KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (A B) ANDISOL BERDASARKAN MINERAL LIAT DI DESA TONGKOH KECAMATAN TIGA PANAH KABUPATEN KARO SKRIPSI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (A B) ANDISOL BERDASARKAN MINERAL LIAT DI DESA TONGKOH KECAMATAN TIGA PANAH KABUPATEN KARO SKRIPSI"

Transkripsi

1 KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (A B) ANDISOL BERDASARKAN MINERAL LIAT DI DESA TONGKOH KECAMATAN TIGA PANAH KABUPATEN KARO SKRIPSI OLEH YUN ADRIANA BARUS / I. TANAH DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007

2 KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (A B) ANDISOL BERDASARKAN MINERAL LIAT DI DESA TONGKOH KECAMATAN TIGA PANAH KABUPATEN KARO SKRIPSI OLEH YUN ADRIANA BARUS / I. TANAH Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapat Gelar Sarjana Di Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

3 2007 JUDUL : KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (A B) ANDISOL BERDASARKAN MINERAL LIAT DI DESA TONGKOH KECAMATAN TIGA PANAH KABUPATEN KARO NAMA : YUN ADRIANA BARUS NIM : DEPARTEMEN : ILMU TANAH PROGRAM STUSI : KLASIFIKASI DAN EVALUASI LAHAN KOMISI PEMBIMBING (Ir.Purba Marpaung,SU) Pembimbing Utama (Ir.Razali,MP) Anggota DISETUJUI OLEH, (Dr. Ir. Abdul Rauf, MP) Ketua Departemen

4 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i ABSTRACT... iii ABSTRAK... iv RIWAYAT HIDUP... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix PENDAHULUAN Latar Belakang... 1 Tujuan Penelitian... 3 Kegunaan Penelitian... 3 TINJAUAN PUSTAKA Bahan Induk... 4 Genesa Tanah... 6 Pelapukan Pedokimia... 9 Mineral Liat Andisol BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metoda penelitian Persiapan Survei Lapangan Analisa Laboratorium Analisa Data KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi Penelitian Iklim Topografi Vegetasi... 27

5 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Profil Tanah Analisa Laboratorium Mineral Liat Tingkat Pelapukan dengan Kriteria Pelapukan Pedokimia KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

6 ABSTRACT Pedochemical weathering process is stated in soil solum by oxidationreduction, discharging Al from clay crystal become hidroxide through changing cation, Potashium removal from the mica, and forming Al vein on 2:1 clay mineral. This observation supposed to study pedochemical weathering in Andisol soil at Tongkoh, Tiga Panah municipality. Method of this observation was soil analysis that consisted of survey and laboratorium analysis on some important compound in pedochemical wheatering. Field research consisted of compited datas from the field that are soil colour, soil structur, soil consistency and the dept solum. Laboratory research was done to get data s of soil texture, cation exchange capasity (CEC), soil ph (NaF), soil ph (H 2 O), Al exchageable, K exachageable, and clay minerals. For the morphology analize that pedon, has respectively A, Bw 1, Bw 2 horizon and for the clay minerals were get that the A and Bw 1, Bw 2 horizon are dominated by A Allophane minerals clay.

7 ABSTRAK Proses pelapukan Pedokimia merupakan pelapukan yang terjadi di dalam solum tanah dengan reaksi yang terjadi diantaranya oksidasi-reduksi, pelepasan Al dari kristal liat menjadi Hidroksida melalui pertukaran kation, pemindahan K dari Mika, dan pembentukan lapisan Al pada mineral liat 2:1. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelapukan pedokimia pada tanah Andisol, Desa Tongkoh, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Metode penelitian terdiri dari analisis tanah meliputi servei dan analisis laboratorium terhadap beberapa senyawa penting dalam pelapukan pedokimia. Penelitian di lapangan mencakup pengumpulan data-data yang ada di lapangan yang terdiri dari warna tanah, struktur tanah, konsistensi tanah dan kedalaman solum. Penelitian di laboratorium untuk memperoleh data tekstur, kapasitas tukar kation (KTK), ph (NaF), ph (H 2 O), Al-dd, K- dd, dan mineral liat. Dari analisis morfologi pedon, memiliki horizon A, Bw 1, Bw 2 dan dari analisis mineral liat didapat bahwa horizon A dan Bw 1, Bw 2 didominasi oleh mineral liat Alofan A.

8 RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Penen, pada tanggal 20 Juni 1984 dari ayah H. Barus dan ibu E. Sirait. Penulis merupakan putri ketiga dari empat bersaudara. Tahun 2002 penulis lulus dari SMU Cahaya Medan dan pada tahun 2003 lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur SPMB. Penulis memilih program studi Klasifikasi Tanah dan Evaluasi Lahan, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian.

9 KATA PENGANTAR Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan Rahmat-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul dari usulan penelitian ini adalah Kajian Pelapukan Pedokimia (A B) Andisol Berdasarkan Mineral Liat Di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Yang merupakan salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana di Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. P. Marpaung, SU selaku Ketua Komisi Pembimbing, dan kepada Ir. Razali, MP selaku Anggota komisi Pembimbing, dan kepada teman-teman semua yang telah membantu penulis dalam memberikan arahan dan masukanmasukan sehingga penulis dapat menyelesikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna, mengingat keterbatasan penulis dan kurangnya sarana pendukung. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Medan, Desember 2007 Penulis

10 DAFTAR TABEL 1. Komposisi mineral-mineral pada permukaan bumi Puncak endotermik dan puncak eksotermik dari beberapa mineral liat Hasil Analisa Laboratorium untuk Sifat Fisik dan Kimia Tanah Puncak endotermik dan puncak eksotermik tanah Hal

11 DAFTAR GAMBAR Hal 1. Karatan pada Horizon Bw Termogram Horizon A Termogram Horizon Bw Termogram Horizon Bw

12 DAFTAR LAMPIRAN Hal 1. Hasil Analisa Laboratorium Data Curah Hujan Daerah Penelitian Peta Lokasi Penelitian Peta Geologi Sumatera Utara Peta Ketinggian Tempat Peta Jenis Tanah Prosedur Pemakaian DTA Profil Tanah Daerah Penelitian... 50

13 PENDAHULUAN Latar Belakang Tanah sangat penting artinya bagi usaha pertanian karena kehidupan dan perkembangan tumbuh-tumbuhan dan segala makhluk hidup di dunia sangat memerlukan tanah. Akan tetapi arti yang penting ini kadang-kadang diabaikan oleh manusia, sehingga tanah tidak berfungsi lagi sebagai mana mestinya. Tanah menjadi sangat gersang dan menimbulkan berbagai bencana, tidak lagi menjadi sumber bagi segala kehidupan. Tanah merupakan benda alam yang terus berubah, sehingga akibat pelapukan dan pencucian maka tanah semakin tua dan semakin miskin unsur hara. Pembentukan tanah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah yang saling mempengaruhi dan saling bekerja sama antar faktor yang satu dengan yang lainnya. Faktor-faktor pembentuk tanah itu adalah bahan induk (pm), iklim (cl), topografi (r), organisme (o), dan waktu (t) yang akan membentuk tanah dengan sifat-sifat tertentu (Hakim, dkk, 1986). Pelapukan adalah proses penghancuran, perubahan batuan karena mineralmineral dalam batuan tidak dalam keadaan seimbang pada suhu, tekanan dan kelembaban. Gaya fisika akan memecah batuan menjadi bahan-bahan yang berukuran lebih kecil, tanpa mengubah komposisi kimianya. Gaya kimia merubah susunan kimia bahan yang dilapukkan. Reaksi kimia tersebut meliputi pelarutan, hidrasi, oksidasi dan reduksi (Foth, 1998). Pelapukan sudah terjadi sebelum proses pembentukan tanah terjadi, dan berjalan terus bersama proses pembentukan tanah berlangsung sampai tidak ada

14 lagi bahan-bahan yang dapat dilapuk. Pelapukan pedokimia (pedochemical weathering) adalah pelapukan kimia yang terjadi pada horizon C ke horizon A atau horizon A ke horizon B (Buol, 1980). Pada proses pelapukan, mineral-mineral dalam batuan akan melapuk melepaskan unsur-unsur yang dikandungnya, yang sebagian merupakan sumber unsur hara bagi tanaman, sebagian tercuci bersama air perkolasi atau erosi, sedangkan sebagian lagi berubah menjadi mineral sekunder. Pelapukan akan berjalan terus hingga pada tanah-tanah tua hanya tertinggal mineral mineral sukar lapuk seperti kuarsa dan mineral sekunder seperti oksida besi (hematite, gaetit), oksida Al (gibsit) (Hardjowigeno, 1993). Mineral liat mengalami perubahan selama pelapukan pedokimia berlangsung. Perubahan ini berpengaruh terhadap sifat penting tanah seperti kapasitas tukar kation yang penting dalam pertanian. Dapatlah dikatakan bahwa pengelolaan tanah pertanian juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah mineral liat penyusun tanah. Tongkoh merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo. Penggunaan lahan di desa ini pada umumnya adalah pertanian rakyat dengan komoditi jeruk (Cytrus sp) dan padi (Oryza sativa). Yang menurut sepengetahuan peneliti belum pernah diteliti tentang pelapukan pedokimianya berdasarkan mineral liat. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik meneliti pelapukan pedokimia di desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo berdasarkan mineral liat.

15 Tujuan Penelitian Untuk mengkaji pelapukan pedokimia (A B) Andisol berdasarkan mineral liat di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo. Kegunaan Penelitian 1. Sebagai bahan informasi untuk pengelolaan tanah bagi masyarakat petani di Desa Tongkoh kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. 2. Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

16 TINJAUAN PUSTAKA Bahan Induk Bahan induk tanah penting dalam mendeterminasi karakteristik tanah. Bahan induk dianggap sebagai pembentuk tanah yang penting oleh para perintis pedologi. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau klasifikasi tanah dan survei tanah pada masa itu didasarkan pada bahan induk, sehingga dinamakan andesit, abu vulkan dan sebagainya (Hardjowigeno, 1993). Sifat-sifat bahan induk akan menimbulkan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan tanah meliputi tekstur, susunan mineralogi dan derajat stratifikasi. Keadaan bahan induk akan mempunyai efek yang menentukan pada tanah. Tanah muda terdapat 5 tahap dalam perkembangan tanah yaitu tahap awal : bahan induk yang terkikis, tahap Yuwana (muda): pengikisan sudah mulai, tahap dewasa: mineral yang mudah terkikis sebagian besar sudah berombak, tahap tua: perombakan sampai pada tahap akhir dan hanya kebanyakan mineral yang paling resisten dapat bertahan hidup, tahap akhir : perkembangan tanah telah selesai dan tanah terkikis habis dibawah keadaan yang berlaku (Foth, 1994). Bahan induk dianggap sebagai faktor pembentuk tanah yang amat penting. Bahan induk memiliki pengaruh terhadap sifat tanah yaitu antara lain: tekstur bahan induk mempunyai pengaruh langsung terhadap tekstur tanah muda, permeabilitas bahan induk menentukan banyaknnya air infiltrasi, bahan induk dengan tekstur halus membentuk tanah dengan bahan organik lebih tinggi dibandingkan dengan bahan induk dengan bertekstur kasar, mudah tidaknya bahan induk mengalami pelapukan tergantung dari jenis mineral yang dikandungnya (Hardjowigeno, 1993).

17 Bentukan vulkanis terjadi disebabkan karena adanya peletusan dari suatu gunung dan umumnya terjadi pada zaman kuarter dimana proses vulkanisme mencapai puncak kegiatannya. Beberapa satuan petrografi dari bentukan vulkanis yaitu (1) Tuff liparit, (2) Tuff Dasito Liparit, (3) Tuff Dasit Tua, (4) Tuff dasit Muda, (5) Andesito Dasit (Druif, 1969). Dataran tinggi tanah karo merupakan kawasan penyebaran Tuff Dasit dari lahar Gunung Sibayak. Namun semakin keselatan tanah-tanah dataran tinggi Karo dipengaruhi juga oleh penyebaran tuff liparit yang berasal dari Gunung Toba (Tan, 1984). Abu vulkan berasal dari gunung api di Indonesia yang biasanya bersifat andesitik sampai basalt. Yang bersifat andesitik ditemukan didaerah Banten berasal dari Gunung Danau Purba, sedang di Sumatera Utara di sekitar Gunung Sibayak ditemukan tuff liparit, dasit (masam) dan andesit. Tuff adalah batuan porus, biasanya berlapis-lapis, terdiri dari akumulasi scoria (loose cinderlike lava) dan abu disekitar gunung berapi yang terikat bersama membentuk suatu massa padat. Kadang-kadang tuff terdiri dari abu vulkanik dan pasir yang diangkut dan diendapkan oleh air hujan (Hardjowigeno, 1993). Andesit merupakan rangkaian intrusi batuan andesit yang tersingkap jelas pada puncak-puncak perbukitan. Andesit berwarna abu-abu kehijauan, berkomposisi antara hipersten hingga andesit-augit-hornblende dan trakiandesit. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil pelapukan berupa lanau, berwarna coklat kehitaman, plestisitas sedang, lunak. Bahan galian andesit ini umumnya menempati daerah pemukiman, perkebunan, perladangan dan hutan (Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Sumatera Utara, 2004).

18 Breksi Andesit umumnya melapuk sedang berwarna kuning kecoklatan, komponen batuan andesitik (4-45 cm) agak segar, menyudut tanggung, tertanam pada masa dasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur. Lava andesit umumnya melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa (Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Sumatera Utara, 2004). Genesa Tanah Proses pembentukan tanah merupakan perkembangan horizon-horizon dalam profil tanah secara alami. Perkembangan meliputi akumulasi bahan organik, pergerakan koloid dari bawah keatas dalam profil dan tempat yang paling banyak liat, karbonat, besi oksida, humus dan akumulasi gypsum. Ada 5 faktor pembentuk tanah, yaitu: 1. Bahan Induk (Pasif) 2. Iklim (aktif) 3. Biosfer (aktif) 4. Topografi (pasif) 5. Waktu (netral) (Hakim, dkk, 1986). Genesa tanah atau differensiasi horizon, termasuk didalamnya prosesproses yang berkaitan dengan penambahan (addition), kehilangan (losses), transformasi dan translokasi. Pada semua tanah, mineral-mineral sekunder dan senyawa-senyawa lainnya dengan sifat kelarutan yang berbeda, dapat bergerak dari satu horizon ke horizon lainnya (Hakim,dkk, 1986).

19 Ada dua peristiwa yang terjadi dalam perkembangan tanah yaitu: horisonisasi dan haplodisasi. Horisonisasi adalah proses proanisotrop dimana terjadi pembentukan profil tanah dengan pembentukan beberapa macam horizon. Haploidisasi adalah proisotrop dimana pembentukan horizon dihalangi atau terjadi pencampuran horizon misalnya pada tanah vertisol (Hardjowigeno, 1993). Karena proses pembentukan tanah terus berjalan, maka bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, tanah tua. Ciri dari masing-masing tingkatan perkembangan tanah adalah sebagai berikut: 1. Tanah muda (perkembangan awal). Terjadinya proses perkembangan tanah terutama proses pelapukan bahan organik dan bahan mineral, pencampuran bahan organik dan bahan mineral di permukaan tanah dan pembentukan struktur tanah karena pengaruh dari bahan organik tersebut (sebagai perekat). Hasilnya adalah pembentukan horizon A dan horizon C. 2. Tanah dewasa (perkembangan sedang). Dengan proses lebih lanjut terbentuk horizon B akibat penimbunan liat (illuviasi) dari lapisan atas ke lapisan bawah atau perubahan warna menjadi lebih merah pada horizon C di bawahnya. Pada tingkat ini tanah mempunyai kemampuan berproduksi tinggi karena unsur hara dalam tanah cukup tersedia sebagai hasil dari pelapukan mineral, sedangkan pencucian unsur hara belum lanjut. 3. Tanah tua (perkembangan lanjut). Dengan meningkatnya unsur hara, maka proses pembentukan profil tanah berjalan lebih lanjut sehingga terjadi perubahan yang lebih nyata pada horizon A dan horizon B. Tanah menjadi sangat masam, sangat lapuk, dan kandungan bahan organik lebih rendah dari pada tanah dewasa. Akumulasi liat atau sesquioksida di horizon B sangat

20 nyata sehingga membentuk horizon argilik (Bt). Apabila tidak terjadi penimbunan liat maka horizon E tidak terbentuk, sedang di horizon B tidak terjadi sesquioksida. Tetapi proses pelapukan akan berjalan terus dan terbentuklah banyak oksida-oksida besi dan aluminium (Hardjowigeno, 1993). Proses pembentukan tanah menimbulkan ciri-ciri yang terjadi atas proses akumulasi bahan organik dipermukaan tanah yang membentuk horizon O, antara lain termasuk proses yang menimbulkan ciri khas seperti pembentukan humus dan gambut. Proses elluviasi sambil membentuk horizon A termasuk proses pencucian, latolisasi, dan pedsolisasi. Proses illuviasi sambil membentuk horizon B terdiri atas akumulasi kapur, lempung dan besi (Darmawidjaya, 1997). Penilaian tingkat perkembangan tanah ditentukan berdasarkan morfologis dan genetis tanah. Secara morfologis ditetapkan berdasarkan kelengkapankelengkapan horizon-horizon genetis dan kedalaman solum sedangkan secara genetis ditetapkan berdasarkan tingkat pelapukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif sebagai hasil analisa fisika, kimia, mineralogi tanah (Hakim, dkk, 1986). Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah, termasuk didalamnya adalah perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Daerah yang berlerang curam terjadi erosi yang terus menerus sehingga tanah-tanah tempat ini bersolum dangkal, kandungan bahan organik rendah dan perkembangan horizon lambat jika dibandingkan dengan tanah-tanah didaerah datar (Hardjowigeno, 1993).

21 Pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah tejadi langsung atau tidak langsung. Pengaruh langsung antara lain proses pelapukan dan pencucian. Pengaruh tidak langsung melalui kemampuan iklim mengendalikan flora fauna (biosfir) yang menyediakan sumber energi dalam bahan organik (Poerwowidodo, 1991). Dampak curah hujan dalam pembentukan tanah yaitu dengan mempercepat pelapukan kimia dan fisika dan mengendalikan sifat produksi bahan organik dan dekomposisi. Jika curah hujan bertambah, erosi batuan bertambah dan terjadi sedimentasi. Penambahan curah hujan juga mempercepat pelapukan kimia dengan mempercepat pencucian dan mempercepat proses kimia tanah. Pelapukan pedokimia Pelapukan adalah desintegrasi kimia dan fisik dan dekomposisi batuan karena mineral mineral penyusun tidak seimbang (equilibrium) pada kondisi suhu, tekanan, dan kelembaban di antara atmosfer dan litosfer. Pelapukan pedokimia adalah desintegrasi dan modifikasi kimia mineral yang terjadi didalam horizon A dan horizon B. Reaksi-reaksi pada pelapukan pedokimia terdiri atas:siklus oksidasi reduksi, pemuntalan (Shuttling) aluminium dari kisi liat menjadi oksida terhidrat (Hydrous oxide) melalui reaksi pertukaran, pelepasan kalium dari Mika dan pelapisan Al mineral liat 2:1 (Marpaung, ). Pelapukan sudah dimulai sebelum proses pembentukan tanah yang dan berjalan terus selama proses pembentukan tanah berlangsung. Pelapukan ini terdiri dari pelapukan geokimia dan pedokimia. Pelapukan geokimia (Geochemical Weathering), meliputi:

22 1. Oksidasi Penting untuk tanah-tanah dengan tata udara tanah yang baik.yang terpenting adalah oksidasi besi ferro menjadi ferri. Fe ++ Fe e - 2. Reduksi Proses ini merubah besi ferri menjadi besi ferro yang sangat mudah bergerak (mobil). Dalam bentuk ini, besi dapat hilang dari tanh apabila pencucian terjadi. 3. Oksidasi - Reduksi Hal yang umum terjadi pada horizon C adalah pergantian oksidasi dan reduksi. Stabilitas Fe dan Mn dipengaruhi oleh ph dan Eh (potensial redoks). Potensial redoks menunjukkan besarnya konsentrasi electron (e - ) didalam larutan. 4. Hidrasi Hidrasi adalah asosiasi molekul air atau hidroksil dengan mineral seiring atau tanpa dekomposisi atau modifikasi dari mineral tersebut. 5. Hidrolisis Terjadi karena serangan ion hidrogen terhadap struktur kristal, sehingga terjadi pertukaran kation-kation didalam struktur kristal oleh hydrogen, serta struktur rusak dan hancur. 6. Pelarutan (Solution) Pelarutan garam-garam dengan struktur sederhana seperti kabonat, klorida, dan lain-lain.

23 Lanjutan dari pelapukan Geokimia adalah pelapukan Pedokimia (Pedochemical Weathering) yang meliputi: 1. Oksidasi - Reduksi Perubahan-perubahan keadaan oksidasi dan reduksi menghasilkan pelapukan Fe dan Mn dari mineral-mineral primer, yang kemudian membentuk karatan atau konkresi dalam solum tanah. 2. Pelepasan Al dari kristal liat menjadi Hidroksida Terjadi proses penghancuran dan perusakan liat (khususnya liat montmorillonit) dalam solum tanah. 3. Pemindahan K dari Mika Penggantian sedikit K + dari interlayer mika H + tidak menyebabkan distorsi kehilangan keseimbangan (allignment) yang berarti. Kapasitas Tukar Kation sedikit meningkat dan terbentuk mineral liat illit. 4. Pembentukan lapisan Al pada mineral liat 2 : 1 Suatu modifikasi mineral secara pedogenik pada tanah masam adalah pengendapan gugus hidroksil Al di ruang-ruang antar lapisan dari vermikulit (atau kadang kadang montmorillonit). Liat dengan Al interlayer disebut liat 2 : 1 intergrade. Interlayer Al mempengaruhi kemasaman tanah. (Hardjowigeno, 1993). Telah diketahui bahwa pasir dan debu terutama berasal dari butir-butir mineral tanah dengan jenis tanah yang lain. Luas permukaan debu jauh lebih besar dari luas permukaan pasir per gram. Tingkat pelapukan debu dan pembebasan unsur-unsur hara untuk diserap akar lebih besar dari pasir. Pasir dan debu pada

24 beberapa tanah, umumnya terdiri dari mineral-mineral yang kaya akan unsurunsur esensial, sedangkan pada kasus lain mereka didominasi oleh kwarsa. Tidak suburnya tanah-tanah berpasir biasanya berhubungan erat dengan kandungan kwarsa yang tinggi (Hakim, dkk, 1986). Nilai ph menunjukkan banyaknya konsistensi ion hidrogen di dalam tanah. Telah ditandai bahwa ph tanah tertentu cenderung dikaitkan dengan kumpulan bagian kondisi tanah. Tanah dengan ph 8 dan di atasnya biasanya didominasi oleh hidrosa karbonat dan mereka terutama dikembangkan dari bahan induk yang berkapur. Pelapukan dan pencucian berlangsung minimal. ph menurun atau kemasaman meningkat maka tingkat perkembangan tanah lebih lanjut (Foth, 1998). Pengukuran ph NaF merupakan metode yang konvensional dan sederhana untuk menguji ada tidaknya bahan andik. ph NaF >9,4 merupakan suatu indikator adanya bahan andik (alofan) yang mendominasi kompleks pertukaran. Hal ini didasarkan kepada pertukaran ligan antara F - dengan OH - yang dipinggiran alofan sehingga OH - bebas dan akan cepat meningkatkan ph larutan (Mukhlis, 2002). Karena adanya muatan tergantung pada ph tanah, maka dalam menentukan Kapasitas Tukar Kation (KTK) di laboratorium harus didasarkan pada ph larutan yang telah ditentukan. Oleh karenanya KTK merupakan fungsi tanah. Selama pencucian dan pelapukan terus menerus dan ph tanah menurun, KTK menurun, sebagian besar disebabkan reduksi yang tergantung ph bahan organik. Hidrogen dapat ditukar pada daerah yang tergantung ph bahan organik memperlihatkan kecenderungan ionisasi yang kecil sesuai dengan ph yang menurun (Foth, 1998).

25 Tingkat pelapukan lanjut suatu tanah tercermin dari sifat fisik, kimia dan mineraloginya. Tanah dengan pelapukan lanjut umumnya mempunyai nilai KTK yang rendah. Dan sifat terakhir dicerminkan oleh kadar besi Oksida dan Aluminium Hidroksida tinggi dalam tanah (Poerwidodo, 1991). Dari berbagai pengamatan ciri tekstur tanah, ternyata KTK berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi jumlah liat suatu tanah yang sama maka KTK juga bertambah. Makin halus tekstur tanah makin besar pula jumlah koloid liat organiknya, sehingga KTKnya semakin besar. Sebaliknya, tekstur kasar seperti pasir atau debu, jumlah koloid relati kecil demikian pula koloid organiknya, sehingga KTK juga relatif lebih kecil daripada tanah bertekstur halus (Hakim, dkk, 1986). Tanda-tanda yang dipakai untuk menyatakan tanah telah mencapai tingkat perkembangan lebih lanjut adalah profil terbagi dalam horizon-horizon yang lebih banyak dan masing-masing horizon lebih tebal serta lebih nyata terbentuk, tekstur tanah lebih halus, ph menurun atau kemasaman meningkat, kadar N dan bahan organik lebih banyak, warna tanah lebih cerah. Tanda-tanda yang tercantum di atas tidak berarti harus semuanya tampak bersamaan dalam sebuah profil (Notohadiprawiro, 1995). Tanah muda umumnya mempunyai KTK rendah sesuai dengan tekstur bahan induk. KTK mula-mula akan meningkat dengan meningkatnya pelapukan, tetapi KTK akan menjadi rendah pada tanah dengan tingkat pelapukan lanjut. Hal ini akibat melapuknya mineral liat mudah lapuk (mineral 2:1;alofan) dan terbentuk mineral liat yang lebih rendah KTKnya (kaolinit, oksida-oksida). Batas

26 Lama sebelum proses penghancuran bahan-bahan organik dimulai, maka boleh dikatakan bahwa senyawa K dan kebanyakan dari senyawa Ca telah tercuci dari daun-daun. Penyelidikan dengan lysimeter menunjukkan naiknya angka ph setelah daun-daun jatuh ke tanah (Wisaksono, 1963). Kadar K dan Ca dan senyawa basa lain naik dalam pencucian pada masa ini. Bilamana penghancuran dimulai maka banyak ditemukan asam-asam organik dan asam anorganik yang menyebabkan reaksi masam. Jadi banyaknya K yang dikandung dalam tanah yang melapuk dapat meningkatkan ph, sehingga pelapukan akan rendah (Dardak, 1993). Faktor tanah yang mempengaruhi fiksasi kalium seperti kemampuan dari berbagai koloid tanah dalam memfiksasi kalium yang berbeda. Hal ini sangat tergantung dari jenis dan sifat koloid itu sendiri misalnya: kaolinit atau lebih sedikit meningkatkan kalium jika dibandingkan mineral tipe 2:1 seperti montmorilonit dan illit (Abdullah, 1993). Oksidasi biasanya disertai dengan penambahan volume, sehingga mempertinggi larutan terhadap pelapukan. Lanjutan reaksi oksidasi disatu pihak sebaiknya terjadi reduksi ditempat lain. Proses reduksi banyak terjadi didarah rawa atau daerah yang mengandung bahan organik. Oksidasi bahan organik dari senyawa tertentu seperti oksidasi-reduksi besi yang mengandung ferro menjadi ferri, sulfat di reduksi menjadi sulfida. Di daerah yang sering tereduksi senyawa Fe dan Mn, meningkat mobilitasnya (Darmawijaya, 1997). Kondisi redoks tanah mempengaruhi stabilitas senyawa-senyawa besi dan manga. Baik kondisi oksidasi maupun reduksi dapat terjadi bersamaan di dalam pedon. Tanah-tanah dengan kondisi redoks yang berbeda dapat mempunyai reaksi

27 yang berbeda terhadap pemupukan N. Dalam tanah berdrainase baik, N-amonium berada di bawah pengaruh nitrifikasi (Tan, 1998). Intensitas pelapukan dipengarhi olah iklim, drainase, vegetasi dan waktu. Dalam hal ini iklim merupakan faktor yang terpenting dalam terjadinya pelapukan, iklim tidak hanya mengontrol tingkat reaksi tanah akibat perbedaan iklim setiap tempat tetapi juga berperan selama proses pelapukan. Air hujan dan drainase merupakan faktor kedua yang mempengaruhi tingkat dekomposisi dan berperan dalam pembentukan mineral sekunder (Darmawijaya, 1997). Mineral Liat Mineral adalah sebagian zat-zat hablur (kristal) yang ada dalam kerak bumi dan bersifat homogen baik fisik maupun kimiawi. Mineral merupakan persenyawaan anorganik asli serta mempunyai susunan kimia yang tetap. Persenyawaan kimia asli adalah bahwa mineral itu harus terbentuk di alam. Banyak zat yang mempunyai sifat yang sama dengan mineral dapat dibuat di laboratorium. Jadi mineral inilah yang merupakan bagian dari batuan (Munir,1995). Mineral dikelompokkan berdasarkan komposisi, warna, kekuatan, struktur, dan berat jenisnya. Mineral-mineral utama yang terdapat dalam kerak bumi, disajikan dalam tabel 1. Tabel 1. komposisi mineral-mineral pada permukaan bumi Nama Mineral Persentase Komposisi Feldspar 57,8 Amfibol dan Piroksin (mineral feromagnesium) 16,0 Kwarsa 12,7 Mika 3,6 Mineral asesoris apatit, magnetit, pirit, titanit, Jumlahnya bervariasi zircon, ilemenit, rutil)

28 Dari tabel dapat kita ketahui bahwa mineral yang paling penting dalam pembentukan tanah adalah feldspar kemudian diikuti oleh mineral ferromagnesium. Ada mineral mineral tertentu yang tidak terpengaruh oleh pelapukan dan tidak tergantikan oleh mineral lain di dalam tanah, misalnya kwarsa, magnetit, titanit, dan ilmenit (besi tua titan), dll. Mineral mineral nonsilikat yang penting dalam pembentukan tanah adalah kalsit, magnetit, gypsum, dan dolomit. Semua mineral diatas termasuk mineral primer (Buol, 1980). Mineral liat merupakan sekumpulan mineral berbentuk kristal, yang tersusun atas aluminium silikat dengan beberapa logam tertentu sebagai pendukung atau penggantinya. Dengan memperhatikan komponen lapisan silikat dan aluminium penyusun liat, maka didapatlah beberapa tipe mineral liat yang berperan besar dalam mengatur tentang keadaan / susunan tanah, misalnya: montmorillonit tipe 2:1, kaolinit tipe 1:1, dll (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002). Mineral liat kristalin dibedakan berdasarkan jumlah lapis kristal tetrahedron dan oktahedron yaitu : (Marpaung, 1992). a. Tipe 2 lapis (1:1) yang tersusun atas 1 lapis silikat tetrahedron dan 1 lapisan aluminium oktahedron b. Tipe 3 lapis (2:1) yang tersusun oleh masing-masing 2 lapis silikat aluminium tetrahedron dan 1 lapis dioktahedron atau trioktahedron c. Tipe 4 lapis (2:1:1) yang tersusun oleh masing-masing 2 lapis silika dan 2 lapis aluminium Tanah muda mempunyai kandungan liat rendah dan kandungan mineral primer tinggi, dapat dicirikan dengan tingginya laju pembentukan liat. Pada tanah

29 matang atau tua dimana sebagian mineral primernya siap melapuk, pembentukan liat silikat akan menjadi rendah. Kandungan liat yang tinggi menunjukkan laju dekomposisi yang relatif tinggi (Foth, 1998). Dari berbagai pengamatan ciri tekstur tanah, ternyata Kapasitas Tukar Kation (KTK) berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi jumlah liat suatu tanah yang sama, maka KTK juga bertambah. Makin halus tekstur tanah makin besar pula jumlah koloid liat organiknya, sehingga KTKnya semakin besar. Sebaliknya tekstur kasar seperti pasir atau debu, jumlah koloid relatif kecil demikian pula koloid organiknya, sehingga KTK juga relatif lebih kecil dari pada tanah bertekstur halus (Hakim dkk, 1986). Alofan memiliki muatan peubah yang besar. Alofan juga bersifat amfoter dan dilaporkan dapat memfiksasi sejumlah fosfat tanah. Nilai KTK kira kira antara me / 100 gr, sedangkan KTA (Kapasitas Tukar Anion) berkisar antara 5 30 me / 100 gr. Kebanyakan tanah-tanah yang mengandung alofan umumnya memiliki horizon A berwarna hitam, mengandung bahan organik yang tinggi, dan terdapat di beberapa tempat di Kabupaten Karo, Langkat di Sumatera Utara. Identifikasi mineral-mineral ini umumnya dilakukan dengan DTA (Differential Thermal Analysis) (Lubis, 1989). Alofan adalah bahan yang susunan kimianya terdiri atas sejumlah O 2-, OH -, Al 3+, dan Si 4+ yang beragam; dan dicirikan oleh order rentang pendek dan didominasi oleh ikatan Si-O-Al. Mineral ini membentuk bola-bola kecil (3,5-5,0 nm), suatu stuktur yang tidak dapat dideterminasi. Bola-bola ini menggumpal secara bersamaan membentuk agregat yang tidak beraturan dengan kapasitas tukar kation (KTK) me/100 g (Mukhlis, 2002).

30 Kurva DTA (Differential Thermal Analysis) alofan umumnya dicirikan oleh punak endotermik yang besar dan tajam antara C (323 dan K) yang diakibatkan hilangnya air terjerap, dan suatu puncak eksotermik yang tajam C hingga C ( K) akibat pembentukan alumina atau mulit. Alofan kebanyakan terdapat dalam tanah yang berasal dari bahan vulkanik, tetapi ada juga tanah-tanah yang mengandung alofan secara umum diklasifikasikan kedalam andept (inseptisol) (Tan, 1998). Secara umum sifat-sifat tanah yang kaya akan alofan dan terbentuk dari gelas vulkanik adalah sebagai berikut. 1. Biasanya profil tanahnya dalam lapisan atas gembur 2. Terdapat lapisan permukaan yang hitam yang terdiri dari senyawasenyawa humik yang tahan terhadap dekomposisi mikroorganisme 3. Lapisan subsoil berwarna kecoklatan dan terasa licin bila digosok diantara jari-jari 4. Bulk density sangat rendah (< 0,85 g/cc) 5. Daya memegang air tinggi 6. Perkembangan struktur tanah baik, tapi agak lemah dan porous 7. Tidak ada sifat lekat dan kenyal (plastis) bila lembab 8. Kalau dikeringkan menjadi sukar dibasahi kembali, dan dapat mengapung di atas air 9. Kapasitas tukar kation tinggi 10. Sulit melakukan analisis tekstur pada tanah ini karena sulit didispersi 11. Cenderung mempunyai retensi P yang tinggi (Hardjowigeno, 1993).

31 Mineral liat silikat yang terpenting adalah alofan. Mineral ini terdapat pada tanah berasal dari abu volkan (Andisol) dan diperkirakan berasal dari pelapukan gelas volkanik atau mineral feldspar. Mineral ini mempunyai kapasitas tukar kation tinggi, tetapi dapat memfiksasi P dengan kuat. Tanah yang banyak mengandung alofan terasa licin bila dipirit (smearyt) dan umumnya mempunyai bulk density yang rendah (kurang dari 0,90 g / cc) (Hardjowigeno, 2003). Mineral liat merupakan salah satu kompleks tanah yang sangat penting karena dapat menentukan sifat fisik dan kimia tanah. Tanah dapat mengembang dan mengerut, muatan tanah (KTK) dan konsistensi tanah disebabkan oleh mineral liat dominan. Beberapa metode penetapan mineral liat di Laboratorium antara lain: (Munir, 1995) 1. Analisa Difraksi sinar x (x ray Diffraction) 2. Differential Analysis thermal (DTA) 3. Termografmetrik Analisis (TGA) 4. Scanning Elektron mikroskop (SEM) Analisa mineral liat yang memakai metoda DTA (Differential Thermal Analysis) merupakan teknik yang digunakan secara luas dan sangat bermanfaat terutama dalam mengidentifikasi mineral amorf. Selain dengan DTA mineral liat juga dapat diukur dengan menggunakan sinar x (x ray) akan tetapi hanya dapat mengidentifikasi mineral primer saja. Analisa Thermal mengukur perbedaan yang timbul antara contoh tak dikenal dan contoh baku, sehingga akibat pemanasan bersama pada laju yang dikendalikan dari 0 hingga (Tan, 1991). DTA mengukur perbedaan suhu yang berkembang antara contoh yang akan diselidiki (unkown sample) dan contoh rujukan (refrence sample) pada saat

32 keduanya dipanaskan berdampingan dengan tingkat pemanasan yang dikendalikan antara C. Bahan rujukan juga disebut standard material (bahan baku). Persenyawaan persenyawaan yang biasa digunakan sebagai contoh bahan baku adalah calcined Al 2 O 3 dan coalinit (dipanaskan pada C). Pemanasan haruslah dikendalikan seseragam mungkin dengan jumlah yang tetap selama analisis berlangsung. Suhu pemanasan bervariasi dari 0, C/ menit (Lubis, 1989). Kurva DTA kaolinit oleh puncak endotermik yang kuat pada suhu antara C dan oleh puncak eksotermik yang kuat pada suhu C. Munculnya puncak endotermik disebabkan oleh dehidroksilasi, sedangkan puncak eksotermik disebabkan pembentukan alumina atau mullit. Kurva halloysit hampir mirip dengan kaolinit tetapi memiliki puncak endotermik bersuhu rendah ( C). Montmorillonit memperlihatkan kurva DTA dengan puncak endotermik bersuhu rendah ( C), sebuah puncak endotermik lagi antara C, dan bagian kurva yang menurun antara C diikuti oleh puncak eksotermik lemah antara C. Gibsit dan geothit biasanya dicirikan oleh puncak endotermik yang kuat antara 290 dan C. Tidak jarang geothit dan mineral besi oksida lainnya memiliki reaksi endotermik yang suhunya lebih tinggi dari gibsit (Lubis, 1989). Andisol Andisol adalah tanah yang berkembang dari bahan vulkanik seperti abu vulkan, batu apung, silinder, lava dan sebagainya, dan / atau bahan volkanik lastik, yang fraksi koloidnya didominasi oleh mineral Short-range order (alofan, imogolit, ferihidrit) atau kompleks Al-humus. Dalam keadaan lingkungan

33 tertentu, pelapukan alumino silikat primer dalam bahan induk nonvulkanik dapat menghasilkan mineral Short range order, sebagian tanah seperti ini yang termasuk dalam Andisol (Hardjowigeno, 1993). Tanah Andisol (Andosol) adalah tanah yang berwarna hitam kelam, sangat porous, mengandung bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama alofan serta sedikit silika, alumina atau hodroxida-besi. Tanah yang terbentuk dari abu vulkanik ini umumnya ditemukan didaerah dataran tinggi (> 400 m dari permukaan laut) (Darmawijaya, 1997). Proses pembentukan tanah yang utama pada andisol adalah pelapukan dan transformasi (perubahan bentuk). Proses pemindahan bahan (translokasi) dan penimbunan bahan-bahan tersebut di dalam solum sangat sedikit. Akumulasi bahan organik dan terjadinya kompleks bahan organik dengan Al merupakan sifat khas pada beberapa andisol (Hardjowigeno, 1993).

34 BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo, dengan ketinggian tempat 1447 m di atas permukaan laut (dpl) dan berjarak ± 68 km dari kota Medan, Laboratorium Riset dan Teknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan, dan Laboratorium PTKI (Pendidikan Teknologi Kimia Industri ). Penelitian ini dimulai pada bulan April 2007 sampai dengan September Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan adalah sampel tanah, aquadest, NH 4 OAc (ph 7), KCl, dan Merc Indikator Paper. Adapun alat yang digunakan adalah peta geologi Kabupaten Karo skala 1: , peta ketinggian tempat skala 1: , peta lokasi penelitian skala 1: , peta jenis tanah skala 1 : , GPS, meteran, kertas label, kantongan plastik, Munsell Soil Colour Chart, kamera, spidol, karet gelang, formulir isian profil, cangkul, bor tanah, karton manila. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis termogram dan memakai kriteria pelapukan pedokimia.

35 Persiapan Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan konsultasi dengan dosen pembimbing, telaah pustaka, penyusunaan usulan penelitian dan penyediaan bahan serta peralatan yang digunakan di lapangan. Survai Lapangan Penentuan titik lubang tanah dengan menggunakan GPS berdasarkan analisa topografi, geologi, jenis tanah dan peta Kab. Karo. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada horizon A dan horizon B. Analisa Laboratorium Analisa laboratorium terdiri atas: Analisa tekstur tanah dengan menggunakan metode Hydrometer Kapasitas Tukar Kation (KTK) dengan menggunakan metoda ekstraksi NH 4 OA c ph 7, dengan kriteria: o Rendah <5 me/100 g o Agak rendah 5 16 me/100 g o Sedang me/100 g o Agak tinggi me/100 g o Tinggi >40 me/100 g ph (H 2 O) dan ph (NaF) dengan menggunakan metoda electrometry Al dd dengan NH 4 OA c ph 7 K tukar dengan NH 4 OA c ph 7 Analisa mineral liat dengan menggunakan alat Differential Thermal Analysis (DTA)

36 Analisisia Data Analisis mineral dengan interpretasi termogram puncak endotermik eksotermik beberapa mineral-mineral liat Menentukan tingkat pelapukan dengan memakai kriteria pelapukan pedokimia. Tabel 2 : Puncak Endotermik dan Puncak Eksotermik dari beberapa mineral liat (Tan, 1998) Mineral liat Puncak Endotermik ( 0 C) Puncak Eksotermik ( 0 C) Kaolinit Montmorilonit Halloisit Illit Vermikulit Gibsit Goethid Alofan - A - B Kriteria pelapukan pedokimia menurut Hardjowigeno (1993) adalah: 1. Oksidasi - Reduksi Perubahan-perubahan keadaan oksidasi dan reduksi menghasilkan pelapukan Fe dan Mn dari mineral-mineral primer, yang kemudian membentuk karatan

37 atau konkresi dalam solum tanah. Pergantian keadaan oksidasi reduksi dapat menyebabkan terjadinya kerusakan mineral. Dalam keadaan reduksi dimana Fe ++ mudah larut menjadi penggantian exchangeable Al +++ oleh Fe ++, sedang dalam keadaan oksidasi, Al +++ keluar dari kisi-kisi kristal dan mengganti Fe ++ dalam kompleks pertukaran kation. Keluarnya Al ++ dari kristal-kristal dapat merusak struktur liat. 2. Pelepasan Al dari kristal liat menjadi Hidroksida melalui pertukaran kation. Liat mula-mula jenuh Ca ++ dan Mg, ++ kemudian diganti K + dan pelapukan masam. Karena pergantian H + ini menjadi liat tidak stabil, sehingga Al +++ dapat terlepas dari kristal liat. Akibatnya menjadi licin dan menjadi hancur (rusak). 3. Pemindahan K dari Mika Penggantian sedikit K + dari interlayer mika H + tidak menyebabkan distorsi kehilangan keseimbangan (allignment) yang berarti. Kapasitas Tukar Kation sedikit meningkat dan terbentuk mineral liat illit. 4. Pembentukan lapisan Al pada mineral liat 2 : 1 Suatu modifikasi mineral secara pedogenik pada tanah masam adalah pengendapan gugus hidroksil Al di ruang-ruang antar lapisan dari vermikulit (atau kadang kadang montmorillonit). Liat dengan Al interlayer disebut liat 2 : 1 intergrade. Interlayer Al mempengaruhi kemasaman tanah.

38 KEADAAN UMUM DERAH PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo pada satu profil tanah, dengan koordinat ,7 LU dan ,2 BT dengan ketinggian tempat 1447 m di atas permukaan laut (dpl). Iklim Data iklim yang digunakan adalah data curah hujan selama 10 tahun terakhir dari tahun 1997 sampai tahun 2006 yang tertera pada lampiran 1. Data curah hujan ini di peroleh dari badan Meteorologi dan Geofisika Sampali, Medan, Sumatera Utara. Iklim merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembentukan tanah. Jika suatu daerah memiliki curah hujan yang cukup tinggi maka proses pembentukan tanah akan semakin cepat pada daerah tersebut, hal ini disebabkan karena pada keadaan basah tanah akan semakin cepat terdekomposisi dan membentuk lapisan lapisan tanah baru. Berdasarkan pendapat Schmitd dan Ferguson dalam Guslim (1997) bahwa bulan basah terjadi jika curah hujan > 100 mm / tahun dan bulan kering terjadi jika curah hujan 60 mm / tahun, dengan harga Q yang diperoleh dari perbandingan antara bulan kering dan bulan basah. Dapat dituliskan dengan rumus: Q = Rata-Rata Bulan Kering X 100% Rata-Rata Bulan Basah

39 Daerah penelitian di Desa tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo mempunyai tipe iklim D (sedang). Dimana rata-rata bulan kering adalah 4,3 dan rata-rata bulan basah adalah 4,6 da nilai Q yang diperoleh adalah 93 % dengan harga Q terletak pada range 60 < Q 100. Topografi Pada umumnya relief di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo adalah landai sampai dengan berombak. Pada daerah penelitian reliefnya adalah landai dengan kemiringan lereng 5 %. Vegetasi Penggalian profil tanah di desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo dilakukan pada kawasan hutan Pinus (Pinus merkusii) yang ditanam oleh Dinas Kehutanan. Dari pengamatan langsung di lapangan dapat dilihat vegetasi yang ada pada daerah penelitian adalah sayursayuran dan buah-buahan yaitu cabe merah (Capsicum annum L.), singkong (Manihot utilisima ), jeruk (Citrus aurantium), ketimun (Cucumis sativus), kentang (Solanum tuberosum L.), ubi jalar (Ipomoea batatas L.) dan rumputrumputan (Graminae).

40 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi profil tanah Sifat tanah yang diteliti secara langsung di lapangan meliputi warna tanah, tekstur tanah, stuktur tanah, konsistensi tanah, kedalaman efektif tanah, batuan singkapan, dan corak-corak lain ada pada morfologi tanah. Deskripsi profil tanah daerah penelitian adalah sebagai berikut: Lokasi Koordinat Ketinggian Tempat Bahan Induk Jenis Tanah : Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo : ,7 LU dan ,2 BT : 1447 m di atas permukaan laut : Andesit : Andisol Kemiringan Kereng : 5 % Topografi Drainase Kedalaman efektif : Landai : Baik : 56 cm Vegetasi :Hutan pinus (Pinus merkusii), Rumput-rumputan (Graminae).

41 Morfologi Tanah di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Horizon Kedalaman (cm) Uraian A 0-16/18 Hitam gelap kecoklatan (10 YR 2/2). pasir berlempung, sedang, remah, gembur, terdapat batuan, perakaran banyak, beralih nyata berombak ke... Bw 1 16/18-28/40 Coklat kekuningan (10 YR 5/6), lempung, halus, gumpal, teguh, terdapat batuan, sedikit perakaran, beralih nyata berombak ke... Bw 2 C 28/40-40/68 40/60 - >150 Kuning kecoklatan (10 YR 6/6), lempung berpasir, sedang, gumpal bersudut, teguh, tidak terdapat batuan, terdapat sedikit perakaran, terdapat sedikit karatan, beralih nyata berombak ke... Coklat kuning keabu-abuan (10YR 4/8), lempung berpasir, sedang, gumpal bersudut, teguh, tidak terdapat batuan, tidak ada perakaran, terdapat corak berwarna kuning merah kecoklatan pada kedalaman 59 cm. Pada pengamatan langsung di lapangan, maka diperoleh behwa pedon memiliki horizon A, Bw 1, Bw 2, dan C dimana pada setiap horizon memiliki warna, tekstur, struktur dan konsistensi yang berbeda. Penentuan notasi warna pdilakukan berdasarkan buku pedoman penciri warna tanah yaitu buku Munsell

42 soil Colour Chart. Warna disusun tiga variabel yaitu Hue, Value, chroma. Value menunjukkan gelap terangnya warna sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Hue menunjukkan warna spektrum yang dominan, sesuai dengan panjang gelombang. Menurut Munir (1996) warna tanah yang semakin terang menunjukkan kandungan bahan organik yang semakin sedikit dan jika warna tanah semakin gelap maka kandungan bahan organik semakin tinggi, sangat porous, mengandung bahan organik, dan liat tipe amorf, terutama alofan, serta sedikit silikat dan alumina atau hidroksida besi. Bw 1 Bw 2 C Gambar 1 : Karatan pada horizon Bw 2 Dari gambar dapat dilihat perubahan warna yang jelas dimana warna tanah semakin kebawah semakin terang. Hal ini dapat menunjukkan kandungan bahan organik yang semakin sedikit dari horizon atas ke horizon di bawahnya, dan ini merupakan ciri tanah andisol. Pada horizon Bw 2 terdapat karatan atau konkresi. Karatan ini menunjukkan telah terjadi proses oksidasi, sehingga dari

43 sifat morfologisnya dapat dilihat proses pelapukan pedokimia dari horizon A B yang termasuk dalam kriteria pelapukan pedokimia yang pertama yaitu oksidasi reduksi. Dari deskripsi morfologi tanah pada horizon A, Bw 1 dan Bw 2 dapat dilihat bahwa tekstur tanah yang ditentukan dengan metoda by feeling yaitu pasir berlempung, lempung dan lempung berpasir. Struktur tanah pada horizon A adalah sedang, remah, sedangkan pada horizon Bw 1 adalah halus, gumpal, dan horizon Bw 2 adalah sedang, gumpal bersudut. Penyifatan struktur tanah tersebut ditentukan berdasarkan ukuran struktur tanah dan bentuk struktur tanah. Konsistensi tanah pada horizon A adalah gembur, horizon Bw 1 dan Bw 2 adalah teguh. Pada keadaan lembab terbentuk konsistensi gembur karena berkurangnya kandungan liat. Sedangkan terbentuknya konsistensi teguh karena meningkatnya kandungan liat yang membentuk gumpalan agregat. Ketahanan tanah berbedabeda dari yang mudah hancur (tingkat perkembangan lambat), sedang (tingkat perkembanagan sedang), dan sampai yang sulit hancur (tingkat perkembangan lanjut). Dari data yang diperoleh maka tanah andisol termasuk ke dalam tingkat pelapukan lanjut (tanah tua). Hal ini ditandai dengan horizon tanah yang lengkap horizon A, Bw 1, Bw 2, C dan R dan horizon yang tebal, didominasi oleh tekstur pasir berlempung dan lempung berpasir, warna tanah yang lebih cerah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notohadiprawiro (1998) yang menyatakan bahwa tanah yang mencapai tingkat pelapukan lanjut adalah horizon yang banyak, tekstur halus dan warna yang lebih terang.

44 Analisa laboratorium Berdasarkan analisis laboratorium, untuk sifat fisik (tekstur tanah) dan sifat kimia tanah (ph H 2 O, ph NaF, KTK, Al-dd dan K-dd) dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini. Tabel 3 : Hasil Analisa Laboratorium untuk Sifat Fisik dan Kimia Tanah Horizon Kedalaman Partikel Tanah (%) ph KTK Al-dd K-dd Pasir Debu Liat H2O NaF (me/100g) (me/100g) (me/100g) A 0-16/18 82,4 11,4 6,2 4,83 10,74 44,60 1,34 0,36 Bw1 16/18-28/40 82,4 9,4 8,2 4,94 9,12 49,58 0,10 0,33 Bw2 28/40-40/68 70,4 21,4 8,2 4,84 9,72 37,81 0,00 0,18 Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa persen pasir dari horizon A ke Bw 1 tetap sedangkan dari horizon Bw 1 ke Bw 2 terjadi penurunan persen pasir dari 82,4% menjadi 70,4 % dan terjadi peningkatan persen debu yaitu dari 9,4% menjadi 21,4%. Hal ini menunjukkan bahwa dari horizon Bw 1 ke Bw 2 terjadi pelapukan pasir menjadi debu. Dari horizon A ke Bw 1 terjadi penurunan persen debu yaitu dari 11,4% menjadi 9,4%. Hal ini menunjukkan bahwa dari dari horizon A ke Bw 1 terjadi pelapukan debu. Dari horizon A ke Bw 1 terjadi peningkatan persen liat yakni dari 6,2% menjadi 8,2%. Hal ini disebabkan karena liat pada horizon A sebagian mengalami pencucian (tereluviasi) ke horizon Bw 1 sehingga % liat pada horizon Bw 1 menjadi lebih tinggi dibanding dengan horizon A (liat terilluviasi). Dengan adanya pencucian liat ini maka % debu akan lebih banyak pada horizon A dibandingkan dengan horizon Bw 1. Menurut Harjowigeno (1993) eluviasi adalah pemindahan bahan-bahan tanah dari satu horizon ke horizon lain sedangkan iluviasi adalah penimbunan bahan-bahan tanah dari satu horizon. Tekstur tanah

45 pada horizon A dan Bw 1 adalah pasir berlempung, sedangkan pada horizon Bw 2 adalah lempung berpasir. Dari hasil analisa laboratorium untuk ph tanah dari horizon A ke Bw 1 terjadi peningkatan ph H 2 O yaitu dari 4,83 menjadi 4,94, dimana peningkatan disebabkan karena pada horizon A Al-dd tinggi yaitu 1,34 me/100g sehingga dapat memfiksasi P dengan kuat melalui pertukaran anion, dimana pertukaran anion menyumbangkan OH - sehingga menyebabkan ph tanah meningkat. Sedangkan pada Bw 1 ke Bw 2 ph tanah mengalami penurunan yakni dari 4,94 menjadi 4,84. menurunnya ph pada horizon Bw 2 ini disebabkan banyak terdapat ion H + yang dapat dipertukarkan dalam larutan tanah. Sehingga ion H ini menyumbangkan H + ke larutan yang menyebabkab konsentrasi H meningkat dan membuat tanah menjadi masam. Menurut Tan (1994) H yang dapat dipertukarkan disosiasi dan menyumbangkan H + ke larutan tanah dimana H yang dapat dipertukarkan ini adalah sumber utama H + sampai ph menjadi di bawah 6. menurut Hardjowigeno (1993) ph yang semakin masam akan semakin banyak Al dapat dipertukarkan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Penurunan ph ini juga dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi sehingga pencucian juga tinggi. Pada lampiran 2 dapat dilihat bahwa di lokasi penelitian memiliki curah hujan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Foth ( 1998) selama pencucian terus menerus dan ph tanah menurun, kapasitas tukar kation menurun, sebagian disebabkan reduksi muatan yang tergantung ph bahan organik. Pengukuran ph NaF merupakan salah satu indikator mineral alofan. Menurut Mukhlis (2004) ph NaF > 9,4 merupakan indikator adanya bahan andik atau alofan. Dari hasil analisa laboratorium ph NaF horizon A dan Bw 2 yaitu

46 10,74 dan 9,72 menunjukkan bahwa pada horizon ini terdapat mineral liat alofan. Sedangkan pada horizon Bw 1 terjadi penurunan yaitu menjadi 9,12, hal ini disebabkan karena kandungan alofannya lebih sedikit dibanding horizon A dan Bw 2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Foth (1998) bahwa andisol memiliki ph NaF yang diukur dengan 1 g tanah halus adalah sebesar 9,2 atau lebih yang menunjukkan adanya mineral liat alofan dalam tanah tersebut. Berdasarkan hasil analisa laboratorium (tabel 3) untuk kapasitas tukar kation (KTK) bahwa pada tanah lokasi penelitian memiliki mineral alofan A. Nilai KTK pada horizon A, Bw 1, dan Bw 2 adalah 44,60 me/100g, 49,58 me/100g dan 37,81 me/100g. Menurut Hardjowigeno (1993) alofan memberikan sifat yang khas pada tanah abu vulkan. Dimana salah satu ciri tanah yang memiliki mineral alofan adalah muatan tidak tetap karena tergantung ph. Nilai KTKnya berkisar antara me/100g, sedangkan KTAnya berkisar 5-30 me/100g. Pada horizon A ke Bw 1 terjadi peningkatan KTK yaitu dari 44,60 menjadi 49,58 me/100g. Tingginya KTK pada horizon Bw 1 ini disebabkan karena terjadi peningkatan persen liat. Selain itu tingginya KTK ini disebabkan karena adanya penimbunan liat (illuviasi) yang berasal dari horizon A yaitu 6,2% menjadi 8,2% pada horizon Bw 1. Sedangkan pada horizon Bw 1 ke Bw 2 nilai KTK semakin menurun yaitu dari 49,58me/100g menjadi 37,81me/100g. ph berbanding lurus dengan KTK, jika ph menurun maka KTK menurun dan sebaliknya. Hakim dkk (1986) menyatakan bahwa besarnya KTK juga dipengaruhi oleh reaksi tanah. Penurunan KTK ini juga disebabkan oleh kandungan bahan organik yang semakin ke bawah semakin menurun. Hal ini dapat terlihat pada gambar prodil tanah, dimana semakin ke bawah warna tanah semakin terang, hal ini sesuai dengan pernyataan

47 Hardjowigeno (1993) yaitu nilai KTK dipengaruhi oleh kandungan liat dan bahan organik. Pada tabel 3 diperoleh bahwa nilai Al yang dipertukarkan (Al-dd) dari horizon A ke Bw 2 menurun yaitu dari 1,34 me/100g menjadi 0,00 me/100g. penurunan nilai Al-dd ini menunjukkan terjadi pelapukan pedokimia pada horizon A, Bw 1 dan Bw 2, karena pelapukan pedokimia ini salah satunya ditandai dengan adanya pelepasan Al yang berasal dari alofan, dimana alofan berasal, dari hidrat Al dan Si amorf. Jumlah Al yang paling tinggi terdapat pada horizon A dimana hal ini disebabkan karena basa tukar Al yang memiliki valensi besar yaitu Al 3+ yang menyebabkan Al 3+ ini tidak mengalami pencucian seperti basa-basa tukar lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Foth (1998) yang menyatakan bahwa kation-kation dengan valensi lebih besar diadsorbsi lebih kuat daripada kation dengan valensi yang lebih rendah, atau dengan kata lain bahwa kation yang bervalensi lebih rendah akan lebih mudah mengalami pencucian dengan kation yang bervalensi besar. Dengan adanya Al-dd ini maka tanah menjadi lebih masam. Hal ini ditandai pada horizon A yang memiliki ph H 2 O yang lebih masam dibandingkan horizon yang lainnya karena Al-dd merupakan sumber ion H + akibat adanya hidrolisis dalam tanah. Untuk nilai K yang dapat dipertukarkan (K-dd) diperoleh pada horizon A lebih besar dibanding horizon yang lainnya yaitu sebesar 0,36 me/100g. Hal ini disebabkan karena K yang dapat dipertukarkan belum mengalami pencucian seluruhnya sehingga pada horizon A masih terdapat K yang jumlahnya cukup banyak. Menurut Foth (1998) kation-kation yang bervalensi lebih rendah akan mudah mengalami pencucian dibanding dengan kation yang bervalensi besar.

48 Pada sejumlah besar tanah, kation dapat ditukar berdasarkan seri kemampuan penempatan kembali pertukarannya biasanya adalah Al > Ca > Mg > K > Na. Mineral Liat Hasil interpretasi daripada horizon A, Bw 1 dan Bw 2 dapat dilihat pada gambar berikut : Horizon : A Berat sampel : 30 mg Bahan Pembanding : Al 2O 3 Temperatur : C Thermocouple/mV : PR/15mV DTA Range : ±100 µv Heating Speed : 10 0 C Chart Speed : 2,5 mm/mnt Gambar 2 : Termogram Horizon A

49 Horizon : Bw 1 Berat sampel : 30 mg Bahan Pembanding : Al 2O 3 Temperatur : C Thermocouple/mV : PR/15mV DTA Range : ±100 µv Heating Speed : 10 0 C Chart Speed : 2,5 mm/mnt Gambar 3 : Termogram Horizon Bw 1

50 Horizon : Bw 2 Berat sampel : 30 mg Bahan Pembanding : Al 2O 3 Temperatur : C Thermocouple/mV : PR/15mV DTA Range : ±100 µv Heating Speed : 10 0 C Chart Speed : 2,5 mm/mnt Gambar 4 : Termogram Horizon Bw 2

51 Penentuan mineral liat berdasarkan puncak endotermik yang dimiliki mineral pada setiap horizon terdapat pada tabel 4. Tabel 4. Puncak Endotermik dan Eksotermik Tanah Pedon Horizon Kedalaman Puncak Endotermik (cm) ( 0 C) Jenis Mineral Liat A 0-16/ Alofan A P Bw 1 16/18-28/40 90 Alofan A Bw 2 28/40-40/68 90 Alofan A Interpretasi termogram pada horizon, Bw 1 dan Bw 2 mempunyai puncak endotermik C, 90 0 C, dan 90 0 C serta mengandung mineral liat yang sama yaitu alofan A. Penentuan mineral liat ini dilakukan dengan mencocokkan puncak endotermik dari sampel dengan jenis mineral liat yang terdapat pada tabel 2. menurut Sudo and Shimuda (1978), Differensial Thermal Analysis (DTA) telah digunakan dalam penentuan alofan dalam suatu liat. Memiliki puncak endotermik antara C dan eksotermik antara C. Terdiri dari dua jenis alofan yaitu alofan A memilki puncak endotermik yaitu C, dan tidak memiliki puncak eksotermik, kaya akan Al sedangkan alofan B memiliki puncak eksotermik yang tinggi yaitu C dan tidak memiliki puncak endotermik tetapi mempunyai ciri tersendiri yaitu kaya akan Si. Penentuan puncak eksotermik tidak dijadikan dalam penentuan mineral liat karena pada sampel tanah yang dianalisis terdapat bahan organik yang masih melekat dalam sampel tanah sehingga bahan organik bebas tersebut menyebabkan nilai puncak eksotermik yang rendah pada setiap horizon. Tan (1998) mengatakan andisol merupakan tanah-tanah mineral dimana fraksi aktifnya dicirikan oleh bahan-bahan amorf (minimal 50%). Tanda-tanda ini mempunyai kapasitas sorbsi

52 tinggi, kandungan bahan organik yang tinggi, bulk density rendah dan bersifat tidak lekat atau lengket. Tingkat Pelapukan Dengan Kriteria Pelapukan Pedokimia Dari penelitian yang dilakukan, didapat bahwa tingkat pelapukan pedokimia dari horizon A B termasuk ke dalam 2 kriteria berdasarkan kriteria pedokimia yaitu: 1. Oksidasi Reduksi Perubahan keadaan oksidasi dan reduksi menghasilkan pelapukan Fe dan Mn dari mineral-mineral primer yang kemudian membentuk karatan atau konkresi dalam solum tanah, yang dapat dilihat pada horizon Bw 2 (gambar 1). Dalam keadaan reduksi Fe 2+ diganti oleh Al 3+ dan dalam keadaan oksidasi Al 3+ keluar dari kisi-kisi kristal. Keluarnya Al 3+ dari kisi kisi kristal dapat merusak struktur kimia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardjowigeno (1993) yang menyatakan bahwa pergantian keadaan oksidasi-reduksi yang kuat dapat menyebabkan kerusakan mineral. Kerusakan mineral ini merupakan proses pelapukan tanah tersebut. 2. Pelepasan Al dari kristal liat menjadi Hidroksida melalui pertukaran kation Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa ph horizon A, Bw 1 dan Bw 2 adalah 4,83, 4,94, 4,84 sedangkan kandungan Al-dd adalah 1,34 me/100g, 0,10 me/100g dan 0,00 me/100g. Ini menunjukkan bahwa semakin masam tanah, Al-dd semakin tinggi. Sehingga liat yang mula-mula jenuh dengan Ca ++ dan Mg ++ kemudian diganti oleh H + dalam pelapukan masam. Karena pergantian H + ini, maka liat menjadi tidak stabil, sehingga Al 3+ dapat terlepas dari kristal liat. Akibatnya liat menjadi hancur (rusak).

53 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Jenis mineral yang diperoleh dari pembacaan Termogram pada setiap horizon adalah mineral liat Alofan A. 2. Kriteria pelapukan pedokimia A B yang terjadi yaitu Oksidasi Reduksi dan pelepasan Al dari kristal menjadi Hidroksida. Saran Penentuan jenis mineral liat di Desa Tongkoh Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo dapat dijadikan dasar dalam penggunaan suatu lahan sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.

54 DAFTAR PUSTAKA Abdullah, S. T., Survey Tanah dan Evaluasi Lahan, Penebar Swadaya, Jakarta. Buol, S.W.D., F.D. Hole, and R.J. Mc. Craken, 1980, Soil Genesis and Classification, Second Edition, The Lowa State University Press. Darmawidjaya, I, Klasifikasi Tanah.Gajah Mada University Press, Yogyakarta Dardak, A., Prosiding Kongres Nasional V Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. Buku II. Medan, Indonesia. Druif, J. H., Tanah-Tanah di Deli, Medan Foth, H.D., Dasar- Dasar Ilmu Tanah.Diterjemahkan oleh Adisoemarto Soenartono.Erlangga.Jakarta.,1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diterjemahkan Oleh Endang Purbayanti, Dwi Retno Lukiwati, dan Rahayuningsih Trimulatsih. Gadjah Mada University Press., Yogyakarta. Guslim, 1997.Klimatologi Pertanian.Cetakan K- XI. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A.M.Lubis, S. G. Nugroho, M. R. Saul, M.A.Diha, G.B. Hong, dan H.H. Bailey Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung Hardjowigeno, S., Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta.., Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Lubis, A. M., Azas-Azas Kimia Tanah. Fakultas Pertanian. UISU, Medan. Munir, M., Geologi dan Mineralogi Tanah. Pustaka Jaya, FP. Universitas Brawijaya, Malang. Marpaung, P.,1992. Pola Distribusi mineral liat dalan Dua Pedon Berbahan Induk Liparit Andesit. Fakultas Pertanian - USU,Medan. Mukhlis., Kimia Tanah. Penuntun Praktikum. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

55 Poerwidodo., Genesa Tanah, Batuan Pembentuk Tanah. Rajawali Press, Jakarta Sutedjo, M. M., dan A. G. Kartasapoetra., Pengantar Ilmu Tanah.Rineka Cipta, Jakarta. Tan, K. H Klasifikasi Tubuh Tanah Hitam di daerah Humid di Indonesia. FP-IPB Bogor, C.V. Wijaksana, Jakarta..,1991. Dasar - Dasar Kimia Tanah. Diterjemahkan Oleh Goenadi. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta..,1998. Kimia Tanah. Diterjemahkan Oleh Didiek, H. D. Dan Disunting Oleh Bostang Rajagukguk. Cetakan-5. Gadjah Mada Universiyt Press, Yogyakarta. Warman., Penuntun Praktikum Laboratorium Differential Thermal Analysis. Pendidikan Teknilogi Kimia Industri (PTKI), Medan.

56 Lampiran 1 : Hasil Analisa Laboratorium Horizon Kedalaman Partikel Tanah (%) ph KTK Al-dd K-dd Pasir Debu Liat H2O NaF (me/100g) (me/100g) (me/100g) A 0-16/18 82,4 11,4 6,2 4,83 10,74 44,60 1,34 0,36 Bw1 16/18-28/40 82,4 9,4 8,2 4,94 9,12 49,58 0,10 0,33 Bw2 28/40-40/68 70,4 21,4 8,2 4,84 9,72 37,81 0,00 0,18 Sumber : Laboratorium Riset Dan Teknologi FP USU Medan

57 Lampiran 2 : Informasi Curah Hujan Bulanan Pos Pengamatan /Stasiun Tiga Panah Tahun Tahun Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Sumber : Badan Meteorologi Dan Geofisika, Sampali Medan.

58 Lampiran 3 : Peta Lokasi Penelitian

59 Lampiran 4 : Peta Geologi Kecamatan Tiga Panah

60 lampiran 5 : Peta ketinggian Tempat

61 Lampiran 6 : Peta Jenis Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. silika, alumina atau hodroxida-besi. Tanah yang terbentuk dari abu vulkanik ini

TINJAUAN PUSTAKA. silika, alumina atau hodroxida-besi. Tanah yang terbentuk dari abu vulkanik ini TINJAUAN PUSTAKA Bahan Induk Andisol Tanah Andisol adalah tanah yang berwarna hitam kelam, sangat porous, mengandung bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama alofan serta sedikit silika, alumina

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tingkat Perkembangan Tanah. daerah tropika: 1. Tahap awal bahan induk yang tidak terkikis; 2. Tahap yuwana

TINJAUAN PUSTAKA. Tingkat Perkembangan Tanah. daerah tropika: 1. Tahap awal bahan induk yang tidak terkikis; 2. Tahap yuwana TINJAUAN PUSTAKA Tingkat Perkembangan Tanah Mohr dan Van Baren mengenal 5 tahap dalam perkembangan tanah di daerah tropika: 1. Tahap awal bahan induk yang tidak terkikis; 2. Tahap yuwana pengikisan telah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. irreversible, dan selalu dalam keadaan kesetimbangan. Pada dasarnya terdapat dua tahap yang saling

TINJAUAN PUSTAKA. irreversible, dan selalu dalam keadaan kesetimbangan. Pada dasarnya terdapat dua tahap yang saling TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan dan Perkembangan Tanah Konsep tentang proses pembentukan tanah mencakup kumpulan berbagai proses fisik, kimia dan biologi beserta semua faktor pendukung terutama tanah. Setiap

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT FISIK dan MORFOLOGI TANAH

SIFAT-SIFAT FISIK dan MORFOLOGI TANAH III. SIFAT-SIFAT FISIK dan MORFOLOGI TANAH Sifat morfologi tanah adalah sifat sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat morfologi tanah merupakan sifat fisik dari tanah

Lebih terperinci

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang

Lebih terperinci

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 02: MORFOLOGI TANAH

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 02: MORFOLOGI TANAH Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 02: MORFOLOGI TANAH Profil Tanah Irisan / penampang tegak tanah yang menampakan semua horizon sampai ke bahan induk; dalam profil tanah, bagian

Lebih terperinci

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH Komponen kimia tanah berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Bahan aktif dari tanah yang berperan dalam menjerap

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Mineral Liat. membedakan dua urutan mineral (pelikan) yaitu mineral primer dan mineral

TINJAUAN PUSTAKA. Mineral Liat. membedakan dua urutan mineral (pelikan) yaitu mineral primer dan mineral TINJAUAN PUSTAKA Mineral Liat Mineral dapat didefenisikan sebagai bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu alam bentuk geometrik (Darmawijaya,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi penelitian terlihat beragam, berikut diuraikan sifat kimia

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Tujuan survey dan pemetaan tanah adalah mengklasifikasikan dan memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu satuan peta tanah yang

Lebih terperinci

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh

, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh TINJAUAN PUSTAKA Penggenangan Tanah Penggenangan lahan kering dalam rangka pengembangan tanah sawah akan menyebabkan serangkaian perubahan kimia dan elektrokimia yang mempengaruhi kapasitas tanah dalam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Kopi Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi merupakan tanaman dengan perakaran tunggang yang mulai berproduksi sekitar berumur 2 tahun

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi Profil

Lampiran 1. Deskripsi Profil Lampiran 1. Deskripsi Profil A. Profil pertama Lokasi : Desa Sinaman kecamatan Barus Jahe Kabupaten Tanah Karo Simbol : P1 Koordinat : 03 0 03 36,4 LU dan 98 0 33 24,3 BT Kemiringan : 5 % Fisiografi :

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sekilas Tentang Tanah Andisol. lapisan organik dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih

TINJAUAN PUSTAKA. Sekilas Tentang Tanah Andisol. lapisan organik dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih TINJAUAN PUSTAKA Sekilas Tentang Tanah Andisol Andisol merupakan tanah yang mempunyai sifat tanah andik pada 60% atau lebih dari ketebalannya, sebagaimana menurut Soil Survey Staff (2010) : 1. Didalam

Lebih terperinci

GELISOLS. Pustaka Soil Survey Staff Soil Taxonomy, 2 nd edition. USDA, NRCS. Washington. 869 hal.

GELISOLS. Pustaka Soil Survey Staff Soil Taxonomy, 2 nd edition. USDA, NRCS. Washington. 869 hal. GELISOLS Gelisols adalah tanah-tanah pada daerah yang sangat dingin. Terdapat permafrost (lapisan bahan membeku permanen terletak diatas solum tanah) sampai kedalaman 2 meter dari permukaan tanah. Penyebaran

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Letak Geografis dan Iklim Daerah aliran sungai (DAS) Siulak di hulu DAS Merao mempunyai luas 4296.18 ha, secara geografis terletak antara 101 0 11 50-101 0 15 44 BT dan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar wilayahnya didominasi oleh tanah yang miskin akan unsur hara, salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanah vulkanis merupakan tanah yang berasal dari letusan gunungapi, pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanah vulkanis merupakan tanah yang berasal dari letusan gunungapi, pada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah vulkanis merupakan tanah yang berasal dari letusan gunungapi, pada saat gunungapi meletus mengeluarkan tiga jenis bahan yaitu berupa padatan, cair, dan gas.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor

TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor II. TINJAUAN PUSTAKA Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor pertanian, kehutanan, perumahan, industri, pertambangan dan transportasi.di bidang pertanian, lahan merupakan sumberdaya

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Sawah. tanaman padi sawah, dimana padanya dilakukan penggenangan selama atau

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Sawah. tanaman padi sawah, dimana padanya dilakukan penggenangan selama atau TINJAUAN PUSTAKA Tanah Sawah Lahan sawah adalah lahan yang dikelola sedemikian rupa untuk budidaya tanaman padi sawah, dimana padanya dilakukan penggenangan selama atau sebagian dari masa pertumbuhan padi.

Lebih terperinci

geografi Kelas X PEDOSFER II KTSP & K-13 Super "Solusi Quipper" F. JENIS TANAH DI INDONESIA

geografi Kelas X PEDOSFER II KTSP & K-13 Super Solusi Quipper F. JENIS TANAH DI INDONESIA KTSP & K-13 Kelas X geografi PEDOSFER II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini kamu diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami jenis tanah dan sifat fisik tanah di Indonesia. F. JENIS TANAH

Lebih terperinci

geografi Kelas X PEDOSFER I KTSP & K-13 A. PROSES PEMBENTUKAN TANAH

geografi Kelas X PEDOSFER I KTSP & K-13 A. PROSES PEMBENTUKAN TANAH KTSP & K-13 Kelas X geografi PEDOSFER I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami proses dan faktor pembentukan tanah. 2. Memahami profil,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Sifat Kimia Tanah Data sekunder hasil analisis kimia tanah yang diamati yaitu ph tanah, C-Org, N Total, P Bray, kation basa (Ca, Mg, K, Na), kapasitas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik TINJAUAN PUSTAKA Ultisol Ultisol adalah tanah mineral yang berada pada daerah temprate sampai tropika, mempunyai horison argilik atau kandik dengan lapisan liat tebal. Dalam legend of soil yang disusun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Kimia Abu Terbang PLTU Suralaya Abu terbang segar yang baru diambil dari ESP (Electrostatic Precipitator) memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Andisol

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Andisol 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Andisol Nama Andisol yang sebelumnya adalah Andosol diperkenalkan pada tahun 1947. Nama tersebut mengidentifikasikan order tanah pada sistem Amerika Serikat, dengan arti tanah

Lebih terperinci

HENDRIKSON PURBA ILMU TANAH

HENDRIKSON PURBA ILMU TANAH KAJIAN PELAPUKAN PEDOKIMIA (C A) BERDASARKAN MINERAL LIAT PADA TANAH BERBAHAN INDUK ALLUVIAL DAN TUFF LIPARIT DI KECAMATAN TANJUNG MORAWA KABUPATEN DELI SERDANG SKRIPSI OLEH: HENDRIKSON PURBA 010303018

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR

PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR Profil dan Solum Tanah Profil Tanah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri aas lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk Solum Tanah bagian dari profil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Sifat-sifat Tanah. Sifat Morfologi dan Fisika Tanah. Sifat morfologi dan fisika tanah masing-masing horison pada pedon pewakil

HASIL DAN PEMBAHASAN. Sifat-sifat Tanah. Sifat Morfologi dan Fisika Tanah. Sifat morfologi dan fisika tanah masing-masing horison pada pedon pewakil HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat Tanah Sifat Morfologi dan Fisika Tanah Pedon Berbahan Induk Batuliat Sifat morfologi dan fisika tanah masing-masing horison pada pedon pewakil berbahan induk batuliat disajikan

Lebih terperinci

Ap 0 - cm Coklat (7,5 YR 5/4 ), pasir berlempung, sedang,

Ap 0 - cm Coklat (7,5 YR 5/4 ), pasir berlempung, sedang, Lampiran 1. Deskripsi Profil Tanah DESKRIPSI PROFIL TANAH (PROFIL TANAH 1) Jenis Tanah : Entisol Lokasi : Arboretum USU Kwala Bekala, kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang Kode : Profil 1 Kordinat

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahanpertanaman ubi kayu yang telah ditanami

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahanpertanaman ubi kayu yang telah ditanami 22 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahanpertanaman ubi kayu yang telah ditanami selama 35 tahun dan kebun campuran di Desa Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara pedologi, tanah didefinisikan sebagai bahan mineral ataupun organik di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara pedologi, tanah didefinisikan sebagai bahan mineral ataupun organik di 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah dan Faktor yang Mempengaruhinya. Secara pedologi, tanah didefinisikan sebagai bahan mineral ataupun organik di permukaan bumi yang telah dan akan mengalami perubahan yang

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bahan Organik Tanah Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa tumbuhan dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan demikian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya serta sebagian kecil di pulau

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 SIFAT FISIK TANAH AIR UDARA PADATAN Massa Air = M A Volume Air = V A Massa Udara = 0 Volume Udara =

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA

DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 2.1 Penggolongan Batuan Menurut Lingkungan Pembentukan : 1. Batuan Beku (Batuan Magmatik) 2. Batuan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol 18 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol Ultisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai horizon argilik atau kandik dengan nilai kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation basa) pada

Lebih terperinci

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 09: Sifat Kimia (2)- Mineral Liat & Bahan Organik Tanah

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 09: Sifat Kimia (2)- Mineral Liat & Bahan Organik Tanah Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 09: Sifat Kimia (2)- Mineral Liat & Bahan Organik Tanah Mineral Liat Liat dan bahan organik di dalam tanah memiliki kisi yang bermuatan negatif

Lebih terperinci

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisik Tanah 5.1.1. Bobot Isi dan Porositas Total Penambahan bahan organik rumput signal pada lahan Kathryn belum menunjukkan pengaruh baik terhadap bobot isi (Tabel

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA

DASAR-DASAR ILMU TANAH WIJAYA DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 AIR UDARA PADATAN Massa Air = M A Volume Air = V A Massa Udara = 0 Volume Udara = V U Massa Padatan

Lebih terperinci

DASAR ILMU TANAH. Materi 04: Pembentukan Tanah

DASAR ILMU TANAH. Materi 04: Pembentukan Tanah DASAR ILMU TANAH Materi 04: Pembentukan Tanah Faktor Pembentuk Tanah Konsep Pembentukan Tanah model proses terbuka tanah merupakan sistem yang terbuka sewaktu-waktu tanah dapat menerima tambahan bahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 22 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Proses Geomorfik Proses geomorfik secara bersamaan peranannya berupa iklim mengubah bahan induk dibawah pengaruh topografi dalam kurun waktu tertentu menghasilkan suatu lahan

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 PEMBENTUKAN TANAH 2.1 Penggolongan Batuan Menurut Lingkungan Pembentukan : 1. Batuan Beku (Batuan Magmatik)

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.

I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. Produk tanaman tersebut dapat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal TINJAUAN PUSTAKA Survei Tanah Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal penggunaan dan pengelolaan suatu lahan, maka hal pokok yang perlu diperhatikan adalah tersedianya informasi faktor

Lebih terperinci

Lampiran 1. Data curah hujan di desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara

Lampiran 1. Data curah hujan di desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara Lampiran 1. Data curah hujan di desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara Data curah hujan (mm) Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jan 237 131 163 79 152 162 208

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Survei tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk dapat membedakan tanah satu dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta (Tamtomo,

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN B. PROFIL TANAH

BAB II PEMBAHASAN B. PROFIL TANAH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini, yaitu karena masih banyak diantara kita yang sudah sering melihat serta memanfaatkan tanah dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR

PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR PEMBENTUKAN TANAH PARANITA ASNUR FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH Iklim Faktor Lain Topogr afi Tanah Waktu Bahan Induk Organi sme Konsep Pembentukan Tanah Model proses terbuka Tanah merupakan sistem yang terbuka

Lebih terperinci

DASAR ILMU TA AH Ba B b 5 : : S i S fa f t t K i K mia T a T nah

DASAR ILMU TA AH Ba B b 5 : : S i S fa f t t K i K mia T a T nah DASAR ILMU TA AH Bab 5: Sifat Kimia Tanah ph tanah Pertukaran Ion Kejenuhan Basa Sifat Kimia Tanah Hampir semua sifat kimia tanah terkait dengan koloid tanah Koloid Tanah Partikel mineral atau organik

Lebih terperinci

4.1. Bahan Induk Tanah, Komposisi Mineral dan Sifat-Sifat Tanah Sawah

4.1. Bahan Induk Tanah, Komposisi Mineral dan Sifat-Sifat Tanah Sawah IV. PEMBAHASAN UMUM Solok dikenal sebagai Sentra Produksi Beras. Beras yang dihasilkan Sentra Produksi, di samping mensuplai kebutuhan pangan masyarakat Sumatera Barat, juga masyarakat di luar Sumatera

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Mei-Agustus 2015 di 5 unit lahan pertanaman

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Letak dan Ciri-ciri Lintasan Sepeda Gunung Letak lintasan sepeda gunung di HPGW disajikan dalam Gambar 5. Ciricirinya disajikan dalam Tabel 9. Tabel 9 Keadaan plot penelitian

Lebih terperinci

Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan

Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan SIFAT FISIK TANAH WARNA TANAH Warna Tanah Warna tanah adalah salah satu sifat tanah yang mudah dilihat Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu jenis tanaman budidaya yang dimanfaatkan bagian akarnya yang membentuk umbi

Lebih terperinci

3. List Program Pertanyaan Untuk Ciri-Ciri Asal Terjadinya Tanah. 4. List Program Pertanyaan Untuk Ciri-Ciri Sifat Dan Bentuk Tanah

3. List Program Pertanyaan Untuk Ciri-Ciri Asal Terjadinya Tanah. 4. List Program Pertanyaan Untuk Ciri-Ciri Sifat Dan Bentuk Tanah 1. List Program Untuk Menu Utama MPenjelasan_Menu_Utama.Show 1 2. List Program Untuk Penjelasan Menu Utama MPenjelasan_Tanah.Show 1 3. List Program Pertanyaan Untuk Ciri-Ciri Asal Terjadinya Tanah MSifat_Bentuk2.Show

Lebih terperinci

KLASIFIKASI TANAH INDONESIA

KLASIFIKASI TANAH INDONESIA Klasifikasi Tanah Indonesia KLASIFIKASI TANAH INDONESIA (Dudal dan Supraptoharjo 1957, 1961 dan Pusat Penelitian Tanah (PPT) Bogor 1982) Sistem klasifikasi tanah yang dibuat oleh Pusat Penelitian Tanah

Lebih terperinci

DASAR-DASAR ILMU TANAH

DASAR-DASAR ILMU TANAH DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 SIFAT FISIK TANAH AIR UDARA PADATAN Massa Air = M A Volume Air = V A Massa Udara = 0 Volume Udara =

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: Spermatophyta; Sub divisio: Angiospermae; Kelas : Dikotyledonae;

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci

BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT

BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT BAB V PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT 5.1. Genesa Lateritisasi Proses lateritisasi mineral nikel disebabkan karena adanya proses pelapukan. Pengertian pelapukan menurut Geological Society Engineering Group Working

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Karakteristik Lahan Kesesuaian Tanaman Karet

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Karakteristik Lahan Kesesuaian Tanaman Karet 57 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Karakteristik Lahan Kesesuaian Tanaman Karet Sektor pekebunan dan pertanian menjadi salah satu pilihan mata pencarian masyarakat yang bermukim

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Sifat Kimia Tanah di Wilayah Studi Penambangan PT Kaltim Prima Coal

Tabel Lampiran 1. Sifat Kimia Tanah di Wilayah Studi Penambangan PT Kaltim Prima Coal LAMPIRAN 45 46 Tabel Lampiran 1. Sifat Kimia Tanah di Wilayah Studi Penambangan PT Kaltim Prima Coal No Sifat Kimia Tanah Nilai Keterangan 1 ph (H 2 O) 4,59 Masam 2 Bahan Organik C-Organik (%) 1,22 Rendah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan pangan juga akan meningkat, namun tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas tanah. Hal tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena

TINJAUAN PUSTAKA. basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena 17 TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Ultisol Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. induk batuan sedimen masam (Soil Survey Staff, 2006). Di Indonesia jenis tanah

I. PENDAHULUAN. induk batuan sedimen masam (Soil Survey Staff, 2006). Di Indonesia jenis tanah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ultisol merupakan salah satu jenis tanah masam yang terbentuk dari bahan bahan induk batuan sedimen masam (Soil Survey Staff, 2006). Di Indonesia jenis tanah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Bahan Induk. umum batuan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : batuan beku, batuan

TINJAUAN PUSTAKA. Bahan Induk. umum batuan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : batuan beku, batuan TINJAUAN PUSTAKA Bahan Induk Bahan induk merupakan peruraian atau pelapukan dari batuan. Secara umum batuan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : batuan beku, batuan metamorfosa dan batuan sedimen. Batuan

Lebih terperinci

Tingkat Perkembangan Tanah Berdasarkan Pola Distribusi Mineral Liat Di Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Toba Samosir

Tingkat Perkembangan Tanah Berdasarkan Pola Distribusi Mineral Liat Di Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Toba Samosir Tingkat Perkembangan Tanah Berdasarkan Pola Distribusi Mineral Liat Di Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Toba Samosir The level of soil development based on the pattern of clay mineral distribution in Subdistric

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuklahan, meliputi proses-proses yang bekerja terhadap batuan induk dan perubahanperubahan yang terjadi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sifat Umum Tanah Masam

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sifat Umum Tanah Masam II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat Umum Tanah Masam Tanah tanah masam di Indonesia sebagian besar termasuk ke dalam ordo ksisol dan Ultisol. Tanah tanah masam biasa dijumpai di daerah iklim basah. Dalam keadaan

Lebih terperinci

MAKALAH GEOGRAFI TANAH PROSES PEMBENTUKAN TANAH. Makalah diajukan untuk memenuhi tugas kelompok. Oleh: 2. MENTARI PRATAMI ( /2011)

MAKALAH GEOGRAFI TANAH PROSES PEMBENTUKAN TANAH. Makalah diajukan untuk memenuhi tugas kelompok. Oleh: 2. MENTARI PRATAMI ( /2011) MAKALAH GEOGRAFI TANAH PROSES PEMBENTUKAN TANAH Makalah diajukan untuk memenuhi tugas kelompok Oleh: 1.YOPI YUNITA (1101556/2011) 2. MENTARI PRATAMI (1101582/2011) 3. FADLI AFRIANTO (1101549/2011) 4. SYAFRUDINI

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil 5.1.1. Sifat Kimia Tanah Variabel kimia tanah yang diamati adalah ph, C-organik, N Total, P Bray, Kalium, Kalsium, Magnesium, dan KTK. Hasil analisis sifat kimia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertambangan Pasir Besi Pasir besi merupakan bahan hasil pelapukan yang umum dijumpai pada sedimen disekitar pantai dan tergantung proses sedimentasi dan lingkungan pengendapan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan TINJAUAN PUSTAKA Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan akan menjadi busuk dalam 2-5 hari apabila tanpa mendapat perlakuan pasca panen yang

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6 SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.6 1. Komponen tanah yang baik yang dibutuhkan tanaman adalah.... bahan mineral, air, dan udara bahan mineral dan bahan organik

Lebih terperinci

Lampiran 1 : Data suhu udara di daerah Kebun Bekala Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang ( 0 C)

Lampiran 1 : Data suhu udara di daerah Kebun Bekala Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang ( 0 C) Lampiran 1 : Data suhu udara di daerah Kebun Bekala Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang ( 0 C) Bln/Thn 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Total Rataan Jan 25.9 23.3 24.0 24.4 24.7

Lebih terperinci

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 05: Sifat Fisika (1)-Tekstur Tanah Tektur Tanah = %pasir, debu & liat dalam tanah Tektur tanah adalah sifat fisika tanah yang sangat penting

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB KARAKTERISTIK TANAH Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB Pendahuluan Geosfer atau bumi yang padat adalah bagian atau tempat dimana manusia hidup dan mendapatkan makanan,, mineral-mineral

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Material Vulkanik Merapi. gunung api yang berupa padatan dapat disebut sebagai bahan piroklastik (pyro = api,

TINJAUAN PUSTAKA. A. Material Vulkanik Merapi. gunung api yang berupa padatan dapat disebut sebagai bahan piroklastik (pyro = api, II. TINJAUAN PUSTAKA A. Material Vulkanik Merapi Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan dan dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan bahkan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Terdapat 11 profil tanah yang diamati dari lahan reklamasi berumur 0, 5, 9, 13 tahun dan lahan hutan. Pada lahan reklamasi berumur 0 tahun dan lahan hutan, masingmasing hanya dibuat

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada 43

Universitas Gadjah Mada 43 6) Silikat Sekunder 6.1) Struktur Struktur lempung silikat serupa dengan struktur silikat primer eg. silikat lembaran (sheet silicate). Mineral sekunder terdiri atas lembaran silikon tetrahedral, lembaran

Lebih terperinci

JOSEPH CAREY S ILMU TANAH

JOSEPH CAREY S ILMU TANAH PERBANDINGAN TINGKAT PERKEMBANGAN TANAH MENURUT METODE MORFOLOGI TANAH, MINERAL LIAT DAN MINERAL INDEKS VAN WAMBEKE PADA TIGA PEDON PEWAKIL DI ARBORETUM KAMPUS USU KWALA BEKALA SKRIPSI OLEH JOSEPH CAREY

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. organik. Sumber utama fosfat anorganik adalah hasil pelapukan dari mineralmineral

TINJAUAN PUSTAKA. organik. Sumber utama fosfat anorganik adalah hasil pelapukan dari mineralmineral TINJAUAN PUSTAKA Unsur Hara Fosfor Terdapat dua bentuk fosfor dalam tanah, yakni fosfor anorganik dan fosfor organik. Sumber utama fosfat anorganik adalah hasil pelapukan dari mineralmineral apatit, dari

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Ultisol. merupakan tanah yang terkikis dan memperlihatkan pengaruh pencucian yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Ultisol. merupakan tanah yang terkikis dan memperlihatkan pengaruh pencucian yang TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Ultisol Ultisol berasal dari bahasa Latin Ultimius, yang berarti terakhir yang merupakan tanah yang terkikis dan memperlihatkan pengaruh pencucian yang lanjut. Ultisol memiliki

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC.

TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC. 3 TINJAUAN PUSTAKA Mucuna Bracteata DC. Tanaman M. bracteata merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang pertama kali ditemukan di areal hutan Negara bagian Tripura, India Utara, dan telah ditanam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman nanas dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi lebih

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman nanas dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi lebih 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nanas (Ananas Comosus) Tanaman nanas dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi lebih kurang 1.200 meter diatas permukaan laut (dpl). Di daerah tropis Indonesia,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut

TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut 29 TINJAUAN PUSTAKA Sumber-Sumber K Tanah Sumber hara kalium di dalam tanah adalah berasal dari kerak bumi. Kadar kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut mengandung

Lebih terperinci

Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di

Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Tanah Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang baru dibuat. Pengamatan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar 26 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar Desa Tulung Balak dengan luas 15 ha yang terletak pada wilayah Kecamatan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Erodibilitas. jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah

TINJAUAN PUSTAKA. Erodibilitas. jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah TINJAUAN PUSTAKA Erodibilitas Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah merupakan jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT TANAH PARANITA ASNUR

SIFAT-SIFAT TANAH PARANITA ASNUR SIFAT-SIFAT TANAH PARANITA ASNUR SIFAT FISIKA TANAH Batas- Batas Horison Batas horison satu dengan lainnya dapat terlihat jelas/baur Pengamatan taah di lapangan ketajaman peralihan horisonhorison dibedakan

Lebih terperinci