BAB 4 PEMBAHASAN. Penelitian ini menguji pengaruh perputaran persediaan dan perputaran piutang baik

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PEMBAHASAN. Penelitian ini menguji pengaruh perputaran persediaan dan perputaran piutang baik"

Transkripsi

1 BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Penelitian ini menguji pengaruh perputaran persediaan dan perputaran piutang baik secara individual maupun secara bersama-sama terhadap likuiditas perusahaan. Hasil perputaran persediaan dan perputaran piutang dalam penelitian ini diolah penulis dengan sumber data yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan secara triwulan. Likuiditas perusahaan dilihat dari Current Ratio perusahaan. Data penelitian ini diambil dari 4 perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Kriteria lainnya adalah perusahaan harus telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia minimal sejak tahun 2004 dan mempublikasikan secara lengkap laporan keuangannya dalam triwulan untuk periode 31 Maret 2004 hingga 31 Desember 2010 yang dinyatakan dalam Rupiah (Rp), serta tidak mengalami delisting selama periode berjalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa regresi berganda, analisa korelasi parsial, dan analisa koefisien determinasi. Penelitian ini menggunakan periode yaitu selama 7 tahun. 33

2 Tabel 4.1 Prosedur Pemilihan Sampel Seluruh perusahaan dalam kategori industri rokok 4 Tidak terdaftar di Bursa Efek Indonesia minimal sejak tahun 2004 (1) Perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan keuangan triwulan secara lengkap selama periode - 31 Maret Desember 2010 Total Sampel Perusahaan 3 Berdasarkan tabel 4.1 di atas, semua perusahaan dalam industri rokok tersebut menyajikan laporan keuangan yang dinyatakan dalam Rupiah. Dari 4 perusahaan yang termasuk dalam kategori industri rokok, hanya 3 perusahaan yang memenuhi kriteria, dan 1 perusahaan lainnya tidak memenuhi kriteria pengumpulan sampel. Dari 4 perusahaan tersebut, terdapat 1 perusahaan yang tidak terdaftar di Bursa Efek Indonesia minimal sejak tahun 2004 yaitu PT. Wismilak Inti Makmur Tbk yang baru listing di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun Tabel 4.2 Daftar Kode dan Nama Perusahaan No Kode Nama Perusahaan Perusahaan 1 GGRM Gudang Garam Tbk. 2 HMSP HM Sampoerna Tbk. 34

3 3 RMBA Bentoel International Investama Tbk. Sumber: Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) 4.2 Analisis Perputaran Persediaan Perputaran persediaan akan memperlancar jalannya operasi perusahaan yang dilakukan secara teratur untuk memproduksi barang-barang kemudian mendistribusikannya. Besar dari hasil perhitungan perputaran persediaan akan menunjukkan tingkat kecepatan persediaan bertransformasi menjadi kas setelah melalui penjualan yang menghasilkan piutang yang akan ditagih. Berikut ini data hasil perhitungan perputaran persediaan pada perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode secara triwulan yang disajikan dalam bentuk grafik. Gambar 4.1 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

4 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2004 Bentoel International Investama Tbk dari triwulan I hingga triwulan IV memiliki perputaran persediaan paling tinggi dan jauh melebihi tingkat perputaran persediaan di antara 2 perusahaan lainnya. Hal ini disebabkan karena HPP pada Bentoel International Investama Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai persediaan rata-ratanya. Gambar 4.2 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2005 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2005 Bentoel International Investama Tbk dari triwulan I dan triwulan II memiliki perputaran persediaan paling tinggi. Pada triwulan III Bentoel International Investama Tbk dan Gudang Garam Tbk memiliki 36

5 nilai perputaran persediaan yang sama. Pada akhir periode HM Sampoerna Tbk yang memiliki tingkat perputaran tertinggi. Sedangkan Gudang Garam Tbk dari triwulan I hingga triwulan IV memiliki tingkat perputaran paling rendah di antara 2 perusahaan lainnya. Gambar 4.3 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2006 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2006 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk dan Bentoel International Investama Tbk kurang lebih memiliki nilai perputaran persediaan yang hampir sama. Sedangkan Gudang Garam Tbk 37

6 dari triwulan I hingga triwulan IV memiliki tingkat perputaran paling rendah di antara 2 perusahaan lainnya. Gambar 4.4 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2007 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2007 dari triwulan I dan triwulan II Bentoel International Investama Tbk memiliki nilai perputaran persediaan tertinggi, sedangkan pada triwulan III dan triwulan IV HM Sampoerna Tbk yang memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi. Namun secara keseluruhan dari triwulan I hingga 38

7 triwulan IV HM Sampoerna Tbk dan Bentoel International Investama Tbk kurang lebih memiliki nilai perputaran persediaan yang hampir sama. Sedangkan Gudang Garam Tbk dari triwulan I hingga triwulan IV memiliki tingkat perputaran paling rendah di antara 2 perusahaan lainnya. Gambar 4.5 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2008 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2008 triwulan I HM Sampoerna Tbk dan Bentoel International Investama Tbk memiliki nilai perputaran persediaan yang sama. Pada triwulan II hingga triwulan IV, HM Sampoerna Tbk yang memiliki nilai perputaran persediaan tertinggi. Saat triwulan III, Gudang Garam Tbk dan Bentoel 39

8 International Investama Tbk memiliki nilai perputaran persediaan yang sama. Namun Gudang Garam Tbk secara keseluruhan dalam satu periode memiliki tingkat perputaran paling rendah di antara 2 perusahaan lainnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Gambar 4.6 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2009 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2009 HM Sampoerna Tbk memiliki perputaran persediaan paling tinggi, terutama pada triwulan II hingga triwulan IV jauh melebihi tingkat perputaran persediaan di antara 2 perusahaan lainnya. Sedangkan 40

9 Gudang Garam Tbk dan Bentoel International Investama Tbk selama triwulan I hingga triwulan III memiliki nilai perputaran persediaan yang hampir sama, hanya pada triwulan IV Bentoel International Investama Tbk memiliki nilai perputaran persediaan lebih tinggi dibanding Gudang Garam Tbk. Gambar 4.7 Grafik Perputaran Persediaan Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2010 Berdasarkan grafik perputaran persediaan perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2010 HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Namun tingkat perputaran persediaan 41

10 Gudang Garam Tbk memiliki nilai yang jauh lebih rendah di antara 2 perusahaan lainnya, terutama saat triwulan II hingga triwulan IV. Berdasarkan hasil pengolahan data, naik turunnya tingkat perputaran persediaan ini dikarenakan jumlah persediaan dan nilai HPP yang tidak menentu di setiap periode. Terkadang perusahaan menyediakan jumlah stok persediaan lebih banyak atau bahkan lebih sedikit dibanding periode sebelumnya. 4.3 Analisis Perputaran Piutang Tingkat perputaran piutang dapat diketahui melalui perhitungan dari data laporan keuangan perusahaan yang disajikan. Besar dari hasil perhitungan perputaran piutang juga dapat menunjukkan seberapa efektif manajemen perusahaan dapat mengelola salah satu unsur modal kerjanya ini. Berikut ini data hasil perhitungan perputaran piutang pada perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode secara triwulan yang disajikan dalam bentuk grafik. Gambar 4.8 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

11 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2004 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Gambar 4.9 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

12 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2005 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Gambar 4.10 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

13 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2006 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Pada Bentoel International Investama Tbk terjadi peningkatan nilai perputaran piutang dibanding tahun sebelumnya. Gambar 4.11 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

14 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2007 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Pada Bentoel International Investama Tbk terjadi peningkatan kembali nilai perputaran piutang dibanding tahun Gambar 4.12 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

15 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2008 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran piutang yang jauh lebih besar dan meningkat dengan signifikan dibanding tahun Gambar 4.13 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

16 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2009 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Pada akhir periode HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran piutang yang lebih besar dibanding tahun Nilai perputaran piutang pada Gudang Garam Tbk dan Bentoel International Investama Tbk terlihat hampir sama dengan tahun sebelumnya. Gambar 4.14 Grafik Perputaran Piutang Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

17 Berdasarkan grafik perputaran piutang perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2010 dari triwulan I hingga triwulan IV HM Sampoerna Tbk memiliki nilai perputaran persediaan paling tinggi di antara 2 perusahaan lainnya, disusul Bentoel International Investama Tbk, dan kemudian Gudang Garam Tbk. Hal ini disebabkan karena penjualan bersih pada HM Sampoerna Tbk memiliki nilai jauh lebih besar dibanding nilai piutang rata-ratanya. Pada akhir periode ini nilai perputaran piutang HM Sampoerna Tbk menurun drastis dibanding akhir periode tahun Nilai perputaran piutang pada Bentoel International Investama Tbk mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. Sedangkan pada Gudang Garam Tbk, nilai perputaran piutangnya hanya mengalami sedikit kenaikan pada triwulan I dan triwulan II dibanding 2 triwulan pertama tahun lalu. 49

18 Naik turunya perputaran piutang, dari faktor internal, hal ini dapat disebabkan oleh manajemen pengelolaan piutang yang baik (seperti penentuan syarat pembayaran penjualan kredit, ketentuan mengenai pembatasan kredit, dan kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang), dan peningkatan volume penjualan secara terus menerus melalui kegiatan pemasaran yang baik pula. Faktor eksternal juga dapat mempengaruhi tingkat perputaran piutang perusahaan seperti kebiasaaan baik membayar dari para pelanggan dengan mematuhi kebijakan penjualan kredit yang ditetapkan. 4.4 Analisis Likuiditas Tingkat likuiditas dapat diketahui melalui perhitungan dari data laporan keuangan perusahaan yang disajikan. Besar dari hasil perhitungan tingkat likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancarnya. Berikut ini data hasil perhitungan likuiditas pada perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode secara triwulan yang disajikan dalam bentuk grafik. Gambar 4.15 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun

19 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2004 dari triwulan I hingga triwulan IV Gudang Garam Tbk memiliki nilai likuiditas terendah di antara 2 perusahaan lainnya dan mengalami sedikit penurunan di setiap triwulannya. HM Sampoerna Tbk memiliki nilai likuiditas sangat tinggi di awal periode, namun pada triwulan II turun secara signifikan dan naik secara perlahan di triwulan-triwulan selanjutnya, hal ini dikarenakan pada awal tahun HM Sampoerna Tbk memiliki aktiva lancar yang jauh lebih besar dibanding hutang lancarnya. Pada Bentoel International Investama Tbk nilai likuiditasnya mengalami fluktuasi di setiap triwulannya. Gambar

20 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2005 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2005 triwulan I nilai likuiditas HM Sampoerna Tbk dan Bentoel International Investama Tbk adalah sama. Pada triwulan II, nilai likuiditas Bentoel International Investama Tbk mengalami penurunan dan relatif stabil di triwulan berikutnya. Sedangkan nilai likuiditas pada HM Sampoerna Tbk juga mengalami penurunan pada triwulan II dan triwulan III. Dibanding pada tahun sebelumnya, pada tahun ini HM Sampoerna Tbk memiliki tingkat likuiditas yang lebih rendah. Pada Gudang Garam Tbk memiliki nilai likuiditas terendah di antara 2 perusahaan lainnya dan relatif stabil di setiap triwulannya. 52

21 Gambar 4.17 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2006 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2006 triwulan I hingga triwulan IV nilai likuiditas Bentoel International Investama Tbk mengalami penurunan secara bertahap, tingkat likuiditas tahun ini juga lebih rendah dibanding likuiditas tahun sebelumnya. Nilai likuiditas Gudang Garam Tbk pada triwulan I hingga triwulan III adalah cenderung stabil dan mengalami sedikit kenaikan di akhir periode. Pada HM Sampoerna Tbk, nilai likuiditasnya juga cenderung stabil dari triwulan I hingga triwulan II, dan mengalami sedikit penurunan di triwulan berikutnya. 53

22 Gambar 4.18 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2007 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2007 triwulan I hingga triwulan IV nilai likuiditas Gudang Garam Tbk dan HM Sampoerna Tbk adalah relatif stabil. Tingkat likuiditas Gudang Garam Tbk pada tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan nilai likuiditas Bentoel International Investama Tbk pada triwulan I hingga triwulan III terendah di antara 2 perusahaan lainnya, namun pada akhir periode nilai likuiditasnya meningkat signifikan, hal ini disebabkan oleh nilai hutang lancarnya jauh menurun dibanding nilai hutang lancar pada triwulan-triwulan sebelumnya. Tingkat 54

23 likuiditas Bentoel International Investama Tbk pada triwulan I hingga triwulan III tahun ini juga lebih rendah dibanding triwulan I hingga triwulan III pada tahun Gambar 4.19 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2008 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2008 triwulan I hingga triwulan IV nilai likuiditas HM Sampoerna Tbk adalah relatif stabil dan terendah di antara 2 perusahaan lainnya. Tingkat likuiditas HM Sampoerna Tbk tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Pada Gudang Garam Tbk nilai likuiditasnya juga relatif stabil di setiap triwulannya dan sama seperti tahun lalu, hanya saja tingkat likuiditas pada akhir periode tahun ini mengalami sedikit peningkatan dibanding akhir periode tahun lalu. Nilai 55

24 likuiditas Bentoel International Investama Tbk mengalami penurunan yang signifikan dari triwulan I hingga triwulan III dan mengalami sedikit kenaikan di akhir periode. Tetapi tingkat likuiditas Bentoel International Investama Tbk pada triwulan I hingga triwulan III tahun ini lebih baik dibanding triwulan I hingga triwulan III pada tahun Gambar 4.20 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2009 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2009 triwulan I hingga triwulan IV nilai likuiditas Gudang Garam Tbk adalah cukup stabil dan lebih baik dibanding tingkat likuiditas pada tahun sebelumnya. Terjadi fluktuasi nilai likuiditas triwulan I hingga triwulan III 56

25 pada HM Sampoerna Tbk, namun dapat disimpulkan bahwa tingkat likuiditasnya lebih baik dibanding tahun 2008, dan nilai likuiditas HM Sampoerna Tbk terendah di antara 2 perusahaan lainnya pada tahun ini. Nilai likuiditas Bentoel International Tbk mengalami penurunan mulai triwulan III hingga triwulan IV dan dibanding tahun sebelumnya tingkat likuiditas tahun ini lebih rendah. Gambar 4.21 Grafik Likuiditas Perusahaan Industri Rokok Yang Terdaftar di BEI Tahun 2010 Berdasarkan grafik likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada tahun 2010 triwulan I nilai likuiditas Gudang Garam Tbk termasuk tinggi, lalu mengalami penurunan pada triwulan II, dan nilainya stabil pada triwulan-triwulan berikutnya. Pada tahun ini tingkat likuiditas Gudang Garam Tbk tertinggi di antara 2 perusahaan lainnya dan lebih baik dibanding tingkat 57

26 likuiditas tahun lalu. Tingkat likuiditas Bentoel International Investama Tbk secara keseluruhan pada tahun ini sedikit menurun dibanding tahun Pada HM Sampoerna Tbk terjadi penurunan nilai likuiditas yang signifikan pada triwulan I ke triwulan II, lalu kembali mengalami kenaikan secara perlahan untuk triwulan-triwulan berikutnya. Nilai likuiditas HM Sampoerna Tbk pada triwulan II hingga triwulan IV jauh lebih rendah dibanding 2 perusahaan lainnya. Secara keseluruhan, tingkat likuiditas HM Sampoerna pada tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Naik turunnya tingkat likuiditas ini dikarenakan aktiva lancar dan hutang lancar perusahaan di setiap periode nilainya tidak menentu. Tingkat likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia termasuk kategori tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 2.10 (210%). 4.5 Analisis Statistik Deskriptif Berikut ini merupakan hasil deskripsi secara statistik atas variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 4.3 Uji Statistik Deskriptif 58

27 Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Perputaran persediaan (X1) Perputaran piutang (X2) Likuiditas (Y) Valid N (listwise) 84 Hasil perhitungan menunjukkan, jumlah data yang digunakan adalah 84. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui hasil dari uji statistik deskriptif pada variabel penelitian ini, yaitu: Variabel independen pertama adalah Perputaran Persediaan. Secara keseluruhan perusahaan industri rokok mempunyai Perputaran Persediaan sebesar 1.67, yang artinya adalah perusahaan rata-rata memiliki perputaran persediaan terjadi 2 kali dalam satu periode. Nilai minimum dari Perputaran Persediaan dimiliki oleh Gudang Garam Tbk pada triwulan I tahun 2006 dengan nilai 0.44 dan nilai maksimum dari Perputaran Persediaan dimiliki oleh Bentoel International Investama Tbk pada triwulan IV tahun 2004 dengan nilai Variabel penelitian ini memiliki standar deviasi sebesar Variabel independen kedua adalah Perputaran Piutang. Secara keseluruhan perusahaan industri rokok mempunyai Perputaran Piutang sebesar 28.14, yang artinya adalah perusahaan rata-rata memiliki perputaran piutang terjadi 28 kali dalam satu periode. Nilai minimum dari Perputaran Piutang dimiliki oleh Gudang Garam Tbk pada triwulan I tahun 2008 dengan nilai

28 dan nilai maksimum dari Perputaran Persediaan dimiliki oleh HM Sampoerna Tbk pada triwulan IV tahun 2009 dengan nilai Variabel penelitian ini memiliki standar deviasi sebesar Variabel dependen adalah Likuiditas. Secara keseluruhan perusahaan industri rokok mempunyai Likuiditas sebesar 2.10, yang artinya adalah perusahaan ratarata memiliki tingkat likuditas sebesar 210% dalam satu periode. Nilai minimum dari Likuiditas dimiliki oleh HM Sampoerna Tbk pada triwulan II tahun 2010 dengan nilai 1.21 dan nilai maksimum dari Likuiditas dimiliki oleh Bentoel International Investama Tbk pada triwulan I tahun 2008 dengan nilai Variabel penelitian ini memiliki standar deviasi sebesar Nilai N pada tabel menunjukkan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini untuk periode (7 tahun) dengan menggunakan laporan keuangan triwulan, yaitu sebanyak 84 sampel. Berikut ini tampilan grafik histogram berdasarkan statistik deskriptif. Gambar 4.22 Grafik Histogram Perputaran Persediaan Sumber: SPSS 17.0 for Windows 60

29 Gambar 4.23 Grafik Histogram Perputaran Piutang Sumber: SPSS 17.0 for Windows 61

30 Gambar 4.24 Grafik Histogram Likuiditas Sumber: SPSS 17.0 for Windows 62

31 Gambar di atas menunjukkan histogram untuk variabel independen dan variabel dependen. Garis diagonal pada grafik relatif simetris (menyerupai bentuk lonceng), hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Untuk pengambilan keputusan yang lebih jelas dan akurat, maka akan dilakukan pengujian normalitas lainnya. 4.6 Uji Normalitas Data Pada peneilitian ini digunakan uji parametrik untuk menguji normalitas model regresi. Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan melalui analisis grafik Normal P-Plot Uji Kolmogorov-Smirnov Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan software SPSS maka hasil uji Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 Uji Kolmogorov-Smirnov 63

32 One-Sample Kolmogorov-S mirnov Test Perputaran persediaan (X1) Perputaran piutang (X2) Likuiditas (Y) Unstandardized Residual N Normal Parameters a,,b Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Asymp. Sig. (2-tailed) Dari hasil pengujian normalitas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi (Asym.sig 2 tailed) untuk variabel Perputaran Persediaan (X 1), Perputaran Piutang (X 2 ), Likuiditas (Y) dan residual lebih besar dari 0,05. Berdasarkan nilai ini menghasilkan kesimpulan bahwa data berdistribusi normal Analisis Grafik Normal P-Plot Untuk memastikan pembuktian mengenai normal atau tidaknya data dapat dilakukan dengan analisis grafik normal P-Plot. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan software SPSS maka hasil uji adalah sebagai berikut: Gambar 4.25 Grafik Normal P-Plot 64

33 Data-data menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal, maka hal ini menunjukkan bahwa model tersebut berdistribusi normal. 4.7 Uji Multikolinearitas Dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi, berdasarkan pengolahan data melalui software SPSS maka hasil uji multikolinearitas adalah sebagai berikut: Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas 65

34 Coefficients a Collinearity Statistics Model Tolerance VIF 1 Perputaran persediaan (X1) Perputaran piutang (X2) a. Dependent Variable: Likuiditas (Y) Dari hasil pengujian multikolinearitas dapat diketahui bahwa nilai VIF pada masing-masing variabel independen kurang dari 10 dan Tolerance lebih dari 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi masalah multikolinearitas. 4.8 Uji Heteroskedastisitas Regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas. Untuk membuktikan dan meyakinkan data terhindar dari heteroskedastisitas, maka akan dilakukan 2 jenis pengujian yang berbeda Analisis Grafik Scatterplot Dengan menggunakan pendekatan grafik scatterplot pada model regresi, berdasarkan pengolahan data melalui software SPSS maka hasil uji 66

35 heteroskedastisitas adalah sebagai berikut: Gambar 4.26 Grafik Scatterplot Dari hasil pengujian heteroskedastisitas dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas pada model regresi di penelitian ini Uji White Untuk lebih memastikan ada atau tidaknya heteroskedastisitas pada model regresi, maka akan dilakukan uji White. Berdasarkan pengolahan data 67

36 melalui software SPSS maka hasil uji heteroskedastisitas adalah sebagai berikut: Tabel 4.6 Hasil Uji White Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate a a. Predictors: (Constant), x22, x12, Perputaran piutang (X2), Perputaran persediaan (X1) Dari hasil perhitungan persamaan regresi White menghasilkan nilai R² (R Square) sebesar 0,074. Kemudian mencari nilai chi-kuadrat (C 2 ) : n x R² = 84 x 0,074 = 6,216. Lalu mencari nilai chi-kuadrat tabel dengan derajat kebebasan k-1 = 5-1 = 4 dan a = 95%, didapat nilai 9,488. Diperoleh nilai c² hitung < c² tabel ( 6,216 < 9,488), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah heteroskedastisitas pada model regresi. 4.9 Uji Autokorelasi Dengan menggunakan pendekatan uji Durbin Watson (D-W) pada model regresi, berdasarkan pengolahan data melalui software SPSS maka hasil uji autokorelasi adalah sebagai berikut: Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi 68

37 Model Summary b Adjusted R Std. Error of the Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson a a. Predictors: (Constant), Perputaran piutang (X2), Perputaran persediaan (X1) b. Dependent Variable: Likuiditas (Y) Dari hasil pengujian autokorelasi dapat diketahui bahwa nilai Durbin Watson sebesar Sedangkan dari tabel DW dengan signifikansi 0.05 dan jumlah data (n) = 84, serta jumlah variabel independen (k) = 2 diperoleh nilai dl sebesar dan du sebesar Karena nilai DW (2.368) berada pada daerah antara 4-du dan 4-dl, maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti (berada di daerah keragu-raguan). Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4.27 Hasil Uji Durbin-Watson Menolak Ho Daerah Menerima Ho Daerah Menolak Ho bukti keragu- tidak ada keragu- bukti autokorelasi raguan autokorelasi raguan autokorelasi negatif 69

38 0 dl du 2 4-du 4-dl (DW) 4.10 Analisis Regresi Linier Berganda Pada model regresi yang digunakan, variabel Perputaran Persediaan sebagai variabel independen X 1, variabel Perputaran Piutang sebagai variabel independen X 2, dan variabel Likuiditas sebagai variabel dependen Y. Dalam memperoleh bentuk hubungan linier dari Perputaran Persediaan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas digunakan analisis regresi linier berganda Uji Koefisien Regresi Secara Individual ( Uji t) Untuk mengetahui pengaruh perputaran persediaan dan perputaran piutang secara individual terhadap likuiditas, maka dilakukan pengujian hipotesis secara individual melalui uji t, dengan hasil pengolahan SPSS sebagai berikut. Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Koefisien Regresi 70

39 Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) Perputaran persediaan (X1) Perputaran piutang (X2) a. Dependent Variable: Likuiditas (Y) Jadi, model regresi berganda yang digunakan adalah: Y = X X 2 Berikut penjelasan mengenai hasil model regresi berganda tersebut sebagai berikut: Nilai konstanta a = Berarti jika semua variabel independen (Perputaran Persediaan dan Perputaran Piutang) tidak berubah atau dianggap konstan (bernilai 0), maka rata-rata Likuiditas akan bernilai sebesar Penentuan hasil pengujian dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Penentuan nilai t tabel dapat dilihat pada tabel statistik dengan (uji 2 sisi) α = 0,05 : 2 = 0.025, dengan nilai df (n-k-1) = = 81, jadi diperoleh t tabel = 1,990. Kriteria pengujian: Ho diterima bila -t hitung -t tabel atau t hitung t tabel, Ho ditolak bila -t hitung < - t tabel atau t hitung > t tabel. Dari hasil pengujian, berdasarkan nilai t dapat disimpulkan sebagai berikut: 71

40 - Perumusan hipotesa sebelumnya yakni Ho 1 : Perputaran persediaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap likuiditas, sedangkan hasil yang diperoleh melalui uji t : nilai -t hitung > -t tabel (1,439 > -1,990). Jadi diperoleh kesimpulan bahwa Ho 1 diterima, yaitu perputaran persediaan secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. - Perumusan hipotesa sebelumnya yakni Ho 2 : Perputaran piutang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap likuiditas, sedangkan hasil yang diperoleh melalui uji t : nilai t hitung < t tabel (-0,896 < 1,990). Jadi diperoleh kesimpulan bahwa Ho 2 diterima, yaitu perputaran piutang secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia Uji Koefisien Regresi Secara Bersama-sama ( Uji F) Untuk mengetahui pengaruh perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama terhadap likuiditas, maka dilakukan pengujian hipotesis secara bersama-sama yang dapat dilihat pada tabel ANOVA hasil pengolahan SPSS. Tabel 4.9 Hasil Uji F 72

41 ANOVA b Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression a Residual Total a. Predictors: (Constant), Perputaran piutang (X2), Perputaran persediaan (X1) b. Dependent Variable: Likuiditas (Y) Berdasarkan tabel di atas diperoleh F hitung sebesar Dengan menggunakan tingkat keyakinan 95%, α = 5%, df 1 (jumlah variabel 1) = 2, dan df 2 (n-k-1) = 81 hasil diperoleh untuk F tabel sebesar 3,109. Kriteria pengujian : Ho diterima bila F hitung < F tabel, Ho ditolak bila F hitung > F tabel. Perumusan hipotesa sebelumnya yakni Ho 3 : Perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap likuiditas, sedangkan hasil yang diperoleh melalui uji t : Hasil F hitung > F tabel (3,507 > 3,109). Jadi diperoleh kesimpulan bahwa Ho 3 ditolak, yaitu perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Analisis Korelasi Parsial Untuk mengetahui tingkat keeratan suatu hubungan linier antara variabel independen dengan variabel dependen dapat diukur dengan menggunakan metode 73

42 Pearson Correlation pada model regresi. Berdasarkan pengolahan data melalui software SPSS maka hasil analisis korelasi adalah sebagai berikut: Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Korelasi Parsial Correlations Perputaran persediaan (X1) Perputaran piutang (X2) Likuiditas (Y) Perputaran persediaan (X1) Pearson Correlation ** * Sig. (2-tailed) N Perputaran piutang (X2) Pearson Correlation.606 ** * Sig. (2-tailed) N Likuiditas (Y) Pearson Correlation * * 1 Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Dari hasil pengolahan data, nilai korelasi Perputaran Persediaan dengan Likuiditas yaitu Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Perputaran Persediaan dengan Likuiditas bersifat negatif, berarti arah hubungan berkebalikan. Nilai ini termasuk dalam kategori rendah. Jika semakin tinggi Perputaran Persediaan maka Likuiditas diperkirakan akan mengalami penurunan.. Besar pengaruh Perputaran Persediaan terhadap Likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ketika Perputaran Piutang tidak berubah adalah (-0.266) 2 x 74

43 100% = % dan sisanya sebesar 99,9292% dipengaruhi oleh faktor lain seperti total penjualan, nilai aktiva lancar lainnya, dan hutang lancar. Sedangkan nilai korelasi Perputaran Piutang dengan Likuiditas yaitu Nilai korelasi tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara Perputaran Piutang dengan Likuiditas bersifat negatif, berarti arah hubungan berkebalikan. Nilai ini termasuk dalam kategori rendah. Jika semakin tinggi Perputaran Piutang maka Likuiditas diperkirakan akan mengalami penurunan.. Besar pengaruh Perputaran Piutang terhadap Likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ketika Perputaran Persediaan tidak berubah adalah (-0.237) 2 x 100% = % dan sisanya % dipengaruhi oleh faktor lain seperti total beban, nilai aktiva lancar lainnya, dan hutang lancar Analisis Koefisien Determinasi (R 2 ) Hasil perhitungan korelasi Perputaran Persediaan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas melalui uji R 2 dapat dilihat pada output Regression. Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi 75

44 Model Summary b Adjusted R Std. Error of the Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson a a. Predictors: (Constant), Perputaran piutang (X2), Perputaran persediaan (X1) b. Dependent Variable: Likuiditas (Y) Nilai korelasi R yang diperoleh adalah 0.282, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang rendah antara perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama terhadap likuiditas. Dari hasil pengujian dapat diketahui nilai R Square (R 2 ) sebesar (8.0%). Jadi sumbangan pengaruh variabel Perputaran persediaan dan Perputaran Piutang sebesar 8.0% terhadap likuiditas, sedangkan sisanya sebanyak 92.0% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Nilai koefisien determinasi ini termasuk dalam kategori sangat rendah. Jadi kesimpulannya perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama mempunyai hubungan yang rendah terhadap likuiditas Pembahasan Hasil Penelitian Membahas secara lebih mendalam atas hasil pengujian hipotesis dari penelitian yang telah dilakukan Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Likuiditas Hasil dari pengujian membuktikan bahwa perputaran persediaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas. Dengan nilai 76

45 signifikansi t > 0.05, sehingga H o diterima. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Suseno (2009) yang menyatakan bahwa perputaran persediaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran persediaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas, maka perputaran persediaan tidak dapat dijadikan bahan pertimbangan pengaruh dalam likuiditas perusahaan industri rokok di yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan jenis industri perusahaan yang digunakan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Suseno (2009) menggunakan objek satu organisasi saja yang terdapat dalam industri kosmetik dan keperluan rumah tangga. Di dalam industri rokok persediaan bahan baku utamanya adalah tembakau, dimana pesediaan bahan baku tembakau ini memiliki jumlah yang paling besar di antara persediaan bahan lainnya. Periode atau lama waktu penyimpanan persediaan pada perusahaan rokok memiliki ciri yang berbeda dengan industri consumer goods lainnya, penyimpanan bahan baku tembakau ini dilakukan dalam waktu tertentu (lama) guna memperkuat cita rasa dari rokok yang akan dihasilkan akan memperkuat apabila tembakau disimpan dalam waktu yang lama. Hal ini tentunya mempengaruhi perputaran persediaan pada industri rokok, yang mana secara teori apabila perusahaan mempersingkat periode penyimpanan persediaan akan mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan. Faktor-faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya perbedaan pada hasil penelitian pengaruh perputaran persediaan terhadap likuiditas. 77

46 Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap Likuiditas Hasil dari pengujian membuktikan bahwa perputaran piutang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas. Dengan nilai signifikansi. t > 0.05, sehingga H o diterima. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ridwan (2009) yang menyatakan bahwa perputaran piutang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran piutang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas, maka perputaran piutang tidak dapat dijadikan bahan pertimbangan pengaruh dalam likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan jenis industri perusahaan yang digunakan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Ridwan (2009) menggunakan objek satu organisasi saja yang terdapat dalam industri farmasi. Secara teori, banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat likuiditas pada perusahaan. Tidak hanya diukur melalui perputaran piutang saja, aktiva lancar lainnya dan hutang lancar juga memiliki peranan yang menentukan dalam besarnya tingkat likuiditas perusahaan. Faktor-faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya perbedaan pada hasil penelitian pengaruh perputaran piutang terhadap likuiditas Pengaruh Perputaran Persediaan dan Perputaran Piutang Secara Bersama-sama Terhadap Likuiditas Hasil dari pengujian membuktikan bahwa perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama memiliki pengaruh yang 78

47 signifikan terhadap likuiditas. Dengan nilai signifikansi sebesar t = yang bernilai lebih kurang dari α = 0.05, sehingga H o ditolak. Hal ini berarti perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama dapat menjadi dasar pertimbangan pengaruh dalam likuiditas perusahaan industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia di Indonesia selama periode penelitian. Pengaruh yang signifikan antara perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama-sama terhadap likuiditas, mendukung penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2006) yang memberikan hasil penelitian bahwa adanya pengaruh yang signifikan atas perubahan modal kerja terhadap likuiditas perusahaan dan Cesaria (2010) yang memberikan hasil penelitian bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara perputaran modal kerja dengan likuiditas. 79

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif. Statistik deskriptif adalah ilmu statistik yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian data suatu penilaian. Tujuannya adalah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 34 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis data yang dilakukan dalam bab ini pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama merupakan analisis

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Berdasarkan data yang diinput dari Annual Report (2008-2012) maka dapat dihitung rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Data Pendapatan Bunga Tabel 4.1 PT Bank Mandiri (Persero), Tbk Perkembangan Pendapatan Bunga Tahun 2007 2011 (dalam jutaan) Tahun Pendapatan Bunga

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Data Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Tingkat Inflasi, Kurs Rupiah dan Harga Emas Dunia terhadap Harga Saham Sektor Pertambangan di Bursa

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Objek penelitian ini adalah perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Objek penelitian ini adalah perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2013. Peneliti mengambil sampel sesuai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 37 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laba Bersih dan Arus Kas Operasi sebagai variabel independen (X) dan Dividen Kas sebagai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendapatan margin pembiayaan murabahah dan pendapatan bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap NPM

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Textile dan Otomotif yang terdaftar di BEI periode tahun

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Textile dan Otomotif yang terdaftar di BEI periode tahun BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisa Penelitian ini menggunakan data skunder berupa laporan keuangan audit yang diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis akan menerangkan mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan atas data sekunder yaitu berupa komponen-komponen laporan keuangan yang diperoleh

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank Indonesia. Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti. Dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data. 1. Uji Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel yang terdapat dalam penelitian ini, baik variabel

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. keputusan investasi terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Consumer

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. keputusan investasi terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Consumer BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh struktur modal dan keputusan investasi terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Consumer Goods yang terdaftar

Lebih terperinci

HASIL UJI REGRESI PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY. Descriptive Statistics

HASIL UJI REGRESI PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY. Descriptive Statistics LAMPIRAN 3 HASIL UJI REGRESI PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY Deskripsi Data Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation TA 42 3.386499 8.013065

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil Penelitian 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti jumlah data, rata-rata, nilai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum,

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum, 44 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, maka pada Tabel 4.1 berikut ini akan ditampilkan karakteristik sample yang digunakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 39 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Berdasarkan nilai pada masing-masing variabel dapat diketahui nilai penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean dan standard deviasi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa perusahaan, dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian Statistik deskriptif digunakan untuk melihat gambaran secara umum data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini. Berikut hasil

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Statistik Deskriptif Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pendapatan premi, klaim, hasil investasi, dan laba. Statistik

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean, dan standard deviasi dari masingmasing

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. periode dan dipilih dengan cara purposive sampling artinya metode

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. periode dan dipilih dengan cara purposive sampling artinya metode BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa komponen-komponen laporan keuangan yang diperoleh dari

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI DATA. Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Rasio-Rasio Keuangan. PT. Indofood Tbk. Periode

BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI DATA. Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Rasio-Rasio Keuangan. PT. Indofood Tbk. Periode BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI DATA 1.1 Analisis Rasio Keuangan Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Rasio-Rasio Keuangan PT. Indofood Tbk Periode 2006-2010 Tahun Triwulan ROE % EPS DER% Return Saham 2006 TW I 0,011748025

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data data penelitian seperti jumlah data yang diolah, nilai minimum,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Variabel Penelitian Sebelum analisis data dilakukan untuk membuktikan suatu hipotesis, terlebih dahulu harus mengumpulkan data yang dibutuhkan. Ini untuk

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data yang berhasil dikumpulkan, hasil pengolahan data dan pembahasan dari hasil pengolahan tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 51 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik dekriptif menggambarkan tentang ringkasan datadata penelitian seperti nilai minimum, maksimum, rata rata dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. saham pada perusahaan food and beverages di BEI periode Pengambilan. Tabel 4.1. Kriteria Sampel Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. saham pada perusahaan food and beverages di BEI periode Pengambilan. Tabel 4.1. Kriteria Sampel Penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskriptif Obyek Penelitian Deskripsi obyek dalam penelitian ini menjelaskan mengenai hasil perolehan sampel dan data tentang likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel yang terdapat dalam penelitian ini, baik variabel dependen maupun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 61 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskripsi menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel yang terdapat dalam penelitian, baik variabel dependen maupun independen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Statistik Deskriptif. Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dengan jumlah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Statistik Deskriptif. Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dengan jumlah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Analisis Deskriptif Tabel 4.1 Hasil Statistik Deskriptif Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation DPR 117.00 2.12.2176.37171 CR 117.22 5.77

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 34 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif berkaitan dengan pengumpulan dan peringkat data yang menggambarkan karakteristik sampel yang digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Analisa Statistik Deskriptif Statistik deskriftif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti minimum, maksimum, mean, dan standar

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Dengan rasio aktivitas, kita dapat mengetahui tingkat persediaan,

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Dengan rasio aktivitas, kita dapat mengetahui tingkat persediaan, BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisa Deskriptif 1. Deskriptif Statistik Dengan rasio aktivitas, kita dapat mengetahui tingkat persediaan, penjualan serta perputaran aktiva tetap pada suatu perusahaan.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. atau populasi dan untuk mengetahui nilai rata-rata (mean), minimum, Tabel 4.1. Hasil Uji Statistik Deskriptif

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. atau populasi dan untuk mengetahui nilai rata-rata (mean), minimum, Tabel 4.1. Hasil Uji Statistik Deskriptif BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif merupakan statistik yang berfungsi untuk memberikan gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang telah diperoleh dan dapat dilihat dalam tabel 4.1 sebagai berikut : Tabel 4.1 Descriptive Statistics

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang telah diperoleh dan dapat dilihat dalam tabel 4.1 sebagai berikut : Tabel 4.1 Descriptive Statistics BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk melihat gambaran secara umum data yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini. Berikut hasil analisis deskriptif

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel yang terdapat dalam penelitian, baik variabel dependen maupun variabel independent

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Berdasarkan nilai pada masing-masing variabel dapat diketahui nilai penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean dan standard deviasi dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis deskriftif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data, analisis ini dilakukan dengan melihat nilai maksimum, minimum, mean, dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. penelitian ini rasio likuiditas yang digunakan adalah Current Ratio (CR)

BAB IV HASIL PENELITIAN. penelitian ini rasio likuiditas yang digunakan adalah Current Ratio (CR) BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data 1. Analisis Rasio Likuiditas BCA Syariah Rasio likuiditas ini mengukur kemampuan perusahaan atau bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Pada deskripsi variabel penelitian akan dijelaskan nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standard deviasi pada masing-masing variabel penelitian,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 46 A. Statistik Deskriptif BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean, dan standard deviasi dari masing-masing

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Analisis Statistik Deskriptif Tabel 4.1 Deskripsi Variabel Penelitian Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation CR 36.027 4.742

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 36 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Pemilihan Sampel Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan perusahaan perbankan yang listing pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011 2013

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menjelaskan informasi karakteristik variabel-variabel dan data penelitian. Data yang digunakan pada tabel statistik deskriptif

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Daftar sampel penelitian Perusahaan Sub-Sektor Otomotif dan Komponen Periode

LAMPIRAN. Daftar sampel penelitian Perusahaan Sub-Sektor Otomotif dan Komponen Periode 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar sampel penelitian Perusahaan Sub-Sektor Otomotif dan Komponen Periode 2009-2013. NO KODE PERUSAHAAN NAMA PERUSAHAAN 1 ASII PT. Astra International, Tbk 2 AUTO PT. Astra Auto

Lebih terperinci

BAB IV. Tabel 4.1. dan Pendapatan Bagi Hasil. Descriptive Statistics. Pembiayaan_Mudharabah E6 4.59E E E9

BAB IV. Tabel 4.1. dan Pendapatan Bagi Hasil. Descriptive Statistics. Pembiayaan_Mudharabah E6 4.59E E E9 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Uji Statistik Deskriptif Statistika deskriptif digunakan untuk melihat gambaran secara umum data yang sudah dikumpulkan dalam penelitian ini. Berikut

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Pada bagian ini akan disajikan statistik deskriptif dari semua variabel. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR, FDR,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian 1. Hasil penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh nilai dari masingmasing variabel yang akan diuji pada penelitian ini.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisa Statistik Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran nilai variabel - variabel yang menjadi sampel. Adapun hasil perhitungan statistik deskriptif

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. maksimum. Penelitian ini menggunakan current ratio (CR), debt to equity ratio

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. maksimum. Penelitian ini menggunakan current ratio (CR), debt to equity ratio BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu data pada variabel-variabel penelitian yang digunakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur disektor 5 (consumer goods industry) periode 2008-2010. Berikut ini peneliti

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini menggunakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini menggunakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Penelitian ini menggunakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terdaftar di bursa efek Indonesia selama tahun 2009 2013 yaitu sebanyak 65

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 51 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan disajikan hasil penelitian yang dilakukan terhadap data sekunder yaitu berupa komponen-komponen laporan keuangan yang diperoleh dari perusahaan

Lebih terperinci

DAFTAR LAMPIRAN. Data Variabel Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku. Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun

DAFTAR LAMPIRAN. Data Variabel Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku. Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Data Variabel Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten/Kota 58,25 66,09 74,57 24,14 27,38 30,66 23,78 26,43 28,68 29,58 36,27 36,27 119,35 136,05 150,45 35,59 40,61

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Pengujian ini bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, mean dan standar deviasi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian Deskripsi objek penelitian ini akan mengkaji perusahaan-perusahaan yang akan menjadi sampel penelitian ini. Objek dalam penelitian ini

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB IV HASIL PENELITIAN A. DESKRIPSI DATA Data hasil penelitian terdiri dari dua variabel bebas yaitu variabel gaya belajar siswa (X1) dan variabel minat belajar siswa (X2) serta satu variabel terikat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Dari hasil pengumpulan data sekunder mengenai Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Timur

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Tabel output statistik deskriptif merupakan gambaran secara umum semua variable dalam penelitian ini. Gambaran umum tersebut meliputi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean, standard deviasi dari masing-masing

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. variabel terikat adalah sebagai berikut : Hasil statistik deskriptif pada tabel 4.1 menunjukkan :

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. variabel terikat adalah sebagai berikut : Hasil statistik deskriptif pada tabel 4.1 menunjukkan : BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif Analisa deskripsi semua variabel, baik variabel bebas maupun variabel terikat adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Descriptive Statistics N Minimum

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi varian,

Lebih terperinci

Cahaya Fajrin R Pembimbing : Dr.Syntha Noviyana, SE., MMSI

Cahaya Fajrin R Pembimbing : Dr.Syntha Noviyana, SE., MMSI ANALISIS PENGARUH PERIODE PERPUTARAN HUTANG DAGANG DAN RASIO LANCAR, TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN (Studi pada perusahaan manufaktur sektor Tekstil dan Garmen yang terdaftar di BEI tahun 2010-2012)

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 41 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengumpulan Data Dalam bab ini, penulis akan menerangkan mengenai hasil penelitian yang akan dilakukan penulis terhadap data sekunder yaitu berupa komponen-komponen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data Penelitian 1. Statistik Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DATA. Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang

BAB 4 ANALISIS DATA. Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang BAB 4 ANALISIS DATA 4.1 Statistika Deskriptif Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang digunakan untuk mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan, penyajian data, dan penarikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif Pembuatan statistik deskriptif untuk sampel tersebut dibantu dengan menggunakan program komputer Statisical Package for Sosial Science atau

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 43 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif bertujuan untuk melihat bagaimana karakteristik sampel yang digunakan dalam penelitian, baik variabel dependen maupun

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perdagangan, Jasa Dan Investasi Di Daftar Efek Syariah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014 Juli 2015 di Universitas Mercu Buana. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan makanan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Sampel Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2011-2013. Teknik yang digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. statistik Kolmogorov- Smirnov (uji K-S). Dasar untuk pengambilan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. statistik Kolmogorov- Smirnov (uji K-S). Dasar untuk pengambilan BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Normalitas Pengujian normalitas distribusi data populasi dilakukan dengan menggunakan statistik Kolmogorov- Smirnov (uji K-S). Dasar untuk pengambilan keputusan yaitu

Lebih terperinci

mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan

mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan 47 mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan mendekati normal. Tabel 4.2 Deskripsi Statistik PT. Indofood Sukses Makmur Periode Pengamatan 2003-2008 Mean Std. Deviation N RETURN.007258.1045229

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai data variabel dalam penelitian ini maka digunakanlah tabel statistik deskriptif. Tabel

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik dekriptif menggambarkan tentang ringkasan datadata penelitian seperti nilai minimum, maksimum, rata rata dan standar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB IV HASIL PENELITIAN A. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependent, variabel independent atau keduannya mempunyai distribusi normal atau tidak.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Berdasarkan data olahan SPSS yang meliputi audit delay, ukuran

BAB IV PEMBAHASAN. Berdasarkan data olahan SPSS yang meliputi audit delay, ukuran BAB IV PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Uji Statistik Deskriptif Berdasarkan data olahan SPSS yang meliputi audit delay, ukuran perusahaan, tingkat profitabilitas, rasio solvabilitas dan opini auditor, maka

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Dalam analisis statistik obyek penelitian pada sub bab ini, peneliti akan menjabarkan hasil perhitungan nilai minimum, nilai maksimum, ratarata

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun dan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2014 dan mempublikasikan laporan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Penelitian ini menggunakan analisa regresi yang tujuannya adalah untuk meramalkan suatu nilai variabel dependen dengan adanya perubahan dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Uji Statistik Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau member gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN. Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat tingkat kevalidan atau

BAB IV PENGUJIAN. Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat tingkat kevalidan atau BAB IV PENGUJIAN 4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas 4.3. Uji Validitas Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Uji validitas digunakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Dengan menggunakan laporan penerimaan pajak yang dimiliki oleh Suku Dinas Pelayanan Pajak Kota Administrasi Jakarta Pusat, maka dapat diketahui

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Statistik Deskriptif Analisis dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel sehingga lebih mudah dipahami dan diinterprestasikan. Statistik

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel. Tabel 4.1. Statistik Deskriptif

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel. Tabel 4.1. Statistik Deskriptif BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik Deskriptif menjelaskan karakteristik dari masing-masing variabel yang terdapat dalam penelitian, baik variabel dependen maupun variabel

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penyajian dan Analisis Data 1. Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Dalam pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dibutuhkan beberapa kategori dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari data-data sekunder berupa laporan keuangan yang telah diperoleh, maka

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari data-data sekunder berupa laporan keuangan yang telah diperoleh, maka 48 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Dari data-data sekunder berupa laporan keuangan yang telah diperoleh, maka selanjutnya dalam bab analisis hasil dan pembahasan ini akan diterangkan mengenai hasil

Lebih terperinci

PENGARUH LABA BERSIH, ARUS KAS OPERASI, ARUS KAS INVESTASI DAN ARUS KAS PENDANAAN TERHADAP DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN FARMASI DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH LABA BERSIH, ARUS KAS OPERASI, ARUS KAS INVESTASI DAN ARUS KAS PENDANAAN TERHADAP DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN FARMASI DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH LABA BERSIH, ARUS KAS OPERASI, ARUS KAS INVESTASI DAN ARUS KAS PENDANAAN TERHADAP DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN FARMASI DI BURSA EFEK INDONESIA SYIFA SEPRIANI 27212271 AKUNTANSI PEMBIMBING : Dr.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Responden Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa responden yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa pada Universitas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah Pemerintah Provinsi di Indonesia dan periode pengamatan untuk sampel yang di ambil adalah tahun 2011-2014.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang terdaftar dalam LQ-45 di Bursa Efek Indonesia periode

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang terdaftar dalam LQ-45 di Bursa Efek Indonesia periode BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah perusahaan yang terdaftar dalam LQ-45 di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015. Teknik yang digunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bidang consumer and goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bidang consumer and goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang consumer and goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah perusahaan manufaktur

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Statistik Deskriptif Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Return to Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Total

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberi gambaran atau deskripsi suatu data pada variabel variabel penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. corporate social responsibility. Size (ukuran) perusahaan, likuiditas, dan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. corporate social responsibility. Size (ukuran) perusahaan, likuiditas, dan BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menjelaskan informasi karakteristik variabelvariabel dan data penelitian. Data yang digunakan pada tabel statistik deskriptif

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dari tiga variabel independen yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dari tiga variabel independen yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai data variabel dalam penelitian ini maka digunakanlah tabel statistik deskriptif. Tabel statistik

Lebih terperinci

51 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011-2015 dan mempublikasikan

Lebih terperinci