BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bagi bangsa Indonesia, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Cita-cita untuk

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bagi bangsa Indonesia, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Cita-cita untuk"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagi bangsa Indonesia, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Cita-cita untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terdidik bahkan telah tercetus sejak zaman penjajahan. Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa perubahanperubahan besar yang terjadi pada bangsa ini biasanya melibatkan tokoh-tokoh perjuangan yang terdidik. Anies Baswedan (2013) dalam tulisan elektroniknya yang berjudul Tantangan Dunia Pendidikan di Indonesia, mengatakan bahwa pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia telah tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Di dalamnya tertulis sebuah amanat yang menetapkan bahwa pemerintah Indonesia hukumnya wajib untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negara. Ketetapan ini merupakan prioritas kedua setelah mandat untuk mensejahterakan rakyat. Dapat disimpulkan bahwa hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran pendidikan bagi kelangsungan bangsa Indonesia. Sistem pendidikan di Indonesia setidaknya membagi jenjang pendidikan menjadi tiga kategori, yaitu pendidikan dasar (SD), menengah (SMP SMA) dan perguruan tinggi. Berbeda dengan sistem pendidikan dasar dan menengah, sistem pendidikan perguruan tinggi cenderung menuntut mahasiswanya untuk menjadi lebih mandiri dan dapat mengambil keputusan sendiri (Rohmah, 2007). Akibat dari tuntutan sistem pendidikan tersebut beberapa mahasiswa ditemukan mengalami stres. Hal ini didukung oleh studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Maret 2014 melalui angket online kepada 10 mahasiswa Psikologi UGM. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam satu semester terakhir seluruh 1

2 2 responden pernah merasakan stres terkait perkuliahan. Responden mengungkapkan beberapa alasan stres seperti: tugas kuliah, deadline tugas, materi perkuliahan, nilai akademik, tanggungjawab organisasi, masa depan, dan perasaan minder (tidak percaya diri). Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, ditemukan bahwa stres merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat performa mahasiswa. Hal tersebut didukung oleh hasil survei yang dilakukan oleh American College Health Association pada tahun 2013 di Amerika, yang menghasilkan temuan berupa salah satu masalah besar yang dihadapi mahasiswa dalam dunia perkuliahan adalah stres. Sebanyak 27,9% dari total mahasiswa mengakui bahwa stres menjadi penghalang bagi performa akademik mereka. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian Pierceall & Keim (2007) yang menemukan bahwa banyak mahasiswa yang tergolong dalam kategori umur dewasa muda mengalami stres akibat tekanan dalam dunia perkuliahan. Secara khusus, Kim & Lee (2013) mengatakan bahwa stres akademik mahasiswa merupakan masalah yang terus berkembang dan semakin serius menimpa negara-negara baik di Timur maupun Barat. Data yang diperoleh dari website Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada ditemukan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan oleh Widianingrum pada tahun 2012 terhadap mahasiswa yang direkrut secara acak menunjukkan bahwa satu dari empat mahasiswa mengalami tingkat stres sedang, sementara hampir 4% menunjukkan tingkat burnout yang tinggi. Masih dari sumber yang sama, Anisah dalam penelitiannya pada tahun 2012 menemukan sebanyak 12 % dari 217 responden mahasiswa menunjukkan gejala kecemasan yang cukup tinggi, dan sekitar 40 % dari 194 responden mahasiswa dalam penelitian Pratiwi (2012) menunjukkan gejala-gejala depresi. Lebih lanjut berdasarkan tulisan elektronik di website Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa temuan penelitian-penelitian lapangan tersebut diatas sejalan dengan data yang diambil dari layanan konsultasi psikologi di Gadjah

3 3 Mada Medical Center (GMC). Klien-klien yang dilayani di GMC sebagian besar menunjukkan masalah-masalah terkait dengan perasaan kurang bersemangat, tertekan, gangguan konsentrasi, perasaan bingung, kesulitan tidur, putus asa, dan dorongan mengakhiri hidup, bahkan pada beberapa kasus telah terjadi percobaan bunuh diri oleh mahasiswa. Setiap tahap perkembangan manusia merupakan fenomena stres yang terus berjalan. Ini dikarenakan karakter tahap perkembangan yang selalu berubah, tidak terprediksi, dan menuntut sebuah proses (Maddi, 2013). Hall mendefinisikan masa remaja yang usianya berkisar diantara 12 sampai 23 tahun kehidupannya diwarnai oleh pergolakan. Pandangan badai-dan-stres (storm-and-stress view) merupakan konsep Hall yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa pergolakan yang dipenuhi dengan konflik dan perubahan suasana hati (Santrock, 2007). Dengan demikian, mahasiswa sebagai individu yang masih tergolong dalam masa remaja juga akan merasakan fenomena badai dan stres. Stres merupakan salah satu respon psikologis seorang individu ketika dihadapkan pada situasi atau kondisi yang dirasa telah melampaui batas ketahanan/kemampuan diri. Stres adalah fenomena normal yang dirasakan setiap individu dan merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan. Selye (dalam Wade & Tavris, 2008) mengungkapkan bahwa orang tidak harus berusaha untuk mencapai kehidupan yang bebas stres, karena mengalami sedikit stres adalah hal yang positif dan produktif walaupun beberapa stres negatif memang tidak dapat dihindari. Penelitian yang dilakukan oleh Hystad, dkk (2009) menemukan adanya hubungan antara stres yang dialami mahasiswa dengan somatisasi dan komplain-komplain masalah psikologis. Stres yang dialami mahasiswa merupakan akibat dari tuntutan kehidupan perkuliahan yang harus dijalani. Kehidupan perkuliahan mahasiswa bukan sekedar kegiatan sehari-hari seperti datang ke kampus, menghadiri kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian,

4 4 dan kemudian lulus. Diluar hal tersebut, masih banyak aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan perkuliahan seperti bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan teman sesama mahasiswa yang memiliki karakteristik dan latar belakang berbeda, mengembangkan bakat dan minat melalui kegiatan-kegiatan diluar kampus, dan bekerja untuk menambah uang saku (Govaerst & Gregoire, 2004). Tekanan dalam bidang akademik cenderung menjadi salah satu stresor yang paling signifikan dalam kehidupan mahasiswa (Hystad, Eid, Laberg, Johnsen, & Bartone, 2009). Stres yang dialami mahasiswa apabila tidak mampu dikendalikan dan diatasi maka akan memunculkan beberapa dampak negatif. Bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari stres, salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) secara khusus memberikan pelatihan pengelolaan stres kepada mahasiswanya ( Mahasiswa ITB dapat Pelatihan Pengelolaan Stres, 2009). Dampak negatif secara kognitif yang bisa saja dialami oleh mahasiswa seperti sulit berkonsentrasi, sulit mengingat materi pelajaran (mata kuliah), dan sulit memahami bahan-bahan pelajaran. Dampak negatif secara emosional, mahasiswa biasanya mengalami kesulitan untuk memotivasi diri, sering muncul perasaan cemas, sedih, mudah marah, frustasi, dan afek-afek negatif lainnya. Secara fisiologis, stres yang dialami mahasiswa juga memberikan dampak negatif sperti gangguan kesehatan, daya tahan tubuh yang menurun terhadap penyakit, kepala terasa pusing, badan letih-lemah-lesu, dan tidur tidak nyenyak. Dampak negatif lainnya adalah muncul perilaku menunda-nunda penyelesaian tugas-tugas kuliah, malas berangkat kuliah, penyalahgunaan obat dan alkohol, serta terlibat dalam kegiatan mencari kesenangan beresiko yang berlebihan (Heiman & Kariv, 2005). Berdasarkan penjelasan diatas, maka stres yang dialami mahasiswa sebenarnya merupakan sebuah konsekuensi yang normal dari sistem pendidikan perguruan tinggi. Permasalahan muncul ketika dampak negatif dari stres mulai dirasakan oleh mahasiswa.

5 5 Namun begitu, menurut Maddi (2013) tidak semua individu yang mengalami stres akan merasakan dampak-dampak negatif tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan faktor resistensi (resistance factor) terhadap stres yang dimiliki masing-masing individu. Guna memahami lebih dalam tentang faktor-faktor yang dapat membantu individu untuk melawan stres, alasan inilah yang kemudian mendorong penelitian tentang variabel yang dapat menurunkan hubungan stres dan penyakit. Dua variabel yang secara konsisten ditemukan dapat mengurangi tingkat stres adalah hardiness dan dukungan sosial. Penelitian serupa berupa tesis, sebelumnya pernah dilakukan oleh Tatipikalawan (2011) dengan judul Pengaruh Hardiness dan Dukungan Sosial Terhadap Distress Kerja pada Polisi Lalu Lintas di Polresta Yogyakarta. Namun berdasarkan search engine di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM belum ditemukan penelitian baik tesis maupun skripsi yang meneliti hubungan hardiness dan dukungan sosial dengan stres pada mahasiswa. Penelitian menggunakan lebih dari satu faktor resistensi terhadap stres dalam satu waktu telah terbukti dapat meningkatkan prediksi hubungan penyakit terhadap orang yang berada dalam tingkat stres tinggi. Dalam sebuah studi sumber daya resistensi, Kobasa dan rekan-rekannya menemukan bahwa para eksekutif laki-laki yang memiliki tingkat hardiness dan dukungan sosial yang tinggi, hanya memiliki kemungkinan 8% untuk jatuh sakit, sedangkan mereka yang tidak memiliki kedua sumber tersebut, memiliki kemungkinan 72% menjadi sakit (Kobasa dkk, 1982). Temuan tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Tatipikalawan (2011) yang menyebutkan bahwa hardiness dan dukungan sosial memberikan sumbangan efektif lebih besar pada polisi lalu lintas terhadap stres secara bersama-sama dibandingkan masing-masing variabel berdiri sendiri. Hardiness (personality hardiness) merupakan tipe kepribadian yang memiliki daya tahan terhadap stres. Kobasa, dkk (dalam Retnowati & Munawarah, 2009) mengatakan bahwa saat ini semakin banyak penelitian yang telah membuktikan jika hardiness mampu

6 6 menjadi tameng untuk melindungi seseorang menghadapi stres yang ekstrim. Hardiness terdiri dari tiga dimensi, yaitu: 1) komitmen untuk menemukan tujuan hidup yang bermakna; 2) keyakinan akan kemampuan mengontrol lingkungan dan peristiwa yang dihadapi; dan 3) keyakinan untuk dapat tumbuh dan berkembang baik dari pengalaman positif maupun negatif yang dialami individu. Keyakinan tersebut mempengaruhi individu yang tangguh untuk menilai situasi yang mengancam menjadi kurang menakutkan, sehingga meminimalkan timbulnya tekanan (distress) (Maddi, 2013). Individu yang tangguh juga lebih percaya diri dan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menggunakan koping aktif dan dukungan sosial, sehingga hal ini membantunya mengatasi tekanan yang dihadapi (Florian, Mikulincer, & Taubman, 1995). Seringkali seorang individu tidak mampu untuk mengatasi stres sendirian, dan perlu bagi dirinya untuk mendapatkan bantuan dan dukungan sosial dari orang lain yang berada dalam lingkaran keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja (Wade & Tavris, 2008). Dukungan sosial (social support) dianggap sebagai salah satu cara yang paling ampuh untuk melakukan koping terhadap stres. Dalam sebuah penelitian eksperimen yang melibatkan sejumlah 120 mahasiswa, Baqutayan (2011) menemukan bahwa terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen dalam hubungan antara stres dan dukungan sosial. Kelompok eksperimen yang diberikan kelas tentang dukungan sosial dan mekanisme koping terbukti memiliki kemampuan koping yang lebih baik daripada kelompok kontrol. Mereka juga merasa lebih puas dengan performa akademik yang dilakukan selama proses eksperimen. Santrock (2007) menyatakan bahwa dukungan teman sebaya lebih berpengaruh terhadap tingkat rasa percaya diri pada individu terutama remaja akhir daripada dukungan orangtua. Quigley (2004) menemukan bahwa kelompok teman sebaya memiliki manfaat yang besar dalam pertumbuhan remaja. Manfaat paling menonjol yaitu berupa pemberian dukungan sosial bagi remaja lainnya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang

7 7 mereka hadapi. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian ini akan berfokus pada dukungan sosial yang bersumber dari teman sebaya. Penelitian ini menggunakan subjek mahasiswa karena mahasiswa memiliki karakter yang unik dan menarik untuk dilaksanakannya penelitian terutama di bidang kepribadian dan studi perilaku, selain itu mahasiswa akan selalu bersedia jika diminta untuk mengisi atau merespon kuesioner dan survei (Craik, 1986). Mereka juga cenderung sangat ekspresif dengan perasaan mereka tentang kejadian sehari-hari, dan mereka adalah kelompok yang berguna yang dapat digunakan untuk mempelajari masalah yang memerlukan tindakan pencegahan dan perilaku kambuhan seperti merokok, diet dan gangguan makan serta stres (Forrest, 1997). Selain itu, fenomena badai-stres yang biasa dialami oleh remaja menjadikan mahasiswa yang juga masih tergolong remaja merupakan subjek yang cocok bagi penelitian tentang stres dan faktor resistensi terhadap stres. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan korelasional untuk melihat hubungan hardiness dan dukungan sosial teman sebaya dengan stres pada mahasiswa di Universitas Negeri X di Yogyakarta.

8 8 B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menguji hubungan hardiness dan dukungan sosial teman sebaya dengan stres pada mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM. 2. Menguji hubungan hardiness dengan stres pada mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM. 3. Menguji hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan stres pada mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM. C. Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan rujukan pengambilan kebijakan terkait pengalaman stres pada mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM. 2. Penelitian ini diharapkan mampu menambah kajian ilmu psikologi, khususnya cabang psikologi pendidikan mengenai stres pada mahasiswa.

BAB 1 PENDAHULUAN. Stres adalah realita kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari. Stres

BAB 1 PENDAHULUAN. Stres adalah realita kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari. Stres BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Stres adalah realita kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari. Stres bukan sesuatu hal yang buruk dan menakutkan, tetapi merupakan bagian dari kehidupan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stres tidak dapat dipisahkan dari setiap aspek kehidupan. Stres dapat

BAB I PENDAHULUAN. Stres tidak dapat dipisahkan dari setiap aspek kehidupan. Stres dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stres tidak dapat dipisahkan dari setiap aspek kehidupan. Stres dapat dialami oleh siapa saja dan memiliki implikasi negatif jika berakumulasi dalam kehidupan individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa program studi lain di sektor non-medis (Navas, 2012), dimana

BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa program studi lain di sektor non-medis (Navas, 2012), dimana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stres merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dipisahkan pada semua aspek kehidupan, tak terkecuali pada mahasiswa kedokteran. Berbagai penelitian telah dilakukan

Lebih terperinci

Hubungan antara Konsep Diri dengan Hardiness pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi Di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Hubungan antara Konsep Diri dengan Hardiness pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi Di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Hubungan antara Konsep Diri dengan Hardiness pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi Di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Della Widiastuti 15010113120016 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. akselerasi memberikan kesempatan bagi para siswa dalam percepatan belajar dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. akselerasi memberikan kesempatan bagi para siswa dalam percepatan belajar dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia sudah mengalami kemajuan yang begitu pesat. baik dari segi kurikulum maupun program penunjang yang dirasa mampu untuk mendukung peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menjalani peran sebagai penuntut ilmu, mahasiswa pada umumnya selalu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menjalani peran sebagai penuntut ilmu, mahasiswa pada umumnya selalu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menjalani peran sebagai penuntut ilmu, mahasiswa pada umumnya selalu dihadapkan pada pemikiran-pemikiran tentang seberapa besar pencapaian yang akan diraih selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologis maupun psikologis. Kebutuhan merupakan suatu hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stres merupakan sebuah terminologi yang sangat popular dalam percakapan sehari-hari. Stres adalah salah satu dampak perubahan sosial dan akibat dari suatu proses modernisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi masyarakat, karena banyakdari kaum laki-laki maupun perempuan, tua

BAB I PENDAHULUAN. bagi masyarakat, karena banyakdari kaum laki-laki maupun perempuan, tua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada zaman sekarang ini banyak sekali ditemui dimasyarakat Indonesia kebiasaan merokok. Rokok bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi masyarakat, karena banyakdari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi memiliki misi utama yaitu sebagai penyelengara pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, misi tersebut yang memicu Perguruan Tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa kehidupan yang penting dalam rentang hidup manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional (Santrock,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keperawatan adalah model pelayanan profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit yang mengalami gangguan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Stres merupakan keadaan yang tidak dapat dihindari dalam hidup manusia, setiap

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Stres merupakan keadaan yang tidak dapat dihindari dalam hidup manusia, setiap 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stres merupakan keadaan yang tidak dapat dihindari dalam hidup manusia, setiap orang pernah dan akan mengalaminya, dengan kadar ringan berat yang berbeda. Semua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada individu seperti dampak fisik, sosial, intelektual, psikologis dan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. pada individu seperti dampak fisik, sosial, intelektual, psikologis dan spiritual BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stres merupakan fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan seharihari dan akan dialami oleh setiap orang. Stres memberikan dampak secara total pada individu seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode

BAB I PENDAHULUAN. dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah seseorang yang berada pada usia perkembangan dari masa remaja akhir sampai dewasa awal (dewasa madya), yang dimulai dari usia 18 sampai 25

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. sebagai subjek yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dituntut untuk mampu

PENDAHULUAN. sebagai subjek yang menuntut ilmu di perguruan tinggi dituntut untuk mampu PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Peraturan Republik Indonesia No. 30 tahun 1990 mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa sebagai subjek yang menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan salah satu masalah psikologis yang sering terjadi pada masa remaja dan onsetnya meningkat seiring dengan meningkatnya usia (Al- Qaisy, 2011). Depresi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang menjadi tekanan di

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang menjadi tekanan di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang menjadi tekanan di dalam hidup dan situasi seperti ini dapat menimbulkan stres. Lazarus & Folkman (1984) menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk tertentu, dalam kadar berat ringan yang berbeda dan dalam. Tak seorang pun bisa terhindarkan dari stres.

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk tertentu, dalam kadar berat ringan yang berbeda dan dalam. Tak seorang pun bisa terhindarkan dari stres. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres merupakan hal yang melekat pada kehidupan. Siapa saja dalam bentuk tertentu, dalam kadar berat ringan yang berbeda dan dalam jangka panjang pendek yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang khas yang menghadapkan manusia pada suatu krisis

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang khas yang menghadapkan manusia pada suatu krisis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia dalam kehidupannya bisa menghadapi masalah berupa tantangan, tuntutan dan tekanan dari lingkungan sekitar. Setiap tahap perkembangan dalam rentang kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengalaman terbaik bagi siswa sehingga membuat siswa-siswanya merasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengalaman terbaik bagi siswa sehingga membuat siswa-siswanya merasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah yang baik adalah sekolah yang diharapkan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi siswa sehingga membuat siswa-siswanya merasa sejahtera secara fisik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan tanggung jawab dan peranan di universitas. Stres yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan tanggung jawab dan peranan di universitas. Stres yang tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Stres yang terlalu berat dapat mengancam kemampuan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam perkembangan selama hidupnya, manusia dihadapkan pada dua peran yaitu sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tempat dimana sebagian besar waktu dilaluinya (Prawitasari, 2012). Bagi kebanyakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tempat dimana sebagian besar waktu dilaluinya (Prawitasari, 2012). Bagi kebanyakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia sangat beragam tergantung di mana dia berada, terutama saat dia tumbuh berkembang sampai menjadi mahasiwa, pendidikan formal menjadi tempat dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada remaja biasanya disebabkan dari beberapa faktor

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada remaja biasanya disebabkan dari beberapa faktor BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Stres merupakan bagian yang tidak terhindar dari kehidupan. Stres mempengaruhi kehidupan setiap orang bahkan anak-anak. Kebanyakan stres diusia remaja berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan tuntutan kehidupan (Sunaryo, 2013). Menurut Nasir & Muhith (2011) stres

BAB 1 PENDAHULUAN. dan tuntutan kehidupan (Sunaryo, 2013). Menurut Nasir & Muhith (2011) stres BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan (Sunaryo, 2013). Menurut Nasir & Muhith (2011) stres merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penderita umumnya berusia belasan tahun (Hutagalung dalam Kompas, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. penderita umumnya berusia belasan tahun (Hutagalung dalam Kompas, 2009). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker tulang merupakan salah satu jenis kanker yang cukup sering dijumpai di Indonesia. Berbeda dengan kanker mulut rahim atau kanker payudara, informasi tentang gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia hidup selalu dipenuhi oleh kebutuhan dan keinginan. Seringkali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak dapat terpenuhi dengan segera. Selain itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang pada umumnya ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial, tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kepribadian yang kuat serta dapat diandalkan. Terdapat tipe kepribadian

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kepribadian yang kuat serta dapat diandalkan. Terdapat tipe kepribadian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa sebagai penerus bangsa sekaligus sebagai cendikia diharapkan memiliki kepribadian yang kuat serta dapat diandalkan. Terdapat tipe kepribadian tertentu yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi masalah kesehatan mental. Jika sudah menjadi masalah kesehatan mental, stres begitu mengganggu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa yang meliputi berbagai macam perubahan yaitu perubahan biologis, kognitif, sosial dan emosional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menjamin kesejahteraan sosial dan kelestarian biologis anak manusia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menjamin kesejahteraan sosial dan kelestarian biologis anak manusia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan, karena manusia hidup dalam suatu sistem sosial seperti organisasi, masyarakat dan keluarga (Sugeng, 2009).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. latin adolensence, diungkapkan oleh Santrock (2003) bahwa adolansence

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. latin adolensence, diungkapkan oleh Santrock (2003) bahwa adolansence BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Perkembangan dari masa kanak-kanak menuju dewasa ditandai dengan adanya masa transisi yang dikenal dengan masa remaja. Remaja berasal dari kata latin adolensence,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seksual (Santrock, 1998). Hall (dalam Papalia, 1998) menyebut masa ini

BAB I PENDAHULUAN. seksual (Santrock, 1998). Hall (dalam Papalia, 1998) menyebut masa ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja di tandai oleh perubahan yang besar diantaranya kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis, pencarian identitas, dan membentuk hubungan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memperoleh gelar sarjana (Sugiyono, 2013). Skripsi adalah muara dari semua

BAB 1 PENDAHULUAN. memperoleh gelar sarjana (Sugiyono, 2013). Skripsi adalah muara dari semua BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Skripsi merupakan salah satu jenis karya ilmiah di perguruan tinggi yang dikerjakan oleh mahasiswa program sarjana (S1), sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana

Lebih terperinci

2016 HUBUNGAN SENSE OF HUMOR DENGAN STRES REMAJA SERTA IMPLIKASINYA BAGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

2016 HUBUNGAN SENSE OF HUMOR DENGAN STRES REMAJA SERTA IMPLIKASINYA BAGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Stres merupakan fenomena umum yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa tuntutan dan tekanan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. riskan pada perkembangan kepribadian yang menyangkut moral,

BAB I PENDAHULUAN. riskan pada perkembangan kepribadian yang menyangkut moral, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak usia sekolah mempunyai berbagai resiko yang lebih mengarah pada kecerdasan, moral, kawasan sosial dan emosional, fungsi kebahasaan dan adaptasi sosial.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. istilah remaja atau adolenscence, berasal dari bahasa latin adolescere yang

I. PENDAHULUAN. istilah remaja atau adolenscence, berasal dari bahasa latin adolescere yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam perkembangan manusia, masa remaja merupakan salah satu tahapan perkembangan dimana seorang individu mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa sedikit mengalami permasalahan dan beban karena tugas-tugas

BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa sedikit mengalami permasalahan dan beban karena tugas-tugas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa adalah pelajar yang menempuh pendidikan lanjutan di tingkat perguruan tinggi atau universitas. Mahasiswa pun dituntut untuk lebih mandiri dalam segala hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah salah satu bagian dari civitas akademika pada perguruan tinggi yang merupakan calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Untuk itu diharapkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah kesehatan jiwa tidak lagi hanya berupa gangguan jiwa yang berat

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah kesehatan jiwa tidak lagi hanya berupa gangguan jiwa yang berat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan jiwa tidak lagi hanya berupa gangguan jiwa yang berat termasuk penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lain (NAPZA), tetapi juga meliputi berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang No. 20 Tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

BAB I PENDAHULUAN. Undang No. 20 Tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi hal penting bagi perkembangan setiap individu. Menurut Undang- Undang No. 20 Tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, adalah seseorang

BAB I PENDAHULUAN. membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, adalah seseorang 15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa, pada dasarnya sebagai generasi penerus. Mereka diharapkan sebagai subyek atau pelaku didalam pergerakan pembaharuan. Sebagai bagian dari masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. apabila individu dihadapkan pada suatu masalah. Individu akan menghadapi masalah yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. apabila individu dihadapkan pada suatu masalah. Individu akan menghadapi masalah yang lebih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap masalah yang muncul akan selalu memerlukan penyelesaian, baik penyelesaian dengan segera maupun tidak. Penyelesaian masalah merupakan sesuatu yang harus

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Penelitian. Subjective well-being atau kesejahteraan subjektif merupakan sebuah istilah

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Penelitian. Subjective well-being atau kesejahteraan subjektif merupakan sebuah istilah BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penelitian Subjective well-being atau kesejahteraan subjektif merupakan sebuah istilah ilmiah yang biasa dialami individu sebagai kebahagiaan (Seligman & Csikszentmihalyi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di masyarakat. Mahasiswa minimal harus menempuh tujuh semester untuk dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di masyarakat. Mahasiswa minimal harus menempuh tujuh semester untuk dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Universitas merupakan dasar utama dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berfungsi menghadapi permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Interaksi karyawan dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya menghasilkan barang atau jasa. Berdasarkan unjuk kerjanya, karyawan mendapatkan imbalan yang berdampak pada

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memacu setiap bangsa, termasuk Indonesia sebagai suatu negara yang sedang

1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memacu setiap bangsa, termasuk Indonesia sebagai suatu negara yang sedang BAB I PENDAHULUAN Stres akulturatif yang dialami mahasiswa perantauan menjadi hal yang penting untuk dikaji karena mengakibatkan dampak negatif bagi mahasiswa tersebut, seperti perasaan mengalami diskriminasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetapi merasa badan tidak segar meskipun sudah tidur (Puspitosari, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. tetapi merasa badan tidak segar meskipun sudah tidur (Puspitosari, 2008). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Insomnia adalah keluhan sulit untuk masuk tidur atau sulit mempertahankan tidur (sering terbangun saat tidur) dan bangun terlalu awal serta tetapi merasa badan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbagai macam hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dalam proses belajar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbagai macam hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dalam proses belajar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak dalam mempelajari berbagai macam hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dalam proses belajar inilah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 pasal 2 ayat 1 menetapkan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hal tersebut mengandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Dalam dua dasawarsa terakhir ini, perubahan yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan semakin pesat, sebagai dampak dari faktor kemajuan di bidang teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang. kedewasaan (Daldiyono, 2009). Mahasiswa digolongkan pada tahap

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang. kedewasaan (Daldiyono, 2009). Mahasiswa digolongkan pada tahap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang kedewasaan (Daldiyono, 2009). Mahasiswa digolongkan pada tahap perkembangan remaja akhir (18-20 tahun)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu mengalami masa peralihan atau masa transisi. Yang dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. di Indonesia dipandang lebih dari pada siswa, sehingga tuntutan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. di Indonesia dipandang lebih dari pada siswa, sehingga tuntutan terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan tinggi merubah status dari siswa menjadi mahasiswa. Status ini di Indonesia dipandang lebih dari pada siswa, sehingga tuntutan terhadap mahasiswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia ini. Dalam pendidikan formal dan non- formal proses belajar menjadi

BAB I PENDAHULUAN. dunia ini. Dalam pendidikan formal dan non- formal proses belajar menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan inti dari pendidikan. Tanpa belajar tidak akan ada pendidikan. Karena belajar adalah proses untuk berubah dan berkembang. Setiap manusia sepanjang

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Mahasiswa adalah murid pada pendidikan tinggi dan memulai jenjang kedewasaan (Daldiyono, 2009). Mahasiswa dalam tahap perkembangannya digolongkan sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.1 Definisi Stres Stres merupakan suatu fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat dihindari serta akan dialami oleh setiap orang.

Lebih terperinci

PERBEDAAN INSOMNIA PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DAN BELUM MENGERJAKAN SKRIPSI

PERBEDAAN INSOMNIA PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DAN BELUM MENGERJAKAN SKRIPSI PERBEDAAN INSOMNIA PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DAN BELUM MENGERJAKAN SKRIPSI ABSTRAKSI Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar derajat sarjana S-1 Psikologi Oleh :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kasus penggunaan narkoba pada remaja sudah sering dijumpai di berbagai media. Maraknya remaja yang terlibat dalam masalah ini menunjukkan bahwa pada fase ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi, mahasiswa dalam tahap perkembangannya digolongkan sebagai remaja dan dewasa awal, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era gobalisasi ini, perkembangan masyarakat di berbagai bidang semakin meningkat. Individu dituntut untuk semakin maju agar dapat mengikuti persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan yang dimilikinya melalui Perguruan Tinggi. Perguruan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN survei rutin yang dilakukan rutin sejak tahun 1991 oleh National Sleep

BAB I PENDAHULUAN survei rutin yang dilakukan rutin sejak tahun 1991 oleh National Sleep BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap tahun angka kejadian insomnia terus meningkat, diperkirakan sekitar 20% sampai 50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur atau insomnia, dan sekitar 17%

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Hurlock (1991), remaja dalam bahasa Latin adalah (adolescence,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Hurlock (1991), remaja dalam bahasa Latin adalah (adolescence, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Hurlock (1991), remaja dalam bahasa Latin adalah (adolescence, yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang semakin pesat. Hal ini membuat setiap individu dituntut untuk

BAB I PENDAHULUAN. berkembang semakin pesat. Hal ini membuat setiap individu dituntut untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada zaman modern seperti saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang semakin pesat. Hal ini membuat setiap individu dituntut untuk beradaptasi mengikuti perkembangan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia tidak terlepas dari stres, masalahnya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia tidak terlepas dari stres, masalahnya adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia pada umumnya pernah mengalami stres. Stres merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Meskipun demikian stres bukan sesuatu hal yang buruk dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan baru semakin memperburuk suasana. Dalam sebuah survei yang dilakukan Princeton Survey Research

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan baru semakin memperburuk suasana. Dalam sebuah survei yang dilakukan Princeton Survey Research BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Karyawan didalam suatu perusahaan merupakan asset perusahaan karena dianggap sebagai salah satu faktor penggerak bagi setiap kegiatan didalam perusahaan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari-hari, yang tidak dapat dihindari dan dialami oleh setiap orang. Stres

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari-hari, yang tidak dapat dihindari dan dialami oleh setiap orang. Stres BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stres adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu dan suatu fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari,

Lebih terperinci

kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga,

kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini stres menjadi problematika yang cukup menggejala di kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. lahir hingga meninggal secara mandiri. Contoh konkretnya. sendiri melainkan harus ditunjang dan dibantu oleh sang ibu

BAB 1 PENDAHULUAN. lahir hingga meninggal secara mandiri. Contoh konkretnya. sendiri melainkan harus ditunjang dan dibantu oleh sang ibu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tak dapat dipungkiri bahwa interaksi sosial merupakan salah satu kebutuhan manusia dan karena itulah manusia disebut makhluk sosial. Kita tidak dapat hidup sendiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Helmi Rahmat, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Helmi Rahmat, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Stres merupakan suatu permasalahan yang sering menjadi perbincangan dalam kehidupan sehari-hari. Stres dapat dialami dalam berbagai situasi yang berbeda.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian. Definisi mengenai kepribadian terus berkembang karena tidak. permanen dan karakter yang unik pada perilaku individu.

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian. Definisi mengenai kepribadian terus berkembang karena tidak. permanen dan karakter yang unik pada perilaku individu. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap manusia memiliki karakteristik dalam bersikap, berprilaku dan berespon terhadap pengaruh dari luar. Kekhasan tersebut terjadi karena adanya kepribadian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang bahagia. Kebahagiaan menjadi harapan dan cita-cita terbesar bagi setiap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang bahagia. Kebahagiaan menjadi harapan dan cita-cita terbesar bagi setiap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupan, Manusia selalu menginginkan kehidupan yang bahagia. Kebahagiaan menjadi harapan dan cita-cita terbesar bagi setiap individu dari berbagai

Lebih terperinci

GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA BK DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA BK DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 13 GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA BK DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Anies Andriyati Devi 1 Dra.Retty Filiani 2 Dra.Wirda Hanim, M.Psi 3 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi menjadi fenomena yang sangat penting dalam dunia kerja.

BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi menjadi fenomena yang sangat penting dalam dunia kerja. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Modernisasi menjadi fenomena yang sangat penting dalam dunia kerja. Selain dampaknya terhadap penggunaan alat-alat produksi dan strategi pemasaran. Modernisasi juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salafi

BAB I PENDAHULUAN. tinggal di pondok pesantren yang kesehariannya mengkaji kitab-kitab salafi BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Hampir seluruh masyarakat nusantara tidak asing mendengar kata santri. Kata santri sendiri diidentikkan bagi orang yang sedang belajar dan tinggal di pondok pesantren

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk hidup senantiasa barada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berakhir ketika individu memasuki masa dewasa awal, tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin besar. Di tahun 2009 angka pengangguran terdidik telah mencapai

BAB I PENDAHULUAN. semakin besar. Di tahun 2009 angka pengangguran terdidik telah mencapai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jumlah pengangguran lulusan pendidikan tinggi di Indonesia semakin hari semakin besar. Di tahun 2009 angka pengangguran terdidik telah mencapai 626.600 orang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang hidup pasti memiliki suatu permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang hidup pasti memiliki suatu permasalahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang hidup pasti memiliki suatu permasalahan dalam kehidupannya, entah masalah tersebut bersumber dari luar diri manusia tersebut, maupun dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. mahasiswa fakultas psikologi dan kesehatan yang sedang mengambil program

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. mahasiswa fakultas psikologi dan kesehatan yang sedang mengambil program BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subyek Responden dalam penelitian ini diambil dari jumlah populasi mahasiswa fakultas psikologi dan kesehatan yang sedang mengambil program dan mengerjakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan elemen penting bagi kehidupan. Menurut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal (1) ayat 1,

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan elemen penting bagi kehidupan. Menurut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal (1) ayat 1, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan elemen penting bagi kehidupan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal (1) ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok

BAB I PENDAHULUAN. sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Organisasi adalah satu sistem, yang terdiri dari pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok orang untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menjadi orang tua sebagai ayah dan ibu yang mengasuh anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menjadi orang tua sebagai ayah dan ibu yang mengasuh anak-anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menjadi orang tua sebagai ayah dan ibu yang mengasuh anak-anak dengan pasangan hidupnya tentu sangat menyenangkan, namun pada kenyataannya terdapat keluarga yang tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULAN. adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Jenjang pendidikan tertinggi

BAB I PENDAHULAN. adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Jenjang pendidikan tertinggi 1 BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Seiring dengan hal globalisasi yang tidak dapat diprediksi, peningkatan sumber daya mansia sangat dibutuhkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tugas. Terkadang manusia merasa semangat untuk melakukan sesuatu namun

BAB. I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tugas. Terkadang manusia merasa semangat untuk melakukan sesuatu namun 1 BAB. I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam kehidupan, manusia memiliki berbagai macam aktivitas dan tugas. Terkadang manusia merasa semangat untuk melakukan sesuatu namun terkadang sebaliknya yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan tinggi (SNPT). Salah satu tujuan SNPT adalah mendorong

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan tinggi (SNPT). Salah satu tujuan SNPT adalah mendorong BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi yang berkualitas mengacu pada standar nasional pendidikan tinggi (SNPT). Salah satu tujuan SNPT adalah mendorong seluruh perguruan tinggi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang menempuh perguruan tinggi. Masa perguruan tinggi dengan masa SMA sangatlah berbeda, saat duduk dibangku perguruan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pelayanan masyarakat (public service) (Maslach dalam Jones,

BAB I PENDAHULUAN. dengan pelayanan masyarakat (public service) (Maslach dalam Jones, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stres kerja merupakan hasil reaksi emosi dan fisik akibat kegagalan individu beradaptasi pada lingkungan kerja, dimana terjadi ketidak sesuaian antara harapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya-upaya dalam rangka mendapatkan kebebasan itu. (Abdullah, 2007

BAB I PENDAHULUAN. upaya-upaya dalam rangka mendapatkan kebebasan itu. (Abdullah, 2007 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada setiap fase kehidupan manusia pasti mengalami stres pada tiap fase menurut perkembangannya. Stres yang terjadi pada mahasiswa/i masuk dalam kategori stres

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh individu. Siapapun bisa terkena stres baik anak-anak, remaja, maupun

BAB I PENDAHULUAN. oleh individu. Siapapun bisa terkena stres baik anak-anak, remaja, maupun BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Stres dan ketidakpuasan merupakan aspek yang tidak dapat dihindari oleh individu. Siapapun bisa terkena stres baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Mahasiswa merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan yang memberi manfaat

BAB 1 PENDAHULUAN. kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan yang memberi manfaat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era gobalisasi seperti ini, bekerja bukan hanya menjadi kemauan tetapi menjadi sebuah tuntutan. Bekerja hakekatnya merupakan bagian dari hidup manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat sesuai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat sesuai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat sesuai standar yang

Lebih terperinci