VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK"

Transkripsi

1 VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK 6.1. Analisis Risiko Produksi Risiko produksi menyebabkan tingkat produktivitas tanaman sayuran organik mengalami fluktuasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi risiko dalam kegiatan produksinya. Fluktuasi produktivitas akibat risiko produksi ini akan berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Tingkat produktivitas beberapa tanaman sayuran organik di perusahaan dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Tingkat Produktivitas (Kg/m 2 ) Bayam Hijau, Brokoli, Caisin, dan Wortel Selama 10 Periode di PT Masada Organik Indonesia Bulan April 2010 Januari Komoditi Bayam H. 0,4 0,3 0,3 0,3 0,3 0,2 0,1 0,1 0,2 0,1 Brokoli 0,01 0,04 0,02 0,02 0,03 0,03 0,05 0,02 0,01 0,01 Caisin 0,2 0,2 0,1 0,2 0,3 0,1 0,1 0,2 0,3 0,3 Wortel 0,2 0,2 0,2 0,1 0,1 0,2 0,2 0,3 0,2 0,2 Tabel 17 menunjukkan bahwa produktivitas empat komoditi sayuran organik pada perusahaan selama 10 periode mengalami fluktuasi. Hal tersebut mengindikasikan adanya risiko yang dihadapi perusahaan dalam memproduksi sayuran organik. Risiko produksi yang dibahas dalam penelitian ini difokuskan pada risiko produksi bayam hijau, brokoli, caisin, dan wortel organik Faktor- faktor Risiko Produksi Dalam budidaya sayuran organik tidak terlepas dari risiko produksi. Risiko produksi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor risiko produksi yang dihadapi oleh PT Masada Organik Indonesia antara lain: a. Curah Hujan Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan produktivitas sayuran menurun dikarenakan tanaman rentan terhadap hama penyakit dan menimbulkan kebusukan pada tanaman sehingga produksi sayuran tidak optimal. Oleh karena itu curah hujan yang sesuai untuk sayuran organik adalah curah hujan yang rendah, hal ini dikarenakan tanaman pada curah hujan yang rendah tidak rentan

2 terhadap penyakit. Untuk memenuhi kebutuhan air bila curah hujan rendah, diperlukan pengairan dan penyiraman yang sesuai kebutuhan. Berdasarkan informasi di lapangan, saat ini kondisi cuaca yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sayuran sulit untuk diprediksi. Oleh karena itu PT Masada Organik Indonesia dalam meminimalisasi risiko terhadap curah hujan yang tinggi, dengan membangun sungkup pada lahan agar tanaman tidak terkena hujan sehingga persentase keberhasilan sayuran dapat dicapai secara optimal. b. Kabut Kabut yang timbul dapat menyebakan kelembapan udara menjadi tinggi sehingga membuat tanaman mudah rusak dan busuk. Selain itu, kabut merupakan media bagi hama untuk bergerak dan berpindah-pindah dalam menyerang tanaman. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kabut seringkali muncul setiap pagi, setelah hujan, dan saat sore hari menjelang malam. c. Serangan Hama dan Penyakit Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor risiko yang dihadapi dalam budidaya sayuran organik, hal ini disebabkan karena karakteristik sayuran organik yang rentan terhadap hama penyakit dan akan berdampak terhadap produksi yang dihasilkan. Hama yang sering menyerang sayuran organik adalah ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell), ulat tritip (Plutella maculipennis), dan lain lain. Penyakit yang sering menyerang sayuran adalah penyakit bercak daun, busuk basah, busuk daun, dan lain-lain. Hama penyakit dapat menyerang mulai dari akar, umbi, batang, daun, dan ujung daun. Kemunculan hama penyakit seringkali tidak dapat diprediksi sebelumnya, hal ini dikarenakan munculnya hama dan penyakit tersebut dipengaruhi faktor cuaca dan iklim yang juga tidak dapat diprediksi secara tepat. d. Tingkat Kesuburan Lahan Beberapa hal yang harus diperhatikan yang berkaitan dengan lahan adalah kesesuaian dan daya dukung. Salah satu bagian dari daya dukung lahan terhadap aktivitas usahatani yang dilakukan adalah tingkat kesuburan lahan. Lahan yang subur akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan lahan yang kurang subur, kesuburan lahan biasanya berkaitan dengan struktur dan tekstur tanah. Perbedaan struktur maupun tekstur tanah ini biasanya sesuai dengan jenis

3 tanahnya. Oleh karena itu lahan yang digunakan pada sayuran organik sebaiknya harus dilakukan pembersihan lahan terlebih dahulu yang meliputi pencabutan rumput-rumput liar atau gulma, dan pembersihan tanaman keras dan selanjutnya dilakukan penggemburan serta pemberian pupuk kandang. Tingkat risiko produksi yang ada di PT Masada Organik Indonesia dapat diketahui dengan melakukan penilaian risiko produksi berdasarkan produktivitas. Langkah awal yang dilakukan adalah mengukur peluang yang diperoleh dari frekuensi kejadian yang dibagi dengan periode waktu selama kegiatan berlangsung. Data produksi yang digunakan untuk analisis risiko produksi adalah data produksi bayam hijau, brokoli, caisin, dan wortel organik selama 10 bulan. Data historis yang telah diperoleh dari perusahaan dapat digunakan untuk menentukan besarnya nilai peluang. Peluang dari setiap kejadian diasumsikan bernilai sama yaitu sebesar 0,1. Nilai peluang yang telah diketahui dari produktivitas dan pendapatan kemudian digunakan untuk mencari nilai expected return. Perhitungan expected return pada peluang kondisi yang sama adalah peluang dikalikan dengan total tingkat produktivitas tiap komoditi. Berikut ini adalah hasil perhitungan peluang dan expected return pada komoditi bayam hijau, brokoli, caisin, dan wortel organik dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Perhitungan Expected Return Berdasarkan Produktivitas pada Kegiatan Spesialisasi Bayam Hijau, Brokoli, Caisin, dan Wortel di PT Masada Organik Indonesia Total Tingkat Komoditi Peluang Expected Return Produktivitas Bayam Hijau 2,12 0,1 0,212 Brokoli 0,23 0,1 0,023 Caisin 2,02 0,1 0,202 Wortel 1,84 0,1 0,184 Berdasarkan Tabel 18, dapat dilihat bahwa untuk memperoleh nilai Expected Return berdasarkan produktivitas pada komoditi sayuran organik, maka perlu diketahui terlebih dahulu berapa total tingkat produktivitas dan peluang kejadiannya. Peluang kejadian telah dijelaskan sebelumnya tentang cara mendapatkan nilai peluangnya, sedangkan untuk total tingkat produktivitas

4 diperoleh dari jumlah produktivitas tiap komoditi sayuran organik selama 10 periode. Pihak perusahaan harus membuat perencanaan produksi untuk dapat meminimalkan risiko yang terdapat dalam produksi. Perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan risiko produksi dapat dilakukan mulai dari penanaman, perawatan dan pemanenan. Perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan risiko produksi antara lain dengan melakukan diversifikasi pada tanaman yaitu dalam satu luasan lahan ditanam dua jenis tanaman. Hal ini dapat mengurangi risiko produksi karena dapat saling menguntungkan antara tanaman satu dengan tanaman yang lainnya. Kegiatan produksi sayuran organik di kebun milik perusahaan ditangani oleh manajer kebun yang memantau secara langsung di lapang. Manajer kebun membawahi beberapa bagian yakni bagian pembibitan, penanaman dan pengemasan. Kegiatan pembibitan dan penanaman ditangani oleh seorang mandor kebun yang membawahi beberapa pekerja/petani. Kegiatan pengemasan juga ditangani oleh seorang mandor kebun yang membawahi beberapa pekerja. Perusahaan sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko yang ada. Hal ini dapat terlihat dari adanya perencanaan produksi dan pengorganisasian unit produksi pada PT Masada Organik Indonesia. Perencanaan produksi yang dilakukan mulai pada saat pembibitan, penanaman, dan pemanenan. Perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan risiko produksi antara lain dengan menggunakan sistem penanaman rotasi tanaman dan tumpang sari. Namun perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan sampai saat ini masih belum maksimal. Hal ini dibuktikan oleh belum tercapainya target produksi pada beberapa komoditi. Kondisi tersebut terjadi karena pengawasan dalam proses produksi yang belum intensif dan belum dijalankannya fungsi-fungsi manajemen dengan baik. Selain itu, faktor eksternal juga mempengaruhi hasil produksi yakni terjadinya cuaca yang tidak mendukung. Saat permintaan sedang tinggi, perusahaan tidak dapat memenuhinya karena cuaca sedang buruk sehingga menurunkan hasil produksi. Begitu pula sebaliknya, saat produksi sedang bagus, permintaan tidak terlalu tinggi, sehingga banyak hasil

5 produksi yang terbuang. Selanjutnya, uraian berikut akan menjelaskan mengenai risiko produksi pada kegiatan spesialisasi dan diversifikasi Penilaian Risiko Produksi pada Spesialisasi Penilaian risiko produksi pada kegiatan spesialisasi dilihat berdasarkan produktivitas dan pendapatan bersih yang diperoleh komoditi bayam hijau, brokoli, caisin dan wortel. Penilaian risiko produksi dapat dihitung menggunakan Variance, Standard Deviation, dan Coefficient Variation. Penilaian risiko produksi berdasarkan produktivitas yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Penilaian Risiko Produksi pada Kegiatan Spesialisasi Bayam Hijau, Brokoli, Caisin, dan Wortel di PT Masada Organik Indonesia Komoditi Ukuran Variance Standard Deviation Coeff Variation Bayam Hijau 0, ,0896 0,422 Brokoli 0, ,0132 0,564 Caisin 0, ,0763 0,377 Wortel 0, ,0443 0,241 Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 19, dapat dilihat bahwa nilai variance yang diperoleh dari penilaian risiko produksi ini berbanding lurus dengan nilai standard deviation yaitu jika nilai variance tinggi maka nilai standard deviation juga akan tinggi. Perolehan nilai variance dan standard deviation tertinggi dari keempat komoditi yang diteliti terdapat pada komoditi bayam hijau yaitu 0, dan 0,0896. Perolehan nilai variance dan standard deviation yang paling rendah terdapat pada brokoli yaitu 0, dan 0,0132. Penilaian risiko produksi yang lebih baik adalah dengan menggunakan coefficient variation karena perbandingan diantara kegiatan usaha sayuran organik dengan ukuran yang sama yaitu risiko untuk setiap return yang diperoleh PT Masada Organik Indonesia. Semakin besar coefficient variation maka semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Risiko produksi yang paling besar berdasarkan produktivitas adalah pada sayuran brokoli dengan nilai coefficient variation sebesar 0,564. Nilai tersebut artinya setiap satu kilogram hasil yang diperoleh PT Masada Organik Indonesia dari kegiatan budidaya brokoli organik akan menghadapi risiko sebanyak 0,564 kg pada saat terjadinya risiko produksi.

6 Berdasarkan wawancara di lapang, didapatkan informasi bahwa tanaman brokoli merupakan tanaman yang sangat rentan terhadap cuaca serta hama penyakit. Kondisi cuaca yang tidak pasti mengakibatkan produktivitas tanaman brokoli mengalami risiko yang tinggi. Selain itu, perusahaan melakukan pembibitan brokoli sendiri di greenhouse yang ada di kebun. Dalam kegiatan pembibitan tersebut, seringkali terjadi kegagalan sehingga bibit yang dihasilkan tidak dapat mencukupi kebutuhan bibit untuk penanaman brokoli. Tingkat kegagalan pada kegiatan pembibitan brokoli cukup tinggi bahkan pernah terjadi kegagalan mencapai lebih dari 90 persen. Pembibitan brokoli telah dilakukan di dalam greenhouse, akan tetapi bila timbul kabut, masuknya kabut kedalam greenhouse tidak dapat dicegah karena kondisi greenhouse yang tidak sepenuhnya tertutup. Kabut tersebut membawa hama dan kemudian menempel pada bibit brokoli sehingga terjadi kegagalan produksi bibit. Selain itu, kemungkinan terserangnya hama dan penyakit juga dapat terjadi saat bibit brokoli sudah ditanam dan telah tumbuh di lahan. Salah satu hama yang sering menyerang brokoli adalah Plutella acylostella L. dan Crocidolomia pavonana F. Hama ini akan menyebabkan penurunan produksi atau gagal panen. Semakin besar nilai koefisien variasi maka semakin tinggi tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan dalam mengusahakan sayuran tersebut. Berdasarkan wawancara di lapang, perusahaan dalam mengusahakan tanaman brokoli sendiri masih mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh hasil produksi brokoli diperoleh masih sangat jauh dari target produksi sedangkan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi brokoli cukup tinggi sehingga akan berdampak pada pendapatan perusahaan. Perusahaan masih mencari teknik budidaya yang tepat agar hasil produksi brokoli organik tersebut dapat mencapai target produksi. Untuk menutupi kerugian dan ketidakmampuan dalam memenuhi permintaan, perusahaan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak pemasok brokoli organik. Sebagian besar brokoli organik dipasok dari pihak luar yaitu sekitar 70-80% dari total brokoli organik yang dijual oleh perusahaan. Selain itu, dapat dilihat pula perolehan tingkat risiko produksi yang paling rendah terdapat pada komoditi wortel dengan nilai coefficient variation sebesar

7 0,241. Nilai tersebut artinya setiap satu kilogram hasil yang diperoleh PT Masada Organik Indonesia dari kegiatan budidaya wortel organik akan menghadapi risiko sebanyak 0,241 kg pada saat terjadinya risiko produksi. Menurut hasil wawancara oleh pihak kebun PT Masada Organik Indonesia, tingkat risiko produksi wortel paling rendah dikarenakan tanaman wortel merupakan tanaman yang paling tahan terhadap ancaman kondisi cuaca yang buruk maupun ancaman serangan hama dan penyakit. Selain itu, wortel paling mudah dibudidayakan dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya seperti bayam hijau, caisin, dan brokoli. Akan tetapi, tanaman wortel juga dapat menghasilkan hasil panen yang rendah atau kurang maksimal. Hasil panen wortel yang rendah tersebut disebabkan oleh benih wortel yang digunakan merupakan benih wortel yang kurang bagus. Benih wortel yang kurang bagus dikarenakan pada saat proses produksi benih, kondisi cuaca sedang hujan sehingga benih yang dihasilkan kurang kering yang akan berpengaruh pada produktivitas tanaman wortel Penilaian Risiko Produksi pada Portofolio Sayuran organik yang telah dianalisis risiko produksinya menggambarkan risiko yang dihadapi perusahaan pada masing-masing komoditi yang diusahakan. PT Masada Organik Indonesia melakukan kombinasi dari beberapa kegiatan usahataninya, kombinasi dari beberapa kegiatan dinamakan diversifikasi. Pengusahaan secara diversifikasi ini menjadikan risiko yang dihadapi perusahaan dinamakan risiko portofolio. Perbandingan terhadap risiko produksi spesialisasi dan portofolio dilakukan melalui pengukuran risiko dengan cara menghitung variance gabungan dari beberapa kegiatan usaha disertai dengan pembobotan masing-masing komoditi. Pengukuran risiko portofolio ini diawali dengan menghitung bobot portofolio atau fraction portofolio. Cara menghitungnya telah dijabarkan sebelumnya pada bab metode penelitian. Kombinasi dari kegiatan portofolio yang dianalisis adalah kombinasi dua komoditi, tiga komoditi dan empat komoditi. Fraction portofolio pada kombinasi dua komoditi, tiga komoditi, dan empat komoditi dapat dilihat pada Tabel 20.

8 Tabel 20. Fraction Portofolio pada Kombinasi Dua, Tiga, dan Empat Komoditi Bayam Hijau, Brokoli, Caisin, dan Wortel Organik. Kombinasi Komoditi a. Bayam Hijau Brokoli b. Bayam Hijau Caisin c. Bayam Hijau Wortel d. Brokoli Caisin e. Brokoli Wortel f. Caisin Wortel g. Bayam Hijau Brokoli Caisin h. Bayam Hijau Brokoli Wortel i. Bayam Hijau Caisin Wortel j. Brokoli Caisin - Wortel k. Bayam Brokoli Caisin Wortel Fraksi / Bobot Portofolio (%) Bayam Brokoli Caisin Wortel 12,5 50,0 22,0 11,0 9,0 18,0 8,0 87,5 87,5 67,0 78,0 61,0 61,0 56,0 50,0 12,5 33,0 22,0 11,0 18,0 9,0 8,0 78,0 78,0 30,0 64,0 30,0 28,0 Sebelum melakukan perhitungan risiko portofolionya, perhitungan diawali dengan menentukan expected return portofolionya. Cara perhitungan expected return portofolio misalnya pada dua kombinasi bayam dan brokoli adalah bayam yang memiliki bobot 12,5 persen atau 0,125 dikalikan dengan expected return spesialisasi bayam, kemudian dijumlahkan dengan hasil perkalian pembobotan brokoli yaitu 87,5 persen atau 0,875 dengan expected returnnya. Berikut ini adalah hasil perhitungan expected return pada kegiatan portofolio pada Tabel 21. Tabel 21. Expected Return Bayam Hijau, Brokoli, Caisin, dan Wortel pada Kegiatan Portofolio di PT Masada Organik Indonesia Kombinasi Komoditi a. Bayam Hijau Brokoli b. Bayam Hijau Caisin c. Bayam Hijau Wortel d. Brokoli Caisin e. Brokoli Wortel f. Caisin Wortel g. Bayam Hijau Brokoli Caisin h. Bayam Hijau Brokoli Wortel i. Bayam Hijau Caisin Wortel j. Brokoli Caisin - Wortel k. Bayam Hijau Brokoli Caisin Wortel Expected Return 0,047 0,207 0,190 0,045 0,076 0,188 0,063 0,088 0,192 0,087 0,098

9 Berdasarkan Tabel 21 dapat dilihat bahwa expected return tertinggi berdasarkan produktivitas pada kegiatan portofolio terdapat pada kombinasi dua komoditi yaitu komoditi bayam hijau dan caisin. Perolehan nilai expected return kombinasi bayam hijau dengan caisin yaitu sebesar 0,207. Berdasarkan hasil wawancara, kedua komoditi ini memiliki tingkat produktivitas yang baik dan hampir sama. Perbandingan penggunaan lahan untuk portofolio kedua komoditi ini pun sama yaitu masing-masing 50 persen. Hal ini menyebabkan perolehan pengembalian yang diharapkan tinggi karena porsi penggunaan lahan yang cukup besar dan perolehan produktivitas yang cukup tinggi. Selain itu, dapat dilihat juga expected return terendah terdapat pada kombinasi dua komoditi yaitu komoditi brokoli dengan caisin sebesar 0,045. Berdasarkan hasil wawancara, brokoli memiliki tingkat produktivitas yang cukup rendah. Perbandingan penggunaan lahan untuk portofolio kedua komoditi ini pun berbeda jauh yaitu brokoli 87,5 persen dan caisin 12,5 persen. Hal ini menyebabkan perolehan pengembalian yang diharapkan rendah karena porsi penggunaan lahan untuk brokoli cukup besar dengan perolehan produktivitas yang rendah. Perhitungan expected return yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan perhitungan risiko portofolio kombinasi dua komoditi. Nilai koefisien korelasi yang digunakan pada kegiatan portofolio ini adalah positif satu (+1) karena kombinasi-kombinasi aset dilakukan bersamaan. Berikut ini hasil perhitungan risiko produksi portofolio pada kombinasi dua komoditi pada Tabel 22. Tabel 22. Perhitungan Risiko Produksi Portofolio pada Dua Kombinasi Komoditi Berdasarkan Produktivitasnya di PT Masada Organik Indonesia Komoditi Ukuran Variance St Deviation Coeffient Variation 1. Bayam H. Brokoli 0, ,023 0, Bayam H. Caisin 0, ,083 0, Bayam H. Wortel 0, ,054 0, Brokoli Caisin 0, ,021 0, Brokoli Wortel 0, ,023 0, Caisin Wortel 0, ,051 0,273

10 Berdasarkan Tabel 22, dapat dilihat perbandingan risiko produksi yang dihadapi PT Masada Organik Indonesia berdasarkan produktivitas dalam mengusahakan sayuran organik dengan kombinasi dua komoditi. Perolehan nilai koefisien variasi pada tabel tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap produktivitas yang diperoleh perusahaan, ternyata risiko portofolio kombinasi dua komoditi yang paling rendah adalah kombinasi komoditi caisin dengan wortel dengan coefficient variation sebesar 0,273. Menurut informasi di lapangan, komoditi sayuran caisin dan wortel merupakan kombinasi yang paling cocok sehingga sering diusahakan secara diversifikasi dengan pola tanam tumpangsari. Wortel yang memiliki usia tanaman sekitar tiga bulan cocok ditanam bersama caisin yang memiliki usia tanam sekitar tiga minggu. Selain itu, caisin memiliki akar tunggang, sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan wortel yang umbinya berada di dalam tanah. Berbeda dengan caisin, bayam yang memiliki akar serabut sehingga perusahaan tidak pernah melakukan tumpangsari bayam dengan wortel. Hal tersebut karena akar serabut bayam akan dapat merusak umbi wortel dalam tanah ketika bayam dipanen dengan cara dicabut dengan akar-akarnya, sedangkan pada umur tiga minggu tanaman wortel masih dalam masa pertumbuhan. Selain itu, kombinasi wortel dan caisin memiliki tingkat risiko paling kecil karena wortel dan caisin merupakan tanaman yang tidak terlalu rentan terhadap berbagai kondisi yang tidak mendukung terutama untuk tanaman wortel. Wortel merupakan tanaman yang paling tahan terhadap ancaman cuaca yang buruk maupun ancaman hama dan penyakit. Berbeda dengan wortel, saat musim hujan atau cuaca sangat buruk, tanaman caisin organik dapat mengalami menjadi rusak namun kerusakannya tidak seburuk pada tanaman bayam ataupun brokoli. Berdasarkan Tabel 22, dapat dilihat pula perolehan nilai koefisien variasi paling tinggi yang mengindikasikan tingkat risiko yang paling besar dibandingkan dengan kombinasi komoditi lainnya. Perolehan nilai koefisien variasi pada tabel tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap produktivitas yang diperoleh perusahaan, ternyata risiko portofolio kombinasi dua komoditi yang paling tinggi adalah kombinasi komoditi bayam hijau dengan brokoli dengan coefficient variation sebesar 0,488.

11 Hasil wawancara dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman brokoli paling rentan terhadap cuaca serta hama dan penyakit dibandingkan dengan sayuran organik lainnya. Saat musim hujan atau cuaca buruk, tanaman brokoli menjadi rusak parah sehingga produktivitasnya akan menurun. Selain itu serangan hama yang seringkali menyerang tanaman brokoli salah satunya adalah Plutella acylostella L. dan Crocidolomia pavonana F dan akar gada. Hama tersebut dapat menyebabkan tanaman brokoli menjadi kerdil sehingga terjadi penurunan produksi atau gagal panen. Sama halnya dengan tanaman brokoli, saat musim hujan atau cuaca sangat buruk, tanaman bayam hijau dapat mengalami menjadi kerusakan. Salah satu bentuk kerusakan akibat cuaca buruk adalah daun pada bayam hijau akan berlubang atau bahkan busuk. Perhitungan risiko portofolio berdasarkan produktivitas dan pendapatan pada kombinasi dua komoditi yang telah dilakukan, selanjutnya dihitung risiko portofolionya pada kombinasi tiga komoditi. Hasil perhitungan risiko produksi portofolio pada kombinasi tiga komoditi berdasarkan produktivitasnya dapat dijabarkan sebagai berikut: Tabel 23. Perhitungan Risiko Produksi Portofolio pada Tiga Kombinasi Komoditi Berdasarkan Produktivitasnya di PT Masada Organik Indonesia Komoditi Ukuran Variance St Deviation Coeff Variation 1. Bayam -Brokoli Caisin 0, ,026 0, Bayam - Brokoli Wortel 0, ,026 0, Bayam - Caisin Wortel 0, ,058 0, Brokoli - Caisin Wortel 0, ,028 0,323 Berdasarkan Tabel 23, dapat dilihat perbandingan risiko produksi yang dihadapi PT Masada Organik Indonesia berdasarkan produktivitas dalam mengusahakan sayuran organik dengan kombinasi tiga komoditi. Perolehan nilai koefisien variasi pada tabel tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap produktivitas yang diperoleh perusahaan, ternyata risiko portofolio kombinasi tiga komoditi yang paling rendah adalah kombinasi komoditi bayam hijau dengan caisin dan wortel dengan coefficient variation sebesar 0,303.

12 Berdasarkan Tabel 23, dapat dianalisis bahwa perolehan tingkat risiko portofolio berdasarkan produktivitas pada kombinasi tiga komoditi bayam hijau, caisin dan wortel paling rendah dibandingkan kombinasi tiga komoditi lainnya karena tidak dikombinasikan dengan komoditi brokoli. Hal ini disebabkan oleh tingkat risiko berdasarkan produktivitas pada komoditi brokoli paling tinggi dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya, yang sebelumnya sudah dianalisis risiko produksinya pada kegiatan spesialisasi dan perhitungannya ada pada Tabel 19. Perusahaan dalam mengusahakan komoditi brokoli beberapa kali mengalami kegagalan produksi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini menyebabkan tingkat risiko portofolio berdasarkan produktivitas pada komoditi sayuran yang dikombinasikan dengan brokoli menjadi lebih tinggi daripada tingkat risiko portofolio pada komoditi sayuran yang tidak dikombinasikan dengan brokoli. Perolehan produktivitas brokoli dapat dilihat pada Tabel 17. Berdasarkan Tabel 23, dapat dilihat pula perolehan nilai koefisien variasi paling tinggi yang mengindikasikan tingkat risiko yang paling besar dibandingkan dengan kombinasi komoditi lainnya. Perolehan nilai koefisien variasi pada tabel tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap produktivitas yang diperoleh perusahaan, ternyata risiko portofolio kombinasi tiga komoditi yang paling tinggi adalah kombinasi komoditi bayam hijau dengan brokoli dan caisin dengan coefficient variation sebesar 0,407. Perolehan tersebut juga dapat dianalisis bahwa perolehan tingkat risiko portofolio pada kombinasi tiga komoditi bayam hijau, brokoli, dan caisin paling tinggi dibandingkan kombinasi tiga komoditi lainnya karena tidak dikombinasikan dengan komoditi wortel. Hal ini disebabkan oleh tingkat risiko berdasarkan produktivitas pada komoditi wortel paling rendah dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya, yang sebelumnya sudah dianalisis risiko produksinya pada kegiatan spesialisasi dan perhitungannya ada pada Tabel 19. Perhitungan risiko portofolio berdasarkan produktivitas dan pendapatan pada kombinasi tiga komoditi yang dilakukan, selanjutnya dihitung risiko portofolionya pada kombinasi empat komoditi. Hasil perhitungan risiko produksi

13 portofolio pada kombinasi empat komoditi berdasarkan produktivitasnya dapat dilihat pada Tabel 24 sebagai berikut: Tabel 24. Perhitungan Risiko Produksi Portofolio pada Empat Kombinasi Komoditi Berdasarkan Produktivitasnya di PT Masada Organik Indonesia Komoditi Ukuran Produktivitas Bayam-Brokoli-Caisin-Wortel Variance 0, Standart Deviation 0,030 Coefficient Variation 0,313 Berdasarkan Tabel 24, dapat dilihat tingkat risiko produksi yang dihadapi PT Masada Organik Indonesia berdasarkan produktivitas dalam mengusahakan sayuran organik dengan kombinasi empat komoditi yaitu bayam hijau, brokoli, caisin, dan wortel. Perolehan nilai koefisien variasi pada tabel tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap produktivitas yang diperoleh perusahaan, risiko portofolio kombinasi empat komoditi ini memiliki nilai coefficient variation sebesar 0,313. Nilai tersebut artinya setiap satu kilogram hasil yang diperoleh perusahaan dari kegiatan portofolionya yaitu pada kombinasi empat komoditi bayam hijau, brokoli, caisin, dan wortel akan menghadapi risiko sebanyak 0,313 kg pada saat terjadinya risiko produksi. Perhitungan risiko produksi telah dilakukan baik pada kegiatan spesialisasi maupun portofolio berdasarkan produktivitasnya. Tingkat risiko produksi sayuran organik dapat diketahui dari perolehan hasil perhitungan coefficent variation. Perolehan tingkat risiko produksi pada kegiatan spesialisasi berbeda-beda tiap komoditi. Begitu pula dengan perolehan tingkat risiko produksi sayuran organik tersebut pada kegiatan portofolio. Perhitungan risiko portofolio sayuran organik dilakukan pada kombinasi dua komoditi, tiga komoditi, dan empat komoditi. Perbandingan risiko produksi dari masing-masing kegiatan spesialisasi dan portofolio dengan berbagai kombinasi komoditi berdasarkan produktivitas dan pendapatannya dapat dilihat pada Tabel 25.

14 Tabel 25. Perbandingan Risiko Produksi Berdasarkan Produktivitas dan Pendapatan pada Kegiatan Spesialisasi Bayam Hijau, Caisin, Brokoli, Wortel dan Portofolio dengan Berbagai Kombinasinya di PT Masada Organik Indonesia Komoditi Coeff Var E (R) Pendapatan Spesialisasi a. Bayam Hijau b. Brokoli c. Caisin d. Wortel Portofolio a. Bayam Hijau Brokoli b. Bayam Hijau Caisin c. Bayam Hijau Wortel d. Brokoli Caisin e. Brokoli Wortel f. Caisin Wortel g. Bayam Hijau Brokoli Caisin h. Bayam Hijau Brokoli Wortel i. Bayam Hijau Caisin Wortel j. Brokoli Caisin - Wortel k. Bayam Brokoli Caisin Wortel 0,422 0,564 0,377 0,241 0,488 0,401 0,285 0,465 0,308 0,273 0,407 0,333 0,303 0,323 0, Berdasarkan hasil perbandingan risiko pada Tabel 25, dapat dikatakan bahwa dari seluruh kegiatan usahatani, tingkat risiko paling tinggi berdasarkan produktivitas adalah komoditi brokoli pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,564. Berdasarkan wawancara di lapang, didapatkan informasi bahwa tanaman brokoli sangat rentan terhadap cuaca serta hama penyakit. Menurut manajer kebun, kondisi cuaca kini tidak mudah diprediksi dan perusahaan saat itu juga masih sering mengalami kegagalan dalam kegiatan pembibitan brokoli. Hal tersebut berdampak pada produksi yang tidak mencapai target dan produktivitas tanaman brokoli yang tidak sesuai harapan. Dapat dilihat pula pendapatan yang diharapkan terhadap produksi brokoli yang diusahakan oleh perusahaan sangat rendah yaitu Rp Hal ini dikarenakan biaya produksi yang tinggi namun hasil produksi brokoli masih rendah. Namun perusahaan melakukan upaya untuk menutupi kerugian dengan melakukan kerjasama dengan pihak pemasok.

15 Selain itu, juga dapat dilihat bahwa tingkat risiko paling rendah dari keseluruhan kegiatan usaha adalah komoditi wortel pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,241. Menurut hasil wawancara oleh pihak kebun PT Masada Organik Indonesia, tingkat risiko produksi wortel paling rendah dikarenakan tanaman wortel merupakan tanaman yang paling tahan terhadap ancaman kondisi cuaca yang buruk maupun ancaman serangan hama dan penyakit. Selain itu, wortel paling mudah dibudidayakan dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya seperti bayam hijau, caisin, dan brokoli. Dapat dilihat pula pendapatan yang diharapkan terhadap produksi wortel yang diusahakan oleh perusahaan paling tinggi yaitu Rp Namun tingkat risiko yang paling kecil berdasarkan produktivitas dan pendapatan yang diharapkan paling tinggi pada komoditi wortel, pada kenyataannya tidak membuat perusahaan hanya mengusahakan sayuran wortel saja. Hal tersebut karena permintaan konsumen terhadap sayuran organik sangat beragam. Oleh sebab itu, perusahaan melakukan kegiatan portofolio dalam usahataninya. Tingkat risiko produksi yang paling kecil pada kegiatan portofolio berdasarkan produktivitas adalah pada kombinasi komoditi wortel dan caisin dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,273. Berdasarkan wawancara dengan pihak kebun, kombinasi wortel dan caisin memang paling sering dilakukan karena sangat cocok untuk ditumpangsari. Wortel yang memiliki usia tanaman sekitar tiga bulan cocok ditanam bersama caisin yang memiliki usia tanam sekitar tiga minggu. Selain itu, caisin memiliki akar tunggang, sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan wortel yang umbinya berada di dalam tanah. Berbeda dengan bayam hijau yang memiliki akar serabut, sehingga tidak pernah ditumpangsarikan dengan wortel. Hal tersebut karena akar serabut bayam hijau akan dapat merusak umbi wortel yang ada di dalam tanah ketika bayam hijau dipanen dengan cara dicabut hingga akar-akarnya, sedangkan pada umur tiga minggu tanaman wortel masih dalam masa pertumbuhan. Tanaman wortel juga jarang ditumpangsarikan dengan tanaman brokoli. Hal ini dikarenakan usia tanam

16 wortel dan brokoli sama yakni sekitar tiga bulan sehingga penerapan pola tanam tumpangsari menjadi kurang efisien. Tanaman bayam hijau memiliki tingkat risiko pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,422. Setelah dilakukan perhitungan risiko portofolio dengan berbagai kombinasi, didapatkan tingkat risiko yang lebih rendah dari tingkat risiko pada kegiatan spesialisasi yaitu pada portofolio kombinasi dua komoditi. Tingkat risiko portofolio kombinasi dua komoditi yang paling rendah pada komoditi bayam hijau yaitu kombinasi bayam hijau dengan wortel dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,285. Selain itu, dapat dilihat pula tanaman caisin tingkat risiko pada kegiatan spesialisasinya diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,377. Setelah dilakukan perhitungan risiko portofolio dengan berbagai kombinasi, didapatkan tingkat risiko yang lebih rendah dari tingkat risiko pada kegiatan spesialisasi yaitu pada portofolio kombinasi dua komoditi. Tingkat risiko portofolio kombinasi dua komoditi yang paling rendah pada komoditi caisin yaitu kombinasi caisin dengan wortel dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,273. Kemudian, diantara kombinasi dua komoditi antara bayam hijau dan wortel dengan caisin dan wortel juga dapat dibandingkan pendapatan yang diharapkannya. Meskipun dari sisi risiko kombinasi komoditi caisin dan wortel paling rendah tingkat risikonya dibandingkan kombinasi-kombinasi komoditi lainnya, namun dari sisi pendapatan yang diharapkan, kombinasi komoditi bayam hijau dan wortel memiliki nilai pendapatan yang diharapkan paling tinggi diantara kombinasi-kombinasi komoditi lainnya yaitu sebesar Rp Berdasarkan hasil perhitungan risiko yang telah dilakukan, tingkat risiko produksi brokoli berdasarkan produktivitas dapat terus menurun jika diusahakan dengan komoditi lainnya. Menurut perolehan hasil perhitungan, brokoli memiliki tingkat risiko pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,564. Setelah dilakukan perhitungan risiko portofolio dengan berbagai kombinasi, didapatkan tingkat risiko yang lebih rendah dari tingkat risiko pada kegiatan spesialisasi yaitu pada portofolio kombinasi empat komoditi dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,313.

17 Hasil dari analisis risiko produksi ini dapat dikatakan bahwa kegiatan portofolio atau diversifikasi dapat mengurangi risiko produksi yang ada. Akan tetapi dengan melakukan diversifikasi usahatani, tidak membuat risiko produksi menjadi nol artinya walaupun perusahaan telah melakukan diversifikasi, tetapi perusahaan akan tetap menghadapi risiko produksi pada kegiatan usaha sayuran organiknya. Hal ini dapat dilihat pada hasil perbandingan risiko produksi pada kegiatan spesialisasi dan portofolio berdasarkan produktivitas yang diperoleh yakni nilai variance, standard deviation, coefficient variation yang tidak sama dengan nol. Kegagalan pada salah satu kegiatan usahatani sayuran organik masih dapat ditutupi dari kegiatan usahatani lainnya dengan adanya diversifikasi. Oleh karena itu, diversifikasi usahatani merupakan alternatif strategi yang tepat bagi PT Masada Organik Indonesia untuk meminimalkan risiko sekaligus mengurangi terjadinya fluktuasi produksi dan pendapatan yang diperoleh. Bagi perusahaan, jika ingin memilih kombinasi portofolio yang optimal dari komoditi-komoditi sayuran organik yang telah diusahakan dengan tingkat risiko terendah terhadap hasil yang diharapkan, dapat memilih kombinasi dua komoditi yaitu kombinasi wortel dan caisin organik. Namun jika ingin memilih kombinasi portofolio yang optimal dari komoditi-komoditi sayuran organik yang telah diusahakan terhadap tingkat pendapatan yang diharapkan, dapat memilih kombinasi dua komoditi yaitu kombinasi wortel dan bayam hijau organik Alternatif Penanganan Risiko Produksi PT Masada Organik Indonesia belum melakukan penanganan risiko secara optimal untuk mengurangi risiko produksi yang ada. Hal ini terlihat pada perolehan hasil produksi salah satu komoditi yang sangat jauh dari target produksi. Contohnya untuk komoditi brokoli, perusahaan menargetkan setiap bulan dapat memproduksi tiga ratus kilogram per bulan. Namun kenyataannya perusahaan hanya mampu memproduksi paling tinggi tidak sampai dua ratus kilogram per bulan, bahkan beberapa kali hanya dua puluh hingga tiga puluh kilogram per bulan.

18 Produktivitas beberapa komoditi relatif berfluktuasi dengan cukup signifikan jika terjadi cuaca atau iklim yang tidak mendukung yakni khususnya pada musim penghujan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari perusahaan untuk melakukan penanganan risiko sehingga dapat meminimalkan risiko yang ada. Alternatif yang dipilih untuk menangani risiko yang ada adalah dapat dilakukan dengan mengevaluasi risiko-risiko yang ada, kemudian melakukan tindakan untuk meminimalkan risiko yang ada antara lain: 1. Pengembangan Diversifikasi Diversifikasi dilakukan jika perusahaan mengusahakan beberapa komoditi. Diversifikasi dapat dilakukan pada lahan yang berbeda dan secara tumpangsari tetapi dalam waktu yang sama. Kegiatan produksi yang mengalami penurunan akan dapat ditutupi dengan melakukan diversifikasi sehingga perusahaan dapat mengatasi kegagalan atau risiko yang terjadi. Diversifikasi pada PT Masada Organik Indonesia dilakukan berdasarkan pola tanam yang telah ditetapkan perusahaan. Tumpangsari bertujuan menutupi kegagalan pada salah satu kegiatan usahatani dengan kegiatan usahatani lainnya dan untuk mengefisienkan penggunaan lahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pertimbangan dalam menentukan komoditi yang akan ditumpangsarikan. Perusahaan yang akan melakukan pengembangan diversifikasi, perlu memperhatikan penjadwalan penanaman yang lebih intensif agar hasil yang diperoleh semakin baik. Analisis risiko portofolio yang dilakukan dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa dengan melakukan diversifikasi dapat mengurangi risiko yang ada, terutama pada komoditi brokoli organik. Diversifikasi juga dapat mengefisienkan biaya dimana alat serta tenaga kerja yang digunakan dapat dilakukan sekaligus sehingga biaya yang dikeluarkan untuk peralatan dan tenaga kerja dapat diminimalkan sehingga akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima perusahaan. Oleh karena itu diversifikasi usahatani merupakan alternatif yang tepat untuk meminimalkan risiko sekaligus melindungi dari fluktuasi produksi yang akan berpengaruh pada produktivitas dan pendapatan perusahaan.

19 2. Kemitraan Produksi Kemitraan dalam produksi merupakan salah satu alternatif yaitu melakukan kemitraan dengan para pengusaha atau petani sekitar yang mengusahakan sayuran organik agar dapat menutupi jumlah permintaan yang ada. Perusahaan juga harus memperhatikan kualitas dan kuantitas komoditi yang dihasilkan petani. Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer kebun, perusahaan sebenarnya kurang menginginkan kemitraan seperti ini karena perusahaan tidak dapat menjamin sepenuhnya keorganikan sayur yang dipasok. Namun hal ini terpaksa karena kemampuan perusahaan yang masih kurang dalam memenuhi permintaan pasar. Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya mengadakan pengontrolan langsung serta memiliki keterkaitan langsung dengan mitra agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar organik yang telah ditetapkan. Kemitraan dalam segi input lainnya adalah kemitraan dalam pasokan benih yang bagus dan unggul serta pupuk organik yang berkualitas juga perlu dilaksanakan. Hal ini akan berimplikasi pada hasil produksi yang diperoleh dimana jika pasokan benih yang berkualitas maka dapat menghasilkan produk yang baik tetapi dengan memperhatikan kegiatan produksi yang berlangsung. Berdasarkan wawancara, baru-baru ini perusahaan mengganti pupuk organiknya dengan yang lebih bagus. Walaupun harganya lebih mahal dari yang sebelumnya, namun dengan pemakaian pupuk lebih sedikit sudah membuat produksi tanaman lebih baik. PT Masada Organik Indonesia telah melakukan beberapa tindakan dalam menangani risiko produksi dalam melakukan kegiatan usahataninya. Risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan dipengaruhi oleh faktor cuaca, hama dan penyakit pada tanaman. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan manajemen risiko produksi yang baik agar risiko tersebut yang ada dapat diminimalkan. Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan yang diinginkan berupa keuntungan yang dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ada beberapa fungsi manajemen yang sudah dikenal yaitu perencanaan, mengorganisasi, mengarahkan dan melakukan pengendalian atau planning, organizing, actuating, dan controling (POAC).

20 a. Planning Planning atau perencanaan yang dilakukan pada produksi sayuran organik dimulai dari pembelian input, pembibitan, perawatan dan pemanenan. Hal ini bertujuan untuk mencapai target produksi yang ditetapkan serta meningkatkan produktivitas sayuran organik. Selain itu, perencanaan pencegahan penyakit harus dilakukan dengan baik terutama pada saat cuaca dan musim yang kurang baik. Perencanaan produksi sangat berpengaruh pada penentuan pola tanam yang akan dilakukan. Perencanaan waktu penanaman sayuran sebaiknya dilakukan pada saat cuaca tidak hujan karena akan memaksimalkan produksi yang ada. Jika penanaman dilakukan pada saat hujan maka bibit akan rusak dan busuk sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Perawatan yang intensif juga sangat penting terutama pada saat cuaca tidak mendukung. Perawatan terhadap tanaman yakni dengan memaksimalkan pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman. Selain itu, perusahaan perlu melakukan perlindungan terhadap tanaman, terutama pada tanaman sayuran daun yang sangat sensitif pada cuaca yang buruk. Untuk tanaman selain sayuran daun seperti sayuran umbi-umbian relatif lebih tahan terhadap kondisi cuaca yang tidak mendukung. Tindakan preventif yang telah dilakukan oleh perusahaan sudah cukup baik dengan memasang sungkup pada lahan tanaman sayuran daun pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari hujan sehingga tanaman tidak rusak dan busuk. b. Organizing Organizing atau pengorganisasian untuk para karyawan yang terlibat langsung dengan kegiatan produksi sangat penting yakni dengan pembagian tugas-tugas yang jelas. Hal ini dikarenakan agar semua karyawan mempunyai peranan dalam produksi. Dengan adanya pengorganisasian maka perawatan terhadap tanaman akan semakin terkoordinir. c. Actuating Actuating atau pengelolaan yang dilakukan berupa pengarahan yang bersifat vertikal dari manajer kebun kepada bagian produksi dan bagian produksi kepada bagian pembibitan, dilapangan, dan panen. Pengarahan harus dilakukan secara rutin, hal ini akan mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antara atasan

21 dan bawahan akan terjalin dengan baik. Koordinasi dalam pengelolaan, bertujuan untuk mensinkronkan unit-unit produksi yang terdiri dari beberapa plot produksi dalam masalah perawatan dan pemeliharaan, seperti mengkoordinasikan kegiatan produksi dengan tindakan pencegahan hama dan penyakit. Koordinasi yang baik juga memperhatikan pola tanam yang akan dilaksanakan agar memaksimalkan hasil yang ada. Pengelolaan juga berfungsi untuk mengevaluasi risiko yang ada dan bagaimana tindakan untuk meminimalkan risiko sehingga jika terjadi suatu permasalahan maka semua pihak dapat mengetahui serta dapat melakukan pengelolaan dengan baik. d. Controlling Berdasarkan hasil pengamatan, controlling atau pengontrolan yang dilakukan PT Masada Organik Indonesia belum dilakukan dengan maksimal karena hanya ada satu orang penanggungjawab untuk semua plot kebun yang ada sekaligus mengawasi seluruh kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan. Akan lebih baik jika penanggungjawab kebun hanya bertugas mengawasi di kebun, tidak pada kegiatan produksi lain seperti bagian pengemasan, bagian administrasi, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan luas lahan untuk budidaya sayuran organik di perusahaan cukup luas dan lokasinya terpisah-pisah menjadi beberapa plot. Selain itu, dalam melakukan budidaya sayuran organik ini dibutuhkan pengawasan yang ekstra agar hasil produksi yang didapat menjadi lebih optimal.

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry 2.2 Penelitian Terdahulu

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry 2.2 Penelitian Terdahulu II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry Tomat (Lycopersicon esculentum) termasuk dalam famili Solanaceae. Tomat varietas cerasiforme (Dun) Alef sering disebut tomat cherry yang didapati tumbuh

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. terhitung sejak pembuatan proposal penelitian. Pengambilan data dilakukan pada bulan April hingga Mei 2011.

IV METODE PENELITIAN. terhitung sejak pembuatan proposal penelitian. Pengambilan data dilakukan pada bulan April hingga Mei 2011. IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai risiko produksi sayuran organik ini dilaksanakan di PT Masada Organik Indonesia, Desa Ciburial, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

Gambar 2. Rangkaian Kejadian Risiko-Ketidakpastian

Gambar 2. Rangkaian Kejadian Risiko-Ketidakpastian III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Konsep Risiko Suatu bisnis yang dilakukan oleh para pelaku usaha pasti dihadapkan pada risiko dalam usahanya. Selain risiko, pebisnis dalam melakukan aktivitas bisnisnya dihadapkan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Risiko Produksi Fluktuasi yang terjadi pada suatu usaha, baik fluktuasi hasil produksi, harga dan jumlah permintaan yang berada dibawah standar yang ditetapkan merupakan indikasi

Lebih terperinci

ANALISIS RISIKO PRODUKSI

ANALISIS RISIKO PRODUKSI VI. ANALISIS RISIKO PRODUKSI 6.1. Identifikasi Sumber-Sumber Risiko Usaha pengurangan risiko melalui diversifikasi tanaman hias adenium tidak sepenuhnya mampu menghilangkan risiko. Adanya risiko dalam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Agribisnis Cabai Merah Cabai merah (Capsicum annuum) merupakan tanaman hortikultura sayursayuran buah semusim untuk rempah-rempah, yang di perlukan oleh seluruh lapisan masyarakat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-Sumber Risiko Produksi pada Pertanian

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-Sumber Risiko Produksi pada Pertanian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-Sumber Risiko Produksi pada Pertanian Pada dasarnya kegiatan produksi pada pertanian mengandung berbagai risiko dan ketidakpastian dalam pengusahaannya. Dalam kegiatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Komoditi Melon

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Komoditi Melon II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Komoditi Melon Melon (Cucumis melo L.) berasal dari daerah Mediterania kemudian menyebar luas ke Timur Tengah dan Asia. Akhirnya, tanaman melon menyebar ke segala

Lebih terperinci

VI. PEMBAHASAN 6.1. Identifikasi Sumber-sumber Risiko

VI. PEMBAHASAN 6.1. Identifikasi Sumber-sumber Risiko VI. PEMBAHASAN Risiko produksi merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar pada keberhasilan produksi. Risiko ini berdampak pada kualitas dan kuantitas hasil produksi yang dihasilkan. risiko

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari penelusuran teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian. Adapun

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin)

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin) II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin (Brassica rapa cv. caisin) Caisin (Brassica rapa cv. caisin) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam suku kubis-kubisan atau sawi-sawian (Brassicaceae/Cruciferae).

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Tipe Data dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Tipe Data dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di perusahaan Natalia Nursery. Perusahaan ini merupakan perusahaan pribadi yang memiliki dua lahan budidaya yaitu di Desa Tapos,

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep dan Definisi Risiko Menurut Frank Knight, risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko Sutawi (2008) mengemukakan bahwa kemitraan merupakan salah satu upaya untuk menekan risiko yang dihadapi petani. Dengan cara mengalihkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 4 Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011]

TINJAUAN PUSTAKA. 4  Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011] II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-sumber Risiko Risiko dapat dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Risiko dapat terjadi pada pelayanan,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Istilah risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty) sering digunakan secara bersamaan atau bahwa risiko sama dengan ketidakpastian.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Langkah awal dalam menganalisis suatu risiko adalah dengan melakukan identifikasi pada risiko dan sumber risiko yang dihadapi oleh suatu perusahaan,

Lebih terperinci

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah Oleh : Juwariyah BP3K garum 1. Syarat Tumbuh Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman

Lebih terperinci

ANALISIS RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK PADA PT MASADA ORGANIK INDONESIA DI BOGOR JAWA BARAT

ANALISIS RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK PADA PT MASADA ORGANIK INDONESIA DI BOGOR JAWA BARAT ANALISIS RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK PADA PT MASADA ORGANIK INDONESIA DI BOGOR JAWA BARAT SKRIPSI PUTRI ANNISA CHER H34070052 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di perusahaan Anisa Adenium, yang berada di Bekasi Timur, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilaksanakan secara sengaja

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di CV Multi Global Agrindo yang berlokasi di Jl. Solo, Tawangmangu KM 30 Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan

Lebih terperinci

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH Oleh : Juwariyah BP3K Garum Indikator Keberhasilan : Setelah selesai mempelajari pokok bahasan ini peserta diharapkan mampu : a. Menjelaskan kembali penyulaman tanaman

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis yang digunakan dalam penelitian ini, merupakan hasil penelusuran teori-teori terdahulu terkait dengan pengertian risiko,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini

I. PENDAHULUAN. penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sampai saat ini masih memegang peranan penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 50 HASIL DAN PEMBAHASAN Produktivitas Kebun Air sangat diperlukan tanaman untuk melarutkan unsur-unsur hara dalam tanah dan mendistribusikannya keseluruh bagian tanaman agar tanaman dapat tumbuh secara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang potensial dalam memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi dan memegang peranan penting

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB. I. PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Definisi dan Konsep Risiko Menurut Frank Knight yang dikutip dalam Robison dan Barry (1987), risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG

TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG Tanaman Bawang Merah (Allium Cepa Var Ascalonicum (L)) merupakan salah satu tanaman bumbu dapur yang sangat mudah dijumpai di berbaga tempat. Bumbu yang

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan dalam penelitian yang berguna untuk membantu menjelaskan secara deskriptif

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis menjelaskan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, yaitu mengenai konsep risiko dan teori lainnya yang berkaitan

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN Penilaian risiko produksi pada caisin dianalisis melalui penggunaan input atau faktor-faktor produksi terhadap produktivitas caisin. Analisis risiko produksi menggunakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada kelompoktani Pondok Menteng yang terletak di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL Bab ini berisi tentang analisis dan interpretasi hasil penelitian. Pada tahap ini akan dilakukan analisis permasalahan prosedur budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik

PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik 38 PEMBAHASAN Budidaya Bayam Secara Hidroponik Budidaya bayam secara hidroponik yang dilakukan Kebun Parung dibedakan menjadi dua tahap, yaitu penyemaian dan pembesaran bayam. Sistem hidroponik yang digunakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar Lampung dengan kondisi iklim tropis, memiliki curah hujan 2000 mm/th dan

Lebih terperinci

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,

Lebih terperinci

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR 13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Tinjauan Agronomis Bawang prei termasuk tanaman setahun atau semusim yang berbentuk rumput. Sistem perakarannya

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.

Lebih terperinci

ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT

ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT SKRIPSI NUR AMALIA SAFITRI H 34066094 PROGRAM SARJANA PENYELENGGARAAN KHUSUS DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI 6.1. Proses Budidaya Ganyong Ganyong ini merupakan tanaman berimpang yang biasa ditanam oleh petani dalam skala terbatas. Umbinya merupakan

Lebih terperinci

III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR

III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR 16 III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan di Banaran RT 4 RW 10, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. B. Waktu

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan dari kegiatan usahatani yang dijalankan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diukur oleh pembuat keputusan. Pada umumnya peluang terhadap suatu

Lebih terperinci

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) akan dilaksanakan pada lahan kosong yang bertempat di Dusun Selongisor RT 03 / RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten

Lebih terperinci

PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi merupakan tumpuan utama

Lebih terperinci

4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung

4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung 47 4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung Rantai pasok jagung merupakan suatu rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan pada sentra jagung, pedagang atau pengumpul, pabrik tepung jagung, hingga

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agribisnis Tanaman Hias dan Tanaman Buah

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agribisnis Tanaman Hias dan Tanaman Buah II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agribisnis Tanaman Hias dan Tanaman Buah Indonesia memiliki iklim dan wilayah tropis yang menyebabkan banyak tanaman dapat tumbuh dengan baik di Indonesia, sehingga wilayah dan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada bagian ini akan dijelaskan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian antara lain mengenai konsep risiko dan teori lainnya. Teori-teori

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan komoditas pertanian serta sebagian besar penduduknya adalah petani. Sektor pertanian sangat tepat untuk dijadikan sebagai

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini terdiri dari definisi risiko, sumber dan kategori risiko, sikap individu terhadap risiko, pengukuran

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani tomat dan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum, Geografis, dan Iklim Lokasi Penelitian Desa Ciaruten Ilir merupakan desa yang masih berada dalam bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dimana keempat sub sektor tersebut mempunyai peranan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Pemilihan Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Pemilihan Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Pemilihan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Bapak Maulid yang terletak di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Bukit Baru, Kota Palembang, Provinsi

Lebih terperinci

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR 20 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Kenteng Rt 08 Rw 02, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU ( Nicotiana tabacum L. ) Oleh Murhawi ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya A. Pendahuluan Penanam dan penggunaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Gedung Meneng, Kecamatan raja basa, Bandar Lampung

Lebih terperinci

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Analisis Aspek Finansial Aspek finansial adalah aspek yang mengkaji dari sisi keuangan perusahaan. Kelayakan pada aspek financial dapat diukur melalui perhitungan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi dan Konsep Risiko Secara sederhana, risiko diartikan sebagai kemungkinan kejadian yang merugikan, sedangkan ketidakpastian merupakan

Lebih terperinci

POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING

POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING TEKNOLOGI BUDIDAYA Pola tanam Varietas Teknik Budidaya: penyiapan lahan; penanaman (populasi tanaman); pemupukan; pengendalian hama, penyakit dan gulma;

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN MANAJEMEN RISIKO PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH USAHA MILIK BAPAK SUKAMTO DI DESA CIPAYUNG, KECAMATAN MEGAMENDUNG KABUPATEN BOGOR

KUESIONER PENELITIAN MANAJEMEN RISIKO PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH USAHA MILIK BAPAK SUKAMTO DI DESA CIPAYUNG, KECAMATAN MEGAMENDUNG KABUPATEN BOGOR LAMPIRAN 70 Lampiran 1. Kuisioner Wawancara KUESIONER PENELITIAN MANAJEMEN RISIKO PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH USAHA MILIK BAPAK SUKAMTO DI DESA CIPAYUNG, KECAMATAN MEGAMENDUNG KABUPATEN BOGOR Tanggal: No.

Lebih terperinci

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung pada bulan Mei hingga Juni 2012. 3.2

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan pendapatan negara. Saat ini

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI 7.1. Produktivitas Usahatani Produktivitas merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan sumberdaya yang ada (lahan) untuk menghasilkan keluaran

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. EVALUASI KELAYAKAN TEKNIS Parameter yang digunakan untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis antara lain adalah keseragaman debit aliran, keseragaman konduktivitas listrik (EC),

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kedudukannya di Indonesia. Potensi sumber daya alam di Indonesia yang

I. PENDAHULUAN. kedudukannya di Indonesia. Potensi sumber daya alam di Indonesia yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang penting kedudukannya di Indonesia. Potensi sumber daya alam di Indonesia yang melimpah selayaknya bisa dikembangkan.

Lebih terperinci

PENGAIRAN BAWANG MERAH

PENGAIRAN BAWANG MERAH PENGAIRAN BAWANG MERAH Oleh : Juwariyah BP3K Garum Indikator Keberhasilan : Setelah selesai mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu : a. Menjelaskan kembali pengairan tanaman bawang merah A. Pengairan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA AKSI. Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat

BAB V RENCANA AKSI. Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat BAB V RENCANA AKSI 5.1 Kegiatan dan Waktu Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat waktu, rencana aksi disusun sebagai acuan dalam melakukan kegiatan sekaligus untuk memudahkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dalam perekonomian nasional dinilai strategis dan mampu menjadi mesin penggerak pembangunan suatu negara. Pada tahun 2009 sektor

Lebih terperinci

SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH

SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH 11:33 PM MASPARY Selain ditanam pada lahan sawah tanaman padi juga bisa dibudidayakan pada lahan kering atau sering kita sebut dengan budidaya padi gogo rancah. Pada sistem

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Bumi Agung, September 2015 Penulis

KATA PENGANTAR. Bumi Agung, September 2015 Penulis KATA PENGANTAR Buah terung ini cukup populer di masyarakat, bisa di dapatkan di warung, pasar tradisional, penjual pinggir jalan hingga swalayan. Cara pembudidayaan buah terung dari menanam bibit terung

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Risiko menunjukkan situasi, dimana terdapat lebih dari satu kemungkinan dari suatu keputusan dan peluang dari kemungkinan-kemungkinan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian masih merupakan prioritas pembangunan secara nasional maupun regional. Sektor pertanian memiliki peran penting untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari penulusuran teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian. Adapun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Bawang Prei Bawang prei merupakan tanaman semusim yang berbentuk seperti rumput. Sistem perakarannya termasuk dalam akar serabut yang terpencar kesemua

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl,

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl, III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di Jl. Kolam No.1 Medan Estate Kecamatan Medan Percut

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai risiko produksi wortel dan bawang daun dilakukan di Kawasan Agropolitan Cianjur Jawa Barat. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan

Lebih terperinci

VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK

VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK Terdapat dua konsep nilai tambah yang digunakan dalam menganalisis beberapa kasus, yaitu nilai tambah produk akibat pengolahan dan nilai tambah perolehan pelaku

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS BUDIDAYA TANAMAN BUAH SIRSAK

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS BUDIDAYA TANAMAN BUAH SIRSAK KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS BUDIDAYA TANAMAN BUAH SIRSAK DISUSUN OLEH : NAMA : YULI NURCAHYO NIM : 11.11.5420 KELAS : 11-S1TI-11 JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Sistem dan Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah Pola saluran pemasaran bawang merah di Kelurahan Brebes terbentuk dari beberapa komponen lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul,

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Karangsewu terletak di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun batas wilayah Desa Karangsewu adalah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung mulai bulan Juli September 2012. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. pembangunan pertanian dan sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat

PENDAHULUAN. Latar Belakang. pembangunan pertanian dan sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat PENDAHULUAN Latar Belakang Komoditas padi memiliki arti strategis yang mendapat prioritas dalam pembangunan pertanian dan sebagai makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia, baik di pedesaan maupun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Padi adalah salah satu bahan makanan

Lebih terperinci

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Sebagai salah satu tanaman penghasil protein nabati, kebutuhan kedelai di tingkat lokal maupun nasional masih cenderung sangat tinggi. Bahkan sekarang ini kedelai

Lebih terperinci

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA

VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA VII ANALISIS FUNGSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA 7.1. Analisis Fungsi Produksi Hasil pendataan jumlah produksi serta tingkat penggunaan input yang digunakan dalam proses budidaya belimbing dewa digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

MENGKAJI HASIL DAUN BAWANG MERAH PADA JARAK TANAM BERBEDA.

MENGKAJI HASIL DAUN BAWANG MERAH PADA JARAK TANAM BERBEDA. MENGKAJI HASIL DAUN BAWANG MERAH PADA JARAK TANAM BERBEDA. OLEH: I PUTU DHARMA PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR. 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008) 1 komoditi

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENAWARAN APEL

VII ANALISIS PENAWARAN APEL VII ANALISIS PENAWARAN APEL 7.1 Analisis Penawaran Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Pada penelitian ini penawaran apel di Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dijelaskan dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan

III. METODE PENELITIAN. sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan III. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Tujuan dari teknik deskriptif analisis adalah membuat gambaran secara sistematik, faktual dan akurat

Lebih terperinci

Percobaan 4. Tumpangsari antara Jagung dengan Kacang Tanah

Percobaan 4. Tumpangsari antara Jagung dengan Kacang Tanah Percobaan 4. Tumpangsari antara Jagung dengan Kacang Tanah Latar Belakang Di antara pola tanam ganda (multiple cropping) yang sering digunakan adalah tumpang sari (intercropping) dan tanam sisip (relay

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Gambaran Umum Desa Ciaruten Ilir Desa Ciaruten Ilir merupakan bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan daerah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa)

Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa) LAMPIRAN 201 Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun 2009-2025 Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa) Pertumbuhan Penduduk (%) Total Konsumsi (000 ton) 2009 2010 2011

Lebih terperinci