SRI BADUGA MAHARAJA ( ) Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SRI BADUGA MAHARAJA ( ) Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda"

Transkripsi

1 SRI BADUGA MAHARAJA ( ) Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda MAKALAH Disampaikan dalam seminar Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan Diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga 31 Oktober 2012 di Hotel Baltika, Jl. Gatot Subroto, Bandung oleh: Mumuh Muhsin Z. JURUSAN SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2012

2 SRI BADUGA MAHARAJA ( ) Tokoh Sejarah yang Memitos dan Melegenda 1 oleh Mumuh Muhsin Z. 2 ABSTRAK Sri Baduga Maharaja merupakan raja terbesar dan terakhir Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Dikatakan demikian karena raja-raja penggantinya merupakan raja-raja kecil dan menghantarkan kerajaan besar ini menuju pada keruntuhannya. Raja yang kemudian dikenal dengan nama Prabu Siliwangi ini, karena kebesarannya, sangat melegenda dan dimitoskan oleh sebagian masyarakat Sunda, bahkan hingga saat ini. I. Pengantar Dalam rangka menelusuri bukti keberadaan tokoh Sri Baduga Maharaja dan Kerajaan Sunda/Pajajaran, Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga akan mengadakan seminar berjudul Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan. Ini adalah kalimat pertama dari surat Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga kepada para narasumber seminar. Kalimat ini secara implisit mengisyaratkan setidaknya dua hal. Pertama, munculnya dugaan masih ada orang (Ki Sunda) yang tidak percaya bahwa Sri Baduga dan Kerajaan Sunda/Pajajaran itu adalah sejarah (pernah ada dalam dunia nyata, aya dikieuna). Dengan seminar ini diharapkan, setelah ditunjukkan bukti keberadaannya (melalui sumber, data, fakta) orang yang semula tidak tidak percaya berubah menjadi percaya. Kedua, masih ada orang (Ki Sunda) yang ragu akan keberadaan Sri Baduga dan Kerajaan 1 Makalah disampaikan dalam seminar Sri Baduga dalam Sejarah, Filologi, dan Sastra Lisan ; diselenggarakanoleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, 31 Oktober 2012 di Hotel Baltika, Jl. Gatot Subroto, Bandung. 2 Staf Pengajar Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. 2

3 Sunda/Pajajaran sebagai kenyataan sejarah. Melalui seminar ini diharapkan terjadi perubahan dari ragu menjadi yakin. Selebihnya, ada orang yang menganggap bahwa keberadaan Sri Baduga dan Kerajaan Sunda/Pajajaran sudah tamat dan tuntas, tidak perlu dibincangkan lagi. Kalaupun masih ada diskusi, bukan mendiskusikan ada atau tidak adanya, tapi adanya seperti apa. Tentu saja merekonstruksi sejarah Kerajaan Sunda dan Sejarah Sri Baduga secara komprehensif merupakan pekerjaan yang besar dan sangat serius; bahkan, bisa jadi, terlalu ambisius mengingat kurangnya sumber yang handal dan lengkap. Berkait dengan dua issue ini (keberadaan Sri Baduga dan Kerajaan Sunda/Pajajaran) sebaiknya kita merujuk pada dalil: ada sumber ada sejarah, tidak ada sumber tidak ada sejarah. Pernyataan yang aksiomatik ini hampir tak terbantahkan lagi kebenarannya. Sekarang pertanyaannya adalah adakah sumber (sources, facts) yang menunjukkan eksistensi Sri Baduga dan Kerajaan Sunda/Pajajaran? Dalam makalah ini akan dibahas terlebih dahulu mengenai Kerajaan Sunda/Pajajaran, kemudian Sri Baduga. Sumber yang berkaitan dengan Kerajaan Sunda/Pajajaran dan Sri Baduga ini bukan sekedar ada, tapi banyak. Oleh karena itu secara awal dapat dikatakan bahwa eksistensi Kerajaan Sunda/Pajajaran dan Sri Baduga tidak perlu diragukan. Kalau pun ada yang perlu didiskusikan, bukan lagi persoalan apakah Kerajaan Sunda/Pajajaran dan Sri Baduga pernah ada atau tidak dan adakah bukti historis mengenai keberadaannya, karena persoalan ini sudah sangat jelas dan sudah menjadi fakta keras (hard-fact). Akan tapi yang masih menarik didiskusikan adalah mengenai persoalan-persoalan lain seperti mana yang lebih tepat di antara tiga nama yang disebut dalam sumber: Pakuan Pajajaran, Pakuan, atau Pajajaran; apakah Pakuan Pajajaran itu nama keraton, nama (ibu) kota, atau nama kerajaan; siapa pendiri keraton Pakuan Pajajaran, tahun berapa kerajaan itu didirikan, di mana letaknya, dan sebagainya. Demikian juga dengan Sri Baduga; bagaimana kehidupan keluarganya, bagaimana perjalanan karir politiknya, kepercayaan (agama) apa yang dianutnya, dan sebagainya. 3

4 II. Pakuan Pajajaran 2.1 Nama Pakuan Pajajaran Mengenai nama dan keberadaan Pakuan Pajajaran terdapat pada sejumlah sumber. Sumber-sumber yang memuat nama Pakuan Pajajaran bisa dikategorikan otentik, orisinal, dan sezaman. Sumber tersebut tidak kurang dari enam buah, terdiri atas lima lembar berupa prasasti tembaga (dari Desa Kebantenan, Bekasi, dikumpulkan oleh Raden Saleh) 3 dan prasasti batu yang ada di lingkungan Batutulis. Prasasti tembaga Kebantenan yang lima itu memuat tiga hal, dua lembar berupa piteket 4 dan tiga lembar berupa sakakala 5 (Danasasmita, 2003: 44-45). Bunyi sumber-sumber itu sebagai berikut: 6 Piteket I: Pun, ini piteket nu séba ka Pajajaran. Piteket II: Pun, ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang Ratu Déwata. Sakakala: Ong awignam astu, nihan sakakala Rahyang Niskala Wastu Kancana, maka nguni ka Susuhunan di Pakuan Pajajaran pun. Prasasti Batutulis: Wangna pun, ini sakakala, Prebu Ratu purané pun, diwastu diya wingaran Prebu Guru Déwataprana diwastu diya dingaran Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Déwata pun ya nu nyusuk na Pakwan. 3 Prasasti Kebantenan dibuat pada zaman Sri Baduga, tentu atas perintah Sri Baduga karena semuanya berupa piagam resmi. 4 Piteket berupa piagam langsung dari raja. 5 Sakakala berisi pengukuhan jasa atau aturan dari raja yang sudah wafat. 6 Semua kutipan naskah dan isi prasasti dalam makalah ini bersumber dari Saleh Danasamita (2003). 4

5 (Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, dilantik beliau memakai nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik (lagi) dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata). Sumber-sumber lain yang mejadi petunjuk keberadaan Pakuan Pajajaran adalah: 1) Carita Parahiyangan: Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka sriman sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran, nu mikadatwan Sri Bima (P) unta (Na) rajana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratudéwata (CP hal. 30 recto). (Sang Susuktunggal, yaitu yang membuat tempat duduk bagi yang masyhur keindahan gelarnya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, yang tinggal di kedaton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratudéwata). (Danasamita, 2003: ; cf. Danasamita, 2006: 31). 2) Koropak 406 atau Fragmen Carita Parahiyangan: Datang ka Pakwan mangadeg di kadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta pahi dieusian urut Sripara Pasela Parahiyangan ku Rakéyan Darmasiksa. Ti inya dibeukah kabwatan. Kacarita Rakéyan Darmasiksa heubeul siya ngadeg ratu di Pakwan saratus sapuluh taun. Heubeul siya adeg ratu di Pakwan Pajajaran pun. Telas sinurat bwana kapedem. (Tiba di Pakuan Ilalu bertahta ddi keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Selesailah semua diisi bekas para leluhur penyelang oleh Rakéyan Darmasiksa. Kemudian diperluas sampai selesai. Diceritakan Rakéyan Darmasiksa lamanya berkuasa sebagau ratu di Pakuan 110 tahun. Beliau berkuasa lama sebagai ratu di Pakuan Pajajaran. Selesai ditulis pada tahun 30) (Danasamita, 2003: ; cf. Danasamita, 2006: dan 61 62). 3) Naskah lontar MSA. Naskah lontar (sebetulnya nipah) ditemukan di Kabuyutan Ciburuy oleh Brandes. Naskah ini disebut juga Naskah MSA. Pembukaan pada naskah ini berbunyi: Awignamastu. Nihan tembey sasakala Rahyang Banga masa siya nyusuk na Pakwan. (Semoga selamat. Begini permulaannya peringatan Rahiyang Banga waktu beliau nyusuk Pakwan). 4) Carita Parahiyangan: 5

6 Sang Haliwungngan, inya Sang Susuktunggal nu munar na Pakuan. (Sang Haliwungan, yaitu Sang Susuktunggal yang ngabaru di Pakuan). 5) Naskah 406: Di inya urut kadatwan. Ku bujangga Sédamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa jeung bujangga Sédamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda Majayajati ku bujangga Sédamanah, dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Danasamita, 2003: ; cf. Danasamita, 2006: 31). (Di sana bekas keraton. Oleh bujangga Sédamanah diberi nama Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Selesai [dibangun] diberi berkah oleh Maharaja Tarusbawa dan bujangga Sédamanah. Dicari ke hulu Cipakancilan. Ketemu Bagawat Sunda Majayajati oleh bujangga Sédamanah, dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa). 6) Prasati Kebantenan I: Pun ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang Ratudéwata. 7) Prasasti Kabantenan II: Pun ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang Ratudéwata. 8) Piagem Kabantenan V: Pun, ini piketet nu seba ka Pajajaran, miteketan kabuyutan di Sunda Sembawa. 9) Prasasti Kebantenan I III: Ong Awignamastu nihan sakakala ra Rahyang Niskala Wastu Kancana, maka nguni ka Susuhunan ayeuna di Pakuan Pajajaran. Dari sumber-sumber di atas ada tiga nama yang digunakan: Pakuan, Pajajaran, dan Pakuan Pajajaran. Ketiga nama itu menunjuk pada maksud yang 6

7 sama untuk identitas yang sama pula. Dengan demikian, Pakuan/Pajajaran/Pakuan Pajajaran sebagai nama diri atau nama identitas eksistensinya dapat dipertanggungjawabkan secara historis. 2.2 Kerajaan Pakuan Pajajaran Dalam sumber-sumber di atas, memang, tidak ada yang secara eksplisit menyebutkan bahwa Pakuan/Pajajaran/Pakuan Pajajaran sebagai nama kerajaan. Bukti-bukti sejarah yang ada, hampir bisa dipastikan, semuanya menunjuk pada nama pusat kerajaan atau ibu kota. 7 Kerajaannya sendiri dikenal dengan nama Kerajaan Sunda. Nama inilah yang digunakan terutama oleh orang luar ketika menyebut kerajaan yang ada di Tatar Sunda. Namun demikian, harus diakui bahwa tidak jarang nama kerajaan lebih dikenal melalui nama ibu kotanya. Dalam hal ini, istilah Kerajaan Pajajaran berarti Kerajaan Sunda yang ibu kotanya bernama Pajajaran. Bahwa nama keraton kemudian meluas menjadi nama ibu kota dan nama kerajaan adalah hal yang biasa. Sebagai contoh, dalam prasasti Putih di Lampung, Kesultanan Banten dinamakan Nagara Surasowan, padahal Surasowan itu nama keraton Banten. Saunggalah adalah nama keraton, tapi kemudian menjadi nama kota. Yogyakarta pun sebenarnya nama keraton, Ngayogyakarta Hadiningrat, tapi kemudian jadi populer sebagai nama kesultanan/kerajaan (Danasasmita, 1975: 59). Dengan demikian, melalui konstruksi bernalar seperti itu Kerajaan Pajajaran sebagai sebuah eksistensi bisa diakui keberadaannya secara historis. Tentang asal-usul dan arti kata Pakuan Pajajaran sendiri terdapat banyak pendapat (Sumadio, 1974: 383), yaitu: 7 Pajajaran sebagai nama kerajaan ditemukan terutama dalam naskah-naskah yang bernilai sastra, termasuk carita pantun. Dalam carita pantun bahkan disebutkan Pajajaran terbagi tiga wilayah: Pajajaran Timur, Pajajaran Tengah, dan Pajajaran Barat (Sumadio, 1974: 376). 7

8 1) Menghubungkan kata pakwan dengan paku (sejenis pohon, cycas circinalis), sedangkan kata pajajaran diartikan sebagai tempat yang berjajar. Pakuan pajajaran diartikan sebagai tempat dengan pohon paku yang berjajar. 2) Menghubungkan kata pakwan dengan kata kuwu. Dengan menunjukkan bukti bahwa sebutan pakuwan dan kuwu terdapat dalam Nagarakertagama. 3) Kata pakwan berasal dari kata paku (pasak). Kata paku dapat dihubungkan dengan lingga kerajaan yang terletak di samping prasasti Batutulis. Paku (lingga) berarti pusat atau poros dunia serta sangat erat hubungannya dengan kedudukan raja sebagai pusat jagat. Ketiga pendapat di atas dibantah oleh Saleh Danasasmita (2003: 18-19). Dengan berdasar pada Carita Parahiyangan 8 dan Koropak 406 yang disebut juga Fragmen Carita Parahiyangan 9, beliau bersimpulan bahwa Pakuan Pajajaran berarti keraton yang berjajar. Dikatakan berjajar karena jumlah bangunan keratonnya ada lima yang masing-masing diberi nama: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang berbentuk federal yang membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja kecil. Di antaranya adalah Sangiang, Saunggalah, Sindangkasih, Banten, Cirebon, Galuh, Kawali, dan Pakuan. Hanya tiga kerajaan yang disebut terakhir inilah yang pernah menjadi pusat atau ibu kota Kerajaan Sunda. Pusat atau ibu kota Kerajaan Sunda memang berpindah-pindah. Mengenai kerjaan Pakuan Pajajaran sendiri sudah berdiri sejak awal abad ke-8. Pendirinya adalah Maharaja Tarusbawa (identik dengan nama Tohaan di Sunda) 10. Keterangan ini didasarkan pada sejumlah sumber, yaitu Koropak 406, Carita Parahiyangan, Pransasti Canggal, dan naskal lontar MSA. 8 Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka sriman sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran, nu mikadatwan Sri Bima (P) unta (Na) rajana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratudéwata 9 Datang ka Pakwan mangadeg di kadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta pahi dieusian urut Sripara Pasela Parahiyangan ku Rakéyan Darmasiksa. Ti inya dibeukah kabwatan. Kacarita Rakéyan Darmasiksa heubeul siya ngadeg ratu di Pakwan saratus sapuluh taun. Heubeul siya adeg ratu di Pakwan Pajajaran pun. Telas sinurat bwana kapedem. 10 Tarusbawa diganti oleh mantunya bernama Maharaja Harisdarma (identik dengan Sanjaya). Harisdarma diganti oleh puteranya bernama Tamperan. Tamperan diganti oleh anaknya bernama 8

9 III. Sri Baduga Maharaja 3.1 Kehidupan dan Karir Politik Sri Baduga Maharaja sebagai tokoh sejarah banyak disebutkan dalam beragam sumber, mulai dari sumber lisan, tulisan, hingga terpateri dalam prasasti. Dengan demikian, keberadaan Sri Baduga sebagai tokoh sejarah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan keberadaan beliau di pangung sejarah kehidupan tidak sekedar ada tapi merupakan sosok yang pinunjul, primus inter pares, raja terbesar di antara raja-raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Prestasi beliau dalam berbagai bidang disebutkan dalam banyak naskah dan kajian-kajian kontemporer. Salah satu di antara kajian kontemporer mengenai kepemimpinannya dilakukan oleh Prof. Edi S. Ekadjati (2005: ) dan Saleh Danasasmita (2003). Malahan, Prof. Edi S. Ekadjati memberi judul babnya Prabu Siliwangi: Pahlawan Kebudayaan Sunda. Prabu Siliwangi adalah nama julukan untuk Sri Baduga Maharaja. Karena kebesaran dan prestasinya, tidak heran jika ketokohan Sri Baduga demikian melegenda dan banyak dimitoskan. Sebelum nama Sri Baduga Maharaja dilekatkan pada raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, beliau memiliki beberapa nama: Prabu Jayadewata, Ratudewata, dan Prebu Guru Dewataprana. Nama Sri Baduga Maharaja diberikan ketika beliau dilantik jadi Raja Agung Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Nama lengkap beliau adalah Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Hal tersebut diabadikan pada Prasasti Batu Tulis: Ini sasakala. Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Rahiyang Banga (Danasasmita, 2003: 23). Sanjaya bisa dipastikan berkuasa pada abad ke-8, karena beliau membuat Prasasti Canggal pada tahun 732 Masehi. Bila pada zaman Sanjaya Pakuan Pajajaran sudah ada maka dapat dipastikan Pakuan Pajajaran sudah ada setidaknya pada awal abad ke-8. 9

10 (Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, beliau dilantik menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata ). Sri Baduga Maharaja sejak kecil ada dalam asuhan Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga kemudian dibesarkan oleh kakeknya yang bernama Niskala Wastu Kancana ketika beliau menjadi raja Kerajaan Sunda yang memerintah selama 104 tahun, dari tahun 1371 sampai Keratonnya dikenal dengan sebutan Karaton Surawisesa yang terletak di pusat kerajaan yaitu Kawali. Kerajaan Sunda membawahi sejumlah kerajaan kecil di daerah-daerah, beberapa di antaranya adalah Kerajaan Sindangkasih (Majalengka), Kerajaan Saunggalah (Kuningan), Kerajaan Japura, Kerajaan Singapura (Cirebon), Kerajaan Pakuan (Bogor). Muncul pertanyaan, apakah Niskala Wastu Kancana itu ayahya Sri Baduga? Kalau bukan, siapa ayahnya dan mengapa Sri Baduga tidak diasuh dan dibesarkan oleh ayahnya? Mengapa juga ayahnya tidak populer di antara jajaran daftar raja-raja Kerajaan Sunda? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu demikian. Niskala Wastu Kancana memang bukan ayah Sri Baduga. Niskala Wastu Kancana adalah kakeknya. Ayah Sri Baduga sendiri bernama Dewa Niskala/Ningrat Kancana/Jayaningrat/Tohaan di Galuh. Beliau menjadi raja Kerajaan Sunda selama 7 tahun, dari 1475 sampai Pusat kerajaannya berada di Galuh. Dewa Niskala memang kurang populer dikarenakan beliau mendapat sanksi adat, karena keuna ku kalawisaya (ngalakukeun gawe hianat) berupa menikahi istri larangan. Itulah sebabnya pengasuhan Sri Baduga diambil alih oleh kakeknya. Kebesaran Sri Baduga pada masa-masa selanjutnya adalah berkat asuhan dan didikan kakeknya, bahkan dalam beberapa hal, dalam menjalankan pemerintahannya, meniru kakeknya. Karir politik Sri Baduga Maharaja diawali sebagai ratu di kerajaankerajaan kecil itu. Di antaranya Sri Baduga Maharaja pernah jadi ratu di Kerajaan Sindangkasih dan di Kerajaan Pakuan. Ketika berkuasa di Sindangkasih, Sri Baduga Maharaja menikah dengan Ambetkasih. Dari istri yang ini, Sri Baduga 10

11 Maharaja tidak diceritakan memiliki anak. Kemudian pada tahun 1422 Sri Baduga Maharaja menikah lagi dengan Subanglarang di Kerajaan Singapura. Dari pernikahan dengan Subanglarang, Sri Baduga Maharaja dikaruniai tiga orang anak, yaitu Walangsungsang (lahir 1423), Larasantang (lahir 1426), jeung Rajasangara (lahir 1428). Walangsungsang dan Larasantang lahir di Singapura, sedangkan Rajasangara lahir di Pakuan. Kepindahan Sri Baduga Maharaja ke Pakuan terjadi kira-kira tahun Di Pakuan Sri Baduga Maharaja diangkat sebagai ratu mewarisi tahta dari uwanya, Susuktunggal selama 55 tahun ( ). Selanjutnya, dari tahun 1482 sampai 1521 Sri Baduga Maharaja menjadi maharaja Kerajaan Sunda. Pada saat Sri Baduga Maharaja inilah pusat kerajaan pindah dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan Pajajaran (Bogor). Oleh karena itu, sejak itulah nama kerajaan dikenal dengan sebutan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Di Pakuan Sri Baduga Maharaja punya istri lagi bernama Kentring Manik. Ia adalah anak Susuktunggal, uwa-nya yang pernah jadi ratu Pakuan. Dari perkawinan ini Sri Baduga Maharaja dikaruniai anak bernama Surawisesa. 11 Berdasarkan sumber tradisional (cerita rakyat, cerita lisan) disebutkan istri Sri Baduga itu berjumlah saratus lima puluh punjul hiji. Akan tetapi yang terkenal dalam sejarah setidaknya disebut tiga saja, yaitu Ambetkasih (puteri raja Sindangkasih), Subanglarang (puteri raja Singapura, Ki Gedeng Tapa/Ki Jumanjan Jati), dan Kentring Manik (puteri Susuktunggal, ratu kerajaan Pakuan, pamannya Sri Baduga). Hal yang kontroversial tentang Sri Baduga adalah wafatnya, kapan dan di mana kuburannya. Yang diketahui dengan jelas, wafatnya Sri Baduga adalah tahun Mengenai tanggal dan bulannya tidak ada catatannya. Adapun mengenai kuburannya banyak pihak yang mengklaim sehingga makamnya tersebar di banyak daerah di Tatar Sunda. Untuk mengakomodasi kontroversi ini, sebagian pakar menggunakan dua istilah yang berbeda maknanya: makam dan kuburan. Makam mengacu pada 11 Dalam babad dikenal dengan sebutan Guru Gantangan; dalam sumber Portogis disebut Ratu Samiam, dalam cerita pantun disebut Munding Laya;, dan dalam Naskah Carita Parahiyangan disebut Surawisesa (Danasasmita, 2003: 108).. 11

12 pemahaman tilem, pernah menginjakkan kaki di sebuah daerah tertentu, atau meninggalkan benda pusaka di suatu daerah tertentu. Dengan pengertian seperti ini bisa dipahami bila makam Sri Baduga itu banyak karena tempat yang pernah disinggahinya banyak. Adapun kuburan mengacu pada pengertian tempat jasad dikuburkan. Oleh karena itu, kuburan Sri Baduga harus satu, tidak bisa lebih. Dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Sri Baduga (Prabu Siliwangi) dikuburkan di Rancamaya, Bogor. Dalam naskah itu dituturkan Sri Baduga sebagai Sang mwakta ring Rancamaya (nu sumare di Rancamaya) (Danasasmita, 2003: 61-62). 3.2 Sri Baduga Maharaja Dijuluki Prabu Siliwangi Saya beranggapan bahwa orang bersepakat (bulat) akan keberadaan Sri Baduga Maharaja sebagai tokoh sejarah. Berbeda halnya terhadap Prabu Siliwangi. Masih ada orang yang beranggapan bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos. Bila saja orang bersepakat dengan penafsiran Saleh Danasasmita, misalnya, yang menyatakan bahwa julukan Prabu Siliwangi hanya mengacu pada satu tokoh, yaitu Sri Baduga Maharaja, kontroversi itu tidak akan ada. Hal yang lebih menarik didiskusikan adalah mengapa Sri Baduga dijuluki Prabu Siliwangi? Mengapa juga tokoh Prabu Siliwangi ini demikian populer, bahkan banyak dimitoskan? Siliwangi berasal dari kata asilih wewangi yang berarti ganti nama atau ganti ngaran. Dalam bahasa Sunda (kuna), nama (ngaran) sering disebut juga wawangi. Istilah wawangi hanya digunakan untuk seorang tokoh terkenal dan punya nama harum. Secara historis Prabu Jayadewata memang berganti nama (asilih wewangi, silihwangi, siliwangi). Pergantian nama ini terjadi ketika pelantikan yang kedua kalinya. Semula bernama Prebu Guru Dewataprana, ketika dilantik jadi Raja Agung Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran diganti lagi menjadi Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pergantian nama ini diabadikan ada Prasasti Batu Tulis yang berbunyi: 12

13 Ini sasakala. Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Keterangan Babad Siliwangi yang menyebutkan nama siliwangi berarti asilih wewangi (mengganti nama) cocok dengan keterangan yang ada pada Prasasti Batutulis. Atas dasar alasan ganti nama atau ganti gelar itulah, Sri Baduga Maharaja menjadi terkenal dengan julukan Siliwangi (Danasasmita, 2003: 67). Mengapa nama Sri Baduga atau nama Prabu Siliwangi demikian terkenal jauh melebihi nama-nama raja Kerajaan Sunda lainnya. Terkesan seolah-olah raja Sunda itu identik dengan Sri Baduga atau Prabu Siliwangi? Kenyataan ini bisa dipahami sebab raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang paling lama memerintah dan paling berhasil adalah Sri Baduga Maharaja. Raja-raja sesudahnya sangat menurun kualitasnya. Misalnya saja, setelah Sri Baduga meninggal, kedudukannya sebagai raja digantikan oleh anaknya, Surawisesa. Pada masa ia memerintah selama 14 tahun ( ), tidak kurang dari 15 kali peperangan terjadi. Raja-raja setelah Surawisesa makin melorot lagi kualitasnya. Selanjunya kerajaan makin melemah karena perang hampir setengah abad terjadi, hingga akhirnya Kerajaan Sunda runtag pada masa Kerajaan Sunda dipimpin oleh Nursiya Mulya ( ). Sejak masa Surawisesa, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi sudah dipuji-puji jasa dan kebesarannya. Oleh generasi yang kemudian pujian kepada Sri Baduga atau Prabu Siliwangi makin besar bahkan banyak hal dari kehidupannya yang dimitoskan. Sebabnya adalah karena setelah periode Sri Baduga, Kerajaan Sunda tidak pernah bangkit lagi. Dengan demikian bisa dipahami jika segala kebanggaan dan harga diri kasundaan disandarkan kepada Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Nama Prabu Siliwangi disebut juga dalam beberapa sumber (naskah), di antaranya dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), Carita Parahiyangan (akhir abad XVI), Naskah Wangsakerta (akhir abad XVII), Carita Purwaka Caruban Nagari (1720), dan Babad Siliwangi. 13

14 Selain itu, ada semacam memory collective di kalangan masyarakat Tatar Sunda, yang turun-temurun, mengenai eksistensi tokoh Prabu Siliwangi. Oleh karena itu, Prabu Siliwangi menjadi semacam accepted history. Eksplisitas dalam naskah-naskah dan sikap-sikap kultural masyarakat turut mempengaruhi tumbuhnya memory collective itu dalam pikiran dan emosi manusia Sunda, yang pada akhirnya jadi fakta mental dan fakta sosial yang menguatkan sikap dan keyakinan akan eksistensi Prabu Siliwangi. Begitu pula adanya catatan silsilah merupakan sumber lain yang makin menguatkan keyakinan bahwa Prabu Siliwangi itu ada. Silsilah rara-raja Cirebon, misalnya, selalu mengaitkan leluhurnya pada Prabu Siliwangi. Silsilah seperti itu bukan muncul baru-baru ini, tapi turun-temurun dari generasi yang paling tua. Kenyataan ini makin menguatkan sandaran pendapat bahwa Prabu Siliwangi itu ada sebagai tokoh sejarah. IV. Simpulan 1. Kerajaan Sunda/Pajajaran adalah fakta sejarah. Demikian juga Sri Baduga Maharaja, beliau adalah tokoh sejarah,bukan dongeng, bukan mitos. 2. Keberadaan keduanya didukung oleh banyak sumber, mulai dari sumber lisan, sumber tulisan, hingga sumber prasasti. 3. Prabu Siliwangi adalah nama julukan untuk Sri Baduga Maharaja. 14

15 Daftar Sumber Asmar, Teguh et al Sejarah Jawa Barat dari Masa Pra-Sejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Provinsi Jawa Barat Ekadjati, Edi S Kebudayaan Sunda; Zaman Pajajaran. Jilid 2. Jakarta:Pustaka Jaya Sunan Gunung Jati; Penyebar dan Penegak Islam di Tatar Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya. Danasasmita, Saleh Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Girimukti. Iskandar, Yoseph Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Bandung: Geger Sunten. Muhsin Z., Mumuh Eksistensi Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi, Makalah disampaikan dalam Seminar Prodi Ilmu Sejarah pada hari Senin 28 Maret 2011 di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor; hlm Prabu Siliwangi; Sejarah atau Dongeng?, Makalah disampaikan dalam Dialog Interaktif Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar- Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI pada tanggal 20 Mei 2011, bertempat di Gedung BI Perwakilan Jawa Barat; hlm Prabu Siliwangi, Cupumanik, No /Nopember-Desember 2011; hlm Prabu Siliwangi; Kontroversi dan Misteri, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Prabu Siliwangi; diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Sukabumi pada Kamis, 05 April 2012 di Gedung Juang 45, Jl. Veteran II Kota Sukabumi; hlm

16 Pajajaran dan Siliwangi dalam Lirik Tembang Sunda, Jurnal Seni dan Budaya Panggung, Vol. 22, No. 2, April Juni 2012; hlm Rosidi, Ayip Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda. Bandung: Kiblat. Sumadio, Bambang (ed.) Jaman Kuna, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejaran Nasional Indonesia II. Edisi ke-4. Cetakan ke-8. Jakarta: Balai Pustaka. 16

17 Lampiran I: RAJA-RAJA KERAJAAN SUNDA ANTARA PERANG BUBAT SAMPAI RUNTUHNYA PAJAJARAN NO. NAMA MASA BERKUASA LAMANYA MEMERINTAH (TAHUN) LETAK IBU KOTA KERAJAAN 1 Bunisora/Linggabuana/ Kawali Prabu Maharaja 2 Wastu Kancana Kawali 3 Tohaan di Galuh Galuh 4 Ratu Jayadewata/Sri Pakuan Pajajaran Baduga Maharaja 5 Surawisesa Pakuan Pajajaran 6 Ratu Dewata Pakuan Pajajaran 7 Ratu Saksi Pakuan Pajajaran 8 Tohaan di Majaya Pakuan Pajajaran 9 Nursiya Mulya Pakuan Pajajaran Sumber: Saleh Danasasmita (2003: 35). 17

18 SILSILAH SRI BADUGA MAHARAJA SRI BADUGA MAHARAJA (PRABU SILIWANGI) beristeri a.l.: AMBETKASIH (Sindangkasih) SUBANGLARANG (Singapura/Cirebon) beranak: KETRINGMANIK (Pakuan) beranak: WALANGSUNGSANG LARASANTANG nikah dengan SULTAN BANI ISRAIL beranak: RAJASANGARA SURAWISESA SUNAN GUNUNG JATI nikah dengan: KAUNG NGANTEN PUTERI TEPAS Menurunkan raja-raja Banten Menurunkan raja-raja Cirebon 18

EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN DAN PRABU SILIWANGI

EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN DAN PRABU SILIWANGI EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN DAN PRABU SILIWANGI MAKALAH disampaikan dalam Seminar Prodi Ilmu Sejarah pada hari Senin 28 Maret 2011 di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor oleh: Mumuh Muhsin

Lebih terperinci

Mumuh Muhsin Z. KUJANG, PAJAJARAN, DAN PRABU SILIWANGI

Mumuh Muhsin Z. KUJANG, PAJAJARAN, DAN PRABU SILIWANGI Mumuh Muhsin Z. KUJANG, PAJAJARAN, DAN PRABU SILIWANGI MASYARAKAT SEJARAWAN INDONESIA CABANG JAWA BARATPRESS BANDUNG 2012 KUJANG, PAJAJARAN, DAN RABU SILIWANGI oleh: Mumuh Muhsin Z. Copyright 2012 by Mumuh

Lebih terperinci

Prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati perintah Rakryan Juru Pangambat pada tahun Saka 854 untuk mengembalikan kekuasaan kepada raja

Prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati perintah Rakryan Juru Pangambat pada tahun Saka 854 untuk mengembalikan kekuasaan kepada raja Prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati perintah Rakryan Juru Pangambat pada tahun Saka 854 untuk mengembalikan kekuasaan kepada raja Sunda..ba(r) pulihkan haji sunda.. Dengan Sanjaya dalam ki tab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Sunda pada umumnya sudah mengenal dengan kata Siliwangi dan Padjajaran. Kedua kata tersebut banyak digunakan dalam berbagai hal. Mulai dari nama tempat,

Lebih terperinci

TINJAUAN VISUAL AKSARA PADA PRASASTI BATU TULIS BOGOR

TINJAUAN VISUAL AKSARA PADA PRASASTI BATU TULIS BOGOR TINJAUAN VISUAL AKSARA PADA PRASASTI BATU TULIS BOGOR DK 38315 Skripsi Semester II 2009 / 2010 Oleh : Nevy Astuti Kumalasari 51906004 Program Studi Desain Komunikasi Visual FAKULTAS DESAIN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II PRABU SILIWANGI DAN PAKUAN PAJAJARAN

BAB II PRABU SILIWANGI DAN PAKUAN PAJAJARAN BAB II PRABU SILIWANGI DAN PAKUAN PAJAJARAN II.1 Prabu Siliwangi Zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Dalam Prasasti Batutulis diberitakan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 SEJARAH KERAJAAN CIREBON DAN KERAJAAN BANTEN Disusun Oleh Kelompok 3 Rinrin Desti Apriani M. Rendi Arum Sekar Jati Fiqih Fauzi Vebri Ahmad UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 KERAJAAN CIREBON Kerajaan

Lebih terperinci

BAB II AKSARA DAN PRASASTI

BAB II AKSARA DAN PRASASTI BAB II AKSARA DAN PRASASTI 2.1. Zaman Praaksara Menurut Matroji dalam buku Sejarah SMA, Zaman Praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Masyarakat yang belum mengenal tulisan berbeda

Lebih terperinci

SUNDA, PRIANGAN, DAN JAWA BARAT

SUNDA, PRIANGAN, DAN JAWA BARAT SUNDA, PRIANGAN, DAN JAWA BARAT MAKALAH Disampaikan dalam Diskusi Hari Jadi Jawa Barat Diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat Bekerja Sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mengenai tokoh Sanjaya sebagai pendiri Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah

BAB I PENDAHULUAN. Mengenai tokoh Sanjaya sebagai pendiri Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mengenai tokoh Sanjaya sebagai pendiri Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini. Jati diri Sanjaya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kearifan nenek moyang yang menciptakan folklor (cerita rakyat, puisi rakyat, dll.)

BAB I PENDAHULUAN. kearifan nenek moyang yang menciptakan folklor (cerita rakyat, puisi rakyat, dll.) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ada peribahasa yang menyebutkan di mana ada asap, di sana ada api, artinya tidak ada kejadian yang tak beralasan. Hal tersebut merupakan salah satu kearifan nenek

Lebih terperinci

TOKOH PENYIAR AGAMA ISLAM BERIKUT WILAYAHNYA ENCEP SUPRIATNA

TOKOH PENYIAR AGAMA ISLAM BERIKUT WILAYAHNYA ENCEP SUPRIATNA TOKOH PENYIAR AGAMA ISLAM BERIKUT WILAYAHNYA ENCEP SUPRIATNA WILAYAH BANTEN Menurut berita dari Tome Pires (1512-1515) menyebutkan bahwa di daerah Cimanuk, kota pelabuhan dan batas kerajaan Sunda dan Cirebon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Definisi kata kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Definisi kata kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Definisi kata kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perihal pemimpin atau cara memimpin (dari seseorang). (Sugono, 2014:1075). Kepemimpinan

Lebih terperinci

Teks, Tekstologi, dan Kritik Teks

Teks, Tekstologi, dan Kritik Teks Teks, Tekstologi, dan Kritik Teks Oleh: Tedi Permadi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni - Universitas Pendidikan

Lebih terperinci

Daftar Pustaka. Danandjaja, James, 1984, Folklor Indonesia; Ilmu Gosip, Dongeng, Dan Lain-lain, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta

Daftar Pustaka. Danandjaja, James, 1984, Folklor Indonesia; Ilmu Gosip, Dongeng, Dan Lain-lain, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta Daftar Pustaka Danandjaja, James, 1984, Folklor Indonesia; Ilmu Gosip, Dongeng, Dan Lain-lain, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta Sutaarga, Drs. Moh. Amir, 1966, Prabu Siliwangi ; Ratu Purana Prebu Guru

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dulu sampai saat ini. Warisan budaya berupa naskah tersebut bermacam-macam

BAB 1 PENDAHULUAN. dulu sampai saat ini. Warisan budaya berupa naskah tersebut bermacam-macam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah kuno adalah benda budaya yang merekam informasi dan pengetahuan masyarakat lampau yang diturunkan secara turun temurun semenjak dulu sampai saat ini. Warisan

Lebih terperinci

STUDI LAPANGAN BAGI PENELITIAN SEJARAH

STUDI LAPANGAN BAGI PENELITIAN SEJARAH STUDI LAPANGAN BAGI PENELITIAN SEJARAH MAKALAH disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penelitian, diselengggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, di Hotel Agusta Jl.

Lebih terperinci

BAB III AKSARA SUNDA

BAB III AKSARA SUNDA BAB III AKSARA SUNDA 3.1. Perihal Aksara Sunda Aksara Sunda atau yang disebut huruf Kaganga bukan milik sendiri maksudnya adalah aksara Sunda merupakan aksara hasil modifikasi dari aksara aksara daerah

Lebih terperinci

SEMIOTIKA SILIWANGI PADA MASYARAKAT SUNDA

SEMIOTIKA SILIWANGI PADA MASYARAKAT SUNDA SEMIOTIKA SILIWANGI PADA MASYARAKAT SUNDA Retty Isnendes Abstrak: Tulisan ini membahas Siliwangi sebagai tanda pada masyarakat Sunda. Siliwangi yang terkenal pada masyarakat Sunda dikaji melalui pendekatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat

Lebih terperinci

NOVEL DAN SEJARAH MAKALAH

NOVEL DAN SEJARAH MAKALAH NOVEL DAN SEJARAH MAKALAH Disampaikan dalam Bedah Novel Sejarah Remy Sylado. 2010. Namaku Mata Hari. Jakarta: Gramedia Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMSE) Bekerja sama dengan Perpustakaan

Lebih terperinci

Asal Mula Istilah Sunda

Asal Mula Istilah Sunda Asal Mula Istilah Sunda penggunaan istilah Sunda saat ini sulit dibedakan dengan adanya istilah Jawa Barat, yang sering dicampur-adukan. Padahal secara histori memiliki sejarah berbeda. Kedua istilah tersebut

Lebih terperinci

Wawancara Online Melalui Instagram Dengan Vincent Candra Sebagai Pengunggah Pertama Gambar Patung Harimau Cisewu

Wawancara Online Melalui Instagram Dengan Vincent Candra Sebagai Pengunggah Pertama Gambar Patung Harimau Cisewu LAMPIRAN 92 Wawancara Online Melalui Instagram Dengan Vincent Candra Sebagai Pengunggah Pertama Gambar Patung Harimau Cisewu 93 94 95 96 97 Pemberitaan mengenai Patung Harimau Cisewu Jumat 17 Maret 2017,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya. Manusia yang memiliki sifat Human Society (sosialisasi

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya. Manusia yang memiliki sifat Human Society (sosialisasi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak zaman Pra-sejarah, manusia dengan kemampuannya yang luar biasa, telah berusaha mengembangkan penggunaan media untuk mempermudah kelangsungan hidupnya.

Lebih terperinci

KONTROVERSI TENTANG NASKAH WANGSAKERTA

KONTROVERSI TENTANG NASKAH WANGSAKERTA HUMANIORA Nina H. Lubis VOLUME 14 No. 1 Februari 2002 Halaman 20-26 KONTROVERSI TENTANG NASKAH WANGSAKERTA Nina H. Lubis* Pengantar ada awal tahun 2002, di surat kabar terbesar di Jawa Barat, muncul perdebatan

Lebih terperinci

PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan

PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan MAKALAH Disampaikan dalam Seminar Sejarah Menggali Nilai-nilai Kepahlawanan Tokoh-tokoh Kuningan diselenggaralan oleh Balai Pelestarian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ki Gede Sebayu merupakan tokoh pendiri Tegal yang telah dikenal oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ki Gede Sebayu merupakan tokoh pendiri Tegal yang telah dikenal oleh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ki Gede Sebayu merupakan tokoh pendiri Tegal yang telah dikenal oleh masyarakat luas. Ketokohan Ki Gede Sebayu sebagai pendiri Tegal memang sudah tersohor

Lebih terperinci

Sunda, Priangan dan Jawa Barat : Analisis berdasarkan pola gerak sejarah

Sunda, Priangan dan Jawa Barat : Analisis berdasarkan pola gerak sejarah Sunda, Priangan dan Jawa Barat : Analisis berdasarkan pola gerak sejarah Dewasa ini kita mengenal Sunda sebagai sebuah istilah yang identik dengan Priangan dan Jawa Barat. Sunda adalah Priangan, dan Priangan

Lebih terperinci

2014 SAJARAH CIJULANG

2014 SAJARAH CIJULANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Naskah kuno merupakan salah satu warisan budaya Indonesia dalam bidang keberaksaraan yang telah dilindungi oleh UU RI No. 11 tahun 2010. Ungkapan warisan

Lebih terperinci

CIAMIS ATAU GALUH MAKALAH

CIAMIS ATAU GALUH MAKALAH CIAMIS ATAU GALUH MAKALAH Disusun dalam rangka Seminar Sejarah bertema Menelusuri Nama Daerah Galuh dan Ciamis; Tuntutan dan Harapan Diselenggarakan pada 12 September 2012 di Padepokan Rengganis Kabupaten

Lebih terperinci

PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan. Mumuh Muhsin Z.

PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan. Mumuh Muhsin Z. PERANAN TOKOH KUNINGAN dari Masa Pergerakan hingga Revolusi Kemerdekaan MAKALAH Disampaikan dalam Seminar Sejarah Menggali Nilai-nilai Kepahlawanan Tokoh-tokoh Kuningan diselenggaralan oleh Balai Pelestarian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulis. Oleh karena itu,

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulis. Oleh karena itu, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teks sastra adalah teks artistik yang disusun dengan menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulis. Oleh karena itu, ada sastra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ayu Fauziyyah, 2014

BAB I PENDAHULUAN. Ayu Fauziyyah, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberagaman dalam budaya Indonesia tercermin pada bagian budayabudaya lokal yang berkembang di masyarakat. Keragaman tersebut tidak ada begitu saja, tetapi juga karena

Lebih terperinci

PERJANJIAN 7 JANUARI 1681 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL POLITIK EKONOMI DI KERAJAAN CIREBON (1681 M-1755 M) SKRIPSI

PERJANJIAN 7 JANUARI 1681 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL POLITIK EKONOMI DI KERAJAAN CIREBON (1681 M-1755 M) SKRIPSI PERJANJIAN 7 JANUARI 1681 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL POLITIK EKONOMI DI KERAJAAN CIREBON (1681 M-1755 M) SKRIPSI FIRLIANNA TIYA DEVIANI NIM. 14123151170 JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Permukaan Bulan. Bulan merupakan satu-satunya satelit alam yang dimiliki bumi. Kemunculan

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Permukaan Bulan. Bulan merupakan satu-satunya satelit alam yang dimiliki bumi. Kemunculan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Gambar 1.1 Permukaan Bulan Bulan merupakan satu-satunya satelit alam yang dimiliki bumi. Kemunculan bulan saat malam hari, membuat malam menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidaklah hanya ditentukan oleh kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, melainkan yang paling utama adalah

Lebih terperinci

MENGKAJI ULANG HARI JADI GARUT Tinjauan Teori dan Metodologi

MENGKAJI ULANG HARI JADI GARUT Tinjauan Teori dan Metodologi MENGKAJI ULANG HARI JADI GARUT Tinjauan Teori dan Metodologi MAKALAH Disampaikan dalam Seminar Mengkaji Ulang Hari Jadi Garut. Diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung

Lebih terperinci

PERANCANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF KEJAYAAN KERAJAAN PAKUAN PAJAJARAN

PERANCANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF KEJAYAAN KERAJAAN PAKUAN PAJAJARAN PERANCANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF KEJAYAAN KERAJAAN PAKUAN PAJAJARAN Rali Setiadi Universitas BSI Bandung, ralisetiadi@bsi.ac.id ABSTRACT In West Java, the opportunity for kids to get knowledge history

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Karya sastra yang demikian, oleh Abrams (1981: 61) disebut sebagai fiksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tari Putri Asrini, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tari Putri Asrini, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panjalu merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Ciamis Utara. Secara geografis Panjalu mempunyai luas wilayah sebesar 50,60 Km² dengan jumlah penduduk 46.991

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP. Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok,

BAB 5 PENUTUP. Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok, BAB 5 PENUTUP 5.1 Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok, yaitu untuk menjawab pertanyaan mengenai sejak kapan permukiman di Depok telah ada, juga bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rezki Puteri Syahrani Nurul Fatimah, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rezki Puteri Syahrani Nurul Fatimah, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Adat adalah aturan, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan dijunjung serta dipatuhi

Lebih terperinci

Undang Ahmad Darsa, Kunto Sofianto, dan Elis Suryani NS Staf Pengajar Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600

Undang Ahmad Darsa, Kunto Sofianto, dan Elis Suryani NS Staf Pengajar Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600 TINJAUAN FILOLOGIS TERHADAP FRAGMEN CARITA PARAHYANGAN: NASKAH SUNDA KUNO ABAD XVI TENTANG GAMBARAN SISTEM PEMERINTAHAN MASYARAKAT SUNDA ABSTRAK Undang Ahmad Darsa, Kunto Sofianto, dan Elis Suryani NS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kondisi negara Indonesia akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. Kondisi negara Indonesia akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Kondisi negara Indonesia akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Kejadian-kejadian yang menjerumus pada kekerasan, seolah menjadi hal yang biasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama kesaksian tangan pertama yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan

BAB I PENDAHULUAN. terutama kesaksian tangan pertama yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.1.1 Latar Belakang Pada hakikatnya peninggalan suatu bangsa yang lebih memadai untuk keperluan penelitian kebudayaan maupun sejarah adalah kesaksian tertulis,

Lebih terperinci

Di samping itu, Sultan HB VII juga menggunakan taktik dengan mengulur waktu dan mencegah penyerahan secara total semua yang diminta oleh pemerintah

Di samping itu, Sultan HB VII juga menggunakan taktik dengan mengulur waktu dan mencegah penyerahan secara total semua yang diminta oleh pemerintah BAB VI KESIMPULAN Dari pengungkapan sejumlah fakta dan rekonstruksi yang dilakukan, penelitian ini menarik sejumlah kesimpulan sebagai berikut ini : Sultan Hamengku Buwono VII adalah seorang raja yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN SEJARAH JAWA BARAT DENGAN SEJARAH DEPOK DAN MASUKNYA ISLAM KE DEPOK. Mumuh Muhsin Z.

HUBUNGAN SEJARAH JAWA BARAT DENGAN SEJARAH DEPOK DAN MASUKNYA ISLAM KE DEPOK. Mumuh Muhsin Z. HUBUNGAN SEJARAH JAWA BARAT DENGAN SEJARAH DEPOK DAN MASUKNYA ISLAM KE DEPOK MAKALAH Makalah disampaikan dalam Seminar Penelusuran Arsip Sejarah Depok Diselenggarakan oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan

Lebih terperinci

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta LAMPIRAN

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta LAMPIRAN LAMPIRAN KELUARGA : PANGERAN CAKRABUWANA (R.WALANGSUNGSANG/HAJI ABDULLAH IMAN/KI SAMADULLAH) KUWU CARUBAN LARANG KE II 1423 1529 No Sumber : Purwaka Caruban Nagari. NAMA TAHUN ISTRI/SUAMI KAWIN NAMA AYAH/IBU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN PENELITIAN ARTEFAK ASTANA GEDE. dan terapit oleh dua benua. Ribuan pulau yang berada di dalam garis tersebut

BAB I PENDAHULUAN PENELITIAN ARTEFAK ASTANA GEDE. dan terapit oleh dua benua. Ribuan pulau yang berada di dalam garis tersebut BAB I PENDAHULUAN PENELITIAN ARTEFAK ASTANA GEDE A. Latar Belakang Indonesia adalah Negara kepulauan yang berada di garis khatulistiwa dan terapit oleh dua benua. Ribuan pulau yang berada di dalam garis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zainal Arifin Nugraha, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zainal Arifin Nugraha, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Naskah kuno merupakan hasil kebudayaan suatu bangsa yang tak ternilai harganya. Di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang ingin disampaikan oleh nenek moyang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hubungan perdagangan antara bangsa Indonesia dan India. Hubungan itu

BAB 1 PENDAHULUAN. hubungan perdagangan antara bangsa Indonesia dan India. Hubungan itu 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia diawali melalui hubungan perdagangan antara bangsa Indonesia dan India. Hubungan itu kemudian berkembang ke berbagai

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012 Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PELANTIKAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini akan menguraikan mengenai metode penelitian yang digunakan oleh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini akan menguraikan mengenai metode penelitian yang digunakan oleh BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metodologi Penelitian Bab ini akan menguraikan mengenai metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam mengkaji permasalahan yang berhubungan dengan judul skripsi

Lebih terperinci

Kerajaan Kutai. A. Berdirinya Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai. A. Berdirinya Kerajaan Kutai Kerajaan Kutai A. Berdirinya Kerajaan Kutai Letak Kerajaan Kutai berada di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur yang merupakan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ditemukannya tujuh buah batu tulis yang

Lebih terperinci

Bontang dari Cerita Menjadi Kebanggaan

Bontang dari Cerita Menjadi Kebanggaan Bontang dari Cerita Menjadi Kebanggaan Beberapa tahun terakhir ini pengkajian mengenai Bontang sangat menarik sebab selama ini kita belum mendapat kepastian historis mengenai kapan daerah ini bernama Bontang,

Lebih terperinci

2016 LIMBAH KAYU SEBAGAI BAHAN CINDERAMATA SITU LENGKONG PANJALU CIAMIS

2016 LIMBAH KAYU SEBAGAI BAHAN CINDERAMATA SITU LENGKONG PANJALU CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Seni rupa sebagai ciptaan manusia senantiasa dikembangkan di setiap zaman dan tempat yang berbeda, hal itu akibat semakin meningkatnya kebutuhan manusia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar belakang Pengertian Megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli sebagai suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar, mengacu pada etimologinya yaitu mega berarti

Lebih terperinci

2016 PELESTARIAN TARI TRADISIONAL DI SANGGAR SUNDA RANCAGE KABUPATEN MAJALENGKA

2016 PELESTARIAN TARI TRADISIONAL DI SANGGAR SUNDA RANCAGE KABUPATEN MAJALENGKA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Provinsi Jawa Barat terletak di ujung sebelah barat pulau Jawa terdapat satu kota Kabupaten yaitu Kabupaten Majalengka. Dilihat dari letak geografisnya, posisi Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keragaman budaya atau cultural diversity adalah kekayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cerita rakyat adalah salah satu budaya Indonesia yang menambah keragaman budaya di negeri kita dan patut dilestarikan. Setiap daerah di Indonesia pada umumnya mempunyai

Lebih terperinci

Perancangan Media Interaktif ( E-Book ) untuk Memperkenalkan Sejarah Kerajaan di Jawa Barat

Perancangan Media Interaktif ( E-Book ) untuk Memperkenalkan Sejarah Kerajaan di Jawa Barat Perancangan Media Interaktif ( E-Book ) untuk Memperkenalkan Sejarah Kerajaan di Jawa Barat Abstrak Berdasarkan data dan fakta yang diperoleh mengenai kurangnya pengenalan dan ketertarikan anak anak masa

Lebih terperinci

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PENELITIAN DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH *) Oleh : Agus Mulyana

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PENELITIAN DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH *) Oleh : Agus Mulyana MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PENELITIAN DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH *) Oleh : Agus Mulyana Penelitian pada dasarnya merupakan cara kerja ilmiah yang ada dalam setiap disiplin ilmu. Begitu pi kisahula halnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sesuai dengan berkembangnya zaman, kita perlu tahu tentang sejarahsejarah perkembangan agama dan kebudayaan di Indonesia. Dengan mempelajarinya kita tahu tentang sejarah-sejarahnya

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA AKTIVITAS KEAGAMAAN MASYARAKAT KERAJAAN SUNDA ABAD KE-14 HINGGA AWAL ABAD KE-16 MASEHI BERDASARKAN DATA TERTULIS DAN TINGGALAN ARKEOLOGI: SUATU PENELITIAN AWAL SKRIPSI SUCI SEPTIANI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Simon Kemoni yang dikutip oleh Esten (2001: 22) globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Globalisasi

Lebih terperinci

2016 TEKS NASKAH SAWER PANGANTEN: KRITIK, EDISI, DAN TINJAUAN FUNGSI

2016 TEKS NASKAH SAWER PANGANTEN: KRITIK, EDISI, DAN TINJAUAN FUNGSI 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Naskah merupakan hasil medium tulis yang digunakan pada sastra klasik. Isi naskah tersebut dapat meliputi semua aspek kehidupan budaya bangsa yang bersangkutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ulama di Indonesia dan negara-negara muslim lainnya telah memainkan

BAB I PENDAHULUAN. Ulama di Indonesia dan negara-negara muslim lainnya telah memainkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ulama di Indonesia dan negara-negara muslim lainnya telah memainkan peranan penting dan strategis. Bukan hanya dalam peningkatan spiritual umat, melainkan juga

Lebih terperinci

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Cagar Budaya Candi Cangkuang Cagar Budaya Candi Cangkuang 1. Keadaan Umum Desa Cangkuang Desa Cangkuang terletak di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesusastraan daerah merupakanwarisankekayaan yang bernilai tinggi dan berkontribusi penting bagi perkembangan kesusastraan nasional. Karya-karya sastra

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun pertama masehi, Lampung telah dihuni oleh manusia. Hal ini dibuktikan

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun pertama masehi, Lampung telah dihuni oleh manusia. Hal ini dibuktikan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak tahun pertama masehi, Lampung telah dihuni oleh manusia. Hal ini dibuktikan dengan berbagai peninggalan yang tersebar diberbagai wilayah Lampung. Meskipun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. seperti Arab, Melayu, China, Persia, India dan lain sebagainya.

BAB 1 PENDAHULUAN. seperti Arab, Melayu, China, Persia, India dan lain sebagainya. BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penelitian Kota Cirebon di Propinsi Jawa Barat, merupakan salah satu kota tua yang terletak di pesisir Utara Pulau Jawa yang kaya akan peninggalan budaya dan sejarah.

Lebih terperinci

SEJARAH KOTA BANDUNG. AGUS MULYANA Universitas Pendidikan Indonesia

SEJARAH KOTA BANDUNG. AGUS MULYANA Universitas Pendidikan Indonesia SEJARAH KOTA BANDUNG AGUS MULYANA Universitas Pendidikan Indonesia A. Asal Nama Bandung Banding/Ngabanding -------- berdampingan/berdekatan Bandeng/Ngabandeng --- sebutan untuk genangan air yang luas dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat Sunda dan bambu (awi) adalah dua hal yang sangat erat kaitannya. Mulai dari rumah, perkakas, bahkan hingga alat-alat kesenian dan ritual pun banyak yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian merupakan salah satu bentuk kebudayaan manusia. Setiap daerah mempunyai kesenian yang disesuaikan dengan adat istiadat dan budaya setempat. Jawa Barat terdiri

Lebih terperinci

Sejarah Kerajaan Sunda

Sejarah Kerajaan Sunda Sejarah Kerajaan Sunda Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya tertentu. Sebuah pernyataan tentang kesenian Jawa, kesenian Bali, dan kesenian flores, semuanya

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah.

BAB I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah. BAB I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia mempunyai kekayaan tradisi berupa budaya tulis (kitab, nota-perjanjian, stempel) dan budaya tutur (pantun, puisi tradisional,dongeng). Penikmat

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 169 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Setelah diuraikan hasil penelitian pada bagian terdahulu tesis ini, dirumuskan simpulan sebagai berikut. 1) Struktur yang terkandung dalam cerita rakyat masyarakat

Lebih terperinci

David J. Stuart Fox, penulis buku Pura Besakih; Pura, Agama,

David J. Stuart Fox, penulis buku Pura Besakih; Pura, Agama, IDG Windhu Sancaya Pura Besakih: Di antara Legenda dan Sejarah Penguasa Bali IDG Windhu Sancaya* Judul buku : Pura Besakih; Pura, Agama, dan Masyarakat Bali Penulis : David J. Stuart Fox Penerjemah: Ida

Lebih terperinci

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno Kerajaan Mataram Kuno KELOMPOK 4 : ADI AYU RANI DEYDRA BELLA A. GHANA N.P. PUSAKHA S.W.Q (01) (Notulen) (08) (Moderator) (11) (Anggota) (20) (Ketua) Kerajaan Mataram (Hindu-Buddha), sering disebut dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belum pernah dilakukan kegiatan transliterasi teks atas naskah Wawacan Rawi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belum pernah dilakukan kegiatan transliterasi teks atas naskah Wawacan Rawi BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penelitian-penelitian naskah Sunda, baik yang telah dilakukan oleh orang Barat maupun oleh bangsa pribumi, sejauh pengetahuan penulis hingga kini belum pernah dilakukan kegiatan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. pertolongan sehingga berjaya menyelesaikan disertasi ini. Disertasi ini akan ditutup

BAB V PENUTUP. pertolongan sehingga berjaya menyelesaikan disertasi ini. Disertasi ini akan ditutup BAB V PENUTUP Alhamdulillah, pengkaji bersyukur ke hadrat Allah SWT yang telah memberikan pertolongan sehingga berjaya menyelesaikan disertasi ini. Disertasi ini akan ditutup dengan kesimpulan dan cadangan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ungkapannya (Sudjiman, 1990:71). Sastra juga dapat digunakan oleh semua yang

BAB I PENDAHULUAN. ungkapannya (Sudjiman, 1990:71). Sastra juga dapat digunakan oleh semua yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan karya lisan atau berupa tulisan yang memiliki berbagai ciri, keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan dan keindahan dalam isi dan ungkapannya

Lebih terperinci

Kumpulan Artikel Sejarah

Kumpulan Artikel Sejarah Kumpulan Artikel Sejarah Sejarah mencatat perjalanan masa lalu dari pendahulu umat manusia di muka bumi, Sejarah itu pula yang menuntun setiap generasi sekarang dan masa datang mengungkap arti kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi, arus penyampaian informasi berkembang dengan cepat, apalagi didukung dengan teknologi canggih melalui berbagai media. Globalisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di

I. PENDAHULUAN. Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di ProvinsiBanten, Indonesia. Banten juga dikenal dengan Banten Girang yang merupakan bagian

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN. masyarakat suku Makassar telah difungsikan oleh pencerita atau pasinrilik sebagai

BAB VII KESIMPULAN. masyarakat suku Makassar telah difungsikan oleh pencerita atau pasinrilik sebagai BAB VII KESIMPULAN A. Kesimpulan Sinrilik Kappalak Tallumbatua (SKT) sebagai hasil tradisi sastra lisan dari masyarakat suku Makassar telah difungsikan oleh pencerita atau pasinrilik sebagai alat untuk

Lebih terperinci

5.1 Visualisasi Gajah Mada. Gambar 5.1 Visualisasi Gajah Mada

5.1 Visualisasi Gajah Mada. Gambar 5.1 Visualisasi Gajah Mada 5.1 Visualisasi 5.1.1 Gajah Mada Gambar 5.1 Visualisasi Gajah Mada 24 25 Konsep dasar dari visualisasi Gajah dari visualisasi Gajah Mada adalah seorang yang keras, tegas, dan kuat. Kostum Gajah Mada dibuat

Lebih terperinci

Tinjauan Buku STUDI SEJARAH DAN BUDAYA LOMBOK. Abdul Rasyad dan Lalu Murdi. STKIP Hamzanwadi Selong,

Tinjauan Buku STUDI SEJARAH DAN BUDAYA LOMBOK. Abdul Rasyad dan Lalu Murdi. STKIP Hamzanwadi Selong, Tinjauan Buku STUDI SEJARAH DAN BUDAYA LOMBOK Abdul Rasyad dan Lalu Murdi STKIP Hamzanwadi Selong, email: rasyad.iis@gmail.com ABSTRAK Tulisan ini merupakan resensi dari buku yang berjudul Studi Sejarah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Upacara Adat Pencucian Pusaka Nyangku merupakan suatu upacara

BAB I PENDAHULUAN. Upacara Adat Pencucian Pusaka Nyangku merupakan suatu upacara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upacara Adat Pencucian Pusaka Nyangku merupakan suatu upacara pembersihan benda-benda pusaka peninggalan leluhur masyarakat Panjalu. Upacara yang ditujukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sejarah adalah suatu kejadian nyata masa lalu ataupun suatu perjalanan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sejarah adalah suatu kejadian nyata masa lalu ataupun suatu perjalanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejarah adalah suatu kejadian nyata masa lalu ataupun suatu perjalanan panjang masa lampau oleh para generasi sebelumnya atau para leluhur yang diabadikan berupa kisah

Lebih terperinci

KUJANG DAN POLA TIGA YANG MENGEMUKA

KUJANG DAN POLA TIGA YANG MENGEMUKA KUJANG DAN POLA TIGA YANG MENGEMUKA (Tanggapan atas tulisan Jacob Sumardjo) Oleh: Tedi Permadi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Negara Indonesia memiliki beribu-ribu pulau di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Negara Indonesia memiliki beribu-ribu pulau di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia memiliki beribu-ribu pulau di dalamnya. Banyaknya pulau-pulau di Indonesia menghadirkan suku dan budaya yang memiliki adat istiadat yang berbeda disetiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ialah bangunan-bangunan purbakala yang biasa disebut candi. Candi-candi ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ialah bangunan-bangunan purbakala yang biasa disebut candi. Candi-candi ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pulau Jawa kaya akan peninggalan-peninggalan purbakala, di antaranya ialah bangunan-bangunan purbakala yang biasa disebut candi. Candi-candi ini tersebar di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Suku Minangkabau kita kenal sebagai sebuah suku yang mayoritas masyarakatnya berasal dari wilayah Provinsi Sumatera Barat. Orang Minangkabau juga sangat menonjol

Lebih terperinci

DINAMIKA HUKUM ADAT BAMBANG DARU NUGROHO

DINAMIKA HUKUM ADAT BAMBANG DARU NUGROHO DINAMIKA HUKUM ADAT DINAMIKA HUKUM ADAT BAMBANG DARU NUGROHO YAYASAN PENDIDIKAN NASIONAL BANDUNG DINAMIKA HUKUM ADAT Penulis: Bambang Daru Nugroho Editor: Shery Imam Slamet ISBN: 978-602-74419-2-7 97 halaman,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.

Lebih terperinci