6 PEMETAAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "6 PEMETAAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN"

Transkripsi

1 6 PEMETAAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN Hasil tangkapan di PPS Belawan idistribusikan dengan dua cara. Cara pertama adalah hasil tangkapan dari jalur laut didaratkan di PPS Belawan didistribusikan secara lokal, regional dan ekspor sesuai dengan permintaan pasar. Cara kedua yaitu PPS Belawan menerima hasil tangkapan dari daerah melalui jalur darat dan didistribusikan secara lokal, regional, dan impor. Berdasarkan kedua jenis distribusi ini didapat beberapa karakteristik penting yang dapat disajikan dalam bentuk peta tematik. Karakteristikkarakteristik tersebut antara lain: daerah pasar hasil tangkapan, kuantitatif hasil tangkapan, kualitas hasil tangkapan, dan harga hasil tangkapan. 6.1 Daerah Pasar Hasil Tangkapan PPS Belawan Sumatera Utara mendistribusikan hasil tangkapan yang didaratkan melalui laut oleh armada penangkapan ke daerah di Sumatera Utara maupun luar Sumatera Utara dengan menggunakan sarana transportasi darat berupa mobil pick up atau truk container dan alat transporasi laut berupa kapal pengangkut. Pelabuhan ini juga menerima distribusi hasil tangkapan dari daerah di luar Sumatera Utara. Hasil tangkapan yang didaratkan oleh armada penangkapan yang berbasis di PPS Belawan Sumatera Utara terlebih dahulu akan dijual di tangkahan dimana sudah ada kesepakatan antara juragan pemilik tangkahan dengan nelayan pemilik hasil tangkapan. setelah dijual ke tangkahan, maka pedagang-pedagang grosir pasar akan membeli hasil tangkapan di tangkahan. Lalu hasil tangkapan akan didistribusikan ke pasar. hasil tangkapan yang dikirim dari luar daerah Sumatera Utara ke PPS Belawan Sumatera Utara langsung dijual ke KUD yang merupakan pasar yang berada di PPS Belawan Sumatera Utara. Pasar yang menjadi daerah tujuan pendistibusian hasil tangkapan dari PPS Belawan Sumatera Utara terbagi menjadi pasar lokal, regional dan internasional.

2 Pasar lokal Hasil tangkapan untuk pasar lokal biasanya didistribusikan ke daerahdaerah yang termasuk Provinsi Sumatera Utara seperti Tebing Tinggi, Kisaran, Pematang Siantar, Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu, Sibolga, dan Kabanjahe. Pendistribusian hasil tangkapan ke pasar lokal dimana lokasi distribusinya adalah pasar-pasar tradisional di Medan. Pasar tradisional menerima pasokan hasil tangkapan dari PPS Belawan untuk memenuhi kebutuhan permintaan konsumen terhadap ikan. Hasil tangkapan yang dipasarkan berupa produk ikan segar. Produk ikan segar yang dominan dijual di pasar lokal adalah ikan tongkol, kembung, selayang, selar, cumi-cumi dan udang. Keenam komoditi perikanan ini dijual hampir di setiap pedagang yang ada di pasar tradisional Medan. Seiring dengan meningkatnya konsumsi ikan di Medan menyebabkan peningkatan permintaan produk perikanan laut. Masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan protein hewani salah satunya dari ikan dengan membelinya di pasar tradisional yang terdekat dengan hunian mereka. Lokasi pasar tradisional dan jumlah pedagang pengecer penjual ikan yang ada di pasar tradisional Medan merupakan indikator pasar terhadap peningkatan dan penurunan permintaan masyarakat terhadap ikan. Penurunan jumlah permintaan ikan akan mengurangi pendapatan yang diperoleh oleh nelayan, perusahaan bahkan penjual ikan. Lokasi pasar tradisional di Medan dapat dilihat pada Gambar 9 di bawah ini.

3 49 Gambar 9 Jumlah pedagang dan lokasi pasar tradisional di Medan tahun Pasar tradisional yang terdapat di Kota Medan berjumlah 8 pasar. Masing masing pasar tersebut memiliki jumlah pedagang pengecer sebagai berikut: Pusat Pasar berjumlah 35 orang, pasar Petisah berjumlah 20 orang, pasar Helvetia berjumlah 10 orang, pasar Simpang Limun berjumlah 8 orang, pasar Ramai berjumlah 14 orang, pasar Simpang Melati berjumlah 17 orang, pasar Sei Sikambing berjumlah 15 orang dan pasar Pagi berjumlah 8 orang Pasar regional Hasil tangkapan untuk pasar regional biasa beberapa langsung didistribusikan ke daerah tujuan pemasaran dan beberapa disimpan di cold storage. Hasil tangkapan biasanya didistribusikan ke daerah-daerah di luar Provinsi Sumatera Utara seperti Aceh, Padang, Riau, Jambi, Palembang, Lampung, Bengkulu, dan Jakarta. Hasil tangkapan yang biasa didistribusi ke pasar regional adalah selar, tongkol, selayang, kembung.

4 Pasar internasional Hasil tangkapan kualitas ekspor biasa beberapa langsung didistribusikan ke daerah tujuan pemasaran dalam bentuk ikan segar campur dan beberapa disimpan di cold storage yang dipasarkan dalam bentuk ikan beku. Hasil tangkapan biasanya didistribusikan ke negara-negara tetangga di dunia seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, Jepang, Saudi Arabia, Mesir, Eropa, dan Amerika Serikat. 6.2 Kuantitatif Hasil Tangkapan Pemetaan kuantitatif merupakan pemetaan volume hasil tangkapan di PPS Belawan Sumatera Utara terdiri dari volume hasil tangkapan berdasarkan pasar lokal, pasar regional dan pasar internasional. Pendistribusian hasil tangkapan ditampilkan dalam bentuk pemetaan berdasarkan daerah asal hasil tangkapan, daerah tujuan hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan Pasar lokal Hasil tangkapan yang terdapat di PPS Belawan didatangkan dari daerah lo juga dan didistribusikan di daerah lokal baik melalui jalur laut dan jalur laut. Penyalur yang ada di PPS Belawan membeli dari penjual dari daerah tersebut dan membawa hasil tangkapan tersebut ke Pusat Pemasaran Ikan di PPS untuk dijual lagi ke pengumpul untuk memenuhi permintaan ikan yang tidak dapat dipenuhi oleh PPS Belawan Sumatera Utara. Salah satu komoditi yang tidak dapat dipenuhi adalah ikan darat sehingga PPS Belawan Sumatera Utara perlu mendatangkan ikan darat dari daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Ikan-ikan yang didatangkan berasal dari daerah Sumatera Utara pada umumnya berbentuk produk ikan segar. Ikan-ikan darat yang sering dikomsumsi masyarakat seperti: selayang, manyung, tongkol, pari, cumi-cumi, kembung, dan lain-lain.

5 Gambar 10 Daerah lokal asal hasil tangkapan didistribusikan ke PPS Belawan 51

6 52 Tabel 10 Volume ikan asal hasil tangkapan daerah lokal pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pemasukan (ton)/tahun Kab. Deli Serdang Kab. Simalungun Kab. Asahan Kab. Toba Samosir Kab. Labuhan Batu Kab. Tapanuli Tengah Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 10 menunjukkan volume ikan yang didatangkan dari luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut daerah lokal pada tahun Ikan-ikan ini yang sangat dibutuhkan di pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Daerah lokal dengan volume pemasukan ikan lokal yang terbesar di PPS Belawan Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Tapanuli Tengah sebesar ton. Dimana beberapa hasil tangkapan yang dipasok ke PPS Belawan adalah pari dan tongkol pada tahun Peta penyebaran asal hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 10. Dalam pemetaan volume ikan asal hasil tangkapan dilakukan pemetaan berdasarkan daerah asal hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan yang didistribusikan dari daerah lokal ke PPS Belawan. Pembagian volume hasil tangkapan dibagi menjadi 3 dimana warna kuning menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Warna oranye menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Warna merah menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan ke PPS Belawan berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah yang ditunjukkan pada peta warna merah.

7 Gambar 11 Daerah lokal tujuan hasil tangkapan didistribusikan ke luar PPS Belawan 53

8 54 Hasil tangkapan yang terdapat di PPS Belawan Sumatera Utara didistribusikan ke daerah-daerah di Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Langkat, Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Daerah-daerah lokal dimana hasil tangkapan juga didistribusikan yaitu Aceh, Padang, Riau Jambi, Palembang, Jakarta. Negara yang mengekspor hasil tangkapan dari PPS Belawan Sumatera Utara adalah Malaysia, AS, Korea, Italia, Jepang, Thailand, Mesir, Saudi Arabia, Singapura, Eropa.Ikan-ikan yang didistribusikan dapat berupa ikan segar maupun ikan beku. Tabel 11 Volume ikan tujuan hasil tangkapan daerah lokal pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pengiriman (ton)/tahun Kab. Langkat Kab.Karo Kab. Simalungun Kab. Asahan Kab. Tapanuli Tengah Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 11 menunjukkan volume ikan yang didistribusi ke luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut daerah lokal pada tahun Ikan-ikan yang didistribusi dari daerah-daerah ini sangat dibutuhkan di pasar-pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Daerah lokal dengan volume ikan lokal yang terbesar di PPS Belawan Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Langkat sebesar ton. Dimana daerah ini merupakan daerah pegunungan yang tidak menghasilkan hasil tangkapan untuk dikonsumsi. Peta penyebaran tujuan hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 11. Dalam pemetaan volume ikan tujuan hasil tangkapan dilakukan pembagian volume hasil tangkapan dibagi menjadi 3 dimana warna kuning menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna oranye menunjukkan menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna merah menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan dari PPS Belawan ke Kabupaten Langkat yang ditunjukkan pada warna merah sebanyak ton. dan

9 Pasar regional Hasil tangkapan untuk pasar regional biasanya didistribusikan ke daerahdaerah yang termasuk Indonesia dan di luar Sumatera Utara. Hasil tangkapan ini biasanya didistribusikan ke Aceh, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Jakarta. Pendistribusian hasil tangkapan ke pasar regional merupakan pendistribusikan ke daerah-daerah yang menerima hasil tangkapan dari luar PPS Belawan dan didistribusikan ke luar PPS Belawan. Hasil tangkapan yang biasa dipasarkan ke pasar regional seperti tongkol, kembung, selayang, kerapu, kakap, udang, cumi-cumi, tenggiri dan lain-lain. Seiring dengan meningkatnya konsumsi ikan yang ada di Indonesia menyebabkan peningkatan produk perikanan laut Indonesia. Masyarakat Indonesia berusaha memenuhi kebutuhan protein hewani salah satunya produk perikanan yang dapat dikonsumsi setiap kalangan. Daerah-daerah asal hasil tangkapan dan tujuan hasil tangkapan ditampilkan dalam bentuk pemetaan.

10 Gambar 12 Daerah regional asal hasil tangkapan didistribusi ke PPS Belawan 56

11 57 Tabel 12 Volume ikan asal hasil tangkapan daerah regional pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pemasukan (ton)/tahun Aceh Sumatera Barat Bengkulu Lampung Jakarta Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 12 menunjukkan volume ikan yang didatangkan dari luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut daerah pada tahun Ikan-ikan ini yang sangat dibutuhkan di pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Daerah lokal dengan volume pemasukan ikan regional yang terbesar di PPS Belawan Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah Bengkulu sebesar ton. Dimana beberapa hasil tangkapan yang dipasok ke PPS Belawan adalah pari, manyung, dan kembung pada tahun Peta penyebaran asal hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 12. Dalam pemetaan volume ikan asal hasil tangkapan dilakukan pemetaan berdasarkan daerah asal hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan yang didistribusikan dari daerah lokal ke PPS Belawan. Pembagian volume hasil tangkapan dibagi menjadi 3 dimana warna kuning menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Warna oranye menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Warna merah menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan ton. Dimana hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan ke PPS Belawan berasal dari Bengkulu yang ditunjukkan pada peta warna merah.

12 Gambar 13 Daerah regional tujuan hasil tangkapan didistribusi ke luar Sumatera Utara 58

13 59 Tabel 13 Volume ikan tujuan hasil tangkapan daerah regional pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pengiriman (ton)/tahun Aceh Sumatera Barat Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Jakarta Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 13 menunjukkan volume ikan yang didistribusi ke luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut daerah regional pada tahun Ikan-ikan yang didistribusi dari daerah-daerah ini sangat dibutuhkan di pasar-pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Daerah regional dengan volume ikan didistribusi yang terbesar di PPS Belawan Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah Jakarta sebesar ton. Dimana daerah ini merupakan daerah yang mempunyai PPS terbesar di Indonesia yaitu PPS Nizam Zachman Jakarta. Peta penyebaran asal hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 13. Dalam pemetaan volume ikan tujuan hasil tangkapan dilakukan pemetaan berdasarkan daerah tujuan hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPS Belawan ke daerah lokal. Pembagian volume hail tangkapan dibagi menjadi 3 dimana warna kuning menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna oranye menunjukkan menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna merah menunjukkan bahwa hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Dimana hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan dari PPS Belawan ke Jakarta yang ditunjukkan pada warna merah sebanyak ton.

14 Pasar internasional Hasil tangkapan beberapa didistribusikan ke negara-negara lain. Hasil tangkapan ini biasanya didistribusikan ke Malaysia, Thailand, Singapura, Eropa, USA, Saudi Arabia, Mesir, Korea, dan Jepang. Volume ekspor hasil tangkapan terbagi dua berdasarkan bentuk yang diekspor yaitu volume ekspor produk ikan beku dan ikan segar campur. Tabel 14 Volume produksi ikan ekspor di PPS Belawan (satuan: ton) Tahun Jenis Ikan Segar Campur Beku Total Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Volume ikan yang diproduksi oleh PPS Belawan pada tahun 2008 mengalami perubahan yang positif dari tahun-tahun sebelumnya dimana jumlah ikan yang diproduksi dari PPS Belawan selalu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Volume ikan yang terbesar adalah volume ikan yang telah dibekukan dengan jumlah ton pada tahun 2008 dimana pada tahun ini volume ikan beku yang diekspor sangat meningkat. Hasil tangkapan yang diekspor ke negara lain seperti udang, cumi-cumi, kerapu, kakap, tongkol, dan lain-lain.

15 Gambar 14 Negara asal hasil tangkapan didistribusi ke PPS Belawan. 61

16 62 Tabel 14 Volume ikan asal hasil tangkapan negara internasional pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pemasukan (ton)/tahun Malaysia Cina 988 Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 14 menunjukkan volume ikan yang didatangkan dari luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut daerah internasional pada tahun Ikanikan ini yang sangat dibutuhkan di pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Daerah internasional dengan volume pemasukan ikan yang terbesar di PPS Belawan pada tahun 2008 adalah Malaysia sebesar ton. Dimana beberapa hasil tangkapan yang dipasok ke PPS Belawan adalah pari, manyung, dan kembung pada tahun Negara lain yang mengimpor hasil tangkapan ke PPS Belawan adalah Cina. Dimana Cina banyak menghasilkan ikan sardine yang juga dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Utara. Negara cina mengimpor hasil tangkapan ke PPS Belawan sebanyak 988 ton pada tahun Peta penyebaran asal hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 14 Dalam pemetaan volume ikan asal hasil tangkapan dilakukan pemetaan berdasarkan daerah asal hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan yang didistribusikan ke PPS Belawan. Pembagian volume hasil tangkapan dibagi menjadi 2 dimana warna oranye menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton Warna hijau menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan dari negara Malaysia ke PPS Belawan yang ditunjukkan pada warna hijau.

17 Gambar 15 Negara tujuan hasil tangkapan didistribusi ke negara lain 63

18 64 Tabel 15 Volume ikan tujuan hasil tangkapan negara internasional pada tahun 2008 Nama Daerah Volume Pengiriman (ton)/tahun Malaysia Eropa USA Korea Italia Jepang Thailand Mesir Saudi Arabia Singapura Sumber: UPT PPS Belawan, 2009 (data diolah kembali) Tabel 15 menunjukkan volume ikan yang didistribusi ke luar PPS Belawan Sumatera Utara menurut negara internasional pada tahun Ikan-ikan yang didistribusi dari negara-negara ini sangat dibutuhkan di pasar-pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Negara internasional dengan volume ikan didistribusi yang terbesar dari PPS Belawan Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah Eropa sebesar ton. Peta penyebaran asal hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 15. Dalam pemetaan volume ikan tujuan hasil tangkapan dilakukan pemetaan berdasarkan daerah tujuan hasil tangkapan dan volume hasil tangkapan yang didistribusikan ke negara lain. Pembagian volume hasil tangkapan dibagi menjadi 4 dimana warna hijau muda menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak 0 ton. Warna hijau tua menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna hijau menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Warna oranye menunjukkan hasil tangkapan yang didistribusikan sebanyak ton. Hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan dari PPS Belawan ke negara Eropa yang ditunjukkan pada warna oranye.

19 Proporsi Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang ada di PPS Belawan merupakan hasil tangkapan berasal dari laut dan didatangkan dari daerah-daerah lain melalui darat. Hasil tangkapan tersebut dipasarkan ke daerah-daerah dan negara-negara tujuan. Beberapa hasil tangkapan juga berasal dari daerah-daerah dan negara-negara lain. Hasil tangkapan berdasarkan daerah asal dan daerah tujuan dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah ini. Tabel 16 Proporsi hasil tangkapan di PPS Belawan Hasil Jumlah (ton) % lokal % regional % internasional Tangkapan Asal ,1 46,5 9,4 Tujuan ,3 30,4 38,4 Sumber: PPS Belawan 2009 (data diolah kembali) Hasil tangkapan yang ada di PPS Belawan berasal dari darat dan dari laut. Hasil tangkapan dari laut berasal dari penangkapan oleh kapal-kapal tangkahan yang ada di PPS Belawan. Dimana langsung didaratkan di tangkahan. Setiap tahunnya tangkahan PPS Belawan mengalami masa paceklik. Pada masa inilah diperlukan hasil tangkapan yang dipasok dari luar PPS Belawan baik dari pasar lokal, pasar regional maupun pasar internasional atau impor. Hal ini dilakukan agar PPS Belawan masih menjadi potensi perikanan terbesar yang ada di Indonesia. Pada tahun 2008, hasil tangkapan yang didaratkan di tangkahan PPS Belawan yang berasal dari luar PPS Belawan sebanyak ton. Dapat dilihat pada tabel 18 persentasi hasil tangkapan yang berasal dari lokal, regional dan internasional. Hasil tangkapan yang berasal dari luar PPS Belawan paling banyak dipasok dari pasar regional yaitu 46, 5 % dengan jumlah ton. Hasil tangkapan yang dipasok dari pasar lokal yaitu 44,1 % dengan jumlah ton dan pasar internasional dengan persentasi 9,4 % dengan jumlah ton. Hasil tangkapan yang dipasok adalah hasil tangkapan yang sulit diperoleh nelayan tangkahan PPS Belawan. Hasil tangkapan yang dipasok dari luar PPS Belawan seperti bawal, senangin, tongkol, lidah, dan udang.

20 66 65 Internasional 9% Regional 47% Lokal 44% Gambar 16 Proporsi hasil tangkapan berdasarkan daerah asal. Hasil tangkapan yang ada di PPS Belawan juga dipasarkan ke daerah-daerah atau negara-negara tujuan lain. Banyaknya hasil tangkapan yang ada di PPS Belawan menjadi daya tarik pedagang, distributor dan eksportir memasok hasil tangkapan dari PPS Belawan. Hasil tangkapan ini memiliki pasar tujuan hasil tangkapan berdasarkan lokal, regional, dan internasional (ekspor). Pada tahun 2008, hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan ke pasar internasional, hal ini dikarenakan PPS Belawan merupakan potensi perikanan yang terbesar di Sumatera Utara sehingga negara lain memasok hasil tangkapan dari PPS Belawan. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke pasar internasional sebanyak 38, 4 % dengan jumlah ton. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke pasar lokal memiliki persentasi 31,3 % dengan jumlah ton dan pasar regional memiliki persentasi 30,4 % dengan jumlah ton. Hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPS Belawan seperti: cumi-cumi, tenggiri, layur, kerapu, selayang, kembung, dan kakap.

21 67 65 Internasional 39% Lokal 31% Regional 30% Gambar 17 Proporsi hasil tangkapan berdasarkan daerah tujuan.

22 6.3 Kualitas Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang diekspor ke beberapa negara di dunia harus memenuhi standar kualitas sesuai permintaan negara tersebut dan memenuhi standar mutu organisasi atau ketentuan yang lainnya. PPS Belawan Sumatera Utara tidak mengeluarkan standarisasi mutu tertentu bagi hasil tangkapan yang akan diekspor. Namun produk yang akan diekspor sudah diuji kualitasnya oleh si pemilik/prusahaan terkait. Karakteristik standarisasi mutu hasil tangkapan memiliki perbedaan di tiap negara. Perbedaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga karakteristik standarisasi mutu yaitu ketat, kurang ketat dan tidak ketat. Standarisasi mutu hasil tangkapan yang berasal dari PPS Belawan Sumatera Utara tergolong ketat karena biasanya negara pembeli hasil tangkapan meminta dilakukan pengujian mutu tertentu yaitu uji logam berat dan pemberian laporan harian berupa catatan penanganan hasil tangkapan sejak ditangkap hingga hasil tangkapan tersebut diekspor ke negara pembeli. Contohnya adalah negara maju seperti negara Uni Eropa sangat memperhatikan kualitas hasil tangkapan yang akan dikomsumsi sehingga mereka menetapkan pengujian mutu yang ketat. Standarisasi mutu untuk hasil tangkapan dari PPS Belawan Sumatera Utara tergolong kurang ketat karena negara pembeli hanya meminta persyaratan uji mutu berupa bebas logam berat tanpa dibuat laporan harian. Negara-negara di Cina, Korea, Jepang tergolong ke dalam kelompok standarisasi mutu kelompok kedua. Kelompok yang ketiga yaitu tidak ada standarisasi mutu karena negara pembeli tidak memberikan persyaratan uji mutu sebelum ikan dijual namun mereka hanya memperhatikan tingkat kesegaran dan kondisi kelayakan hasil tangkapan untuk dikomsumsi. Biasanya negara-negara yang termasuk ke dalam kelompok ini merupakan negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara contoh negara pembeli hasil tangkapan di PPS Belawan Sumatera Utara yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Malaysia. Uji mutu dilakukan untuk produk-produk hasil tangkapan dalam keadaan segar maupun produk-produk olahan. Masing-masing negara mempunyai standar uji 68 65

23 mutu yang harus dilaksanakan. Negara-negara Uni Eropa memiliki beberapa prosedur uji mutu yang harus dilakukan terhadap hasil tangkapan dan produk olahannya sebelum diekspor ke negara-negara Uni Eropa. Produk-produk tersebut harus dibuat jurnal mutu dimulai dari penanganan di atas kapal hingga siap makan dan selama rantai pendistribusian harus dibuat laporan harian. Negara-negara Asia dan Amerika yang mengimpor hasil tangkapan dari Indonesia lebih tolerir ketika membeli hasil tangkapan Indonesia khususnya dari Sumatera Utara. Peta penyebaran negara tujuan hasil tangkapan didistribusikan berdasarkan karakteristik standarisasi mutu hasil tangkapan dari PPS Belawan dapat dilihat pada Gambar

24 Gambar 18 Peta karakteristik standarisasi mutu hasil tangkapan dari PPS Belawan. 70

25 Nilai Produksi (Rp) 6.4 Harga Hasil Tangkapan Harga produk hasil tangkapan yang diekspor atau dijual lokal bervariasi dan bergantung negara pembeli atau pasar yang meminta. Harga dasar dalam penjualan hasil tangkapan ke pasar lokal merupakan harga ikan hasil pelelangan kemudian harga akan disesuaikan dengan biaya lainnya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer. Harga ikan di gudang atau tangkahan PPS Belawan Sumatera Utara untuk ikan kerapu sebesar Rp /kg, ikan kakap Rp /kg, ikan cucut sebesar Rp /kg, ikan tongkol sebesar Rp /kg, cumi-cumi sebesar Rp /kg Tahun Ikan Selar Ikan Layang Cumi-Cumi Ikan Kembung Ikan Biji Nangka Gambar 19 Perkembangan harga komoditi utama hasil tangkapan Tahun Ketentuan harga di beberapa negara sangat dipengaruhi oleh kualitas produk perikanan. Semakin baik kualitasnya maka semakin tinggi harganya. Hingga saat ini pasar Jepang merupakan pasar yang paling tinggi dalam memberikan harga per jenis produk perikanan dibandingkan negara lain yang mengimpor hasil tangkapan dari PPS Belawan Sumatera Utara. Harga ini juga sebanding dengan penanganan dan pengujian mutu yang harus dilakukan untuk menjaga agar produk perikanan tersebut dalam keadaan yang baik dan layak komsumsi. Produk-produk ikan beku memiliki nilai ekspor yang tinggi dan permintaan yang tinggi pula disebabkan kualitas produk tersebut bisa dipertahankan dalam jangka waktu yang lama. Biasanya hasil tangkapan tersebut terlebih dahulu disimpan

26 di ruangan yang berinsulasi dengan suhu yang rendah. Fasilitas tangkahan di PPS Belawan Sumatera Utara yang mendukung pembuatan produk beku ini adalah cold storage yang dapat membekukan hasil tangkapan yang akan diekspor dengan cepat. Umumnya hasil tangkapan yang dibekukan adalah ikan tuna, udang, tongkol dan cumi. Pengangkutan produk ini dari PPS Belawan dilakukan dengan menggunakan kendaraan berpendingin atau menggunakan box yang diberi es. Perlakuan khusus saat ikan dibawa ke daerah tujuan ini juga mempengaruhi tinggi rendahnya harga penawaran yang ditetapkan oleh penjual. Ekspor produk ikan segar di PPS Belawan tidak terlalu beragam. Hasil tangkapan yang biasa diekspor adalah udang, tongkol, cumi-cumi dan sotong. Harga masing-masing produk perikanan tersebut juga bervariasi dan lebih rendah dibandingkan produk ikan beku. Penanganan yang dilakukan juga relatif murah walaupun masih harus lulus uji mutu. Pemetaan harga ikan beku dan ikan segar di PPS Belawan Sumatera Utara dapat dilihat di Gambar 20. Mutu hasil tangkapan dapat bertahan sesuai perlakuan atau penanganan. Hal ini yang dapat mempengaruhi tingkat harga suatu hasil tangkapan. Upaya mempertahankan mutu biasanya menggunakan peralatan dan bahan yang lebih banyak. Salah satu contohnya seperti untuk mempertahankan mutu dibutuhkan es. Hasil tangkapan agar lebih segar makanya dibutuhkan es yang banyak. Dalam hal penanganan, hasil tangkapan yang baik membutuhkan penanganan yang baik. Agar penanganan hasil tangkapan baik maka diperlukan tenaga kerja yang terampil sehingga hasil tangkapan yang akan dijual memiliki mutu dan fisik yang bagus. Sehingga tidak ada hasil tangkapan yang cacat. Penanganan yang diperhatikan dan peralatan yang digunakan untuk mempertahankan mutu ini membutuhkan biaya yang lebih besar. Hal ini yang menyebabkan harga juga menjadi lebih tinggi. Hasil tangkapan yang memiliki penanganan merupakan hasil tangkapan yang memiliki karakteristik mutu yang ketat. Negara yang memiliki karakteristik mutu yang ketat ini biasanya berlaku pada negara Eropa. Sehingga harga hasil tangkapan segar maupun hasil tangkapan dalam bentuk beku merupakan harga tertinggi yang dijual ke negara ekspor adalah negara Eropa

27 Dapat dilihat pada Gambar 18 dan Gambar 20 terdapat hubungan yang positif. Dimana harga ikan untuk Negara Eropa merupakan harga yang tertinggi. Dengan harga ikan segar US$/kg dan harga ikan beku sebesar 9 80 US$/kg. Hal ini disebabkan Negara Eropa memiliki karakteristik standarisasi mutu yang ketat dimana terdapatnya perhatian penanganan yang tinggi. Berbeda pula untuk Negara Jepang, USA, Korea, Mesir, dan Saudi Arabia yang memiliki standarisasi kurang ketat sehingga harga ikan pada negara tersebut lebih murah dibanding negara Eropa. Negara-negara bagian Asia Tenggara memiliki harga yang paling rendah dimana harga ikan terendah pada Negara Singapura yaitu 8 40 untuk ikan segar dan 7 80 untuk ikan beku. Negara-negara bagian Asia Tenggara memiliki harga paling rendah disebabkan negara ini tidak memiliki standarisasi dalam mutu hasil tangkapan dan penanganan tidak terlalu diperhatikan

28 Gambar 20 Volume ikan segar dan ikan beku didistribusikan dari PPS Belawan berdasarkan harga. 74

5 AKTIVITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

5 AKTIVITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN 5 AKTIVITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN Aktivitas pendistribusian hasil tangkapan dilakukan untuk memberikan nilai pada hasil tangkapan. Nilai hasil tangkapan yang didistribusikan sangat bergantung kualitas

Lebih terperinci

7 TINGKAT PEMANFAATAN KAPASITAS FASILITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

7 TINGKAT PEMANFAATAN KAPASITAS FASILITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN 7 TINGKAT PEMANFAATAN KAPASITAS FASILITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN 7.1 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tempat pelelangan ikan (TPI) merupakan tempat untuk melelang hasil tangkapan, dimana terjadi pertemuan

Lebih terperinci

5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE

5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE 50 5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE Pelabuhan Perikanan, termasuk Pangkalan Pendaratan Ikan (PP/PPI) dibangun untuk mengakomodir berbagai kegiatan para

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, kelestarian ekosistem, serta persatuan dan kesatuan. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pertanian merupakan suatu jenis produksi yang berlandaskan pada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pertanian merupakan suatu jenis produksi yang berlandaskan pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertanian merupakan suatu jenis produksi yang berlandaskan pada pertumbuhan tanaman, hewan, dan ikan. Pertanian juga berarti kegiatan pemanfaatan sumber daya

Lebih terperinci

6 EFISIENSI DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

6 EFISIENSI DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN 44 6 EFISIENSI DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN 6.1 Harga Hasil Tangkapan 6.1.1 Harga pembelian hasil tangkapan Hasil tangkapan yang dijual pada proses pelelangan di PPI Tegal Agung, Karangsong dan Eretan Kulon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kelautan dan perikanan terutama diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteran nelayan

Lebih terperinci

DISTRIBUSI DAN MARGIN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) DI TPI UJUNGBATU JEPARA

DISTRIBUSI DAN MARGIN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) DI TPI UJUNGBATU JEPARA AQUASAINS (Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan) DISTRIBUSI DAN MARGIN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) DI TPI UJUNGBATU JEPARA Trisnani Dwi Hapsari 1 Ringkasan Ikan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. yang signifikan, dimana pada tahun 2010 yaitu mencapai 8,58% meningkat. hingga pada tahun 2014 yaitu mencapai sebesar 9,91%.

BAB I. PENDAHULUAN. yang signifikan, dimana pada tahun 2010 yaitu mencapai 8,58% meningkat. hingga pada tahun 2014 yaitu mencapai sebesar 9,91%. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor perikanan memberikan kontribusi terhadap PDRB sektor pertanian di Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 s/d 2014 mengalami peningkatan yang signifikan, dimana

Lebih terperinci

Katalog BPS:

Katalog BPS: ht tp :// w w w.b p s. go.id Katalog BPS: 5402003 PRODUKSI PERIKANAN LAUT YANG DIJUAL DI TEMPAT PELELANGAN IKAN 2008 ISSN. 0216-6178 No. Publikasi / Publication Number : 05220.0902 Katalog BPS / BPS Catalogue

Lebih terperinci

Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan

Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, kelestarian ekosistem, serta persatuan dan kesatuan. Sedangkan sasaran program

Lebih terperinci

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2013, hlm ISSN

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2013, hlm ISSN Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2013, hlm 102 108 ISSN 0126-4265 Vol. 41. No.1 PERANAN TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) DALAM PEMASARAN IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) KEC.

Lebih terperinci

6 AKTIVITAS PENDARATAN DAN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI PANGKALAN-PANGKALAN PENDARATAN IKAN KABUPATEN CIAMIS

6 AKTIVITAS PENDARATAN DAN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI PANGKALAN-PANGKALAN PENDARATAN IKAN KABUPATEN CIAMIS 99 6 AKTIVITAS PENDARATAN DAN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI PANGKALAN-PANGKALAN PENDARATAN IKAN KABUPATEN CIAMIS 6.1 PPI Pangandaran 6.1.1 Aktivitas pendaratan hasil tangkapan Sebagaimana telah dikemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian memiliki beberapa sektor seperti peternakan, perikanan, perkebunan,

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian memiliki beberapa sektor seperti peternakan, perikanan, perkebunan, BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pertanian memiliki beberapa sektor seperti peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan dan tanaman pangan. Dari sektor peternakan ada beberapa bagian lagi dan salah

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Lokasi PPS Belawan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan terletak pada koordinat geografis 03º 47 00 LU dan 98 42 BT, posisi yang cukup strategis bila ditinjau dari

Lebih terperinci

BAB 4 GAMBARAN UMUM, PERKEMBANGAN HASIL PERIKANAN DAN PENERIMAAN RETRIBUSI PELELANGAN IKAN DI LOKASI PENELITIAN

BAB 4 GAMBARAN UMUM, PERKEMBANGAN HASIL PERIKANAN DAN PENERIMAAN RETRIBUSI PELELANGAN IKAN DI LOKASI PENELITIAN 39 BAB 4 GAMBARAN UMUM, PERKEMBANGAN HASIL PERIKANAN DAN PENERIMAAN RETRIBUSI PELELANGAN IKAN DI LOKASI PENELITIAN Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Baru berlokasi di dalam area Pelabuhan Perikanan Samudera

Lebih terperinci

5 KONDISI AKTUAL FASILITAS DAN PELAYANAN KEPELABUHANAN TERKAIT PENANGANAN HASIL TANGKAPAN

5 KONDISI AKTUAL FASILITAS DAN PELAYANAN KEPELABUHANAN TERKAIT PENANGANAN HASIL TANGKAPAN 62 5 KONDISI AKTUAL FASILITAS DAN PELAYANAN KEPELABUHANAN TERKAIT PENANGANAN HASIL TANGKAPAN Ikan yang telah mati akan mengalami perubahan fisik, kimiawi, enzimatis dan mikrobiologi yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap sektor perikanan dan kelautan terus ditingkatkan, karena sektor

BAB I PENDAHULUAN. terhadap sektor perikanan dan kelautan terus ditingkatkan, karena sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara kepulauan terluas di dunia, dengan panjang pantai 81.000 km serta terdiri atas 17.500 pulau, perhatian pemerintah Republik Indonesia terhadap sektor

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Topografis dan Luas Wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kota yang berada di selatan pulau Jawa Barat, yang jaraknya dari ibu kota Propinsi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. perairan darat yang sangat luas dibandingkan negara Asean lainnya. Sumber daya

PENDAHULUAN. perairan darat yang sangat luas dibandingkan negara Asean lainnya. Sumber daya PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia adalah Negara yang mempunyai wilayah perairan laut dan perairan darat yang sangat luas dibandingkan negara Asean lainnya. Sumber daya alam ini salah satunya menghasilkan

Lebih terperinci

ANALISA HARGA IKAN DI BEBERAPA PASAR TRADISIONAL WILAYAH BALI BULAN MARET Oleh : I Wayan Sudana SPi *

ANALISA HARGA IKAN DI BEBERAPA PASAR TRADISIONAL WILAYAH BALI BULAN MARET Oleh : I Wayan Sudana SPi * ANALISA HARGA IKAN DI BEBERAPA PASAR TRADISIONAL WILAYAH BALI BULAN MARET 2016 Oleh : I Wayan Sudana SPi * Diawali survey pengumpulan data harga ikan dan wawancara dengan pedagang di pasar tradisional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, isi kebun di Indonesia adalah berupa tanaman buah-buahan,

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, isi kebun di Indonesia adalah berupa tanaman buah-buahan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya, isi kebun di Indonesia adalah berupa tanaman buah-buahan, tanaman sayuran, tanaman hias dan wangi-wangian, tanaman bumbu masak, tanaman obat-obatan, dan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Perikanan Tangkap 4.1.1 Armada Kapal Perikanan Kapal penangkapan ikan merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam melakukan kegiatan penangkapan

Lebih terperinci

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP 30 5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP 5.1 Kapal-kapal Yang Memanfaatkan PPS Cilacap Kapal-kapal penangkapan ikan yang melakukan pendaratan seperti membongkar muatan

Lebih terperinci

TIPOLOGI WILAYAH HASIL PENDATAAN POTENSI DESA (PODES) 2014

TIPOLOGI WILAYAH HASIL PENDATAAN POTENSI DESA (PODES) 2014 BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 21/03/12/Th. XVIII, 2 Maret 2015 TIPOLOGI WILAYAH HASIL PENDATAAN POTENSI DESA (PODES) 2014 Pendataan Potensi Desa (Podes) dilaksanakan 3 kali dalam 10 tahun. Berdasarkan

Lebih terperinci

ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN

ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN 2 ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prospek pasar perikanan dunia sangat menjanjikan, hal ini terlihat dari kecenderungan

Lebih terperinci

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Indonesia memiliki potensi sapi potong yang cukup besar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Pertanian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan. pendapatan perkapita suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan. pendapatan perkapita suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang (Sukirno,1985). Sedangkan tujuan pembangunan

Lebih terperinci

6. KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA

6. KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA 66 6. KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA 6.1 Menganalisis tujuan pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta Menganalisis kinerja operasional pelabuhan perikanan diawali dengan

Lebih terperinci

BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA

BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016 TW I TW II TW III TWIV TOTAL PMDN 251,89 888,18 1.129,52-2.269,60 PMA 853,68 4.448,10 3.821,68-9.123,46 TOTAL 1.105,57 5.336,28 4.951,20-11.393,06

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Potensi sumber daya kelautan dan perikanan menyebabkan munculnya suatu aktivitas atau usaha di bidang perikanan sesuai dengan kondisi lokasi dan fisiknya. Banyak penduduk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tanaman dagang yang sangat menguntungkan, dengan masukan (input) yang

I. PENDAHULUAN. tanaman dagang yang sangat menguntungkan, dengan masukan (input) yang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kacang tanah merupakan tanaman palawija yang secara ekonomis berperan penting bagi kehidupan manusia. Selain itu, juga dapat dijadikan bahan baku industri. Sebagai sumber

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PENDISTRIBUSIAN IKAN SEGAR DAN OLAHAN DARI PANGKALAN PENDARATAN IKAN CITUIS TANGERANG

KARAKTERISTIK PENDISTRIBUSIAN IKAN SEGAR DAN OLAHAN DARI PANGKALAN PENDARATAN IKAN CITUIS TANGERANG KARAKTERISTIK PENDISTRIBUSIAN IKAN SEGAR DAN OLAHAN DARI PANGKALAN PENDARATAN IKAN CITUIS TANGERANG Oleh : FIRMAN SANTOSO C54104054 DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan Pengembangan merupakan suatu istilah yang berarti suatu usaha perubahan dari suatu yang nilai kurang kepada sesuatu yang nilai baik. Menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Unisba.Repository.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Unisba.Repository.ac.id BAB I PENDAHULUAN Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT di Bumi ini tiada lain untuk kesejahteraan umat manusia dan segenap makhluk hidup. Allah Berfirman dalam Al-Qur an Surat An-Nahl, ayat 14 yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sejarah ekonomi dan selalu menarik untuk dibicarakan. Pengangguran adalah

BAB I PENDAHULUAN. sejarah ekonomi dan selalu menarik untuk dibicarakan. Pengangguran adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengangguran merupakan suatu topik yang tidak pernah hilang dalam sejarah ekonomi dan selalu menarik untuk dibicarakan. Pengangguran adalah istilah bagi orang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kelautan yang memiliki banyak kekayaan hayati. Tiga perempat dari luas wilayah Indonesia atau sekitar 5.8 juta km² berupa laut. Garis pantai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Saat ini perikanan tangkap di Indonesia telah mengalami gejala padat tangkap

I. PENDAHULUAN. Saat ini perikanan tangkap di Indonesia telah mengalami gejala padat tangkap I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini perikanan tangkap di Indonesia telah mengalami gejala padat tangkap atau overfishing, hal tersebut mengakibatkan timbulnya degradasi pada sistem laut, punahnya

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 BPS PROVINSI SUMATERA UTARA INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 No. 29/05/12/Thn. XX, 5 Mei 2017 IPM PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016 MEMASUKI KATEGORI TINGGI Pembangunan manusia di Sumatera

Lebih terperinci

Provinsi Sumatera Utara: Demografi

Provinsi Sumatera Utara: Demografi Fact Sheet 02/2015 (28 Februari 2015) Agrarian Resource Center ARC Provinsi Sumatera Utara: Demografi Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi peringkat ke-4 di Indonesia dari sisi jumlah penduduk. Pada

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 31 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif (Umar, 2004). Desain ini bertujuan untuk menguraikan karakteristik

Lebih terperinci

DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN SUMATERA UTARA INDAH KHARINA BANGUN

DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN SUMATERA UTARA INDAH KHARINA BANGUN DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN SUMATERA UTARA INDAH KHARINA BANGUN MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 25 3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah di PPI Muara Angke Jakarta karena PPI Muara angke berperan penting dalam pemasaran hasil tangkapan di Jakarta (Gambar 1).

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia. Sektor Perikanan dan Kelautan adalah salah satu sektor andalan yang dijadikan pemerintah sebagai salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu daerah pada dasarnya merupakan kegiatan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu daerah pada dasarnya merupakan kegiatan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi suatu daerah pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan berkesinambungan yang dijalankan secara bersama-sama baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Udang merupakan salah satu komoditas primadona di sub sektor perikanan yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Udang merupakan salah satu komoditas primadona di sub sektor perikanan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Udang merupakan salah satu komoditas primadona di sub sektor perikanan yang di harapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar di luar negeri yang cenderung

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Agustus 2014, neraca perdagangan Thailand dengan

Lebih terperinci

Musrenbang RKPD Provinsi Sumatera Utara 2013 Hotel Santika, Selasa 2 April 2013 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA

Musrenbang RKPD Provinsi Sumatera Utara 2013 Hotel Santika, Selasa 2 April 2013 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA Musrenbang RKPD Provinsi Sumatera Utara 2013 Hotel Santika, Selasa 2 April 2013 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA UTARA 1 PERTUMBUHAN EKONOMI, STRUKTUR PEREKONOMIAN DAN PDRB PERKAPITA EKSPOR, IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN JANUARI 2013 MENCAPAI 1.153,70 JUTA DOLLAR AMERIKA

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN JANUARI 2013 MENCAPAI 1.153,70 JUTA DOLLAR AMERIKA BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 14/03/31/Th. XV, 1 Maret 2013 EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN JANUARI 2013 MENCAPAI 1.153,70 JUTA DOLLAR AMERIKA Nilai ekspor non migas melalui

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN ANTARA PPS NIZAM ZACHMAN DENGAN PPI MUARA ANGKE CHITRA NOVIA ANANDHITA

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN ANTARA PPS NIZAM ZACHMAN DENGAN PPI MUARA ANGKE CHITRA NOVIA ANANDHITA PERBANDINGAN KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN ANTARA PPS NIZAM ZACHMAN DENGAN PPI MUARA ANGKE CHITRA NOVIA ANANDHITA DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

Lebih terperinci

Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju

Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju Tema I Potensi dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju Peta Konsep Potensi lokasi Potensi Sumber Daya Alam Potensi Sumber Daya Manusia Potensi Sumber Daya Manusia Upaya Pemanfaatan Potensi lokasi, Sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan bagi

I. PENDAHULUAN. nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan bagi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan bagi nelayan / petani ikan, sumber protein

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Pengertian distribusi

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Pengertian distribusi 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi 2.1.1 Pengertian distribusi Salim (2000) mengemukakan bahwa dalam distribusi terdapat dua kategori, yaitu: 1. Pemindahan bahan dan hasil produksi dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dirubah yakni dari ikan yang dijual sendiri-sendiri menjadi ikan dijual secara lelang

BAB I PENDAHULUAN. dirubah yakni dari ikan yang dijual sendiri-sendiri menjadi ikan dijual secara lelang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara tradisional setelah nelayan memperoleh hasil ikan tangkapan, mereka lalu mencoba menjual sendiri kepada konsumen setempat melalui cara barter atau dengan nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena pupuk kimia lebih mudah diperoleh dan aplikasinya bagi tanaman

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena pupuk kimia lebih mudah diperoleh dan aplikasinya bagi tanaman BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan pupuk pada tanah pertanian terutama pupuk kandang telah di mulai berabad abad yang silam sesuai dengan sejarah pertanian. Penggunaan senyawa kimia sebagai pupuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lautnya, Indonesia menjadi negara yang kaya akan hasil lautnya, khususnya di

BAB I PENDAHULUAN. lautnya, Indonesia menjadi negara yang kaya akan hasil lautnya, khususnya di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara maritim. Sebagai wilayah dengan dominasi lautnya, Indonesia menjadi negara yang kaya akan hasil lautnya, khususnya di bidang perikanan dan kelautan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Termasuk yang menguntungkan kan adalah jamur konsumsi. konsumsi atau sering dikenal dengan istilah mushroom merupakan bahan

BAB I PENDAHULUAN. Termasuk yang menguntungkan kan adalah jamur konsumsi. konsumsi atau sering dikenal dengan istilah mushroom merupakan bahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diseluruh dunia ada ribuan spesies jamur yang tersebar dari wilayah subtropis yang cenderung dingin sampai kawasan tropis yang cukup hangat. Dari ribuan jenis tersebut

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lingkungan Industri Perusahaan Ekspor Pembekuan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lingkungan Industri Perusahaan Ekspor Pembekuan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lingkungan Industri Perusahaan Ekspor Pembekuan Menurut Rosyidi (2007), dalam melakukan kegiatan ekspor suatu perusahaan dapat menentukan sendiri kebijakan mengenai pemasaran

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JULI 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JULI 2015 PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 52/09/16/Th.XVIII, 01 September PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 1.

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 1. BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara maritim dengan luas wilayah laut

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 009. Tempat pelaksanaan kegiatan penelitian di Pelabuhan Perikanan Samudera

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 31 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kota Jakarta Utara Keadaan umum Kota Jakarta Utara dikemukakan dalam subbab 4.1.1 sampai dengan 4.1.3 di bawah ini ; meliputi keadaan geografis, keadaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Kota Serang 4.1.1 Letak geografis Kota Serang berada di wilayah Provinsi Banten yang secara geografis terletak antara 5º99-6º22 LS dan 106º07-106º25

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN OKTOBER 2016

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN OKTOBER 2016 PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No.69/12/16/Th.XVIII, 01 Desember PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Perkembangan masyarakat yang semakin bertambah tidak hanya dari segi

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Perkembangan masyarakat yang semakin bertambah tidak hanya dari segi PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan masyarakat yang semakin bertambah tidak hanya dari segi populasi tetapi juga dari segi pengetahuan akan kesehatan menyebabkan pemenuhan akan kebutuhan protein asal

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR NELAYAN JAWA TIMUR BULAN JANUARI 2012

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR NELAYAN JAWA TIMUR BULAN JANUARI 2012 BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 11//35/Th.X, 1 Februari 1 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR NELAYAN JAWA TIMUR BULAN JANUARI 1 Nilai Tukar Nelayan (NTN) Jawa Timur Bulan Januari 1 naik sebesar,5 persen. Nilai Tukar

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN MARET 2017

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN MARET 2017 PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 23/05/16/Th.XIX, 02 Mei PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No.21/04/Th.XIV, 1 April PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI MENCAPAI US$14,40 MILIAR Nilai ekspor Indonesia mencapai US$14,40

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 104 0 50 sampai 109 0 30 Bujur Timur dan 0 0 50 sampai 4 0 10 Lintang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. komoditas ini diminati sebagai lobster hias. Beberapa tahun belakangan,

I. PENDAHULUAN. komoditas ini diminati sebagai lobster hias. Beberapa tahun belakangan, I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lobster air tawar (LAT) saat ini mulai marak dibudidayakan di Indonesia. Awalnya, komoditas ini diminati sebagai lobster hias. Beberapa tahun belakangan, pembudidaya mulai

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL 2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 48/05/Th. XVIII, 15 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA APRIL A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR APRIL MENCAPAI US$13,08 MILIAR Nilai ekspor Indonesia April mencapai US$13,08

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM EKSPOR UDANG INDONESIA

V GAMBARAN UMUM EKSPOR UDANG INDONESIA V GAMBARAN UMUM EKSPOR UDANG INDONESIA 5.1. Perdagangan Internasional Hasil Perikanan Selama lebih dari beberapa dekade ini, sektor perikanan dunia telah banyak mengalami perkembangan dan perubahan. Berdasarkan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

ICASEPS WORKING PAPER No. 72

ICASEPS WORKING PAPER No. 72 ICASEPS WORKING PAPER No. 72 PEMASARAN IKAN LAUT SEGAR DI PASAR TRADISIONAL DKI JAKARTA Tjetjep Nurasa Pebruari 2005 Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (Indonesian Center for Agricultural

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Sistem dan Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah Pola saluran pemasaran bawang merah di Kelurahan Brebes terbentuk dari beberapa komponen lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara agraris yang beriklim tropis dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat cerah. Hortikultura

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. jangkauan pemasaran mencakup dalam (lokal) dan luar negeri (ekspor). Kopi

I. PENDAHULUAN. jangkauan pemasaran mencakup dalam (lokal) dan luar negeri (ekspor). Kopi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kopi merupakan salah satu produk pertanian unggulan Provinsi Lampung dengan jangkauan pemasaran mencakup dalam (lokal) dan luar negeri (ekspor). Kopi juga merupakan tanaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk perikanan Indonesia. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Amerika Serikat lebih besar daripada

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 33/06/12/Th. XIX, 01 Juni 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA

BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA NILAI REALISASI INVESTASI PENANAMAN MODAL PMDN/PMA DI PROVINSI SUMATERA UTARA PERIODE TRIWULAN II TAHUN 2016 BADAN PENANAMAN MODAL DAN PROMOSI PROVINSI SUMATERA UTARA PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI PENANAMAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN AGUSTUS 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN AGUSTUS 2015 PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 56/10/16/Th.XVIII, 01 Oktober PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JUNI 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JUNI 2015 PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., 2007 No. 42/08/16/Th.XVIII, 01 Agustus PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN OKTOBER 2012 MENCAPAI 1.052,95 JUTA DOLLAR AMERIKA

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN OKTOBER 2012 MENCAPAI 1.052,95 JUTA DOLLAR AMERIKA BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 53/12/31/Th. XIV, 3 Desember 2012 EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN OKTOBER 2012 MENCAPAI 1.052,95 JUTA DOLLAR AMERIKA Nilai ekspor non migas

Lebih terperinci

Status Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI 571) Laut Andaman dan Selat Malaka 1

Status Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI 571) Laut Andaman dan Selat Malaka 1 Status Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI 571) Laut Andaman dan Selat Malaka 1 Oleh: Yudi Wahyudin 2 Abstrak Wilayah Pengelolaan Perikanan Repubik Indonesia (WPP RI)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. juta km2 terdiri dari luas daratan 1,9 juta km2, laut teritorial 0,3 juta km2, dan

BAB I PENDAHULUAN. juta km2 terdiri dari luas daratan 1,9 juta km2, laut teritorial 0,3 juta km2, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah laut yang lebih luas daripada luas daratannya. Luas seluruh wilayah Indonesia dengan jalur laut 12 mil adalah lima

Lebih terperinci

6 EFISIENSI PENDARATAN DAN PENDITRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE

6 EFISIENSI PENDARATAN DAN PENDITRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE 67 6 EFISIENSI PENDARATAN DAN PENDITRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE 6.1 Efisiensi Teknis Pendaratan Hasil Tangkapan Proses penting yang perlu diperhatikan setelah ikan ditangkap adalah proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Bagi Indonesia, kemiskinan sudah sejak lama menjadi persoalan

BAB I PENDAHULUAN. meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Bagi Indonesia, kemiskinan sudah sejak lama menjadi persoalan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hampir disetiap negara berkembang kemiskinan selalu menjadi trending topic yang ramai dibicarakan. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menempati urutan

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA (PPSNZJ) SEBAGAI PUSAT PEMASARAN PERIKANAN. Oleh:

STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA (PPSNZJ) SEBAGAI PUSAT PEMASARAN PERIKANAN. Oleh: MarineFisheries ISSN 2087-4235 Vol. 2, No. 2, November 2011 Hal: 129-139 STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA (PPSNZJ) SEBAGAI PUSAT PEMASARAN PERIKANAN (Development

Lebih terperinci

6 BESARAN KERUGIAN NELAYAN DALAM PEMASARAN TANPA LELANG

6 BESARAN KERUGIAN NELAYAN DALAM PEMASARAN TANPA LELANG 66 6 BESARAN KERUGIAN NELAYAN DALAM PEMASARAN TANPA LELANG Hubungan patron-klien antara nelayan dengan tengkulak terjadi karena pemasaran hasil tangkapan di TPI dilakukan tanpa lelang. Sistim pemasaran

Lebih terperinci

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 56 5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 5.1 Bentuk Keterlibatan Tengkulak Bentuk-bentuk keterlibatan tengkulak merupakan cara atau metode yang dilakukan oleh tengkulak untuk melibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan Perikanan, terlebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan Perikanan, terlebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permintaan ikan yang meningkat tentunya memiliki makna positif bagi pengembangan Perikanan, terlebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki potensi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang memiliki peran penting bagi suatu negara. Perdagangan internasional memberikan manfaat berkaitan dengan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU JUNI 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU JUNI 2015 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI No. 54/07/21/Th. X, 1 Juli PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU JUNI Pada Juni NTP di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 98,93 mengalami penurunan sebesar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan sektor kelautan Indonesia yang cukup signifikan dan Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas yang dikelilingi oleh perairan dan Indonesia

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INFLASI, EKSPOR-IMPOR, KUNJUNGAN WISMAN, TINGKAT PENGHUNIAN KAMAR HOTEL, TRANSPORTASI, NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH.

PERKEMBANGAN INFLASI, EKSPOR-IMPOR, KUNJUNGAN WISMAN, TINGKAT PENGHUNIAN KAMAR HOTEL, TRANSPORTASI, NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH. BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 35/06/12/Thn.XVII, 02 Juni 2014 PERKEMBANGAN INFLASI, EKSPOR-IMPOR, KUNJUNGAN WISMAN, TINGKAT PENGHUNIAN KAMAR HOTEL, TRANSPORTASI, NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR KALIMANTAN BARAT MARET 2010

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR KALIMANTAN BARAT MARET 2010 BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR KALIMANTAN BARAT MARET No. 20/05/61/Th. XIII, 3 Mei Ekspor Kalimantan Barat pada bulan et mengalami peningkatan sebesar 14,48 persen dibanding

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lagi sayuran dan buah buahan, karena kedua jenis bahan makanan ini banyak

BAB I PENDAHULUAN. lagi sayuran dan buah buahan, karena kedua jenis bahan makanan ini banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu perhatian masyarakat sehubungan dengan meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan adalah usaha untuk mengkonsumsi lebih banyak lagi sayuran dan buah buahan,

Lebih terperinci

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5.1 Sumberdaya Ikan Sumberdaya ikan (SDI) digolongkan oleh Mallawa (2006) ke dalam dua kategori, yaitu SDI konsumsi dan SDI non konsumsi. Sumberdaya ikan konsumsi

Lebih terperinci