BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL"

Transkripsi

1 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Sidik Jari Jenis Kelamin Suku 3. Defenisi Operasional No. Defenisi Cara Penilaian Alat Ukur Hasil Ukur 1. Kepadatan alur Menghitung Dengan Jumlah alur sidik jari alur epidermal menggunakan sidik jari adalah mulai dari salah plastik dihitung di banyaknya satu sudut segi transparan segi dalam 5 mm. garis-garis empat ke sudut empat sidik jari yang diagonalnya berukuran 5x5 dihitung di yang mm yang dalam 5 mm. berlawanan. ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih. Kemudian diperiksa jumlah alur sidik jari dalam 5 mm dengan Skala Ukur Numerik Satuan Ukur Jumlah alur/5 mm.

2 . Jenis kelamin adalah perbedaan keadaan antara laki-laki dan perempuan. 3. Suku adalah suatu golongan manusia yang anggotaanggotanya mengidentifika sikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. menggunakan kaca pembesar. Wawancara Kuisioner Jenis kelamin: - Laki-laki - Perempuan. Wawancara Kuisioner Suku Melayu, Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh dan Nias. Nominal - Nominal -

3 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan design penelitiannya adalah cross sectional untuk Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari. 4. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilakukan di bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP H. Adam Malik/ RSUD dr. Pirngadi Medan yang dilakukan selama 10 minggu yang dimulai sejak Mei 016 sampai 10 Juli 016 yang meliputi studi kepustakaan, pengumpulan data, pengumpulan sampel, penelitian dan penulisan. 4.3 Populasi dan sampel penelitian Populasi target Semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran di provinsi Sumatera Utara Populasi terjangkau Semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr.

4 Pirngadi Medan yang bersedia menjadi subjek penelitian dan mengikuti ketentuan yang berlaku. Kriteria inklusi 1. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan.. Laki-laki dan perempuan berusia 0-30 tahun. 3. Tidak memiliki luka, cacat ataupun kelainan pada jari-jari kedua tangan yang dapat mengakibatkan pengambilan sidik jari tidak utuh dan lengkap. 4. Bersedia menjadi subjek penelitian. Kriteria eksklusi 1. Bukan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan.. Laki-laki dan perempuan berusia kurang dari 0 tahun atau lebih dari 30 tahun. 3. Memiliki luka, cacat ataupun kelainan pada jari-jari kedua tangan yang dapat mengakibatkan pengambilan sidik jari tidak utuh dan lengkap. 4. Tidak bersedia menjadi subjek penelitian Perkiraan sampel penelitian Teknik dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan consecutive sampling, yaitu semua subyek yang datang secara berurutan dan

5 memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. 18 Untuk menentukan besar sampel minimal yang diperlukan digunakan rumus berikut: n = (Z1 α/) (PQ) d n = besar sampel minimal. Z1 α/ = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α 5% = 1,96. P = referensi yaitu proporsi orang dengan >1 alur/5 mm = 77% = 0,77 Q = 1 P = 1 0,77 = 0,3. d = perkiraan koefisien korelasi (0,05). Hasil perhitungan diperoleh n = 7,13. Maka besar sampel adalah 73 orang. 4.4 Variabel penelitian 18 Variabel tergantung Variabel bebas : Jenis kelamin dan suku. : Kerapatan alur sidik jari. 4.5 Izin Subjek Penelitian Semua pengukuran yang dilakukan telah mendapat izin dari subjek penelitian setelah terlebih dahulu mendapat penjelasan tentang maksud, tujuan, cara, manfaat dan resiko dari penelitian yang dilakukan sesuai dengan Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian (terlampir), selanjutnya persetujuan/izin dari

6 subjek (Informed Consent) dilakukan pada Lembaran Persetujuan Subjek Penelitian (terlampir). 4.6 Etika Penelitian Penelitian yang dilakukan telah mendapat persetujuan komisi etik Health Research Ethical Committee of North Sumatera c/o Medical School, Universitas Sumatera Utara Tentang Pelaksanaan Penelitian Bidang Kesehatan, Nomor: 44/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/016 (terlampir). 4.7 Instrumen penelitian 1. Peralatan yang diperlukan untuk pengambilan sidik jari meliputi: a) Tinta daktiloskopi, sejenis tinta cetak hitam yang dicampur dengan minyak sehingga tinta cepat kering. Merk tinta yang dipergunakan adalah Fingerprint Black Ink. b) Plat kaca, ukuran ± 1x8 cm, tempat tinta daktiloskopi diratakan. Dapat juga digunakan bahan-bahan tak berpori seperti porselin dan plastik. c) Roller, sepotong karet bulat berdiameter ± cm dan panjang ± 5-6 cm digunakan untuk meratakan (menggulingkan) tinta daktiloskopi pada plat kaca. Merk roller yang dipergunakan adalah Roll-Ease Fingerprint Ink Roller ukuran 3 inchi. d) Kartu sidik jari, dibuat dari kertas tebal licin berukuran 0x0 cm. e) Loop (kaca pembesar) ukuran 75 mm dengan merk Classic Magnifier 75.. Peralatan yang diperlukan untuk penghitungan kerapatan alur sidik jari: a) Lembar data hasil penghitungan kerapatan alur sidik jari subjek penelitian (terlampir).

7 b) Sebuah segi empat berukuran 5x5 mm digambar pada plastik transparan dan ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih. 4.8 Cara Kerja Penelitian 1. Pengumpulan data subjek penelitian dilakukan meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa, dan alamat.. Pemeriksaan terhadap kondisi jari-jari kedua tangan untuk kelayakan pengukuran yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. 3. Pengambilan kesepuluh sidik jari kedua tangan dengan menggunakan alat penelitian oleh peneliti yang didampingi oleh seorang petugas bagian Identifikasi dari Kepolisian (INAFIS) sebagai konsultan. 4. Penghitungan kerapatan alur sidik jari dengan menggunakan alat penelitian. 5. Menentukan mean kerapatan alur sidik jari dari kesepuluh sidik jari setiap subjek penelitian 4.9 Batasan Operasional 1. Langkah-langkah pengambilan sidik jari: a) Subjek diminta untuk mencuci bersih tangan mereka. b) Tuangkan sejumlah tetes tinta daktiloskopi di atas plat kaca. Ratakan tinta tersebut dengan roller yang digerakkan maju-mundur. Usahakan tinta tidak terlalu tebal. c) Berikan blanko kartu sidik jari pada orang yang hendak diambil sidik jarinya untuk ditulis nama serta keterangan-keterangan yang diperlukan.

8 d) Tekankan jari-jari tersebut satu kali saja pada kartu sidik jari sesuai dengan kolomnya masing-masing. Jari ditekan dengan tekanan sedang dan sidik jari ke-10 jari tangan diambil. e) Setelah selesai pengambilan sidik jari, berikan pada oranga yang bersangkutan alat pembersih tangan seperti ink cleaner, bensin, atau sabun dan kain lap.. Langkah-langkah penghitungan kepadatan alur sidik jari: a) Bagian atas pada batas radial dari cetakan sidik jari dipilih sebagai daerah untuk dianalisa karena pada semua jenis pola sidik jari menunjukkan kesamaan arah alur pada area tersebut. Metode ini berfungsi untuk mengisolasi alur dalam area yang telah ditentukan untuk dapat dilakukan proses penghitungan alur pada sidik jari. Sebuah segi empat berukuran 5x5 mm digambar pada plastik transparan dan ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih. b) Hitung alur epidermal mulai dari salah satu sudut segi empat ke sudut diagonalnya yang berlawanan. Titik (dot) tidak dihitung. Garpu (fork) dihitung sebagai dua alur tidak termasuk pegangannya dan danau dihitung sebagai dua alur. Nilai ini mewakili jumlah alur di dalam 5 mm dan mencerminkan nilai kepadatan alur. c) Nilai kepadatan alur diambil untuk ke-10 jari dan meannya dihitung. Nilai ini merupakan satu data tunggal untuk tiap individu.

9 4.10 Pengolahan dan analisa data Setelah semua data terkumpul maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahapan, yaitu: 1. Editing yaitu memeriksa kelengkapan data yang diperoleh untuk menghindari bias.. Coding yaitu pemberian tanda pada data untuk mempermudah waktu pengadaan tabulasi dan analisa. 3. Cleaning data yaitu pemeriksaan kembali semua data yang telah dikumpulkan guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data. 4. Saving yaitu penyimpanan data untuk dianalisa. 5. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Stata. Analisis data meliputi univariat untuk melihat karakteristik jenis kelamin dan suku. Statistik analitik digunakan untuk menghitung nilai duga positif, nilai duga negatif, dan likelihood ratio kepadatan alur sidik jari dalam menentukan jenis kelamin.

10 BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian penentuan jenis kelamin berdasarkan sidik jari ini dilakukan terhadap 76 orang (157 orang laki-laki dan 119 orang perempuan) dari periode bulan Maret 016 sampai dengan bulan Juni 016 dan disusun dalam tabel induk (lihat lampiran) dengan kolom isian: nomor urut, nomor identifikasi, jenis kelamin, suku, dan rerata kerapatan alur sidik jari per 5 mm. Berikut ini dipaparkan perincian tabel dan data deskriptifnya Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.1. Tabel 5.1 Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persenatase (%) 1. Laki-laki ,9. Perempuan ,1 Total Dari 76 subjek penelitian ini didapatkan laki-laki lebih banyak dari perempuanya itu jumlah subjek laki-laki 157 orang (56,7%) dan perempuan 119 orang (43,1%) Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Suku Distribusi subjek penelitian berdasarkan suku dapat dilihat pada tabel 5.. Tabel 5. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Suku No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persenatase (%) 1. Batak 116 4,0. Melayu 65 3,6 3. Jawa 57 0,7 4. Minang 16 5,8 5. Aceh 15 5,4 6. Nias 7,5

11 Dari tabel 5. di atas dapat dilihat bahwa suku dengan jumlah subjek yang terbanyak adalah suku Batak yaitu 116 orang (4,0%) dan jumlah subjek yang paling sedikit adalah suku Nias yaitu hanya berjumlah 7 orang (,5%). Jumlah subjek suku Melayu adalah 65 orang (3,6%), suku Jawa 57 orang (0,7%), suku Minang 16 orang (5,4%) dan suku Aceh 15 orang (,5%) Distribusi Suku Berdasarkan Jenis Kelamin Distribusi suku berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari tabel 5.3. Tabel 5.3 Distribusi Suku berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin No. Suku Laki-laki Perempuan n % n % 1. Batak 60 51, ,3. Melayu 38 58,5 7 41,5 3. Jawa 39 68, ,6 4. Minang 6 37,5 10 6,5 5. Aceh 9 60,0 6 40,0 6. Nias 5 71,4 8,6 Dari data penelitian ini diketahui bahwa dari 116 orang suku Batak didapati 60 orang laki-laki (51,7%) dan perempuan 56 orang (48,3%). Dari 65 orang suku Jawa didapati 38 orang laki-laki (58,5%) dan perempuan 7 orang (41,5%), dari 57 orang suku Jawa didapati 39 orang laki-laki (68,4%) dan 18 orang perempuan(31,6%), dari 16 orang suku Minang didapati 6 orang laki-laki (37,5%) dan 10 orang perempuan (6,5%), dari 15 orang suku Aceh didapati 9 orang lakilaki (60,0%) dan 6 orang perempuan (40,0%), dan dari 7 orang suku Nias didapati 5 orang laki-laki (71,4%) dan orang perempuan (8,6%) Rerata Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm Rerata kerapatan alur sidik jari per 5 mm dapat dilihat pada tabel 5.4.

12 Tabel 5.4 Rerata Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm No Alur Sidik Jari Rerata Simpangan Baku (alur/5 mm ) (alur/5 mm ) 1. Kerapatan alur sidik jari 11,68 1,6 Dari data penelitian ini diketahui bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari per 5 mm adalah 11,68 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,6 alur sidik jari/5 mm. 5. Analisis Bivariat 5..1 Hubungan Antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm dengan Jenis kelamin Hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dilihat pada tabel 5.5. Tabel 5.5 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm Jenis Kelamin dengan jenis kelamin dapat dengan No Jenis Kelamin Rerata Simpangan Baku P-value* (alur/5 mm ) (alur/5mm ) 1. Laki-laki 11,3 1,18 0, Perempuan 1,9 1,10 *P-value menggunakan uji Mann-Whitney U Dari data penelitian ini diketahui bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari pada subjek dengan jenis kelamin laki-laki adalah 11,3 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,18 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan pada subjek penelitian jenis kelamin perempuan didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari 1,9 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,10 alur sidik jari/5 mm. Dengan P- value yang didapatkan dari data tersebut adalah 0,00001 maka dapat diambil

13 kesimpulan bahwa ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin. 5.. Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm dengan Suku Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm dengan Suku dapat dilihat pada tabel 5.6. Tabel 5.6 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm Suku dengan P-value* No Suku Rerata Simpangan Baku (alur/5 mm ) (alur/5 mm ) 1. Batak 11,81 1,36. Melayu 11,69 1, 3. Jawa 11,40 1,10 4. Minang 1,09 1,13 0, Aceh 11,43 1,1 6. Nias 11,9 1,44 *P-value menggunakan uji Krukal-Wallis Dari data pada tabel 5.6 didapati bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari pada subjek suku Batak adalah 11,81 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,36/5 mm. Pada suku Melayu didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,69 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,/5 mm. Pada suku Jawa didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,40 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,10/5 mm. Pada suku Minang didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 1,09 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,13/5 mm. Pada suku Aceh didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,43 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,1/5 mm. Dan pada suku Nias didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,9 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,44/5 mm. P-value yang

14 didapatkan dari data tersebut 0,334 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan suku Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm dengan Jenis Kelamin berdasarkan Suku Hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dengan jenis kelamin berdasarkan suku dapat dilihat pada tabel 5.7. Tabel 5.7 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 5 mm dengan Jenis Kelamin berdasarkan Suku Rerata Simpangan Baku No Suku (alur/mm P-value* ) (alur/mm ) 1. Batak Laki-laki 11,31 1,30 0,00001 Perempuan 1,36 1,0. Melayu Laki-laki 11,01 0,96 0,00001 Perempuan 1,64 0,89 3. Jawa Laki-laki 11,04 1,04 0,0003 Perempuan 1,19 0,78 4. Minang Laki-laki 1,45 1,35 0,5 Perempuan 11,87 0,98 5. Aceh Laki-laki 11,51 1,08 0,860 Perempuan 11,30 1,8 6. Nias Laki-laki 11,3 1,65 1,000 Perempuan 11,0 1,7 *P-value menggunakan uji Mann-Whitney U Dari tabel 5.7 didapatkan bahwa pada suku Batak, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,31 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,30 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 1,36 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,0 alur sidik jari/5 mm. P-value yang didapatkan adalah 0,00001.

15 Pada suku Melayu, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,01 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 0,96 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 1,64 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 0,89 alur sidik jari/5 mm. P-value yang didapatkan adalah 0, Pada suku Jawa, rata-rata kerapatan alur sidik jari padalaki-laki adalah 11,04 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,04 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 1,19 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 0,98 alur sidik jari/5 mm. P-value yang didapatkan adalah 0,0003. Pada suku Minang, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 1,45 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,35 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,87 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,8 alur sidik jari/5 mm. P-value yang didapatkan adalah 0,5. Pada suku Aceh, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,51 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,08 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,30 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,8 alur sidik jari/5 mm. P-value yang didapatkan adalah 0,860. Pada suku Nias, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,3 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,65 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,0

16 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,7 alur sidik jari/5 mm. P- value yang didapatkan adalah 1,000. Dari data-data pada tabel 5.7 maka dapat disimpulkan pada suku Batak, Melayu dan Jawa berdasarkan P-value pada masing-masing suku bahwa ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari/5 mm dengan jenis kelamin berdasarkan suku. Sedangkan pada suku Minang, Aceh sertanias berdasarkan P- valuenya diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dengan jenis kelamin berdasarkan suku.

17 BAB 6 PEMBAHASAN Jumlah subjek pada penelitian ini adalah 76 orang dimana jumlah subjek laki-laki 157 orang (56,7%) dan perempuan 119 orang (43,1%). Berdasarkan suku maka subjek penelitian ini terdiri dari suku Batak 116 orang (4,0%), suku Melayu 65 orang (3,6%), suku Jawa 57 orang (0,7%), suku Minang 16 orang (5,4%), suku Aceh 15 orang (,5%) dan suku Nias 7 orang (,5%). Dari data penelitian ini diketahui bahwa dari 116 orang suku Batak didapati 60 orang laki-laki (51,7%) dan perempuan 56 orang (48,3%). Dari 65 orang suku Jawa didapati 38 orang laki-laki (58,5%) dan perempuan 7 orang (41,5%), dari 57 orang suku Jawa didapati 39 orang laki-laki (68,4%) dan 18 orang perempuan (31,6%), dari 16 orang suku Minang didapati 6 orang laki-laki (37,5%) dan 10 orang perempuan (6,5%), dari 15 orang suku Aceh didapati 9 orang laki-laki (60,0%) dan 6 orang perempuan (40,0%), dan dari 7 orang suku Nias didapati 5 orang laki-laki (71,4%) dan orang perempuan (8,6%). Penelitian tentang penentuan jenis kelamin berdasarkan kepadatan alur sidik jari telah banyak lakukan oleh para peneliti di luar negeri antara lain oleh Sudesh Gungadin di India pada tahun 006 7, Vinod C. Nayak MD dkk untuk populasi India pada tahun 007, Intira Suthiprapha dkk pada orang Thailand pada tahun 010 4, dan Lalit Kumar dkk untuk daerah Uttarakhand di India pada tahun Di dalam penelitiannya, Vinod C. Nayak MD dkk mendapatkan bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari 1 alur/5 mm cenderung berasal dari laki-

18 laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari > 1 alur/5 mm cenderung dari perempuan. Hasil penelitian Sudesh Gungadin di India pada tahun 006 didapatkan bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari 13 alur/5 mm cenderung berasal dari laki-laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari > 14 alur/5 mm cenderung dari perempuan. Hasil penelitian Intira Suthiprapha dkk pada orang Thailand pada tahun didapatkan bahwa persentasi terbanyak laki-laki yaitu 31,54% dengan 15 alur/5 mm dan sebanyak 6,9% pada perempuan dengan 16 alur/5 mm. Lalit Kumar dkk untuk daerah Uttarakhand di India pada tahun 013 mendapatkan hasil penelitian yaitu bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari 1 alur/5 mm cenderung berasal dari laki-laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari 3 > 14 alur/5 mm cenderung dari perempuan. Dari penelitian-penelitian tersebut didapatkan bahwa jumlah alur sidik jari pada perempuan kecenderungan lebih banyak dibandingkan pada laki-laki. Pada penelitian ini didapatkan rata-rata kerapatan alur sidik jari per 5 mm adalah 11,68 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,6 alur sidik jari/5 mm. Rata-rata kerapatan alur sidik jari pada subjek dengan jenis kelamin laki-laki adalah 11,3 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,18 alur sidik jari/5 mm. Sedangkan pada subjek penelitian jenis kelamin perempuan didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari 1,9 alur sidik jari/5 mm dengan simpangan baku 1,10 alur sidik jari/5 mm. Dari analisis bivariat yang dilakukan pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5mm dengan jenis kelamin maka didapatkan bahwa ada

19 hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin (tabel 5.5) yang didapatkan dari nilai P-value 0,00001 dimana P-value < 0,05 menunjukkan adanya hubungan intervariabel. Sedangkan pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dengan suku didapatkan nilai P-value 0,334 (tabel 5.6) yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dengan suku. Pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5mm dengan jenis kelamin pada suku Batak, Melayu, dan Jawa (pada tabel 5.7) didapatkan P- value < 0,05 pada masing-masing suku tersebut yang berarti menunjukkan adanya hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin pada suku Batak, Melayu dan Jawa. Sedangkan pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 5 mm dengan jenis kelamin pada suku Minang, Aceh dan Nias (tabel 5.7) didapatkan P-valuenya > 0,05 yang dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin pada suku Minang, Aceh serta Nias. Dijumpainya perbedaan hasil pada suku-suku asli Indonesia di Medan ini mungkin disebabkan karena kurangnya jumlah subjek penelitian untuk suku Minang, Aceh dan Nias dan tidak meratanya jumlah subjek untuk tiap-tiap suku.

20 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Kepadatan alur sidik jari <1 alur sidik jari/5 mm cenderung berjenis kelamin laki-laki.. Kepadatan alur sidik jari 1 alur sidik jari/5 mm kelamin perempuan. 3. Kepadatan alur sidik jari berdasarkan suku-suku asli Indonesia di Medan tidak ada perbedaan yang signifikan. cenderung berjenis 7. Saran 1. Peran pemeriksaan sidik jari yang unik dan khas dapat dijadikan sebagai alat identifikasi yang sederhana dan murah sehingga di masa yang akan datang diharapkan pengembangan dan penelitian bidang ini lebih luas lagi sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.. Pemeriksaan sidik jari dengan memanfaatkan alur sidik jari dapat digunakan untuk penentuan jenis kelamin seseorang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alat identifikasi forensic, sedangkan untuk penentuan suku berdasarkan alur sidik jari masih belum bisa ditentukan. Mungkin dengan ditambahnya jumlah subjek penelitian dan bentuk penelitian yang lebih baik lagi akan dapat memberikan hasil yang lebih bermakna.

BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 31 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup penelitian bidang Ilmu Kesehatan Anak dan Ilmu Gizi, khususnya pengukuran status gizi antropometri. 4.2

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam khususnya Ilmu

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam khususnya Ilmu BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam khususnya Ilmu Geriatri dan Ilmu Kesehatan Jiwa. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang nutrisi,

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang nutrisi, BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang nutrisi, penyakit metabolik dan perinatologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 2. Ilmu gizi, khususnya bidang antropometri. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan : Ilmu Kesehatan Anak (bagian tumbuh kembang. anak)

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan : Ilmu Kesehatan Anak (bagian tumbuh kembang. anak) BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan : Ilmu Kesehatan Anak (bagian tumbuh kembang anak) 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Ruang lingkup tempat : TPA/PAUD di Semarang

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Geriatri. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam khususnya Ilmu 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah merupakan penelitian analitik observasional dengan

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah merupakan penelitian analitik observasional dengan 27 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang (cross sectional). 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik (non-eksperimental)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik (non-eksperimental) III. METODE PENELITIAN III.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik (non-eksperimental) dengan pendekatan Cross Sectional, yaitu studi ini mencakup semua jenis penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang ilmu kedokteran khususnya ilmu Obstetri Ginekologi dan ilmu Fisiologi. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan penelitian ini mencakup bidang Ilmu Patologi Klinik, dan Ilmu Gizi Klinik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan hanya satu kali, pada satu saat (Sastroasmoro & Ismael, 2011).

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan hanya satu kali, pada satu saat (Sastroasmoro & Ismael, 2011). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Desain penelitian adalah metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian yang pengukuran variabel variabelnya

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. 1. Ruang lingkup tempat. Bandarharjo, Semarang.

BAB IV METODE PENELITIAN. 1. Ruang lingkup tempat. Bandarharjo, Semarang. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. 4.2 Tempat dan waktu penelitian 1. Ruang lingkup tempat Penelitian ini dilakukan di Sentra

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian 3.1.1 Ruang Lingkup Keilmuan Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Bedah. 3.1.2 Ruang Lingkup Waktu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini mempelajari dinamika korelasi antara faktor

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi. Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Rowosari, Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi. Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Rowosari, Semarang. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi 2. Ilmu Gizi, khususnya perhitungan asupan energi dan pengukuran status gizi antropometri 3.2 Tempat

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 34 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. 1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. 4. 2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup disiplin ilmu penyakit dalam sub bagian endokrinologi 4.2 Tempat dan waktu penelitian 1. Tempat penelitian :

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik.

BAB IV METODE PENELITIAN. khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1.

Lebih terperinci

Sikap Sikap adalah perilaku wanita terhadap pemeriksaan mammografi a. Cara Ukur : metode angket

Sikap Sikap adalah perilaku wanita terhadap pemeriksaan mammografi a. Cara Ukur : metode angket BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan Tentang Mammografi Sikap Terhadap Mammografi Wanita 3.2. Definisi Operasional 3.2.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup disiplin Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut dan Ilmu Kandungan dan Kebidanan. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang variabel

BAB III METODE PENELITIAN. dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang variabel BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang variabel independen dan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode analitik komparatif dengan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode analitik komparatif dengan 43 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analitik komparatif dengan pendekatan Cross Sectional, dimana data antara variabel independen dan dependen akan dikumpulkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian ini digunakan

BAB III METODE PENELITIAN. sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian ini digunakan 29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan crosssectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamik korelasi antara

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang ilmu kedokteran terutama bidang fisiologi. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya Fisiologi

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya Fisiologi BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya Fisiologi Olahraga. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Mata. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. Semarang. periode Mei Juni 2014

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. Semarang. periode Mei Juni 2014 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian - Tempat : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang - Waktu

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN 36 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Gizi 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di area

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain 39 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas atau risiko dan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup tempat : RSIA. Hermina Pandanaran Semarang. Indonesia.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup tempat : RSIA. Hermina Pandanaran Semarang. Indonesia. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup Anak. Disiplin ilmu yang digunakan dalam ini adalah Ilmu Kesehatan 4.2 Tempat dan waktu Ruang lingkup tempat : RSIA. Hermina Pandanaran Semarang Indonesia. Ruang

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang keilmuan Ilmu Kesehatan Anak dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. 4.2 Tempat dan waktu penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Mulut. Ruang lingkup penelitian ini pencakup bidang Ilmu Penyakit Gigi dan 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di sentra Pengasapan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi Mulut dan Ilmu Kedokteran Forensik. 4.2. Tempat dan waktu penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis. Bagian /SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang mulai 1

BAB IV METODE PENELITIAN. Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis. Bagian /SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang mulai 1 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Disiplin ilmu yang terkait dengan penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penyakit Gigi dan Mulut dan Ilmu Penyakit Dalam.

BAB IV METODE PENELITIAN. Penyakit Gigi dan Mulut dan Ilmu Penyakit Dalam. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini meliputi Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut dan Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Fisiologi dan Kedokteran Olahraga. rancangan one group pre- and post-test design.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Fisiologi dan Kedokteran Olahraga. rancangan one group pre- and post-test design. 19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Fisiologi dan Kedokteran Olahraga. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini sudah dilaksanakan pada bulan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam. Semarang Jawa Tengah. Data diambil dari hasil rekam medik dan waktu

BAB IV METODE PENELITIAN. Bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam. Semarang Jawa Tengah. Data diambil dari hasil rekam medik dan waktu BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan di Puskesmas Ngesrep, Puskesmas Srondol,

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan di Puskesmas Ngesrep, Puskesmas Srondol, BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Kesehatan Anak. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian telah dilakukan di Puskesmas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 32 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional, dimana data pengukuran tekanan darah dan mean arterial blood

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pasien penyakit ginjal kronik ini mencakup ilmu penyakit dalam.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pasien penyakit ginjal kronik ini mencakup ilmu penyakit dalam. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian mengenai hubungan lama hemodialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik ini mencakup ilmu penyakit dalam. 3.2 Tempat

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu pendidikan kedokteran. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. ditetapkan di Ruang Pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Dr.

BAB IV METODE PENELITIAN. ditetapkan di Ruang Pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Dr. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang ilmu Anestesia. Lokasi penelitian ditetapkan di Ruang Pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian mencakup bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana 39 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana dimana antara variabel bebas dan terikat diukur pada waktu yang bersamaan.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Dilaksanakan pada bulan Maret Juni 2015 di klinik VCT RSUP Dr.

BAB IV METODE PENELITIAN. Dilaksanakan pada bulan Maret Juni 2015 di klinik VCT RSUP Dr. BAB IV METODE PENELITIAN 2.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Saraf dan Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis. 2.2 Tempat dan waktu penelitian Dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Medikolegal serta Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang yang memberikan ijin untuk dilakukannya penelitian.

BAB IV METODE PENELITIAN. Medikolegal serta Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang yang memberikan ijin untuk dilakukannya penelitian. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal serta Ilmu Kesehatan Masyarakat. 4.2 Tempat dan waktu penelitian 4.2.1 Tempat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. - Tempat : Ruang Skill Lab Gedung E Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro Semarang. bulan April Mei 2016.

BAB III METODE PENELITIAN. - Tempat : Ruang Skill Lab Gedung E Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro Semarang. bulan April Mei 2016. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang ilmu anatomi dan kinesiologi. 3.2 Tempat dan waktu penelitian - Tempat : Ruang Skill Lab Gedung E Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Semarang dalam kurun waktu Mei Juni pada tahun 2015.

BAB IV METODE PENELITIAN. Semarang dalam kurun waktu Mei Juni pada tahun 2015. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Rumah Sakit

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Universitas Diponegoro Tembalang dan Lapangan Basket Pleburan, Semarang.

BAB IV METODE PENELITIAN. Universitas Diponegoro Tembalang dan Lapangan Basket Pleburan, Semarang. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi dan Ilmu Kedokteran Olahraga. 4.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian campuran atau mixed

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian campuran atau mixed BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian campuran atau mixed method. Pendekatan penelitian mixed method merupakan pendekatan yang mengkombinasikan atau

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilakukan adalah RSUP Dr. Kariadi Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilakukan adalah RSUP Dr. Kariadi Semarang. 18 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian respirologi. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kesehatan anak, sub ilmu 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di TPA/PAUD dan TK di wilayah kota Semarang pada

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di TPA/PAUD dan TK di wilayah kota Semarang pada 32 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Anak. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Kesehatan 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di TPA/PAUD

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Bedah khususnya Bedah Ortopedi.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Bedah khususnya Bedah Ortopedi. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Bedah khususnya Bedah Ortopedi. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat dan waktu penelitian akan dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Tropis. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juni

Lebih terperinci

Setuju dalam mengikuti penelitian

Setuju dalam mengikuti penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Anatomi dan Ilmu Kedokteran Olahraga 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat SMA 3 Semarang 3.2.2 Waktu

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan III. METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan Cross Sectional, dimana data antara variabel independen dan dependen akan dikumpulkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Kampus Fakultas Kedokteran Undip pada

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Kampus Fakultas Kedokteran Undip pada BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Anatomi, Kinesiologi dan Ergonomi. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan meliputi Anestesiologi dan terapi intensive. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat penelitian Tempat penelitian adalah

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Mata dan Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang lingkup keilmuan : Ilmu Kulit dan Kelamin 2. Ruang lingkup tempat : RSUD Tugurejo Semarang 3. Ruang lingkup waktu : Periode Agustus September

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional.

BAB III METODE PENELITIAN. perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional. Cross sectional

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kesehatan jiwa.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kesehatan jiwa. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu kesehatan jiwa. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN 25 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian meliputi disiplin Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik, dan Ilmu Gigi Mulut. 4.2 Tempat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan rancangan penelitian case control, yaitu untuk mempelajari

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan rancangan penelitian case control, yaitu untuk mempelajari BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan survei analitik dengan menggunakan rancangan penelitian case control, yaitu untuk mempelajari dinamika pengaruh antara

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Bedah Digestif

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Bedah Digestif BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Bedah Digestif 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2014 di RSUP Dr.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di tempat tinggal masing-masing subjek penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di tempat tinggal masing-masing subjek penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian kelamin. Penelitian ini berada dalam lingkup bidang ilmu kesehatan kulit dan 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di tempat tinggal

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. khususnya Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Psikiatri

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. khususnya Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Psikiatri BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Psikiatri 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan belah lintang (crosssectional)

BAB IV METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan belah lintang (crosssectional) BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Desain penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan belah lintang (crosssectional) dimana peneliti melakukan pengukuran variabel pada saat tertentu. Setiap

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. wilayah kerja Puskesmas Ngesrep, Semarang, pada bulan Juni 2015.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. wilayah kerja Puskesmas Ngesrep, Semarang, pada bulan Juni 2015. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ginekologi. Ruang lingkup dari penelitian ini meliputi bidang ilmu Obstetri dan 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Kelurahan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini tercakup dalam bidang kesehatan gigi dan mulut. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. Bandarharjo, Kota Semarang Jawa Tengah.

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. Bandarharjo, Kota Semarang Jawa Tengah. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penilitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. 4.2 Tempat dan waktu penelitian 1. Ruang lingkup tempat Penelitian ini dilakukan di Sentra

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September sampai dengan. Desember 2013 di beberapa SMP yang ada di Semarang.

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September sampai dengan. Desember 2013 di beberapa SMP yang ada di Semarang. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup disiplin ilmu dari penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. cross-sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

BAB 3 METODE PENELITIAN. cross-sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan 27 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres mahasiswa

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 4-5 Sekolah Dasar Negeri di

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 4-5 Sekolah Dasar Negeri di 22 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup Penelitian Ruang lingkup disiplin ilmu dari penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak dan Fisiologi. 4.2 Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan desain

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan desain 49 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan desain penelitian cross sectional yang bertujuan untuk menggali apakah terdapat perbedaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. clearance disetujui sampai jumlah subjek penelitian terpenuhi. Populasi target penelitian ini adalah pasien kanker paru.

BAB III METODE PENELITIAN. clearance disetujui sampai jumlah subjek penelitian terpenuhi. Populasi target penelitian ini adalah pasien kanker paru. 40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Onkologi Medik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr.

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 28 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah: Variabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan belah lintang ( cross sectional ). 3.2. Ruang lingkup

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya

BAB IV METODE PENELITIAN. 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Fisiologi, khususnya Fisiologi Olahraga. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik-komparatif,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik-komparatif, 38 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik-komparatif, yakni mempelajari perbandingan variabel-variabel dengan menggunakan pendekatan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Neurologi dan Imunologi.

BAB IV METODE PENELITIAN. 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Neurologi dan Imunologi. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Neurologi dan Imunologi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah dilakukan di Instalasi Rawat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan 39 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional, dimana data pengukuran pengetahuan, sikap dan kebiasaan minum

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ilmu Kesehatan Anak dan Farmakologi. dari instansi yang berwenang.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ilmu Kesehatan Anak dan Farmakologi. dari instansi yang berwenang. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Pada penelitian ini, disiplin ilmu yang dipakai meliputi bidang Ilmu Kesehatan Anak dan Farmakologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Ruang lingkup

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian dan Kelamin. Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Kulit 3.2 Tempat dan waktu penelitian Semarang. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sectional. Pada penelitian cross sectional, pengumpulan data dilakukan pada

BAB III METODE PENELITIAN. sectional. Pada penelitian cross sectional, pengumpulan data dilakukan pada BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian cross sectional, pengumpulan data dilakukan pada satu titik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode rancangan cross sectional (studi potong lintang). Penelitian ini bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Perinatologi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi / FK UNDIP Semarang. 4.2 Tempat

Lebih terperinci

BAB IV METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. RSUP Dr. Kariadi Semarang

BAB IV METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. RSUP Dr. Kariadi Semarang BAB IV METODA PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu gizi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian - Tempat : Instalasi Geriatri Paviliun Lanjut Usia Prof. Dr. Boedhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup ilmu kedokteran jiwa. Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup ilmu kedokteran jiwa. Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup ilmu kedokteran jiwa. 3.2 Tempat dan waktu penelitian 3.2.1 Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Kampus

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang SMF Kardiologi dan Kedokteran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang SMF Kardiologi dan Kedokteran BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular serta SMF Rehabilitasi Medik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Mata dan CDC RSUP dr. one group pretest and posttest design.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Mata dan CDC RSUP dr. one group pretest and posttest design. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Mata. 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Mata dan CDC

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian observasional analitik adalah penelitian yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan penelitian adalah Ilmu Biologi dan Kesehatan Masyarakat. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan

Lebih terperinci