SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI"

Transkripsi

1 SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI YUNITA ANGGRAENI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2 RINGKASAN YUNITA ANGGRAENI. D Sifat Fisik Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem di Suhu Ruang. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama Pembimbing Anggota : Ir. Hj. Niken Ulupi, MS. : Zakiah Wulandari, S. TP., MSi. Ayam broiler adalah hasil budidaya teknologi peternakan yang memiliki karakteristik ekonomi dengan ciri khas pertumbuhannya cepat. Daging ayam broiler siap potong pada umur hari dengan berat 1,2 1,9 kg/ekor. Proporsi daging terbesar daging ayam terdapat pada bagian dada, dengan melihat kualitas daging dada ayam, maka kita dapat melihat kualitas daging ayam secara keseluruhan. Daging ayam termasuk bahan pangan yang mudah rusak. Lama postmortem dapat mempengaruhi kerusakan daging ayam terutama sifat fisik, karena semakin lama daging dibiarkan pada suhu ruang, kemungkinan untuk terkontaminasi mikroba semakin besar, sehingga menyebabkan penurunan kualitas yang cepat. Penanganan daging ayam selama penyembelihan dan pada saat pemasaran salah satu titik kritis yang perlu diperhatikan untuk mengurangi kontaminasi daging. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari sifat fisik daging dada ayam broiler pada berbagai lama postmortem. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kualitas fisik daging dada ayam selama 8 jam postmortem. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hari pemotongan yang berbeda sebagai kelompok, terdiri dari 3 kelompok dan sebagai perlakuan adalah lama postmortem 0, 2, 4, 6, dan 8 jam. Peubah yang diamati adalah ph, kadar air, daya mengikat air dan aktivitas air. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji kontras polinom orthogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama postmortem berpengaruh nyata terhadap rataaan kadar air dan sangat nyata berpengaruh terhadap ph, dan aktivitas air, tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai daya mengikat air daging ayam broiler. Analisis ragam menunjukkan bahwa lama postmortem dari 0 8 jam postmortem menghasilkan rataan ph sebesar 5,76 5,40, rataan kadar air sebesar 74,50 73,90, rataan daya mengikat air sebesar 95,27 93,75%, dan rataan aktivitas air sebesar 0,985 0,960. Uji lanjut kontras polinomial orthogonal menunjukkan bahwa nilai ph, kadar air dan aktivitas air daging ayam broiler berubah mengikuti pola linier dengan koefisien korelasi negatif. Berdasarkan persamaan linier yang diperoleh lama postmortem akan semakin menurunkan nilai ph sebesar 0,045 satuan, kadar air sebesar 0,0973 satuan dan aktivitas air sebesar 0,003 satuan. Kata kunci : ayam broiler, daging dada ayam broiler, kualitas, postmortem. 2

3 ABSTRACT Physical Properties of Breast Meat Broilers at Various Long Time Postmortem in Temperate Room Anggraeni, Y., N. Ulupi, and Z. Wulandari Chickens meat is inclusive of food substance that easy to destroy or rotten. Breast meat will be the focus in this research. Long time of postmortem affected decrease of meat quality especially on physical properties. The acceptability of poultry muscle as food depends largerly upon chemical, physical and structural changes that occur in muscle as it converted to meat. This experiment was carried out to investigate decrease of meat quality (physical properties) in various time of postmortem.the aim of this research is to learn meat of chickens physical properties at various long time postmortem (0, 2, 4, 6 and 8 hours) and to know meat quality until 8 hours postmortem. Completely Block Randomized Design was used in this experiment. Treatment of this experiment is time of postmortem (0, 2, 4, 6 and 8 hours) and different day at slaughtering as block design consist of three block. If any significant different (p<0,05) betwen treatments were than compared by using contrast polinomial orthogonal test. The observed variable are ph, water content, water holding capacity (WHC) and water activity. The results shows that long time postmortem affected to water content value, and very affected to ph value, and water activity, but not affected to water holding capacity. This research shows that long time postmortem 0 8 hours results that ph mean ranged from 5,76 5,4, water content ranged from 74,50 73,90, WHC mean ranged from 95,27-93,75 and water activity ranged from 0,985 0,960. Average value on ph, water content and water activity changes following linier pattern with correlation coefficient are negatively. This mean that long time postmortem will be decreasing ph value, water content value and water activity value. Keywords: Chickens meat, breast meat, physical properties, quality, postmortem 3

4 SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Oleh : Yunita Anggraeni D PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

5 Judul : SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG Nama : Yunita Anggraeni NRP : D Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II (Ir. Niken Ulupi, MS) (Zakiah Wulandari, S.TP., M.Si) NIP NIP Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, MRur.Sc) NIP Tanggal lulus: 25 Oktober

6 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 16 Juni 1984 di Cilacap, Jawa Tengah. Penulis adalah anak kedua dari pasangan Bapak Sutarman dan Ibu Susminiati K. Pendidikan formal diawali tahun 1988 di TK Tunas Rimba Sidareja, Cilacap hingga tahun Pendidikan dasar diselesaikan pada tahun 1995 di SD Pius Sidareja, Cilacap. Pendidikan lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 1998 di SLTPN I Sidareja, Cilacap dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMUN I Sidareja, Cilacap, lulus tahun Penulis diterima sebagai mahasiswa pada program studi Teknologi Hasil Ternak, Jurusan Ilmu Produksi Ternak yang sekarang menjadi Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun Selama mengikuti pendidikan, penulis pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (HIMAPROTER) Fakultas Peternakan IPB periode dan aktif pada unit kegiatan mahasiswa (UKM) bidang olahraga bulu tangkis dan bola voly hingga Selain itu penulis juga aktif mengikuti kepanitiaan di beberapa acara yang diadakan di kampus Institut Pertanian Bogor. 6

7 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan segala Rahmat dan petunjuk-nya, penulis dapat meyelesaikan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul Sifat Fisik Daging Dada Ayam Broiler Yang Dibiarkan Di Suhu Ruang Pada Berbagai Lama Postmortem. Adapun yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi mengenai sifat fisik daging ayam selama 8 jam postmortem yang berkaitan dengan kualitas daging ayam. Daging ayam merupakan bahan makanan yang mudah rusak. Oleh karena itu penanganan pada waktu penyembelihan dan pada waktu pemasaran menjadi penting untuk diperhatikan berkaitan dengan kualitas daging. Kualitas daging dari sejak dipotong akan berbeda dengan daging yang dibiarkan berjam-jam pada suhu ruang. Kondisi fisik daging juga mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan dan beberapa perubahan setelah pemotongan seperti perubahan ph, daya mengikat air dan rigormortis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu saran dan kritik dari semua pihak sangat membantu dalam penulisan ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bogor, September 2005 Penulis 7

8 DAFTAR ISI RINGKASAN... ABSTRACT... RIWAYAT HIDUP... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Perumusan Masalah... 2 Tujuan... 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 Ayam Broiler... 3 Daging Ayam... 3 Daging Dada Ayam... 5 Kualitas Daging Ayam... 6 Sifat Fisik Daging Ayam... 7 Nilai ph... 7 Kadar Air... 9 Daya Mengikat Air Aktivitas Air Postmortem Perubahan Biokimia Glikolisis Rigormortis METODE Lokasi dan Waktu Materi Rancangan Percobaan Perlakuan Model Peubah yang Diukur Analisis Data Prosedur Penyembelihan Ayam Pengambilan Sampel Halaman i ii iii iv v vi vii viii 8

9 HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai ph Kadar Air Daya Mengikat Air Aktivitas Air (a w ) KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

10 DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Kandungan Nutrisi Daging Ayam Komposisi Kimia dan Karakterisitik Daging Dada Ayam Sesaat Setelah Dipotong Hubungan Antara Nilai ph Akhir dengan Warna Daging Nilai Rataan ph Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Nilai Rataan Kadar Air Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Nilai Rataan Daya Mengikat Air Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Nilai Rataan Aktivitas Air Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem

11 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Pengaruh Nilai ph Terhadap Jumlah Air Terikat Dalam Daging Pengaruh Nilai a w Terhadap Pertumbuhan Bakteri Gambar Penurunan ATP dan ph Selama Rigormortis Diagram Alir Proses Penyembelihan Ayam Grafik Perubahan Nilai ph Daging Dada Ayam pada Berbagai Lama postmortem Grafik Perubahan Nilai Kadar Air Daging Dada Ayam pada Berbagai Lama Postmortem Grafik Perubahan Nilai Aktivitas Air Daging Dada Ayam pada Berbagai Lama Postmortem

12 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Analisis Ragam Pengaruh Lama Postmortem Terhadap Nilai ph Daging Dada Ayam Broiler Analisis Ragam Pengaruh Lama Postmortem Terhadap Nilai Kadar Air Daging Dada Ayam Broiler Analisis Ragam Pengaruh Lama Postmortem Terhadap Nilai Daya Mengikat Air Daging Dada Ayam Broiler Analisis Ragam Pengaruh Lama Postmortem Terhadap Nilai Aktivitas Air Daging Dada Ayam Broiler Uji Lanjut Kontras Polinomial Orthogonal ph Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Uji Lanjut Kontras Polinomial Orthogonal Kadar Air Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Uji Lanjut Kontras Polinomial Orthogonal Aktivitas Air Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Persentase Koefisien Korelasi Antara ph dan Lama Postmortem Daging Dada Ayam Broiler Persentase Koefisien Korelasi Antara Kadar Air dan Lama Postmortem Daging Dada Ayam Persentase Koefisien Korelasi Antara Aktivitas Air dan Lama Postmortem Daging Dada Ayam

13 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu kemajuan dalam bidang peternakan dapat dilihat dari segi kuantitas dan kualitas. Peningkatan kuantitas harus diiringi dengan peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas ini penting mengingat dari tahun ke tahun konsumsi daging, terutama daging ayam menunjukan kenaikan yang cukup tajam seiring dengan kenaikan populasi penduduk. Peternakan ayam broiler merupakan salah satu yang dapat dikembangkan untuk memenuhi permintaan daging, karena ayam broiler merupakan ternak yang menghasilkan daging dengan waktu singkat. Selain itu daging ayam broiler memberikan sumbangan yang sangat besar bagi tercukupinya kebutuhan protein hewani. Kualitas dan keamanan bahan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam penilaian mutu daging. Kualitas karkas dan sampingan yang bermutu baik diperlukan ayam hidup yang sehat (tidak terdapat penyakit), ukuran seragam dan proporsional. Proses pemotongan yang benar dan teratur berperan pula dalam menentukan kualitas daging ayam. Apabila kualitas produk yang dihasilkan meningkat maka nilai jual produk tersebut diharapkan akan meningkat pula. Peningkatan kualitas produk ini diharapkan juga dapat meningkatkan pangsa pasar sehingga dapat diterima dipasar-pasar swalayan, hotel dan restoran. Di Indonesia sebagian besar produsen daging ayam masih menerapkan cara pemotongan tradisional dengan tempat pemotongan seadanya serta peralatan dan cara pemotongan kurang memenuhi syarat kesehatan. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat daging ayam adalah bahan makanan yang mudah rusak karena merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba. Daging ayam yang dibiarkan disuhu ruang akan lebih cepat busuk dan cepat mengalami penurunan kualitas. Hal ini akan berpengaruh pada sifat fisik daging. Kondisi fisik daging akan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan dan beberapa perubahan setelah pemotongan seperti perubahan ph, daya mengikat air dan rigormortis.oleh karena itu perlu dipelajari sifat fisik daging sejak dipotong sampai 8 jam postmortem. Lama penyimpanan selama postmortem berpengaruh terhadap sifat fisik daging karena semakin lama postmortem maka peluang daging ayam terkontaminasi 13

14 semakin besar, sehingga mempengaruhi aktivitas air dalam daging. Proses rigormortis yang terjadi pada saat postmortem menghasilkan asam laktat dalam metabolismenya. Semakin panjang lama rigormortis maka semakin banyak asam laktat yang dihasilkan sehingga akan berpengaruh terhadap nilai ph, yang selanjutnya mempengaruhi kadar air, daya mengikat air dan tersedianya air bebas. Perumusan Masalah Proses rigormortis merupakan proses terjadinya glikolisis anaerob yang memproduksi asam laktat yang terjadi selama fase postmortem. Semakin panjang lama rigormortis maka semakin banyak asam laktat yang dihasilkan. Asam laktat yang ada dalam daging akan mempengaruhi ph yang selanjutnya mempengaruhi kadar air, daya mengikat air dan ketersediaan air bebas. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik daging dada ayam pada berbagai lama postmortem, sehingga dapat memberikan informasi mengenai keadaan sifat fisik daging dada ayam broiler (ph, kadar air, daya mengikat air dan aktivitas air) pada berbagai lama postmortem. 14

15 TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ayam broiler merupakan ayam dengan pertambahan badan yang sangat cepat dengan perolehan timbangan berat badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, yaitu pada umur 5 6 minggu berat badannya bisa mencapai 1,3 1,8 kg (Cahyono, 1995). Ensminger (1992), USDA menjelaskan bahwa ayam broiler adalah ayam pedaging (biasanya dijual 6-8 minggu), yang beratnya mencapai 1,36 2,26 kg dagingnya empuk dan lunak, mudah dikunyah dan tulang kartilago fleksibel. Ayam broiler menurut Priyatno (2003) adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut hasil budidaya teknologi peternakan yang memiliki karakteristik ekonomi dengan ciri khas pertumbuhannya cepat, sebagai penghasil daging dengan konversi makanan irit dan siap potong pada umur muda yaitu hari dengan bobot 1,2 1,9 kg/ekor. Hardini (2004) menjelaskan bahwa ayam broiler adalah hasil dari pengembangan prinsip genetika pada ayam petelur yang kemudian menghasilkan ayam dengan produksi daging tinggi dalam waktu yang singkat. Pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil dahing dikatakan oleh Pym dan Nicholls (1979) karena pola makannya. Apabila pakan diberikan secara ad libitum, ayam pedaging akan berhenti makan setelah kenyang dan selanjutnya akan segera minum dan istirahat sehingga pembentukan daging akan lebih efisien (Hardini, 2004). Daging Ayam Kebutuhan daging ayam mengalami peningkatan yang pesat, karena beberapa alasan, diantaranya karena daging ayam relatif murah dibandingkan daging lain, dari segi kesehatan daging ayam lebih baik karena mengandung sedikit lemak dan kaya protein. Daging ayam mempunyai rasa yang dapat diterima semua golongan masyarakat dan cukup mudah diolah menjadi produk olahan yang bernilai tinggi, mudah disimpan dan mudah dikonsumsi (Priyatno, 2003). Mountney (1983) menjelaskan bahwa daging ayam adalah daging yang cukup ekonomis dengan kandungan gizi yang tinggi, rendah kalori serta mengandung asam lemak jenuh, asam lemak tidak jenuh dan asam amino esensial. Serat daging ayam 15

16 mudah untuk dipotong dan dicerna serta dapat bercampur baik dengan bumbu atau makanan lain. Kandungan nutrisi daging ayam dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Nutrisi Daging Ayam Nutrisi Jumlah (%) Air 75 Protein 21 Lemak 3 Karbohidrat Kurang dari 1 Mineral 1 Vitamin Kurang dari 1 Sumber : Cross dan Overby (1988) Protein pada daging ayam terdiri dari protein miofibril 50-55%, sarkoplasma 30-35% dan fraksi stroma 3-6% (Sams, 2001). Daging ayam mempunyai komposisi protein yang sangat baik karena mengandung semua asam amino esensial serta mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Secara umum, daging unggas memiliki kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. (Cross dan Overby, 1988). Ayam menyimpan cadangan energi sebagai lemak dan sebagian besar disimpan dalam jaringan tubuh (jaringan adiposa) (Rose, 1997). Kandungan lemak daging ayam sangat tergantung pada umur, jenis kelamin dan spesies (Mountney, 1983). Karbohidrat dalam daging ayam terdapat dalam bentuk glikogen dan asam laktat. Kadar glikogen kurang dari 1% sedangkan asam laktat merupakan hasil utama dari proses glikolisis glikogen pada fase postmortem dan ketika ayam disembelih (Forrest et. al., 1975). Ensminger (1992) menyebutkan bahwa mineral pada daging ayam terdiri dari makromineral dan mikromineral. Makromineral terdiri dari Ca, P, Mg, Na dan Kalium, sedangkan yang temasuk mikromineral adalah Fe, Cu dan Zn. Mountney (1983) menjelaskan bahwa daging ayam merupakan sumber vitamin yang baik untuk niasin, thiamin, riboflavin dan asam askorbat. Daging ayam dapat dipasarkan dengan tiga bentuk yaitu: (1) sebagai karkas yang sudah dieviserasi, (2) potongan komersial tanpa tulang, dan (3) potongan 16

17 daging ayam dengan tulang (Rose, 1997). Tipe otot ayam dibagi menjadi tiga tipe: (1) otot merah, terikat pada skeleton, (2) otot jantung, strukturnya mirip dengan otot merah, (3) otot putih, terdapat pada dinding pembuluh darah dan sistem pencernaan (Rose, 1997). Otot merah menurut Lawrie (1985), mempunyai serabut otot berwarna merah lebih banyak daripada serabut otot putih dan mengandung lebih banyak mioglobin, lemak, Fe, Na, Cu dan Zn. Pada otot putih, lebih banyak mengandung protein terlarut, jaringan otot dan glikogen tinggi serta lebih banyak mengandung serabut otot putih. Rose (1997), menyatakan bahwa yang termasuk dalam otot putih pada daging ayam adalah pada daging dada dan otot merah adalah daging paha. Secara umum potongan komersial karkas dibagi menjadi empat yaitu: dada, paha, sayap dan punggung. Daging dada merupakan bagian dengan persentase daging yang lebih tinggi dari potongan komersial dan dengan bentuk yang lebih disukai konsumen (Rose, 1997). Lesson dan Summer (1980), menyatakan bahwa dada merupakan komponen utama pada unggas dan secara kuantitatif lebih berat dibandingkan bagian paha, sayap dan punggung. Hal ini menunjukkan bahwa dada berkembang lebih dominan daripada bagian karkas lainnya selama pertumbuhan. Selanjutnya disebutkan bahwa persentase dada broiler adalah 28%, paha 18%, punggung 25% dan sayap 13% dari berat karkas (Merkley, et al., 1980). Daging Dada Ayam Komposisi kimia dan karakteristik daging dada ayam setelah dipotong ditampilkan pada Tabel 2 berikut: Tabel 2. Komposisi Kimia dan Karakteristik Daging Dada Ayam Sesaat Setelah Dipotong Kualitas Komposisi kimia (%) Air Protein Lemak Karakteristik Daging ph Air terlepas (%) selama 24 jam Susut masak (%) Sumber : Rose (1997) Daging dada ayam 74,4 21,8 3,2 5,8 7,3 23,5 17

18 Tabel 2. menunjukkan bahwa komponen terbesar pada daging dada ayam broiler adalah sebesar 74,4% dan ph akhir yang dihasilkan rendah yaitu 5,8. Menurut Judge et al. (1989), otot dada sebagian besar tersusun atas serabut putih yang sifat kontraksinya cepat, tetapi berlangsung singkat, metabolisme oksidatif rendah, metabolisme glikolitik dan glikogen tinggi. Hal ini berkaitan dengan pemecahan glikogen yang lebih tinggi, sehingga pembentukan asam laktat lebih besar. Oleh karena itu ph akhir otot dada rendah. Distribusi otot skeletal dalam unggas tergantung pada aktivitasnya untuk terbang. Sebagian besar unggas tidak menggunakan sayapnya untuk terbang walaupun mempunyai otot dada yang lebar. Otot dada ayam hanya digunakan untuk mengepak-ngepak dengan tujuan untuk menghindari bahaya predator. Daging dada hanya membutuhkan konsentrasi mioglobin yang rendah, oleh karena itu daging dada mempunyai warna yang lebih terang atau disebut daging putih. Kualitas Daging Ayam Kualitas daging didefinisikan sebagai istilah yang menggambarkan semua karakteristik daging termasuk didalamnya adalah sifat fisik, kimia, biokimia, mikrobiologi, kebersihan, sensori (penampakan umum) dan kandungan nutrisi (Anadon, 2002). Mead (1984) juga mengatakan bahwa kualitas dari daging ayam didefinisikan kedalam syarat syarat tertentu, seperti nilai nutrisi, kondisi higienis dan karakteristik sensori seperti warna, flavor, bau dan tekstur. Aspek tersebut penting bagi konsumen untuk menyeleksi dan memutuskan produk yang akan dibeli dan dikonsumsi. Permasalahan yang sering dihadapi adalah bahwa pertumbuhan broiler disertai dengan penambahan lemak tubuh, hal ini akan berpengaruh terhadap: (1) kehilangan daya mengikat air, (2) ketengikan, (3) oksidasi, (4) perubahan warna, (5) kerusakan tulang pada karkas. Ada beberapa macam masalah kualitas, pengaruhnya dan cara menanganinya harus diperhatikan terus menerus baik itu sifat fisik, kimia atau mikrobiologinya, tetapi sebagian besar penampilan kualitas daging dipengaruhi oleh sifat fisik. Masalah yang sering dihadapi adalah adanya kontaminasi atau bahwa penampilan fisik pada produk tidak sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Masalah penampilan fisik seperti warna, flavor, bau, ukuran, bentuk adalah faktor kualitas penting yang dipandang secara subjektif (Sams, 2001). 18

19 Warris (2000) mengatakan bahwa penanganan sebelum postmortem dapat mempengaruhi kualitas daging ayam karena dapat mempengaruhi keasaman atau perkembangan waktu rigor. Selanjutnya dikatakan bahwa daging dada termasuk daging yang pale, soft dan exudative (PSE). Daging PSE mempunyai glikolisis anaerob yang tinggi selama pemotongan. Glikolisis yang tinggi ini mengakibatkan penurunan ph yang cepat pula. ph ultimat daging PSE pada umumnya rendah yaitu sekitar 5,2 5,4. Daging ayam mudah mengalami penurunan kualitas sebagai akibat dari adanya perlakuan yang kurang baik pada saat ayam masih hidup, pada saat penanganan atau pada saat penyimpanan yang kurang sempurna (Sams, 2001). Kerusakan pada daging ayam belum tentu mengakibatkan kebusukan. Kerusakan daging ayam dapat terjadi karena pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme dalam jumlah banyak, aksi enzim dalam daging tersebut dan reaksi kimia dan perubahan sifat fisik dari daging selama penyimpanan (Frazier dan Westhoff, 1978). Enzim yang berada dalam daging mulai aktif pada keadaan segera setelah hewan dipotong. Setelah enzim tidak aktif lagi dan persediaan glikogen habis, maka bakteri yang berada dalam daging akan mulai berkembang terus (Libby, 1975). Kebusukan yang disebabkan oleh bakteri dimulai dengan fermentasi glukosa dan glikogen yang terdapat pada daging ayam. Hasil fermentasi glukosa dan glikogen tidak menyebabkan bau busuk dan tidak berhubungan dengan kebusukan (Sams, 2001). Protein adalah bahan selanjutnya yang akan difermentasi setelah karbohidrat di dalam daging ayam mulai habis. Hasil metabolisme protein akan menghasilkan produk yang sangat erat hubungannya dengan indikator kebusukan. Bakteri, khususnya Pseudomonas, akan memproduksi amonia selama metabolisme asam amino yang menyebabkan ph daging meningkat selama kebusukan (Ray, 2000). Sifat Fisik Daging Ayam Nilai ph ph merupakan jumlah ion hidrogen (H + ) dalam larutan. Air murni (aquadest) akan memisahkan jumlah ion hidrogen (H + ) dan ion hidroksil (OH - ). ph didefinisikan sebagai log 10 dari konsentrasi ion hidrogen (H + ) (Warris, 2000). Nilai ph yang diperoleh merupakan jumlah ion (H + ) yang terdapat dalam daging. ph 19

20 daging merupakan tingkat keasaman daging setelah pemotongan dan merupakan salah satu perubahan pokok dari konversi otot menjadi daging. Ketika hewan dipotong, sel individu masih hidup dan metabolisme tubuhnya masih berlanjut dengan menggunakan cadangan energi yang masih tersimpan. Pada kondisi tersebut hewan akan kehilangan banyak darah sehingga hilang juga suplai oksigen, oleh karena itu metabolisme sel secara berangsur-angsur berubah dari metabolisme aerobik menjadi metabolisme anaerobik. Metabolisme tersebut berjalan lambat karena menggunakan energi cadangan sehingga metabolisme anerobik kurang efisien. Hal ini menyebabkan suplai ATP menurun dan dihasilkan asam laktat seiring dengan meningkatnya aktifitas anaerobik. Ketika asam laktat mulai dihasilkan maka akan terjadi perubahan sel otot yaitu perubahan ph dari ph mendekati netral (7) menjadi ph yang lebih asam sekitar 5,7. Penurunan ini menyebabkan pengurangan aktivitas beberapa ATP yang memproduksi enzim, dan selanjutnya akan mengurangi produksi ATP (Sams, 2001). Buckle et al., (1987) menambahkan bahwa setelah ternak dipotong akan terjadi perubahan ph. Besarnya perubahan ph tergantung pada jumlah cadangan glikogen sebelum ternak dipotong yang akan diubah menjadi asam laktat. Perubahan glikogen otot menjadi asam laktat akan terhenti bila glikogen otot habis atau setelah enzim glikolitik menjadi tidak aktif. Pada ph rendah atau setelah glikogen tidak lagi sensitif terhadap enzim glikolitik pada kondisi seperti ini telah dicapai ph ultimat daging. Perubahan ph daging terjadi karena tidak adanya oksigen, maka ion hidrogen yang dilepas pada proses glikolisis tidak dapat diikat oleh oksigen sehingga terjadi akumulasi ion hidrogen dalam otot. Ion hidrogen ini kemudian dipergunakan untuk merubah asam piruvat menjadi asam laktat. Akibat asam laktat yang tertimbun ini, ph daging turun dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan struktur protein (Forrest, et al., 1975). Menurut Price dan Schweigert (1971), nilai ph akhir yang tinggi diatas 5,8 akan meningkatkan kemampuan mengikat air, karena cairan daging terikat oleh proteinnya. Hal ini menyebabkan warna daging lebih gelap. Rose (1997), mengatakan bahwa ph akhir juga mempengaruhi kekerasan daging ayam. Apabila ayam dipotong dalam kondisi stress maka cadangan glikogen dalam otot rendah 20

21 akibatnya ph akhir yang dihasilkan melebihi ph ultimat daging dan oleh sebab itu daging yang dihasilkan menjadi kering, keras dan gelap. Berikut hubungan antara tipe penurunan ph dengan warna daging (Tabel 3). Tabel 3. Hubungan Antara Nilai ph Akhir dengan Warna Daging ph akhir Tipe penurunan Warna daging 6,0-6,5 Agak Lambat Gelap 5,7-6,0 Agak Lambat Agak Gelap 5,3-5,7 Lambat Normal 5,3-5,6 Cepat Normal - agak gelap 5,0 Cepat Gelap - pucat tetapi berair 5,1-5,4 naik lagi 5,3-5,6 Cepat Pucat dan berair Sumber : Cassens (1966) Tabel di atas menunujukkan bahwa ph akhir yang tinggi akan menghasilkan warna dengan daging yang gelap sedangkan nilai ph akhir diantara 5,5-5,7 menghasilkan warna daging normal dan semakin rendah nilai ph akhir daging (<5,3) warna daging akan semakin pucat dan berair. Awal rigormortis dihubungkan dengan nilai penurunan ph intramuskular. Yang terjadi dalam broiler dan kalkun adalah 2-4 jam postmortem, sedangkan pada daging sapi (daging merah) adalah 10 jam postmortem. Daging merah mencapai ph ultimat pada 2-3 jam postmortem (ph 6,0-5,9), sedangkan ph ultimat untuk broiler (Otot putih) tercapai pada 8 jam postmortem. Waktu yang panjang pada awal rigor dan penurunan ph yang lambat dalam otot putih menunjukkan bahwa otot putih tersebut mempunyai cadangan energi yang tinggi terutama glikogen (Stewart et al., 1984). Lama penyimpanan pada suhu ruang berpengaruh langsung terhadap perubahan ph postmortem karena temperatur yang tinggi dapat meningkatkan laju glikolisis dan mempercepat mulainya perombakan cadangan energi pada saat kematian, sehingga dapat meningkatkan laju penurunan ph (Pearson & Young, 1989). Kadar Air Air merupakan komponen terbesar pada daging (Sams, 2001). Air adalah media cair sebagai media transportasi, nutrisi, hormon dan produk produk buangan 21

22 metabolit. Air juga merupakan media universal berbagai reaksi kimia dan proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh hewan (deman, 1997). Menurut Lakkonen (1973), air merupakan komponen terbesar pada daging dalam bentuk terikat dan air bebas dalam otot. Air yang terikat dengan otot adalah sejumlah air yang bersatu dengan protein dan berbeda dengan air bebas. Air bebas secara mekanik ditahan oleh membran protein dan protein filamen lain kemungkinan ditahan juga oleh kekuatan elektrostatik peptida. Kadar air dalam daging terdapat dalam tiga konsentris pada molekul protein. Tiga konsentris tersebut antara lain (1) hidrasi primer yang merupakan grup aktif yang terdapat dalam molekul protein, (2) hidrasi sekunder, yang akhirnya bergabung dengan air bebas sebagai tempat ke-3 (Price and Sweighert, 1971). Daya Mengikat Air (DMA) Dalam otot (hewan yang masih hidup) kira-kira 10 % air terikat pada protein otot. Akan tetapi sebagian besar air dalam otot terikat pada bagian antar filamen tebal dan filamen tipis pada protein. Kontraksi pada filamen ini disebabkan oleh perbedaan interaksi antara aktin dan myosin. Selama proses rigormortis daging akan mengalami penyusutan dan air akan dikeluarkan. Faktor yang mempengaruhi pembentukan filamen dan tingkat keasaman yang terjadi selama postmortem juga akan mempengaruhi jumlah air yang keluar dari daging (Mead, 1984). Menurut Lawrie (1985), faktor yang mempengaruhi daya mengikat air antara lain adalah umur, jenis ternak, fungsi otot, ph, lemak intramuskular, nutrisi, stress dan pengolahan. Faktor lain yang mempengaruhi daya mengikat air adalah (1) tidak adanya tempat pada protein miofibril yang menghasilkan jumlah aktomiosin komplek sebagai cadangan energi dan (2) perkembangan rigormortis yang menyebabkan Mg 2+ dan Ca 2+ dalam sarkoplasma mengikat gugus reaktif pada protein (Anadon, 2002). Hamm (1962), kemampuan daging mengikat air disebabkan oleh protein otot. Sekitar 34 % dari protein ini larut dalam air. Hanya sekitar 3% dari kemampuan otot mengikat air total yang disebabkan oleh protein yang larut dalam air (plasma). Kemampuan otot mengikat air terutama disebabkan oleh aktomiosin, komponen utama miofibril. 22

23 Daya mengikat air daging tergantung dari banyaknya gugus reaktif protein. Pada ph rendah, karena banyak asam laktat maka gugus reaktif protein berkurang, daya mengikat air berkurang, hal ini menyebabkan makin banyaknya air daging yang keluar (Forrest et al., 1975). Daya mengikat air diperbaiki oleh nilai ph yang tinggi, hal ini disebabkan protein sarkoplasma sangat mudah rusak dalam suasana asam dan cenderung untuk kehilangan daya mengikat air pada ph dibawah 6,2 (Buckle et al.,1987). Produksi asam laktat dan penurunan ph yang terjadi setelah pemotongan menyebabkan protein terdenaturasi, kehilangan solubilitas protein dan secara keseluruhan terjadi pengurangan gugus reaktif untuk mengikat air pada protein otot. Hal ini terjadi pada ph otot yang telah mencapai titik isolektrik. Pada ph ini muatan positif dan muatan negatif pada gugus reaktif seimbang. Oleh karena itu akan mengurangi jumlah gugus yang bereaksi dengan molekul air dan mengurangi kemampuan protein otot untuk mengikat air (Anadon, 2002). Menurut Pearson dan Young (1989), titik minimal daya mengikat air bersamaan dengan pencapaian ph rendah yaitu antara 5,0 5,1 yang juga bertepatan dengan titik isoelektrik protein otot. pada titik isoelektrik, muatan protein berada dalam keadaan seimbang, sehingga meningkatkan ikatan antara gugus molekul. Oleh karena itu lebih sedikit air yang terperangkap dalam jaringan protein miofibril seperti pada Gambar 1 (Price and Scweighert, 1971). Gambar 1. Pengaruh Nilai ph Terhadap Jumlah Air Terikat Dalam Daging yang Berpengaruh Terhadap Penyebaran Muatan pada Miofilamen. Sumber: Price and Scweighert,

24 Price and Scweighert (1971), menjelaskan bahwa Gambar 1, filamen pada kondisi (a) kelebihan muatan positif sehingga daya mengikat air daging akan meningkat pada ph kurang dari 5,0, (b) filamen dalam keadaan seimbang muatan positif sama dengan muatan negatif dan merupakan titik minimum daya mengikat air daging, (c) filamen kelebihan muatan negatif dan menyebabkan peningkatan daya mengikat air daging. Warris (2000) mengatakan bahwa nilai ph daging berpengaruh pada daya ikat air. Pada ph yang tinggi struktur protein longgar dan hal ini menyebabkan struktur serat dagingnya juga longgar, sehingga daging mampu mengikat air daging lebih banyak. Sebaliknya dengan ph rendah, strukturnya mengkerut dan menyebabkan penekanan air untuk keluar dari daging menjadi besar dan struktur serat dagingnya juga menjadi mengkerut dan menyebabkan daging tidak mampu mengikat air lebih baik, artinya daya ikat air menjadi rendah. Aktivitas Air (a w ) Winarno (1992) menyatakan bahwa aktivitas air (a w ) merupakan jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya, sehingga sangat menentukan dalam kerusakan bahan pangan. Air bebas secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain. Bagian air ini mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba dan media bagi reaksi-reaksi kimiawi. Berbagai mikroorganisme mempunyai a w minimum agar dapat tumbuh dengan baik, misalnya bakteri a w : 0,90. khamir : 0,80 0,90, dan kapang a w : 0,6 0,7. Daging segar mempunyai a w sekitar 0,990 dan pembusukan mudah sekali terjadi karena bertumbuhnya berbagai mikroorganisme. Penurunan a w akan meningkatkan tingkat pertumbuhan fungi, ragi dan bakteri. Nilai a w yang optimum untuk beberapa bahan makanan yang dapat diracuni oleh Staphilococcus aureus kirakira 0,995 (Lawrie, 1985). Troller and Cristian (1978) mengatakan bahwa pada saat mikroba tumbuh dilingkungan baru, maka yang mungkin terjadi adalah tumbuh (survival) atau mati (death). Pada dasarnya mikroba tumbuh makin tinggi dengan menurunnya nilai a w. Seperti dijelaskan pada Gambar 2. 24

25 Gambar 2. Pengaruh Nilai a w Terhadap Rata-rata Pertumbuhan Bakteri Sumber: Sperber, 1983 Dalam Troller and Cristian (1978) Beberapa mikroorganisme tumbuh baik pada kisaran a w 0,91-0,99. a w adalah faktor kritis yang dapat menentukan keamanan bahan pangan. Pengukuran a w dapat digunakan untuk memprediksi mikroorganisme mana yang akan tumbuh dan mana yang tidak dapat tumbuh. a w bukan merupakan air akan tetapi merupakan ukuran atau batas terendah air yang dapat digunakan oleh mikroorganisme (Anonimous, 2002). Perubahan Biokimia Postmortem Setelah pemotongan, maka akan terjadi perubahan biokimia, konversi otot menjadi daging. Perubahan biokimia ini akan menentukan kualitas akhir daging. Perkembangan rigormortis adalah faktor penting dalam proses kematian dan penting untuk menentukan kualitas daging. Pada saat hewan dipotong, maka akan terjadi pengeluaran darah, sehingga sel otot akan terus berlanjut menggunakan dan menghasilkan ATP selama cadangan glikogen masih tersedia (Greaser, 1986). Forrest et al., (1975) mengatakan bahwa tidak adanya darah setelah hewan dipotong menyebabkan penyediaan oksigen ke otak berhenti dan tidak ada lagi glikogen dalam otot sehingga hasil sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan dari otot dan mulai terjadi perubahan pada otot menjadi daging meliputi perubahan suhu, perubahan ph dan terjadinya proses rigormorti. Menurut Eskin (1971), terhentinya respirasi menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur jaringan otot hewan serta menurunnya jumlah ATP dan kreatin fosfat (CP) sebagai sumber energi. Hal ini ditandai dengan terjadinya 25

26 kekakuan (rigor) pada jaringan otot beberapa saat setelah hewan mati. Menurut Hamm (1981), jika CP habis, sintesa ATP diperoleh melalui glikolisis anaerob yang mengubah glikogen menjadi asam laktat. Dengan demikian pada fase awal kematian hewan hanya terjadi penurunan ph secara bertahap sementara jumlah ATP masih relatif konstan. Perubahan biokimia postmortem dalam konversi otot menjadi daging hampir sama antara aves dan mamalia. Akan tetapi glikolisis dan rigormortis terjadi lebih cepat pada unggas dibandingkan dengan spesies daging merah (Gray et al., 1974). Berbeda dengan spesies lain, perubahan saat postmortem pada unggas terjadi dalam waktu yang singkat dan rigor sempurna terjadi kira-kira 1 jam setelah pemotongan (Dransfeield and Sosnicki, 1999). Menurut Palupi (1986), sesaat setelah hewan dipotong, perubahan biokimia dalam jaringan masih terjadi. Proses kontraksi menyebabkan jaringan otot menjadi karkas dan kaku sedangkan proses relaksasi menyebabkan jaringan otot menjadi lunak dan empuk. Fase yang dialami jaringan otot hewan setelah dipotong (fase postmortem) adalah pre-rigor, rigormortis dan pasca rigormortis. Pada fase prerigor, daging masih lunak karena daya ikat air dan jaringan otot masih tinggi. Pada fase rigormortis, jaringan otot menjadi kaku. Fase ini sangat tergantung pada kondisi penyimpanan. Penyimpanan pada suhu rendah dapat menyebabkan fase rigormortis berlangsung cukup lama. Fase pasca rigormortis adalah fase pembentukan aroma dan pada fase ini daging menjadi lunak kembali, karena daya ikat air kembali meningkat sehingga daging menjadi empuk. Glikolisis Glikolisis adalah pemecahan glukosa untuk menghasilkan asam laktat karena tidak adanya oksigen. Dalam kondisi anaerobik, 2 molekul ATP pada setiap molekul glukosa dirombak dirubah menjadi asam laktat. Perubahan yang terjadi selama postmortem, merubah sistem metabolik otot dan serabut otot. Pada saat unggas dipotong, maka suplai oksigen dan nutrisi ke serabut otot, dan konsentrasi ATP dirombak, pertama adalah kreatin fosfat, dan kemudian glikogen. Pemecahan glikogen ini (glikolisis) adalah dibawa oleh aksi enzim yang terjadi dalam sarkoplasma terlarut pada otot dan menghasilkan asam laktat, dan terjadi perubahan ph otot postmortem yaitu dari 7,0 menjadi ph ultimat 26

27 5,6 5,8 dalam daging dada ( Mead, 1984). Kinsman (1994) mengatakan bahwa dalam metabolisme anaerobik yang terjadi hanyalah proses glikolisis. Pada awalnya, nilai glikolisis berjalan lambat dengan nilai ATP hasil dari perombakan kreatin fosfat rendah, tetapi selanjutnya menggunakan cadangan energi, sehingga glikolisis meningkat dan konsentrasi ATP juga meningkat. Ketika konsentrasi turun antara %, maka otot menjadi kurang extensible dan memasuki fase rigor. Unggas mulai megalami rigor dalam waktu yang relatif pendek (Mead, 1984). Proses glikolisis yang cepat dalam daging ayam akan menghasilkan proses rigormortis yang cepat pula. Hal itu menyebabkan tidak ada waktu untuk degradasi protein, sehingga daging menjadi keras. Kerusakan protein akan mengurangi daya mengikat air dalam daging dan akan memberikan tekstur yang lembab (Rose, 1997). Rigormotis Otot secara normal berkontraksi setelah kematian dan kemudian terjadi kekejangan otot yang disebut rigormortis. Kekejangan ini disebabkan oleh pertautan antara aktin dan miosin akibat keluarnya darah dan habisnya ATP (Adhenosin Triposphat) sehingga daya regang otot akan hilang dan akhirnya otot menjadi kaku (Forrest et al., 1975). Menurut Rose (1997) rigormortis adalah ketika unggas dipotong, maka otot mulai berkontraksi. Selanjutnya oksigen akan keluar karena tidak ada lagi suplai darah dalam tubuh. Yang terjadi hanya metabolisme anaerobik dan akan menghasilkan asam laktat dalam otot. Konsentrasi dalam otot terus menerus menurun sampai benar-benar habis. Penurunan ATP ini menyebabkan terbentuknya ikatan aktomiosin sehingga otot menjadi kaku. Pearson dan Young (1989), menyatakan bahwa setelah perkembangan rigor, ATP masih terdapat dalam otot dan dengan menurunnya nilai ph, kerja ATP-ase dihambat, hidrolisis ATP dicegah, dan melepaskan ikatan aktomiosin. Sams (2001) menjelaskan bahwa ATP adalah komponen penting dalam fungsi otot karena tidak hanya berfungsi untuk menyediakan energi, tapi juga berperan dalam beberapa reaksi terutama yang membantu pengaturan interaksi protein serat dalam kontraksinya. Otot terdiri dari filamen-filamen protein, yaitu filamen tebal (miosin) dan filamen tipis (aktin). Filamen ini adalah bagian dari 27

28 serabut otot yang disebut sarkomer, yang merupakan unit dasar terjadinya kontraksi dan relaksasi. ATP menyebabkan kontraksi, dengan menyediakan energi dan relaksasi dengan memecah rantai antara filamen tebal dan filamen tipis. Dalam hal ini konsentrasi minimum untuk ATP yang dapat digunakan adalah 1 µm ATP/g otot. Oleh karena itu ketika konsentrasi ATP mulai menurun maka tidak ada lagi ruang untuk merespon sistem syaraf dan stimulus dan ini terjadi dalam rigormortis. Lebih jelas terlihat pada Gambar 3. Gambar 3. Penurunan ATP dan ph selama proses rigormortis Sumber: Sams, 2001 Hamm (1981), menerangkan bahwa pada tingkat ATP dibawah 1 µm/g, energi yang dihasilkan tidak mampu mempertahankan fungsi retikulum sarkoplasma sebagai pompa kalsium (yang menjaga kondisi ion Ca 2+ disekitar miofilamen serendah mungkin. Akibatnya terjadi pembebasan ion Ca 2+. Ion Ca 2+ kemudian akan berkaitan dengan troponin yaitu suatu penghalang bagi pembentukan ikatan antara aktin dan miosin. Akibatnya terjadi elektrostatik antara filamen aktin dan miosin membentuk suatu kompleks yang disebut aktomiosin. Proses ini ditandai dengan pengkerutan dan kontraksi serabut otot yang tidak dapat balik. Bendall (1973), proses rigormortis dan kontraksi otot secara esensial adalah sama, tetapi pada kondisi rigormortis, relaksasi tidak mungkin terjadi. Peristiwa rigormortis berhubungan dengan semakin habisnya ATP otot. Kecepatan penurunan 28

29 jumlah ATP tergantung pada kandungan awal glikogen otot daging. Semakin tinggi kandungan glikogen semakin lama proses habisnya ATP. Habisnya ATP pasca pemotongan pada fase rigormortis menyebabkan terjadinya ikatan yang kuat antara filamen aktin dan miosin. Kuatnya jaringan protein miofibril tersebut juga dapat menyebabkan menyempitnya ruangan untuk pengikatan air sehingga daya mengikat air daging pada fase rigormortis rendah (Hamm 1981) dan apabila cadangan glikogen habis, perubahan ATP juga terhenti, sementara pemecahan ATP untuk menghasilkan energi terus berlangsung, sehingga jumlah ATP jaringan otot akan menyusut secara bertahap (Muchtadi dan Sugiyono, 1982). Rigormortis pada unggas lebih cepat dibandingkan pada mamalia. Daging ayam mulai mengalami rigormortis kira-kira dibawah 1 jam dan 90 menit pada kalkun. Unggas yang meronta-ronta sebelum dipotong akan mengalami proses glikolisis yang tinggi dalam postmortem. Pencabutan bulu menggunakan mesin akan meningkatkan glikolisis otot dibandingkan dengan pencabutan bulu secara manual, selain itu pencabutan bulu dengan mesin akan menghasilkan daging yang keras dan liat (Rose, 1997). 29

30 MATERI DAN METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan selama bulan September Lokasi pemotongan di Laboratorium Lapang Kandang B Bagian Ilmu Produksi Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis ph, aktivitas air (a w ) dan kadar air di Laboratorium Teknologi Kimia, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan untuk analisis daya mengikat air dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Materi Bahan yang digunakan adalah ayam broiler berumur 5 minggu diperoleh dari Peternakan Mandiri Leuwiliang sebanyak 6 ekor (diambil bagian dada saja, satu bagian dada digunakan untuk 5 perlakuan), garam (BaCl 2, Mg(NO 3 ) 2, NaCl dan KCl), aquadest dan kertas Whattman. Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari ph meter, blender, gelas piala, timbangan digital, pisau, talenan, alat penggiling daging, dan alat shibaura a w meter, cawan porselin, oven. Rancangan Percobaan Perlakuan Penelitian ini disusun dengan rancangan acak kelompok. Hari pemotongan yang berbeda sebagai kelompok, terdiri dari 3 kelompok, sebagai perlakuan adalah lama postmortem 0, 2, 4, 6 dan 8 jam. Model Model matematikanya mengacu pada Mattjik dan Sumertajaya (2000), sebagai berikut: Y ij = ì + ái + â i + å ij Keterangan : = nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j Y ij ì ái = rataan umum = pengaruh perlakuan ke-i (i = 0, 2, 4, 6 dan 8 jam) â i = pengaruh kelompok ke-j (j = 1, 2 dan 3) å ij = pengaruh acak perlakuan ke-i dan kelompok ke-j 30

31 Nilai ph (AOAC, 1984). Peubah yang Diamati Sampel daging digiling kemudian 10 g sampel hasil gilingan dimasukkan ke dalam gelas piala dan diencerkan dengan ditambahkan 100 ml aquadest. Setelah itu dimixer dengan menggunakan blender selama 1 menit lalu diukur dengan ph meter yang sebelumnya dikalibrasi pada ph 4 dan 7. Kadar Air (AOAC, 1984). Kadar air ditentukan secara langsung dengan menggunakan oven pada suhu 105ºC. Cawan yang digunakan terlebih dahulu ditimbang beratnya. Sampel sebanyak 3 g dimasukkan kedalam cawan porselin lalu ditimbang. Cawan beserta isi dikeringkan 1 malam (15 jam) dalam oven sampai beratnya konstan. Cawan berisi contoh tersebut selanjutnya dipindahkan ke desikator, didinginkan dan ditimbang. Pengeringan dilakukan sampai berat konstan. Kadar air dihitung dengan rumus berikut: Keterangan: A B C Kadar air (% berat basah) = : Berat sampel sebelum dikeringkan : Berat cawan dan sampel sebelum dikeringkan : Berat cawan dan sampel setelah dikeringkan Daya Mengikat Air (Hermanianto et al., 1999). B C A x 100 % Metode Hamm dapat digunakan untuk menggambarkan nilai daya mengikat air pada daging. Untuk mengukurnya, sebanyak 0,3 gram sampel ditekan dengan beban 35 kg, setelah lima menit daerah yang tertutup sampel daging dan luas daerah basah disekitarnya ditandai dan diukur. Daerah basah merupakan luas lingkaran luar dikurangi luas lingkaran dalam diukur dengan planimeter dan diperoleh nilai gh 2 O, dengan rumus sebagai berikut: gh 2 O = daerahbasah 0,0948-8,0 31

32 Nilai daya mengikat air dihitung dengan rumus sebagai berikut: DMA = x y x x 100% Keterangan : x : Jumlah air sampel (gram) y : Jumlah air terlepas (gh 2 O) Nilai Aktivitas Air (AOAC, 1984). Penentuan nilai aktivitas air dari produk diukur dengan menggunakan alat pengukur a w (Shibaura a w meter). Sebelum melakukan pengukuran a w produk, dilakukan kalibrasi alat dengan memasukkan garam kedalam wadah yang telah tersedia. Jenis garam yang digunakan adalah BaCl 2, Mg(NO 3 ) 2, NaCl dan KCl. Pengukuran nilai a w dilakukan dengan cara memasukkan sampel yang akan diukur dalam wadah yang tersedia pada alat tersebut, kemudian sampel didiamkan kurang lebih 15 menit, setelah itu dilihat nilai a w yang tertera pada alat tersebut. Analisis Data Data nilai ph, kadar air, daya mengikat air dan aktivitas air yang diperoleh diolah dengan analisis ragam (ANOVA). Apabila terdapat perbedaaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji kontras polinomial ortogonal (Mattjik dan Sumertajaya, 2000). Prosedur Penelitian Penyembelihan Ayam Penyembelihan dimulai pada pukul , dilakukan dengan menggantungkan ayam dalam corong penggantung sedemikian rupa sehingga kepala ayam menjulur keluar dengan posisis kepala dibawah. Ayam dipotong tepat di bawah rahang termasuk vena jugularis, pipa tenggorok dan kerongkongan. Setelah dipotong ayam dibiarkan tergantung dalam corong selama kurang lebih 2 5 menit agar darah keluar sempurna. Selanjutnya dilakukan Scalding, yaitu pencelupan ayam kedalam air panas suhu sekitar 60ºC selama 1 menit untuk memudahkan pencabutan bulu. Pencabutan bulu, dilakukan tanpa menggunakan alat pencabut bulu, tetapi dilakukan secara manual. Pengeluaran isi rongga perut dilakukan dengan membuat irisan mendatar pada daerah perut kemudian isi rongga perut ditarik keluar dengan tangan. 32

33 Selanjutnya dilakukan pemotongan leher, sayap, kaki dan dada, kemudian dilakukan pencucian. Gambar 4 menunjukkan diagram alir proses penyembelihan ayam. Penggantungan ayam Pemotongan leher tepat dibawah rahang. Pengeluaran darah ± 2 menit Pencelupan kedalam air panas (60 C selama 1 menit) Pencabutan bulu Pengeluaran isi rongga perut Pemotongan leher, sayap, kaki, paha dan dada Pencucian Gambar 4. Diagram Alir Proses Penyembelihan Ayam Sumber: Priyatno, 2003 Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bagian dada. Daging dada ayam broiler dibiarkan pada suhu ruang selama 8 jam postmortem. Pengamatan dimulai pada 0 jam postmortem, 2 jam postmortem, 4 jam postmortem, 6 jam postmortem dan 8 jam postmortem. Pengambilan sampel untuk tiap perlakuan 33

34 dilakukan dengan cara mengiris satu sisi bagian dada yang telah ditentukan secara acak. Kemudian ditimbang berat sampel sesuai yang ditentukkan, untuk analisis ph 10 g, analisis kadar air 3 g, analisis daya mengikat air 0,3 g dan analisis aktivitas air 2 g. Selanjutnya dianalisis sifat fisik daging meliputi nilai ph, kadar air, daya mengikat air dan aktivitas air secara bersamaan. 34

35 HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai ph Pengukuran ph daging ayam sesaat setelah dipotong, dilakukan menggunakan kertas lakmus dengan nilai ph antara 6-7. Rataan nilai ph pada 0 jam postmortem sebesar 5,76. Hal ini menunjukkan telah terjadi penurunan ph yang cepat. Penurunan ph yang cepat ini disebabkan karena pada saat ayam disembelih akan terjadi pengeluaran darah yang mengakibatkan sirkulasi darah dan oksigen kedalam tubuh berhenti. Hal tersebut mengakibatkan ion hidrogen tidak dapat berikatan lagi dengan oksigen sehingga terjadi akumulasi ion hidrogen dalam otot. Ion hidrogen ini digunakan untuk merubah asam piruvat menjadi asam laktat, oleh karena itu akan mempengaruhi nilai ph (Forrest et al., 1975). Kontraksi otot (rigormortis) yang cepat pada daging dada berkaitan dengan metabolisme glikolitik dan glikogen yang tinggi sehingga pembentukan asam laktat lebih besar dan menurunkan ph lebih cepat (Rose, 1997). Hasil pengamatan nilai rataan ph daging dada ayam broiler pada berbagai lama postmortem disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Nilai Rataan ph Daging Dada Ayam Broiler Pada Berbagai Lama Postmortem Lama postmortem (jam) Nilai ph 5,76 ± 0,144 5,65 ± 0,150 5,55 ± 0,100 5,48 ± 0,104 5,40 ± 0,000 Rataan nilai ph daging dada ayam broiler dari 0-8 jam postmortem menurun dari 5,76 menjadi 5,40. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa lama postmortem sangat berpengaruh terhadap rataan nilai ph. Hasil uji lanjut kontras polinomial orthogonal menunjukkan bahwa perubahan ph daging dada ayam broiler pada berbagai lama postmortem selama 8 jam mengikuti pola linier dengan koefisien korelasi negatif (-0,996). Artinya bahwa 35

SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI

SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI SIFAT FISIK DAGING DADA AYAM BROILER PADA BERBAGAI LAMA POSTMORTEM DI SUHU RUANG SKRIPSI YUNITA ANGGRAENI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 1 RINGKASAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Konversi Otot Menjadi Daging

TINJAUAN PUSTAKA Konversi Otot Menjadi Daging II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konversi Otot Menjadi Daging Kondisi ternak sebelum penyembelihan akan mempengaruhi tingkat konversi otot menjadi daging dan juga mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan

Lebih terperinci

DAGING. Theresia Puspita Titis Sari Kusuma. There - 1

DAGING. Theresia Puspita Titis Sari Kusuma. There - 1 DAGING Theresia Puspita Titis Sari Kusuma There - 1 Pengertian daging Daging adalah bagian tubuh yang berasal dari ternak sapi, babi atau domba yang dalam keadaan sehat dan cukup umur untuk dipotong, tetapi

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN (Kuliah TM 4; 23 Sept 2014) PROSES MENGHASILKAN DAGING TERNAK HIDUP KARKAS POTONGAN BESAR READY TO COOK Red meat White meat NAMP Meat Buyer

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh penggunaan restraining box terhadap ph daging Hasil pengujian nilai ph dari daging yang berasal dari sapi dengan perlakuan restraining box, nilai ph rata-rata pada

Lebih terperinci

DAGING. Pengertian daging

DAGING. Pengertian daging Pengertian daging DAGING Titis Sari Kusuma Daging adalah bagian tubuh yang berasal dari ternak sapi, babi atau domba yang dalam keadaan sehat dan cukup umur untuk dipotong, tetapi hanya terbatas pada bagian

Lebih terperinci

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Praktikum yang dilaksanakan pada 12 September 2011 mengenai perubahan fisik, kimia dan fungsional pada daging. Pada praktikum kali ini dilaksanakan pengamatan perubahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak

I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak serta zat yang lain yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Usaha untuk meningkatkan konsumsi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak,

BAB I PENDAHULUAN. kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kelangsungan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh nilai atau kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak, karbohidrat, mineral, serta

Lebih terperinci

SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI

SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada setiap sediaan otot gastrocnemius dilakukan tiga kali perekaman mekanomiogram. Perekaman yang pertama adalah ketika otot direndam dalam ringer laktat, kemudian dilanjutkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot dan Persentase Komponen Karkas Komponen karkas terdiri dari daging, tulang, dan lemak. Bobot komponen karkas dapat berubah seiring dengan laju pertumbuhan. Definisi pertumbuhan

Lebih terperinci

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus Populasi Kultur Starter HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan Perhitungan populasi dilakukan untuk mendapatkan kultur starter yang terbaik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Pada tahap pendahulan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Bakteriosin HASIL DAN PEMBAHASAN Bakteriosin merupakan senyawa protein yang berasal dari Lactobacillus plantarum 2C12. Senyawa protein dari bakteriosin telah diukur konsentrasi dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Kelinci Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci fryermerupakan karkas kelinci muda umur 2 bulan, sedangkan karkas kelinci

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Sapi Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan

Lebih terperinci

PAPER BIOKIMIA PANGAN

PAPER BIOKIMIA PANGAN PAPER BIOKIMIA PANGAN BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia terkait erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari urusan sandang dan pangan, bahan bakar, obat-obatan sampai bahan konstruksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat menuntut produksi lebih dan menjangkau banyak konsumen di. sehat, utuh dan halal saat dikonsumsi (Cicilia, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat menuntut produksi lebih dan menjangkau banyak konsumen di. sehat, utuh dan halal saat dikonsumsi (Cicilia, 2008). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan masyarakat Indonesia akan gizi menuntut dikembangkannya berbagai industri pangan. Salah satu sektor yang turut berperan penting dalam ketersediaan bahan pangan

Lebih terperinci

Karakteristik mutu daging

Karakteristik mutu daging Karakteristik mutu daging Oleh: Elvira Syamsir (Tulisan asli dalam Kulinologi Indonesia edisi Maret 2011) Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik dan digunakan konsumen

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT FISIK DAN PARAMETER SPESIFIK KUALITAS DAGING

SIFAT-SIFAT FISIK DAN PARAMETER SPESIFIK KUALITAS DAGING SIFAT-SIFAT FISIK DAN PARAMETER SPESIFIK KUALITAS DAGING KUALITAS DAGING Dalam pengujian kualitas daging dipergunakan sampel-sampel : macam otot, penyiapan sampel. Uji fisik obyektif yang meliputi Keempukan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. amino esensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Daging broiler

PENDAHULUAN. amino esensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Daging broiler PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging broiler merupakan komoditas yang banyak diperdagangkan dan sangat diminati oleh konsumen karena merupakan sumber protein hewani yang memiliki kandungan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian Kandungan Nutrisi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Pakan Penelitian Kandungan nutrisi pakan tergantung pada bahan pakan yang digunakan dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi pakan penelitian dari analisis proksimat

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang disertai dengan perkembangan pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan terjadinya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi bali dikenal sebagai sapi lokal yang banyak dipelihara di Pulau Bali karena sangat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi bali dikenal sebagai sapi lokal yang banyak dipelihara di Pulau Bali karena sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi bali dikenal sebagai sapi lokal yang banyak dipelihara di Pulau Bali karena sangat menguntungkan peternak di samping cara pemeliharaannya yang mudah dan sifatnya

Lebih terperinci

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 2012 DAFTAR ISI 1. Apa Kandungan gizi dalam Daging ayam? 2. Bagaimana ciri-ciri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub family Anatinae, rumpun Anatini,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub family Anatinae, rumpun Anatini, 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Itik merupakan salah satu unggas air yang lebih dikenal dibanding dengan jenis unggas air lainnya seperti angsa dan entog. Itik termasuk ke dalam kelas Aves,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan TINJAUAN PUSTAKA Daging Kerbau Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan mempunyaikebiasaan berendam di sungai dan lumpur. Ternak kerbau merupakan salah satu sarana produksi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu unggas yang sangat efisien dalam menghasilkan daging dan digemari oleh masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

PENGARUH SUBSTITUSI DAGING SAPI DENGAN KULIT CAKAR AYAM TERHADAP DAYA IKAT AIR (DIA), RENDEMEN DAN KADAR ABU BAKSO SKRIPSI. Oleh:

PENGARUH SUBSTITUSI DAGING SAPI DENGAN KULIT CAKAR AYAM TERHADAP DAYA IKAT AIR (DIA), RENDEMEN DAN KADAR ABU BAKSO SKRIPSI. Oleh: PENGARUH SUBSTITUSI DAGING SAPI DENGAN KULIT CAKAR AYAM TERHADAP DAYA IKAT AIR (DIA), RENDEMEN DAN KADAR ABU BAKSO SKRIPSI Oleh: NURUL TRI PRASTUTY H2E 006 035 FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Afkir Daging itik mempunyai kualitas rendah karena bau amis, bertekstur kasar dan alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUN PUSTAKA. lengkap dan memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap kondisi

BAB II TINJAUN PUSTAKA. lengkap dan memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap kondisi 4 BAB II TINJAUN PUSTAKA 2.1 Ayam Kampung Ayam kampung merupakan salah satu sumber daging yang protein yang lengkap dan memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik,

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING KELAS B Juni Sumarmono, PhD Ir. Kusuma Widayaka, MS SEMESTER GASAL 207/2018 Kuliah TM 4 Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan

Lebih terperinci

2ooG KUALITAS FISIK DAN ORGANOLEPTIK DAGING AYAM BROILER YANG RANSUMNYA DIBERI PENAMBAHAN MINYAK IKAN YANG MENGANDUNG OMEGA3 SKRIPSI MAD TOBRI

2ooG KUALITAS FISIK DAN ORGANOLEPTIK DAGING AYAM BROILER YANG RANSUMNYA DIBERI PENAMBAHAN MINYAK IKAN YANG MENGANDUNG OMEGA3 SKRIPSI MAD TOBRI 2ooG 0 17 KUALITAS FISIK DAN ORGANOLEPTIK DAGING AYAM BROILER YANG RANSUMNYA DIBERI PENAMBAHAN MINYAK IKAN YANG MENGANDUNG OMEGA3 SKRIPSI MAD TOBRI PROGRAM STUD1 TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan protein hewani mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Salah satu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Pengeringan yang dilakukan dua kali dalam penelitian ini bertujuan agar pengeringan pati berlangsung secara merata. Setelah dikeringkan dan dihaluskan

Lebih terperinci

KUALITAS KIMIA DAGING DADA AYAM BROILER YANG PAKANNYA DITAMBAHKAN CAMPURAN MINYAK IKAN KAYA ASAM LEMAK OMEGA-3 SKRIPSI DANNI HARJANTO

KUALITAS KIMIA DAGING DADA AYAM BROILER YANG PAKANNYA DITAMBAHKAN CAMPURAN MINYAK IKAN KAYA ASAM LEMAK OMEGA-3 SKRIPSI DANNI HARJANTO KUALITAS KIMIA DAGING DADA AYAM BROILER YANG PAKANNYA DITAMBAHKAN CAMPURAN MINYAK IKAN KAYA ASAM LEMAK OMEGA-3 SKRIPSI DANNI HARJANTO PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Februari 2014 di

MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Februari 2014 di III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Februari 2014 di Laboratorium Teknologi Produksi Ternak dan Laboratorium Teknologi Pasca Panen,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi PENDAHULUAN Latar Belakang Daging merupakan salah satu komoditi pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, karena daging mengandung protein yang bermutu tinggi, yang mampu menyumbangkan

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TEPUNG KENCUR

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TEPUNG KENCUR EFEKTIVITAS PEMBERIAN TEPUNG KENCUR (Kaempferia galanga Linn) PADA RANSUM AYAM BROILER RENDAH ENERGI DAN PROTEIN TERHADAP PERFORMAN AYAM BROILER, KADAR KOLESTROL, PERSENTASE HATI DAN BURSA FABRISIUS SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun BAB III MATERI DAN METODE Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun papaya terhadap ph, daya kunyah dan kesukaan dilaksanakan pada tanggal 15 Januari sampai 14

Lebih terperinci

PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI SARI BUAH MARKISA KUNING

PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI SARI BUAH MARKISA KUNING PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI SARI BUAH MARKISA KUNING (Passiflora flavicarpa) TERHADAP MUTU FISIK DAGING AYAM PETELUR AFKIR THE EFFECT OF VARIOUS CONCENTRATION OF YELLOW PASSION FRUITS EXTRACT (Passiflora

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK KIMIA SOSIS ASAP DENGAN BAHAN BAKU CAMPURAN DAGING DAN LIDAH SAPI SELAMA PENYIMPANAN DINGIN (4-8 o C)

KARAKTERISTIK KIMIA SOSIS ASAP DENGAN BAHAN BAKU CAMPURAN DAGING DAN LIDAH SAPI SELAMA PENYIMPANAN DINGIN (4-8 o C) KARAKTERISTIK KIMIA SOSIS ASAP DENGAN BAHAN BAKU CAMPURAN DAGING DAN LIDAH SAPI SELAMA PENYIMPANAN DINGIN (4-8 o C) SKRIPSI HENDRIA FIRDAUS PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan dan Peralatan Penelitian 3.1.1. Bahan Penelitian Penelitian ini menggunakan daging ayam broiler sebanyak 8 ekor yang berasal dari CV. Putra Mandiri, dan strain

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Ternak babi bila diklasifikasikan termasuk ke dalam kelas Mamalia, ordo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Ternak babi bila diklasifikasikan termasuk ke dalam kelas Mamalia, ordo BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Babi Babi adalah binatang yang dipelihara dari dahulu, dibudidayakan, dan diternakkan untuk tujuan tertentu utamanya untuk memenuhi kebutuhan akan daging atau

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2008 di Desa Pamijahan, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggunakan kandang panggung peternak komersil. Analisis

Lebih terperinci

KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber)

KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber) KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber) KASUS SEPUTAR DAGING Menghadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran biasanya

Lebih terperinci

HASlL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengukuran secara obyektif untuk ph (derajat keasaman) dagingusie Reubohn dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

HASlL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengukuran secara obyektif untuk ph (derajat keasaman) dagingusie Reubohn dapat dilihat pada tabel dibawah ini : HASlL DAN PEMBAHASAN ph Daging Hasil pengukuran secara obyektif untuk ph (derajat keasaman) dagingusie Reubohn dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3. Rataan nilai ph daging "Sie Reuboh" 1 Tingkat

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai

PENGANTAR. Latar Belakang. Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai PENGANTAR Latar Belakang Daging merupakan produk utama dari ternak unggas. Daging sebagai sumber protein hewani banyak mengandung gizi yang dibutuhkan oleh manusia. Seiring dengan semakin meningkatnya

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging,

I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging, I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Ras Pedaging Menurut Indro (2004), ayam ras pedaging merupakan hasil rekayasa genetik dihasilkan dengan cara menyilangkan sanak saudara. Kebanyakan induknya diambil dari Amerika

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, April 2017, Hal Vol. 12 No. 1 ISSN :

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, April 2017, Hal Vol. 12 No. 1 ISSN : Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, April 2017, Hal 22-28 Vol. 12 No. 1 PENGARUH PEMBERIAN PAKAN DEDAK PADI TERFERMENTASI CAIRAN RUMEN TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING AYAM Effect of Rice Bran Fermented

Lebih terperinci

DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc.

DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc. DINI SURILAYANI, S. Pi., M. Sc. dhinie_surilayani@yahoo.com Ikan = perishable food Mengandung komponen gizi: Lemak, Protein, Karbohidrat, dan Air Disukai Mikroba Mudah Rusak di Suhu Kamar Setelah ikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik Nilai Organoleptik BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Organoleptik Data hasil penelitian pengaruh penambahan garam terhadap nilai organoleptik ikan lolosi merah (C. chrysozona) dapat di lihat pada analisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi masyarakat, mempengaruhi meningkatnya kebutuhan akan makanan asal hewan (daging). Faktor lain

Lebih terperinci

SUBTITUSI DEDAK PADI DENGAN LIMBAH RESTORAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA RANSUM AYAM BROILER SKRIPSI ALBERTUS RANDY SOEWARNO

SUBTITUSI DEDAK PADI DENGAN LIMBAH RESTORAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA RANSUM AYAM BROILER SKRIPSI ALBERTUS RANDY SOEWARNO SUBTITUSI DEDAK PADI DENGAN LIMBAH RESTORAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA RANSUM AYAM BROILER SKRIPSI ALBERTUS RANDY SOEWARNO PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c (THE QUALITY OF WAGYU BEEF AND BALI CATTLE BEEF DURING THE FROZEN STORAGE AT - 19 O C) Thea Sarassati 1, Kadek Karang Agustina

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK SEBAGAI PEWARNA ALAMI TERHADAP PRODUKSI KORNET DAGING AYAM

PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK SEBAGAI PEWARNA ALAMI TERHADAP PRODUKSI KORNET DAGING AYAM PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK SEBAGAI PEWARNA ALAMI TERHADAP PRODUKSI KORNET DAGING AYAM Disajikan oleh : Arsidin(E1A007003), dibawah bimbingan Haris Lukman 1) dan Afriani 2) Jurusan Produksi Ternak, Fakultas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ayam jantan ras White Cornish dari Inggris dengan ayam betina dari ras

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ayam jantan ras White Cornish dari Inggris dengan ayam betina dari ras BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pedaging Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama ayam broiler adalah merupakan jenis ras unggul dari persilangan (perkawinan) antara ayam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi, sumber vitamin (A, C,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%)

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%) MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas. Pemotongan puyuh dan penelitian persentase karkas dilakukan di Laboratorium Unggas serta uji mutu

Lebih terperinci

Pengaruh Lama Penyimpanan dalam Lemari Es terhadap PH, Daya Ikat Air, dan Susut Masak Karkas Broiler yang Dikemas Plastik Polyethylen

Pengaruh Lama Penyimpanan dalam Lemari Es terhadap PH, Daya Ikat Air, dan Susut Masak Karkas Broiler yang Dikemas Plastik Polyethylen Pengaruh Lama Penyimpanan dalam Lemari Es terhadap PH, Daya Ikat Air, dan Susut Masak Karkas Broiler yang Dikemas Plastik Polyethylen Dede Risnajati 1 Intisari Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan

Lebih terperinci

PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JAGUNG DAN BUNGKIL KEDELAI DENGAN SUPLEMENTASI DL-METIONIN SKRIPSI HANI AH

PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JAGUNG DAN BUNGKIL KEDELAI DENGAN SUPLEMENTASI DL-METIONIN SKRIPSI HANI AH PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JAGUNG DAN BUNGKIL KEDELAI DENGAN SUPLEMENTASI DL-METIONIN SKRIPSI HANI AH PROGRAM STUDI ILMU NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan Metode

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan Metode 35 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret - Mei 2008 di Rumah Potong Hewan (RPH) Aldia-Kupang. Pengumpulan data pengukuran produktivitas karkas dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar Air dan Aktivitas Air

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar Air dan Aktivitas Air HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Air dan Aktivitas Air Kadar air dendeng hasil penelitian adalah 19,33%-23,82% dengan rataan 21,49±1,17%. Aktivitas air dendeng hasil penelitian sebesar 0,53-0,84 dengan nilai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan,

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan, I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam broiler adalah bahan pangan sumber protein hewani yang berkualitas tinggi karena mengandung asam amino esensial yang lengkap, lemak, vitamin, dan mineral serta

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Total Fenolat Senyawa fenolat merupakan metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada tumbuh-tumbuhan, termasuk pada rempah-rempah. Kandungan total fenolat dendeng sapi yang

Lebih terperinci

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya. SUSU a. Definisi Susu Air susu termasuk jenis bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan (Hadiwiyoto, 1983). Sedangkan menurut

Lebih terperinci

METODE. Materi. Metode

METODE. Materi. Metode METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Desa Cibungbulang, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selama 62 hari dari bulan September

Lebih terperinci

SIFAT KIMIA TEPUNG DAGING SAPI YANG DIBUAT DENGAN METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DAN SIFAT MIKROBIOLOGISNYA SELAMA PENYIMPANAN

SIFAT KIMIA TEPUNG DAGING SAPI YANG DIBUAT DENGAN METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DAN SIFAT MIKROBIOLOGISNYA SELAMA PENYIMPANAN SIFAT KIMIA TEPUNG DAGING SAPI YANG DIBUAT DENGAN METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DAN SIFAT MIKROBIOLOGISNYA SELAMA PENYIMPANAN SKRIPSI HARFAN TEGAS ADITYA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS

Lebih terperinci

Mutiara Nugraheni

Mutiara Nugraheni Mutiara Nugraheni mutiara_nugraheni@uny.ac.id 1. 2. 3. Mutu protein tinggi, asam amino esensial lengkap dan seimbang Protein lebih mudah dicerna daripada nabati Mengandung vitamin dan mineral 1.Sapi Penghasil

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam TINJAUAN PUSTAKA Ayam Kampung Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang berhasil dijinakkan. Akibat dari proses evolusi dan domestikasi maka terciptalah ayam kampung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemudian dikembangkan di penjuru dunia. Puyuh mulai dikenal dan diternakkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemudian dikembangkan di penjuru dunia. Puyuh mulai dikenal dan diternakkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Puyuh (Cortunix- cortunix japonica) Puyuh merupakan jenis aves yang tidak dapat terbang, ukuran tubuhnya relatif kecil, berkaki pendek. Puyuh pertama kali diternakkan di Amerika

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Populasi ayam ras petelur di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke

PENDAHULUAN. Populasi ayam ras petelur di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Populasi ayam ras petelur di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014, populasi ayam ras petelur 146.660,42 ekor dan pada tahun 2015 meningkat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Itik (Anas platyrhynchos)

TINJAUAN PUSTAKA. Itik (Anas platyrhynchos) TINJAUAN PUSTAKA Itik (Anas platyrhynchos) Menurut Achmanu (1997), itik termasuk ke dalam unggas air (waterfowl) yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut : kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan penyedia protein hewani yang cukup tinggi sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan penyedia protein hewani yang cukup tinggi sehingga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan penyedia protein hewani yang cukup tinggi sehingga banyak orang menjadikan sebagai usaha komersial yang terus dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan salah satu daging yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, karena banyak mengandung protein dan zat-zat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah daging paha Ayam

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah daging paha Ayam III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.1.1 Bahan Penelitian Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah daging paha Ayam Sentul jantan berjumlah 18 ekor dan berumur

Lebih terperinci

SUPLEMENTASI GINSENG LIAR (Wild ginseng) PADA RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN MENCIT (Mus musculus)

SUPLEMENTASI GINSENG LIAR (Wild ginseng) PADA RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN MENCIT (Mus musculus) SUPLEMENTASI GINSENG LIAR (Wild ginseng) PADA RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN MENCIT (Mus musculus) SKRIPSI SRINOLA YANDIANA PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena,

I PENDAHULUAN. Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena, 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ternak itik mulai diminati oleh masyarakat terutama di Indonesia. Karena, menghasilkan produk peternakan seperti telur dan daging yang memiliki kandungan protein hewani

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HEWANI. ENDRIKA WIDYASTUTI, S.Pt, M.Sc, MP

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HEWANI. ENDRIKA WIDYASTUTI, S.Pt, M.Sc, MP TEKNOLOGI PENGOLAHAN HEWANI DAGING ENDRIKA WIDYASTUTI, S.Pt, M.Sc, MP 2011 OUTLINES PENDAHULUAN KUALITAS PENYIMPANAN DAN PRESERVASI PARAMETER SPESIFIK KUALITAS DAGING OLAHAN DAGING PENDAHULUAN DAGING SEMUA

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Data yang diperoleh dari Dinas Kelautan, Perikanan Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Gorontalo memiliki 10 Tempat Pemotongan Hewan yang lokasinya

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Sumber : Label Pakan BR-611 PT. Charoen Pokphand Indonesia.

MATERI DAN METODE. Sumber : Label Pakan BR-611 PT. Charoen Pokphand Indonesia. MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di CV Mitra Sejahtera Mandiri, Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Penelitian dilaksanakan selama lima minggu yang dimulai dari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap sebagai subsitusi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap sebagai subsitusi BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap sebagai subsitusi bungkil kedelai dalam ransum terhadap persentase karkas, kadar lemak daging,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi protein hewani, khususnya daging sapi meningkat juga.

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi protein hewani, khususnya daging sapi meningkat juga. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan yang bernilai gizi tinggi sangat dibutuhkan untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan sehat. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut pangan hewani sangat memegang

Lebih terperinci

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Mei 2012 sampai bulan Agustus 2012. Tempat yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah Laboratorium Percobaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama fermentasi berlangsung terjadi perubahan terhadap komposisi kimia substrat yaitu asam amino, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, selain itu juga

Lebih terperinci

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4 o C

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4 o C Kualitas Sapi dan yang Disimpan pada Suhu THE QUALITY OF WAGYU BEEF AND BALI CATTLE BEEF DURING THE COLD STORAGE AT 4 O C Mita Andini 1, Ida Bagus Ngurah Swacita 2 1) Mahasiswa Program Profesi Kedokteran

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Optimasi Polifosfat 1. Pengaruh Terhadap Rendemen Rendemen dihitung berdasarkan kenaikkan berat udang setelah perendaman dibandingkan dengan berat udang sebelum perendaman yang

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai pengaruh frekuensi dan periode pemberian pakan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai pengaruh frekuensi dan periode pemberian pakan 10 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian mengenai pengaruh frekuensi dan periode pemberian pakan terhadap potongan komersial karkas ayam buras super (persilangan ayam Bangkok dengan ayam ras petelur Lohman)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Suhu Kandang Selama Lima Minggu Penelitian Pengukuran Suhu ( o C) Pagi Siang Sore 28-32 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Mikro Kandang Kandang Penelitian Kandang penelitian yang digunakan yaitu tipe kandang panggung dengan dinding terbuka. Jarak lantai kandang dengan tanah sekitar

Lebih terperinci

PENAMBAHAN ASAM SITRAT PADA PEMBUATAN TEPUNG PUTIH TELUR ITIK TERHADAP SIFAT FISIK DAN ORGANOLEPTIK ANGEL FOOD CAKE SKRIPSI

PENAMBAHAN ASAM SITRAT PADA PEMBUATAN TEPUNG PUTIH TELUR ITIK TERHADAP SIFAT FISIK DAN ORGANOLEPTIK ANGEL FOOD CAKE SKRIPSI PENAMBAHAN ASAM SITRAT PADA PEMBUATAN TEPUNG PUTIH TELUR ITIK TERHADAP SIFAT FISIK DAN ORGANOLEPTIK ANGEL FOOD CAKE SKRIPSI DIAN APRIANDINI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT

Lebih terperinci

HUBUNGAN UMUR SIMPAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, NILAI HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR ITIK TEGAL PADA SUHU RUANG SKRIPSI ROSIDAH

HUBUNGAN UMUR SIMPAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, NILAI HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR ITIK TEGAL PADA SUHU RUANG SKRIPSI ROSIDAH HUBUNGAN UMUR SIMPAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, NILAI HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR ITIK TEGAL PADA SUHU RUANG SKRIPSI ROSIDAH PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan dan gizi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan. Komponen ini merupakan kontribusi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA LAMA PENYIMPANAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR AYAM RAS PADA SUHU RUANG SKRIPSI SAMSUDIN

HUBUNGAN ANTARA LAMA PENYIMPANAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR AYAM RAS PADA SUHU RUANG SKRIPSI SAMSUDIN HUBUNGAN ANTARA LAMA PENYIMPANAN DENGAN PENYUSUTAN BOBOT, HAUGH UNIT, DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR AYAM RAS PADA SUHU RUANG SKRIPSI SAMSUDIN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

Lebih terperinci