Kerangka IS-LM. Sebuah Pengantar untuk Keseimbangan Permintaan Agregat (AD)

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kerangka IS-LM. Sebuah Pengantar untuk Keseimbangan Permintaan Agregat (AD)"

Transkripsi

1 7. Kerangka IS-LM Sebuah Pengantar untuk Keseimbangan Permintaan Agregat (AD) Mengapa Anda Perlu Tahu Pembahasan model keseimbangan silang Keyness mengasumsikan bahwa tingkat suku bersifat eksogen dalam perekonomian, sehingga bentuk kurva investasi adalah flat (datar). Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemahaman bahwa investasi merupakan sebuah kesatuan, karenanya dikatakan eksogen. Misalnya, pemahaman efek angka pengganda yang menyatakan perubahan satu kesatuan (contoh: investasi) akan menyebabkan peningkatan/penurunan pendapatan nasional. Selain itu, terdapat pendekatan lain yang mengasumsikan bahwa tingkat investasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, sehingga pada gilirannya akan berpengaruh pada pendapatan (pada pasar barang). Juga, tingkat suku bunga akan berpengaruh pada jumlah uang yang beredar (pada pasar uang). Bab 3 buku ini menjelaskan bahwa terdapat tiga pendekatan dalam mempelajari keseimbangan perekonomian makro, yaitu pendekatan pengeluaran silang Keyness (dibahas pada bab 4-6), keseimbangan IS-LM (dibahas dalam bab 7-9), dan pendekatan keseimbangan permintaan agregat (agregat demand-ad) dan penawaran agregat (agregat supply-as) yang akan dibahas dalam mulai bab 10. Meskipun beberapa buku hanya membahas keseimbangan AD-AS secara terpisah (tanpa mendasari dua keseimbangan sebelumnya), namun dalam beberapa buku lainnya (termasuk buku ini) kurva AD-AS didukung oleh penjelasan sebelumnya. Misalkan, kemiringan (slope kurva AD sangat dipengaruhi oleh kemiringan LM. Selain itu, kemiringan kurva AD juga dipengaruhi oleh angka pengganda (yang sebelumnya dibahas dalam keseimbangan pengeluaran model Keyness). IS-LM, Pasar Barang, dan Pasar Uang IS merupakan kependekan dari Invesment (I) dan Saving (S), sedangkan dan LM merupakan kependekan dari Liquidity (L) dan Money (M). Dalam kebanyakan pembahasan IS dan LM digabungkan dalam satu pembahasan. Hal ini karena keduanya memiliki kesamaan variabel yang mempengaruhi yaitu tingkat suku bunga. IS berada pada pasar barang sedangkan LM berada pada pasar uang. Cara pembentukan kurva IS-LM dan Pergeserannya merupakan dasar penting untuk mempelajari kurva agregat demand (AD) yang menjelaskan hubungan antara pendapatan nasional (output) pada sumbu X dan harga pada sumbu Y. Kurva AD 7-1

2 Tingkat suku bunga-i(%) merupakan salah satu topik penentu keseimbangan perekonomian nasional, di samping kurva penawaran agregat (AS). Ingat kembali tiga pokok permasalahan perekonomian yaitu inflasi, pengangguran dan tingginya pertumbuhan ekonomi. Kurva IS (Definisi, Pembentukan, Kemiringan dan Pergeseran) Definisi Kurva IS adalah kurva yang menghubungkan antara pendapatan nasional (output) pada sumbu X dan tingkat suku bunga pada sumbu Y. Ujung pembahasan kurva IS adalah bagaimana pengaruh kenaikan tingkat suku bunga terhadap output (sepanjang kurva IS) dan bagaimana pergeseran kurva IS tersebut. Pembentukan Pembentukan kurva IS diawali dengan asumsi bahwa tingkat suku bunga berpengaruh terhadap investasi (ini berbeda dengan asumsi pada keseimbangan silang Keyness). Artinya, investasi akan menurun dengan naiknya tingkat suku bunga. Misalkan pada tingkat suku bunga 8%, investasi yang ditanamkan sebesar 120 juta, dengan naiknya suku bunga menjadi 10%, maka tingkat investasi sebesar 100 juta dan seterusnya seperti pada gambar Investasi (I) Gambar 7.1 Hubungan investasi dan tingkat suku bunga Secara matematis hubungan variabel investasi dan tingkat suku bunga dapat dituliskan sebagai berikut. 7-2

3 I = I bi Di mana investasi merupakan fungsi dari investasi otonomi dan investasi yang dipengaruhi oleh besarnya tingkat suku bunga. Pembentukan kurva IS dapat dilakukan dengan dua cara, (1) dengan menurunkan secara langsung dari kurva keseimbangan, (2) menggunakan bantuan kurva hubungan saving dan investasi dalam empat kuadran. Keseimbangan perekonomian dua sektor Dalam perekonomian dua sektor keseimbangan perekonomian merupakan penambahan konsumsi dan investasi, Y = C + I C = C + cyd Pada model silang Keyness, investasi diasumsikan tetap, sedangkan dalam kerangka IS, investasi tidaklah tetap, artinya besarnya investasi dipengaruhi tingkat suku bunga, (I = I bi ), sehingga 1 Y = [C + I bi ] c Pada pembahasan sebelumnya, keseimbangan hanya memperhatikan kemiringan variabel C karena I bersifat otonomous. Akan tetapi dengan asumsi variabel I dipengaruhi tingkat suku bunga, maka kondisi keseimbangan juga mengalami perubahan. Perhatikan gambar 7.2, pada kondisi keseimbangan, pada tingkat suku bunga 12%, maka keseimbangan perekonomian pada titik A (output Y1), kemudian pada tingkat suku bungan 10%, keseimbangan perekonomian pada titik B (output Y2). Pada tingkat suku bunga 6%, maka keseimbangan terjadi pada titik D (output Y3). Jika digambar dalam sebuah grafik, maka persamaan tersebut menjadi. 7-3

4 Pengeluaran (C + I ) B C D Y=Pengeluaran C+I, i=6% C+I, i=8% C+I, i=10% C+I, i=12% C Suku bunga berpengaruh negatif pada investasi. Selanjutnya, tingkat suku bunga juga berpengaruh pada keseimbangan perekonomian. Pada tingkat suku bunga tinggi, output lebih rendah dibandingkan pada tingkat suku bunga yang rendah. A 45 0 Y 1 Y 2 Y 3 Y 4 Output (Y) Gambar 7.2 Hubungan tingkat output dan pengeluaran pada beberapa tingkat suku bunga Pembentukan Kurva IS secara langsung Ingat kembali Kurva IS merupakan kurva yang menggambarkan hubungan tingkat output pada berbagai tingkat suku bunga. Berdasarkan kurva keseimbangan perekonomian (titik keseimbangan) pada gambar 7.2 tersebut, maka kurva (persamaan IS) dapat diturunkan. i(%) 12% A Kurva IS bersifat negatif terhadap output. Output lebih rendah dengan meningkatkan tingkat suku bunga. 10% B 8% C 6% D IS Y 1 Y 2 Y 3 Y 4 Output (Y) Gambar 7.3 Pembentukan kurva IS secara langsung 7-4

5 Pembentukan Kurva dengan Empat Kuadran Pembentukan kurva IS dengan empat kuadran didekati dengan asumsi bahwa Investasi sama dengan tabungan 1. Empat kuadran tersebut adalah. (1) Kaudran pertama, hubungan antara investasi dengan tingkat suku bunga yang bersifat negatif, di mana naiknya suku bunga akan menurunkan investasi. Secara matematis formulanya adalah I = I bi (2) Kudran kedua, hubungan antara investasi dengan tabungan (saving) yang bersifat negative sempurna (uniter), di mana naiknya investasi akan menurunkan simpanan dengan besaran yang sama. Formulasi IS didapatkan dari persamaan saving dan investasi, sehingga S = I C + (1 c)y = I bi (1 c)y = C + I bi Y = C + I bi (1 c) Y = 1 (1 c) (C + I bi) (3) Kuadran ketiga, hubungan antara tingkat output dan simpanan, dimana naiknya simpanan akan menaikkan output. (4) Keuadran keempat, hubungan antara tingkat output dengan tingkat suku bunga, dimana naiknya tingkat suku bunga akan menurunkan output. Jika digambarkan dalam sebuah grafik, maka kuadran-kuadran tersebut tampak sebagai berikut. 1 I=S pada perekonomian dua sektor, jika tidak digunakan untuk konsumsi, maka perekonomian digunakan untuk Investasi. Hal ini juga dapat berlaku pada perekonomian tiga sektor dengan asumsi bahwa pengeluaran pemerintah sama dengan pajak. Lihat kembali pembahasan bab

6 Tingkat suku bunga (i) Kuadran I Kuadran IV Kurva IS Kurva IS Investasi (I) Kuadran II Kuadran III Output (Y) Kurva Tabungan Investasi = Tabungan Tabungan (S) Gambar 7.4 Penurunan Kurva IS dari bantuan kurva I = S Perjalanan akhir grafik ini adalah kurva IS yang merupakan fungsi dari tingkat suku bunga, dengan hubungan negative. Artinya semakin tinggi tingkat suku bunga, maka output semakin menurun pada pasar barang. Perhatikan gambar 7.4 kuadran IV sama dengan gambar 7.3. Kemiringan Kurva 1 Berdasarkan rumus Y = (C + I bi), diketahui bahwa kemiringan (slope) (1 c) kurva IS dapat dilihat dari nilai 1 (1 c) dan b-nya. Pertama, nilai c merupakan marginal propensity to consume (MPC). Semakin besar nilai MPC maka akan semakin landai kurva IS. Misalkan dalam perekonomian memiliki nilai C = ,75Y dan I = i, ketika nilai C berubah menjadi C = ,8Y, bagaimana bentuk kurva IS? Y = 1 (1 c) (C + I bi) 7-6

7 Pada persamaan C = ,75Y, maka Y = 1 (1 0,75) Y = i ( i) Pada persamaan C = ,8Y, maka Y = 1 (1 0,8) Y = i ( i) Pada saat MPC sebesar 0,75 dan tingkat suku bungan 5%, besarnya output sebesar 4600, sedangkan ketika MPC naik sebesar 0,8; besarnya output sebesar Seperti pada gambar 7.5 dapat dilihat bahwa pada tingkat MPC 0,8 lebih landai dibandingkan dengan pada saat MPC 0,75. i(%) 15 IS=Y= i IS=Y= i Kemiringan kurva IS tergantung pada marginal propensity to consume (MPC). Semakin besar MPC menyebabkan kurva IS landai Output (Y) Gambar 7.5 Kurva IS pada tingkat MPC yang berbeda (0,75 dan 0,8) Kedua, Semakin kecil nilai b, maka semakin tidak elastis kurva ISnya, dan sebaliknya. Untuk mempermudah pemahamahan perhatikan contoh berikut. Misalkan dalam perekonomian memiliki nilai C = ,75Y dan I = i, ketika nilai I berubah menjadi I = 200-5i, bagaimana bentuk kurva IS? Y = 1 (1 c) (C + I bi) Pada persamaan I = i, maka Y = 1 (1 0,25) ( i) 7-7

8 Y = i Pada persamaan I = 200-5i, maka Y = i Jika dibuat dalam grafik, maka kedua persamaan tersebut terlihat sebagai berikut. i(%) 15 IS=Y= i B IS=Y= i Kemiringan kurva IS tergantung pada respon investasi pada tingkat suku bunga (b). Semakin besar b menyebabkan kurva IS landai (responsif terhadap perubahan output) 10 5 D Output (Y) Gambar 7.6 Kurva IS pada tingkat b (respon investasi karena tingkat suku bunga)yang berbeda Pergeseran Kurva IS Kemiringan kurva IS menjelaskan bagamaina responsivitas perubahan variabel tingkat suku bunga dan marginal propensity to consume terhadap output. Terdapat variabel lain yang dapat menggeser output pada tingkat suku bunga yang sama. Variabel tersebut adalah variabel yang eksogen berpengaruh terhadap output. Pergeseran kurva tersebut tergantung dari besarnya tambahan variabel otonomi dikalikan dengan angka pengganda variabel tersebut. Pergeseran tersebut dapat dilihat dalam grafik berikut. Pada saat kurva IS1, besarnya output pada Y1 sedangkan pada saat IS 2 besanya output sebesar Y 2 atau mengalami kenaikan sebesar ΔY. 7-8

9 i(%) i k,δi Pergeseran kurva IS 1 ke IS 2 disebabkan adanya penambahan investasi. Peregeseran tersebut akan menggeser output sebesar tambahan investasi dan angka pengganda output. IS 1 IS 2 ΔY Y 1 Y 2 Output (Y) Gambar 7.7 Pergeseran kurva IS akibat penambahan investasi autonomous Dalam perekonomian yang lebih komplek, pergeseran kurva IS dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lebih lengkap. Misalnya dalam perekonomian empat sektor pergeseran kurva IS dapat bergeser ke sebelah kanan dan dapat bergeser ke sebelah kiri juga. Ingat kembali keseimbangan perekonomian empat sektor. Y = C ctx + ctr + I + G + X, (1 c + ct + m) Variabel I diatas adalah variabel I yang tidak terpengaruh karena tingkat suku bunga. Dengan adanya tingkat suku bunga, maka formulasi di atas menjadi: Y = C ctx + ctr + I + G + X bi, (1 c + ct + m) Dari formulasi di atas diketahui bahwa terdapat variabel otonomous yang bertanda negatif yaitu ctx. Tanda negatif ini berarti bahwa pergeseran kurva IS ke arah kiri, akibatnya output akan mengalami penurunan. Jika digambarkan dalam sebuah grafik akan nampak sebagai berikut. 7-9

10 i(%) i k,δtx Adanya penambahan jumlah pajak akan menggeser kurva IS ke kiri, pada gilirannya akan menurunkan (menggeser output lebih rendah). ΔY IS 2 IS 1 Y 2 Y 1 Output (Y) Gambar 7.8 Pergeseran kurva IS akibat penambahan pajak autonomus Sebagai penutup bab ini dijelaskan bahwa kurva IS terbentuk dari respon masyarakat untuk berinvestasi pada tingkat suku bunga. Selanjutnya, tingkat suku bunga berpengaruh pada output melalui mekanisme keseimbangan, Y = C + I pada perekonomian sederhana dan Y = C + I + G + (X M) pada perekonomian terbuka. Besar kecilnya pengaruh tingkat suku bunga tergantung pada besarnya nilai angka pengganda. Istilah-Istilah Penting Investment-saving (IS) Pembentukan kurva IS secara langsung Pembentukan kurva IS empat kuadran Kemiringan kurva IS (slope) Pergeseran kurva IS (shifting of IS) Respon investasi pada tingkat suku bunga Soal-soal Jawaban Pendek 1. Kurva IS merupakan hubungan antara...dan. 2. Semakin tinggi tingkat suku bunga, maka output akan semakin Terdapat dua cara pembentukan kurva IS, yaitu. 4. Semakin tinggi tingkat responsivitas investasi pada tingkat suku bunga, maka kemiringan kurva IS akan semakin 7-10

11 5. Terkait kemiringan kurva IS, semakin besar nilai MPC, maka kurva IS akan semakin.. 6. Misalkan dalam perekonomian memiliki nilai C = ,70Y dan I = i, ketika nilai I berubah menjadi I = i, maka bentuk kurva IS akan semakin 7. Adanya penambahan investasi otonomous (ΔI) akan menyebakan pergeseran output ke sebelah (cateris paribus). 8. Adanya penambahan pajak otonomous (ΔTx) akan menyebakan pergeseran output ke sebelah (cateris paribus). Pertanyaan Benar-Salah 1. Kurva IS merupakan kurva yang menghubungkan antara output dan tingkat suku bunga. 2. Kurva IS berhubungan positif artinya semakin tinggi tingkat suku bunga, output semakin besar. 3. Kemiringan kurva IS akan ditentukan oleh responsivitas investasi pada tingkat suku bunga. 4. Selain oleh respon investasi terhadap tingkat suku bunga, kemiringan kurva IS ditentukan oleh marginal propensity to consume. 5. Pada perekonomian dua sektor, pergeseran kurva IS ditentukan oleh konsumsi dan investasi otonom. 6. Semakin tinggi semakin landai kurva IS, maka responsivitas kurva tersebut terhadap perubahan tingkat suku bunga semakin besar. 7-11

12 Kurva LM (Definisi, Pembentukan, Kemiringan dan Pergeseran) Kurva LM merupakan kurva yang menghubungkan antara pendapatan nasional (output) pada sumbu X dan tingkat suku bunga pada sumbu Y dengan hubungan yang bersifat positif. Artinya semakin besar tingkat suku bunga, maka tingkat output akan semakin besar. Ujung pembahasan sepanjang kurva ini adalah bagaimana pengaruh perubahan tingkat suku bunga pada perubahan tingkat output. Pembentukan Kurva IS menghubungkan antara tingkat suku bunga dengan output pada pasar barang, sedangkan kurva LM menghubungkan antara tingkat suku bunga dengan output pada pasar uang. Untuk membahas pasar uang diperkenalkan istilah permintaan dan penawaran uang (supply and demand for Money). Pada bab 3 terdapat beberapa pendekatan dalam membahas pasar uang yaitu menurut aliran klasik, aliran Keyness, dan aliran sesudahnya. Aliran Klasik hanya penekankan permintaan uang untuk transaksi, sedangkan Keyness menekankan permintaan uang transaksi, berjaga-jaga, dan berspekulasi. Sedangkan aliran sesudahnya menekankan permintaan uang untuk bertransaksi dan sebagai penyimpan kekayaan. Permintaan Uang Dari sisi permintaan, motif orang meminta uang adalah untuk bertransaksi (dalam bentuk uang tunai) dan untuk disimpan sebagai penyimpan kekayaan (store of value). Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh pendapatan, sehinggga Lt = f(y) Lt = ky Dimana Lt = jumlah uang yang diminta untuk transaksi, k merupakan respon jumlah uang yang diminta atas perubahan pendapatan yang biasanya bertanda positif, dan Y merupakan pendapatan. Dari formulasi tersebut dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi pendapatan, maka jumlah uang yang digunakan untuk transaksi juga akan mengalami kenaikan. Menurut kaum klasik motiv masyarakat memegang uang adalah untuk transaksi, sedangkan menurut Keynes menjelaskan bahwa motif masyarakat memegang uang adalah untuk (1) transaksi, (2) berjaga-jaga dan (3) berspekulasi. Tujuan pertama dan kedua berhubungan dengan pendapatan, sedangkan untuk ketiga sangat berhubungan dengan tingkat suku bunga dengan hubungan yang terbalik. Berikut diberikan contoh. Perhatikan contoh berikut, saat output Rp 1000 M, maka jumlah uang untuk transksai sebesar Rp 300M, selanjutnya saat output Rp 1250M permintaan uang untuk transasi sebesar Rp 350M seperti yang terlihat pada tabel 7.9. Di sisi lain, saat tingkat suku Bungan 11%, permintaan uang untuk simpanan sebesar Rp30 M, 7-12

13 selanjutnya saat tingkat suku bunga 10%, maka permintaan untuk simpanan kekayaan naik menjadi Rp 35M dan seterusnya. Hingga saat tingkat suku bunga turun menjadi 5%, maka permintaa uang naik menjadi Rp 60M. Tabel 7.9 Permintaan uang untuk transaksi pada tingkat output, dan permintaan uang untuk simpanan kekayaan pada tingkat suku bunga Output (Y) Permintaan uang untuk transaksi (Lt) Tingkat suku bunga (%) Permintaan uang untuk simpanan kekayaan (Ls) Uang sebagai penyimpan kekayaan terdiri dari simpanan dalam bentuk uang, saham, obligasi, dan asset riel lainnya seperti tanah dan bangunan. Saham, obligasi atau investasi property merupakan bentuk lemah dari simpanan kekayaan karena bersifat tidak mudah diuangkan dalam waktu dekat (tidak liquid). Pengalokasian dalam pilihan dari empat bentuk kekayaan tersebut sangat dipengaruhi oleh total dari kepemilikan tersebut dan kesediaan terhadap resiko dan pasar tingkat suku bunga. Orang yang memiliki kepemilikan terbatas dan kesediaan menghadapi risiko yang rendah akan mengalokasikan dalam bentuk uang yang lebih besar dibandingkan asset yang tidak liquid. Dalam hal ini nilai kekayaan (store of value) tidak dipengaruhi tingkat suku bunga. Atau dengan kata lain dalam jangka pendek permintaan uang tidak terdampak dari tingkat suku bunga, keseimbangan kekayaan tidak berubah saat tingkat suku bunga tetap. Orang yang memiliki kekayaan lebih (besar), akan mengalokasikan kekayaannya pada berbagai macam bentuk kekayaan baik uang, saham, obligasi, dana atau aset riel. Permintaan uang untuk penyimpan kekayaan ini dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dengan hubungan yang terbalik. Artinya semakin tinggi tingkat suku bunga, maka uang yang diminta untuk kekayaan akan berkurang. Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut. Ls = f(i) Ls = hi Ls adalah permintaan uang simpanan kekayaan, h adalah respon jumlah uang yang diminta karena perubahan tingkat suku bunga. Permintaan uang merupakan penjumlah uang untuk transaksi dan uang untuk simpanan, L = Lt + Ls 7-13

14 Tingkat suku bunga (%) L = ky - hi Berdasarkan formulasi tersebut dapat dijelaskan bahwa permintaan uang dipengaruhi oleh output dan tingkat suku bunga. Angka k merupakan kecenderungan bertransaksi, sedangkan angka h merupkan kecenderungan uang untuk disimpan. Perhatikan tabel berikut Tabel 7.10 Permintaan uang untuk transaksi pada tingkat output, dan permintaan uang untuk simpanan kekayaan pada tingkat suku bunga Output (Y) Permintaan uang untuk transaksi (ky) k = 0,2 Suku bunga (i) Permintaan uang untuk simpanan (hi) h= a. Output dan uang untuk transaksi b. suku bunga dan uang untuk simpanan Pada tingkat suku bunga tetap, perubahan output akan menggeser kurva permintaan uang. Pada tingkat output tetap, perubahan tingkat suku bunga akan menaikturunkan permintaan uang Permintaan uang merupakan fungsi uang untuk bertransaksi dan untuk simpanan kekayaan. Tingkat suku bunga berhubungan terbalik dengan permintaan uang. 6 5 L 1 (Y 1 =1500) L 1 (Y 2 =1750) Permintaan uang (Rpmilyar) Gambar 7.9 Kurva permintaan uang 7-14

15 Penawaran Uang Penawaran uang merupakan besarnya uang yang disediakan oleh pemerintah melalui bank sentral, yaitu Bank Indonesia. Pemerintah memiliki instrumen khusus untuk mengatur jumlah uang yang beredar. Jika pemerintah ingin menambah uang yang beredar, maka pemerintah melakukan penambahan pencetakan uang. Selanjutnya, jika pemerintah ingin menarik jumlah uang yang beredar, maka pemerintah dapat mengatur dengan kebijakan operasi pasar dengan penerbitan obligasi pemerintah, dan sebagainya. Jumlah uang yang disediakan ini tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, akan tetapi dapat mempengaruhi perekonomian secara umum. Karenanya, besarnya penawaran uang bersifat eksogen, diberi simbol, M. Secara grafis, kurva penawaran uang dapat digambarkan sebagai berikut (karena permintaan uang merupakan hubungan antara jumlah uang yang diminta dengan tingkat suku bunga, maka penawaran uang merupakan hubungan antara penawaran uang dan tingkat suku bunga). i(%) Jumlah uang yang ditawarkan bersifat eksogen terhadap tingkat suku bunga i2 i1 Gambar 7.10 Kurva penawaran uang Karena bersifat eksogen, maka penawaran uang digambarkan dalam sebuah garis vertical. Artinya, jumlah uang beredar tidak tergantung besarnya tingkat suku bunga. Penurunan (Pembentukan) Kurva LM Dari persamaan permintaan dan penawaran tersebut dapat dibuat sebuah keseimbangan yang disebut dengan kesimbangan pasar uang, atau sering disebut dengan kurva L M. Kurva LM adalah kurva yang menghubungkan antara permintaan uang dan penawaran uang pada titik keseimbangan. L = M ky hi = M ky = M + hi Y = M + k (h )i k 7-15

16 Berdasarkan fungsi tersebut, maka dapat dibuat kurva LM. Perhatikan contoh berikut. Misalkan penawaran uang sebesar Rp (940milyar), respon masyarakat terhadap perubahan pendapatan (output) sebesar 0,2, respon masyarakat dalam memegang uang dengan tingkat suku bunga sebesar 5 kali. Tentukan besarnya output pada masingmasing tingkat suku bunga 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10%! Jawab. Persamaan permintaan uang adalah L = Lt + Ls ky hi, dengan memasukkan angka dalam contoh tersebut, maka L = 0,2Y 5i. Pada contoh di atas, tingkat suku bunga sudah diketahui. Maka pada tingkat pendapatan berapakah keseimbangan akan tercapai?. Penawaran uang adalah M = 940 Untuk memudahkan perhitungan, maka dibuat tabel sebagai berikut. Tabel 7.11 Penawaran uang pada tingkat output dan tingkat suku bunga Suku bunga Penawaran k h Y Keseimbangan ( i %) (Rpmilyar) (Rpmilyar) ,850 A ,875 B ,900 C ,925 D ,950 E Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat dibuat grafik keseimbangan antara permintaan uang dan penawaran uang sebagaimana berikut. 7-16

17 Suku bunga (%) i(%) Dengan asumsi k dan h tetap, maka keseimbangan akan tercapai jika tingkat suku bunga dan pendapatan mengalami kenaikan E D C B A 940 L(Y 1 =4950) L(Y 1 =4925) L(Y 1 =4900) L(Y 1 =4875) L(Y 1 =4850) Gambar 7.11 Keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang Dengan menghubungkan antara pendapatan pada sumbu Y dan tingkat suku bunga pada sumbu X pada titik keseimbangan permintaan dan penawaran uang, maka akan didapatkan kurva LM sebagai mana berikut A` B` C` D` E` LM Kurva LM menggambarkan output pada berbagai tingkat suku bunga yang dengan hubungan positif ,830 4,860 4,890 4,920 4,950 Output (Rp milyar) 4,980 Gambar 7.12 Pembentukan kurva LM secara langsung Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kurva LM terbentuk dari permintaan uang yang sangat dipengaruhi oleh pendapatan dan tingkat suku bunga, dan penawaran uang yang bersifat eksogen (autonomous). 7-17

18 Suku bunga (%) Kemiringan (Slope) Kurva LM Kemiringan kurva LM berarti seberapa besar responsivitas perubahan pendapatan (output) nasional akibat adanya perubahan tingkat suku bunga. Tampilkan kembali rumus 7.4 Y = M k + (h k )i Saat penawaran uang, M, bersifat eksogen (otonom), maka perubahan pendapatan nasional akan tergantung perubahan nilai respon jumlah uang yang diminta atas perubahan tingkat suku bunga, h, dan respon jumlah uang yang diminta untuk transaksi,k. Semakin besar respon jumlah uang yang diminta atas perubahan tingkat suku bunga (semakin besar nilai h), maka kurva LM cenderung landai, dan sebaliknya. Contoh Misalkan penawaran uang sebesar 200, dan permintaan uang adalah ky-hi. Saat k = 0,2 dan h sebesar 5, maka rumus LM adalah Y = i. Saat h meningkat menjadi 10 dengan asumsi variabel bersifat tetap, maka rumus LM menjadi Y = i. Saat h meningkat menjadi 15, maka rumus LM menjadi Y = i.Untuk mempermudah pemahaman dapat dilihat grafik berikut LM saat h=5 LM saat h=10 LM saat h=15 Kemiringan kurva LM tergantung nilai h dan nilai k. Semakin besar nilai h, maka kurva LM semakin landai, dan sebaliknya. Semakin tinggi nilai k, maka kurva LM akan semakin tajam, dan sebaliknya. 2 4,800 4,900 5,000 5,100 5,200 5,300 Output (Rp milyar) 5,400 5,500 Gambar 7.13 Bntuk kurva LM dengan pada berbagai tingkat renponsifitas masyarakat 7-18

19 Suku bunga (%) Pergeseran Kurva LM Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dapat menyebabkan pergeseran kurva LM? Pergeseran kurva LM berarti berubahnya pendapatan nasional tanpa pengaruh tingkat suku bunga. Perhatikan kembali rumus 7.4 Y = M k + (h k )i Dari formulasi tersebut dapat diketahui bahwa pergeseran Y (ΔY) dapat dilakukan dengan perubahan M (ΔM ) dan juga besarnya k. Artinya pergeseran kurva LM dapat dilakukan baik dari sisi penawaran uang maupun permintaan uang. Penambahan penawaran uang akan menggeser kurva LM ke sebelah kanan, sedangkan pengurangan penawaran uang akan menggeser kurva LM ke sebelah kiri. Perubahan koefesien k dan h berdampak pada posisi kurva LM dan juga pada kemiringan (slope)nya. Semakin besar koefesien k (keinginan konsumen meminta uang untuk transaksi) akan menyebabkan pergeseran kurva LM ke sebelah kiri LM saat M=200 LM saat M=300 Pergeseran kurva LM tergantung nilai M dan koefesien k dan koefesien h. Semakin besar nilai M, maka kurva LM bergeser ke kanan, dan sebaliknya. 2 5,100 5,300 5,500 5,700 Output (Rp milyar) 5,900 Gambar 7.14 Pergeseran kurva LM akibat perubahan penawaran uang Dipertegas kembali bahwa kurva LM terbentuk dari interakasi antara output pada berbagai tingkat suku bunga yang merupakan fungsi dari permintaan dan penawaran uang. Penawaran uang bersifat eksogen (ditentukan oleh pemerintah), sedangkan permintaan uang tergantung kegunaan masyarakat baik untuk bertransaki maupun sebagai penyimpan kekayaan. Motif uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, sedangkan motif uang untuk menyimpan kekayaan dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dengan hubungan terbalik, artinya semakin tinggi tingkat suku 7-19

20 bunga, maka keinginan masyarakat untuk menyimpan uang dalam bentuk penyimpan kekayaan akan semakin kecil. Artinya masyarakat cenderung menyimpan uang dalam bentuk tunai. Istilah-Istilah Penting - Permintaan uang (demand for money) - Penawaran uang (supply for money) - Uang untuk transaksi (transaction demand for money) - Uang simpanan kekayaan (store of value) - Likudiitas (liquidity) - Kurva LM - Kemiringan (slope) LM - Pergeseran (shifting) LM Soal-Soal Jawaban Pendek 1. Kurva yang menghubungkan antara pendapatan (pada sumbu X) dan tingkat suku bunga (pada sumbu Y) disebut dengan.. 2. Dalam perekonomian, paling tidak terdapat dua motif permintaan uang yaitu.. 3. Motif permintaan uang untuk transaksi berhubungan positif dengan 4. Motif permintaan uang untuk berjaga-jaga berhubungan negative dengan. 5. Penawaran uang merupakan suatu yang bersifat eksogen (autonomus), artinya.. 6. Y = M )i merupakan persamaan untuk kurva LM, artinya semakin tinggi jumlah k + (h k uang beredar, M, dan tingkat suku bunga, i, maka pendapatan nasional akan semakin tinggi, namun demikian ada faktor pengontrol berupa k dan h. Jelaskan factor k dan h tersebut. 7. Faktor penentu kemiringan (slope) kurva LM adalah 8. Faktor penentu pergeseran (shifting)kurva LM adalah

21 Petanyaan Benar Salah 1. Keinginan menggunakan uang untuk transaksi merupakan satu-satunya alasan motif permintaan uang. 2. Semakin tinggi pendapatan (output) maka kecenderungan untuk menggunakan uang untuk bertransaksi akan semakin tinggi. 3. Semakin rendah tingkat suku bunga, maka kecenderungan masyarakat untuk memegang uang akan semakin tinggi. 4. Faktor yang mempengaruhi slope kurva LM adalah perilaku (kecenderungan) atas perubahan tingkat suku bunga, dan perilaku (kecenderungan) atas perubahan tingkat pendapatan. 5. Faktor yang mempengaruhi pergeseran kurva LM adalah perubahan penawaran uang dan perilaku masyarakat atas tingkat suku bunga, dan perilaku masyarakat atas pendapatan

Model Keseimbangan Pengeluaran dengan Campur Tangan Pemerintah

Model Keseimbangan Pengeluaran dengan Campur Tangan Pemerintah 5. Model Keseimbangan Pengeluaran dengan Campur Tangan Pemerintah Mengapa Anda Perlu Tahu Kita tulis kembali krisis yang melanda Indonesia tahun 1997 sebagai momentum memasukkan peran pemerintah dalam

Lebih terperinci

Model Keseimbangan Pengeluaran Dua Sektor

Model Keseimbangan Pengeluaran Dua Sektor 4. Model Keseimbangan Pengeluaran Dua Sektor Mengapa Anda Perlu Tahu Ketika seseorang bekerja pada perusahaan atau pemerintah maka dia akan mendapatkan gaji. Tentu, gaji yang didapatkan perlu dipotong

Lebih terperinci

EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM. Oleh : Nur Baladina, SP. MP.

EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM. Oleh : Nur Baladina, SP. MP. EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM Oleh : Nur Baladina, SP. MP. Konsep Dasar Analisis IS-LM Model IS-LM memadukan ide-ide aliran pemikiran Klasik dengan Keynes, sering disebut sebagai sintesis Klasik-Keynesian,

Lebih terperinci

KURVA IS-LM. a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP

KURVA IS-LM. a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP KURVA IS-LM a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP Referensi Bahan ajar kurva IS LM Profesor Nuhfil Hanani diakses dari http://nuhfil.lecture.ub.ac.id/files/2009/03/4-makro-4-analisis-is-lm-nuhfil.pdf

Lebih terperinci

Permintaan Agregat dalam Perekonomian Tertutup: Perilaku Pasar Barang dan Pasar Uang

Permintaan Agregat dalam Perekonomian Tertutup: Perilaku Pasar Barang dan Pasar Uang Modul 1 Permintaan Agregat dalam Perekonomian Tertutup: Perilaku Pasar Barang dan Pasar Uang Arief Ramayandi, S.E., MecDev., Ph.D. Ari Tjahjawandita, S.E., M.Si. M PENDAHULUAN odul ini akan menjelaskan

Lebih terperinci

Teori Klasik tentang Permintaan Uang

Teori Klasik tentang Permintaan Uang Keseimbangan pasar uang tercapai ketika terjadi keseimbangan antara permintaan uang dengan penawaran uang (Md = Ms). Dari keseimbangan tersebut akan terbentuk kurva LM yang mencerminkan titik-titik keseimbangan

Lebih terperinci

Kerangka Belajar Ekonomi Makro Pandangan Klasik, Keyness dan Sesudahnya

Kerangka Belajar Ekonomi Makro Pandangan Klasik, Keyness dan Sesudahnya 3. Kerangka Belajar Ekonomi Makro Pandangan Klasik, Keyness dan Sesudahnya Mengapa Anda Perlu Tahu Tahun 1997 Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi yang disebabkan oleh krisis moneter di Asia. Secara

Lebih terperinci

IV. MODEL ANALISIS IS-LM

IV. MODEL ANALISIS IS-LM Nuhfil Hanani 1 IV. MODEL ANALISIS IS-LM 4.1. Pasar Barang dan Kurve IS Dalam upaya sistematisasi pembahasan ekonomi makro, kita bedakan struktur perekonomian menjadi dua, yaitu : (1) perekonomian tertutup

Lebih terperinci

Keseimbangan di Pasar Uang

Keseimbangan di Pasar Uang Keseimbangan di Pasar Uang Motivasi Memiliki Uang Motivasi spekulasi Motivasi transaksi Motivasi berjaga-jaga Kelembagaan Pasar Dibutuhkan untuk membantu interaksi antara pelaku-pelaku ekonomi Memiliki

Lebih terperinci

KURVA IS-LM. a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP. Bahan Ajar Kurva IS-LM - Mayang Adelia Puspita, SP. MP

KURVA IS-LM. a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP. Bahan Ajar Kurva IS-LM - Mayang Adelia Puspita, SP. MP KURVA IS-LM a lecturing note Mayang Adelia Puspita, SP. MP Referensi Bahan ajar kurva IS LM Profesor Nuhfil Hanani diakses dari http://nuhfil.lecture.ub.ac.id/files/2009/03/4-makro-4-analisis-is-lm-nuhfil.pdf

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN di PASAR UANG. Minggu 11

KESEIMBANGAN di PASAR UANG. Minggu 11 KESEIMBANGAN di PASAR UANG Minggu 11 Pendahuluan Keseimbangan pasar uang tercapai ketika terjadi keseimbangan antara permintaan uang dengan penawaran uang (Md = Ms). Dari keseimbangan tersebut akan terbentuk

Lebih terperinci

Suku Bunga dan Nilai Waktu Uang

Suku Bunga dan Nilai Waktu Uang Suku Bunga dan Nilai Waktu Uang Pengertian Suku Bunga Suku bunga merupakan harga yang dibayar untuk dana atau modal Pergerakan Suku Bunga Suku Bunga S f Teori Loanable Funds Fokus teori ini ada pada penawaran

Lebih terperinci

IV. FUNGSI PENDAPATAN (Penerapan Fungsi Linear dalam Teori Ekonomi Makro)

IV. FUNGSI PENDAPATAN (Penerapan Fungsi Linear dalam Teori Ekonomi Makro) IV. FUNGSI PENDAPATAN (Penerapan Fungsi Linear dalam Teori Ekonomi Makro) Yang dimaksud fungsi pendapatan disini adalah Pendapatan Nasional (Y) yaitu pendapatan masyarakat suatu negara secara keseluruhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel

BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel BAB II TINJAUAN TEORI Bab ini membahas mengenai studi empiris dari penelitian sebelumnya dan landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel dalam kebijakan moneter dan

Lebih terperinci

Pengertian Suku Bunga. Suku bunga merupakan harga yang

Pengertian Suku Bunga. Suku bunga merupakan harga yang Suku Bunga dan Nilai Waktu Uang Pengertian Suku Bunga Suku bunga merupakan harga yang dibayar untuk dana atau modal Pergerakan Suku Bunga Teori Loanable Funds Fokus teori ini i ada pada penawaran (supply)

Lebih terperinci

MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT

MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT Permintaan agregat adalah permintaan keseluruhan total atau permintaan seluruh lapisan masyarakat. Permintaan agregat terbentuk : 1. Dibentuk oleh pasar

Lebih terperinci

PEMBAHASAN SOAL UJI COBA PRA UN KABUPATEN

PEMBAHASAN SOAL UJI COBA PRA UN KABUPATEN PEMBAHASAN SOAL UJI COBA PRA UN KABUPATEN 1. Berikut perilaku konsumen menggunakan pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal: (1) Tingkat kepuasan konsumen hanya bisa dibandingkan (2) Kepuasan konsumen

Lebih terperinci

MODEL IS DARI PASAR BARANG DAN MODEL LM DARI PASAR UANG. Chapter Ten 1

MODEL IS DARI PASAR BARANG DAN MODEL LM DARI PASAR UANG. Chapter Ten 1 MODEL IS DARI PASAR BARANG DAN MODEL LM DARI PASAR UANG. Chapter Ten 1 Model Keynes diartikan berbeda-beda oleh banyak orang. Hal yang berguna untuk memikirkan model Keynes buku teks dasar sebagai perincian

Lebih terperinci

BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM )

BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM ) BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM ) Setelah mempelajari mengenai pendapatan nasional dan memahami sekilas perbedaan pandangan antara ekonom Klasik dan Keynesian, yang masing

Lebih terperinci

Keseimbangan Umum IS-LM

Keseimbangan Umum IS-LM Keseimbangan umum terjadi apabila pasar barang dan pasar uang berada dalam keseimbangan secara bersama-sama. Dari keseimbangan tersebut diperoleh keseimbangan pendapatan nasional dan keseimbangan tingkat

Lebih terperinci

TEORI KONSUMSI DAN TEORI INVESTASI. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

TEORI KONSUMSI DAN TEORI INVESTASI. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM TEORI KONSUMSI DAN TEORI INVESTASI Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik a. Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi

Lebih terperinci

Permintaan dan Penawaran Uang

Permintaan dan Penawaran Uang Permintaan dan Penawaran Uang Teori Permintaan Uang 1. Quantity Theory of Money 2. Liquidity Preference Theory 3. Milton Friedman Theory Quantity Theory of Money...1 Dikembangkan oleh Irving Fisher Menjelaskan

Lebih terperinci

Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang. Minggu 12

Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang. Minggu 12 Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang Minggu 12 Pendahuluan Keseimbangan umum terjadi apabila pasar barang dan pasar uang berada dalam keseimbangan secara bersama-sama. Dari keseimbangan tersebut

Lebih terperinci

Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi ditentukan

Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi ditentukan Teori dlm ekonomi: 1. Teori klasik Keinginan masyarakat untuk menabung dan keinginan pengusaha untuk meminjam dana modal untuk investasi ditentukan suku bunga. Makin tinggi tingkat bunga maka makin tinggi

Lebih terperinci

BAB 2. Keseimbangan Perekonomian Dua Sektor (Tertutup Sederhana)

BAB 2. Keseimbangan Perekonomian Dua Sektor (Tertutup Sederhana) BAB 2 Keseimbangan Perekonomian Dua Sektor (Tertutup Sederhana) Perekonomian tertutup merupakan perekonomian yang tidak mengenal hubungan ekonomi dengan negara lain (seperti ekspor, transaksi impor, transaksi

Lebih terperinci

KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND AD) PADA DIAGRAM AD AS (AGGREGATE SUPPLY - PENAWARAN AGREGAT) BERDASARKAN FUNGSI DARI SETIAP KOMPONEN AD

KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND AD) PADA DIAGRAM AD AS (AGGREGATE SUPPLY - PENAWARAN AGREGAT) BERDASARKAN FUNGSI DARI SETIAP KOMPONEN AD Bahan 4a - Kurva Permintaan Agregat Pada Diagram AD-A KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AGGREGATE DEMAND AD) PADA DIAGRAM AD A (AGGREGATE UPPLY - PENAWARAN AGREGAT) BERDAARKAN FUNGI DARI ETIAP KOMPONEN AD I. BERDAARKAN

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN AGREGAT DEMAND AGREGAT SUPPLY

KESEIMBANGAN AGREGAT DEMAND AGREGAT SUPPLY KESEIMBANGAN AGREGAT DEMAND AGREGAT SUPPLY L Suparto LM,.M.Si AGREGAT DEMAND-AGREGAT SUPPLY Dengan memperkenalkan peranan uang dalam perekonomian, dan menerangkan teori Keynes yang menyatakan bahwa tingkat

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN EKONOMI Melihat lebih mendalam keseimbangan Pendapatan Nasional yang ditentukan oleh Pengeluaran Agregat ( Pendekatan Keynesian )

KESEIMBANGAN EKONOMI Melihat lebih mendalam keseimbangan Pendapatan Nasional yang ditentukan oleh Pengeluaran Agregat ( Pendekatan Keynesian ) KESEIMBANGAN EKONOMI Melihat lebih mendalam keseimbangan Pendapatan Nasional yang ditentukan oleh Pengeluaran Agregat ( Pendekatan Keynesian ) PREPARED BY : S. K.TOMASOA, SE.,M.Si. Keseimbangan Ekonomi

Lebih terperinci

Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI

Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI 1 Pertemuan ke-4 KONSUMSI DAN INVESTASI Tujuan Instruksi Khusus: Mahasiswa dapat memahami hubungan nilai variable permintaan agregat (keynessian), pendapatan nasional keseimbangan dan sistem keuangan.

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT DI INDONESIA

ANALISIS PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT DI INDONESIA ANALISIS PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT DI INDONESIA YUSNIA RISANTI Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura Abstrak

Lebih terperinci

III. KERANGKA TEORITIS

III. KERANGKA TEORITIS III. KERANGKA TEORITIS 3.1. Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter Kebijakan fiskal mempengaruhi perekonomian (pendapatan dan suku bunga) melalui permintaan agregat pada pasar barang, sedangkan kebijakan

Lebih terperinci

= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1)

= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1) Inflasi adalah kecendrungan meningkatnya harga-harga barang secara umum dan terus menerus. Kenaikkan harga satu atau dua barang tidak bisa disebut sebagai inflasi, kecuali jika kenaikkan harga barang itu

Lebih terperinci

BAB 3 KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR (TERTUTUP)

BAB 3 KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR (TERTUTUP) BAB 3 KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR (TERTUTUP) 3.1 Aliran Pendapatan dan Syarat Keseimbangan Perekonomian tiga sektor diartikan sebagai perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga, perusahaan

Lebih terperinci

Model IS-LM. Lanjutan... Pasar Barang & Kurva IS 5/1/2017. PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)

Model IS-LM. Lanjutan... Pasar Barang & Kurva IS 5/1/2017. PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM) Model IS-LM PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan IS-LM) Model IS-LM adalah interpretasi terkemuka dari teori Keynes. Tujuan dari model ini adalah untuk menunjukkan apa yang menentukan pendapatan nasional

Lebih terperinci

PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)

PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM) PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM) Model IS-LM Model IS-LM adalah interpretasi terkemuka dari teori Keynes. Tujuan dari model ini adalah untuk menunjukkan apa yang menentukan pendapatan

Lebih terperinci

DERIVASI FUNGSI DAN KURVA IS

DERIVASI FUNGSI DAN KURVA IS Bahan 4b IS & LM Pada Y-i dan AD Pada Y-P DERIVASI FUNGSI DAN KURVA IS 1. Definisi kurva IS Kurva IS adalah kurva atau lokasi (locus) dari semua titik keseimbangan di sektor riil, Y = AD, pada setiap tingkat

Lebih terperinci

Pengantar Ekonomi Makro

Pengantar Ekonomi Makro PROGRAM STUDI AKUNTANSI PERPAJAKAN Pengantar Ekonomi Makro Matakuliah : Pengantar Ilmu Ekonomi Pengajar : Dany Juhandi, S.P, M.Sc Amelira Haris Nasution, S.P, M.Si Semester : I Pertemuan : 8 Pokok Bahasan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perbankan. Dimana sektor perbankan menjadi pondasi pembangunan nasional

I. PENDAHULUAN. perbankan. Dimana sektor perbankan menjadi pondasi pembangunan nasional I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian Indonesia saat ini sudah tidak dapat terpisahkan lagi dengan sektor perbankan. Dimana sektor perbankan menjadi pondasi pembangunan nasional dalam mengumpulkan

Lebih terperinci

MAKALAH EKONOMI MAKRO PERANAN UANG, PERMINTAAN, DAN PENAWARAN AKAN UANG

MAKALAH EKONOMI MAKRO PERANAN UANG, PERMINTAAN, DAN PENAWARAN AKAN UANG MAKALAH EKONOMI MAKRO PERANAN UANG, PERMINTAAN, DAN PENAWARAN AKAN UANG Disusun guna memenuhi tugas Mata kuliah: Ekonomi Makro Dosen pengampu: Agus arwani,m.ag Disusun oleh : 1. Diah Purnamasari 2013116224

Lebih terperinci

Pembahasan Soal UTS PTE Makro 2016/2017

Pembahasan Soal UTS PTE Makro 2016/2017 Pembahasan Soal UTS PTE Makro 2016/2017 1. Ekonomi makro adalah cabang dari ilmu ekonomi yang membahas? : C. Perekonomian secara agregatif Alasan : Teori Ekonomi Makro adalah suatu cabang ilmu ekonomi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Mankiw, 2006: 145). Ini tidak berarti bahwa harga harga berbagai macam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Mankiw, 2006: 145). Ini tidak berarti bahwa harga harga berbagai macam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Inflasi Salah satu peristiwa modern yang sangat penting dan yang selalu dijumpai dihampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah

Lebih terperinci

KONSUMSI DAN INVESTASI. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

KONSUMSI DAN INVESTASI. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM KONSUMSI DAN INVESTASI Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Penentuan Kegiatan Ekonomi: 1. Pandangan Klasik a. Di dalam perekonomian terjadi keadaan di mana jumlah keseluruhan penawaran barang- barang (penawaran

Lebih terperinci

Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE., MP Peneliti dan Pengamat Ekonomi Pedesaan Blog:

Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE., MP Peneliti dan Pengamat Ekonomi Pedesaan Blog: Pokok Bahasan 3 PENENTUAN KEGIATAN EKONOMI Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email: asyahza@yahoo.co.id; syahza.almasdi@gmail.com Guru Besar Universitas Riau Pandangan Klasik, Keynes

Lebih terperinci

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value).

Uang EKO 2 A. PENDAHULUAN C. NILAI DAN JENIS-JENIS UANG B. FUNGSI UANG. value). A. PENDAHULUAN Uang adalah suatu benda atau alat tukar yang diterima oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatan pertukaran barang dengan barang atau lainnya. Ciri-ciri uang agar penggunaannya efisien:

Lebih terperinci

PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT

PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT L Suparto LM,. M.Si Dalam teori makroekonomi klasik, jumlah output bergantung pada kemampuan perekonomian menawarkan barang dan jasa, yang sebalikya bergantung pada suplai

Lebih terperinci

ekonomi K-13 PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG K e l a s A. KONSEP DASAR a. Sejarah Uang Tujuan Pembelajaran

ekonomi K-13 PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG K e l a s A. KONSEP DASAR a. Sejarah Uang Tujuan Pembelajaran K-13 ekonomi K e l a s XI PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Menguasai konsep dan teori uang. 2. Menentukan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1

PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1 PEMBAHASAN UTS GENAP 2015/2016 TEORI EKONOMI MAKRO 1 1. Para ekonom menggunakan beberapa variabel makroekonomi untuk mengukur prestasi seuah perekonomian. Tiga variable yang utama adalah real GDP, inflation

Lebih terperinci

Perekonomian Terbuka

Perekonomian Terbuka Perekonomian Terbuka Perekonomian Terbuka Perekonomian empat sektor (perekonomian terbuka) adalah suatu perekonomian yang didalamnya sudah terdapat perdagangan luar negeri (ekpor-impor). Pengeluaran agregat

Lebih terperinci

Permintaan Agregat & Penawaran Agregat

Permintaan Agregat & Penawaran Agregat Permintaan Agregat & Penawaran Agregat Permintaan Agregat Permintaan Agregat adalah, jumlah dari keseluruhan barang dan jasa yang diminta oleh seluruh pelaku ekonomi pada berbagai tingkat harga. Permintaan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL

PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL TIK: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa memahami tentang variabelvariabel dalam ekonomi makro. TIU: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu

Lebih terperinci

Consumption - Saving - Investment

Consumption - Saving - Investment Consumption - Saving - Investment 1 Unsur yang mempengaruhi turun naiknya tingkat pendapatan nasional : Consumption atau Konsumsi (C) Saving atau Tabungan (S) Investment atau Investasi (I) 2 Pendapat mengenai

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH TEORI EKONOMI 2 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH TEORI EKONOMI 2 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH TEORI EKONOMI 2 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN Minggu Pokok Bahasan dan TIU ke 1 Pasar komoditi dan kurva IS Menjelaskan bagaimana perubahan variabel aggregatif

Lebih terperinci

TEORI KONSUMSI. Minggu 8

TEORI KONSUMSI. Minggu 8 TEORI KONSUMSI Minggu 8 Pendahuluan Teori ini muncul setelah terjadi great depression tahun 1929-1930. Teori Konsumsi dikenalkan oleh Jhon Maynard Keynes. Sedangkan kelompok Klasik tidak pernah memikirkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari keterlibatan sektor

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari keterlibatan sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari keterlibatan sektor moneter. Sektor moneter melalui kebijakan moneter digunakan untuk memecahkan masalah-masalah

Lebih terperinci

Bab 4 TEORI MONETER MV = PT. i 1

Bab 4 TEORI MONETER MV = PT. i 1 Bab 4 TEORI MONETER Teori moneter adalah berbagai pemikiran dan konsep tentang berbagai variabel moneter, seperti uang, tingkat bungan, jumlah uang beredar, dan sejenisnya. Disamping itu, pembicaraan dalam

Lebih terperinci

Hubungan antara Inflasi dan Jumlah Uang Beredar

Hubungan antara Inflasi dan Jumlah Uang Beredar Hubungan antara Inflasi dan Jumlah Uang Beredar Paper ini mengulas hubungan antara inflasi dan jumlah uang beredar. Bagian pertama mengulas teori yang menjadi dasar paper ini, yaitu teori kuantitas uang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung 27 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendapatan Nasional Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung besarnya pendapatan nasional atau produksi nasional setiap tahunnya, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia selalu berkembang sejalan dengan tuntutan zaman, tidak sekedar memenuhi kebutuhan hayati saja, namun juga menyangkut kebutuhan lainnya seperti

Lebih terperinci

Xpedia Ekonomi. Makroekonomi

Xpedia Ekonomi. Makroekonomi Xpedia Ekonomi Makroekonomi Doc. Name: XPEKO0399 Doc. Version : 2012-08 halaman 1 01. Pengangguran friksional / frictional unemployment ialah... (A) diasosiasikan dengan penurunan umum di dalam ekonomi

Lebih terperinci

BAB III MODEL KESEIMBANGAN PENDAPATAN DALAM PEREKONOMIAN

BAB III MODEL KESEIMBANGAN PENDAPATAN DALAM PEREKONOMIAN BAB III MODEL KESEIMBANGAN PENDAPATAN DALAM PEREKONOMIAN Sebelum membahas lebih jauh mengenai beberapa model keseimbangan pendapatan baik dalam perekonomian dua sektor, tiga dan empat sektor akan dibahas

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS. dulu pernah dilakukan, diantaranya : Andriani (2000) dalam penelitiannya yang

BAB II URAIAN TEORITIS. dulu pernah dilakukan, diantaranya : Andriani (2000) dalam penelitiannya yang BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Sebagai landasan dalam penelitian ini, digunakan beberapa penelitian yang dulu pernah dilakukan, diantaranya : Andriani (2000) dalam penelitiannya yang mengambil

Lebih terperinci

BAB 1 PERSOALAN EKONOMI

BAB 1 PERSOALAN EKONOMI BAB 1 PERSOALAN EKONOMI A. Pilihan Ganda 1. Dibawah ini yang termasuk faktor produksi adalah: a. SDA (Sunber Daya Alam) b. SDM (Sumber Daya Manusia) c. Semua alat buatan manusia d. Semua benar 2. Di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika

BAB I PENDAHULUAN. Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika investasi itu dianggap menguntungkan. Salah satu pilihan investasi yang menguntungkan yaitu perdagangan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. secara parsial jumlah nominal deposito ib hasanah di PT. Bank BNI Syariah

BAB V PEMBAHASAN. secara parsial jumlah nominal deposito ib hasanah di PT. Bank BNI Syariah BAB V PEMBAHASAN A. Apakah tingkat inflasi, suku bunga, dan bagi hasil ib hasanah mempengaruhi secara parsial jumlah nominal deposito ib hasanah di PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Surabaya? Untuk mengetahui

Lebih terperinci

TEORI EKONOMI 2 JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN

TEORI EKONOMI 2 JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN TEORI EKONOMI 2 JURUSAN JENJANG PENEKANAN : MANAJEMEN & AKUNTANSI : STRATA SATU : ANALISIS DAN PEMECAHAN KASUS-KASUS RIIL DI INDONESIA JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN : 3 SKS : PTA : WAJIB MEMBERIKAN

Lebih terperinci

ANALISA PENDAPATAN NASIONAL

ANALISA PENDAPATAN NASIONAL ANALISA PENDAPATAN NASIONAL Keadaan ekonomi yang diharapkan oleh suatu negara:. Tingkat kesempatan kerja (KK) yang tinggi 2. Peningkatan kapasitas produksi nasional yang tinggi 3. Tingkat pendapatan nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena fungsi utamanya sebagai media untuk bertransaksi, sehingga pada awalnya

BAB I PENDAHULUAN. karena fungsi utamanya sebagai media untuk bertransaksi, sehingga pada awalnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Didalam sistem perekonomian uang memiliki peranan strategis terutama karena fungsi utamanya sebagai media untuk bertransaksi, sehingga pada awalnya sering

Lebih terperinci

UANG. Uang didefinisikan sebagai sesuatu yang disepakati sebagai alat pembayaran yang sah. Fungsi Uang (Mankiw, 2007)

UANG. Uang didefinisikan sebagai sesuatu yang disepakati sebagai alat pembayaran yang sah. Fungsi Uang (Mankiw, 2007) UANG Uang didefinisikan sebagai sesuatu yang disepakati sebagai alat pembayaran yang sah. Uang adalah sebagai persediaan aset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan transaksi (Mankiw 2007)

Lebih terperinci

BAB 11 LANDASAN TEORI

BAB 11 LANDASAN TEORI BAB 11 LANDASAN TEORI 2.1. Definisi Inflasi Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan harga-harga untuk menaik secara umum dan terus-menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SAP )

SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SAP ) SEKO H NO MI KO LA SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SAP ) GGI ILMU TIN E SERANG Mata Kuliah Kode Mata Kuliah Program Studi Kredit Semester Semester PENGANTAR EKONOMI MAKRO EK12.B110 MANAJEMEN 3 SKS II (DUA) Buku

Lebih terperinci

digambarkan sebagai berikut: C/S

digambarkan sebagai berikut: C/S FUNGSI KONSUMSI, FUNGSI TABUNGAN DAN PENDAPATAN NASIONAL Seorang ahli dalam bidang ekonomi bernama Keyness, mempunyai pendapat bahwa pengeluaran seseorang untuk konsumsi dipengaruhi oleh pendapatannya.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan investasi di suatu negara akan dipengaruhi oleh pertumbuhan

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan investasi di suatu negara akan dipengaruhi oleh pertumbuhan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan investasi di suatu negara akan dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Semakin baik tingkat perekonomian suatu negara, maka semakin baik pula

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia.

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia. Manusia melakukan kegiatan konsumsi berarti mereka juga melakukan pengeluaran. Pengeluaran untuk

Lebih terperinci

II. TEORI EKONOMI MAKRO KLASIK

II. TEORI EKONOMI MAKRO KLASIK Nuhfil Hanani 1 II. TEORI EKONOMI MAKRO KLASIK 2.1. Dasar Filsafat Mazhab Klasik Mazhab Klasik yang dipelopori oleh Adam Smith ( 1732-1790) yang tercermin dalam bukunya yang diterbitkan th. 1776 dengan

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR

KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN TIGA SEKTOR Oleh: T. Parulian Dalam dunia nyata, pelaku kegiatan ekonomi bukan hanya rumah tangga dan perusahaan (swasta). Dengan masuknya pemerintah dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US dollar, ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US dollar, ditentukan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semenjak diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating system) di Indonesia pada tahun 1997, telah menyebabkan posisi nilai tukar rupiah terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Moneter Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral dari suatu Negara. Pada dasarnya kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan perekonomian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsumsi dan Fungsi Konsumsi Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan. Barangbarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis

Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis Materi UTS Matematika Ekonomi dan Bisnis 1. Fungsi permintaan, fungsi penawaran dan keseimbangan pasar sebelum dan sesudah pajak 2. Fungsi Biaya, Fungsi Penerimaann dan Analisis Pulang Pokok. 3. Fungsi

Lebih terperinci

EPPD1023: Makroekonomi Kuliah 8: Pasaran Wang dan Analisis Keluk LM

EPPD1023: Makroekonomi Kuliah 8: Pasaran Wang dan Analisis Keluk LM EPPD1023: Makroekonomi Kuliah 8: Pasaran Wang dan Analisis Keluk LM - Pengenalan - Teori Permintaan Wang Keynes Dan Penawaran Wang - Definisi Keluk LM - Penerbitan Keluk LM Secara Rajah - Penerbitan Keluk

Lebih terperinci

UJIAN MASUK BERSAMA (UMB) Mata Pelajaran : Ekonomi Tanggal : 07 Juni 2009 Kode Soal : 130 1. Bila biaya marginal lebih besar dari penerimaan marginal, maka A. perusahaan mengurangi jumlah barang yang diproduksi,

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN NASIONAL Model 2 Sektor

ANALISIS PENDAPATAN NASIONAL Model 2 Sektor ANALISIS PENDAPATAN NASIONAL Model 2 Sektor KONSEP EKONOMI MODEL 2 SEKTOR Model perekonomian dimana pelaku kegiatan ekonomi terdiri dari dua sektor yaitu : 1. Rumaha tangga keluarga 2. Rumah tangga perusahaan

Lebih terperinci

Arus Lingkar Pendapatan dalam Perekonomian

Arus Lingkar Pendapatan dalam Perekonomian Arus Lingkar Pendapatan dalam Perekonomian Putri Irene Kanny Thursday, April 28, 2016 Pokok bahasan pertemuan ke-4 Arus lingkar pendapatan dalam perekonomian tertutup dua sektor Arus lingkar pendapatan

Lebih terperinci

ekonomi K-13 INFLASI K e l a s A. INFLASI DAN GEJALA INFLASI Tujuan Pembelajaran

ekonomi K-13 INFLASI K e l a s A. INFLASI DAN GEJALA INFLASI Tujuan Pembelajaran K-13 ekonomi K e l a s XI INFLASI Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan menjelaskan penyebab inflasi dan dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat. A. INFLASI

Lebih terperinci

III. TEORI EKONOMI MAKRO KEYNES

III. TEORI EKONOMI MAKRO KEYNES Nuhfil Hanani 1 III. TEORI EKONOMI MAKRO KEYNES 3.1. Dasar Filsafat Teori Keynes Pada mulanya, selama lebih dari 100 tahun setelah revolusi industri yang dimulai di Inggris, negara-negara barat mengalami

Lebih terperinci

Kuliah ke 3, 8 Oktober 2009 Erry Sukriah, SE, MSE MEKANISME PASAR. Permintaan & Penawaran

Kuliah ke 3, 8 Oktober 2009 Erry Sukriah, SE, MSE MEKANISME PASAR. Permintaan & Penawaran Kuliah ke 3, 8 Oktober 2009 Erry Sukriah, SE, MSE MEKANISME PASAR Permintaan & Penawaran AGENDA Mekanisme Pasar Permintaan Barang dan Jasa Penawaran Barang dan Jasa Keseimbangan pasar Circular Flows in

Lebih terperinci

II. TEORY PERMINTAAN UANG ( Berapa kebutuhan ( Jumlah / Nilai ) uang dalam suatu perekonomian? ) Catt Priyo Purwanto

II. TEORY PERMINTAAN UANG ( Berapa kebutuhan ( Jumlah / Nilai ) uang dalam suatu perekonomian? ) Catt Priyo Purwanto II. TEORY PERMINTAAN UANG ( Berapa kebutuhan ( Jumlah / Nilai ) uang dalam suatu perekonomian? ) Catt Priyo Purwanto Sebelum mempelajari tentang berapa kebutuhan permintaan uang dalam seuatu perekonomian,

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR (PEREKONOMIAN TERBUKA)

KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR (PEREKONOMIAN TERBUKA) KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR (PEREKONOMIAN TERBUKA) Oleh: T. Parulian Analisis pendapatan nasional empat sektor terdiri dari empat pelaku ekonomi yaitu RTK, RTP, RTN dan RTLN.

Lebih terperinci

RUANG LINGKUP ILMU EKONOMI

RUANG LINGKUP ILMU EKONOMI RUANG LINGKUP ILMU EKONOMI Dalam teori EKONOMI MIKRO yang dibahas adalah proses alokasi sumberdaya secara efisien di tingkat individu, perusahaan dan industri. EFISIENSI DITINGKAT MIKRO belum tentu baik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Umum Suku Bunga Keynes berpendapat bahwa suku bunga itu adalah semata-mata gejala moneter, bunga itu adalah sebuah pembayaran untuk menggunakan uang. Karena tingkat bunga

Lebih terperinci

SILABUS. Mata Kuliah Ekonomi Makro I Dosen Nano Prawoto, SE. M.Si. Hunting Ext. 184

SILABUS. Mata Kuliah Ekonomi Makro I Dosen Nano Prawoto, SE. M.Si. Hunting Ext. 184 SILABUS Mata Kuliah Ekonomi Makro I Dosen Nano Prawoto, SE. M.Si. Hunting 0274-387656 Ext. 184 E-Mail nanopra@yahoo.com Materi : 1. Review Ek. Makro Pengantar Pendahuluan : Tinjauan singkat mengenai teori,

Lebih terperinci

3/26/2010 Created by Navik istikomah, SE, MSi

3/26/2010 Created by Navik istikomah, SE, MSi Yang dimaksud dengan perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan Hubungan antara konsumsi dan pendapatan Pada saat pendapatan rendah, rumah tangga mengorek

Lebih terperinci

M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR

M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR M AT E M AT I K A E K O N O M I MATRIKS DAN SPL TO N I BAKHTIAR I N S TITUT P ERTA N I A N BOGOR 2 0 1 2 Kesetimbangan Dua Pasar Permintaan kopi bergantung tidak hanya pada harganya tetapi juga pada harga

Lebih terperinci

EKONOMI TEKNIK MODEL ANALISA IS-LM

EKONOMI TEKNIK MODEL ANALISA IS-LM EKONOMI TEKNIK MODEL ANALISA IS-LM Disusun Oleh: Nimas Lestari Ayu Putri (15412327) 3IB01A Jurusan Teknik Elektro Universitas Gunadarma 2014 KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS ANTARA KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DENGAN PENDEKATAN MODEL IS - LM (STUDI KASUS INDONESIA TAHUN )

ANALISIS EFEKTIVITAS ANTARA KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DENGAN PENDEKATAN MODEL IS - LM (STUDI KASUS INDONESIA TAHUN ) ANALISIS EFEKTIVITAS ANTARA KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DENGAN PENDEKATAN MODEL IS - LM (STUDI KASUS INDONESIA TAHUN 1970-2005) TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat S-2

Lebih terperinci

KONSUMSI DAN TABUNGAN

KONSUMSI DAN TABUNGAN Minggu ke 4 dan 5 KONSUMSI DAN TABUNGAN ISTIQLALIYAH MUFLIKHATI 8 dan 5 Maret 03 LEARNING OUTCOME Setelah mengikuti topik bahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan model konsumsi dan tabungan,

Lebih terperinci

KEBIJAKAN MONETER DALAM PEMBANGUNAN

KEBIJAKAN MONETER DALAM PEMBANGUNAN KEBIJAKAN MONETER DALAM PEMBANGUNAN DISUSUN OLEH : SANTI CAROLINA NIM : 012008043 UJIAN AKHIR SEMESTER MANAGEMENT STRATEGIC Dosen : Prof.Ir. Rudy C.Tarumingkeng, Ph.D PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN JURUSAN

Lebih terperinci

MATEMATIKA EKONOMI BAB III FUNGSI DAN KURVA LINIER

MATEMATIKA EKONOMI BAB III FUNGSI DAN KURVA LINIER MATEMATIKA EKONOMI BAB III FUNGSI DAN KURVA LINIER By Bambang Suprayitno 10/24/2011 1 FUNGSI vs RELASI FUNGSI Relasi adalah hubungan antara elemenelemen dari daerah yang dinamakan domain dan elemen-elemen

Lebih terperinci