V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan"

Transkripsi

1 V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan Dalam industri komponen otomotif, PT. XYZ melakukan produksi berdasarkan permintaan pelanggannya. Oleh Marketing permintaan dari pelanggan diterima yang kemudian menjadi rencana penjualan. Kemudian departemen Production Planning and Inventory Control (PPIC) akan membuat jadwal produksi setelah menerima rencana penjualan dari Marketing untuk memenuhi rencana penjualan tersebut. Jadwal produksi atau rencana produksi akan diterima oleh bagian pengadaan dan departemen produksi. Rencana produksi oleh bagian pengadaan akan digunakan untuk melakukan pengadaan barang-barang yang dibutuhkan oleh produksi, sedangkan rencana produksi oleh departemen produksi merupakan sebagai acuan untuk melakukan produksi. Hasil dari produksi ini adalah muffler atau sistem gas buang untuk kendaraan bermotor (mobil) dan kemudian dikirim ke pelanggan yang memesannya. Untuk menganalisa akar permasalahan perusahaan yang dihadapi yaitu stok level bahan baku/material di gudang yang tidak sesuai dan produksi yang terganggu atau terhambat, maka digunakan diagram tulang ikan untuk mendapatkan area-area yang menjadi penyebab masalah dari permasalahan yang ada. Kemudian setiap penyebab permasalahan diberikan pembobotan, yang tergantung pada seberapa sering penyebab masalah terjadi dalam tiga kategori. Penyebab produksi terhambat atau terganggu dan stok level material/bahan baku yang tidak sesuai pada area pengadaan, ternyata memberikan kontribusi terbesar yaitu 80%. Untuk area Marketing memberikan kontribusi sebanyak 10%, sedangkan untuk area Inventory dan Maintenance hanya memberikan kontribusi yang paling kecil yaitu masing-masing sebesar 5%. Dilihat dari hasil ini, maka dengan melakukan rekayasa ulang proses pada area pengadaan, akan memberikan manfaat yang signifikan. Sementara sisa permasalahan yang 20% tidak akan dibahas karena permasalahan tersebut bukan disebabkan oleh proses sehingga penyelesaiannya tidak dapat menggunakan BPR. Dengan demikian penyebab permasalahan pada area pengadaan material adalah : 1. Stok level bahan baku/material yang tidak sesuai, dimana permasalahannya adalah : a. Terlalu banyak pembelian yang disebabkan : - Adanya minimum order - Tidak dapat melakukan pengawasan b. Sulitnya mencari supplier baru 2. Produksi yang terhambat atau terganggu, dimana yang menjadi permasalahannya adalah : a. Tidak ada material yang disebabkan oleh : - Tidak dilakukannya pembelian material

2 - Adanya minimum order b. Waktu proses pembelian yang lama, ini disebabkan : - Pengawasan yang kurang - Adanya minimum order c. Pengiriman material yang tidak tepat waktu karena komponen untuk pembuatan material tersebut tidak ada. Proses pengadaan material/bahan baku dapat dibagi menjadi 9 tahapan, yaitu : 1. Pembuatan Planned Order Tahapan ini merupakan rencana untuk pengadaan material/bahan baku yang dibuat oleh sistem secara otomatis setelah Material Requirement Planning (MRP) dilakukan. Hasil MRP dan pemeriksaan jumlah stok yang secara detail mengeluarkan informasi tentang material apa saja yang dibutuhkan oleh produksi beserta jumlah kebutuhannya serta kapan material tersebut dibutuhkan merupakan input data dari proses ini. Sedangkan output dari planned order adalah proposal untuk pengadaan material yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi. Setiap terakhir hari kerja yaitu hari jumat, secara periodik MRP dijalankan. Planned order dapat direvisi jika terjadi perubahan kebutuhan material karena adanya perubahan rencana produksi, selama belum dilakukan perubahan atau belum digunakan sebagai referensi untuk pembuatan purchase requisition. Setelah dilakukan identifikasi terhadap pembuatan planned order, ternyata tidak terdapat permasalahan karena semua masukan data yang diambil langsung dari database merupakan tahapan pertama dari proses ini, selain itu pembuatan planned order dilakukan secara otomatis oleh sistem dan tidak diperlukan waktu dari staff untuk mengerjakannya. Sehingga proses pembuatan planned order ini dapat dipetakan sebagai proses yang dapat diotomasi. 2. Pemeriksaan Planned Order Karena konversi planned order menjadi purchase requisition harus sesuai dengan perhitungan waktu material yang dibutuhkan oleh produksi, maka pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan planned order mana yang harus dikonversi menjadi purchase requisition pada saat itu. Data planned order yang telah dibuat oleh sistem dibutuhkan untuk menjalankan proses ini. Sementara daftar planned order yang harus dikonversi menjadi purchase order dan waktu konversinya merupakan hasil dari proses ini. Setelah melakukan analisa terhadap proses ini, ternyata proses ini dapat dilakukan secara otomatis oleh sistem. Sehingga dapat dipetakan sebagai proses yang dapat diotomasi. 3. Pembuatan Purchase Requisition Proses ini merupakan permintaan atau instruksi untuk melakukan pembelian material yang dibutuhkan pada waktu yang telah ditentukan. Data mengenai jenis material, jumlah, dan waktu pengadaan material yang telah dikelompokkan merupakan data yang dibutuhkan untuk melakukan proses ini, dimana data tersebut ada di dalam planned order. Kemudian data lain yang juga diperlukan adalah mengenai supplier yang dapat menyediakan masing-masing material, lead

3 time pengadaan material, harga dan kondisi pembayarannya. Dokumen permintaan pengadaan material dari supplier yang telah ditentukan dalam proses ini merupakan hasil ouput-nya. Purchase requisition yang ada pada PT. XYZ dapat berasal dari setiap departemen dalam perusahaan yang membutuhkan material untuk digunakan pada produksi atau bukan. Namun pembuatan dari purchase requisition ini tidak didasarkan pada referensi dokumen yang telah diusulkan oleh sistem. Adapun pembuatan purchase requisition yang dibahas disini adalah mengacu pada planned order yang merekomendasikan pengadaan material yang diperlukan untuk kebutuhan produksi dan berlaku untuk pengadaan material lama yang sudah memiliki supplier tetap atau material baru yang belum pernah digunakan sebelumnya. Dalam proses ini permasalahan yang dihadapi adalah banyaknya waktu yang dibutuhkan oleh staf untuk melakukan konversi dari planned order ke purchase requisition untuk setiap material yang akan diadakan. Permasalahan yang lain adalah sulit melakukan pengontrolan purchase requisition untuk setiap material apakah sudah dikonversi dari planned order atau belum, dimana ini sering terlewatkan yang menyebabkan barang tidak dipesan padahal dibutuhkan oleh produksi, atau juga pemesanan yang terlalu cepat serta adanya ketentuan order minimum yang mengakibatkan stok level material tidak sesuai. Dengan demikian proses ini dapat dipetakan sebagai proses yang dapat diotomasi. 4. Pemilihan Supplier Supplier mana yang akan dipilih untuk pengadaan material pada saat pembuatan purchase requisition belum ditentukan, karena memiliki lebih dari satu supplier yang aktif untuk satu material. Oleh karena itu dari daftar supplier yang ada untuk material tersebut perlu dilakukan pemilihan supplier. Data yang berada di master data dan purchase requisition yang berisi hubungan antara supplier dengan material, dibutuhkan sebagai input data untuk melakukan proses ini. Sedangkan output dari proses ini adalah purchase requisition yang telah memiliki satu supplier untuk pengadaannya. Sedangkan purchase requisition yang telah memiliki satu supplier untuk pengadaan material merupakan output dari proses ini. Dengan diberlakukannya satu material hanya akan disuplai oleh satu supplier yang merupakan strategi baru, maka proses ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Untuk itu proses ini dapat diotomasi. 5. Pembuatan Purchase Order Pembuatan purchase order merupakan konversi dari purchase requisition yang telah dibuat serta supplier yang telah ditetapkan. Data mengenai kondisi harga dari material tersebut yang diambil dari master data dan semua data yang ada di dalam purchase requisition merupakan input data yang diperlukan dalam proses ini. Sedangkan output yang diperoleh dari proses ini adalah dokumen purchase order yang telah dicatat di dalam sistem. Dalam menjalankan proses ini permasalahan yang dihadapi adalah tidak adanya informasi tentang prediksi kebutuhan material yang diperlukan oleh produksi untuk supplier, sehingga

4 kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak dapat dilakukan oleh supplier. 6. Pemeriksaan Purchase Order Pemeriksaan ini dilakukan untuk meneliti kembali kelengkapan dokumen purchase order di dalam sistem sebelum dilakukan pencetakan. Proses ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi karena dapat dilakukan oleh sistem. Sehingga proses ini dapat dipetakan sebagai proses yang dapat diotomasi. 7. Pencetakan Purchase Order Pencetakan ini dilakukan setelah pemeriksaan terhadap purchase order yang telah dibuat selesai dan dicatat dalam database. Nomor urut dari purchase order yang didapat dari sistem pada saat dokumen dicatat dalam database merupakan data yang diperlukan untuk mencetak dokumen purchase order. Sedangkan dokumen purchase order yang sudah dicetak merupakan output dari proses ini. Karena semua pencetakan purchase order dilakukan menggunakan printer laser, maka biaya yang diperlukan cukup mahal untuk melakukan pencetakan purchase order. 8. Persetujuan Purchase Order Sebelum diberikan ke supplier, purchase order yang baru harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu. Dalam menjalankan proses ini membutuhkan waktu yang lama, bukan karena disebabkan oleh adanya permasalahan dari isi purchase order tersebut, tetapi karena sulitnya menemui orang-orang yang harus memberikan persetujuan. Persetujuan purchase order ini dikelompokkan berdasarkan nilai dari purchase order tersebut secara keseluruhan. Kategori pengelompokkan itu adalah sebagai berikut : - Purchase order yang nilainya sampai dengan 500 ribu rupiah harus mendapat persetujuan dari Manager Purchasing. - Purchase order yang nilainya diatas 500 ribu rupiah harus mendapatkan persetujuan dari Presiden Direktur. 9. Pengiriman dokumen Purchase Order ke supplier Dengan menggunakan fax, purchase order yang telah mendapatkan persetujuan dikirim ke setiap supplier. Biaya pengiriman dokumen yang cukup mahal ke setiap supplier yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri, menjadi penyebab permasalahan yang dihadapi dalam proses ini. Data awal yang tersimpan di dalam database diperlukan untuk menjalankan keseluruhan rangkaian proses pengadaan material. Keberadaaan master data merupakan syarat utama proses pengadaan material dapat berjalan, namun ini bukan merupakan salah satu aktivitas yang harus dijalankan. Sehingga master data tidak termasuk ke dalam aktivitas yang harus dianalisa, tetapi perubahan dalam proses bisnis akan merubah jenis master data yang digunakan. Dalam proses pengadaan material yang dilakukan saat ini, data yang digunakan dikelompokkan ke dalam tiga kategori : 1. Supplier master record Data mengenai waktu pembayaran, mata uang yang digunakan, contact person, dan lain-lain, merupakan kumpulan data yang ada di dalam supplier master

5 record tentang supplier yang memasok material yang dibutuhkan. Data yang ada di dalam supplier master record ini digunakan pada saat pembuatan purchase requisition dan menjadi tanggung jawab dari departemen purchasing. 2. Material master Data yang menyimpan semua informasi mengenai material yang ada terdapat dalam material master. Data yang ada di dalam material master ini merupakan tanggung jawab dari setiap departemen yang terkait, sehingga setiap departemen yang terkait juga hasrus melakukan perubahan terhadap material master ini. Berdasarkan departemen yang berhubungan terhadap material tersebut, material master dibagi menjadi beberapa sub kategori. Misalnya sub kategori inventory berisi data mengenai lokasi penyimpanan, kondisi penyimpanan, dan lain-lain, atau sub kategori purchasing menyimpan data mengenai lead time dari material serta staf purchasing yang bertanggung jawab terhadap material tersebut. Dalam sub kategori purchasing, setiap material dialokasikan terhadap satu orang yang bertanggung jawab untuk melakukan pengadaan, dimana data ini nantinya akan digunakan pada saat pembuatan purchase requisition. 3. Purchasing info record Data mengenai hubungan spesifik antara material dan supplier, misalnya data mengenai jumlah minimal pemesanan, biaya pengiriman, harga, dan lain-lain, tersimpan di dalam purchasing info record. Data yang ada pada purchasing info record ini digunakan untuk pembuatan purchase requisition dan purchase order. Waktu rata-rata proses pengadaan material adalah waktu rata-rata yang diperlukan oleh staf bagian Material Scheduling and Control yang merupakan satu departemen dengan PPIC untuk melaksanakan aktivitas pengadaan material. Proses ini merupakan siklus yang berulang setiap satu minggu (sesuai dengan siklus MRP), dan rata-rata jumlah dokumen purchase order yang dihasilkan sebanyak 6 dokumen dengan rata-rata jumlah material untuk masing-masing dokumennya adalah 4 material. Jumlah staf bagian Material Scheduling and Control adalah 6 orang, dimana masing-masing orang bertanggung jawab terhadap ± 100 material. Karena waktu ratarata proses merupakan siklus mingguan, tidak berarti dengan penambahan jumlah orang akan mempercepat waktu proses tersebut. Durasi pengambilan data yang akan digunakan untuk melakukan analisa diambil pada rentang waktu Februari 2003 sampai dengan Mei Material yang digunakan untuk produksi yang dibeli baik dalam bentuk grup atau CKD (Completely Knocked Down) maupun secara satuan, termasuk jenis material dalam ruang lingkup pengambilan data untuk proses rekayasa ulang. Sedangkan material yang tidak termasuk dalam ruang lingkup proses rekayasa ulang adalah material suku cadang mesin produksi dimana perhitungan kebutuhan material tidak dilakukan di dalam sistem dan pemesanannya dilakukan secara manual sesuai permintaan maintenance. Kemudian office supplies seperti pena, tinta printer, kertas, dan lain-lain, walaupun perhitungan kebutuhannya sudah melalui sistem tetapi material-material ini memiliki banyak supplier.

6 Dalam melakukan simulasi, data yang diperlukan sebagai masukan diambil dari database yang ada, karena semua transaksi dari proses pengadaan material tercatat lengkap di dalam database. Selain itu juga arsip dokumen cetak untuk mendapatkan data yang tidak tercatat di dalam sistem. 3.2 Rancangan Proses Baru Dalam pembuatan rancangan proses pengadaan material yang baru, pendekatan yang digunakan adalah dengan memilih metode pengadaan material yang berbeda dengan yang sedang berjalan saat ini. Tahapan proses yang ada saat ini memang harus dilakukan, dimana setiap tahapan proses tersebut ada informasi yang ditambahkan walaupun informasi tersebut ada di dalam sistem dan pengambilannya dapat dilakukan secara otomatis. Namun demikian, jika hanya mengoptimalkan proses yang sedang berjalan dengan melakukan otomasi, maka hasil peningkatan yang diperoleh tidak akan signifikan. Demikian pula dengan memperpanjang tahapan proses yang ada, ini juga akan menimbulkan peningkatan kemungkinan terjadinya kesalahan manusia di setiap tahapan proses. Untuk menggantikan proses pengadaan material yang dijalankan saat ini, maka digunakan delivery schedule untuk proses pengadaan material yang baru. Penggunaan delivery schedule merupakan rencana pengiriman material yang dibuat secara otomatis oleh sistem untuk setiap material yang didasarkan pada kebutuhan material untuk suatu jangka waktu tertentu, dimana setelah dilakukan perhitungan MRP maka kebutuhan material akan diperoleh. Adapun rancangan tahapan proses pengadaan material yang baru pada bagian Material Scheduling and Control, terdiri dari dua tahapan : 1. Revisi Delivery Schedule Proses ini merupakan rencana pengiriman material yang dibuat secara otomatis oleh sistem. Rencana pengiriman material yang dibuat tidak hanya untuk membuat kebutuhan material yang diperlukan dalam jangka waktu dekat melainkan juga perkiraan kebutuhan material dalam jangka waktu yang panjang, sehingga memungkinkan supplier untuk mengatur jadwal produksinya. Proses ini juga dapat diperbaharui setiap kali ada perubahan permintaan material setelah dilakukan perhitungan MRP. Ada dua periode dalam delivery schedule untuk membedakan suatu permintaan, yaitu : - Periode permintaan yang sudah ditetapkan, yaitu suatu periode dimana supplier sudah memberikan konfirmasi kesanggupannya untuk menyediakan barang pada tanggal permintaan yang sudah ditetapkan. Sehingga antara supplier maupun perusahaan PT. XYZ tidak dapat merubah permintaan pada periode ini. - Periode permintaan yang belum ditetapkan, yaitu suatu periode dimana jika terjadi perubahan rencana produksi, permintaan masih dapat berubah. Sehingga kebutuhan material yang diminta oleh perusahaan PT. XYZ dapat diperkirakan oleh supplier untuk dapat melakukan perencanaan dan pengalokasian kapasitas produksinya.

7 Adanya kontrak antara supplier dengan perusahaan PT. XYZ merupakan syarat utama delivery schedule. Kontrak ini akan dijadikan referensi setiap sistem mengeluarkan delivery schedule, termasuk pula kondisi harga untuk material tersebut. Dalam delivery schedule tidak ada informasi harga barang, melainkan hanya berisi jadwal pengiriman barang. Sehingga persetujuan-persetujuan yang dibutuhkan seperti pada saat pembuatan purchase order sudah tidak dibutuhkan lagi. Jadwal pengiriman dan pembuatan delivery schedule ke supplier sesuai dengan interval waktu yang sudah ditentukan. Penentuan interval waktu untuk setiap material disesuaikan dengan lead time pengirimannya. Agar staf dapat meneruskan ke proses berikutnya, sistem akan memberikan informasi kepada staf yang bersangkutan pada saat pembuatan delivery schedule. Hasil perhitungan MRP yang berupa material yang dibutuhkan, jumlah yang dibutuhkan, dan kapan material tersebut dibutuhkan merupakan input data dari delivery schedule. Selain itu pula input data lain yang diperlukan adalah data yang ada di dalam kontrak mengenai data supplier yang memasok material, lead time pengadaan, periode permintaan yang sudah ditetapkan serta periode permintaan yang belum ditetapkan. Data mengenai staf yang bertanggung jawab untuk pengadaan material yang berasal dari material master merupakan data yang dibutuhkan juga untuk menjalankan proses ini. Adapun output atau hasil dari proses ini adalah revisi dari delivery schedule. 2. Pemilihan Delivery Schedule dan Pengiriman melalui ke Supplier Dalam proses ini staf Material Scheduling and Control akan melakukan pengontrolan setiap harinya untuk memilih delivery schedule yang sudah jatuh tempo dan harus dikirim delivery schedule yang baru setelah dilakukan revisi secara otomatis oleh sistem. Delivery schedule baru yang sudah direvisi merupakan input data yang dibutuhkan untuk menjalankan proses ini. File delivery schedule yang akan dikirim melalui ke supplier merupakan output dari proses ini. Dalam proses ini juga file delivery schedule akan dikirim langsung melalui ke supplier. Penggunaan dalam proses pengiriman bertujuan untuk menggantikan fasilitas fax. Dimana dengan menggunakan , dokumen lebih pasti diterima karena langsung ditujukan ke orang yang bersangkutan dan prosesnya lebih cepat, sehingga dokumen tidak perlu dicetak terlebih dahulu. Meskipun data yang detail yang diperlukan untuk proses lama dan proses baru tidak mengalami perubahan, tetapi perubahan proses membuat perubahan data-data yang dibutuhkan. Untuk menjalankan proses yang baru, master data yang harus ada adalah scheduling agreement, yaitu kesepakatan atau kontrak antara supplier dan perusahaan mengenai pembelian material untuk jangka waktu tertentu. Adapun kesepakatan yang diatur dalam kontrak yaitu mengenai kondisi harga pembelian, jumlah material yang akan dibeli selama periode tertentu, lead time pengiriman, periode berlakunya kontrak, interval dari delivery schedule, periode permintaan yang sudah ditetapkan, serta periode permintaan yang belum ditetapkan. Dalam rekayasa ulang ini, pendekatan yang diambil adalah penggantian proses pengadaan material lama dengan yang baru dan bukan optimalisasi dari proses

8 yang lama, sehingga rancangan proses yang baru sama sekali berbeda dengan proses lama. Dengan demikian waktu yang diperoleh dan jumlah staf dalam rancangan proses baru berbeda dengan proses lama. Dalam rancangan proses yang baru, terdapat pula aktivitas yang dijalankan secara manual dan secara otomatis oleh sistem. Untuk dapat membandingkan kinerja dari proses yang sedang berjalan dengan rancangan proses baru harus digunakan suatu piranti yang memungkinkan untuk hal tersebut. Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa piranti lunak yang digunakan untuk simulasi proses tersebut adalah Process 2000 yang dibuat oleh Micrografx, Inc. Hal yang akan dibandingkan adalah mengenai jumlah staf yang digunakan dan waktu yang digunakan. Pengaturan waktu jam kerja yang digunakan adalah 8 jam sehari dengan libur pada hari sabtu dan minggu. Adapun total perbaikan jumlah staf yang diperlukan oleh bagian Material Scheduling and Control pada proses pengadaan material adalah sebesar 33,33 %. Perbaikan sebesar 33,33 % dari total jumlah staf yang diperlukan oleh bagian Material Scheduling and Control pada proses pengadaan material adalah cukup signifikan dengan perubahan yang dilakukan pada proses tersebut. Apalagi ditambah dengan semakin meningkatnya utilisasi dari jumlah staf tersebut sebesar 33,32 %. Utilisasi yang diperoleh adalah berasal dari simulasi kedua proses yaitu proses yang lama dan yang baru di dalam perangkat lunak Process Perubahan tersebut merupakan hasil maksimal yang dapat dilakukan di dalam pengalokasian staf untuk perancangan proses pengadaan material. Dari perbandingan waktu proses yang lama dengan yang baru, maka diperoleh pengurangan waktu proses pengadaan material yang dilakukan oleh bagian Material Scheduling and Control adalah dari 5,5 hari menjadi 2 hari. Sehingga terjadi peningkatan efisiensi proses sebesar 63,64 %. Pentingnya proses rekayasa ulang adalah tidak hanya berhenti pada desain proses yang baru, melainkan bagaimana implementasi dari proses tersebut dapat bermanfaat secara nyata. Kurangnya persiapan untuk menjalankan sistem yang baru akan mengakibatkan sering terjadinya kegagalan dalam penerapan proses rekayasa ulang. Menentukan satu waktu mulainya dipakai sistem baru dan tidak berlakunya sistem lama untuk pengadaan material, merupakan strategi yang digunakan untuk melakukan implementasi proses yang baru. Selain itu persiapan dari perangkat lunak, perangkat keras serta sumber daya manusia perlu dilakukan untuk menjalankan sistem yang baru. Tahapan yang dilakukan adalah menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan sistem yang baru dapat dijalankan sesuai dengan tujuannya serta melakukan analisa untuk dapat mengetahui apakah ada perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses rekayasa ulang ini. Perusahaan saat ini telah menggunakan teknologi informasi dalam membantu proses yang ada pada perusahaan seperti MRP, pengerjaan keuangan, pembukuan, dan lain-lain. Tetapi dengan adanya rancangan proses yang baru ini, maka departemen Management Information System yang membidangi teknologi informasi

9 dituntut untuk dapat berperan lebih besar lagi, sehingga implementasi dari rancangan proses baru ini dapat berjalan dengan baik Dari rekayasa ulang yang dihasilkan melalui proses simulasi dengan menggunakan perangkat lunak Process 2000, maka didapat hasil suatu rancangan proses pengadaan material yang baru. Melalui simulasi rancangan tersebut, mengakibatkan perubahan yang radikal dalam proses pengadaan material di perusahaan terutama dari segi waktu rata-rata yang diperlukan jumlah staf yang dipergunakan. Rekayasa ulang yang dilakukan pada proses pengadaan material mengalami percepatan waktu rata-rata dari 5,5 hari menjadi 2 hari dan mengalami perbaikan sebesar 63,64 %. Kemudian dari jumlah staf yang diperlukan, terjadi pengurangan dari 6 orang menjadi 4 orang sehingga menyebabkan perbaikan sebesar 33,33 %, dan kenaikan tingkat utilisasi dari 16,67 % menjadi 25 %. Hal terakhir setelah dilakukan perancangan adalah mengajukan rancangan dan hasil simulasi yang diperoleh kepada manajemen PT. XYZ sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perubahan di dalam perusahaan. Dalam hal rancangan ini, pendapat manajemen cukup baik dan mendukung perubahan dalam lingkungan perusahaan, terutama yang berhubungan dengan proses pengadaan material. Dukungan dari pihak manajemen perusahaan ini, sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki oleh perusahaan.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirements Planning 2.1.1 Definisi MRP MRP adalah dasar komputer mengenai perencanaan produksi dan inventory control. MRP juga dikenal sebagai tahapan waktu perencanaan

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki, BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Riwayat Perusahaan PT. Karya Indah Bersama adalah sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KONDISI PERUSAHAAN a. Proses Produksi Proses produksi merupakan rangkaian operasi yang dilalui bahan baku baik secara fisik maupun kimia untuk meningkatkan nilai tambah dan nilai

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS SISTEM

BAB III ANALISIS SISTEM BAB III ANALISIS SISTEM Analisis sistem adalah penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perusahaan manufaktur, manajemen persediaan merupakan kegiatan untuk merencanakan, mengelompokkan dan mengontrol aktivitas-aktivitas selama proses terbentuknya

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. yang dibangun, dikembangkan dengan bahasa pemrograman visual basic.net

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. yang dibangun, dikembangkan dengan bahasa pemrograman visual basic.net BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1. Implementasi Kebutuhan Sistem Dalam melakukan tahap implementasi program dilakukan penerapan dari analisa dan perancangan sistem yang telah dibuat sebelumnya. Perangkat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang diuraikan pada sub bab 1.2 diperlukan beberapa terori pendukung yang relevan. 2.1 Inventory Control Pengawasan persediaan digunakan untuk mengatur tersedianya

Lebih terperinci

1. Pendahuluan 2. Kajian Pustaka

1. Pendahuluan 2. Kajian Pustaka 1. Pendahuluan Teknologi menjadi elemen yang sangat penting dalam persaingan bisnis saat ini. Melalui implementasi teknologi, perusahaan dapat bersaing dalam persaingan bisnis dengan pemahaman, pemenuhan

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM AKUNTANSI PEMBELIAN DAN UTANG PADA FELINDO JAYA

BAB 3 ANALISIS SISTEM AKUNTANSI PEMBELIAN DAN UTANG PADA FELINDO JAYA BAB 3 ANALISIS SISTEM AKUNTANSI PEMBELIAN DAN UTANG PADA FELINDO JAYA 3.1 Gambaran Umum Perusahaan 3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Perusahaan Perorangan Felindo Jaya didirikan pada tahun 1997, dengan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMECAHAN MASALAH

BAB III KERANGKA PEMECAHAN MASALAH BAB III KERANGKA PEMECAHAN MASALAH 3.1 Pengembangan Kerangka Kerja Secara garis besar terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan dalam menyelesaikan penelitian ini. Langkah-langkah tersebut yaitu studi

Lebih terperinci

PROSES PERENCANAAN PRODUKSI #1

PROSES PERENCANAAN PRODUKSI #1 PROSES PERENCANAAN PRODUKSI #1 Materi #6 Perencanaan Produksi 2 Perencana produksi adalah karyawan yang berinteraksi dengan sistem persediaan dan sales forecast untuk menentukan berapa banyak yang akan

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN. bidang produksi genteng metal dan batu bata. Dengan pabrik yang terletak di Jl.

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN. bidang produksi genteng metal dan batu bata. Dengan pabrik yang terletak di Jl. BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN 3.1 Latar Belakang Perusahaan PT. Prima Rezeki Pertiwi adalah sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang produksi genteng metal dan batu bata. Dengan pabrik yang terletak

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 1 URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ORGANISASI PERUSAHAAN Uraian Tugas dan Tanggungjawab PT XYZ Medan memiliki beberapa departemen yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. PT. Toyota Astra Motor Surabaya merupakan perusahaan yang bergerak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. PT. Toyota Astra Motor Surabaya merupakan perusahaan yang bergerak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. Toyota Astra Motor Surabaya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan mobil dan menerima permintaan servis dari konsumen. Hampir semua sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan operasional perusahaan tersebut.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Sistem Pengendalian Intern Atas Prosedur Pembelian Barang

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Sistem Pengendalian Intern Atas Prosedur Pembelian Barang BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Sistem Pengendalian Intern Atas Prosedur Pembelian Barang Prosedur prosedur yang dilakukan oleh PT. Alliyah Agro Nusantara di dalam kegiatan operasionalnya

Lebih terperinci

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP MODUL 11 MRP adalah suatu teknik yang menggunakan BOM (bill of materials), inventory dan master schedule untuk mengetahui kebutuhan suatu part pada suatu waktu. Struktur MRP MRP membutuhkan data dari Bill

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi, tingkat persaingan yang terjadi di dunia industri mengalami peningkatan. Hal ini berarti tingkat persaingan tidak hanya terjadi antar perusahaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. Penta Sukses Mandiri adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang produksi serta penyaluran produk atau yang lebih sering disebut distribusi. Produk

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERENCANAAN

BAB IV ANALISIS DAN PERENCANAAN BAB IV ANALISIS DAN PERENCANAAN 4.1 Analisis Proses Bisnis Lama PTGI adalah sebuah divisi yang mempunyai otoritas penuh dalam mengelola usahanya di PGN yang mempunyai bisnis inti membuat jaringan pipa

Lebih terperinci

SAP FUNDAMENTALS LOGISTICS PART 2

SAP FUNDAMENTALS LOGISTICS PART 2 SAP FUNDAMENTALS LOGISTICS PART 2 Manufacture Proses produksi berdasarkan material (bahan baku) yang telah didapatkan pada proses procurement, dan berdasarkan Bill of Material (BOM) yang telah dibuat Hasil

Lebih terperinci

MILIK UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

MILIK UKDW BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengadaaan bahan baku utama yang cukup merupakan faktor penting yang menentukan kelancaran usaha produksi. Kekurangan bahan baku dapat berakibat terhentinya

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Efektivitas dan Efisiensi Aktivitas Pembelian, Penyimpanan, dan. Penjualan Barang Dagang pada PT Enggal Perdana

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Efektivitas dan Efisiensi Aktivitas Pembelian, Penyimpanan, dan. Penjualan Barang Dagang pada PT Enggal Perdana BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Evaluasi Efektivitas dan Efisiensi Aktivitas Pembelian, Penyimpanan, dan Penjualan Barang Dagang pada PT Enggal Perdana IV.1.1. Evaluasi atas Aktivitas Pembelian Barang Dagang Aktivitas

Lebih terperinci

ANALISIS DAN DESAIN SISTEM INFORMASI INVENTORY DI ASTI OFFSET

ANALISIS DAN DESAIN SISTEM INFORMASI INVENTORY DI ASTI OFFSET ANALISIS DAN DESAIN SISTEM INFORMASI INVENTORY DI ASTI OFFSET Ronaldus Soegiarto dan Mahendrawathi Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Email: ronaldus04@yahoo.com

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. KERANGKA PEMIKIRAN Persaingan antar perusahaan pada era sekarang tidak lagi terbatas secara lokal tetapi mencakup kawasan regional dan global. Oleh karena itu, setiap perusahaan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1. Identifikasi Proses Bisnis Yang Sedang Berjalan Sebelum menentukan proses bisnis yang baru, proses yang sedang berjalan harus dianalisa terlebih dahulu berikut masalah

Lebih terperinci

akan muncul pesan seperti contoh berikut. diterima Berikut adalah tampilan awal dari form Retur Pembelian:

akan muncul pesan seperti contoh berikut. diterima Berikut adalah tampilan awal dari form Retur Pembelian: L61 apakah penerimaan barang untuk kode order pembelian yang baru saja diterima barangnya sudah lengkap diterima atau belum, apabila sudah lengkap, maka status order pembelian di dalam basis data akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di gudang tidak mengalami penumpukan ataupun kekurangan.

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di gudang tidak mengalami penumpukan ataupun kekurangan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Agar memenuhi order dari konsumen, maka perusahaan perlu meningkatkan kinerjanya dalam perencanaan produksi. Salah satu bentuk perencanaan produksi adalah

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM INFORMASI BERJALAN

BAB 3 ANALISIS SISTEM INFORMASI BERJALAN BAB 3 ANALISIS SISTEM INFORMASI BERJALAN 3.1 Sejarah Perusahaan 3.1.1 Sejarah PT. Putra Mas Prima PT. Putra Mas Prima merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual beli bijih plastik yang berdiri

Lebih terperinci

APLIKASI JUST IN TIME PADA PERUSAHAAN INDONESIA

APLIKASI JUST IN TIME PADA PERUSAHAAN INDONESIA APLIKASI JUST IN TIME PADA PERUSAHAAN INDONESIA APLIKASI JUST IN TIME (JIT) PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA 1. Pengertian Metode Just In Time (JIT) Manufaktur JIT adalah suatu sistem berdasarkan tarikan permintaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Percetakan merupakan suatu proses memindahkan tulisan atau gambar pada kertas atau objek lainnya dengan melalui sebuah mesin cetak. Percetakan biasanya memproduksi

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. minimal harus dipenuhi sehingga aplikasi ini dapat berjalan dengan baik.

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. minimal harus dipenuhi sehingga aplikasi ini dapat berjalan dengan baik. BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Tahap implementasi program merupakan suatu tahap penerapan dari analisis dan desain sistem yang telah dibuat sebelumnya. Adapun kebutuhan sistem ini terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disepakati dengan pelanggan dan akan berakibat menurunnya customer

BAB I PENDAHULUAN. disepakati dengan pelanggan dan akan berakibat menurunnya customer BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perencanaan, pengendalian, dan pemeliharaan persediaan barang-barang fisik merupakan suatu masalah yang lazim di semua perusahaan. Untuk kebanyakan perusahaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, setiap pelaku bisnis pasti membutuhkan sebuah alat yang dapat mendukung kegiatan operasional bisnisnya dalam menjalankan usaha.

Lebih terperinci

Perhitungan Waktu Siklus Perhitungan Waktu Normal Perhitungan Waktu Baku Tingkat Efisiensi...

Perhitungan Waktu Siklus Perhitungan Waktu Normal Perhitungan Waktu Baku Tingkat Efisiensi... ABSTRAK Perusahaan Biskuit X merupakan perusahaan swasta yang berdiri pada tahun 1995 dan memproduksi biskuit marie yang dipasarkan ke beberapa kota di Pulau Jawa. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelancaran atau kecepatan penyelesaian berbagai pekerjaan apapun.

BAB I PENDAHULUAN. kelancaran atau kecepatan penyelesaian berbagai pekerjaan apapun. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peran Sistem Informasi dalam perusahaan sangatlah penting. Terutama untuk menunjang perusahaan tersebut agar lebih maju dan berkembang. Sistem yang bagus dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat suatu tuntutan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat suatu tuntutan dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat suatu tuntutan dalam kebutuhan hidup manusia. Hal ini juga membawa suatu kompetisi khususnya di dunia manufaktur.

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. diterapkan berdasarkan kebutuhan. Selain itu aplikasi ini akan dibuat sedemikian

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. diterapkan berdasarkan kebutuhan. Selain itu aplikasi ini akan dibuat sedemikian BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Sistem Tahap ini merupakan pembuatan perangkat lunak yang disesuaikan dengan rancangan atau desain sistem yang telah dibuat. Aplikasi yang dibuat akan

Lebih terperinci

TIN310 - Otomasi Sistem Produksi. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d

TIN310 - Otomasi Sistem Produksi. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d Materi #12 Pendahuluan 2 Manajemen manufaktur menggunakan komputer sebagai: Sistem konseptual (pada area persediaan: Titik pemesanan kembali, MRP, JIT). Elemen dalam sistem produksi fisik (CAD, CAM, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia akan teknologi semakin besar. Peran teknologi akhir-akhir ini sangat

BAB I PENDAHULUAN. manusia akan teknologi semakin besar. Peran teknologi akhir-akhir ini sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kebutuhan manusia akan teknologi semakin besar. Peran teknologi akhir-akhir ini sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dihadapi, misalnya dalam kegiatan berorganisasi. memproses data yang ada menjadi informasi yang tepat waktu (timeless), akurat

BAB 1 PENDAHULUAN. dihadapi, misalnya dalam kegiatan berorganisasi. memproses data yang ada menjadi informasi yang tepat waktu (timeless), akurat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini perkembangan dalam bidang teknologi informasi sangat pesat, khususnya pada bidang komputer. Teknologi informasi telah memainkan peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENJUALAN KREDIT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENJUALAN KREDIT BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menjelaskan hasil analisis terhadap jawaban teknik dari obseravasi, wawancara dan teknik pengumpulan data arsipakan di uraikan mengenai pembahasannya. Responden dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. termasuk dalam jadwal produksi induk. Contoh dari depended inventory adalah

BAB I PENDAHULUAN. termasuk dalam jadwal produksi induk. Contoh dari depended inventory adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Banyak operasi manufaktur terutama pada tingkat kecil dan menengah dimanajemeni secara kacau, persediaan menumpuk, suku cadang/persediaan dipercepat/diperbanyak

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 6.1.1 Keadaan Saat ini 6.1.1.1 Struktur Organisasi dan Job Description Saat Ini Struktur organisasi dan job description saat ini tergambar dalam bab 4 pengumpulan

Lebih terperinci

KONSEP SISTEM INFORMASI

KONSEP SISTEM INFORMASI CROSS FUNCTIONAL MANAGEMENTS Materi Bahasan Pertemuan 6 Konsep Dasar CRM Contoh Aliran Informasi CRM Konsep Dasar SCM Contoh Aliran Informasi SCM 1 CRM Customer Relationship Management Konsep Dasar CRM

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PERANCANGAN 4.1 Model Proses Pengadaan Bahan Baku Pada gambar 4.1 diperlihatkan alur Proses Pengadaan Bahan Baku yang sedang berlangsung. Pada gambar diperlihatkan proses yang

Lebih terperinci

Lampiran 1. Wawancara perancangan sistem penjualan PT. Master Centranusa Cemerlang

Lampiran 1. Wawancara perancangan sistem penjualan PT. Master Centranusa Cemerlang L 1 Lampiran 1 Wawancara perancangan sistem penjualan PT. Master Centranusa Cemerlang Tabel wawancara perancangan sistem penjualan terhadap manajer pemasaran Rusdi Manajer Pemasaran Tanggal Wawancara 19

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN 3.1 Tentang Perusahaan Berikut adalah gambaran tentang PT. Phanovindo Suksestama meliputi sejarah perusahaan, struktur, pembagian tugas dan tanggung jawab di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kecenderungan semakin maju dan berkembangnya perekonomian kota Malang membuat

BAB I PENDAHULUAN. Kecenderungan semakin maju dan berkembangnya perekonomian kota Malang membuat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecenderungan semakin maju dan berkembangnya perekonomian kota Malang membuat persaingan semakin ketat di seluruh sector industry dan masing-masing perusahaan dalam

Lebih terperinci

Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Masing-Masing Jabatan di. PT. Intan Suar Kartika. 1. Menentukan visi dan misi perusahaan

Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Masing-Masing Jabatan di. PT. Intan Suar Kartika. 1. Menentukan visi dan misi perusahaan L-1 Lampiran 1 Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab Masing-Masing Jabatan di PT. Intan Suar Kartika Di bawah ini diuraikan masing-masing pembagian tugas dan tanggung jawab tiap jabatan yaitu sebagi berikut:

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Informasi

Perancangan Sistem Informasi Perancangan Sistem Informasi Manager toko Serba Ada ingin memperbaiki sistem informasi yang ada pada tokonya. Untuk itu dia mulai menganalisis sistem informasi yang ada dimulai dari bagian order penjualan

Lebih terperinci

KEWIRAUSAHAAN III. Power Point ini membahas mata kuliah Kewirausahaan III. Endang Duparman. Modul ke: Arissetyanto. Fakultas SISTIM INFORMASI

KEWIRAUSAHAAN III. Power Point ini membahas mata kuliah Kewirausahaan III. Endang Duparman. Modul ke: Arissetyanto. Fakultas SISTIM INFORMASI Modul ke: 05 KEWIRAUSAHAAN III Power Point ini membahas mata kuliah Kewirausahaan III Fakultas SISTIM INFORMASI Endang Duparman Program Studi INFORMATIKA www.mercubuana.a.cid EVALUASI RENCANA PRODUKSI

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN. keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan. Sekarang komputer bukan

Bab 1 PENDAHULUAN. keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan. Sekarang komputer bukan Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi khususnya teknologi informasi berbasis komputer dewasa ini dirasa sangat pesat dan hal ini berpengruh terhadap aspek pekerjaan.

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS SISTEM

BAB III ANALISIS SISTEM BAB III ANALISIS SISTEM 3.1 Analisis Sistem yang Sedang Berjalan Prosedur merupakan tahapan dan langkah yang dilalui untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Setiap langkah dalam prosedur tersebut harus

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum CV. AWAM ELEKTRONIK. CV. AWAM ELEKTRONIK yang terletak di Jl Raya Babad 230,

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum CV. AWAM ELEKTRONIK. CV. AWAM ELEKTRONIK yang terletak di Jl Raya Babad 230, BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Gambaran Umum CV. AWAM ELEKTRONIK CV. AWAM ELEKTRONIK yang terletak di Jl Raya Babad 230, Lamongan adalah perusahaan yang bergerak di bidang penjualan barang elektronik.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PENGERTIAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured

Lebih terperinci

SIKLUS PRODUKSI. Tiga fungsi SIA dasar dalam siklus produksi, yaitu:

SIKLUS PRODUKSI. Tiga fungsi SIA dasar dalam siklus produksi, yaitu: SIKLUS PRODUKSI Siklus produksi adalah serangkaian kegiatan usaha yang berulang dan operasi pemrosesan data yang terkait berhubungan dengan pembuatan produk. Tiga fungsi SIA dasar dalam siklus produksi,

Lebih terperinci

BAB 3 ANALIS IS S IS TEM YANG BERJALAN

BAB 3 ANALIS IS S IS TEM YANG BERJALAN BAB 3 ANALIS IS S IS TEM YANG BERJALAN 3.1. Riwayat Perusahaan PT. Sinar Buana adalah sebuah perusahaan dagang yang bergerak dalam bidang distribusi permesinan dan bahan kimia industri. PT. Sinar Buana

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan terhadap supply chain proses interfacing antara perusahaan dengan supplier PT XYZ, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8).

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8). BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem informasi adalah data yang dikumpulkan, dikelompokkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah satu kesatuan informasi yang saling terkait dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Apotik Sinar Jaya yang bertempat di ruko Oktoiskandar No.2 Samarinda

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Apotik Sinar Jaya yang bertempat di ruko Oktoiskandar No.2 Samarinda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Apotik Sinar Jaya yang bertempat di ruko Oktoiskandar No.2 Samarinda awalnya adalah sebuah Toko Sinar Jaya yang didirikan pada tahun 1968 yang bertempat di

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Sistem. Nix Catering adalah perusahaan skala kecil yang bergerak di bidang jasa boga yang memiliki kapasitas produksi kurang lebih sekitar 10000 unit per bulan.

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN PEMBAGIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB Pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan pada PT. Intan Suar Kartika adalah sebagai berikut: 1. Dewan Komisaris a. Menentukan visi dan misi

Lebih terperinci

Nama : Totok Suprawoto NIM : Program : Sistem Informasi

Nama : Totok Suprawoto NIM : Program : Sistem Informasi *SISTEM INFORMASI PEMASARAN ALAT-ALAT MEDIS TERPADU Nama : Totok Suprawoto NIM : 04202055 Program : Sistem Informasi Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sistem yang dibahas dalam skripsi ini adalah

Lebih terperinci

TRANSACTION PROCESSING

TRANSACTION PROCESSING TRANSACTION PROCESSING Enterprise System : ENTERPRISE SYSTEM Pusat sistem suatu perusahaan yang menjamin informasi dapat disebarkan keseluruh fungsi bisnis dan semua level manajemen untuk mendukung berjalannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Restoran Bandung Indah Golf merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki

BAB I PENDAHULUAN. Restoran Bandung Indah Golf merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Restoran Bandung Indah Golf merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki oleh Bandung Indah Golf and Country Club. Restoran tersebut cukup memberikan kontribusi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PT Dan Liris merupakan industri yang bergerak di bidang textile yang memproduksi benang, kain dan juga pakaian jadi. Pada bagian textile khususnya divisi Weaving

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era yang sudah maju pada saat ini manusia sangat memerlukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era yang sudah maju pada saat ini manusia sangat memerlukan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era yang sudah maju pada saat ini manusia sangat memerlukan Teknologi dalam kehidupannya. Semakin pesatnya pertumbuhan teknologi, maka saat ini tercipta banyak

Lebih terperinci

BAB 3 DATA UNTUK PENJADWALAN JOB SHOP

BAB 3 DATA UNTUK PENJADWALAN JOB SHOP BAB 3 DATA UNTUK PENJADWALAN JOB SHOP Bab ini berisi data yang diperoleh dari perusahaan, seperti waktu kerja, pesanan, waktu proses tiap job pada tiap mesin, aliran proses dan rekaman jadwal produksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Manajemen Permintaan Pada dasarnya manajemen permintaan (demand management) didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin

Lebih terperinci

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) MODEL B. Nama : Edi Saputra Kelas : 5.01 Nim : Semester : V

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) MODEL B. Nama : Edi Saputra Kelas : 5.01 Nim : Semester : V KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI F A K U L T A S E K O N O M I Kampus : Jl. Politeknik Senggarang Tlp (0771) 7004643; Fax. (0771) 7038999 PO BOX 155 Tanjungpinang 29125

Lebih terperinci

Pembuatan Sistem Informasi Akuntansi, Penjualan, Pembelian dan Persediaan Barang Pada Toserba X

Pembuatan Sistem Informasi Akuntansi, Penjualan, Pembelian dan Persediaan Barang Pada Toserba X Pembuatan Sistem Informasi Akuntansi, Penjualan, Pembelian dan Persediaan Barang Pada Toserba X Fendy Jauwalatta Program Studi Teknik Informatika fendy.jauw@gmail.com Abstrak - Toserba X merupakan Toserba

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... i ABSTRACT... ii PERUNTUKAN... iii AYAT AL-QURAN... iv PEDOMAN PENGGUNAAN TUGAS AKHIR... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... x DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR GAMBAR... xv BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

BAB IV. Hasil Praktek Kerja dan Analisis. 4.2 Dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem pembelian impor komponen

BAB IV. Hasil Praktek Kerja dan Analisis. 4.2 Dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem pembelian impor komponen BAB IV Hasil Praktek Kerja dan Analisis 4.1 Sistem Komputerisasi yang digunakan Perusahaan ini telah menggunakan sistem yang terkomputerisasi sebagai kegiatan operasional kerja. Database yang digunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem kontrol persediaan dan produksi, dan MRP tipe 3 berhubungan dengan. sistem perencanaan manufaktur (Tersine, 1984).

BAB II LANDASAN TEORI. sistem kontrol persediaan dan produksi, dan MRP tipe 3 berhubungan dengan. sistem perencanaan manufaktur (Tersine, 1984). BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirement Planning (MRP) MRP dibagikan dan didefinisikan dalam 3 kategori, yaitu MRP tipe 1 berhubungan dengan sistem kontrol persediaan, MRP tipe 2 berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi

BAB I PENDAHULUAN. memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang, banyak perusahaan mengalami perkembangan dalam dunia bisnisnya dan berusaha untuk meningkatkan kinerjanya dengan memanfaatkan kecanggihan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju sehingga sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sekarang menjadi kenyataan, hal itu berdampak banyak

Lebih terperinci

BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI

BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI 4.1 Landasan Teori Jadwal induk produksi (master production schedule, MPS) merupakan gambaran atas periode perencanaan dari suatu permintaan, termasuk peramalan, backlog, rencana

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi saat ini, teknologi informasi serta persaingan yang kompetitif menjadi pilihan bagi perusahaan untuk mampu bertahan dan konsisten dalam

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS DAN USULAN PERBAIKAN

BAB 5 ANALISIS DAN USULAN PERBAIKAN BAB 5 ANALISIS DAN USULAN PERBAIKAN 5.. Analisis Prosedur pada Sistem Informasi Persediaan Berdasarkan Pengumpulan data pada bab 4 terdapat 6 prosedur Sistem Informasi Persediaan. Enam Prosedur Sistem

Lebih terperinci

Material Requirements Planning (MRP)

Material Requirements Planning (MRP) Material Requirements Planning (MRP) Pokok Bahasan: I. Tujuan MRP II. Input & Output MRP III. Contoh Logika MRP & Struktur Produk IV. Contoh MRP Kereta Dorong V. Sistem Informasi MR Kuliah ke-4: Rabu,

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SYSTEM PENCETAKAN PO ONLINE PADA PT. DASS. suatu perusahaan yang memproduksi minuman kaleng didirikan pada tahun 1970.

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SYSTEM PENCETAKAN PO ONLINE PADA PT. DASS. suatu perusahaan yang memproduksi minuman kaleng didirikan pada tahun 1970. 39 BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SYSTEM PENCETAKAN PO ONLINE PADA PT. DASS 3.1 Sejarah dan Struktur PT. DASS PT.DASS adalah industry yang bergerak untuk supplay kebutuhan dari suatu perusahaan yang memproduksi

Lebih terperinci

Prosedur Pemesanan dan Pembelian Persediaan Barang PT. Bondor Indonesia (bagian 1) Diagram Alir Aktivitas

Prosedur Pemesanan dan Pembelian Persediaan Barang PT. Bondor Indonesia (bagian 1) Diagram Alir Aktivitas Prosedur Pemesanan dan Pembelian Persediaan Barang PT. Bondor Indonesia (bagian 1) Diagram Alir Aktivitas Penanggung Requestor membuat purchase request untuk material yang diperlukan, kemudian diserahkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... vii. KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... xiii. DAFTAR GAMBAR... xv. DAFTAR LAMPIRAN... xix

DAFTAR ISI. ABSTRAK... vii. KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... xiii. DAFTAR GAMBAR... xv. DAFTAR LAMPIRAN... xix DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR GAMBAR... xv DAFTAR LAMPIRAN... xix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Perumusan

Lebih terperinci

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA DENGAN PERUSAHAAN. Tanya (T) : Aplikasi seperti apa yang dibutuhkan oleh PT. Yola Grafika?

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA DENGAN PERUSAHAAN. Tanya (T) : Aplikasi seperti apa yang dibutuhkan oleh PT. Yola Grafika? L1 LAMPIRAN HASIL WAWANCARA DENGAN PERUSAHAAN Tanya (T) : Aplikasi seperti apa yang dibutuhkan oleh PT. Yola Grafika? Jawab (J) : Kami membutuhkan aplikasi untuk kegiatan pembelian, produksi, inventory,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Gambaran Umum Pokok pembahasan pada tesis ini hanya akan difokuskan dalam rangka mengetahui bagaimana Janssen Cilag Indonesia dapat mencapai titik optimum di dalam manajemen persediaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberbagai bidang usaha dewasa ini sudah mulai terasa dampaknya termasuk

BAB I PENDAHULUAN. diberbagai bidang usaha dewasa ini sudah mulai terasa dampaknya termasuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi yang ditandai dengan kebebasan bersaing diberbagai bidang usaha dewasa ini sudah mulai terasa dampaknya termasuk terhadap dunia usaha di Indonesia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikelolah, maka tidak sedikit instansi maupun badan usaha yang ada

BAB I PENDAHULUAN. yang dikelolah, maka tidak sedikit instansi maupun badan usaha yang ada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dengan berkembangnya dunia teknologi khususnya komputer yang semakin baik halam hal perangkat lunak maupun perangkat keras dan pentingnya informasi yang dikelolah,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Hasil pengumpulan data yang didapat dari departemen PPIC (Production Planning and Inventory Control) PT. Pulogadung Pawitra Laksana (PT. PPL) adalah

Lebih terperinci

BAB 4 RANCANGAN SISTEM YANG DIUSULKAN

BAB 4 RANCANGAN SISTEM YANG DIUSULKAN BAB 4 RANCANGAN SISTEM YANG DIUSULKAN 4.1 Overview Sistem baru yang diusulkan untuk PT. Karya Mandiri Persada adalah bertujuan untuk meminimalisir masalah-masalah yang ada pada sistem yang sedang digunakan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. sistem aplikasi basis data pada CV. Lumbung Rejeki yaitu : Monitor : SVGA 17. : Optical Mouse.

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. sistem aplikasi basis data pada CV. Lumbung Rejeki yaitu : Monitor : SVGA 17. : Optical Mouse. BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Spesifikasi perangkat keras yang direkomendasikan untuk menerapkan sistem aplikasi basis data pada CV. Lumbung Rejeki

Lebih terperinci

BAB 3. perusahaan manufaktur sekaligus eksportir yang bergerak di bidang furniture. rotan, enceng gondok, pelepah pisang dan sebagainya.

BAB 3. perusahaan manufaktur sekaligus eksportir yang bergerak di bidang furniture. rotan, enceng gondok, pelepah pisang dan sebagainya. BAB 3 Analisis Sistem Pembelian Bahan Baku yang Sedang Berjalan 3.1 Gambaran Umum Perusahaan 3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. Siaga Ratindotama, yang didirikan pada tanggal 12 Maret 1992 di Jakarta

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Tujuan...

DAFTAR ISI BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Tujuan... DAFTAR ISI BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masalah... 2 1.3 Pembatasan Masalah... 2 1.4 Tujuan... 3 1.5 Sistematika Penulisan... 3 BAB II LANDASAN TEORI... 5 2.1 Logistik...

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. bab 1.2 diperlukan supaya pemecahan masalah selesai dengan berhasil.

BAB III METODE PENELITIAN. bab 1.2 diperlukan supaya pemecahan masalah selesai dengan berhasil. BAB III METODE PENELITIAN Langkah sistematika dalam rumusan masalah yang diuraikan pada sub bab 1.2 diperlukan supaya pemecahan masalah selesai dengan berhasil. 3.1 Analisa Sistem Sistem pengendalian persediaan

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI YANG BERJALAN. bergerak di bidang automotif. PT. Mercindo Autorama didirikan pada 22 April

BAB 3 ANALISIS PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI YANG BERJALAN. bergerak di bidang automotif. PT. Mercindo Autorama didirikan pada 22 April BAB 3 ANALISIS PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI YANG BERJALAN 3.1 Gambaran Umum PT. Mercindo Autorama 3.1.1 Latar Belakang Perusahaan PT. Mercindo Autorama adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang

Lebih terperinci

PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG

PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG Nama NPM : 32412666 Jurusan Pembimbing : Fairuz Inanda

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini banyak perusahaan yang berkembang dengan pesat, baik itu dalam usaha dagang, usaha jasa atau usaha manufaktur. Selain itu, banyak perusahaan yang baru

Lebih terperinci

BAB 4 EVALUASI HASIL PENELITIAN

BAB 4 EVALUASI HASIL PENELITIAN BAB 4 EVALUASI HASIL PENELITIAN 4.1 Evaluasi Kinerja Internal Audit 4.1.1 Pendekatan Balanced Scorecard Fungsi internal audit secara keseluruhan telah dapat memberikan manfaat bagi APP. Rincian dari hasil

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Kerja Praktek Dan Analisis

Bab IV Hasil Kerja Praktek Dan Analisis Bab IV Hasil Kerja Praktek Dan Analisis 1.1 Hasil Praktek Kerja Sistem Penjualan Kredit di PT Purinusa Ekapersada menggunakan SAP (System Application Product) dari Jerman. Tujuan dari perusahaan menggunakan

Lebih terperinci

Persyaratan Produk. I.1 Pendahuluan

Persyaratan Produk. I.1 Pendahuluan BAB I Persyaratan Produk I.1 Pendahuluan Perkembangan teknologi saat ini merupakan pemicu perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan performance perusahaan.

Lebih terperinci