PUISI SISWA KELAS VIII A MTS AL-KHAIRIYAH TEGALLINGGAH: SEBUAH ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PUISI SISWA KELAS VIII A MTS AL-KHAIRIYAH TEGALLINGGAH: SEBUAH ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI"

Transkripsi

1 PUISI SISWA KELAS VIII A MTS AL-KHAIRIYAH TEGALLINGGAH: SEBUAH ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI Solehatul Kamilah 1, Gede Gunatama 1, Ida Bagus Sutresna 2 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia 1, 2, 3 Abstrak Penelitian deskriptif ini bertujuan (1) mendeskripsikan struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegallinggah dan (2) mendeskripsikan struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah yang berjumlah 28 siswa. Objek penelitian ini adalah struktur fisik dan struktur batin puisi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) berdasarkan hasil analisis struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, terdapat 1 (4%) puisi yang ideal, yakni memenuhi keenam struktur fisik puisi yang ada, 12 (43%) puisi yang hanya terdiri atas lima struktur fisik puisi, 13 (46%) puisi hanya terdiri atas empat struktur fisik puisi, dan 2 (7%) puisi hanya terdiri atas tiga struktur fisik puisi, dan (2) berdasarkan hasil analisis struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegallinggah, ke-28 (100%) puisi yang telah dibuat oleh siswa sudah memenuhi keempat struktur batin puisi yang ada. Kata kunci: puisi, struktur fisik, struktur batin Abstract This descriptive research is aimed at (1) describing tthe surface structure of the poetry of students at class VIII A of MTs Al-Khairiyah Tegallinggah and (2) describing the deep structure of the poetry of students at class VIII A of MTs Al-Khairiyah Tegallinggah. The subjects of this research were 28 students at class VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah. The objects of the research were the poetry surface and deep structure. The data collection was done by using documentation method. The data was analyzed by using descriptive qualitative technique. The results of this research were (1) based on the poetry surface structure, students poetry at VIII A of MTs Al-Khairiyah Tegallinggah can be categorized as good since there was 1 (4%) ideal poetry, which required all six poetry surface structures, 12 (3%) poetry consisted of only five poetry surface structures, 13 (46%) poetry consisted of only four poetry surface structures, and 2 (7%) poetry only had three poetry surface structure, (2) based on the poetry deep structure, the students poetry at VIII A of MTs Al-Khairiyah Tegallinggah can be categorized as very good because all 28 (100%) of poetry that had been created by students contains all the poetry deep structures, which required all fourth the deep structures of the poetry. Keywords: poetry, surface structure, deep structure

2 PENDAHULUAN Penelitian ini mengacu pada KTSP karena peneliti melakukan penelitian pada siswa kelas VIII di MTs Al-Khairiyah Tegalinggah, yang mana sekolah tersebut masih menggunakan KTSP. Dalam KTSP, mata pelajaran Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Standar Isi pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Kurikulum ini juga memuat Standar Kompetensi Sastra Indonesia pada keterampilan menulis, yaitu menggunakan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan apresiatif yang menghasilkan transformasi karya sastra, kritik dan esai, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, atau naskah drama. Pada keterampilan kesusastraan, siswa dituntut mampu menguasai komponen kesastraan, genre sastra dan perkembangannya untuk mengapresiasi karya sastra berbentuk puisi, prosa, dan drama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembelajaran sastra tidak hanya memberikan siswa pengetahuan tentang kesastraan, seperti teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra, tetapi juga mampu melakukan apresiasi sastra. Depdikbud (2001:11) menjelaskan bahwa kompetensi yang diharapkan dapat diperoleh siswa dalam proses pembelajaran sastra, antara lain mampu mengapresiasi sastra dan berekspresi satra melalui kegiatan mendengarkan, menonton, membaca, dan melisankan hasil sastra berupa dongeng, puisi, dan drama pendek; memahami pengertian dan ciri hasil sastra, serta menuliskan karya cipta dalam bentuk prosa dan puisi. Menulis puisi adalah suatu kegiatan intelektual, yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, dan peka perasaannya (Jabrohim dkk., 2003:31). Tarigan (1994:56) menegaskan bahwa keterampilan menulis tidak secara otomatis dikuasai siswa, akan tetapi harus melalui pelatihan dan praktik yang banyak dan teratur. Begitu juga dalam menulis puisi. Menulis puisi bukanlah suatu hal yang mudah, diperlukan pelatihan dan praktik yang banyak dan teratur untuk bisa menulis puisi yang berkualitas. Dalam menulis puisi bukan semata-mata menitikberatkan pada keindahan bahasa, melainkan ada beberapa unsur lain yang perlu diperhatikan agar dapat dikatakan sebagai puisi yang berkualitas atau puisi yang baik. Gunatama (2010:218) menyatakan bahwa karya sastra hanya bagus dalam salah satu aspeknya, belum dapat dikatakan sebagai sastra yang berkualitas atau sastra yang baik. Begitu pula sebaliknya, karya sastra yang tidak mudah dipahami oleh setiap orang, tidak bisa langsung disebut sebagai sastra yang kurang berkualitas. Puisi adalah struktur atau tanda-tanda yang bermakna (Pradopo dalam Gede Gunatama, 2010:208). Dalam pengertian struktur, puisi itu terdiri atas unsur-unsur yang tertata atau terstruktur, yakni struktur fisik dan batin puisi. Waluyo (dalam Gede Gunatama, 2010:15) juga menegaskan bahwa puisi merupakan salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa, yakni dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. Struktur fisik puisi berkaitan dengan bentuk, sedangkan struktur batin puisi berkaitan dengan isi atau makna yang mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair. Waluyo (1995:66-101) menyebutkan bahwa struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), versifikasi, dan tata wajah. Selain itu, Richards (dalam Waluyo, 1995:106) menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi. Ada empat

3 unsur hakikat puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Kedua struktur itu harus mempunyai kepaduan dalam mendukung totalitas puisi. Struktur fisik dan struktur batin tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adanya jalinan antara struktur fisik dan batin yang begitu kuat, menyebabkan perlunya pembaca memahami kedua struktur ini secara bersama-sama (Waluyo, 1995:147). Ia menambahkan bahwa tingkat pemikiran, luapan rasa hati penyair, dan tingkat imajinasi (pengalaman) penyair, diungkapkan dengan metode atau teknik pengucapan khas milik penyair. Oleh karena itu, untuk mengetahui makna dari sebuah puisi, kita tidak bisa memisahkan kedua unsur tersebut karena keduanya saling berkaitan. Pradopo (dalam Gede Gunatama, 2010:208) menegaskan bahwa puisi adalah struktur atau tanda-tanda yang mempunyai makna. Dalam pengertian struktur, puisi itu terdiri atas unsur-unsur yang terstruktur. Tiap-tiap unsur itu hanya mempunyai makna dalam kaitannya dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya (Hawkes dalam Gede Gunatama, 2010:208). Itu berarti, menelaah puisi adalah usaha menangkap atau memburu makna puisi dengan cara memberi makna kepada teks puisi (Gede Gunatama, 2010:208). Makna puisi itu bukanlah semata-mata dilihat dari struktur fisiknya saja, melainkan dilihat dari struktur batinnya juga. Wiyatmi (dalam Gede Gunatama, 2010:247) menyatakan bahwa pemaknaan puisi berarti pemberian makna terhadap puisi atau memahami puisi itu adalah menemukan makna yang terkandung dalam puisi, yang berupa tema, ide, amanat, ataupun pengalaman penyair yang disampaikan melalui unsur-unsur puisi, seperti diksi, bahasa kias, bunyi dan irama, citraan, gaya bahasa, dan sarana retorika. Pengalaman penyair yang diungkapkan dalam puisi dapat berupa pengalaman imajinatif, pengalaman emosional, dan pengalaman intelektual. Seperti yang diketahui, puisi yang berkualitas adalah puisi yang memenuhi kriteria penulisan puisi, yakni terdiri atas struktur fisik dan batin puisi. Berdasarkan pengamatan penulis, hasil tulisan puisi siswa di kelas VIII MTs Al-Khairiyah Tegallinggah dapat dikatakan masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya hasil tulisan puisi siswa yang belum memenuhi kriteria penulisan puisi. Pada umumnya siswa hanya memperhatikan keindahan bahasanya, sedangkan unsur penting lainnya belum terpenuhi. Pemilihan kelas VIII sebagai subjek penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa keterampilan menulis sastra, khususnya menulis puisi, terdapat pada kurikulum SMP/ MTs kelas VIII. Salah satunya terdapat pada semester dua yang tertuang dalam Standar Kompetensi, yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas (Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia MTs Al-Khairiyah Tegallinggah). Penulis memilih kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah karena berdasarkan hasil observasi, nilai rata-rata siswa khususnya untuk menulis puisi di kelas VIII A lebih tinggi dibandingkan dengan kelas lain. Selain itu, belum pernah diadakan penelitian mengenai struktur fisik dan batin puisi siswa di sekolah ini. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan tentang cara penulisan puisi yang baik dan berkualitas sebagai wujud apresiasi puisi. Terdapat beberapa penelitian sejenis yang berkaitan dengan penelitian ini, pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ketut Yuli Lestari pada tahun 2010 dengan judul Strategi Guru dalam Pengajaran Analisis Struktur Batin Puisi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sawan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru yang digunakan dalam pengajaran analisis struktur batin puisi sudah baik, dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa, yakni 80. Hubungannya dengan penelitian yang akan penulis lakukan, yaitu sama-sama

4 merupakan jenis penelitian deskriptif. Namun, subjek, objek, dan metode penelitian, serta hasil penelitiannya tentu jelas berbeda. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sutikayanti pada tahun 2011 dengan judul Kemampuan Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Pribadi pada Siswa Kelas VII 1 SMP Negeri 4 Tejakula. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sumber belajar pengalaman pribadi siswa dalam menulis puisi tergolong kategori Baik. Hal itu, dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa yang melebihi KKM sekolah, yakni di atas 74. Rata-rata kelas menulis puisi siswa mencapai skor 80. Siswa yang memperoleh nilai dari sebanyak 35%, siswa yang memperoleh nilai sebanyak 60%, dan siswa yang memperoleh nilai di atas 89, yaitu sebanyak 5%. Hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu sama-sama merupakan jenis penelitian deskriptif. Namun, subjek, objek, dan metode penelitian, serta hasil penelitiannya tentu jelas berbeda. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Sri Rahayu Niode pada tahun 2014 dengan judul Struktur Puisi Pesanku Karya Asmara Hadi dan Puisi Pesan Prajurit Karya Trisno Sumardjo dan Perbandingannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua puisi ini memiliki persamaan struktur batin yang sama, yakni sama-sama bertemakan tentang perjuangan dan harapan, rasa rela berkorban, nada mengajak, dan amanat untuk menghargai para pahlawan. Persamaan struktur fisik, di antaranya persamaan penggunaan diksi, imaji, kata konkret dan versifikasi.sedangkan, perbedaan antara kedua puisi tersebut adalah pada struktur batin, puisi Pesan Prajurit memiliki tema keikhlasan dan rasa bangga, sedangkan puisi Pesanku tidak terdapat tema dan rasa tersebut dan suasana pada kedua puisi ini juga berbeda. Pada struktur fisik, perbedaannya terletak pada penggunaan diksi, majas, rima, dan tipografi. Namun, penelitian ini berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, metode, serta hasil penelitiannya. Penelitian ini akan mencari dan mendeskripsikan struktur fisik dan struktur batin puisi. Pemecahan kedua masalah yang akan dicari di atas akan penulis dasarkan pada beberapa teori yang penulis gunakan. Waluyo (1995:29) menyatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Struktur fisik puisi berkaitan dengan bentuk, sedangkan struktur batin puisi berkaitan dengan isi atau makna yang mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair. Permasalahan pertama mengenai struktur fisik puisi akan penulis pecahkan dengan berpedoman pada teori struktur fisik puisi yang terdiri atas: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), versifikasi, dan tipografi (tata wajah). Dalam menulis puisi, tidak hanya menitikberatan pada keindahan bahasa atau kata-kata, tetapi juga harus memperhatikan aspek penting lainnya. (1) Penggunaan diksi haruslah sesuai dengan judul dan tema yang diangkat serta mendukung isi puisi secara keseluruhan. Pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis sehingga kata-kata yang sudah dipilih oleh penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak bisa diganti dengan padan katanya, sekalipun maknanya tidak berbeda. Antara (1985:19) juga menyatakan bahwa pemakaian dan pemilihan sebuah atau beberapa kata menentukan keberhasilan, pemantapan karya puisi itu. (2) Sebuah puisi juga harus mampu menimbulkan daya bayang atau imaji bagi pembaca. Dalam puisi, imaji berfungsi memberikan gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat lebih hidup gambaran dalam

5 pikiran, penginderaan, dan menarik perhatian seseorang.melalui pengimajian, sesuatu yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji taktil), didengar (imaji auditif), dan dirasa (imaji taktil). (3) Penggunaan kata-kata dalam puisi diperkonkret (menyaran kepada arti yang menyeluruh). Waluyo (1995:83) juga menambahkan bahwa dalam pengonkretan kata erat hubungannya dengan pengimajian, pelambangan, dan pengiasan. Ketiga hal itu, juga memanfaatkan gaya bahasa untuk memperjelas apa yang ingin dikemukakan. (4) Penggunaan bahasa figuratif atau gaya bahasa yang dapat memperjelas maksud dan tidak mengganggu pemahaman makna. Artika (1997:64) menyebut gaya bahasa sebagai bahasa kiasan. Bahasa kiasan sangat digemari oleh penyair karena memiliki potensi besar untuk memperoleh efek puitis. (5) Puisi juga harus mengandung versifikasi, yakni keindahan rima, irama, dan metrum, sehingga menimbulkan efek musikalitas dan orkestrasi puisi. Gunatama (2010:125) menyatakan bahwa rima adalah bunyi-bunyi yang sama dan diulang, baik dalam satuan kalimat maupun kalimatkalimat berikutnya. Pengulangan yang dimaksud adalah untuk memberikan efek tertentu atau menciptakan efek kepuitisan pada karya sastra tersebut. Ritma merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan. Sedangkan, metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap atau statis (Waluyo, 1995:94). (6) Tipografi atau tata wajah yang mencakup tatanan larik, bait, frasa, kata dan bunyi mampu mendukung isi, rasa, dan suasana serta dapat menimbulkan arti khusus, dan penggambaran yang digunakan menimbulkan keindahan bentuk visual atau fisik. Permasalahan kedua mengenai struktur batin puisi akan penulis pecahkan dengan berpedoman pada teori struktur batin puisi. Struktur batin puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. Richards (dalam Waluyo, 1987:106) menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur hakikat puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur itu menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair. (1) Tema merupakan gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema haruslah sesuai dengan judul yang menggambarkan ide dan makna yang diangkat. (2) Puisi juga harus mampu menggambarkan sikap/ ekspresi penulis terhadap persoalan tertentu yang sesuai tema, memberikan kesan yang mendalam dan dapat membantu penghayatan puisi bagi pembacanya. (3) Nada (tone) merupakan sikap emosional penyair yang dihadirkan dalam karya sastra (Gunatama, 2010:158). Nada yang diungkap oleh penulis dalam puisinya diharapkan dapat menyentuh hati pembaca dan pembaca menikmati suasana dalam puisi setelah membacanya. (4) Amanat/ tujuan merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya (Waluyo, 1995:130). Amanat yang hendak disampaikan penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Sama halnya dengan Gunatama (2010:159) yang menyebutkan bahwa amanat (message) adalah maksud atau pesan yang hendak disampaikan penyair. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti merancang metode penelitian yang meliputi (1) rancangan penelitian, (2) subjek dan objek penelitian, (3) metode pengumpulan data dan instrumen, dan (4) teknik analisis data. Penelitian ini adalah penelitian deskripsi kualitatif yang mendeskripsikan struktur fisik dan struktur batin puisi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII

6 A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah yang berjumlah 28 siswa. Objek yang akan dicari dan dideskripsikan oleh peneliti mengacu pada rumusan masalah yang diajukan, yakni (1) struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah dan (2) struktur batin puisi pada siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berkaitan dengan struktur fisik dan struktur batin puisi yang dianalisis berdasarkan instrumen yang telah ditentukan. Tujuan penggunaan instrumen dalam penelitian adalah mempermudah kerja peneliti dan hasilnya lebih sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen tersebut berupa tabel kriteria yang penulis buat dengan memperhatikan kajian teori yang ada. Intrumen I peneliti gunakan sebagai alat untuk menganalisis data pada masalah pertama, instrumen II peneliti gunakan sebagai alat analisis pada masalah kedua. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah mendeskripsikan lewat uraian dan penjelasan data yang telah didapatkan. Tahapan analisis data ini akan melewati empat alur, yaitu: tabulasi data, reduksi data, penyajian, dan penyimpulan data. Pertama, peneliti akan mengumpulkan hasil tulisan siswa yang berupa puisi. Setelah seluruh puisi siswa terkumpul, selanjutnya peneliti akan menganalisis puisi siswa berdasarkan instrumen yang telah ditentukan oleh peneliti. Selanjutnya, dalam reduksi data, peneliti terlebih dahulu mengumpulkan data melalui metode dokumentasi. Data-data berupa hasil tulisan puisi siswa selanjutnya dianalisis berdasarkan instrumen yang ada. Struktur fisik puisi siswa akan dianalisis menggunakan tabel kriteria I dan struktur batin puisi siswa akan dianalisis menggunakan tabel kriteria II. Waluyo (1995:147) menyatakan bahwa dalam menganalisis struktur fisik dibahas bagaimana kecakapan/ kreativitas penyair dalam menciptakan puisi. Ditelaah bagaimana penyair memilih, mengurutkan, dan memberi sugesti kata (diksi); bagaimana penyair menciptakan pengimajian; bagaimana kata-kata diperkonkret; bagaimana penyair menciptakan lambang dan kiasan (majas); bagaimana versifikasi dalam puisi itu; dan bagaimana penyair menyusun tata wajah puisi. Sedangkan dalam menganalisis struktur batin puisi, Aminuddin (2004: ) menyebutkan tahap kegiatan yang harus ditempuh pembaca, yaitu: (1) membaca puisi yang telah dipilih berulang-ulang; (2) berusaha memahami gambaran makna yang terkandung dalam judul puisi; (3) berusaha memahami gambaran makna yang ditampilkan penyair secara umum; (4) menetapkan kata-kata yang termasuk dalam kategori lambang dan kata-kata yang termasuk dalam kategori symbol maupun utterance; (5) berusaha memahami makna setiap symbol yang terdapat dalam puisi yang menjadi objek analisis; (6) berusaha memahami makna setiap symbol yang terdapat dalam setiap baris puisi; (7) berusaha memahami hubungan makna antara baris puisi yang satu dengan baris puisi lainnya; (8) berusaha memahami satusatuan pokok pikiran, baik yang terkandung dalam sekelompok baris maupun satuan pokok pikiran yang terdapat dalam bait; (9) berusaha memahami sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya; (10) berusaha memahami sikap penyair terhadap pembaca sewaktu menampilkan pokok-pokok pikiranya; (11) merangkum hasil pemahaman pokok pikiran, siksap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca; dan (12) berusaha menentukan tema puisi berdasarkan totatlitas maknanya dalam bentuk pernyataan yang hanya terdiri atas satu dua kalimat, tetapi mampu mewakili totalitas makna yang terdapat dalam puisi. Kedua belas tahapan kerja di atas masih bersifat lentur, dalam arti masih bisa ditambah atau dikurangi. Data yang telah direduksi akan disajikan uraian data berupa sekumpulan informasi yang akan digambarkan secara rinci, jelas, dan sistematis sehingga memungkinkan penarikan suatu tindakan. Pada tahap ini,

7 data mengenai hasil analisis kemampuan menulis puisi siswa berdasarkan struktur fisik dan batin puisi akan disajikan sesuai dengan rancangan penelitian. Pemaparan data ini juga akan disesuaikan dengan metode pengumpulan data yang digunakan, yakni metode dokumentasi. Penyajian data dalam penelitian ini disesuaikan dengan kriteria yang digunakan peneliti sehingga memudahkan peneliti untuk mencapai tahap penyimpulan dan verifikasi data. Pemaparan analisis kemampuan menulis puisi siswa berdasarkan struktur fisik dan batin puisi didokumentasikan dalam bentuk tabel kriteria I dan II. Penyimpulan dalam penelitian ini dilakukan setelah data yang diperoleh itu disajikan. Pada tahap ini, peneliti akan menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh mengenai struktur fisik dan struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian berupa struktur fisik dan struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, Kecamatan Sukasada. Pada bagian pertama disajikan hasil analisis puisi siswa yang memenuhi seluruh aspek struktur fisik puisi, selanjutnya rekapitulasi hasil analisis struktur fisik puisi siswa yang disertai dengan analisis puisi menggunakan instrumen I. Pada bagian kedua disajikan hasil analisis puisi siswa yang memenuhi seluruh aspek struktur batin puisi, selanjutnya rekapitulasi hasil analisis struktur batin puisi siswa disertai dengan hasil analisis puisi menggunakan instrumen II. Adapun hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini berupa; (1) struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegallinggah dan (2) struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegallinggah. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A MTs. Al-Khairiyah Tegallinggah yang berjumlah 28 orang. Struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah terdiri atas: (1) diksi (pemilihan kata), (2) pengimajian, (3) kata konkret, (4) bahasa figuratif (majas), (5) versifikasi (rima, irama, dan metrum), dan (6) tata wajah (tipografi). Berdasarkan hasil analisis struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, terdapat 1 (4%) puisi yang ideal, yakni memenuhi keenam struktur fisik puisi yang ada, 12 (43%) puisi yang hanya terdiri atas lima struktur fisik puisi, 13 (46%) puisi hanya terdiri atas empat struktur fisik puisi, dan 2 (7%) puisi hanya terdiri atas tiga struktur fisik puisi. Struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah terdiri atas: (1) tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, dan (4) amanat. Berdasarkan hasil analisis struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, ke- 28 (100%) puisi yang telah dibuat oleh siswa sudah memenuhi keempat struktur batin puisi, yang meliputi tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat puisi. Pembahasan Dari pemaparan teori-teori yang berkaitan dengan penelitian ini dan data hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui beberapa temuan yang diperoleh oleh penulis. Temuantemuan tersebut akan penulis bahas dalam penelitian ini. Temuan pertama adalah keberhasilan siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah dalam menulis puisi yang ideal sudah cukup baik, yakni mengandung keenam struktur fisik puisi, meliputi diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, versifikasi, dan tipografi. Penulis puisi yang ideal akan menggunakan pilihan kata atau diksi secara tepat, dengan mempertimbangkan makna dan kesesuaian dengan tema yang diangkat. Pemilihan kata yang tepat dapat mewakili dan menggambarkan hal-hal yang dikehendaki oleh seorang penulis puisi. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Waluyo (1987:72) bahwa penyair sangat cermat dalam memilih katakata, sebab kata-kata yang ditulis harus

8 dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Kata-kata yang digunakan ada yang sukar diinterpretasikan pembaca atau ada yang umum sekali dipergunakan orang sehingga ada puisi yang wajar atau polos sekali, tetapi ada yang memerlukan penalaran (pemikiran) dalam memahaminya. Penggunaan diksi atau pemilihan kata pada puisi siswa kelas VIII A MTs Tegalinggah sudah tepat dan mendukung pemaknaan puisi tersebut. Berdasarkan puisi yang telah ditulis oleh siswa tersebut, beberapa diantaranya menggunakan diksi bernada kekecewaan, kesedihan, dan keceriaan. Dari 28 puisi yang telah dibuat oleh siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegalinggah, seluruhnya menggunakan diksi atau pilihan kata yang sesuai dengan tema dan makna yang terkandung dalam puisi. Setelah pemilihan kata atau diksi, struktur fisik berikutnya adalah pengimajian. Melalui pengimajian, sesuatu yang digambarkan oleh penulis dalam puisinya seolah-olah dapat dilihat (imaji taktil), didengar (imaji auditif), dan dirasa (imaji taktil), sehingga membuat pembacanya seakan-akan ikut merasakan sesuatu yang diungkapkan penulis dalam puisinya. Dari 28 puisi yang peneliti analisis, semuanya terdapat pengimajian atau gambaran yang seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), dapat didengar (imaji auditif), dan dapat dirasakan (imaji taktil). Struktur fisik berikutnya adalah kata konkret. Penggunaan unsur wajib kata konkret pada puisi siswa dapat dikatakan kurang baik karena dari 28 puisi siswa yang dianalisis, hanya terdapat 3 puisi yang menggunakan kata konkret. Sebagian besar siswa mengungkapkan puisinya secara langsung atau polos sekali, tidak memerlukan penalaran (pemikiran) dalam memahaminya. Puisi siswa yang terdapat kata konkret di dalamnya adalah puisi yang berjudul Malam, Maaf, dan Nasib. Unsur wajib berikutnya yang harus penulis ciptakan agar puisi dapat dikatakan baik adalah bahasa figuratif atau majas (gaya bahasa). Artika (1997:64) menyebut gaya bahasa sebagai bahasa kiasan. Bahasa kiasan sangat digemari oleh penyair karena memiliki potensi besar untuk memperoleh efek puitis. Dari 28 puisi siswa kelas VIIIA MTs Al-Khairiyah Tegalinggah yang telah dianalisis, terdapat 17 puisi yang mengandung bahasa figuratif atau majas. Struktur fisik puisi lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan versifikasi (rima, irama, dan metrum). Penggunaan versifikasi (rima, irama, dan metrum) pada puisi yang telah dibuat oleh siswa dapat dikatakan baik karena sebagian besar puisi siswa telah mengandung rima, irama, dan metrum. Dari 28 puisi yang telah dibuat oleh siswa Kelas VIIIA MTs Al-Khairiyah Tegalinggah terdapat 21 puisi yang menggunakan versifikasi (rima, irama, dan metrum). Struktur fisik puisi berikutnya yang harus penulis ciptakan agar puisi dapat dikatakan baik adalah tipografi atau tata wajah. Unsur puisi ini juga dapat dikatakan baik karena dari 28 puisi yang telah dibuat oleh siswa Kelas VIIIA MTs Al-Khairiyah Tegalinggah, seluruhnya mengandung tipografi atau tata wajah, baik tipografi konvensional maupun nonkonvensional. Temuan kedua adalah keberhasilan siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah dalam menulis puisi yang ideal sudah baik, yakni mengandung keempat struktur batin puisi, meliputi tema, rasa, nada dan suasana, dan amanat. Puisi dapat dikatakan baik apabila terdapat gagasan pokok yang terkandung di dalamnya, yakni tema. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya (Waluyo, 1987:107). Ia menambahkan, dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus. Berdasarkan puisi yang telah ditulis oleh siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegalinggah, pengungkapan puisi antara tema dan judul yang diangkat telah sesuai. Dari 28 puisi yang telah ditulis oleh siswa, seluruhnya mengandung tema,

9 dengan rincian sebagai berikut. Delapan puisi bertemakan tentang percintaan, tujuh puisi bertemakan tentang pendidikan, dua puisi bertemakan tentang alam, dua puisi bertemakan tentang persahabatan, dua puisi bertemakan tentang kepahlawanan, dua puisi bertemakan tentang kasih sayang pada orang tua dan keluarga, dua puisi bertemakan tentang masa depan, satu puisi bertemakan tentang aktivitas menjelang malam, satu puisi bertemakan religi, dan satu puisi bertemakan tentang ulang tahun. Struktur batin puisi lain yang perlu diperhatikan agar puisi dapat dikatakan baik adalah unsur perasaan. Puisi yang baik mampu mewakili perasaan penulisnya sehingga pembaca seolah-olah merasakan sesuatu yang dirasakan oleh penulis. Hasil analisis ke-28 puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegalinggah,sebagai berikut. Tujuh puisi mengungkapkan perasaan senang atau gembira, lima puisi mengungkapkan perasaan sedih, lima puisi mengungkapkan perasaan kagum, tiga puisi mengungkapkan perasaan damai, dua puisi mengungkapkan perasaan semangat, dua puisi mengungkapkan perasaan kesepian, satu puisi mengungkapkan perasaan terharu, satu puisi mengungkapkan perasaan cemburu, satu puisi mengungkapkan perasaan terasing, dan satu puisi mengungkapkan perasaan kebimbangan. Kriteria lain agar puisi dapat dikatakan baik adalah puisi mampu mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan penulis. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itulah tercipta suasana puisi. Hasil analisis dari 28 puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Khairiyah Tegalinggah, sebagai berikut. Tujuh puisi bernada menyedihkan/meratap atau kedukaan yang mendalam, satu puisi bernada menyesal, dua puisi bernada menasehati, dua puisi bernada damai, empat puisi bernada mengagumi, satu puisi bernada mengharukan, dua puisi bernada pujian, satu puisi bernada patriotik, satu puisi bernada serius atau sungguhsungguh, satu puisi bernada jenaka, satu puisi bernada kasmaran, satu puisi bernada merenung, dan empat puisi bernada menyenangkan/ gembira. Kriteria terakhir agar puisi dapat dikatakan baik adalah puisi mengandung amanat atau pesan yang ditangkap oleh pembaca setelah membaca puisi. Amanat dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Amanat puisi dirumuskan sendiri oleh pembaca. Cara menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun begitu, amanat tidak dapat dilepas dari tema dan isi puisi yang dikemukakan oleh penulis. Berdasarkan hasil analisis dari 28 puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegalinggah yang bertemakan tentang pendidikan, percintaan, kasih sayang keluarga, persahabatan, kepahlawanan/ patriotik, seluruhnya mengandung amanat, baik disampaikan secara tersirat maupun tersurat oleh penulis. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah terdiri atas: (1) diksi (pemilihan kata), (2) pengimajian, (3) kata konkret, (4) bahasa figuratif (majas), (5) versifikasi (rima, irama, dan metrum), dan (6) tata wajah (tipografi). Berdasarkan hasil analisis struktur fisik puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, terdapat 1 (4%) puisi yang ideal, yakni memenuhi keenam struktur fisik puisi yang ada, 12 (43%) puisi yang hanya terdiri atas lima struktur fisik puisi, 13 (46%) puisi hanya terdiri atas empat struktur fisik puisi, dan 2 (7%) puisi hanya terdiri atas tiga struktur fisik puisi. Struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah terdiri atas: (1) tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, dan (4) amanat. Berdasarkan hasil analisis struktur batin puisi siswa kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegallinggah, ke- 28 (100%) puisi yang telah dibuat oleh siswa sudah memenuhi keempat struktur

10 batin puisi, yang meliputi tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat puisi. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan di atas, saran-saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Bagi para guru, berdasarkan hasil penelitian ini, para guru diharapkan dapat memberikan pengajaran penulisan puisi kepada siswa yang sesuai dengan kriteria penulisan puisi, yakni mengandung struktur fisik dan struktur batin puisi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan umpan balik untuk mengevaluasi hasil tulisan siswa, berupa puisi. Dengan demikian, guru akan berusaha untuk mengajarkan siswa agar lebih memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi, yakni struktur fisik dan struktur batin dalam berkarya sastra, khususnya menulis puisi. (2) Bagi peneliti lain, berdasarkan hasil penelitian ini, dianjurkan kepada peneliti lain agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi, pedoman atau bandingan bagi peneliti yang ingin mengkaji tentang analisis puisi berdasarkan struktur fisik dan struktur batin puisi. Hasil penelitian ini disarankan agar dapat digunakan sebagai pancingan untuk melakukan penelitian sejenis yang lebih mendalam dan menghasilkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil penelitian ini. Peneliti lain dapat meneliti suatu masalah yang belum dibahas dalam penelitian ini, misalnya tentang hubungan antara kedua struktur pembangun puisi, yakni struktur fisik dan struktur batin puisi. Gunatama, Gede Buku Ajar Puisi (Teori, Apresiasi, Pemaknaan, dan Pembelajaran). Singaraja: Undiksha. Jabrohim Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lestari, Ketut Yuli Strategi Guru dalam Pengajaran Analisis Struktur Batin Puisi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sawan. Skripsi. (tidak diterbitkan). Singaraja. Universitas Pendidikan Ganesha. Niode, Sri Rahayu Struktur Puisi Pesanku Karya Asmara Hadi dan Puisi Pesan Prajurit Karya Trisno Sumardjo dan Perbandingannya. Skripsi. (tidak diterbitkan). Gorontalo. Universitas Negeri Gorontalo. Sutikayanti, Ayu Kemampuan Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Pribadi pada Siswa Kelas VII 1 SMP Negeri 4 Tejakula. Skripsi. (tidak diterbitkan). Singaraja. Undiksha. Tarigan, H. Guntur Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Waluyo, Herman J Teori dan Apresiasi Puisi. Surakarta: Erlangga. Wendra, I Wayan Buku Ajar Penulisan Karya Ilmiah. Singaraja: Undiksha. DAFTAR PUSTAKA Aminuddin Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Antara Apresiasi Puisi. Denpasar: CV Kayu Mas. Artika, I Wayan Buku Ajar Teori Puisi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

BAB I PENDAHULUAN. cara pengungkapannya. Puisi merupakan karya sastra yang disajikan secara

BAB I PENDAHULUAN. cara pengungkapannya. Puisi merupakan karya sastra yang disajikan secara 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Secara umum karya sastra terbagi atas tiga jenis yaitu puisi, prosa dan drama. Menurut Kosasih (2012:1), ketiga jenis karya sastra tersebut dibedakan berdasarkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PUISI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG E- JURNAL ILMIAH YELCHI AMNUR NPM

HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PUISI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG E- JURNAL ILMIAH YELCHI AMNUR NPM HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PUISI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG E- JURNAL ILMIAH YELCHI AMNUR NPM 09080240 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir

II. TINJAUAN PUSTAKA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puisi Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir dari perasaan penyair dan diungkapkan secara berbeda-beda oleh masing-masing

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON Dwi Novita Ariyaningtyas 1 Heri Suwignyo 2 Karkono 3 Universitas Negeri Malang, Jalan

Lebih terperinci

MEDIA VIDEO EMOTIF SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PUISI

MEDIA VIDEO EMOTIF SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PUISI Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Konteks Global MEDIA VIDEO EMOTIF SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PUISI M. Syirojudin A malina Wijaya S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu pokok yang wajib dipelajari dan diajarkan di sekolah-sekolah, pelajaran bahasa Indonesia juga merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan lembaga untuk peserta didik. Kurikulum pendidikan sudah beberapa

Lebih terperinci

KEMAMPUAN MEMPROSAKAN PUISI KEPADA ADIK-ADIKKU KARYA ARIFIN C. NOOR SISWA SMA. Oleh

KEMAMPUAN MEMPROSAKAN PUISI KEPADA ADIK-ADIKKU KARYA ARIFIN C. NOOR SISWA SMA. Oleh KEMAMPUAN MEMPROSAKAN PUISI KEPADA ADIK-ADIKKU KARYA ARIFIN C. NOOR SISWA SMA Oleh Icha Meyrinda Ni Nyoman Wetty S. Mulyanto Widodo Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan e-mail : ichameyrinda@yahoo.com

Lebih terperinci

PENGARUH TEKNIK MENULIS PUISI BERDASARKAN CERITA TERHADAP MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 14 PADANG ARTIKEL ILMIAH

PENGARUH TEKNIK MENULIS PUISI BERDASARKAN CERITA TERHADAP MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 14 PADANG ARTIKEL ILMIAH PENGARUH TEKNIK MENULIS PUISI BERDASARKAN CERITA TERHADAP MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 14 PADANG ARTIKEL ILMIAH IVO FIVE VARESTI NPM 10080152 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1).

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat

Lebih terperinci

ABSTRACT

ABSTRACT KEMAMPUAN MENULIS KREATIF PUISI SISWA KELAS VII.1 SMPN 35 PADANG DENGAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG Eni Puji Astuti 1), Hasnul Fikri 1), Elvina A. Saibi 2) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

Analisis Unsur Intrinsik Puisi Tema Guru Karya Siswa Kelas V SDN 1 Nagarasari

Analisis Unsur Intrinsik Puisi Tema Guru Karya Siswa Kelas V SDN 1 Nagarasari Analisis Unsur Intrinsik Puisi Tema Guru Karya Siswa Kelas V SDN 1 Nagarasari Oleh Cecep Ahmad Hidayat; Rustono WS; Reni Bakhraeni. Program S-1 PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya

Lebih terperinci

PUBLIKASI ILMIAH. Untuk Memenuhi Persyaratan Sarjana S1 Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Disusun Oleh: WIDAYANTO A

PUBLIKASI ILMIAH. Untuk Memenuhi Persyaratan Sarjana S1 Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Disusun Oleh: WIDAYANTO A PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 2 BOYOLALI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 PUBLIKASI ILMIAH Untuk

Lebih terperinci

APRESIASI SASTRA SECARA RESEPTIF TERHADAP TEKS PUISI SISWA KELAS X MIPA 9 DI SMA NEGERI 1 SINGARAJA

APRESIASI SASTRA SECARA RESEPTIF TERHADAP TEKS PUISI SISWA KELAS X MIPA 9 DI SMA NEGERI 1 SINGARAJA APRESIASI SASTRA SECARA RESEPTIF TERHADAP TEKS PUISI SISWA KELAS X MIPA 9 DI SMA NEGERI 1 SINGARAJA Ni Luh Putu Yumi Kusuma 1, Gede Gunatama 2, I Made Sutama 3 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan

BAB I PENDAHULUAN. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting pada manusia, yaitu berbahasa. Menurut Tarigan (1986:3), menulis

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V Oleh: Aida Azizah Universitas Islam Sultan Agung Semarang ABSTRAK Peserta didik Sekolah Dasar/Madrasah

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO

PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO Oleh: Farida Tuzzaman Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER Vivien Fidiawati 6 Abstrak. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE NATURE LEARNING DI KELAS X-1 SMAN 2 CIKARANG PUSAT TAHUN

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE NATURE LEARNING DI KELAS X-1 SMAN 2 CIKARANG PUSAT TAHUN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE NATURE LEARNING DI KELAS X-1 SMAN 2 CIKARANG PUSAT TAHUN 2011-2012 Septiana Dwi Lestari 0821.0176 alka_dira@yahoo.co.id STKIP Siliwangi Bandung ABSTRAK

Lebih terperinci

STRUKTUR PUISI PADA KORAN SINGGALANG

STRUKTUR PUISI PADA KORAN SINGGALANG STRUKTUR PUISI PADA KORAN SINGGALANG Evi Maesaroh 1) Hasnul Fikri 2) Dainur Putri 2) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

KEMAMPUAN MEMPARAFRASAKAN PUISI KE DALAM BENTUK PROSA BEBAS. Oleh

KEMAMPUAN MEMPARAFRASAKAN PUISI KE DALAM BENTUK PROSA BEBAS. Oleh KEMAMPUAN MEMPARAFRASAKAN PUISI KE DALAM BENTUK PROSA BEBAS Oleh Indah Mayasari Ni Nyoman Wetty S. Edi Suyanto Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan e-mail : indahmayasari10@yahoo.com Abstract The problem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sastra adalah karya imajinatif yang menggunakan media bahasa yang khas (konotatif) dengan menonjolkan unsur estetika yang tujuan utamanya berguna dan menghibur.

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V DINI NURSARI nursaridini@yahoo.com Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi Bandung ABSTRAK Pembelajaran

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK UBAH CATATAN HARIAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 26 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK UBAH CATATAN HARIAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 26 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK UBAH CATATAN HARIAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 26 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh: Agustina Sulis C.R Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian tentang pengajaran satra telah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian tentang pengajaran satra telah 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian yang Relevan Sebelumnya Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian tentang pengajaran satra telah banyak dilakukan salah satunya, penelitian pengajaran sastra dapat peneliti

Lebih terperinci

Dr. WAHYU WIBOWO Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional 2012

Dr. WAHYU WIBOWO Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional 2012 Dr. WAHYU WIBOWO Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional 2012 Untuk memahami Penulisan Kreatif, sebelumnya cobalah pahami perihal manajemen bahasa berikut ini Manajemen bahasa adalah SENI dan ILMU

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kepustakaan yang Relevan Penulisan suatu karya ilmiah merupakan suatu rangkaian yang saling berkaitan dengan menggunakan referensi yang berhubungan agar sebuah karya ilmiah lebih

Lebih terperinci

2015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN (EXPERIENTIAL LEARNING)

2015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN (EXPERIENTIAL LEARNING) BAB III Metodologi Penelitian A. Metodologi Penelitian Dalam penelitian diperlukan suatu metode dan teknik penelitian yang sesuai dengan masalah yang diteliti sehingga hasil penelitian bisa dipertanggungjawabkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan ciri-ciri khas, meskipun puisi telah mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan ciri-ciri khas, meskipun puisi telah mengalami perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu bentuk karya sastra yang memiliki keindahan dalam bahasanya yaitu puisi. Waluyo (1991:3) mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang paling tua.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kajian tentang Struktur Puisi Pesanku Karya Asmara Hadi dan Puisi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kajian tentang Struktur Puisi Pesanku Karya Asmara Hadi dan Puisi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian yang Relevan Sebelumnya Kajian tentang Struktur Puisi Pesanku Karya Asmara Hadi dan Puisi Pesan Prajurit Karya Trisno Sumardjo dan Perbandingannya, Belum pernah diteliti

Lebih terperinci

ANALISIS LAPIS UNSUR PUISI KUCARI JAWAB KARYA J.E. TATENGKENG

ANALISIS LAPIS UNSUR PUISI KUCARI JAWAB KARYA J.E. TATENGKENG ANALISIS LAPIS UNSUR PUISI KUCARI JAWAB KARYA J.E. TATENGKENG Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. karya sastra penggunaan bahasa dihadapkan pada usaha sepenuhnya untuk

I. PENDAHULUAN. karya sastra penggunaan bahasa dihadapkan pada usaha sepenuhnya untuk 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada karya sastra, bahasa yang dipergunakan berbeda dengan karya ilmiah. Dalam karya sastra penggunaan bahasa dihadapkan pada usaha sepenuhnya untuk pengungkapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Interaksi pendidikan berfungsi membantu pengembangan seluruh potensi, kecakapan

BAB I PENDAHULUAN. Interaksi pendidikan berfungsi membantu pengembangan seluruh potensi, kecakapan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan pendidikan. Interaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan sebuah cerita fiksi atau rekaan yang dihasilkan lewat proses kreatif dan imajinasi pengarang. Tetapi, dalam proses kreatif penciptaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 67 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Model Pembelajaran Kooperatif a. Pengertian model pembelajaran Menurut Arends (Suprijono, 2013: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG Dwi Sulistyorini Abstrak: Dalam kegiatan pembelajaran menulis, siswa masih banyak mengalami kesulitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri, kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan peserta didik melalui proses pelatihan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUANTUM WRITING Shinta Nuryatna NIM 08210029 nuryatnashinta2@yahoo.com Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK

ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK SKRIPSI Usulan Penelitian untuk Skripsi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan Oleh

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHOW NOT TELL DI MTs CAHAYA HARAPAN

PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHOW NOT TELL DI MTs CAHAYA HARAPAN PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHOW NOT TELL DI MTs CAHAYA HARAPAN Sri Winarti 08 21 0161 S.Wina39@yahoo.com STKIP Siliwangi Bandung ABSTRAK Penggunaan metode dalam proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seorang pengarang lagu sehingga lirik-lirik lagunya menarik untuk

BAB I PENDAHULUAN. seorang pengarang lagu sehingga lirik-lirik lagunya menarik untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Gaya bahasa menimbulkan efek keindahan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Efek keindahan gaya bahasa berkaitan dengan selera pribadi pengarang dan kepekaannya

Lebih terperinci

Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan PERBEDAAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI PUISI MELALUI KEGIATAN MEMBACA DAN MENDENGARKAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 LEBAKWANGI KABUPATEN KUNINGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Widhihastuti Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK TEMATIK DIKELAS V SDN BAKTI KENCANA

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK TEMATIK DIKELAS V SDN BAKTI KENCANA PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK TEMATIK DIKELAS V SDN BAKTI KENCANA MAKALAH SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian sidang sarjana Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIIE SMPK MARIA FATIMA JEMBER MELALUI TEKNIK PS3

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIIE SMPK MARIA FATIMA JEMBER MELALUI TEKNIK PS3 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIIE SMPK MARIA FATIMA JEMBER MELALUI TEKNIK PS3 Andriana Isbinarni Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak: Keterampilan menulis puisi merupakan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1. Disusun oleh: Ajeng Wulandari A

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1. Disusun oleh: Ajeng Wulandari A PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN PENERAPAN TEKNIK RANGSANG GAMBAR DAN SUMBANG KATA PADA SISWA KELAS VII E DI SMP NEGERI 1 JATEN TAHUN AJARAN 2009/2010 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tujuan pengajaran sastra yang tercantum dalam kurikulum pengajaran

BAB 1 PENDAHULUAN. Tujuan pengajaran sastra yang tercantum dalam kurikulum pengajaran BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Tujuan pengajaran sastra yang tercantum dalam kurikulum pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak hanya untuk memperoleh pengetahuan tentang sastra

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Ketrampilan Menulis Puisi Keterampilan menulis puisi adalah kemampuan untuk mengungkapkan gagasan atau ide berupa rangkaian kata-kata indah yang memilik makna

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PUISI SISWA SMP NEGERI KELAS VIII DI KABUPATEN SLEMAN CHARACTERISTICS OF POETRY CLASS STUDENT VIII SMP IN THE DISTRICT SLEMAN

KARAKTERISTIK PUISI SISWA SMP NEGERI KELAS VIII DI KABUPATEN SLEMAN CHARACTERISTICS OF POETRY CLASS STUDENT VIII SMP IN THE DISTRICT SLEMAN KARAKTERISTIK PUISI SISWA SMP.../ISNEIN NUROHMAWATI 329 KARAKTERISTIK PUISI SISWA SMP NEGERI KELAS VIII DI KABUPATEN SLEMAN CHARACTERISTICS OF POETRY CLASS STUDENT VIII SMP IN THE DISTRICT SLEMAN Isnein

Lebih terperinci

STRUKTUR SASTRA DALAM LAGU DAERAH PANJALU PADA ALBUM PESONA WISATA SITU PANJALU

STRUKTUR SASTRA DALAM LAGU DAERAH PANJALU PADA ALBUM PESONA WISATA SITU PANJALU STRUKTUR SASTRA DALAM LAGU DAERAH PANJALU PADA ALBUM PESONA WISATA SITU PANJALU Oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ABSTRAK Lagu daerah merupakan bentuk budaya dan karya seni yang

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA KELAS XI A SMKN 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN AJARAN 2008/2009

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA KELAS XI A SMKN 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN AJARAN 2008/2009 PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA KELAS XI A SMKN 1 SAWIT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN AJARAN 2008/2009 SKRIPSI Disusun Untuk Mencapai Galar Sarjana SI Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK BRAINWRITING PADA PESERTA DIDIK SD/MI KELAS V Aida Azizah Email: aidaazizah@unissula.ac.id Universitas Islam Sultan Agung Semarang Abstrak: Peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai

BAB I PENDAHULUAN. yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA BERITA SURAT KABAR PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 37 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA BERITA SURAT KABAR PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 37 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA BERITA SURAT KABAR PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 37 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Oleh: Astuti Riawardani Progam Studi Pendidikan Bahasa Dan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM PADA SISWA KELAS VIII MTs AL MU MIN PREMBUN TAHUN AJARAN 2014/2015

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM PADA SISWA KELAS VIII MTs AL MU MIN PREMBUN TAHUN AJARAN 2014/2015 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM PADA SISWA KELAS VIII MTs AL MU MIN PREMBUN TAHUN AJARAN 2014/2015 Oleh: Purwanto Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonsesia

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERMAINAN BAHASA (LANGUAGE GAMES) Tutin Mulyati NIM : 08210086 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung ABSTRAK Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan sastra memiliki hubungan yang erat. Kekuatan sastra berada pada kekuatan dan cara pengarang menggunakan bahasa. Melalui bahasa, seorang pengarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil kreasi yang diciptakan oleh sastrawan melalui kontemplasi dan suatu refleksi setelah menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Melalui karya sastra, seseorang

I. PENDAHULUAN. membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Melalui karya sastra, seseorang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk konkret yang membangkitkan pesona

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. diajarkan agar siswa dapat menguasai dan menggunakannya dalam berkomunikasi

I. PENDAHULUAN. diajarkan agar siswa dapat menguasai dan menggunakannya dalam berkomunikasi 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Negara Indonesia diajarkan pada jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga sekolah menenengah atas. Bahasa Indonesia diajarkan

Lebih terperinci

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

TAHUN PELAJARAN 2013/2014 KEMAHIRAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA LAGU SISWA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 4 TANJUNGPINANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 ARTIKEL E-JOURNAL Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

Lebih terperinci

Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.4 No.2 Juli

Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.4 No.2 Juli PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG Miswanto Guru SMP Negeri 1 Ponorogo Email : smpn1_pon@yahoo.co.id ABSTRAK Penguasaan keterampilan berbahasa khususnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang sastra dalam kurikulum adalah agar (1) peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Dalam penulisan penelitian ini tidak terlepas dari buku-buku dan skripsi pendukung yang relevan dengan judul penelitian ini. Sesuai dengan judul penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai pengetahuan tentang kode bahasa, kode budaya dan kode sastra.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai pengetahuan tentang kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memahami sebuah karya sastra pada dasarnya bukanlah persoalan mudah, karena pemahaman sastra berkaitan erat dengan proses sifat karya sastra itu sendiri. Maka

Lebih terperinci

KEMAMPUAN SISWA MENULIS PUISI DI KELAS V SDN 13 BONGOMEME KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO NURLAELA

KEMAMPUAN SISWA MENULIS PUISI DI KELAS V SDN 13 BONGOMEME KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO NURLAELA KEMAMPUAN SISWA MENULIS PUISI DI KELAS V SDN 13 BONGOMEME KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO NURLAELA JURUSAN PENDIDIKAN GUTU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Dr.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. 2.1 Kedudukan Pembelajaran Menulis Puisi Baru dalam Mata Pelajaran Bahasa

BAB II LANDASAN TEORITIS. 2.1 Kedudukan Pembelajaran Menulis Puisi Baru dalam Mata Pelajaran Bahasa BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Kedudukan Pembelajaran Menulis Puisi Baru dalam Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas X Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SUTERA ARTIKEL ILMIAH

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SUTERA ARTIKEL ILMIAH PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SUTERA ARTIKEL ILMIAH YULIA FACITA NPM 09080040 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu usaha untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan terutama pada

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu usaha untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan terutama pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu usaha untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan terutama pada pembelajaran apresiasi sastra khususnya apresiasi puisi perlu dibuat sebuah bahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan pada puisi Pesanku Karya Asmara Hadi puisi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan pada puisi Pesanku Karya Asmara Hadi puisi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan pada puisi Pesanku Karya Asmara Hadi puisi Pesan Prajurit karya Trisno. Penelitian difokuskan pada struktur batin dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya (Semi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran bahasa merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan berbahasa seseorang dapat menunjukkan kepribadian serta pemikirannya.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. meneliti tentang lirik lagu Umi karya Hayashi Ryuuha dan Omocha No

BAB II LANDASAN TEORI. meneliti tentang lirik lagu Umi karya Hayashi Ryuuha dan Omocha No BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Sebelumnya Berdasarkan penelitian terdahulu, belum ada seorang pun yang meneliti tentang lirik lagu Umi karya Hayashi Ryuuha dan Omocha No Chachacha karya Nosaka Akiyuki

Lebih terperinci

Analisis Penggunaan Majas dalam Kumpulan Puisi Beri Aku Malam Karya Iyut Fitra

Analisis Penggunaan Majas dalam Kumpulan Puisi Beri Aku Malam Karya Iyut Fitra Analisis Penggunaan Majas dalam Kumpulan Puisi Beri Aku Malam Karya Iyut Fitra JURNAL ILMIAH RANI FITRIA WATI NPM. 09080301 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra anak masih terpinggirkan dalam khazanah kesusastraan di Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang sastra anak. Hal

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 AMBAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 AMBAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 AMBAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh: Turyati Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. yaitu tentang hakikat menulis puisi, hakikat puisi, hakikat metode pembelajaran. Selain itu,

BAB II KAJIAN TEORI. yaitu tentang hakikat menulis puisi, hakikat puisi, hakikat metode pembelajaran. Selain itu, BAB II KAJIAN TEORI Dalam kajian teori di bawah ini diuraikan beberapa hal sebagai landasan penelitian, yaitu tentang hakikat menulis puisi, hakikat puisi, hakikat metode pembelajaran. Selain itu, dijelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra. Sebuah karya sastra tidak lepas dari bahasa. dapat dikatakan

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra. Sebuah karya sastra tidak lepas dari bahasa. dapat dikatakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan berbahasa memudahkan seseorang berkomunikasi dengan orang lain, dalam bermasyarakat. Dasar yang sangat penting bagi seseorang untuk berkomunikasi adalah bahasa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kreatif dalam rupa atau wujud yang indah. Pengertian indah, tidak semata-mata merujuk pada

BAB I PENDAHULUAN. kreatif dalam rupa atau wujud yang indah. Pengertian indah, tidak semata-mata merujuk pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra sebagai salah satu unsur kesenian yang mengandalkan kreativitas pengarang melalui penggunaan bahasa sebagai media. Dalam hal ini, sastra menggunakan

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret; (3) ling gambaran

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret; (3) ling gambaran BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Landasan Teori 2.1.1 Konsep Konsep adalah (1) rancangan atau buram surat dan sebagainya; (2) ide atau pengertian yang diabstrakkan dari

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM EKRANISASI

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM EKRANISASI MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM EKRANISASI Eriana Trizadestyani Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS, Universitas Pendidikan Indonesia Surel :

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. penelitian tentang hal tersebut adalah sebagai berikut. SMP N 1 Suwawa. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian tersebut

BAB II KAJIAN PUSTAKA. penelitian tentang hal tersebut adalah sebagai berikut. SMP N 1 Suwawa. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian tersebut BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Relevan Sebelumnya Penelitian tentang pengajaran puisi sudah banyak dilakukan. Adapun penelitian tentang hal tersebut adalah sebagai berikut. 1) Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Menulis merupakan kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara

I. PENDAHULUAN. Menulis merupakan kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menulis merupakan kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis. Aktivitas menulis melibatkan unsur penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisan,

Lebih terperinci

Vol. 1 No. 1 Th. Jan-Des 2016 ISSN: PENGEMBANGAN BUKU TEKS MENULIS PUISI KEINDAHAN ALAM SISWA KELAS VII

Vol. 1 No. 1 Th. Jan-Des 2016 ISSN: PENGEMBANGAN BUKU TEKS MENULIS PUISI KEINDAHAN ALAM SISWA KELAS VII PENGEMBANGAN BUKU TEKS MENULIS PUISI KEINDAHAN ALAM SISWA KELAS VII Henny Nopriani STKIP Muhammadiyah Pagaralam Email: nopriani_henny@yahoo.com Abstrak Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan hasil

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM LIRIK LAGU PADA ALBUM DON T MAKE ME SAD KARYA BAND LETTO : TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk

Lebih terperinci

EFETIVITAS PENGGUNAAN METODE NATURE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

EFETIVITAS PENGGUNAAN METODE NATURE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI EFETIVITAS PENGGUNAAN METODE NATURE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI (Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Dawuan Subang) Dhina Herlina Retria Jurusan Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN METODE FIELD TRIP PADA SISWA SMP

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN METODE FIELD TRIP PADA SISWA SMP PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN METODE FIELD TRIP PADA SISWA SMP Novita Artika Sari, Kundharu Saddhono, Suyitno Universitas Sebelas Maret Surakarta E-mail: tata.imutz11@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran menjadi salah satu kegiatan yang bernilai edukatif, hal ini terjadi karena adanya interaksi antara guru dan siswa. Interaksi yang dilakukan mengharapkan

Lebih terperinci

Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Strategi Copy The Master Melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas IX-C SMPN 2 ToliToli

Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Strategi Copy The Master Melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas IX-C SMPN 2 ToliToli Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Strategi Copy The Master Melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas IX-C SMPN 2 ToliToli Mashura SMP Negeri 2 ToliToli, Kab. ToliToli, Sulteng ABSTRAK Strategi

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELASV IIIA SEMESTER II SMP TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELASV IIIA SEMESTER II SMP TAHUN PELAJARAN 2013/2014 PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELASV IIIA SEMESTER II SMP TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Marisa, Syambasril, Deden Ramdani Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan Email: Fernata_marisa@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini dikemukakan beberapa poin di antaranya latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini dikemukakan beberapa poin di antaranya latar belakang 1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini dikemukakan beberapa poin di antaranya latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan ruang lingkup penelitian. 1.1

Lebih terperinci

SKRIPSI. untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. oleh

SKRIPSI. untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. oleh PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI THE REAL THINGS MEDIA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING TIPE TANDUR SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 3 TALANG KABUPATEN TEGAL SKRIPSI untuk memperoleh

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEKNIK AKROSTIK DALAMMENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS PADA SISWA KELAS VIII C SMP PASUNDAN 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2012/2013

PENGGUNAAN TEKNIK AKROSTIK DALAMMENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS PADA SISWA KELAS VIII C SMP PASUNDAN 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2012/2013 PENGGUNAAN TEKNIK AKROSTIK DALAMMENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS PADA SISWA KELAS VIII C SMP PASUNDAN 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2012/2013 Ahmad Taoziri Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN Oleh: Juvrizal 1, Ellya Ratna 2, Afnita 3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pembekalan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pembekalan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoretis saja, tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menulis. Menurut Tarigan (2008:21) Proses menulis sebagai suatu cara. menerjemahkannya ke dalam sandi-sandi tulis.

BAB I PENDAHULUAN. menulis. Menurut Tarigan (2008:21) Proses menulis sebagai suatu cara. menerjemahkannya ke dalam sandi-sandi tulis. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Kita dapat menyatakan pendapat, perasaan, gagasan yang ada di dalam pikiran terhadap orang lain melalui

Lebih terperinci

BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan dalam mencapai

BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan dalam mencapai 24 BAB 3 METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan dalam mencapai suatu tujuan. Model penelitian dapat dibedakan atas beberapa jenis, diantaranya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Potret sosial adalah gambaran dari suatu kejadian yang telah terjadi dan terkait dengan orang banyak. Maka banyak orang yang memberikan perhatian terhadap peristiwa

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia JPBSI 2 (1) (2013) Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jpbsi PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI KEINDAHAN ALAM MENGGUNAKAN METODE PARTISIPATORI DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Segala aktivitas kehidupan manusia menggunakan bahasa sebagai alat perantaranya.

BAB I PENDAHULUAN. Segala aktivitas kehidupan manusia menggunakan bahasa sebagai alat perantaranya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa terlepas dari bahasa. Sebab bahasa merupakan alat bantu bagi manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya. Segala aktivitas

Lebih terperinci