BAB II LANDASAN TEORI. yang saling mendukung antara yang satu dengan yang lain.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI. yang saling mendukung antara yang satu dengan yang lain."

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI II.1. Kesepian II.1.1. Definisi Kesepian Hampir semua orang, tak terkecuali remaja pernah merasa kesepian. Banyak sekali definisi mengenai kesepian yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yang saling mendukung antara yang satu dengan yang lain. Kesepian didefinisikan oleh Perlman dan Peplau (1982) sebagai suatu tanda peringatan bagi seseorang yang memiliki kekurangan dalam hubungan sosial. Dalam beberapa cara yang penting, kekurangan ini mungkin muncul karena kualitas ataupun kuantitas seseorang yang sedikit dalam melakukan hubungan sosial (Sears dkk, 1999). Weiss (dalam Peplau dan Perlman, 1982) mengatakan kesepian tidak disebabkan kerena sendiri tetapi dikarenakan tidak memiliki seseorang yang berarti dalam suatu hubungan. Kesepian nampak sebagai respon dari ketidakhadiran suatu hubungan. Kesepian juga berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan terasing dan kurangnya hubungan sosial yang ada (Bruno,2000).Menurut Brehm dan Kassin (1993) kesepian adalah perasaan kurang memiliki hubungan sosial yang diakibatkan ketidakpuasan dengan hubungan sosial yang ada (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2003). Kesepian menurut Fieldman (1985) adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan tingkatan dari 13

2 keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Sementara itu menurut Baron dan Byrne (1994) adalah suatu perasaan ketika seseorang ingin membangun sebuah hubungan dengan orang tetapi dia tidak dapat melakukannya. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah suatu perasaan yang dialami oleh seseorang ketika individu tersebut ingin membangun sebuah hubungan dengan orang tetapi dia tidak dapat melakukannya. II.1.2. Tipe-tipe Kesepian Weiss (dalam De Jong Gierveld & Tilburg, 1999) mengemukakan bahwa di dalam perasaan kesepian terdapat 2 (dua) komponen yaitu kesepian emosional (emotional loneliness) dan kesepian sosial (social loneliness) yaitu : 1. Kesepian Emosional (emotional loneliness) Merupakan kesepian yang diakibatkan oleh tidak adanya ikatan yang dekat atau intim (intimate attachment) dengan seseorang sehingga tidak dapat bergantung kepada siapa pun. Hubungan yang ada kurang memuaskan, atau merasa lingkungan sosial kurang memahaminya. 2. Kesepian Sosial (social loneliness) Merupakan kesepian yang diakibatkan oleh tidak adanya teman, saudara atau orang lain dari jaringan sosial dimana aktivitas-aktivitas dan kepentingan-kepentingan bisa saling dibagi dan adanya suatu penolakan dari lingkungan sosial. Berdasarkan teori diatas, akan membantu peneliti untuk lebih memahami tipe-tipe kesepian dan untuk mengungkap inti permasalahan dari penelitian ini. 14

3 Beberapa penyebab kesepian yang didasarkan oleh tipe kesepian yang dikemukakan oleh Weiss yaitu : 1. Kesepian secara emosional disebabkan adanya kekurangan dalam hubungan yang dijalin. Berikut ini alasan yang dikemukakan oleh Rubenstein dan Shaver (dalam Brehm, 2002) yaitu : a. Merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat yang cocok. b. Adanya perubahan mengenai apa yang diharapkan dari suatu hubungan pertemanan. Di suatu waktu, hubungan sosial individu mungkin cukup memuaskan, sehingga tidak merasa kesepian. Hubungan ini berlanjut, hingga suatu saat individu merasa hubungan tersebut tidak memuaskan karena merubah apa yang diinginkan. Peplau et al (dalam Brehm, 2002) mengemukakan perubahan tersebut bersumber dari perubahan mood, bertambahnya usia dan perubahan situasi. 2. Kesepian secara sosial yaitu : a. Dikarenakan individu dikeluarkan dari suatu kelompok, tidak dicintai oleh orang-orang disekitar (Beck et al, dalam Myers, 1999). b. Individu akan merasa dirinya kesepian ketika mereka merasa ditolak oleh teman, diasingkan, diisolasi, dan tidak memiliki kontrol terhadap situasi (dalam Rice, 1996). c. Harga diri seseorang McWhirter et at., (dalam Brehm, 2002) menyatakan bahwa kesepian berhubungan dengan tingkat harga diri yang rendah. Orang yang 15

4 menyatakan dirinya kesepian, biasanya memandang diri mereka tidak layak dan tidak patut dicintai. Dan rendahnya tingkat harga diri ini, mengakibatkan orang-orang yang kesepian merasa tidak nyaman dengan situasi sosialnya (Vaux, dalam Brehm, 2002). Berdasarkan pada penyebab kesepian di atas, peneliti juga akan menjadikan teori tersebut sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan wawancara, agar dapat terungkap penyebab-penyebab kesepian pada remaja. II.1.3. Dampak Perasaan Kesepian pada Remaja Kesepian pada umumnya akan menimbulkan berbagai dampak pada orang yang mengalaminya, antara lain : 1. Tingkat perasaan kesepian yang mendalam akan berhubungan dengan berbagai masalah personal, seperti depresi, pemakaian alkohol dan obat-obatan, penyakit fisik dan bahkan resiko kematian (Taylor, Peplau & Sears, 2000) 2. Kesepian disertai oleh berbagai emosi negatif, seperti depresi, kekhawatiran, ketidakpuasan, menyalahkan diri sendiri (Anderson et al, dalam Baron & Byrne, 2000) 3. Orang yang mengalami kesepian dapat tenggelam dalam kepasifan yang menyedihkan, menangis, tidur, minum, makan, memakai obat penenang dan menonton televisi tanpa tujuan (Deaux, Dane & Wrigtsman, 1993). 16

5 II.1.4. Aspek-aspek Kesepian Menurut Bruno (2000) yang menjadi aspek-aspek kesepian, yaitu: a) Isolasi Suatu keadaan dimana seseorang merasa terasing dari tujuantujuan dan nilai-nilai dominan dalam masyarakat kemenangan, agresivitas, manipulasi merupakan faktor-faktor pemicu munculnya keterasingan. b) Penolakan Penolakan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak diterima, diusir dan dihalau oleh lingkungannya. Seseorang yang kesepian akan merasa dirinya ditolak dan ditinggalkan walaupun berada ditengah-tengah keramaian. c) Merasa disalah mengerti Suatu keadaan dimana seseorang merasa seakan-akan dirinya disalahkan dan tidak berguna. Seseorang yang selalu merasa disalah mengerti dapat menimbulkan rasa rendah diri, rasa tidak percaya diri dan merasa tidak mampu untuk bertindak. d) Merasa tidak dicintai Adalah suati keadaan dimana seseorang tidak mendapatkan kasih sayang, tidak diperlukan secara lembut dan tidak dihormati, merasa tidak dicintai akan jauh dari persahabatan dan kerjasama. Suatu perhatian dalam analisis transaksi adalah suatu unit pengakuan. Unit ini adalah merupakan penghargaan atau bukti utama dari cinta 17

6 atau kasih sayang. Setiap orang membutuhkan perhatian supaya dapat berkembang disetiap tahapan umurnya. Perhatian yang diperoleh secara teratur adalah cara terbaik untuk mengatasi kesepian. Tanpa adanya perhatian seseorang dapat menjadi terasing secara emosional. e) Tidak mempunyai sahabat Tidak ada seseorang yang berada disampingnya, tidak ada hubungan, tidak dapat berbagi. Orang yang paling tidak berharga adalah orang yang tidak mempunyai sahabat. f) Malas membuka diri Suatu keadaan dimana seseorang malas menjalin keakraban, takut terluka, senantiasa merasa cemas dan takut jangan-jangan orang lain akan melukainya. g) Bosan Suatu perasaan seseorang yang merasa jenuh tidak menyenangkan tidak menarik, merasa lemah, orang-orang yang pembosan biasanya orang-orang yang tidak pernah menikmati keadaankeadaan yang ada. h) Gelisah Suatu keadaan dimana seseorang merasa resah, tidak nyaman dan tentram didalam hati atau merasa selalu khawatir, tidak senang, dan perasaan galau dilanda kecemasan. 18

7 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kesepian merupakan suatu keadaan mental dan emosional seseorang yang berhubungan dengan perasaan kesepian, yang meliputi keterasingan, tidak diterima orang lain, merasa tidak dicintai, gelisah, bosan, tidak mempunyai sahabat, merasa disalah mengertikan. II Penyebab Kesepian Menurut Brehm (1992) ada empat hal yang menyebabkan seseorang mengalami kesepian, yaitu : 1. Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang Menurut Brehm (1992) hubungan seseorang yang tidak adekuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak adekuat. Rubenstein dan Shaver (1982) menyimpulkan beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh orang yang kesepian, yaitu sebagai berikut : a. Being unattached; tidak memiliki pasangan, tidak memiliki partner seksual, berpisah dengan pasangannya atau pacarnya. b. Alienation; merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat. c. Being Alone; pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut, selalu sendiri. d. Forced isolation; dikurung di dalam rumah, dirawat inap di rumah sakit, tidak bisa kemana-mana. 19

8 e. Dislocation; jauh dari rumah (merantau), memulai pekerjaan atau sekolah baru, sering pindah rumah, sering melakukan perjalanan (dalam Brehm 1992). 2. Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan Menurut Brehm (1992) kesepian juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan. Sehingga orang tersebut tidak mengalami kesepian. Tetapi disaat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut. Menurut Peplau (dalam Brehm, 1992), perubahan itu dapat muncul dari beberapa sumber yaitu : a. Perubahan mood seseorang. Jenis hubungan yang diinginkan seseorang ketika sedang senang berbeda dengan jenis hubungan yang diinginkan ketika sedang sedih. Bagi beberapa orang akan cenderung membutuhkan orangtuanya ketika sedang senang dan akan cenderung membutuhkan teman-temannya ketika sedang sedih. b. Usia. Seiring dengan bertambahnya usia, perkembangan seseorang membawa berbagai perubahan yang akan mempengaruhi harapan atau keinginan orang itu terhadap suatu hubungan. Jenis persahabatan yang cukup memuaskan ketika seseorang berusia 15 tahun mungkin tidak akan memuaskan orang tersebut saat berusia 25 tahun. 20

9 c. Perubahan situasi. Banyak orang tidak mau menjalain hubungan emosional yang dekat dengan orang lain ketika mereka sedang membina karir. Namun, ketika karir sudah mapan orang tersebut akan dihadapkan pada kebutuhan yang besar akan suatu hubungan yang memiliki komitmen secara emosional. Jadi, menurut Brehm (1992), pemikiran, harapan dan keinginan seseorang terhadap hubungan yang dimiliki dapat berubah. Jika hubungan yang dimiliki orang tersebut tidak ikut berubah sesuai dengan pemikiran, harapan dan keinginannya maka orang itu akan mengalami kesepian. 3. Self-esteem dan causal attribution Kesepian berhubungan dengan self-esteem yang rendah. Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial (misalnya berbicara didepan umum dan berada di kerumunan orang yang tidak dikenal). Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami kesepian. 4. Perilaku interpersonal Perilaku interpersonal seseorang yang kesepian akan menyelidiki orang itu untuk membangun suatu hubungan dengan orang lain. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian, orang yang mengalami kesepian akan menilai orang lain secara negatif, mereka tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan dan intensi 21

10 (kecenderungan untuk berperilaku) orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan. Orang yang mengalami kesepian cenderung terhambat dalam keterampilan sosial, cenderung pasif bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kesepian dan ragu-ragu dalam mengekspresikan pendapat di depan umum. Orang yang mengalami kesepian cenderung tidak responsif dan tidak sensitif secara sosial. Orang yang mengalami kesepian juga cenderung lambat dalam membangun keintiman dalam hubungan yang dimilikinya dengan orang lain. Perilaku ini akan membatasi kesempatan orang itu untuk bersama dengan orang lain dan memiliki kontribusi terhadap pola interaksi yang tidak memuaskan (Peplau & Perlman, Saks & Krupart, dalam Brehm, 1992). II Perasaan Kesepian Ketika mrngalami kesepian individu akan merasakan ketidakpuasan, kehilangan, dan distress. Namun, hal ini tidak berarti bahwa perasaan ini sama disetiap waktu. Faktanya, orang-orang yang berbeda bisa saja memiliki perasaan kesepian yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula (Lopata dalam Brehm, 1992). Berdasarkan survei mengenai kesepian yang dilakukan oleh Rubeinstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm, 1992) diuraikan bahwa terdapat empat jenis perasaan yang dialami oleh orang yang kesepian, yaitu desperation, impation boredom, self-deprecation, dan depression. Pembagiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. 22

11 Tabel 1 Empat Jenis Perasaan Ketika kesepian Desperation Impatient Boredom Self-Deprecation Depression Sedih Tidak sabar Tidak atraktif Sedih Tidak berdaya Bosan Terpuruk Depresi Takut Berada di tempat Bodoh Hampa lain Tidak punya Kesulitan Malu Terisolasi harapan Merasa ditinggalkan Marah Merasa tidak aman Menyesali diri Mudah diserang Tidak dapat Melankolis berkonsentrasi Berharap memiliki seseorang yang spesial Sumber: Rubeninstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm 2002 hal 399) a. Desperation, yaitu perasaan yang sangat menyedihkan, mampu melakukan tindakan yang nekat, disertai dengan indikator perilaku yaitu putus asa, tidak 23

12 berdaya, takut, tidak punya harapan, merasa ditinggalkan serta mudah mendapat kecaman dari orang lain. b. Impatient Boredom, yaitu rasa bosan yang tidak tertahankan, jenuh, tidak suka menunggu lama, dengan indikator perilaku seperti tidak sabar, ingin berada di tempat lain, kesulitan menghadapi suatu keadaan, sering marah, serta tidak dapat berkonsentrasi. c. Self-Deprecation, yaitu perasaan dimana seseorang mengutuk serta menyalahkan diri sendiri, tidak mampu menyelesaikan masalahnya, dengan indikator perilaku seperti tidak atraktif, terpuruk, merasa bodoh, malu, serta merasa tidak aman. d. Depression, menurut Davison (2004) merupakan tahapan emosi yang ditandai dengan kesedihan yang mendalam, perasaan bersalah, menarik diri dari orang lain, kurang tidur, dengan indikator perilaku dari Brehm (2002) yaitu, sedih, tertekan, terisolasi, hampa, menyesali diri, mengasingkan diri, serta berharap memiliki seseorang yang spesial. II Karakteristik Orang yang Kesepian Menurut Myers (1999) orang yang kesepian secara kronis kelihatan terjebak di dalam lingkaran setan kegagalan diri dalam kognisi sosial dan perilaku sosial. Orang yang kesepian memiliki penjelasan yang negatif terhadap depresi yang dialami, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk dan berbagai hal yang berada di luar kendali (Anderson & Snodgrass, dalam Myers, 1999). Lebih jauh lagi orang yang kesepian menerima orang lain dalam cara yang 24

13 negatif (Jones, Wittenberg & Reis, dalam Myers, 1999). Pandangan negatif ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang yang mengalami tersebut. Pandangan negatif ini akan menyebabkan orang yang mengalami loneliness kehilangan kepercayaan sosial dan menjadi pesimis terhadap orang lain, yang justru akan menghambatnya dalam mengurangi loneliness mereka. (Myers, 1999). Orang yang loneliness cenderung menjadi self-conscious dan memiliki self esteem yang rendah (Cheek, Melcior & Vaux dalam Myers, 1999). Ketika berbicara dengan orang asing, orang yang kesepian lebih banyak membicarakan diri sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya. Setelah pembicaraan selesai biasanya kenalan baru tersebut memberi kesan yang negatif terhadap orang yang kesepian tersebut (Jones dalam Myers, 1999). Tidak ada orang yang dapat kebal terhadap kesepian, tetapi beberapa orang memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami kesepian (Taylor, Peplau & Sears, 2000). Selanjutnya, menurut Brehm (1992) beberapa orang rentan terhadap kesepian dan beberapa orang yang lain tidak. Perbedaan ini berkaitan dengan usia, status pernikahan dan gender. 1. Usia Orang yang berusia tua memiliki stereotipe tertentu di dalam masyarakat. Banyak orang yang menganggap semakin tua seseorang semakin merasa kesepian. Tetapi banyak penelitian yang telah membuktikan stereotipe ini keliru. Berdasarkan penelitian Ostrov & Offer (dalam Brehm, 1992) ditemukan bahwa orang yang paling kesepian justru berasal dari orang-orang yang berusia remaja dan dewasa awal. Fenomena ini kemudian diteliti lagi 25

14 oleh Perlman pada tahun 1990 (Taylor, Peplau & Sears, 2000) dan menemukan hasil yang sama bahwa kesepian lebih tinggi di antara remaja dan dewasa muda dan lebih rendah di antara orang-orang yang lebih tua. Menurut Brehm (1992) orang-orang yang lebih muda menghadapi banyak transisi sosial yang besar, seperti meninggalkan rumah untuk pertama kali, merantau, memasuki dunia kuliah, atau memasuki dunia kerja full time untuk pertama kalinya, yang mana semuanya ini dapat menyebabkan kesepian. Sejalan dengan bertambahnya usia, kehidupan sosial mereka menjadi semakin stabil. Dengan bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya keterampilan sosial seseorang dan mereka menjadi semakin realistik terhadap hubungan sosial yang mereka harapkan. 2. Status Perkawinan Secara umum, orang yang tidak menikah lebih merasa kesepian bila dibandingkan dengan orang menikah (Freedman; Perlman & Peplau; dalam Brehm, 1992). Perbedaan ini diperhitungkan dengan membandingkan antara orang yang menikah dengan orang yang bercerai (Perlman & Peplau; Rubeinstein & Shaver dalam Brehm, 1992). Ketika kelompok orang yang menikah dan kelompok orang yang belum menikah dibandingkan, kedua kelompok ini menunjukkan level kesepian yang sama (Perlman & Peplau dalam Brehm, 1992). Berdasarkan penelitian ini Brehm menyimpulakan bahwa kesepian lebih merupakan reaksi terhadap kehilangan hubungan perkawinan (marital relationship) daripada ketidakhadiran dari pasangan suami/istri pada diri seseorang. 26

15 3. Gender Menurut Borys dan Perlman (dalam Brehm, 1992) laki-laki lebih sulit menyatakan kesepian secara tegas bila dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan oleh stereotipe peran gender yang berlaku dalam masyarakat. Berdasarkan stereotipe peran gender, pengekspresian emosi kurang sesuai bagi laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan (Borys & Perlman, dalam Deaux, Dane & Wrightsman, 1993). 4. Karakteristik Latar Belakang yang Lain Rubeinsein & Shaver (dalam Brehm, 1992) menemukan satu karakteristik latar belakang seseorang yang kuat sebagai prediktor. Individu dengan orang tua yang bercerai akan lebih kesepian bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua yang tidak bercerai. Semakin muda usia seseorang ketika orangtuanya bercerai semakin tinggi tingkat kesepian yang akan dialami orang tersebut ketika dewasa. Tetapi hal ini tidak berlaku pada individu dengan orangtua karena meninggal ketika kanak-kanak tidak lebih kesepian ketika dewasa bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua berpisah semasa kanak-kanak atau remaja. Menurut Brehm (1992) proses perceraian meningkatkan potensi anak-anak dengan orangtua yang bercerai untuk mengalami kesepian ketika anak-anak tersebut dewasa. 27

16 II.2. Remaja II.2.1. Definisi Remaja Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1998) secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa lainnya, dimulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir sampai ia menjadi matang secara hukum. Menurut Monks (1996) batasan usia remaja adalah antara 12 tahun sampai 21 tahun. Monks membagi batasan usia remaja ini kedalam 3 fase, yaitu : 1. Fase remaja awal : usia 12 tahun sampai 15 tahun 2. Fase remaja pertengahan : usia 15 sampai 18 tahun 3. Fase remaja akhir : usia 18 tahun sampai 21 tahun Sunarto & Hartono (2002), mengatakan bahwa pedoman umum untuk remaja di Indonesia digunakan batasan usia tahun dan belum menikah. Individu yang sudah menikah dianggap dan diperlakukan sebagai individu dewasa penuh sehingga tidak lagi digolongkan sebagai remaja. II.2.2. Ciri-ciri Masa Remaja Hurlock (1998) menyatakan masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut yaitu : 1. Masa remaja sebagai periode yang penting 2. Masa remaja sebagai periode peralihan 3. masa remaja sebagai periode perubahan 28

17 4. Masa remaja sebagai usia bermasalah 5. Masa remaja sebagai mencari identitas 6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan 7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik 8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa II.2.3. Tugas perkembangan pada Masa Remaja Havighurst ( dalam Hurlock, 1998) menyatakan ada beberapa tugas perkembangan yang harus dilakukan individu sepanjang rentang kehidupannya, mulai dari masa bayi sampai masa tua. Tugas perkembangan pada masa remaja adalah salah satunya, tugas tersebut yaitu : 1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita 2. Mencapai peran sosial pria dan wanita 3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif 4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab 5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya 6. Mempersiapkan karir ekonomi 7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga 8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pehangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi Jika tugas perkembangan di atas tidak dapat terpenuhi, maka akan menjadi faktor pemicu kesepian pada remaja. Pada teori tugas perkembangan pada masa 29

18 remaja di atas akan dijadikan sebagai acuan untuk melengkapi paradigma pada penelitian ini. II.2.4. Faktor-faktor penyebab kesepian pada remaja Hampir semua remaja pernah mengalami kesepian dan tidak semua perasaan kesepian itu disebabkan oleh hal yang sama. Terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab dari timbulnya kesepian itu. Rice (1996) mengemukakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kesepian pada diri remaja secara umum, yaitu : A. Berpisah dan pengasingan dari orang tua B. Keluarga yang pecah / tidak rukun C. Kemampuan kognitif yang baru mengarah kepada kesadaran diri D. Pencarian identitas diri E. Perjuangan untuk mencapai tujuan bermakna F. Status kecil remaja dalam masyarakat G. Individualisme yang kompetitif dan mengarah kepada perasaan gagal dan penolakan H. Harapan yang berlebihan akan popularitas I. Harga diri yang rendah, pesimistis yang kuat berkaitan dengan disukai dan diterima atau tidak oleh orang lain J. Aspirasi pendidikan dan pekerjaan yang rendah, apatis dan tidak bertujuan yang mengarah kepada lingkaran kegagalan dan menarik diri. K. Sifat pemalu 30

19 Pada teori di atas, peneliti akan menjadikan acuan untuk melakukan wawancara dengan subjek yang ditentukan, agar dapat terungkap seberapa besar kesepian pada remaja yang mengalami putus pacaran. II.3. HUBUNGAN PACARAN II.3.1. Definisi Pacaran Terdapat beberapa istilah mengenai pacaran yang digunakan oleh beberapa peneliti yaitu steady dating (Duvall&Miller, 1985) atau courtship (Bird&Melville, 1994). Meskipun terdapat perbedaan istilah, Bird & Melville (1994) mendefinisikan hubungan pacaran yang terlepas dari istilah-istilah yang ada, yaitu :...single women and men go trough a formal process which they choose a marital partner Dari defenisi diatas dapat diketahui bahwa hubungan pacaran adalah suatu proses formal yang dilalui seorang wanita dan laki-laki lajang, dalam rangka memilih pasangan hidupnya. Bird dan Melville (1994) menyatakan bahwa hubungan pacaran adalah suatu proses formal yang dilalui oleh seorang pria dan wanita dalam rangka memilih pasangan hidup. II.3.2. Tujuan dan Fungsi Pacaran Pada saat individu memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran, maka biasanya ia memiliki tujuan yang berbeda dengan individu lainnya. Berdasarkan Duvall dan Miller (1985), pacaran bertujuan untuk menemukan pasangan hidup dengan cara berusaha lebih banyak pasangan yang disukainya. Disamping itu, 31

20 pacaran bisa berfungsi sebagai sarana untuk lebih mengenal diri, misalnya dengan mencari tahu karakterstik pasangan yang diinginkan. II.3.3. Pengakhiran Hubungan Pacaran Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dalam hubungan pacaran. Setiap pasangan memiliki karakteristik masing masing yang tidak selamanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini kemudian sering menimbulkan masalah dalam hubungan pacaran (Baron & Byrne, 1997). Disamping itu, Rusbult & Zembrodt (dalam Baron & Byrne, 1997) menekankan bahwa orang-orang akan memberi respon tertentu saat menjalin hubungan yang tidak bahagia, diantaranya adalah dengan mengakhiri hubungan. Berakhirnya suatu hubungan intim seperti hubungan pacaran, merupakan suatu hal yang menyakitkan. Ketika pasangan menghadapi kegagalan dalam menjalin hubungan pacaran menurut Brehm (1992) hal ini akan menimbulkan distress dan reaksi emosi berupa kesedihan yang mendalam. II.3.4. Respon Emosi Saat Hubungan Berakhir Menurut Elizabeth Kubler-Ross yang diadaptasi oleh Soekarsono (2000) perasaan-perasaan yang tidak nyaman yang muncul dalam diri seseorang setelah mengalami perpisahan. Hal tersebut merupakan reaksi emosi yang biasanya dialami oleh orang yang kehilangan. Terdapat 5 tahapan reaksi yang biasanya dilalui ketika seseorang mengalami pengakhiran hubungan, yaitu : A. Penyangkalan 32

21 Penyangkalan adalah tahap yang wajar dalam menghadapi krisis. Pada tahap ini individu belum sepenuhnya percaya bahwa hubungan dengan pasangannya telah berakhir.ia menyangkal bahwa peristiwa tersebut terjadi pada dirinya. B. Merasa marah Marah merupakan hal yang wajar dalam setiap perpisahan dengan pasangan. Pada tahap ini biasanya inidividu ingin mengamuk di depan sang mantan pasangan. C. Putus asa Pada tahap ini individu merasa sudah mampu mengatasi masalah.individu mengatakan pada diri sendiri bahwa ia sudah berubah. D. Depresi Ia merasa dirinya tidak berarti, sadar bahwa ia telah gagal. Kesadaran akan kegagalan ini merupakan hal yang positif, karena ia mulai memahami realita yang terjadi. Pada tahap ini yang belum terselesaikan adalah luka emosi yang ditimbulkan. E. Menerima realita yang terjadi Setelah melewati tahap depresi itu, barulah individu sampai pada tahap terakhir, dimana ia menyadari bahwa perpisahan telah terjadi dan hubungan tidak dapat diperbaiki lagi. Pada kondisi ini individu sudah bisa menerima realita yang terjadi, baik dalam bentuk kayakinan dan perasaan. 33

22 II.4. Kesepian Pada Remaja yang Putus Pacaran Masa remaja adalah suatu dunia yang agak terpisah dari dunia dewasa dan dunia anak-anak. Dunia remaja mempunyai ciri-ciri tersendiri. Disinilah terjadinya perubahan secara fisik maupun secara hormoral, dan hal-hal yang uniklah yang terjadi pada masa remaja. Masa remaja merupakan masa tansisi, dimana mereka berpendapat posisi ini adalah sebagai keistimewaan dimana mereka mengalami sebuah perasaan yang berbeda, termasuk didalamnya hak untuk memilih pasangan hidup mereka (Grossberg, 1992). Makna atau tujuan berpacaran adalah untuk mengetahui apakah kita bisa hidup harmonis dengan pasangan kita. Bagi para remaja, pacaran merupakan hal yang sangat penting dan sangat dibanggakan, oleh karena itu perasaan kesepian akan dengan mudah mendatangi para remaja jika mengalami putus pacaran ( Pada kalangan remaja, banyak hal-hal berlebihan yang dilihat ketika mereka sedang berpacaran. Bagi kalangan remaja, pasangan adalah segala galanya, mereka akan melakukan apa saja untuk membuat pasangan bahagia, dan rela mengorbankan apa saja demi untuk membahagiakan pasangan. Terkadang perlakuan dalam berpacaran pada remaja, sangat terlihat berlebihan, sehingga akan sangat berat bagi mereka ketika kehilangan pasangan. Kesepian dapat dialami oleh siapa saja, termasuk pada kalangan remaja. Salah satunya yaitu kesepian yang disebabkan karena putus pacaran. Permasalahan putus pacaran pada remaja, lebih fatal kemungkinannya, 34

23 dikarenakan remaja memiliki fikiran yang belum luas, sehingga mereka tidak berfikir untuk jauh kedepan. 35

24 II.5. Paradigma 36

25 Menyebabkan Dilihat dari Bold : yang akan diteliti dalam penelitian ini Remaja mempunyai tugas perkembangan, menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1998) antara lain yaitu mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial wanita, menerima keadaan fisiknya, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, mempersiapkan karir ekonomi dan keluarga dan sebagainya. Ketika remaja mengalami putus pacaran salah salah satu perasaan yang mendatangi diri mereka adalah perasaan kesepian, dimana perasaan kesepian tersebut menimbulkan berbagai dampak pada orang yang mengalaminya antara lain, tingkat perasaan kesepian yang mendalam akan berhubungan dengan berbagai masalah personal, seperti depresi, pemakaian alkohol dan obat-obatan, penyakit fisik dan bahkan resiko kematian (Taylor, Peplau & Sears, 2000). Kesepian disertai oleh berbagai emosi negatif seperti depresi, kekhawatiran, ketidakpuasan, menyalahkan diri sendiri (Anderson, dalam Baron & Byrne, 2000), dan orang yang mengalami kesepian dapat tenggelam dalam kepasifan yang menyedihkan, menangis, tidur, minum, makan, memakai obat penenang ( Deaux, Dane & Wrigtsman, 1993). Dalam menghadapi putus pacaran, terdapat perbedaan antara remaja yang mempunyai tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Pada remaja yang berkepribadian introvert, cenderung bereaksi diam mematung ketika sedang putus pacaran, sebaliknya remaja yang berkepribadian ekstrovert akan lebih histeris ketika menghadapi putus pacaran. 37

BAB I PENDAHULUAN. rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja

BAB I PENDAHULUAN. rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa dewasa awal merupakan awal dari suatu tahap kedewasaan dalam rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja dan akan memasuki

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian (loneliness)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian (loneliness) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kesepian (loneliness) 1. Pengertian Kesepian Menurut Sullivan (1955), kesepian (loneliness) merupakan pengalaman sangat tidak menyenangkan yang dialami ketika seseorang gagal

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan

BAB II LANDASAN TEORI. Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan BAB II LANDASAN TEORI A. Kesepian 1. Pengertian Kesepian Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Loneliness dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa

BAB II LANDASAN TEORI. Loneliness dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa BAB II LANDASAN TEORI II.A. Loneliness Pada Individu yang Melajang II.A.1. Pengertian Loneliness Loneliness dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa dini, dewasa madya, maupun pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan pola normal bagi kehidupan orang dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan pola normal bagi kehidupan orang dewasa. BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan pola normal bagi kehidupan orang dewasa. Seorang perempuan dianggap sudah seharusnya menikah ketika dia memasuki usia 21 tahun dan laki-laki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Individu dalam tahapan dewasa awal memiliki tugas perkembangan yang

BAB I PENDAHULUAN. Individu dalam tahapan dewasa awal memiliki tugas perkembangan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu dalam tahapan dewasa awal memiliki tugas perkembangan yang salah satunya adalah untuk membentuk hubungan intim dengan orang lain (Santrock, 1992 : 113), maka

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dengan kenyataan (Dalam Gierveld & Havens, 2004).

BAB II LANDASAN TEORI. dengan kenyataan (Dalam Gierveld & Havens, 2004). BAB II LANDASAN TEORI A. Kesepian 1. Pengertian Kesepian Kesepian diartikan oleh De Jong Gierveld (1987) sebagai suatu situasi dimana jumlah atau kuantitas dari hubungan yang ada lebih kurang dari hubungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian. dan terpisah dari mereka yang ada sekitar anda (Beck & Dkk dalam David G.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian. dan terpisah dari mereka yang ada sekitar anda (Beck & Dkk dalam David G. 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kesepian 1. Pengertian Kesepian Kesepian adalah dengan merasa terasing dari sebuah kelompok, tidak dicintai oleh sekeliling, tidak mampu untuk berbagi kekhawatiran pribadi,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan, seseorang membutuhkan

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan, seseorang membutuhkan 12 BAB II LANDASAN TEORI II. A. Dukungan Sosial II. A. 1. Pengertian Dukungan Sosial Dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan, seseorang membutuhkan dukungan sosial. Ada beberapa tokoh yang memberikan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.A. Kesepian Pada bab sebelumnya, telah diberikan beberapa penjelasan mengenai kesepian. Dikatakan bahwa kesepian dapat dirasakan oleh setiap individu, kapan saja dan dalam keadaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kesepian 1. Pengertian Kesepian Menurut Archibald, dkk (dalam Baron, 2005 : 16) berpendapat bahwa kesepian (loneliness) adalah suatu reaksi emosional dan kognitif terhadap dimilikinya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian. 21 tahun, dengan perincian tahun masa remaja awal, tahun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kesepian. 21 tahun, dengan perincian tahun masa remaja awal, tahun BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kesepian 1. Pengertian Masa remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional (Santrock,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sebagai perasaan kekurangan dan ketidakpuasan pada individu akibat adanya

BAB II LANDASAN TEORI. sebagai perasaan kekurangan dan ketidakpuasan pada individu akibat adanya BAB II LANDASAN TEORI II. A. Kesepian II. A. 1. Pengertian Kesepian Perlman & Peplau (dalam Brehm et al, 2002) mendefinisikan kesepian sebagai perasaan kekurangan dan ketidakpuasan pada individu akibat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Rosenberg (1965) mendefinisikan self esteem sebagai evaluasi yang

BAB II LANDASAN TEORI. Rosenberg (1965) mendefinisikan self esteem sebagai evaluasi yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Self Esteem 2.1.1 Pengertian Self Esteem Rosenberg (1965) mendefinisikan self esteem sebagai evaluasi yang dilakukan seseorang baik dalam cara positif maupun negatif terhadap

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Kesepian merupakan fenomena yang umum di seluruh dunia. Kesepian

BAB II LANDASAN TEORI. Kesepian merupakan fenomena yang umum di seluruh dunia. Kesepian BAB II LANDASAN TEORI II.A. KESEPIAN Kesepian merupakan fenomena yang umum di seluruh dunia. Kesepian dapat terjadi pada banyak situasi seperti ketika seseorang mencoba mendapatkan teman di sekolah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proses pertumbuhan dan perkembangan. Individu pada masa remaja mulai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proses pertumbuhan dan perkembangan. Individu pada masa remaja mulai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja dapat dipandang sebagai suatu masa dimana individu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Individu pada masa remaja mulai meninggalkan kebiasaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brage, Meredith &

BAB II LANDASAN TEORI. Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brage, Meredith & BAB II LANDASAN TEORI A. Loneliness 1. Pengertian Loneliness Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brage, Meredith & Woodward, 1998) sebagai perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan karena adanya kesenjangan

BAB II LANDASAN TEORI. kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan karena adanya kesenjangan BAB II LANDASAN TEORI II.A. Kesepian II.A.1. Pengertian Kesepian Brehm, dkk. (2002) menyatakan bahwa kesepian merupakan perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan karena adanya kesenjangan diantara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak pertama kali kita dilahirkan, kita langsung digolongkan berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. Sejak pertama kali kita dilahirkan, kita langsung digolongkan berdasarkan BAB I PENDAHULUAN I.A. LATAR BELAKANG Sejak pertama kali kita dilahirkan, kita langsung digolongkan berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki atau perempuan. Secara biologis manusia dengan mudah dibedakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Gunarsa & Gunarsa (1993) keluarga adalah ikatan yang diikat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Gunarsa & Gunarsa (1993) keluarga adalah ikatan yang diikat BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Menurut Gunarsa & Gunarsa (1993) keluarga adalah ikatan yang diikat oleh perkawinan atau darah dan biasanya meliputi ayah, ibu, dan anak atau anakanak. Keluarga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta pembagian peran suami dan istri. Seiring dengan berjalannya waktu ada

BAB I PENDAHULUAN. serta pembagian peran suami dan istri. Seiring dengan berjalannya waktu ada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan suatu hubungan antara pria dan wanita yang diakui secara sosial, yang didalamnya mencakup hubungan seksual, pengasuhan anak, serta pembagian

Lebih terperinci

Agresivitas. Persahabatan. Kesepian. Penolakan

Agresivitas. Persahabatan. Kesepian. Penolakan HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN AGRESIVITAS PADA REMAJA MADYA DI SMA X BOGOR LATAR BELAKANG MASALAH Agresivitas Persahabatan Kesepian Penolakan AGRESIVITAS Perilaku merugikan atau menimbulkan korban pihak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Hakikat pendidikan merupakan salah satu bagian dari modal atau kekuatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Hakikat pendidikan merupakan salah satu bagian dari modal atau kekuatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hakikat pendidikan merupakan salah satu bagian dari modal atau kekuatan yang bisa menumbuhkan peradaban bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan individu. Kesepian bukanlah masalah psikologis yang langka,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan individu. Kesepian bukanlah masalah psikologis yang langka, digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesepian merupakan salah satu masalah psikologis yang kerap muncul dalam kehidupan individu. Kesepian bukanlah masalah psikologis yang langka,

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Awal dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Masa Dewasa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Kesepian 1. Definisi Kesepian Rotenberg, Peplau and Perlman mendefinisikan kesepian sebagai reaksi kognitif dan afektif individu terhadap ancaman dari hubungan sosial. Komponen

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Hampir semua orang, tidak terkecuali laki-laki maupun perempuan pernah

BAB II LANDASAN TEORI. Hampir semua orang, tidak terkecuali laki-laki maupun perempuan pernah BAB II LANDASAN TEORI II.A. Kesepian II.A.1 Definisi Kesepian Hampir semua orang, tidak terkecuali laki-laki maupun perempuan pernah merasakan dan mengalami kesepian. Ada banyak definisi yang dikemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan peristiwa dimana sepasang mempelai atau sepasang

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan peristiwa dimana sepasang mempelai atau sepasang 1 BAB I PENDAHULUAN I. A. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan peristiwa dimana sepasang mempelai atau sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal di depan penghulu atau kepala agama tertentu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia saling berinteraksi sosial dalam usaha mengkomunikasikan pikiran dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia saling berinteraksi sosial dalam usaha mengkomunikasikan pikiran dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Manusia saling berinteraksi sosial dalam usaha mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membangun sebuah hubungan senantiasa menjadi kebutuhan bagi individu untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun terkadang hubungan menjadi semakin kompleks saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan mengalami masa transisi peran sosial, individu dewasa awal akan menindaklanjuti hubungan dengan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II. A. DUKUNGAN SOSIAL II. A. 1. Definisi Dukungan Sosial Menurut Orford (1992), dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, dan penghargaan yang diandalkan pada saat individu mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Menurut Erikson (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2009), individu mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya. Dengan terbukanya

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan

BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan 6 BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Pernikahan 2.1.1. Pengertian Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan adalah nikah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi dengan orang lain. Manusia dianggap sebagai makhluk sosial yang

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi dengan orang lain. Manusia dianggap sebagai makhluk sosial yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia di dunia ini tidak hidup sendiri, selalu ada bersama-sama dan berinteraksi dengan orang lain. Manusia dianggap sebagai makhluk sosial yang dalam kesehariannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kejahatan merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Kejahatan merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Kejahatan merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya istilah kejahatan ini diberikan kepada suatu jenis perbuatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam menjalani kehidupan manusia memiliki rasa kebahagiaan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam menjalani kehidupan manusia memiliki rasa kebahagiaan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam menjalani kehidupan manusia memiliki rasa kebahagiaan dan memiliki rasa kesedihan. Kebahagiaan memiliki tujuan penting di dalam kehidupan manusia. Setiap individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured population) karena dari tahun ke tahun, jumlah penduduk Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya dan tidak mengalami kesepian.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya dan tidak mengalami kesepian. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah lepas dari hubungannya dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial kita memerlukan hubungan interpersonal secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, baik dari sisi usia, status ekonomi maupun jenis kelamin yang dimiliki.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, baik dari sisi usia, status ekonomi maupun jenis kelamin yang dimiliki. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesepian merupakan suatu fenomena yang dapat dialami oleh setiap manusia, baik dari sisi usia, status ekonomi maupun jenis kelamin yang dimiliki. Manusia suatu saat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Loneliness 2.1.1 Definisi Loneliness Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap 7 BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap perkembangan khususnya pada tahapan dewasa muda, hubungan romantis, attachment dan tipe attachment. 2.1 Dewasa

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG

BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG Kesepian merupakan salah satu masalah psikologis yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap manusia pernah menghadapi situasi yang dapat menyebabkan kesepian.

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan dunia hiburan (entertainment) terjadi secara pesat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Perkembangan tersebut membuat media massa dan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA DAN LANSIA PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL Oleh: Dr. Rita Eka Izzaty, M.Si Yulia Ayriza, Ph.D STABILITAS DAN PERUBAHAN ANAK-DEWASA TEMPERAMEN Stabilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran individu lain dalam kehidupannya. Tanpa kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dewasa dikatakan waktu yang paling tepat untuk melangsungkan pernikahan. Hal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dewasa dikatakan waktu yang paling tepat untuk melangsungkan pernikahan. Hal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menikah merupakan salah satu tujuan hidup bagi setiap orang. Usia dewasa dikatakan waktu yang paling tepat untuk melangsungkan pernikahan. Hal tersebut merupakan salah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Fenomena melajang pada era modern ini menjadi sebuah trend baru dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Fenomena melajang pada era modern ini menjadi sebuah trend baru dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fenomena melajang pada era modern ini menjadi sebuah trend baru dalam kehidupan manusia, terutama di kota besar di Indonesia, seperti Jakarta. Sampai saat ini memang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan suatu hal yang sangat penting, diantaranya sebagai sumber dukungan sosial bagi individu, dan juga pernikahan dapat memberikan kebahagiaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lingkungan sering menilai seseorang berdasarkan pakaian, cara bicara, cara berjalan, dan bentuk tubuh. Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan dengan orang lain yang meliputi interaksi di lingkungan sekitarnya. Sepanjang hidup, manusia akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan 13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang hampir tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Namun kalau ditanyakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui tahap intimacy vs isolation. Pada tahap ini, individu berusaha untuk

BAB I PENDAHULUAN. melalui tahap intimacy vs isolation. Pada tahap ini, individu berusaha untuk 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat seseorang memasuki usia dewasa awal, ia mengalami perubahan dalam hidupnya. Pada usia ini merupakan transisi terpenting dalam hidup manusia, dimana remaja mulai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alasan Pemilihan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being menurut Diener (2005). Teori yang dipilih akan digunakan untuk meneliti gambaran

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman menjadi hal hal yang umum. Hubungan

1 BAB I PENDAHULUAN. berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman menjadi hal hal yang umum. Hubungan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perilaku pacaran di Indonesia bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Semakin maraknya pasangan yang berani menunjukan kemesraan di depan publik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. kalangan, baik yang muda maupun yang tua (Baron & Byrne, 2005). Selain itu,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. kalangan, baik yang muda maupun yang tua (Baron & Byrne, 2005). Selain itu, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Cinta merupakan salah satu tema yang sangat akrab dan disukai oleh setiap kalangan, baik yang muda maupun yang tua (Baron & Byrne, 2005). Selain itu, cinta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari hubungannya dengan orang lain. Keberadaan orang lain dibutuhkan manusia untuk melakukan suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial setiap manusia mempunyai dorongan untuk berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai dorongan untuk bersosialisasi.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan membahas tentang landasan teori berupa definisi, dimensi, dan faktor yang berpengaruh dalam variabel yang akan diteliti, yaitu bahasa cinta, gambaran tentang subjek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. identitas dan eksistensi diri mulai dilalui. Proses ini membutuhkan kontrol yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. identitas dan eksistensi diri mulai dilalui. Proses ini membutuhkan kontrol yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Remaja adalah generasi penerus bangsa, oleh karena itu para remaja harus memiliki bekal yang baik dalam masa perkembangannya. Proses pencarian identitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang tidak menyenangkan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang tidak menyenangkan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu pasti melewati segala peristiwa dalam kehidupan mereka. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh setiap individu dapat beragam, dapat berupa peristiwa yang menyenangkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Loneliness (Kesepian) yang kita inginkan dan jenis hubungan sosial yang kita miliki (Perlman & Peplau,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Loneliness (Kesepian) yang kita inginkan dan jenis hubungan sosial yang kita miliki (Perlman & Peplau, BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Loneliness (Kesepian) 1. Defenisi Loneliness Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI DAN CITRA DIRI

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI DAN CITRA DIRI HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI DAN CITRA DIRI DENGAN KESEPIAN PARA ISTRI ANGGOTA TNI SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 oleh : DWI BUDI UTAMI F 100 040

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan menjadi prioritas dalam hidup jika seseorang sudah berada di usia yang cukup matang dan mempunyai

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Remaja dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Memahami Masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa dewasa adalah masa awal individu dalam menyesuaikan diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa dewasa adalah masa awal individu dalam menyesuaikan diri terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa dewasa adalah masa awal individu dalam menyesuaikan diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Pada masa ini, individu dituntut

Lebih terperinci

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga

BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan merupakan ikatan yang terbentuk antara pria dan wanita yang di dalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih sayang, pemenuhan hasrat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996). Mahasiswa yang dimaksud adalah individu yang berada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerimaan diri dibutuhkan oleh setiap individu untuk mencapai keharmonisan hidup, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan oleh Allah SWT tanpa kekurangan.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri baik secara

BAB II LANDASAN TEORI. Harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri baik secara BAB II LANDASAN TEORI A. Harga Diri 1. Definisi harga diri Harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri baik secara positif atau negatif (Santrock, 1998). Hal senada diungkapkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dengan kesempatan untuk pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial tetapi juga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dengan kesempatan untuk pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial tetapi juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja dalam masyarakat industri modern adalah peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja berlangsung dari usia 10 atau 11 tahun sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 101 BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan intimacy melalui wawancara mendalam. Berdasarkan hasil analisis,

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. Penerimaan diri (self-acceptance) menurut Hurlock (1999) adalah tingkat dimana individu

Bab I Pendahuluan. Penerimaan diri (self-acceptance) menurut Hurlock (1999) adalah tingkat dimana individu Bab I Pendahuluan Latar Belakang Masalah Penerimaan diri (self-acceptance) menurut Hurlock (1999) adalah tingkat dimana individu benar-benar mempertimbangkan karakteristik pribadinya dan mau hidup dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi berbagai

Lebih terperinci

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kecenderungan Fanatik 1. Pengertian Kecenderungan Fanatik Kata kecenderungan dalam kamus bahasa Indonesia berasal dari kata cenderung, mempunyai arti tidak tegak lurus, condong,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 4 bagian pertama fase iufentus usia antara tahun, kedua fase verilitas usia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 4 bagian pertama fase iufentus usia antara tahun, kedua fase verilitas usia 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia 1. Pengertian Lansia menurut Masdani (1990 dalam Nugroho, 2000) mengemukakan bahwa lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dari eksistensi manusia di dunia. Kebahagiaan itu sendiri dapat dicapai dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dari eksistensi manusia di dunia. Kebahagiaan itu sendiri dapat dicapai dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Aristoteles (dalam Bertens, 2004) menyebutkan bahwa kebahagiaan merupakan tujuan utama dari eksistensi manusia

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Penyesuaian Diri Penyesuaian berarti adaptasi yang dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa bertahan serta memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia.

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki harapan untuk bahagia dalam kehidupan perkawinannya. Karena tujuan perkawinan

Lebih terperinci

BAB II. Tinjauan Pustaka

BAB II. Tinjauan Pustaka BAB II Tinjauan Pustaka Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang tinjauan pustaka, dimana dalam bab ini peneliti akan menjelaskan lebih dalam mengenai body image dan harga diri sesuai dengan teori-teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keluarga merupakan sistem sosialisasi bagi anak, dimana anak mengalami pola disiplin dan tingkah laku afektif. Walaupun seorang anak telah mencapai masa remaja dimana

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Manusia diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan. Sudah menjadi fitrah manusia yang mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya serta mencari pasangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti

BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti saat masih menjadi teman dekat atau pacar sangat penting dilakukan agar pernikahan bertahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai oleh lawan jenis. menurut

BAB I PENDAHULUAN. memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai oleh lawan jenis. menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai bentuk hubungan sosial. Salah satunya adalah hubungan intim lawan jenis atau hubungan romantis. Hubungan ini dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia menjalani hidupnya dalam berbagai rentang kehidupan. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Manusia menjalani hidupnya dalam berbagai rentang kehidupan. Salah satu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia menjalani hidupnya dalam berbagai rentang kehidupan. Salah satu rentang hidup yang dijalani oleh setiap individu adalah masa dewasa. Papalia (2008) mendefinisikan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gambaran Kepuasan..., Dini Nurul Syakbani, F.PSI UI, 2008

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gambaran Kepuasan..., Dini Nurul Syakbani, F.PSI UI, 2008 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya, orang dewasa menginginkan hubungan cintanya berlanjut ke jenjang perkawinan. Perkawinan memberikan kesempatan bagi individu untuk dapat memenuhi berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan sekelompok manusia yang disatukan oleh jalinan perkawinan, darah atau adopsi yang membentuk sebuah rumah tangga berinteraksi dan berkomunikasi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mempunyai masalah di dalam keluarga. Sebagian besar kasus ditemukan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mempunyai masalah di dalam keluarga. Sebagian besar kasus ditemukan bahwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum penghuni panti asuhan merupakan anak-anak yang mempunyai masalah di dalam keluarga. Sebagian besar kasus ditemukan bahwa para anak asuh berasal dari keluarga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua,

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang senantiasa memerlukan interaksi dengan orang lain. Saat berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak. Dalam. setiap masa perkembangan manusia, kedua orangtua atau keluarga

BAB I PENDAHULUAN. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak. Dalam. setiap masa perkembangan manusia, kedua orangtua atau keluarga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak. Dalam setiap masa perkembangan manusia, kedua orangtua atau keluarga memegang peran untuk memenuhi tugas-tugas

Lebih terperinci