KATA PENGANTAR. Jakarta, Desember 2009 Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Dr. Rustam S. Pakaya, MPH NIP

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Jakarta, Desember 2009 Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Dr. Rustam S. Pakaya, MPH NIP"

Transkripsi

1

2 KATA PENGANTAR Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, buku Buku Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun 2008 ini dapat diselesaikan sebagaimana yang telah direncanakan. Buku ini menggambarkan secara umum tentang upayaupaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan serta sistem informasi dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di tingkat provinsi Penyusunan buku ini menggunakan data yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi sepanjang tahun Dengan tersusunnya buku Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun 2008 ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi peningkatan upaya-upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang terjadi dimasa mendatang. Guna meningkatkan mutu penyajian informasi buku sejenis dimasa mendatang, diharapkan kritik dan saran yang membangun serta partisipasi semua pihak, khususnya upaya mendapatkan data/informasi yang lebih akurat dan sesuai kebutuhan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran sehingga buku Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun 2008 ini berhasil disusun, kami mengucapkan terima kasih. Jakarta, Desember 2009 Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Dr. Rustam S. Pakaya, MPH NIP

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..... DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL.. DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... Hal i ii iv v vi xi I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 3 II. METODOLOGI... 4 A. Pengumpulan Data... 4 B. Pengolahan dan Analisa Data... 4 C. Penyajian Informasi... 4 III. GAMBARAN UPAYA PENCEGAHAN, MITIGASI DAN KESIAPSIAGAAN... 5 A. Pengorganisasian dan Perencanaan... 5 B. Penyusunan Peraturan dan Pedoman... 8 C. Koordinasi, Sosialisasi dan Advokasi D. Sumber Daya Manusia Jumlah dan Jenis Tenaga Pengembangan Tenaga E. Sarana Kesehatan Sarana Transportasi Sarana Komunikasi dan Informasi Sarana Penunjang Buffer Stock Obat, Alat dan Bahan Lain Buffer Stock Alat Pelindung Diri dan Identitas Petugas Lapangan F. Pembiayaan IV. GAMBARAN UPAYA TANGGAP DARURAT DAN PEMULIHAN.. 45 A. Mobilisasi Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pengelolaan Bantuan Kesehatan B. Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA) C. Evaluasi... 55

4 V. SISTEM INFORMASI A. Kegiatan Pendataan dan Monitoring Pendataan Monitoring B. Penyampaian Informasi C. Kepemilikan Kontak Person VI. KESIMPULAN LAMPIRAN-LAMPIRAN... 82

5 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Hal Gambaran Kepemilikan Pos Informasi 24 Jam Menurut Provinsi

6 DAFTAR TABEL Tabel 1. Hal Gambaran Rencana Kontinjensi yang Pernah Disusun Dinas Kesehatan Provinsi... 8

7 Grafik 1. Grafik 2. Grafik 3. Grafik 4. Grafik 5. Grafik 6. Grafik 7. Grafik 8. Grafik 9. Grafik 10. Grafik 11. DAFTAR GRAFIK Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Program Kerja Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Partisipasi Dalam Penyusunan Rencana Kontinjensi.... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pengembangan Peraturan/Kebijakan Daerah Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Protap/Juklak/Juknis Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Pedoman Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Lintas Program Untuk Peningkatan Kesiapsiagaan di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi..... Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Lintas Sektor Untuk Peningkatan Kesiapsiagaan Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi..... Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Pada Masa Tanggap Darurat Bencana Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Sosialisasi Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Advokasi Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Proporsi Tenaga Kesehatan Provinsi yang Bekerja pada Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Tingkat Pendidikan Formal... Hal

8 Grafik 12. Grafik 13. Grafik 14. Grafik 15. Grafik 16. Grafik 17. Grafik 18. Grafik 19. Grafik 20. Grafik 21. Gambaran Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi yang Pernah Mengikuti Pelatihan dan Masih Bekerja Menurut Jenis Pelatihan Pada Tahun Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Pelaksanaan Pelatihan Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Gladi yang Pernah Diselenggarakan/Diikuti Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana... Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Sarana Transportasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Sarana Transportasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Sarana Informasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Sarana Penunjang yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Obat, MP-ASI, dan Alat Kesehatan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Bahan dan Alat Sanitasi yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana.. Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Alat Pelindung Diri yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana

9 Grafik 22. Grafik 23. Grafik 24. Grafik 25. Grafik 26. Grafik 27. Grafik 28. Grafik 29. Grafik 30. Grafik 31. Grafik 32. Grafik 33. Grafik 34. Grafik 35. Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Identitas Petugas Lapangan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Sumber Pembiayaan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Tindakan Pertama yang Dilakukan Ketika Informasi Bencana Diketahui.... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan TRC Penanggulangan Bencana Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Mekanisme Mobilisasi TRC Penanggulangan Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Waktu Mobilisasi TRC Penanggulangan Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Tim Bantuan Kesehatan Penanggulangan Bencana... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Mekanisme Mobilisasi Tim Bantuan Kesehatan Penanggulangan Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Pencatatan Pengelolaan Bantuan Kesehatan. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Tim RHA Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksana RHA Pada Saat Kejadian Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan RHA Pada Saat Kejadian Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Evaluasi Tanggap Darurat Pada Saat Kejadian Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Peta Rawan Bencana

10 Grafik 36. Grafik 37. Grafik 38. Grafik 39. Grafik 40. Grafik 41. Grafik 42. Grafik 43. Grafik 44. Grafik 45. Grafik 46. Grafik 47. Grafik 48. Grafik 49. Grafik 50. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Pencatatan Kejadian Bencana.... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Pendataan Kesiapsiagaan Bencana.... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pendataan Kesiapsiagaan Bencana.... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana.. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyampaian Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana ke Pusat.. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Mekanisme Penyampaian Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana ke Pusat... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Analisis Risiko Bencana..... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Penggunaan Alur Mekanisme Informasi sesuai Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/ Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyampaian Informasi Kesiapsiagaan ke Pusat... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyampaian Informasi Kejadian Bencana ke Pusat... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Mekanisme Penyampaian Informasi Kejadian Bencana ke Pusat. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pelaporan sesuai Pedoman..... Proporsi Penggunaan Sarana Komunikasi Oleh Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Jenis Sarana Komunikasi... Gambaran Proporsi Provinsi Menurut Pengelolaan Pos Informasi 24 Jam..... Gambaran Proporsi Provinsi yang Berdasarkan Pelaksanaan Penyebarluasan Informasi

11 Grafik 51. Grafik 52. Grafik 53. Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Kontak Person Lintas Sektor... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Kontak Person Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota... Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Kontak Person Lintas Sektor di lingkup Kabupaten/Kota

12 Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 DAFTAR LAMPIRAN Gambaran Unit Kerja di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi yang Memiliki Tugas Pokok dan Fungsinya Menjadi Koordinator/Penanggungjawab Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Program Kerja terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Kegiatan dari Program Kerja Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Partisipasi Dalam Penyusunan Rencana Kontinjensi... Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Peraturan-Peraturan/Kebijakan Daerah yang Terkait dengan Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Protap/Juklak/Juknis yang Terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Pedoman yang Terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Pelaksanaan Pertemuan Koordinasi Lintas Program Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Unit Kerja yang Terlibat Dalam Pertemuan Koordinasi Lintas Program Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelaksanaan Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Provinsi Tahun Hal

13 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Lampiran 22 Gambaran Unit Kerja yang Terlibat Dalam Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pertemuan Koordinasi pada Saat Tanggap Darurat Menurut Provinsi Tahun Gambaran Unit Kerja yang Terlibat dalam Pertemuan Koordinasi pada Saat Tanggap Darurat Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelaksanaan Sosialisasi Program/Kegiatan Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelaksanaan Advokasi Program/Kegiatan Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Jenis Tenaga yang Bekerja pada Unit Kerja Pengelola Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga yang Masih Dibutuhkan oleh Unit Kerja Pengelola Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan ACLS Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan ATLS Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan BTLS Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan BLS Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan PPGD Menurut Provinsi Tahun

14 Lampiran 23 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 Lampiran 28 Lampiran 29 Lampiran 30 Lampiran 31 Lampiran 32 Lampiran 33 Lampiran 34 Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Emergency Nursing Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Evakuasi Korban di Perairan (Perahu Karet) Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Operasional Sarana Penunjang Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan RS Lapangan Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Manajemen Bencana Bidang Kesehatan Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Manajemen Obat dan Logistik Kesehatan Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan RHA Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Rencana Kontijensi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Pengelolaan Data dan Informasi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tenaga Di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Yang Pernah Pelatihan Radio Komunikasi Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelatihan Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana yang Pernah Diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi... Gambaran Gladi Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana yang Pernah Diselenggarakan/Diikuti Dinas Kesehatan Provinsi

15 Lampiran 35 Lampiran 36 Lampiran 37 Lampiran 38 Lampiran 39 Lampiran 40 Lampiran 41 Lampiran 42 Lampiran 43 Lampiran 44 Lampiran 45 Lampiran 46 Gambaran Sarana Transportasi R4 yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Sarana Transportasi R3, R2, Perahu Karet dan Kapal Laut yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Sarana Komunikasi yang Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Sarana Informasi yang Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Sarana Penunjang yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Buffer Stock Obat, MP-ASI dan Alat Kesehatan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Buffer Stock Bahan dan Alat Sanitasi untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Buffer Stock Alat Pelindung Diri untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Buffer Stock Identitas Petugas Lapangan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pembiayaan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kegiatan Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana yang Mendapatkan Anggaran Pembiayaan Menurut Provinsi Tahun Gambaran Tindakan yang Pertama Kali Dilakukan oleh Pengelola Program Bila Ada Informasi Kejadian Bencana Menurut Provinsi

16 Lampiran 47 Lampiran 48 Lampiran 49 Lampiran 50 Lampiran 51 Lampiran 52 Lampiran 53 Lampiran 54 Lampiran 55 Lampiran 56 Lampiran 57 Lampiran 58 Lampiran 59 Lampiran 60 Lampiran 61 Lampiran 62 Gambaran Kepemilikan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Menurut Provinsi Tahun Jenis dan Jumlah Tenaga Anggota TRC Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kewenangan Menggerakkan TRC Menurut Provinsi Tahun Gambaran Mobilisasi TRC dalam Keadaan Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Waktu untuk Mobilisasi TRC dalam Keadaan Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Tim Bantuan Kesehatan selain TRC Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kewenangan Menggerakkan Tim Bantuan Kesehatan Menurut Provinsi Tahun Gambaran Mekanisme Mobilisasi Bantuan Kesehatan dalam Keadaan Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pencatatan Pengelolaan Bantuan pada Saat Kejadian Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Tim RHA yang terpisah dari TRC Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kewenangan Menggerakkan Tim RHA Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelaksanaan RHA dalam Keadaan Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Petugas RHA dalam Keadaan Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pelaksanaan Evaluasi Tanggap Darurat pada Setiap Kejadian Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Peta Rawan Bencana Tahun Gambaran Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Pencatatan Kejadian Bencana di Wilayah Kerja Tahun

17 Lampiran 63 Lampiran 64 Lampiran 65 Lampiran 66 Lampiran 67 Lampiran 68 Lampiran 69 Lampiran 70 Lampiran 71 Lampiran 72 Lampiran 73 Lampiran 74 Lampiran 75 Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Pendataan Kesiapsiagaan Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pendataan Kesiapsiagaan Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Pelaksanaan Monitoring Perkembangan Setiap Kejadian Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyampaian Informasi Monitoring Perkembangan Setiap Kejadian Bencana ke Pusat Tahun Gambaran Mekanisme Pelaksanaan Penyampaian Informasi Monitoring Perkembangan Setiap Kejadian Bencana ke Pusat Menurut Provinsi Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Analisis Risiko Bencana Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Penggunaan Alur Mekanisme Informasi Sesuai Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/ Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyampaian Informasi Hasil Pendataan Kesiapsiagaan Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyampaian Informasi Setiap Kejadian Bencana ke Pusat Tahun Gambaran Mekanisme Menginformasikan Kejadian Bencana ke Pusat Menurut Provinsi Tahun Gambaran Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pelaporan Kejadian Bencana Sesuai Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/ Gambaran Media yang Biasa Digunakan untuk Penyampaian Informasi dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Pengelolaan Pos Informasi 24 Jam Menurut Provinsi Tahun

18 Lampiran 76 Lampiran 77 Lampiran 78 Lampiran 79 Gambaran Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyebarluasan Informasi Tahun Gambaran Kepemilikan Kontak Person Lintas Sektor Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Kontak Person Dinkes Kabupaten/Kota Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun Gambaran Kepemilikan Kontak Person Lintas Sektor Kabupaten/Kota Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Provinsi Tahun

19 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bencana merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bahkan sangat akrab dengan telinga masyarakat kita. Bencana adalah suatu kejadian yang mengganggu pola kegiatan hidup sehari-hari. Gangguan tersebut umumnya datang secara mendadak, tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan akibatnya sangat mengerikan. Kata bencana juga memberikan pengertian adanya korban jiwa, kematian atau cidera serta gangguan terhadap kesehatan manusia. Selain manusia yang menjadi korban, juga kemungkinan terjadinya kehilangan harta benda, kerusakan bangunan serta fasilitas layanan masyarakat seperti putusnya aliran listrik dan rusaknya jaringan komunikasi. Kata bencana juga sangat berkaitan erat dengan perlunya penyediaan penampungan, makanan, pakaian, obat-obatan bagi masyarakat yang terlanda bencana. Melihat hal-hal yang erat kaitannya dengan kata bencana, maka bencana menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana dapat diartikan suatu kejadian, secara alami maupun karena ulah manusia, terjadi secara mendadak ataupun berangsur-angsur, menimbulkan akibat yang merugikan sehingga masyarakat dipaksa untuk melakukan tindakan penanggulangan. Secara garis besar bencana dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu bencana alam, non alam dan sosial. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angina topan dan tanah longsor. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Sedangkan bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror.

20 Dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia sering dilanda bencana, baik bencana alam, non alam maupun bencana sosial. Secara geografis Indonesia memang berada pada daerah yang rawan bencana, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, angin topan, kekeringan dan epidemi. Di samping itu beberapa bencana yang lain dapat terjadi karena akibat kelalaian atau kesalahan dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan, contohnya kebakaran hutan, atau pencemaran lingkungan dan kegagalan teknologi. Dampak dari timbulnya bencana ini mengakibatkan adanya korban jiwa, kerusakan fisik (prasarana), hilangnya harta benda, hilangnya mata pencaharian, hilangnya tempat tinggal, pengungsian dan gangguan kejiwaan. Berdasarkan hasil pemantauan dari Pusat Penanggulangan Krisis pada tahun 2006 tercatat kejadian bencana sebanyak V62 kali kejadian yang kemudian meningkat menjadi 205 kali kejadian pada tahun Total jumlah korban (meninggal, hilang, luka berat dan ringan) pada tahun 2006 sebanyak orang dan meningkat menjadi orang pada tahun Upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana merupakan kegiatan yang mempunyai fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian yang berada dalam lingkup Siklus Penanggulangan Bencana (Disaster Management Cycle). Siklus tersebut dimulai sejak sebelum terjadinya bencana (pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan), pada saat terjadinya bencana (tanggap darurat) dan pada saat setelah terjadinya bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi). Guna mendukung upaya-upaya sebelum terjadi bencana diperlukan data dan informasi yang lengkap, akurat dan terkini sebagai bahan masukan pengelola program di dalam mengambil keputusan terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Salah satu bentuk informasi yang cukup penting adalah adanya profil yang menggambarkan kesiapsiagaan daerah, khususnya di tingkat provinsi. Untuk itulah maka pada tahun 2009 ini Pusat Penanggulangan Krisis melakukan pengumpulan data untuk penyusunan profil dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana seluruh provinsi di Indonesia.

21 B. TUJUAN Tujuan umum dari penyusunan profil penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah untuk memberikan gambaran informasi seluruh provinsi di Indonesia yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan dalam upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Tujuan khusus dari penyusunan profil penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah tersedianya informasi tentang : Gambaran perencanaan dan pengorganisasian dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Gambaran koordinasi, sosialisasi dan advokasi yang dilakukan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Gambaran sumber daya dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Gambaran sistem informasi dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Gambaran upaya tanggap darurat dan pemulihan yang dilakukan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.

22 BAB II METODOLOGI Gambaran profil penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di Indonesia selama tahun 2008 ini disusun melalui tahapan-tahapan yang biasa digunakan dalam pengelolaan data dan informasi, yaitu mulai dari pengumpulan data, pengolahan dan analisa data serta penyajian informasi. Gambaran deskriptif ini meliputi: perencanaan, pengorganisasian, kegiatan koordinasi, sosialisasi dan advokasi, sumber daya, sistem informasi, upaya tanggap darurat dan pemulihan. A. Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data dilakukan oleh pejabat dan staf yang bekerja di Pusat Penanggulangan Krisis. Data dikumpulkan dengan alat bantu kuesioner dan dikumpulkan langsung ke pengelola program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Dinas Kesehatan Provinsi dengan tehnik wawancara. Waktu pengumpulan data dilakukan sejak bulan April sampai dengan Juni B. Pengolahan dan Analisa Data Data yang terkumpul dari kuesioner kemudian diolah kedalam bentuk tabulasitabulasi menurut provinsi. Selanjutnya dilakukan analisis untuk memberikan gambaran profil berdasarkan hal-hal yang tercantum dalam tujuan khusus. C. Penyajian Informasi Informasi yang dihasilkan disajikan baik dalam bentuk narasi, tabel dan grafik sehingga dapat memberikan gambaran profil penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di Indonesia pada tahun 2008 secara jelas.

23 BAB III GAMBARAN UPAYA PENCEGAHAN, MITIGASI DAN KESIAPSIAGAAN A. Pengorganisasian dan Perencanaan Dalam rangka penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, salah satu hal penting adalah terdapat atau tidaknya unit kerja pengelola program di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi. Dengan adanya unit kerja yang bertanggungjawab tentunya pengelolaan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana akan menjadi lebih baik. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa semua Dinas Kesehatan Provinsi telah memiliki unit kerja pengelola program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Secara struktural tampak bahwa unit kerja yang bertanggungjawab dalam pengelolaan program untuk masing-masing provinsi sangat bervariasi, antara satu provinsi dengan provinsi lainnya berbeda. Namun demikian ada 2 provinsi yang pengelolaannya ditangani oleh sebuah unit kerja fungsional yaitu provinsi Kalimantan Selatan dan Papua. Untuk provinsi Kalimantan Selatan dikelola oleh Unit Kewaspadaan Penanggulangan Krisis Kesehatan (KPKK). Sedangkan di provinsi Papua dikelola oleh Unit Health Crisis Center (HCC). Untuk jelasnya gambaran unit kerja dimasing-masing provinsi dapat di lihat pada lampiran 1. Meskipun seluruh Dinas Kesehatan Provinsi telah memiliki unit kerja pengelola program penanggulangan krisis kesehatan, namun demikian belum seluruhnya memiliki program kerja. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa sepanjang tahun 2008 masih ada 9 provinsi (27,3%) yang belum memiliki program terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Untuk jelasnya dapat dilihat pada grafik 1 berikut.

24 Grafik 1 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Program Kerja Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 9 (27,3%) 24 (72,7%) Memiliki Belum Memiliki Adapun provinsi yang belum memiliki program kerja terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah Provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran provinsi yang telah memiliki program kerja terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 2. Dari 24 provinsi yang telah memiliki program kerja terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana tampak bahwa program kerja yang dimiliki cukup bervariasi antar provinsi, namun secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain : peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan maupun gladi, pertemuan-pertemuan koordinasi, operasional penanggulangan pada saat bencana, pengelolaan data dan informasi dan penyusunan pedomanpedoman. Dari hasil pengumpulan data tampak ada 16 provinsi yang tidak memiliki program kerja terkait dengan peningkatan sumber daya manusia termasuk gladi yaitu provinsi Sumatera Utara, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua. Selain itu ada 5 provinsi yang tidak memiliki program kerja berupa pertemuaan-pertemuan koordinasi yaitu provinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

25 Sementara itu hanya ada 9 provinsi yang memiliki program kerja terkait dengan pengelolaan data dan informasi yaitu provinsi Sumatera Selatan, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Papua. Untuk jelasnyanya mengenai gambaran program kerja masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 3. Sebagai wujud langkah antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi suatu ancaman bencana, dinas kesehatan provinsi sudah barang tentu juga harus memiliki persiapan-persiapan dalam bentuk perencanaan. Salah satu bentuk perencanaan yang sangat penting adalah rencana kontinjensi yang didasarkan atas ancaman bencana tertentu yang merupakan paling mungkin terjadi di wilayah kerjanya. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan sampai dengan tahun 2008 masih sedikit dinas kesehatan provinsi yang pernah berpartisipasi di dalam penyusunan rencana kontinjensi di wilayahnya. Dari 33 provinsi ternyata hanya 10 provinsi saja (30,3%) yang pernah berpartisipasi di dalam penyusunan rencana kontinjensi di wilayahnya, untuk jelasnya dapat dilihat pada grafik 2 berikut. Grafik 2 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Partisipasi Dalam Penyusunan Rencana Kontinjensi 10 (30,3%) 23 (69,7%) Pernah Belum Pernah Adapun 10 provinsi yang pernah partisipasi dalam penyusunan rencana kontinjensi di wilayah kerjanya yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua. Sedangkan gambaran provinsi yang belum

26 pernah partisipasi dalam penyusunan rencana kontinjensi di wilayah kerjanya dapat dilihat pada lampiran 4. Dari hasil pengumpulan data juga tampak bahwa rencana kontinjensi yang disusun oleh masing-masing provinsi sebagian besar adalah untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir. Untuk jelasnya gambaran rencana kontinjensi yang pernah disusun masing-masing provinsi dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1 Gambaran Rencana Kontinjensi yang Pernah Disusun Dinas Kesehatan Provinsi No. Provinsi Rencana Kontinjensi yang Pernah Disusun 1 Sumatera Barat Gempa Bumi dan Tsunami 2 Sumatera Selatan Banjir, Kebakaran Hutan dan Tanah Longsor 3 DKI Jakarta Banjir 4 Kalimantan Selatan Banjir 5 Sulawesi Utara Tsunami 6 Gorontalo Banjir 7 Sulawesi Tenggara Banjir 8 Sulawesi Selatan Tanah Longsor dan Banjir 9 Maluku Gempa Bumi dan Tsunami 10 Papua Gempa Bumi dan Banjir B. Penyusunan Peraturan dan Pedoman Dalam rangka peningkatan upaya kesiapsiagaan, selain ketersediaan sarana, tenaga dan pembiayaan kiranya perlu ditunjang dengan aturan-aturan ataupun kebijakan spesifik daerah. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi ternyata ada 36,4% (12 provinsi) yang belum memiliki peraturan/kebijakan daerah yang terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang dikembangkan oleh dinas kesehatan provinsi setempat. Untuk jelasnya tentang proporsi dinas kesehatan provinsi yang belum pernah mengembangkan peraturan/kebijakan daerah terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 3 berikut.

27 Grafik 3 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pengembangan Peraturan/Kebijakan Daerah Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 12 (36,4%) 21 (63,6%) Pernah Belum Pernah 12 provinsi yang belum pernah mengembangkan peraturan/kebijakan daerah yang terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Sedangkan gambaran provinsi yang pernah mengembangkan peraturan/kebijakan daerah yang terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di wilayah kerjanya dapat dilihat pada lampiran 5. Selain peraturan/kebijakan daerah, keberadaan protap/juklak/juknis terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana sangat diperlukan guna mengoptimalkan upaya penanggulangan krisis akibat bencana. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi, baru 48,5% atau 16 provinsi saja yang pernah menyusun protap/juklak/juknis yang terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Untuk jelasnya tentang proporsi dinas kesehatan provinsi yang pernah menyusun protap/juklak/juknis terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 4 berikut.

28 Grafik 4 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Protap/Juklak/Juknis Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 16 (48,5%) 17 (51,5%) Pernah Belum Pernah Ada 16 (48,5%) provinsi yang pernah menyusun Protap/Juklak/Juknis yang terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana yaitu provinsi Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua. Sedangkan gambaran provinsi yang belum pernah menyusun Protap/Juklak/Juknis yang terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana di wilayah kerjanya dapat dilihat pada lampiran 6. Adanya pedoman-pedoman terkait dengan penanggulangan krisis akibat bencana yang pernah disusun dinas kesehatan provinsi tentunya juga sangat berguna untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang terjadi di wilayah kerjanya. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi hanya 24,2% atau 8 provinsi saja yang pernah menyusun pedomanpedoman terkait dengan penanggulangan krisis akibat bencana. Untuk jelasnya proporsi dinas kesehatan provinsi yang pernah menyusun pedoman terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 5 berikut.

29 Grafik 5 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyusunan Pedoman Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 8 (24,2%) 25 (75,8%) Pernah Belum Pernah 8 provinsi yang pernah menyusun Pedoman terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana adalah provinsi Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua. Sedangkan gambaran provinsi yang belum pernah menyusun Pedoman yang terkait dengan Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana di wilayah kerjanya dapat dilihat pada lampiran 7. C. Koordinasi, Sosialisasi dan Advokasi Kita sadari bahwa upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana tidak cukup hanya mengandalkan upaya dari pengelola program yang ada di dinas kesehatan provinsi saja. Dalam rangka untuk meningkatkan upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana kiranya perlu adanya upaya koordinasi melalui pertemuan baik secara lintas program maupun lintas sektor, sosialisasi dan advokasi program kepada jajaran kesehatan maupun instansi terkait baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa belum semua provinsi pernah melakukan koordinasi terkait dengan upaya peningkatan kesiapsiagaan. Untuk koordinasi lintas program dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan tampak ada 2

30 provinsi (6,1% dari total provinsi) yang belum pernah melaksanakan pertemuan koordinasi tersebut di lingkungan kerjanya yaitu provinsi Bengkulu dan Kalimantan Tengah, jelasnya dapat di lihat pada grafik 6 berikut. Grafik 6 Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Lintas Program Untuk Peningkatan Kesiapsiagaan di Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi 2 (6,1%) 11 (33,3%) 20 (60,6%) Rutin Insidentil Belum Pernah Dari grafik 6 di atas tampak pula bahwa hanya 33,3% dari total provinsi atau 11 provinsi saja yang telah secara rutin melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program terkait dengan program peningkatan kesiapsiagaan tersebut yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sedangkan 60,6% dari total provinsi atau 20 provinsi lainnya pernah melakukan pertemuan koordinasi lintas program untuk peningkatan kesiapsiagaan masih secara insidentil. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi yang melakukan pertemuan koordinasi lintas program untuk peningkatan kesiapsiagaan secara insidentil tersebut dapat dilihat pada lampiran 8. Gambaran program yang terlibat dalam koordinasi peningkatan upaya kesiapsiagaan untuk masing-masing provinsi berbeda-beda. Dari 31 provinsi yang melakukan pertemuan koordinasi lintas program tersebut ternyata hanya 9 provinsi yang melibatkan pengelola program gizi yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat,

31 Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Untuk jelasnya gambaran program-program yang terlibat dalam koordinasi di masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 9. Untuk gambaran koordinasi lintas sektor terkait dengan peningkatan kesiapsiagaan, dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 1 provinsi yang belum pernah melakukannya yaitu provinsi Sulawesi Barat. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 7 berikut ini. Grafik 7 Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Lintas Sektor Untuk Peningkatan Kesiapsiagaan Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi 1 (3%) 9 (27,3%) 23 (69,7%) Rutin Insidentil Belum Pernah Dari grafik di atas tampak hanya 27,3% provinsi atau 9 provinsi saja yang dinas kesehatan provinsinya melaksanakan secara rutin pertemuan koordinasi lintas sektor terkait dengan program peningkatan kesiapsiagaan bencana. Dinas Kesehatan Provinsi tersebut adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Maluku dan Papua. Sedangkan 69,7% dari total provinsi atau 23 provinsi lainnya pernah melakukan pertemuan koordinasi lintas sektor untuk peningkatan kesiapsiagaan masih secara insidentil. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi yang melakukan pertemuan koordinasi lintas sektor untuk peningkatan kesiapsiagaan secara insidentil tersebut dapat dilihat pada lampiran 10.

32 Gambaran sektor yang terlibat dalam koordinasi peningkatan kesiapsiagaan bencana untuk masing-masing provinsi berbeda-beda. Dari 32 provinsi yang melakukan pertemuan koordinasi lintas sektor tersebut ternyata ada 10 provinsi yang tidak melibatkan POLRI yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku. Untuk jelasnya gambaran sektor-sektor yang terlibat dalam koordinasi di masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 11. Selain kegiatan koordinasi dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelaksanaan koordinasi pada saat masa tanggap darurat bencana juga merupakan hal yang penting guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi penanggulangan krisis kesehatan pada saat bencana terjadi. Dari hasil pengumpulan data terlihat bahwa ada 15,1% provinsi dari total provinsi yang ada atau ada 5 provinsi yang belum pernah melakukan koordinasi pada masa tanggap darurat bencana yaitu provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung dan Kalimantan Tengah. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 8 berikut ini. Grafik 8 Gambaran Pelaksanaan Koordinasi Pada Masa Tanggap Darurat Bencana Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi 5 (15,1%) 6 (18,2%) 22 (66,7%) Rutin Insidentil Belum Pernah Dari grafik di atas tampak ada 66,7% provinsi atau 22 provinsi yang dinas kesehatan provinsinya melaksanakan secara rutin pertemuan koordinasi pada

33 masa tanggap darurat bencana adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua. Sedangkan 18,2% dari total provinsi atau 6 provinsi lainnya pernah melakukan koordinasi pada masa tanggap darurat bencana masih secara insidentil. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi yang melakukan koordinasi pada masa tanggap darurat bencana secara insidentil tersebut dapat dilihat pada lampiran 12. Gambaran program dan sektor yang terlibat dalam koordinasi pada masa tanggap darurat bencana untuk masing-masing provinsi berbeda-beda. Dari 28 provinsi yang melakukan koordinasi tersebut ternyata ada 5 provinsi yang tidak melibatkan sektor terkait yaitu provinsi DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Untuk jelasnya gambaran lintas program dan sektor yang terlibat dalam koordinasi pada masa tanggap darurat bencana di masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 13. Gambaran pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi dari hasil pengumpulan data menunjukkan ternyata ada 36,4% dari total provinsi atau 12 provinsi yang belum pernah melakukan kegiatan sosialisasi program terkait dengan kegiatan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat di lihat pada grafik 9 berikut.

34 Grafik 9 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Sosialisasi Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 12 (36,4%) 21 (63,6%) Pernah Belum Pernah 12 provinsi yang belum pernah melakukan kegiatan sosialisasi program terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Papua Barat. Secara umum program yang disosialisasikan terkait dengan manajemen penanggulangan bencana, kebijakan penanggulangan dan sistem informasi penanggulangan bencana. Untuk jelasnya gambaran pelaksanaan sosialisasi program terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana menurut provinsi dapat dilihat pada lampiran 14. Gambaran pelaksanaan kegiatan advokasi yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi dari hasil pengumpulan data menunjukkan ternyata hanya 21,2% dari total provinsi atau 7 provinsi yang pernah melakukan kegiatan advokasi program terkait dengan kegiatan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat di lihat pada grafik 10 berikut.

35 Grafik 10 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Advokasi Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 7 (21,2%) 26 (78,8%) Pernah Belum Pernah 7 provinsi yang pernah melakukan kegiatan advokasi program terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua. Untuk jelasnya gambaran pelaksanaan advokasi program terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana menurut provinsi dapat dilihat pada lampiran 15. D. Sumber Daya Manusia 1. Jumlah dan Jenis Tenaga Sumber daya manusia pada pegelolaan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana mempunyai arti yang cukup penting. Gambaran tingkat pendidikan formal tenaga yang biasa bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana pada dinas kesehatan provinsi cukup bervariasi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang pendidikan S2. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana sebagian besar (36,6%) adalah berpendidikan S1/D4. Untuk jelasnya proporsi tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan

36 krisis kesehatan akibat bencana berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada grafik 11 berikut. Grafik 11 Proporsi Tenaga Kesehatan Provinsi yang Bekerja pada Program Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Menurut Tingkat Pendidikan Formal 75 (15,4%) 2 (0,4%) 22 (4,5%) 120 (24,6)% 178 (36,6%) 90 (18,5)% SD SLTP SLTA D3 D4/S1 S2 Dari grafik di atas tampak bahwa ada 15,4% tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di dinas kesehatan provinsi dengan tingkat pendidikan S2. Akan tetapi masih ada 4,9% tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dengan tingkat pendidikan SD hingga SLTP. Dari hasil pengumpulan data tampak masih ada 6 provinsi yang memiliki tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dengan tingkat pendidikan formal SD dan SLTP yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan. Dengan jumlah terbanyak berada di provinsi Nusa Tenggara Barat (14 orang berpendidikan SLTP). Selain itu ada 7 provinsi yang tidak memiliki tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dengan latarbelakang pendidikan formal S2 yaitu provinsi Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah,

37 Sulawesi Barat, Maluku dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tingkat pendidikan formal tenaga kesehatan yang bekerja pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di dinas kesehatan provinsi dapat dilihat pada lampiran 16. Dari hasil pengumpulan data tampak pula ada 10 provinsi yang merasa tidak membutuhkan tambahan tenaga kesehatan untuk dipekerjakan pada pengelolaan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di dinas kesehatan provinsi, yaitu provinsi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Untuk jelasnya gambaran kebutuhan tenaga untuk dipekerjakan pada program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran Pengembangan Tenaga Dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan yang bekerja dalam pengelolaan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di lingkungan dinas kesehatan provinsi perlu adanya pelatihan-pelatihan teknis maupun manajemen. Departemen Kesehatan melalui koordinasi Pusat Penanggulangan Krisis telah menyelenggarakan beberapa pelatihan manajemen maupun teknis bagi tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota. Pelatihan-pelatihan tersebut antara lain : ATLS, ACLS, Emergency Nursing, Evakuasi Koban di Perairan (Penggunaan Perahu Karet), Operasional Penunjang, Manajemen Bencana Bidang Kesehatan dan lain-lain. Dari hasil pengumpulan data ternyata tidak semua tenaga kesehatan yang berada di dinas kesehatan provinsi yang pernah mengikuti pelatihan-pelatihan dan saat ini masih bekerja terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan dan masih bertugas menurut jenis pelatihan dapat dilihat pada grafik 12 berikut.

38 Grafik 12 Gambaran Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi yang Pernah Mengikuti Pelatihan dan Masih Bekerja Menurut Jenis Pelatihan Pada Tahun 2008 Radio Komunikasi Pengelolaan Data dan Informasi Rencana Kontinjensi RHA Manajemen Obat dan Logistik Manajemen Bencana RS Lapangan Operasional Sarana Penunjang Perahu Karet Emergency Nursing PPGD BLS BTLS ATLS ACLS Pernah Dilatih Masih Bekerja Jumlah Tenaga Dari grafik di atas tampak bahwa hanya tenaga kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan operasional sarana penunjang, PPGD, BLS dan BTLS yang jumlah pernah dilatihnya masih sama dengan jumlah yang masih bekerja. Sedangkan untuk jenis pelatihan lainnya, jumlah tenaga kesehatan yang masih bekerja jumlahnya lebih kecil dari jumlah yang dilatih. Dari hasil pengumpulan data diketahui bahwa ada 2 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih ACLS tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Bengkulu dan Kalimantan Tengah. Selain itu ada 17 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih ACLS yaitu provinsi Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,

39 Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih ACLS dapat dilihat pada lampiran 18. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 2 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih ATLS tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Bengkulu dan Jawa Tengah. Selain itu ada 16 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih ACLS yaitu provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih ATLS dapat dilihat pada lampiran 19. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa hanya ada di 7 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih BTLS dan semuanya masih aktif bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih BTLS dapat dilihat pada lampiran 2.0 Dari hasil pengumpulan data terlihat bahwa hanya ada di 1 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih BLS dan semuanya masih aktif bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Bali. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih BLS dapat dilihat pada lampiran 21. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa hanya ada di 10 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih PPGD dan semuanya masih aktif bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,Sumatera Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan

40 Kalimantan Barat. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih PPGD dapat dilihat pada lampiran 22. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 1 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Emergency Nursing tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Jawa Tengah. Selain itu ada 16 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih Emergency Nursing yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Emergency Nursing dapat dilihat pada lampiran 23. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 3 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Pelatihan Evakuasi Korban di Perairan (Operasional Perahu Karet) tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Kepulauan Riau, Lampung dan Kalimantan Tengah. Selain itu ada 6 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih Pelatihan Evakuasi Korban di Perairan (Operasional Perahu Karet) yaitu provinsi Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Maluku Utara dan Maluku. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Pelatihan Evakuasi Korban di Perairan (Operasional Perahu Karet) dapat dilihat pada lampiran 24. Dari hasil pengumpulan data terlihat bahwa hanya ada di 11 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Operasional Sarana Penunjang dan semuanya masih aktif bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan

41 krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Operasional Sarana Penunjang dapat dilihat pada lampiran 25. Dari hasil pengumpulan data juga terlihat bahwa hanya ada di 9 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Operasional Rumah Sakit Lapangan dan masih aktif bekerja terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Operasional Rumah Sakit Lapangan dapat dilihat pada lampiran 26. Dari hasil pengumpulan data juga terlihat bahwa ada di 3 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Manajemen Bencana Bidang Kesehatan dan sekarang tidak aktif lagi bekerja terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Jambi, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Manajemen Bencana Bidang Kesehatan dapat dilihat pada lampiran 27. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 3 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Manajemen Obat dan Logistik Kesehatan tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Lampung, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Selatan. Selain itu ada 13 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih Manajemen Obat dan Logistik Kesehatan yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya

42 gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Manajemen Obat dan Logistik Kesehatan dapat dilihat pada lampiran 28. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 1 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih RHA (Rapid Health Assessment) tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Kalimantan Tengah. Selain itu ada 12 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih RHA yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih RHA dapat dilihat pada lampiran 29. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 4 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Penyusunan Rencana Kontinjensi tapi saat ini sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Bengkulu, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Selain itu ada 9 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih Penyusunan Rencana Kontinjensi yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Penyusunan Rencana Kontinjensi dapat dilihat pada lampiran 30. Dari hasil pengumpulan data juga terlihat bahwa ada di 9 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Pengelolaan Data dan Informasi dan ada beberapa diantaranya sekarang tidak aktif lagi bekerja terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Pengelolaan Data dan Informasi dapat dilihat pada lampiran 31. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada 3 dinas kesehatan provinsi yang tenaga kesehatannya pernah dilatih Operasional Radio Komunikasi tapi saat ini

43 sudah tidak bekerja lagi terkait dengan program penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yaitu provinsi Bengkulu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Selain itu ada 8 dinas kesehatan provinsi yang belum memiliki tenaga kesehatan yang pernah dilatih Operasional Radio Komunikasi yaitu provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Untuk jelasnya gambaran tenaga kesehatan di lingkungan dinas kesehatan provinsi yang pernah dilatih Operasional Radio Komunikasi dapat dilihat pada lampiran 32. Pada profil ini juga memberikan gambaran tentang pelaksanaan kegiatan pelatihan terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang dilakukan sepanjang tahun 2008 oleh dinas kesehatan provinsi. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan ada 14 provinsi atau 42,4% dari total provinsi yang tidak menyelenggarakan kegiatan pelatihan terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Untuk jelasnya gambaran proporsi dinas kesehatan provinsi menurut pelaksanaan pelatihan terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 13 berikut. Grafik 13 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Pelaksanaan Pelatihan Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun (57,6%) 14 (42,4%) Tidak Melakukan Melakukan 14 provinsi yang tidak melakukan kegiatan pelatihan terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana selama tahun 2008 adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua Barat. Untuk

44 jelasnya gambaran pelaksanaan pelatihan terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana menurut provinsi dapat dilihat pada lampiran 33. Selain gambaran pelaksanaan pelatihan, pada profil ini juga memberikan gambaran tentang kegiatan Gladi yang pernah diselenggarakan/diikuti oleh dinas kesehatan provinsi sampai dengan tahun dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa ada 9 provinsi atau 270,3% dari total provinsi yang belum pernah menyelenggarakan/mengikuti gladi terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Untuk jelasnya gambaran proporsi dinas kesehatan provinsi yang pernah menyelenggarakan/mengikuti gladi terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 14 berikut. Grafik 14 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Gladi yang Pernah Diselenggarakan/Diikuti Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana 9 (27,3%) 24 (72,7%) Belum Pernah Sudah Pernah 9 dinas kesehatan provinsi yang belum pernah menyelenggarakan/mengikuti kegiatan gladi terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran gladi yang pernah diselenggarakan/diikuti oleh dinas kesehatan provinsi dapat dilihat pada lampiran 34.

45 E. Sarana Kesehatan Berbagai kejadian bencana yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini semakin meningkat yang tentunya memerlukan upaya penanggulangan yang cepat. Salah satu upaya yang diperlukan adalah penyiapan sarana kesehatan yang memadai yang diharapkan akan dapat mengurangi risiko terjadi krisis kesehatan. Dari hasil pengumpulan data diperoleh informasi berbagai sarana yaitu sarana transportasi, komunikasi dan informasi, sarana penunjang, buffer stock obat, alat dan bahan lain serta buffer stock kelengkapan petugas lapangan. 1. Sarana Transportasi Berbagai sarana transportasi yang sangat diperlukan sebagai alat angkutan pada saat bencana baik untuk mengevakuasi korban, pelayanan kesehatan maupun angkutan logistik. Dari hasil pengumpulan data dari seluruh Provinsi diperoleh gambaran sarana transportasi yang dimiliki dan dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana oleh dinas kesehatan provinsi meliputi sarana ambulans, kendaraan operasional roda 4, kendaraan operasional bak terbuka, mobil klinik, kendaraan operasional roda 3, sepeda motor, perahu karet dan speedboat. Untuk sarana ambulans yang dapat dioperasionalkan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ternyata tidak semua dinas kesehatan provinsi memilikinya. Ada 3 provinsi atau 9,1% dari total provinsi yang tidak memiliki sarana ambulans yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah. Sedangkan untuk kendaraan operasional roda 4 seluruh dinas kesehatan provinsi memilikinya. Untuk kendaraan bak terbuka hanya 13 provinsi saja atau 39,4% dari total provinsi yang memilikinya yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI

46 Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Papua. Untuk mobil klinik juga hanya 10 provinsi saja atau 30,3% dari total provinsi yang memilikinya yaitu provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Agar jelasnya tentang gambaran kepemilikan kendaraan yang dapat dioperasionalkan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 15 berikut ini. Grafik 15 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Sarana Transportasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (90,9%) 0 20 (60,6%) 23 (69,7%) 23 (69,7%) 15 (45,5%) 11 (33,3%) 31 (93,9%) (100%) (39,4%) 10 (30,3%) 10 (30,3%) 18 (54,5%) 22 (66,7%) 0 3(9,1%) 2 (6,1%) Ambulans Operasional R4 Bak Terbuka Mobil Klinik Operasional R3 Sepeda Motor Perahu Karet Speedboat Memiliki Tidak memiliki Dari grafik 15 di atas tampak bahwa dinas kesehatan provinsi yang memiliki kendaraan operasional roda 3 yang dapat dioperasional untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ada 10 provinsi atau 30,3% dari total provinsi yang ada. Adapun provinsi yang dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua. Sedangkan gambaran dinas kesehatan provinsi yang tidak memiliki sepeda motor yang dapat

47 dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ternyata ada 15 dinas kesehatan provinsi atau 45,5% dari total provinsi. Adapun provinsi yang dimaksud adalah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Sedangkan provinsi yang paling banyak memiliki sepeda motor yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana adalah provinsi DKI Jakarta yaitu sebanyak 11 unit. Dari grafik 15 diatas tampak pula ada 11 dinas Kesehatan provinsi atau 33,3% dari total provinsi yang tidak memiliki sarana perahu karet yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Sedangkan provinsi yang paling banyak memiliki sarana perahu karet adalah provinsi Sumatera Utara dan Jawa Tengah yaitu masing-masing 10 unit. Selain itu dari grafik 15 terlihat pula hanya ada 2 dinas kesehatan provinsi atau 6,1% dari total provinsi yang memiliki speedboat yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Sulawesi Selatan dan Maluku. Agar jelasnya tentang gambaran sarana transportasi yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 35 dan Sarana Komunikasi dan Informasi Dalam rangka upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana perlu dukungan sarana komunikasi dan informasi yang baik yang dapat menunjang tersedianya informasi yang cepat, tepat dan akurat dari daerah ke pusat ataupun sebaliknya. Dari hasil pengumpulan data diperoleh gambaran sarana komunikasi yang dimiliki dinas kesehatan propinsi dan dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana antara lain telepon, faksimili, SSB, HT/RIG dan handphone satelit. Sedangkan sarana untuk pengelolaan informasi yang dimiliki antara lain televisi, kamera, LCD proyektor, PC Komputer, Laptop, Scanner dan handycam.

48 Untuk sarana telepon dan faksimili seluruh dinas kesehatan provinsi memiliki dan dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Sedangkan untuk handphone tidak ada satupun dinas kesehatan provinsi yang memiliki dan dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Handphone yang digunakan umumnya adalah milik pribadi dari masing-masing petugas kesehatan yang ada (bukan inventaris kantor). Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan sarana komunikasi yang dapat dioperasionalkan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 16 berikut ini. Grafik 16 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Sarana Komunikasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (63,6%) 10 (30,3%) 33 (100%) 24 (72,7%) (100%) 33 (100%) (69,7) 5 12( 36,4%) 9 (27,3%) 0 0 Telepon Faksimili SSB HT/RIG Handphone Handphone Satelit Memiliki Tidak memiliki Dari grafik 16 diatas tampak hanya ada 12 dinas Kesehatan provinsi atau 36,4% dari total provinsi, yang memiliki sarana SSB yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,

49 Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua. Sedangkan provinsi yang paling banyak memiliki sarana SSB adalah provinsi Papua yaitu 3 unit. Selain itu untuk sarana HT/RIG tampak hanya ada 10 dinas kesehatan provinsi atau 30,3% dari total provinsi, yang tidak memiliki sarana HT/RIG yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Sedangkan provinsi yang paling banyak memiliki sarana HT/RIG adalah provinsi DKI Jakarta yaitu 246 unit. Dari grafik 16 di atas tampak pula bahwa hanya ada 9 dinas kesehatan provinsi atau 27,3% dari total provinsi, yang memiliki handphone satelit dan dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua. Agar jelasnya tentang gambaran sarana komunikasi yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 37. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan ada 8 provinsi yang dinas kesehatannya tidak memiliki satupun sarana informasi (televisi, kamera, LCD proyektor, PC komputer, laptop, scanner dan handycam) yaitu provinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua Barat. Untuk sarana televisi yang dapat dioperasionalkan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ternyata tidak semua dinas kesehatan provinsi memilikinya. Ada 13 dinas kesehatan provinsi saja atau 39,4% dari total provinsi, yang memiliki televisi dan dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Papua. Sedangkan untuk kamera hanya 10 provinsi saja atau 30,3% dari total provinsi yang memilikinya yaitu provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Papua.

50 Untuk sarana LCD proyektor yang dapat dioperasionalkan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ternyata tidak semua dinas kesehatan provinsi memilikinya. Ada 13 dinas kesehatan provinsi saja atau 39,4% dari total provinsi, yang memiliki LCD proyektor dan dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Maluku. Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan sarana informasi yang dapat dioperasionalkan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 17 berikut. Grafik 17 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Sarana Informasi yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (60,6%) 23 (69,7%) 20 (60,6%) 13 (39,4%) 16 (48,5%) 29 (87,9%) 27 (81,8%) (39,4%) 10 (30,3%) 13 (39,4%) 20 (60,6%) 17 (51,5%) 4 (12,1%) 6 (18,2%) Televisi Kamera LCD Proyektor PC komputer Laptop Scanner Handycam Memiliki Tidak memiliki Dari grafik 17 di atas tampak bahwa ada 13 dinas kesehatan provinsi atau 39,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki PC komputer untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung,

51 Lampung, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua Barat. Selain itu ada 16 dinas kesehatan provinsi atau 48,54% dari total provinsi, yang tidak memiliki laptop untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua Barat. Dari grafik 17 tampak pula bahwa hanya ada 4 dinas kesehatan provinsi atau 12,1% dari total provinsi, yang memiliki scanner untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Kalimantan Selatan. Sedangkan untuk alat handycam hanya ada 16 dinas kesehatan provinsi atau 18,2% dari total provinsi, yang memiliki handycam untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Agar jelasnya tentang gambaran sarana informasi yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran Sarana Penunjang Adanya sarana penunjang sangat membantu dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, khususnya pada saat tanggap darurat bencana. Dari hasil pengumpulan data terlihat ada beberapa jenis sarana penunjang yang dimiliki antara lain tenda, genset, velbed, motor tempel dan tandu. Untuk tenda semua dinas kesehatan provinsi telah memilikinya. Sedangkan untuk genset ternyata ada 17 provinsi atau 51,5% dari total provinsi, yang belum memiliki sarana genset yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan sarana penunjang yang dapat dioperasionalkan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 18 berikut.

52 Grafik 18 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Sarana Penunjang yang Dapat Dioperasionalkan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (51,5%) 17 (51,5%) 12 (36,4%) 30 (90,9%) (100%) (48,5%) 16 (48,5%) 21 (63,6%) (9,1%) Tenda Genset Velbed Motor Tempel Tandu Memiliki Tidak memiliki Dari grafik 18 di atas tampak bahwa ada 17 dinas kesehatan provinsi atau 51,5% dari total provinsi, yang tidak memiliki velbed yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Selain itu ada 12 dinas kesehatan provinsi atau 36,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki motor tempel yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Sedangkan untuk alat tandu ternyata hanya ada 3 provinsi atau 9,1% dari total provinsi, yang memiliki sarana tandu yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud

53 adalah provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Bali. Agar jelasnya tentang gambaran sarana penunjang yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran Buffer Stock Obat, Alat dan Bahan Lain Adanya buffer stock obat, alat dan bahan lain juga sangat membantu dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, khususnya pada saat tanggap darurat bencana. Dari hasil pengumpulan data terlihat hanya ada 2 dinas kesehatan provinsi atau 6,1% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock obat yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Kalimantan Tengah dan Papua Barat. Sedangkan untuk MP-ASI ternyata ada 12 provinsi atau 36,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock MP-ASI yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Papua. Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan buffer stock obat, MP-ASI dan alat kesehatan lain yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 19 berikut.

54 Grafik 19 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Obat, MP-ASI, dan Alat Kesehatan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Obat dan Bahan Habis Pakai 2 (6,1%) 31 (93,9%) Memiliki 12 (36,4%) 13 (39,4%) 14 (42,4%) 21 (63,6%) 20 (60,6%) 19 (57,6%) MP-ASI Emergency Kit Tidak memiliki Tabung Oksigen Dari grafik 19 di atas tampak bahwa ada 13 dinas kesehatan provinsi atau 39,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock alat emergency kit yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku Utara dan Papua Barat. Selain itu ada 14 dinas kesehatan provinsi atau 42,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock tabung oksigen yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Papua Barat. Agar jelasnya tentang gambaran buffer stock obat, MP-ASI dan alat kesehatan yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 40.

55 Untuk bahan dan alat sanitasi, dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa tidak adanya buffer stock bahan PAC yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di 12 dinas kesehatan provinsi atau 36,4% dari total provinsi. Adapun provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua Barat. Untuk alat fogging machine, tampak bahwa ada 5 dinas kesehatan provinsi atau 15,2% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock fogging machine. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Untuk bahan insektisida, tampak bahwa ada 13 dinas kesehatan provinsi atau 39,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock insektisida yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Papua Barat. Sedangkan kantong sampah, tampak bahwa hanya ada 14 dinas kesehatan provinsi atau 42,4% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock kantong sampah yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua. Untuk kantong jenazah, tampak bahwa masih ada 9 dinas kesehatan provinsi atau 27,3% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock kantong jenazah yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Papua Barat. Agar jelasnya tentang gambaran kepemilikan buffer stock bahan dan alat

56 sanitasi yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 20 berikut. Grafik 20 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Bahan dan Alat Sanitasi yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (63,6%) 12 (36,4%) 28 (84,8%) 15 (15,2%) PAC Fogging Machine Insektisida 20 (60,6%) 13 (39,4%) 14 (42,4% ) 19 (57,6%) 24 (72,7%) 9 (27,3% ) Kantong Sampah Kantong Mayat Repellent Lalat Tidak memiliki 5 (15,2%) 28 (84,8%) Memiliki 13 (39,4%) 20 (60,6%) Mist Blower Water Purifier 18 (54,6%) 19 (57,6%) 15 (45,4%) 14 (42,4%) 1 (3% ) Kaporit WC Kimia 32 (97%) Dari grafik 20 di atas tampak bahwa hanya ada 5 dinas kesehatan provinsi atau 15,2% dari total provinsi, yang memiliki repellent lalat yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Bali, Sulawesi Barat dan Maluku. Selain itu hanya ada 13 dinas kesehatan provinsi atau 39,4% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock mist blower yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua. Dari grafik 20 di atas tampak pula bahwa ada 15 dinas kesehatan provinsi atau 45,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki water purifier yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, DI

57 Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Selain itu ada 14 dinas kesehatan provinsi atau 42,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock kaporit yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua Barat. Sedangkan untuk alat WC kimia hanya ada 1 dinas kesehatan provinsi (3% dari total provinsi) yang memiliki sebagai buffer stock yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Agar jelasnya tentang gambaran buffer stock bahan dan alat sanitasi yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran Buffer Stock Alat Pelindung Diri dan Identitas Petugas Lapangan Adanya buffer stock alat pelindung diri dan identitas petugas lapangan merupakan sarana yang cukup penting bagi pelaksanaan operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, khususnya pada saat tanggap darurat bencana. Dari hasil pengumpulan data terlihat ada 14 dinas kesehatan provinsi atau 42,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock masker yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua Barat. Sedangkan untuk helm ternyata hanya ada 7 dinas kesehatan provinsi atau 21,2% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock helm yang dapat digunakan dalam operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan buffer stock alat pelindung diri yang dapat digunakan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 21 berikut.

58 Grafik 21 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Alat Pelindung Diri yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (42,4%) 17 (51,5%) 17 (51,5%) (78,8%) 29 (87,9%) (57,6%) 7 (21,2%) 16 (48,5%) 16 (48,5%) 4 (12,1%) Masker Helm Sarung Tangan Sepatu Boot Jas Hujan Ada Tidak Ada Dari grafik 21 di atas tampak bahwa ada 16 dinas kesehatan provinsi atau 48,5% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock sarung tangan yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua. Demikian pula halnya dengan sepatu boot, dari hasil pengumpulan data menunjukkan ada 16 dinas kesehatan provinsi atau 48,5% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock sepatu boot yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Maluku. Sedangkan untuk jas hujan, tampak bahwa hanya ada 4 dinas kesehatan provinsi atau 12,1% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock jas hujan yang dapat

59 digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Agar jelasnya tentang gambaran buffer stock alat pelindung diri yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 42. Untuk buffer stock identitas petugas lapangan, dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa hanya 10 dinas kesehatan provinsi atau 30,3% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock jaket yang dapat digunakan dalam operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsiprovinsi tersebut adalah provinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan Papua. Untuk tanda pengenal petugas, tampak bahwa ada 5 dinas kesehatan provinsi atau 15,2% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock tanda pengenal petugas. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat dan Papua. Sedangkan untuk rompi petugas, tampak pula masih ada 14 dinas kesehatan provinsi atau 42,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock rompi petugas. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya tentang gambaran kepemilikan buffer stock identitas petugas lapangan yang dapat digunakan dalam operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada grafik 22 berikut.

60 Grafik 22 Jumlah dan Persentase Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Buffer Stock Identitas Petugas Lapangan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (42,4%) 15 (45,5%) (69,7%) 28 (84,8%) 25 (75,8%) 25(75,8%) (57,6%) 18 (54,5%) (30,3%) 5 (15,2%) 8 (24,2%) Jaket Tanda Pengenal Rompi Seragam Tim Kesehatan Topi Lapangan 8 (24,2%) Spanduk Ada Tidak Ada Dari grafik 22 di atas tampak bahwa hanya ada 8 dinas kesehatan provinsi atau 24,2% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock seragam tim kesehatan yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Tengah dan Maluku. Demikian pula halnya dengan topi lapangan petugas, dari hasil pengumpulan data menunjukkan hanya ada 8 dinas kesehatan provinsi atau 24,2% dari total provinsi, yang memiliki buffer stock topi lapangan petugas yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Papua. Sedangkan untuk spanduk, tampak bahwa ada 15 dinas kesehatan provinsi atau 45,4% dari total provinsi, yang tidak memiliki buffer stock spanduk yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi tersebut adalah provinsi Nanggroe Aceh

61 Darussalam, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Agar jelasnya tentang gambaran buffer stock identitas petugas lapangan yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 43. F. Pembiayaan Pelaksanaan upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana tentunya memerlukan dukungan pembiayaan. Sumber pembiayaan bagi dinas kesehatan provinsi dapat berasal dari APBN, APBD, maupun sumber dana lain. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan adanya dinas kesehatan provinsi yang tidak memiliki sumber pembiayaan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana pada tahun Ada 7 dinas kesehatan provinsi atau 21,2% dari total provinsi, yang tidak memiliki sumber pembiayaan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya tentang proporsi kepemilikan sumber pembiayaan yang dapat digunakan dalam operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana pada tahun 2008 dapat dilihat pada grafik 23 berikut.

62 Grafik 23 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Sumber Pembiayaan yang Dapat Digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun (18,2%) 3 (9,1%) 7 (21,2%) 1 (3%) 16 (48,5%) Tidak ada APBN APBD APBD dan APBN APBD, APBN dan Sumber lain Dari grafik 23 di atas bahwa ada 16 dinas kesehatan provinsi atau 48,5% dari total provinsi, yang memiliki sumber pembiayaan yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana hanya berasal dari APBD. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Papua. Agar jelasnya tentang gambaran sumber pembiayaan yang dimiliki dinas kesehatan provinsi yang dapat dioperasionalkan untuk penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilihat pada lampiran 44. Dari hasil pengumpulan data juga terlihat jenis-jenis kegiatan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang dilakukan dinas kesehatan provinsi dan mendapatkan sumber biaya. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain pertemuan, pelatihan, operasional tim penanggulangan dan lain-lain. Untuk jelasnya mengenai gambaran kegiatan dinas kesehatan provinsi yang mendapatkan sumber biaya pada tahun 2008 dapat dilihat pada lampiran 45.

63 BAB IV GAMBARAN UPAYA TANGGAP DARURAT DAN PEMULIHAN A. Mobilisasi Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pengelolaan Bantuan Kesehatan Upaya penanganan tanggap darurat tentunya memerlukan respons yang cepat. Pada pengumpulan data kali ini dikumpulkan pula informasi tetang tindakan pertama kali yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi bila diketahui ada informasi kejadian bencana di wilayah kerja. Tindakan pertama yang dilakukan masing-masing provinsi berbeda antara lain menunggu instruksi kepala dinas kesehatan, langsung menugaskan tim ke lapangan, melakukan pertemuan lintas program dan lain-lain. Untuk jelasnya gambaran tindakan yang dilakukan pertama kali dinas kesehatan provinsi bila ada informasi kejadian bencana dapat dilihat pada grafik 24 berikut. Grafik 24 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Tindakan Pertama yang Dilakukan Ketika Informasi Bencana Diketahui 5 (15,2%) 3 (9,1%) 1 (3%) 10 (30,3%) 14 (42,4%) Menunggu instruksi Kadinkes Langsung menugaskan tim ke lapangan Melakukan pertemuan lintas program Menugaskan tim ke lapangan dan mengirimkan bantuan sarana Melakukan pertemuan lintas program dan lintas sektor Dari grafik 24 di atas tampak bahwa ada 10 dinas kesehatan provinsi atau 30,3% dari total provinsi, yang biasa baru melakukan tindakan menunggu instruksi kepala dinas bila informasi bencana diketahui. Adapun provinsi dimaksud adalah

64 provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Barat dan Papua Barat. Selain itu juga tampak ada 3 provinsi atau 9,1% dari total provinsi, yang biasa langsung bergerak mengirimkan tim ke lapangan dan mengirimkan bantuan sarana begitu informasi bencana diketahui. Provinsi tersebut adalah provinsi Banten, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah. Agar jelasnya tentang gambaran tindakan yang pertama kali dilakukan dinas kesehatan provinsi bila informasi bencana diketahui dapat dilihat pada lampiran 46. Dalam upaya penanganan tanggap darurat bencana kiranya dibutuhkan tim kesehatan yang dapat bergerak cepat begitu informasi bencana diketahui. Salah satu tim tersebut adalah Tim Reaksi Cepat (TRC) merupakan salah satu tim kesehatan yang langsung bergerak atau yang pertama kali diturunkan ke lapangan untuk memberikan pelayanan kesehatan darurat ketika bencana terjadi. Dari hasil pengumpulan data tampak bahwa dari 33 provinsi terdapat 10 provinsi (30,3%) yang tidak memiliki TRC, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran kepemilikan TRC dapat dilihat pada grafik 25 berikut.

65 Grafik 25 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan TRC Penanggulangan Bencana 10 (30,3%) 23 (69,7%) Memiliki TRC Tidak memiliki TRC Sementara itu, keanggotaan dari TRC penanggulangan bencana di dinas kesehatan provinsi dapat berasal dari lintas program maupun lintas sektor. Dari 23 provinsi yang memiliki TRC, terdapat 6 provinsi (26,1% dari total provinsi yang memiliki TRC) yang keanggotaan TRC nya tidak melibatkan lintas sektor, yaitu provinsi Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Gorontalo. Jenis tenaga dan jumlah anggota TRC setiap provinsi berbeda-beda. Ada 2 provinsi yang anggota TRC nya tidak melibatkan tenaga dokter umum yaitu provinsi Bangka Belitung dan DKI Jakarta. Demikian pula sebaliknya ada 1 provinsi yang TRC nya hanya terdiri dari tenaga dokter umum saja yaitu provinsi Jambi. Agar jelasnya gambaran keanggotaan dari TRC yang ada di dinas kesehatan provinsi dapat dilihat pada lampiran 47 dan 48. Kewenangan untuk dapat memobilisasi TRC untuk masing-masing dinas kesehatan provinsi cukup bervariasi. Dari 23 provinsi yang memiliki TRC ternyata ada 3 dinas kesehatan provinsi (13,0%) yang kewenangan penggerakan TRC nya cukup berada di bawah kendali pengelola program saja tanpa harus menunggu perintah Kepala Dinas Kesehatan, yaitu provinsi Riau, Jambi dan Banten. Sedangkan kewenangan penggerakan TRC di Provinsi Kalimantan Selatan berada

66 di bawah kendali Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala UK PKK dan Direktur RS Ulin Banjarmasin. Untuk jelasnya gambaran kewenangan mobilisasi TRC yang ada di provinsi dapat dilihat pada lampiran 49. Berkaitan dengan mobilisasi TRC di setiap provinsi, dari 23 provinsi yang memiliki TRC tampak bahwa ada 12 provinsi (52,2%) yang melakukan mobilisasi TRC pada setiap kejadian bencana. Namun demikian ada satu provinsi yang belum pernah memobilisasi TRC nya yaitu provinsi Kalimantan Tengah, karena timnya baru dibentuk. Untuk jelasnya gambaran mobilisasi TRC dapat dilihat pada grafik 26 berikut. Grafik 26 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Mekanisme Mobilisasi TRC Penanggulangan Bencana 1 (4,3%) 10 (43,5%) 12 (52,2%) Setiap kejadian bencana Kadang-kadang Tidak pernah 12 dinas kesehatan provinsi yang melakukan mobilisasi TRC pada setiap kejadian bencana adalah provinsi Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran mobilisasi TRC menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran 50. Kecepatan TRC dapat secepatnya bekerja di lokasi bencana sangat tergantung berapa lama waktu yang diperlukan untuk mobilisasinya. Hasil pegumpulan data menunjukkan bahwa sebagian besar dinas kesehatan provinsi yaitu sebanyak 16 provinsi (72,7%) dapat memobilisasi TRC dalam waktu <24 jam. Untuk jelasnya

67 gambaran waktu yang diperlukan untuk mobilisasi TRC dapat dilihat pada grafik 27 berikut. Grafik 27 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Waktu Mobilisasi TRC Penanggulangan Bencana 5 (22,7%) 1 (4,5%) 16 (72,7%) <24 jam 1-2 hari >2 hari 16 dinas kesehatan provinsi yang melakukan mobilisasi TRC <24 jam adalah provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran waktu mobilisasi TRC menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran 51. Selain TRC, tim pelayanan kesehatan yang dimobilisasi pada saat tanggap darurat maupun pemulihan setelah TRC bekerja adalah tim bantuan kesehatan. Tim ini ditujukan sebagai penguatan pelayanan kesehatan bagi penduduk yang terkena bencana. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi ada 16 provinsi (48,5%) telah memiliki Tim Bantuan Kesehatan, untuk jelasnya dapat dilihat grafik 28 berikut.

68 Grafik 28 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Tim Bantuan Kesehatan Penanggulangan Bencana 17 (51,5%) 16 (48,5%) Memiliki tim bantuan kesehatan Tidak memiliki tim bantuan kesehatan 16 dinas kesehatan provinsi yang memiliki Tim Bantuan Kesehatan adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Papua. Untuk jelasnya gambaran Tim Bantuan Kesehatan menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran 52. Dari 16 provinsi yang memiliki tim bantuan kesehatan, terdapat 4 provinsi (Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Maluku Utara dan Papua) yang kewenangan mobilisasi tim bantuan kesehatannya tidak hanya dipegang oleh Kepala Dinas Kesehatan. Sementara itu untuk provinsi Riau, kewenangan mobilisasi tim bantuan kesehatan cukup berada di bawah kendali Kepala Sub- Dinas P2PL saja. Untuk jelasnya gambaran kewenangan mobilisasi tim bantuan kesehatan yang ada di provinsi dapat dilihat pada lampiran 53. Berkaitan dengan Tim Bantuan Kesehatan, mekanisme mobilisasinya pada saat bencana di setiap provinsi berbeda-beda. Dari 33 provinsi ada 22 provinsi (66,7%) yang memiliki mekanisme bahwa mobilisasi dilakukan atas dasar permintaan dan hasil analisis penilaian cepat Tim RHA (Rapid Health Assessment). Namun demikian masih ada 3 provinsi (9,1%) yang mekanisme mobilisasi Tim Bantuan Kesehatan nya belum diatur, yaitu provinsi Kepulauan

69 Riau, Bangka Belitung, dan Bengkulu. Untuk jelasnya gambaran mekanisme mobilisasi Tim Bantuan Kesehatan dapat dilihat pada grafik 29 berikut dan lampiran 54. Grafik 29 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Mekanisme Mobilisasi Tim Bantuan Kesehatan Pada Penanggulangan Bencana 3 (9,1%) 7 (21,2%) 1 (3%) 22 (66,7%) Sesuai permintaan daerah Sesuai permintaan dan hasil analisis Tim RHA Hasil analisis Tim RHA Mekanisme belum diatur Dalam pengelolaan bantuan kesehatan agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien kiranya perlu dilakukan pencatatan dan pelaporan. Hasil pengumpulan data tampak bahwa dari 33 provinsi terdapat 3 provinsi (9,1%) yang dinas kesehatan provinsinya tidak melakukan pencatatan berkaitan dengan pengelolaan bantuan kesehatan pada saat kejadian bencana, yaitu provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Jawa Barat karena sistem pencatatannya belum diatur. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan pelaksanaan pencatatan penggelolaan bantuan kesehatan dapat dilihat pada grafik 30 berikut dan lampiran 55.

70 Grafik 30 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Pelaksanaan Pencatatan Pengelolaan Bantuan Kesehatan 3 (9,1%) 30 (90,9%) Dilakukan pencatatan Tidak dilakukan pencatatan B. Pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA) Tim Rapid Health Assessment (RHA) adalah tim yang diturunkan pada saat tanggap darurat bencana untuk menilai kebutuhan dan permasalahan kesehatan yang ada di lokasi bencana. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi, sebanyak 8 provinsi (24,2%) belum memiliki Tim RHA yang terpisah dari TRC dan 4 provinsi (12,1%) yang tidak memiliki Tim RHA sama sekali yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan kepemilikan Tim RHA dapat dilihat pada grafik 31 berikut.

71 Grafik 31 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Kepemilikan Tim RHA 4 (12,1%) 8 (24,2%) 21 (63,6%) Memiliki Tim RHA terpisah dari TRC Tim RHA bagian dari TRC Tidak memiliki Tim RHA ]Jenis tenaga yang menjadi anggota Tim RHA masing-masing provinsi berbedabeda, secara umum tenaga yang ada terdiri dari dokter, epidemiolog/tenaga surveilans dan sanitarian. Namun demikian ada satu provinsi yang anggota Tim RHA nya tidak ada tenaga dokternya yaitu provinsi Sulawesi Tengah. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan kepemilikan Tim RHA dan jenis tenaganya dapat dilihat pada lampiran 56. Dari 21 provinsi yang memiliki Tim RHA, terdapat 3 provinsi (Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Papua) yang kewenangan mobilisasinya tidak hanya berada pada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Untuk provinsi Jawa Barat kewenangan mobilisasi juga dipegang oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, di Sulawesi Tengah oleh Kepala Bidang Pengendali Masalah Kesehatan, dan di Papua oleh Koordinator HCC. Sedangkan kewenangan mobilisasi tim RHA pada provinsi Riau cukup dipegang oleh Kepala Sub Dinas P2PL. Untuk jelasnya gambaran kewenangan untuk memobilisasi Tim RHA dari masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 57. Berkaitan dengan pelaksanaan RHA, dari 33 provinsi tampak bahwa ada 13 provinsi (39,4%) yang hanya kadang-kadang melaksanakan RHA pada saat kejadian bencana. Yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Selain itu ada satu provinsi yang belum pernah melakukan RHA pada saat

72 kejadian bencana yaitu provinsi Kepulauan Riau. Untuk jelasnya gambaran pelaksanaan RHA dapat dilihat pada grafik 32 berikut dan lampiran 58. Grafik 32 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Pelaksanaan RHA Pada Saat Kejadian Bencana 1 (3%) 13 (39,4%) 19 (57,6%) Selalu dilakukan Kadang-kadang Tidak pernah Dari 32 provinsi yang telah melaksanakan RHA ketika bencana terjadi, diketahui ada 23 provinsi (71,9%) yang pelaksanaannya dilakukan oleh Tim RHA dan ada 9 provinsi (28,1%) dilakukan bukan oleh Tim RHA. Provinsi yang pelaksanaannya tidak dilakukan oleh Tim RHA adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran pelaksana RHA dapat dilihat pada grafik 33 berikut dan lampiran 59.

73 Grafik 33 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Pelaksana RHA Pada Saat Kejadian Bencana 9 (28,1%) 23 (71,9%) Tim RHA Bukan Tim RHA Terkait dengan pelaksanaan RHA dan keberadaan Tim RHA, dari hasil pengumpulan data tampak bahwa ada provinsi yang telah memiliki Tim RHA akan tetapi dalam pelaksanaan RHA pada saat kejadian bencana tidak dilakukan oleh Tim RHA yang ada. Adapun provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. C. Evaluasi Untuk mengkaji efisiesi dan efektifitas upaya penanggulangan krisis kesehatan pada setiap kejadian bencana diperlukan suatu evaluasi. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa dari 33 provinsi ada 7 provinsi (21,2%) yang belum pernah melakukan evaluasi upaya tanggap darurat. Dinas kesehatan yang belum pernah melakukan evaluasi tanggap darurat adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat dan Kalimantan Tengah. Untuk jelasnya gambaran pelaksanaan evaluasi tanggap darurat masingmasing provinsi dapat dilihat pada grafik 34 berikut dan lampiran 60.

74 Grafik 34 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Pelaksanaan Evaluasi Tanggap Darurat Pada Saat Kejadian Bencana 7 (21,2%) 6 (18.2%) 20 (60.6%) Selalu Kadang-kadang Tidak pernah

75 BAB V SISTEM INFORMASI A. Kegiatan Pendataan dan Monitoring 1. Pendataan Dalam rangka untuk meningkatkan kesiapsiagaan kiranya dinas kesehatan provinsi perlu memiliki peta rawan bencana di wilayah kerjanya. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa tidak semua provinsi memilikinya. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 35 berikut ini. Grafik 35 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Peta Rawan Bencana 3 (9,1%) 30 (90,9%) Memiliki Tidak Memiliki Dari grafik 35 di atas tampak bahwa dari 33 dinas kesehatan provinsi, masih ada 3 dinas kesehatan provinsi (9,1%) yang tidak memiliki peta wiayah rawan bencana. Dinas kesehatan provinsi tersebut adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banten dan Bali, untuk jelasnya dapat dilihat pada lampiran 61. Untuk mengetahui jumlah dan jenis kejadian bencana serta upaya-uapaya yang telah dilakukan pada saat terjadi bencana, sudah selayaknya dinas kesehatan provinsi melakukan pencatatan pada setiap kejadian bencana yang terjadi secara

76 lengkap. Dari hasil pengumpulan menunjukkan bahwa tidak semua dinas kesehatan provinsi melakukan pencatatan setiap kejadian bencana di wilayah kerjanya secara lengkap. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 36 berikut ini. Grafik 36 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Kepemilikan Pencatatan Kejadian Bencana 7 (21,2%) 2 (6,1%) 24 (72,7%) Lengkap Kurang Lengkap Tidak Ada Dari grafik 36 di atas tampak bahwa masih ada 2 Dinas Kesehatan Provinsi atau 6,1% dari total provinsi, yang tidak melakukan pencatatan kejadian bencana di wilayah kerjanya yaitu provinsi Bali dan Sulawesi Barat. Sedangkan Dinas Kesehatan provinsi yang melakukan pencatatan akan tetapi kurang lengkap sebanyak 7 provinsi (21,2% dari total provinsi) yaitu provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan Maluku Utara. Untuk jelasnya gambaran kepemilikan catatan kejadian bencana masing-masing provinsi dapat dilihat pada lampiran 62. Untuk mengetahui upaya kesiapsiagaan dalam rangka penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang telah dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi, sebaiknya dinas kesehatan provinsi melakukan pendataan kesiapsiagaan. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa ada beberapa dinas kesehatan provinsi yang belum pernah melakukan pendataan kesdiapsiagaan, ada juga yang melakukan pendataan tetapi tidak pernah di update. Untuk jelasnya dapat dilihat grafik 37 berikut ini

77 Grafik 37 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Pendataan Kesiapsiagaan Bencana 3 (9,1%) 8 (24,2%) 22 (66,7%) Dilakukan dan selalu di update Belum dilakukan Dilakukan tapi belum di update Dari grafik 36 di atas tampak bahwa masih ada 3 Dinas Kesehatan Provinsi (9,1% dari total provinsi), yang tidak melakukan pendataan kesiapsiagaan dalam rangka penanggulangan krisis kesehatan di wilayah kerjanya yaitu provinsi Nangroe Aceh Darusalam, Sulawesi Barat dan Papua Barat. Sedangkan Dinas Kesehatan provinsi yang melakukan pendataan akan tetapi tidak pernah diperbaharui ada 8 provinsi (24,2% dari total provinsi) yaitu provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Untuk jelasnya gambaran provinsi berdasarkan pelaksanaan pencatatan kesiapsiagaan dapat dilihat pada lampiran 63. Untuk mempermudah dalam melakukan pendataan kesiapsiagaan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dan mempermudah update data, diperlukan adanya format khusus pencatatan. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa ada beberapa dinas kesehatan provinsi yang tidak menggunakan format khusus pencatatan, untuk jelasnya dapat dilihat pada grafik 38 berikut dan lampiran 64.

78 Grafik 38 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pendataan Kesiapsiagaan Bencana 13 (43,3%) 17 (56,7%) Ada Format Khusus Tidak Ada Format Dari grafik 38 di atas tampak bahwa dari 30 provinsi yang melakukan pendataan kesiapsiagaan, ternyata masih ada 43,3% atau 14 dinas kesehatan provinsi yang tidak menggunakan format khusus untuk pendataan kesiapsiagaan penanggulangan krisis kesehatan di wilayah kerjanya. Adapun provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Maluku. 2. Monitoring Data perkembangan setiap kejadian bencana sangat diperlukan guna mengetahui hasil pelaksanaan penanggulangan dari waktu ke waktu. Melalui kegiatan monitoring hal tersebut tentunya baru bisa diperolehnya. Dari hasil pengumpulan data profil menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi telah melaksanakan kegiatan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 39 berikut.

79 Grafik 39 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana 5 (15,2%) 2 (6,1%) 26 (78,7%) Selalu Dilakukan Kadang-kadang Tidak Pernah Dari grafik 39 di atas tampak bahwa dari 33 provinsi, masih ada 2 provinsi (6,1%) yang tidak pernah melakukan monitoring perkembangan pada setiap kejadian bencana. Adapun provinsi dimaksud adalah provinsi Kepulauan Riau dan Jambi. Selain itu ada 5 provinsi (15,2%) yang melakukan monitoring perkembangan kejadian bencana hanya kadang-kadang yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. Untuk jelasnya gambaran pelaksanaan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana yang dilakukan dinas kesehatan provinsi dapat dilihat pada lampiran 65. Setiap pelaksanaan monitoring perkembangan kejadian bencana kiranya perlu diinformasikan ke pusat (cq. Pusat Penanggulangan Krisis). Informasi ini diperlukan baik sebagai bahan monitoring yang dipergunakan sebagai bahan masukan bila diperlukan bantuan kesehatan dari tingkat pusat. Dari hasil pengumpulan data profil terlihat masih ada beberapa provinsi yang kadangkadang menginformasikan pelaksanaan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana ke pusat. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 40 berikut.

80 Grafik 40 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Penyampaian Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana ke Pusat 12 (38,7%) 1 (3,2%) 18 (58,1%) Selalu Dilakukan Kadang-kadang Tidak Pernah Dari grafik 40 di atas tampak bahwa, dari 31 dinas kesehatan provinsi yang melakukan monitoring perkembangan kejadian bencana ternyata ada 1 provinsi (3,2%) yang tidak pernah menginformasikan pelaksanaan monitoringnya ke pusat yaitu provinsi Banten. Selain itu ada 12 dinas kesehatan provinsi (38,7%) yang kadang-kadang menginformasikan pelaksanaan monitoring perkembangannya ke pusat yaitu provinsi Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara. Untuk jelasnya gambaran provinsi yang menyampaikan informasi hasil monitoring perkembangan setiap kejadian bencana ke pusat dapat dilihat pada lampiran 66. Mekanisme penginformasian pelaksanaan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana ke pusat ada yang dilakukan secara langsung atau menunggu permintaan pusat. Dari hasil pengumpulan data profil terlihat hampir seluruh provinsi menyatakan langsung menginformasikan pelaksanaan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana ke Pusat tanpa menunggu permintaan dari pusat. Untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 41 berikut.

81 Grafik 41 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Mekanisme Penyampaian Monitoring Perkembangan Kejadian Bencana ke Pusat 3 (10%) 27 (90%) Langsung Menunggu permintaan pusat Dari grafik 41 di atas tampak bahwa dari 30 provinsi yang menginformasikan pelaksanaan monitoring perkembangan setiap kejadian bencana ke pusat, ternyata ada 3 dinas kesehatan provinsi (10%) yang baru menginformasikan menunggu permintaan dari pusat. Provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Bangka Belitung, Lampung dan Sulawesi Utara, untuk jelasnya dapat dilihat pada lampiran 67. Dalam rangka menunjang pelaksanaan penyusunan rencana kontijensi penanggulangan krisis kesehatan akibat becana diperlukan kegiatan analisis risiko bencana. Dari hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa banyak provinsi yang belum pernah melakukan analisis risiko bencana, untuk jelasnya dapat di lihat pada grafik 42 berikut.

82 Grafik 42 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Pelaksanaan Analisis Risiko Bencana 14 (42,4%) 19 (57,6%) Pernah Belum Pernah Dari grafik 42 di atas tampak bahwa dari 33 provinsi, ternyata ada 19 dinas kesehatan provinsi (57,6%) yang belum pernah melakukan analisis risiko bencana. Provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran provinsi berdasarkan pelaksanaan analisis risiko bencana dapat dilihat pada lampiran 68. B. Penyampaian Informasi Dalam SK Menkes No. 064/Menkes/SK/II/2006 tentang Pedoman Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Akibat Bencana, telah di atur mekanisme alur penyampaian informasi yang berhubungan dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Hasil pengumpulan data profil ada beberapa dinas kesehatan provinsi yang belum menggunakan alur mekanisme sesuai dengan pedoman yang ada, lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 43 berikut.

83 Grafik 43 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Penggunaan Alur Mekanisme Informasi sesuai Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/ (21,2%) 26 (78,8%) Sudah menggunakan Belum menggunakan Berdasarkan grafik 43 di atas terlihat bahwa dari 33 provinsi ada 7 provinsi (21,2%) yang dalam penyampaian informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana belum mengikuti alur mekanisme informasi yang sesuai dengan Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/2006. Adapun provinsi-provinsi tersebut adalah Provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Untuk jelasnya gambaran penggunaan alur mekanisme Informasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 69. Berdasarkan Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/2006, bahwa setiap Dinas Kesehatan Provinsi diharapkan menginformasikan hasil pendataan kesiapsiagaan dalam rangka penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ke pusat (cq. Pusat penanggulangan Krisis Kesehatan). Dari hasil pengumpulan data profil terdapat beberapa provinsi yang belum menginformasikan hasil pendataan kesiapsiagaannya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat grafik 44 berikut.

84 Grafik 44 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyampaian Informasi Pendataan Kesiapsiagaan ke Pusat 8 (26,7%) 10 (33,3%) 12 (40%) Selalu Kadang-kadang Belum pernah Dari grafik 44 di atas terlihat bahwa dari 30 provinsi yang melakukan pendataan kesiapsiagaan hanya ada 10 provinsi (33,3%) yang selalu menginformasikan hasil pendataan kesiapsiagaannya ke pusat yaitu Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan penyampaian informasi kesiapsiagaan dapat dilihat pada lampiran 70. Selain informasi kesiapsiagaan, setiap dinas kesehatan provinsi diharapkan dapat menginformasikan setiap kejadian bencana yang terjadi di wilayah kerjanya ke pusat. Dari hasil pengumpulan data profil hampir semua provinsi telah menginformasikan setiap kejadian bencana, akan tetapi masih ada provinsi yang belum menginformasikannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat grafik 45 berikut.

85 Grafik 45 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penyampaian Informasi Kejadian Bencana ke Pusat 10 (30,3%) 1 (3%) 22 (66,7%) Selalu Kadang-kadang Belum pernah Berdasarkan grafik 45 di atas tampak bahwa,dari 33 provinsi masih ada 1 dinas kesehatan provinsi (3%) yang belum pernah menginformasikan setiap kejadian bencana ke pusat yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu masih ada 10 provinsi (30,3%) yang hanya kadang-kadang menginformasikan setiap kejadian bencana ke pusat yaitu Provinsi Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan Papua. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan penyampaian informasi kejadian bencana dapat dilihat pada lampiran 71. Dalam SK Menkes No. 064/Menkes/SK/II/2006 tentang Pedoman Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Akibat Bencana, telah di atur mekanisme alur penyampaian informasi yang berhubungan dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, bahwa dinas kesehatan setempat agar sesegera mungkin langsung menginformasikan setiap kejadian bencana secara berjenjang ke pusat. Hasil pengumpulan data profil menunjukkan ada beberapa dinas kesehatan provinsi yang melaporkan kejadian bencana di wilayah kerjanya menunggu permintaan dari pusat. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 46 berikut.

86 Grafik 46 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Mekanisme Penyampaian Informasi Kejadian Bencana ke Pusat 4 (12,1%) 29 (87,9%) Langsung begitu informasi bencana diketahui Menunggu permintaan pusat Berdasarkan grafik 46 di atas terlihat bahwa dari 33 provinsi masih ada 4 provinsi (12,1%) yang baru mengirimkan informasi kejadian bencana bila ada permintaan dari pusat yaitu Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan mekanisme penyampaian informasi kejadian bencana dapat dilihat pada lampiran 72. Dalam SK Menkes No. 064/Menkes/SK/II/2006 juga telah dijelaskan tentang format pelaporan kejadian bencana yang baku. Sementara itu dalam pelaksanaannya hasil pengumpulan data profil ada beberapa provinsi yang tidak menggunakan format pelaporan yang baku tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat grafik 47 berikut.

87 Grafik 47 Proporsi Dinas Kesehatan Provinsi Berdasarkan Penggunaan Format Pelaporan sesuai Pedoman 10, 30.3% 23, 69.7% Sudah Belum Berdasarkan grafik 47 diatas, terlihat bahwa dari 33 provinsi ada 10 provinsi (30,3%) yang tidak menggunakan format pelaporan kejadian bencana sesuai dengan Kepmenkes No. 064/Menkes/SK/II/2006. Provinsi-provinsi tersebut adalah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. Untuk jelasnya gambaran dinas kesehatan provinsi berdasarkan penggunaan format pelaporan kejadian bencana dapat dilihat pada lampiran 73. Kualitas informasi yang dikomunikasikan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana sangat tergantung dengan media atau sarana komunikasi yang dipergunakan. Pada saat terjadi bencana seringkali beberapa sarana komunikasi yang ada seringkali tidak dapat beroperasi secara maksimal. Untuk itu kiranya dinas kesehatan provinsi sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu jenis sarana komunikasi saja. Selain telepon dan faksimili tentunya bisa memanfaatkan sarana komunikasi lain seperti telepon seluler, , website, SMS Gateway dan radio komunikasi. Berdasarkan hasil pengumpulan data ternyata masih sedikit sekali dinas kesehatan provinsi yang menggunakan berbagai sarana komunikasi seperti telepon, faksimili, telepon seluler, , website, SMS Gateway dan radio komunikasi. Hanya ada 3 provinsi atau 9,1% saja yang biasa menggunakan seluruh sarana yang disebutkan di atas yaitu provinsi Sumatera Selatan, DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

88 Dari hasil pengumpulan data juga tampak bahwa seluruh Dinas Kesehatan Provinsi telah biasa mengkomunikasikan informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana menggunakan sarana telepon, faksimili dan handphone. Selain itu hanya 18 Dinas Kesehatan Provinsi atau 54,6% dari total provinsi yang biasa menggunakan sebagai sarana komunikasi penyampaian informasi yaitu provinsi Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Papua. Demikian pula dengan penggunaan website sebagai sarana komunikasi penyampaian informasi ternyata hanya 5 Dinas Kesehatan Provinsi atau 15,2% dari total provinsi, yang biasa menggunakannya yaitu provinsi Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran proporsi penggunaan sarana komunikasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi menurut jenis sarana komunikasi dapat dilihat pada grafik 48 berikut ini. Grafik 48 Proporsi Penggunaan Sarana Komunikasi Oleh Dinas Kesehatan Provinsi Menurut Jenis Sarana Komunikasi (45,4%) 28 (84,8%) 19 (57,6%) 27 (81,8%) (100%) 33 (100%) 33 (100%) Telepon Faksimili Telepon Seluler 18 (54,6%) 14 (42,4%) 5 (15,2%) 6 (18,2%) Website SMS Gateway Radio Komunikasi Menggunakan Tidak Menggunakan

89 Dari grafik 48 di atas tampak pula proporsi Dinas Kesehatan Provinsi yang biasa memanfaatkan SMS Gatewsay untuk penyampaian informasinya ke Pusat ternyata hanya 14 provinsi saja atau 42,4% dari total provinsi, yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan Papua. Sedangkan Dinas Kesehatan Provinsi yang biasa menggunakan radio komunikasi untuk mengkomunikasikan informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ternyata juga hanya 6 provinsi saja atau 18,2% dari total provinsi yaitu provinsi Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Untuk jelasnya gambaran sarana komunikasi yang biasa di gunakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi dalam mengkomunikasikan informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di wilayah kerja dapat dilihata pada lampiran 74. Selain sarana komunikasi, keberadaan tempat bagi pengelolaan data dan informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di Dinas Kesehatan Provinsi serta aktifitasnya juga mempunyai peran penting di dalam menghasilkan informasi yang berkualitas. Dari hasil pengumpulan data ternyata masih ada 13 provinsi (39,4% dari total provinsi) yang belum memiliki tempat berupa pos informasi yang dapat dioperasionalkan 24 jam untuk pengelolaan data dan informasi. Untuk jelasnya gambaran kepemilikan pos informasi 24 jam menurut provinsi dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

90 Gambar 1 Gambaran Kepemilikan Pos Informasi 24 Jam Menurut Provinsi Keterangan : Ada dan aktivitasnya rutin Ada tapi hanya aktif saat bencana Belum Memiliki Dari gambar 1 di atas tampak bahwa ada 13 provinsi(39,4% dari total provinsi) yang belum memiliki pos informasi 24 jam adalah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Tenggara dan Papua Barat. Dari gambar di atas terlihat pula bahwa hanya 7 Dinas Kesehatan Provinsi (21,2% dari total provinsi) yang memiliki pos informasi 24 jam dan aktivitasnya dapat difungsikan secara rutin yaitu provinsi Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo dan Papua. Sedangkan Dinas Kesehatan Provinsi yang memiliki pos informasi 24 jam akan tetapi hanya difungsikan bila bencana terjadi ada 13 provinsi (39,4% dari total provinsi) yaitu provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Maluku. Dari hasil pengumpulan data terlihat pula bagaimana pengelolaan pos informasi 24 jam yang di 20 provinsi tsb, apakah dikelola secara bersama- sama lintas

2 3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran

2 3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran No.1750, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES Sistem Informasi. Krisis Kesehatan. Penanggulangan Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM

Lebih terperinci

RANCANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

RANCANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, 1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNSI PELAKSANA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BLITAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR

Lebih terperinci

TINJAUAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT BENCANA TAHUN 2008

TINJAUAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT BENCANA TAHUN 2008 TINJAUAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT BENCANA TAHUN 28 PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena Tinjauan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 19/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK

PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK, Menimbang

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANDUNG DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LANGKAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LANGKAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LANGKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANGKAT, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR: 10 TAHUN 2010

PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR: 10 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR: 10 TAHUN 2010 SABID UAK SADAYU A NG T E N T A N G PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA PARIAMAN KOTA PARIAMAN TAHUN 2010-0

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 9 2009 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA Menimbang

Lebih terperinci

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BANDA ACEH

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BANDA ACEH QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BANDA ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDA ACEH, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dengan keadaan geografis dan kondisi sosialnya berpotensi rawan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dengan keadaan geografis dan kondisi sosialnya berpotensi rawan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dengan keadaan geografis dan kondisi sosialnya berpotensi rawan bencana, baik yang disebabkan kejadian alam seperi gempa bumi, tsunami, tanah longsor, letusan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN DAERAH NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 783/MENKES/SK/X/2006. TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 783/MENKES/SK/X/2006. TENTANG 1 dari 8 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 783/MENKES/SK/X/2006. TENTANG REGIONALISASI PUSAT BANTUAN PENANGANAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN 1 PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN NUNUKAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA 1 BEncANA O Dasar Hukum : Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana 2 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN NGANJUK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL 1 2015 No.22,2015 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul. Perubahan, Peraturan Daerah Kabupaten Bantul, Penanggulangan, bencana. BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA

Lebih terperinci

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2012 BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 2 TAHUN 2011

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI ACEH TIMUR PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI PEMANGKU JABATAN STRUKTURAL DAN NONSTRUKTURAL PADA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA BATU PERATURAN DAERAH KOTA BATU NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BATU

PEMERINTAH KOTA BATU PERATURAN DAERAH KOTA BATU NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BATU PEMERINTAH KOTA BATU PERATURAN DAERAH KOTA BATU NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BATU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATU, Menimbang

Lebih terperinci

Pembimbing : PRIHANDOKO, S.Kom., MIT, Ph.D.

Pembimbing : PRIHANDOKO, S.Kom., MIT, Ph.D. ANALISIS BENCANA DI INDONESIA BERDASARKAN DATA BNPB MENGGUNAKAN METODE CLUSTERING DATA MINING MAHESA KURNIAWAN 54412387 Pembimbing : PRIHANDOKO, S.Kom., MIT, Ph.D. Bencana merupakan peristiwa yang dapat

Lebih terperinci

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa untuk meminimalisasi

Lebih terperinci

11. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana;

11. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana; Menimbang Mengingat QANUN KABUPATEN ACEH JAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN ACEH JAYA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN

Lebih terperinci

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org) Powered by TCPDF (www.tcpdf.org) 2 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan

Lebih terperinci

GULANG BENCANA BENCAN DAERAH KABUPATEN KABUPATE MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS,

GULANG BENCANA BENCAN DAERAH KABUPATEN KABUPATE MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS, PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 11 TAHUN 2013 T E N T A N G PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang

Lebih terperinci

TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG

TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG NOMOR 31 TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG SERI E STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TANGGAP DARURAT BENCANA DI KABUPATEN TANAH DATAR

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 11 TAHUN 2009

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 11 TAHUN 2009 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI dan BUPATI BANYUWANGI MEMUTUSKAN:

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI dan BUPATI BANYUWANGI MEMUTUSKAN: 1 BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 3 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LEBAK

Lebih terperinci

BUPATI KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI KETAPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 2 TAHUN 2011 Direncanakan oleh : Kasubbag Kelembagaan, IBRAHIM, S. Sos NIP. 520 010 396 Disetujui oleh : Kepala Bagian Organisasi, TENTANG PEMBENTUKAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bulungan.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bulungan. BUPATI BULUNGAN SALINAN PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BULUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN,

Lebih terperinci

BUPATI JAYAPURA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 4 TAHUN 2011

BUPATI JAYAPURA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 4 TAHUN 2011 BUPATI JAYAPURA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN JAYAPURA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA SINGKAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SINGKAWANG,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 70 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN SOSIAL BERUPA UANG UNTUK PERBAIKAN RUMAH MASYARAKAT DAN FASILITAS UMUM AKIBAT TERJADINYA BENCANA ALAM DAN BENCANA SOSIAL GUBERNUR

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 31 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KONTINJENSI BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 31 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KONTINJENSI BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat : : PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 31 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA KONTINJENSI BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, a. bahwa penyusunan rencana

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG SANTUNAN DAN BANTUAN SOSIAL BERUPA UANG UNTUK KORBAN BENCANA

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG SANTUNAN DAN BANTUAN SOSIAL BERUPA UANG UNTUK KORBAN BENCANA GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG SANTUNAN DAN BANTUAN SOSIAL BERUPA UANG UNTUK KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa penanggulangan

Lebih terperinci

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR : 360 / 009205 TENTANG PENANGANAN DARURAT BENCANA DI PROVINSI JAWA TENGAH Diperbanyak Oleh : BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH JALAN IMAM BONJOL

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK, BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 64 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK, PERALATAN DAN KEMUDAHAN AKSES PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bencana merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan dapat menimbulkan korban luka maupun jiwa, serta mengakibatkan kerusakan dan

Lebih terperinci

BUPATI KLUNGKUNG PROVINSI BALI

BUPATI KLUNGKUNG PROVINSI BALI BUPATI KLUNGKUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAN KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA PEMERINTAH PROVINSI PAPUA PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM, BUPATI KARANGASEM PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI KARANGASEM NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG URAIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN KARANGASEM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 3 Tahun 2014 Seri D Nomor 1 PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 3 Tahun 2014 Seri D Nomor 1 PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR Nomor 3 Tahun 2014 Seri D Nomor 1 PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BOGOR Diundangkan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANJAR dan BUPATI BANJAR

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANJAR dan BUPATI BANJAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TIMUR, Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman.

No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman. No.1119, 2014 KEMENHAN. Krisis Kesehatan. Penanganan. Penanggulangan Bencana. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN KRISIS KESEHATAN DALAM

Lebih terperinci

BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 27 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 27 TAHUN 2011 TENTANG SALINAN BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 27 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN JEMBRANA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DI PROVINSI

Lebih terperinci

PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATIPANDEGLANG,

PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATIPANDEGLANG, PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 22 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENGELUARAN BELANJA DALAM KEADAAN DARURAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATIPANDEGLANG, Menimbang : Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

BUKU TINJAUAN PUSAT KRISIS KESEHATAN TAHUN 2015

BUKU TINJAUAN PUSAT KRISIS KESEHATAN TAHUN 2015 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Krisis Kesehatan Jl. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Gedung A Lantai VI, Jakarta Selatan Telp. : 021 526 5043, 521 0411 Fax. : 021 527 1111 Call Center

Lebih terperinci

PEDOMAN BANTUAN PERALATAN

PEDOMAN BANTUAN PERALATAN PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PERALATAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 8 TAHUN 2014

PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 8 TAHUN 2014 PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 8 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN DARURAT BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang Mengingat : : a. bahwa untuk meringankan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 60 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 60 TAHUN 2015 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 60 TAHUN 2015 TENTANG SANTUNAN DAN BANTUAN SOSIAL PERBAIKAN SARANA DAN PRASARANA PEREKONOMIAN, RUMAH MASYARAKAT DAN FASILITAS UMUM UNTUK KORBAN BENCANA DENGAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2010

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2010 PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI DAERAH

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR, Menimbang : a. bahwa kondisi geografis

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BATANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1224, 2013 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Penanggulangan. Bencana. Bantuan. Kesehatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNPB. Bantuan logistik. Pedoman. Perubahan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNPB. Bantuan logistik. Pedoman. Perubahan. No.2081, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNPB. Bantuan logistik. Pedoman. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 24 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1389, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Penanggulangan. Krisis Kesehatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 4 Tahun : 2011 Seri : D

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 4 Tahun : 2011 Seri : D LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 4 Tahun : 2011 Seri : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi bencana yang sangat tinggi dan sangat bervariasi dari jenis bencana. Kondisi alam serta keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bencana banjir berdasarkan data perbandingan jumlah kejadian bencana di Indonesia sejak tahun 1815 2013 yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BALIKPAPAN

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BALIKPAPAN PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. WALIKOTA BALIKPAPAN,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG - 1 - PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI

Lebih terperinci

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN SITUBONDO

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN SITUBONDO BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SITUBONDO, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2080, 2014 BNPB. Logistik. Penanggulangan Bencana. Standarisasi.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2080, 2014 BNPB. Logistik. Penanggulangan Bencana. Standarisasi. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2080, 2014 BNPB. Logistik. Penanggulangan Bencana. Standarisasi. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG STANDARISASI LOGISTIK

Lebih terperinci

BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASKA BENCANA

BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASKA BENCANA BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASKA BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017 MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

2016, No Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakh

2016, No Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakh No.1368, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAKER. Hasil Pemetaan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2016 TENTANG HASIL PEMETAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG

Lebih terperinci

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara. LAMPIRAN I ZONA DAN KOEFISIEN MASING-MASING ZONA Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 Zona 5 Zona 6 Koefisien = 5 Koefisien = 4 Koefisien = 3 Koefisien = 2 Koefisien = 1 Koefisien = 0,5 DKI Jakarta Jawa Barat Kalimantan

Lebih terperinci

PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK

PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014 PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014 ACEH Tanah Longsor SUMUT Angin Puting Beliung SUMBAR Kebakaran Angin Puting Beliung KEPRI Angin Puting Beliung JAMBI Tanah Longsor KALTIM

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN ACEH BARAT DAYA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG

Lebih terperinci

Desa Hijau. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Desa Hijau. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Desa Hijau Untuk Indonesia Hijau dan Sehat Direktorat Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG PROSEDUR DAN MEKANISME PENYALURAN CADANGAN BERAS PEMERINTAH UNTUK PENANGANAN TANGGAP DARURAT

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG PROSEDUR DAN MEKANISME PENYALURAN CADANGAN BERAS PEMERINTAH UNTUK PENANGANAN TANGGAP DARURAT PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PROSEDUR DAN MEKANISME PENYALURAN CADANGAN BERAS PEMERINTAH UNTUK PENANGANAN TANGGAP DARURAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN KEPADA MASYARAKAT KORBAN BENCANA ALAM DAN MUSIBAH KEBAKARAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG DATA SASARAN PROGRAM KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SEKRETARIS

Lebih terperinci

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 32 TAHUN 2012 TENTANG

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 32 TAHUN 2012 TENTANG WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 32 TAHUN 2012 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG URAIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG URAIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG URAIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI

PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI ESA HILANG DUA TERBILANG PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI PERATURAN DAERAH KOTA TEBING TINGGI NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA TEBING TINGGI DENGAN

Lebih terperinci