi mengenai visi, misi, kedudukan, tugas, dan fungsi serta susunan organisasi Ditjen Binfar dan Alkes. Pada pelaksanaan PKPA ini, peserta dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan direktorat yang dibawahi Ditjen Binfar dan Alkes Kementerian Kesehatan RI, yaitu Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, dan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Tiap kelompok terdiri dari 6-7 orang. Kelompok peserta PKPA yang ditempatkan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yang dibimbing oleh Bapak Drs. Ramalan selaku perwakilan dari Tata Usaha Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Dalam kunjungan ini, peserta PKPA diperkenalkan dengan beberapa Kepala Subdirektorat (Subdirektorat) dan staf Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan karena sebagian Kepala Subdirektorat dan staf tidak ada di tempat (tugas dinas). Selanjutnya, peserta PKPA mendapatkan pengarahan dari Bapak Drs. Ramalan mengenai visi, misi, struktur organisasi, tugas, fungsi, dan kegiatan secara 23

32 24 umum yang telah dilakukan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Kegiatan PKPA dilanjutkan dengan pemberian materi oleh tiap Subdirektorat yang ada di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Penjelasan Materi Subdirektorat Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan yang diberikan oleh Ibu Dra. Sri Endah S.Apt selaku Kepala Subdirektorat Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan. Peserta PKPA mendapatkan pengarahan dari Ibu Dra. Sri Endah S.Apt mengenai visi, misi, struktur organisasi, tugas, fungsi, dan kegiatan secara umum yang dilakukan oleh Subdirektorat Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan. Subdirektorat Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan berperan dalam penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi, dan penyusunan laporan dibidang pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan. Kegiatan PKPA di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan berlangsung selama dua pekan. Dalam pekan pertama, peserta PKPA diberikan kesempatan untuk menyusun laporan umum kegiatan PKPA serta membaca literatur yang terkait dengan Direktorat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Peserta PKPA mendapatkan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan di setiap Subdirektorat di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Pada pekan kedua, peserta PKPA diberikan kesempatan untuk berdiskusi visi, misi, struktur organisasi, tugas, fungsi, dan sejarah serta kegiatan secara umum yang telah dilakukan oleh tiap Subdirektorat di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Berdasarkan hasil diskusi, peserta PKPA mendapat gambaran mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di tiap Subdirektorat di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi oleh tiap Subdirektorat di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan serta gambaran umum mengenai program yang akan dilaksanakan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan pada tahun 2013, seperti e-katalog, e-logistik, SJSN, dan lain-lain. Kegiatan PKPA dilanjutkan dengan pemberian materi oleh tiap Subdirektorat yang ada di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan

33 25 Kesehatan. Penjelasan Materi Subdirektorat Analisis dan Standarisasi Harga Obat diberikan oleh Dra. Sa diah, Apt, M.Kes. selaku KaSubdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat. Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan diberikan oleh Drs. Heru Sunaryo, Apt. selaku KaSubdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan diberikan oleh Dra. Sri Endah S., Apt. selaku KaSubdirektorat Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan. Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan diberikan oleh Drs. Syafrizal, Apt. selaku KaSubdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.

34 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Kementerian Kesehatan RI merupakan suatu kementerian yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Kementerian kesehatan mempunyai beberapa fungsi yaitu melakukan perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan, pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan, pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Kesehatan, pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Kesehatan di daerah dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. Visi Kementerian Kesehatan RI tahun adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan sedangkan misi Kementerian Kesehatan RI diantaranya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi kesehatan masyarakat dan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; serta menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Visi dan misi Kementerian Kesehatan dicapai dengan adanya koordinasi antar direktorat jenderal yang bernaung dibawahnya. Empat Direktorat Jenderal yang bernaung yaitu Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan merupakan salah satu direktorat jenderal pada Kementerian Kesehatan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. Berdasarkan Permenkes Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Pasal 527 bahwa Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kefarmasian dan alat 26

35 27 kesehatan; penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan; dan pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Direktorat yang dibawahi Ditjen Binfar dan Alkes Kementerian Kesehatan RI yaitu Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan dan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah berupa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang memiliki tujuan agar terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan sebagai salah satu bagian dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan memiliki sebuah misi yang ditujukan agar kebijakan tersebut dapat tercapai, yaitu terjaminnya ketersediaan, kemerataan, keterjangkauan obat perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2010a). Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan. Tugas tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1144/MENKES/PER/III/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan terdiri atas empat subdirektorat yaitu subdirektorat analisis dan standardisasi harga obat, subdirektorat penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdirektorat pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdirektorat pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. Pembagian tersebut dilakukan untuk dapat menjalani tugas dan fungsi secara maksimal agar tujuan tercapai.

36 Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat berperan dalam keterjangkauan obat bagi masyarakat yang didukung dengan pelaksanaan tugas pada subdirektorat ini. Tujuannya adalah diperoleh harga obat rasional yang terjangkau dan tersedia bagi masyarakat luas serta menguntungkan bagi pihak produsen, sehingga dengan biaya penyediaan obat yang telah ditentukan akan didapatkan penyediaan obat yang lebih maksimum untuk pelayanan kesehatan di masyarakat. Subdirektorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat terdiri atas : a. Seksi Analisis Harga Obat Seksi Analisis Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan analisis, kajian, dan pemantauan harga obat. b. Seksi Standardisasi Harga Obat Seksi Standardisasi Harga Obat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria harga obat. Subdirektorat ini berperan dalam penyusunan Surat Keputusan (SK) Harga Obat yang umum dikeluarkan tiap tahun baik berupa SK Harga Eceran tertinggi (HET), SK Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah, dan SK Harga Vaksin dan Serum. Proses dalam menentukan SK harga obat melalui beberapa langkah, yaitu mengetahui kebutuhan obat tiap daerah berdasarkan data dari subdirektorat Penyediaan sehingga diperoleh item obat yang diperlukan beserta kuantitasnya. Kemudian data obat yang telah diperoleh disesuaikan dengan DOEN (Daftar Obat Esensial Nasional). Apabila terdapat obat dalam data tersebut yang tidak termasuk dalam DOEN, obat tersebut dapat dimasukkan kedalam daftar SK dengan pertimbangan adanya permintaan dari daerah. Selanjutnya, tim evaluasi harga akan mempertimbangkan apakah akan terjadi peningkatan atau penurunan terhadap harga obat terdahulu. Pertimbangan tersebut didasarkan pada hasil monitoring, data harga obat internasional dan perhitungan khusus. Data yang diperoleh diolah secara statistik sehingga menghasilkan daftar harga obat yang akan dimasukkan ke dalam SK.

37 29 Menurut teori komponen harga obat meliputi: (1) bahan baku obat; (2) manufacturing cost; (3) marketing; (4) distribution cost; (5) gross margin; (6) research and development; (7) harga jual dasar; (8) profit; (9) Pajak Pertambahan Nilai (PPN); (10) diskon ke apotek/toko obat. Secara umum analisa penentuan harga yang dilakukan pada subdirektorat ini juga mengacu pada komponen tersebut. Harga ditentukan berdasarkan struktur harga yang meliputi komponen harga bahan aktif, bahan pembantu, bahan kemasan, biaya produksi dan biaya QC, biaya umum, biaya modal, biaya distribusi, dan keuntungan sebelum pajak. Seksi Analisa Harga Obat akan mencari informasi tentang harga-harga tersebut dari industri farmasi ataupun PBF. Selanjutnya dianalisa dan diolah sehingga mendapatkan harga yang sesuai dan terjangkau, namun tidak merugikan industri farmasi. Keluaran utama (output) dari subdirektorat ini berupa Surat Keputusan (SK) Harga Obat yang umum dikeluarkan tiap tahun baik berupa SK Harga Eceran tertinggi (HET), SK Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah, dan SK Harga Vaksin dan Serum. Harga obat yang ditentukan atau dikendalikan adalah harga obat generik, baik untuk pengadaan pemerintah, maupun yang langsung ke masyarakat melalui penjualan di apotek agar tercapai upaya kesehatan dasar. Harga eceran tertinggi (HET) adalah harga tertinggi yang boleh dijual oleh pengecer (retailer) dimana harga tersebut ditentukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan agar harga jual obat dapat dikendalikan sehingga obat dapat digunakan oleh masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selanjutnya, Menteri Kesehatan menerbitkan himbauan agar produsen obat mencantumkan HET pada setiap kemasan obat guna terlaksananya pengendalian harga obat. Selain menentukan HET, direktorat ini juga menyusun Surat Keputusan (SK) tentang harga obat untuk pengadaan pemerintah yang merupakan acuan dalam pengadaan obat di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota termasuk Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainya. Harga obat tersebut ditentukan oleh pemerintah dengan membagi wilayah berdasarkan regional geografis yakni regional I meliputi Banten, Lampung, Jawa Tengah, Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Regional II meliputi Provinsi Sumatera Utara,

38 30 Sumatera Barat, Jambi, Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Nusa Tenggara Barat. Regional III meliputi Provinsi Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Makassar, Gorontalo dan Sulawesi Barat. Regional IV meliputi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Perbedaan harga pengadaan ini disebabkan adanya perbedaan faktor harga di tiap-tiap regionalnya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah biaya distribusi, kekayaan regional dan Upah Minimum Regional (UMR). Penetapan harga obat generik dilakukan oleh Menteri Kesehatan berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi Harga Obat yang beranggotakan pejabat Kementerian Kesehatan, Badan POM, akademisi, lembaga konsumen, dan para pakar di bidang terkait. Perumusan rekomendasi harga obat generik tersebut dilakukan dengan pendekatan struktur harga obat dan kelayakan harga dalam kondisi nyata Indonesia. Subdit ini diharapkan dapat mencapai tujuannya dalam mewujudkan harga obat rasional yang terjangkau dan tersedia bagi masyarakat luas, sehingga dengan biaya penyediaan obat yang telah ditentukan akan didapatkan penyediaan obat yang lebih maksimum untuk pelayanan kesehatan di masyarakat. Namun dilapangan masih banyak terdapat kendala antara lain harga jual obat generik yang masih di atas HET. Hal tersebut dikarenakan pihak apotek ingin memperoleh keuntungan yang lebih besar. Sementara pihak Subdit ini tidak dapat memberikan sanksi terhadap pihak apotek. Hal temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dari kinerja subdit ini. 5.2 Subdirektorat Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat ini dibagi menjadi dua seksi yaitu seksi Perencanaan Penyediaan dan Seksi Pemantauan Ketersediaan Perencanaan Penyediaan Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. Tujuan perencanaan adalah untuk menetapkan rencana jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan

39 31 dasar. Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan dilakukan menggunakan metode bawah ke atas (bottom-up), yaitu data kebutuhan obat diperoleh dari data pemakaian obat oleh Puskesmas. Puskesmas akan melaporkan data tersebut ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kemudian akan diteruskan ke Dinas Kesehatan Provinsi yang selanjutnya akan dilaporkan ke Kementrian Kesehatan Pusat. Data tersebut akan dikompilasi dan dibuat suatu Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan perbekalan kesehatan selama satu tahun. Perencanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan (perbekkes) harus berdasarkan analisa rencana kebutuhan. Rencana kebutuhan merupakan suatu rencana jenis dan jumlah obat yang dibutuhkan setiap unit Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) menurut kebutuhannya dalam suatu periode waktu tertentu misalnya satu tahun. Kemudian rencana kebutuhan tersebut tidak langsung menjadi patokan dalam rencana pengadaan. Perlu dilihat parameter lain untuk rencana pengadaan misalnya sisa stok obat dan perbekkes di unit PKD dan jumlah obat yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan selama masa tunggu (lead time) obat dan perbekkes tersebut. Beberapa tahapan dalam merencanakan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan adalah meliputi : (1) Tahap pemilihan obat yang bertujuan untuk menentukan obat yang benar-benar diperlukan sesuai dengan pola penyakit. Untuk mendapatkan perencanaan obat yang tepat, sebaiknya diawali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat. Pemilihan obat didasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dengan berpedoman pada harga yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang masih berlaku. (2). Tahap kompilasi pemakaian obat yaitu rekapitulasi data pemakaian obat di unit pelayanan kesehatan, yang bersumber dari Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Kompilasi pemakaian obat dapat digunakan sebagai dasar untuk menghitung stok awal, jumlah penggunaan obat, dan sisa stok. (3). Tahap perhitungan kebutuhan obat yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi dan atau metode morbiditas. Metode konsumsi yaitu metode yang didasarkan atas analisa data konsumsi/penggunaan obat tahun sebelumnya. Sedangkan metode morbiditas yaitu perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit atau kunjungan kasus. (4) Tahap proyeksi kebutuhan obat adalah perhitungan kebutuhan obat secara komprehensif dengan

40 32 mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada periode yang masih berjalan. Selain itu juga diperhitungkan jumlah obat yang harus tersedia selama masa tunggu (lead time) pengadaan obat. (5) Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar (PKD) dibiayai melalui berbagai sumber anggaran. Berbagai sumber anggaran yang membiayai pengadaan obat dan perbekalan kesehatan tersebut antara lain APBN, APBD Provinsi dan Kota/Kabupaten, Dana Alokasi Khusus (DAK) yang berasal dari APBN untuk keperluan khusus dan persyaratan tertentu untuk daerah yang mengajukan. Pengadaan obat program pemerintah oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dilakukan melalui proses lelang untuk memberi kesempatan kepada masyarakat agar dapat berpartisipasi pada pelaksanaan lelang dan juga diharapkan akan diperoleh penawaran harga yang lebih bersaing. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan obat adalah kualitas dan kuantitas obat, seperti kriteria obat dan perbekkes, metode pengadaan, persyaratan pemasok, penentuan waktu kedatangan obat, penerimaan dan pemeriksaan obat, dan pemantauan status pesanan. Pada tahun 2013 ini akan di laksanakan system pengadaan dengan e catalog atau katalog elektronik. Dengan system e catalog dapat lebih membuka kesempatan lebih untuk berkompetisi bagi pihak yang akan menawarkan obat dan perbekkes dalam pengadaannya di pemerintah. Pihak tersebut dalam hal ini adalah pedagang besar farmasi ataupun industri dapat langsung on line mengajukan barang dan harganya yang kemudian akan dipertimbangkan oleh tim pengadaan. Selanjutnya akan diperoleh keputusan item dan harga obat dan perbekkes yang akan digunakan untuk pengadaan. Khusus untuk Ditjen Binfar Alkes Kementerian Kesehatan bertindak sebagai pengelola obat publik dan perbekkes untuk stok pengaman/buffer stock nasional yang pengadaannya dilakukan setahun sekali. Stok pengaman nasional berfungsi sebagai cadangan obat yang dimiliki Pemerintah Pusat yang harus selalu ada pada saat dibutuhkan jika sewaktu-waktu terjadi kejadian luar biasa (KLB), seperti wabah penyakit, bencana alam dan untuk memenuhi kekurangan kebutuhan obat pada Kabupaten/Kota. Selain itu dikelola juga obat obat program

41 33 yang bekerjasama dengan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), seperti obat untuk tuberculosis, malaria HIV AIDS, filarial; vaksin untuk imunisasi dasar; obat dan vaksin untuk perbekalan haji baik pengadaan di Indonesia (embarkasi) maupun di Arab Saudi; obat kesehatan jiwa; reagen screening darah; dan obat untuk gizi dan KIA Pemantauan Ketersediaan Pemantauan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan (perbekkes) secara rutin perlu dilakukan dengan tujuan menjamin ketersediaan obat dan perbekkes yang bermutu, dan bermanfaat. Pemantauan ketersediaan obat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan meninjau langsung ke Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan menggunakan aplikasi software berupa e-logistic system. Dalam meninjau langsung ketersediaan obat dan perbekkes tidak dilakukan di semua daerah yang ada di Indonesia. Dilakukan peninjauan dibeberapa daerah saja dalam periode tertentu. Sementara yang dilakukan di setiap daerah adalah pemantauan dengan menggunakan e-logistic. Input data penerimaan dan pengeluaran obat dikirimkan oleh pihak Puskesmas ke Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota melalui e-logistic. Kemudian data tersebut dapat diakses oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Hal tersebut akan memudahkan pengawasan ketersediaan obat dan perbekkes secara real time sehingga dapat diketahui jumlah pemakaian obat serta permintaan obat pada setiap Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang tersebar di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Melalui pemantauan ketersediaan obat dan perbekkes, diperoleh input data yang akan digunakan untuk rencana pengadaan obat. Data mengenai ketersediaan obat menggambarkan jenis obat apa saja yang benar-benar diperlukan. Selain itu, Subdit Penyediaan memperoleh data pemakaian obat setiap bulan di Puskesmas dari LPLPO, yang meliputi jumlah dan persentase pemakaian tiap jenis obat pada seluruh Unit Pelayanan Kesehatan/Puskesmas serta pemakaian rata-rata tiap jenis obat pada tingkat Kabupaten/Kota. Informasi tentang pemakaian obat tersebut digunakan sebagai sumber data dalam menghitung kebutuhan obat untuk pemakaian tahun mendatang dan sebagai sumber data dalam menghitung buffer

42 34 stock. Data pemakaian obat akan dikompilasi dalam formulir kompilasi pemakaian obat. Kemudian, dilakukan perhitungan kebutuhan obat melalui metode konsumsi, yang didasarkan atas analisis data konsumsi obat tahun sebelumnya, dan atau metode morbiditas, yang didasarkan atas pola penyakit. Setelah kebutuhan obat ditentukan, dapat ditetapkan rancangan stok akhir periode mendatang dan rancangan pengadaan obat periode tahun mendatang. Perencanaan pengadaan obat tahun mendatang dapat dirumuskan sebagai berikut: a = b + c + d - e - f a = rancangan pengadaan obat tahun mendatang b = kebutuhan obat untuk sisa periode berjalan c = kebutuhan obat tahun mendatang d = rancangan stok akhir tahun (lead time dan buffer stock) e = stok awal periode berjalan f = rencana penerimaan obat pada periode berjalan 5.3 Subdirektorat Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pengelolaan Oblik dan Perbekkes dibagi menjadi dua seksi, yaitu seksi Standarisasi dan seksi Bimbingan Teknis. Subdirektorat Pengelolaan Oblik dan Perbekkes bertujuan agar dana yang tersedia dapat digunakan dengan sebaik-baiknya dan berkesinambungan guna memenuhi kepentingan masyarakat yang berobat ke unit pelayanan kesehatan dasar. Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi rangkaian kegiatan mulai dari tahap perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian hingga penggunaan. Proses kegiatan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan dapat berjalan dengan baik apabila terdapat suatu standar yang digunakan di unit pelayanan kesehatan dasar. Oleh karena itu dibuat pedoman pengelolaan obat yang bertujuan untuk menstandarisasi pelayanan dan pengelolaan obat publik di sarana milik pemerintah agar terjamin khasiat, keamanan, dan mutu obat hingga ke tangan konsumen. Pedoman pengelolaan obat dibuat oleh seksi Standarisasi Subdirektorat Pengelolaan Oblik dan Perbekkes dengan melibatkan Unit Pengelola Obat Publik

43 35 dan Perbekalan Kesehatan dari beberapa Kabupaten/Kota maupun Provinsi. Pedoman pengelolaan obat dibuat atau disempurnakan berdasarkan atas referensi atau textbook tentang pengelolaan obat, pedoman-pedoman pengelolaan obat lainnya yang telah diterbitkan, serta input data dari seksi Bimbingan Teknis. Seksi Bimbingan Teknis memberikan input data pada seksi Standarisasi mengenai data pengelolaan obat dan kondisi Instalasi Farmasi di Propinsi, Kabupaten/Kota, dan Puskesmas, serta dibandingkan dengan yang ada di negara lain. Referensi, pedoman dan data tersebut kemudian digunakan untuk dilakukan evaluasi apakah perlu membuat pedoman pengelolaan baru atau hanya perlu menyempurnakan pedoman yang telah ada. Pedoman pengelolaan yang telah dibuat diterbitkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI. Kemudian, pedoman tersebut disosialisasikan secara berjenjang sampai ke tingkat pelayanan kesehatan dasar. Selain pembuatan pedoman, juga perlu dilakukan bimbingan teknis dan pengendalian untuk menjamin bahwa Instalasi Farmasi telah menjalankan tugasnya sesuai pedoman. Bimbingan teknis dilakukan dengan cara memberikan bimbingan, pengarahan dan penjelasan mengenai standar atau pedoman tentang seluruh tahap pengelolaan obat, sehingga obat dapat tersedia merata dan terjangkau di pelayanan kesehatan dasar. Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan melakukan pengelolaan terhadap obat program dan obat pelayanan kesehatan dasar sehingga perlu dilakukan harmonisasi atas kedua program tersebut agar tidak terjadi duplikasi pengadaan obat. Program yang direncanakan untuk tahun 2012 adalah memperbaiki pedoman pemusnahan, distribusi, perencanaan yang terpadu, buffer stock, dan pedoman instalasi farmasi yang lebih efektif. Pedoman-pedoman yang disusun bersifat mengharuskan, tetapi jika terdapat kekurangan atau kesalahan dalam implementasinya, instansi pelayanan kesehatan yang terlibat tidak diberikan hukuman tetapi diberikan bimbingan teknis agar pedoman yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan baik. 5.4 Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Subdirektorat Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan

44 36 Perbekalan Kesehatan memiliki tugas memantau dan mengevaluasi kegiatan program obat publik dan perbekalan kesehatan. Pemantauan (monitoring) adalah proses kajian terhadap program yang sedang berlangsung untuk mengetahui tingkat penyelesaian program dan pencapaian target, yang memungkinkan untuk tindakan korektif selama implementasi program. Pemantauan berguna untuk memeriksa kesesuaian antara aktivitas yang dilaksanakan dengan yang direncanakan; mengukur pencapaian target; mengidentifikasi masalah untuk menginisiasi tindakan korektif; mengidentifikasi dan meningkatkan kinerja yang sudah baik; mengidentifikasi dan memperkuat kinerja yang lemah; membantu supervisi target daerah bermasalah; menilai efek yang diharapkan dari aktivitas yang dilaksanakan; menilai kecenderungan jangka panjang; memberi kontribusi dalam mengkaji ulang dan merevisi program prioritas dan perencanaan. Hasil dari pemantauan tersebut, kemudian dievaluasi sehingga dapat ditetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan, meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya, mengukur kegunaan program-program yang inovatif, meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi serta kesesuaian tuntutan tanggung jawab. Evaluasi adalah serangkaian proses untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, pelaksanaan kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari dampak program Bina Obat Publik dan Perbekalan kesehatan. Evaluasi bermanfaat untuk (Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, 2006) : a. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan. b. Meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya. c. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif. d. Meningkatkan efektivitas program, manajemen dan administrasi. e. Kesesuaian tuntutan tanggung jawab. Monitoring dan evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi dalam tiap aspek pengelolaan obat sehingga dapat menghemat tenaga, biaya, serta waktu yang digunakan. Kegiatan monitoring dan

45 37 evaluasi terhadap setiap aspek pengelolaan obat terkait kualitas masukan (input), kualitas proses, maupun kualitas hasil pelaksanaan (output) program. Kegiataan pemantauan dan evaluasi diukur berdasarkan pencapaian hasil yang didapat. Indikator digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh tujuan atau sasaran telah berhasil tercapai. Indikator tercapainya sasaran hasil pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%. Dimana untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang dilakukan salah satunya adalah dengan peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan. Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah : a. Pencapaian ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100% b. Persentase obat yang memenuhi standar, cukup dan terjangkau sebesar 95% c. Ketersediaan obat per kapita per tahun di sarana pelayanan kesehatan dasar sebesar Rp per kapita d. Persentase Instalasi Farmasi Kab/Kota sesuai standar sebesar 80% Pemantauan dan evaluasi dilakukan setiap satu tahun sekali. Idealnya ketersediaan obat dipantau setiap tiga bulan untuk mengetahui dinamika logistik di instalasi farmasi. Minimnya anggaran untuk pelaksanaan pemantauan dan evaluasi menjadikan hanya tiga Kabupaten/Kota yang dilakukan pemantauan di tiap provinsi (Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, 2010). Proses pemantauan dan evaluasi harus didukung dengan ketersediaan dana yang dibutuhkan dan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya, sehingga proses pemantauan dan evaluasi tersebut dapat berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Setelah dilakukan pemantauan dan evaluasi, pemerintah pusat akan memberikan bimbingan teknis kepada pihak yang dipantau dan dievaluasi, yaitu dinas kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota, maupun puskesmas. Agar pihak tersebut dapat mengetahui kekurangannya selama melakukan kegiatan atau program obat publik dan perbekalan kesehatan dan dapat meningkatkan kinerjanya. Dukungan dari berbagai pihak terkait dengan pengelolaan obat publik di tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi pelaksanaan kegiatan/program.

46 38 Berdasarkan pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan akan diperoleh keluaran berupa profil pencapaian indikator berdasarkan pengambilan data secara bottom up. Profil tersebut dapat dijadikan sebagai sumber informasi untuk menentukan langkah-langkah kedepan dan menentukan solusi terhadap kendala-kendala yang dihadapi. Pengambilan data tersebut dilakukan dari struktur terendah kemudian di rekapitulasi ke sektor diatasnya.

47 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dalam rangka menjalankan tugas dan fungsinya, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dibagi atas empat subdirektorat (subdit) yaitu subdit analisis dan standardisasi harga obat, subdit penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdit pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, subdit pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan Setiap subdit dalam Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki perannya masing masing demi mewujudkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Subdit Analisis dan Standardisasi Harga Obat berperan dalam penyusunan Surat Keputusan (SK) Harga Subdit Penyediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan berperan merencanakan dan memantau ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan di setiap unit pelayanan kesehatan. Subdit Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan berperan dalam pembuatan pedoman pengelolaan obat dan bimbingan teknis untuk menjamin bahwa Instalasi Farmasi telah menjalankan tugasnya sesuai pedoman, dan Subdit Pemantauan dan Evaluasi Program Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki tugas memantau dan mengevaluasi kegiatan program obat publik dan perbekalan kesehatan. 6.2 Saran Pelaksanaan kegiatan hendaknya menggunakan sistem informasi yang sedang berkembang agar dapat mempermudah perencanaan, pengelolaan, pengadaan, pemantauan hingga unit terkecil pelayanan kesehatan dan meningkatkan efisiensi implementasi setiap kebijakan yang disusun oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. 39

48 DAFTAR ACUAN Menteri Kesehatan RI. (2005). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Menteri Kesehatan RI. (2008). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI Menteri Kesehatan RI. (2010a). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Menteri Kesehatan RI. (2010b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Presiden RI. (2009a). Peraturan Presiden RI No. 47 Tahun 2009 Nomor 144 Tentang Pembentukan Dan Organisasi Kementerian Negara. Jakarta. Presiden RI. (2009b). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Presiden RI. (2009c). Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 40

49 Lampiran 1. Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 41

50 Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan DIREKTORAT JENDRAL BINA KEFARMASIAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN 42

51 Lampiran 3. Struktur Organisasi Setditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan SEKRETARIS DITJEN BINFAR ALKES KABAG PROGRAM DAN INFORMASI KABAG KEPEGAWAIAN DAN UMUM KABAG HUKUM, ORGANISASI, DAN HUMAS KABAG KEUANGAN KASUBBAG PROGRAM KASUBBAG KEPEGAWAIAN KASUBBAG HUKUM KASUBBAG VER.& AKUN KASUBBAG DATIN KASUBBAG TU & GAJI KASUBBAG ORGANISASI KASUBBAG ANGGARAN KASUBBAG EVAPOR KASUBBAG RT KASUBBAG HUMAS KASUBBAG PERBENDAHARAAN 43

52 Lampiran 4. Struktur Organisasi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan DIREKTUR BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PENYEDIAAN SUBDIT PENGELOLAAN SUBDIT PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM SUBDIT ANALISIS DAN STANDARISASI HARGA OBAT SEKSI PERENCANAAN PENYEDIAAN SEKSI STANDARISASI PENGELOLAAN OBAT SEKSI PEMANTAUAN PROGRAM OBAT PUBLIK SEKSI ANALISIS HARGA OBAT SEKSI PEMANTAUAN KETERSEDIAAN OBAT SEKSI BIMBINGAN PENGENDALIAN OBAT PUBLIK SEKSI EVALUASI PROGRAM OBAT PUBLIK SEKSI STANDARISASI HARGA OBAT 44

53 Lampiran 5. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian DIREKTUR BINA PELAYANAN KEFARMASIAN SUBBAGIAN TU SUBDIT FARMASI KLINIK SUBDIT FARMASI KOMUNITAS SUBDIT PENGGUNAAN OBAT RASIONAL SUBDIT STANDARISASI SEKSI PELAYANAN FARMASI KLINIK SEKSI PELAYANAN FARMASI KOMUNITAS SEKSI PROMOSI POR SEKSI STANDARISASI POR SEKSI PEMANTAUAN & EVALUASI FARKLIN SEKSI PEMANTAUAN & EVALUASI FARKOM SEKSI PEMANTAUAN & EVALUASI POR SEKSI STANDARISASI YANFAR 45

54 Lampiran 6. Struktur Organisasi Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PENILAIAN ALAT KESEHATAN SUBDIT PENILAIAN PRODUK DIAGNOSTIK INVITRO & PKRT SUBDIT INSPEKSI ALAT KESEHATAN & PKRT SUBDIT STANDARISASI & SERTIFIKASI SEKSI ALAT KESEHATAN ELEKTROMEDIK SEKSI PRODUK DIAGNOSTIK INVITRO SEKSI INSPEKSI PRODUK SEKSI STANDARISASI PRODUK SEKSI ALAT KESEHATAN NONELEKTROMEDIK SEKSI PRODUK PKRT SEKSI INSPEKSI SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI SEKSI STANDARISASI & SERTIFIKASI PRODUKSI & DISTRIBUSI 46

55 Lampiran 7. Struktur Organisasi Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIT PRODIS OBAT & OBAT TRADISIONAL SUBDIT PRODIS KOSMETIK & MAKANAN SUBDIT PRODIS NARKOTIKA SUBDIT KEMANDIRIAN OBAT & BBO SEKSI STANDARISASI PRODIS SEKSI STANDARISASI PRODIS KOSMETIK & MAKANAN SEKSI NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA SEKSI ANALISIS OBAT & BBO SEKSI PERIZINAN SARANA PRODIS SEKSI PERIZINAN SARANA PRODUKSI KOSMETIK SEKSI SEDIAAN FARMASI KHUSUS SEKSI KERJASAMA 47

56 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISA RASIO HARGA OBAT NAMA DAGANG TERHADAP HARGA ECERAN TERTINGGI OBAT GENERIK DARI BEBERAPA OBAT ANTI BAKTERI, ANTI HIPERTENSI DAN ANTI DIABETES TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANISA PRIMA HILMI, S.Far ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JULI 2013

57 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Obat Generik Obat Inovator Kebijakan Harga Obat Generik Komponen Harga Obat Anti Bakteri Anti Hipertensi Anti Diabetes... 9 BAB 3 METOODOLOGI PENGKAJIAN Lokasi dan Waktu Pengkajian Metodologi Pengkajian BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pembahasan BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN ii

58 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Cara perhitungan rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik Lampiran 2. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Amoksisilin 500 mg Lampiran 3. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Eritromisin 500 mg Lampiran 4. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kloramfenikol 250 mg Lampiran 5. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Sefiksim 100 mg Lampiran 6. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Tetrasiklin 250 mg Lampiran 7. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Atenolol 50 mg Lampiran 8. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Furosemida 40 mg Lampiran 9. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kaptopril 25 mg Lampiran 10. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Nifedipin 10 mg Lampiran 11. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Spironolakton 25 mg Lampiran 12. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glibenklamida 5 mg Lampiran 13. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glimepiride 2 mg Lampiran 14. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Gliquidon 30 mg Lampiran 15. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 500 mg Lampiran 16. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 850 mg Lampiran 17. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Amoksisilin 500 mg Lampiran 18. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Eritromisin 500 mg Lampiran 19. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kloramfenikol 250 mg.. 30 Lampiran 20. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Sefiksim 100 mg iii

59 Lampiran 21. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Tetrasiklin 250 mg Lampiran 22. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Atenolol 50 mg Lampiran 23. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Furosemide 40 mg Lampiran 24. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kaptopril 25 mg Lampiran 25. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Nifedipin 10 mg Lampiran 26. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Spironolakton 25 mg Lampiran 27. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glibenklamide 5 mg Lampiran 28. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glimepiride 2 mg Lampiran 29. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Gliquidon 30 mg Lampiran 30. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 500 mg. 36 Lampiran 31. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 850 mg. 36 iv

60 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosa, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit. Obat merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Beberapa hal yang berkaitan dengan manfaat obat antara lain adalah mutu dan khasiat dari obat, ketersediaannya, dan harga obat. Harga obat merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi akses pemenuhan kebutuhan obat oleh masyarakat. Oleh karena itu, harga obat menjadi hal yang penting untuk dikendalikan oleh pemerintah. Pemerintah melalui Kebijakan Obat Nasional memiliki tujuan meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat secara berkelanjutan agar tercipta derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Salah satu upayanya adalah dengan mengendalikan harga obat generik yang masuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional. Sub Direktorat Analisis dan Standardisasi Harga Obat yang berada di bawah Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melakukan pengaturan terhadap harga obat generik dengan penetapan harga eceran tertinggi (HET). Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap peraturan tersebut berupa evaluasi secara berkesinambungan. Evaluasi dan perhitungan harga obat generik dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain : harga bahan baku, biaya produksi, kurs rupiah, harga obat bermerek/nama dagang, serta harga obat di internasional. Harga obat yang diatur oleh pemerintah adalah harga obat yang sering digunakan oleh masyarakat, atau obat esensial. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun 2012, terdapat 498 obat yang diatur harganya oleh pemerintah. Beberapa golongan obat tersebut adalah anti bakteri, anti hipertensi dan anti diabetes. Anti bakteri merupakan obat yang sering 1

61 2 diresepkan dan butuh jumlah tertentu yang harus digunakan pasien hingga obat habis. Sementara anti hipertensi dan anti diabetes merupakan salah satu obat yang dibutuhkan secara luas oleh masyarakat karena prevalensi penyakit hipertensi dan diabetes di Indonesia cukup tinggi. Pasien dengan kondisi tersebut cenderung mengonsumsi anti hipertensi dan anti diabetes secara terus-menerus karena kondisi tersebut bersifat kronis. Jika tidak mendapatkan terapi yang sesuai dan berkesinambungan, pasien dapat mengalami komplikasi lebih lanjut sehingga menurunkan derajat kesehatan pasien. Oleh karena itu, pemerintah bertanggung jawab dalam mengontrol ketersediaan dan keterjangkauan obat-obat tersebut. Tugas khusus ini akan membahas mengenai salah satu evaluasi terhadap peraturan harga obat generik yang ditetapkan pemerintah, yaitu dengan membandingkan harga eceran tertinggi obat generik yang telah ditetapkan dengan harga obat beberapa nama dagang. Obat yang dibandingkan adalah beberapa obat golongan anti bakteri, anti hipertensi, dan anti diabetes yang termasuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional. 1.2 Tujuan Penyusunan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami tentang perhitungan rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari beberapa obat golongan anti bakteri, anti hipertensi dan anti diabetes.

62 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Obat Generik Obat Generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Menteri Kesehatan RI, 2010 a). Terdapat dua jenis obat generik, yaitu Obat Generik Berlogo (OGB) dan obat generik bermerek (branded generik). Sebenarnya tidak ada perbedaan zat aktif pada kedua jenis obat generik ini. Perbedaan hanya terletak pada logo dan merek yang terdapat pada kemasan obat. Obat generik berlogo adalah obat yang umumnya disebut obat generik saja sedangkan obat generik bermerek biasanya menyantumkan perusahaan farmasi yang memproduksinya. Meskipun keduanya sama-sama merupakan obat generik, obat generik bermerek memiliki harga jual yang lebih mahal karena harganya ditentukan oleh kebijakan perusahaan farmasi tersebut sedangkan obat generik berlogo telah ditetapkan harganya oleh pemerintah agar lebih mudah dijangkau masyarakat (Program Studi Kimia ITB, 2011). Obat Generik Berlogo (OGB) pertama kali dikenalkan kepada masyarakat pada tahun 1991 oleh pemerintah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat menengah ke bawah. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu (Program Studi Kimia ITB, 2011). Kewajiban menggunakan obat generik di Indonesia diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Salah satu isi dari peraturan tersebut menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib menyediakan obat esensial dengan nama generik dan dokter yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah wajib menulis resep obat generic bagi semua pasien sesuai dengan indikasi medis (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010a). 3

63 Obat Inovator Obat innovator adalah obat yang pertama kali mendapatkan izin untuk dipasarkan, dan disebut juga sebagai obat yang dipatenkan. Hak paten dari obat innovator diberikan berdasarkan dokumentasi khasiat, keamanan, dan mutu obat sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Hak paten dari sebuah obat innovator dapat berlangsung selama tahun. Pabrik obat yang memiliki hak paten sebuah obat innovator dapat memproduksi obat dengan zat aktif yang dipatenkan tanpa ada saingan dari pabrik obat lainnya. Setelah masa paten habis, obat innovator dapat diproduksi oleh pabrik lainnya dan disebut dengan obat generik (Manurung, 2007). Harga obat innovator lebih mahal bila dibandingkan dengan obat generik karena biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan hak paten sangat besar. Industri farmasi atau pabrik obat innovator melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan obat yang membutuhkan biaya besar, sehingga mempengaruhi harga obat yang dijual. Pabrik obat generic hanya perlu melakukan riset formulasi agar kadar zat aktif dalam darah atau disolusi obat sebanding dengan obat innovator, sehingga biaya yang dibutuhkan jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh pabrik obat untuk memproduksi obat innovator (Manurung, 2007) Kebijakan Harga Obat Generik Harga jual obat generik diatur pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) adalah harga jual tertinggi obat generik di apotek, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang berlaku di seluruh Indonesia. Harga Netto Apotek (HNA) ditetapkan tidak lebih besar dari 74 % dari HET. Harga Netto Apotek + Pajak Pertambahan Nilai (HNA+PPN) adalah harga jual pabrik obat dan/atau Pedagang Besar Farmasi kepada apotek dan rumah sakit (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2012). Pemerintah menjamin ketersediaan pemerataan obat generik di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan bahwa pabrik obat dan/ atau

64 5 PBF dapat menambah biaya distribusi saat menyalurkan obat generic ke pemerintah, rumah sakit, apotek, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Biaya distribusi tersebut mempengaruhi harga jual obat di pemerintah, rumah sakit, apotek dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Penambahan biaya tersebut maksimum sebesar 5 % dari HNA+PPN untuk daerah regional II seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat. Sementara untuk daerah regional III seperti Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, penambahan biaya maksimum 10 % dari HNA+PPN. Untuk daerah regional IV yaitu Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat penambahan maksimum 20 % dari HNA+PPN (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 696/MENKES/PER/VI/2007 tentang harga obat generik bernama dagang pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah menjelaskan besarnya harga obat generik bernama dagang maksimal tiga kali harga obat generik. Pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah, pemberian obat generik bermerek dilakukan bila terjadi kekosongan stok obat generik. Peraturan tersebut juga dapat menjadi pedoman bagi sarana pelayanan kesehatan swasta (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2007) Komponen Harga Obat Harga adalah sejumlah kompensasi (uang maupun barang, kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa. Pada saat ini, bagi sebagian besar anggota masyarakat, harga masih menduduki tempat teratas sebagai penentu dalam keputusan untuk membeli barang atau jasa. Karena itu, penentuan harga merupakan salah satu keputusan penting bagi manajemen perusahaan. Harga yang ditetapkan dapat harus menutup semua biaya yang telah dikeluarkan untuk diproduksi ditambah besarnya persentasi laba yang diinginkan. Jika harga ditetapkan terlalu tinggi, secara umum akan kurang menguntungkan, karena pembeli dan volume penjualan berkurang. Akibatnya semua biaya yang telah dikeluarkan tidak dapat tertutup, sehingga pada akhirnya perusahaan menderita rugi. Maka, salah satu prinsip dalam penentuan harga adalah

65 6 penitikberatan pada kemauan pembeli terhadap harga yang telah ditentukan dengan jumlah yang cukup untuk menutupi biaya-biaya yang telah dikeluarkan beserta persentase laba yang diinginkan (Fuad, 2000). Komponen dalam menentukan harga obat meliputi harga produksi, proft margin distributor, profit margin pengecer, pajak (impor+ppn), biaya distribusi dan pajak bahan baku (Kosen, 2003). Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Bina Publik dan Perebekalan Kesehatan, komponen harga obat generik meliputi biaya : 1. Bahan aktif 2. Bahan pembantu 3. Bahan kemasan 4. Produksi dan QC Biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menghasilkan barangbarang produksi oleh perusahaan tersebut. Untuk analisis biaya produksi perlu diperhatikan dua jangka waktu, yaitu : a. Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan. b. Jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Biaya QC adalah biaya yang dikeluarkan selama proses quality control. Tujuan Pengusaha menjalankan QC adalah untuk menperoleh keuntungan dengan cara yang fleksibel dan untuk menjamin agar pelanggan merasa puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapat keuntungan untuk jangka panjang. Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu melaksanakan, tetapi perlu kelancaran dengan memanfaatkan data, penelitian dan testing dengan analisa statistik dari bagian QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan. Saat pelaksanaan pengujian QC dan testing bila ditemukan beberapa masalah khusus, perlu dibuat suatu studi agar dapat digunakan untuk mengatasi masalah di bagian produksi tersebut. Di samping tersebut di atas tugas bagian QC yaitu jika terjadi

66 7 komplain, mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran untuk bisa diterima secara terpisah lalu dilaporkan kepada departemen terkait untuk perbaikan proses selanjutnya. 5. Biaya Umum Biaya umum adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan secara keseluruhan dan tidak dapat dibebankan langsung ke setiap produk, departemen, atau segmen bisnis tertentu. 6. Biaya Modal Biaya modal merupakan konsep penting dalam analisis investasi karena dapat menunjukkan tingkat minimum laba investasi yang harus diperoleh dari investasi tersebut. Jika investasi itu tidak dapat menghasilkan laba investasi sekurangkurangnya sebesar biaya yang ditanggung maka investasi itu tidak perlu dilakukan. Lebih mudahnya, biaya modal merupakan rata-rata biaya dana yang akan dihimpun untuk melakukan suatu investasi. Dapat pula diartikan bahwa biaya modal suatu perusahaan adalah bagian (suku rate) yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memberi kepuasan pada para investornya pada tingkat risiko tertentu. 7. Biaya Distribusi Biaya distribusi adalah biaya-biaya yang lazim berada di bawah pengendalian eksekutif pemasaran atau penjualan, tidak termasuk biaya administrasi umum dan biaya finansial Anti Bakteri Anti bakteri adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Berdasarkan pembuatannya, anti bakteri dibagi menjadi anti bakteri semisintetis dan anti bakteri sintesis. Anti bakteri semisintesis dibuat dengan menambah zat-zat pelopor tententu pada proses sintesis anti bakteri. Hasilnya disebut senyawa semisitesis, misalnya penisilin-v. Sedangkan anti bakteri sintetis tidak lagi dibuat secara biosintetis, melainkan seluruhnya melalui sintesa kimiawi, misalnya kloramfenikol (Tjay et al., 2007).

67 8 Mekanisme kerja yang terpenting dari anti bakteri adalah perintangan sintesa protein, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi, misalnya kloramfenikol, terasiklin, aminoglikosida, makrolida dan linkomisin. Selain itu beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel (penisilin dan sefalosporin) atau membran sel (polimiksin, zat-zat polyen dan imidazole). Anti bakteri digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar (Tjay et al., 2007) Anti Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah persisten. Suatu tekanan darah dikatakatan tinggi apabila tekanan sistolik lebih besar sama dengan 140 mmhg dan tekanan diastolik yang lebih besar sama dengan 90 mmhg yang diukur minimal dua kali dalam waktu yang berbeda dan dilakukan dalam posisi duduk. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastolik 90 mmhg. Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah 120/80 mmhg (Dipiro, 2008). Antihipertensi adalah obat obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi. Antihipertensi juga diberikan pada individu yang memiliki resiko tinggi untuk terjadinya penyakit kardiovaskular dan pada individu yang beresiko terkena stroke maupun miokard infark. Pemberian obat bukan berarti menjauhkan individu dari modifikasi gaya hidup yang sehat seperti mengurangi berat badan, mengurangi konsumsi garam dan alkohol, berhenti merokok, mengurangi stress dan berolah-raga. Dikenal lima kelompok obat lini pertama (first line drug) yang digunakan untuk pengobatan awal hipertensi yaitu : diuretik, penghambat reseptor beta adrenergik (β-blocker), penghambat angiotensin converting enzyme (ACEinhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker/arb), dan antagonis kalsium (Dipiro, 2008).

68 Anti Diabetes Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati. Kriteria diagnosis diabetes mellitus adalah kadar glukosa puasa 126 mg/dl atau pada 2 jam setelah makan 200 mg/dl atau HbA1c 8 %. Jika kadar glukosa 2 jam setelah makan > 140 mg/dl tetapi lebih kecil dari 200 mg/dl dinyatakan glukosa toleransi lemah (Dipiro, 2008). Anti diabetes merupakan obat-obat yang digunakan untuk mengobati diabetes melitus. Obat yang digunakan biasanya terdiri dari insulin dan obat anti diabetik oral. Obat anti diabetik oral terdapat empat golongan yaitu sulfonilurea, biguanida, tiazolidindion, dan penghambat alfa glukosidase. Golongan sulfonilurea bekerja dengan mekanisme merangsang sekresi insulin pada pankreas sehingga hanya efektif bila sel beta pankreas dapat berproduksi. Contoh obat golongan ini adalah klorpropamid, glikazid, glibenklamid, glipizid glikuidon, glimepiride, dan tolbutamid. Golongan biguanida bekerja dengan mekanisme menghambat gluconeogenesis dan meningkatkan penggunaan glukosa di jaringan. Contoh obatnya adalah metformin. Golongan tiazolidindion memiliki mekanisme kerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin pada otot dan jaringan adipose dan menghambat gluconeogenesis hepatik. Contohnya pioglitazon dan rosiglitazon. Golongan penghambat alfa glukosidase memiliki mekanisme kerja menghambat alfa glukosidase sehingga penguraian sukrosa dan karbohidrat komplek dalam usus halus, sehingga memperlambat dan menghambat penyerapan karbohidrat. Contohnya yaitu akarbosa dan miglitol (Dipiro, 2008).

69 BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Pengkajian Pengkajian data harga obat nama dagang terhadap harga eceran tertinggi obat generik dari beberapa obat anti bakteri, anti hipertensi dan anti diabetes dilakukan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia selama Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) berlangsung, yaitu periode 21 Januari 4 Februari Metodologi Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan menganalisa perbandingan harga obat nama dagang dengan harga eceran tertinggi (HET) obat generik dari beberapa golongan obat yaitu golongan antibakteri, antihipertensi dan antidiabetes. Harga masingmasing obat dengan kandungan zat aktif dan bentuk sediaan yang sama, dibandingkan satu sama lain sehingga diperoleh rasio harga obat. Informasi HET obat generik diambil dari Keputusan Menteri Kesehataan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat generik Tahun 2012, sedangkan informasi harga obat nama dagang diambil dari MIMS edisi tahun 2011/2012. Dari obat golongan antibakteri diambil sampel sediaan Amoksisilin kapsul 500 mg, Eritromisin kaplet 500 mg, Kloramfenikol kapsul 250 mg, Sefiksim kapsul 100 mg, dan Tetrasiklin kapsul 250 mg. Obat dari golongan antihipertensi yang dianalisa antara lain Atenolol tablet 50 mg, Furosemide tablet 40 mg, Kaptopril tablet 25 mg, Nifedipine 10 mg dan Spironolakton 25 mg. Obat dari golongan antidiabetes yang dianalisa antara lain Glibenklamide tablet 5 mg, Glimepiride 2 mg, Gliquidon tablet 30 mg, Metformin HCL tablet 500 mg dan Metformin HCL tablet 850 mg. 10

70 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel dan grafik hasil analisa perbandingan harga obat nama dagang dengan harga eceran tertinggi (HET) obat generik dari beberapa golongan obat yaitu golongan antibakteri, antihipertensi dan antidiabetes dapat dilihat pada Lampiran. 4.2 Pembahasan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang mutlak untuk dipenuhi oleh masyarakat. Salah satu pemenuhannya adalah penyelenggaran pelayanan kesehatan, terutama kesehatan dasar. Obat publik adalah obat-obatan yang digunakan dalam pelayanan kesehatan dasar berupa obat-obat generik. Namun, pemanfaatan obat generik di Indonesia masih belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat yang belum mengerti sepenuhnya mengenai khasiat obat generik. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa obat generik adalah obat yang kurang bermutu. Selain itu, penyediaan obat generik di apotek masih terbatas. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh sedikitnya keuntungan yang dapat diperoleh dari penjualan obat generik dibandingkan dengan obat merek dagang. Salah satu hal mendasar yang perlu untuk dikendalikan adalah masalah harga obat. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan, melakukan Pengaturan harga obat generik berupa penetapan harga eceran tertinggi (HET). HET merupakan harga jual tertinggi yang boleh diterapkan oleh fasilitas penyedia obat generik, seperti apotek maupun rumah sakit. HET juga harus dicantumkan pada kemasan sediaan obat oleh pihak produsen obat tersebut. Harga obat yang ditentukan tersebut adalah harga obat yang rasional agar harga obat yang ditetapkan dapat memberikan keuntungan bagi pihak pengusaha dan tetap dapat terjangkau oleh masyarakat. Penetapan harga 11

71 12 obat generik dilakukan oleh Menteri Kesehatan berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi Harga Obat. Tim tersebut beranggotakan pejabat Kementerian Kesehatan, Badan POM, akademisi, lembaga perlindungan konsumen (YLKI), beberapa pakar di bidang terkait (IAI), dan perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Perumusan rekomendasi harga obat generik dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan daftar obat-obat esensial yang digunakan dalam pelayanan kesehatan dasar, kemudian harga obat-obat tersebut disesuaikan dengan harga bahan baku obat maupun biaya produksi dari obat tersebut untuk menetapkan tingkat rasionalitas dari harga obat. Sedangkan harga obat dengan nama dagang ditentukan oleh masing-masing produsen dengan berbagai pertimbangan. Perbedaannya dengan harga obat generik maupun dengan obat dengan merek dagang lainnya terletak pada biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan pemasaran. Salah satu perbedaannya adalah biaya promosi obat. Sebagian besar obat dengan nama dagang membutuhkan biaya promosi yang besar, sedangkan obat generik tidak sehingga harga obat nama dagang cenderung lebih mahal dari pada obat generik. Pada laporan ini dianalisa perbandingan harga obat nama dagang dengan harga eceran tertinggi (HET) obat generik dari beberapa golongan obat yaitu golongan antibakteri, antihipertensi dan antidiabetes. Harga masing-masing obat dengan kandungan zat aktif dan bentuk sediaan yang sama, dibandingkan satu sama lain sehingga diperoleh rasio harga obat. Nilai rasio yang besar menunjukkan perbedaan yang besar antara harga obat nama dagang dengan harga obat generik. Sedangkan nilai rasio yang kecil menunjukkan sedikit perbedaan harga obat nama dagang dengan obat generik. Semakin besar nilai rasio yang diperoleh, semakin besar harga obat nama dagang tersebut. Informasi HET obat generik diambil dari Keputusan Menteri Kesehataan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat generik Tahun 2012, sedangkan informasi harga obat nama dagang diambil dari MIMS edisi tahun 2011/2012. Dari obat golongan antibakteri diambil sampel sediaan Amoksisilin kapsul 500 mg, Eritromisin kaplet 500 mg, Kloramfenikol kapsul 250 mg, Sefiksim kapsul 100 mg, dan Tetrasiklin kapsul 250 mg. Rasio harga obat nama dagang

72 13 terhadap HET obat generik untuk Amoksisilin 500 mg berkisar antara 1,50 4,80. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Widecillin 500 mg di produksi oleh Meiji, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Dexymox yang diproduksi oleh Dexa Medica. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 2 dan 17. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Eritrosit 500 mg berkisar antara 1,43 1,79. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Erythrin 500 mg di produksi oleh Interbat, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Dothrocyn 500 mg yang diproduksi oleh Yarindo Farmatama. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 3 dan 18. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Kloramfenikol 250 mg berkisar antara 0,56-2,11. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Fenicol 250 mg di produksi oleh Armoxindo Farma, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Robocine 250 mg yang diproduksi oleh Dexa Medica. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 4 dan 19. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Sefiksim 100 mg berkisar antara 0,67 5,21. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Cefapan 100 mg di produksi oleh Kalbe Farma, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Cefixime Hexpharm 100 mg dan Cefixime OGB Dexa 100 mg yang diproduksi oleh Dexa Medica. Cefixime OGB Dexa 100 mg merupakan obat generik bermerek. Kedua merek yang memiliki rasio terendah tersebut memiliki harga yang lebih rendah dari pada HET obat generiknya. Hal tersebut dapat terjadi jika biaya yang dibutuhkan dalam produksi maupun pemasaran bisa diminimalkan. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 5 dan 20. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Tetrasiklin 250 mg berkisar antara 0,84 1,66. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Tetrasanbe 250 mg di produksi oleh Sanbe, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Corsatet 250 yang diproduksi oleh Corsa. Harga Tetrasanbe dan Indocycline lebih rendah dari HET obat generiknya. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 6 dan 21. Obat dari golongan antihipertensi yang dianalisa antara lain Atenolol tablet 50 mg, Furosemide tablet 40 mg, Kaptopril tablet 25 mg, Nifedipine 10 mg dan Spironolakton 25 mg. Dari hasil analisa diperoleh rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Atenolol 50 mg berkisar antara 1,10 16,43.

73 14 Obat dengan rasio tertinggi yaitu Tenormin 50 mg di produksi oleh Astra Zeneca, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Farnormin 50 mg yang diproduksi oleh Fahrenheit. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 7 dan 22. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Furosemide 40 mg berkisar antara 1,63 35,55. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Lasix 40 mg di produksi oleh Sanofi Adventis, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Gralixa yang diproduksi oleh Graha Farma. Perbandingan harga Lasix dengan HET Furosemide generik sangat besar yaitu 1 : 35,55. Sementara Lasix sering diresepkan oleh dokter untuk antihipertensi padahal tidak ekonomis untuk masyarakat. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 8 dan 23. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Kaptopril 25 mg berkisar antara 1,94 17,10. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Tensicarp 25 mg di produksi oleh Sanbe, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Dexacap yang diproduksi oleh Dexa Medica. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 9 dan 24. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Nifedipin 10 mg berkisar antara 2,30 12,79. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Adalat 10 mg di produksi oleh Bayer Schering Pharma, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Farmalat 10 mg yang diproduksi oleh Fahrenheit. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 10 dan 25. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Spironolakton 25 mg berkisar antara 2,06 2,57. Perbandingan rasio hampir seragam dan tidak jauh berbeda. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Spirolacton 25 mg di produksi oleh Phapros, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Aldactone 25 mg yang diproduksi oleh Soho. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 11 dan 26. Obat dari golongan antidiabetes yang dianalisa antara lain Glibenklamide tablet 5 mg, Glimepiride 2 mg, Gliquidon tablet 30 mg, Metformin HCL tablet 500 mg dan Metformin HCL tablet 850 mg. Dari hasil analisa diperoleh rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Glibenklamide tablet 5 mg berkisar antara 1,54 37,82. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Daonil di produksi oleh Sanofi Adventis, perbandingan harga tersebut sangat tinggi yaitu 1 : 37,82. Sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Renabetic yang diproduksi

74 15 oleh Fahrenheit. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 12 dan 27. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Glimepiride 2 mg mg berkisar antara 0,81 3,13. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Amaryl 2 mg di produksi oleh Sanofi Adventis, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Glimepiride Dexa yang diproduksi oleh Dexa Medica. Glimepiride Dexa memiliki perbandingan harga 1 : 0,81 yang berarti harganya lebih rendah dari pada HET Gilmepiride generik. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 13 dan 28. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Gliquidon tablet 30 mg berkisar antara 0,64 2,62. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Glurenom di produksi oleh Boehringer Ingelheim, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Gliquidon OGB Dexa yang merupakan obat generik bermerek dan memiliki harga yang lebih murah dari pada HET Gliquidon generik. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 14 dan 29. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Metformin HCl tablet 500 mg mg berkisar antara 3,06 4,35. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Gluchopage 500 mg di produksi oleh Merck, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Efomet 500 mg yang diproduksi oleh Promed. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 15 dan 30. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik untuk Metformin HCl tablet 850 mg berkisar antara 0,41 3,47. Obat dengan rasio tertinggi yaitu Gluchopage 850 mg di produksi oleh Merck, sedangkan obat dengan rasio terendah adalah Metformin HCl OGB Dexa 850 mg yang diproduksi oleh Dexa Medica. Data dan grafik perbandingannya dapat dilihat pada lampiran 16 dan 31. Dari data rasio di atas didapat variasi rasio antara harga obat nama dagang dengan HET obat generik masing-masing obat. Kisaran rasio yang didapat yaitu 0,41-37,82. Rentang rasio yang didapat tersebut cukup besar. Rasio terendah dengan nilai 0,41 yaitu Metformin HCL OGB Dexa, merupakan obat generik berlogo atau obat generik bernama dagang. Harga tersebut lebih murah dari pada HET obat generik yang ditentukan pemerintah karena rasionya kurang dari 1. Beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan harga obat generik bernama dagang ataupun obat nama dagang lebih rendah daripada HET obat generik yaitu stok obat nama dagang tersebut berlebih, sehingga harga obat dapat diturunkan.

75 16 Selain itu obat nama dagang yang tanggal kadaluwarsanya kurang dari satu tahun juga dapat menyebabkan harga diturunkan. Namun harga obat nama dagang hanya murah dimusim tertentu saja karena keadaan diatas. Harga obat nama dagang tidak diatur oleh pemerintah melainkan ditentukan oleh produsen obat tersebut. Harga ditentukan sesuai dengan perhitungan yang telah ditentukan. Sedangkan untuk harga obat generik berlogo atau obat generik bernama dagang, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 696/MENKES/PER/VI/2007 tentang harga obat generik bernama dagang pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah menjelaskan besarnya harga obat generik bernama dagang maksimal tiga kali harga obat generik. Sehingga terdapat kontrol pemerintah pada penentuan harga obat tersebut.

76 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Rasio harga obat nama dagang dengan harga obat generik diperoleh dengan membandingkan harga obat nama dagang dengan HET obat generik yang ditetapkan pemerintah Nilai rasio harga obat nama dagang dengan obat generik bervariasi dengan nilai yang lebih dari 1 dan kurang dari Secara keseluruhan rasio harga obat nama dagang dengan HET obat generik yang telah dianalisa yaitu 0,41-37, Rasio obat dengan nilai tertinggi dan terendah dari beberapa golongan obat antibakteri adalah : a. Amoksisilin kapsul 500 mg Tertinggi : Widecillin 500 mg di produksi oleh Meiji Terendah : Dexymox 500 mg diproduksi oleh Dexa Medica b. Eritromisin kaplet 500 mg Tertinggi : Erythrin 500 mg di produksi oleh Interbat Terendah : Dothrocyn 500 mg yang diproduksi oleh Yarindo Farmatama c. Kloramfenikol kapsul 250 mg Tertinggi : Fenicol 250 mg di produksi oleh Armoxindo Farma Terendah : Robocine 250 mg yang diproduksi oleh Dexa Medica d. Sefiksim kapsul 100 mg Tertinggi : Cefapan 100 mg di produksi oleh Kalbe Farma Terendah : Cefixime OGB Dexa 100 mg diproduksi oleh Dexa Medica e. Tetrasiklin kapsul 250 mg Tertinggi : Tetrasanbe 250 mg di produksi oleh Sanbe Terendah : Corsatet 250 diproduksi oleh Corsa 17

77 Rasio obat dengan nilai tertinggi dan terendah dari beberapa golongan obat antihipertensi adalah : a. Atenolol tablet 50 mg Tertinggi : Tenormin 50 mg di produksi oleh Astra Zeneca Terendah : Farnormin 50 mg diproduksi oleh Fahrenheit b. Furosemide tablet 40 mg Tertinggi : Lasix 40 mg di produksi oleh Sanofi Adventis Terendah : Gralixa yang diproduksi oleh Graha Farma c. Kaptopril tablet 25 mg Tertinggi : Tensicarp 25 mg di produksi oleh Sanbe Terendah : Dexacap diproduksi oleh Dexa Medica d. Nifedipin tablet 10 mg Tertinggi : Adalat 10 mg di produksi oleh Bayer Schering Pharma Terendah : Farmalat 10 mg diproduksi oleh Fahrenheit e. Spironolakton tablet 25 mg Tertinggi : Spirolacton 25 mg di produksi oleh Phapros Terendah : Aldactone 25 mg diproduksi oleh Soho Rasio obat dengan nilai tertinggi dan terendah dari beberapa golongan obat antidiabetes adalah : a. Glibenklamide tablet 5 mg Tertinggi : Daonil di produksi oleh Sanofi Adventis Terendah : Renabetic diproduksi oleh Fahrenheit b. Glimepiride tablet 2 mg Tertinggi : Amaryl 2 mg di produksi oleh Sanofi Adventis Terendah : Glimepiride Dexa diproduksi oleh Dexa Medica c. Gliquidon tablet 30 mg Tertinggi : Glurenom di produksi oleh Boehringer Ingelheim Terendah : Gliquidon OGB Dexa di produksi Dexa Medica d. Metformin HCl tablet 500 mg Tertinggi : Gluchopage 500 mg di produksi oleh Merck Terendah : Efomet 500 mg diproduksi oleh Promed

78 19 e. Metformin HCl tablet 850 mg Tertinggi : Gluchopage 850 mg di produksi oleh Merck Terendah : Metformin HCl OGB Dexa 850 mg diproduksi oleh Dexa Medica. 5.2 Saran Pemerintah perlu mengkaji beberapa harga obat generik yang harganya masih di atas harga obat nama dagang dan dapat memungkinkan untuk menurunkan harga obat generik tersebut. Selain itu, obat generik yang harganya sudah di bawah harga obat nama dagang tetap dievaluasi secara berkelanjutan. Harga obat generik yang ditentukan adalah harga yang rasional sehingga ketersediaan obat dan keterjangkauan harga obat generik tersebut terjamin.

79 DAFTAR PUSTAKA Dipiro, Joseph T. (2008). Pharmacotherapy a Pathophysiologic ApproachSeventh Edition. New York : Mc Graw Hill Companies Menteri Kesehatan Republik Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 696/MENKES/PER/VI/2007 tentang Harga Obat Generik Bernama Dagang Pada Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.02.02/MENKES068/1/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia b. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01//Menkes/146/I/2010. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Keputusan Menteri Kesehataan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat generik Tahun Jakarta. Program Studi Kimia ITB Obat Generik. Diakses pada 25 Februari 2012 pukul Tjay,H.T. dan Rahardja,K Obat-obat Penting edisi keenam. Jakarta : Gramedia. 20

80 21 Lampiran 1. Cara perhitungan rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik Rasio = Harga obat nama dagang per satuan HET obat generik per satuan

81 22 Lampiran 2. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Amoksisilin 500 mg Zat aktif Merk obat Produsen Amoksisilin kapsul 500 mg Amoxillin 500 mg Farmoxyl 500 mg Kalmoxillin 500 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingka n generik Pharos ,82 Fahrenheit ,20 Kalbe Farma ,80 Kimoxil 500 mg Kimia Farma ,85 Lapimox 500 mg Lapi ,20 Moxigra 500 mg Graha Farma ,64 Scannoxyl 500 mg Widecillin 500 mg Pritamox 500 mg Dexymox 500 mg Tempo Scan Pacific ,40 Meiji ,80 Molex Ayus ,20 Dexa Medica ,50 Rata -rata rasio 2,94 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 3. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Eritromisin 500 mg Zat aktif Merk obat Produsen Eritromisin kaplet 500 mg Dothrocyn 500 mg Yarindo Farmatama Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik ,43 Erythrin 500 mg Interbat ,79 Opithrocin 500 mg Narlecin Erysanbe 500 mg Otto ,47 Mersifarma TM ,49 Sanbe ,65 Ratarata rasio 1,57 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

82 23 Lampiran 4. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kloramfenikol 250 mg Zat aktif Merk obat Produsen Kloramfenikol kapsul 250 mg Chloramex 250 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Actavis ,97 Colme 250 mg Interbat ,32 Colsancetine 250 mg Grafacetin 250 mg Kalmicetine 250 mg Ribocine 250 mg Xepanicol 250 mg Empeecetin 250 mg Fenicol 250 mg Sanbe ,28 Graha Farma Kalbe Farma Dexa Medica Metiska Farma , , , ,44 Nufarindo ,25 Armoxindo Farma ,11 Rata -rata rasio 1,31 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 5. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Sefiksim 100 mg Zat aktif Merk obat Produsen Sefiksim kapsul 100 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Abimix 100 mg Actavis ,71 Anfix 100 mg Mahakam Beta Farma ,33 Cefarox 100 mg Gracia Pharmindo ,33 Cefika 100 mg Ikapharmindo ,23 Cefixime Hexpharm 100 mg Cefixime OGB Dexa Hexpharm Jaya ,67 Dexa Medica ,67 Cefspan 100 mg Kalbe Farma ,21 Ceptik 100 mg Interbat ,33 Comsporin 100 mg Combiphar ,72 Sofix 100 mg Soho ,76 Ratarata rasio 3,70 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

83 24 Lampiran 6. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Tetrasiklin 250 mg Zat aktif Merk obat Produsen Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Corsatet 250 Corsa ,66 Ratarata rasio Tetrasiklin kapsul 250 mg Dumocycline Actavis ,64 Indocycline Nufarindo ,96 Tetrasanbe 250 mg Sanbe ,84 1,28 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 7. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Atenolol 50 mg Zat aktif Merk obat Produsen Atenolol tablet 50 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Betablok 50 mg Hexpharm Jaya ,47 Farnormin 50 mg Fahrenheit ,10 Hiblok 50 mg Nufarindo ,35 Internolol 50 mg Interbat ,87 Lotenac 50 mg Gracia Pharmindo ,29 Tenormin 50 mg Astra Zeneca ,43 Zumablok 50 mg Sandoz ,21 Ratarata rasio 5,67 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

84 25 Lampiran 8. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Furosemida 40 mg Zat aktif Merk obat Produsen Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Farsix 40 mg Fahrenheit ,22 Ratarata rasio Furosemid tablet 40 mg Gralixa Graha Farma ,63 Lasix 40 mg Sanofi Aventis ,55 Naclex 40 mg Pharos ,95 Uresix 40 mg Caprifarmindo ,75 10,42 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 9. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kaptopril 25 mg Zat aktif Merk obat Produsen Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Acepress 25 mg Bernofarm ,56 Ratarata rasio Kaptopril tablet 25 mg Captensin 25 mg Kalbe Farma ,06 Dexacap 25 mg Dexa Medica ,94 Farmoten 25 mg Fahrenheit ,09 Metopril 25 mg Mestika Farma ,59 Scantensin 25 mg Tempo Scan Pacific ,36 Tensicap 25 mg Sanbe ,10 Vapril 25 mg Phapros ,02 7,84 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

85 26 Lampiran 10. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Nifedipin 10 mg Zat aktif Merk obat Produsen Nifedipin tablet 10 mg Adalat 10 mg Calcianta 10 mg Coronipin 10 mg Bayer Schering Pharma Armoxindo Farma Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik , ,06 Dexa Medica ,03 Farmalat 10 mg Fahrenheit ,30 Nifedin Sanbe ,87 Vasdalat Hexpharm Jaya ,05 Xepalat 10 mg Metiska Farma ,02 Ratarata rasio 4,88 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 11. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Spironolakton 25 mg Zat aktif Merk obat Produsen Spironolakton tablet 25 mg Aldactone 25 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Soho ,06 Carpiaton-25 Fahrenheit ,46 Letonal 25 mg Otto ,25 Spirola 25 mg Kalbe Farma ,48 Spirolacton 25 mg Phapros ,57 Ratarata rasio 2,37 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

86 27 Lampiran 12. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glibenklamida 5 mg Zat aktif Merk obat Produsen Condiabet Armoxindo Farma Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik ,92 Daonil Sanofi Adventis ,82 Rata -rata rasio Glibenklamida tablet 5 mg Glidanil Mersifarma TM ,55 Glimel Merck ,30 Renabetic Fahrenheit ,54 Glulo Eisai ,32 Libronil Hexpharm Jaya ,60 Padonil Phapros ,06 8,51 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 13. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glimepiride 2 mg Zat aktif Merk obat Produsen Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Actaryl 2 mg Actavis ,40 Ratarata rasio Glimepiride tablet 2 mg Amadiab 2 mg Lapi ,29 Amaryl 2 mg Sanofi Adventis ,13 Anpiride 2 mg Sanbe ,80 Diaglime 2 mg Kalbe Farma ,35 Glimepiride Dexa Dexa Medica ,81 Glimexal 2 mg Sandoz ,76 Gliperid 2 mg Merck ,93 1,93 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

87 28 Lampiran 14. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Gliquidon 30 mg Zat aktif Merk obat Produsen Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Fordiab Hexpharm Jaya ,61 Ratarata rasio Gliquidon tablet 30 mg Glidiab Soho ,38 Gliquidone OGB Dexa Glurenorm Dexa Medica ,64 Boehringer Ingelheim ,62 Lodem Dexa Medica ,64 1,58 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 15. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 500 mg Zat aktif Merk obat Produsen Metformin HCl tablet 500 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Addeco 500 mg Pharos ,59 Benofomin 500 mg Bernofarm ,82 Diabex 500 mg Combiphar ,01 Diafac 500 mg Pharos ,46 Efomet 500 mg Promed ,06 Gluchopage 500 mg Merck ,35 Nevox Kalbe Farma ,26 Ratarata rasio 3,63 Glumin 500 mg Ferron ,49 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah

88 29 Lampiran 16. Rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 850 mg Zat aktif Merk obat Produsen Metformin HCl tablet 850 mg Benofomin 850 mg Isi dalam kemasan Harga per kemasan Harga per unit HET generik per unit Rasio harga obat nama dagang dibandingkan generik Bernofarm ,08 Diabex 850 mg Combiphar ,36 Gluchopage 850 mg Glucotika 850 mg Metformin HCl OGB Dexa 850 mg Merck ,47 Ikapharmindo ,93 Dexa Medica ,41 Glufor 850 mg Pyridam ,24 Ratarata rasio 2,25 Keterangan : : Rasio tertinggi : Rasio terendah Lampiran 17. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Amoksisilin 500 mg

89 30 Lampiran 18. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Eritromisin 500 mg Lampiran 19. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kloramfenikol 250 mg

90 31 Lampiran 20. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Sefiksim 100 mg Lampiran 21. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Tetrasiklin 250 mg

91 32 Lampiran 22. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Atenolol 50 mg Lampiran 23. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Furosemide 40 mg

92 33 Lampiran 24. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Kaptopril 25 mg Lampiran 25. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Nifedipin 10 mg

93 34 Lampiran 26. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Spironolakton 25 mg Lampiran 27. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glibenklamide 5 mg

94 35 Lampiran 28. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Glimepiride 2 mg Lampiran 29. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Gliquidon 30 mg

95 36 Lampiran 30. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 500 mg Lampiran 31. Grafik rasio harga obat nama dagang terhadap HET obat generik dari sediaan yang mengandung Metformin HCl 850 mg

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DITJEN BINFAR DAN ALKES KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JL. H.R. RASUNA SAID

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI

UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. APRILYA TRI SUSATI, S.Farm AGKATA LXXVI UIVERSITAS IDOESIA LAPORA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BIA PRODUKSI DA DISTRIBUSI KEFARMASIA DIREKTORAT JEDERAL BIA KEFARMASIA DA ALAT KESEHATA KEMETERIA KESEHATA REPUBLIK IDOESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER. YUDHO PRABOWO, S.Farm ANGKATAN LXXIII UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALANKESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELANYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA MENTENG HUIS JALAN CIKINI RAYA NO. 2 JAKARTA PUSAT PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORATT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan.

Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Revisi PP.38/2007 serta implikasinya terhadap urusan direktorat jenderal bina upaya kesehatan. Dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan kementerian kesehatan republik indonesia

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN) Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 50 BOGOR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT BINTANG TOEDJOE DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Anita Karlina, S.Farm.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN 1. Staf Ahli Bid. Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 2. Staf Ahli Bid. Pembiayaan & Pemberdayaan Masyarakat; 3. Staf Ahli Bid. Perlindungan Faktor Resiko Kesehatan; 4. Staf Ahli Bid Peningkatan Kapasitas

Lebih terperinci

Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan RANCANGAN REVISI PP 38/2007 DAN NSPK DI LINGKUNGAN DITJEN BINFAR DAN ALKES Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan DISAMPAIKAN PADA SEMILOKA REVISI PP38/2007 DAN NSPK : IMPLIKASINYA TERHADAP

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN SALINAN NOMOR 26/2016 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. No.585, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1144/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/497/2016 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN HARI KESEHATAN NASIONAL KE-52 TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan.

Diharapkan Laporan Tahunan ini bermanfaat bagi pengembangan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT dan atas berkat dan karunianya Buku Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang penting dan menjadi hak semua orang. Kesehatan yang dimaksud tidak hanya sekedar sehat secara fisik atau jasmani, tetapi juga secara mental,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005

PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 PERBANDINGAN STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/IX/2005 DENGAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Jenis ini digunakan dengan pertimbangan bahwa hasil penelitian diharapkan akan mampu memberikan informasi

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN PERIODE 17 MARET 28 MARET 2014

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 439/MENKES/PER/VI/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 1575/MENKES/PER/XI/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KESEHATAN MENTERI

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN.

-2- MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN. GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT. ETERCON PHARMA DI APOTEK KIMIA FARMA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANATRIA KHOLIYAH,

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 2.1. Sejarah Organisasi Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai

Lebih terperinci

Rencana Aksi Kegiatan Tahun

Rencana Aksi Kegiatan Tahun Rencana Aksi Kegiatan Tahun 2015-2019 DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI KATA PENGANTAR Kami memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhaanahu Wa Ta ala, Tuhan Yang Maha Kuasa,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI APOTEK SAFA DI PT. TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA, TBK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN

STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN KESEHATAN 1. Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan; 2. Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi; 3. Staf Ahli Bidang Desentralisasi Kesehatan; dan 4. Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan STAF AHLI STRUKTUR

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DI PT SOHO INDUSTRI PHARMASI DI APOTEK ATRIKA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANITA HASAN,

Lebih terperinci

Kepala Dinas mempunyai tugas :

Kepala Dinas mempunyai tugas : Kepala Dinas mempunyai tugas : a. menyelenggarakan perumusan dan penetapan program kerja Dinas; d. menyelenggarakan perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan; e. menyelenggarakan urusan pemerintahan

Lebih terperinci

BAB II PROFIL DINAS KESEHATAN KOTA MEDAN. Dinas Kesehatan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam

BAB II PROFIL DINAS KESEHATAN KOTA MEDAN. Dinas Kesehatan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam BAB II PROFIL DINAS KESEHATAN KOTA MEDAN A. Sejarah Singkat Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam bidang kesehatan yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATAN

BAB II GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATAN BAB II GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATAN A. Sejarah Singkat Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan dalam bidang kesehatan yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang

Lebih terperinci

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian Rapat Koordinasi Nasional Palu, 31 Maret 2015 Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif. Jenis penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang secara khusus

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif. Jenis penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang secara khusus BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Jenis penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang secara khusus

Lebih terperinci

Rencana Aksi Kegiatan

Rencana Aksi Kegiatan Rencana Aksi Kegiatan 2015-2019 DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA PADA PROGRAM KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KATA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/399/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/399/2017 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/399/2017 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN HARI KESEHATAN NASIONAL KE-53 TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2009 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 56 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 56 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 56 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 159 (1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerinta

Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 159 (1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 huruf a, mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerinta BAB IX DINAS KESEHATAN Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 158 Susunan Organisasi Dinas Kesehatan, terdiri dari: a. Kepala Dinas; b. Sekretaris, membawahkan: 1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; 2. Sub

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERIODE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap manusia memiliki hak asasi yang salah satunya adalah kesehatan. Pengertian dari kesehatan tidak hanya sebatas sehat secara jasmani dan rohani, namun sehat

Lebih terperinci

Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 69 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KEBUMEN

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 69 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KEBUMEN BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 69 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KEBUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA, Menimbang

Lebih terperinci