III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "III. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Perolehan Organicremoval Hasil pembuatan organicremoval dari kulit singkong dan kulit kacang tanah dari 100 gram kulit mentah diperoleh hasil sebagai berikut (Tabel 1 dan Tabel 2). Tabel 1. Perolehan Organicremoval Kulit Singkong Organicremoval Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) % Perolehan DWO 100,00 61,80 61,65 NAO 19,13 13,05 68,20 PAO 16,79 12,89 76,77 Keterangan : DWO : Organicremoval pencucian air deionisasi (Destilation Water Organicremoval) NAO : Organicremoval termodifikasi asam nitrat (Nitric Acid Organicremoval) PAO : Organicremoval termodifikasi asam fosfat (Phosphatic Acid Organicremoval) Perolehan organicremoval kulit singkong untuk setiap jenis organicremoval diatas 60% dari bobot awal bahan. Perolehan adsorben organik kulit singkong yang dicuci dengan air destilasi (DWO) adalah 61,80 g dari 100,00 g bahan awal, perolehan adsorben organik kulit singkong modifikasi asam nitrat (NAO) adalah 13,0493 g dari 19,1329 g bahan awal, sedangkan perolehan adsorben organik kulit singkong modifikasi asam fosfat (PAO) adalah 12,89 g dari 16,79 g bahan awal. Hasil menunjukkan setiap jenis adsorben organik berkurang 30-40% dari bobot awal untuk setiap perlakuan. Tabel 2. Perolehan Organicremoval Kulit Kacang Tanah Organicremoal Bobot Awal (g) Bobot Akhir (g) % Perolehan DWO 101,08 84,14 83,23 NAO 28,90 23,94 82,83 PAO 28,05 24,97 89,02 Keterangan : DWO : Organicremoval pencucian air deionisasi (Destilation Water Organicremoval) NAO : Organicremoval termodifikasi asam nitrat (Nitric Acid Organicremoval) PAO : Organicremoval termodifikasi asam fosfat (Phosphatic Acid Organicremoval) Perolehan organicremoval kulit kacang tanah yang dicuci dengan air destilasi (DWO) adalah 84,14 g dari 101,08 g bahan awal, perolehan organicremoval kulit kacang tanah modifikasi asam nitrat (NAO) adalah 23,94 g dari 28,90 g bahan awal, sedangkan perolehan organicremoval kulit kacang tanah modifikasi asam fosfat (PAO) adalah 24,97 g dari 28,05 g bahan awal. Bobot

2 akhir organicremoval pada setiap perlakuan berkurang antara 11-19% dari bobot awal Konsentrasi, Absorbansi Larutan Ion Cr, dan Kurva Standar Cr Konsentrasi dan absorbansi larutan ion Cr untuk pembuatan kurva standar ditunjukkan pada Tabel 3 sedangkan grafik kurva ditunjukkan pada Gambar 1. Tabel 3. Konsentrasi dan Absorbansi Larutan Ion Cr pada Pembuatan Kurva Standar Cr Kode Konsentrasi (mg/l) Absorbansi Std 1 0,10 0,002 Std 2 0,50 0,011 Std 3 1,00 0,021 Std 4 2,00 0,036 Std 5 3,00 0,053 Std 6 4,00 0,060 Gambar 1. Kurva Standar Kromium Kurva standar Cr diperoleh dari pengukuran larutan standar kromium dengan AAS, kurva digunakan dalam penghitungan konsentrasi kromium dalam satuan mg/l. Pembuatan kurva standar menghasilkan persamaan y = 0,015x + 0,003. Konsentrasi akhir kandungan Cr didalam air limbah penyamakan kulit setelah diberi perlakuan organicremoval ditunjukkan pada Tabel 4.

3 Tabel 4. Konsentrasi Larutan Ion Cr pada Masing-Masing Organicremoval Jenis kulit Singkong Kacang tanah Keterangan : sg : singkong kc : kacang tanah Kode Adsorben organik Ulangan Konsentrasi awal (mg/l) Konsentrasi akhir (mg/l) DWO sg 1 1,15 1,13 DWO sg 2 1,15 1,04 NAO sg 1 1,15 0,04 NAO sg 2 1,15 0,01 PAO sg 1 1,15 0,08 PAO sg 2 1,15 0,05 DWO kc 1 1,15 1,24 DWO kc 2 1,15 1,37 NAO kc 1 1,15 0,50 NAO kc 2 1,15 0,49 PAO kc 1 1,15 0,48 PAO kc 2 1,15 0,50 Setelah dilakukan treatment pada air limbah penyamakan kulit dengan kadar Cr awal 1,15 mg/l menggunakan berbagai jenis organicremoval diperoleh hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4, konsentrasi awal logam Cr didalam air limbah penyamakan kulit sebelum dilakukan treatment menggunakan organicremoval kulit singkong maupun kulit kacang tanah adalah 1,15 mg/l dan setelah organicremoval dimasukkan ke dalam air limbah, kandungan logam Cr ada yang bertambah dan ada yang berkurang, nilai kandungan Cr bervariasi antara 0,01-1,37 mg/l Kapasitas dan Efektivitas Adsorbsi Kapasitas organicremoval ditunjukkan pada Tabel 5 dan Gambar 2, sedangkan efektivitas organicremoval ditunjukkan pada Tabel 6 dan Gambar 3. Kapasitas adsorbsi merupakan seberapa banyak kandungan logam Cr yang mampu diadsorbsi pergram massa adsorben organik. Kemampuan kulit singkong sebagai adsorben logam Cr selain dibuktikan dengan nilai kapasitas adsorbsi juga dapat dibuktikan dengan efektivitas adsorbsi. Efektivitas menggambarkan seberapa besar kemampuan organicremoval mengadsorbsi logam Cr pada air limbah penyamakan kulit. Efektivitas akan berbanding lurus dengan kapasitas adsorbsi. Tabel 5 menyajikan kapasitas dan efektivitas adsorbsi organicremoval kulit singkong, sedangkan Tabel 6 menyajikan kapasitas dan efektivitas adsorbsi organicremoval kulit kacang tanah.

4 Tabel 5. Kapasitas dan Efektivitas Adsorbsi Organicremoval Kulit Singkong Organicremoval Ulangan Konsentrasi Konsentrasi Q (µgcr/g Efektivitas ke- awal (mg/l) akhir (mg/l) organicremoval) (%) DWO 1 1,15 1,13 1,00 1,73 2 1,15 1,04 5,50 9,57 rata-rata 1,15 1,09 3,25 5,65 NAO 1 1,15 0,04 55,50 96,52 2 1,15 0,01 57,00 99,13 rata-rata 1,15 0,03 56,25 97,83 PAO 1 1,15 0,08 53,50 93,04 2 1,15 0,05 55,00 95,65 rata-rata 1,15 0,07 54,25 94,35 Tabel 6. Kapasitas dan Efektivitas Adsorbsi Organicremoval Kulit Kacang Tanah Organicremoval Ulangan ke- Konsentrasi awal (mg/l) Konsentrasi akhir (mg/l) Q (µgcr/gcr/g organicremoval) Efektivitas (%) DWO 1 1,15 1,24-4,50-7,82 2 1,15 1,37-11,00-19,13 rata-rata 1,15 1,31-7,75-13,48 NAO 1 1,15 0,50 32,50 56,52 2 1,15 0,49 33,00 57,39 rata-rata 1,15 0,50 32,75 56,96 PAO 1 1,15 0,53 31,00 53,91 2 1,15 0,50 32,50 56,52 rata-rata 1,15 0,51 31,75 55,22 Kapasitas adsorbsi organicremoval ditunjukkan pada Gambar 2, kapasitas adsorbsi tertinggi adalah 56,25 µgcr/g organicremoval oleh NAO singkong. Kapasitas adsorbsi terendah sebesar -7,75 µgcr/g organicremoval merupakan nilai kapasitas adsorbsi yang dimiliki oleh DWO kacang tanah. b b d d a c Keterangan : Huruf yang sama (a) antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan huruf yang berbeda antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan berbeda nyata (p<0,05). Gambar 2. Kapasitas Organicremoval

5 b b d d a c Keterangan : Huruf yang sama (a) antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan huruf yang berbeda antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan berbeda nyata (p<0,05). Gambar 3. Efektivitas Organicremoval Gambar 3 memperlihatkan keefektifan kulit kacang tanah dan kulit singkong sebagai adsorben logam Cr, dari dua jenis kulit yang digunakan sebagai adsorben organik, adsorben kulit singkong yang dimodifikasi asam nitrat (NAO) merupakan organicremoval yang paling efektif sebagai adsorben logam Cr. Keefektifan organicremoval kulit singkong NAO mencapai 97,83%, sedangkan untuk organicremoval kulit kacang tanpa modifikasi asam (DWO) memiliki nilai keefektifan sebesar -13,48%. Nilai keefektifan organicremoval kulit kacang DWO merupakan nilai terendah dibandingkan dengan organicremoval yang lain. Berdasarkan Tabel 5 dan Tabel 6 dapat disimpulkan modifikasi asam terhadap kulit singkong dan kulit kacang tanah dapat menaikkan efektivitas adsorbsi logam Cr di air. Efektivitas akan berbanding lurus dengan kapasitas adsorbsi, hal ini terbukti dari hasil perhitungan kapasitas adsorbsi dan efektivitas semua jenis organicremoval. NAO singkong yang memiliki nilai efektivitas tertinggi juga memiliki nilai kapasitas adsorbsi tertinggi. DWO kacang tanah yang memiliki efektivitas terendah juga memiliki nilai kapasitas adsorbsi terendah. Hasil perhitungan ANOVA pada selang kepercayaan 95%, diperoleh hasil bahwa pemberian asam pada bahan organik memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terkait dengan adsorbsi logam krom dalam air limbah penyamakan kulit. Sedangkan perhitungan ANOVA pada selang kepercayaan 95%, diperoleh

6 hasil bahwa kulit singkong dan kulit kacang tanah sebagai organicremoval memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terkait dengan adsorbsi logam krom dalam air limbah penyamakan kulit. Grafik hubungan antara perlakuan asam dengan rata-rata konsentrasi kromium ditunjukkan pada Gambar 4. Hubungan antara organicremoval dengan rata-rata konsentrasi kromium pada setiap perlakuan asam dapat dilihat pada Gambar 5. b a Keterangan : Huruf yang sama (a) antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan huruf yang berbeda antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan berbeda nyata (p<0,05). Gambar 4. Grafik Rata-Rata Konsentrasi Kromium Terhadap Organicremoval a b Keterangan : Huruf yang sama (a) antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05), sedangkan huruf yang berbeda antara perlakuan menunjukkan bahwa antara setiap perlakuan berbeda nyata (p<0,05). Gambar 5. Grafik Rata-Rata Konsentrasi Kromium terhadap Perlakuan Asam

7 Perhitungan ANOVA pada selang kepercayaan 95% untuk interaksi antara organicremoval dengan perlakuan asam, diperoleh hasil bahwa interaksinya memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05). Analisis ragam untuk pengaruh perbedaan organicremoval, pengaruh pemberian asam, dan interaksi antara organicremoval dengan pengaruh pemberian asam disajikan pada Lampiran Pembahasan Kulit singkong dan kulit kacang tanah yang dimanfaatkan sebagai adsorben organik logam kromium (Cr) pada air limbah penyamakan kulit merupakan suatu alternatif pengelolaan air limbah yang murah dan mudah dilakukan. Air limbah penyamakan kulit yang sudah mengalami adsorbsi diharapkan dapat digunakan sebagai media untuk kegiatan budidaya ikan. Sebelum digunakan sebagai organicremoval, kulit singkong dan kulit kacang tanah dimodifikasi terlebih dahulu menggunakan asam. Asam yang digunakan adalah asam nitrat dan asam fosfat. Modifikasi organicremoval bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan kapasitas adsorbsi bahan. Modifikasi organicremoval dengan asam paling umum dan terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kapasitas dan efisiensi organicremoval (Gufta 1998). Organicremoval berupa kulit singkong dan kulit kacang tanah dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu, pada tahap ini juga dilakukan pemilihan kulit yang bertujuan memperoleh kulit yang baik dan bersih dari kotoran. Kulit singkong dan kulit kacang tanah dikeringudarakan, kemudian dihaluskan sampai ukuran 100 mesh. Bahan yang telah halus dibuat berbagai macam modifikasi adsorben organik yaitu adsorben organik pencucian air destilasi (DWO), adsorben organik modifikasi asam nitrat (NAO), dan adsorben organik modifikasi asam fosfat (PAO). Selama proses modifikasi, massa organicremoval kulit singkong berkurang 30-40% dari massa awal, sedangkan organicremoval kulit kacang tanah berkurang 11-19% (Tabel 1 dan Tabel 2). Berkurangnya bobot kulit singkong dan kulit kacang tanah dikarenakan perbedaan kandungan air dan kandungan selulosa pada masing-masing bahan. Menurut Sangseethong dan Klanarong (2000) dalam Dewi (2005), kulit singkong

8 kering tersusun oleh 70,62% pati; 25,90% serat; 1,16% protein; 0,12% lemak; dan 2,11% abu. Kadar air kulit singkong basah adalah 68,60% (Dewi 2005). Sedangkan kulit kacang tanah tersusun atas selulosa 45,3%; hemiselulosa 8,1%; protein 4,9%; abu 2,3%; dan kadar air 7,75% (Marshall et.al 1999). Maka dari itu, penurunan bobot kulit singkong selama proses pembuatan organicremoval lebih besar dibandingkan dengan kulit kacang tanah. Organicremoval modifikasi asam akan berwarna lebih terang dibandingkan organicremoval pencucian air destilasi. NAO berwarna kuning kecokelatan sedangkan PAO berwarna kuning cerah (Lampiran 3). Organicremoval tersebut digunakan sebagai adsorben logam kromium (Cr) pada air limbah penyamakan kulit. Logam kromium memiliki massa jenis (20 C) 7,19 g/cm 3, titik leleh C, dan titik didih C. Kromium termasuk logam mengkilap, keras serta tahan karat sehingga sering digunakan sebagai pelindung logam lain (Lenntech 1998). Logam kromium ditemukan pada lingkungan perairan dalam bentuk trivalen dan heksavalen. Kromium heksavalen memiliki sifat yang lebih toksik dibandingkan dengan kromium trivalen. Dalam dosis yang rendah, kromium (trivalent) merupakan mineral esensial yang diperlukan dalam metabolisme glukosa dan dalam proses produksi hormon insulin. Sedangkan dalam jumlah yang besar, kelebihan kromium (terutama kromium heksavalent) pada organisme akuatik dapat menyebabkan terganggunya aktivitas enzim, nafsu makan menurun, serta terganggunya proses osmoregulasi. Sedangkan dampak kromium heksavalent terhadap manusia adalah ion-ion heksavalent di dalam proses metabolisme tubuh akan menghalangi atau mampu menghambat kerja enzim benzopiren hidroksilase, akibatnya terjadi perubahan dalam kemampuan pertumbuhan sel sehingga sel-sel menjadi tumbuh secara liar dan tidak terkontrol, yang disebut kanker. Limbah kromium dalam bentuk heksavalent berasal dari limbah industri, seperti industri pelapisan logam, pembuatan semen, pertambangan, dan penyamakan kulit (Mudhoo 2010). Logam Cr digunakan dalam proses penyamakan, untuk membantu mengubah kulit mentah menjadi kulit masak atau menstabilkan sifat kulit. Jenis kromium yang digunakan dalam penyamakan kulit adalah standar kromium 1000 mg/l dan garam kromium dengan kandungan C 2 O 3 26%. Penggunaan kromium

9 sekitar 2-3% dari massa total kulit yang disamak. Dari proses penyamakan kulit menggunakan bahan penyamak kromium dihasilkan limbah dengan ph 5,0-10,5, BOD (20 C) 2, ,00 mg/l, dan kromium 0,007-20,55 mg/l (KLH 2002). Tabel 7. Beban Pencemaran Air Limbah Penyamakan Kulit dengan Penyamak Kromium di Indonesia No Penyamakan parameter Satuan Nilai 1. ph 5,00-10,50 2. BOD (5 hari, 20 C) mg/l 2, ,0 3. COD mg/l 5, ,88 4. Minyak lemak mg/l 0,00-44,00 5. Amoniak mg/l 0, ,54 6. Krom (Cr) mg/l 0,007-20,55 7. Sulfida mg/l 0,000-0,60 8. Total solid mg/l 0,89-433,00 Sumber : (Kementrian Lingkungan Hidup 2002) Menurut Effendi (2003), kriteria kualitas air yang layak untuk biota akuatik adalah 7-8,5 untuk nilai ph; BOD 0,5-7,0 mg/l; COD kurang dari 20 mg/l; 0,02-0,2 mg/l; mg/l; dan kromium 0,015-0,10 mg/l. Berdasarkan hasil lapang diperoleh data kandungan kromium pada limbah penyamakan kulit yang berasal dari PT. Fajar Makmur, Imogiri, DIY yang diuji oleh BBKKP Yogyakarta memiliki kandungan kromium 0,21 mg/l, air limbah diambil dari outlet IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Kandungan kromium yang terdapat pada air limbah penyamakan kulit PT. Fajar Makmur masih tinggi, maka dari itu dilakukan treatment untuk memperbaiki kualitas air dari air limbah penyamakan kulit. Sebelum dilakukan pengelolaan air menggunakan organicremoval kulit kacang tanah dan kulit singkong, kandungan Cr didalam air limbah dinaikan terlebih dahulu menjadi 1,15 mg/l dengan penambahan K 2 Cr 2 O 7, hal ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan kapasitas adsorbsi maksimal dari organicremoval. Organicremoval kulit singkong dan kulit kacang tanah digunakan untuk menyisihkan logam Cr dari limbah industri penyamakan kulit. Penggunaan organicremoval yang merupakan biomassa yang tidak hidup sebagai pengikat logam berat akan menghasilkan keuntungan yang besar karena pada dosis logam berat yang tinggi, dosis ini tidak akan mempengaruhi organicremoval (Horsfall et al. 2003). Apabila menggunakan biomassa dari makhluk yang masih hidup seperti

10 alga atau bakteri, dosis logam berat yang tinggi akan mempengaruhi kehidupan mereka. Kemampuan adsorbsi organicremoval diujikan pada limbah penyamakan kulit. Hasil maksimal adsorbsi ion logam Cr di dalam limbah penyamakan kulit, dihasilkan oleh organicremoval kulit singkong modifikasi asam nitrat. Hal ini dibuktikan dari efektivitas dan kapasitas adsorbsi yang nilainya paling tinggi dibandingkan organicremoval yang lain, efektivitas adsorbsi sebesar 97,83 % dan kapasitas adsorbsi 56,25 µgcr/g organicremoval. Organicremoval kulit singkong NAO mampu menurunkan kadar krom sebesar 1,125 mg/l, dari kandungan kromium awal 1,15 mg/l menjadi 0,025 mg/l. Organicremoval kulit singkong PAO memiliki nilai efektivitas 94,34%, sedangkan NAO kulit kacang tanah memiliki nilai efektivitas 56,96% dan PAO kulit kacang tanah memiliki nilai efektivitas 55,21%. Organicremoval kulit singkong NAO dan PAO mampu menurunkan kadar krom lebih dari 90%. Sehingga organicremoval kulit singkong NAO dan PAO baik digunakan untuk mengadsorbsi air limbah penyamakan kulit yang mengandung kromium, sehingga air limbah dapat digunakan sebagai air pasok budidaya ikan. Efektivitas dan kapasitas adsorbsi organicremoval yang lain dapat dilihat pada hasil di Tabel 5 dan 6. Hasil penelitian menunjukkan organicremoval dengan modifikasi asam merupakan organicremoval yang efektif untuk adsorbsi logam berat pada air limbah penyamakan kulit dibandingkan dengan biomassa yang tidak termodifikasi. Hasil ini menguatkan kesimpulan Wafwoyo et al. (1999), bahwa biomassa termodifikasi asam fosfat maupun asam nitrat mampu meningkatkan efektivitas penjerapan logam berat. Kandungan asam nitrat maupun asam fosfat terikat pada selulosa kulit singkong maupun kulit kacang tanah melalui proses esterifikasi. Kedua asam akan terlebih dahulu membentuk asam polinitrat dan asam polifosfat selama pemanasan dalam oven pada suhu 50 C. Asam polinitrat ataupun polifosfat dapat berekasi dengan gugus OH selulosa menghasilkan ester nitrat atau ester fosfat. Reaksi ini dapat berjalan pada suhu C. Satu molekul air akan dihasilkan dari reaksi tersebut, akibat penggabungan gugus hidroksi yang terlepas dari asam dengan hidrogen dari selulosa (Marshall et al

11 1999). Pengikatan logam Cr melibatkan interaksi elektrostatik antara gugus bermuatan negatif pada dinding sel dan kation logam (Baig et al. 1999). Gambar 6. Adsorbsi Logam Kromium oleh Selulosa (Hubble et al. 2011) Asam nitrat dan asam fosfat merupakan asam yang sering digunakan dalam modifikasi biomassa, selain HCl dan asam sitrat. Berdasarkan hasil perhitungan kapasitas adsorbsi dan efektivitas organicremoval, menunjukkan penggunaan asam nitrat maupun asam fosfat dalam modifikasi biomassa akan menghasilkan hasil yang sama efektifnya dalam melakukan penjerapan logam berat di air limbah, nilai kapasitas dan efektivitas adsorbsi tidak jauh berbeda (Table 5 dan Tabel 6). Hasil penelitian ini menguatkan pendapat Marshall et al. (1999), yang menyatakan penggunaan asam nitrat maupun asam fosfat mampu meningkatkan kapasitas dan efektivitas adsorbsi dengan nilai yang tidak jauh berbeda, hal ini diduga karena perlakuan asam meningkatkan gugus karboksil pada permukaan kulit singkong maupun kulit kacang tanah, demikian pula dapat meningkatkan kemampuan adsorbsi ion logam bermuatan positif. Selain itu hasil tidak jauh berbeda dikarenakan kemiripan struktur asam fosfat dengan asam nitrat. Gugus asam nitrat memiliki tiga atom oksigen dan termasuk asam kuat, sedangkan asam fosfat memiliki empat gugus oksigen dan termasuk asam lemah. Kelebihan satu oksigen pada asam fosfat diharapkan mampu meningkatkan muatan negatif total organicremoval dan mampu meningkatkan kapasitas adsorbsi logam berat. Asam nitrat dapat menghasilkan muatan negatif yang lebih banyak dari kekuatan asamnya, sedangkan asam fosfat dapat menghasilkan muatan

12 negatif yang lebih banyak dari kelebihan satu gugus oksigen. Faktor lain yang diduga menyebabkan kedua jenis asam memiliki nilai keefektifan yang sama adalah pencucian menggunakan air bersuhu C untuk menggurangi kelebihan asam pada organicremoval. Berdasarkan hasil perhitungan ANOVA penggunaan bahan organik (kulit singkong dan kulit kacang tanah) memberikan hasil yang berbeda nyata. Hal ini diperkuat dengan perhitungan efektivitas dan kapasitas adsorbsi yang tercantum pada Tabel 5 dan Tabel 6, tabel hasil menunjukkan penggunaan kulit singkong dalam mengadsorbsi logam krom lebih efektif dibandingkan dengan kulit kacang tanah (P<0,05). Kandungan selulosa kulit singkong yang lebih banyak dibandingkan kandungan selulosa kulit kacang tanah, menyebabkan jumlah muatan negatif yang dihasilkan dari reaksi esterifikasi antara asam dengan gugus selulosa menjadi lebih banyak jumlahnya. Perbedaan kandungan selulosa dan bagian kulit yang digunakan mempengaruhi keefektifan adsorben organik dalam melakukan penjerapan logam krom. Kandungan logam krom yang bertambah pada organicremoval kulit kacang tanah DWO dari kadar kromium awal 1,15 mg/l menjadi 1,30 mg/l yang menyebabkan nilai keefektifannya menjadi negatif (Gambar 3), diduga adsorbennya (kulit kacang tanah) tidak murni, adanya logam lain yang terkandung pada kulit kacang tanah dengan panjang gelombang hampir sama dengan panjang gelombang logam krom sehingga terbaca oleh alat AAS. Hal ini didukung dengan nilai keefektifan organicremoval kulit kacang tanah NAO dan PAO kurang dari 60%, jauh berbeda dengan organicremoval kulit singkong NAO dan PAO yang nilainya diatas 90% (Gambar 3). Penggunaan organicremoval dari kulit singkong dan kulit kacang tanah sebagai adsorben logam berat merupakan salah satu langkah yang baik untuk mengatasi permasalahan kualitas air limbah penyamakan kulit, penyisihan logam kromium pada air limbah penyamakan kulit diharapkan memperbaiki mutu air sehingga air dapat digunakan kembali untuk kegiatan yang lain seperti kegiatan budidaya ikan. Modifikasi asam terhadap organicremoval menarik untuk dikaji, adanya modifikasi asam membuat massa dari kulit singkong dan kulit kacang tanah yang biasanya menjadi limbah dapat digunakan sebagai pengadsorbsi logam

13 berat yang memiliki nilai jual yang lebih. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa limbah kulit tanaman singkong dan kacang tanah dapat digunakan sebagai pengadsorbsi logam berat melalui modifikasi asam, sehingga air limbah penyamakan kulit dapat dimanfaatkan kembali.

PENYISIHAN LOGAM KROMIUM (Cr) AIR LIMBAH PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN ORGANICREMOVAL SEBAGAI TREATMENT AWAL AIR PASOK KEGIATAN BUDIDAYA IKAN

PENYISIHAN LOGAM KROMIUM (Cr) AIR LIMBAH PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN ORGANICREMOVAL SEBAGAI TREATMENT AWAL AIR PASOK KEGIATAN BUDIDAYA IKAN PENYISIHAN LOGAM KROMIUM (Cr) AIR LIMBAH PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN ORGANICREMOVAL SEBAGAI TREATMENT AWAL AIR PASOK KEGIATAN BUDIDAYA IKAN NURINA PRATIWI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya perkembangan industri, semakin menimbulkan masalah. Karena limbah yang dihasilkan di sekitar lingkungan hidup menyebabkan timbulnya pencemaran udara, air

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Onggok Sebelum Pretreatment Onggok yang digunakan dalam penelitian ini, didapatkan langsung dari pabrik tepung tapioka di daerah Tanah Baru, kota Bogor. Onggok

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan dan kemudian ditimbang. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot konstan. Rumus untuk perhitungan TSS adalah sebagai berikut: TSS = bobot residu pada kertas saring volume contoh Pengukuran absorbans

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Amonia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data berupa nilai dari parameter amonia yang disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik dapat diketahui

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mandi, mencuci, dan sebagainya. Di sisi lain, air mudah sekali terkontaminasi oleh

I. PENDAHULUAN. mandi, mencuci, dan sebagainya. Di sisi lain, air mudah sekali terkontaminasi oleh I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan, karena selain dikonsumsi, juga digunakan dalam berbagai aktivitas kehidupan seperti memasak, mandi, mencuci, dan

Lebih terperinci

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu)

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu) Reaktor, Vol. 11 No.2, Desember 27, Hal. : 86- PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu) K. Haryani, Hargono dan C.S. Budiyati *) Abstrak Khitosan adalah

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan sektor industri menyebabkan peningkatan berbagai kasus

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan sektor industri menyebabkan peningkatan berbagai kasus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan sektor industri menyebabkan peningkatan berbagai kasus pencemaran terhadap sumber-sumber air, tanah, dan udara. Banyak industri yang tidak menyadari bahwa

Lebih terperinci

Pemanfaatan Biomaterial Berbasis Selulosa (TKS dan Serbuk Gergaji) Sebagai Adsorben Untuk Penyisihan Ion Krom dan Tembaga Dalam Air

Pemanfaatan Biomaterial Berbasis Selulosa (TKS dan Serbuk Gergaji) Sebagai Adsorben Untuk Penyisihan Ion Krom dan Tembaga Dalam Air Pemanfaatan Biomaterial Berbasis Selulosa (TKS dan Serbuk Gergaji) Sebagai Adsorben Untuk Penyisihan Ion Krom dan Tembaga Dalam Air Ratni Dewi 1, Fachraniah 1 1 Politeknik Negeri Lhokseumawe ABSTRAK Kehadiran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Diagram Alir Penelitian Tahapan penelitian secara umum tentang pemanfaatan daun matoa sebagai adsorben untuk menyerap logam Pb dijelaskan dalam diagram pada Gambar 3.1. Preparasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Larutan logam kromium yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Larutan logam kromium yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Larutan logam kromium yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari senyawa krom nitrat (Cr(NO 3 ) 3. 9H 2 O) yang dilarutkan dalam aquades. Pada proses pengontakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka berkembang pula dengan pesat bidang industri yang berdampak positif guna untuk peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar perairan.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar perairan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar perairan. Keberadaan logam- logam ini sangat berbahaya, meskipun dalam jumlah yang kecil. Berbagai kegiatan manusia seperti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. akumulatif dalam sistem biologis (Quek dkk., 1998). Menurut Sutrisno dkk. (1996), konsentrasi Cu 2,5 3,0 ppm dalam badan

I. PENDAHULUAN. akumulatif dalam sistem biologis (Quek dkk., 1998). Menurut Sutrisno dkk. (1996), konsentrasi Cu 2,5 3,0 ppm dalam badan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Logam berat merupakan komponen alami yang terdapat di kulit bumi yang tidak dapat didegradasi atau dihancurkan (Agustina, 2010). Logam dapat membahayakan bagi kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. industri tapioka, yaitu : BOD : 150 mg/l; COD : 300 mg/l; TSS : 100 mg/l; CN - :

BAB I PENDAHULUAN. industri tapioka, yaitu : BOD : 150 mg/l; COD : 300 mg/l; TSS : 100 mg/l; CN - : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri tapioka merupakan industri rumah tangga yang memiliki dampak positif bila dilihat dari segi ekonomis. Namun dampak pencemaran industri tapioka sangat dirasakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 53 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Mutu Kitosan Hasil analisis proksimat kitosan yang dihasilkan dari limbah kulit udang tercantum pada Tabel 2 yang merupakan rata-rata dari dua kali ulangan.

Lebih terperinci

BAB 1 KIMIA PERAIRAN

BAB 1 KIMIA PERAIRAN Kimia Perairan 1 BAB 1 KIMIA PERAIRAN Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di perairan A. Definisi dan Komponen Penyusun Air Air merupakan senyawa kimia yang sangat

Lebih terperinci

4.2. Kadar Abu Kadar Metoksil dan Poligalakturonat

4.2. Kadar Abu Kadar Metoksil dan Poligalakturonat Kualitas pektin dapat dilihat dari efektivitas proses ekstraksi dan kemampuannya membentuk gel pada saat direhidrasi. Pektin dapat membentuk gel dengan baik apabila pektin tersebut memiliki berat molekul,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakterisasi Tepung Onggok Karakterisasi tepung onggok dapat dilakukan dengan menganalisa kandungan atau komponen tepung onggok melalui uji proximat. Analisis proximat adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selulosa merupakan polisakarida yang berbentuk padatan, tidak berasa, tidak berbau dan terdiri dari 2000-4000 unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan β-1,4 glikosidik

Lebih terperinci

AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT BAB VI AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT 6.1. Karakteristik Umum Suatu industri penyamakan kulit umumnya menghasilkan limbah cair yang memiliki 9 (sembilan) kelompok pencemar yaitu : 1) Patogen, 2)

Lebih terperinci

Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat Kelangsungan Hidup BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini telah banyak industri kimia yang berkembang, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kebanyakan industriindustri

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Berikut ini adalah hasil penelitian dari perlakuan perbedaan substrat menggunakan sistem filter undergravel yang meliputi hasil pengukuran parameter kualitas air dan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN. rata-rata nilai BOD dapat dilihat pada Gambar 5.1. Gambar 5.1. Nilai BOD dari tahun 2007 sampai 2014.

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN. rata-rata nilai BOD dapat dilihat pada Gambar 5.1. Gambar 5.1. Nilai BOD dari tahun 2007 sampai 2014. BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisa Parameter Kualitas Air Limbah BOD 5.1.1. Parameter BOD Analisa terhadap nilai BOD pada instalasi pengolahan air limbah pada tahun 2007-2014 dilakukan dengan menganalisa

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PERCOBAAN

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PERCOBAAN LAMPIRAN 1 DATA HASIL PERCOBAAN L-1.1 DATA HASIL PERSIAPAN ADSORBEN Berikut merupakan hasil aktivasi adsorben batang jagung yaitu pengeringan batang jagung pada suhu tetap 55 C. L-1.1.1 Data pengeringan

Lebih terperinci

4.1. Penentuan Konsentrasi Gel Pektin dalam Cookies

4.1. Penentuan Konsentrasi Gel Pektin dalam Cookies 4. PEMBAHASAN Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah buah jeruk keprok Malang yang masih mentah. Hal ini disebabkan karena pada buah yang belum matang lamella belum mengalami perubahan struktur

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan 25 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum penelitian akan dilakukan dengan pemanfaatan limbah media Bambu yang akan digunakan sebagai adsorben dengan diagram alir keseluruhan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ini diberikan perlakuan untuk memanipulasi objek penelitian disertai dengan

BAB III METODE PENELITIAN. ini diberikan perlakuan untuk memanipulasi objek penelitian disertai dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, karena pada penelitian ini diberikan perlakuan untuk memanipulasi objek penelitian disertai dengan adanya kontrol

Lebih terperinci

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A EFEKTIVITAS AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA TEKSTIL MALACHITE GREEN

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A EFEKTIVITAS AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA TEKSTIL MALACHITE GREEN MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA IV Peran Riset dan Pembelajaran Kimia dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR Limbah cair tepung agar-agar yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cair pada pabrik pengolahan rumput laut menjadi tepung agaragar di PT.

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertumbuhan Mikroalga Laut Scenedesmus sp. Hasil pengamatan pengaruh kelimpahan sel Scenedesmus sp. terhadap limbah industri dengan dua pelakuan yang berbeda yaitu menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor seperti pariwisata, industri, kegiatan rumah tangga (domestik) dan sebagainya akan meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Aktivitas pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari suatu kegiatan industri merupakan suatu masalah yang sangat umum dan sulit untuk dipecahkan pada saat

Lebih terperinci

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM L A M P I R A N 268 BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN MAKSIMUM (gram/ton) TSS 20 0,40 Sianida Total (CN) tersisa 0,2 0,004 Krom Total (Cr) 0,5

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 28 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Limbah Padat Agar-agar Limbah hasil ekstraksi agar terdiri dari dua bentuk, yaitu padat dan cair. Limbah ini mencapai 65-7% dari total bahan baku, namun belum

Lebih terperinci

Warna Bau ph Kuning bening Merah kecoklatan Coklat kehitaman Coklat bening

Warna Bau ph Kuning bening Merah kecoklatan Coklat kehitaman Coklat bening BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data Penelitian ini mengambil enam sampel limbah batik. Untuk mempermudah penyebutan sampel, sampel diberi kode berdasarkan tempat pengambilan sampel. Keterangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN y = x R 2 = Absorban

HASIL DAN PEMBAHASAN y = x R 2 = Absorban 5 Kulit kacang tanah yang telah dihaluskan ditambahkan asam sulfat pekat 97%, lalu dipanaskan pada suhu 16 C selama 36 jam. Setelah itu, dibilas dengan air destilata untuk menghilangkan kelebihan asam.

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton Ima Yudha Perwira, SPi, Mp Suhu Tinggi rendahnya suhu suatu badan perairan sangat mempengaruhi kehidupan plankton. Semakin tinggi suhu meningkatkan kebutuhan

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kepadatan 5 kijing, persentase penurunan total nitrogen air di akhir perlakuan sebesar 57%, sedangkan untuk kepadatan 10 kijing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Industri mempunyai pengaruh besar terhadap lingkungan, karena dalam prosesnya akan dihasilkan produk utama dan juga produk samping berupa limbah produksi, baik limbah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia seperti industri kertas, tekstil, penyamakan kulit dan industri lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. manusia seperti industri kertas, tekstil, penyamakan kulit dan industri lainnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dalam bidang industri saat ini cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya industri yang memproduksi berbagai jenis kebutuhan manusia seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena itu kebutuhan air tidak pernah berhenti (Subarnas, 2007). Data

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena itu kebutuhan air tidak pernah berhenti (Subarnas, 2007). Data BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah kebutuhan utama bagi seluruh makhluk hidup, semuanya bergantung pada air untuk atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari hari, oleh karena itu kebutuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan titik kritis pengenceran limbah dan kondisi mulai mampu beradaptasi hidup pada limbah cair tahu. Limbah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ide Penelitian. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan Penelitian. Pelaksanaan Penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN. Ide Penelitian. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan Penelitian. Pelaksanaan Penelitian. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Tahapan penelitian secara umum mengenai pemanfaatan tulang sapi sebagai adsorben ion logam Cu (II) dijelaskan dalam diagram pada Gambar 3.1 berikut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna Adsorpsi Zat Warna Pembuatan Larutan Zat Warna Larutan stok zat warna mg/l dibuat dengan melarutkan mg serbuk Cibacron Red dalam air suling dan diencerkan hingga liter. Kemudian dibuat kurva standar dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan industri di Indonesia, termasuk di Yogyakarta, selain membawa dampak positif juga menimbulkan dampak negatif, seperti terjadinya peningkatan jumlah limbah

Lebih terperinci

LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN TANAMAN

LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT DENGAN TANAMAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan pencemaran air yang disebabkan oleh industri penyamakan kulit di kawasan Sukaregang, Kabupaten Garut terus menjadi sorotan berbagai pihak. Industri ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan zat kehidupan tidak satupun makhluk hidup di kehidupan ini

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan zat kehidupan tidak satupun makhluk hidup di kehidupan ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan tidak satupun makhluk hidup di kehidupan ini tidak membutuhkan air (Suripin, 2004). Peran penting air sangat diperlukan adanya sumber air

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kelangsungan Hidup (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup (SR) Kelangsungan hidup merupakan suatu perbandingan antara jumlah organisme yang hidup diakhir penelitian dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Preparasi Adsorben

HASIL DAN PEMBAHASAN. Preparasi Adsorben 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Adsorben Perlakuan awal kaolin dan limbah padat tapioka yang dicuci dengan akuades, bertujuan untuk membersihkan pengotorpengotor yang bersifat larut dalam air. Selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan. Secara alami pati ditemukan dalam bentuk butiran-butiran yang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan. Secara alami pati ditemukan dalam bentuk butiran-butiran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pati merupakan polimer glukosa yang banyak ditemukan dalam jaringan tumbuhan. Secara alami pati ditemukan dalam bentuk butiran-butiran yang disebut granula. Granula

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Total Amonia Nitrogen (TAN) Konsentrasi total amonia nitrogen (TAN) diukur setiap 48 jam dari jam ke-0 hingga jam ke-120. Peningkatan konsentrasi TAN terjadi pada

Lebih terperinci

II. TELAAH PUSTAKA. bio.unsoed.ac.id

II. TELAAH PUSTAKA. bio.unsoed.ac.id II. TELAAH PUSTAKA Koloni Trichoderma spp. pada medium Malt Extract Agar (MEA) berwarna putih, kuning, hijau muda, dan hijau tua. Trichoderma spp. merupakan kapang Deutromycetes yang tersusun atas banyak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Air Kualitas hidup ikan akan sangat bergantung dari keadaan lingkunganya. Kualitas air yang baik dapat menunjang pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat

BAB I PENDAHULUAN. Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat yang berasal dari limbah industri sudah lama diketahui. Limbah cair yang mengandung logam berat

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil dari penelitian yang dilakukan berupa parameter yang diamati seperti kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, pertumbuhan panjang mutlak, koefisien keragaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan adalah kromium (Cr). Krom adalah kontaminan yang banyak ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan adalah kromium (Cr). Krom adalah kontaminan yang banyak ditemukan BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Logam berat merupakan salah satu pencemar yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, sebab toksisitasnya dapat mengancam kehidupan mahluk hidup. Salah satu

Lebih terperinci

Waterlettuce (Pistia statiotes L.) as Biofilter

Waterlettuce (Pistia statiotes L.) as Biofilter EFEKTIVITAS PENURUNAN BAHAN ORGANIK DAN ANORGANIK PADA LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN TUMBUHAN KAYU APU ( (Pistia statiotes L.) SEBAGAI BIOFILTER Decreasing Effectiveness of Organic and Inorganic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Industri yang menghasilkan limbah logam berat banyak dijumpai saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Industri yang menghasilkan limbah logam berat banyak dijumpai saat ini. Industri yang menghasilkan limbah logam berat banyak dijumpai saat ini. Berbagai macam industri yang dimaksud seperti pelapisan logam, peralatan listrik, cat, pestisida dan lainnya. Kegiatan tersebut dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air dan sumber-sumbernya merupakan salah satu kekayaan alam yang mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup guna menopang kelangsungan hidupnya dan berguna untuk memelihara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri penyamakan kulit merupakan industri yang dapat mengubah kulit mentah menjadi kulit yang memiliki nilai ekonomi tinggi melalui proses penyamakan, akan tetapi

Lebih terperinci

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan % BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap benih Lele Sangkuriang selama 42 hari masa pemeliharaan diketahui bahwa tingkat penggunaan limbah ikan tongkol

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Pertumbuhan beberapa tanaman air Pertumbuhan adalah perubahan dimensi (panjang, berat, volume, jumlah, dan ukuran) dalam satuan waktu baik individu maupun komunitas.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. seiring dengan meningkatnya konsumsi di masyarakat. Semakin pesatnya

I. PENDAHULUAN. seiring dengan meningkatnya konsumsi di masyarakat. Semakin pesatnya I. PENDAHULUAN Budidaya jamur pangan (edible mushroom) di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi di masyarakat. Semakin pesatnya perkembangan budidaya jamur ini, akan menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Limbah cair atau yang biasa disebut air limbah merupakan salah satu jenis limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat. Sifatnya yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif Hasil analisis karakterisasi arang dan arang aktif berdasarkan SNI 06-3730-1995 dapat dilihat pada Tabel 7. Contoh Tabel 7. Hasil

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel 26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 P-larut Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel 9 (Lampiran), dan berdasarkan hasil analisis ragam pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin banyaknya industri-industri yang berkembang, baik dalam skala besar

BAB I PENDAHULUAN. semakin banyaknya industri-industri yang berkembang, baik dalam skala besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Dengan semakin banyaknya industri-industri yang berkembang, baik dalam skala besar maupun kecil (skala

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR

HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR Gliserol hasil samping produksi biodiesel jarak pagar dengan katalis KOH merupakan satu fase yang mengandung banyak pengotor.

Lebih terperinci

PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA) SEBAGAI KOAGULAN ALTERNATIF DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI

PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA) SEBAGAI KOAGULAN ALTERNATIF DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI 85 Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol.7 No.2 PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA) SEBAGAI KOAGULAN ALTERNATIF DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI Fitri Ayu Wardani dan Tuhu Agung. R Program Studi

Lebih terperinci

barang tentu akan semakin beraneka ragam pula hasil buangan sampingnya. Dari

barang tentu akan semakin beraneka ragam pula hasil buangan sampingnya. Dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin pesatnya pertumbuhan industri yang beraneka ragam sudah barang tentu akan semakin beraneka ragam pula hasil buangan sampingnya. Dari berbagai macam kegiatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya.

HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya. 5 E. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (25 : 75), F. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (50 : 50), G. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (75 :

Lebih terperinci

JKK,Tahun 2014,Volum 3(3), halaman 7-13 ISSN

JKK,Tahun 2014,Volum 3(3), halaman 7-13 ISSN PEMANFAATAN TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ADSORBEN BESI PADA AIR TANAH Antonia Nunung Rahayu 1*,Adhitiyawarman 1 1 Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi,

Lebih terperinci

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus ) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dibahas pada bab ini meliputi sintesis kolagen dari tendon sapi (Bos sondaicus), pembuatan larutan kolagen, rendemen kolagen, karakterisasi sampel kontrol,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu tatanan lingkungan hidup dapat tercemar atau menjadi rusak disebabkan oleh banyak hal. Namun yang paling utama dari sekian banyak penyebab tercemarnya suatu tatanan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN...

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN... DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... ix xi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 5 1.3 Batasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benih ikan mas (Cyprinus carpio) tergolong ikan ekonomis penting karena ikan ini sangat dibutuhkan masyarakat dan hingga kini masih belum dapat dipenuhi oleh produsen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Polusi air oleh bahan kimia merupakan problem seluruh dunia. Ion logam berat adalah salah satu yang sangat berbahaya karena sangat toksik walaupun dalam jumlah

Lebih terperinci

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK TUJUAN : Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen A. Pre-lab

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin

Lebih terperinci

Bab V Hasil dan Pembahasan

Bab V Hasil dan Pembahasan biodegradable) menjadi CO 2 dan H 2 O. Pada prosedur penentuan COD, oksigen yang dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang digunakan untuk mengoksidasi air sampel (Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kualitas Air Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada masingmasing perlakuan selama penelitian adalah seperti terlihat pada Tabel 1 Tabel 1 Kualitas Air

Lebih terperinci

ADSORPSI IOM LOGAM Cr (TOTAL) DENGAN ADSORBEN TONGKOL JAGUNG (Zea Mays L.) KOMBINASI KULIT KACANG TANAH (Arachis Hypogeal L.) MENGGUNAKAN METODE KOLOM

ADSORPSI IOM LOGAM Cr (TOTAL) DENGAN ADSORBEN TONGKOL JAGUNG (Zea Mays L.) KOMBINASI KULIT KACANG TANAH (Arachis Hypogeal L.) MENGGUNAKAN METODE KOLOM SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 217 ADSORPSI

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pengaruh kosentrasi limbah terhadap gerakan insang Moina sp Setelah dilakukan penelitian tentang gerakan insang dan laju pertumbuhan populasi Moina sp dalam berbagai kosentrasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Resirkulasi Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang sudah digunakan dengan cara memutar air secara terus-menerus melalui perantara sebuah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI 01-2891-1992) Sebanyak 1-2 g contoh ditimbang pada sebuah wadah timbang yang sudah diketahui bobotnya. Kemudian dikeringkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari

I. PENDAHULUAN. perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari biaya produksi. Pakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2011

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2011 36 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2011 di Laboratorium Kimia Analitik, Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas

Lebih terperinci

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA IV Peran Riset dan Pembelajaran Kimia dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alat dan Bahan Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph meter,

Lebih terperinci

ADSORBSI ZAT WARNA TEKSTIL RHODAMINE B DENGAN MEMANFAATKAN AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN

ADSORBSI ZAT WARNA TEKSTIL RHODAMINE B DENGAN MEMANFAATKAN AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA V Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan Bangsa yang Berkarakter Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 6 April 2013

Lebih terperinci

PENGARUH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DAN PERAN PENGRAJIN DALAM PENGELOLAAN LIMBAHNYA

PENGARUH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DAN PERAN PENGRAJIN DALAM PENGELOLAAN LIMBAHNYA PENGARUH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DAN PERAN PENGRAJIN DALAM PENGELOLAAN LIMBAHNYA Diana Ningrum Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari proses soaking, liming, deliming, bating, pickling, tanning, dyeing,

BAB I PENDAHULUAN. dari proses soaking, liming, deliming, bating, pickling, tanning, dyeing, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri penyamakan kulit merupakan salah satu industri rumah tangga yang sering dipermasalahkan karena limbahnya yang berpotensi mencemari lingkungan yang ada di sekitarnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Skema interaksi proton dengan struktur kaolin (Dudkin et al. 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN. Skema interaksi proton dengan struktur kaolin (Dudkin et al. 2004). 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Adsorben Penelitian ini menggunakan campuran kaolin dan limbah padat tapioka yang kemudian dimodifikasi menggunakan surfaktan kationik dan nonionik. Mula-mula kaolin dan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danau Maninjau merupakan danau yang terdapat di Sumatera Barat, Kabupaten Agam. Secara geografis wilayah ini terletak pada ketinggian 461,5 m di atas permukaan laut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci