METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian"

Transkripsi

1 METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Upaya untuk penentuan satuan kawasan wisata merupakan suatu pengalokasian beberapa obyek wisata untuk pengembangan wilayah. Dimana hakekatnya SKW merupakan pengelompokan obyek-obyek wisata dalam satu kesatuan kawasan tujuan wisata berdasarkan kedekatan, kemiripan daya tarik dan kemudahan aksesibilitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan obyekobyek wisata yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dan dikelompokkan menjadi suatu kawasan wisata. Untuk penentuan obyek wisata aktual terdefenisi tersebut terdapat tiga aspek yang menjadi dasar awal evaluasi yaitu aspek spasial, aspek fisik, aspek kelembagaan dan ekonomi dari obyek-obyek wisata. Aspek spasial lahan merupakan lahan atau areal yang menjadi posisi berdasarkan hamparan wilayah atau topografi dari suatu obyek wisata. Hasil survey dan wawancara terhadap wisatawan dilakukan untuk mengetahui persepsi dan kecenderungan keinginan wisatawan terhadap obyek wisata yang diminati. Untuk mendapatkan obyek-obyek wisata yang dapat dikembangkan, maka terlebih dahulu dilakukan proses evaluasi dari obyek-obyek wisata berdasarkan aspek fisik dan aspek kelembagaan dan ekonomi yang menjadi pendukung dari suatu obyek wisata. Adapun kriterianya yaitu: (1) jarak suatu obyek wisata dari pusat kota/pertumbuhan; (2) aksesibilitas dari jalan utama (jalan negara, jalan propinsi, jalan kabupaten); (3) sarana prasarana pendukung dari obyek wisata (hotel/penginapan, bank, rumah makan, pasar, dan lain-lain); dan (4) daya tarik obyek wisata itu sendiri. Aspek kelembagaan dan ekonomi obyek wisata yaitu adanya pengelola obyek wisata, atraksi dan hiburan, keamanan dan adanya tempat penjualan souvenir, makanan/minuman dari suatu obyek wisata. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan salah satu dokumen perencanaan pembangunan yang harus dijadikan pedoman dalam perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan pariwisata dapat berlangsung secara efisien dan dapat menciptakan keterpaduan dalam pencapaian tujuan pembangunan. Dalam penelitian ini juga dilakukan proses pencocokan (match) antara posisi obyek wisata dengan rencana tata ruang

2 23 yang telah ada. Berdasarkan proses pencocokan tersebut diperoleh suatu sinergi yang bisa menunjang proses perencanaan pembangunan yang telah disusun. Untuk menentukan suatu kawasan wisata yang sesuai secara spasial, fisik dan RTRW maka juga dilakukan penetrasi dari kebijakan-kebijakan yang ada, agar bisa terdefinisi secara konkrit dan bisa mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. Diagram alir pendekatan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2 dan matrik pendekatan penelitian terlampir (Lampiran 2). Potensi Sumberdaya Wilayah Rencana Tata Ruang Wilayah Karakteristik Wilayah Kebijakan Pemerintah Survey dan Wawancara Potensi Daerah Pariwisata Obyek Wisata Aktual Terdefinisi Kriteria fisik obyek wisata : 1. Jarak 2. Aksesibilitas 3. Sarana Prasarana 4. Daya Tarik Kriteria kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi obyek wisata: 1. Pengelola 2. Atraksi/hiburan kesenian 3. Keamanan 4. Penjualan Souvenir, Makanan/ Minuman Penentuan Satuan Kawasan Wisata (SKW) Gambar 2 Diagram alir pendekatan penelitian

3 24 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat dimana obyek dan daya tarik wisata (ODTW) tersebar di 14 kecamatan dari 15 kecamatan yang ada. Pelaksanaan penelitian lapangan dilakukan bulan Juni - Agustus Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder bersumber dari dinas/instasi yang terkait seperti Bappeda, BPS, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Agam dan pihakpihak terkait lainnya. Selain itu juga digunakan peta-peta seperti Peta Administrasi Kabupaten, Peta Obyek Pariwisata, Peta Jaringan Jalan, Peta Sarana Prasarana, Peta Penggunaan Lahan, Peta Lereng, Peta Sungai, Peta RTRW. Untuk data primer dilakukan pengamatan langsung ke lapangan. Unsurunsur yang dilihat meliputi aspek daya tarik obyek wisata, kondisi fisik obyek wisata seperti sarana prasarana penunjang, jalan, aksesibilitas, dan hubungan antar obyek wisata. Data karakteristik wisatawan diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner. Metode pengambilan sampel dari konsumen/pengunjung dilakukan dengan pendekatan non-probability sampling melalui metode convenience sampling, yaitu ketika responden yang dijadikan sampel sedang berada di lokasi penelitian dan mau diwawancarai. Ada screening di awal kuesioner dimana pengunjung yang dijadikan responden adalah pengunjung yang sudah pernah berkunjung sebelumnya ke tempat wisata ini minimal satu kali. Ukuran sampel yang akan diambil, mengacu pada pendapat Slovin (Umar, 2005) sesuai dengan rumus seperti sebagai berikut: N n = 1+ ( Ne 2 ) dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir

4 25 Ukuran populasi mengacu pada data jumlah kunjungan yang diperoleh dari data Dinas Pariwisata, Budaya dan Seni Kabupaten Agam, yakni data kunjungan tahun 2006 yaitu sebanyak orang dan persen kelonggaran yang ditentukan adalah sebesar 10 persen. Berdasarkan data kunjungan yang dimasukkan ke dalam rumus Slovin, maka diperoleh jumlah sampel yang akan diambil adalah: n = 2 1+ ( ,1 ) n = 1+ ( ,01) n = n = 99, ,69 Untuk memudahkan perhitungan maka jumlah sampel yang diambil dibulatkan menjadi 100 orang. Mengenai kelengkapan data dan jenis obyek dan daya tarik wisata di Kabupaten Agam terlihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Tabel 5 Jenis dan kelengkapan data No. Jenis Data Bentuk Data Sumber Data 1. Kebijakan Pemerintah Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Kepmen, RTRW, Renstra Bappeda, Dinas Pariwisata, Internet 2. Peta Thematik Peta Administrasi, Peta Obyek Wisata, Peta RTRW, Peta Jar. Jalan, Peta Sarana Prasarana, dll 3. Karakteristik ODTW Jumlah, jenis dan sebaran obyek wisata 4. Karakteristik Wisatawan Data jumlah, asal wisatawan Bappeda Dinas Pariwisata, BPS, Survey Lapang Dinas Pariwisata, BPS, Wawancara, Quesioner 5. Karakteristik Wilayah Data Potensi Desa BPS, Dinas terkait

5 26 Tabel 6 Jenis Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) di Kabupaten Agam No. Jenis Wisata Jumlah Obyek 1. Wisata Alam - Pantai - Danau, Air Terjun, Pemandian - Pegunungan, Perbukitan - Goa - Flora dan Fauna Wisata Budaya dan Sejarah - Tugu/Benteng perang - Mesjid/Surau - Museum/Rumah Adat/Rumah pejuang - Makam pahlawan - Candi 3. Wisata Minat Khusus - Olah Raga 4 Jumlah 94 Sumber : Dinas Pariwisata, Budaya dan Seni Kab. Agam Analisis Spasial Untuk menganalisis keruangan pariwisata di Kabupaten Agam digunakan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis)/Arc View 3.2 yang mampu menyederhanakan berbagai jenis data menjadi satu bentuk informasi yang baku dan komprehensif. Evaluasi potensi sumberdaya untuk pengembangan pariwisata dilakukan dengan kriteria kriteria hasil modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian ini. Pengevaluasian sumberdaya yang ada dibagi menjadi dua kriteria yaitu kriteria fisik obyek wisata dan kriteria kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi obyek wisata. Ada empat parameter fisik yang dinilai yaitu jarak obyek wisata dari pusat pelayanan pariwisata, aksesibilitas obyek dari jalan nasional, jalan propinsi dan jalan kabupaten, daya tarik obyek wisata, dan fasilitas pendukung obyek wisata itu sendiri. Untuk aspek kelembagaan sosial budaya dan ekonomi parameter yang digunakan yaitu pengelola obyek wisata, atraksi dalam obyek wisata, keamanan dan penjualan makanan, cendramata dan sarana di dalam obyek wisata. Penilaian potensi wisata ini dilakukan dengan model pengharkatan (scoring model) yang diacu dari model penelitian Coppock et al. (1971) dan Gunn (1979). Metode ini mengkuantitatifkan kenampakan setiap obyek wisata seperti jaringan

6 jalan dalam bentuk jarak obyek dari pusat pelayanan, sarana prasarana penunjang (hotel/penginapan, rumah makan,bank/atm, pasar, rumah sakit/puskesmas, terminal), jenis/daya tarik obyek wisata, ada tidaknya pengelola, frekwensi pengadaan atraksi di obyek wisata, ada tidaknya petugas keamanan dan jumlah penjual cendramata dan makanan/minuman yang ada di obyek wisata. Sehingga dapat dilihat obyek yang mempunyai potensi untuk dikembangkan melalui akumulasi skor atau nilai. Masing-masing faktor dinilai dengan ketentuan seperti disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Skoring kelas potensi pariwisata No Kelas Potensi Skor 1. Potensi Sangat Lemah 1 2. Potensi Lemah 2 3. Potensi Sedang 3 4. Potensi Kuat 4 5. Potensi Sangat Kuat 5 27 Proses analisis dalam memetakan kondisi fisik dan lingkungan obyek wisata dengan SIG untuk kemudian diseragamkan dalam fomat yang sama dan diolah lebih lanjut dengan mempergunakan tools Arc View yang sesuai dengan tujuan analisis. Adapun tools Arc View yang dipergunakan untuk penentuan obyek wisata yang dapat dikembangkan dalam penelitian ini yaitu: 1. Buffer atau penyangga. Buffer merupakan suatu metode analisis yang berbentuk wilayah atau zona dari suatu jarak tertentu di sekitar entitas fisik, seperti titik, garis atau poligon yang telah terdefenisi. Dalam penelitian ini, pemakaian buffer digunakan untuk memetakan posisi kelas potensi obyek wisata berdasarkan aksesibilitas dari jalan negara, jalan propinsi dan jalan kabupaten. Semakin dekat suatu obyek wisata terhadap jalan, maka skoring obyek tersebut semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. 2. Logical Query Logical Query adalah suatu proses memilih feature yang atributnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dalam hal ini, fungsi query diterapkan untuk penentuan jauh dekatnya suatu obyek dari pusat kota dengan memakai kriteria jarak, pengelola obyek wisata, atraksi, hiburan dalam obyek wisata, keamanan

7 28 dan ada tidaknya tempat penjualan cendramata, makan/minuman dalam suatu obyek wisata. 3. Spatial Overlay Spatial Overlay adalah operasi penggabungan feature dari dua layer ke dalam layer baru serta penggabungan secara relasional tabel atribut feature-nya. Overlay digunakan dalam penelitian ini untuk proses pencarian posisi obyekobyek wisata dalam bentangan suatu wilayah atau topografi wilayah, posisi obyek wisata di dalam satuan wilayah administrasi, posisi sungai, jalan, sarana prasarana, dan proses matching antara posisi obyek wisata dengan RTRW yang telah ada. 4. Identify Feature Within a Distance Identify Feature Within a Distance adalah operasi untuk menghitung dan mengidentifikasi obyek pembanding dengan jarak tertentu dari masing-masing input obyek dalam satu tema. Proses ini digunakan untuk penentuan potensi obyek wisata dengan parameter jumlah sarana prasarana pendukung yang ada di sekitar suatu obyek wisata. Penilaian terhadap suatu obyek wisata dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu berdasarkan parameter fisik yang berjumlah 4 (empat) parameter dan parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi dengan jumlah 4 (empat) parameter. Masing-masing parameter diberikan pembobotan yang didapat dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden di lapang. Nilai bobot didapat dengan mengakumulasikan persentase jumlah responden yang memilih suatu parameter dari parameter-parameter fisik dan parameter-parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi menjadi parameter utama dalam melakukan kunjungan wisata. Setelah didapatkan bobot dari masing-masing parameter, maka dilakukan penilaian potensi pariwisata terhadap obyek wisata. Adapun untuk pembagian kriteria penilaian potensi pariwisata berdasarkan parameter fisik terlihat pada Tabel 8.

8 Tabel 8 Kriteria penilaian potensi pariwisata berdasarkan parameter fisik (Modifikasi model Gunn, 1979 dan Coppock, 1971) No Parameter Nilai Potensi Sangat Lemah (1) Lemah (2) Sedang (3) Kuat (4) 29 Sangat Kuat (5) 1. Jarak (J) > 60 km km km km <= 15 km 2. Sarana Prasarana (SP) 3. Aksesibilitas (A) 4. Daya Tarik (DT) Tidak terdapat sarana prasarana >1000 m dari jalan kabupaten Terdapat >3 obyek sejenis Terdapat 1 jenis sarana prasarana m dari jalan kabupaten Terdapat 3 obyek sejenis Terdapat 2-3 jenis sarana prasarana < 500 m dari jalan kabupaten Terdapat 2 obyek sejenis Terdapat 4 jenis sarana prasarana < 500 m dari jalan propinsi Terdapat 1 obyek sejenis Terdapat lebih dari 4 jenis sarana prasarana < 500 m dari jalan Nasional Tidak terdapat obyek sejenis Parameter Jarak Faktor letak obyek wisata dinilai mempunyai pengaruh kuat terhadap motif wisatawan melakukan perjalanan wisata. Penetapan jarak tertentu berdasarkan letak obyek wisata yang menyebar, dimana penyebaran dari obyek wisata di Kabupaten Agam terpencar di 14 kecamatan. Jarak tempuh dari suatu obyek ke obyek yang lain di daerah ini cukup panjang. Semakin dekat suatu obyek wisata maka kesempatan pengunjung untuk mencapainya akan semakin besar, begitu juga sebaliknya. Suatu obyek wisata dengan jarak 0-15 kilometer mempunyai nilai potensi sangat kuat dengan skor 5. Untuk jarak lebih dari 15 kilometer sampai 30 kilometer mempunyai nilai potensi kuat dengan skor 4. Jarak lebih dari 30 kilometer sampai 45 kilometer mempunyai nilai potensi sedang dengan skor 3. Jarak lebih dari 45 kilometer sampai 60 kilometer mempunyai nilai potensi lemah dengan skor 2 dan jarak lebih dari 60 kilometer dengan nilai potensi sangat lemah. Parameter Sarana Prasarana Faktor sarana prasarana penunjang suatu obyek wisata seperti penginapan, rumah makan, keberadaan bank/atm, pasar, terminal dan rumah sakit/puskesmas cukup mendukung perkembangan suatu obyek wisata. Penilaian terhadap sarana

9 30 prasarana ini tidak berdasarkan pelayanan yang diberikan terhadap konsumen, tetapi berdasarkan jumlah dan jenis dari sarana prasarana tersebut terhadap suatu obyek wisata. Pertimbangan jumlah dan jenis sarana prasarana bisa menggambarkan potensi suatu obyek wisata disamping sebagai suatu komponen untuk penentuan hirarki suatu wilayah. Semakin banyak jumlah dan jenis fasilitas maka dukungan terhadap pengembangan suatu obyek wisata akan semakin baik. Demikian pula dengan keberadaan fasilitas-fasilitas yang dekat dengan suatu obyek wisata, maka akan menjadi suatu nilai tambah bagi perkembangan obyek wisata tersebut. Fasilitas yang dinilai sebagai komponen penunjang utama dalam analisis ini adalah akomodasi, rumah makan, perbankan, pasar, terminal dan rumah sakit/puskesmas. Suatu obyek wisata dikategorikan mempunyai potensi sangat kuat dengan skor 5 apabila dalam radius satu kilometer dari obyek wisata tersebut terdapat lebih dari lima jenis sarana prasarana. Obyek wisata dengan potensi kuat dengan skor 4 apabila obyek wisata tersebut didukung oleh empat jenis sarana prasarana dalam radius satu kilometer. Untuk obyek wisata yang mempunyai dua sampai tiga jenis sarana prasarana dalam radius satu kilometer dari obyek wisata tersebut maka masuk kedalam potensi sedang dengan skor 3. Obyek wisata dengan potensi lemah dengan skor 2 apabila hanya terdapat satu jenis sarana prasarana dalam radius satu kilometer dari obyek wisata tersebut. Suatu obyek wisata yang tidak terdapat satu jenis sarana prasaranapun dalam radius satu kilometer dari obyek tersebut diberi skor 1 dengan potensi sangat lemah. Parameter Aksesibilitas Obyek wisata merupakan tujuan akhir dari perjalanan wisata, sehingga harus mudah dicapai dan mudah ditemukan. Faktor aksesibilitas direpresentasikan dengan jarak suatu obyek wisata dari jalan utama (jalan nasional, jalan propinsi, dan jalan kabupaten), kondisi jalan dan keadaan jalan menuju obyek wisata. Secara umum kondisi jalan di Kabupaten Agam sangat cukup baik, dimana total jalan aspal yaitu sepanjang km, jalan kerikil km dan sisanya jalan tanah dari total panjang jalan di Kabupaten Agam sepanjang km.

10 31 Prasarana jalan terdiri dari tiga kelas yaitu jalan negara, jalan propinsi dan jalan kabupaten. Asumsi yang dibangun adalah jarak suatu obyek wisata dari jalan nasional, jalan propinsi dan jalan kabupaten, apabila suatu obyek wisata semakin dekat dengan jalan utama maka nilai skor akan semakin tinggi. Untuk penilaian berdasarkan aksesibilitas, penelitian ini memberikan skor 5 apabila suatu obyek wisata mempunyai jarak lebih kecil dari 500 m dari jalan nasional dengan potensi sangat kuat. Obyek wisata yang berada pada radius 500 m dari jalan propinsi memiliki skor 4 dengan potensi kuat. Untuk obyek wisata yang mempunyai jarak kurang dari 500 m terhadap jalan kabupaten maka memiliki skor 3 dengan potensi sedang. Sedangkan untuk obyek wisata dengan posisi antara 500 m sampai dengan m dari jalan kabupaten akan mendapatkan skor 2 dengan potensi lemah, dan untuk obyek wisata yang mempunyai jarak akses lebih dari m terhadap jalan kabupaten memiliki skor 1 dengan potensi sangat lemah. Apabila dalam proses identifikasi posisi obyek wisata masuk kedalam dua kategori penilaian, maka nilai yang ditetapkan untuk obyek wisata tersebut adalah nilai tertinggi dari dua kategori tersebut. Parameter Daya Tarik Faktor daya tarik terkait dengan keberadaan sejumlah obyek wisata yang sejenis dalam suatu wilayah tertentu. Semakin banyak obyek wisata yang sejenis dalam suatu area tertentu, maka daya tarik obyek tersebut akan berkurang. Penilaian obyek wisata dilakukan dengan penskoran yang dimulai dari skor satu untuk potensi sangat lemah sampai dengan skor lima dengan potensi sangat kuat. Suatu obyek wisata yang memiliki lebih dari tiga obyek wisata yang sejenis dalam radius satu kilometer akan memiliki skor 1 dengan potensi sangat lemah. Jika suatu obyek wisata memiliki tiga obyek wisata yang sejenis dalam radius satu kilometer, maka akan dikategorikan dalam potensi lemah dengan skor 2. Untuk obyek wisata yang memiliki dua obyek wisata yang sejenis dalam radius satu kilometer dikategorikan dalam potensi sedang dengan nilai skor 3. Obyek wisata yang memiliki satu obyek wisata yang sejenis dalam satu kilometer akan memiliki skor 4 dengan potensi kuat, dan apabila suatu obyek wisata dalam kisaran jarak

11 satu kilometer tidak terdapat satupun obyek wisata yang sejenis maka potensi obyek wisata tersebut masuk kedalam kategori sangat kuat dengan nilai skor 5. Penentuan nilai potensi suatu obyek wisata berdasarkan parameter fisik (PF) dilakukan dengan mengalikan nilai masing-masing parameter dengan bobot suatu parameter. Setelah didapatkan hasil dari operasi diatas, maka dilakukan penjumlahan terhadap nilai-nilai parameter fisik obyek yang dianalisis yaitu nilai jarak, jumlah sarana prasarana, aksesibilitas dan daya tarik dengan persamaan: Metode Skoring PF = (Bobot x J) + (Bobot x SP) + (Bobot x A) + (Bobot x DT) Adapun untuk pembagian kriteria penilaian potensi pariwisata berdasarkan parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi terlihat pada Tabel 9. Tabel 9 Kriteria penilaian potensi pariwisata berdasarkan parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi (Modifikasi model Gunn, 1979) Nilai Potensi No Parameter Sangat Lemah (1) Sedang (3) Sangat Kuat (5) 1. Pengelola (P) Tidak adanya Adanya pengelola pengelola Obyek - Obyek Wisata Wisata 2. Atraksi/ hiburan kesenian (AH) Tidak adanya atraksi/ hiburan 3. Keamanan (K) Tidak adanya petugas keamanan 4. Penjualan Cendramata, Makanan & Minuman (PSM) Parameter Pengelola Tidak adanya tempat penjualan cendramata dan makanan Adanya atraksi/ hiburan 1-2 kali sebulan Terdapat 1-5 tempat penjualan cendramata dan makanan - Adanya atraksi/ hiburan lebih 2 kali sebulan Adanya petugas keamanan Terdapat lebih dari 5 tempat penjualan cendramata dan makanan Salah satu penentu berkembangnya suatu obyek wisata yaitu adanya pengelola dari obyek tersebut. Dengan adanya pengelola akan memberikan suatu nilai tambah dari obyek wisata, dimana secara tidak langsung akan memberikan efek positif terhadap kelestarian obyek dengan terpeliharanya aset-aset yang ada di dalam obyek wisata dan pengunjung bisa memaksimalkan pemanfaatan dari aset-aset yang ada sesuai dengan fungsinya. Pada parameter pengelola ini, penilaian terhadap suatu obyek wisata dengan melihat keberadaan pengelola dari suatu obyek wisata. Apabila suatu obyek wisata memiliki pengelola, maka di kategorikan dalam potensi sangat kuat dengan 32

12 skor 5 dan apabila suatu obyek wisata tidak mempunyai pengelola mendapatkan skor 1 dengan potensi sangat lemah. 33 Parameter Atraksi, Hiburan, Kesenian Adanya atraksi, hiburan, kesenian di suatu obyek wisata merupakan daya tarik tersendiri dari obyek wisata. Penilaian terhadap parameter atraksi, hiburan dan kesenian terhadap obyek wisata berdasarkan seberapa sering atraksi, hiburan dan kesenian dilakukan di dalam obyek wisata. Suatu obyek wisata mendapatkan nilai skor 1 dan masuk ke dalam potensi sangat lemah apabila dalam obyek wisata tersebut tidak adanya atraksi, hiburan dalam sebulan. Untuk nilai potensi sedang dengan skor 3 diberikan kepada obyek wisata yang memiliki atraksi, hiburan satu sampai dua kali dalam sebulan dan obyek wisata yang mengadakan atraksi, hiburan lebih dari dua kali dalam sebulan memperoleh skor 5 dengan potensi sangat kuat. Parameter Keamanan Salah satu unsur lain yang pentingnya dalam dunia pariwisata adalah citra keamanan bagi wisatawan, baik domestik maupun luar negeri. Parameter keamanan merupakan faktor utama bagi wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata. Faktor keamanan menjadi kunci utama untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Selain itu keamanan suatu obyek wisata juga berhubungan dengan citra (image) yang akan diciptakan produk wisata tersebut. Tidak adanya jaminan keamanan pada suatu obyek wisata akan berakibat yang kurang menguntungkan bagi pariwisata itu sendiri. Salah satu dampaknya yaitu akan terjadi pengurangan kunjungan wisatawan. Penelitian ini dalam melakukan penilaian terhadap parameter keamanan bertolak kepada ada tidaknya petugas yang menjaga keamanan suatu obyek wisata. Jika suatu obyek wisata tidak memiliki petugas keamanan akan mendapatkan skor 1 dengan potensi sangat lemah. Sedangkan suatu obyek yang memiliki petugas keamanan obyek wisata akan diberi skor 5 dengan potensi sangat kuat.

13 34 Parameter Penjualan Cendramata, Makanan dan Minuman Kelengkapan sarana prasarana dalam obyek wisata seperti adanya tempattempat penjualan cendramata yang merupakan kekhasan dari suatu obyek wisata, tempat penjualan makanan dan minuman sangat diharapkan bagi para pengunjung. Penilaian terhadap obyek wisata dengan parameter ini lebih menekankan kepada kuantitas atau jumlah dari tempat penjualan cendramata, makanan dan minuman di dalam suatu obyek wisata. Suatu obyek wisata dikategorikan mempunyai potensi sangat kuat dengan skor 5, apabila obyek tersebut memiliki lebih dari lima tempat penjualan cendramata, makanan dan minuman. Obyek wisata yang memiliki satu sampai lima tempat penjualan cendramata, makanan dan minuman masuk kedalam kategori potensi sedang dengan skor tiga, dan untuk obyek wisata yang tidak mempunyai tempat penjualan cendramata, makanan dan minuman mendapatkan skor 1 dengan potensi sangat lemah. Pembagian kriteria penilaian potensi pariwisata berdasarkan parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi (PKSE). Untuk proses penilaian skoring parameter PKSE sama dengan proses penilaian potensi pariwisata parameter fisik, dimana masing-masing parameter PKSE dikalikan dengan bobot parameter dan setelah itu dilakukan penjumlahan terhadap nilai-nilai parameter kelembagaan, sosial budaya dan ekonomi yang ada yaitu parameter pengelola, parameter atraksi hiburan/kesenian, parameter keamanan, dan parameter penjualan cendramata, makanan dan minuman. Parameter-parameter PSKE yang dianalisis (Tabel 8) dengan metode skoring sebagai berikut: Metode Skoring PSKE =(Bobot x P)+(Bobot x AH)+(Bobot x K)+(Bobot x PSM) Untuk mendapatkan nilai potensi pariwisata dari suatu obyek wisata, maka dilakukan pencarian rata-rata dari penjumlahan nilai skor obyek wisata dari dua pembagian kelompok penilaian yaitu metode skoring PF dan metode skoring PKSE. ΣPF + ΣPKSE Metode Skoring Potensi Pariwisata = 2

14 35 Kemudian nilai skor tersebut dimasukan ke dalam klasifikasi penilaian (Tabel 10) sebagai potensi pariwisata dari potensi sangat rendah sampai potensi sangat tinggi dengan selang kelas kesesuaian ditentukan dengan rumusan (Walpole, 1982): Selang Kelas = ΣSkorMaksimal ΣSkorMinimal ΣKriteria Tabel 10 Klasifikasi Penilaian Potensi Wisata No Total Nilai Keterangan Potensi Rendah 2. 2,01 3 Potensi Sedang 3. 3,01 4 Potensi Tinggi 4. 4,01 5 Potensi Sangat Tinggi Sumber : Olahan rumus Walpole (1982) Penentuan obyek wisata aktual berdasarkan kriteria (Gambar 3) dilakukan dengan proses overlay antara peta administrasi, peta obyek wisata, peta jalan dan peta sarana prasarana. Peta Administrasi Peta Obyek Wisata Peta Jalan Peta Sarana Prasarana Identifikasi jarak obyek dengan kriteria letak Identifikasi jarak obyek dengan kriteria daya tarik Buffer dengan kriteria letak Identifikasi jarak obyek dengan kriteria sarana prasarana Membangun krieria Query dan skoring obyek berdasarkan kriteria Data Atribut Menampilkan obyek wisata aktual berdasarkan kriteria Gambar 3 Diagram alir analisis obyek wisata aktual berdasarkan kriteria

15 36 Identifikasi data jarak obyek dengan kriteria letak, identifikasi jarak obyek dengan kriteria daya tarik, buffer dengan kriteria letak dan identifikasi jarak obyek dengan kriteria sarana prasarana. Pemanggilan (query) data atribut dan pengskoran berdasarkan kriteria dilakukan sebelum menampilkan obyek wisata aktual. Setelah didapatkan obyek wisata aktual berdasarkan kriteria, maka dilakukan proses penentuan obyek wisata aktual terdefinisi dengan proses overlay antara obyek wisata aktual berdasarkan kriteria dengan peta ketinggian lahan dan juga proses overlay antara obyek wisata aktual berdasarkan kriteria dengan peta lereng sehingga menghasilkan karakteristik obyek wisata aktual berdasarkan kelas ketinggian lahan dan kelas lereng dari lahan. Untuk mengetahui kesesuaian kawasan obyek wisata dengan RTRW, maka peta obyek wisata aktual berdasarkan kriteria dilakukan proses overlay dengan peta RTRW yang menghasilkan obyek wisata aktual berdasarkan penempatan ruang. Berdasarkan hasil proses diatas dihasilkan obyek wisata aktual terdefinisi secara keruangan, ketinggian dan lereng. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penempatan masing-masing obyek wisata berdasarkan tinggi dari permukaan laut, kemiringan suatu obyek wisata dan posisi terhadap rencana tata ruang yang telah dibuat. Dari hal tersebut diatas akan bisa mendukung arah dan rencana pengembangan dari masing-masing obyek wisata. Kebijakan-kebijakan mengenai strategi pengembangan pariwisata dari pemerintah dijadikan sebagai salah satu pendukung dalam proses pengelompokkan obyek-obyek wisata menjadi satuan kawasan wisata. Pengelompokkan obyek-obyek wisata menjadi satuan kawasan wisata didasari kemiripan daya tarik dan kedekatan obyek wisata aktual terdefinisi (Gambar 4).

16 37 Peta obyek wisata aktual bedasarkan kriteria - Peta ketinggian lahan - Peta lereng Alokasi ruang RTRW Analisis tumpang tindih (overlay) Analisis tumpang tindih (overlay) Karakteristik obyek wisata aktual Penempatan ruang obyek wisata aktual Menampilkan obyek wisata aktual terdefinisi Kebijakan Pariwisata Analisis deskriptif penentuan SKW berdasarkan kemiripan daya tarik dan kedekatan obyek wisata Satuan Kawasan Wisata (SKW) Potensi SKW dan Rencana Pengembangan Pariwisata Kab. Agam Gambar 4 Diagram alir analisis satuan kawasan wisata

17 38 Analisis Deskriptif Obyek wisata aktual merupakan suatu obyek wisata yang telah ada dan ditetapkan keberadaannya oleh pemerintah daerah Kabupaten Agam sebagai tempat dan tujuan wisata di Kabupaten Agam. Untuk mengetahui persepsi dan kecenderungan keinginan wisatawan terhadap obyek wisata yang diminati, maka dilakukan analisis deskriptif yang diperoleh dari hasil wawancara dan kuisioner. Responden yang dipilih yaitu wisatawan yang sering berwisata atau minimal satu kali melakukan kunjungan wisata ke Kabupaten Agam. Persepsi dan keinginan wisatawan tersebut diatas bertujuan menggali pendapat dan keinginan, ketertarikan wisatawan (demand side) terhadap jenis dan daya tarik obyek wisata aktual. Salah satu hasil dari kuisioner tersebut yaitu diperoleh suatu simpulan mengenai obyek wisata di Kabupaten Agam yang akan menjadi acuan dalam proses menentukan obyek wisata aktual berdasarkan kriteria yang ada. Analisis deskriptif juga dilakukan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai pariwisata yang ada, sehingga diketahui prioritas pengembangan dari pariwisata, arah, tujuan dan sasaran yang diharapkan dari kebijakan tersebut. Kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut dijadikan salah satu acuan untuk mengelompokkan obyek-obyek wisata aktual terdefinisi. Penentuan satuan kawasan wisata dilakukan dengan analisis deskriptif yang lebih ditekankan berdasarkan kemiripan daya tarik dan kedekatan obyek wisata secara spasial, sehingga membentuk satuan-satuan kawasan wisata di Kabupaten Agam. Proses ini dilakukan setelah diperoleh obyek wisata aktual terdefinisi berdasarkan posisi obyek terhadap tata ruang, karakteristik dari obyek wisata aktual dan memperhatikan kebijakan pemerintah yang ada mengenai pariwisata di Kabupaten Agam.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. atau penelitian dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. atau penelitian dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu. 44 BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Menurut Arikunto (2006:26) Metode Penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam menggunakan data penelitiannya. Selanjutnya Surakhmad (1994:139)

Lebih terperinci

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan Intruksi Presiden nomor 16 tahun 2005 tentang Kebijakan

Lebih terperinci

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA

EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA EVALUASI POTENSI OBYEK WISATA AKTUAL DI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT UNTUK PERENCANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN EDWIN PRAMUDIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai tambang timah rakyat dilakukan di Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian dilaksanakan pada bulan April

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN POTENSI WISATA ALAM KABUPATEN TULUNGAGUNG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

PENGEMBANGAN POTENSI WISATA ALAM KABUPATEN TULUNGAGUNG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENGEMBANGAN POTENSI WISATA ALAM KABUPATEN TULUNGAGUNG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Oleh : Misbakhul Munir Zain 3506100055 Program Studi Teknik Geomatika ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Email

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 14 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI Kegiatan penelitian ini dilakukan di Pusat Kota Banda Aceh yang berada di Kecamatan Baiturrahman, tepatnya mencakup tiga kampung, yaitu Kampung Baru,

Lebih terperinci

III METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penelitian.

III METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penelitian. III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada kawasan Gunung Kapur Cibadak Ciampea Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian terlihat pada Gambar 2. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan. Peluang itu didukung oleh kondisi kondisi alamiah

BAB I PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan. Peluang itu didukung oleh kondisi kondisi alamiah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan bagian dari salah satu sektor industri di Indonesia yang memiliki prospek cerah, dan mempunyai potensi serta peluang yang sangat besar

Lebih terperinci

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi BAB III METODOLOGI. Lokasi dan Waktu Kegiatan studi dilakukan di Dukuh Karangkulon yang terletak di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, bidang pariwisata pantai merupakan salah satu kegiatan atau hal yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, bidang pariwisata pantai merupakan salah satu kegiatan atau hal yang mempunyai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, bidang pariwisata pantai merupakan salah satu kegiatan atau hal yang mempunyai peranan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau peristiwa yang terjadi di muka bumi yang timbul dari aktifitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut The Liong Gie dalam Sumaatmadja (1988:75), Metode yaitu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut The Liong Gie dalam Sumaatmadja (1988:75), Metode yaitu 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Menurut The Liong Gie dalam Sumaatmadja (1988:75), Metode yaitu studi mengenai asas-asas dasar dari penyelidikan, seringkali melibatkan masalahmasalah

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. tujuan dalam penelitian dengan baik dan benar. Menurut Masyhuri dan Zainuddin

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. tujuan dalam penelitian dengan baik dan benar. Menurut Masyhuri dan Zainuddin 29 BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian dengan baik dan benar. Menurut Masyhuri dan Zainuddin (2008:

Lebih terperinci

Gambar 2 Peta lokasi studi

Gambar 2 Peta lokasi studi 15 III. METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Studi Studi dilakukan di Kebun Anggrek yang terletak dalam areal Taman Kyai Langgeng (TKL) di Jalan Cempaka No 6, Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal, termasuk di dalamnya sektor pariwisata. Pembangunan bidang pariwisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraiakan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, metodologi penelitian, kerangka pemikiran, sistematika pembahasan. Untuk lebih jelasnya

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN.... HALAMAN PERNYATAAN.... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI.... DAFTAR TABEL.... viii DAFTAR GAMBAR.... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT... BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam pengembangan suatu kawasan atau daerahnya. Pengembangan pariwisata ini tidak terlepas dari keberadaan sumber

Lebih terperinci

TAHAPAN PENELITIAN & ALUR PIKIR

TAHAPAN PENELITIAN & ALUR PIKIR 1 PENDEKATAN & JENIS PENELITIAN 2 VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL 3 METODA (pengumpulan data/analisis) 4 5 6 METODA SAMPLING METODA PENELITIAN TERKAIT KONSEP PENGEMBANGAN TAHAPAN PENELITIAN & ALUR PIKIR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan sumberdaya alam baik hayati maupun non hayati. Negara ini dikenal sebagai negara megabiodiversitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. untuk memotivasi berkembangnya pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus berupaya

I. PENDAHULUAN. untuk memotivasi berkembangnya pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus berupaya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata merupakan bentuk industri pariwisata yang belakangan ini menjadi tujuan dari sebagian kecil masyarakat. Pengembangan industri pariwisata mempunyai peranan penting

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. B. Metode Penelitian dan Analisis Data. kuisioner, pengambilan gambar dan pengumpulan data sekunder. Menurut

TATA CARA PENELITIAN. B. Metode Penelitian dan Analisis Data. kuisioner, pengambilan gambar dan pengumpulan data sekunder. Menurut IV. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kawasan ekowisata hutan lindung mangrove dan penangkaran buaya di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG 1 PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINTANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN DAERAH KABUPATEN SINTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINTANG,

Lebih terperinci

VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Pengunjung TWA Gunung

VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Pengunjung TWA Gunung VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR 6.1 Karakteristik Responden Penentuan karakteristik pengunjung TWA Gunung Pancar diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner dari 100

Lebih terperinci

Oleh : ERINA WULANSARI [ ]

Oleh : ERINA WULANSARI [ ] MATA KULIAH TUGAS AKHIR [PW 09-1333] PENELITIAN TUGAS AKHIR Oleh : ERINA WULANSARI [3607100008] PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan pemandangan alamnya merupakan anugrah Tuhan Yang Maha

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KOMPONEN PARIWISATA PADA OBYEK-OBYEK WISATA DI BATURADEN SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BATURADEN TUGAS AKHIR

PENGEMBANGAN KOMPONEN PARIWISATA PADA OBYEK-OBYEK WISATA DI BATURADEN SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BATURADEN TUGAS AKHIR PENGEMBANGAN KOMPONEN PARIWISATA PADA OBYEK-OBYEK WISATA DI BATURADEN SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BATURADEN TUGAS AKHIR Oleh : BETHA PATRIA INKANTRIANI L2D 000 402 JURUSAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Geografi

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Geografi PENENTUAN JALUR WISATA BERDASARKAN POTENSI OBYEK DI KABUPATEN KULONPROGO MELALUI PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TAHUN 2010 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print C-45 Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Kawasan Wisata Bahari di Desa Sumberejo, Desa Lojejer dan Desa Puger Kulon, Kabupaten

Lebih terperinci

STUDI PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA REKREASI DAN WISATA DI ROWO JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR. Oleh:

STUDI PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA REKREASI DAN WISATA DI ROWO JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR. Oleh: STUDI PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA REKREASI DAN WISATA DI ROWO JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR Oleh: WINARSIH L2D 099 461 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481) KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481) Oleh : GITA ALFA ARSYADHA L2D 097 444 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian inii dilakukan di Kawasan Wisata Ujung Genteng, Sesuai

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian inii dilakukan di Kawasan Wisata Ujung Genteng, Sesuai BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian inii dilakukan di Kawasan Wisata Ujung Genteng, Sesuai dengan data Profil Desa Ujung Genteng Tahun 2008, Ujung Genteng merupakan daerah pesisir

Lebih terperinci

Gambar 6. Peta Lokasi Kabupaten Majalengka (Sumber : PKSKL IPB 2012)

Gambar 6. Peta Lokasi Kabupaten Majalengka (Sumber : PKSKL IPB 2012) 21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 5 Juli 2013, meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan pengamatan lapangan (ground

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Sumber:http://www.wisatakebumen.info Gambar 3.1 Gambar Letak Goa jatijajar Penelitian ini dilakukan di Goa Jatijajar, yang berlokasi di kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan kesimpulan akhir dari studi yang dilakukan dan beberapa saran dan rekomendasi terhadap studi lanjutan pengembangan pariwisata daerah studi. Kesimpulan berupa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang BAB III METODE PENELITIAN 3.. Metode yang digunakan Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) Oleh : Djunijanto

SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) Oleh : Djunijanto SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) Oleh : Djunijanto Pengertian SIG Sistem informasi yang menggunakan komputer untuk mendapatkan, mengolah, menganalisis dan menyajikan data yang mengacu pada lokasi geografis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pariwisata telah diasumsikan sebagai industri yang dapat diandalkan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pariwisata telah diasumsikan sebagai industri yang dapat diandalkan untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pariwisata telah diasumsikan sebagai industri yang dapat diandalkan untuk mengisi devisa. Alasan utama pengembangan pariwisata sangat terkait dengan kemajuan

Lebih terperinci

Gambar 1 Lokasi penelitian.

Gambar 1 Lokasi penelitian. 7 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Perencanaan tapak ini dilaksanakan di KHDTK Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Gambar 1). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012. Gambar

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif.

METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. 23 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metodologi Penelitian Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. " Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey. Menurut Singarimbun dan Sofyan Effendi (989: ) bahwa penelitian survey adalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat terlaksana secara efektif dan

Lebih terperinci

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Desa Mulo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Sumber: Triple A: Special Province of Yogyakarta)

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Desa Mulo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Sumber: Triple A: Special Province of Yogyakarta) BAB III METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai lanskap kawasan ekowisata karst ini dilakukan di Lembah Mulo, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah, Cilacap

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah, Cilacap 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah, Cilacap merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata dan kawasan pengembangan pariwisata Jawa Tengah

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak Juli 2010 sampai dengan Mei 2011. Lokasi penelitian terletak di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Pengolahan

Lebih terperinci

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian 33 METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian mengenai Rencana Penataan Lanskap Kompleks Candi Muara Takus sebagai Kawasan Wisata Sejarah dilakukan di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar,

Lebih terperinci

ARI WISONO X

ARI WISONO X FASILITAS WISATA AIRMATA AIR INGAS COKRO TULUNG DI KLATEN TATA RUANG LUAR, TATA MASSA DAN PENAMPILAN BANGUNAN YANG MFRESPON POTFNSI ALAM BAB I A. LATAR BELAKANG 1. Umum Indonesia memiliki potensi alam

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Gambar 3.1 Gambar Lokasi Curug Cilengkrang 36 37 Penelitian ini mengambil lokasi di Taman Wisata Alam Curug Cilengkrang, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cibiru, Kabupaten,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 32 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi penelitian Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di Kawasan Mangrove Karangsong yang berlokasi di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negaranya untuk dikembangkan dan dipromosikan ke negara lain.

BAB I PENDAHULUAN. negaranya untuk dikembangkan dan dipromosikan ke negara lain. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan salah satu sektor penghasil devisa bagi negara yang cukup efektif untuk dikembangkan. Perkembangan sektor pariwisata ini terbilang cukup

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Diresmikannya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonom pada tanggal 17 Oktober 2001 mengandung konsekuensi adanya tuntutan peningkatan pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-undang Republik Indonesia No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dan bersifat multidimensi

Lebih terperinci

BAB II METODE PENELITIAN

BAB II METODE PENELITIAN BAB II METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam analisis tingkat kekritisan lahan kawasan budidaya pertanian yaitu dengan menggunakan metode analisis data sekunder yang dilengkapi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata memiliki peran yang penting dalam perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata memiliki peran yang penting dalam perekonomian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pariwisata memiliki peran yang penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun membuka kesempatan kerja dan kesempatan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. 5.1 Kondisi Umum Kawasan Muaro Silokek Durian Gadang. Kawasan Musiduga terletak di Kanagarian Muaro, Kanagarian Silokek,

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. 5.1 Kondisi Umum Kawasan Muaro Silokek Durian Gadang. Kawasan Musiduga terletak di Kanagarian Muaro, Kanagarian Silokek, V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Kondisi Umum Kawasan Muaro Silokek Durian Gadang Kawasan Musiduga terletak di Kanagarian Muaro, Kanagarian Silokek, Kanagarian Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kawasan wisata yang dikelola dibawah Perum Perhutani, dan memiliki luas

BAB III METODE PENELITIAN. kawasan wisata yang dikelola dibawah Perum Perhutani, dan memiliki luas 27 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian. 1. Lokasi. Lokasi penelitian berada di Bumi Perkemahan Ranca Upas, merupakan kawasan wisata yang dikelola dibawah Perum Perhutani, dan memiliki

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran 15 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, baik karakteristik, dinamika dan potensi. Pembangunan yang semakin meningkat di wilayah

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TAMAN REKREASI DI LOKAWISATA BATURADEN

PENGEMBANGAN TAMAN REKREASI DI LOKAWISATA BATURADEN LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN TAMAN REKREASI DI LOKAWISATA BATURADEN Dengan penekanan desain Arsuitektur High-Tech Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Febuari 2009 sampai Januari 2010, mengambil lokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengolahan dan Analisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Peta wilayah Indonesia Sumber:www.google.com, 2011.

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Peta wilayah Indonesia Sumber:www.google.com, 2011. BAB I PENDAHULUAN AQUARIUM BIOTA LAUT I.1. Latar Belakang Hampir 97,5% luas permukaan bumi merupakan lautan,dan sisanya adalah perairan air tawar. Sekitar 2/3 berwujud es di kutub dan 1/3 sisanya berupa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di lakukan di Pantai Pondok Bali yang terletak di Jl.Raya Ciasem Desa Mayangan, Kecamatan Pamanukan dengan titik koordinat 6 13'30" S,107

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam berbagai bentukan alam, struktur historik, adat budaya, dan sumber daya lain yang terkait dengan wisata.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada obyek wisata pemandian air panas alam CV Alam Sibayak yang berlokasi di Desa Semangat Gunung Berastagi, Kabupaten Karo Sumatera

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Darma km 11 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan, Pada

BAB III METODE PENELITIAN. Darma km 11 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan, Pada BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian dilakukan di kawasan Wisata Waduk Darma Jl. Raya Darma km 11 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. budaya. Upaya-upaya penemuan dan pengembangan potensi-potensi tersebut,

I. PENDAHULUAN. budaya. Upaya-upaya penemuan dan pengembangan potensi-potensi tersebut, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam menunjang otonomi daerah, pemerintah berupaya untuk menggali dan menemukan berbagai potensi alam yang tersebar diberbagai daerah untuk dikembangkan potensinya,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ditentukan sesuai dengan SNI nomor :1994 yang dianalisis dengan

BAB III METODE PENELITIAN. ditentukan sesuai dengan SNI nomor :1994 yang dianalisis dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, yakni penentuan lokasi untuk TPA sampah. Penentuan lokasi TPA sampah ditentukan sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 9 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Taman Wisata Alam Rimbo Panti Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Bahan dan Alat Teknik Pengumpulan Data Metode Analisis Analisis Spasial

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Bahan dan Alat Teknik Pengumpulan Data Metode Analisis Analisis Spasial METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di wilayah administratif Kabupaten Tulang yang terdiri dari 13 kecamatan. Waktu pelaksanaan penelitian selama kurang lebih 8 (delapan) bulan,

Lebih terperinci

Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam

Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam Untuk penentuan prioritas kriteria dilakukan dengan memberikan penilaian atau bobot

Lebih terperinci

KONDISI UMUM Batas Geografis dan Administratif Situs Candi Muara Takus

KONDISI UMUM Batas Geografis dan Administratif Situs Candi Muara Takus 30 KONDISI UMUM Batas Geografis dan Administratif Wilayah perencanaan situs Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Jarak kompleks candi

Lebih terperinci

persepsi pengunjung yang telah dibahas pada bab sebelumnya. VIII. PROSPEK PENGEMBANGAN WISATA TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR

persepsi pengunjung yang telah dibahas pada bab sebelumnya. VIII. PROSPEK PENGEMBANGAN WISATA TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR 17.270 kunjungan, sehingga dari hasil tersebut didapat nilai ekonomi TWA Gunung Pancar sebesar Rp 5.142.622.222,00. Nilai surplus konsumen yang besar dikatakan sebagai indikator kemampuan pengunjung yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya melalui industri pariwisata. Sebagai negara kepulauan,

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya melalui industri pariwisata. Sebagai negara kepulauan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang turut mengembangkan perekonomiannya melalui industri pariwisata. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara dengan hamparan landscape yang luas dan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara dengan hamparan landscape yang luas dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan hamparan landscape yang luas dan menggambarkan keindahan alam yang beragam serta unik. Kondisi yang demikian mampu menjadikan Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokasi yang paling efisien dan efektif untuk kegiatan-kegiatan produktif sehubungan dengan ketersediaan sarana dan prasarana.

BAB I PENDAHULUAN. lokasi yang paling efisien dan efektif untuk kegiatan-kegiatan produktif sehubungan dengan ketersediaan sarana dan prasarana. BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini berisi mengenai latar belakang yang digunakan sebagai dasar penelitian, perumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, kebutuhan data, teknik pengumpulan data,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian 23 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini difokuskan pada lahan sagu yang ada di sekitar Danau Sentani dengan lokasi penelitian mencakup 5 distrik dan 16 kampung di Kabupaten Jayapura.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pariwisata merupakan industri perdagangan jasa yang memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakup pengaturan pergerakan wisatawan dari negara asalnya, di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang di luar tempat tinggalnya, bersifat sementara untuk berbagai tujuan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut (HLGL) Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian berlangsung selama 3 bulan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di Kabupaten Ketapang tepatnya di Kecamatan Muara Pawan, Desa Sungai Awan Kiri, di lokasi Obyek

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Restoran River Side yang berlokasi di Kawasan Wisata Sungai Musi, Komplek Benteng Kuto Besak, Jalan Rumah

Lebih terperinci

IV.C.5. Urusan Pilihan Kepariwisataan

IV.C.5. Urusan Pilihan Kepariwisataan 5. URUSAN KEPARIWISATAAN Wonosobo dengan kondisi geografis pegunungan dan panorama alam yang memukau merupakan kekayaan alam yang tak ternilai bagi potensi pariwisata. Selain itu budaya dan keseniannya

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. kepada responden. Data primer tersebut meliputi identitas responden, jumlah

METODE PENELITIAN. kepada responden. Data primer tersebut meliputi identitas responden, jumlah 52 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer dan sekunder. Dalam penelitian ini data primer diambil berdasarkan kuesioner yang diwawancarakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Pengambilan data untuk membuat model kesesuaian habitat orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) dilakukan di Suaka Margasatwa Sungai Lamandau.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang STUDI KELAYAKAN POTENSI WISATA PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN KABUPATEN BELITUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang STUDI KELAYAKAN POTENSI WISATA PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN KABUPATEN BELITUNG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Belitung terletak antara 107 08 BT sampai 107 58 BT dan 02 30 LS sampai 03 15 LS dengan luas seluruhnya 229.369 Ha atau ±2.293,69 Km2. Pada peta dunia Pulau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah pegunungan, pantai, waduk, cagar alam, hutan maupun. dalam hayati maupun sosio kultural menjadikan daya tarik yang kuat bagi

BAB I PENDAHULUAN. daerah pegunungan, pantai, waduk, cagar alam, hutan maupun. dalam hayati maupun sosio kultural menjadikan daya tarik yang kuat bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia terkenal akan keindahan wisata alamnya. Baik berupa wisata alam maupun wisata non alam. Wisata alam merupakan wisata yang menjadikan alam sebagai objeknya.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian 42 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1. Tempat Penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Penentuan lokasi penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Martadinata No. 81, Malang. Adapun dasar dari pemilihan Bank Rakyat Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN. Martadinata No. 81, Malang. Adapun dasar dari pemilihan Bank Rakyat Indonesia BAB III METODE PENELITIAN 1.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT. Bank Rakyat Indonesia,Tbk. Jl. Laks. Martadinata No. 81, Malang. Adapun dasar dari pemilihan Bank Rakyat Indonesia Cabang

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI. Gambar 14. Peta Orientasi Lokasi Penelitian.

IV. METODOLOGI. Gambar 14. Peta Orientasi Lokasi Penelitian. IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada jalur pendakian Gunung Tambora wilayah Kabupaten Bima dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan di

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan pariwisata merupakan salah satu sektor tumpuan yang diharapkan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan di sektor pariwista dapat meningkatkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 6 BAB III METODE PENELITIAN 3. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Taman Wisata Alam Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu bulan Juli-Agustus

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 11 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari 2009 sampai Januari 2010 yang berlokasi di wilayah administrasi Kabupaten Bogor. Analisis data dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Hal ini dapat menggerakkan pertumbuhan industri pada sektor-sektor

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Hal ini dapat menggerakkan pertumbuhan industri pada sektor-sektor BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sektor industri yang diharapkan mampu menjadi kekuatan pembangunan, yang dapat diandalkan terutama sebagai penghasil devisa negara

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di kawasan pesisir Nuhuroa yaitu kawasan pesisir Kecamatan Kei Kecil dan Kecamatan Dullah Utara (Tabel 1). Tabel 1 Lokasi Penelitian di

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Menurut Tika (2005:4) metode deskriptif adalah metode yang

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Menurut Tika (2005:4) metode deskriptif adalah metode yang BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Tika (2005:4) metode deskriptif adalah metode yang mengarah pada pengungkapan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tersebar di muka bumi, serta menggambarkan fenomena geografikal dalam wujud

I. PENDAHULUAN. tersebar di muka bumi, serta menggambarkan fenomena geografikal dalam wujud I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peta merupakan media yang digunakan sebagai sarana memperoleh gambaran fakta di permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai gejala seperti gunung, dan danau.

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KHUSUS Kawasan Outbound Training di Kabupaten Kulon Progo 3.1 TINJAUAN KONDISI UMUM KABUPATEN KULON PROGO

BAB III TINJAUAN KHUSUS Kawasan Outbound Training di Kabupaten Kulon Progo 3.1 TINJAUAN KONDISI UMUM KABUPATEN KULON PROGO BAB III TINJAUAN KHUSUS Kawasan Outbound Training di Kabupaten Kulon Progo Kawasan outbound training di Kabupaten Kulon Progo merupakan kawasan pusat di alam terbuka yang bertujuan untuk mewadahi kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Septi Sri Rahmawati, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Septi Sri Rahmawati, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lahan merupakan salah satu faktor penunjang kehidupan di muka bumi baik bagi hewan, tumbuhan hingga manusia. Lahan berperan penting sebagai ruang kehidupan,

Lebih terperinci