VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN"

Transkripsi

1 73 VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN 6.1. Karakteristik Lembaga Perkreditan Keberhasilan usahatani kentang dan tomat di lokasi penelitian dan harapan petani bagi peningkatan kesejahteraan hidup petani, tetapi usahatani kentang dan tomat memiliki beberapa kendala. Kendala-kendala tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kendala internal dari diri petani dan kendala eksternal seperti: kurangnya informasi harga, serta lemahnya sistem dan kelembagaan yang ada. Sisi internal, kendala yang ditemui berkaitan dengan cara dan manajemen usahatani yang dilakukan. Sebagaimana tergambar pada teknik usahatani yang dilakukan oleh petani, umumnya petani di lokasi penelitian terlalu boros dalam penggunaan sumberdaya yang mereka miliki (Lampiran 7 dan Lampiran 8). Dari hasil penelitian rata-rata penggunaan pupuk kimia untuk usahatani petani contoh adalah berkisar 3 ton per hektar sedangkan rekomendasi dari dinas setempat untuk penggunaan pupuk kimia adalah 1.1 ton per hektar untuk usahatani kentang. Demikian juga penggunaan pestisida padat dan cair selalu lebih tinggi dari rekomendasi. Pada waktu-waktu tertentu petani menggunakan pestisida yang berlebih yaitu pada saat musim hujan. Akibat dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebih akan meningkatkan biaya produksi, merusak ekosistem dan tidak sesuai dengan program pengendalian hama terpadu dan Go Organic yang telah disosialisasikan pemerintah. Sisi eksternal, kendala yang ditemui telihat pada kurangnya informasi harga dan pasar yang diterima oleh petani, lemahnya kelembagaan kredit yang dapat mendukung modal petani, serta lemahnya posisi tawar menawar petani.

2 74 Di lokasi penelitian yang menjadi kendala adalah pasar untuk produk pertanian dan modal untuk usahatani. Hasil wawancara dengan petani di daerah penelitian, petani yang dapat melakukan akses kredit ke bank adalah petani yang memiliki agunan, sehingga petani yang tidak memiliki agunan tidak dapat meminjam ke bank atau kelembaga keuangan formal lainnya. Bank merupakan lembaga keuangan formal yang diatur oleh aturan dan perundang-undangan dan diawasi oleh pemerintah. Tipe lembaga keuangan ini mengharuskan adanya collateral atau agunan dalam kontrak pinjaman untuk mengurangi terjadinya resiko yang lebih besar. Bank yang memberikan kredit di lokasi penelitian adalah bank BRI (Bank Rakyat Indonesia). Petani yang mengakses kredit dari bank umum pada umumnya adalah petani besar. Bank memberikan pinjaman kepada petani dengan mengenakan bunga 2 persen perbulan dan tergantung pada jenis kredit yang diajukan. Untuk mendapatkan kredit dari bank, petani harus memiliki agunan dan cara pengembaliannya adalah angsuran per bulan. Dengan adanya syarat harus ada agunan membuat petani kecil atau petani yang tidak punya lahan tidak dapat mengakses kredit ke perbankan setempat. Selain itu ciri hasil usahatani yang sifatnya musiman membuat petani kecil atau yang tidak punya lahan tidak dapat mengakses kredit ke perbankan. Kredit informal adalah jenis kredit yang dari lembaga keuangan dimana dalam operasionalisasinya tidak diawasi oleh pemerintah dan meliputi antara lain para pelepas uang professional (rentenir), kerabat keluarga dan sahabat terdekat, para pedagang atau petani kaya dan sistem kontrak pinjamnya tidak menggunakan collateral atau agunan sebagai jaminan akan tetapi semata-mata berdasarkan rasa saling percaya (trust).

3 75 Tabel 5. Karakteristik Lembaga Perkreditan di Lokasi Penelitian No Persyarat an Bank 1 Agunan Harus ada berupa: sertifikat tanah atau bagunan Sumber kredit Pedagang Credit Union Tidak ada Ada, tetapi dapat benda bergerak Toko sarana produksi pertanian Tidak ada 2 Bunga 2 persen per bulan dan tergantung jenis kredit Tidak ada 2 persen per bulan Harga input yang dibeli ditokonya dinaikkan 10 persen 3 Bentuk kredit Uang tunai Input pertanian Uang tunai Input pertanian 4 Cara pengembalian kredit Dicicil perbulan, dengan uang tunai Bayar panen, dengan hasil panen di jual pada pedagang Dicicil, tergantung jenis pinjaman, bisa dicicil per triwulan dan per enam bulan Bayar panen, dimana petani bebas menjual produksi karena toko hanya menerima dalam bentuk uang tunai dan harga input pertanian yang diambil oleh petani dikenakan harga pada saat pembayaran tetapi jika harga tidak mengalami kenaikan atau harga turun maka si toko akan menaikkan harga inputnya 10 persen dari harga awal 5 Penjuala n produk pertanian Petani bebas menjual Petani harus menjual ke pedagang dengan harga Rp 200,- dibawah harga di daerah tersebut Petani bebas menjual Petani menjual bebas

4 76 Tabel 5 menunjukkan ada 4 akses kredit yaitu bank, pedagang, Credit Union (CU) dan toko sarana produksi pertanian (saprotan). Dari 4 akses kredit dapat dibagi menjadi dua lembaga keuangan yaitu formal (Bank) dan informa (Credit Union, pedagang dan toko sarana produksi pertanian). Di lokasi penelitian adapun sumber kredit yang dari pedagang didapatkan dengan modal kepercayaan, dimana syaratnya hasil dari usahatani petani harus dijual kepada pedagang tersebut. Pedagang bisa dikategorikan sebagai mitra petani, dimana pemotongan harga tidak berbeda jauh dari harga pasar. Tapi dengan bekerja sama dengan pedagang, petani mendapatkan beberapa keuntungan yaitu: (1) dalam hal panen raya, jika tejadi panen raya petani tidak bigung bagaimana menjual produknya, karena pedagang wajib membeli hasil pertaniannya, dan (2) jika gagal panen bukan hanya petani yang menanggung, sipedagang akan tetap memberikan modal kembali untuk berusahatani, tujuannya adalah agar modal usahatani sebelumnya bisa kembali. Sistem kontrak petani dengan pedagang adalah ada yang sistem bagi hasil dan ada juga sistem yang tidak bagi hasil. Jika sistem bagi hasil sipetani hanya memberikan tenaganya dimana sipedagang sudah menyediakan lahan, modal untuk usahatani. Pembagian hasilnya tergantung kesepakatan antar kedua belah pihak. Credit Union adalah lembaga keuangan semi formal yang dalam operasionalnya berdasarkan suatu keputusan pemerintah. Dalam sistem kontrak pinjaman antara borrower dan lender tidak mengharuskan adanya collateral atau agunan tetapi dapat berupa Surat Keterangan Kendaraan Bermotor (SKKB) beroda dua atau beroda empat dan didasarkan pada kepercayaan (Trust) antara kedua belah pihak. Credit Union dibentuk oleh masyarakat setempat,

5 77 peraturannya hampir sama dengan bank yang membedakan adalah tata cara dan syarat untuk mengajukan kredit. Pada Credit Union tidak membutuhkan agunan tetapi besarnya pinjaman berdasarkan berapa lama dia sudah menjadi anggota Credit Union tersebut. Tingkat suku bunga Credit Union adalah 2 persen per bulan sama dengan bank, dan cara pengembaliannya adalah angsuran perbulan. Banyak petani yang melakukan pinjaman kepada Credit Union karena persyaratan mengajukan pinjaman sangat mudah. Dan itu merupakan keuntungan bagi petani yang mengakses kredit kepada Credit Union. Sumber kredit dari toko sarana produksi pertanian hampir sama dengan pinjaman dari pedagang dimana dalam operasionalisasinya tidak diawasi oleh pemerintah dan meliputi antara lain para pelepas uang professional (rentenir), kerabat keluarga dan sahabat terdekat, para pedagang atau petani kaya. Sistem kontrak pinjamnya tidak menggunakan collateral atau agunan sebagai jaminan akan tetapi berdasarkan rasa saling percaya (trust). Di lokasi penelitian adapun kredit yang dari toko sarana produksi pertanian didapatkan dengan modal kepercayaan. Di lokasi penelitian, toko memberikan pinjaman modal dalam bentuk input untuk produk pertanian dan sistem pengembaliannya adalah sistem bayar panen. Barang yang diangkat petani dibayar pada saat panen. Dan harga input yang akan dibayar petani jika terjadi kenaikan harga pada jenis input yang diambil petani maka sipetani akan membayar sesuai dengan harga input pada saat pembayaran. Tetapi jika harga input tetap maka toko akan menaikkan harga 10 persen dari harga awal. Jika di hitung, umur dari hasil produk pertanian setempat adalah rata-rata 6 bulan, maka dengan demikian bunga dari pinjaman petani perbulan

6 78 adalah 1.67 persen. Tingkat bunga pinjaman dari toko lebih rendah di bandingkan bank, toko tetap bisa menjalankan usahanya. Karena yang dijual bukan hanya pupuk ataupun benih tetapi toko juga menjual alat-alat untuk usahatani yaitu cangkul, grobak sorong, pompa dan lain sebagainya. Petani yang mengakses kredit dari toko mendapatkan beberapa keuntungan, salah satunya yaitu jika gagal panen bukan hanya petani yang menanggung, sitoko akan tetap memberikan modal kembali untuk berusahatani, tujuannya adalah agar modal usahatani sebelumnya bisa kembali. Sistem kontrak petani dengan toko adalah hanya modal kepercayaan dan kekeluargaan Karakteristik Petani Contoh Sebaran Umur Petani Contoh Tabel 6. Distribusi Umur Petani Contoh Berdasarkan Sumber Akses di Kabupaten Simalungun No Umur petani contoh Jumlah dan persentase petani contoh berdasarkan akses kredit Bank Pedagang Credit Union Toko Jumlah Persentase (%) (Orang) se (%) (Orang) se Jumlah Persenta- Jumlah Persenta- (Orang) (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah Faktor usia, sangat mempengaruhi kinerja petani dalam berusahatani. Dengan tingkat usia yang relatif muda (produktif), petani mampu bekerja lebih optimal di bandingkan dengan petani yang berusia relatif lebih tua. Petani yang lebih muda umumnya memiliki keberanian yang lebih tinggi dalam menangung risiko kegagalan akibat menggunakan suatu inovasi yang baru. Tabel 6

7 79 menjelaskan bahwa petani contoh yang mengakses kredit dari pedagang dan toko lebih banyak petani yang lebih muda di bandingkan dengan petani yang mangakses kredit dari Credit Union dan bank. Petani contoh yang mengakses kredit dari Bank untuk usahatani tomat dan kentang di daerah penelitian dilakukan oleh petani yang umur petani berada pada kelompok usia produktif atau aktif secara ekonomis (16 55 tahun). Empat orang diantara petani contoh adalah wanita yang bertindak sebagai menejer sekaligus pelaksana usahataninya. Persentase kelompok usia yang terbanyak dari seluruh petani contohyang sumber modalnya pinjaman dari bank berada pada kelompok usia tahun dengan jumlah persentase persen. Petani contoh yang mengakses kredit dari pedagang untuk usahatani kentang dan tomat di daerah penelitian dilakukan oleh petani yang umumya berada pada kelompok usia produktif atau aktif secara ekonomis (16 55 tahun). Untuk petani yang mengakses kredit dari pedagang pada umumnya melakukan perjanjian, dimana hasil dari usahatani petani harus dijual kepada pedagang. Pada sistem usahatani yang mengakses kredit dari pedagang, yang menjadi menejer adalah pedagang dan petani. Maka petani contoh sebelum melakukan usahatani harus meminta pendapat dari pedagang. Persentase kelompok usia yang terbanyak dari seluruh petani contoh yang sumber modalnya pinjaman dari pedagang berada pada kelompok usia tahun dengan jumlah persentase persen. Petani contoh yang bekerja sama dengan pedagang, umumnya masih muda dan pendidikanya tidak terlalu tinggi. Dimana petani melakukan kerjasama dengan pedagang selain kurang pengalaman dalam berusahatani juga berbagi resiko jika gagal panen.

8 80 Umur petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union berada pada kelompok usia produktif atau aktif secara ekonomis (16 55 tahun). Untuk petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union pada umumy berusia lebih dari 36 tahun, dimana distribusi umur petani contoh yang berusia lebih dari 36 tahun adalah 19 orang (82.61 persen). Petani contoh yang mengakses kredit dari toko sarana produksi pertanian untuk usahatani kentang dan tomat di daerah penelitian dilakukan oleh petani yang umumya berada pada kelompok usia produktif atau aktif secara ekonomis (16 55 tahun). Untuk petani contoh yang mengakses kredit dari toko sarana pertanian pada umumnya melakukan perjanjian sistem pembayaran barang yang diambil adalah bon. Sarana produksi pertanian yang diambil dibayar setelah panen, tetapi harga barang tersebut dinaikan 10 persen dari harga awal. Persentase kelompok usia yang terbanyak dari seluruh petani contoh yang sumber modalnya pinjaman dari pedagang berada pada kelompok usia tahun dengan jumlah persentase persen. Petani contoh yang bekerja sama dengan toko, umumnya dari yang masih muda dan pendidikanya tidak terlalu tinggi sampai pada yang tua. Petani contoh melakukan kerjasama dengan toko selain kurang pengalaman dalam berusahatani juga berbagi risiko jika gagal panen. Jika gagal panen dari pihak toko masih tetap membiayai usahataninya, agar modal yang gagal tersebut dapat dikembalikan oleh petani contoh. Dari distribusi umur petani contoh dapat dikatakan bahwa perbedaan karakteristik kredit akan mempengaruhi kelompok usia petani yang akan mengakses kredit ke lembaga kredit tersebut. Dimana kelompok petani yang umurnya lebih muda kebanyakan mengakses kredit dari pedagang dan toko. Itu

9 81 karena pedagang dan toko mampu memberikan modal dalam skala besar tetapi membutuhkan tenaga yang besar juga. Sedangkan kredit dari Credit Union kebanyakan diakses oleh petani yang umurnya di pertengahan Pendidikan Formal Petani Contoh Tabel 7. Distribusi Pendidikan Formal Petani Contoh Berdasarkan Sumber Akses Kredit di Kabupaten Simalungun Jumlah dan persentase petani contoh berdasarkan akses kredit No Tingkat Credit Union pendidikan Bank Pedagang (Orang) Toko Jumlah Persenta Jumlah Persenta Jumlah Persentase Jumlah Persenta (Orang) -se (%) (Orang) -se (%) (%) (Orang) (Orang) -se (%) 1 Tidak sekolah (0 tahun) 2 SD ( tahun) 3 SLTP (7 9 tahun) SMU ( tahun) 5 Diploma/Sarja na( >12 tahun) Jumlah Selain faktor usia, pendidikan memerankan peranan penting dalam meningkatkan kecakapan, menentukan pilihan dan mengatasi suatu persoalan yang dihadapi seseorang di dalam berusahatani. Dalam berusahatani tingkat pendidikan mempengaruhi kemampuan petani untuk menjalankan aktivitas usahataninya. Lamanya pendidikan formal adalah jumlah waktu (tahun) yang dihabiskan oleh petani untuk menempuh pendidikan formalnya. Semakin lama waktu yang dihabiskan petani untuk menempuh pendidikan diduga semakin mendorong petani untuk meningkatkan usahataninya melalui proses produksi, pengelolaan penggunaan input dan kemampuan dalam mengambil keputusan

10 82 untuk memilih usahatani dan sumber modal. Distribusi pendidikan formal petani berdasarkan sumber akses kredit selengkapnya ada di Tabel 7. Petani contoh yang sumber modalnya pinjaman dari bank umumnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Lama pendidikan petani contoh berkisar 12 tahun, dengan tingkat tertinggi Sarjana dan terendah Sekolah Dasar. Persentase terbesar dari lama pendidikan petani terdapat pada kelompok 9 12 tahun, dan ada juga sarjana 6 orang atau persen. Distribusi tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari pedagang adalah SMP dan SMA (93.55 persen). Tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari bank lebih tinggi di bandingkan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari pedagang. Distribusi tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union adalah SMP dan SMA (91.30 persen). Tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari bank lebih tinggi di bandingkan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union. Distribusi tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari toko sarana poduksi pertanian adalah SMP dan SMA (91.18 persen). Tingkat pendidikan petani contoh yang mengakses kredit dari bank lebih tinggi di bandingkan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari toko. Maka petani contoh yang pendidikannya lebih tinggi kebanyakan petani contoh yang mengakses kredit dari bank Pengalaman Usahatani dan Keanggotaan Kelompok Tani Petani Contoh Rata-rata pengalaman usahatani petani contoh dalam berusahatani sudah banyak yang lebih dari 2 tahun seperti yang terlihat pada Tabel 8. Hal ini dimungkinkan karena petani di daerah tersebut adalah sebagian penduduk asli,

11 83 mereka lahir dan dibesarkan didaerah tersebut. Kebanyakan pendatang yang datang untuk mencari nafkah melalui buruhtani dan kemudian melakukan kerjasama dengan beberapa pemilik modal seperti pedagang maupun toko. Setelah mengumpulkan modal yang cukup petani tersebut akan memulai usahataninya dengan modal sendiri dan kembali ke kampung halamannya. Tabel 8. Distribusi Pengalaman Usahatani dan Keanggotaan Kelompok Tani Petani Contoh No Pengalaman usahatani Jumlah dan persentase petani contoh berdasarkan akses kredit Bank Pedagang Credit Union (Orang) Toko Jumlah Persenta Jumlah Persentase Jumlah Persenta Jumlah Persenta (Orang) -se (%) (%) (Orang) (Orang) -se (%) (Orang) -se (%) tahun tahun tahun tahun tahun > 25 tahun Jumlah No Keanggotaan kelompok tani 1 Anggota Bukan anggota Jumlah Ditinjau dari pengalaman, pada umumnya petani contoh yang menggunakan modalnya dari bank memiliki pengalaman berusahatani kentang dan tomat selama kurang dari 10 tahun (97.30 persen). Hal ini menunjukkan bahwa petani sudah memiliki pengalaman dalam berusahatani kentang dan tomat. Untuk petani contoh yang sumber modalnya pinjaman dari bank hanya sedikit yang bergabung dengan kelompok tani (yang bergabung dengan kelompok tani 4 orang = persen, sedangkan yang tidak 33 orang = persen). Kelompok tani merupakan wadah bagi petani kentang dan tomat untuk berbagi pengetahuan,

12 84 pengalaman, keterampilan serta merencanakan aktivitas usahatani di antara mereka. Pengalaman berusahatani dari petani contoh yang mengakses kredit dari pedagang (< 10 tahun adalah 27 orang atau persen) lebih sedikit di bandingkan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari bank. Distribusi keanggotaan kelompok tani petani contoh yang memiliki akses kredit pada pedagang sebanyak 12 orang atau persen adalah anggota kelompok tani. Petani contoh merasa bahwa kelompok tani merupakan wadah bagi petani untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan serta merencanakan aktivitas usahatani antara mereka. Dengan demikian keberadaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi hal yang sangat penting untuk keberlangsungan kelompok tani. Pengalaman berusahatani dari petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union (< 10 tahun adalah 16 orang atau persen) lebih sedikit di bandingkan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari bank. Tetapi petani contoh yang mengakses kredit dari Credit Union yang memiliki pengalaman yang lama ada sekitar persen berusia lebih dari 47 tahun. Distribusi keanggotaan kelompok tani petani contoh yang memiliki akses kredit pada Credit Union sebanyak 16 orang atau persen adalah anggota kelompok tani. Petani contoh merasa bahwa kelompok tani merupakan wadah bagi petani contoh untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan serta merencanakan aktivitas usahatani di antara mereka. Dengan demikian keberadaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi hal yang sangat penting untuk keberlangsungan kelompok tani. Pengalaman usahatani 0 5 tahun dari petani contohsetiap akses kredit

13 85 persentasenya sama. Sedangkan keanggotaan kelompok tani setiap akses kredit beda. Artinya pengalaman usahatani tidak ada hubungannya dengan keanggotaan kelompok tani. Pengalaman berusahatani dari petani contoh yang mengakses kredit dari toko (< 10 tahun adalah 34 orang atau 100 persen) hampir sama dengan dengan petani contoh yang mengakses kredit dari bank. Distribusi keanggotaan kelompok tani petani contoh yang memiliki akses kredit pada toko sarana produksi pertanian sebanyak 14 orang atau persen adalah anggota kelompok tani. Petani contoh merasa bahwa kelompok tani merupakan wadah bagi petani contoh untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan serta merencanakan aktivitas usahatani antara mereka. Dengan demikian keberadaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi hal yang sangat pentin untuk keberlangsungan kelompok tani. Tetapi petani contohyang tidak masuk kelompok tani menyatakan bahwa petani contohdapat meminta penjelasan dari pemilik toko bagaimana dalam menjalankan usahatani kentang dan tomat di lokasi penelitian. Ini merupakan kelebihan mengakses kredit dari toko, karena pemilik toko sarana produksi pertanian selalu menanyakan apa yang akan ditanam, dan jika dia memiliki pengetahuan ataupun pengalaman tentang usahatani maka pemilik toko akan berbagi dan memberikan masukan jenis bibit apa yang cocok ditanam, apa pestisidan dan apa pupuk yang harus digunakan serta dosisnya. Tujuan dari pemilik toko berbagai pengalaman dan memberikan rekomendasi mulai dari input dan dosisnya adalah supaya petani berhasil menjalankan usahataninya dan modal yang dipinjamkan dapat dikembalikan serta kerjasama dapat berjalan seterusnya. Hasil kerja sama seperti itu akan saling menguntungkan antara kreditor dan debitur. Kreditur dapat

14 86 menjalankan usaha karena ada perputaran modal dan pinjaman kembali, sedangkan debitur dapat menjalankan usahataninya Luas Lahan yang di Kuasai dan Status Kepemilikan Lahan Hampir semua petani petani contoh menggarap sendiri lahan miliknya. Kecuali petani yang mengakses kredit dari pedagang seperti yang terlihat pada Tabel 9. Berdasarkan hasil survei, rata-rata luas lahan yang digunakan untuk usahatani kentang dan tomat oleh petani contoh yang sumber modalnya dari bank adalah 1.17 hektar, dengan luas lahan minimum untuk usahatani sayuran 0.12 hektar dan luas lahan maksimal 3 hektar. Tetapi rata-rata luas lahan yang dikuasai oleh petani contoh yang sumber modalnya dari bank adalah lebih dari 2 hektar sekitar 21 orang (56.78 persen) dan status kepemilkan lahan adalah 37 orang milik sendiri ( persen). Tabel 9. Distribusi Luas Lahan yang di Kuasai dan Status Kepemilikan Lahan No Luas lahan yang dikuasai (Ha) Jumlah dan persentase petani contoh berdasarkan akses kredit Bank Pedagang Credit Union Toko Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah No Status Kepemilikan Lahan 1 Sendiri Sewa Jumlah

15 87 Jika status kepemilikan lahan adalah milik sendiri, ini merupakan peluang bagi petani contoh untuk mengakses kredit dari bank karena adanya agunan yaitu lahan miliknya sendiri. Berdasarkan hasil survei, rata-rata luas lahan yang digunakan untuk usahatani kentang dan tomat oleh petani contohyang sumber modalnya dari pedagang adalah 1 hektar, dengan luas lahan minimum untuk usahatani sayuran 0.12 hektar dan luas lahan maksimal 1.5 hektar. Sedangkan distribusi luas lahan yang dikuasai oleh petani contoh yang sumber modalnya dari pedagang yang paling banyak sekitar 23 orang berada pada luas lahan hektar (74.19 persen). Status kepemilkan lahan adalah 13 orang milik sendiri (41.93 persen). Berdasarkan hasil survei, rata-rata luas lahan yang digunakan untuk usahatani sayuran oleh petani contoh yang sumber modalnya dari Credit Union adalah 0.48 hektar, dengan luas lahan minimum untuk usahatani sayuran 0.16 hektar dan luas lahan maksimal 3.00 hektar. Distribusi luas lahan yang dikuasai oleh petani contoh yang sumber modalnya dari Credit Union yang paling banyak sekitar 15 orang berada pada luas lahan hektar (65.21 persen). Status kepemilikan lahan adalah 23 orang milik sendiri (100 persen). Berdasarkan hasil survei, rata-rata luas lahan yang digunakan untuk usahatani sayuran oleh petani contoh yang sumber modalnya dari toko adalah 0.63 hektar, dengan luas lahan minimum untuk usahatani sayuran 0.12 hektar dan luas lahan maksimal 1.64 hektar. Distribusi luas lahan yang dikuasai oleh petani contoh yang sumber modalnya dari toko sarana produksi pertanian yang paling banyak sekitar 21 orang berada pada luas lahan (61.76 persen). Status kepemilikan lahan adalah 32 orang milik sendiri (94.12 persen).

16 88 Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase yang paling besar atas luas lahan yang dikuasai dan status kepemilikan lahan adalah petani contoh yang mengakses kredit dari bank. Artinya status kepemilikan lahan dan luas lahan yang dikuasai mempengaruhi keputusan petani dalam mengambil keputusan akses kredit. Jika petani memiliki status kepemilikan lahan maka petani kemungkinan akan memilih mengakses kredit dari bank, karena lahan pertanian dapat dijadikan sebagai angunan untuk mendapatkan kredit dari bank. Begitu juga sebaliknya, jika petani hanya berstatus sebagai penggarap/penyakap maka petani akan lebih cenderung memilih mengakses kredit dari pedagang ataupun toko. Di lokasi penelitian ada juga pedagang dan toko yang menyediakan lahan untuk digarap oleh petani, sewa dari lahan tersebut dibayar pada saat panen. Jika lahan dari pedagang atapun toko, maka selama usahatani belum menghasilkan petani hanya mengorbankan tenaganya Analisis Rata-Rata Pendapatan Usahatani dan Analisis Rasio Penerimaan dan Biaya Analisis pendapatan petani contoh sayuran menggambarkan secara sederhana bagaimana tingkat kelayakan ushatani kentang dan tomat di daerah penelitian Analisis Usahatani Tomat Tujuan utama petani dalam berusaha tani adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Berdasarkan Lampiran 7 dapat diketahui hasil analisis pendapatan usahatani tomat di lokasi penelitian. Analisis ini dilakukan untuk menganalisis berapa keuntungan dan biaya untuk usahatani tomat perhektar.

17 89 Tabel 10. Analisis Rata-Rata Pendapatan Usahatani Tomat di Lokasi Penelitian dari Berbagai Sumber Akses Kredit per Hektar Keterangan Petani yang akses kredit dari bank Petani yang akses kredit dari pedagang Petani yang akses kredit dari Credit Union (1 000 Rupiah) Petani yang akses kredit dari toko Penerimaan Pengeluaran A. Biaya tunai B. Biaya di perhitungkan C. Biaya total D. Pendapatan atas biaya tunai E. Pendapatan atas biaya total F. R/C atas biaya total Dari hasil analisis usahatani produksi tomat yang paling tinggi adalah produksi tomat dari petani yang mengakses kredit dari pedagang (46.38 ton/ha). Tetapi tingkat keuntungan atas biaya total yang paling tinggi diperoleh oleh petani yang mengakses kredit dari Credit Union yaitu RP juta. Adanya perbedaan itu disebabkan oleh adanya perbedaan harga output dari usahatani tomat. Petani yang mengakses kredit dari pedagang harus menjual hasil ushataninya pada pedagang, sedangkan petani yang mengakses kredit dari bank, Credit Union dan toko bebas menjual hasil usahataninya. Nilai rasio dari penerimaan petani terhadap biaya total yang dikeluarkan petani untuk semua akses kredit lebih besar dari 1. Hasil analisis petani pada usahatani tomat menyatakan bahwa R/C atas biaya tunai yang paling besar dilakukan oleh petani yang mengakses kredit pada Credit Union yaitu 2.39 dan pedagang (2.22), hal ini menunjukkan besarnya penerimaan usahatani yang diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Petani yang

18 90 mengakses kredit dari Credit Union, komponen biaya yang terbesar adalah biaya untuk pupuk (28.87 persen) dan tenaga kerja dalam keluarga (28.49 persen). Petani yang mengakses dari bank, komponen biaya yang terbesar adalah pupuk (29.40 persen) dan pestisida (18.63 persen). Petani yang mengakses kredit dari pedagang, komponen biaya yang terbesar adalah pupuk (26.69 persen) dan pestisida (26.51 persen). Petani yang mengakses kredit dari toko, komponen biaya terbesar adalah pupuk (30.67 persen) dan pestisida (22.11 persen). Keempat sumber kredit itu memberikan pengaruh yang berbeda dalam penggunaan faktor input (Lampiran 9). Petani yang mengakses kredit dari bank, pedagang maupun toko menggunakan input yang berlebihan. Gambaran komponen biaya tersebut menunjukkan bahwa usahatani kentang dan tomat merupakan usahatani yang sangat membutuhkan modal (sekitar 60 juta rupiah) Analisis Usahatani Kentang Pada Lampiran 8 ditemukan bahwa nilai rasio dari penerimaan petani contohterhadap biaya total yang dikeluarkan rata-rata lebih dari satu dari setiap petani contohdari berbagai akses sumber modal. Produksi usahatani kentang yang paling besar adalah produksi dari petani yang mengakses kredit dari bank (17.09 ton/ha). Analisis uasahatani dilakukan untuk menganalisis berapa keuntungan dan biaya untuk usahatani kentang dalam luasan 1 Ha. tingkat keuntungan yang paling tinggi diperoleh oleh petani yang mengakses kredit dari bank yaitu Rp juta. Sedangkan pendapatan usahatani kentang yang mangakses kredit dari sumber lainnya berada di bawah dari Rp 10 juta. Adanya perbedaan itu tidak sisebabkan oleh adanya perbedaan komponen biaya, tetapi perbedaan dari pengalaman usahatani dari petani tersebut.

19 91 Tabel 11. Analisis Rata-Rata Pendapatan Usahatani Kentang di Lokasi Penelitian dari Berbagai Sumber Akses Kredit per Hektar Keterangan Petani yang akses kredit dari bank Petani yang akses kredit dari pedagang Petani yang akses kredit dari Credit union (1 000 Rupiah) Petani yang akses kredit dari toko Penerimaan Pengeluaran A. Biaya tunai B. Biaya di perhitungkan C. Biaya total D. Pendapatan atas biaya tunai E. Pendapatan atas biaya total F. R/C atas biaya total Nilai rasio dari penerimaan petani terhadap biaya total yang dikeluarkan petani untuk semua akses kredit lebih besar dari 1. Hasil analisis petani pada usahatani kentang menyatakan bahwa R/C atas biaya tunai yang paling besar dilakukan oleh petani yang mengakses kredit pada bank yaitu 1.50 dan pedagang (1.28), hal ini menunjukkan besarnya penerimaan usahatani yang diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Tingginya R/C atas biaya tunai petani yang mengakses kredit dari bank adalah karena untuk usahatani kentang memerlukan lahan yang luas untuk berusahatani. Pada persiapan lahan dan penanaman membutuhkan modal yang besar, sedangkan pada tahap pemeliharaan tidak membutuhkan modal tunai yang cepat dibandingkan dengan usahatani tomat. Ini berhubungan denga karakteristik sumber kredit. Karena kredit dari bank hanya dapat di akses dalam jangka waktu tertentu, jika kita butuh uang tunai dalam waktu cepat kredit tidak bisa langsung keluar karena ada persyaratan yang

20 92 harus di penuhi. Maka dari hasil penelitian R/C atas biaya tunai untuk usahatani kentang yang paling tinggi adalah petani yang akses kreditnya dari bank. Petani yang mengakses kredit dari bank, pedagang, Credit Union dan toko komponen biaya yang terbesar adalah biaya untuk pupuk dan tenaga kerja. Keempat sumber kredit itu memberikan pengaruh yang berbeda dalam penggunaan faktor input seperti yang terlihat pada Lampiran 10. Gambaran komponen biaya tersebut menunjukkan bahwa usahatani kentang dan tomat merupakan usahatani yang sangat membutuhkan modal (sekitar Rp 10 juta).

I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah

I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah pengembangan hortikultura untuk meningkatkan pendapatan petani kecil. Petani kecil yang dimaksud dalam pengembangan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. diduga disebabkan oleh rendahnya tingkat kepemilikan modal petani untuk

KERANGKA PEMIKIRAN. diduga disebabkan oleh rendahnya tingkat kepemilikan modal petani untuk 43 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual yang dibangun pada penelitian ini didasari adanya anggapan bahwa rendahnya produktivitas yang dicapai petani tomat dan kentang diduga

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49 29 Lintang Selatan dan

Lebih terperinci

PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SEHAT

PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SEHAT VIII PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SEHAT 8.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Produktivitas rata-rata gabah padi sehat petani responden sebesar 6,2 ton/ha. Produktivitas rata-rata

Lebih terperinci

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani.

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani. 85 VI. KERAGAAN USAHATANI PETANI PADI DI DAERAH PENELITIAN 6.. Karakteristik Petani Contoh Petani respoden di desa Sui Itik yang adalah peserta program Prima Tani umumnya adalah petani yang mengikuti transmigrasi

Lebih terperinci

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 45 V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 5.1 Karakteristik Petani Responden Penelitian dilakukan

Lebih terperinci

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 6.1. Mekanisme Penyaluran KUR di BRI Unit Tongkol Dalam menyalurkan KUR kepada debitur, ada beberapa tahap atau prosedur yang harus dilaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Modal tanah, tenaga kerja dan manajemen adalah faktor-faktor produksi,

I. PENDAHULUAN. Modal tanah, tenaga kerja dan manajemen adalah faktor-faktor produksi, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Modal tanah, tenaga kerja dan manajemen adalah faktor-faktor produksi, baik di sektor pertanian/usahatani maupun di luar sektor pertanian. Tanpa salah satu faktor produksi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Responden 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil komposisi umur kepala keluarga

Lebih terperinci

VI KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN

VI KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN VI KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN 6.3. Gambaran Umum Petani Responden Gambaran umum petani sampel diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan para petani yang menerapkan usahatani padi sehat dan usahatani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Tidak perlu di ragukan lagi

BAB I PENDAHULUAN. energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Tidak perlu di ragukan lagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG Usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang menurut bentuk dan coraknya tergolong ke dalam usahatani perorangan dimana pengelolaannya dilakukan

Lebih terperinci

BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA

BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA 59 BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA 8.1 Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Pengambilan keputusan inovasi Prima

Lebih terperinci

BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH

BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH 67 BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH Bab ini akan membahas keefektifan Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi Mantap) dalam mencapai sasaran-sasaran

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Umur petani merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan usahatani. Umur berpengaruh terhadap kemampuan fisik petani dalam mengelola usahataninya.

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Konsep Ekonomi 3.1.1. Fungsi Produksi Dalam proses produksi terkandung hubungan antara tingkat penggunaan faktor-faktor produksi dengan produk atau hasil yang akan diperoleh.

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pembiayaan dalam dunia usaha sangat dibutuhkan dalam mendukung keberlangsungan suatu usaha yang dijalankan. Dari suatu usaha yang memerlukan pembiayaan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. yang tidak mengalami kelangkaan pupuk dilihat berdasarkan produktivitas dan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. yang tidak mengalami kelangkaan pupuk dilihat berdasarkan produktivitas dan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Petani Padi Petani padi dalam menghadapi kelangkaan pupuk dibedakan berdasarkan pengaruh kelangkaan pupuk terhadap produktivitas dan pendapatan dalam usahatani padi. Pengaruh

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Kredit, Teori Permintaan dan Penawaran Kredit Berdasarkan asal mulanya, Kasmir (2003) menyatakan kredit berasal dari kata credere yang artinya

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Demografi Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor Desa Citeko merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Cisarua. Desa Citeko memiliki potensi lahan

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA 6.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan adalah model fungsi Cobb- Douglas. Faktor-faktor produksi yang diduga

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH 8.1. Penerimaan Usahatani Bawang Merah Penerimaan usahatani bawang merah terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL 6.1 Sarana Usahatani Kembang Kol Sarana produksi merupakan faktor pengantar produksi usahatani. Saran produksi pada usahatani kembang kol terdiri dari bibit,

Lebih terperinci

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Agroekonomi Kabupaten Garut Kabupaten Garut memiliki 42 kecamatan dengan luas wilayah administratif sebesar 306.519 ha. Sektor pertanian Kabupaten

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENDAPATAN USAHATANI BUNCIS DENGAN SISTEM TEBASAN DAN TANPA TEBASAN

PERBEDAAN PENDAPATAN USAHATANI BUNCIS DENGAN SISTEM TEBASAN DAN TANPA TEBASAN Jurnal Agrorektan: Vol. 2 No. 1 Juni 2015 2 PERBEDAAN PENDAPATAN USAHATANI BUNCIS DENGAN SISTEM TEBASAN DAN TANPA TEBASAN Annisa Aprianti R 1 1) Fakultas Agrobisnis dan Rekayasa Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Desa 5.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif Desa Ringgit terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Letak Desa

Lebih terperinci

VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN

VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN VIII ANALISIS HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN Analisis hubungan efisiensi dan pendapatan yang dibahas dalam penelitian ini adalah perbandingan antara nilai efisiensi teknis dengan rasio dari R/C.

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1 Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani merupakan nilai yang diperoleh dari total produksi usahatani sayuran per hektar yang dikelola oleh petani di Kelompok Tani

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara 30 sampai lebih dari 60 tahun. Umur petani berpengaruh langsung terhadap

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar ini dilakukan di Desa Gunung Malang yang berada di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan merupakan suatu rancangan kerja penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan konsep dan teori dalam menjawab

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT 7.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Penerimaan usahatani padi sehat terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan

IV. METODE PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN Pengumpulan data primer penelitian dilakukan di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG 7.1 Keragaan Usahatani Padi Varietas Ciherang Usahatani padi varietas ciherang yang dilakukan oleh petani di gapoktan Tani Bersama menurut hasil

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah 1. Persiapan kolam Di Desa Sendangtirto, seluruh petani pembudidaya ikan menggunakan kolam tanah biasa. Jenis kolam ini memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya adalah komoditas padi, karena komoditas padi sebagai sumber penyediaan kebutuhan pangan pokok berupa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. produksi hanya diterima petani setiap musim sedangkan pengeluaran harus

I. PENDAHULUAN. produksi hanya diterima petani setiap musim sedangkan pengeluaran harus I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Keterbatasan modal merupakan permasalahan yang paling umum terjadi dalam usaha, terutama bagi usaha kecil seperti usahatani. Ciri khas dari kehidupan petani adalah perbedaan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI 6.1. Proses Budidaya Ganyong Ganyong ini merupakan tanaman berimpang yang biasa ditanam oleh petani dalam skala terbatas. Umbinya merupakan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak ditanam oleh petani di Kecamatan Pasirwangi. Namun, pengelolaan usahatani kentang di daerah ini banyak memanfaatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian masih merupakan prioritas pembangunan secara nasional maupun regional. Sektor pertanian memiliki peran penting untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM DESA CIMANGGIS

V GAMBARAN UMUM DESA CIMANGGIS V GAMBARAN UMUM DESA CIMANGGIS 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Bogor memiliki kuas wilayah 299.428,15 hektar yang terbagi dari 40 kecamatan. 40 kecamatan dibagi menjadi tiga wilayah yaitu wilayah

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Suatu penalaran dari penulis yang didasarkan atas pengetahuan,teori dan dalil dalam upaya menjawab penelitian dituangkan dalam kerangka pemikiran

Lebih terperinci

VI SISTEM KEMITRAAN PT SAUNG MIRWAN 6.1 Gambaran Umum Kemitraan Kedelai Edamame PT Saung Mirwan sangat menyadari adanya keterbatasan-keterbatasan.

VI SISTEM KEMITRAAN PT SAUNG MIRWAN 6.1 Gambaran Umum Kemitraan Kedelai Edamame PT Saung Mirwan sangat menyadari adanya keterbatasan-keterbatasan. VI SISTEM KEMITRAAN PT SAUNG MIRWAN 6.1 Gambaran Umum Kemitraan Kedelai Edamame PT Saung Mirwan sangat menyadari adanya keterbatasan-keterbatasan. Terutama dalam hal luas lahan dan jumlah penanaman masih

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana. produksi danpendapatanyang diinginkan pada waktu tertentu.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana. produksi danpendapatanyang diinginkan pada waktu tertentu. 37 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Usahatani dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang petani mengalokasikan sumberdaya yang ada, baik lahan, tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting. Indonesia dikenal dengan negara yang kaya akan hasil alam, kondisi

Lebih terperinci

dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negative terhadap tingkat pengembalian kredit TRI. Penelitian Sarianti (1998) berjudul faktor-faktor yang

dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negative terhadap tingkat pengembalian kredit TRI. Penelitian Sarianti (1998) berjudul faktor-faktor yang II TINJAUAN PUSTAKA Penilaian tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembalian kredit sudah banyak dilakukan sebelumnya, baik pada kredit yang disalurkan oleh lembaga keuangan (bank) maupun

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 7.1. Penerimaan Usahatani Kedelai Edamame Analisis terhadap penerimaan usahatani kedelai edamame petani mitra PT Saung Mirwan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani.

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani. BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Petani Sampel Berdasarkan data primer yang diperoleh dari 84 orang petani sampel, maka dapat dikemukakan karakteristik petani sampel, khususnya

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Usahatani Usahatani (wholefarm) adalah ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah,

Lebih terperinci

V. DAMPAK PERGULIRAN DANA SPP TERHADAP UMKM. 5.1 Keragaan Penyaluran Pinjaman Dana Bergulir SPP

V. DAMPAK PERGULIRAN DANA SPP TERHADAP UMKM. 5.1 Keragaan Penyaluran Pinjaman Dana Bergulir SPP 65 V. DAMPAK PERGULIRAN DANA SPP TERHADAP UMKM 5.1 Keragaan Penyaluran Pinjaman Dana Bergulir SPP Kecamatan Cimarga merupakan salah satu kecamatan yang melaksanakan program SPP sejak diselenggarakannya

Lebih terperinci

Peranan Modal dalam Produksi Pertanian. TIK : Mahasiswa dapat memahami peranan modal dalam produksi pertanian

Peranan Modal dalam Produksi Pertanian. TIK : Mahasiswa dapat memahami peranan modal dalam produksi pertanian Peranan Modal dalam Produksi Pertanian TIK : Mahasiswa dapat memahami peranan modal dalam produksi pertanian Mengapa petani perlu modal? untuk membiayai usahataninya untuk membiayai pemasaran pembiayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian meliputi sub-sektor perkebunan, perikanan, dan perikanan.

BAB I PENDAHULUAN. pertanian meliputi sub-sektor perkebunan, perikanan, dan perikanan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar dan berkelanjutan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk pembangunan

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO

BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO Bentuk analisis pendapatan ini mengacu kepada konsep pendapatan biaya yang dikeluarkan, yaitu biaya tunai dan biaya

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Desa Situ Udik Desa Situ Udik terletak dalam wilayah administratif Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa Situ Udik terletak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perhitungan Model scoring ini adalah model perhitungan yang cepat dan mudah untuk mengidentifikasikan keputusan yang mempunyai beragam criteria. Perhitungan dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi 4.1.1 Keadaan Geografis Desa Oluhuta Utara merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI 7.1. Produktivitas Usahatani Produktivitas merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan sumberdaya yang ada (lahan) untuk menghasilkan keluaran

Lebih terperinci

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. HASIL DAN PEMBAHASAN II. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Faktor umur adalah salah satu hal yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Semakin produktif umur seseorang maka curahan tenaga yang dikeluarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mencolok agar anak-anak tertarik untuk mengisinya dengan tabungan

BAB I PENDAHULUAN. yang mencolok agar anak-anak tertarik untuk mengisinya dengan tabungan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya bank dikenal sebagai sebuah tempat dimana kita menyimpan uang kita, tempat yang sangat identik dengan kata menabung. Orang tua kita selalu mengajari kita

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekonomi Padi Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Kasryno dan Pasandaran (2004), beras serta tanaman pangan umumnya berperan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif

III. METODE PENELITIAN. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif karena dalam penelitian ini berupa angka-angka dan analisis. Dalam pembahasannyan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Badan Pusat Statistik (BPS) mengelompokkan UMKM berdasarkan jumlah tenaga kerja. Usaha yang memiliki 1-4 orang tenaga kerja dikelompokkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. piutang ini dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang selanjutnya disebut

BAB I PENDAHULUAN. piutang ini dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (yang selanjutnya disebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan di masyarakat sering kita mendapati perbuatan hukum peminjaman uang antara dua orang atau lebih. Perjanjian yang terjalin antara dua orang atau

Lebih terperinci

SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH

SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN BY : DIANA MA RIFAH PENGERTIAN Menurut DFID (Department For International Development) sektor keuangan adalah seluruh perusahaan besar atau kecil, lembaga formal

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan 1 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan memperhatikan tiap-tiap gejala

Lebih terperinci

MODAL DALAM PRODUKSI PERTANIAN. Oleh : Agustina BIDARTI, S.P., M.Si. Sosek Pertanian FP Unsri

MODAL DALAM PRODUKSI PERTANIAN. Oleh : Agustina BIDARTI, S.P., M.Si. Sosek Pertanian FP Unsri MODAL DALAM PRODUKSI PERTANIAN Oleh : Agustina BIDARTI, S.P., M.Si. Sosek Pertanian FP Unsri Definisi MODAL Barang atau uang yg bersama-sama faktor produksi lain (tanah dan tenaga kerja) menghasilkan barang-barang

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI BISNIS TANAMAN PANGAN UNGGULAN DI KABUPATEN BEKASI Oleh : Nana Danapriatna dan Ridwan Lutfiadi BAB 1.

ANALISIS EFISIENSI BISNIS TANAMAN PANGAN UNGGULAN DI KABUPATEN BEKASI Oleh : Nana Danapriatna dan Ridwan Lutfiadi BAB 1. ANALISIS EFISIENSI BISNIS TANAMAN PANGAN UNGGULAN DI KABUPATEN BEKASI Oleh : Nana Danapriatna dan Ridwan Lutfiadi ABSTRAK Tanaman pangan yang berkembang di Kabupaten Bekasi adalah padi, jagung, ubi kayu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi tersebut harus dapat diusahakan dengan kemampuan dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi tersebut harus dapat diusahakan dengan kemampuan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diakui bahwa usaha kecil dan menengah mempunyai peran penting di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan hal yang mutlak yang

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Usahatani didefinisikan sebagai satuan organisasi produksi di lapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian dan agribisnis di pedesaan merupakan sumber pertumbuhan perekonomian nasional. Agribisnis pedesaan berkembang melalui partisipasi aktif petani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang dengan cepat, sumber-sumber dana diperlukan untuk membiayai usaha tersebut. Salah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga

I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendapatan rumahtangga petani adalah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga petani dapat berasal dari

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI PADI DALAM PEMANFAATAN SUMBER PERMODALAN: STUDI KASUS DI KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI PADI DALAM PEMANFAATAN SUMBER PERMODALAN: STUDI KASUS DI KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI PADI DALAM PEMANFAATAN SUMBER PERMODALAN: STUDI KASUS DI KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN Tian Mulyaqin, Yati Astuti, dan Dewi Haryani Peneliti, Balai Pengkajian Tekonologi

Lebih terperinci

ANALISIS KAPABILITAS PETANI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI DALAM USAHATANI PADI SAWAH

ANALISIS KAPABILITAS PETANI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI DALAM USAHATANI PADI SAWAH ANALISIS KAPABILITAS PETANI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI DALAM USAHATANI PADI SAWAH (Studi Kasus di Desa Bugel Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya) Oleh: Husni Khamdan Fariz 1, Dedi Herdiansah S

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Usahatani Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat besar. Sektor sektor ekonomi yang menopang perekonomian di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. sangat besar. Sektor sektor ekonomi yang menopang perekonomian di Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peranan perbankan dalam memajukan perekonomian suatu negara sangat besar. Sektor sektor ekonomi yang menopang perekonomian di Indonesia seperti sektor perdagangan,

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 98 BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian ini akan dikemukakan hasil temuan studi yang menjadi dasar untuk menyimpulkan keefektifan Proksi Mantap mencapai tujuan dan sasarannya. Selanjutnya dikemukakan

Lebih terperinci

1. JUMLAH RTUP MENURUT GOL. LUAS LAHAN

1. JUMLAH RTUP MENURUT GOL. LUAS LAHAN GOL. LUAS LAHAN (m 2 ) 1. JUMLAH RTUP MENURUT GOL. LUAS LAHAN ST.2003 ST.2013 PERUBAHAN RTUP RTUP (juta) (%) (juta) (juta) < 1000 9.38 4.34-5.04-53.75 1000-1999 3.60 3.55-0.05-1.45 2000-4999 6.82 6.73-0.08-1.23

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Implementasi Program Asuransi Pertanian terhadap Pendapatan. Petani Anggota Gapoktan Bangkit Jaya

BAB IV ANALISIS DATA. A. Implementasi Program Asuransi Pertanian terhadap Pendapatan. Petani Anggota Gapoktan Bangkit Jaya BAB IV ANALISIS DATA Berdasarkan uraian pada BAB II tentang landasan teori mengenai asuransi dan pendapatan dan BAB III yang berisi tentang hasil penelitian, maka dalam BAB IV penulis akan mencoba melakukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani tomat dan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penyuluhan pertanian mempunyai peranan strategis dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (petani) sebagai pelaku utama usahatani. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilakukan di negara-negara dunia ketiga masih menitikberatkan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilakukan di negara-negara dunia ketiga masih menitikberatkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang dilakukan di negara-negara dunia ketiga masih menitikberatkan pada sektor pertanian. Di Indonesia sektor pertanian memiliki peranan besar dalam menunjang

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Program Pembiayaan Pertanian

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Program Pembiayaan Pertanian II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Program Pembiayaan Pertanian Dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sektor pertanian telah dilaksanakan banyak program pembiayaan pertanian.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini

I. PENDAHULUAN. penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sampai saat ini masih memegang peranan penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan dari kegiatan usahatani yang dijalankan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN III.

KERANGKA PEMIKIRAN III. III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengendalian Kredit Bank Pada penyaluran kredit bank, perlu diperhatikan beberapa aspek yang terkait dengan nasabah penerima kredit untuk

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 18 km dari ibu kota Kabupaten Buleleng

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari besarnya jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank 2.2. Unsur-unsur dan Tujuan Kredit

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank 2.2. Unsur-unsur dan Tujuan Kredit II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank Penyaluran kredit merupakan salah satu jasa perbankan yang utama dalam mendukung perputaran ekonomi. Melalui kredit, sektor usaha akan mendapatkan

Lebih terperinci

VI KAJIAN KEMITRAAN PETANI PADI SEHAT DESA CIBURUY DENGAN LEMBAGA PERTANIAN SEHAT DOMPET DHUAFA REPLUBIKA

VI KAJIAN KEMITRAAN PETANI PADI SEHAT DESA CIBURUY DENGAN LEMBAGA PERTANIAN SEHAT DOMPET DHUAFA REPLUBIKA VI KAJIAN KEMITRAAN PETANI PADI SEHAT DESA CIBURUY DENGAN LEMBAGA PERTANIAN SEHAT DOMPET DHUAFA REPLUBIKA 6.1 Motif Dasar Kemitraan dan Peran Pelaku Kemitraan Lembaga Petanian Sehat Dompet Dhuafa Replubika

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis hasil penelitian mengenai Analisis Kelayakan Usahatani Kedelai Menggunakan Inokulan di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah meliputi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN DAN R/C USAHATANI JAHE ( Zingiber officinale ) (Suatu Kasus di Desa Kertajaya Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis)

ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN DAN R/C USAHATANI JAHE ( Zingiber officinale ) (Suatu Kasus di Desa Kertajaya Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis) ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN DAN R/C USAHATANI JAHE ( Zingiber officinale ) (Suatu Kasus di Desa Ciamis) Oleh : Didin Saadudin 1, Yus Rusman 2, Cecep Pardani 3 13 Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2 Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEUANGAN. Swiss Confederation. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia

PERENCANAAN KEUANGAN. Swiss Confederation. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia PERENCANAAN KEUANGAN ASET Aktiva/Harta/Kekayaan yang dimiliki, misalnya : uang tunai, tanah, sepeda motor, pohon kakao. LIABILITAS hutang yang dimiliki, misalnya tagihan untuk membayar pinjaman. PENDAPATAN

Lebih terperinci