mm,u 101 Rancang Bangun sistem Insentif untuk Meningkatkan pendapatan petani, Efisiensi Penggunaan Air dan Ketahanan pangan. Bambang ruanda 108

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "mm,u 101 Rancang Bangun sistem Insentif untuk Meningkatkan pendapatan petani, Efisiensi Penggunaan Air dan Ketahanan pangan. Bambang ruanda 108"

Transkripsi

1 'Y {.9--r {'A/ A t t. } mm,u SSN: P.-{f,ff* trmdoxlesfla Volume 77 No, 2 Agustus 2O2 Analss Efsens Energ Bahan Bakar Sekam dan Kayu pada proses Sterlsas Meda Tumbuh Jamur Ttram puth. Abdul Djaml lusn, rzaman, Jajang Juansah, T. Umrh, K.P. Hendratno, E. Rahmadan, s, Effendy...: Analss Raso Energ Daur Ulang Panas pada Produks Bodsel Secara Nonkatltk. Armansyah H. Tambunan, Furqon, Joelanngsh, Tetsuya Arak, Hrosh Nabetan 93 Pengembangan dan Aplkas Geonformatka Bayesan pada Data Kemsknan d ndonesa (stud Kasus Jawa Jjmur). Asep saefuddn, Aj Hamm wgena, Nunung Nuryartono 101 Rancang Bangun sstem nsentf untuk Menngkatkan pendapatan petan, Efsens Penggunaan Ar dan Ketahanan pangan. Bambang ruanda 108 Pengembangan Pupuk Car Ntrogen Berskala Nanometer (Nanoferttzer) untuk Menngkatkan Efsens Pemupukan. Deden saprudn, Munf Gulamahd, Wwk Hartatk, lfa Nurasyah...,... LL Karaktersas Morfolog dan Fsolog untuk Mendapatkan Marka Morfolog dan Fsolog Pad Sawah Tahan Kekerngan (-30 kpa) dan Produktvtas Tngg (>B t/ha). Eko Sulstyono, Suwarno, kandar Lubs 124 Desan Kelembagaan Usaha Hutan Rakyat untuk Mewujudkan Kelestaran Hutan Masyarakat Pedesaan. Hardjanto, Yulus Hero, Son Trson., Speses Nematoda Puru Akar (Melodogyne spp.) yang Berasosas dengan penyakt umb Bercabang pada wortel: penyakt Baru ndonela. Supramana, Gede Suastka 138 Pengelolaan Penggunaan Lahan untuk Stablsas Tepan Hutan Trops Menggunakan Agent-based Land-use Modellng. Sura Darma Targan, Kerstn Wegand 143 dentfkas Perubahan Mutu selama penympanan Buah Manggs Menggunakan Near nfra Red spectroscopy; sutrsno, Ars purwantor- Emmy Darmawat, Enrco Syaefullah 152 Pendugaan Parameter Demograf dan Bentuk Sebaran Spasal Bawak Komodo (Varanus komodoenss Ouwens 1912) d Pulau Rnca, Taman Nasonal Komodo. Yanto santosa, R. Yos Zanal Muhammad, Dede Aula Rahman 159 dan Kelestaran Usaha dalam upaya pengentasan Kemsknan d y.

2 )urmax nxnmu Per'famam nmdomesf,a Jurnal llmu Peftanan ndonesa (JP) dterbtkan tga kal setahun pada bulan Aprl, Agustus, dan Desember oleh nsttut Pertanan Bogor (PB). Harga langganan per eksemplar adalah Rp.40.0,untuk dosen dan masyarakat umum, Rp.25.0,- untuk mahasswa dan $6. bag pembaca d luar ndonesa (dtambah $4. untuk pengrman melalu pos laut). Permntaan langganan dkrmkan kepada Dewan Edtor Jurnal JP d/a Lembaga Feneltan dan PengaMan kepada Masyarakat (LPPM) PB, Gedung Rektorat PB And Hakm Nasoeton, t.3, Kampus PB Darmaga, Bogor 16680; telpon dan ; atau ke emal: Pembayaran d muka, ke bank BN Cabang Bogor R/C No a.n rekenng Rektor PB c/q LPW Artkel yang dmuat melput hasl-hasl peneltan, analss kebjakan, dan opn-opn yang berhubungan dengan pertanan dalam art luas, sepert agronom, lmu tanah, hama dan penyakt tanaman, lmu kehewanan, kedokteran veterner, keteknkan pertanan. teknolog ndustr, teknolog pangan, lmu gz, keluarga dan konsumen, bometr, bolog, klmatolog, peternakan, perkanan, kelautan, kehutanan, dan sosal-ekonom pertanan yang telah dpertmbangkan dan dsetuju oleh Dewan Edtor. Keterangan mengene peralatan, pengamatan, dan teknk percobaan akan dterma sebaga artkel CATATAN. Pedoman penulsa* dcantumkan pada tap penerbtan. ndeks penuls dan subjek serh dafar pakar penelaah (mlha beffr) dcantumkan d trp nomor temkhr pada Uap rclume. PENANGGUNG AWAB Bambang Pramudya Prastowo DEWAN EDTOR lgbta Had Suslo Arfn Budlndra Setawan Ahmad Fauze Ahmad Sulaeman Al Komsan Bambang Hero SaharJo Anggff Agk Suprayog Danel Murdyarso Ar Purbayanto Cece Sumantr EDTOR TEKNS At Dw Nurhayat Muhamad Tholbn SEKRETARAT Eus Sartka Endang Sugand Sumardjo HadS. Alkodra Sumnar S. Achrnad Alex Hartana SupandSabhan

3 Jurnal llmu Pertanan lndonesa, Agustus 2012, hlm. tssn Vol. 1 7 No.2 PENDUGAAN PAMMETER DEMOGRAF DAN BENTUK SEBARAN SPASAL BAWAK KOMODO (Varanus komodoenss Ouwens 1912) D PULAU RNCA,, TAMAN NASONAL KOMODO (ESTMATON OF DEMOGRAPHTC PARAMETTnS A]UO SPATTAL DTSTRTBUTTON PATTERN OF KOMODO ( Varanus komodoenss Ouwens 1912) [N RNCA SLAND, KOMODO NATTONAL PARK) Yanto Santosar), R. Yos Zanal Muhammad2), Dede Aula Rahmanr*) ABSTRACT Komodo s one of the protected rare reptles that can only be found wthn the Komodo Natonal Park and the northern sland of Flores. Ths study was amed to determne the speces poputaton parameters and spatal dstrbuton. Data collecton on populaton and spatal dstrbuton of komodo were conducted usng 2O transects wth four repettons, of whch 5 transects were placed n the decduous forcst and 15 n the savannah wth a total samplng anea of 2 ha. The form of spatal dstrbuton was obtaned usng the methods of varance rato, dsperson ndex, green ndex, clumpng ndex and ch-square, n addton, vegetaton analyss was carred out on a 4 ha samplng plot. Results of the observatons ndcated that the sze of the komodo populaton on Rnca sland was 698 ndvduals wth a densty of 3.15 ndvduals/kmz comprsed of: adults wth 1,7 ndvduals/km2; sub-adults wth 0.65 ndvduals/km2; juvenles wth 0.8 ndvduals/kmz and nfants wth 0.4 ndvduals/kmr. The densty of komodo n the decduous forest (8.4 ndvduals/km2) was much hgher than n the savannah (O.64 ndvduals/km2). The brth rate of komodo (LL.27o/o) was hgher than the mortalty rate (4.23ort), The sex rato was 3:1. Wthn the study area, komodo dstrbuted wthn clusters as ndcated by the rato of mean value ot?,77; dsperson ndex 3.72 green ndex O.O8; clumpng ndex 2.72 and ch-square 167,059.6, Chance of encounters wth Komodo n both types of habtat was much hgher n the mornng (80o/o) than durng the day (20o/o). Keywords: Demographc parameter, spatal dstrbuton, komodo. ABSTRAK Komodo merupakan salah satu reptl langka, dlndung dan hanya dapat dtemukan d Taman Nasonal Komodo serta bagan utara Pulau Flores. Oleh karena tu peneltan n yang beftujuan untuk mengetahu perkembangan parameter populas maupun sebaran spasalnya perlu dlakukan. Pengamblan data populas komodo dan penyebaran spasal berlangsung pada 20 transek dengan 4 kal pengulangan dmana 5 transek d hutan musm gugur dan t5 transek d savana dengan luas total pengamblan contoh 2OO ha. Bentuk sebaran spasal dperoleh dengan metode varan raso, ndeks dspers, ndeks green, ndeks clumpng, dan ch-square. Selan tu, dlakukan juga analss vegetas pada plot contoh seluas 4 ha. Hasl pengamatan menunjukkan bahwa ukuran poputas komodo d Pulau Rnca mencapa 698 ndvdu dengan kepadatan 3115 ndvdu/km2 yang terdr atas: dewasa = 1,7 ekor/km2, remaja ndvduat/km2, anak = 0F ekor/kmz dan bay = 0r4 nd/km1 Kepadatan komodo d hutan musm gugur (44 nd/km2) jauh lebh tngg dbandngkan d savana yang hanya 0,64 nd/kmz. Nataltas dar komodo (lt,27o/o) lebh tngg dbandnglan dengan kematan yang mlncapa 4,23o/o' Raso jens kelamn komodo jantan dan betna komodo adalah 3: 1. D areal stud, komodo menyebar secara mengelompok sebagamana dtunjukkan oleh nla raso ragam-nla tengah sebesar 3,77;ndekc- dspers 3,72; ndel<s green 0,08; ndeks clumpng 2,72, dan ch-kuadrat %6. Peluang perjumpaan dengan komodo bak d savana maupun hutan musm gugur jauh lebh tngg pada pag har (80o/o) dbandngkan sang har (2Oo/o). Kata kunc: Parameter demograf, sebaran spasal, komodo. 1)Dep. Konservas Sumberdaya Hutan dan Ekowsata, Fakuhas Kehutanan, nsttut Pertanan Bogor. -. ') Program Sarjana, Dep. Konservas Sumberdaya Hutan dan Ekowsata, Fakultas Kehutanan, nsttut Peftanan Bogor. x Penu s korespondens : dede_fa hutan mal. com PENDAHULUAN Komodo merupakan salah satu fauna ssa pennggalan zaman purba yang mash hdup hngga

4 160 Vol. 17 No. 2 J.lmu Peft. ndonesa sekarang. Satwa n merupakan satwa endemk dan keberadaannya hanya tersebar d Pulau Komodo, P. Rnca, P. Gl Motang (Jessop et al, 27), dan sebagan kecl d utara dan barat Pulau Flores (Erdmann, 24). Reptl berukuran besar, langka dan terancam punah n dlndung oleh Undang- Undang Perburuan dan Perlndungan Bnatang Lar tahun Menurut Mulyana dan Rdwan (1992), selan banyak menark perhatan dan mengundang kekaguman masyarakat umum, komodo juga banyak menark perhatan para lmuwan. Beberapa aspek lmah mengena komodo telah dtelt. Namun, aspek parameter demograf belum seluruhnya terungkap. Padahal perkembangan parameter demograf dar waktu ke waktu sangat dperlukan bag analss kelestarannya d masa yang akan datng. Sehungan dengan tu, peneltan n bertujuan untuk mengetahu parameter demograf komodo terbaru. Melalu data dasar yang dperoleh dar peneltan n dharapkan dapat dgunakan untuk menduga populas hpotetk komodo dalam beberapa tahun ke depan. Selan tu, peneltan juga dtujukan untuk mengetahu pola sebaran spasal komodo yang tdak saja pentng bag penyusunan metoda nventarsas juga akan berguna bag pengelolaan kawasan bak untuk tujuan ekowsata maupun upaya perlndungan dan pelestaran secara n-stu dan ex-stu speses n. METODE PENELTAN Peneltan n berlangsung pada bulan Februar s/d Jun 28 d Pulau Rnca, SPTN 1 Rnca, Taman Nasonal Komodo, Nusa Tenggara Tmur. Alat yang dgunakan dalam peneltan antara lan adalah peta kawasan, bnokuler, kompas, pta meteran, tambang plastk, kamera foto, Global Postonng System (GPS), phband, dan tally sheat. Adapun objek peneltan n adalah populas komodo dalam berbaga kelas umur, yakn tetasan, anak, muda, dan dewasa. Pengenalan lapang dlakukan selama *2 mnggu sebelum pengumpulan data. Hal n dperlukan untuk mengetahu konds umum lokas peneltan, mencocokan peta kerja dengan konds lapangan, menentukan jalur dan ttk pengamatan serta mengetah u ka ra kterstk habtat komodo. Pengumpulan data parameter demograf dan bentuk sebaran spaslal dlakukan dengan menggunakan metode kombnas antara transek jalur (stnp transek) dan ttk pengamatan (pont of abundance). Pengamatan dlakukan pada 2 tpe habtat yatu savana (sebanyak 15 jalur/transect) dan hutan mush gugur (sebanyak 5 jalur) dengan pengulangan 4 kal setap jalurnya. Panjang masngmasng jalur *1 km dengan lebar jalur kanan kr *5p m dan berhent pada setap ttk pengamatan selama *10 ment jarak antar ttk pengamatan t1, m. Ttk-ttk pengamatan dtetapkan sedemkan rupa sehngga tdak bersfat tumpang tndh. Jarak antar jalur pengamatan *1 km untuk menghndar perhtungan ganda. Sedangkan untuk mengetahu komposs jens dan struktur vegetas dlakukan analss vegetas d hutan gugur sebanyak jalur dengan panjang 2 m (Soeranegara and ndrawan, 25). Jalur-jalur contoh dbuat memotong gars kontur, msalnya dar tep laut pedalaman, memotong sunga, dan nak atau turun lereng pegunungan. Analss Data 1. Parameter Demograf Pengolahan data parameter demograf menggunakan persamaan-persamaan sebaga berkut (Tarumngkeng, 1994): a. Populas (Caughley, 1977) Populas Dugaan "r P=ff"A Besarnya Ksaran Populas r- P x SE se=./s; " tr-, *-,=h:4' V r " N Dr- n-1 b. Kelahran (Natahtas) (Tarumngkeng, 1994).B L,t -- N B * jumlah ndvdu yang dlahrkan, N = jumlah seluruh anggota populas. c. Kematan (Mortaltas) -D L,r, - - N D = jumlah yang matdarsemua sebab dalam waktu satu tahun. N = jumlah seluruh anggota populas. d. Nsbah Kelamn (Sex Rato) fd s.t? = " BP Jp = jumlah jantan potensal reproduks. gp = jumlah betna potensal reproduks.

5 Vol. 17 No Bentuk Sebaran Spasal Bentuk sebaran spasal dtentukan dengan menggunakan penghtungan beberapa ndek ytu raso nla tengah (fr) dan ragam (su),ndeks Dsperson (D), ndeks of Clumpng (C), ndek Green (G), dan ChFSquare 17;. Uasng-masng ndek tersebut dhtung dengan rumus-rumus sebaga berkut: a. Metode raso ragam dan nla tengah o pola sebaran acak, o* : p. Pola sebaran mengelompo( ert F lr. pola sebaran merata, r, { U b. ndek Dsperse o2 1D=L X,S2 = keragaman contoh X = rata-rata contoh lka: D = 1, maka satwa menyebar acak D < 1, maka satwa menyebar homogen D > 1, maka satwa menyebar kelompo(agregat c. ndek of Clumpng C = D*l Keterangan: D = ndeks dsperse C = ndeks of clumpng Jka: C = 0, maka satwa menyebar cak C = -1, maka satwa menyebar homogen C = n-1, maka satwa menyebar kelompok d. ndek Green G= JC n-l Keterangan: G = ndeks green C = ndek of clumpng Jka:G = 0, maka satwa menyebaracak G = 1, maka satwa menyebar kelompok e. ChFSquare T =rd(ar-r) Keterangan: try' = jumlah kontak dengan satwa. [lt"l': uj yang dgunakan untuk N<30, sebaga berkut: a) Jka X' S X.r* maka pola sebaran seragam (unform) b) J,l<a X.rr, < X2 < X o* maka pola sebaran aak(nndom) J.lmu Pert. ndonesa 161 c) Jka X'z X.*, maka pola sebaran (clumpedl 3.*Analss Vegetas. Dar hasl pengukuran dapat dhtung besaran sebaga berkut : K= Znd Luas eontoh K dar suatu ens K seluruh jens DR= F- Jumlah.bdang dasar Luas petak contoh D dar suatu jens _;_;_..-_ xt0do/o u seturuk Jen$ 2 plot dtemukan suatu jens Luas seluruh plot F dar suatu ens FR= xl}oyo r seturun.len$ = ndeks Nla Pentng = KR + DR+ FR kelompok besaran- Keterangan: K (Kerapatan); KR (Kerapatan Relatfl; D (Domnans); DR (Dornnans Relatfl; F (Frekuens); FR (Frekuens Relatf); NP (ndek Nla pentng). HASL DAN PEMBAHASAN A. Parameter Demograf Ukuran dan Kepadatan populas. Pendugaan populas komodo d areal peneltan dtentukan berdasarkan jumlah ndvdu yang dtemukan pada beberapa jalur contoh. Luas total P. Rnca-TNK adalah 196,25 km2, dengan tuas area peneltan 2 km2 (S C,99o/o). Berdsarkan hasl pengamatan dtemukan sebanyak 142 rdvdu antara lan 16 ndvdu tetasan, 32 ndvdu anakan, 26 ndvdu muda, dan 68 ndvdu dewasa. Untuk ndvdu tetasan hanya dtemukan pada satu srang 9*oa9 d Loh Buaya, yatu pada jalur 10 seuagj jalur wsata. Data tebh lengkap tersaj pada Tabel 1. Jalur pengamatan yang palng banyak dtemukan populas kornodo ytu 'pad lalur '10 (L,Bya - Hutan) dbandngkan dengan jlur-jatur lannya. Jalur n merupakan 3alu yang 6Asa dgunakan oleh para pengunjung, dmjna petuang untuk melhat komodo sangat besar. Hal nl dkarenakan potens pakan komodq palon mangst t

6 162 Vol. 17 No. 2 J.lmu Pert. ndonesla komodo, maupun potens ar bag mangsa komodo d jalur n dan d sektarnya cukup banyak. DbuKkan selama pengamatan banyak dtemukan satwa mangsa komodo sepert rusa tmor, kerbau ar, dan monyet ekor panjang, Tabel 1. Sebaran jumlah ndvdu komodo berdasarkan kelas umur dan tpe habtat. ralur,l". 1 HGl 2 HG2 3 Svnl 4 HG3 5 Svn2 6 HG4 7 Svn3 B Svn4 9 Svn5 10 HG5 11 Svn 6 12 Svn 7 13 Svn 8 14 Svn 9 15 Svn Svn Svn Svn Svn Svn 15 Lokas Ttsn Ank Md Dws Ttl L.Bya 0 L.Km 0 L.Km 0 L.Bya x 16 WWX O WWO WW-LG O WW-LG O LGO LGO L.Bya 0 L.Km 0 L.Km 0 L.Km L T2 02 t29 2A L B s t Keterangan: x) Jalur wsata; L.Bar: Loh Baru; L.Bya: Loh Buaya; L.Km: Loh Kma; WW: Wae Waso; LG: Lengkong Gurung; Ttsn: Tetasan; Ank: Anakan; Md: Muda; Dws: Dewasa. Untuk jalur-jalur yang tdak dtemukan komodo terdapat 5 jalur, yatu L.Bar - Savana 1, LG - Savana 10, L.Km - Savana 13, L.Km - Savana 14, dan L.Km - Savana 15. Walaupun djalur n banyak dtemukan satwa mangs komodo, tetap konds alam yang terlalu terbuka sehngga menyultkan komodo untuk mendapatkan mangsanya dan satwa mangsa lebh mudah untuk menghndar komodo, Komodo d P, Rnca memlk dugaan populas sebesar 698 ndvdu dengan kepadatan 3,15 nd/km2, Hasl peneltan lan yang dlakukan oleh BTNK (27) mengena populas komodo d p. Rnca menyatakan bahwa jumlah populas komodo dduga sebanyak 1329 ndvdu. Tabel 2. Dugaan populas dan kepadatan komodo d P. Rnca berdasarkan kelas umur. Duoaan.- [u od,r.s,r?*? se Ksaran Populas (nd) Ttsn_ 79 0,4 0,82 78,L8-79,82 Ank L57 0r8 0,62 156,38 - L57.62 Md 128 0,65 0,45 L27,55 - L28,45 Dws 334 L,7 1,18 332,82-335,18 Keterangan: Ttsn: Tetasan; Ank: Anakan; Md: Muda; Dws: Dewasa. Kepadatan komodo pada berbaga kelas umur d tap tpe habtat memlk nla yang berbeda (Tabel 3). Pada hutan gugur memlk kepadatan lebh tngg dar pada d savana. Tabel 3. Kepadatan populas komodo berdasarkan KU terhadap tpe habtat. Tetasan Anakan Muda Dewasa Kelas Umur Kepadatan (nd/km2) Hutan Gugur 1r6 2,3 1r5 3 Savana 0 0r1 0,L2 0,42 otal 8,4 0,64 nventarsas komodo setap tahun dlakukan untuk menduga kelestaran populas komodo dan pendukung dalam kegatan ekowsata d TNK. Kegatan n dlakukan oleh phak BTNK, LSM, maupun penelt-penelt lannya, Beberapa penelt melakukannya dengan metode-metode yang berbeda, sepert fedng (pengumpanan), jalur, atau co n se n tra to n co u n t (T abel 4). Tabel4. Perkembangan populas komodo d P. Rnca. Tahun Populas (nd) Metode Keterangan t346 L29B Feedng Feedng Feedng Feedng 27 L329 Feedng Tdak dlakukan peneltan Tdak dlakukan peneltan

7 Vol. 17 No^ 2 J.lmu Pert. ndonesa 163 nventarsas yang dlakukan dengan menggunakan pengumpanan (feedng) oleh phak BTNK menggunakan dagng kambng yang dpasang dbeberapa plot yang sama selama bertahun-tahun. Hasl analss dar metode feedng selama 6 tahun ke belakang bahwa populas komodo mengalam penngkatan sebesar t3,960/o dar 11 ndvdu pada tahun 21 menjad 1265 ndvdu pada tahun 23. Pada tahun 24 mengalam penngkatan sebesar 6,40/o dbandngkan menjad 1346 ndvdu. Untuk tahun 25 mengalam penurunan populas sebesar 3,57o/o dar 1346 ndvdu pada tahun 24 menjad 1298 ndvdu pada tahun 25 dan pada tahun 27 mengalam kenakan sebesar 2,33o/o. tahun 23 Struktur Umur StruKur umur dapat dgunakan untuk menla keberhaslan perkembangbakan satwalar sehngga dapat menduga prospek kelestarannya. Pengklasfkasan struktur umur komodo, yatu berdasarkan kelas umur tetasan, anakan, muda, dan dewasa (Gambar 1). Nla tetasan tersebut ddapatkan dar hasl hatclng bulan Februar 28 pada satu sarang komodo yang dpagar yang beftujuan untuk menghndar predator terhadap telur maupun tetasan komodo dan juga sebaga pemantauan hasl tetasan pada sarang komodo. Untuk kelas umur anakan dan muda nrasng-masng sebesar (22,49o/o dan 18,34olo). Nsbah Kelamn (Sex RatQ Berdasarkan peneltan-peneltan sebelumnya mengena sex rato komodo n, menurut Fakhruddn (1998), bahwa sex nto komodo sebesar 4,2: L dan Auffenberg (1981) sebesar 3,4 : L. Nla n tdak begtu jauh dengan hasl yang ddapat sejama pengamatan. Berdasarkan hasl pengamatan bahwa perbandngan jumlah jantan potensal reproduks terhadap jumlah betna potensal reproduks pada komodo selama pengamatan dtemukan 51 ndvdu komodo jantan dan 17 ndvdu komodo betna dar kelas umur dewasa dengan perbandngan sebesar 3 : 1. Sehngga dpastkan akan terjad persangan yang cukup tngg dalam memperebutkan ndvdu betna oleh ndvdu jantan pada saat musm kawn. Hal n merupakan konds alam yang tefad pada komodo untuk menghndar ledakan populas sehngga populasnya dapat stabl. Kelahran (Nataltas) dan Kematan (Moftaltas) Berdasarkan hasl pengamatan terhadap kelahran komodo yang ddapat dar data penetasan (hatclng) Februar 28 yatu sebesar 16 ndvdu. Untuk angka kelahran dar jumlah tetasan terhadap total ndvdu sebesar LL,Z7o/o. Nla tersebut menyatakan bahwa tngkat kelahran komodo cukup tngg. Hal n dkarenakan sudah adanya pengelolaan terhadap sarang komodo dengan melakukan pemagaran terhadap sarang komodo. Sedangkan angka kematan komodo sebesar 4,23o/o yang dtemukan pada tetasan komodo sebanyak 6 ndvdu. Bentuk Sebaran Spasal Bentuk sebaran spasal pada (c) Gambar 1. (d) Komodo berdasarkan kelas umur: a) dewasa, b) muda, c) anakan, dan d) tetasan. t l t komodo dtentukan berdasarkan kontak dengan masng- Berdasarkan analss data untuk struktur umur komodo dperoleh nla kelas umur dewasa memlk jumlah terbesar 47,85o/o dbandngkan dengan kelas umur yang lan. Sedangkan untuk nla yang terkecl yatu pada kelas umur tetasan sebesar LL,3to/o, masng ndvdu komodo. Hasl analss data dengan menggunakan beberapa metode yang tersaj pada Tabel 5. Bentuk sebaran komodo dar kedua tpe habtat (hutan gugur dan savana) adalah mengelompok. Hal n besar kemungknan dsebabkan oleh beberapa faktor, antara lan: a) Komodo lebh serng berkumpul d daerah dekat pemukman atau pos-pos jaga yang lokasnya berada d hutan.

8 164 Vol. 17 No. 2 J.lmu Peft. ndonesa b) Penyebaran pakan pada saat musm kemarau cenderung lebh banyak d daerah hutan karena mash terdapat sumber ar, sehngga komodo perburuan lar n dapat menghambat kelestaran ekosstem d TNK. Kepadatan populas rusa berdasarkan peneltan Djuanda (28) mencapa serng berkumpul d hutan. Komodo lebh serng dtemukan d daerah savana yang terdapat pohon-pohon yang dgunakan komodo untuk strahat. 1,3 nd/ha. Populas mangsa komodo (rusa) tergolong berdatangan ancaman terhadap kelangsungan hdupnya, sehngga dapat mengalam penurunan secara drasts dan populas yang terssa sekarang dalam keadaan terpencar d habtat-habtat yang daya dukungnya juga sudah semakn menurun. c) Tabel 5. Pola sebaran spasal komodo. Metode Anass Data y2htung Nla tt X2tabel (q=11,o=0.05) Raso NlaTengah dan Ragam D (ndeks Dspers) c (tnaeks ctumpng) G (ndeks Green) H];: Bentuk Sebaran Berkerompok 3,722 Berkelompok 3,72 ^ Berkelompok,z 0,08 Berkelompok B. Konds Vegetas Hasl analss vegetas menunjukkan bahwa d hutan musm gugur terdapat 11 jens tumbuhan tngkat dmana jens Alstona scholars memlk ndeks nla pentng (NP) terbesar yatu 58,Z4o/o sedangkan yang terendah yatu jens Fcus sp. 6,420/o. Dar semua jens pohon n yang serng dgunakan komodo untuk berteduh dan berstrahat adalah Tamarndus ndca. Untuk tngkat tang, Np terbesar adalah jens Alstona scholars 74,BZo/o dan terendah Schoutena ouata 36,790/o. pada tngkat pancang, NP terbesar adalah Phtecelobum umbeltum 9O,2Bo/o dan terendah Voacangan grandtoltb sebesar 18,060/o. Sedangkan tngkat sema, NP terbesar adalah Voacangan grandtola dan jens Alstona scholars sebesar 36,360lo dan terendah yatu Rhzophora sp., Calophylum n op h yl u m dan Pte rospe rm u m dve rs fo u m 1 B, 1 Bolo. Penutupan tajuk d hutan gugur dapat melndung komodo dar cahaya matahar sekalgus memudahkan berburu mangs. pada kerapatan vegetas tngkat sema 27,5 nd/ha, pancang 20 nd/ha, tang 20 nd/ha, dan pohon L22,5 nd/ha, komodo akan mash merasa mudah untuk melhat dan berburu mangsa. C. Faktor-faktor yang mempengaruh populas komodo Perburuan satwa mangsa komodo Rusa tmor sebaga pakan utama komodo menjad sasaran perburuan lar yang dlakukan oleh masyarakat dl luar kawasan, bak secara langsung maupun menggunakan anjng. Dampak dar mqngkhawatrkan karena terus Perubahan Habtat Perubahan habtat non alam mempengaruh kemampuan komodo untuk melangsungkan hdupnya. Perubahan n dapat berupa fragmentas, kerusakan, dan kehlangan habtat yang masngmasng atau secara bersama memlk efek negatf terhadap satwalar (Alkodra, 22), dan memberkan efek yang sama buruknya dengan perburuan terhadap populas komodo. Ancaman terhadap habtat komodo akan sangat mempengaruh kemampuannya untuk melakukan reproduks yang akhrnya akan menyebabkan populas komodo menurun. Daerah savana menjad bagan pentng bag kehdupan komodo. Berbaga akvtas serng dlakukan komodo d savana, sepert berjemur (baskng). Sehngga ancaman dar kebakaran hutan dapat mengurang pergerakan komodo. Pengumpanan (Feedng) Komodo menjad perhatan duna n menjad daya tark dar meda elektronk (stasun televs), Berbaga atraks komodo serng dlakukan untuk membuat flm dokumenter dengan cara pengumpan an (feedng) mengg u na kan kambng, bak hdup maupun mat. Hal n dlakukan untuk menark perhatan komodo yang begtu tajam pencumannya terhadap dagng dan darah, sehngga mempermudah dalam melakukan atraks komodo yang dngnkan. Komodo merupakan satwa yang mempunya kemampuan berburu dar berbaga kelas umur berbeda-beda, semakn dewasa kemampuannya menjad semakn menurun. Selama peneltan, dtemukan komodo berburu rusa maupun kerbau, terbukt bahwa komodo muda yang melakukan perburuan dan menyebabkan luka pada mangsa, kemudan komodo-komodo lannya (khususnya dewasa) berdatangan untuk melakukan aktvtas makan pada rusa tersebut. Dengan adanya kegatan feedng dalam jangka pendek tdak akan menmbulkan dampak yang besar, namun dalam jangka panjang lambat-laun akan menyebabkan perubahan perlaku dan genetk komodo. Hal n

9 Vol. 17 No. 2 J.lmu Peft. ndonesa 165 menjad salah satu fakor yang dapat menyebabkan kepunahan terhadap komodo. D. Hubungan Waktu perjumpaan dengan Tpe Habtat Peluang perjumpaan d savana pada pag har sebesar 88o/o, sedangkan pada sore har hanyjl2o/o. Pada huhn gugur, peluang perjumpaan pada pag har sebesar 86 dan sore har sebesar 2O%. nal n dkarenakan komodo lebh mudah djumpa pada waktu pag har pada saat aktvtas baskng. Menjelang sang har komodo melakukan akvtas d pohon sepert strahat, tdur, atau menghndar serangan dar predator maupun komodo lannya. Hal n menjad rekomendas dalam pengelolaan ekowsata d TNK. Wsatawan yang datang ke TNK untuk melhat komodo dapat dlakukan pada pag har _Qrena peluang untuk melhat komodo leuh tngg dbandngkan dengan sang maupun sore har. KESMPULAN Nla dugaan akhr populas komodo d p. Rnca sebesar 698 ndvdu dengan kepadatan 3,15 nd/km2. Untuk KU tetasan mempunya populas sebesar 79 ndvdu dengan kepadatan 0,4 ndlkmz, anakan 157 ndvdu dengan kepadatan 0,8 nd/km2, remaja 128 ndvdu dengan kepadatan 0,65 nd/kmr, dn dewasa 334 ndvdu dengan kepadatan L,7 nd/km2. Angka kelahran komodo sebesar LL,27o/o dan angka kematan sebesar 4,23o/o, serta sex-nto komodo sebesar 3 : 1. Bentuk sebaran spasal komodo adalah mengelompok, dengan peluang perjumpaan d savana pada pag har sebesar BBo/o, sedangkan pada sore har hanya l2o/o. Pada hutan gugur, peluang perjumpaan pada pag har sebesar 80o/o dan sore har sebesar 20olo. Djuanda, T.D,.28. Potens Mamala Besar Sebaga Mangsa Kornodo (Varanus komodoenss) D Pulau Rnca Taman Nasonal Komodo Nusa Tenggara T'mur. Skrps. Departemen * Konservas Sumberdaya Hutan dan Ekowsata. Fahutan PB. Bogor. Erdmann, A.M. 24. panduan Sejarah Ekolog Taman Nasonal Komodo. Buku 1 : Darat. The Nature Conservancy-ndonesa Coastal and Marne Program. Fakhruddn Pendugaan parameter Demograf Populas Komodo (Varanus komodoensr$ d Pulau Komodo Taman Nasonal Komodo Nusa Tenggara Tmur. Skrps. Jurusan Konservas Sumberdaya Huhn. Fahutan pb. Bogor. Jessop, et a.2q07. Ekolog populas, reproduks, dan spasal bawak komodo (Varanus komodoenss) d Taman Nasonal Komodq ndonesa. BTNKCRESS-ZSSD/TNC. Mulyana, A & W. Rdwan Bodata dan perlaku reproduks komodo (Varanus komodoenss perkembangan nformas sampa tahun Asul No. 5. B Peneltan KehutaRan Kupang. Kupang. Peraturan Perlndungan Bnatang-bnatang Lar (Derenbeschermngsordonante 1931, Staasblad 1931: 134). Soeranegara, & A. ndrawan, Z0AS. Ekologt Hubn ndonesrb. Laboratorum Ekolog Hutan Fakultas Kehutanan pb. Tarumngkeng, R.C Dnamka populas: Kajan ekolog kuanttatf. Pustaka Snar Harapan bekerja sama dengan Unverstas Krsten Krda Wacana. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Alkodra, H.S. 22. pengelolaan Satwalar Jld. Yayasan Penerbt Fakultas Kehutanan pb. Bogor. Auffenberg, W Behavoral Ecology of the Komodo Montor. Florda State Museum. Unversty of Florda. Ganessvlle. Florda. BTNK. Statstk Taman Nasonal Komodo. Taman Nasonal Komodo. Labuan Bajo. Caughley, G. L977. Analyss of Vertebrate populaton. Jotrr $rky and Sons. London.

PENDUGAAN PAMMETER DEMOGRAFI DAN BENTUK SEBARAN SPASIAL BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis Ouwens 1912) DI PULAU RINCA,, TAMAN NASIONAL KOMODO

PENDUGAAN PAMMETER DEMOGRAFI DAN BENTUK SEBARAN SPASIAL BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis Ouwens 1912) DI PULAU RINCA,, TAMAN NASIONAL KOMODO Jurnal llmu Pertanan lndonesa, Agustus 2012, hlm. tssn 0853-4217 1 59-165 Vol. 1 7 No.2 PENDUGAAN PAMMETER DEMOGRAF DAN BENTUK SEBARAN SPASAL BAWAK KOMODO (Varanus komodoenss Ouwens 1912) D PULAU RNCA,,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokas dan Waktu Peneltan dlaksanakan d kawasan PT. Kencana Sawt Indonesa (KSI), Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat sebaga lokas pengamatan dan pengamblan data. Pengolahan

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI. A. Waktu dan Tempat

IV. METODOLOGI. A. Waktu dan Tempat IV. METODOLOGI A. Waktu dan Tempat Peneltan n dlaksanakan dar bulan Agustus 2008 sampa Agustus 2009, dawal dengan observas lapangan pada bulan Agustus 2008. Penyusunan rencana peneltan dlakukan dar bulan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Dumai (tahun ) dan PDRB

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Dumai (tahun ) dan PDRB BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jens dan Sumber Data Jens data yang dgunakan dalam peneltan n adalah data sekunder. Data yang dgunakan melput: (1) PDRB Kota Duma (tahun 2000-2010) dan PDRB kabupaten/kota

Lebih terperinci

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1 Hpotess Berdasarkan kerangka pemkran sebelumnya, maka dapat drumuskan hpotess sebaga berkut : H1 : ada beda sgnfkan antara sebelum dan setelah penerbtan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertan Regres Regres pertama kal dpergunakan sebaga konsep statstka oleh Sr Francs Galton (1822 1911). Belau memperkenalkan model peramalan, penaksran, atau pendugaan, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tinggi bagi kesehatan. Buwono (1993) mengungkapkan bahwa susu

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tinggi bagi kesehatan. Buwono (1993) mengungkapkan bahwa susu BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Susu kambng merupakan suatu produk yang memlk nla manfaat tngg bag kesehatan. Buwono (1993) mengungkapkan bahwa susu merupakan sumber gz yang palng lengkap sekalgus palng

Lebih terperinci

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL:

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: 1.1. Latar Belakang Masalah SDM kn makn berperan besar bag kesuksesan suatu organsas. Banyak organsas menyadar bahwa unsur manusa dalam suatu organsas dapat memberkan keunggulan

Lebih terperinci

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL Analss sumbangan sektor-sektor ekonom d Bal terhadap pembangunan ekonom nasonal bertujuan untuk mengetahu bagamana pertumbuhan dan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. estimasi, uji keberartian regresi, analisa korelasi dan uji koefisien regresi.

BAB 2 LANDASAN TEORI. estimasi, uji keberartian regresi, analisa korelasi dan uji koefisien regresi. BAB LANDASAN TEORI Pada bab n akan durakan beberapa metode yang dgunakan dalam penyelesaan tugas akhr n. Selan tu penuls juga mengurakan tentang pengertan regres, analss regres berganda, membentuk persamaan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Peneltan Berdasarkan masalah yang akan dtelt dengan melhat tujuan dan ruang lngkup dserta dengan pengolahan data, penafsran serta pengamblan kesmpulan, maka metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa MAN Model Gorontalo.

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa MAN Model Gorontalo. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Peneltan 3.1.1 Tempat Peneltan Adapun yang menjad objek peneltan adalah sswa MAN Model Gorontalo. Penetapan lokas n ddasarkan pada beberapa pertmbangan yakn,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah pertama yang harus dilakukan oleh

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah pertama yang harus dilakukan oleh BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desan Peneltan Sebelum dlakukan peneltan, langkah pertama yang harus dlakukan oleh penelt adalah menentukan terlebh dahulu metode apa yang akan dgunakan dalam peneltan. Desan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini, penulis memilih lokasi di SMA Negeri 1 Boliyohuto khususnya

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini, penulis memilih lokasi di SMA Negeri 1 Boliyohuto khususnya BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Peneltan 3.1.1 Tempat Peneltan Pada peneltan n, penuls memlh lokas d SMA Neger 1 Bolyohuto khususnya pada sswa kelas X, karena penuls menganggap bahwa lokas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan dalam sektor energi wajib dilaksanakan secara sebaik-baiknya. Jika

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan dalam sektor energi wajib dilaksanakan secara sebaik-baiknya. Jika BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Energ sangat berperan pentng bag masyarakat dalam menjalan kehdupan seharhar dan sangat berperan dalam proses pembangunan. Oleh sebab tu penngkatan serta pembangunan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlakukan d MTs Neger Bandar Lampung dengan populas sswa kelas VII yang terdr dar 0 kelas yatu kelas unggulan, unggulan, dan kelas A sampa dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jens Peneltan Jens peneltan n adalah peneltan quas expermental dengan one group pretest posttest desgn. Peneltan n tdak menggunakan kelas pembandng namun sudah menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351)

ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) Suplemen Respons Pertemuan ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) 7 Departemen Statstka FMIPA IPB Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Referens Waktu Korelas Perngkat (Rank Correlaton) Bag. 1 Koefsen Korelas Perngkat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 ENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum dapat dkatakan bahwa mengambl atau membuat keputusan berart memlh satu dantara sekan banyak alternatf. erumusan berbaga alternatf sesua dengan yang sedang

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS 4.1 Survey Parameter Survey parameter n dlakukan dengan mengubah satu jens parameter dengan membuat parameter lannya tetap. Pengamatan terhadap berbaga nla untuk satu parameter

Lebih terperinci

PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI

PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI JEMI, Vol 1, No 1, Desember 2010 PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI Des Rahmatna, SPd, MSc (Unverstas Martm Raja Al Haj) ABSTRAKSI Peneltan n dmaksudkan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Hasl Peneltan Pada peneltan yang telah dlakukan penelt selama 3 mnggu, maka hasl belajar matematka pada mater pokok pecahan d kelas V MI I anatussbyan Mangkang Kulon

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. persamaan penduga dibentuk untuk menerangkan pola hubungan variabel-variabel

BAB 2 LANDASAN TEORI. persamaan penduga dibentuk untuk menerangkan pola hubungan variabel-variabel BAB LANDASAN TEORI. Analss Regres Regres merupakan suatu alat ukur yang dgunakan untuk mengukur ada atau tdaknya hubungan antar varabel. Dalam analss regres, suatu persamaan regres atau persamaan penduga

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Studi Kasus pada Data Inflasi Indonesia)

PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Studi Kasus pada Data Inflasi Indonesia) PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Stud Kasus pada Data Inflas Indonesa) Putr Noorwan Effendy, Amar Sumarsa, Embay Rohaet Program Stud Matematka Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode peneltan atau metodolog peneltan adalah strateg umum yang danut dalam mengumpulkan dan menganalss data yang dperlukkan, guna menjawab persoalan yang dhadap. Adapun rencana

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 8 Bandar Lampung. Populasi dalam

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 8 Bandar Lampung. Populasi dalam 1 III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlaksanakan d SMPN 8 Bandar Lampung. Populas dalam peneltan n adalah seluruh sswa kelas VII SMPN 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 01/013 yang terdr

Lebih terperinci

BAB II METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian. variable independen dengan variabel dependen.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian. variable independen dengan variabel dependen. BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Bentuk Peneltan Jens peneltan yang dgunakan dalam peneltan n adalah peneltan deskrptf dengan analsa kuanttatf, dengan maksud untuk mencar pengaruh antara varable ndependen

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode peneltan atau metodolog peneltan adalah strateg umum yang danut dalam mengumpulkan dan menganalss data yang dperlukkan, guna menjawab persoalan yang dhadap. Adapun rencana

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Pengumpulan Data Data Vegetasi

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Pengumpulan Data Data Vegetasi 15 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Peneltan Peneltan dlaksanakan d hutan rakyat kayu bawang yang terdapat d tga Desa, yatu Desa Pasar Pedat d Kabupaten Bengkulu Tengah, Desa Sawang Lebar dan Desa Dusun

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menjawab permasalahan yaitu tentang peranan pelatihan yang dapat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menjawab permasalahan yaitu tentang peranan pelatihan yang dapat BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Peneltan Untuk menjawab permasalahan yatu tentang peranan pelathan yang dapat menngkatkan knerja karyawan, dgunakan metode analss eksplanatf kuanttatf. Pengertan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PEELITIA 3.1. Kerangka Pemkran Peneltan BRI Unt Cbnong dan Unt Warung Jambu Uraan Pekerjaan Karyawan Subyek Analss Konds SDM Aktual (KKP) Konds SDM Harapan (KKJ) Kuesoner KKP Kuesoner KKJ la

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Al-Azhar 3 Bandar Lampung yang terletak di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Al-Azhar 3 Bandar Lampung yang terletak di III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlaksanakan d SMP Al-Azhar 3 Bandar Lampung yang terletak d Jl. Gn. Tanggamus Raya Way Halm, kota Bandar Lampung. Populas dalam peneltan n adalah

Lebih terperinci

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analsa Pemlhan Model Tme Seres Forecastng Pemlhan model forecastng terbak dlakukan secara statstk, dmana alat statstk yang dgunakan adalah MAD, MAPE dan TS. Perbandngan

Lebih terperinci

III.METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini subyek yang digunakan adalah siswa VII A SMPN 5

III.METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini subyek yang digunakan adalah siswa VII A SMPN 5 33 III.METODE PENELITIAN A Jens Dan Desan Peneltan. Jens peneltan yang dgunakan dalam peneltan n adalah peneltan kuanttatf. Peneltan n merupakan peneltan korelas yang bertujuan untuk mengetahu hubungan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang telah dilaksanakan di SMA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang telah dilaksanakan di SMA III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Peneltan Peneltan n merupakan stud ekspermen yang telah dlaksanakan d SMA Neger 3 Bandar Lampung. Peneltan n dlaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2012/2013.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskrps Data Hasl Peneltan Satelah melakukan peneltan, penelt melakukan stud lapangan untuk memperoleh data nla post test dar hasl tes setelah dkena perlakuan.

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokas dan Waktu Peneltan dlaksanakan d Peraran Karang Lebar, Kepulauan Serbu, Jakarta. Stasun pengamatan tersebar pada tga ttk d peraran karang lebar yang danggap mewakl konds

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam pembuatan tugas akhr n, penulsan mendapat referens dar pustaka serta lteratur lan yang berhubungan dengan pokok masalah yang penuls ajukan. Langkah-langkah yang akan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori Galton berkembang menjadi analisis regresi yang dapat digunakan sebagai alat

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori Galton berkembang menjadi analisis regresi yang dapat digunakan sebagai alat BAB LANDASAN TEORI. 1 Analsa Regres Regres pertama kal dpergunakan sebaga konsep statstk pada tahun 1877 oleh Sr Francs Galton. Galton melakukan stud tentang kecenderungan tngg badan anak. Teor Galton

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS FAKTOR-FAKTOR BEBAN DAN TAHANAN (LOAD AND RESISTANCE FACTOR)

BAB V ANALISIS FAKTOR-FAKTOR BEBAN DAN TAHANAN (LOAD AND RESISTANCE FACTOR) BAB V ANALISIS FAKTOR-FAKTOR BEBAN DAN TAHANAN (LOAD AND RESISTANCE FACTOR) 5.1 Umum Pada bab V n dbahas mengena hasl perhtungan faktor-faktor beban (load) atau serng dsebut dengan faktor pengal beban,

Lebih terperinci

BAB IV TRIP GENERATION

BAB IV TRIP GENERATION BAB IV TRIP GENERATION 4.1 PENDAHULUAN Trp Generaton td : 1. Trp Producton 2. Trp Attracton j Generator Attractor - Setap tempat mempunya fktor untuk membangktkan dan menark pergerakan - Bangktan, Tarkan

Lebih terperinci

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH BAB VB PERSEPTRON & CONTOH Model JST perseptron dtemukan oleh Rosenblatt (1962) dan Mnsky Papert (1969). Model n merupakan model yang memlk aplkas dan pelathan yang lebh bak pada era tersebut. 5B.1 Arstektur

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Bandar Lampung. Populasi dalam

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Bandar Lampung. Populasi dalam III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlaksanakan d SMP Neger 3 Bandar Lampung. Populas dalam peneltan n yatu seluruh sswa kelas VIII SMP Neger 3 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 0/03 yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) pada materi Geometri dengan

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) pada materi Geometri dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jens Peneltan Peneltan n merupakan peneltan pengembangan yang bertujuan untuk menghaslkan Lembar Kegatan Sswa (LKS) pada mater Geometr dengan pendekatan pembelajaran berbass

Lebih terperinci

Pendugaan Parameter Demografi dan Bentuk Sebaran Spasial Biawak Komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Pendugaan Parameter Demografi dan Bentuk Sebaran Spasial Biawak Komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Agustus 01 Vol. 17 (): 16 131 ISS 0853 417 Pendugaan Parameter Demografi dan Bentuk Sebaran Spasial Biawak Komodo di Pulau Rinca, Taman asional Komodo (Estimation

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskrps Data Hasl Peneltan Peneltan n menggunakan peneltan ekspermen; subyek peneltannya dbedakan menjad kelas ekspermen dan kelas kontrol. Kelas ekspermen dber

Lebih terperinci

UKURAN S A S MPE P L P of o. D r D. r H. H Al A ma m s a d s i d Sy S a y h a z h a, SE S. E, M P E ai a l i : l as a y s a y h a

UKURAN S A S MPE P L P of o. D r D. r H. H Al A ma m s a d s i d Sy S a y h a z h a, SE S. E, M P E ai a l i : l as a y s a y h a UKURAN SAMPEL Prof. Dr. H. Almasd Syahza, SE., MP Emal: asyahza@yahoo.co.d Webste: http://almasd. almasd.staff. staff.unr.ac.d Penelt Senor Unverstas Rau Penentuan Sampel Peneltan lmah hampr selalu hanya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pretest postes control group design dengan satu macam perlakuan. Di dalam

BAB III METODE PENELITIAN. pretest postes control group design dengan satu macam perlakuan. Di dalam BAB III METODE PEELITIA A. Bentuk Peneltan Peneltan n merupakan peneltan ekspermen dengan model pretest postes control group desgn dengan satu macam perlakuan. D dalam model n sebelum dmula perlakuan kedua

Lebih terperinci

RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP (Incomplete Block Design) Dr.Ir. I Made Sumertajaya, M.Si Departemen Statistika-FMIPA IPB 2007

RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP (Incomplete Block Design) Dr.Ir. I Made Sumertajaya, M.Si Departemen Statistika-FMIPA IPB 2007 RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP (Incomplete Block Desgn) Dr.Ir. I Made Sumertajaya, M.S Departemen Statstka-FMIPA IPB 007 Revew Rancangan Acak Kelompok Kta ngn membandngkan t perlakuan Pengelompokan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB PEDAHULUA. Latar Belakang Rsko ddentfkaskan dengan ketdakpastan. Dalam mengambl keputusan nvestas para nvestor mengharapkan hasl yang maksmal dengan rsko tertentu atau hasl tertentu dengan rsko yang

Lebih terperinci

REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bntaro Sektor 7, Bntaro Jaya Tangerang Selatan 15224 PENDAHULUAN Bangktan perjalanan (Trp generaton model ) adalah suatu tahapan

Lebih terperinci

Post test (Treatment) Y 1 X Y 2

Post test (Treatment) Y 1 X Y 2 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode Peneltan adalah cara lmah untuk memaham suatu objek dalam suatu kegatan peneltan. Peneltan yang dlakukan n bertujuan untuk mengetahu penngkatan hasl

Lebih terperinci

ε adalah error random yang diasumsikan independen, m X ) adalah fungsi

ε adalah error random yang diasumsikan independen, m X ) adalah fungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Analss regres merupakan suatu metode yang dgunakan untuk menganalss hubungan antara dua atau lebh varabel. Pada analss regres terdapat dua jens varabel yatu

Lebih terperinci

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLlM

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLlM UNSUR-UNSUR CUACA DAN KLlM HANDOKO Jurusan Geofska dan Meteorolog, FMlPA PB Cuaca adalah gambaran konds atmosfer jangka pendek (kurang dar 24 jam) pada suatu lokas tertentu. Pernyataan sepert "har n d

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I ENDHULUN. Latar elakang Mengambl keputusan secara aktf memberkan suatu tngkat pengendalan atas kehdupan spengambl keputusan. lhan-plhan yang dambl sebenarnya membantu dalam penentuan masa depan. Namun

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. diteliti. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi,

BAB 2 LANDASAN TEORI. diteliti. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi, BAB LANDASAN TEORI.1 Populas dan Sampel Populas adalah keseluruhan unt atau ndvdu dalam ruang lngkup yang ngn dtelt. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populas dsebut ukuran populas, sedangkan suatu

Lebih terperinci

PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM

PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM 1) Membuat dstrbus frekuens. 2) Mengetahu apa yang dmaksud dengan Medan, Modus dan Mean. 3) Mengetahu cara mencar Nla rata-rata (Mean). TEORI PENUNJANG

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penggunaan metode eksperimen ini

III. METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penggunaan metode eksperimen ini III. METODE PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode dalam peneltan n adalah metode ekspermen. Penggunaan metode ekspermen n bertujuan untuk mengetahu apakah suatu metode, prosedur, sstem, proses, alat, bahan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. bersifat statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

III. METODE PENELITIAN. bersifat statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan. 3 III. METDE PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan merupakan langkah atau aturan yang dgunakan dalam melaksanakan peneltan. Metode pada peneltan n bersfat kuanttatf yatu metode peneltan yang dgunakan

Lebih terperinci

Kecocokan Distribusi Normal Menggunakan Plot Persentil-Persentil yang Distandarisasi

Kecocokan Distribusi Normal Menggunakan Plot Persentil-Persentil yang Distandarisasi Statstka, Vol. 9 No., 4 47 Me 009 Kecocokan Dstrbus Normal Menggunakan Plot Persentl-Persentl yang Dstandarsas Lsnur Wachdah Program Stud Statstka Fakultas MIPA Unsba e-mal : Lsnur_w@yahoo.co.d ABSTRAK

Lebih terperinci

(DS.2) MENENTUKAN STATISTIK PENGUJIAN UNTUK EKSPERIMEN FAKTORIAL DENGAN DUA KALI PEMBATASAN PENGACAKAN (Studi kasus untuk Desain Split Plot)

(DS.2) MENENTUKAN STATISTIK PENGUJIAN UNTUK EKSPERIMEN FAKTORIAL DENGAN DUA KALI PEMBATASAN PENGACAKAN (Studi kasus untuk Desain Split Plot) (DS.) MENENTUKAN STATISTIK PENGUJIAN UNTUK EKSPERIMEN FAKTORIAL DENGAN DUA KALI PEMBATASAN PENGACAKAN (Stud kasus untuk Desan Splt Plot) Sr Mulyan Sanro Dra, M.Stat, Enny Supartn Dra, MS. Jurusan Statstka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kendaraan bermotor merupakan alat yang palng dbutuhkan sebaga meda transportas. Kendaraan dbag menjad dua macam, yatu kendaraan umum dan prbad. Kendaraan umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan matematika tidak hanya dalam tataran teoritis tetapi juga pada

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan matematika tidak hanya dalam tataran teoritis tetapi juga pada BAB I PENDAHULUAN.. Latar Belakang Masalah Perkembangan matematka tdak hanya dalam tataran teorts tetap juga pada bdang aplkatf. Salah satu bdang lmu yang dkembangkan untuk tataran aplkatf dalam statstka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. karyawan. Masalah stress kerja di dalam organisasi menjadi gejala yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. karyawan. Masalah stress kerja di dalam organisasi menjadi gejala yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pekerjaan merupakan suatu aspek kehdupan yang sagat pentng. Bag masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan yang mendasar, bak dalam rangka memperoleh

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Negosas Negosas dapat dkategorkan dengan banyak cara, yatu berdasarkan sesuatu yang dnegosaskan, karakter dar orang yang melakukan negosas, protokol negosas, karakterstk dar nformas,

Lebih terperinci

Bab III Analisis Rantai Markov

Bab III Analisis Rantai Markov Bab III Analss Ranta Markov Sstem Markov (atau proses Markov atau ranta Markov) merupakan suatu sstem dengan satu atau beberapa state atau keadaan, dan dapat berpndah dar satu state ke state yang lan pada

Lebih terperinci

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS)

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) Wrayant ), Ad Setawan ), Bambang Susanto ) ) Mahasswa Program Stud Matematka FSM UKSW Jl. Dponegoro 5-6 Salatga,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan yang dgunakan dalam peneltan n adalah metode ekspermen dengan bentuk kuas ekspermen. Pre test dlakukan d awal peneltan dan post tes dlakukan

Lebih terperinci

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA Regres Lnear Tujuan Pembelajaran Menjelaskan regres dan korelas Menghtung dar persamaan regres dan standard error dar estmas-estmas untuk analss regres lner sederhana

Lebih terperinci

KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT

KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT Sgt Pratmoko, dkk. Komparas Hasl Belajar Sswa... 99 KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT Sgt Pratmoko,

Lebih terperinci

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan . Pendahuluan ANGKAIAN SEI Dua elemen dkatakan terhubung ser jka : a. Kedua elemen hanya mempunya satu termnal bersama. b. Ttk bersama antara elemen tdak terhubung ke elemen yang lan. Pada Gambar resstor

Lebih terperinci

SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II

SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II SOAL : Suatu Peneltan dlakukan untuk menelaah empat metode pengajaran, yatu Metode A (ceramah d kelas), Metode B (mengajak dskus langsung dengan sswa), Metode C (ceramah

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN BAB TIJAUA KEPUSTAKAA.1. Gambaran Umum Obyek Peneltan Gambar.1 Lokas Daerah Stud Gambar. Detal Lokas Daerah Stud (Sumber : Peta Dgtal Jabotabek ver.0) 7 8 Kawasan perumahan yang dplh sebaga daerah stud

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Karangkajen, Madrasah Tsanawiyah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta,

BAB III METODE PENELITIAN. Karangkajen, Madrasah Tsanawiyah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Peneltan Peneltan n dlakukan pada 6 (enam) MTs d Kota Yogyakarta, yang melput: Madrasah Tsanawyah Neger Yogyakarta II, Madrasah Tsanawyah Muhammadyah Gedongtengen,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu 4 III. METODE PENELITIAN A. Populas Peneltan Peneltan n merupakan stud ekspermen dengan populas peneltan yatu seluruh sswa kelas VIII C SMP Neger Bukt Kemunng pada semester genap tahun pelajaran 01/013

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. awal dengan pemberian latihan dan pemberikan tes akhir yang kemudian melihat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. awal dengan pemberian latihan dan pemberikan tes akhir yang kemudian melihat BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Metode peneltan Metode peneltan yang dlakukan adalah metode ekspermen melakukan tes awal dengan pemberan lathan dan pemberkan tes akhr yang kemudan melhat penngkatan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan dalam upayanya memperoleh pendapatan akan melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan dalam upayanya memperoleh pendapatan akan melakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perusahaan dalam upayanya memperoleh pendapatan akan melakukan penjualan. Sebelum penjualan dlakukan basanya akan dsepakat terlebh dahulu bagamana cara pembayaran

Lebih terperinci

DISTRIBUSI FREKUENSI

DISTRIBUSI FREKUENSI BAB DISTRIBUSI FREKUENSI Kompetens Mampu membuat penyajan data dalam dstrbus frekuens Indkator 1. Menjelaskan dstrbus frekuens. Membuat dstrbus frekuens 3. Menjelaskan macam-macam dstrbus frekuens 4. Membuat

Lebih terperinci

Corresponding Author:

Corresponding Author: Perbandngan Fungs Ketahanan Hdup Dengan Metode Non Parametrk Menggunakan Uj Gehan Dan Uj Cox-Mantel (Lvng wth Securty Functon Comparson Method Usng Non Paremetrk Gehan test and Cox-Mantel Tes Ans Sept

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian, hal ini dilakukan untuk kepentingan perolehan dan analisis data.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian, hal ini dilakukan untuk kepentingan perolehan dan analisis data. BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan harus dsesuakan dengan masalah dan tujuan peneltan, hal n dlakukan untuk kepentngan perolehan dan analss data. Mengena pengertan metode peneltan,

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 0 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD BAB V STATISTIKA Dra.Hj.Rosdah Salam, M.Pd. Dra. Nurfazah, M.Hum. Drs. Latr S, S.Pd., M.Pd. Prof.Dr.H. Pattabundu, M.Ed. Wdya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan adalah cara lmah untuk memaham suatu objek dalam suatu kegatan peneltan. Menurut Sugyono (013: 6) bahwa: Metode peneltan dapat dartkan sebaga

Lebih terperinci

APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Studi Kasus di PT. Sinar Terang Abadi )

APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Studi Kasus di PT. Sinar Terang Abadi ) APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Stud Kasus d PT. Snar Terang Abad ) Bagus Suryo Ad Utomo 1203 109 001 Dosen Pembmbng: Drs. I Gst Ngr Ra Usadha, M.S Jurusan Matematka

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan serangkaian strategi yang digunakan oleh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan serangkaian strategi yang digunakan oleh BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Peneltan Metode peneltan merupakan serangkaan strateg yang dgunakan oleh penelt dalam mengumpulkan data peneltan yang dperlukan untuk mencapa suatu tujuan peneltan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan. 0. Uji fungsi distribusi empiris yang populer, yaitu uji. distribusi nol

BAB I PENDAHULUAN. dan. 0. Uji fungsi distribusi empiris yang populer, yaitu uji. distribusi nol BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagan besar peneltan-peneltan bdang statstka berhubungan dengan pengujan asums dstrbus, bak secara teor maupun praktk d lapangan. Salah satu uj yang serng dgunakan

Lebih terperinci

UKURAN-UKURAN DESKRIPTIF DATA

UKURAN-UKURAN DESKRIPTIF DATA UKURAN-UKURAN DESKRIPTIF DATA Hazmra Yozza Izzat Rahm HG Jurusan Matenatka FMIPA Unand LOGO Kompetens Khusus Menghtung ukuran pemusatan data Menghtung ukuran keragaman data 3 4 Menghtung ukuran poss data

Lebih terperinci

BAB II TEORI ALIRAN DAYA

BAB II TEORI ALIRAN DAYA BAB II TEORI ALIRAN DAYA 2.1 UMUM Perhtungan alran daya merupakan suatu alat bantu yang sangat pentng untuk mengetahu konds operas sstem. Perhtungan alran daya pada tegangan, arus dan faktor daya d berbaga

Lebih terperinci

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Sebuah jarngan terdr dar sekelompok node yang dhubungkan oleh busur atau cabang. Suatu jens arus tertentu berkatan dengan setap busur. Notas standart untuk menggambarkan sebuah jarngan

Lebih terperinci

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN By: Rn Halla Nasuton, ST, MT MERANCANG JARINGAN SC Perancangan jarngan SC merupakan satu kegatan pentng yang harus

Lebih terperinci

PENGARUH PENGUMUMAN DIVIDEN TERHADAP FLUKTUASI HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH PENGUMUMAN DIVIDEN TERHADAP FLUKTUASI HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH PENGUMUMAN DIVIDEN TERHADAP FLUKTUASI HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI Dajukan Sebaga Salah Satu Syarat Untuk menyelesakan Program Sarjana ( S1) Pada Sekolah Tngg Ilmu Ekonom Nahdlatul

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemkran Untuk mencapa tujuan peneltan sebagamana durakan pada BAB 1, maka secara sstemats pendekatan masalah peneltan mengkut alur pkr kerangka pendekatan sstem yang

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DINDING GESER SEBAGAI ELEMEN PENAHAN GEMPA PADA BANGUNAN BERTINGKAT 10 LANTAI

PENGGUNAAN DINDING GESER SEBAGAI ELEMEN PENAHAN GEMPA PADA BANGUNAN BERTINGKAT 10 LANTAI PENGGUNAAN DINDING GESER SEBAGAI ELEMEN PENAHAN GEMPA PADA BANGUNAN BERTINGKAT 10 LANTAI Reky Stenly Wndah Dosen Jurusan Teknk Spl Fakultas Teknk Unverstas Sam Ratulang Manado ABSTRAK Pada bangunan tngg,

Lebih terperinci

SELANG KEPERCAYAAN UNTUK KOEFISIEN GARIS REGRESI LINEAR DENGAN METODE LEAST MEDIAN SQUARES 1 ABSTRAK

SELANG KEPERCAYAAN UNTUK KOEFISIEN GARIS REGRESI LINEAR DENGAN METODE LEAST MEDIAN SQUARES 1 ABSTRAK SELANG KEPERCAYAAN UNTUK KOEFISIEN GARIS REGRESI LINEAR DENGAN METODE LEAST MEDIAN SQUARES Harm Sugart Jurusan Statstka FMIPA Unverstas Terbuka emal: harm@ut.ac.d ABSTRAK Adanya penympangan terhadap asums

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penulis melaksanakan penelitian terlebih dahulu membuat surat izin penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penulis melaksanakan penelitian terlebih dahulu membuat surat izin penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Peneltan Penuls melaksanakan peneltan terlebh dahulu membuat surat zn peneltan yang dtujukan pada SMK Neger 1 Cmah, dengan waktu pelaksanaan peneltan

Lebih terperinci

REDUKSI PEMBOROSAN UNTUK PERBAIKAN VALUE STREAM PRODUKSI MI LETHEK MENGGUNAKAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING

REDUKSI PEMBOROSAN UNTUK PERBAIKAN VALUE STREAM PRODUKSI MI LETHEK MENGGUNAKAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING AGRITECH, Vol. 35, No. 2, Me 2015 REDUKSI PEMBOROSAN UNTUK PERBAIKAN VALUE STREAM PRODUKSI MI LETHEK MENGGUNAKAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING Waste Reducton to Improve Value Stream of M Lethek Producton

Lebih terperinci

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com Apled Customer Satsfacton Index (CSI) and Importance- Performance Analyss (IPA) to know Student Satsfacton Level of Srwjaya Unversty Lbrary Servces Sr Indra Mayant, Irmelyana,Verawaty Jurusan Matematka

Lebih terperinci

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: X D-324

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: X D-324 JURNAL SAINS DAN SENI IS Vol. 1, No. 1, (Sept. ) ISSN: 3-98X D-3 Analss Statstk entang Faktor-Faktor yang Mempengaruh Waktu unggu Kerja Fresh Graduate d Jurusan Statstka Insttut eknolog Sepuluh Nopemper

Lebih terperinci

PERANCANGAN PARAMETER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI UNTUK DATA DISKRIT

PERANCANGAN PARAMETER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI UNTUK DATA DISKRIT BIAStatstcs (05) Vol. 9, No., hal. -7 PERANCANGAN PARAMETER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI UNTUK DATA DISKRIT Faula Arna Jurusan Teknk Industr, Unverstas Sultan Ageng Trtayasa Banten Emal : faulaarna@yahoo.com

Lebih terperinci

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian SIFAT-SIFAT ANALISIS REGRESI PowerPont Sldes by Yana Rohmana Educaton Unversty of Indonesan 2007 Laboratorum Ekonom & Koperas Publshng Jl. Dr. Setabud 229 Bandung, Telp. 022 2013163-2523 Hal-hal yang akan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menghadap era globalsas yang penuh tantangan, aparatur negara dtuntut untuk dapat memberkan pelayanan yang berorentas pada kebutuhan masyarakat dalam pemberan pelayanan

Lebih terperinci