IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan"

Transkripsi

1 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pringsewu bisa dimulai dengan mengenal lebih dekat karakteristik kedua kabupaten. Sebelum membandingkan pembangunan kedua kabupaten, peneliti akan terlebih dahulu memahami lebih dalam karakteristik kedua kabupaten dari semua aspek bidang kehidupan, mengingat konsepsi pembangunan merupakan sebuah konsep yang sangat kompleks. Oleh karena itu peneliti menyusun bab ini untuk memahami lebih lanjut karakteristik kedua kabupaten dari berbagai aspek kehidupan, terutama aspek-aspek yang menjadi elemen utama Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yaitu pendidikan, kesehatan dan pendapatan per kapita. Selain itu, penulisan bab ini juga menjadi langkah awal untuk membandingkan kedua kabupaten dari elemen-elemen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan didukung data sekunder berupa dokumen-dokumen yang relevan, sehingga pembahasan dalam bab ini tidak hanya memberi gambaran deskriptif kedua daerah, tetapi juga dapat memiliki makna kontestasi argumen yang bersumber dari data sekunder tersebut. Bab ini sebenarnya memiliki dua sub bab besar yaitu gambaran umum Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pringsewu. Penulisan bab ini dimulai dengan membahas tentang gambaran umum

2 117 Kabupaten Lampung Barat, dilihat dari keadaan geografi, demografi, kualitas layanan pendidikan, kualitas layanan kesehatan, kemudian yang terkahir dilihat dari pendapatan per kapita yang terwujud dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kemudian pembahasan selanjutnya beralih ke gambaran umum Kabupaten Pringsewu dilihat dari aspek yang sama seperti pembahasan pada Kabupaten Lampung Barat. Namun, fokus utama bab ini adalah gambaran umum kedua kabupaten di bidang-bidang yang menjadi elemen utama IPM, yaitu pendidikan, kesehatan dan pendapatan per kapita. Sehingga gambaran umum bidang-bidang tersebut dapat menjadi pembanding kualitas pembangunan kedua kabupaten didukung dengan data sekunder. Seperti yang dikemukakan peneliti sebelumnnya bahwa bab ini juga akan memberikan argumentasi perbandingan pembangunan kedua kabupaten didukung dengan data sekunder. A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Barat 1. Geografi dan Demografi Kabupaten Lampung Barat Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten/kota yang berada di wilayah Provinsi Lampung dan terletak di wilayah pantai barat Pulau Sumatera. Lampung Barat dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.6 Tahun 1991 tertanggal 16 juli 1991 dan diundangkan pada tanggal 16 Agustus Kabupaten Lampung Barat berbatasan dengan batas utara Kabupaten Bengkulu, dan Kabupaten OKU, batas timur dengan Kabupaten Lampung Utara, Lampung Tengah dan Pesisir Barat, sebelah selatan berbatas dengan Pesisir Barat, sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Letak Kabupaten Lampung Barat antara ' dan 5 56'42

3 118 Lintang Selatan dan antara '8 dan '51 Bujur Timur (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 1). Berikut merupakan peta wilayah Kabupaten Lampung Barat: Gambar 4. Peta Wilayah Kabupaten Lampung Barat Lampung Barat mempunyai luas wilayah 2.064,40 km 2, terdiri dari 15 kecamatan. Kecamatan Batu Brak memiliki wilayah terluas yaitu 261,55 km 2 atau 12,67%, dari luas keseluruhan Kabupaten Lampung Barat dan Kecamatan Kebun Tebu merupakan kecamatan dengan luas wilayah terkecil yaitu 14,58 km 2 atau hanya 0,71% dari luas wilayah Lampung Barat (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 2). Berikut merupakan luas wilayah Kabupaten Lampung Barat berdasarkan kecamatan:

4 119 Tabel 8. Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2014 No. Nama Kecamatan Luas Wilayah (km 2 ) Persentase (4) 1 Balik Bukit 175,63 8,51 2 Sukau 223,10 10,81 3 Lumbok Seminung 22,40 1,09 4 Belalau 217,93 10,56 5 Sekincau 118,28 5,73 6 Suoh 170,77 8,27 7 Batu Brak 261,55 12,67 8 Pagar Dewa 110,19 5,34 9 Batu Ketulis 103,70 5,02 10 Bandar Negeri Suoh 170,85 8,28 11 Sumber Jaya 195,38 9,46 12 Way Tenong 116,67 5,65 13 Gedung Surian 87,14 4,22 14 Kebun Tebu 14,58 0,71 15 Air Hitam 76,23 3,69 Total 2.064, Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat 2015 Kondisi topografi Kabupaten Lampung Barat terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1. Daerah dataran rendah (0-600 meter dari permukaan laut); 2. Daerah berbukit ( meter dari permukaan laut); 3. Daerah pegunungan (di atas meter dari permukaan laut). Curah hujan Lampung Barat berkisar antara milimeter per tahun. Lampung Barat memiliki dua zona iklim, yaitu: 1. Jumlah bulan basah > 9 bulan; 2. Zone BL (jumah bulan basah 7-9 bulan). Kabupaten Lampung Barat terdiri dari 15 kecamatan, 138 pekon, 5 pekon sudah berstatus kelurahan dan 133 pekon masih berstatus desa. Setiap pekon terdapat 998 pemangku/lingkungan. Jumlah penduduk Lampung Barat tahun 2014 adalah jiwa terdiri dari laki-laki dan perempuan, serta rumah tangga. Kepadatan penduduk pada tahun 2014 yaitu

5 jiwa per km 2. Rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga adalah jiwa per ruta. (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 3-5). Tabel 9. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kabupaten Lampung Barat 2014 Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah (4) Jumlah Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat 2015 Tabel 10. Indikator Statistik Penduduk Uraian (4) Jumlah Penduduk (000 Jiwa) Pertumbuhan penduduk (%) Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) Sex Ratio (L/P) (%) Jumlah RuTa (000 ruta) Rata-rata ART (jiwa/ruta) Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat Kabupaten Lampung Barat memiliki penduduk usia kerja cukup besar yaitu jiwa, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari struktur umur ini diperoleh dependency ratio Kabupaten Lampung Barat adalah 46,44% dan tergolong memiliki angka ketergantungan yang sedang.

6 121 Angka 46,44 ini menunjukkan bahwa setiap 100 penduduk produktif mempunyai beban 46 orang yang tidak produktif. Seperti halnya wilayah di Indonesia, sebagian besar masyarakat Lampung Barat bermata pencaharian pertanian yaitu 80,44%, sektor jasa 18,17%, dan 1.39% industri (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 6). Tabel 11. Statistik Ketenagakerjaan Lampung Barat Uraian (4) TPAK (%) 84,07 78,38 74,71 Tingkat Pengangguran (%) 1,93 1,97 1,63 Bekerja (%) 82,15 76,41 73,08 Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat Kualitas Layanan Pendidikan Kabupaten Lampung Barat Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Lampung Barat dapat dilihat pada tabel di bawah, terdapat 329 sekolah pada jenjang pendidikan SD, 73 sekolah pada jenjang pendidikan SMP dan 36 sekolah pada jenjang pendidikan SLTA. Ketersedian guru pada jenjang pendidikan SD dari data LBDA terdapat guru yang mengajar pada jenjang ini, 812 guru mengajar pada jenjang SMP dan 597 guru mengajar pada jenjang SLTA. Jumlah murid yang terdaftar disekolah baik negri maupun swasta ini terdapat siswa terdaftar pada jenjang pendidikan SD, siswa terdaftar di SMP dan siswa terdaftar pada jenjang pendidikan SLTA. Jika dilihat ketersediaan guru murid pada setiap jenjang pendidikan dan distribusi di kecamatan, nampak masih belum merata penempatan guru di setiap jenjang pendidikan. Dari hasil hitung rata-rata rasio murid guru pada

7 122 jenjang SD di Kabupaten Lampung Barat adalah 14 dan rasio murid guru terbesar pada jenjang ini di Kecamatan Balik Bukit yaitu 45,86. Pada jenjang pendidikan SMP rata-rata rasio murid guru adalah 14, sedangkan rasio murid guru SMA rata-rata sebesar 16 (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 7). Tabel 12. Jumlah sekolah, guru dan murid Kabupaten Lampung Barat, Tahun 2013 Jenjang Sekolah Guru Murid (4) SD SMP SMA Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat 2015 Sektor pendidikan Kabupaten Lampung Barat mempunyai tingkat pendidikan yang cukup rendah, hal ini diperlihatkan dari angka rata-rata lama sekolah pada tahun 2014 sebesar 6,45 atau setara kelas 2 SMP. Selain itu persentase penduduk 10 tahun ke atas yang memiliki ijazah terakhir di Lampung Barat juga menunjukkan betapa masih rendah pendidikan di wilayah ini. Dari hasil susenas 2014 diperoleh penduduk 10 tahun ke atas yang belum memiliki ijazah mencapai 25,26% kemudian 35,24% diantaranya hanya memiliki ijazah SD, serta 20,85% memiliki ijazah SMP, dan 13,8% berijazah SMA. Hal di atas tentunya merupakan hal yang bisa terjadi dilihat dari indikator pendidikan yang lain yaitu angka partisipasi sekolah yaitu angka partisipasi kasar, menunjukkan pada setiap jenjang pendidikan APK semakin menurun, dan semakin tinggi jenjang pendidikin

8 123 capaian APK semakin rendah. (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 8). Tabel 13. Persentase Laki dan Perempuan Usia 10 tahun ke atas menurut ijazah yang dimiliki, Lampung Barat 2014 Uraian Persentase (%) Tidak/belum pernah sekolah 3.33 Tidak punya ijazah SD SD SMP SMA Perguruan Tinggi 1.51 Total 100 Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat 2015 APM mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu, yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD penduduk usian 7-12 th mencapai 96.68%. APM pada jenjang pendidikan SMP 75.58% dan APM pada jenjang pendidikan SMA 55.04%. APM perempuan lebih tinggi dari APM laki-laki pada setiap jenjang pendidikan. Dilihat dari angka putus sekolahnya di Kabupaten Lampung Barat hasil olah susenas 2014 ini menunjukkan potensi angka putus sekolah lebih besar pada wanita pada jenjang pendidikan rendah yaitu SD dan sebaliknya potensi putus sekolah lebih besar pria pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi potensi putus sekolahnya. Angka putus sekolah pada jenjang SMP cukup tinggi yaitu 1,97% pria dan 1,01% wanita. (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 9).

9 Kualitas Layanan Kesehatan Kabupaten Lampung Barat Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Lampung Barat tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya, yang bisa dikatakan masih belum memadai, yaitu hanya ada 1 rumah sakit umum, 18 puskesmas, 59 poskesdes dan 3 klinik bersalin. Dari sisi ketersediaan tenaga medis dapat dikatakan masih sangat kekurangan tenaga medis, hal ini ditunjukkan dari rasio dokter perseratus ribu penduduk dan rasio bidan per seribu pasien yang masih jauh dari rasio standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pada tahun 2013 ini jumlah dokter masih relatif sama sedangkan jumlah bidan naik dari 420 bidan pada tahun 2012 sekarang menjadi 554 bidan (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 10). Tabel 14. Statistik Kesehatan Lampung Barat Uraian 2013 Rumah Sakit 1 Puskesmas 18 Poskesdes 54 Klinik Bersalin Penolong Kelahiran Dokter 5,65 9,35 Bidan/Tenaga 67,87 62,30 Paramedis Dukun 28,82 1,85 Lain-lain 0,26 1,85 Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat

10 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lampung Barat Tahun 2014 laju pertumbuhan yang mampu dicapai Lampung Barat sebesar 5,57% lebih lambat dibandingkan capaian tahun lalu sebesar 7,02%. PDRB perkapita 2013 mencapai rupiah. Naik rupiah dari tahun Perekonomian Lampung Barat didominasi oleh sektor pertanian, yaitu 53,43%. (Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat, 2015: 16). Tabel 15. Distribusi PDRB Lampung Barat 2014 No Sektor (4) 2014 (5) 1 Pertanian 54,12 54,00 53,43 2 Pertambangan & Penggalian 1,93 1,94 2,13 3 Industri Pengolahan 3,95 3,93 3,93 4 Listrik, Gas & Air Bersih 0,00 0,00 0,00 5 Bangunan 3,64 3,62 3,57 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 12,88 12,55 12,43 7 Pengangkutan & Komunikasi 4,54 4,65 4,73 8 Keuangan, Persewaan, & Jasa 6,62 6,64 6,75 Perusahaan 9 Jasa-Jasa 12,21 12,55 12,95 Total Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Lampung Barat 2015 B. Gambaran Umum Kabupaten Pringsewu 1. Geografi dan Demografi Kabupaten Pringsewu Secara geografis wilayah Kabupaten Pringsewu terletak pada posisi Bujur Timur dan antara Lintang Selatan. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Pringsewu, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah. Sebelah Selatan berbatasan dengan

11 126 Kabupaten Tanggamus. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tanggamus. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pesawaran Kabupaten Pringsewu mempunyai luas Wilayah daratan 625 km 2 yang hampir seluruhnya berupa wilayah daratan. Potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Pringsewu sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. (Pringsewu dalam Angka, 2015: 18). Pringsewu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tanggamus, dan dibentuk berdasarkan Undang-undan Nomor 48 tahun 2008 tanggal 26 November 2008 dan diresmikan pada tanggal 3 April 2009 oleh Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya yang ditunjuk sebagai Pj. Bupati Pringsewu untuk yang pertama kali adalah Ir. H. Masdullhaq, yang memimpin pemerintahan di Kabupaten Pringsewu yang kemudian digantikanoleh H. Helmi Machmud, dan digantikan kembali oleh Sudarno Edi, dan Bupati Pringsewu saat ini dijabat oleh Hi. Sujadi Saddat. Secara Administratif berdasarkan UU Pembentukan kabupaten Pringsewu, Kabupaten Pringsewu terdiri dari 8 (delapan ) Wilayah Kecamatan. (Pringsewu dalam Angka, 2015: 18-19).

12 127 Gambar 5. Peta Wilayah Kabupaten Pringsewu Wilayah Kabupaten Pringsewu pada tahun 2014 terdiri dari 5 kelurahan serta 126 pekon (desa). Pada Tahun 2014, jumlah kecamatan di Kabupaten Pringsewu menjadi sembilan kecamatan. Hal ini disebabkan pemekaran di Kecamatan Pagelaran menjadi Kecamatan Pagelaran dan Pagelaran Utara. Kecamatan Pagelaran Utara merupakan kecamatan terluas dengan luas wilayah km 2. Kemudian Kecamatan Ambarawa merupakan kecamatan dengan dengan luas wilayah terkecil yaitu km 2. (Pringsewu dalam Angka, 2015: 19).

13 128 Berdasarkan UU Pembentukan Kabupaten Pringsewu jumlah penduduk Pringsewu pada tahun 2008 berjumlah jiwa. Banyaknya Penduduk Kabupaten Pringsewu terus mengalami peningkatan pada tahun 2014 tercatat sebanyak jiwa yang terdiri dari laki-lak jiwa dan perempuan jiwa. Sex Ratio penduduk atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan sebesar 105,38 yang berarti bahwa pada setiap 100 jiwa penduduk perempuan terdapat sekitar 105 penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk rata-rata sebanyak 613 jiwa per kilometer persegi (Pringsewu dalam Angka, 2015: 20). Secara rinci persebaran penduduk per kecamatan adalah sebagai berikut: Tabel 16. Persebaran Penduduk Per Kecamatan No. Kecamatan Jumlah Penduduk Luas (km 2 ) (4) 1 Pardasuka , Ambarawa , Pagelaran Pagelaran Utara Pringsewu , Gadingrejo , Sukoharjo , Banyumas , Adiluwih , Pringsewu , Sumber: Pringsewu dalam Angka 2015 Kepadatan (Jiwa/km 2 ) (5) Berdasarkan data di atas, Kecamatan Pringsewu merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan jiwa/km 2 dan yang paling jarang adalah Kecamatan Pagelaran Utara yaitu hanya 152 jiwa/km 2 (Pringsewu dalam Angka, 2015: 21).

14 129 Kabupaten Pringsewu memiliki penduduk usia kerja cukup besar yaitu jiwa, sedangkan usia tidak produktif di Kabupaten Pringsewu adalah jiwa. Dari struktur umur ini diperoleh dependency ratio Pringsewu adalah 51,39 % dan tergolong memiliki angka ketergantungan yang sedang. Angka 51,39 % ini menunjukkan bahwa setiap 100 penduduk produktif mempunyai beban 51 orang yang tidak produktif. Jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Pringsewu tahun 2014 adalah sebagai berikut: Tabel 17. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kabupaten Pringsewu Tahun 2014 Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah (4) Jumlah Sumber: Statistik Daerah Kabupaten Pringsewu 2015

15 Kualitas Layanan Pendidikan Kabupaten Pringsewu Keterdiaan sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Pringsewu dapat dilihat pada tabel di bawah, terdapat 267 sekolah pada jenjang pendidikan SD, 57 sekolah pada jenjang pendidikan SMP dan 52 sekolah pada jenjang pendidikan SLTA. Namun yang berbeda, Kabupaten Pringsewu memiliki 9 perguruan tinggi swasta. Ketersedian guru pada jenjang pendidikan SD dari data LBDA terdapat guru yang mengajar pada jenjang ini, guru mengajar pada jenjang SMP dan 875 guru mengajar pada jenjang SLTA (Pringsewu dalam Angka, 2015: 53-76). Jumlah murid yang terdaftar di sekolah baik negeri maupun swasta ini terdapat siswa terdaftar pada jenjang pendidikan SD siswa terdaftar di SMP siswa terdaftar pada jenjang pendidikan SLTA siswa. Jika dilihat ketersediaan guru murid pada setiap jenjang pendidikan dan distribusi di kecamatan, nampak sudah merata penempatan guru di setiap jenjang pendidikan. (Pringsewu dalam Angka, 2015: 53-76). Berikut merupakan tabulasi jumlah sekolah, guru dan murid di Kabupaten Pringsewu: Tabel 18. Jumlah sekolah, guru dan murid Kabupaten Pringsewu, Tahun 2014 Jenjang Sekolah Guru Murid (4) SD SMP SMA PT Sumber: Pringsewu dalam Angka 2015

16 131 Hal di atas tentunya merupakan hal yang bisa terjadi dilihat dari indikator pendidikan yang lain yaitu angka partisipasi sekolah yaitu angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM). APK Kabupaten Pringsewu dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD penduduk usian 7-12 th mencapai 104,67 %. APK pada jenjang pendidikan SMP 100,90 % dan APK pada jenjang pendidikan SMA 87,59 % (Laporan APK dan APM Kemedikbud, 2014: 21-51). Kemudian APM mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu. APM Kabupaten Pringsewu juga dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD penduduk usian 7-12 th mencapai 82,13 %. APM pada jenjang pendidikan SMP 77,51 % dan APM pada jenjang pendidikan SMA 61,01 %. APK dan APM Kabupaten Pringsewu lebih baik dibandingkan dengan Kabupaten Lampung Barat pada jenjang SMP dan SMA, namun untuk tingkatan sekolah dasar Kabupaten Lampung Barat lebih unggul. Namun secara umum kedua kabupaten memiliki tren APK dan APM yang selalu turun pada setiap jenjang pendidikan (Laporan APK dan APM Kemedikbud, 2014: 21-51). 3. Kualitas Layanan Kesehatan Kabupaten Pringsewu Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Pringsewu tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya, yang bisa dikatakan masih belum memadai, yaitu hanya ada 1 rumah sakit negeri, 3 rumah sakit swasta, 45 puskesmas, 34 puskesmas pembantu (Pringsewu dalam Angka, 2015: 79). Dari sisi ketersediaan tenaga medis dapat dikatakan masih sangat kekurangan tenaga

17 132 medis, hal ini ditunjukkan dari rasio dokter perseratus ribu penduduk dan rasio bidan perseribu pasien yang masih jauh dari rasio standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pada tahun 2013 ini jumlah dokter masih relatif sama sedangkan jumlah bidan naik dari 420 bidan pada tahun 2012 sekarang menjadi 554 bidan. Tabel 19. Statistik Kesehatan Pringsewu No Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah Fasilitas 1 Puskesmas 45 2 Rumah Sakit Swasta 3 3 Rumah Sakit Negeri 1 4 Puskesmas Pembantu 34 Sumber: Pringsewu dalam Angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu Perekonomian Kabupaten Pringsewu pada tahun 2014 mengalami perlambatan dan merupakan pertumbuhan terendah dalam 5 tahun terakhir. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Pringsewu tidak terlepas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan nasional, dimana PDB nasional tahun 2014 hanya tumbuh 5,02 persen dari 5,58 persen di tahun Laju pertumbuhan PDRB Pringsewu tahun 2014 mencapai 5,84 persen, sedangkan tahun 2013 tumbuh sebesar 6,15 persen. Walaupun mengalami perlambatan, namun pertumbuhan ekonomi Pringsewu masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional (Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Pringsewu, 2014: 47-48).

18 133 Pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2014 dicapai oleh lapangan usaha Jasa Perusahaaan sebesar 13,38 persen. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yaitu hanya mencapai 3,26 persen pada tahun 2014, sedangkan tahun 2013 bisa mencapai 3,54 persen (Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Pringsewu, 2014: 48). Distribusi PDRB Kabupaten Pringsewu dari berbagai sektor adalah sebagai berikut: Tabel 20. Distribusi PDRB Kabupaten Pringsewu No Lapangan Usaha/Industri (4) 2014 (5) 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6 Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8 Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 10 Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estat Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 15 Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya PDRB Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Pringsewu 2014

19 134 Secara umum, Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pringsewu memiliki karakteristik daerah yang tidak terlalu jauh berbeda, bahkan ada beberapa aspek yang relatif sama. Perbedaan yang cukup mencolok terlihat dari luas wilayah kedua kabupaten yang sangat berbeda yaitu, luas Kabupaten Lampung Barat memiliki luas tiga kali lipat luas Kabupaten Pringsewu. Selain itu juga, Kabupaten Lampung Barat memiliki kecamatan yang lebih banyak dibandingkan dengan Kabupaten Pringsewu. Kemudian terkait dengan jumlah penduduk, Kabupaten Pringsewu memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan Kabupaten Lampung Barat. Oleh karena itu, Kabupaten Pringsewu memiliki kepadatan penduduk yang sangat padat dibandingkan Kabupaten Lampung Barat karena memilik luas wilayah yang tidak terlalu luas namun memiliki penduduk yang cukup banyak. Kemudian terkait dengan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, kedua kabupaten tidak terlalu jauh berbeda. Kedua kabupaten memiliki sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan yang cukup, namun masih kurang dalam hal pemerataan. Kemudian terkait dengan distribusi produk domestik regional bruto, kedua kabupaten memiliki perbedaaan yang cukup mencolok. Sebagian besar pendapatan Kabupaten Lampung Barat disokong oleh sektor pertanian dan perkebunan yang lebih dari 50 %, sedangkan pendapatan Kabupaten Pringsewu disokong oleh berbagai sektor, tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Namun, secara umum distribusi sektor pertanian dan perkebunan kedua kabupaten selalu mengalami penurunan. Kemungkinan besar sedang terjadi proses peralihan dari sektor pertanian ke sektor jasa. Fenomena ini juga terjadi di berbagai belahan daerah di Provinsi Lampung.

20 135 Setelah memahami karakteristik kedua kabupaten secara umum, perlu dipahami bahwa analisis perbandingan pembangunan kabupaten tidak hanya dilakukan dengan membandingkan capaian pembangunan dilihat dari data sekunder. Namun perlu analisis lebih mendalam terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) kedua kabupaten, terutama terhadap elemen-elemen IPM itu sendiri yaitu, pendidikan, kesehatan dan pendapatan per kapita. Analisis mendalam IPM kedua kabupaten tersebut juga akan dilihat dari konsep capability approach Amartya Sen, yaitu dengan melihat hubungan sebab-akibat antara indeks pembangunan manusia dengan elemen-elemen capability. Pembahasan tersebut akan dibahas lebih lanjut di dalam bab selanjutnya yang merupakan bab substansi dari penelitian ini, dimana data pembangunan kedua kabupaten yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara akan dianalisis secara mendalam dari capability approach Amartya Sen.

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Barat. mempunyai luas wilayah 4.951,28 km 2 atau 13,99 persen dari luas

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Barat. mempunyai luas wilayah 4.951,28 km 2 atau 13,99 persen dari luas 29 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Barat 1. Keadaan Geografis Kabupaten Lampung Barat dengan ibukota Liwa merupakan salah satu kabupaten/kota yang berada di wilayah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 1. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lampung Barat

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 1. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lampung Barat IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Barat 1. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lampung Barat Menurut Lampung Barat Dalam Angka (213), diketahui bahwa Kabupaten Lampung Barat

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar 4.1

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN. A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar 4.1 58 BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Kondisi Geografis dan Profil Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta Gambar 4.1 Peta Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), D.I.

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 0 4 0 Lintang Selatan dan 102 0-106 0 Bujur Timur dengan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Lokasi 1. Kondisi Fisik Nusa Tenggara Barat a. Peta wilayah Sumber : Pemda NTB Gambar 4. 1 Peta Provinsi Nusa Tenggara Barat b. Konsisi geografis wilayah Letak dan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan 39 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan sekunder. 1.1.Data primer pengumpulan data dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan Laju Pertumbuhan (persen) PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN II-2017 EKONOMI RIAU TRIWULAN II-2017 TUMBUH 2,41 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN II-2016 No. 37/08/14/Th. XVIII, 7 Agustus 2017 Perekonomian

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT 2015

STATISTIK DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT 2015 Katalog BPS : 1405002.1801 STATISTIK DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT 2015 Picture caption Badan Pusat Statistik Lampung Barat i Statistik Daerah Kabupaten Pesisir Barat 2015 STATISTIK DAERAH KABUPATEN PESISIR

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5 IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN.1. Kondisi Geografi dan Topografi Provinsi Papua Barat awalnya bernama Irian Jaya Barat, berdiri atas dasar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang pembentukan Provinsi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN

PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN 7 Desember 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN EKONOMI TAHUN 2015 TUMBUH 4,06 PERSEN MELAMBAT SEJAK EMPAT TAHUN TERAKHIR Perekonomian Kabupaten Bangka Selatan tahun 2015 yang diukur

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB Lapangan Usaha TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB Lapangan Usaha TAHUN 2015 BPS KABUPATEN TAPANULI UTARA No. 01/08/1205/Th. VIII, 16 Agustus 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB Lapangan Usaha TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III-2015 No.58/11/14/Th.XVI, 5 November 215 PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III-215 EKONOMI RIAU TRIWULAN III-215 MENGALAMI PERTUMBUHAN 4,68 PERSEN DIBANDING TRIWULAN II-215 Perekonomian Riau yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 66 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Kondisi Geografis a. Kabupaten Brebes Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten terluas di Jawa Tengah yaitu pada posisi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian terdahulu.

METODE PENELITIAN. yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian terdahulu. 30 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian 1. Penelitian Kepustakaan Adalah penelitian dengan mengkupas data terbaik dalam penelitian ini yang diambil dari buku dan literatur serta hasil-hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang

Lebih terperinci

BPS KABUPATEN BATU BARA

BPS KABUPATEN BATU BARA BPS KABUPATEN BATU BARA No. 01/07/1219/Th.VI, 24 Juli 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BATU BARA TAHUN 2016 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batu Bara tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN III-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 64/11/16/Th.XVII, 5 November 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN III-2015 EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN III-2015 TUMBUH 4,89 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

https://binjaikota.bps.go.id

https://binjaikota.bps.go.id BPS KOTA BINJAI No. 1/10/1276/Th. XVI, 10 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA BINJAI TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Kota Binjai tahun 2015 yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak, Batas Wilayah, dan Keadaan Alam Provinsi Jawa Timur merupakan satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Provinsi Daerah Khusus

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Geografi dan Iklim Kota Madiun Gambar 4.1. Peta Wilayah Kota Madiun Kota Madiun berada di antara 7 o -8 o Lintang Selatan dan 111 o -112 o Bujur Timur. Kota Madiun

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2016 No. 09/02/14/Th. XVIII, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN EKONOMI RIAU TAHUN TUMBUH 2,23 PERSEN MEMBAIK DIBANDINGKAN TAHUN SEBELUMNYA (0,22 PERSEN) Perekonomian Riau tahun yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2016

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2016 BADAN PUSAT STATISTIK No. 7/5/Th.XVIII, Mei 16 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-16 EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-16 TUMBUH,9 PERSEN Perekonomian Provinsi Sumatera

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2016 No. 1/0/33/Th.XI, 6 Februari 017 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN TUMBUH 5,8 PERSEN MELAMBAT DIBANDINGKAN PERTUMBUHAN TAHUN SEBELUMNYA 17 1 A. PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2015 No. 10/02/14/Th. XVII, 5 Februari 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN EKONOMI RIAU TAHUN TUMBUH 0,22 PERSEN MELAMBAT SEJAK LIMA TAHUN TERAKHIR Perekonomian Riau tahun yang diukur berdasarkan Produk Domestik

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I-2015 No. 26/5/14/Th.XVI, 5 Mei 215 PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I-215 EKONOMI RIAU TRIWULAN I-215 MENGALAMI KONTRAKSI,18 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I-214 Perekonomian Riau yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

DINAMIKA PEREKONOMIAN LAMPUNG

DINAMIKA PEREKONOMIAN LAMPUNG IV. DINAMIKA PEREKONOMIAN LAMPUNG 4.1. Provinsi Lampung 4.1.1. Gambaran Umum Provinsi Lampung meliputi wilayah seluas 35.288,35 kilometer persegi, membentang di ujung selatan pulau Sumatera, termasuk pulau-pulau

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN II-2017

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN II-2017 No. 44/08/13/Th XX, 7 Agustus 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN II-2017 EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN II-2017 TUMBUH 5,32 PERSEN Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan besaran

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2015 No. 09/09/12.77/Th.XII, 1 September 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Padangsidimpuan tahun 2015 yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2014 No. 06/2/62/Th. IX, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2014 EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2014 TUMBUH 6,21 PERSEN MELAMBAT SEJAK LIMA TAHUN TERAKHIR Perekonomian Kalimantan Tengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN UTARA AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN UTARA AGUSTUS 2015 BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No 81/11/64/Th. XVIII, 5 November 2015 KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN UTARA AGUSTUS 2015 Jumlah angkatan kerja di Kalimantan Utara pada Agustus 2015 tercatat sebanyak

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2016 BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA No.01/08/31/75/Th.VII, 10 Agustus 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2016 Ekonomi Jakarta Utara Tahun 2016 tumbuh 4,65 persen. Pada tahun 2016, besaran Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2016 No. 01/08/12.77/Th.XVII, 1 Agustus 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2016 Pertumbuhan Ekonomi Padangsidimpuan tahun 2016 yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI LABUHANBATU TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI LABUHANBATU TAHUN 2015 BPS KABUPATEN LABUHANBATU No. 01/10/1207/Th. IX, 6 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI LABUHANBATU TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Labuhanbatu Tahun 2015 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 49/08/73/Th. IX, 5 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 TUMBUH 7,62 PERSEN MENINGKAT DIBANDING TRIWULAN

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I/2016

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I/2016 Laju Pertumbuhan (persen) PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I/2016 EKONOMI RIAU TRIWULAN I/2016 TUMBUH 2,34 PERSEN MEMBAIK DIBANDING TRIWULAN I/2015 No. 24/05/14/Th. XVII, 4 Mei 2016 Perekonomian Riau

Lebih terperinci

DISUSUN OLEH : BIDANG STATISTIK DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN BAPPEDA PROVINSI SUMATERA BARAT Edisi 07 Agustus 2015

DISUSUN OLEH : BIDANG STATISTIK DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN BAPPEDA PROVINSI SUMATERA BARAT Edisi 07 Agustus 2015 DISUSUN OLEH : BIDANG STATISTIK DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN Edisi 07 Agustus 2015 Buku saku ini dalam upaya untuk memberikan data dan informasi sesuai dengan UU No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Geografis Kabupaten Kubu Raya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 84 meter diatas permukaan laut. Lokasi Kabupaten Kubu Raya terletak pada posisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antar daerah dan struktur perekonomian yang seimbang (Sukirno, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. antar daerah dan struktur perekonomian yang seimbang (Sukirno, 2005). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan suatu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Pembangunan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur 57 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 7 meter diatas permukaan laut dan terletak antara

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III-2015 No. 64/11/13/Th.XVIII, 5 November PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III- EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III- TUMBUH 4,71 PERSEN Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan besaran Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2015 BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA No.01/10/31/75/Th. VI, 7 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2015 Ekonomi Jakarta Utara Tahun 2015 tumbuh 5,61 persen. Pada tahun 2015, besaran Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TAHUN 2015 BPS PROVINSI JAWA BARAT 10/02/32/Th. XVIII, 5 Februari 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TAHUN EKONOMI JAWA BARAT TAHUN TUMBUH 5,03 PERSEN Perekonomian Jawa Barat tahun yang diukur berdasarkan Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN I Ekonomi Gorontalo Triwulan I-2015 Tumbuh 4,69 Persen Melambat Dibanding Triwulan I-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN I Ekonomi Gorontalo Triwulan I-2015 Tumbuh 4,69 Persen Melambat Dibanding Triwulan I-2014 Persen (%) No. 29/05/75/Th.IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN I- 2015 Ekonomi Gorontalo Triwulan I-2015 Tumbuh 4,69 Persen Melambat Dibanding Triwulan I-2014 Perekonomian Gorontalo yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III-2016

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III-2016 No. 64/11/13/Th XIX, 7 November PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III- EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III- TUMBUH 4,82 PERSEN Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan besaran Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA SELATAN TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA SELATAN TAHUN 2014 No. 17/05/31/Th.IX, 15 MEI 2010 No. 7/10/3171/Th.VII, 1 Oktober 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA SELATAN TAHUN 2014 Release PDRB tahun 2014 dan selanjutnya menggunakan tahun dasar 2010 berbasis SNA 2008

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN III-2016 Ekonomi Gorontalo Triwulan III-2016 Tumbuh 6,98 Persen Meningkat Dibanding dengan Triwulan II-2016

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN III-2016 Ekonomi Gorontalo Triwulan III-2016 Tumbuh 6,98 Persen Meningkat Dibanding dengan Triwulan II-2016 No. 62/11/75/Th.X, 7 November 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TRIWULAN III-2016 Ekonomi Gorontalo Triwulan III-2016 Tumbuh 6,98 Persen Meningkat Dibanding dengan Triwulan II-2016 Perekonomian Gorontalo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 69 mengamanatkan Kepala Daerah untuk menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 16/2/Th.XIX, 5 Februari 216 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN IV- TUMBUH 5,4 PERSEN TERTINGGI SELAMA TAHUN EKONOMI INDONESIA TAHUN TUMBUH 4,79 PERSEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BENGKULU TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BENGKULU TAHUN 2014 BPS PROVINSI BENGKULU No. 11/02/17/Th.VIII, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BENGKULU TAHUN 2014 EKONOMI BENGKULU TUMBUH 5,49 PERSEN, PERTUMBUHAN TERENDAH SEJAK LIMA TAHUN TERAKHIR Perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2015 No. 13/0/33/Th.X, 5 Februari 016 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 015 EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 015 TUMBUH 5, PERSEN MENCAPAI PERTUMBUHAN TERTINGGI SELAMA LIMA TAHUN TERAKHIR Perekonomian Jawa Tengah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III/2016

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III/2016 Laju Pertumbuhan (persen) PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III/2016 EKONOMI RIAU TRIWULAN III/2016 TUMBUH 1,11 PERSEN LEBIH BAIK DIBANDING TRIWULAN III/2015 No. 054/11/14/Th.XVII, 7 November 2016 Perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN II-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN II-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 47/8/16/Th.XVII, 5 Agustus 215 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN II-215 EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN II-215 TUMBUH 4,87 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2015 BADAN PUSAT PUSAT STATISTIK STATISTIK KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN No. 01/11/1215/Thn.2016, 7 November 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2015 Pertumbuhan ekonomi kabupaten Humbang

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2015

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2015 BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 80/11/64/Th. XVIII, 5 November 2015 KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2015 Jumlah angkatan kerja di Kalimantan Timur pada Agustus 2015 tercatat sebanyak

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2017

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA SELATAN No. 26/05/Th.XIX, 5 Mei 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2017 EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TRIWULAN I-2017 TUMBUH 5,11

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2014 BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA No.01/10/31/75/Th. V, 1 Oktober 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA UTARA TAHUN 2014 Ekonomi Jakarta Utara Tahun 2014 tumbuh 6,24 persen. Pada tahun 2014, besaran Produk

Lebih terperinci

BPS PROVINSI LAMPUNG PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014

BPS PROVINSI LAMPUNG PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 05/01/Th.XV, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014 EKONOMI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014 TUMBUH 5,08 PERSEN, MELAMBAT 0,7 PERSEN DARI TAHUN 2013 Perekonomian

Lebih terperinci

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12 BAB I PENDAHULUAN Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai negara kesatuan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2014 No. 13/02/19/Th.IX, 5 Februari 2015 EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2014 TUMBUH 4,68 PERSEN MELAMBAT SEJAK TIGA TAHUN TERAKHIR Release PDRB

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN III-2015 BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 65/11/32/Th.XVII, 5 November 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN III-2015 EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN III-2015 TUMBUH 5,03 PERSEN Perekonomian Jawa Barat pada Triwulan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN I-2015 No. 29/5/13/Th.XVIII, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN I-2015 EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN I-2015 TUMBUH 5,46 PERSEN Perekonomian Sumatera Barat yang diukur berdasarkan besaran

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA UTARA SEMESTER I TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA UTARA SEMESTER I TAHUN 2016 BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 47/08/12/Th.XIX, 5 Agustus 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA UTARA SEMESTER I TAHUN 2016 EKONOMI SUMATERA UTARA SEMESTER I TAHUN 2016 TUMBUH 5,34 PERSEN Pertumbuhan Ekonomi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA TANJUNGBALAI TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA TANJUNGBALAI TAHUN 2015 BPS KOTA TANJUNGBALAI No. 01/10/1272/Th.XVI, 10 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA TANJUNGBALAI TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Kota Tanjungbalai Tahun 2015 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI TAPANULI SELATAN TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI TAPANULI SELATAN TAHUN 2016 BPS KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERTUMBUHAN EKONOMI TAPANULI SELATAN TAHUN 2016 No. 01/08/03/Th. V, 1 Agustus 2017 Kabupaten Tapanuli Selatan terdiri dari 14 kecamatan dan 248 desa/kelurahan Pertumbuhan

Lebih terperinci

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR No. 01/10/3172/Th.VII, 1 Oktober 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2014 EKONOMI JAKARTA TIMUR TAHUN 2014 TUMBUH 5,98 PERSEN Release PDRB tahun 2014 dan selanjutnya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik

III. METODE PENELITIAN. Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Untuk kepentingan penelitian ini digunakan data sekunder berupa data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2014 EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2014 TUMBUH 5,4 PERSEN MENGUAT SETELAH MENGALAMI PERLAMBATAN SEJAK EMPAT TAHUN SEBELUMNYA No. 13/02/33/Th.IX, 5 Februari 2015 Release

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I-2015 No. 35/05/33/Th.IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I-2015 EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I-2015 TUMBUH 5,5 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I-2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN BOJONEGORO ATAS DASAR HARGA BERLAKU MENURUT LAPANGAN USAHA (JUTA RUPIAH),

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN BOJONEGORO ATAS DASAR HARGA BERLAKU MENURUT LAPANGAN USAHA (JUTA RUPIAH), KABUPATEN BOJONEGORO ATAS DASAR HARGA BERLAKU MENURUT LAPANGAN USAHA (JUTA RUPIAH), 2010-2016 A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 4 848 847.7 5 422 596.4 6 137 535.9 6 879 709.2 7 610 994.1 8 399 150.1

Lebih terperinci

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Triwulan III-2017

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Triwulan III-2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI GORONTALO Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Triwulan III-217 Ekonomi Gorontalo Triwulan III- 217 tumbuh 5,29 persen Perekonomian Gorontalo berdasarkan besaran Produk Domestik

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2016 BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 96/11/64/Th. XIX, 7 November 2016 KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN TIMUR AGUSTUS 2016 Jumlah angkatan kerja di Kalimantan Timur pada Agustus 2016 tercatat sebanyak 1.717.892

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN II-2017

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN II-2017 BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 58/8/21/Th. XII, 7 Agustus 217 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN II-217 EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN II 217 (Q TO Q) TUMBUH SEBESAR 1,16 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2014 BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 12/02/61/Th.XVIII, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN TUMBUH 5,02 PERSEN MELAMBAT DIBANDINGKAN TAHUN 2013 Perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2015 BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT No.01/10/3174/Th.IX, 3 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2015 EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2015 TUMBUH 5,96 PERSEN Trend laju pertumbuhan ekonomi Jakarta

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 41 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung 1. Keadaan Umum Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Republik Indonesia dengan areal daratan seluas 35.288 km2. Provinsi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DAIRI TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DAIRI TAHUN 2015 BPS KABUPATEN DAIRI No. 01/10/1210/Th. IX, 3 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DAIRI TAHUN 2015 Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dairi tahun 2015, diukur berdasarkan laju pertumbuhan Produk

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2014 BPS KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT No.01/10/3174/Th.VIII, 1 Oktober 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2014 EKONOMI JAKARTA BARAT TAHUN 2014 TUMBUH 5,85 PERSEN Trend laju pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2014 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NTB No. 13/02/52/Th.IX, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2014 EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2014 TUMBUH 5,06 PERSEN Perekonomian Provinsi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN 2016 Ekonomi Gorontalo Tahun 2016 Tumbuh 6,52 Persen

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN 2016 Ekonomi Gorontalo Tahun 2016 Tumbuh 6,52 Persen No. 11/02/75/Th.XI, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN 2016 Ekonomi Gorontalo Tahun 2016 Tumbuh 6,52 Persen Perekonomian Gorontalo tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Babulu rata-rata 242,25 mm pada tahun 2010 Kecamatan Babulu memiliki luas 399,46 km 2. Secara geografis berbatasan

Lebih terperinci

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No 12 Tahun 1999 sebagai hasil pemekaran Kabupaten

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT 2016 BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 10/02/32/Th.XIX, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT 2016 EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2016 TUMBUH 5,45 PERSEN EKONOMI JAWA BARAT 2016 TUMBUH 5,67 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAMBI TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAMBI TAHUN 2015 No. 11/02/15/Th.X, 5 Februari 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAMBI TAHUN EKONOMI PROVINSI JAMBI TAHUN TUMBUH 4,21 PERSEN Perekonomian Provinsi Jambi tahun yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2014 No. 09/02/31/Th.XVII, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN EKONOMI JAKARTA TAHUN TUMBUH 5,95 PERSEN MELAMBAT SEJAK TIGA TAHUN TERAKHIR Release PDRB tahun dan selanjutnya menggunakan tahun

Lebih terperinci