Bab 3 MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab 3 MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D"

Transkripsi

1 Bab 3 MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D Pada bab ini akan dibahas model matematika yang dipakai adalah sebuah model injeksi bahan kimia satu dimensi untuk menghitung perolehan minyak sebagai sebuah fungsi dari beberapa peubah utama proses. Beberapa hal penting yang berpengaruh pada perolehan minyak adalah kelakuan fasa, tegangan permukaan, viskositas, kurva desaturasi kapiler, permeabilitas relatif, dispersi, penyerapan, serta pertukaran kation. Beberapa hal diatas digunakan untuk memprediksi performa reservoir dengan menggunakan hukum kekekalan massa yang akan dibahas pada subbab 3.1. Hasil persamaan kesetimbangan kemudian kita diskritisasi dengan menggunakan metode beda hingga yaitu FTBS Forward Time Backward Space yang akan dibahas pada subbab 3.2. Kita ingin melihat faktor - faktor penting dalam keberhasilan perolehan minyak yang akan dibahas pada subbab 3.3. Hasil pemodelan pada subbab 3.3 digunakan untuk memodelkan persamaan ruang keadaan yang akan dibahas pada subbab

2 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D Persamaan Kesetimbangan Model komposisi bahan kimia yang diinjeksikan bergantung pada total konsentrasi bahan kimia yang digunakan. Asumsi asumsi yang digunakan untuk pemodelan persamaan kesetimbangan adalah:[1] 1. Aliran 1-D pada medium berpori yang homogen, isotropis dan isothermal. 2. Equilibrum termodinamik local di sepanjang reservoir. 3. Gravitasi dan tekanan kapiler diabaikan. 4. Sifat sifat cairan hanya merupakan fungsi dari komposisi. 5. Kepadatan komponen murni adalah konstan. 6. Volume campuran total tidak berubah selama pencampuran berlangsung. 7. Berlaku hukum Darcy. 8. Dispersi fisik dapat diaproksimasi melalui dispersi numerik dengan pilihan partisi jarak dan waktu. Persamaan kesetimbangan digunakan untuk memprediksi performa reservoir. Persamaan kesetimbangan dari asumsi asumsi di atas diturunkan dengan Hukum Kekekalan Massa. Hukum Kekekalan Massa menyatakan bahwa di dalam suatu medium, perubahan debit fluida yang keluar dan masuk selama selang waktu t akan sama besar dengan debit pertambahan massa fluida dalam suatu elemen volume, qt x qt Gambar 3.1: Hukum kekekalan massa pada medium batuan

3 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 47 perubahan debit fluida debit pertambahan massa fluida = 3.1 selama selang waktu Δt dalam elemen volume ΔV [ q t j=1 AφΔx ] 3 3 f j C ij x q t f j C ij x+δx Δt = [ C i i=1 3 S j j=1 C i ] 3 S j t+δt i=1 t +AΔx [A i ρ gr 1 φ t A i ρ gr 1 φ t+δt ], 3.2 kedua ruas dari persamaan 3.2 dibagi dengan AΔtΔx, sehingga menjadi [q t 3j=1 f ] [ jc ij x q t 3j=1 f Ci jc ij x+δx φ 3 i=1 S j C 3 t+δt i i=1 S ] j t = AΔx Δt + [A iρ gr 1 φ t A i ρ gr 1 φ t+δt ]. Δt Jika Δx danδt, maka persamaan di atas menjadi 3 j=1 f 3 jc ij j=1 S jc i q t Aφ x = t + 1 φ A i ρ gr 1 φ, 3.3 t dengan mendefinisikan Ĉi = A iρ gr1 φ, sehingga persamaan 3.3 menjadi φ 3 q t j=1 f jc ij Aφ x = 3 j=1 S jc i t + C i t, 3.4 dengan analisis dimensi dimana x D = x, t L D = qtt, persamaan 3.4 menjadi AφL 3 j=1 S jc i t D C i + + t D 3 j=1 f jc ij x D =, 3.5 karena S 1 + S 2 + S 3 = 1, sehingga persamaan 3.5 menjadi Ci +C 3 i j=1 f jc ij =. 3.6 t D x D

4 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 48 Kita definisikan C i = C i +C i, maka persamaan kesetimbangan sesuai dengan asumsi asumsidiatasadalah Ci dengan t D 3 j=1 f jc ij =,i=1, 2,...6, 3.7 x D f j = k rj / μj 3 i=1 k ri / μ i,i=1, 2, Kita tuliskan C i menjadi y, danf j C ij menjadi gy. Keadaan sistem yang berkaitan dengan kontrol v dinyatakan oleh yv, dengan yv ={y 1,..., y 6 }. y merupakan suatu fungsi dari x D Ωdant D,T, yaitu yv =yx D,t D ; v. Kita kembali menuliskan persamaan kesetimbangan di atas menjadi y = gy. 3.9 t D x D Syarat awal yang digunakan adalah keadaan komponen di reservoir pasca waterflooding. Untuk syarat awal dituliskan sebagai berikut: yx D, = S 1rw S 1rw C 5I C 6I. 3.1 Arti fisis untuk persamaan 3.1 adalah pada baris pertama menyatakan bahwa kondisi injeksi surfactant-polymer setelah injeksi air sehingga di reservoir masih tertinggal air sisa dari injeksi air, yang dinyatakan dengan Saturasi Residual Water S 1rw. Untuk baris yang kedua menyatakan bahwa masih ada sisa minyak setelah injeksi air yang dinyatakan dengan Saturasi Residual Minyak S 2rw. Untuk baris yang ketiga dan keempat, bahan kimia masih belum diinjeksikan. Untuk baris kelima dan keenam yaitu total anion dan ion kalsium yang masih ada yang tertinggal

5 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 49 di reservoir. Syarat batas sebagai komponen di x D = dituliskan sebagai berikut: 1 v 3 v y,t D = v 4 v 5 Arti fisis dari persamaan 3.11, baris pertama menjelaskan bahwa konsentrasi inflow surfactant dan alkohol akan mengurangi konsentrasi air. Baris kedua menyatakan bahwa tidak ada minyak yang diinjeksikan. Baris ketiga sampai baris keenam berturut turut menyatakan konsentrasi inflow surfactant, polymer, total anion, dan ion kalsium. v Skema Numerik Persamaan kesetimbangan yang telah kita peroleh, kita lakukan diskritisasi dengan menggunakan Metode Finite Difference. Metode Finite Difference yang dipilih adalah Forward Time Backward Space FTBS. y = gy, 3.12 t D x D Diskritisasi Spasial dapat dituliskan sebagai berikut: n+1 j y = y y n j, 3.13 t D h Diskritisasi Waktu dapat dituliskan sebagai berikut: gy x D = gy n j gyn j 1 τ Kita substitusikan persamaan 3.13 dan persamaan 3.14 ke persamaan 3.12, sehingga menjadi y n+1 j = y n j + τ h [ ] gy n+1 j gy n j, 3.15

6 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 5 dengan h panjang partisi spasial dan τ panjang partisi waktu. Arti fisis dari persamaan 3.15 adalah konsentrasi komponen di suatu tempat, katakan z = k, pada waktu berikutnya, yaitu t = n + 1, sama dengan konsentrasi komponen di z = k pada saat t = n dikurangi konsentrasi yang pergi dari z = k lalu ditambah dengan konsentrasi yang pergi dari z = k 1menujuz = k. Skema numeriknya setelah memasukkan syarat batas dan syarat awalnya, sehingga model persamaan kesetimbangan adalah sebagai berikut Y n +1=Y n+βgy n,vn, 3.16 dengan β = τ h, 3.17 Y n v = [ C1,1; n GY n,vn = T ; C1,k; n C2,1; n ; C2,k; n ; C7,k] n, 3.18 gy1,n + Dvn+E gy2,n gy1,n gy3,n gy2,n gyk, n gyk 1,n Skema numerik untuk persamaan kesetimbangan yang digunakan mengandung asumsi asumsi sebagai berikut: Skema bergantung pada banyaknya partisi spasial, yaitu k. Skema numerik yang digunakan dengan memilih nilai k = 1. Konsentrasi komponen i pada fasa batuan dianggap konstan, atau Ci t D =.

7 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 51 Skema numerik dari asumsi asumsi di atas dapat dimodelkan sebagai berikut: C 1 n +1 C 2 n +1 C 3 n +1 C 4 n +1 C 5 n +1 C 6 n +1 = C 1 n C 2 n C 3 n C 4 n C 5 n C 6 n β f 1 C 11 n+f 2 C 12 n+f 3 C 13 n f 1 C 21 n+f 2 C 22 n+f 3 C 23 n. f 1 C 61 n+f 2 C 62 n+f 3 C 63 n + β 1 v 3 v 7 v 3 v 4 v 5 v 6 v 7, 3.2 C 1 n +1 C 2 n +1 C 3 n +1 C 4 n +1 C 5 n +1 C 6 n +1 = C 1 n C 2 n C 3 n C 4 n C 5 n C 6 n β f 1 C 11 n+f 2 C 12 n+f 3 C 13 n f 1 C 21 n+f 2 C 22 n+f 3 C 23 n. f 1 C 61 n+f 2 C 62 n+f 3 C 63 n + β v 3 v 4 v 5 v 6 + β. 3.21

8 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D Model Fisika Injeksi Surfactant Polymer 1 Dimensi Untuk mencari solusi persamaan 3.21, diperlukan hubungan antara konsentrasi komponen i pada fasa bergerak dengan konsentrasi komponen i pada fasa j. Untuk mencari hubungan tersebut, ada beberapa hal penting yang perlu diperhitungkan Kelakuan Fasa Surfactant dan Minyak Kelakuan fasa dari sistem tiga komponen direpresentasikan dengan ternary diagram. Tiga komponen tersebut yaitu surfactant, brine, dan minyak. Parameternya adalah salinitas efektif. Salinitas efektif adalah rata rata dari konsentrasi kation monovalent dan divalent dalam fasa surfactant air minyak. Ad tipe kelakuan fasa yang kita ketahui, yaitu Gambar 3.2: Kelakuan fasa

9 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D Tipe I dsebut dengan salinitas tinggi, dimana surfactant berada pada fasa minyak kaya yang dominan. Dengan parameter salinitas efektif, C se C seu. 2. Tipe II disebut dengan salinitas rendah, dimana sufactant berada pada fasa air kaya yang dominan. Dengan parameter salinitas efektif, C se C sel. 3. Tipe III disebut dengan salinitas intermediet, dimana surfactant berada ditengah antara fasa minyak dan fasa air. Tipe III adalah tipe yang paling optimal karena tegangan permukaan yang sangat rendah. Model salinitas ini digunakan untuk memperbaiki proses efisiensi perolehan. Tegangan permukaan yang rendah adalah syarat perlu agar minyak dan air bisa bersatu. Karena posisi tegangan permukaan antara air dan minyak yang rendah membuat daya larut semakin tinggi sehingga air dan minyak seperti bersatu. Dengan parameter salinitas efektif, C sel <C se <C seu. Kita ingin melihat kelakuan fasa dari surfactant dan minyak dari tipe III, komposisi 2 fasa yang terletak di tie line dari total komposisi yang dimodelkan oleh pope dan Nelson adalah C 32 C 3 = C 31 C 3, 3.22 C 22 C 2 C 21 C 2 Dari persamaan 3.22 didapatkan solusi adalah C 32 = C 31, 3.23 C 22 = C Saturasi Fasa Saturasi fasa j adalah rasio volume j terhadap volume pori batuan. Jumlah total dari saturasi harus sama dengan total fluida yang ada. Bila komposisi fasa diketahui, saturasi masing masing fasa dihitung dari kesetimbangan massa adalah S 1 C i1 + S 2 C i2 + S 3 C i3 = C i,i=1, 2, 3, 3.25

10 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 54 dengan S 1 + S 2 + S 3 = Dari persamaan 3.18 jika kita uraikan dari masing masing dari tiap komponen, yaitu air, minyak dan surfactant. Untuk komponen air saturasi fasanya dimodelkan sebagai berikut: S 1 C 11 + S 2 C 12 + S 3 C 13 = C Untuk komponen minyak saturasi fasanya dimodelkan sebagai berikut: S 1 C 21 + S 2 C 22 + S 3 C 23 = C Untuk komponen surfactant saturasi fasanya dimodelkan sebagai berikut: S 1 C 31 + S 2 C 32 + S 3 C 33 = C Tegangan Permukaan Syarat perlu dari injeksi surfactant polymer adalah ingin menurunkan tegangan permukaan antara air dan minyak. Jika tegangan permukaan turun maka air dan minyak seolah olah menyatu dan bisa memperoleh minyak lebih optimal. Parameter dari tegangan permukaan adalah suatu fungsi dari daya larut yang merupakan perbandingan komposisi C 13 C 33 atau C 23 C 33. Tegangan permukaan pada fasa air dan mikroemulsi serta pada fasa minyak dan mikroemulsi, dimodelkan sebagai berikut log σ wm = G 12 + log σ mo = G 22 + G 11, 3.3 C G C G C G C Data G 11,G 12,G 13,G 21,G 22,G 23 diperoleh dari hasil eksperimen di laboratorium. Karena syarat perlunya adalah tegangan permukaan minyak dan air yang rendah oleh surfactant, sehingga log σ wm log σ mo. Untuk tipe I hanya digunakan persamaan 3.3, untuk tipe II hanya digunakan persamaan 3.31 dan untuk tipe III

11 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 55 digunakan persamaan 3.3 dan persamaan Data data yang digunakan untuk persamaan 3.3 dan persamaan 3.31 adalah log σ wm log σ mo =1.2 G 11 =13.2G 21 =13.2 G 12 = 14.G 22 = 14. G 13 =.221G 23 =.221. Dari data data di atas diperoleh persamaan 3.3 dan persamaan 3.31 adalah C 23 = 5.95C 33, 3.32 C 13 = 5.95C Viskositas Fasa Viskositas fasa adalah fungsi dari komposisi fasa dan salinitas efektif. Jika harga viskositas minyak semakin kecil maka akan memperkecil perbandingan mobilitas. Nilai perbandingan mobilitas diperlukan untuk mengukur baik atau buruknya pendesakan. Akibatnya akan semakin memperkecil efisiensi penyapuan. Viskositas dari suatu fasa j dimodelkan μ j = C 1j μ p e α 1C 2j +C 3j + C 2j μ o e α 2C 1j +C 3j + C 2j α 3 α 6 e α 4C 1j +α 5 C 2j Data data yang digunakan untuk persamaan 3.34 adalah α 1 =., μ p =.44 α 2 =., μ o =5 α 3 =.1 μ w =1 α 4 =. α 5 =. α 6 =.. Dengan memasukkan data data yang ada di atas ke persamaan 3.34, viskositas pada fasa air dimodelkan 1=.44C 11 +5C

12 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D Absorpsi Surfactant dan Polymer Adsorpsi surfactant dan polymer merupakan hal yang penting dalam mekanisme injeksi kimia 1 dimensi. Adsorpsi surfactant disebabkan oleh gaya elektrostatik dan gaya van der Waals, yaitu daya tarik yang besar diantara molekul surfactant dan permukaan mineral. Adsorpsi bergantung pada temperatur, komposisi elektrolit, ph dari brine, dan konsentrasi surfactant. Untuk adsorpsi surfactant, dimodelkan dengan type langmuir isothermal[12] Ĉ 3 = C 3j b 3 C 3j Karena kelakuan fasa yang optimal adalah fasa tipe III, yaitu surfactant berada pada fasa mikroemulsi sehingga model pada persamaan 3.36 menjadi dengan Ĉ 3 = C 33 1+b 3 C = C se Untuk adsorpsi pada polymer, diasumsikan polimer seluruhnya berada pada fasa dominan air. Untuk adsorpsi polymer, dimodelkan dengan type langmuir isothermal yaitu: Ĉ 4 = a 4C b 4 C 41 Data data yang diperlukan untuk menyederhanakan persamaan 3.38 dan persamaan 3.39 adalah b 3 = b 4 =, sehingga dari persamaan 3.37 dan persamaan 3.39 diperoleh C 33 = Ĉ3, 3.4 C 41 = Ĉ a 4 Rasio dari konsentrasi bahan kimia, yaitu surfactant dan polymer di fasa batuan dengan konsentrasi bahan kimia di mobile phase, dimodelkan dengan D 3 = Ĉ3 C 3, 3.42

13 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 57 D 4 = Ĉ C 4 Persamaan absorpsi surfactant dan polymer dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.42 ke persamaan 3.4 dan persamaan 3.43 ke persamaan 3.41 menjadi C 33 = D 3C 3, 3.44 C 41 = D 4C a 4 Perbandingan konsentarasi zat kimia yang diinjeksikan pada fasa batuan dan mobile phase adalah dimana V 3,V 4,D a konstan. D a = V 3 C 3, V 4 C 4 C 3 = D a C 4 D 3 V 4 + V 3, Pertukaran Kation Hampir semua batuan reservoir yang menyimpan minyak berisi lempung dengan kapasitas pertukaran kation yang signifikan. Pertukaran kation di dalam lempung dan surfactant ini keduanya diasumsikan sepenuhnya berupa gabungan elektrostatik. Dalam pertukaran kation, asumsikan tidak ada penyerapan dan pertukaran dari total anion, tidak ada interaksi antara kation dan surfactant di permukaaan. Model pertukaran equilibrium oleh Gapon adalah [1] Q v C 6 C 6 = K g C 51 C 61 C 61, 3.47 dengan Q v,k g konstan. Susbtitusikan K g = 1 ke persamaan 3.47 menjadi C 61 C 51 = C 6 Q v Salinitas efektif adalah jumlah total anion di fasa x dibagi dengan volume fraksi x di fasa x, dimodelkan menjadi C 51 = C se C 11, 3.49

14 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 58 C 52 = C se C 12, 3.5 C 53 = C se C Efek Alkohol Fungsi alkohol secara umum adalah untuk menaikkan daya larut surfactant dan mengatur viskositas fasa mikroemulsi. Alkohol memberi pengaruh pada penyerapan surfactant dan polymer serta dapat mengubah kelakuan fasa. Dalam hal ini efek alkohol tidak dimodelkan, diasumsikan alkohol menyatu dengan surfactant. 3.4 Analisis Ruang Keadaan dari Injeksi Surfactant Polymer 1 Dimensi Model model fisis yang telah diperoleh, kita buat ke dalam persamaan ruang keadaan. Persamaan persamaan yang diperoleh untuk membuat persamaan ruang keadaaan adalah kelakuan fasa surfactant dan minyak, saturasi fasa, tegangan permukaan, viskositas fasa, adsorpsi surfactant dan polimer, pertukaran kation. Model yang dibuat adalah untuk mencari hubungan antara C ij dengan C i. Kita modelkan konsentrasi komponen minyak pada fasa air C 21, dengan substitusikan persamaan 3.23 ke persamaan 3.28, sehingga diperoleh S 1 C 21 + S 2 C 22 + S 3 C 23 = C S 1 + S 2 C 21 + S 3 C 23 = C Substitusikan persamaan 3.32 dan persamaan 3.44 ke persamaan 3.53, sehingga diperoleh S 1 + S 2 C 21 = C 2 S 3 C D3 S 1 + S 2 C 21 = C 2 + S 3 C 3 1 S D3 C 21 = C 2 + C S 1 + S 2 S 1 + S 2

15 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 59 Model untuk konsentrasi komponen minyak pada fasa surfactant C 23 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.44 ke persamaan 3.32, sehingga diperoleh C 23 = 5.95D 3 C Model untuk konsentrasi komponen air pada fasa mikroemulsi C 13 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.44 ke persamaan 3.33, sehingga diperoleh C 13 = 5.95D 3 C Model untuk konsentrasi komponen surfactant pada fasa air C 31 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.22 dan persamaan 3.44 ke persamaan 3.29, sehingga diperoleh S 1 C 31 + S 2 C 32 + S 3 C 33 = S 1 + S 2 C 31 = C 3 S 3 C 33, 1 C 31 = S 1 + S 2 S 3 D 3 C S 1 + S 2 Persamaan untuk konsentrasi komponen surfactant dalam fasa oleic adalah C 32 = 1 S 1 + S 2 S 3 D 3 S 1 + S 2 C Model untuk konsentrasi komponen air pada fasa air dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.54 ke persamaan 3.36, sehingga diperoleh C 11 = C 2 + S D3 C S 1 + S 2 S 1 + S 2 Model untuk konsentrasi komponen air pada fasa minyak C 12 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.57 dan persamaan 3.55 ke persamaan 3.28, sehingga diperoleh C 12 = 1 S 1 C 1 S 1 S C 2 + S 3.44 S 1 + S 2 S 1 + S D3 C 3 + S3 S D3 C

16 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 6 Polymer seluruhnya berada pada fasa air dominan, maka C 42 = C 43 =,dimodelkan C 41 = D 4C 4 a Model untuk konsentrasi komponen total anion pada fasa air C 51 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.57 ke persamaan 3.5, sehingga diperoleh C 51 = C se C 11, C 51 = C se.44 5C se 1 C 2 + S D3 C S 1 + S 2 S 1 + S 2 Model untuk konsentrasi komponen total anion pada fasa minyak C 52 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.59 ke persamaan 3.52, sehingga diperoleh C 52 = C se C 12 C 52 = C se C S 1 C se S 1 1 S C 2 + S D3 C S 1 + S 2 S 1 + S 2 Cse S D3 C S 2 Model untuk konsentrasi komponen total anion pada fasa mikroemulsi C 53 dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.56 ke persamaan 3.53, sehingga diperoleh C 53 = 5.95C sed 3 C Model untuk konsentrasi ion kalsium pada fasa air dimodelkan dengan mensubstitusikan persamaan 3.6 ke persamaan 3.5, sehingga diperoleh C 61 C 51 = C 6 Q v, C 61 = Q v C 6 C 51, Cse C 61 = Q v C C se 1 C 2 + S 3.44 S 1 + S 2 S 1 + S D3 Ion kalsium diasumsikan berada pada fasa air, maka C 62 = C 63 =. C

17 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 61 Persamaan ruang keadaannya adalah sebagai berikut: C 1 n +1 C 1 n C 2 n +1 C 2 n f 1 C 11 n+f 2 C 12 n+f 3 C 13 n C 3 n +1 C = 3 n f β 1 C 21 n+f 2 C 22 n+f 3 C 23 n C 4 n +1 C 4 n. C 5 n +1 C 5 n f 1 C 61 n+f 2 C 62 n+f 3 C 63 n C 6 n +1 C 6 n 1 β v 3 1 v + β v 5 1 v 6 1 dimana, C 11 = C 12 = 1 C 1 S 1 1 S 1 S S 1 + S C 2 + S 3 S 1 + S D3 S 1 + S 2 C 2 + S 3 S 1 + S 2 C 3, 5.95D3 C 3 + S3 S D3 C 13 = 5.95D 3 1 S D3 C 21 = C 2 + S 1 + S 2 S 1 + S 2 1 S D3 C 22 = C 2 + S 1 + S 2 S 1 + S 2 C 23 = 5.95D 3 1 C 31 = S 1 + S 2 S 3 D 3 S 1 + S 2 1 C 32 = S 1 + S 2 S 3 D 3 S 1 + S 2

18 BAB 3. MODEL MATEMATIKA INJEKSI SURFACTANT POLYMER 1-D 62 C 51 = C se.44 5C se C 52 = C se S 1 C 1 C ses 1 S 2 C 33 = D 3C 3, C 41 = D 4C 4, a 4 C 42 = C 43 =, 1 C 2 + S D3.44 S 1 + S 2 S 1 + S C 2 + S D3 C 3.44 S 1 + S 2 S 1 + S 2 + Cse S 3 S D3 C 53 = 5.95C sed 3 Cse C 61 = Q v C C se 1 C 2 + S 3.44 S 1 + S 2 S 1 + S 2 C 62 = C 63 =, C 3 = D a C 4 D 3 V 4 + V D3 C 3, Setelah persamaan ruang keadaan untuk injeksi Surfactant Polymer terbentuk langkah selanjutnya adalah merancang sistem kontrol yang digunakan untuk optimasi perolehan minyak. Sistem kontrol ini terdiri dari plant yaitu objek yang akan dikontrol dan pengontrol untuk plant tersebut. Desain sistem kontrol ini dicari dengan menggunakan Prinsip Maksimum Pontryagin Kontinu dan Diskrit, pengontrol optimal H 2 dan pengontrol suboptimal H.

Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak ribuan tahun yang lalu, minyak bumi telah digunakan oleh manusia untuk berbagai keperluan. Usaha pencarian sumber minyak di dalam bumi mulai dilakukan pada tahun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) pertama kali muncul pada tahun 1858 ketika minyak mentah ditemukan oleh Edwin L. Drake di Titusville (IATMI SM STT MIGAS

Lebih terperinci

Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer

Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer Pada bab ini akan dijelaskan tentang model yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya kemudian dari model tersebut akan dioptimalisasi

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Injeksi Air Injeksi air merupakan salah satu metode Enhanced Oil Recovery (aterflood) untuk meningkatkan perolehan minyak yang tergolong injeksi tak tercampur. Air injeksi

Lebih terperinci

KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH SALINITAS, PERMEABILITAS DAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PEROLEHAN MINYAK PADA PROSES INJEKSI SURFAKTAN

KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH SALINITAS, PERMEABILITAS DAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PEROLEHAN MINYAK PADA PROSES INJEKSI SURFAKTAN Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH SALINITAS, PERMEABILITAS DAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PEROLEHAN

Lebih terperinci

METODE BEDA HINGGA DALAM PENENTUAN DISTRIBUSI TEKANAN, ENTALPI DAN TEMPERATUR RESERVOIR PANAS BUMI FASA TUNGGAL

METODE BEDA HINGGA DALAM PENENTUAN DISTRIBUSI TEKANAN, ENTALPI DAN TEMPERATUR RESERVOIR PANAS BUMI FASA TUNGGAL METODE BEDA HINGGA DALAM PENENTUAN DISTRIBUSI TEKANAN, ENTALPI DAN TEMPERATUR RESERVOIR PANAS BUMI FASA TUNGGAL TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi persyaratan dalam menyelesaikan tahap sarjana pada

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Air Dangkal Linier (Linier Shallow Water Equation)

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Air Dangkal Linier (Linier Shallow Water Equation) Bab 2 Landasan Teori Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai Persamaan Air Dangkal linier (Linear Shallow Water Equation), metode beda hingga, metode ekspansi asimtotik biasa, dan metode ekspansi asimtotik

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR PERMODELAN RESERVOIR PANAS BUMI. Sistem hidrotermal magma terdiri dari dua bagian utama yaitu ruang magma dan

BAB II KONSEP DASAR PERMODELAN RESERVOIR PANAS BUMI. Sistem hidrotermal magma terdiri dari dua bagian utama yaitu ruang magma dan BAB II KONSEP DASAR PERMODELAN RESERVOIR PANAS BUMI Sistem hidrotermal magma terdiri dari dua bagian utama yaitu ruang magma dan reservoir fluida. Ruang magma merupakan sumber massa dan energi untuk reservoir

Lebih terperinci

KARAKTERISASI SURFAKTAN POLIMER PADA SALINITAS PPM DAN SUHU 85 C

KARAKTERISASI SURFAKTAN POLIMER PADA SALINITAS PPM DAN SUHU 85 C Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 KARAKTERISASI SURFAKTAN POLIMER PADA SALINITAS 15.000 PPM DAN SUHU 85 C Radityo Danisworo 1, Sugiatmo Kasmungin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengurasan minyak tahap lanjut

BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengurasan minyak tahap lanjut BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengurasan minyak tahap lanjut atau EOR (Enhanced Oil Recovery) menjadi pokok bahasan yang ramai diperbincangkan. Metode EOR

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Model LWR Pada skripsi ini, model yang akan digunakan untuk memodelkan kepadatan lalu lintas secara makroskopik adalah model LWR yang dikembangkan oleh Lighthill dan William

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... HALAMAN PERSEMBAHAN... RINGKASAN...

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... HALAMAN PERSEMBAHAN... RINGKASAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... HALAMAN PERSEMBAHAN... RINGKASAN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii iv

Lebih terperinci

Tinjauan Pustaka. Enhanced oil recovery adalah perolehan minyak dengan cara menginjeksikan bahanbahan yang berasal dari luar reservoir (Lake, 1989).

Tinjauan Pustaka. Enhanced oil recovery adalah perolehan minyak dengan cara menginjeksikan bahanbahan yang berasal dari luar reservoir (Lake, 1989). Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Enhanced Oil Recovery (EOR) Enhanced oil recovery (EOR) adalah metode yang digunakan untuk memperoleh lebih banyak minyak setelah menurunnya proses produksi primer (secara

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah. menjadi pusat perhatian untuk dikaji baik untuk menghindari bahayanya,

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah. menjadi pusat perhatian untuk dikaji baik untuk menghindari bahayanya, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah 1.1.1 Latar belakang Sistem panasbumi (sistem geotermal) terbentuk atas sumber panas dan formasi geologi permukaan. Sistem ini melibatkan energi

Lebih terperinci

Kesalahan pembulatan Kesalahan ini dapat terjadi karena adanya pembulatan angka-angka di belakang koma. Adanya pembulatan ini menjadikan hasil

Kesalahan pembulatan Kesalahan ini dapat terjadi karena adanya pembulatan angka-angka di belakang koma. Adanya pembulatan ini menjadikan hasil BAB V PEMBAHASAN Simulasi reservoar merupakan usaha untuk menirukan/memodelkan suatu reservoar yang sesungguhnya dengan model matematis sehingga perilaku reservoar di masa yang akan datang dapat diprediksi.

Lebih terperinci

Gambar Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus (a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi 3)

Gambar Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus (a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi 3) 4.2. Injeksi Air (Waterflooding) Waterflooding merupakan metode perolehan tahap kedua dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir untuk mendapatkan tambahan perolehan minyak yang bergerak dari reservoir

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Secara garis besar, penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu penentuan spektrum absorpsi dan pembuatan kurva kalibrasi dari larutan zat warna RB red F3B. Tahap

Lebih terperinci

BAB IV VALIDASI MODEL SIMULASI DENGAN MENGGUNAKAN DATA LAPANGAN

BAB IV VALIDASI MODEL SIMULASI DENGAN MENGGUNAKAN DATA LAPANGAN BAB IV VALIDASI MODEL SIMULASI DENGAN MENGGUNAKAN DATA LAPANGAN Untuk memperoleh keyakinan terhadap model yang akan digunakan dalam simulasi untuk menggunakan metode metode analisa uji sumur injeksi seperti

Lebih terperinci

BAB 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Dasar

BAB 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Dasar BAB 2 Landasan Teori Objek yang diamati pada permasalahan ini adalah lapisan fluida tipis, yaitu akan dilihat perubahan ketebalan dari lapisan fluida tipis tersebut dengan adanya penambahan surfaktan ke

Lebih terperinci

Metodologi Penelitian. Mulai. Pembuatan model fluida reservoir. Pembuatan model reservoir

Metodologi Penelitian. Mulai. Pembuatan model fluida reservoir. Pembuatan model reservoir Bab III Metodologi Penelitian III.1 Diagram Alir Penelitian Diagram pada Gambar III.1 berikut ini merupakan diagram alir yang menunjukkan tahapan proses yang dilakukan pada penelitian studi simulasi injeksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Batuan Sedimen Batuan Sedimen adalah salah satu kelompok utama dari batuan di muka bumi. Batuan ini sering membentuk reservoir berpori dan permeabel pada cekungan sedimen dengan

Lebih terperinci

STUDI KESTABILAN BUSA MENGENAI PENGARUH SUHU DAN ELEKTROLITSERTA KONSENTRASI SURFAKTAN DENGAN DAN TANPA MINYAK

STUDI KESTABILAN BUSA MENGENAI PENGARUH SUHU DAN ELEKTROLITSERTA KONSENTRASI SURFAKTAN DENGAN DAN TANPA MINYAK Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 STUDI KESTABILAN BUSA MENGENAI PENGARUH SUHU DAN ELEKTROLITSERTA KONSENTRASI SURFAKTAN DENGAN DAN TANPA MINYAK

Lebih terperinci

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN INJEKSI AIR DENGAN PENEMBAHAN POLIMER KONSENTRASI RENDAH SKALA LABORATORIUM Havidh Pramadika, Sugiatmo Kasmungin, Kartika Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas

Lebih terperinci

pendinginan). Material Teknik Universitas Darma Persada - Jakarta

pendinginan). Material Teknik Universitas Darma Persada - Jakarta BAB V DIAGRAM FASE Komponen : adalah logam murni atau senyawa yang menyusun suatu logam paduan. Contoh : Cu - Zn (perunggu) komponennya adalah Cu dan Zn Solid solution (larutan padat) : terdiri dari beberapa

Lebih terperinci

BAB III PERSAMAAN DIFUSI, PERSAMAAN KONVEKSI DIFUSI, DAN METODE PEMISAHAN VARIABEL

BAB III PERSAMAAN DIFUSI, PERSAMAAN KONVEKSI DIFUSI, DAN METODE PEMISAHAN VARIABEL BAB III PERSAMAAN DIFUSI, PERSAMAAN KONVEKSI DIFUSI, DAN METODE PEMISAHAN VARIABEL Dalam menyelesaikan persamaan pada tugas akhir ini terdapat beberapa teori dasar yang digunakan. Oleh karena itu, pada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK i ABSTRACT ii DAFTAR ISI iii DAFTAR GAMBAR iv DAFTAR TABEL v BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Perumusan Masalah 3 1.3 Tujuan Penelitian 4 1.4 Manfaat Penelitian

Lebih terperinci

Sifat fisika kimia - Zat Aktif

Sifat fisika kimia - Zat Aktif Praformulasi UKURAN PARTIKEL, DISTRIBUSI PARTIKEL BENTUK PARTIKEL / KRISTAL POLIMORFI, HIDRAT, SOLVAT TITIK LEBUR, KELARUTAN KOEFISIEN PARTISI, DISOLUSI FLUIDITAS (SIFAT ALIR), KOMPAKTIBILITAS PEMBASAHAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Hukum Kekekalan Massa Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov- Lavoiser adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan

Lebih terperinci

Sidang Tugas Akhir - Juli 2013

Sidang Tugas Akhir - Juli 2013 Sidang Tugas Akhir - Juli 2013 STUDI PERBANDINGAN PERPINDAHAN PANAS MENGGUNAKAN METODE BEDA HINGGA DAN CRANK-NICHOLSON COMPARATIVE STUDY OF HEAT TRANSFER USING FINITE DIFFERENCE AND CRANK-NICHOLSON METHOD

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Gerak

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Gerak BAB II DASAR TEORI Ada beberapa teori yang berkaitan dengan konsep-konsep umum mengenai aliran fluida. Beberapa akan dibahas pada bab ini. Diantaranya adalah hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya.

HASIL DAN PEMBAHASAN. kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya. 8 kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya. HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Kapasitas Tukar Kation Kapasitas tukar kation

Lebih terperinci

KAJIAN METODE BUCKLEY LEVERETT UNTUK PREDIKSI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI SUMUR MT-02 LAPANGAN X

KAJIAN METODE BUCKLEY LEVERETT UNTUK PREDIKSI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI SUMUR MT-02 LAPANGAN X KAJIAN METODE BUCKLEY LEVERETT UNTUK PREDIKSI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI SUMUR MT-02 LAPANGAN X Abstrak Margaretha Marissa Thomas, Siti Nuraeni, Rini Setiati Jurusan Teknik Perminyakan Universitas

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL LABORATORIUM MENGENAI VISKOSITAS POLIMER TERHADAP PENGARUH SALINITAS, TEMPERATUR DAN KONSENTRASI POLIMER (Laboratorium Study)

KAJIAN AWAL LABORATORIUM MENGENAI VISKOSITAS POLIMER TERHADAP PENGARUH SALINITAS, TEMPERATUR DAN KONSENTRASI POLIMER (Laboratorium Study) Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 2 ISSN (E) : 2540-7589 KAJIAN AWAL LABORATORIUM MENGENAI VISKOSITAS POLIMER TERHADAP PENGARUH SALINITAS, TEMPERATUR DAN KONSENTRASI

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Di dalam ilmu kebumian, permeabilitas (biasanya bersimbol κ atau k)

BAB II TEORI DASAR. Di dalam ilmu kebumian, permeabilitas (biasanya bersimbol κ atau k) BAB II TEORI DASAR.1 Permeabilitas Di dalam ilmu kebumian, permeabilitas (biasanya bersimbol κ atau k) merupakan kemampuan suatu material (khususnya batuan) untuk melewatkan fluida. Besaran ini dapat diperoleh

Lebih terperinci

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum BAB V KIMIA AIR 5.1 Tinjauan Umum Analisa kimia air dapat dilakukan untuk mengetahui beberapa parameter baik untuk eksplorasi ataupun pengembangan di lapangan panas bumi. Parameter-parameter tersebut adalah:

Lebih terperinci

Diagram Fasa. Latar Belakang Taufiqurrahman 1 LOGAM. Pemaduan logam

Diagram Fasa. Latar Belakang Taufiqurrahman 1 LOGAM. Pemaduan logam Diagram Fasa Latar Belakang Umumnya logam tidak berdiri sendiri (tidak dalam keadaan murni Kemurnian Sifat Pemaduan logam akan memperbaiki sifat logam, a.l.: kekuatan, keuletan, kekerasan, ketahanan korosi,

Lebih terperinci

KELAKUAN FASA CAMPURAN ANTARA RESERVOAR-INJEKSI-SURFAKTAN UNTUK IMPLEMENTASI ENHANCED WATER FLOODING

KELAKUAN FASA CAMPURAN ANTARA RESERVOAR-INJEKSI-SURFAKTAN UNTUK IMPLEMENTASI ENHANCED WATER FLOODING PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001 Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001 KELAKUAN FASA CAMPURAN ANTARA RESERVOAR-INJEKSI-SURFAKTAN UNTUK IMPLEMENTASI ENHANCED WATER FLOODING Sugihardjo 1, Edward Tobing 1,

Lebih terperinci

SUHU DAN KALOR DEPARTEMEN FISIKA IPB

SUHU DAN KALOR DEPARTEMEN FISIKA IPB SUHU DAN KALOR DEPARTEMEN FISIKA IPB Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak didapati penggunaan energi dalambentukkalor: Memasak makanan Ruang pemanas/pendingin Dll. TUJUAN INSTRUKSIONAL

Lebih terperinci

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK Widya Pratama Kesuma, Sugiatmo Kasmungin Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Abstrak Salah satu

Lebih terperinci

ELEKTROFORESIS. Muawanah. Sabaniah Indjar Gama

ELEKTROFORESIS. Muawanah. Sabaniah Indjar Gama ELEKTROFORESIS Muawanah Sabaniah Indjar Gama Elektroforesis adalah teknik pemisahan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam sebuah medan listrik Atau pergerakan partikel

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Preparasi Adsorben

HASIL DAN PEMBAHASAN. Preparasi Adsorben 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Adsorben Perlakuan awal kaolin dan limbah padat tapioka yang dicuci dengan akuades, bertujuan untuk membersihkan pengotorpengotor yang bersifat larut dalam air. Selanjutnya

Lebih terperinci

Kelarutan & Gejala Distribusi

Kelarutan & Gejala Distribusi PRINSIP UMUM Kelarutan & Gejala Distribusi Oleh : Lusia Oktora RKS, S.F.,M.Sc., Apt Larutan jenuh : suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut). Kelarutan

Lebih terperinci

Suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap/ adsorben).

Suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap/ adsorben). Suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap/ adsorben). Contoh Adsorben alami dan buatan Adsorben alami : Zeolit alami Abu sekam

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. ALAT DAN BAHAN Peralatan yang digunakan adalah jangka sorong, destilator, pompa vacum, pinset, labu vacum, gelas piala, timbangan analitik, tabung gelas/jar, pipet, sudip,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna Adsorpsi Zat Warna Pembuatan Larutan Zat Warna Larutan stok zat warna mg/l dibuat dengan melarutkan mg serbuk Cibacron Red dalam air suling dan diencerkan hingga liter. Kemudian dibuat kurva standar dari

Lebih terperinci

BAB II. KESEIMBANGAN

BAB II. KESEIMBANGAN BAB II. KESEIMBANGAN Pada perhitungan stage wise contact konsep keseimbangan memegang peran penting selain neraca massa dan neraca panas. Konsep rate processes tidak diperhatikan pada alat kontak jenis

Lebih terperinci

Bab II Pemodelan. Gambar 2.1: Pembuluh Darah. (Sumber:

Bab II Pemodelan. Gambar 2.1: Pembuluh Darah. (Sumber: Bab II Pemodelan Bab ini berisi tentang penyusunan model untuk menjelaskan proses penyebaran konsentrasi oksigen di jaringan. Penyusunan model ini meliputi tinjauan fisis pembuluh kapiler, pemodelan daerah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Skema interaksi proton dengan struktur kaolin (Dudkin et al. 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN. Skema interaksi proton dengan struktur kaolin (Dudkin et al. 2004). 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Adsorben Penelitian ini menggunakan campuran kaolin dan limbah padat tapioka yang kemudian dimodifikasi menggunakan surfaktan kationik dan nonionik. Mula-mula kaolin dan

Lebih terperinci

KROMATOGRAFI. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan

KROMATOGRAFI. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan KROMATOGRAFI Defenisi Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DIAGRAM TERNER (SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DIAGRAM TERNER (SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN) LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DIAGRAM TERNER (SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN) Oleh : Nama : I Gede Dika Virga Saputra NIM : 1108105034 Kelompok : IV.B JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI UJI SUMUR DRAWDOWN DAN BUILD UP

BAB II LANDASAN TEORI UJI SUMUR DRAWDOWN DAN BUILD UP BAB II LANDASAN TEORI UJI SUMUR DRAWDOWN DAN BUILD UP Pada bab ini akan dijelaskan tentang uji sumur drawdown dan buildup untuk fluida dengan fasa tunggal, hal ini berdasarkan Earlougher 1, apabila mobility

Lebih terperinci

KELARUTAN ZAT PADAT DALAM CAIRAN

KELARUTAN ZAT PADAT DALAM CAIRAN 1. Pada Larutan Ideal KELARUTAN ZAT PADAT DALAM CAIRAN Oleh : Lusia Oktora Ruma Kumala Sari, S.F., M.Sc., Apt Faktor-faktor yang berpengaruh : - suhu percobaan (T) - ΔHf - titik lebur solut (T 0 ) Hildebrand

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,

Lebih terperinci

BAB III TEORI FISIKA BATUAN. Proses perambatan gelombang yang terjadi didalam lapisan batuan dikontrol oleh

BAB III TEORI FISIKA BATUAN. Proses perambatan gelombang yang terjadi didalam lapisan batuan dikontrol oleh BAB III TEORI FISIA BATUAN III.1. Teori Elastisitas Proses perambatan gelombang yang terjadi didalam lapisan batuan dikontrol oleh sifat elastisitas batuan, yang berarti bahwa bagaimana suatu batuan terdeformasi

Lebih terperinci

*ÄÂ ¾½ Á!" ÄÂ Â. Okki Novian / Michael Wongso / Jindrayani Nyoo /

*ÄÂ ¾½ Á! ÄÂ Â. Okki Novian / Michael Wongso / Jindrayani Nyoo / *ÄÂ ¾½ Á!" ÄÂ Â Okki Novian / 5203011009 Michael Wongso / 5203011016 Jindrayani Nyoo / 5203011021 Chemical Engineering Department of Widya Mandala Catholic University Surabaya All start is difficult Perbedaan

Lebih terperinci

KEGIATAN OPERASI DAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI PT. MEDCO E&P INDONESIA ( S&C SUMATERA ) FIELD SOKA

KEGIATAN OPERASI DAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI PT. MEDCO E&P INDONESIA ( S&C SUMATERA ) FIELD SOKA KEGIATAN OPERASI DAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI PT. MEDCO E&P INDONESIA ( S&C SUMATERA ) FIELD SOKA Diajukan untuk Memenuhi Syarat Permohonan Kuliah Kerja Lapangan O l e h Veto Octavianus ( 03111002051

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1. KLASIFIKASI FLUIDA Fluida dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, tetapi secara garis besar fluida dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu :.1.1 Fluida Newtonian

Lebih terperinci

Diagram Segitiga dan Kesetimbangan Cair-Cair

Diagram Segitiga dan Kesetimbangan Cair-Cair Diagram Segitiga dan Kesetimbangan Cair-Cair Membuat Diagram Segitiga dan Cara Membacanya Kesetimbangan Cair-Cair dalam Diagram Segitiga Contoh dalam Ekstraksi Cair-Cair Setijo Bismo DTK FTUI 25 Nopember

Lebih terperinci

SOIL COMPONENT EKOSARI R. 2011

SOIL COMPONENT EKOSARI R. 2011 SOIL COMPONENT EKOSARI R. 2011 Tanah = Pedosfer Merupakan hasil perpaduan antara: 1. lithosfer 2. biosfer 3. hidrosfer 4. atmosfer Perpaduan/hubungan tsb digambarkan oleh Patrick, F. (1974) Komponen

Lebih terperinci

BAB III ANALISA TRANSIEN TEKANAN UJI SUMUR INJEKSI

BAB III ANALISA TRANSIEN TEKANAN UJI SUMUR INJEKSI BAB III ANALISA TRANSIEN TEKANAN UJI SUMUR INJEKSI Pada bab ini dibahas tentang beberapa metode metode analisis uji sumur injeksi, diantaranya adalah Hazebroek-Rainbow-Matthews 2 yang menggunakan prosedur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Produksi bahan bakar alternatif (biofuel) saat ini mendapat perhatian lebih dari beberapa pemerintahan di seluruh dunia. Beberapa pemerintahan telah mengumumkan komitmen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi membran telah banyak digunakan pada berbagai proses pemisahan dan sangat spesifik terhadap molekul-molekul dengan ukuran tertentu. Selektifitas membran ini

Lebih terperinci

Prosiding Matematika ISSN:

Prosiding Matematika ISSN: Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Solusi Numerik Distribusi Tekanan dengan Persamaan Difusi Dua Dimensi pada Reservoir Panas Bumi Fasa Air Menggunakan Skema Crank-Nicholson Numerical Solution for Pressure

Lebih terperinci

Lembaran Pengesahan KINETIKA ADSORBSI OLEH: KELOMPOK II. Darussalam, 03 Desember 2015 Mengetahui Asisten. (Asisten)

Lembaran Pengesahan KINETIKA ADSORBSI OLEH: KELOMPOK II. Darussalam, 03 Desember 2015 Mengetahui Asisten. (Asisten) Lembaran Pengesahan KINETIKA ADSORBSI OLEH: KELOMPOK II Darussalam, 03 Desember 2015 Mengetahui Asisten (Asisten) ABSTRAK Telah dilakukan percobaan dengan judul Kinetika Adsorbsi yang bertujuan untuk mempelajari

Lebih terperinci

ANALISIS KONSEP KESETIMBANGAN DALAM LARUTAN. Contoh Analisis Konsep untuk Materi Kesetimbangan dalam Larutan- By : Dr. Ida Farida, M.Pd.

ANALISIS KONSEP KESETIMBANGAN DALAM LARUTAN. Contoh Analisis Konsep untuk Materi Kesetimbangan dalam Larutan- By : Dr. Ida Farida, M.Pd. No Label konsep ANALISIS KONSEP KESETIMBANGAN DALAM LARUTAN Atribut Hirarki konsep Definisi konsep Superordinat Kritis Varibel Subordinat Koordinat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Tetapan kesetimbangan (K) 2 Dinamis

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah

1.1 Latar Belakang dan Identifikasi Masalah BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan dan intensifikasi penggunaan air, masalah kualitas air menjadi faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya air di berbagai belahan bumi. Walaupun

Lebih terperinci

BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH

BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH BAB V DIAGRAM FASE ISTILAH-ISTILAH Komponen : adalah logam murni atau senyawa yang menyusun suatu logam paduan. Contoh : Cu - Zn (perunggu), komponennya adalah Cu dan Zn Solid solution (larutan padat)

Lebih terperinci

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh:

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh: 5 II LANDASAN TEORI 2.1 Keterkontrolan Untuk mengetahui persoalan sistem kontrol mungkin tidak ada, jika sistem yang ditinjau tidak terkontrol. Walaupun sebagian besar sistem terkontrol ada, akan tetapi

Lebih terperinci

Bab II Model Lapisan Fluida Viskos Tipis Akibat Gaya Gravitasi

Bab II Model Lapisan Fluida Viskos Tipis Akibat Gaya Gravitasi Bab II Model Lapisan Fluida Viskos Tipis Akibat Gaya Gravitasi II.1 Gambaran Umum Model Pada bab ini, kita akan merumuskan model matematika dari masalah ketidakstabilan lapisan fluida tipis yang bergerak

Lebih terperinci

ANALISIS NUMERIK UNTUK PERSOALAN WATER FLOODING DENGAN MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA

ANALISIS NUMERIK UNTUK PERSOALAN WATER FLOODING DENGAN MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA ANALISIS NUMERIK UNTUK PERSOALAN WATER FLOODING DENGAN MENGGUNAKAN METODE VOLUME HINGGA SKRIPSI NUR AISYAH 110803010 DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN PENERAPAN INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN SIMULATOR NUMERIK TESIS EMA FITRIANI NIM :

STUDI KELAYAKAN PENERAPAN INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN SIMULATOR NUMERIK TESIS EMA FITRIANI NIM : STUDI KELAYAKAN PENERAPAN INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN SIMULATOR NUMERIK TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Aliran hele shaw..., Azwar Effendy, FT UI, 2008

BAB II DASAR TEORI. Aliran hele shaw..., Azwar Effendy, FT UI, 2008 BAB II DASAR TEORI 2.1 KLASIFIKASI ALIRAN FLUIDA Secara umum fluida dikenal memiliki kecenderungan untuk bergerak atau mengalir. Sangat sulit untuk mengekang fluida agar tidak bergerak, tegangan geser

Lebih terperinci

Analisa Pola dan Sifat Aliran Fluida dengan Pemodelan Fisis dan Metode Automata Gas Kisi

Analisa Pola dan Sifat Aliran Fluida dengan Pemodelan Fisis dan Metode Automata Gas Kisi Analisa Pola dan Sifat Aliran Fluida dengan Pemodelan Fisis dan Metode Automata Gas Kisi Simon Sadok Siregar 1), Suryajaya 1), dan Muliawati 2) Abstract: This research is conducted by using physical model

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA digilib.uns.ac.id 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sifat Kelistrikan Suatu Batuan Sifat kelistrikan yang terdapat di bumi dapat dimanfaatkan untuk membantu penelitian geolistrik. Aliran arus listrik di dalam

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1 PENURUNAN KADAR CO 2 DAN H 2 S PADA BIOGAS DENGAN METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN ZEOLIT ALAM Anggreini Fajar PL, Wirakartika M, S.R.Juliastuti, dan Nuniek

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda Teknik elektrometri telah dikenal luas sebagai salah satu jenis teknik analisis. Jenis teknik elektrometri yang sering digunakan untuk

Lebih terperinci

Kimia Fisika Bab 6. Kesetimbangan Fasa OLEH: RIDHAWATI, ST, MT

Kimia Fisika Bab 6. Kesetimbangan Fasa OLEH: RIDHAWATI, ST, MT Kimia Fisika Bab 6. Kesetimbangan Fasa OLEH: RIDHAWATI, ST, MT Pendahuluan Fasa adalah bagian sistem dengan komposisi kimia dan sifat sifat fisik seragam, yang terpisah dari bagian sistem lain oleh suatu

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi BAB II DASAR TEORI Pengujian reduksi langsung ini didasari oleh beberapa teori yang mendukungnya. Berikut ini adalah dasar-dasar teori mengenai reduksi langsung yang mendasari penelitian ini. 2.1. ADSORPSI

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN 1 BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN

I.PENDAHULUAN 1 BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN HALAMAN JUDUL ------------------------------------------------------------------- i HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ------------------------- ii HALAMAN PENGESAHAN -------------------------------------------------------

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Metode EOR

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Metode EOR II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Metode EOR Metode peningkatan perolehan minyak tingkat lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah suatu teknik peningkatan produksi minyak setelah tahapan produksi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut Mandalam & Palsson (1998) ada 3 persyaratan dasar untuk kultur mikroalga fotoautotropik berdensitas tinggi yang tumbuh dalam fotobioreaktor tertutup. Pertama adalah

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Perpindahan panas adalah perpindahan energi yang terjadi pada benda atau material yang bersuhu tinggi ke benda atau material yang bersuhu rendah, hingga tercapainya kesetimbangan

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. dengan menggunakan penyelesaian analitik dan penyelesaian numerikdengan. motode beda hingga. Berikut ini penjelasan lebih lanjut.

BAB III PEMBAHASAN. dengan menggunakan penyelesaian analitik dan penyelesaian numerikdengan. motode beda hingga. Berikut ini penjelasan lebih lanjut. BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas tentang penurunan model persamaan gelombang satu dimensi. Setelah itu akan ditentukan persamaan gelombang satu dimensi dengan menggunakan penyelesaian analitik

Lebih terperinci

Sistem Sumur Dual Gas Lift

Sistem Sumur Dual Gas Lift Bab 2 Sistem Sumur Dual Gas Lift 2.1 Metode Pengangkatan Buatan (Artificial Lift Penurunan tekanan reservoir akan menyebabkan penurunan produktivitas sumur minyak, serta menurunkan laju produksi sumur.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Program Studi

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Program Studi 34 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.1.1 Lokasi Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Program Studi Magister Kimia Terapan Universitas Udayana. 4.1.2 Waktu Penelitian

Lebih terperinci

WUJUD ZAT. 1. Fasa, Komponen dan Derajat Bebas

WUJUD ZAT. 1. Fasa, Komponen dan Derajat Bebas WUJUD ZAT 1. Fasa, Komponen dan Derajat Bebas 1.1 Jumlah Fasa (P) Fasa adalah bagian dari sistem yang bersifat homogen, dan dipisahkan dari bagian sistem yang lain dengan batas yang jelas. Jumlah Fasa

Lebih terperinci

BAB V ANALISA SENSITIVITAS MODEL SIMULASI

BAB V ANALISA SENSITIVITAS MODEL SIMULASI BAB V ANALISA SENSITIVITAS MODEL SIMULASI Simulasi menggunakan model sistem reservoir seperti yang dijelaskan dan divalidasi dengan data lapangan pada Bab IV terdahulu, selanjutnya akan dilakukan analisa

Lebih terperinci

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:

Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: STUDI LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH PENINGKATAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK PADA INJEKSI SURFAKTAN DENGAN KADAR SALINITAS AIR FORMASI YANG BERVARIASI Tommy Viriya dan Lestari

Lebih terperinci

KISI-KISI UN KIMIA SMA/MA

KISI-KISI UN KIMIA SMA/MA KISI-KISI UN KIMIA SMA/MA 2015-2016 Siswa mampu memahami, menguasai pengetahuan/ mengaplikasikan pengetahuan/ menggunakan nalar dalam hal: Struktur Atom Sistem Periodik Unsur Ikatan Kimia (Jenis Ikatan)

Lebih terperinci

Tembaga 12/3/2013. Tiga fasa materi : padat, cair dan gas. Fase padat. Fase cair. Fase gas. KIMIA ZAT PADAT Prinsip dasar

Tembaga 12/3/2013. Tiga fasa materi : padat, cair dan gas. Fase padat. Fase cair. Fase gas. KIMIA ZAT PADAT Prinsip dasar Jurusan Kimia - FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) KIMIA ZAT PADAT Prinsip dasar Drs. Iqmal Tahir, M.Si. Laboratorium Kimia Fisika,, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Lebih terperinci

Perencanaan Waterflood Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa ekonomis tergantung pada

Perencanaan Waterflood Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa ekonomis tergantung pada 3.1.2. Perencanaan Waterflood Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri. Perkiraan

Lebih terperinci

BAB 4 LOGICAL VALIDATION MELALUI PEMBANDINGAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI

BAB 4 LOGICAL VALIDATION MELALUI PEMBANDINGAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI BAB 4 LOGICAL VALIDATION MELALUI PEMBANDINGAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI 4.1 TINJAUAN UMUM Tahapan simulasi pada pengembangan solusi numerik dari model adveksidispersi dilakukan untuk tujuan mempelajari

Lebih terperinci

BAB II GELOMBANG ELASTIK DAN EFEK VIBRASI

BAB II GELOMBANG ELASTIK DAN EFEK VIBRASI BAB II GELOMBANG ELASTIK DAN EFEK VIBRASI 2. 1 Gelombang Elastik Gelombang elastik adalah gelombang yang merambat pada medium elastik. Vibroseismik merupakan metoda baru dikembangkan dalam EOR maupun IOR

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM SELF POTENSIAL. (Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Metode Survei Geofisik)

LAPORAN PRAKTIKUM SELF POTENSIAL. (Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Metode Survei Geofisik) LAPORAN PRAKTIKUM SELF POTENSIAL (Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Metode Survei Geofisik) Oleh : Irwan Romadon (M0212046) JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Lebih terperinci

KALOR SEBAGAI ENERGI B A B B A B

KALOR SEBAGAI ENERGI B A B B A B Kalor sebagai Energi 143 B A B B A B 7 KALOR SEBAGAI ENERGI Sumber : penerbit cv adi perkasa Perhatikan gambar di atas. Seseorang sedang memasak air dengan menggunakan kompor listrik. Kompor listrik itu

Lebih terperinci

Difusi adalah Proses Perpindahan Zat dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah.

Difusi adalah Proses Perpindahan Zat dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Difusi adalah Proses Perpindahan Zat dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Contoh difusi : a. Difusi gas b. Difusi air Hukum I Ficks : Q = - D dc/dx Ket : D Q dc/dx = Koofisien

Lebih terperinci

KELARUTAN DAN GEJALA DISTRIBUSI. Oleh : Nur Aji, S.Farm., Apt

KELARUTAN DAN GEJALA DISTRIBUSI. Oleh : Nur Aji, S.Farm., Apt KELARUTAN DAN GEJALA DISTRIBUSI Oleh : Nur Aji, S.Farm., Apt LARUTAN Larutan sejati didefinisikan sebagai suatu campuran dari dua atau lebih komponen yang membentuk suatu dispersi molekul yang homogen,

Lebih terperinci

Bab III. Metodologi Penelitian

Bab III. Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III.1. Umum Pada bab ini akan dibahas mengenai metode yang digunakan dalam penelitian potensi pemanfatan limbah las karbid dalam proses karbonatasi mineral sebagai alternatif

Lebih terperinci

Sulistyani M.Si

Sulistyani M.Si Sulistyani M.Si Email:sulistyani@uny.ac.id + Larutan terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Jumlah zat terlarut dalam suatu larutan dinyatakan dengan konsentrasi larutan. Secara kuantitatif,

Lebih terperinci