BAB III METODE PENELITIAN A.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODE PENELITIAN A."

Transkripsi

1 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini berjenis deskriptif. Metode deskriptif bertujuan untuk membuat pencandraan atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat dari fakta-fakta atau sampel yang diteliti. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif yang cenderung fokus terhadap suatu permasalahan (Sugiyono, 2010). Peneliti hanya menggambarkan kondisi dilapangan sesuai fakta yang terjadi saat itu tanpa ada perlakuan terhadap variabel. Penelitian ini mendeskripsikan tentang pengembangan dan penerapan asesmen autentik untuk menilai Keterampilan Proses Sains (KPS) terintegrasi pada materi sistem ekskresi. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI semester 2 SMAN 6 Bandungtahun ajaran 2014/2015.Alasan pemilihan sekolah dikarenakan sekolah tersebut memiliki siswa dengan kemampuan yang heterogen berdasarkan observasi peneliti dan wawancara dengan guru biologi.sedangkan sampel penelitiannya adalah kelas XI MIA 4, XI MIA 5 dan XI MIA 6. Ujicoba tes dilakukan di dua kelas yang berbeda yaitu kelas XI MIA 4 dan XI MIA 6 yang masing-masing berjumlah 30 orang siswa. Sedangkan penerapan dilakukan di kelas XI MIA 5. Waktu Penelitian dimulai dari April 2015 hingga Mei C. Definisi Operasional Penelitian ini menitikberatkan pada dua aspek, yaitu pengembangan asesmen autentik dan keterampilan proses sains terintegrasi. Secara terperinci, kedua aspek tersebut dijelaskan sebagai berikut. 1. Pengembangan Asesmen Autentik Pengembangan asesmen autentik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses pengembangan soal dimulai dari identifikasi tujuan pembelajaran yang diturunkan dari Kompetensi Dasar pada kurikulum 2013 terkait materi pada sistem ekskresi, penyusunan instrumen,judgment kepada dosen ahli, ujicoba instrumen, kemudian selanjutnya melakukan tahap penerapan instrumen. 19

2 19 Pengembangan ini didasarkan pada langkah-langkah pengembangan menurut Wiggins (2012). 2. Keterampilan Proses Sains Terintegrasi Keterampilan Proses Sains Terintegrasi dalam penelitian ini merupakan skor keterampilan siswa dengan menggunakan tes esai setelah melaksanakan task yang dinilai menggunakan rubrik. Skor yang dinilai dengan menggunakan rubrik ini adalah skor dalam indikator mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, definisi variabel, pengontrolan variabel, menginterpretasikan data, dan menerapkan konsep. D. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal esai untuk menilai kemampuan KPS terintegrasi siswa, angket,catatan lapangan, pedoman wawancara guru, dan pedoman wawancara siswa untuk mengetahui pengembangan asesmen autentik untuk menilai KPS terintegrasi pada materi sistem ekskresi. a. Instrumen yang diteliti Instrumen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah soal esai. Pembuatan soal esai mengacu kepada kisi-kisi soal KPS terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi. Soal yang telah dibuat kemudian di judgment kepada dosen ahli. Soal esai diberikan kepada siswa untuk melihat kemampuan KPS terintegrasi siswa setelah pembelajaran. Soal ini dapat mengungkap bagaimana kemampuan keterampilan proses sains terintegrasi siswa. Soal ini diberikan setelah selesai proses pembelajaran. b. Instrumen yang digunakan untuk meneliti 1. Daftar Cek Daftar cek terdiri atas komponen atau aspek yang diamati. Komponen yang diamati yaitu tahapan-tahapan pada proses pengembangan asesmen yang dilakukan. Daftar cek ini berguna untuk menyatakan ada tidaknya komponen itu dalam penelitian. Dalam hal ini yang mengisi daftar cek adalah peneliti.

3 20 Adapun daftar cek yang digunakan adalah sebagai berikut. Tabel 3.1 Daftar Cek Proses Pengembangan Instrumen Tahap Menyalin Kompetensi Dasar dari kurikulum 2013 Menginventarisasi konsep pada sistem ekskresi Menentukan indikator Mengkonstruk soal Menyusun kunci jawaban Mengujicobakan instrumen Memvalidasi instrumen Sudah dilakukan Tidak dilakukan 2. Angket siswa Angket ini digunakan untuk menjaring respon siswa terhadap kualitas asesmen yang dikembangkan. Angket ini mencakup beberapa aspek diantaranya mengenai kemudahan asesmen yang dikembangkan dan kemudahan task untuk dikerjakan sebagai media untuk membantu siswa menemukan konsep sistem ekskresi. Angket dan wawancara dilakukan setelah pembelajaran pada saat siswa telah mendapatkan pengembangan asesmen autentik. Angket yang disusun adalah angket terbuka. Setiap pertanyaan dalam angket berasal dari tujuan atau informasi apa yang diharapkan direspon oleh siswa, diantaranya a) mengetahui pendapat siswa tentang LKS yang diberikan, b) mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan LKS, c) mengetahui pendapat siswa tentang soal esai yang diberikan, d) mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan soal esai, e) mengetahui pendapat siswa mengenai penilaian yang telah dilakukan, f) mengetahui metode pembelajaran yang digunakan dalam mengajarkan materi sistem ekskresi khususnya pada sub materi penyakit/gangguan sistem ekskresi, g) mengetahui keefektifan waktu yang digunakan dalam mengerjakan LKS dan soal esai, h) mengetahui umpan balik penilaian yang telah dilakukan. 3. Pedoman wawancara Pedoman wawancara yang digunakan dalam mewawancarai siswa yakni berupa pertanyaan-pertanyaan mengenai asesmen yang telah dilakukan. Digunakan untuk mengetahui kesesuaian tanggapan siswa mengenai asesmen autentik yang digunakan. Selain itu, angket siswa ini disusun untuk menambah informasi yang diharapkan sekaligus untuk menguji kesesuaian angket dan

4 21 jawaban siswa secara langsung. Pertanyaan tersebut diantaranya a) mengetahui seberapa besar pengetahuan siswa mengenai asesmen autentik, b) mengetahui keterlaksanaan asesmen autentik di sekolah, c) mengetahui pendapat siswa mengenai asesmen autentik, d) mengetahui kendala yang dialami siswa dalam melakukan asesmen autentik, e) mengetahui saran siswa dalam melakukan asesmen autentik. Sedangkan pedoman wawancara guruberupa daftar pertanyaan untuk mengetahui tanggapan guru mengenai penerapan asesmen autentik dan untuk mengungkap kelebihan dan kekurangan penggunaan asesmen autentik tersebut. Pedoman wawancara ini ditujukan secara langsung kepada Guru mata pelajaran Biologi. Berlawanan dengan wawancara kepada siswa, pertanyaan untuk wawancara kepada guru lebih subjektif dimana guru lebih ditekankan untuk mengungkapkan opininya tentang instrumen tes 4. Catatan lapangan (anecdotal record) Catatan lapangan berisi hal-hal penting yang terjadi saat proses penelitian, yaitu mengenai instrumen (soal), siswa, keberlangsungan tes, waktu pengerjaan, serta pengewasan Hal yang dialami, dilihat, dan dipikirkan oleh peneliti, dicantumkan dalam catatan lapangan. Instrumen ini digunakan selama penelitian di lapangan berlangsung untuk memuat kejadian-kejadin faktual selama penggunaan instrumen mulai dari awal hingga akhir penelitian. E. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian pembuatan instrumen penilaian soal tes esaikps terintegrasi yang melibatkan proses pengembangan dan penerapan instrumen. Adapun langkah-langkah penelitian ini secara rinci terbagai menjadi tiga tahap yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. 1. Tahap Pertama : Tahap Persiapan Pada tahap pertama ini terdiri dari beberapa kegiatan yaitu: a. Mengidentifikasi masalah berupa Keterampilan Proses Sains Terintegrasi Siswa b. Melakukan studi literatur tentang Keterampilan Proses Sains Terintegrasi Siswa pada materi sistem ekskresi

5 22 c. Melakukan studi kurikukulum yang digunakan di SMA mengenai kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, strategi pembelajaran dari konsep sistem ekskresi. Pemilihan konsep didasarkan pada konsep yang cocok untuk menilai keterampilan proses sains terintegrasi. d. Membuat angket respon siswa, pedoman wawancara siswa dan guru terhadap kualitas asesmen pembelajaran. 2. Tahap kedua : Penyusunan Instrumen a. Menyusun indikator soal pada pembelajaran sistem ekskresi b. Menyusun kisi-kisi soal dan rubrik asesmen dalam pembelajaran. c. Membuat soal esai beserta kunci jawaban serta tabel spesifikasi aspek penilaian soal esaiyang berisi penjabaran aspek peniliaian terhadap kompetensi siswa yang dapat muncul. e. Membuat rubrik penilaian berikut kriteria yang digunakan dalam penilaian soal tes esai f. Melaksanakan judgmentsoal kepada dosen ahli. Jika terdapat kesalahan dilakukan revisi kemudian judgment kembali hingga instrumen benarbenar layak digunakan. 3. Tahap ketiga: Ujicoba instrumen a. Melaksanakan ujicoba 1 yakni tes soal esai kepada siswa kelas XI MIA 4. Hasil uji coba ini menjadi dasar perbaikan dalam pengembangan asesmen. Saat pelaksanaan tes, dilakukan pencatatan beberapa aspek kejadian seperti instrumen tes atau soal yang dikerjakan siswa, keadaan siswa, waktu pengerjaan soal, keadaan kelas dan pengawasan. b. Menganalisis hasil ujicoba I dengan melihat pola-pola jawaban siswa sebagai bahan penyusunan instrumen soal esai dan analisis pokok uji pada setiap butir soal menggunakan program Anates V4 untuk mengetahui nilai validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran. Jika nilai validitas dan reliabilitasnya rendah, maka perlu dilakukan ujicoba kembali agar instrumennya benar-benar valid. c. Melaksanakan ujicoba II yakni tes esai kepada siswa kelas XI MIA 6. Pada penelitian ini dilakukan dua kali ujicoba tes esai. Saat pelaksanaan tes, dilakukan pencatatan beberapa aspek kejadian seperti instrumen tes atau

6 23 soal yang dikerjakan siswa, keadaan siswa, waktu pengerjaan soal, keadaan kelas, dan pengawasan. d. Menganalisis hasil ujicoba II dengan melihat pola-pola jawaban siswa sebagai bahan penyusunan instrumen soal esai dan analisis pokok uji pada setiap butir soal menggunakan program Anates V4 untuk mengetahui nilai validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran 4. Tahap keempat : Penerapan instrumen a. Menerapkan instrumen hasil ujicoba I dan II Melaksanakan penerapan tes esai kepada siswa kelas XI MIA 5. Sama halnya dengan ujicoba I dan II, pada saat pelaksanaan tes, dilakukan pencatatan beberapa aspek kejadian seperti instrumen tes atau soal yang dikerjakan siswa, keadaan siswa, waktu pengerjaan soal, keadaan kelas, dan pengawasan. b. Menganalisis hasil penerapansetelah melalui proses pengembangan ujicoba I dan II dengan melihat pola-pola jawaban siswa dan analisis pokok uji pada setiap butir soal menggunakan program Anates V4 untuk mengetahui nilai validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran. 5. Tahap kelima : Validasi a. Melakukan validasi berupa uji kecocokan yang dilakukan melalui pemberian angket kepada siswa b. Melakukan analisis hasil angket dan wawancara yang dilakukan kepada perwakilan siswa c. Menganalisis kelebihan dan kekurangan perangkat penilaian yang dikembangkan d. Melakukan wawancara kepada guru untuk mengetahui tanggapan guru tentang perangkat penilaian

7 24 F. Pengumpulan Data Data yang diperoleh pada penelitian ini diperoleh melalui tes esai, angket, observasi dan wawancara. 1. Tes Esai Tes esai digunakan untuk mengungkap kemampuan KPS terintegrasi siswa. Tahap awal pembuatan soal esai adalah dengan melakukan studi literatur dan studi kurikulum. Studi literatur untuk mencari referensi terkait KPS terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi dan studi kurikulum untuk mencari referensi materi sistem ekskresi yang tercantum dalam kurikulum yang berlaku di sekolah. Tahap selanjutnya yakni pembuatan indikator soal berdasarkan studi literatur dan studi kurikulum. Kemudian, menyusun kisi-kisi soal sebagai acuan pembuatan soal esai. Soal esai yang dibuat di judgmentkepada dosen ahli. Jika terdapat kesalahan saat judgment, instrumen diperbaiki kemudian di judgment kembali hingga instrumen benar-benar layak untuk digunakan. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan tes esai. Pada penelitian ini dilakukan tiga kali pelaksanaan tes esai, yakni ujicoba I, ujicoba II, dan penerapan. Jika validitas dan reliabilitas pada ujicoba I sudah baik, maka tidak perlu dilakukan ujicoba II. Data hasil tes yakni berupa jawaban siswa dilakukan pengolahan untuk kemudian dianalisis. Analisis yang dilakukan berupa identifikasi pola jawaban siswa dan analisis pokok uji untuk mengetahui nilai validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada ujicoba I dan II dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk pengembangan instrumen selanjutnya. 2. Angket Angket diberikan kepada siswa. Angket ini digunakan untuk menjaring respon siswa terhadap kualitas asesmen yang dikembangkan serta untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai penggunaan asesmen yang telah dilaksanakan.angket ini disebar kepada siswa setelah proses pembelajaran dan penggunaan asesmen selesai. 3. Wawancara Informasi yang diperoleh dari perangkat penilaian asesmen autentik, angket siswa, wawancara siswa dan pedoman observasi tidak sepenuhnya dapat

8 25 digunakan untuk mengungkap KPS terintegrasi siswa dan asesmen autentik yang digunakan. Untuk itu perlu dilakukan juga wawancara langsung kepada guru mata pelajaran Biologi untuk mengetahui tanggapan guru mengenai penerapan asesmen autentik dan untuk mengungkap kelebihan dan kekurangan penggunaan asesmen autentik tersebut, maka disusunlah pedoman wawancara guru. Wawancara dilakukan kepada siswa dan guru. Wawancarakepada siswa dilakukan untuk memvalidasi hasil tes dengan keadaan siswa yang sebenarnya. Data yang diambil berupa kecocokan hasil tes dengan jawaban lisan siswa saat dilakukan wawancara. Siswa yang diwawancarai merupakan perwakilan siswa. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis. Sedangkan wawancara kepada guru dilakukan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan instrumen. Hasil wawancara kemudian diolah dan dianalisis untuk dijadikan sebagaia bahan rekomendasi penelitian selanjutnya. 4. Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti dan observer lain secara langsung untuk mengamati fakta dan peristiwa penting yang terjadi selama penelitian. Hasil observasi dicatat dan dijadikan sebagai data penelitian untuk kemudian diolah dan dianalisis. Adapun rincian teknik pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data No Teknik Instrumen Jenis Data Sumber Data 1 Observasi Lembar tugas (task), rubrik penilaian daftar cek Penilaian aktivitas siswa pada saat tes berlangsung Siswa dan observer (checklist), soalesai yang dinilai oleh observer selama penggunaan asesmen dan jawaban siswa dalam menjawab pertanyaan esai 2 Angket Lembar angket Tanggapan siswa mengenai penggunaan asesmen yang telah dilaksanakan Siswa 3 Dokumentasi Catatan penelitian (anecdotal record) Catatan kejadian-kejadian faktual yang terjadi selama penggunaan instrumen Tanggapan guru mengenai pengembangan dan penerapn asesmen autentik untuk menilai keterampilan proses sains terintegrasi siswa dalam materi sistem ekskresi Aktivitas penggunaan semua perangkat penilai (instrumen) Guru mata pelajaran

9 26 4 Wawancara Pedoman wawancara Tanggapan siswa mengenai task yang diberikan ataupun perangkat penilaian (asesmen) yang digunakan Siswa G. Analisis Data Data yang diperoleh pada penelitian ini dilakukan analisis meliputi analisis materi, analisis pelaksanaan ujicoba instrumen, analisis jawaban siswa, analisis penilaian KPS terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi, analisis perbaikan soal, analisis kekurangan dan kelebihan instrumen, analisis hasil angket siswa, analisis hasil wawancara siswa, dan analisis hasil wawancara dengan guru. 1. Analisis Materi Langkah awal analisis materi yakni dengan studi literatur dan studi kurikulum adalah untuk mendapatkan referensi tentang KPS terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi berbasis Problem Based Learning (PBL). Pembelajaran PBL merupakansuatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi kuliah atau materi pelajaran (Sudarman, 2007). Referensi diperoleh dari berbagai sumber seperti buku dan jurnal penelitian. Studi kurikulum dilakukan pada kurikulum 2013 mata pelajaran Biologi kelas XI semseter 2. Tujuan studi kurikulum ini adalah untuk mengetahui Kompetensi Dasar materi sistem ekskresi yang digunakan di sekolah.langkah selanjutnya yakni menganalisis materi sistem ekskresi berdasarkan hasil studi literatur dan studi kurikulum untuk penyusunan kisi-kisi soal. 2. Analisis Pelaksanaan Ujicoba Instrumen Saat pelaksanaan ujicoba instrumen, observer dan peneliti melakukan pencatatan terkait pelaksanan tes seperti instrumen tes soal esai yang dikerjakan siswa, keadaan siswa, waktu pengerjaan soal, keadaan kelas, dan pengawasan. Hasil pencatatan merupakan data penelitian. Selanjutnya data tersebut akan diolah dan dianalisis. Analisis data pencatatan dilakukan dengan membaca kembali hasil pencatatan saat pelaksanaan ujucoba kemudian dihubungkan dengan data hasil

10 27 tes. Tidak dapat dipungkiri bahwa hasil tes dapat dipengaruhi oleh keadaan saat pelaksanaan tes berlangsung. Seperti yang diungkaplan oleh Arikunto (2009) bahwa situasi dan kondisipelaksanaan tes mempengaruhi siswa dalam proses pengerjaan soal sehingga akan turut memberikan efek terhadap hasil tes. 3. Analisis Jawaban Siswa Analisis jawaban siswa pada ujicoba I dan II dilakukan perbutir soal karena bentuk soal yang diujicobakan adalah esai. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwanto (2009) bahwa untuk menghindari adanya halo effect yakni unsur-unsur yang dapat mempengaruhi pemberian nilai, analisis soal esai dilakukan soal demi soal, bukan siswa demi siswa. Langkah-langkah analisis jawaban siswa pada tes esai yakni ujicoba I dan II adalah dengan membaca jawaban siswa satu persatu setiap butir soal kemudian memahami dan memaknai maksud yang siswa tuliskan. Seperti yang diungkapkan oleh Joni (1986) bahwa soal esai menuntut siswa menunjukkan apa yang dikuasainya secara maksimal, mengorganisir buah pikiran, serta mengekspresikan diri secara tertulis dibandingkan soal objektif. Oleh karena itu jawaban siswa akan beragam dan perlu dimaknai agar tidak menimbulkan kesalahan dalam penilaian. Jawaban dan alasan siswa dicocokan dengan rubrik penilaian dan kunci jawaban. 4. Analisis Pokok Uji Analisis pokok uji dilakukan perbutir soal. Adapun detail hasil analisis yang akan dilakukan sebagai berikut (Arikunto, 2012). a. Validitas Sebuah alat ukur yang baik harus memiliki keshahihan yang baik pula. Soal tersebut dikatakan valid jika mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total, karena akan menyebabkan skor total tinggi atau rendah. Jadi, suatu alat ukur dikatakan valid apabila alat tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Soal yang tidak valid akan dibuang dan tidak digunakan sedangkan soal yang valid berarti soal tersebut dapat digunakan. Kriteria apabila rhitung > rtabel maka butir soal valid. Dalam menghitung validitas asesmen rubrik tersebut di gunakan validitas isi dan menghitung indeks validitasnya. Data pada

11 28 penelitian ini diolah dengan bantuan program Anates V4 yang muncul dalam angka presentasi yang kemudian dikonversikan ke dalam bentuk desimal dan diinterpretasi melalui Tabel 3.3. di bawah ini. b. Reliabilitas Tabel 3.3. Klasifikasi Validitas Koefisien Korelasi Kategori validasi 0,80 1,00 Sangat tinggi 0,60 0,80 Tinggi 0,40 0,60 Cukup 0,20 0,40 Rendah 0,00 0,20 Sangat rendah (Arikunto, 2012) Instrumen dikatakan memiliki reliabilitas atau daya keajegan yang cukup dipercaya sebagai alat pengumpul data. Sama halnya dengan mengukur validitas, untuk mengukur reliabilitas diakukan juga dengan bantuan Anates V4yang akan muncul dengan angka presentasi yang kemudian dikonversikan ke dalam bentuk desimal dan diinterpretasikan berdasarkan Tabel 3.4. (Arikunto, 2012) c. Taraf kesukaran Tabel 3.4. Klasifikasi Reliabilitas Koefisien Korelasi Kategori Reliabilitas 0,80 1,00 Sangat tinggi 0,06 0,79 Tinggi 0,40 0,59 Cukup 0,20 0,39 Rendah 0,00 0,19 Sangat rendah Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar (Arikunto, 2012). Tingkat kesukaran ini diperoleh dengan bantuan Anates V4 yang kemudian dikonversikan kedalam bentuk desimal dan diiterpretasikan sesuai dengan indeks pada Tabel 3.4. Indeks yang digunakan pada tingkat kesukaran ini dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 3.5 Indeks Tingkat Kesukaran Rentang Keterangan 0,00 0,30 Sukar 0,31 0,70 Sedang 0,71 1,00 Mudah (Arikunto, 2012)

12 29 d. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk memberikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dengan siswa yang memiliki kemampan rendah (Arikunto, 2012). Butir-butir soal yang daya pembedanya masih rendah (poor), ada dua kemungkinan tindak lanjut yaitu: 1. Ditelusuri kemudian diperbaiki, dan setelah diperbaiki dapat diajukan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang. Kelak soal tersebut dianalisis lagi apakah daya pembedanya meningkat ataukah tidak. 2. Dibuang atau didrop dan untuk tes yang akan datang butir soal tersebut tidak akan dikeluarkan lagi.untuk memperolah daya pembeda dilakukan dengan bantuan Anates V4 kemudian diinterpretasikan. Klasifikasi daya pembeda dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel 3.6 Klasifikasi daya Pembeda Rentang Keterangan 0,0 0,20 Jelek 0,20 0,40 Cukup 0,40 0,70 Baik 0,70 1,00 Baik sekali (Arikunto, 2012) Untuk mengetahui soal dapat dipergunakan atau tidak, maka dilakukanlah klasifikasi butir soal berdasarkan aturan Zainul (2002) yang dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 3.7 Kualifikasi Butir Soal Kategori Penilaian Dipakai Apabila : 1. Validitas Daya Pembeda Tingkat kesukaran 0.25 p 0.80 Diperbaiki Apabila : 1. Daya pembeda 0.40 tingkat kesukaran p < 0.25 atau p > 0.80 tetapi validitas Daya pembeda < 0.40 tingkat kesukaran 0.25 p 0.80 tetapi ada validitas Daya pembeda < 0.40 tingkat kesukaran 0.25 p 0.80 tetapi validitas antara 0.20 sampai 0.40 Dibuang Apabila : 1. Daya pembeda < 0.40 dan ada tingkat kesukaran p < 0.25 atau p > Validitas < Daya pembeda < 0.40 dan validitas < 0.40

13 30 5. Analisis Perbaikan Soal Analisis perbaikan soal dilakukan dengan identifikasi letak kesalahan soal. Selanjutnya, dilakukan perbaikan dengan melakukan perubahan pada soal baik dari segi konstruksi maupun isi soal. Perbaikan dari segi konstruksi meliputi bentuk soal, redaksi soal, dan petunjuk soal. Sedangkan perbaikan isi meliputi perbaikan konten soal seperti konsep atau materi yang ditanyakan pada soal, kunci jawaban, dan pemberian bobot skor pada soal. 6. Analisis Penilaian KPS Terintegrasi Siswa pada Materi Sistem Ekskresi Analisis Penilaian KPS terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi dilakukan berdasarkan hasil ujicoba. Langkah-langkah hasil analisis soal yang dilakukan pada penelitian ini adalah: a. Melakukan skoring pada jawaban siswa.skoring yang diberikan yaitu skoring dalam bentuk esai. Skoring ini mengacu kepada rubrik pedoman penilaian yang sudah dibuat sebelumnya. Alasan yang siswa tuliskan diberi skor sesuai sesuai bobot yang sudah ditentukan pada rubrik pedoman penilaian. Setiap butir soal memiliki bobot skor yang berbeda-beda. b. Menjumlahkan skor tiap butir soal menjadi skor total. c. Memetakan nilai yang diperoleh siswa dengan kriteria tingkat kemampuan KPS terintegrasi siswa. Skor KPS terintegrasi yang diperoleh siswa kemudian diinterpretasikan menggunakan kriteria berdasarkan skor tertinggi soal dan jumlah soal yang diteskan. Skor tertinggi pada soal yaitu 4 dan jumlah keseluruhan soal adalah 10, sehingga dapat diinterpretasikan sebagai berikut. Tabel 3.8 Kategorisasi Skor KPS Terintegrasi Siswa Rentang Keterangan 1-10 Sangat rendah Rendah Cukup Tinggi d. Mengakumulasi jumlah siswa pada setiap tingkat kemampuan. Hasil akumulasi disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk memudahkan pembacaan data.

14 31 7. Analisis Kekurangan dan Kelebihan Instrumen Analisis kekurangan dan kelebihan instrumen dilakukan selama proses penelitian berlangsung. Peneliti akan mengidentifikasi letak kekurangan dan kelebihan instrumen mulai dari pengembangan hingga instrumen yang benarbenar valid. Identifikasi hasil analisis ini akan dijadikan sebagai bahan rekomendasi untuk pengembangan instrumen selanjutnya. 8. Analisis wawancara dengan Guru Wawancara dilakukan kepada guru untuk mendapatkan opini mengenai kelebihan dan kekurangan instrumen. Hasil wawancara dilihat kembali kemudian dijadikan sebagai bahan perbaikan dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. 9. Analisis wawancara dengan Siswa Wawancara yang dilakukan berupa analisis antara hasil tes dengan keadaan siswa yang sebenarnya. Kecocokkan yang dianalisis meliputi kesesuaian hasil jawaban dan alasan pada saat tes dengan hasil wawancara. 10. Analisis Data Angket siswa Hasil angket siswa dihitung dengan menggunakan perhitungan berdasarkan rumus: Jumlah jawaban Ya siswa Jumlah seluruh siswa x 100% Hasil dari perhitungan tersebut di atas kemudian diinterpretasikan menggunakan kriteria menurut Koentjaraningrat (dalam Ginanjar, 2008, dalam Abdussalam 2010, dalam Hardiansyah, 2011) sebagai berikut: Tabel 3.9 Kategorisasi Hasil Angket Siswa Presentase Kategori 0% Tidak satupun 1%-30% Sebagian kecil 31%-49% Hampir separuhnya 50% Separuhnya 51%-80% Sebagian besar 81%-99% Hampir seluruhnya 100% Seluruhnya

15 32 H. Alur Penelitian Mengidentifikasi masalah Tahap pertama: persiapan Melakukan studi literatur Melakukan studi kurikulum Membuat indikator soal Membuat kisi-kisi & tabel spesifikasi Tahap kedua: penyusunan instrumen Membuat soal esai Judgement revisi Tes esai (uji coba I) Tahap ketiga: Ujicoba instrumen Analisis hasil uji coba I Pengulangan tes esai (uji coba II) Analisis hasil uji coba II Judgement revisi Tahap keempat: Penerapan instrumen Penerapan instrumen Analisis hasil penerapan Pemberian angket kepada siswa Wawancara siswa Tahap kelima: Validasi Analisis kendala yang dihadapi saat menggunakan perangkat penilaian Analisis kelebihan dan kekurangan perangkat penilaian Wawancara kepada guru untuk PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK UNTUK MENILAI KETERAMPILAN mendapatkan tanggapan PROSES SAINS Gambar 3.1 Diagram Alir Langkah-langkah Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif (deskriptif research). Peneliti hanya menggambarkan kondisi dilapangan sesuai fakta yang terjadi saat

Lebih terperinci

Adapun beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

Adapun beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini berjenis deskriptif. Peneliti hanya menggambarkan kondisi di lapangan sesuai fakta yang terjadi tanpa ada perlakuan terhadap variabel. Metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Kesulitan belajar siswa yang dimaksud adalah profil kemampuan siswa dalam

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Kesulitan belajar siswa yang dimaksud adalah profil kemampuan siswa dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Kesulitan belajar siswa yang dimaksud adalah profil kemampuan siswa dalam merespon soal tes diagnosis serta latar belakang siswa yang mempengaruhi kemampuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 19 Bandung dan sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 19

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. siswa, kesulitan belajar, dan Keterampilan Proses Sains (KPS). Secara

BAB III METODE PENELITIAN. siswa, kesulitan belajar, dan Keterampilan Proses Sains (KPS). Secara 29 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Penelitian ini menitikberatkan pada tiga aspek, yaitu jurnal kegiatan siswa, kesulitan belajar, dan Keterampilan Proses Sains (KPS). Secara terperinci,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang

BAB III METODE PENELITIAN. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut: 1. Kesulitan belajar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 32 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Asesmen portofolio Asesmen portofolio merupakan bentuk penilaian terhadap sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Penjelasan definisi operasional dalam penelitian diuraikan sebagai berikut: 1. Asesmen alternatif elektronik yang dimaksud adalah software yang dapat menilai

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan beberapa istilah yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan beberapa istilah yang BAB III METODOLOGI PENELITIAN Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan beberapa istilah yang digunakan sebagai variabel dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelasan tentang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 19 Bandung tahun ajaran 2010/2011. Sampel dalam penelitian ini sebanyak tiga kelas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini berlokasi di SMA Negeri 7 Bandung dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 7 Bandung Tahun

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Pada penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif. Dalam penelitian deskriptif ini cenderung tidak memberikan perlakuan, manipulasi, atau pengubahan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, karena penelitian ini hanya bertujuan untuk mendapatkan gambaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan komunikasi tertulis siswa dalam sistem ekskresi dilakukan pada : Lokasi Penelitian : SMAN A

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengumpulkan bukti-bukti atau karya-karya hasil belajar siswa meliputi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengumpulkan bukti-bukti atau karya-karya hasil belajar siswa meliputi BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka dibuat definisi operasional sebagai berikut: 1. Asesmen portofolio Asesmen portofolio adalah penilaian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode deskriptif digunakan dalam meneliti status suatu objek, kondisi, atau kejadian untuk memberikan gambaran atau lukisan mengenai fakta-fakta secara akurat.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dipilihnya SMP Negeri 1 Lembang dikarenakan sekolah ini merupakan salah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. O X O Pretes Perlakuan Postes

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. O X O Pretes Perlakuan Postes A. Metode dan Desain Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen dengan tipe weak experiment. Penerapan penggunaan asesmen portofolio

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dibuat beberapa definisi operasional sebagai berikut:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dibuat beberapa definisi operasional sebagai berikut: 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. DEFINISI OPERASIONAL Agar tidak meluasnya beberapa pengertian dalam penelitian ini, maka dibuat beberapa definisi operasional sebagai berikut: 1. Asesmen Portofolio

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Oprasional Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan beberapa istilah yang digunakan sebagai variabel dalam penelitian ini,maka diperlukan penjelasan tentang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. materi, sarana, serta prasarana belajar. Variabel bebas adalah lembar kerja siswa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. materi, sarana, serta prasarana belajar. Variabel bebas adalah lembar kerja siswa A. Metode dan Desain Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini digunakan metode penelitian quasi eksperimen karena tidak semua variabel ekstra dapat dikendalikan oleh peneliti. Variabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 18 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Lokasi penelitian bertempat di SMK Pertanian di Lembang. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Pertanian di

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan variabel-variabel yang

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan variabel-variabel yang BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu adanya penjelasan mengenai variabel tersebut.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menyamakan persepsi terhadap variabel-variabel yang digunakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menyamakan persepsi terhadap variabel-variabel yang digunakan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menyamakan persepsi terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu adanya definisi operasional untuk menghindari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menghindari penafsiran yang berbeda maka diperlukan penjelasan mengenai beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian melalui definisi operasional

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah penjelasan operasional tentang istilah-istilah yang

BAB III METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah penjelasan operasional tentang istilah-istilah yang BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Berikut ini adalah penjelasan operasional tentang istilah-istilah yang terdapat pada perumusan masalah, guna menghindari terjadinya perbedaan penafsiran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 2009). Maka penelitian ini digunakan untuk melihat gambaran penerapan

BAB III METODE PENELITIAN. 2009). Maka penelitian ini digunakan untuk melihat gambaran penerapan 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk membuat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA PGII 1 Bandung, Jawa Barat. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA PGII

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Cisarua Bandung tahun ajaran 2012/2013. Sampel dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu 8 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Pada penelitian ini, metode penelitian yang digunakan yaitu metode Deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian bukan eksperimen karena tidak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan definisi operasional; metode penelitian; populasi dan sampel penelitian; instrumen penelitian; teknik pengumpulan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode preexperiment design,yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dampak awal

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. sebenarnya (Suryabrata, 2005 : 38). Dalam penelitian ini peneliti ingin

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. sebenarnya (Suryabrata, 2005 : 38). Dalam penelitian ini peneliti ingin 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode yang dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen yang bertujuan memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Secara

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Secara BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Secara harfiah metode ini adalah metode penelitian untuk membuat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Dan Desain Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam setiap kegiatan pelaksanaan penelitian metode penelitian yang digunakan sesuai dengan permasalahan, tujuan penelitian, dan kerangka pemikiran

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dapat terjadi, untuk menghindari hal tersebut maka diberikan penjelasan beberapa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dapat terjadi, untuk menghindari hal tersebut maka diberikan penjelasan beberapa 34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Berbagai penafsiran terhadap definisi yang digunakan dalam penelitian ini dapat terjadi, untuk menghindari hal tersebut maka diberikan penjelasan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah

BAB III METODE PENELITIAN. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut: 1. Gaya Belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian. mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160).

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian. mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160). Dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini, maka diperlukan penjelaskan tentang istilah yang digunakan, yaitu:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini, maka diperlukan penjelaskan tentang istilah yang digunakan, yaitu: BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi operasional Untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran istilah dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelaskan tentang istilah yang digunakan, yaitu: 1. Kreativitas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan disalah satu SMA yang ada di kota Bandung yaitu SMA Pasundan 2 Bandung, lokasi sekolah ini berada di jalan Cihampelas Bandung.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang ditujukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena alamiah

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang ditujukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena alamiah 25 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik yaitu suatu bentuk penelitian yang ditujukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena alamiah maupun

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............ UCAPAN TERIMA KASIH.......... ABSTRAK........... DAFTAR ISI........... DAFTAR TABEL......... DAFTAR GAMBAR............... DAFTAR LAMPIRAN............... BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif. Dengan menggunakan model Kurt Lewin. Jenis penelitian ini melibatkan guru yang bersangkutan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang memberikan gambaran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang memberikan gambaran 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. DESAIN, LOKASI, DAN SUBJEK PENELITIAN 1. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang memberikan gambaran mengenai kemampuan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan menggunakan metode pre-eksperimental, yaitu paradigma penelitian dimana terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan yang diasumsikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini, maka penjelasan dari masing-masing definisi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini, maka penjelasan dari masing-masing definisi 28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menghindari berbagai penafsiran terhadap definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, maka penjelasan dari masing-masing definisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian pengembangan asesmen alternatif untuk menilai karakter peduli

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian pengembangan asesmen alternatif untuk menilai karakter peduli 23 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Dengan metode deskriptif ini peneliti menerangkan kondisi dari objek yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan variabel, gejala, atau keadaan

Lebih terperinci

C. Langkah-langkah Penelitian Langkah-langkah dalam penelitian yang dilakukan, penulis menyusun alur penelitian seperti pada Gambar 3.

C. Langkah-langkah Penelitian Langkah-langkah dalam penelitian yang dilakukan, penulis menyusun alur penelitian seperti pada Gambar 3. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2010). Metode yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Sudjana (2009: 64) penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. karakter peduli kesehatan siswa SMP melalui pembelajaran pada materi sistem

BAB III METODE PENELITIAN. karakter peduli kesehatan siswa SMP melalui pembelajaran pada materi sistem 24 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif karena penelitian ini bermaksud untuk mengetahui gambaran penerapan asesmen untuk menilai karakter

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Lembang yang berlokasi di Jalan Raya Lembang Nomor 357, Kecamatan Sumur Bandung, Kabupaten Bandung

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. didik pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. didik pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, memiliki definisi

BAB III METODE PENELITIAN. Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, memiliki definisi BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, memiliki definisi secara operasional, diantaranya: 1. Kemampuan berpikir kritis yang akan diukur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. diperlukan penjelasan tentang istilah-istilah, berikut di bawah ini:

BAB III METODE PENELITIAN. diperlukan penjelasan tentang istilah-istilah, berikut di bawah ini: 37 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk menjelaskan maksud dari judul yang dikemukakan, maka diperlukan penjelasan tentang istilah-istilah, berikut di bawah ini: 1. Pada kelas eksperimen

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian yang diambil yaitu ex post facto, dimana penelitian ini hanya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian yang diambil yaitu ex post facto, dimana penelitian ini hanya 37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, bertujuan membuat gambaran secara sistematis, faktual mengenai fakta dari suatu populasi. Desain penelitian yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dikemukakan mengenai metode penelitian yang digunakan meliputi lokasi dan subjek penelitian, desain penelitian, instrumen penelitian, proses pengembangan instrumen,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian dilakukan di SMAN 4 Bandung, yang berlokasi di Jl. Gardujati No. 20 Bandung. Waktu penelitian dilakukan selama berlangsungnya pembelajaran

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperiment (eksperimen semu). Metode ini digunakan karena pada penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP kelas VIII Laboratorium Percontohan UPI Bandung sebanyak 3 kelas semester 1. Sampel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Menurut Panggabean (1996:27) penelitian ini bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan metode penelitian weak eksperimen dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan metode penelitian weak eksperimen dengan 52 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metodologi Penelitian Pada penelitian ini digunakan metode penelitian weak eksperimen dengan desain The One-Group Pretest-Postes Design (Fraenkel, J. R. & Wallen, N.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi 42 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Penelitian kuasi eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Kemampuan afektif yang dianalisis dalam penelitian ini adalah perilaku siswa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Kemampuan afektif yang dianalisis dalam penelitian ini adalah perilaku siswa BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Kemampuan afektif yang dianalisis dalam penelitian ini adalah perilaku siswa selama kegiatan praktikum uji makanan berlangsung yang dijaring melalui

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pengumpulan data, dan teknik analisis data. Penjelasan dari masing-masing

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pengumpulan data, dan teknik analisis data. Penjelasan dari masing-masing BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dikemukakan mengenai metodologi penelitian yang digunakan meliputi metode dan desain penelitian, alur penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penguasaan konsep dan keterampilan proses sains antara siswa yang mendapatkan

BAB III METODE PENELITIAN. penguasaan konsep dan keterampilan proses sains antara siswa yang mendapatkan 46 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dan deskriptif. Metode eksperimen semu digunakan untuk mengetahui perbandingan peningkatan penguasaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 15 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Arikunto (2006), penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu. Dalam penelitian eksperimen terdapat dua variabel, yaitu veriabel bebas dan variabel terikat (Arikunto, 2008).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 7 Bandung yang terletak di jalan Lengkong Kecil nomor 53. Populasi adalah keseluruhan subjek

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan instrumen penilaian otentik yang valid dan reliabel dalam menilai pengetahuan dan keterampilan praktikum siswa SMK. Setelah itu,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan pendidikan atau Research and Development. Metode penelitian pengembangan pendidikan adalah metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode Pre-eksperimen.

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode Pre-eksperimen. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode dan Desain Penelitian Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode Pre-eksperimen. Menurut Sugiono (010:109) bahwa penelitian pre-eksperimen hasilnya merupakan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS MATERI FLUIDA STATIS KELAS X SMA/MA

PENGEMBANGAN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS MATERI FLUIDA STATIS KELAS X SMA/MA PENGEMBANGAN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS MATERI FLUIDA STATIS KELAS X SMA/MA Adelia Alfama Zamista 1*), Ida Kaniawati 2 1 Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudhi, Bandung, 40154

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan atau research and development. Metode ini digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 27 A III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Pembelajaran berbasis praktikum merupakan pembelajaran yang sintaknya terdiri atas lima fase, yaitu (1) fase orientasi masalah, pada fase ini guru

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian dan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian dan penafsiran terhadap istilah-istilah yang terkandung dalam judul penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Lokasi pada penelitian ini yaitu sekolah SMA Negeri 1 Bandung yang berlokasi di Jl. Ir Juanda no 93. Subjek dari penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Populasi/ Sampel Lokasi dilakukannya penelitian ini adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 25 yang beralamat di Jl. Baturaden VIII no.21 kota Bandung. Populasi dalam

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i. KATA PENGANTAR... ii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... viii. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR LAMPIRAN... xi

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i. KATA PENGANTAR... ii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... viii. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR LAMPIRAN... xi v DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Keterampilan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Project based learning (PjBL) dalam penelitian ini menggunakan. dipresentasikan kepada orang lain.

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Project based learning (PjBL) dalam penelitian ini menggunakan. dipresentasikan kepada orang lain. 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar penelitian ini sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan untuk menghindari kesalah pahaman, maka perlu diberikan definisi operasional yaitu: 1.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan quasi eksperimen dengan menggunakan desain pretest-postest group. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pra-eksperimen

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pra-eksperimen 1 BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pra-eksperimen dengan menggunakan desain one group pretest-postest. Metode pra-eksperimen

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif yaitu metode Pre Experiment (Quasi Experiment). Penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Fraenkel & Wallen (2008: 261) mengatakan bahwa penelitian eksperimen adalah cara terbaik untuk mengetahui sebab-akibat dan hubungan antara berbagai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Terkait dengan keperluan penelitian yaitu untuk melihat peningkatan

BAB III METODE PENELITIAN. Terkait dengan keperluan penelitian yaitu untuk melihat peningkatan BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Terkait dengan keperluan penelitian yaitu untuk melihat peningkatan prestasi belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa, maka pada penelitian ini digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan desain

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan desain 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan desain penelitian the matching only pretest-posttest control group design (Fraenkel

Lebih terperinci

(Sumber: Fraenkel dan Wallen, 2007)

(Sumber: Fraenkel dan Wallen, 2007) 48 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan capaian pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa pada penerapan kombinasi metode Inkuiri

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pendidikan (educational research and development) menggunakan 4D

BAB III METODE PENELITIAN. pendidikan (educational research and development) menggunakan 4D 51 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Pengembangan bahan ajar khususnya Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan pendidikan (educational

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 30 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif karena penelitian ini hanya bersifat mengkaji atau menggambarkan keadaan atau kondisi yang ada di lapangan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design (penelitian eksperimen tidak sebenarnya). Pre experimental design sering disebut

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dalam bentuk persentase. Penelitian deskriptif menggambarkan kegiatan

BAB III METODE PENELITIAN. dalam bentuk persentase. Penelitian deskriptif menggambarkan kegiatan 24 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif dengan teknik kualitatif yang hasilnya dalam bentuk persentase. Penelitian deskriptif menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Karanganyar yang beralamat di Jl. R. W. Monginsidi Karanganyar. Alasan dipilihnya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini menggunakan metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini menggunakan metode 40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menekankan pada gambaran holistik terhadap kondisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian ini yang digunakan adalah pre-experimental, yang merupakan metode untuk memperoleh data yang akurat dari data yang akan diteliti dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Project based learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Project based learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar penelitian ini sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan untuk menghindari kesalahpahaman, maka perlu diberikan definisi operasional yaitu: 1. Project

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian dan Subjek Populasi/ Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu SMA yang berada di kota Bandung yaitu SMA Kartika XIX-2

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta Laboratorium Percontohan UPI Bandung tahun ajaran 2013/ 2014. Subjek yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. eksperimen ini belu memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. eksperimen ini belu memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pre-experimental design atau eksperimen semu. Disebut demikian karena eksperimen

Lebih terperinci