Merencanakan Kurikulum Sekolah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Merencanakan Kurikulum Sekolah"

Transkripsi

1 International Institute for Educational Planning Merencanakan Kurikulum Sekolah Aríeh Lewy

2

3 Juđul đan nomor urut đalam seri ini ađalah : 1. Apakah Perencanaan Penđiđikan It<u f Philip H. Coombs 2. Eubungan Бепсапа Pendiđihan đengan Вепеапа Ekonomi đan Sosial E. Poignant 3. Perencanaan Penaiđikan dan Sv,mber Лауа Manusia F. Harbison 4. Perencanaan đan Administrator Penđiđikan CE. Beeby 5. KonteUs Sosial Perencamaan Penđiđikan CA. Anđerson 6. JBiaya Вепсапа Penđiđikan J. Vaizey, J.D. Chesswas 7. Masalah Penđiđikan đi Daerah Peđesaan ' V.L. Griffiths 8. Perencanaan Penđiđikan : Peranan Penasihat Ađam Curle 9. Aspek-aspek Demografis pada Perencanaan Penđiđikan Ta NgOC Châu 10. Analisis Біауа đan РепдеЫатап untuk Penđiđikan J. Hallak 11. Iđentitas Profesional Perencana Penđiđikan Ađam Curie 12. Konđisi untuk Keberhasilan Perencanaan Penđiđikan G.C. Euscoe 13. Analisis Віауа đan Manfaat pada Perencanaan Penđiđikan Maureen Woođhall 14. Benoana Penđiđikan đan Pemuđa tanpa Pekerjaan Archibald Callawa7 15. Politik Perencanaan Penđiđikan di Negara Ɓerkembang CD. Eowleý 16. Perencanaan Penđiđikan untuk Masyarakat Маjетик Chai Hon-Chan 17. Perencanaan Kurikulum Sekolah Dasar đi Negara Ľerkembang H.W.E. Hawes 18. Selajar đi Тмаг Negeri đan Perkembangan Penđiđikan William D. Carter 19. Perencanaan Penđiđikan yang Bealütik K.E. MeKinnon., 20. Perencanaan Penđiđikan đalam ПиЪипдап đengan РетЪапдипап Uaeraħ Peđesaan G.M. Coverđale

4 21. Pilihan đan Keputusan đalam Perencanaan Penãidikan John D. Montgomery 23. МегепсапаЫп КигіЫІит Sekoláh Arieh Lewy 23. Faktor Biaya dalam Pereneavaan Teknologi PenđWtfcon yang tíertistem Dean T. Jamison 24. Perencana Pendiãikan Seumvr Eiđup Pierrə Furter 25. Tenđidilcan đan Lapamgan Kerja : Sebttaħ РепіЫіап yang Kritis Martin Camoy 26. Merencanalcan Kebutuhan akan Tenaga Pengajar ӑап Penyediaannya Peter William / 27. Perencanaan Pemeliharaan Апа -агшк pađa Osia Dini đan Pendidikan di Negara ВегкетЪапд Alastair Heron 28. Media Komunïkasi di Biđang Pendidikan untuk Negara Berpengħasilan Benđah : Implikasi untuk Perencanaan Emile G. MeAnany đan John K. Mayo 29. Perencanaan Pendidikan Non-Formal David E. Evans IU

5 HEP Documentation Centre

6 Inteniatioaal Institute for Educational Planning \\õ ^ A MERENCANAKAN KURIKULUM SEKOLAH Oleħ Arieh Lewy Penerjemah Ny. Winda Habimono 1983 PENERBIT BHRATARAKARYA AKSARA - JAKARTA dan UNESCO - PARIS V

7 Planning the School Curriculum Fkst Published 1977 by United Nations Educational, Scientiñc and Cultuial Oiganization 7, Place de Fontenoy, Parĸ, France. Unesco 1977 L idonesian tianslatìon published in 1983 > Thfa translation PT Bhratara Karya Aksara Hak penerbitan edûi bahasa Indonesia 1983 pada PT Bhratara Karya Aksara - Jakarta Vl

8 DAFTAR ISI DAŞAR DASAR PERENCAÑAAN PENDIDIKAN KATA PENGANTAR PENDAHULUAN 1 SIFAT PENGEMBANGAN KURIKULUM 1 Bagian I PERSIAPAN GARIS BESAR PROGRAM 8 I. Perincian Sasaran 8 II. Seleksi Isi 21 III. Strategi Belajar Mengajar 28 ßagian U PENYUSUNAN BAHAN-BAHAN PELAJARAN 40 IV. Bahan-bahan Pelajaran dan Pengaturannya 40 V. Evaluasi Bahan Pembentuk Kurikulum 54 Bagîan III PELAKSANAAN SUATU PROGRAM BARU '. 65 VI. Mengatur Tingkat Pelaksanaan 65 VII. Pengawasan dan Perputaran Kembali 70 KEPUSTAKAAN '. 76 ix xi. VIl

9 DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN Buku-buku penuntun dalam seri ni ditulis terutama untuk.dua golongan pembaca: mereka yang terikat dalam atau mempersíapkan rencana pendidikan dan administrasi pendidikan, terutama di negara-negara yang sedang berkembang; dan mereka yang kurang ahli, seperti pejabat teras pemerintah dan para pengambil keputusan yang mencari pengertian rencana pendidikan pada umumnya dan hubungannya dengan pembangunan nasional secara keseluruhan. Buku-buku ini diperuntukkan baik untuk studi peroxangan maupun dalam program-program latihan resmi. Sejak dímulainya seri ini tahun 1967, praktis pelaksanaan konsep perencanaan pendidikan telah banyak mengalami perubahan. Banyak asumsi yang dapat menunjang usàha-usaha terdahuiu untuk meletakkan rasionalitas dalam proses pengembangan pendidikan telah ditinggalkan atau sekurang-kurangnya dikritik. Sedangkaa pada waktu yang sama ruang lingkup perencanaan pendidikan sendiri telah diperluas. Selain itu, ^ pada saat ini sistem sekolah resmi berusaha memasukkan sistem pendidikan yang penting Iainnya ke dalam lingkup tak resmi dan di antara orang-orang dewasa. Pengembangan dan perluasan sistem pendidikan dilengkapí dan terkadang bahkan diganti untuk memeniihi minat yang makin bertambah akan penyaluran kesempatan dan keuntungan pendidikan antar.berbagai wilayah, antar kelompok-kelompok sosial, suku, dan jenis kelamin yang berbeda. Perencanaan, penerapan dan' penilaian terhadap penemuan dan pembaruan dalam isi dan bahan pendidikan menjadi sama pentingnya antara wewenang para perencana dan administrator pendidikan dengan perkiraan luasnya sistem pendidikan dan keluarannya. Lagi p.ula proses perencanaan ix

10 pendidikan itu sendiri bexubah dalam penerapan dan peniiaian rencana seperti halnya dengan bentuknya, dan demikian juga kemungkinannya seperti perencanaan terpadu, perencanaan penyerta, dan perencanaan mikro. Salah satu tujuan buku pegangan ini adalah untuk menunjukkan aneka ragam pandangan pengarang yang' masing-masing mempunyai latar belakang dan disiplin ilmu yang berbeda, dengan mengetengahkan pemikiran dan pengalamannya tentang berbagai aspek teori dan pclaksanaan yang ber.ubah dalam perencanaan pendidikan. ' Walaupun buku-buku dalam seri ini telah direncanakan dengan baik, tetapi tidak ada usaha mcnghindari perbedaan atau pertentangan pandangan para péngarang. Lembaga itu sendixi tidak akan menetapkan ajaran resmi untuk setiap perencana. Dengan. demikian, walaupun pandangan-pandangan yang berbeda tersebut adalah tanggung jawab pengarang dan tidak selalu disetujui oleh Unesco atau HEP (International Institute [ог Educational Planning), namun ia perlu mendapat perhatian dalam arena gagasan internasional. Para pembaca berbeda latar belakang pengetahuannya sedangan para pengarang dari permulaan sangat sulit dalam memperkenalkan pokok bahasan terutama dalam menerangkan istilahistilah teknik yang dapat merupakan istilah yang biasa bagi kelompok tertentu, tetapi merupakan misteri bagi kelompok yang lain walaupun tetap bertalian dengan standar ilmu pengetahuan. Pendekatan iní kami harapkan akan menguntungkan jika buku pegangan ińi dig,unakan secara optimal oleh setiap pembaca. X

11 KATA PENGANTAR Keputusan Komíte Redaksi Fundamentals oţ Educational Planning untuk memasukkan dalam seri ini sebuah buku kecil Merencaaakan Kurikulum Sekolah (Planning the School Cucriculam) men«cerminkan pemikiran HEP yang makin maju tentang isi dan mutu pendidikan sebagai suatu dimensi perencanaan pendidikan yang penting. Kepentinganyang meningkat:menyebabkan banyak negara menganggap perlu untuk meninjau kembali sifat dasar proses pendidikan yang diterapkan pada generasi mudanya sehíngga ter cipta perkembangan kurikulum baru yang menjadi prio,rit3s kebiļaksanaan yang utama. Untuk merencanakan pendidikan, pengembangan ini melibatkan dua tantangan: pertama hal itu penting baik pada tingkat pengambil kebijaksanaan maupun pada tingkat admi/- aistratif untuk bertanggung jawab merencanakan pengembangan dan perombakan pendidikan juga untuk memperoleh pengertian tentang masalah dan metode yang tercakup dalam isi.rencana sistem pendidikan pada masa mndatang; pembatasan perencanaan pendidikan yang konvensional pada proyeksi aliran kuantitatif dan pada kesimpulan-kesimpulan keuangan mereka tidak sepantasnya mengabaikan masalah-masalah perencanaan yang penting yang tercakup dalam pembentukan bahan pendidikan. Di samping itu, para ahli harus bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baru dengan menghadapi tantangan yang besar dalam mencíptakan, menerapkan dan mengevaluasi program-program pendidikan baru. Mereka memerlukan suatu pendekatan perencanaan yang sistematik, yaitu dengan giat berusaha mengumpulkan hasil pengalaman perencanaan pendidikan dari berbagai wilayah. Xi:

12 . Saya berterima kasih kepada Arieh Lewy, Profesor Asosiasi Pendidikan pada Universitas TeI Aviv dan sebagai seorang yang berwe,nang secara internasional dalam bidaog pengembangan kurikulum, seorang kolaborator lembaga yang sering menangani tugas yang sukar dalam penyajian masalah-masalah dan metode-metode besar pada ruang lingkup yang demikian terbatas, dalam merencanakaq kurikulum baru dengan cara semacam itu sehingga dapat dimengerti dan berguna bagi setiap orang yang terlíbatdalam tugas keseluruhan perencanaan pengembangan dan prombakan pendidikan. Hans Ņ. Weiler Direktur IIEP S: XiI

13 PENDAHULUAN SIFAT PENGEMBANGAN KURIKULUM A. Årri Kurikulum Lebih dari 30 tahun para perencana pendídikan telah menaruh perhatian pada pertanyaan tentang apa yang harus diajarkan di sekolah-sekolah. Khususnya, mereka mencaxi jawaban yang шеmadai atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini: topik-topik apa yang harus dimasukkan dalam berbagai jenis pelajaran? Bahanbahan pelajaran atau pendidikan apa, yang harus dipersiapkan tmtuk anak didik dan oleh siapa? Jenis kegiátan pengajaran,apa yang harus diterima oleh anak didik? Pendek kata, pexhatian mejeka tercurah 'pada keputusan yang berhubungan dengan kurikulum sekolah. Universitas telah memperkenalkan mata pelajaran tingkat sarjana dan pasca sarjana dalam perencanaan kurikulum, dan majalah-majalah profesi melontarkan permasalahan topik ini. Ke;pustakaan profesi dalam bidang ini telah meningkat berlipat ganda selama periode ini. Meningkatnya perhatian akan pengembangan kurikuium tampaknya seiring dengan m'uncukiya perubahan-perubahan dalam arti istilah itu sendiri, Biasanya istilah 'kutikulam dipergunakan dalam bebërapa c'ara 'membëbtuk program bahan pelajaran untuk taraf tertentu, program bahan pelajaran bagi keseluruhan daur pendidikan, atau keseluruhan program dari berbagai pokok bahasan untuk keseluruhan daur pendidikan' (Ochs, 1974). Kasus terbanyak pada suatu kurikulum tidak lébih daripada berisi daftar singkat mengenaí sasaran dan isi pendidikan yang diajarkan di sekolah-

14 sekolah. Pada tahun-taħun terdaĥulu arti istilah kurikulum telah diperluas yang mencakup berbagai rencana kegiatan anak didik yang terperinci,'macam-macam bahan pendidikan, ѕагал-ѕагап strategi belajar, pengaturan-pengaturanprogramagardapat diterapkan, dan sebagainya. Buku ini menerang[kan istilah kurikulum yang definisinya lebih Iuas, cocok.untuk umum dalam kepustakaan pendidikan niutakhir. Arti sebelumnya yang lebih sempit akan kita anggap sebagai program silabus atau rangküman pokok bahasan yang akan diajarkan. Seb.uah tim yang menyiapkan suatu kurikulum bertujuan untuk menghasilkan jenis baban pelaijaran tertentu. Terkadang yang dihasilkan hanya petunjuk yang kasar yang memuat saran-saran bagi pendidik tentang bagaimana menyiapkan bahan-bahan pelajaran yang paling cocok dengan keperluan anak didiknya. Seringkali tim tersebut juga menyiapkan buku-buku teks, buku-buku tugas anak didik dan penambahan perlengkapan belajar, seperti bahanbahan bacaan tambahan iintuk belajar perorangan, peralatan untuk melakukan percobaan-percobaan, bagan dan model peragaan, film, bahan-bahan untuk kegiatan latihan mengajar, peralatan diagnostik, bahan-bahan pengajaran untuk mengoreksi, permainan-permainan tiruan, dan sebagainya. Sala'h satu faktor yang mempengaruhi sejumlah hal yang berbeda yang dipersiapkan oleh tim adalah tersedianya sumber dan pentingnya penyele,saian tugas 'pengembangan kurikulum. Jika berbicara tentang sistem pendidikan yang tumbuh di negara yang sedang berkembang kita dihadapkan pada masalah persiapan kurikulum untuk sekolah-sekolah yang baru didirikan, dan keperluan akan bahan-bahan pelajaran yang tidak mahal untuk dikembangkan dengan segera. Dalam sistem ini cukup untuk mempersiapkan buku-buku teks dan b.uku-buku pegangan pendidik atau untuk menghasiucan program pendidikan televisi yang dapat dengan mudaħ dipergunakan di sekolah-sekolah. Sebägai bahan perbandingan, pada sistem pendidikan yang maju, lebih banyak bahan yang tersedia untuk mengembangkan kurikulum, dan walaupun ada hanya sedikit sekali hal-hal yang mendesak untuk merencanakan kurikulum baru. Adalah lebih baik tim yang menyiapkan kurikulum menghasilkan beberapa macam

15 hal yang bexbeda untuk dipergunakan di sekolah-sekolah. Dengan demikian kurikulum sangat berbeda satu sama lain dengan ketentuan jumlah hal yang berbeda yang dihasilkannya. B. Pusaí-pusat dan Proyek-proyek Kurikulum Di banyak negara telab didirikan lembaga atau pusat yang ber tanggung jawab mempersiapkan kurikulum untuk sekolah-sekolah. Pada beberapa negara suatu institut tunggal bextanggung jawab mempersiapkan kurikulum dalam semua bidang perididikan dan untuk semua. tingkat sistem sekolah. Sedangkan negara-negara lain, tanggung jawab ini dibagi dalam beberapa institut atau beberapa pusat yang masing-masing bertanggung jawab terhadap suatu seksi khusus sistem pendidikan, atau terhadapsuatu bagian, program sekolah seperti ilmu pengetahuan, staudi-studi sosial, dan lain-lain. Dalam pelaksanaan kerjanya pusat kurikulum tunggal seringkali membentuk beberapa tim kenja yang masing-masing mempersiapkan suatu pengajaran tertentu untuk sekelompok anak didik tertentu. Misalnya, sebuah tim menangani pengajaran seni bahasa untuk anak-anak didik kelas permulaan sekolah dasar. Kegiatan tim-tim dalam menyiapkan kurikulum disebut proyek kurikulum. Dengañ demikian, dalam rangka kerja suatu pusat kurikulum tunggal, beberapa proyek kurikulum biasanya dilaksaĵiakan secara terus męnerus. Suatu proyek kurikulum dapat.pula berupa suatu usaha bebas yang tidak terikat oleh suatu pusat kurikulum, misalnya, kerja sama suatu tim kecil yang bertugas di salah satu bagian dari sebuah universitas atau di sebuah lembaga riset yang tujuan utamanya bukanlah pengembangan kuxikulum. C. Perencanaan Kurikulum lawan Wewenang Pendidik Beberapa proyek kurikulum mengembangkan program pendidikan yang tersus,un baik, seperti Kurikulum Pelajaran Ilmu Biologi (Biological Sciences Currículum Study = BSCS) atau Kelompok Belajar Sekolah Matematik (School Mathematics Study Group = SMSG). Kurikulum-kurikulum - semacam ini menunjukkan suatu urutan kegiatan belajar yang dapat diuraikan secara baik untuk dikerjakan oleh anak didik. Pendidik diharapkan mengikuti pe-

16 tunjuk-petunjuk terperinci yang dipersiapkan oleh tim proyek; dengan kebebasan yang terbatas untuk menyimpang dari perincian tersebut, dan diharapkan mempelajari bahan-bahan tersebut bab demi bab seperti yañg tercantum dalam buku teks. Ada dua pendapat yang diajukantmtuk menentang kurikulum semacam ini. Pertama, kurikulum itu ' dituntut agar dipersiapkan untuk penduduk yang besar jumlahnya sexta beraneka ragam. Anak didik berbeda satu sama lain dalam hal kepandaian, mutu, aspirasi, keadaan lingkungan, tempat asal dan sebagainya. Untuk memenühi keperluan penduduk yang beraaeka ragam itu, penulis kurikulum harus bekerja untuk anak didik pada umumnya, dan dengan demikian, sebuah progiam tunggal cenderung tidak sesuai dengan képerluan anak didik yang beraneka ragam latar belakangnya. Menurut krítik seperti ini hanya pendidiklah yang mengetahui anak d:diknya dengan baik sehingga ia dapat merencanakan suatu kurikulum yang niemadai untuk kelasnya. Kedua, tuntutan agař kurikulum disusun secara baik dan mewajibkan para pendidik untuk mengikuti petunjuk^etunjuk yang mungkin bertentangan dengan martabat dan kecenderungan-kecenderungannya atau dapat mengancam, kalaupun tidak sampai menghiiangkan otonominya. Suatu penyelidikan berdasarkan pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa, walaupun ada rancangan yang tersusun amat baik, namun para pendidik dalam mengajar sangat bebas mema sukkan bahan-bahan pelajaran yang ada ke dalam gaya mengajar dan keinginannya (Callagher, 1970). Sekalipun demikian, sebagai jawaban atas tuntutan-tuntutan tersebut beberapa program yang kurang tersusun telah dihasilkan dan para pendidik diminta untuk melakukan pertimbangan dalam menyusun program kelas atas dasar pemikiran, sumber daya, data bibliografi yang dimuat dalam bahan-bahan yang dipersiapkan oleh tim. Pendidik dianjurkan pula untuk memikirkan kegiatan mengajar dan menghasilkan bahanbahan pelajaran tambahan menurut daya cipta dan bakat kreatifnya. Beberapa teoreíikus kurikulum bersikap lebih ekstrim, menolak sepenuhnya keinginan agen-agen pusat untuk menghasilkan kurikulum, dan menganjurkan agar guru bertanggung jawab untuk menyusun kurikulum bagi kelasnya. Menurut hemat mereka penggunaan suatu kuriklum yang dikembangkan secara terpusat mem-

17 punyai pengaruh yanġ tak diingĩnkan baik bagi perididik'màupün anak didik. Sejalan dengan pandangan mereka bahwa. lembaga xiset dan penerbit-penerbit harus mempersiapkan beberapa jenis baħan-bahan dasar yang berbeda, seperti buku-buku, kertas-kertas keťja, alat-alat peraga dan bukaoi suatu kurikulum -lengkap. Tugas pendidik adalah mempersiapkan kurikulum dan dalam mengajar ia dapat mempergunakan kombinasi bahan-bahan yang dihasilkan oleh beberapa tim yang berbeda jika dianggapnya cocok; Oleh karena itu, untuk setiap mata pelajaran bahan-bahannya merupakan kombinasi bermacam bahán dan bukan dari paketkurikuium tunggal.. ^. Prinsip-prinsip perencanaan kurikulum yang diterangkań dalam buku ini dapat dipergunakan untuk konsep kurikuium yang.tersusun dan terbuka. Pririsip-prinsip tersebut.men.ghubungkanj^egiątan-kegiątan proyek kurikulum dari berbagai jenis. Sungguhpun demikian prinsip-prinsip tersebut langsung berurusan dengan ke^ giatan-kegiatan perencanaan tim, yang bertanggung jawab atas kurikulum suatu kelompok sekolah dan menghasilkan.bahan-baban pelajaran yang akan dipergunakan oleh para pendidik dari tahun ke tahun. Pendidik yang akan menyiapkan kurikulum..untuk.kelasnya sendiri dapat mempergunakan sejumlah prinsip yang ditèrapkan dalam buku ini walaupun ia cenderung bahwa prinsipprinsip itu tidak sesuai sepenuhnya dengan keinginannya. D. Tingkat-tìngkat Perencanaan Kurikulum Pengembangan kurikulum mencakup suatu rangkaian kegiatani persiapan rencana pelajaran, pembuatan bahan-bahan pelajaran; dan penerapan kuxiku!um dalam sistem. Menurut- kebiasaan,. kegiatan-kegiatan ini dianggap menjadi tanggung jawab beberapa orang di dalam sistem pendidikan. Rencana pelajaran memuait suatu daftar topik-topik yang akan dl^ ajarkari di sekolah-sekoiah dan beberapa spesifikasi tujuan pen^ didikan yang biąsanya disajikan oleh yang berwenang dalampendidikan serta bahan-bahan pembuat kebijaksañaan. Bahan-bahaņ pelajaran dibuat 'oleh para pendidik, ahli-a'hli media, atau parä ahli dalam bidang ilmu tersebut. Terkadang beberapa bagian.dipersiapkan oleh orang-orang yang berbeda tanpa koordinasi. Satú Kurikulum Sekolah (2)

18 tim yang mempersiapkan sebuah buku teks yang meliputi perincian rencana' pelajaran, sedangkan tim lain membuat- suatu rangkaian film untuk. dipergunakan di dalam kelas, yang dapat merupakan lampiran pada buku teks atau menjadi pengganti buku teks, Pendidik dan anak didiklah yang harus mencapai koordinasi di anťara bagian-bagian suatu program tunggal yang dihasiikan secara ter- pisah ini. Pelaksanaan program tersebut dianggap menjadi tanggung jawab 'staf pengawas., Dalam pemikiran masa kini kegiatan-kegiatan ini berhubungan satu sama lain, dan dengan demikian kegiatan-kegiatan tersebut menjadi taaggung jawab tim tunggal. Rencana pelajaran tidak dapat dianggap selesai samipai sarana pelajaran yang cukup telah dibuat untuk. disesuaikan dengan perinciannya dau sampai rencana pelajaran. tersebut telah berhasil dilaksanakan dalam. sistem ítu. Ini berarti bahwa orang sesungguhnya tidak dapat mengatakan apakah suatu rencana pelajaran baru itu cukup tanpa mempélajari materi-materi pelajaran yang menggambarkan kekhususannya. Suatu rencana pelajaran dianggap cukup bila terb.uka kemungkinan untuk menghasilkan bahan kurikulum yang sesuai untuk memcapai. tujuan-tujuan yang terkandu'ng di dalamnya, '. Apabila tim pengembangan kurikulum tidak dapat menghasilkan bahan-bahan pelajaran semacam itu,' rencana pelajaran menjadi tidak cukup^ dan harus diganti. Apapun alasan^alasan kegagalan semacam itu, apakah disebabkan oleh permíntaan sarana yang terlalu mahal, kurang cukupnya wàktu di kelas. untuk melaksanakan suatu tujuan"tertentu,' atau kurang cukupnya prasyarat pengetahuan yang diharapkan dari anak didik untuk mempelajari suatu keahlian tertentu, silabus tersebut. haruslah disesuaikan sedemikian r,upa dengan batas-batas pemikiran kenyataan praktis..,. Sedangkan untuk fokus ketiga proses ini, misalkan pelaksanaan suatu kurikulum baru, dengan pendekaţan tradisional merupakan peranan penyeha yang dipisahkan dari progxam pengembangan pegawai. Dalam praktek sehari-hari, tugas ini biasanya diserahkan kepada íim pengembangan kutíkulum. Ini, berarti mereka bertang-.gung jawab ointuk melatih pendidik mempergunakan program tersebut dengan memadai dan untuk mengawàsi pek>erjaan pendidik,..agar.pelakśańaan prógrain, dapat benar-benar berhąsil dilakukan, Dengan demikiari; pengembangan kurikulum merupakan

19 suatu proses tingkat ganda untuk tugas-tugas yang berhubungan termasuk penenťuan silabus, persiapan bahan pelaijaran dan pelaksanaan program, Walaupun hubungan tugas-tugas pengembangan ketiga proses kurikulum tersebut untuk memùdahkan dan untuk kejelasan analisis, tugas-tugas tersebut terbagai daiam'bab-bab yang berbeda dalam buku ini, yang tersusun seperti berikut ini, ( 1 ) perencanaan rancangan program termasuk persiapan silabus, (2) pembuatao bahan-bahan pelajaran termasuk perincian kegiatan belajar; dán (3) pelaksanaan program. I Tugas-tugas utama yang diu&ulkan dalam tingkat ini terdapat pada Tabel 1. ТаЪеІ 1. Tugas-tngas utama pengembaiigaa кигікпішп Tmgkatan Kegiatan Perencanaan rancangan Seleksi tujuan T'- SeIeksi isi Seleksi stxategi belajar,mengajar Persiapan bahan-bahan pelajaran Pelaksanaan Pembentukan bahan-bahan pelajaran Pen7u9unan bahan-bahan ke dalam máta pelajaran - ' TTji coba bahan-bahan baru Perubahan dasar hasil uji coba Penyebaran ï rangkaian suatu sistem mantiki. * latihan penđidik penyesuaian sistem ujian nasional kerja sama demgan badan-badan ađministrasi. Pengawasan kuautas Daur ulang

20 Bágian I. PÉRSIÀPAN GAŔIŠ'BESÁR PROGRAM Keputusan pertama.dalam proses.pengembangankurikulum berhubungan dengaa kètetápan sasaran-sasaranprogram, seleksiisi subyek yang harus dipelajari dan seleksi strategi-strategi pelajaran yang ses.uai. Pxoduksi. akhir kegiàtan-kegiatan ini adalah sualu garis besar program. Suatu tujuan, dan isi yáng terperinci dalam suatu bidang studi tertentu biasanya disebut rencana pelajaran (syuabaś). Jadi suatú garis besar program lebih luas isinya daripada sebuah siiabus; Ia berisikan baik silabusmaupun garis^garis pedomanyangmenyangkut stratégi-strátègi 'belajax dankegi-' atan^kégiátan belajar untuk digunakan dalam program. Ңадіап b,uku ini yang- bexhubűngan dengan persiap.an suatu garis besarprogram'dibagí ke dalam tigaseksi, (1) perincian sasaran program, (2) seleksi isi, dan (3) keputusantentang strategi belajar mengajar., I.- PERINCIAN ^SASARAN ^ Suatu kurikulum beftujuan-,untuk-memperkenalkan rangkaian perubahan_tingkah laku anak-'didikyangdiingmkan. Ini merupakan sasaran-sasaran program. Pernyataan-pernyataan seperti "anak didik har.us dapat membedakan antara data-data relevan dan tidak relevan untuk memecabkan auatu masalah ilmu-ilmu" atau "anak didik membaca untuk kesenangan" merupakan tujuan karena pernyataan-pemyataan tersebut mengusulkan perubahan-perubahan tingkah laku anak didik yang dapat diketahui melalui penggunaan suatu kurikulum. Bagaimanakaħ menetapkan sasaran kurikulum? S K

21 Karenàmerekasecara sadarmenetapkan tujuan, apakah męreka: merupakan persoalan yang condong pada kelompok atau individu?.apakah ada suatu cara yang sistematik untuk ménghadapi.masalah dalam mencari tujuan kuriķulum?,. '. Adalah 'betul bahwa daląin analisis akhir, seleksi sasaran merupakan masalah pemilihaii.karenaitu harus dipertimbàngkàn keputúsan-képútusanỳang bėrharga dari pihak yaoġ bertańggúhg' jawab terħadap sekolah-s'ekolah. Meskipun. demikian, seleksi tújuan-tujuankorikulumdapat dipermudah dengan pertimbangan tertentu. Jelas kepentingan tiap pertimbangán ini akan bervariasi dalam proyek-proyekkurikulumyang'berbeda, tetapi beberapadi antaranya akan selalu penting. Tiap kelompok'pengembang'ku-. rikulum dalam menetapkan sasaran-sasàran kurikulum. ħarus berdasarkan hubungan dan penekanannya yang khusus. A. Permct&n Tujtéän Kutìkutum,...j. -...!.. Pertimbìangan^pertìmbangan utanta Keputusan tentang sasaran kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan proses kebidupan pelajar zamari sekarangdi luar 5ekolah,.keperluan pelajar dán sifat babañ peiajaran.. ". :.:.. -.'.' (a) Kehidupan rriasa kini di luar sekolah.. ; Karena masyarakat berada dalam keadaan yang selalu berubah, perencana kxu:ikulum harus siap menyeleksi sasaran pendidikan sesuai dengan arus utama perubahan.dėrigan'demikiaiiperanannya adalah menganalisis implikasi perubahan-perubahan sosial da^ lam penentuan suatu program studi yanġ diubãh ataü yang bár,u, 'ì 1 ) Polã'pola perrtanfaatati tenaga ma>nusia. Pola^pola pemanfaatan manusia condong berubah. Di atas.periode 5 (lima) tahun, bila 10 (sepuluh) sampai 20% огапдюгапд. melengkapi pendidikan mereka memasuki sektor industri X lebih banyak daripada Y, atau bila ada suatu tenaga manusia yang penting beralih dari pertanjan ke industri, maka sudah jelas jenis-jenís pengetahuan,' kea'hliankeahlian, dan niiai-nilai yang diperlukan untuk menyiapkan orang* orang ini xintuk_dipekejrjakan akaņsedikitberbeda. ;. : : ;

22 2) Syarat-śyarat tìngkah laku dalam kegiatan-kegiatan kesehatanì Uėsejahtera&n, politik dan sosial. Pola-pola tingkah laku/sikap sosial dan budaya ada dalam prośes evolusi di seluruh dunia. Perļ ubaħao-perubahan harus diketahui dan kurikulum harus dapat menjamin bąhwa kaum pemuda memerlukan keahhan dan caracara berpikir untuk mempertahankan kehidupannya di dalam masyarakat sehari-hari. Sebagai contoh, suatu masyarakat mungkin mengalami mćisa trąnsisi dari obat tradisional ke oba.t ilmiah, salah satu akibatnya diperlukan cara-cára berpikir yang baru terhadap ilmu kesehatan; Jadi,';sekolah harus berfungsi melengkapi penduduk dengan pengetahuan, cara-cara. berpikir, dan kebiasaan-kebiasaan pribadi yang sesuai'. Perubahan-perubahan dan pembaruan-pembaruan politik.harus dikaitkan dengan sekolah dengan tujuan untuk menyiapkan indi- vidu berfungsi secara wajar dalam peranannya sebagai warga negara. Perubahan kondisi-kondisi sosial ekonomi harus juga dimasukkan ke dalam kurikulum sekòlah. Anakronisme menyolok pada kurikulum terutama di negara negara yang baru merdeka ada bermacam-macam: sejarah Inggris mungkin lebih banyak diajarkan daripada sejarah nasionalnya sendiri; pelajaran-pelajaran dalam ilmu bumi daeŕah setempat; biologi yang diajarkan misađnya Iebih banyak ťentang flora dan fauna Eropa daripada yang umum ada di daerah setempat. Dari semua contoh di atas, kurikulum itu tidak berhubungan dengan keperluan sosial pelajar. 2.,Keperluan-kepecluanpelajar < Dalam masyarakat modern terdapat perbedaan besar antara keperluan-keperiuan pelajar yang timbul dari kehidupan sosial masa. kini derigàn yang timbul dari kehidupan pribadi pelajar. Penyesuadan terhadap perubahan pola-pola yang, dipraktekkan atau tėrbadap hukum-hukum kesehatān yang baru membentuk keperluan baik individu maupun sosial. Meskipun demikian seseorang dapat_mengenal pola tingkah laku yang menjadi kepentingan individu 'yang utama. Seperti misalnya partisipasi dalam' kegiatan sosial,'hubungan-hubungan kelompok yang muncul dan perkembangan tingkahlaku pribadi seperti ketabahan, tolexansi, keinginan 10 - f

23 yang meningkat untuk mėngikuti kegiatari-kegiatan kebudayaan dan lain-lain pdajaran.. ^ Pengaturan ílmu pengetahuan pada masa.kini.dalam bahanpela-. jaran tertentu. yang diberikan terdapat pertimbangan Ып.untuk menetapkan sasarannya. Misalnya dalam.ilmu-ilmu.pengetahuah:, penemuan-penemuan, topik-topik, struktur-struktur, dan. istilahistilah baru secara tetap diperkenalkan. HaI ini sehar,usnya diketahui.dan dipertimbangkan dalam proses,perencanaansuatu.kurikulumbaru. BiIa progiam pendidikan disusun^menur.ut bahan'pelajaran, dengan bahan kurikulum yang unik dikembangkan untuk tiap pokok babasan, pertama.perluuntuk mengenal Sasaran Utama Pendidikan (Мщог Educational Objectives = MEO) ýang terpadu ' di dalamnya atau yang dapat diperoleh melalui studi. MEO ini menggambarkan wilayah tingah lakú manusia yang luas dan harusdiuraikan ke dalam sasaran k'urikulum yang lebih khusiw terlebih dahulu lalu memberikan garis-garis pedoman yang khusus untuk menyiapkan bahan pelajaran. Sebagai sebuah ilustrasi, MEO dalam Ilmu Sejarahdiberikan dalam Tabel 2 dibawah ini...,;'... Tabel 2. Sasajan utama peuđiđikan. program pelajaréùl вејатаћ '. Sasaran'pengenaktn.:,., > Peņgetahuafl tentang kejađian-kejađian sejarah yang penting. ; Pengađaan кеаыіап-keahlian yang điperlukan untuk stuđi bebas. ^ Peaglihatan (perception) fenomena sejarah đalam konteka nilaiпіш đan cara-cara kehiđupan шаѕа lalu., Perkembangań pemikirąn secara sejarah (алаіійк, imajmatif,..- eintesis).., Nilai^Uai : Penetapan peristlwa-peristiwa sejarah sesuai đengan kriteriá-krlterla^ moral universali -^ Pengembaaigan simpati dan toleransi terhadap cara hiđup bangsa>. bangsa lain.. Pengembangan pengenalaą đengan negara dan rakyat. 11

24 4. Pęrtimbąngan s'istęm Tiga pertimbangan utama yang digambarkan di atas secaia Iang sung mempenģaruhi keputusan tentang sasaran kurikulum. Pexencana kurikulum bagaimanapun juga harus mempertimbangkan karakteristik sistem pendidikan tertentu sebelum membuat keputusan tentang sasaran kurikulum. ; a'. Tufuian umum pendidikan,., Di bányak 'negara tujuan uinum pendidikan secara resmi ditentukan dalamperaturan-peraturan badan législatif atau pemerintah, sedangkan dinegara-negara lain, peraturan-peraturan resmi sema^ ckm itïï tidak adatermasuk sistem nilai masyarakat dan tradisi pendidikańnýa. :Rakyat yang_ menetapkan sasaran kurikulum se- Kar'úsnyá bertindak sésuai dengan tujuan umum pendidikan. Perumusan tujuan uinum pendidikan adalah berdasarkan kepentingan politik. Tujuan-tujuan semacam ini biasanya ditetapkan dalam batas-batas yang luas dan umum, misalnya, mendapat persetujuan golongan besar.dalam masyarakat. Mereka membaņtu dasax pembuatan Keputusan-keputusan tentang bagaimána seharusnya kehidupan sekolah diatur dan apa yang seharusnya diajarkah di 'sekolah. Sungguhpun demikian, mereka tidak dengan sendirinya menangani atau langsung menetapkan perincian-perincian praktek kehidupan sekolah. Contoh-contoh dari tujuan-tujuan politik semacam, ini adalah: pendidikan harus diorganisasikan sedemikian rupa untuk "memberikan kesempatan yang sama kepada sëmuaa'nàk-anak",' "menjadi suatu persiapan untuk kehidupan desanya", "meningkatkan taraf prestasi masyarakat secara ratarata",'-''menyokong integrasi sosial", "membuat kehidupan sekolah rņehjadi süatu pengálaman ýang lebih hangat daņ lebih menyenariģkan", "mengembangkan pemikiran yang lebih' kompleks dalàín diri anak-anak",' "meningkatkan pendaftaran pada sekolah dasar", "meningkatkan penyediaan tenaga kerja tingkat atas", "mendidik anak didik untuk mudah berasimilasi ke dalam pasaran pekerjaan-'', ; dan "menggabungkan pelajaran-pelajaran akademis dengan.persiapan praktis dan profesional". Ketetapan tujuan umum pendidikan terkadang mencerminkan arah sasara'n'perjuangan masyarakat biasanya memberikan citranyatentang "orangideal" (Eden, 1975). Sebagai suatu ilustrasi 12,.

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25 Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25 Judul dan nomor urut dalam seri ini adalah 1. Apakall Perencanaan Pendidikan itu? Philip H. Coombs 2. Hubungan Rencana Pendidikan dtngan Henearía Ekonomi dan Sostai

Lebih terperinci

Kondisi untuk Keberhasilan

Kondisi untuk Keberhasilan Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan Kondisi untuk Keberhasilan Perencanaan Pendidikan G.C. Ruscoe (SjnSSGO Lembaga Internasional untuk Perencanaan Pendidikan Dasar^Dasar Perencanaan Pendidikan 12,'i A.

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9 Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9 Judul dan nomor unit da!ara seri ini adalah : 1. Apakah Perencanaan Pendidikan I tv? Philip H. Coombs 2. Hubungan Rencana Pendidikan dengan Rencana Ekonomi dan Sostai.

Lebih terperinci

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo aldo Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN Endang Poerwanti Pendahuluan K ompetensi mengajar adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua tenaga pengajar. Berbagai konsep dikemukakan untuk

Lebih terperinci

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SEBUAH LAPORAN TENTANG PENGENDALIAN KEKACAUAN JULI 2008 LAPORAN INI DISUSUN UNTUK DITELAAH OLEH THE UNITED STATES AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT. LAPORAN INI DISUSUN OLEH

Lebih terperinci

Walter W. McMahon. Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization)

Walter W. McMahon. Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization) Sistem Informasi Berbasis Efisiensi Walter W. McMahon Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization) 4ÉL FOR CONSULTATION

Lebih terperinci

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia International Labour Organization Jakarta Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Kerjasama dan Usaha yang Sukses Pedoman pelatihan untuk manajer dan pekerja Modul EMPAT SC RE Kesinambungan Daya Saing dan

Lebih terperinci

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK A. Pengertian Dalam hal ini pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM SEKOLAH

EVALUASI PROGRAM SEKOLAH KOMPETENSI EVALUASI PENDIDIKAN PENGAWAS SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH EVALUASI PROGRAM SEKOLAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2009 KATA PENGANTAR Peraturan Menteri

Lebih terperinci

Oleh : Yustiana K2303068

Oleh : Yustiana K2303068 PENGGUNAAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA SMA TAHUN AJARAN 2006/2007 Oleh : Yustiana K2303068 Skripsi Ditulis dan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar. Sarjana Pendidikan Islam. Oleh: Muhammad Ansori 11508045

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar. Sarjana Pendidikan Islam. Oleh: Muhammad Ansori 11508045 PENERAPAN MODEL MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS V MADRASAH IBTIDAIYAH MA ARIF KARANGASEM KECAMATAN WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2012/2013

Lebih terperinci

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Pengantar Miles & Huberman (1984) mengemukakan bahwa telah terjadi lompatan paradigma (the shifting

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069 i SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI PADA SISWA KELAS V SDN 8 DAUH PURI

Lebih terperinci

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MATERI KULIAH MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK Oleh: Maryati, M.Pd SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) BIMA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan tentang Standar Proses

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan tentang Standar Proses 17 BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan tentang Standar Proses Standar proses pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang berarti dalam standar proses pembelajaran berlangsung. Penyusunan standar

Lebih terperinci

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007 HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 006/007 Skripsi Oleh AGUS P. ANDI W. NIM. K5103003 FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) Oleh: Drs. Asmin, M. Pd Staf Pengajar Unimed Medan (Sedang mengikuti Program Doktor di PPS UNJ Jakarta) Abstrak. Membangun manusia pembangunan

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR 136 BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR Sebagai bagian dari kajian budaya kritis (critical cultural studies) penelitian ini berfokus pada implementasi

Lebih terperinci

Bab 1. Pendahuluan. 5. Metode pengajaran Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar 6.

Bab 1. Pendahuluan. 5. Metode pengajaran Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar 6. Bab 1 Pendahuluan U paya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia seutuhnya, adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab professional setiap guru. Guru tidak cukup hanya

Lebih terperinci

PEMINATAN PESERTA DIDIK

PEMINATAN PESERTA DIDIK PEMINATAN PESERTA DIDIK KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIK 2013 i

Lebih terperinci

MATA KULIAH. Oleh : Dra. Fedianty A, MM

MATA KULIAH. Oleh : Dra. Fedianty A, MM EDISI REVISI MATA KULIAH Oleh : Dra. Fedianty A, MM D3 SEKRETARI FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS DR. SOETOMO Tahun 2012 ( Digunakan untuk kalangan sendiri ) BAB I PERSPEKTIF MANAJEMEN SUMBER DAYA

Lebih terperinci

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut:

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Akuntansi a. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi Belajar merupakan suatu kebutuhan mutlak setiap manusia. Tanpa belajar manusia tidak dapat bertahan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan Dr.Gatot Hari Priowirjanto

KATA PENGANTAR. Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan Dr.Gatot Hari Priowirjanto KATA PENGANTAR Modul ini merupakan salah satu modul yang membahas tentang demokrasi. Sub kompetensi yang harus dicapai siswa dengan mempelajari modul Menjunjung tinggi mekanisme dan hasil keputusan dengan

Lebih terperinci

PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA

PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI Oleh: RESSA ARSITA SARI NPM : A1G009038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006

STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006 1 STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006 SKRIPSI OLEH: PUTRI ARUMINGTYAS NIM : K 2402529 Skripsi

Lebih terperinci

BUKU AJAR MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA. Oleh : Tim Dosen Mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia Program Studi Teknik Industri

BUKU AJAR MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA. Oleh : Tim Dosen Mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia Program Studi Teknik Industri BUKU AJAR MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA Oleh : Tim Dosen Mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Wijaya Putra 2009 KATA PENGANTAR Mata kuliah

Lebih terperinci

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.:

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.: SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI DATAR MELALUI IMPLEMENTASI CTL DENGAN BANTUAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V A SD NEGERI 10 KESIMAN TAHUN

Lebih terperinci