MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan bernyanyi menjadi bagian yang penting dalam rangkaian peribadahan. Peribadahan-peribadahan yang dilakukan di gereja-gereja Protestan di Indonesia mempergunakan nyanyian di dalam setiap jenis peribadahan yang ada. Dengan demikian maka ada berbagai nyanyian dalam sebuah peribadahan. Bahkan timbul berbagai usaha dari berbagai denominasi yang ada di Indonesia untuk membuat berbagai buku nyanyian yang dapat digunakan dalam kegiatan peribadahan. Usaha-usaha ini memberikan sebuah hasil yang baik dengan munculnya berbagai buku nyanyian. Namun buku nyanyian ini hanya digunakan oleh denominasi tertentu saja misalnya buku nyanyian Ende hanya digunakan oleh gereja batak (HKBP), Nyanyian Pujian (Baptis), Puji-pujian Rohani (GKMI). 1 Buku-buku nyanyian ini dapat membantu jemaat dalam proses ibadah yang dilakukan walaupun hanya terbatas pada satu denominasi saja. Pemahaman oikumenis telah ada di Indonesia namun tidak disertai dengan nyanyian yang oikumenis Dari sinilah muncul keinginan untuk membuat sebuah buku nyanyian yang bersifat oikumenis. Salah satu usaha yang dilakukan oleh gereja-gereja di Indonesia dalam naungan PGI dalam hal ini Yamuger menerbitkan buku nyanyian Kidung Jemaat yang digunakan secara oikumenis di Indonesia. Buku Kidung Jemaat ini digunakan oleh hampir sebagian besar gereja-gereja mainstream di Indonesia. Jika buku Kidung Jemaat yang digunakan di dalam kebaktian tentu ada berbagai hal yang dipertimbangkan dalam penggunaan buku ini. Salah satunya adalah teologi dibalik pembuatan dan penggunaan Kidung Jemaat. Pembuatan buku Kidung Jemaat ini mempunyai latar belakang teologi tersendiri. Pemahaman teologi yang muncul memberikan sebuah pemaknaan teologis terhadap berbagai nyanyian yang ada di dalam buku Kidung Jemaat. Adakah penggunaan Kidung Jemaat oleh gereja-gereja didasarkan pada pertimbangan teologis atau sekedar pertimbangan tradisi? 1 Ferdi Suleeman, Suatu analisis dan Kritik Kidung Jemaat, dalam jurnal Teologi GEMA Duta Wacana. No. 48 thn. 1994, hal 95 1

2 B. Rumusan Masalah Rangkaian ibadah dalam sebuah kebaktian tidak bisa dilepaskan begitu saja dari perkembangan bentuk peribadahan itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kekristenan yang tumbuh dari latar belakang Yahudi tentu juga berpengaruh dalam seluruh aspek peribadahan termasuk pujian yang digunakan. Jika melihat akan perkembangan peribadahan yang bermula dari tradisi Yahudi dimana musik atau pujian juga merupakan sesuatu yang integral di dalam sebuah ibadah maka hal ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan peribadahan. Salah satu aspek yang cukup penting dalam peribadahan adalah penyembahan kepada Allah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa unsur penyembahan tersebut ada dalam Nyanyian Jemaat yang mempunyai peranan penting dalam sebuah peribadahan yang dikemas dalam sebuah liturgi. Dalam musik liturgi terjadi dua peristiwa yang bergantian antara Pujian dan doa. 2 Nyanyian jemaat yang mempunyai peranan dalam peribadahan dari zaman gereja mula-mula hingga saat ini mempunyai perkembangan sesuai zaman dengan berbagai pergumulan zamannya Masuknya Kekristenan di Indonesia membawa seluruh pengajaran, begitu juga dengan nyanyian tetap dibawa dari Barat dimana gereja itu berasal. Paham-paham musik yang telah menjadi sebuah pandangan dari para reformator juga menjadi sesuatu yang baku dan terus diberlakukan di dalam kehidupan jemaat. Tahlil-tahlil yang dipakai oleh gereja Protestan di Indonesai (GMIM, GPM, GMIT dan GPIB) adalah terjemahan Schroder dari buku nyanyian Belanda yang lama dengan pemahaman bahwa ada beberapa tahlil yang ditinggalkan. 3 Warisan ini juga tentu memberikan sebuah pemahaman dalam gereja tentang nyanyian, apa saja yang harus digunakan di dalam sebuah peribadahan. Ini dipengaruhi oleh salah satu pikiran dari tokoh reformasi yakni John Calvin yang melihat bahwa hanya Mazmur saja yang layak digunakan di dalam sebuah rangkaian ibadah. Dengan pemahaman seperti ini maka musik ataupun nyanyian yang kita kenal mempunyai bahasa yang universal dibatasi dengan nyanyian yang telah ditetapkan. Yang menjadi 2 Marsius Tinambunan, Resensi Buku: Music and the Church; David B. Pass, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No. 48 thn. 1994, hal J.L. Ch. Abnineno, Unsur-unsur liturgi yang dipakai oleh gereja-ereja di Indonesia, hal

3 pertanyaan adalah bagaimana seseorang dapat datang kepada Tuhannya yang disembah jika ia dibatasi oleh pujian yang harus dia naikan kepada Allah? Kita perlu melihat bahwa seseorang datang beribadah untuk membangun sebuah hubungan atau relasi dengan Tuhan. Maka hal-hal yang membangun sebuah ibadah harus menjadi perhatian. Demikian pula nyanyian jemaat yang digunakan dalam ibadah juga merupakan bahasa yang tidak lazim dibandingkan dengan bahasa sehari-hari, harus menjadi perhatian dalam peribadahan. Dalam nyanyian ada pesan yang merupakan bahasa yang menyentuh, menggugah emosi bahkan mempengaruhi pola pikir seseorang. Sebagai bahasa maka nyanyian tidak terlepas dari budaya setempat dimana nyanyian itu dibuat. Dari situlah maka nyanyian merupakan bahasa dari sebuah kelompok masyarakat. Seperti yang diungkapakan oleh Allan P. Merriam, seorang etnomusikolog:... Music cannot be defined as a phenomenon of sound alone, for it involves the behavior of individuals and groups of individuals,...song texts clearly reflect the culture of which they are a part. (... musik tidak dapat di definisikan sebagai semata-mata suatu fenomena suara karena ia melibatkan kebiasaan individu dan kelompok individu,... teks lagu dengan jelas merefleksikan budaya dimana mereka menjadi bagian di dalamnya). 4 Nyanyian jemaat yang dinyanyikan merupakan ekspresi dari sang penyanyi, demikian juga sebuah gubahan nyanyian jemaat juga merupakan ekspresi dari sang penggubah. 5 Ini dipengaruhi oleh latarbelakang budaya dari sang penggubah serta pengalaman religiusnya. Dengan kata lain suatu nyanyian merupakan sebuah refleksi dari orang yang membuat atau menggubah lagu tersebut sesuai dengan konteks pada saat lagu tersebut digubah. Dengan demikian maka lagu atau nyanyian yang digubah itu mempunyai makna teologis di dalamnya. Ada begitu banyak nyanyian yang digubah, namun dari berbagai lagu atau nyanyian yang digubah, dipilih beberapa nyanyian dan dijadikan nyanyian jemaat yang dibukukan dalam 4 Allan P. Merriam, The Anthropology of Music, Evansto: Nort Western University Press, 1986, hal 27-29, Penggubah ini menunjuk kepada orang yang mengubah nyanyian misalnya aransemen ataupun terjemahan dari nyanyian yang sebelum bukan berasal dari tradisinya. 3

4 satu buku atau beberapa buah buku. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa nyanyiannyanyian yang dipilih ini tidak semua dinyanyikan dalam berbagai ibadah. Hanya beberapa nyanyian saja yang sering dinyanyikan. Padahal nyanyian-nyanyian ini berada dalam satu buku dan mempunyai tujuan yang sama yakni dipergunakan dalam sebuah peribadahan. Dapat dilihat bahwa penggunaan nyanyian dan pemilihan nyanyian dalam ibadah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah makna dari setiap kalimat di dalam nyanyian tersebut. Nyanyian yang sering dinyanyikan ternyata ikut membentuk pemahaman teologis jemaat. Ada berbagai nyanyian jemaat, dan ada pula berbagai pertimbangan untuk memilih dan menyeleksi nyanyian jemaat untuk selanjutnya dibukukan. Kriteria-kriteria seperti ini juga yang digunakan dalam penyusunan buku Kidung Jemaat. Kidung Jemaat menjadi salah satu buku nyanyian yang telah digunakan secara luas di Indonesia. Gereja-gereja di Indonesia dalam naungan PGI telah menggunakan Kidung Jemaat dari tahun 1984 hingga saat ini. Isi dari buku Kidung Jemaat merupakan kumpulan dari berbagai lagu yang ada dalam buku-buku nyanyian sebelumnya. Tetapi Kidung Jemaat juga hanya mengambil lagu-lagu yang dianggap pas buat kondisi saat ini. Kidung Jemaat merupakan sebuah jalan yang berusaha untuk mendialogkan kehidupan oikumenis dari berbagai gereja yang ada di Indonesia. Ini juga merupakan sebuah wujud upaya mengkontekstualisasikan musik gereja yang ada dengan budaya dan kebutuhan dari gereja setempat. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa lagu etnik yang digunakan dalam Kidung Jemaat. Dengan menerima dan menggunakan KJ sebagai buku nyanyian ibadah, maka gereja sudah tentu akan mendapat tambahan sejumlah nyanyian baru. Tetapi serentak pula mungkin ada sejumlah nyanyian tertentu yang disukai oleh gereja terpaksa harus disingkirkan atau tidak dinyanyikan lagi. 6 Hal ini terlihat dengan beberapa gereja yang menggunakan Kidung Jemaat sebagai nyanyian wajib di dalam kebaktian. Nyanyian dalam Kidung Jemaat sebagian besar diambil dari lagu-lagu dalam buku-buku nyanyian yang sudah ada seperti Nyanyian Rohani, Kidung Pujian dan berbagai buku nyanyian lain yang telah digunakan sebelumnya. Dapat 6 Ferdi Suleeman, Suatu analisis dan Kritik Kidung Jemaat, dalam jurnal Teologi GEMA Duta Wacana. No. 48 thn. 1994, hal 98. 4

5 diasumsikan bahwa lagu-lagu dalam Kidung Jemaat sebagian besar telah diketahui oleh jemaat. Berbagai ketakutan muncul dalam diri para pakar musik gereja dimana pada saat ini Kidung Jemaat sepertinya digunakan sebagai buku nyanyian wajib dalam gereja. Padahal ada berbagai jenis musik yang kaya akan makna sebagai penyembahan kepada Tuhan tidak bisa digunakan dalam kebaktian. Seperti munculnya berbagai nyanyian rohani yang bisa digunakan dalam sebuah ibadah. Juga berbagai nyanyian rohani serta Mazmur tidak bisa lagi dinyanyikan atau dilagukan lagi dalam sebuah ibadah. Nyanyian di dalam gereja bukan hanya terdiri dari Himne saja atau lagu di dalam Kidung Jemaat, tetapi nyanyian rohani ataupun nyanyian-nyanyian yang lain. Musik mempunyai fungsi yang lebih luas yakni musik mampu menghembuskan makna ke dalam teks. Perhatikan mengenai cara melagukan mazmur-mazmur dalam bentuk mereka yang tidak terbagi dalam ayat-ayat, dalam proses ini tekanan musik mengarah kepada interpretasi, sedangkan antifoni menyampaikan warna atau tema dari mazmur itu. 7 Salah satu tujuan bernyanyi adalah mengekspresikan perasaan dan diri kepada Tuhan. Sama seperti semua kesenian, sama seperti semua yang bernafas, demikian pula musik sebenarnya diciptakan untuk memuji Tuhan. 8 Jika salah satu fungsi dari musik atau nyanyian adalah memuji Tuhan maka yang memainkan musik juga harus dengan rela untuk memuliakan Tuhan. Nyanyian yang dipakai sebagai bentuk ekspresi diri kepada Tuhan harus dipahami dengan baik dan benar-benar timbul dari hati orang yang melakukan penyembahan. Seseorang tidak bisa mengekspresikan dirinya jika musik atau nyanyian tidak ia pahami makna apa yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu sebuah nyanyian hendaknya dipahami apa makna dibalik kata-kata yang dinyanyikan. Karena ada pemaknaan teologis dari puji-pujian kepada Allah. Atau boleh dikatakan bahwa sebuah nyanyian hendak menyampaikan sesuatu melalui kata-kata yang ada. Kidung Jemaat yang telah digunakan selama kurang lebih 26 tahun mempunyai asumsi teologis dibalik setiap nyanyiannya. Asumsi teologi yang ditemui dalam Kidung Jemaat tidak terlepas dari apa yang dialami oleh penggubah ataupun pembuat lagu. Lagu-lagu 7 E.H. van Olst, Alkitab dan Liturgi, hal J.L. Ch. Abineno, Unsur-unsur Lturgia yanga dipakai oleh gereja-gereja di Indonesaia. Hal 116 5

6 tersebut juga mungkin tersirat tentang keselamatan/soteriologi yang diwartakan melalui pujian atau nyanyian. Soteriologi dalam Alkitab telah kita lihat dan telah kita ketahui. Groenen mengatakan bahwa Umat Kristen, terutama para pemimpinnya, sudah lebih dari 2000 tahun mewartakan keselamatan dengan memakai bermacam-macam istilah, ungkapan dan lambang. 9 Sebagai buku nyanyian Kidung Jemaat apakah mempunyai pemaknaan soteriologi atau mengungkapkan tentang keselamatan? Nah apakah sebagai nyanyian yang diberlakukan secara oikumene di gereja-gereja di Indonesia, Kidung Jemaat mempunyai konsep tentang keselamatan di dalam nyanyian-nyanyiannya? Pemaknaan terhadap sebuah lagu atau nyanyian perlu dilakukan sesuai dengan konteks dimana kita berada saat ini. Lagu yang dibuat atau digubah berdasarkan pengalaman yang dialami, latar belakang budaya serta refleksi iman dari orang yang membuat atau menggubah lagu tersebut. Lagu-lagu dalam Kidung Jemaat sebagian besar merupakan gubahan dari lagu-lagu Hymn yang dibawa oleh gereja barat ke Indonesia. Pemaknaannya sesuai dengan kondisi mereka. Kita perlu memberi makna ulang terhadap nyanyiannyanyian tersebut. Apakah konsep keselamatan dari pembuat lagu atau penggubah lagu relevan dengan konteks saat ini di Indonesia? C. Batasan Masalah Dari uraian permasalahan di atas maka dalam tulisan ini hanya akan dibatasi dengan melihat bagaimana pemaknaan teologis buku Nyanyian Kidung Jemaat di dalam sebuah ibadah. Ini bukan berarti akan melihat setiap lagu di dalam Kidung Jemaat dan melihat apa makna teologisnya. Tetapi hanya akan melihat tentang konsep keselamatan yang ada di dalam nyanyian-nyanyian Kidung Jemaat. Apakah ada nyanyian dalam Kidung Jemaat yang mempunyai makna soteriologinya? Dalam hal ini tentunya penulis akan memaparkan tentang apa yang melatar belakangi sampai adanya Kidung Jemaat, setelah itu akan melihat soteorologi secara umum. Lagu-lagu seperti apa saja yang ada di dalam kidung jemaat dengan melihat sistematika dari Kidung Jemaat tersebut. 9 C. Groenen OFM, Soteriologi Alkitabiah Keselamatan yang Diberitakan Alkitab, hal 11, 6

7 Setelah itu akan melihat soteriologi di dalam Kidung Jemaat dengan melihat beberapa nyanyian yang tentunya di dalam nyanyian tersebut tersirat atau tersurat makna soteriologi dalam rangkaian kalimat atau kata-kata dalam lagu. Dalam hal ini penulis akan menganalisis nyanyian-nyanyian yang dipilih untuk melihat makna soteriologi dalam lagulagu tersebut. Hal ini menurut penulis perlu diketahui karena sering orang hanya ingin mendengar khotbah. Padahal di dalam nyanyian jemaat juga terkandung didikan atau ajaran tentang Allah ataupun tentang keselamatan itu sendiri. Jika kita bernyanyi dengan baik dan benar, liriknya mendidik dan menggembalakan kita, nyanyian gereja berfungsi untuk mengajar dan menuntun kita. 10 Setelah melihat akan makna soteriologi dalam nyanyian yang telah dianalisis maka akan dilihat masih cocokkah makna soteriologi yang ada dalam nyanyian-nyanyian tersebut, dengan konteks saat ini? Tidak dipungkiri bahwa ketika sebuah lagu ditulis dipengaruhi oleh berbagai hal yakni budaya sang penulis atau penggubah, pengalaman iman pencipta atau pembuat lagu dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa memaknai sebuah lagu yang ada di dalam Kidung Jemaat dengan konteks saat ini, dengan berbagai permasalahan dan pergumulan teologis yang dialami. Dalam tulisan ini akan didasarkan pada pemahaman soteriologi atau paham keselamatan yang dikemukakan oleh Groenen tentang Soteriologi Alkitabiah. Yakni pemahaman keselamatan yang diberitakan oleh Alkitab. Sebuah gambaran keselamatan yang bermula dari pemahaman yang ideal tentang keselamatan yang digambarkan di dalam Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selanjutnya menggambarkan tentang Allah yang berkarya dan menyelamatkan manusia berdosa. Pemahaman ini akan penulis gunakan untuk menemukan pemaknaan soteriologi lagu-lagu dalam Kidung Jemaat. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan bagi penulis untuk menggunakan pemaknaan soteriologi dari beberapa tokoh lain sebagai pelengkap

8 D. Tujuan Penulisan Dengan berdasarkan uraian-uraian di atas, tujuan dari pembahasan ini adalah melihat teologi dari Kidung Jemaat. Namun dikhususkan pada soteriologi atau paham keselamatan dalam nyanyian yang ada di dalam Kidung Jemaat. Dengan pendekatan ini penulis melihat bahwa Kidung Jemaat yang sebagian besar lagu-lagunya merupakan lagu gubahan dari barat dapat dimaknai dengan baik oleh jemaat pada saat ini. Bagaimana jemaat memaknai atau memahami makna soteriologi dalam nyanyian-nyanyian Kidung Jemaat. Selain itu melihat apakah perlu pemaknaan ulang dari lagu-lagu Kidung Jemaat sesuai dengan konteks saat ini. Dimana makna teologis yang ada dalam sebuah lagu tentu sesuai dengan pembuat atau penggubah. Sehingga jemaat dan gereja perlu memaknai ulang lagu-lagu dalam Kidung Jemaat. E. Judul Soteriologi dalam Kidung Jemaat (Sebuah Usaha Pencarian Makna Soteriologi Dalam Nyanyian Kidung Jemaat) F. Metodologi Metode Penulisan Dalam tulisan ini akan menggunakan analisis kepustakaan yang melihat tentang konsep keselamatan pada nyanyian atau lagu-lagu Kidung Jemaat. Konsep keselamatan atau soteriologi ini akan di gali dengan menggunakan berbagai buku penunjang. Groenen memaparkan tentang keselamatan sebagai utopia 11 Ilahi, dan bagaimana utopia tidak dapat dicapai karena keberdosaan manusia. 12 Maka Allahlah yang menyelamatkan manusia berdosa dan dari sana menuju kepada Utopia Ilahi. Konsep keselamatan yang digambarkan oleh Groenen didasarkan pada Alkitab sebagai sebuah perjalanan sejarah penyelamatan. Konsep keselamatan akan digali dengan melihat paham keselamatan dari sudut epistimologi untuk melihat penggunaannya di dalam Kidung Jemaat. 11 Utopia sebagai gambaran ideal terhadap sesuatu, sering dipahami secara negatif: sesuatu yang tidak real dan tidak mungkin terjadi. 12 C. Groenen OFM, Soteriologi Alkitabiah Keselamatan yang Diberitakan Alkitab, hal 33 8

9 Untuk mengetahui konsep keselamatan yang ada di dalam lagu, maka lagu-lagu dalam Kidung Jemaat akan dipilih dan dianalisis untuk mengetahui makna soteriologinya. Untuk pemilihan lagu-lagu yang ada di dalam Kidung Jemaat akan disesuaikan dengan sistematika penggunaan buku Kidung Jemaat dan juga akan didasarkan pada tahun penulisan atau pembuatan lagu guna mengetahui makna teologis yang terkandung di dalam lagu tersebut. G. Sistematika Agar pembahasan dalam skripsi ini dapat dilakukan dengan baik dan sistematis maka penulis melihat harus ada sistematisasi dalam proses penulisan skripsi ini. Yang dapat membahas serta menguraikan pokok-pokok pikiran dengan baik, maka sistematika penulisannya adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam Bab ini penulis akan mengemukakan latar belakang mengapa penulis melihat makna soteriologi di dalam nyanyian Kidung Jemaat penting untuk diangkat menjadi topik penyusunan skripsi. Setelah itu penulis memaparkan apa yang menjadi rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, pemilihan judul, metodologi dan sistematika penulisan. Hal ini dimaksudkan guna memperjelas apa yang hendak dibahas dalam bab-bab selanjutnya, sehingga sebelum membaca skripsi ini secara keseluruhan, maka pembaca dapat mengetahui apa yang hendak dibahas dalam tulisan ini. BAB II SOTERIOLOGI Dalam bab ini akan di deskripsikan tentang apa itu soteriologi secara umum yang berhubungan dengan upaya pemaknaan soteriologi terhadap Kidung Jemaat. Soteriologi akan dibahas dari pemahaman Groenen dalam buku Soteriologi Alkitabiah. Selain itu pemahaman Soteriologi juga dilihat dari pendapat berbagai tokoh yang cukup mempunyai sumbangsih di dalam paham keselamatan. BAB III SOTERIOLOGI DALAM NYANYIAN-NYANYIAN KIDUNG JEMAAT Analisis pemakanaan soteriologi dalam nyanyian atau lagu-lagu dalam Kidung Jemaat yang telah dipilih. Dalam analisis yang dilakukan dalam bab ini akan melihat dari pemahaman 9

10 soteriologi yang telah di bahas dalam bab sebelumnya yakni bab II. Pemilihan lagu-lagu dalam Kidung Jemaat di dasarkan pada sistematika Kidung Jemaat dan didasarkan pada kata-kata setiap lagu. BAB IV NYANYIAN-NYANYIAN KIDUNG JEMAAT DARI PERSPEKTIF KONTEKSTUAL Dalam bab ini nyanyian-nyanyian Kidung Jemaat yang telah dianalisis pada bab III dilihat dari sudut pandang kontekstual. Dengan latarbelakang pemikiran bahwa nyanyian-nyanyian dalam Kidung Jemaat sebagian merupakan nyanyian dari barat, apakah masih relevan dengan pergumulan kehidupan dan konteks kehidupan gereja-gereja di indonesia dengan melihat kepada konteks Indonesia yang plural. Namun sebelum masuk kepada nyanyian yang kontekstual tersebut maka soteriologi yang mewarnai lagu-lagu akan dilihat apakah dalam pemahaman soteriologi itu telah tercermin soteriologi perspektif kontekstual. Yakni kehidupan masyarakat yang plural, dalam hal ini akan dilihat soteriologi Groenen. BAB V PENUTUP Dalam bagian ini akan diambil suatu kesimpulan dari Soteriologi dalam Kidung Jemaat. Juga jawaban dari permasalahan yang terdapat pada Bab I dapat dilihat pada bagian ini. Selain itu ada beberapa saran yang diungkapkan oleh penulis dalam rangka Soteriologi dalam Kidung Jemaat. 10

@UKDW BAB I PENDAHULUAN

@UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Ibadah atau ibadat berasal dari kata bahasa Arab, yaitu ebdu atau abdu yang sejajar dengan arti kata dalam bahasa Ibrani, abodah yang artinya sebuah pengabdian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal dengan keanekaragaman Suku, Agama, Ras dan Antar

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal dengan keanekaragaman Suku, Agama, Ras dan Antar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal dengan keanekaragaman Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Luasnya wilayah Indonesia yang terdiri atas beribu pulau tersebar dari

Lebih terperinci

Bab 4. Tinjauan Kritis Ibadah, Nyanyian dan Musik Gereja di GKMI Pecangaan

Bab 4. Tinjauan Kritis Ibadah, Nyanyian dan Musik Gereja di GKMI Pecangaan Bab 4 Tinjauan Kritis Ibadah, Nyanyian dan Musik Gereja di GKMI Pecangaan 4.1. Pendahuluan Pada bab ini penulis akan menyampaikan hasil tinjauan kritis atas penelitian yang dilakukan di GKMI Pecangaan

Lebih terperinci

MUSIK DAN MISI. Oleh. Florentina Wijayani Kusumawati 21. Pendahuluan

MUSIK DAN MISI. Oleh. Florentina Wijayani Kusumawati 21. Pendahuluan MUSIK DAN MISI Oleh Florentina Wijayani Kusumawati 21 Pendahuluan Tidak dapat disangkal bahwa musik merupakan bagian integral dalam ibadah Kristen. Peranan dan pengaruh musik dalam ibadah tidak dapat disepelekan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jurnal Teologi Gema Duta Wacana edisi Musik Gerejawi No. 48 Tahun 1994, hal. 119.

BAB I PENDAHULUAN. Jurnal Teologi Gema Duta Wacana edisi Musik Gerejawi No. 48 Tahun 1994, hal. 119. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya, musik merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kegiatan peribadatan. Pada masa sekarang ini sangat jarang dijumpai ada suatu

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis tentang peranan musik dalam ibadah

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis tentang peranan musik dalam ibadah BAB V PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis tentang peranan musik dalam ibadah minggu di GKMI Salatiga dari perspektif psikologis dan teologis di atas maka penulis menyimpulkan

Lebih terperinci

UKDW. BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang

UKDW. BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Kehidupan umat beragama tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Ibadah bukan hanya sebagai suatu ritus keagamaan tetapi juga merupakan wujud respon manusia sebagai ciptaan

Lebih terperinci

yang tunggal Yesus Kristus, maka tugas jemaat adalah menanggapi penyataan kasih

yang tunggal Yesus Kristus, maka tugas jemaat adalah menanggapi penyataan kasih Bab 5 Penutup 5.1. Kesimpulan Berdasarkan analisa yang penulis sampaikan pada bab 4 tentang praktek nyanyian dan musik gereja di GKMI Pecangaan dalam peribadatan, maka penulis menarik beberapa kesimpulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Oikumenikal dan Evangelikal.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Oikumenikal dan Evangelikal. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.1. Gereja Oikumenikal dan Evangelikal. Data statistik keagamaan Kristen Protestan tahun 1992, memperlihatkan bahwa ada sekitar 700 organisasi 1 Kristen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam kebaktian yang dilakukan oleh gereja. Setidaknya khotbah selalu ada dalam setiap kebaktian minggu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai ciri keanekaragaman budaya yang berbeda tetapi tetap satu. Indonesia juga memiliki keanekaragaman agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dengan sengaja ditulis Calvinis, bukan Kalvinis, karena istilah ini berasal dari nama Johannes Calvin.

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dengan sengaja ditulis Calvinis, bukan Kalvinis, karena istilah ini berasal dari nama Johannes Calvin. BAB I PENDAHULUAN 1. PERMASALAHAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di lingkungan gereja-gereja Protestan sedunia, aliran atau denominasi Calvinis 1 (lebih sering disebut Reformed ataupun Presbyterian) hampir

Lebih terperinci

BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus

BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus BAB V Penutup 5.1 Kesimpulan dan Refleksi Upacara slametan sebagai salah satu tradisi yang dilaksanakan jemaat GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus sebagai juruslamat

Lebih terperinci

HIMNE GMIT : Yesus Kristus Tiang Induk Rumah Allah. Bagian I. Pendahuluan

HIMNE GMIT : Yesus Kristus Tiang Induk Rumah Allah. Bagian I. Pendahuluan HIMNE GMIT : Yesus Kristus Tiang Induk Rumah Allah (Suatu Kajian Sosio-Teologis mengenai Pemahaman Jemaat GMIT Kota Baru tentang Himne GMIT) Bagian I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal.1. 1 Dalam artikel yang ditulis oleh Pdt. Yahya Wijaya, PhD yang berjudul Musik Gereja dan Budaya Populer,

BAB I PENDAHULUAN. hal.1. 1 Dalam artikel yang ditulis oleh Pdt. Yahya Wijaya, PhD yang berjudul Musik Gereja dan Budaya Populer, BAB I PENDAHULUAN I. PERMASALAHAN I.1. Masalah Ibadah adalah salah bentuk kehidupan bergereja yang tidak terlepas dari nyanyian gerejawi. Nyanyian di dalam sebuah ibadah mempunyai beberapa fungsi yang

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan. pada Bab 2 dan sistematika penulisan skripsi ini.

Bab 1 Pendahuluan. pada Bab 2 dan sistematika penulisan skripsi ini. Bab 1 Pendahuluan 1.1. Pendahuluan Penyelenggaraan sebuah ibadah Kristen identik dengan praktek nyanyian dan musik, meskipun keduanya tidak selalu ditemukan dalam ibadah Kristen. Nyanyian dan musik menjadi

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Gereja Bethel Indonesia Pahlawan, Magelang lahir pada bulan maret 2001 di kota UKDW

BAB I. Pendahuluan. Gereja Bethel Indonesia Pahlawan, Magelang lahir pada bulan maret 2001 di kota UKDW BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Gereja Bethel Indonesia Pahlawan, Magelang lahir pada bulan maret 2001 di kota Magelang dengan anggota jemaat awal sebesar 26 jiwa. Saat ini jumlah jemaat yang

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Ibadah etnik merupakan salah satu bentuk ibadah yang memberi ruang bagi kehadiran unsurunsur budaya. Kehadiran unsur-unsur budaya yang dikemas sedemikian rupa

Lebih terperinci

MEMAHAMI NYANYIAN JEMAAT SEBAGAI SENTRAL MUSIK GEREJA APA DAN BAGAIMANA? Rohani Siahaan PENDAHULUAN

MEMAHAMI NYANYIAN JEMAAT SEBAGAI SENTRAL MUSIK GEREJA APA DAN BAGAIMANA? Rohani Siahaan PENDAHULUAN MEMAHAMI NYANYIAN JEMAAT SEBAGAI SENTRAL MUSIK GEREJA APA DAN BAGAIMANA? Rohani Siahaan sttjaffraymakassar@yahoo.co.id PENDAHULUAN Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan. Menyanyilah bagi Tuhan, hai segenap

Lebih terperinci

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 30 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH III) BERELASI DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 30 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH III) BERELASI DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS TATA IBADAH MINGGU, 30 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH III) BERELASI DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS Latihan Lagu-Lagu. Pembacaan Warta Lisan. Saat Hening. A. JEMAAT BERHIMPUN 1. AJAKAN BERIBADAH (JEMAAT DUDUK) Pnt.

Lebih terperinci

PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB)

PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB) PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB) Diajukan Kepada Fakultas Teologi Sebagai Salah Satu Persyaratan Uji Kelayakan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Tradisi Piring Nazar sebagai sebuah kenyataan sosio-religius dapat dijadikan sebagai

BAB V PENUTUP. 1. Tradisi Piring Nazar sebagai sebuah kenyataan sosio-religius dapat dijadikan sebagai BAB V PENUTUP Dari penjelasan serta pembahasan yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab yang terakhir ini akan dipaparkan kesimpulan yang berisi temuan-temuan mengenai Piring Nazar

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan UKDW

BAB I. Pendahuluan UKDW BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Belakangan ini banyak gereja mencoba menghadirkan variasi ibadah dengan maksud supaya ibadah lebih hidup. Contohnya dalam lagu pujian yang dinyanyikan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan di kota saat ini mulai dipenuhi dengan aktivitas yang semakin padat dan fasilitas yang memadai. Kenyataan tersebut tidak dapat dipungkiri oleh gereja-gereja

Lebih terperinci

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) adalah sebuah gereja Kristen Protestan yang sudah lama berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Menurut pengamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2000), hal.2. 1 Emanuel Gerit Singgih, Berteologi dalam Konteks (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

BAB I PENDAHULUAN. 2000), hal.2. 1 Emanuel Gerit Singgih, Berteologi dalam Konteks (Jakarta: BPK Gunung Mulia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kontekstualisasi ajaran Kristen dalam kehidupan bergereja di Indonesia merupakan isu yang selalu hangat dibicarakan. Kontekstualisasi menjadi isu yang penting karena

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perjamuan kudus merupakan perintah Tuhan sendiri, seperti terdapat dalam Matius 26:26-29, Mar

BAB 1 PENDAHULUAN. Perjamuan kudus merupakan perintah Tuhan sendiri, seperti terdapat dalam Matius 26:26-29, Mar BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam pengajaran gereja sakramen disebut sebagai salah satu alat pemelihara keselamatan bagi umat Kristiani. Menurut gereja-gereja reformasi hanya ada dua sakramen,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Tuhan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ibadah yang sejati seperti yang ditegaskan oleh Rasid Rachman 1 sebagai refleksinya atas Roma 12:1, adalah merupakan aksi dan selebrasi. Ibadah yang sejati tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibadah dan Pemilihan Repertoar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibadah dan Pemilihan Repertoar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibadah dan Pemilihan Repertoar Reformasi gereja merupakan peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Gereja-gereja Protestan memperingati Hari Reformasi Gereja setiap

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN Masyarakat Karo terkenal dengan sikap persaudaraan dan sikap solidaritas yang sangat tinggi. Namun ironisnya sikap persaudaraan dan kekerabatan yang mewarnai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ibadah bukan hanya berkaitan dengan sebuah bernyanyi dan berdoa, nilai

BAB I PENDAHULUAN. Ibadah bukan hanya berkaitan dengan sebuah bernyanyi dan berdoa, nilai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ibadah adalah hal yang sangat umum dan sangat berkaitan erat dengan hidup kita keseharian. Ibadah juga memiliki makna yang sangat luas mengingat bahwa setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja adalah persekutuan orang percaya yang dipanggil oleh Allah dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia, ini merupakan hakikat gereja. Gereja juga dikenal

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Dari rangkaian Uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya,

BAB V PENUTUP. Dari rangkaian Uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, BAB V PENUTUP Dari rangkaian Uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab terakhir ini penulis akan menyimpulkan fenomena-fenomena sosial mengenai pemahaman Komunitas Bupolo di Buru

Lebih terperinci

Gereja Tunduk Kepada Roh Kudus

Gereja Tunduk Kepada Roh Kudus Gereja Tunduk Kepada Roh Kudus Kami menuliskan pelajaran ini pada waktu musim semi! Cabang-cabang pohon mengeluarkan tunas-tunas baru yang berwarna hijau muda dan hijau tua. Kuncup-kuncup mulai tumbuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan hal yang tidak asing bagi kita. Setiap orang pasti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan hal yang tidak asing bagi kita. Setiap orang pasti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan hal yang tidak asing bagi kita. Setiap orang pasti memiliki pengalaman dalam bermusik karena musik mampu menjangkau semua kalangan masyarakat

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang 1 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang Bagi orang Asia, adat merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan melekatnya identitas sebagai masyarakat suku. Hampir setiap suku mengenal adat sebagai bagian integral

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat menghasilkan keindahan melalui kegiatan bernyanyi. Bernyanyi adalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat menghasilkan keindahan melalui kegiatan bernyanyi. Bernyanyi adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Musik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia merupakan bagian dari kesenian atau keindahan yang dihasilkan melalui media bunyi atau suara. Suara

Lebih terperinci

BAPA SURGAWI BERFIRMAN KEPADA SAUDARA

BAPA SURGAWI BERFIRMAN KEPADA SAUDARA BAPA SURGAWI BERFIRMAN KEPADA SAUDARA Dalam Pelajaran Ini Saudara Akan Mempelajari Allah Ingin Berbicara kepada Saudara Allah Berfirman dalam Berbagai-bagai Cara Bagaimana Kitab Allah Ditulis Petunjuk-petunjuk

Lebih terperinci

Bab 2 Nyanyian dan Musik Gerejawi dalam Ibadah Kristen

Bab 2 Nyanyian dan Musik Gerejawi dalam Ibadah Kristen Bab 2 Nyanyian dan Musik Gerejawi dalam Ibadah Kristen 2.1. Pendahuluan Kehadiran nyanyian dan musik di dalam sebuah ibadah Kristen bukan suatu hal yang mengherankan. Nyanyian dan musik digunakan sejak

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbicara akan persoalan Perjamuan Kudus maka ada banyak sekali pemahaman antar jemaat, bahkan antar pendeta pun kadang memiliki dasar pemahaman berbeda walau serupa.

Lebih terperinci

PELAYANAN GEREJA TUHAN

PELAYANAN GEREJA TUHAN PELAYANAN GEREJA TUHAN CATATAN SISWA No. Tanggal Kirim Tulislah dengan huruf cetak yang jelas! Nama Saudara............................ Alamat. Kota,. Propinsi. Umur....... Laki-laki/perempuan............

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Chris Hartono, Mandiri dan Kemandirian, dalam Majalah Gema STT Duta Wacana, Maret 1983, p. 46.

BAB I PENDAHULUAN. 1 Chris Hartono, Mandiri dan Kemandirian, dalam Majalah Gema STT Duta Wacana, Maret 1983, p. 46. BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil dan ditempatkan di dunia ini mempunyai tugas. Tugas gereja adalah untuk menyatakan hakekatnya sebagai tubuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, dijumpai berbagai tradisi atau budaya

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, dijumpai berbagai tradisi atau budaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, dijumpai berbagai tradisi atau budaya yang menghubungkan dan mengikat anggota masyarakat satu dengan yang lain. Tradisitradisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Permasalahan Di dalam dogma Kristen dinyatakan bahwa hanya karena anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, manusia dapat dibenarkan ataupun dibebaskan dari kuasa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Lihat sila pertama dalam Dasar Negara Indonesia: Pancasila

BAB I PENDAHULUAN. 1 Lihat sila pertama dalam Dasar Negara Indonesia: Pancasila BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Seringkali kita mendengar dan membaca bahwa negara kita yaitu negara Indonesia adalah negara yang beragama. Dikatakan demikian, karena pada umumnya setiap warga negara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan iman anak tentunya bukanlah hal yang dapat dianggap sepele. Banyak pihak bertanggung jawab dalam pelaksanaan pendidikan iman bagi anak-anak kecil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Permasalahan. I.1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Permasalahan. I.1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Permasalahan I.1.1 Latar Belakang Hari Minggu umumnya sudah diterima sebagai hari ibadah umat Kristen. Dikatakan umumnya karena masih ada kelompok tertentu yang menekankan hari Sabat

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan keberadaannya. Dari ajaran resmi yang dituangkan di dalam Pokok-

BAB I PENDAHULUAN. dengan keberadaannya. Dari ajaran resmi yang dituangkan di dalam Pokok- BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Identifikasi Permasalahan Sebagai salah satu penerus tradisi Gereja Reformasi, Gereja Kristen Jawa (GKJ) memiliki ajaran iman yang sangat mendasar sehubungan

Lebih terperinci

BAB III. Deskripsi Proses Perumusan Tema-Tema Tahunan GPIB. 1. Sejarah Singkat GPIB. GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) adalah bagian

BAB III. Deskripsi Proses Perumusan Tema-Tema Tahunan GPIB. 1. Sejarah Singkat GPIB. GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) adalah bagian BAB III Deskripsi Proses Perumusan Tema-Tema Tahunan GPIB 1. Sejarah Singkat GPIB GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) adalah bagian dari GPI (Gereja Protestan Indonesia) yang dulunya bernama

Lebih terperinci

Bagian II. Himne dan Musik Gereja

Bagian II. Himne dan Musik Gereja Bagian II. Himne dan Musik Gereja Himne tidak dapat dipisahkan dari musik dan nyanyian, sebab himne adalah bagian dari keduanya. Di dalam bagian 2 ini penulis akan memaparkan beberapa teori yang berkaitan

Lebih terperinci

Pnt. : Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan? J : TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan! Sela

Pnt. : Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan? J : TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan! Sela TATA IBADAH MINGGU, 09 JULI 2017 (MINGGU BIASA) TERBUKA PADA CARA KERJA ALLAH Latihan Lagu-Lagu. Penayangan Warta Lisan. Setelah Penayangan Warta Lisan, Penatua mengajak Jemaat bersaat teduh dan mendaraskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Kata tembang nyanyian sama fungsi dan kegunaannya dengan kidung, kakawin dan gita. Kata kakawin berasal

BAB I PENDAHULUAN. 1 Kata tembang nyanyian sama fungsi dan kegunaannya dengan kidung, kakawin dan gita. Kata kakawin berasal BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupannya di dunia manusia mengalami banyak peristiwa baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Terkadang beberapa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan semua kajian dalam bab-bab yang telah dipaparkan di atas, pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan dan rekomendasi. Rekomendasi ini terutama bagi gereja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Lih. Kis 18:1-8 2 The Interpreter s Dictionary of the Bible. (Nashville : Abingdon Press, 1962). Hal. 682

BAB I PENDAHULUAN. 1 Lih. Kis 18:1-8 2 The Interpreter s Dictionary of the Bible. (Nashville : Abingdon Press, 1962). Hal. 682 BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Rasul Paulus merupakan salah seorang rasul yang berperan sangat penting dalam kelahiran dan pertumbuhan jemaat Kristen mula-mula, terutama bagi kalangan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Kehidupan bergereja (berjemaat) tidak dapat dilepaskan dari realita persekutuan yang terjalin di dalamnya. Dalam relasi persekutuan tersebut, maka setiap anggota

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Permasalahan.

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Permasalahan. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Permasalahan. Gereja dalam kehidupan kekristenan menjadi tempat dan sarana orang-orang percaya kepada Kristus, berkumpul dan saling mendorong antara orang yang satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang terpanggil dan dihimpun oleh Allah Bapa, keluar dari kegelapan menuju kepada Yesus Kristus

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata

BAB V PENUTUP. budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Kesimpulan akhir dari penelitian tentang teologi kontekstual berbasis budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata peribadahan GKJ di dalam menanamkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar belakang permasalahan Dalam diri manusia terdapat dua element dasar yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian manusia. Element tersebut adalah rasio dan rasa.

Lebih terperinci

2

2 Pk. 17.00 WIB 2 3 4 5 6 7 8 9 PELAYANAN BAPTISAN KUDUS DEWASA, BAPTIS ANAK, PENGAKUAN PERCAYA (SIDI), PENERIMAAN ANGGOTA & PEMBARUAN PENGAKUAN PERCAYA PENGANTAR PF : Dalam kebaktian hari ini akan dilayankan

Lebih terperinci

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Mengaryakan Pelayanan dan Kesaksian dengan Mewujudkan Kebebasan, Keadilan, Kebenaran dan Kesejahteraan bagi Sesama dan Alam Semesta (LUKAS 4:19) Minggu,

Lebih terperinci

lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm

lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia pada hakekatnya adalah makhluk berbudaya, karena itu manusia tidak dapat lepas dari budaya yang dianutnya. Suatu budaya memiliki nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Mustopo Habib berpendapat bahwa kesenian merupakan jawaban terhadap tuntutan dasar kemanusiaan yang bertujuan untuk menambah dan melengkapi kehidupan. Namun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jawa Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki agama-agama suku dan kebudayaan-kebudayaan lokal serta masih dipelihara. Salah satu agama suku yang ada di Jawa

Lebih terperinci

UKDW BAB I Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I Latar Belakang Permasalahan BAB I 1. 1. Latar Belakang Permasalahan Pendeta dipandang sebagai tugas panggilan dari Allah, karenanya pendeta biasanya akan dihormati di dalam gereja dan menjadi panutan bagi jemaat yang lainnya. Pandangan

Lebih terperinci

Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu?

Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu? Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan 21-23 Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu? Orang-orang yang percaya kepada Kristus terpecah-belah menjadi ratusan gereja. Merek agama Kristen sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada di tengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat lebih kuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam proses penyebarluasan firman Tuhan, pekabaran Injil selalu berlangsung dalam konteks adat-istiadat dan budaya tertentu, seperti halnya Gereja gereja di

Lebih terperinci

KONSEP SPIRITUALITAS MAHASISWA/I FAKULTAS TEOLOGI UKSW

KONSEP SPIRITUALITAS MAHASISWA/I FAKULTAS TEOLOGI UKSW KONSEP SPIRITUALITAS MAHASISWA/I FAKULTAS TEOLOGI UKSW Skripsi Diajukan kepada Fakultas Teologi untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Sains dalam Ilmu Teologi (S.Si-Teol) disusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (2000) p Budyanto, Dasar Teologis Kebersamaan dalam Masyarakat yang Beranekaragam Gema Duta Wacana, Vol.

BAB I PENDAHULUAN. (2000) p Budyanto, Dasar Teologis Kebersamaan dalam Masyarakat yang Beranekaragam Gema Duta Wacana, Vol. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Negara Indonesia adalah negara yang sangat majemuk atau beraneka ragam, baik dilihat secara geografis, struktur kemasyarakatan, adat istiadat, kebiasaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Paham Dosa Kekristenan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Paham Dosa Kekristenan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.1 Paham Dosa Kekristenan Dosa merupakan fenomena aktual dari masa ke masa yang seolah tidak punya jalan keluar yang pasti. Manusia mengakui keberdosaannya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Manusia hidup tidak selamanya berada dalam kondisi dimana semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan dan diingininya. Ada saat dimana muncul ketegangan-ketegangan

Lebih terperinci

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 30 JULI 2017 (MINGGU BIASA) POLA HIDUP KERAJAAN ALLAH

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 30 JULI 2017 (MINGGU BIASA) POLA HIDUP KERAJAAN ALLAH TATA IBADAH MINGGU, 30 JULI 2017 (MINGGU BIASA) POLA HIDUP KERAJAAN ALLAH Latihan Lagu-Lagu. Penayangan Warta Lisan. Saat Hening A. JEMAAT BERHIMPUN 1. AJAKAN BERIBADAH (JEMAAT DUDUK) Pnt. : Jemaat terkasih,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Permasalahan. 1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Permasalahan. 1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan 1. Latar Belakang Masalah Secara historis, Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) sedikit banyak terkait dengan buah pekerjaan Zending der Gereformeerde Kerken in Nederland

Lebih terperinci

Wahai dunia, soraklah! Angkat suaramu, nyanyilah! Tabuhlah tifa dan gendang, iringi puji dalam tembang! Ref. :

Wahai dunia, soraklah! Angkat suaramu, nyanyilah! Tabuhlah tifa dan gendang, iringi puji dalam tembang! Ref. : yur TATA IBADAH HARI MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA PERSIAPAN : Doa Pribadi Latihan Lagu-lagu baru Doa para Presbiter di Konsistori (P.1.) UCAPAN SELAMAT DATANG P.2. Selamat pagi/sore dan selamat beribadah

Lebih terperinci

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. dalam keluarga dengan orang tua beda agama dapat dipahami lebih baik.

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. dalam keluarga dengan orang tua beda agama dapat dipahami lebih baik. BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Dalam bab IV ini akan dipaparkan suatu refleksi teologis tentang PAK dalam keluarga dengan orang tua beda agama. Refleksi teologis ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu PAK keluarga

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG Pada Bab ini, penulis akan menggunakan pemahaman-pemahaman Teologis yang telah dikemukakan pada

Lebih terperinci

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Permasalahan. Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Permasalahan. Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut Gereja Bali atau singkatannya GKPB, adalah salah satu dari sedikit gerejagereja

Lebih terperinci

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang permasalahan. 1) Gambaran umum tentang orang Tionghoa yang ada di Indonesia.

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang permasalahan. 1) Gambaran umum tentang orang Tionghoa yang ada di Indonesia. BAB I Pendahuluan 1.1 Latar belakang permasalahan 1) Gambaran umum tentang orang Tionghoa yang ada di Indonesia. Orang-orang Tionghoa asli sudah datang ke pulau Jawa jauh sebelum kedatangan orang Barat.

Lebih terperinci

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 23 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH II) KEBANGKITAN-NYA MENGOBARKAN KEBERANIAN DAN PENGHARAPAN

A. JEMAAT BERHIMPUN TATA IBADAH MINGGU, 23 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH II) KEBANGKITAN-NYA MENGOBARKAN KEBERANIAN DAN PENGHARAPAN TATA IBADAH MINGGU, 23 APRIL 2017 (MINGGU PASKAH II) KEBANGKITAN-NYA MENGOBARKAN KEBERANIAN DAN PENGHARAPAN Latihan Lagu-Lagu. Pembacaan Warta Lisan. Saat Hening. A. JEMAAT BERHIMPUN 1. AJAKAN BERIBADAH

Lebih terperinci

TIDAK MESTI BESAR, HEBAT, BANYAK

TIDAK MESTI BESAR, HEBAT, BANYAK LITURGI ADVEN IV MINGGU, 20 DESEMBER 2015 tema: TIDAK MESTI BESAR, HEBAT, BANYAK GEREJA KRISTEN INDONESIA TAMAN CIBUNUT BANDUNG JL. VAN DEVENTER NO. 11 BANDUNG-40112 PERSIAPAN Jemaat memasuki ruang ibadah

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. Padoman Wawancara

LAMPIRAN 1. Padoman Wawancara LAMPIRAN 1 Padoman Wawancara Sampel. Anggota tetap dan anggota simpatisan Anggota yang beralih Pertanyaan Mengapa sampai anda beralih? Menurut seoang guru, mengatakan bahwa mengapa saya beralih? Bagi saya

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suku bangsa Sabu atau yang biasa disapa Do Hawu (orang Sabu), adalah sekelompok masyarakat yang meyakini diri mereka berasal dari satu leluhur bernama Kika Ga

Lebih terperinci

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) 19 November 2017 Jemaat GIDEON Kelapadua Depok Jl. Komjen Pol M. Jasin Kelapadua, Pasirgunung Selatan Ksatrian Amji Atak (Komp. BRIMOB POLRI) Kelapadua-

Lebih terperinci

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) 06 Agustus 2017 Jemaat GIDEON Kelapadua Depok Jl. Komjen Pol M. Jasin Kelapadua, Pasirgunung Selatan Ksatrian Amji Atak (Komp. BRIMOB POLRI) Kelapadua-

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum Emeritasi merupakan istilah yang tidak asing di telinga kita. Dalam dunia pendidikan kita mengetahui adanya profesor

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. mempunyai kepercayaan agama. Agama apapun mengajarkan bahwa kita harus

BAB IV PENUTUP. mempunyai kepercayaan agama. Agama apapun mengajarkan bahwa kita harus BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Penyembahan merupakan hal yang harus dilakukan oleh manusia yang mempunyai kepercayaan agama. Agama apapun mengajarkan bahwa kita harus tunduk, menghargai, menghormati, dan

Lebih terperinci

UKDW. Bab I Pendahuluan

UKDW. Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan I. A. Latar Belakang Perbedaan merupakan hal yang selalu dapat kita temukan hampir di setiap aspek kehidupan. Beberapa perbedaan yang seringkali ditemukan misalnya perbedaan suku bangsa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefenisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan bahasa ringkas, pilihan kata yang konotatif, banyak penafsiran, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan bahasa ringkas, pilihan kata yang konotatif, banyak penafsiran, dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Puisi merupakan bentuk karya sastra yang tersaji menggunakan kata-kata yang indah dan kaya bahasa yang penuh makna (Kosasih, 2008: 31). Keindahan puisi ditentukan

Lebih terperinci

Tata Ibadah Keluarga Malam Natal

Tata Ibadah Keluarga Malam Natal GEREJA PROTESTAN di INDONESIA bagian BARAT Tata Ibadah Keluarga Malam Natal Tata Ibadah Keluarga Malam Natal Minggu, 24 Desember 2017 PERSIAPAN Menyiapkan sebuah Lilin Natal Menyiapkan pokok-pokok Doa

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang BAB IV TINJAUAN KRITIS Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya kita dapat melihat bahwa manusia selalu menyatu dengan kebudayaannya dan budaya itu pun menyatu dalam diri manusia. Karena itu budaya menjadi

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja hidup di tengah masyarakat. Gereja kita kenal sebagai persekutuan orangorang percaya kepada anugerah keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup dalam komunitas sebagai anggota gereja (Gereja sebagai Institusi). 1

BAB I PENDAHULUAN. hidup dalam komunitas sebagai anggota gereja (Gereja sebagai Institusi). 1 BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Nabeel Jabbour menepis pemahaman tentang gereja hanya sebatas bangunan, gedung dan persekutuan yang institusional. Berangkat dari pengalaman hidup Nabeel Jabbour selama

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN Satuan Pendidikan

SILABUS MATA PELAJARAN Satuan Pendidikan 1 SILABUS MATA PELAJARAN Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VIII Mata Pelajaran : Kompetensi Inti : KI 1:Menerima dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2: Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tangungjawab,

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendampingan dan konseling pastoral adalah alat-alat berharga yang melaluinya gereja tetap relevan kepada kebutuhan manusia. 1 Keduanya, merupakan cara

Lebih terperinci

HERMENEUTIK LEKSIONARI

HERMENEUTIK LEKSIONARI HERMENEUTIK LEKSIONARI Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono Definisi Leksionari Leksionari adalah suatu kumpulan daftar bacaan Alkitab yang disusun dan ditujukan untuk memproklamasikan firman Tuhan dalam

Lebih terperinci